• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hesti Esa Setiani dkk/jurnal Ilmiah Peternakan 1(2): , Juli 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hesti Esa Setiani dkk/jurnal Ilmiah Peternakan 1(2): , Juli 2013"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PETERNAK KELOMPOK PENERIMA BANTUAN PEMERINTAH DAN KELOMPOK MANDIRI PADA KELOMPOK TERNAK SAPI POTONG DI

KABUPATEN PURBALINGGA

(COMPARATIVE ANALYSIS AN INCOME BEEF CATTLE FARMERS GROUPS WHO RECEIVE GOVERNMENT AID RELATIVE TO THOSE (FARMERS) WHO DONATE RECEIVE GOVERNMENT AID

(SELF-SUPPORT) IN PURBALINGGA)

Hesti Esa Setiani, Syarifuddin Nur, dan Oentoeng Edy Djatmiko

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto [email protected]

ABSTRAK

Penelitian berjudul Analisis Perbandingan Pendapatan Peternak Kelompok Penerima Bantuan Pemerintah dan Kelompok Mandiri pada Kelompok Ternak Sapi Potong di Kabupaten Purbalingga dilaksanakan mulai tanggal 8 Maret 2013 sampai 28 Maret 2013. Penelitian dilakukan dengan metode survei yaitu dengan mewawancarai peternak sapi potong didaerah terpilih. Daerah-daerah yang terpilih di pilih menggunakan purpposive sampling yaitu dengan memilih lokasi yang mempunyai ternak sapi potong dan memiliki dua kelompok peternak sapi (kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan pemerintah). Responden terpilih sebesar 49 peternak dari masing-masing kelompok dan dipilih secara acak (simple random sampling). Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata pendapatan usaha ternak sapi potong kelompok mandiri sebesar Rp. 1.613.204,00 sedangkan pada kelompok penerima bantuan sebesar Rp. 2.646.731,00. Usaha ternak sapi potong di Kabupaten Purbalingga dari kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan pemerintah terdapat perbedaan pendapatan yang sangat nyata (P<0.01). Hasil analisis regresi diperoleh persamaanY = -1120919.41 + 124995.41X1 + 49870.02 X2 + 1220999.07 X3.

Koefisien determinasi diperoleh sebesar 63.10 persen. Tingkat pendidikan, dan lama beternak berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan (P>0.05) sedangkan jumlah ternak yang dimiliki berpengaruh terhadap jumlah pendapatan (P<0.05).

Kata kunci : pendapatan, kelompok mandiri, kelompok penerima bantuan pemerintah.

ABSTRACT

A study entitled “Comparative Analysis An Income Beef Cattle Farmers Groups Who Receive Government Aid Relative To Those (Farmers) Who Donate Receive Government Aid (Self-Support) in Purbalingga”. The research was conducted from March 8th, 2013 to March 28th, 2013. The study was conducted by survey method by interviewing selected area of cattle ranchs. The selected were taken select purposive sampling method, to choose location, that had beef cattle, and had two groups (self-help groups and groups receiving government aid. The respondents were selected, consisted of 49 farmers from each group and were randomly selected (simple random sampling). The results showed that the mean of income beef cattle business of self-help groups Rp. 1.613.204,00 and the cattle business income of beneficiary groups Rp. 2.646.731,00. The income of beef cattle business of self-help groups differed significantly (P <0.01) from the cattle business income of beneficiary groups. The result of regression analysis showed that equation Y= -1120919.41 + 124995.41X1 + 49870.02 X2 + 1220999.07 X3.. The coefficient of determination

had 63.10 percent. The level of education and length of farminghad no effect on the income (P>0.05), approximately the number of livestock owned had income effect (P<0.05).

(2)

Keyword :Income, Beef Cattle Farmers GroupsWho Receive Government Aid Relative, Those (Farmers) Who Donate Receive Goverment Aid (Self-Support).

PENDAHULUAN

Pembangunan peternakan mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyediaan pangan dan gizi, bahan baku industri, lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan.Usaha pemeliharaan ternak oleh petani sebagian besar masih merupakan sambilan sehingga teknologi pemeliharaan yang diterapkan masih sangat sederhana. Sapi merupakan ternak berpotensi ekonomi yang tinggi karena mudah beradaptasi dengan lingkungan geografis, mudah dipelihara dan sanggup mencerna makanan sederhana (Damayanti, 2010).

Populasi sapi potong di Kabupaten Purbalingga dalam beberapa tahun juga mengalami kenaikan. Data Dinas Peternakan dan Perikanan (2011) menunjukan jumlah populasi sapi potong di Kabupaten Purbalingga sebanyak 15.926 ekor. Populasi tersebut disumbang oleh peternak kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan pemerintah. Tiap wilayah di kabupaten Purbalingga mendapat kesempatan mendapat bantuan dari pemerintah. Sedangkan untuk para peternak dari kelompok mandiri, modal usaha yang mereka keluarkan berasal dari modal sendiri tanpa mendapat bantuan dari pemerintah. Sapi yang kedua kelompok tersebut budidayakan kebanyakan jenis sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi-sapi tersebut dipelihara serta digemukan kurang lebih 6 bulan. Pendapatan yang dirasakan oleh para peternak pada usaha ternak sapi mereka memberikan nilai tambah bagi kehidupan mereka. Semakin tinggi pendapatan mereka maka semakin baik kondisi perekonomiannya. Harapannya dengan adanya kelompok dapat membantu para peternak dalam usaha mereka. Pendapatan yang diperoleh peternak dari kedua kelompok tersebut berbeda sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan selama pemeliharaan.

METODE Lokasi

Lokasi penelitian dilakukan di tiga Kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang meliputi Kecamatan Kutasari, Kecamatan Mrebet, dan Kecamatan Kemangkon.

Materi Penelitian

Peternak sapi potong yang tergabung dalam kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan pemerintah di Kabupaten Purbalingga.

Metode Penelitian

Metode penelitan menggunakan metode survei. Penetapan sampel wilayah menggunakan purposive sampling sedangkan untuk penetapan responden atau peternak dilakukan dengan simple random sampling yatu dengan mengambil responden secara acak dari total responden yang tercatat, yang tersaji pada Tabel 1.

(3)

Tabel 1.jumlah responden peternak sapi potong di Kabupaten Purbalingga sebagai berikut: No

Nama Keca-matan

Nama Desa Jumlah peternak Jumlah responden Kelompok Mandiri Kelompok penerima bantuan Kelom-pok Mandiri Kelompok penerima bantuan 1 Kemang-kon  Kedungbenda 40 16 12 16 2 Kutasari  Kutasari 69 15 18 15 3 Mrebet  Mangunegara 74 18 19 18 Jumlah total 183 49 49 49 ANALISIS DATA Pendapatan

Analisis pendapatan yaitu analisis yang dilakukan untuk memperoleh nilai pendapatan usaha ternak sapi potong dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Moleong, 2004) :

I = TR – TC Keterangan :

I = income (pendapatan ) TR = total revenue (penghasilan)

TC = total cost ( biaya yang dikeluarkan )

Uji t- dua sampel independent

Metode yang digunakan untuk membandingkan 2 kelompok (pendapatan kelompok mandiri dan pendapatan kelompok penerima bantuan).

- - X1 – X2 t hitung = --- (Kurniawan, 2008) Sx1 – x2 Keterangan : _ X1 = rata-rata kelompok 1 _ X2 = rata-rata kelompok 2

Sx1 – x2 = standard error kedua kelompok

Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan peternak sapi potong

Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara pendidikan, jumlah ternak yang dipelihara, lama beternak dengan jumlah pendapatan. Dengan rumus:

(4)

Keterangan :

Y = pendapatan a = konstanta

b1,b2 = koefisien regresi X1 = jumlah kepemilikan sapi

X2 = lama beternak

X3 = tingkat pendidikan peternak

Untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas dan terikat menggunakan rumus koefisien determinasi.

R2= JK regresi x 100% JK residu

Keterangan :

R2 = Koefisien determinasi JK regresi = Jumlah kuadrat regresi JK residu = Jumlah kuadrat residu

Menguji pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap pendapatan usaha ternak sapi potongdigunakan uji F sebagai berikut :

F. Hitung : (1−R2 )/(n−k)R2 /(k−1) (Sudjana, 2002) Keterangan :

K = banyaknya variabel N = banyaknya sampel R2 = koefisien determinasi

Menguji masing-masing koefisien untuk mengetahui tingkat signifikasinya menggunakan uji t statistik yaitu :

t hitung = 𝑆𝑏𝑖𝑏𝑖 (Sudjana, 2002) keterangan :

t. hitung = nilai t hitung bi = koefisien regresi Sbi = kesalahan baku regresi

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Penduduk

Penduduk Kabupaten Purbalingga hasil registrasi tahun 2011 berjumlah 863.391 jiwa yang terdiri dari laki-laki 428.887 jiwa dan perempuan 434.504 jiwa. Jumlah rumah tangga berjumlah 217.448 dan rata-rata anggota per rumah tangga 4 orang. Total penduduk di Kabupaten Purbalingga terdiri dari usia 0-14 tahun sebesar 27,28 persen, dan 15 tahun keatas sebesar 72,72 persen. Berdasarkan hasil Sakernas tahun 2011 jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang merupakan angkatan kerja sebanyak 70.5 persen, sedangkan yang bukan angkatan kerja sebanyak

(5)

29.5 persen. Penduduk yang bekerja sebanyak 95.45 persen terdiri laki-laki dan 93.13 persen perempuan. (Badan Pusat Statistik Purbalingga, 2011).

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan peternak merupakan lama pendidikan formal terakhir yang telah ditempuh oleh peternak. Dari data yang diperoleh tingkat pendidikan peternak sapi potong di Kabupaten Purbalingga tergolong rendah, sebagian besar hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD).Tabel tingkat pendidikan peternak tersaji dalam Tabel 2.

Tabel 2. Tingkat Pendidikan Peternak Sapi Potong di Kabupaten Purbalingga

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

1 Tidak / Lulus SD 50 51,02

2 Tidak / Lulus SMP 33 33,67

3 Tidak / Lulus SMA 13 13,26

4 S1 2 2,04

Total 98 100,00

Sumber : Data Primer Diolah (2013)

Berdasarkan Tabel 2 diatas menunjukan bahwa sebagian besar peternak (51,02 persen) hanya berpendidikan Sekolah Dasar (6 tahun). Keadaan tersebut menyebabkan pola pikir peternak dalam meniru dan menerima teknologi peternakan cenderung kurang karena pengetahuan dan ketrampilan yang terbatas. Sesuai dengan apa yang dinyatakan Mulyadi (2003), bahwa pendidikan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan sehingga tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan membawa pengaruh positif terhadap produktivitas dan akan berdampak pada tingginya pendapatan yang akan diperoleh.

Lama Beternak

Lama beternak adalah waktu yang ditempuh/digunakan peternak untuk memelihara ternak sapi potong selama satu tahun. Lama beternak responden di Kabupaten Purbalingga bisa dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Lama Beternak Sapi Potong ( Tahun ) di Kabupaten Purbalingga

No Lama Beternak ( Tahun ) Jumlah (Orang ) Persentase ( % ) 1. 1 – 5 29 29,59 2. 6 – 10 32 32,65 3. 11 – 15 16 16,33 4. 16 – 20 7 7,14 5. 21 – 25 6 6,12 6. 26 – 30 10 10,20 Jumlah 98 100,00 Sumber : Data Primer Diolah ( 2013 )

(6)

Berdasarkan Tabel 3 diatas menunjukan bahwa lama beternak responden sebagian besar antara 6 – 10 tahun (32,65 persen). Lama beternak merupakan faktor yang amat menentukan keberhasilan dari suatu usaha, dengan lamanya beternak peternak akan memperoleh pengetahuan yang berharga untuk memperoleh usaha dimasa yang akan datang. ( Iskandar, 2011). Wibowo (2006) juga menyatakan bahwa semakin lama waktu yang ditempuh peternak dalam usaha sapi potongnya maka tingkat ketrampilan dan pengetahuan peternak dalam menerapkan teknologi akan semakin mudah dan cepat.

Jumlah Ternak yang Dimiliki

Jumlah ternak yang dimiliki merupakan faktor yang sangat penting artinya bagi usaha peternakan yang dijalankan, selain mempengaruhi produksi banyaknya jumlah ternak yang dipelihara juga mempengaruhi pendapatan. Jumlah ternak yang dimiliki para responden bisa dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah Ternak Sapi Potong di Kabupaten Purbalingga No Jumlah Ternak ( ST ) Jumlah ( Orang ) Persentase ( % ) 1. 0,75 – 1,75 45 45,92 2. 1,76 – 2,50 30 30,61 3. 2,56 – 3,25 15 15,31 4. > 3,26 8 8,16 Jumlah 98 100,00 Sumber : Data Primer Diolah ( 2013 )

Berdasarkan Tabel 4 diatas menunjukan bahwa sebagian besar peternak mempunyai jumlah ternak antara 0,75 – 1,75 ST sebesar 45,92 persen, jumlah ternak 1,76 – 2,50 ST sebesar 30,61 persen, jumlah ternak 2,56 - 3,25 ST sebesar 15,31 persen sedangkan jumlah ternak terendah pada >3,26 ST sebesar 8,16 persen. Jumlah ternak yang dimiliki sangat penting artinya bagi usaha peternakan yang dijalankan karena mempengaruhi pendapatan yang diperoleh.Sugeng (2000) menyatakan bahwa semakin banyak sapi potong yang dipelihara semakin banyak pendapatan yang diperoleh.

Perbedaan Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong Kelompok Mandiri dan Kelompok Penerima Bantuan

Pendapatan usaha ternak sapi potong pada kelompok mandiri maupun kelompok penerima bantuan pemerintah didapatkan setelah dilakukan perhituangan dari data yang diperoleh saat survei. Dari data tersebut didapatkan rata-rata pendapatan dari kelompok mandiri sebesar Rp 1.613.204,00 sedangkan rata-rata pendapatan pada kelompok penerima bantuan Rp 2.646.731,00.

Perbedaan jumlah pendapatan antara peternak kelompok mandiri dan penerima bantuan dapat diketahui nyata atau tidaknya dengan uji t. Data rinci uji t menunjukan bahwa pendapatan usaha sapi potong kelompok mandiri berbeda sangat nyata terhadap (P<0,05) pendapatan usaha

(7)

perbedaan antara pendapatan kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan.Hal ini disebabkan karena biaya produksi yang dikeluarkan oleh kelompok penerima bantuan cenderung lebih kecil daripada usaha ternak sapi potong pada kelompok mandiri.

Pengaruh Variabel Tingkat Pendidikan, Lama Beternak, dan Jumlah Ternak yang Dimiliki Terhadap Pendapatan Peternak Sapi Potong

Tabel 5. Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan peternak

Coefficients Standard Error t Stat P-value

Intercept -1120919.413 1014341.018 1.10507156 0.271949087 tingkat pendidikan 124995.412 290286.445 0.430593349 0.667739422 lama beternak 49870.022 36768.341 1.356330488 0.178208838 jumlah ternak yang dimiliki 1220999.077 207675.333 5.879364956 6.10519E-08 R 2 0,6310

F sign 2.018 Fhit 54.167

Berdasarkan Tabel 5 diperoleh persamaan sebagai berikut : Y = -1120919.413 + 124995.412(X1) + 49870.022(X2) + 1220999.077(X3). Hasil analisis menunjukan bahwa nilai

koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,6310. Hal tersebut menunjukan bahwa variansi variabel terikat (pendapatan) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (tingkat pendidikan, lama beternak dan jumlah ternak yang dimiliki) sebesar 63,10 persen. Selebihnya 36,90 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Berdasarkan Tabel 5 F hit (54.167) lebih besar dari pada F sign (2.018), berarti bahwa variabel bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap variabel terikat (pendapatan) pada tingkat kepercayaan 95 persen (p<0.05).

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan yang diperoleh peternak terbukti dari hasil analisis menunjukan bahwa t hitung(0.430) < t tabel (1.960) pada tingkat kepercayaan 95,00 persen. Hal ini dikarenakan usaha sapi potong yang dijalankan hanya bersifat sampingan dan peternak lebih cenderung mengandalkan ilmu yang diwariskan secara turun temurun sehingga tidak memerlukan pendidikan yang tinggi.

Lama Beternak

Lama beternak berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan yang diperoleh peternak terbukti dari hasil analisis menunjukan bahwa t hitung (1.356) < t tabel (1.960) pada tingkat kepercayaan 95,00 persen. Hal ini disebabkan lamanya usaha peternakan yang dijalankan, umumnya diperoleh dari orang tua secara turun temurun sehingga lama beternak tidak memberikan sumbangan nyata bagi pendapatan peternak.

Jumlah Ternak yang Dimiliki

(8)

penambahan satu ekor ternak sapi potong maka akan menambah pendapatan peternak sebesar Rp. 1.220.999,077. Artinya, semakin banyak ternak sapi potong yang dimiliki peternakakan mempertinggi pendapatan yang diterima. Krisna dan Mansur (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi skala usaha yang dijalankan dan dimiliki maka akan semakin besar penerimaan yang akan diterima serta juga dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Rata-rata pendapatan usaha ternak sapi potong kelompok mandiri sebesar Rp.1.613.204,00 sedangkan pada kelompok penerima bantuan sebesar Rp.2.646.731,00.

2. Usaha ternak sapi potong kelompok mandiri dan kelompok penerima bantuan pemerintah di Kabupaten Purbalingga terdapat perbedaan pendapatan yang sangat nyata.

3. Tingkat pendidikan, dan lama beternak berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan sedangkan jumlah ternak yang dimiliki berpengaruh nyata terhadap jumlah pendapatan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2012. Purbalingga dalam Angka. Kabupaten Purbalingga.

Damayanti, M. Sistem Usaha Ternak Sapi Potong Dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Keluarga. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

Dinas Peternakan dan Perikanan Purbalingga. 2011. Data Jumlah Ternak. Laporan tahun 2011. Iskandar, I. 2011. Analisis Program Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten Lima Puluh

Kota Sumatera Barat.Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang.

Krisna, R.dan E. Manshur.2006.Tingkat Pemilikan Sapi (Skala Usaha) Peternakan dan Hubungannya dengan Keuntungan Usahatani Ternak Pada Kelompok Tani Ternak Sapi Perah Di Desa Tajur Halang.Bogor, .61-64.

Kurniawan, D. 2008. Uji t 2-Sampel Independen.Statistic Computing Austria.http ://www.R-project.org diakses tanggal 29 Januari 2013.

Moleong, L. J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Bandung Mulyadi, S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hal 60. Soegiyono.2008. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif.Alfabeta. Bandung.

Sudjana.2002. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi Untuk Para Peneliti.Tarsito. Bandung. Sugeng.2000. Sapi Potong Cetakan ke-7. Penebar Swadaya. Jakarta.

Wibowo, S.A dan Haryadi, F. 2006. Faktor Karakteristik Peternak Yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Program Kredit Sapi Potong di Kelompok Peternak Andiniharjo Kabupaten Sleman Yogyakarta.Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Media peternakan Vol.29 : 3.

Gambar

Tabel 1.jumlah responden peternak sapi potong di Kabupaten Purbalingga sebagai berikut:
Tabel 3. Lama Beternak Sapi Potong ( Tahun ) di Kabupaten Purbalingga
Tabel 4. Jumlah Ternak Sapi Potong di Kabupaten Purbalingga
Tabel 5. Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan peternak

Referensi

Dokumen terkait

Dengan melaksanakan LS para guru atau calon guru dapat: (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang

(1) Ketua Pengarah boleh, jika difikirkannya perlu bagi keselamatan dan kesejahteraan pekerja, mengeluarkan suatu notis kepada majikan atau penyedia penginapan berpusat,

Berdasarkan latar belakang masalah, maka perumusan masalah yang didapat dalam penelitian ini adalah ”bagaimanakah keefektifan dan potensi ekstrak etanol daging buah mahkota

Doni menjelaskan bahwa proses yang dilakukan saat pra produksi pada program Indonesia Pintar yaitu diskusi bersama tim programming lainnya, apa yang membuat

Soekarno Hatta, Kota Probolinggo maka dapat menurunkan pendapatan sebesar 0,013 juta rupiah, akan tetapi karena variabel lama usaha dinyatakan tidak berpengaruh terhadap

KKG dan KKS, gugus, serta PGRI; dan karya ilmiah atau penelitian, untuk karya ilmiah beberapa guru mengaku bahwa pernah membuat untuk kepentingan guru berprestasi.

Karakteristik sosial ekonomi yang dijabarkan dalam variabel berikut: Umur (tahun), Status perkawinan, Tingkat pendidikan, Pendapatan responden, Pendapatan keluarga per-bulan,

7, KEPUTUSAN ATASAN PE]ABAT PENII.AI