Jenis dan Pengembangan Alat
Penilaian Bahasa Indonesia
Dra. Ida Lestari, M.Pd.
etelah memahami hakikat dan fungsi evaluasi, calon guru perlu mempelajari jenis alat penilaian PBI dan prinsip penyusunannya. Dalam praktik, sebelum guru menyusun alat penilaian PBI, guru dituntut untuk memahami ragam alat penilaian dan prinsip penggunaannya secara tepat. Dengan pemahaman yang tepat, guru akan mampu menerapkannya dalam penyusunan alat penilaian PBI. Setelah mempelajari modul ini, secara umum Anda diharapkan dapat memahami ragam alat penilaian yang digunakan dalam PBI dan memahami prinsip-prinsip penyusunan berbagai ragam alat penilaian PBI. Secara khusus, setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda mampu menguasai hal-hal berikut.
1. Menjelaskan karakteristik dan prinsip pengembangan alat penilaian hasil PBI berbentuk tes.
2. Menjelaskan karakteristik dan prinsip pengembangan alat penilaian PBI berbentuk unjuk kerja.
3. Menjelaskan karakteristik dan prinsip pengembangan alat penilaian PBI berbentuk portofolio.
Modul ini penting dipelajari sebagai bekal untuk merencanakan penyusunan alat penilaian pembelajaran bahasa Indonesia. Modul ini penting dipelajari karena dengan memahami ragam penilaian, seorang guru dapat memilih alat penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar. Materi yang akan Anda pelajari mencakup (1) karakteristik dan prinsip pengembangan alat penilaian hasil PBI berbentuk tes objektif dan tes esai, (2) karakteristik dan prinsip pengembangan alat penilaian PBI berbentuk unjuk kerja, serta (3) karakteristik dan prinsip alat penilaian PBI berbentuk portofolio.
S
Kegiatan pembelajaran terdiri atas tiga tahap. Tahapan pembelajaran dalam modul ini dilakukan dengan urutan berikut.
Kegiatan Belajar 1 : pengembangan alat penilaian hasil PBI berbentuk tes objektif dan esai.
Kegiatan Belajar 2: pengembangan alat penilaian hasil PBI berbentuk portofolio.
Kegiatan Belajar 3: pengembangan alat penilaian hasil PBI berbentuk unjuk kerja.
KEGIATAN BELAJAR 1
Pengembangan Alat Penilaian Hasil PBI
Berbentuk Tes Objektif dan Esai
A. APA ITU TES?
Secara umum, tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan objek ukur terhadap seperangkat konten dan materi tertentu. Menurut Bruce (1998), tes dapat digunakan untuk mengukur banyaknya pengetahuan yang diperoleh individu dari suatu bahan pelajaran yang terbatas pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, tes merupakan alat ukur yang banyak dipergunakan dalam dunia pendidikan. Hal ini disebabkan umumnya orang masih memandang bahwa indikator keberhasilan seseorang mengikuti pendidikan dilihat dari seberapa banyak orang menguasai materi yang telah dipelajarinya dalam suatu jenjang pendidikan tertentu.
Tes adalah suatu alat untuk memperoleh sampel tingkah laku dari suatu ranah tertentu. Tes adalah suatu alat yang sistematis untuk mengamati dan memerikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan skala numerik atau sistem kategori (Aiken, 2004). Menurut Asmawi (2001), tes adalah suatu pertanyaan atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang atribut psikologis yang respons setiap butir pertanyaannya dapat dikategorikan benar atau salah. Ebel dan Frisbi (Asmawi, 2002) mengemukakan bahwa tes adalah seperangkat pertanyaan yang tiap-tiap pertanyaan mempunyai jawaban benar atau salah. Tes juga merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati atau mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numerik atau sistem kategori.
Aiken (2001) menjelaskan secara perinci bahwa tes adalah tingkatan pengetahuan, keterampilan, atau pencapaian dalam sebuah area tertentu. Tes diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu tes kemampuan, tes diagnostik, dan prognostik. Tes diagnostik berfungsi untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan khusus dalam subjektif tertentu, misalnya untuk mendiagnosis kemampuan membaca, aritmatik, dan performansi dari subskill tertentu.
Untuk tes diagnostik, soal-soalnya harus berbentuk uraian karena soal bentuk objektif tidak mempunyai fungsi diagnostik. Artinya, seorang siswa yang menjawab salah satu soal bentuk objektif tidak dapat diketahui mengapa dia menjawab salah. Sementara itu, melalui tes bentuk uraian, kita dapat menelusuri jawaban siswa untuk mengetahui mengapa seseorang menjawab salah atau pada bagian mana kesulitan siswa sehingga dia menjawab salah soal tersebut (Djaali, 2008: 12).
Menurut Kerlinger (2006), tes adalah prosedur sistematis dengan cara memberi individu sejumlah rangsang buatan untuk ditanggapi. Dari tanggapan-tanggapan tersebut, penguji dapat memberikan angka bagi pihak yang diuji sebagai cerminan benar dan tidaknya sebuah tanggapan. Angka-angka dapat dijadikan sumber referensi tentang pemilikan sifat yang sedang diukur. Dalam kaitannya dengan tes prestasi standar, Kerlinger mengemukakan dua macam tes, yaitu tes umum dan tes khusus. Tes umum mengukur bidang-bidang terpenting dalam prestasi di sekolah, misalnya kemampuan membaca, kosakata, atau penggunaan bahasa. Tes khusus itu mengukur hasil belajar semua mata pelajaran satu per satu. Berdasarkan atribut psikologis, ada empat kelompok tes, yaitu (1) tes kepribadian, (2) tes intelegensi, (3) tes potensi intelektual, dan (4) tes hasil belajar.
Cronbach mengemukakan bahwa tes merupakan prosedur sistematis untuk melakukan pengamatan terhadap perilaku seseorang dan mendeskripsikan perilaku tersebut dengan bantuan skala angka atau suatu sistem penggolongan. Secara perinci, juga dikemukakan bahwa tes psikologis dikelompokkan menjadi dua, yaitu performansi maksimal dan performansi tipikal. Performansi maksimal adalah performansi terbaik yang mampu diperlihatkan oleh individu sebagai respons terhadap butir-butir tes. Respons individu berkaitan dengan respons kognitif yang dapat dikatakan benar atau salah dan diberi skor yang sepadan. Performansi tipikal adalah performansi yang ditampakkan individu sebagai proyeksi dari kepribadiannya sendiri sehingga indikator perilaku yang diperlihatkan merupakan kecenderungan dirinya dalam menghadapi situasi tertentu. Respons performansi tipikal berkaitan dengan aspek afektif yang menjadi ciri khas tiap-tiap orang. Respons tipikal tidak dapat dikatakan benar atau salah.
Dalam bidang pembelajaran bahasa, tes diartikan sebagai alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes bahasa adalah alat yang berupa tugas sistematis yang digunakan untuk mengukur
sejumlah sampel penguasaan keterampilan berbahasa. Baik bahasa sebagai aksi maupun bahasa sebagai sistem memerlukan alat ukur yang berupa tes. Gambaran penguasaan bahasa siswa tersebut diwujudkan dalam bentuk angka-angka. Pemberian tes bahasa merupakan upaya menjawab pertanyaan seberapa baik seorang siswa menguasai keterampilan berbahasa.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, secara ringkas disimpulkan bahwa tes adalah serentetan pertanyaan atau tugas yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, atau kemampuan yang dimiliki individu atau kelompok. Dari respons siswa, diberikan skor berdasarkan benar tidaknya suatu respons. Dari hasil tes, dapat diketahui performansi maksimal siswa terhadap butir tes.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, secara umum tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan objek ukur terhadap seperangkat konten atau materi tertentu. Teknik tes lebih banyak menyangkut data-data kuantitatif. Data-data itu biasanya berupa angka atau skor yang melambangkan tingkat kemampuan tertentu siswa yang dites dalam mata tes tersebut.
Secara ringkas, dapat dikemukakan bahwa instrumen penilaian berupa tes pada dasarnya digunakan untuk mengukur tingkat kognitif siswa. Penggunaannya disesuaikan dengan area yang akan diukur. Tes bahasa dalam bidang membaca berkaitan dengan penguasaan keterampilan membaca yang akan menggambarkan penguasaan siswa tersebut. Hal itu diwujudkan dalam bentuk angka-angka. Pemberian tes bahasa dilakukan untuk mengetahui seberapa baik seorang siswa menguasai keterampilan membaca teks nonsastra dan teks sastra dengan berbagai tingkatan kemampuan membaca. B. APA YANG DAPAT DIUKUR DENGAN TES?
Penyusunan dan penggunaan tes hasil belajar (achievement test) senantiasa terkait dengan penyelenggaraan pembelajaran. Dalam program pembelajaran yang pada umumnya bersifat formal itu, kegiatan pembelajaran diselenggarakan atas dasar sejumlah tujuan yang telah diidentifikasi dan diperinci secara cermat, dituangkan dalam bentuk kurikulum dan silabus sebagai pedoman, serta diselenggarakan pada rangkaian kegiatan dalam jangka waktu tertentu, seperti satu semester, satu tahun, atau seluruh jangka waktu studi. Tingkatan hasil belajar yang bersifat kognitif dapat diukur dengan tes, baik berbentuk esai maupun objektif.
Berikut ini contoh aspek kognitif menurut taksonomi Bloom yang bisa diukur dengan tes.
Gambar 2.1
Dua piramida di atas menggambarkan tingkatan kognitif hasil belajar yang dapat diukur dengan tes. Pada tingkatan kognitif sebelumnya, tingkatan berpikir tertinggi adalah evaluasi. Setelah dilakukan revisi, tingkatan hasil belajar tertinggi pada taksonomi Bloom adalah mengkreasikan.
Setiap kategori terdiri atas subkategori yang memiliki kata kunci berupa kata yang berasosiasi dengan kategori tersebut. Kata-kata kunci itu seperti terurai di bawah ini.
1. Mengingat: mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi, menemukan kembali, dan sebagainya.
2. Memahami: menafsirkan, meringkas, mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, membeberkan, dan sebagainya.
3. Menerapkan: melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktikkan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi, dan sebagainya.
4. Menganalisis: menguraikan, membandingkan, mengorganisasi, menyusun ulang, mengubah struktur, mengerangkakan, menyusun
outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan,
membandingkan, mengintegrasikan, dan sebagainya.
5. Mengevaluasi: menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan, menyalahkan, dan sebagainya.
6. Berkreasi: merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membarui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah, dan sebagainya.
1. Penggunaan Tes Esai sebagai Alat Penilaian
Dari beberapa kajian tersebut, tampak bahwa hasil belajar kategori kognitif dapat diukur dengan menggunakan tes. Bentuk tes yang digunakan bisa tes objektif ataupun tes esai. Menurut Athanasou (2007), tes esai cocok digunakan untuk mengukur kemampuan menggeneralisasi, mempertahankan pendapat, memberi contoh, mengaplikasikan prinsip, memformulasikan pertanyaan baru, memprediksi, mengkreasikan, mendesain, menyimpulkan, membandingkan, mengkritik, dan menilai.
Untuk pengukuran kemampuan yang menuntut pembaca memberikan jawaban personal dengan kata-kata sendiri, digunakan tes esai. Tes pemahaman yang menuntut pemahaman kritis dan kreatif diukur dengan tes esai. Hal ini didasarkan pada karakteristik kemampuan memvariasikan dan mengkreasikan isi yang sangat bersifat divergen sehingga tidak bisa diukur dengan tes objektif.
2. Pengertian Tes Uraian/Esai
Yang dimaksud dengan tes uraian dalam tulisan ini adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengonstruksi butir soal, tetapi harus dipasok oleh peserta tes. Jadi, yang terutama membedakan tipe soal objektif dan tipe soal uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban atau alternatif jawaban terhadap soal atau tugas yang diberikan. Butir soal tipe uraian atau dalam bahasa Inggrisnya dinamakan essay test hanya terdiri atas pertanyaan atau tugas (kadang-kadang juga harus disertai dengan beberapa ketentuan dalam menjawab atau mengerjakan soal tersebut) dan jawaban sepenuhnya harus dipikirkan oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan menyampaikan gagasannya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dengan pengertian di atas, segera akan kelihatan bahwa pemberian skor terhadap jawaban soal tidak mungkin dilakukan secara objektif.
a. Kekuatan tes uraian/esai
Soal uraian mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dapat atau sukar diperoleh melalui penggunaan tipe butir soal lain. Kelebihan itu sebagai berikut.
1) Tes uraian dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hasil belajar yang kompleks. Pada umumnya, hasil belajar bersifat kompleks. Akan tetapi, sebagian besar dari hasil belajar yang kompleks dapat diperinci menjadi beberapa hasil belajar yang lebih sederhana. Perincian hasil belajar yang sederhana itu secara terbatas dapat berdiri sendiri dan secara bersama-sama beberapa hasil belajar sederhana itu akan membentuk hasil belajar yang kompleks. Pengukuran hasil belajar yang seperti ini tidak menuntut penggunaan tes tipe uraian. Misalnya, hasil belajar yang akan diukur berupa pemahaman dari suatu prinsip yang kompleks. Pemahaman seperti itu selalu dapat diuraikan menjadi bagian-bagian yang sederhana. Akan tetapi, ada pula beberapa hasil belajar lain yang sifatnya kompleks dan bila dirinci menjadi hasil belajar yang lebih sederhana dan dapat kehilangan arti globalnya sebab hubungan antara komponen hasil belajar yang satu dan yang lain sangat erat, misalnya hasil yang bersifat ekspresif atau kreatif. Hasil belajar yang seperti ini sebaiknya atau seharusnya diukur dengan menggunakan tes uraian. Norman E. Gronlund (1971: 1969) mengidentifikasi hasil belajar yang mencakup kemampuan mengaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasi hubungan, kemampuan mengenal dan menyatakan inferensi, kemampuan mengenal relevansi dari suatu informasi, kemampuan merumuskan dan mengenal hipotesis, kemampuan merumuskan dan mengenal kesimpulan yang sahih, kemampuan mengidentifikasi asumsi yang mendasarkan suatu kesimpulan, kemampuan mengenal keterbatasan data, kemampuan mengenal dan menyatakan masalah, serta kemampuan mendesain prosedur eksperimen. 2) Tes bentuk uraian terutama menekankan pada pengukuran kemampuan
dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber informasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan untuk mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taat asas, kemampuan tidak dapat terlihat dengan baik.
Sebaliknya, kemampuan itu akan kelihatan dengan jelas dari susunan kalimatnya dan kemampuan menyusun paragraf yang baik.
3) Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes dan yang lain. Hal ini sesuai dengan sifatnya yang menuntut kemampuan mengekspresikannya dalam kata-kata sendiri sehingga bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara penuh. Penguasaan bahan yang tanggung dapat dideteksi dengan mudah melalui jawaban yang ditulisnya. Karena itu, untuk menjawab tes uraian dengan baik, peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikan dalam tes secara tuntas. Karena keseluruhan bahan sangat luas dan tidak mungkin dapat dikuasai dengan baik seluruhnya, biasanya peserta tes terpaksa menebak bagian bahan yang diperkirakan akan keluar dalam soal ujian.
4) Kelebihan lain tes uraian telah memudahkan dosen untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal. Pertama, jumlah butir soal tidak perlu banyak. Kedua, dosen tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar. Kelebihan ini terutama yang acap kali mendorong dosen untuk menggunakan bentuk butir soal ini. Jadi, motifnya tidak terlalu sehat. Kelebihan ini terutama yang acap kali mendorong dosen untuk menggunakan bentuk butir soal ini. Jadi, motifnya tidak terlalu sehat. Apalagi jika kemudahan menyusun butir soal bentuk uraian itu diperlakukan secara kurang bertanggung jawab atau karena desakan pekerjaan yang cukup banyak.
5) Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakan kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif, tes uraian akan sangat mendorong mahasiswa dan dosen untuk belajar dan mengajar menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian, diharapkan kemampuan peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Akan tetapi, dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian kemampuan yang menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan ini dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliabel. Tekanan yang berlebihan pada aspek kemampuan menulis itu akan menjadi penghalang bagi peserta didik yang memang tidak mempunyai kemampuan dalam bidang itu walaupun peserta didik tersebut menguasai bahan yang diujikan. Selain itu, tidak semua ilmu dan pengetahuan yang diajarkan di sekolah menuntut adanya kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tertulis.
b. Kelemahan tes uraian/esai
Tes uraian juga mengandung kelemahan yang serius. Beberapa kelemahan pokok tersebut diuraikan berikut.
1) Reliabilitas tes yang rendah, artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten apabila tes yang sama atau tes yang paralel diuji ulang beberapa kali. Aiken (2004) mengidentifikasi adanya tiga penyebab rendahnya reliabilitas tes uraian. Pertama, keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam perangkat tes. Karena sifat jawaban tes uraian menuntut waktu yang relatif banyak, tidak mungkin perangkat tes uraian terdiri atas butir soal yang banyak jumlahnya sehingga mewakili seluruh bahan yang telah diberikan. Hal ini berarti pokok bahasan yang dapat diambil sebagai bahan tes sangat terbatas. Jadi, tidak mungkin mewakili seluruh bahan secara baik. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes tetap saja akan besar. Keragaman itu tidak hanya terjadi antara peserta tes, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, waktu, bahkan suasana tes yang ada. Tes yang sama diuji pada pagi hari. Pada umumnya, waktu tersebut peserta tes masih segar. Maka itu, dihasilkan skor yang berbeda apabila tes itu diujikan pada siang harinya. Ketiga, penyebab rendahnya reliabilitas tes itu adalah subjektivitas orang yang memeriksa sehingga berbeda pula skor yang diperoleh peserta tes. Bahkan, orang yang sama memeriksa tes yang sama pada waktu yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda pula.
2) Untuk menyelesaikan tes uraian dengan baik, dosen dan mahasiswa harus menyediakan waktu cukup banyak. Waktu mahasiswa haruslah cukup banyak ketika mengerjakan tes. Sementara itu, dosen harus menyediakan waktu yang banyak untuk memeriksa. Apabila kedua waktu itu tidak dapat dilaksanakan, sebaiknya tes uraian tidak digunakan karena tes uraian yang tidak diperiksa dengan teliti tidak dapat menjadi alat ukur pendidikan yang efektif.
3) Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan. Peserta tes yang kurang menguasai bahan yang diujikan acap kali juga mencoba hal yang ditanyakan atau dengan kata lain peserta tes membual. Jawaban yang tidak berharga ini pun harus dibaca oleh dosen dengan teliti. 4) Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling
utama membedakan prestasi belajar antarmahasiswa. Padahal, hasil belajar yang tertentu sajalah yang harus dikomunikasikan dalam bentuk
tertulis. Sebagian besar hasil belajar lain dinyatakan dalam bentuk tingkah laku atau sikap, bukan dalam bentuk pernyataan tertulis.
3. Penggunaan Tes Uraian/Esai
a. Apabila jumlah peserta ujian terbatas, soal uraian dapat digunakan karena masih mungkin bagi guru untuk dapat memeriksa/menskor hasil ujian tersebut dengan baik. Apabila peserta ujian terlalu banyak, misalnya lebih dari 100 orang, hal itu akan menyita waktu dosen terlalu banyak sehingga penggunaan soal uraian tidak efisien lagi.
b. Apabila waktu yang dipunyai dosen untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian, soal uraian dapat digunakan. Secara relatif, waktu yang dibutuhkan untuk mengonstruksi butir soal uraian tidak terlalu banyak.
c. Apabila tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan menulis dengan baik, atau kemampuan penggunaan bahasa secara tertib, haruslah digunakan tes uraian.
d. Apabila guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian, tetapi dapat disimpulkan dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai, atau pendapat; soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi tidak langsung tersebut, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati oleh dosen.
e. Apabila guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar mahasiswanya, tes uraian merupakan salah satu bentuk yang paling cocok untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.
4. Klasifikasi Tes Uraian/Esai
Tes uraian secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes uraian bebas dan tes uraian terbatas. Pembedaan kedua jenis tes uraian ini adalah besarnya kebebasan yang diberikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis, serta menyatakan pikiran dan gagasannya.
a. Tes uraian bebas (extended response)
Tes jenis ini hampir-hampir tidak ada pembatasan terhadap peserta tes dalam memberikan jawabannya. Peserta tes memiliki kebebasan yang luas
sekali untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasannya dalam menjawab soal tersebut. Jadi, jawaban siswa bersifat terbuka, fleksibel, dan tidak terstruktur. Dengan kata lain, dalam menjawab tes uraian bebas, seorang peserta ujian harus mulai dengan pengetahuan yang bersifat faktual, kemudian mengevaluasi fakta yang dimilikinya, mengorganisasikan fakta, kemudian mengevaluasi fakta yang dimilikinya, mengorganisasikan fakta pilihannya itu ke dalam suatu susunan yang logis, dan akhirnya menyajikannya dalam suatu uraian naratif yang dapat dimengerti orang lain. Kalaupun ada batasan hanyalah panjangnya uraian yang ditentukan oleh pembuat butir soal. Pembatasan seperti itu sangat diperlukan sehingga ia dapat memperkirakan waktu yang harus disediakannya untuk memeriksa jawaban peserta ujian. Peserta ujian sepenuhnya diberi kebebasan untuk menjawab menurut gaya bahasa dan gaya kognitifnya masing-masing. Dengan demikian, jelaslah keterampilan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis akan besar sekali kontribusinya dalam menjawab soal ujian tipe ini. Butir soal seperti ini baik digunakan untuk mengukur hasil belajar pada tingkat aplikasi, analisis, evaluasi, ataupun kreasi.
b. Tes uraian terbatas (restricted response)
Dalam menjawab tes uraian terbatas, peserta tes lebih dibatasi oleh berbagai rambu-rambu yang ditentukan dalam butir soal. Keterbatasan itu mencakup format, isi, dan ruang lingkup jawaban. Jadi, soal tes uraian terbatas ini harus menentukan batas jawaban yang dikehendaki. Batas itu meliputi konteks jawaban yang diinginkan, jumlah butir jawaban yang diharapkan, keleluasaan uraian jawaban, serta arah dan luas jawaban yang diminta. Untuk menjawab butir soal ini, peserta tes jauh lebih terikat apabila dibandingkan dengan contoh terdahulu. Dalam soal tes uraian jenis ini, peserta tes tidak dapat memilih dengan bebas penyajiannya. Ia harus mengikuti instruksi butir soal untuk menjawab. Akan tetapi, peserta tes tetap mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabannya menurut pola kognitifnya sendiri dan juga ia mempunyai kebebasan mengekspresikan dalam gayanya sendiri.
5. Langkah Penyusunan Tes Esai
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan tes uraian sebagai berikut.
a. Menentukan tujuan pembelajaran yang ingin diukur
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam membuat perencanaan tes uraian adalah menentukan tujuan pembelajaran yang ingin diukur. Tes uraian adalah tes yang tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi. Untuk itu, pilihlah tujuan pembelajaran yang mengembangkan proses berpikir tinggi (penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi), minimal harus mengukur proses berpikir pemahaman. Menurut Bloom, seperti dikutip Gronlund dan Linn (1990), yang dimaksud dengan tujuan pembelajaran dalam tingkatan pemahaman adalah tujuan pembelajaran yang menginginkan agar siswa tidak hanya dapat mengingat, tetapi mampu menangkap arti materi yang dipelajari. Siswa diharapkan mampu menerjemahkan, menafsirkan, dan memperhitungkan atau meramalkan sesuatu yang dipelajari. Kata kerja operasional yang sering digunakan adalah menjelaskan, menguraikan, membedakan, menuliskan kembali, meringkas, memprediksi, dan sebagainya. Tujuan pembelajaran pada tingkat penerapan adalah tujuan pembelajaran yang menginginkan siswa agar dapat menggunakan atau menerapkan dengan tepat suatu rumus, metode, konsep, prinsip, hukum, atau teori dalam situasi baru. Kata kerja operasional yang sering digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran pada level penerapan adalah menghitung, menerapkan, menunjukkan, memodifikasi, memecahkan masalah, menemukan, dan sebagainya. Tujuan pembelajaran dalam tingkatan analisis merupakan tujuan pembelajaran yang menginginkan siswa agar menguraikan sesuatu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga struktur organisasi dari bagian-bagian tersebut dapat dipahami. Kata kerja operasional yang sering digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran pada level analisis adalah menguraikan, membedakan, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, mengklasifikasi, memisahkan, dan sebagainya.
b. Menentukan sampel yang representatif
Setelah selesai menentukan tujuan pembelajaran, langkah kedua adalah menentukan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang akan diujikan.
c. Menentukan jenis tes yang akan digunakan
Ada dua jenis tes uraian yang dapat Anda pilih, yaitu tes uraian terbatas dan tes uraian terbuka. Penentuan jenis tes ini terkait erat dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Untuk memperbanyak sampel materi yang dapat ditanyakan dan juga untuk mempermudah pemeriksaan hasil ujian, disarankan untuk menggunakan tes uraian terbatas.
d. Menentukan tingkat kesukaran butir soal
Penentuan tingkat kesukaran butir soal ini erat kaitannya dengan interpretasi skor yang akan digunakan untuk memberikan nilai kepada siswa. Ada dua jenis interpretasi skor yang dapat digunakan untuk menentukan nilai siswa, yaitu pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) dan pendekatan penilaian norma (PAN). Dalam pendekatan penilaian acuan patokan, keberhasilan siswa dilihat dari penguasaan suatu bidang studi dibandingkan dengan keberhasilan siswa lain dalam kelompoknya. Jika dalam penilaian Anda menggunakan PAP, penentuan tingkat kesukaran butir soal tergantung pada tujuan pembelajaran. Walaupun butir soal tersebut mudah, kalau butir soal tersebut tepat digunakan untuk mengukur tujuan pembelajaran yang dianggap penting, butir soal tersebut harus diujikan kepada siswa. Jika dalam penilaian Anda menggunakan PAN, penentuan tingkat kesukaran dalam satu set tes harus diperhatikan. Karena keberhasilan seorang siswa akan dibandingkan dengan keberhasilan siswa lain dalam kelompok, dalam menentukan tingkat kesukaran butir soal pada satu set ujian harus diperhatikan karakteristik kelompok tersebut. Menurut para ahli statistik, karakteristik suatu kelompok, apabila berada dalam jumlah besar, sebarannya akan mengikuti kurva normal. Demikian juga dengan kemampuan siswa dalam kelompok jika berada dalam jumlah besar, yaitu juga mengikuti kurva normal. Sebagian besar siswa akan mempunyai kemampuan sedang dan sebagian kecil; sedangkan yang lain akan mempunyai kemampuan tinggi dan rendah. Dengan mempertimbangkan karakteristik kelompok siswa tersebut, dalam menentukan tingkat kesukaran butir soal dalam satu set tes, sebagian besar butir soal harus dibuat dengan tingkat kesukaran sedang dan sisanya dibuat dengan tingkat kesukaran tinggi (sukar) serta rendah (mudah). Perbandingan antara butir soal yang mudah, sedang, dan sukar yang dapat digunakan adalah 20—25%: 50—60%: 20—25%.
e. Menentukan waktu ujian
Waktu yang diberikan kepada siswa untuk mengerjakan satu set tes ujian merupakan faktor pembatas yang harus diperhatikan oleh perencana tes. Perencana tes harus dapat membuat pertimbangan yang mantap mengenai jumlah butir soal, tingkat kesukaran, dan kompleksitas proses berpikir yang akan diukur agar set tes yang diujikan dapat dikerjakan siswa dalam waktu yang telah ditentukan. Jangan sampai terjadi siswa kekurangan atau kelebihan waktu untuk mengerjakan set soal tersebut.
f. Menentukan jumlah butir soal
Tentukan jumlah butir soal yang tepat untuk dikerjakan siswa dalam waktu yang telah ditetapkan. Penentuan jumlah butir soal ini juga terkait dengan jenis tes uraian yang akan digunakan, kompleksitas proses berpikir yang akan diukur, dan tingkat kesukaran butir soal.
g. Menentukan rambu-rambu jawaban
Rambu-rambu jawaban perlu ditentukan untuk menjaga reliabilitas hasil penyekoran. Tes esai yang bebas perlu rubrik yang relatif perinci untuk memberi pedoman penilai agar hasil penyekoran relatif sama.
6. Bagaimana Menulis Tes Uraian yang Baik?
Ada dua hal pokok yang harus Anda perhatikan untuk mengembangkan tes uraian yang baik. Pertama, bagaimana cara menulis atau mengonstruksi tes uraian agar dapat mengukur tujuan yang ingin Anda ukur. Kedua, bagaimana Anda dapat membuat pedoman penskoran yang baik. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan pada saat mengonstruksi tes uraian antara lain sebagai berikut.
a. Tulislah tes uraian berdasarkan perencanaan tes yang telah Anda buat. b. Gunakan tes uraian untuk mengukur hasil belajar yang sukar atau tidak
tepat jika diukur dengan tes objektif. c. Perintah dirumuskan secara jelas dan singkat
d. Diperlukan pedoman penyekoran/rambu-rambu jawaban untuk menjaga keajekan hasil.
7. Penggunaan Tes Objektif sebagai Alat Penilaian
a. Apa karakteristik tes objektif?
Butir tes objektif adalah butir soal yang mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Jadi, kemungkinan jawaban pada tes objektif telah dipasok oleh pembuat soal. Peserta tinggal memilih jawaban dari kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Jenis tes objektif mencakup (1) tes benar salah, tes menjodohkan, dan tes pilihan ganda. Tes pilihan ganda terdiri atas (a) tes pilihan ganda biasa, (b) tes pilihan ganda analisis hubungan antarhal, serta (c) pilihan ganda analisis kasus, pilihan ganda kompleks, dan pilihan ganda menggunakan diagram/grafik.
Kelima ragam tes objektif pilihan ganda memiliki dua komponen pokok, yaitu pokok soal (stem) dan sejumlah pilihan (option). Di antara pilihan, ada satu jawaban benar yang disebut kunci. Pilihan di luar yang benar disebut pengecoh (distractors).
b. Apa keunggulan tes objektif?
Tes objektif dapat memiliki keunggulan, yaitu (1) hasil tes dapat diolah dengan cepat, (2) mempunyai keajekan hasil pengukuran yang tinggi, (3) dalam satu kali ujian dapat ditanyakan banyak materi yang telah diajarkan dalam proses pembelajaran (validitas isi dapat dipertanggungjawabkan), serta (4) jika dikonstruksi dengan baik, tes objektif dapat mengukur semua jenjang berpikir dari yang sederhana sampai yang kompleks.
c. Bagaimana merencanakan tes objektif yang baik?
Tes hasil belajar (achievement test) dikatakan baik jika tes tersebut dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Idealnya, semua materi yang telah diajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut harus diukur ketercapaiannya. Akan tetapi, mengingat keterbatasan waktu pelaksanaan ujian, keadaan ini memaksa kita untuk memilih tujuan-tujuan penting mana yang harus diukur ketercapaiannya. Pemilihan tersebut harus dilakukan secara representatif agar kita mempunyai keyakinan bahwa jika siswa lulus dalam tes ini, siswa tersebut memang telah menguasai materi mata pelajaran yang telah diajarkan dalam proses pembelajaran. Keadaan seperti itu dapat dicapai jika dalam menyusun tes tersebut dilakukan melalui perencanaan yang baik.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan tes objektif sebagai berikut.
1) Pemilihan sampel materi yang akan diujikan
Pemilihan sampel materi yang akan ditulis butir soalnya hendaknya dilakukan dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pilihlah sampel materi yang secara representatif dapat mewakili semua materi yang telah diajarkan selama proses pembelajaran. Semakin banyak sampel materi yang dapat ditanyakan, semakin banyak pula tujuan pembelajaran yang akan dapat kita ukur. Dasar pertimbangan yang dipergunakan dalam pemilihan sampel materi adalah dasar pertimbangan keahlian (expert judgement). Dengan demikian, yang
dapat membuat perencanaan tes adalah orang yang memang menguasai materi pembelajaran tersebut. Sangat tidak mungkin perencanaan tes yang baik dibuat oleh orang yang tidak menguasai materi mata pelajaran yang bersangkutan.
a) Menentukan jenjang kemampuan berpikir yang ingin diuji. b) Memilih ragam tes objektif yang digunakan.
c) Menentukan sebaran tingkat kesukaran butir soal.
d) Menentukan waktu yang disediakan untuk pelaksanaan ujian. e) Menentukan jumlah butir soal.
f) Menyusun kisi-kisi dengan cara memasukkan komponen-komponen yang telah ditentukan di atas.
2) Prinsip penulisan tes pilihan ganda
Mutu butir soal tipe pilihan ganda sangat bergantung pada kemampuan orang yang mengonstruksi butir soal tipe ini. Butir soal yang dibuat secara serampangan atau dibuat oleh orang yang tidak terlatih akan berbahaya bagi proses pendidikan secara keseluruhan karena akan mengarah pada interpretasi yang salah pada kemampuan atau hasil belajar peserta tes. Jadi, pelatihan dan pengetahuan tentang prinsip penyusunan butir soal tipe ini akan sangat menentukan pengukuran hasil belajar. Dalam tes bentuk pilihan ganda, selain pokok soal yang harus jelas rumusnya dan tidak merupakan pernyataan yang dapat ditafsirkan bermacam-macam sehingga meragukan artinya atau tidak jelas maksudnya, rumusan pilihan yang benar ada pada dirinya. Apakah yang ingin ditanyakan telah dituliskan (dikomunikasikan) dengan baik? Apakah terdapat “petunjuk” pada alternatif jawaban yang benar? Berikut ini dikemukakan beberapa prinsip pokok dalam konstruksi butir soal tipe pilihan ganda.
a) Sari pati permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal (stem). Inti permasalahan dalam butir soal tersebut harus dicantumkan dalam rumusan pokok soal sehingga dengan membaca pokok soal, mahasiswa sudah dapat menentukan jawaban sebelum dilanjutkan membaca pilihan jawaban. Persyaratan ini tidak berlaku bagi pengembangan butir soal kesusastraan.
b) Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam pilihan. Peniadaan pengulangan kata berarti menyangkut waktu menulis dan membaca serta menghemat tempat.
c) Hindari rumusan kata yang berlebihan. Tidak selalu penjelasan teperinci mempermudah pengertian, justru dapat membingungkan dan mengaburkan pengertian. Yang penting, rumusan yang baik yang berisi, padat, dan jelas tanpa kata-kata “kembang”.
d) Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, kata atau kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan, bukan di tengah-tengah kalimat.
e) Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sederhana. Cara menyusun alternatif jawaban dibuat berderet dari atas ke bawah. Kalau yang dideretkan itu terdiri atas satu kata, urutan ke bawah dibuat berdasarkan alfabet. Kalau yang dideretkan bilangan, urutan ke bawah berdasarkan bilangan yang makin bertambah besar, makin menurun, atau diurutkan berdasarkan panjang kalimat.
f) Hindari penggunaan kata-kata teknis, ilmiah, atau istilah yang aneh atau mentereng. Perlu diingat bahwa tes yang dikembangkan bertujuan untuk mengukur materi pelajaran. Kalau materi tersebut tidak menyangkut perbendaharaan, janganlah menggunakan istilah teknik atau aneh.
Contoh yang kurang baik
Apakah kritik utama ahli psikologi terhadap tes? A. Tes menimbulkan anciety.
B. Tes selalu disertai kultural bias.
C. Tes hanya mengukur hal-hal yang trivial. D. Tes tergantung pada kemampuan kognitif guru.
Contoh yang lebih baik
Apakah kritik utama ahli psikologi terhadap tes? A. Tes menimbulkan rasa cemas.
B. Tes sangat tergantung pada nilai budaya tertentu. C. Tes mengukur hasil belajar yang tidak penting. D. Tes sangat ditentukan oleh pengetahuan guru.
g) Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar. Ciri khas pilihan ganda dari tes objektif yang lain adalah pada pilihan ganda, semua alternatif jawaban ada
kemungkinan sebagai jawaban yang benar sehingga mahasiswa terpaksa membaca dan memikirkan semua pilihan dan menentukan mana yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hindari pengecoh yang dengan melihat sepintas mahasiswa sudah dapat menentukan pengecoh tersebut tidak ada sangkutannya dengan pokok soal atau pengecoh tersebut adalah jawaban yang tidak masuk akal.
h) Hindari keadaan ketika jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah. Ada kecenderungan mahasiswa memilih jawaban yang lebih panjang dan yang lebih teperinci sebagai jawaban yang benar. Oleh karena itu, penulis soal berusaha agar pengecoh dan jawaban yang benar ditulis sama panjang dengan perincian yang sama pula.
i) Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar. j) Hindari menggunakan pilihan yang berbunyi “semua yang di atas
benar” atau “tidak satu pun yang di atas benar”, adanya pilihan semacam ini sebenarnya mengurangi jumlah alternatif pilihan karena kalau mahasiswa sudah mengenal satu atau dua di antara empat pilihan, sebagai jawaban pilihan ketiga mahasiswa tersebut akan memilih “semua yang di atas benar”. Hal yang sama berlaku untuk “tidak satu pun yang di atas benar”.
k) Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan. Kalau hanya ada dua pilihan, bentuk ini sama dengan bentuk salah-benar. Dua pilihan berarti tebakannya tinggi, sedangkan kalau lima pilihan, faktor tebakan menurun, yaitu 20 persen. Banyaknya pilihan yang disediakan sangat ditentukan oleh usia peserta tes dan juga tergantung pada sifat bahan yang disajikan.
l) Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bermakna tidak tentu, misalnya kebanyakan, sering kali, kadang-kadang, dan sejenisnya.
m) Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif. Jika terpaksa menggunakan pernyataan negatif, kata negatif tersebut digarisbawahi atau ditulis tebal
3) Pilihan ganda menggunakan diagram, gambar, grafik, atau tabel
Bentuk soal ini mirip dengan analisis kasus, baik struktur maupun pola pertanyaannya. Bedanya, dalam tes bentuk ini, tidak disajikan kasus
86 88 90 92 94 96 98 100 102 104 Bandung Surabaya Banyaknya penonton konser
dalam bentuk cerita atau peristiwa, tetapi kasus tersebut berupa diagram, gambar, grafik, atau tabel.
Contoh
Tabel di bawah ini menggambarkan rata-rata suhu dan curah hujan di Kota X.
Udara (°C) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
Suhu Udara (°C) 28,9 29,9 31,3 29,9 29,1 28,6 27,9 28,1 28,9 28,7 28,4 28,6 Curah hujan (mm) 1,0 4,0 23,0 66,0 27,0 0,0 0,0 1,0 2,0 42,0 34,0 8,0 Pertanyaan
Manakah yang benar untuk Kota X?
A. Bulan yang terpanas suhu udaranya adalah bulan yang sedikit curah hujannya.
B. Setiap bulan selalu turun hujan di Kota X.
C. Terjadi dua kali musim hujan dalam setahun di Kota X.
D. Waktu yang paling baik untuk menanam padi di Kota X adalah bulan Juni.
Simpulan yang tepat dari fakta pada diagram tersebut adalah .... A. seharusnya konser tidak diadakan di kota-kota besar B. penonton konser di kota besar relatif banyak C. penonton konser di kota besar cenderung menurun
D. sudah selayaknya penonton konser di kota besar relatif banyak E. penonton konser di Bandung mencapai jumlah tertinggi*
Tes pilihan berganda dengan semua variasinya selalu dapat menggunakan diagram, gambar, grafik, atau tabel, baik sebagai pokok soal (stem) maupun sebagai alternatif pilihan. Biasanya, butir soal yang menggunakan diagram, gambar, grafik, dan tabel dapat mengukur/aspek proses berpikir yang lebih tinggi dari aspek ingatan.
Hampir sama dengan pendapat di atas, Djaali (2008) mengungkap prinsip penyusunan tes objektif diuraikan berikut.
1. Dari Segi Konstruksi
a. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
b. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
d. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
e. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
f. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”. g. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut atau kronologisnya.
h. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
i. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. 2. Dari Segi Bahasa
a. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
b. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
c. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
d. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frasa yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
Berikut ini dicontohkan penulisan tes objektif yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat.
a. Contoh konstruksi soal objektif yang baik
(1) Jumlah perahu nelayan yang dipakai untuk menangkap ikan di Selat Bali sudah sangat banyak sehingga tidak sebanding dengan potensi produksi ikan di perairan itu. (2) Jumlah perahu nelayan sebanyak 146 unit dengan anak buah kapal antara 20 orang hingga 30 orang per unit. (3) Kapal-kapal itu kondisinya masih sangat bagus dan bisa beroperasi. (4) Jumlah ini sudah termasuk berlebihan sehingga nelayan yang beroperasi di Selat Bali itu dinilai tidak sebanding dengan potensi produksi ikan. (5) Apalagi, nelayan itu hidupnya susah dan dengan pendidikan yang relatif rendah. (6) Sudah saatnya nelayan harus mengalihkan lokasi penangkapan di laut lepas Banyuwangi. (7) Potensi produksi ikan di laut lepas Banyuwangi itu sangat besar dan mampu memproduksi sekitar 212.000 ton per tahun.
Kalimat pada paragraf di atas yang harus dihilangkan adalah .... A. kalimat 1 dan 3
B. kalimat 2 dan 3 C. kalimat 3 dan 4 D. kalimat 3 dan 5 E. kalimat 6 dan 7
b. Bukan contoh yang baik
(1) Jumlah perahu nelayan yang dipakai untuk menangkap ikan di Selat Bali sudah sangat banyak sehingga tidak sebanding dengan potensi produksi ikan di perairan itu. (2) Jumlah perahu nelayan sebanyak 146 unit dengan anak buah kapal antara 20 orang hingga 30 orang per unit. (3) Kapal-kapal itu kondisinya masih sangat bagus dan bisa beroperasi. (4) Jumlah ini sudah termasuk berlebihan sehingga nelayan yang beroperasi di Selat Bali itu dinilai tidak sebanding dengan potensi produksi ikan. (5) Apalagi, nelayan itu
hidupnya susah dan dengan pendidikan yang relatif rendah. (6) Sudah saatnya nelayan harus mengalihkan lokasi penangkapan di laut lepas Banyuwangi. (7) Potensi produksi ikan di laut lepas Banyuwangi itu sangat besar dan mampu memproduksi sekitar 212.000 ton per tahun.
Kalimat pada paragraf di atas yang harus dihilangkan adalah .... A. kalimat 2 dan 3
B. kalimat 4 dan 5 C. kalimat 3 dan 4 D. kalimat 1 dan 2
c. Contoh opsi yang homogen
Penggunaan kata depan dari di bawah ini benar, KECUALI pada kalimat ....
(A) tikar itu dibuat dari rotan
(B) dari logat bicaranya tampak dia berasal dari Jawa (C) dari laparnya dia tidak sempat berdoa
(D) Kota Jakarta lebih luas dari Kota Surabaya*
(E) dari Malang ke Jakarta, diperlukan waktu satu jam penerbangan
d. Bukan contoh untuk option dengan panjang relatif sama
Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah .... A. siapakah gubernur yang baru dilantik itu
B. tahun ini jumlah warga negara Indonesia yang menunaikan ibadah haji tidak berkurang
C. kemarin Brigadir Jenderal Hariyadi dilantik
D. kedudukan wakil presiden dalam pemerintahan Habibie pernah kosong
1) Isilah tabel berikut berdasarkan pemahaman Anda terhadap karakteristik tes objektif dan tes esai!
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
TES OBJEKTIF TES URAIAN Taksonomi yang diukur Jumlah sampel Menyusun pertanyaan Pengolahan Faktor-faktor yang mengganggu hasil pengolahan
2. Amati kasus penulisan tes objektif berikut! Tulislah kesalahan yang ada dan perbaikilah sehingga menjadi soal tes objektif yang tepat!
Sekolahku telah memiliki sebuah koperasi sekolah. Koperasi sekolah … (1) … seluruh siswa. Koperasi sekolah menyediakan barang … (2) … kebutuhan siswa. Pada waktu istirahat, para siswa yang mendapat jadwal piket … (3) … untuk mengurus koperasi sekolahnya.
Kata berimbuhan yang sesuai untuk melengkapi kalimat di atas adalah ....
A. beranggotakan, berdasarkan, berdatangan B. beranggota, berdasar, datang
C. beranggotakan, berdasarkan, mendatangi D. kelompok, dasar, datang
E. anggota, dasar, mendatangkan
Petunjuk Jawab Latihan
1)
TES OBJEKTIF TES URAIAN
Taksonomi yang diukur
Baik untuk mengukur pengetahuan ingatan, pemahaman, aplikasi, dan analisis. Kurang tepat untuk mengukur sintesis dan evaluasi.
Kurang baik untuk mengukur ingatan. Baik untuk mengukur pemahaman, aplikasi, dan analisis. Paling baik untuk mengukur sintesis dan evaluasi.
Jumlah sampel Dapat mengukur lebih banyak sampel pertanyaan sehingga benar-benar mewakili materi yang diajarkan.
Hanya dapat menanyakan beberapa pertanyaan sehingga kurang mewakili materi yang diajarkan.
Menyusun pertanyaan
Menyusun pertanyaan yang baik sulit dilakukan dan memakan waktu yang banyak.
Menyusun pertanyaan yang baik sulit, tetapi lebih mudah dibandingkan pertanyaan objektif dan waktu yang digunakan cukup singkat.
Pengolahan Pengolahan objektif, sederhana, dan ketetapannya (reliabilitas) tinggi.
Pengolahan sangat subjektif, sukar, dan ketepatannya (reliabilitas) rendah.
Faktor-faktor yang mengganggu hasil pengolahan
Hasil kemampuan siswa dapat terganggu oleh kemampuan membaca dan menerka. Mendorong siswa untuk lebih banyak mengingat, membuat interpretasi, dan menganalisis ide orang lain.
Penyelesaian tes oleh siswa dan pengolahan tes oleh dosen memerlukan waktu singkat.
Hasil kemampuan siswa dapat terganggu oleh kemampuan menulis dan mendongeng. Mendorong siswa untuk mengorganisasikan,
menghubungkan, dan menyatakan ide sendiri secara tertulis. Penyelesaian tes oleh mahasiswa dan pengolahan tes oleh dosen memerlukan waktu yang cukup banyak.
2) Kesalahan pada contoh adalah option tidak homogen. Seharusnya diganti dengan kata berimbuhan semua.
Sekolahku telah memiliki sebuah koperasi sekolah. Koperasi sekolah … (1) … seluruh siswa. Koperasi sekolah menyediakan barang … (2) … kebutuhan siswa. Pada waktu istirahat, para siswa yang mendapat jadwal piket … (3) … untuk mengurus koperasi sekolahnya.
Kata berimbuhan yang sesuai untuk melengkapi kalimat di atas adalah ....
A. beranggotakan, berdasarkan, berdatangan B. beranggota, berdasar, datang
C. beranggotakan, berdasarkan, mendatangi D. beranggota, berdasar, didatangkan E. beranggota, berdasarkan, mendatangkan
Tes digunakan untuk mengukur aspek kognitif. Jenis tes berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu tes objektif dan tes esai. Tes esai dan tes objektif memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk mengurangi kelemahan tes, perlu dilakukan perencanaan yang baik dalam penyusunan tes.
Penyusunan tes esai perlu memenuhi prinsip (a) merencanakan sesuai dengan karakteristik kompetensi yang diukur, (b) menggunakan tes uraian untuk mengukur hasil belajar yang sukar atau tidak tepat jika diukur dengan tes objektif, (c) perintah dirumuskan secara jelas dan singkat, serta (d) diperlukan pedoman penyekoran/rambu-rambu jawaban untuk menjaga keajekan hasil
Dalam menyusun tes objektif, perlu dipenuhi prinsip penyusunan tes objektif yang mencakup (a) pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas, (b) rumusan pokok soal, (c) pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar, (d) pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda, (e) panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama, (f) pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”, (g) pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut atau kronologisnya, (h) gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi, serta (i) butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Dari segi bahasa, penyusunan tes objektif harus memenuhi syarat (a) setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, (b) jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional, (c) setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif, serta (d) pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frasa yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
1) Keunggulan tes pilihan ganda adalah .... A. tidak ada kesempatan menebak bagi siswa B. validitas isi lebih bisa dipertanggungjawabkan C. dapat mengukur semua jenjang dalam ranah kognitif D. mudah dikonstruksi
2) Jika tujuan pembelajaran yang akan diukur adalah siswa dapat menganalisis masalah yang ada pada teks yang dibaca, tes objektif yang tepat digunakan adalah ....
A. B – S B. menjodohkan C. isian singkat D. pilihan ganda
3) Ragam tes objektif berikut ini yang paling sukar dikonstruksi adalah .... A. B – S
B. menjodohkan C. pilihan ganda D. isian singkat
4) Jika jumlah peserta tes lebih dari 400 siswa, jenis tes berikut ini tetap digunakan, kecuali ....
A. uraian B. menjodohkan C. pilihan ganda D. B – S
5) Keunggulan tes pilihan ganda jika dibandingkan dengan tes uraian adalah ....
A. adanya unsur subjektivitas dalam pemeriksaan B. hasil pemeriksaan sangat objektif
C. dapat mengukur proses berpikir tinggi D. mudah di konstruksi
TES F ORM AT IF 1
6) Jika dibandingkan dengan tes uraian, kelemahan utama tes objektif adalah ....
A. sulit dikonstruksi
B. probabilitas dalam menebak tinggi C. siswa tidak dapat mengemukakan idenya D. tidak dapat mengukur proses berpikir tinggi
7) Pernyataan di bawah ini merupakan kelemahan tes esai .... A. tidak bisa mengukur cakupan yang luas
B. tidak dapat mengukur kemampuan evaluatif C. tidak dapat mengukur kemampuan berkreasi D. tidak memiliki validitas yang tinggi
8) Prinsip penyusunan tes objektif di bawah ini, kecuali .... A. option harus homogen
B. pokok soal dirumuskan secara jelas
C. dibuatkan garis besar rambu-rambu jawaban D. pengecoh berfungsi dengan baik
9) Bu Dewi akan mengukur kemampuan siswa menentukan tiga buah ide pokok dan alasan dipilihnya ide pokok tersebut. Instrumen penilaian yang harus disediakan adalah tes ....
A. esai B. B – S C. pilihan ganda D. menjodohkan
10) Pak Dewa akan merancang UAS membaca pemahaman untuk siswa-siswanya. Siswa yang akan mengikuti sebanyak 240 (enam kelas paralel). Pak Dewa menginginkan ada orang yang membantunya
mengoreksi. Alat penilaian yang tepat digunakan Pak Dewa adalah tes ....
A. esai tidak terstruktur B. pilihan ganda C. esai terstruktur D. menjodohkan
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%
Kegiatan Belajar 2
Pengembangan Alat Penilaian Hasil PBI
Berbentuk Portofolio
Gambar 2.2
Alat penilaian autentik, menurut Hibbard (2000), mencakup tes kinerja, lembar observasi, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, serta portofolio dan jurnal. Hal senada juga dijelaskan oleh Johnson (2002) bahwa asesmen autentik meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata. Penilaian autentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice,
matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format
yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa (a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), (b) tugas (tugas keterampilan, tugas investigasi sederhana, dan tugas investigasi terintegrasi), (c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya portofolio, interview, daftar cek, dan sebagainya.
Pada hakikatnya, kegiatan penilaian autentik dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa saja, melainkan juga berbagai faktor
Kemampuanku membuat cerpen juga semakin bagus. Aku semakin pintar
menyusun puisi. Lihat portofolioku.
Selamat berjuang! Semoga sukses
kawan.
Aku agak kesulitan membuat karya tulis.
yang lain. Artinya, berdasarkan informasi yang diperoleh dapat pula dipergunakan sebagai umpan balik penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan. O’Malley dan Pierce (1996: 4) mendefinisikan authentic
assessment sebagai asesmen yang menggambarkan kemampuan siswa,
presentasi, motivasi, dan sikap pada kegiatan pembelajaran yang relevan yang meliputi asesmen performansi, portofolio, dan asesmen diri. Tik juga merupakan sebutan yang digunakan untuk menggambarkan tugas-tugas yang riil yang dibutuhkan siswa-siswa untuk dilaksanakan dalam menghasilkan pengetahuan mereproduksi informasi.
Beberapa pembaruan yang tampak pada penilaian autentik adalah a) melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, berfaedah, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa; b) tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar, bukan tes tradisional; c) melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas; d) menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya akan dinilai; e) merupakan alat penilaian dengan latar
standar (standar setting), bukan alat penilaian yang distandardisasikan; f) berpusat pada siswa (student centered), bukan berpusat pada guru (teacher
centered); serta g) dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya
belajar, dan latar belakang kulturnya.
Prinsip penilaian autentik adalah proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not apart from, instruction). Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (school work-kind of problems). Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, serta kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar. Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensor motorik).
Berdasarkan uraian di atas, kita sadari bahwa asesmen alternatif menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga dapat mengembangkan instrumen untuk mengukur kemampuan siswa dengan cara yang lebih baik. Menurut Hart (1994), kalau guru mengubah cara mangakses siswa, guru juga akan penting meningkatan pendidikan. Akan tetapi, penting juga bagi siswa, guru mengubah bagaimana dia mengajar dan bagaimana siswa belajar. Perubahan ini tidak hanya orang tua.
Untuk memperdalam pemahaman Anda terhadap penggunaan alat penilaian autentik, bacalah dengan saksama uraian berikut!
A. PORTOFOLIO SEBAGAI ALAT PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Portofolio merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu portfolio yang berarti kumpulan berkas atau arsip yang disimpan dalam bentuk jilid, seperti map. Dalam kaitan dengan penilaian, portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan hasil karya seseorang, baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk dokumen tertulis, kaset video, atau audio. Namun, portofolio tidak sekadar kumpulan karya seseorang. Portofolio perlu ditata sesuai dengan tujuan penilaian.
Definisi lain mengenai portofolio adalah kumpulan hasil kerja siswa yang menunjukkan atau memperlihatkan hasil pemikiran mereka, minat mereka, hasil usaha mereka, dan tujuan atau cita-cita mereka dalam berbagai bidang. Portofolio membantu siswa untuk melihat kembali bagaimana pikiran, perasaan, hasil kerja, dan perkembangan mereka dalam kurun waktu tertentu.
Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. Portofolio dapat bercerita tentang aktivitas siswa dalam belajar bahasa (berkomunikasi). Fokus portofolio adalah pemecahan masalah, berpikir, pemahaman, komunikasi tertulis, hubungan antarkonsep, dan pandangan siswa sendiri terhadap dirinya sebagai orang yang belajar.
Portofolio tidak sekadar file yang mengarsip pekerjaan siswa. Lembaran-lembaran tentang pekerjaan siswa yang dimasukkan dalam portofolio harus memiliki tingkat kebermaknaan yang tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lain yang pernah dilakukan siswa. Jenis portofolio diuraikan berikut.
1. Portofolio Proses
Portofolio jenis ini berisi seluruh pekerjaan siswa dalam bidang tertentu dan dalam kurun waktu tertentu (satu semester, satu tahun, atau satu satuan pendidikan). Portofolio jenis ini berisi tahapan pengalaman siswa dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran. Bukti-bukti proses dan produk terekam dengan lengkap, termasuk draf kasar, sketsa, perbaikan-perbaikan, serta hasil akhir pekerjaan siswa.
Portofolio jenis ini dapat menggambarkan keseluruhan proses dan perkembangan siswa, kesulitan yang dialami siswa, tahapan pengalaman yang dialami siswa, serta kemampuan siswa mencapai suatu tujuan pembelajaran.
2. Portofolio Pameran
Portofolio jenis ini berisi hasil terbaik dari karya siswa yang akan dipamerkan kepada kepala sekolah, orang tua, ataupun masyarakat. Portofolio ini berfungsi seperti etalase yang memamerkan barang dagangan tertentu. Portofolio jenis ini cenderung berisi produk akhir. Portofolio jenis ini lebih banyak berfungsi memberikan penghargaan dan meningkatkan harga diri siswa melalui publikasi karya-karyanya. Dari portofolio jenis ini, sekolah-sekolah dapat berkompetensi untuk merancang pembelajaran agar produk yang dihasilkan siswa bermakna dan berkualitas.
3. Portofolio Refleksi
Portofolio jenis ini memfokuskan pada refleksi proses dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Portofolio jenis ini berisi kumpulan proses dan hasil pekerjaan siswa dalam bidang tertentu dalam kurun waktu tertentu, penilaian diri oleh siswa terhadap karya yang dihasilkan, penilaian guru terhadap karya siswa, serta simpulan tentang kualitas proses dan hasil. Portofolio ini digunakan oleh guru sebagai alat penilaian dan juga untuk membantu siswa merefleksikan apa yang telah mereka pelajari.
Sebagai kumpulan karya yang akan dinilai, portofolio mempunyai karakteristik yang khas seperti berikut.
a. Portofolio dapat menggambarkan perkembangan atau kemajuan kemampuan seseorang dalam satu bidang. Misalnya, perkembangan kemampuan seseorang dalam menulis dapat dilihat dari kumpulan tulisannya dalam portofolio.
b. Portofolio merupakan bukti autentik dari kemampuan seseorang.
c. Portofolio dapat menggambarkan kemampuan seseorang secara lebih komprehensif, lebih-lebih jika portofolio direncanakan untuk menilai kemampuan siswa secara utuh.
d. Portofolio menggambarkan refleksi dari suatu tujuan pembelajaran yang tergambar dalam tahapan pengalaman siswa dalam mencapai tujuan. Portofolio disusun dengan langkah: (1) identifikasi tujuan portofolio (menilai perkembangan kompetensi tertentu atau seluruh kompetensi dalam mata pelajaran tertentu), (2) penentuan jenis portofolio, (3) penentuan kompetensi dan tahapan pencapaiannya, (4) penentuan bukti belajar yang akan dimasukkan dalam portofolio, (5) penentuan kriteria penilaian karya yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa, serta (6) penentuan isi tiap-tiap bagian portofolio.
Portofolio diharapkan dapat memberikan balikan bagi siswa ataupun guru serta dapat menggambarkan pertumbuhan kemampuan siswa. Untuk itu, penilaian portofolio harus dilakukan pada awal, tengah, dan akhir pembelajaran. Guru dan siswa harus menyepakati kapan penilaian awal, tengah, dan akhir dilakukan. Penilaian karya produktif (menulis dan berbicara) memerlukan bantuan rubrik agar penilaian lebih terfokus.
Portofolio dinilai dengan cara menganalisis, membandingkan, dan menyimpulkan bukti proses penulisan dan hasil penulisan. Untuk tujuan memberi balikan, setiap dokumen/karya dianalisis, kemudian disimpulkan apakah karya tersebut membuktikan bahwa siswa telah belajar sesuatu. Simpulan ini disampaikan kepada siswa sebagai balikan. Dengan membandingkan dokumen/karya yang satu dengan yang lain, dapat dilihat apakah siswa telah menggambarkan kemajuan dalam menguasai kemampuan tertentu. Ada baiknya perbandingan hasil karya tersebut dibuat bersama-sama dengan siswa sehingga ia dapat menemukan sendiri kemajuannya.
Secara lebih perinci, tahap perencanaan, pelaksanaan, dan tahap penilaian portofolio diuraikan sebagai berikut.
a. Tahap persiapan
1) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
2) Menjelaskan tujuan, cara, dan melaksanakan asesmen portofolio beserta contoh.
3) Menjelaskan persyaratan minimal membuat portofolio. 4) Menjelaskan penyajian hasil karya.
b. Tahap pelaksanaan
1) Mendorong dan memotivasi siswa.
2) Melakukan pertemuan rutin dan mendiskusikan hasil kerja. 3) Memberikan umpan balik.
4) Memamerkan hasil karya.
c. Tahap penilaian
1) Penilaian dilakukan bersama siswa.
2) Penerapan kriteria penilaian secara konsisten.
3) Self assessment oleh siswa (siswa menilai diri sendiri).
Tahap-tahap tersebut harus diaplikasikan secara utuh ketika guru akan menggunakan penilaian portofolio. Tahap persiapan berfungsi sebagai
perencanaan matang akan dilakukannya penilaian dengan portofolio. Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan memotivasi siswa menghasilkan karya yang direncanakan. Pada tahap penilaian, terdapat balikan atau penilaian untuk memperbaiki karya siswa. Hasil penilaian dijadikan dasar untuk pelaksanaan proses belajar selanjutnya.
1) Jelaskan karakteristik portofolio sebagai alat penilaian autentik!
2) Jelaskan langkah yang perlu ditempuh untuk menggunakan portofolio sebagai alat penilaian yang berfungsi sebagai balikan!
3) Buatlah contoh rancangan penilaian portofolio untuk kompetensi dasar dalam pembelajaran bahasa Indonesia!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Karakteristik portofolio adalah (a) kumpulan hasil karya seseorang, baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk dokumen tertulis, kaset video, atau audio; (b) portofolio tidak sekadar kumpulan karya seseorang, tetapi portofolio perlu ditata sesuai dengan tujuan penilaian; (c) kumpulan hasil kerja siswa dalam portofolio menunjukkan atau memperlihatkan hasil pemikiran, minat, hasil usaha, dan tujuan atau cita-cita siswa dalam berbagai bidang; (d) portofolio membantu siswa untuk melihat kembali bagaimana pikiran, perasaan, hasil kerja, dan perkembangan mereka dalam kurun waktu tertentu, serta (e) portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu.
2) Portofolio dinilai dengan cara menganalisis, membandingkan, dan menyimpulkan bukti proses penulisan dan hasil penulisan. Untuk tujuan memberi balikan, setiap dokumen/karya dianalisis, kemudian disimpulkan apakah karya tersebut membuktikan bahwa siswa telah belajar sesuatu. Simpulan ini disampaikan kepada siswa sebagai balikan. Dengan membandingkan dokumen/karya yang satu dengan yang lain, dapat dilihat apakah siswa telah menggambarkan kemajuan dalam
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
menguasai kemampuan tertentu. Ada baiknya perbandingan hasil karya tersebut dibuat bersama-sama dengan siswa sehingga ia dapat menemukan sendiri kemajuannya.
3) Contoh rancangan portofolio dalam pembelajaran bahasa
Tujuan portofolio : mengamati perkembangan kemampuan menulis Jenis portofolio : Portofolio refleksi
Kelas : II SMP Rentangan waktu : satu semester
Nama : --- Isi Portofolio
Bagian 1 ( kumpulan karya siswa dan tahapan prosesnya)
Bagian 1 berisi sejumlah proses penyusunan dan hasil akhir karya siswa. Jumlah dan jenis kompetensi menulis yang akan didokumentasikan disesuaikan dengan kompetensi dalam kurikulum. Proses dan hasil karya dipaparkan seperti berikut.
A. Kompetensi menulis puisi
1. Perencanaan penulisan (topik yang dipilih, cara pembatasan topik) 2. Buram puisi
3. Hasil penyuntingan-penyuntingan yang dilakukan (guru, teman/diri sendiri)
4. Hasil akhir penulisan puisi (revisi) B. Kompetensi menulis cerpen
1. Perencanaan penulisan (pokok persoalan yang dipilih) 2. Kerangka cerita (dengan berbagai perubahannya) 3. Buram cerita pendek
4. Hasil penyuntingan-penyuntingan yang dilakukan (guru, teman/diri sendiri)
5. Hasil akhir penulisan cerpen C. Kompetensi menulis karya ilmiah
1. Perencanaan penulisan (topik yang dipilih dan pembatasan topik) 2. Kerangka karya ilmiah (dengan berbagai perubahannya)
3. Daftar sumber bahan yang telah dibaca/dikumpulkan 4. Buram karya ilmiah
5. Hasil penyuntingan-penyuntingan yang dilakukan (guru, teman/ diri sendiri)
6. Hasil akhir penulisan karya ilmiah Kompetensi ...
Kompetensi ...
(disesuaikan dengan kompetensi dalam kurikulum) Bagian 2 (penilaian diri dan penilaian guru)
Bagian ini berisi sejumlah rubrik sesuai dengan kompetensi yang dipelajari siswa dengan hasil penilaian siswa terhadap karyanya. Selain itu, dalam bagian ini juga terdapat rubrik dengan hasil penilaian guru.
Bagian 3 (Simpulan hasil penilaian)
Berisi simpulan siswa tentang tingkatan kemampuan menulisnya. Pada bagian ini, juga berisi simpulan siswa tentang grade yang sesuai dengan dirinya dan alasan-alasan yang mendukungnya. Selain dari pihak siswa, bagian 3 ini juga berisi simpulan dari pihak guru tentang proses dan produk karya yang dihasilkan siswa.
Portofolio merupakan salah satu bentuk alat penilaian autentik yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa. Karakteristik portofolio adalah (a) kumpulan hasil karya seseorang, baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk dokumen tertulis, kaset video, atau audio; (b) portofolio tidak sekadar kumpulan karya seseorang, tetapi portofolio perlu ditata sesuai dengan tujuan penilaian; (c) kumpulan hasil kerja siswa dalam portofolio menunjukkan atau memperlihatkan hasil pemikiran, minat, hasil usaha, dan tujuan atau cita-cita siswa dalam berbagai bidang; (d) portofolio membantu siswa untuk melihat kembali bagaimana pikiran, perasaan, hasil kerja, dan perkembangan mereka dalam kurun waktu tertentu; serta (e) portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu.
Penilaian portofolio disusun dengan langkah: (1) identifikasi tujuan portofolio (menilai perkembangan kompetensi tertentu atau seluruh kompetensi dalam mata pelajaran tertentu), (2) penentuan jenis portofolio, (3) penentuan kompetensi dan tahapan pencapaiannya, (4) penentuan bukti belajar yang akan dimasukkan dalam portofolio, (5)
penentuan kriteria penilaian karya yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa, serta (6) penentuan isi tiap-tiap bagian portofolio.
Portofolio dinilai dengan cara menganalisis, membandingkan, dan menyimpulkan bukti proses penulisan dan hasil penulisan. Untuk tujuan memberi balikan, setiap dokumen/karya dianalisis, kemudian disimpulkan apakah karya tersebut membuktikan bahwa siswa telah belajar sesuatu. Simpulan ini disampaikan kepada siswa sebagai balikan. Dengan membandingkan dokumen/karya yang satu dengan yang lain, dapat dilihat apakah siswa telah menggambarkan kemajuan dalam menguasai kemampuan tertentu. Ada baiknya perbandingan hasil karya tersebut dibuat bersama-sama dengan siswa sehingga ia dapat menemukan sendiri kemajuannya.
1) Karakteristik portofolio adalah kumpulan .... A. hasil karya seseorang pada periode tertentu B. karya dari beberapa mata pelajaran dijadikan satu
C. hasil skor ulangan, baik ulangan harian, UTS, maupun UAS D. hasil konseling perkembangan pribadi seorang murid
2) Langkah membuat portofolio setelah identifikasi tujuan portofolio adalah ....
A. menyosialisasikan tujuan portofolio B. penentuan jenis portofolio
C. penentuan kompetensi dan tahapan pencapaiannya
D. penentuan bukti belajar yang akan dimasukkan dalam portofolio 3) Langkah dalam perencanaan portofolio yang harus dilakukan seorang
guru setelah penentuan bukti belajar yang akan dimasukkan dalam portofolio adalah ....
A. penentuan kriteria penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa
B. penentuan isi tiap-tiap bagian portofolio secara perinci C. penentuan jenis portofolio proses yang akan dihasilkan D. menjelaskan kapan waktu pengumpulan portofolio
TES F ORM AT IF 2