• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI WILAYAH DAN KEBIJAKAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONDISI WILAYAH DAN KEBIJAKAN NASIONAL"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

IV. KONDISI WILAYAH DAN KEBIJAKAN NASIONAL

4.1 Kondisi Geografi dan Demografi

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki luas 19.023,47 km2 dengan kepadatan penduduk sekitar 35 jiwa/km2. Kabupaten ini terdiri dari 18 (delapan belas) kecamatan. Wilayah paling luas adalah Kecamatan Tulung Selapan (4.853,40 km2) dan yang paling sempit adalah kecamatan Kota Kayu Agung (145,45 km2) (Tabel 5). Kabupaten Ogan Kemiring Ilir merupakan daerah beriklim tropis. Musim kemarau umumnya berkisar antara bulan Mei sampai bulan Oktober setiap tahunnya. Sedangkan musim penghujan berkisar antara bulan November sampai dengan bulan April. Penyimpangan musim biasanya berlangsung 5 (lima) tahun sekali, berupa musim kemarau yang lebih panjang dari pada musim penghujan. Rata-rata curah hujan 1.096 mm/tahun dan rata-rata hari hujan adalah 66 hari/tahun.

Wilayah Barat Kabupaten Ogan Kemiring Ilir berupa hamparan dataran rendah yang sangat luas. Sebagian besar perairan merupakan rawa-rawa yang membentang. Beberapa kecamatan di aliri sungai-sungai yang berfungsi sebagai jalur transportasi air. Daerah pegunungan hampir tidak ada, hanya terdapat daratan sempit dan daerah yang berbukit-bukit di Kecamatan Pampangan. Daerah yang paling rendah adalah Kecamatan Tanjung Lubuk dengan ketinggian hanya 6 meter di atas permukaan laut (dpl), sedangkan yang tertinggi adalah kecamatan Pampangan. Di sisi timur terdapat garis pantai yang memanjang dari Kecamatan Sungai Menang, Cengal, Tulung Selapan dan Kecamatan Air sugihan. Garis pantai tersebut bermuara pada ke laut di Selat Bangka.

Sistem hidrologi yang membentuk genangan di wilayah OKI pada prinsipnya termasuk ke dalam satuan geomorfik rawa, karena air yang terakumulasi di dalam cekungan tersebut pada umumnya berasal dari rawa yang berada di sekitarnya. Di kabupaten ini dijumpai empat danau rawa, yaitu danau Deling di Kecamatan Pampangan, danau Air Nilang di Kecamatan Pedamaran, Danau Teluk Gelam di Kecamatan Teluk Gelam, dan danau Teloko di Kecamatan Kayu Agung. Di daerah aliran sungai banyak terdapat lebak, yang mana pasangnya di pengaruhi oleh musim. Pada musim penghujan lebak terendam air,

(2)

namun surut di musim kemarau. Pada bagian lebak terdapat bagian yang airnya tidak pernah surut dikenal dengan istilah “lebak lebung”, yang digunakan untuk perkembangan ikan.

Tabel 5. Luas daerah dan jumlah desa atau kelurahan per kecamatan berdasarkan kecamatan dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Tahun 2008.

Nama Kecamatan Luas daerah (km2) Desa (buah) Kelurahan (buah) Lempuing 525,61 16 - Lempuing Jaya 503,80 15 - Mesuji 55,86 14 - Sungai Menang 128,85 20 - Mesuji makmur 1513,14 17 - Mesuji Raya 2876,17 18 - Tulung Selapan 4853,40 22 1 Cengal 2226,41 11 - Pedamaran 222,97 14 - Pedamaran Timur 168,29 7 - Tanjung Lubuk 1059,68 22 - Teluk Gelam 464,79 14 - Kayu agung 145,45 14 11

Sirah Pulau padang 149,08 20 -

Jelawi 218,98 18 -

Pampangan 177,42 21 -

Pangkalan Lampam 1139,75 17 -

Air sugihan 2593,83 19 -

Jumlah 19.023,47 299 12

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten OKI (2009).

Adapun jumlah penduduk di kabupaten OKI pada tahun 2007 adalah 685.296 jiwa, meningkat dibanding tahun 2006 yang jumlah penduduknya sebesar 672.192 jiwa. Struktur umur penduduk kabupaten OKI tergolong penduduk muda

(3)

karena proporsi penduduk di bawah 15 tahun masih cukup tinggi, yaitu mencapai 204.763 jiwa (29.88%). Sedangkan penduduk tua, yaitu usia 65 tahun ke atas sebanyak 28.331 atau sekitar 4,13 % (Tabel 6). Distribusi penduduk menurut kecamatan tidak merata.

Tabel 6. Luas daerah, jumlah dan kepadatan penduduk menurut kecamatan dalam wilayah Kabupaten OKI, Tahun 2008.

Kecamatan Luas daerah (km2) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan/ km2 Laki-laki (jiwa) Perem-puan (jiwa) Sex rasio (%) Lempuing 525,61 62.356 118,64 32.357 29.999 107,86 Lempuing Jaya 503,80 58.623 116,36 30.545 28.078 108,79 Mesuji 55,86 35.013 626,80 17.896 17.117 104,55 S. Menang 128,85 31.611 245,33 17.168 14.443 118,87 Mesuji Makmur 1513,14 42.840 28,31 22.896 19.944 114,80 Mesuji Raya 2876,17 46.170 16,05 24.381 21.789 111,90 Tulung Selapan 4853,40 45.481 9,37 23.307 22.174 105,11 Cengal 2226,41 30.624 11,81 16.280 14.344 113,50 Pedamaran 222,97 36.960 34,88 18.440 18.520 99,57 Pedamaran Timur 168,29 18.972 40,82 9.288 9.684 95,91 Tjg Lubuk 1059,68 34.200 153,38 16.500 17.700 93,22 Tlk Gelam 464,79 20.370 121,04 9.658 10.712 90,16 Ky. agung 145,45 56.482 388,33 28.057 28.425 98,71 Sirah Pulau Padang 149,08 41.118 275,81 20.988 20.130 104,26 Jelawi 218,98 38.850 177,41 19/320 19.530 98,92 Pampangan 177,42 27.426 154,58 13.566 13.860 97,88 Pangkalan Lampam 1139,75 25.236 22,14 11.970 13.266 90,23 Air Sugihan 2593,83 32.964 14,81 17.736 15.228 116,47 Jumlah 19.023,47 685.296 36,02 350.353 229.943 104,60 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten OKI (2009).

Tabel 6 memperlihatkan bahwa dari 18 (delapan belas) kecamatan yang ada di Kabupaten OKI, Kecamatan Lempuing memiliki jumlah penduduk terbanyak (62.356 jiwa), kemudian diikuti oleh Kecamatan Lempuing Jaya (58.623 jiwa) dan Kecamatan Kayu Agung (56.482 jiwa). Sementara itu,

(4)

kecamatan Pedamaran Timur memiliki jumlah penduduk yang paling sedikit yaitu sebanyak 18.972 jiwa.

Jumlah penduduk yang masuk usia kerja di Kabupaten OKI sebanyak 480.533 orang. Jumlah angkatan kerja diperkirakan sebanyak 353.393 jiwa, terdiri dari 218.004 angkatan kerja laki-laki dan 135.389 jiwa angkatan kerja perempuan. Hal ini disesuaikan dengan konsepsi yang dikemukakan dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dimaksud dengan “usia kerja” adalah penduduk yang berumur 15-64 tahun ke atas, sedangkan “angkatan kerja” yaitu penduduk yang berumur 15-64 tahun, yang sesungguhnya terlibat dalam kegiatan produktif (memproduksi barang dan jasa) selain yang sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Sementara itu konsep “bekerja” yaitu penduduk yang benar-benar bekerja dengan maksud untuk memperoleh penghasilan minimal 1 jam selama seminggu yang lalu.

4.2 Kapal Penangkap Ikan dan Areal Pemeliharaan Ikan

Jumlah kapal penangkap ikan di darat dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2007 dikemukakan pada Tabel 7. Di lain pihak, areal pemeliharaan ikan diperlihatkan pada Tabel 8.

(5)

Tabel 7. Jumlah Perahu/Kapal Penangkap Ikan Laut dan Darat di Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2007

No Kecamatan Perikanan Darat

(buah) 1 Lempuing 60 2 Lempuing Jaya 537 3 Mesuji 127 4 Sungai Menang - 5 Mesuji Makmur 440 6 Mesuji Raya 153 7 Tulung Selapan 578 8 Cengal 460 9 Pedamaran 573 10 Pedamaran Timur 65 11 Tanjung Lubuk 255 12 Teluk Gelam 17 13 Kayuagung 834

14 Sirah Pulau Padang 773

15 Jejawi 728

16 Pampangan 1,221

17 Pangkalan Lampam 63

18 Air Sugihan 634

Jumlah total 7,518

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ogan Komering Ilir

Tabel 8. Luas Areal Pemeliharaan Ikan di Kabupaten OKI Tahun 2007

Kecamatan Kolam (ha) Sawah (ha) Keramba (buah) 1 Lempuing 19,0 8,0 140 2 Lempuing Jaya 15 8 102 3 Mesuji 10 16 - 4 Sungai Menang 7 3,1 - 5 Mesuji Makmur 8,4 10 - 6 Mesuji Raya 8 19 - 7 Tulung Selapan 2 - 409 8 Cengal 1,6 - 49 9 Pedamaran 31,4 30 - 10 Pedamaran Timur 30 27 - 11 Tanjung Lubuk 1,8 10 - 12 Teluk Gelam 2 5,4 70 13 Kayuagung 8,2 10,7 2,035

14 Sirah Pulau Padang 3,7 7,3 1,739

15 Jejawi 2,6 2,6 1,517

16 Pampangan 1,3 1,8 702

17 Pangkalan Lampam 2,0 1,0 -

18 Air Sugihan 18,8

Jumlah 172,8 159,9 4815

(6)

4.3 Produksi Perikanan

Produksi perikanan perikanan umum di Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2007 adalah 11.320,2 ton (Tabel 9 dan Tabel 10).

Tabel 9. Produksi perikanan perairan umum dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Tahun 2007

No. Kecamatan Perikanan Perairan Umum (ton)

1 Lempuing 47.7 2 Lempuing Jaya 907.2 3 Mesuji 195.0 4 Sungai Menang 668.6 5 Mesuji Makmur - 6 Mesuji Raya 238,4 7 Tulung Selapan 730.4 8 Cengal 620.3 9 Pedamaran 891.4 10 Pedamaran Timur 99.0 11 Tanjung Lubuk 401.5 12 Teluk Gelam 25.6 13 Kayuagung 1,361.2

14 Sirah Pulau Padang 1,134.0

15 Jejawi 115.2

16 Pampangan 2,046.8

17 Pangkalan Lampam 107.7

18 Air Sugihan 690.2

Jumlah 11.320,2

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Tabel 10. Jumlah Produksi Perikanan darat di Perairan Umum Dalam Kabupaten OKI Tahun 2007

Uraian Produksi (ton)

Sungai Rawa Waduk

1 Jaring Insang Hanyut 145.2 297.2 51.0

2 Jaring Insang Tetap 330.3 665.2 112.1

3 Pancing 413.4 836.5 138.2 4 Rawai sejenisnya 36.3 88.5 13.3 5 Sero 869.2 1,774.2 296.4 6 Bubu 420.3 886.2 146.0 7 Jermal 223.5 551.8 87.1 8 Lainnya 862.0 1.717.6 292.2 Jumlah 3,300.2 6,619.2 1,136.3

(7)

Di lain pihak, perikanan budidaya yang menghasilkan produksi mencapai 2.096,42 ton (Tabel 11). Jenis ikan yang dibudidayakan diantaranya ikan patin, gabus, nila dan betutu. Sementara tempat budidaya dilakukan dengan menggunakan kolam dan keramba.

Tabel 11. Produksi Perikanan Budidaya Dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2007.

No. Kecamatan Perikanan Budidaya Kolam (ton) Perikanan Budidaya Keramba (ton) 1 Lempuing 17 31,20 2 Lempuing Jaya 16 24,20 3 Mesuji 7,2 - 4 Sungai Menang 6,1 - 5 Mesuji Makmur 5,3 - 6 Mesuji Raya 4,3 - 7 Tulung Selapan 0,4 117,20 8 Cengal 0,3 15,60 9 Pedamaran 15,94 - 10 Pedamaran Timur 13,3 - 11 Tanjung Lubuk 0,3 23,70 12 Teluk Gelam 0,5 20,30 13 Kayuagung 6,4 560,48

14 Sirah Pulau Padang 1,3 499,28

15 Jejawi 0,7 432,40

16 Pampangan 0,5 204,32

17 Pangkalan Lampam 1,2 62,90

18 Air Sugihan 8,1 -

Jumlah total 104,84 1.991,58

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

4.4 Sumber daya dan Pengawasan Perikanan

Pada Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten OKI (Anonimous, 2009) dikemukakan bahwa pembinaan sumber daya dan pengawasan perikanan dilaksanakan berdasarkan Perda Kab. OKI No.11 Tahun 2001 dan Perda Kab. OKI No.30 Tahun 2002 meliputi pemanfaatan sumber daya hayati perairan dan sumber daya non hayati kelautan. Tujuannya adalah meningkatkan daya dukung sumber daya, produksi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kelestarian sumber daya ikan beserta lingkungannya.

Potensi perikanan darat Kabupaten OKI terdapat hampir di seluruh kecamatan dalam Kabupaten OKI. Potensi perikanan perairan umum daratan

(8)

terdiri dari penangkapan dan budidaya. Budidaya terdiri dari budidaya air tawar dan budidaya air payau. Penangkapan diperairan umum dikelola melalui lelang lebak lebung yang diatur dalam Perda Kab. OKI No.30 Tahun 2002 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Perda Kab. OKI No.9 Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Atas Perda Kabupaten OKI No.30 Tahun 2002 tentang Lelang Lebak Lebung dalam Kabupaten OKI.

Pengawasan bertujuan agar sumber daya ikan dapat lestari dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus serta terbentuknya kondisi pemanfaatan sumber daya ikan yang bertanggung jawab oleh para pemangku kepentingan (stakeholder). Pada pelaksanaannya pengawasan dijabarkan dalam fungsi-fungsi MCS (Monitoring, Control and Surveillance). Fungsi monitoring dalam penangkapan ikan laut dilaksanakan dengan menerapkan Log Book Perikanan bagi kapal perikanan. Khususnya dalam penangkapan di perairan umum daratan dilaksanakan dengan menerapkan catatan harian pengemin/nelayan. Dari pelaksanaan ini diharapkan dapat terdeteksi, antara lain dimana dan sudah berapa banyak sumber daya ikan yang ada sudah dimanfaatkan dan dengan alat apa.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. OKI melaporkan bahwa banyak ditemukan pelanggaran penangkapan ikan seperti putas, stroom listrik di perairan sungai-sungai serta lebak lebung yang tersebar hampir seluruh kecamatan dalam Kabupaten OKI. Namun hasil surveillance dan laporan masyarakat mengenai pelanggaran tersebut belum dapat ditindak lanjuti dengan fungsi investigasi karena kurangnya perangkat lunak peraturan perundang-undangan dan perangkat keras (sarana patroli/transportasi, alat komunikasi dan pembiayaan) serta SDM karena belum adanya tenaga PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) atau WASDI (Pengawas Sumber daya Ikan ) di pemerintah daerah Kabupaten OKI.

Serangan penyakit ikan di perairan umum daratan dan menjadi wabah di perikanan budidaya di Kabupaten OKI sering terjadi pada musim kemarau dan peralihan musim kemarau ke musim hujan. Kegiatan Konservasi dan rehabilitasi sumber daya ikan dan lingkungan perairan dilakukan melalui kegiatan pengelolaan suaka perikanan (reservaat), penebaran ikan (restocking) di perairan umum daratan. Suaka perikanan (reservaat) adalah bagian dari perairan yang dilindungi sehingga dilarang dilakukan penangkapan ikan dan kegiatan-kegiatan

(9)

lain yang merusak lingkungan. Suaka perikanan tersebut ditetapkan dengan SK Gubernur Sumatera Selatan yaitu Reservaat Teluk Rasau di Kecamatan Pedamaran serta suaka lainnya ditetapkan dengan SK Bupati OKI.

Penebaran benih ikan di perairan umum daratan merupakan salah satu upaya rehabilitasi sumber hayati perikanan dengan tujuan untuk meningkatkan

stock populasi di perairan umum daratan dalam rangka pembinaan sumber daya

hayati perikanan melalui pengendalian dan pemanfaatan yang berpedoman pada asas pelestarian sumber daya ikan. Pemanfaatan produksi ikan di perairan umum daratan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dalam rangka membantu meningkatkan gizi (protein hewani asal ikan) bagi masyarakat serta untuk memenuhi kebutuhan pasar. Peningkatan kesejahteraan masyarakat/nelayan di sekitar perairan umum daratan melalui peningkatan pendapatan yang merata dan kesempatan kerja tambahan di sektor perikanan. Kemudian, untuk membantu pengendalian gulma air dan keseimbangan ekosistem perairan.

Pada tahun 2008 telah dilaksanakan penebaran ikan di perairan umum daratan Kabupaten OKI pada 4 (empat) lokasi yaitu di aliran Sungai Komering di Desa Sepang Kecamatan Pampangan, Desa Terusan Menang Kecamatan Sirah Pulau Padang. Kelurahan Jua-Jua Kecamatan Kota Kayuagung dan Danau Teluk Gelam Kecamatan Teluk Gelam. Ikan yang ditebar adalah Baung, Gurame, Patin dan Tambakan dengan jumlah total sebanyak 66.000 ekor.

Perairan umum daratan Kabupaten OKI yang merupakan rawa banjiran

(flood plain) sangat rentan terhadap pencemaran perairan, terutama pada puncak

musim kemarau dan awal musim hujan (peralihan musim kemarau dan musim hujan) pencemaran perairan setiap tahun menyebabkan kematian ikan di aliran sungai-sungai yang terdapat di daratan Kabupaten OKI seperti Sungai Komering, Sungai Mesuji dan lain-lain. Pencemaran ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pencemaran alamiah atau biasa disebut masyarakat dengan istilah Air Bangar yaitu proses dari pembusukan akar-akar/tumbuh-tumbuhan air yang biasanya terjadi di daerah rawa-rawa jika musim hujan datang pembusukan tersebut menyebabkan air cenderung bersifat asam. Kemudian, karena bahan kimia dan energi dari limbah pabrik serta lahan pertanian dan perkebunan serta disebabkan oleh limbah domestik/rumah tangga.

(10)

4.5 Kelembagaan Penyuluhan Perikanan

Kelembagaan penyuluhan perikanan untuk tingkat kabupaten biasanya dinamakan sebagai Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K). Pada wilayah Kabupaten OKI telah dibentuk berdasarkan Peraturan Bupati OKI No.15 Tahun 2007 tertanggal 2 Juli 2007. BP4K ini adalah lembaga non struktural yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati dan dipimpin oleh seorang kepala yang setingkat dengan eselon IIb.

Secara umum, beberapa tugas pokok dan fungsi BP4K, ada yang telah dilaksanakan, tetapi ada pula yang belum dapat dilaksanakan dengan alasan tertentu sesuai dengan kondisi pendanaan yang tersedia (Nasution et al., 2009). Sebagai contoh, telah dilakukan penyusunan kebijakan dan program penyuluhan kabupaten/kota yang sejalan dengan kebijakan dan program penyuluhan provinsi dan nasional. Hal ini dilakukan dengan cara masing-masing penyuluh di BP4K mengidentifikasi program pada masing-masing sektor di tingkat Kabupaten OKI (Nasution et al., 2009).

Selanjutnya dikemukakan pula bahwa aktivitas lainnnya yang telah dilakukan adalah melaksanakan penyuluhan dan mengembangkan mekanisme, tata kerja dan metode penyuluhan, yang dilakukan melalui pengembangan tata kerja hingga tingkat BP3K dan Penyuluh Programa. Kemudian, juga telah melaksanakan pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan penyebaran materi, penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha. Telah melaksanakan pembinaan pengembangan kerjasama, kemitraan, pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan penyuluhan. Hal ini dilakukan dengan cara kerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten OKI, Pusat Pengembangan Penyuluhan Perikanan (dalam hal ini mendapat penempatan 3 (tiga) fasilitas sepeda motor dari departemen Kelautan dan Perikanan), Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dan Dinas Kehutanan.

Aktivitas lainnya adalah menumbuhkembangkan dan memfasilitasi kelembagaan dan forum kegiatan bagi pelaku utama dan pelaku usaha. Juga, melaksanakan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, swadaya dan swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan. Namun demikian, untuk proses

(11)

penetapan kebijakan dan strategi penyuluhan kabupaten/kota, bupati dibantu oleh Komisi Penyuluhan Kabupaten/Kota. Dalam hal ini, telah terbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan dan Komisi Penyuluhan kabupaten/kota diatur dengan peraturan Bupati/Walikota.

Sejalan dengan adanya peraturan Bupati tentang pembentukan BP4K tersebut, maka diadakan pula Pengangkatan Pejabat Fungsional pada BP4K tersebut di lingkup wilayah Kabupaten OKI, yang didasarkan atas Keputusan Bupati OKI No. 821.2/375/KEP-BKD/2008 tertanggal 16 April 2008. Kemudian, sebagai tindak lanjut urutan tugas yang lebih operasional terkait dengan kegiatan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan, ditetapkan pula wilayah binaan penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan dalam wilayah Kabupaten OKI. Surat Keputusan tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati OKI Nomor: 520/401/KEP/BP4K/2008 tertanggal 26 Agustus 2008.

Pada Lampiran Surat Keputusan ini terlihat bahwa setiap satu penyuluh ditetapkan fungsinya sebagai penyuluh dan atau kedudukan tertentu dan juga ditetapkan wilayah binaan (WIBI) yang menjadi wilayah tugasnya. Adapun wilayah binaan yang ditetapkan dalam keputusan bupati tersebut adalah bersamaan dengan batasan administratif kecamatan. Secara umum, sebagian besar wilayah tugas penyuluh tersebut melingkupi 2 (dua) desa dalam satu wilayah kecamatan yang sama. Dalam hal ini untuk seluruh wilayah Kabupaten OKI telah ditempatkan 205 tenaga penyuluh dengan berbagai tingkatan jabatan fungsional pada XIV wilayah kecamatan dalam wilayah Kabupaten OKI (Nasution et al., 2009).

Terkait dengan desa Berkat, hingga saat dilaksanakannya penelitian ini pada bulan Juli hingga Desember 2009, belum ada petugas penyuluh yang melapor kepada Kepala Desa Berkat, Kecamatan Sirah Pulau Padang (SP Padang). Lebih lanjut, terkait dengan bidang tugas yang harus dilakukan oleh setiap penyuluh sifatnya tidak hanya menangani satu sektor saja, tetapi bersifat polivalen atau menangani seluruh sektor yang ada pada wilayah binaannya masing-masing. Sementara, kelembagaan penyuluhan tingkat kecamatan yang dimaksudkan adalah keberadaan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan atau BP3K pada tingkat kecamatan (Nasution et al., 2009).

(12)

Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI telah ditetapkan melalui keputusan Bupati Kabupaten OKI berbarengan dengan penempatan para petugas penyuluh di wilayah Kabupaten OKI. Pada keputusan tersebut sekaligus pula ditetapkan para pejabat dan petugas yang berkedudukan di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI. Nomor SK Bupati Kabupaten OKI No. 821.2/375/KEP-BKD/2008 tertanggal 16 April 2008. Pada keputusan tersebut sekaligus pula ditetapkan para pejabat dan petugas yang berkedudukan di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI (Nasution et al., 2009).

Sebagai contoh, salah satu BP3K yang ada di wilayah Kabupaten OKI adalah BP3K yang berada di Desa Air Itam, yang membawahi 2 (dua) wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan SP Padang dan Kecamatan Jejawi (dalam hal ini, kantornya masih menempati kantor Balai Benih Tanaman Pangan). Pada BP3K tersebut telah dilakukan tugas pokok yang berkaitan dengan penyusunan program penyuluhan pada tingkat kecamatan sejalan dengan program penyuluhan kabupaten/kota. Namun demikian, terlihat bahwa kegiatan penyuluhan berdasarkan program penyuluhan tersebut belum berjalan, sebagai akibat belum selesainya programa yang dibuat. Meskipun demikian, telah dilakukan penyediaan dan penyebarluasan informasi teknologi, sarana produksi, pembiayaan, dan pasar.

Aktivitas memfasilitasi pengembangan kelembagaan dan kemitraan pelaku utama dan pelaku usaha juga telah dilakukan oleh BP3K, yang dalam hal ini bekerjasama dengan Kepala Cabang Dinas yang berada di tingkat kecamatan. Namun demikian, belum banyak dilakukan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, penyuluh swadaya, dan penyuluh swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan. Demikian pula, telah dilaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usaha bagi pelaku utama dan pelaku usaha. Kemudian, telah tersedia balai penyuluhan sebagai tempat pertemuan penyuluh, pelaku utama dan pelaku usaha, yang bertanggung jawab kepada Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/kota sesuai dengan peraturan bupati/walikota.

Kelembagaan penyuluhan tingkat desa yang dimaksudkan adalah berupa Pos Penyuluhan Desa/Kelurahan yang bersifat non struktural yang dikelola secara

(13)

partisipatif oleh pelaku utama sektor pembangunan. Dalam hal ini, belum tersedia lembaga pada level desa/kelurahan ini yang dapat difungsikan menyusun programa penyuluhan. Namun demikian, pada tingkat desa (desa Berkat), terkait dengan perikanan tangkap perairan umum daratan telah dilakukan pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) yang anggotanya berjumlah 13 orang (Nasution et al., 2009). POKMASWAS ini mendapatkan laporan tentang hal-hal yang terkait dengan keamanan perairan juga dari masyarakat nelayan yang melaksanakan penangkapan ikan di perairan umum.

Terkait dengan pelaksanaan penyuluhan di desa/kelurahan, maka telah dilakukan penjelasan terhadap masyarakat, terutama masyarakat nelayan yang melaksanakan usaha penangkapan ikan di wilayah desa Berkat. Artinya, kegiatan ini sekaligus pula berfungsi sebagai wadah untuk melaksanakan inventarisasi permasalahan dan upaya pemecahannya. Sebagai contoh, adanya kasus pencurian ikan yang dilakukan oleh nelayan luar desa Berkat, telah ditindaklanjuti dengan adanya perampasan terhadap alat tangkap.

Proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usaha bagi pelaku utama dan pelaku usaha belum pernah dilakukan di tingkat desa. Berkaitan dengan hal ini, maka akan berpengaruh terhadap proses menumbuh-kembangkan kepemimpinan, kewirausahaan serta kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha. Sementara, kegiatan rembug, pertemuan teknis, temu lapang dan metode penyuluhan lain bagi pelaku utama dan pelaku usaha ditindaklanjuti melalui kegiatan musyawarah desa yang berisikan tentang kesepakatan dan pengaturan-pengaturan yang perlu diikuti oleh masyarakat nelayan. Kegiatan musyawarah tersebut dapat pula merupakan media yang memfasilitasi layanan informasi, konsultasi, pendidikan, serta pelatihan bagi pelaku utama dan pelaku usaha, yang sekaligus dapat merupakan proses memfasilitasi forum penyuluhan pedesaan.

Pos Pelayanan Penyuluhan Perikanan ini berada pada sentra-sentra kegiatan pelaku usaha perikanan, khususnya nelayan pembudidaya, pengolah ikan, atau pusat teknologi perikanan yang berada di daerah yang bersangkutan. Kemudian, penetapan lokasi Pos Pelayanan Penyuluhan Perikanan dilakukan oleh Bupati/Walikota atas persetujuan dan kerjasama dengan unit yang ditempati.

(14)

Fungsinya antara lain adalah tempat untuk saling berkomunikasi para penyuluh fungsional perikanan atau penyuluh lainnya dalam melaksanakan tugas penyuluhan perikanan.

Terkait dengan desa Berkat yang menjadi wilayah penelitian belum memiliki Pos Pelayanan Penyuluhan Perikanan baik pada tingkat desa maupun pada tingkat kecamatannya. Yang ada saat ini dan ditetapkan dengan peraturan dan atau surat keputusan Bupati Kabupaten OKI adalah BP3K yang berada di Desa Air Itam, namun melingkupi wilayah Kecamatan Jejawi dan Kecamatan SP Padang, dimana Desa Berkat berada. Dengan demikian, tugas yang terkait dengan fungsi Pos Pelayanan Penyuluhan Perikanan ini belum dapat dilaksanakan (Nasution et al., 2009).

Adapun tugas pos pelayanan penyuluhan perikanan adalah menyusun program kerja, rencana kegiatan penyuluhan perikanan dan melaksanakan penyuluhan perikanan di lapangan. Disamping itu, melakukan kegiatan administrasi penyuluhan perikanan, melakukan kerjasama dan memperluas jaringan kerja, serta melakukan evaluasi dan pelaporan kegiatan penyuluhan perikanan yang dilaksanakan. Kesemua tugas-tugas ini pada prinsipnya saat ini menjadi bagian dari tugas BP3K yang berada di Desa Air Itam.

4.6 Desa Berkat; Gambaran Umum Desa Nelayan

Desa Berkat terletak di Kecamatan Sirah Pulau Padang Kabupaten Ogan Komering Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Jarak antara Desa Berkat dan Kecamatan Sirah Pulau Padang sejauh 8 km dan ditempuh dengan menggunakan angkutan kota selama 20 menit (Nasution et al., 2007). Desa ini telah memiliki jalan aspal dan jalan pengerasan. Status jalannya adalah jalan kabupaten tanpa penerangan jalan namun desa ini telah memiliki sambungan listrik. Secara administratif luas wilayah Desa Berkat adalah 575 Ha. Letak geografis desa ini merupakan desa bukan pantai, dan dalam 5 tahun terakhir tidak ada bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, banjir yang terjadi di Desa Berkat.

Penduduk di Desa Berkat berjumlah 1.800 orang dengan komposisi pria dan wanita sebesar 55% dan 45%. Jumlah Kepala Keluarga (KK) mencapai 570 KK. Terjadinya perpindahan penduduk terkait dengan alasan mencari pekerjaan.

(15)

Kota tujuannya adalah Batam dan Bangka. Kondisi perumahan penduduk secara umum merupakan rumah semi permanen (rumah yang dindingnya terbuat dari papan kayu serta beratapkan seng). Belum ada masyarakat yang menggunakan beton sebagai pondasi dan batu bata sebagai dinding.

Sarana pendidikan yang tersedia di Desa Berkat hanya sekolah dasar. Jumlahnya sebanyak 2 (dua) buah. Untuk pendidikan lebih lanjut, masyarakat harus menuju desa lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana kesehatan, terdapat 1 (satu) buah puskesmas pembantu dan 2 (dua) buah pos pelayanan terpadu (posyandu). Sarana ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang ada di desa berupa toko yang menyediakan keperluan sehari-hari. Pasar yang ada berupa pasar yang dilakukan secara mingguan di sebut Kalangan. Untuk ”kalangan” (pasar mingguan) di kecamatan Sirah Pulau Padang dilakukan pada hari Minggu dengan jarak 8 km dari Desa Berkat. Kalangan (pasaran) di kecamatan Sukaraja dilakukan pada hari Kamis dengan jarak 0,5 km dari Desa Berkat. Jika masyarakat ingin menuju BRI maka harus ditempuh dengan jarak 7-8 km.

Sarana ibadah yang tersedia berupa Mushola sebanyak 2 (dua) buah. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk beragama Islam. Sarana umum yang terdapat di Desa Berkat adalah kantor kepala desa meski rumah ini merupakan rumah contoh dari ABRI, selain itu juga terdapat balai desa. Beberapa sarana lain seperti kantor pos, internet dan sarana olahraga belum tersedia dan harus menuju desa tetangga atau ke kota untuk dapat menikmati sarana tersebut.

Sumber mata pencaharian penduduk adalah petani, berkebun dan nelayan perikanan tangkap perairan umum khususnya di rawa. Jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan perairan umum adalah sebesar 150 KK dengan 100 KK diantaranya adalah nelayan penuh. Ada juga masyarakat yang berprofesi sebagai pengolah ikan dan pengolah ikan yang merangkap sebagai penjual ikan segar. Ibu-ibu melakukan jual beli ikan segar, jika ikan yang dijual banyak yang mati maka diolah menjadi ikan asin. Yang mengolah ikan asin adalah suami.

Rata-rata pendapatan masyarakat (85%) < Rp.750.000, pendapatan masyarakat (Rp.750.000,00-Rp.1.000.000) sebanyak 10%. Untuk pendapatan antara Rp.1.250.000-Rp.1.500.000 didapatkan oleh masyarakat yang berprofesi

(16)

sebagai pedagang besar. Kegiatan pemasaran ikan dilakukan oleh pedagang dengan jumlah 6-7 orang dan jumlah pengecer keliling sebanyak 2-3 orang. Pemasaran ikan dilakukan di dalam desa serta dikirim ke kota Palembang. Ikan yang dipasarkan oleh pedagang pengumpul sebanyak 2-3 pikul/hari dengan berat sekitar 200-300 kg. Kegiatan ini dilakukan selama 6 bulan dan dilakukan mulai bulan Januari dan Februari. Rata-rata volume ikan yang dipasarkan oleh pedagang pengecer adalah 10 kg/hari.

Organisasi sosial yang ada dimasyarakat meliputi kelompok pembudidaya ikan dengan nama Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) dan karang taruna. Ada beberapa aktifitas masyarakat yang terkait dengan perikanan tetapi masih belum memiliki wadah perkumpulan seperti pengolahan ikan dan pedagang ikan. Kegiatan tersebut masih dilakukan secara individual dan tidak terorganisir dalam suatu kelompok. Lembaga swadaya masyarakat baik yang bergerak di sektor perikanan atau lainnya masih belum terbentuk. Pengumpulan zakat, infaq dan shodaqoh dilakukan oleh pengurus masjid dan musholla tanpa ada suatu lembaga secara khusus. Pada desa ini pula tidak terdapat lembaga adat yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat di desa Berkat Kecamatan Sirah Pulau Padang memiliki keterikatan yang kuat terhadap sumber daya perairan umum khususnya rawa. Secara geografis seluruh masyarakat yang tinggal di daerah ini memiliki profesi utama sebagai penangkap ikan baik di sungai atau di rawa. Desa Berkat memiliki aliran anak Sungai Komering dengan lebar sungai 10-12 meter. Selain menangkap ikan, masyarakat juga mekakukan pengolahan ikan hasil tangkapan.

Kegiatan penangkapan ikan dilakukan sewaktu musim kering. Jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan cukup beragam. Jenis ikan yang dominan tertangkap adalah Ikan Gabus, Ikan Lele Ikan Sepat dan Ikan Betok. Estimasi tangkapan tiap hari sebanyak 500 kg/hari dengan jenis ikan adalah ikan gabus 20%, ikan lele 20%, ikan sepat 50% dan ikan betok 10%. Kegiatan pengolahan ikan di Desa Berkat banyak dilakukan oleh Ibu-ibu. Ikan yang berhasil ditangkap oleh kaum lelaki atau kaum bapak, diasinkan lalu dijemur sampai kering. Tujuan dari pengolahan ikan adalah untuk mendapatkan nilai tambah dan agar dapat bertahan lebih lama. Ikan hasil tangkapan lebih disukai jika dijual secara segar tetapi jika

(17)

harga ikan asin sedang bagus maka mereka akan menyukai untuk menjualnya. Kegiatan ini marak khususnya ketika mulai musim penghujan ketika ikan-ikan yang tertangkap mulai melimpah. Jenis ikan yang banyak di olah adalah ikan gabus dan ikan sepat.

Aktivitas masyarakat yang terkait dengan kegiatan di rawa adalah penambangan pasir. Kegiatan ini dilakukan oleh orang dari luar desa. Kegiatan lain adalah mencuci dan mandi, pertanian. Selain itu digunakan untuk air minum. Penggunaan armada perikanan rata-rata menggunakan perahu tanpa motor dengan jumlah 150 buah. Penggunaan perahu dirasakan menjadi sebuah kebutuhan agar mempercepat mobilitas yang dilakukan. Selain untuk menangkap ikan, perahu juga digunakan sebagai alat transportasi masyarakat untuk menuju dari satu tempat ke tempat lainnya.

Penangkapan ikan di Desa Berkat, menggunakan berbagai alat tangkap. Alat tangkap yang digunakan berupa bubu, jaring tepi, pancing, rawai, sero, jala dan anco. Bubu digunakan untuk menangkap belut dengan bahan bambu. Jumlahnya sebanyak 30-40 buah. Alat tangkap pancing memiliki 100-150 mata pancing. Alat pengolah ikan yang ada berupa pengasinan dan pengasapan ikan.

4.7 Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber daya Ikan

Kebijakan adalah arahan masa depan (Nugroho, 2006). Kebijakan (policy) merupakan sebuah instrumen pemerintahan, bukan saja dalam arti government yang hanya menyangkut aparatur negara, melainkan pula governance yang menyentuh pengelolaan sumber daya publik. Kebijakan pada intinya merupakan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya alam, finansial dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Dengan kata lain, kebijakan merupakan hasil dari adanya sinergi, kompromi atau kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan-kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara (Brigman dan Davis 2004).

Kebijakan pengelolaan pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum pada level nasional antara lain dapat dikaji berdasarkan atas keberadaan

(18)

makna yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan pada level nasional. Peraturan tersebut terutama didasarkan kepada UU RI No.45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU No.31 Tahun 2004 Tentang Perikanan [LN RI Tahun 2009 No.154, TLN No.5073]. Berdasarkan peraturan tersebut di lihat pasal-pasal mana yang terkait dengan bahasan tujuan kebijakan, kewenangan

stakeholder kebijakan dari sisi pemerintah, masyarakat dan pihak lainnya

(misalnya swasta), dan sanksi atas pelanggaran kewenangan.

Hasil identifikasi menggunakan pokok bahasan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya perikanan dapat dikemukakan keterkaitannya terhadap UU RI No.45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU No.31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Terlihat bahwa terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan pengendalian lingkungan perairan umum serta partisipasi masyarakat. Pada Pasal I angka 2 undang-undang tersebut dinyatakan azas-azas dalam pengelolaan sumber daya perikanan yaitu harus didasarkan azas manfaat, keadilan, kebersamaan, kemitraan, kemandirian, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, kelestarian, dan pembangunan yang berkelanjutan.

Berdasarkan azas yang dikemukakan, maka sudah seharusnya dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum dapat memberikan manfaat bagi pemanfaatnya, terutama masyarakat nelayan. Kemudian, berdasarkan azas kemitraan, maka seyogyanya dalam mengelola sumber daya perikanan perairan umum dapat menguntungkan pihak yang terkait, sehingga ada unsur kebersamaan yang dapat diperjuangkan dan dipertahankan secara bersama. Dengan demikian, diharapkan ada keterbukaan, keterpaduan dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum tersebut. Para pihak pemanfaat diharapkan memperoleh manfaat sumber daya perikanan perairan umum secara merata dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya perikanan tersebut, sehingga dapat menjadi sumber penghidupan secara berkelanjutan.

Kemudian, terkait dengan pengendalian lingkungan perairan umum dikemukakan pada Pasal I angka 3 yang menyatakan tentang perubahan ketentuan pasal 7 yang memperlihatkan bagaimana pengendalian lingkungan perairan umum, termasuk sumber daya yang ada didalamnya seharusnya dilakukan.

(19)

Dalam hal ini misalnya terkait rencana pengelolaan perikanan, baik yang terkait dengan pengaturan yang berhubungan alat tangkap, habitat dan lingkungan, potensi dan alokasi, daerah dan jalur penangkapan, musim penangkapan, jenis ikan, kawasan konservasi, dan ketentuan yang harus diikuti seseorang atau yang melakukan usaha dan atau pengelolaan perikanan.

Berdasarkan ketentuan pasal I angka 3 tersebut dapat dinyatakan bahwa dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum harus ada pengaturan yang terkait dengan penggunaan alat tangkap yang diperbolehkan bagi masyarakat pemanfaat. Juga harus ada pengaturan tentang perlindungan habitat ikan dan lingkungannya, yang dapat saja berupa kawasan suaka perikanan. Dapat dikemukakan pula bahwa perlunya identifikasi potensi sumber daya perikanan sebagai dasar pengelolaannya atau alokasi hak penangkapan ikan. Begitu pula hal yang terkait dengan jalur penangkapan ikan, musim penangkapan ikan, jenis ikan yang dilarang untuk ditangkap serta ketentuan lainnya yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum.

Pasal I angka 28 menyatakan bahwa diantara Pasal 66 dan Pasal 67 disisipkan 3 (tiga) pasal yakni Pasal 66 A, Pasal 66 B, dan Pasal 66 C. Pasal 66 A menyatakan orang yang dimaksudkan sebagai pengawas perikanan adalah pegawai negeri sipil yang bekerja di bidang perikanan yang di angkat oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk. Kemudian, dijelaskan hal-hal yang terkait dengan jabatan pengawas perikanan. Terkait dengan pengawas perikanan, dapat dikemukakan bahwa pada Dinas Kelautan dan Perikanan setempat seyogyanya tersedia tenaga pengawas perikanan yang membidangi pengawasan sumber daya perikanan perairan umum. Tenaga pengawas perikanan, dalam hal ini dapat saja diangkat oleh Menteri Kelautan dan Perikanan atau Pejabat yang ditunjuk.

Pasal 66 B dikemukakan pula wilayah yang menjadi areal pelaksanaan tugas pengawas perikanan tersebut, beserta sarana dan prasarana yang terkait dengan kegiatan pengawasan tersebut, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan konservasi perairan. Pasal 66 C, dinyatakan kewenangan pengawas perikanan yang dimaksudkan untuk memasuki kegiatan tempat usaha, memeriksa, mendokumentasikan, mengambil contoh, dan lain-lain yang terkait. Dalam hal ini,

(20)

terutama terkait penghentian, memeriksa, membawa, menahan dan menangkap kapal dan atau orang yang melakukan tindak pidana perikanan di wilayah negara RI. Oleh karena itu, keberadaan Pengawas Perikanan sebagai aparat pengawas dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan berdasarkan pada undang-undang ini menjadi unsur yang penting sebagai salah satu alat pengendali dari unsur aparat pemerintah.

Pasal 100 B dan Pasal 100 C dinyatakan bentuk ancaman pidana apabila terjadi pelanggaran dari peraturan-peraturan yang diantaranya mengenai pengelolaan dan pengendalian lingkungan dan sumber daya perikanan. Bentuk ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 12, Pasal 14 ayat (4), Pasal 16 ayat (1), Pasal 20 ayat (3), Pasal 21, Pasal 23 ayat (1), Pasal 26 ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (1), Pasal 28 ayat (3), Pasal 35 ayat (1), Pasal 36 ayat (1), Pasal 38, Pasal 42 ayat (3), atau Pasal 55 ayat (1) yang dilakukan oleh nelayan kecil dan/atau pembudidaya ikan kecil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Kemudian, Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilakukan oleh nelayan kecil dan/atau pembudidaya ikan kecil di pidana dengan pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum dan lingkungannya dikemukakan dalam Pasal I angka 4 yang juga menyatakan beberapa perubahan; yang terkait dengan larangan merusak sumber daya perikanan dan ketentuan lainnya. Ketentuan tersebut misalnya mengenai pengaturan alat tangkap dan atau alat bantu penangkapan. Kemudian, juga terkait dengan peranan pemerintah dalam mengatur dan membina tata pemanfaatan lahan dan air untuk pembudidayaan ikan, termasuk penyediaan sabuk hijau (green-belt). Dengan demikian, masyarakat diwajibkan untuk berpartisipasi dalam melaksanakan ketentuan dalam pasal ini.

Berdasarkan uraian di atas, secara umum dapat dikemukakan bahwa dari tujuan yang dikemukakan dalam peraturan yang dibahas terlihat bahwa sumber daya perikanan dan lingkungan perairan umum harus dimanfaatkan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Meskipun demikian, berbagai kebijakan

(21)

masih menunjukkan penggunaan pendekatan kebijakan “command and control”. Pendekatan ini efektif apabila mekanisme penegakan sanksi dilengkapi dengan organisasi yang kuat yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Efektifitas penegakan sanksi juga akan tercapai apabila masyarakat turut serta mendukung kebijakan tersebut.

4.8 Ikhtisar

Kabupaten Ogan Kemiring Ilir merupakan daerah yang beriklim tropis. Musim kemarau umumnya berkisar antara bulan Mei sampai bulan Oktober setiap tahunnya, sedangkan musim penghujan berkisar antara bulan November sampai dengan bulan April. Sistem hidrologi yang membentuk genangan di wilayah OKI pada prinsipnya termasuk ke dalam satuan geomorfik rawa, karena air yang terakumulasi di dalam cekungan tersebut pada umumnya berasal dari rawa yang berada di sekitarnya. Di daerah aliran sungai banyak terdapat lebak, yang mana pasangnya dipengaruhi oleh musim. Pada musim penghujan lebak terendam air, namun surut di musim kemarau. Pada bagian lebak terdapat bagian yang airnya tidak pernah surut dikenal dengan istilah “lebak lebung”, yang digunakan untuk perkembangan ikan.

Produksi perikanan di Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2007 adalah 11.320,2 ton perikanan umum dan juga perikanan budidaya yang menghasilkan sebanyak 2.096,42 ton ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan diantaranya ikan patin, gabus, nila dan betutu. Pembinaan sumber daya dan pengawasan perikanan dilaksanakan berdasarkan Perda Kab. OKI No.11 Tahun 2001 dan Perda Kab. OKI No.30 Tahun 2002 yang meliputi Pemanfaatan sumber daya hayati perairan dan sumber daya non hayati kelautan. Tujuannya adalah meningkatkan daya dukung sumber daya, produksi, PAD dan kelestarian sumber daya ikan beserta lingkungannya.

Potensi perikanan darat Kabupaten OKI terdapat hampir di seluruh kecamatan dalam Kabupaten OKI. Potensi perikanan perairan umum daratan terdiri dari penangkapan dan budidaya. Budidaya terdiri dari budidaya air tawar dan budidaya air payau. Penangkapan diperairan umum dikelola melalui lelang lebak lebung yang diatur dalam Perda OKI No.30 Tahun 2002 sebagaimana telah

(22)

beberapa kali diubah terakhir dengan Perda Kab. OKI No.9 Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Atas Perda Kab. OKI No.30 Tahun 2002 tentang Lelang Lebak Lebung dalam Kabupaten OKI.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. OKI melaporkan bahwa banyak ditemukan pelanggaraan penangkapan ikan seperti putas, stroom listrik di perairan sungai-sungai serta lebak lebung yang tersebar hampir seluruh kecamatan dalam Kabupaten OKI. Serangan penyakit ikan di perairan umum daratan dan wabah budidaya di Kabupaten OKI sering terjadi pada musim kemarau dan peralihan musim kemarau ke musim hujan. Kegiatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya ikan dan lingkungan perairan dilakukan melalui kegiatan pengelolaan suaka perikanan (reservaat), penebaran ikan (restocking) di perairan umum daratan. Suaka perikanan atau reservaat adalah bagian dari perairan yang dilindungi sehingga dilarang dilakukan penangkapan ikan dan kegiatan-kegiatan lain yang merusak lingkungan. Suaka perikanan tersebut ditetapkan dengan SK Gubernur Sumatera Selatan yaitu Reservaat Teluk Rasau di Kecamatan Pedamaran serta suaka lainnya ditetapkan dengan SK Bupati OKI.

Kelembagaan penyuluhan perikanan untuk tingkat kabupaten biasanya dinamakan sebagai Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K). Pada wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) telah dibentuk berdasarkan Peraturan Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Nomor: 15 Tahun 2007 tertanggal 2 Juli 2007. Balai Penyuluhan Pertanian, Pertanian dan Kehiutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI telah ditetapkan melalui keputusan Bupati Kabupaten OKI berbarengan dengan penempatan para petugas penyuluh di wilayah Kabupaten OKI. Dalam keputusan tersebut sekaligus pula ditetapkan para pejabat dan petugas yang berkedudukan di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI. Nomor SK Bupati Kabupaten OKI Nomor: 821.2/375/KEP-BKD/2008 tertanggal 16 April 2008. Dalam keputusan tersebut sekaligus pula ditetapkan para pejabat dan petugas yang berkedudukan di Balai Penyuluhan Pertanian, Pertanian dan Kehiutanan (BP3K) dalam lingkup wilayah Kabupaten OKI.

Desa Berkat terletak di Kecamatan Sirah Pulau Padang Kabupaten Okan Komering Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Jarak antara Desa Berkat dan

(23)

Kecamatan Sirah Pulau Padang sejauh 8 km dan ditempuh dengan menggunakan angkutan kota selama 20 menit. Desa ini telah memiliki jalan aspal dan jalan pengerasan. Status jalannya adalah jalan kabupaten tanpa penerangan jalan namun desa ini telah memiliki sambungan listrik. Secara administratif luas wilayah Desa Berkat adalah 575 Ha. Menurut letak geografis desa merupakan desa bukan pantai. Sumber mata pencaharian penduduk adalah petani, berkebun dan nelayan perikanan tangkap perairan umum khususnya di rawa. Jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan perairan umum adalah sebesar 150 KK dengan 100 KK diantaranya adalah nelayan penuh.

Masyarakat di Desa Berkat Kecamatan Sirah Pulau Padang memiliki keterikatan yang kuat terhadap sumber daya perairan umum khususnya rawa. Secara geografis seluruh masyarakat yang tinggal di daerah ini memiliki profesi utama sebagai penangkap ikan baik di sungai atau di rawa. Desa Berkat memiliki aliran anak Sungai Komering dengan lebar sungai 10-12 meter. Selain menangkap ikan, masyarakat juga mekakukan pengolahan ikan hasil tangkapan.Kegiatan penangkapan ikan dilakukan sewaktu musim kering. Jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan cukup beragam. Jenis ikan yang dominan tertangkap adalah ikan gabus, lele, sepat dan betok.

Kebijakan pengelolaan pengelolaan sumber daya perikanan perairan umum pada level nasional antara lain dapat dikaji berdasarkan atas keberadaan makna yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan pada level nasional. Peraturan tersebut terutama didasarkan kepada UU RI No.45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU RI No.31 Tahun 2004 Tentang Perikanan [Lembaran Negara RI Tahun 2009 NO. 154, TLN NO. 5073]. Berdasarkan peraturan tersebut dilihat pasal-pasal mana yang terkait dengan bahasan tujuan kebijakan, kewenangan stakeholder kebijakan dari sisi pemerintah, masyarakat dan pihak lainnya (misalnya swasta), dan sanksi atas pelanggaran kewenangan. Hasil identifikasi menggunakan pokok bahasan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya perikanan dapat dikemukakan keterkaitannya terhadap UU RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU RI No.31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Terlihat bahwa terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan pengendalian lingkungan perairan umum serta

(24)

partisipasi masyarakat. Pada Pasal I angka 2 undang-undang tersebut dinyatakan azas-azas dalam pengelolaan sumber daya perikanan yaitu harus didasarkan azas manfaat, keadilan, kebersamaan, kemitraan, kemandirian, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, kelestarian, dan pembangunan yang berkelanjutan.

Gambar

Tabel 5. Luas daerah dan jumlah desa atau kelurahan per kecamatan berdasarkan  kecamatan dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Tahun 2008
Tabel 6. Luas daerah, jumlah dan kepadatan penduduk menurut kecamatan dalam  wilayah Kabupaten OKI, Tahun 2008
Tabel 7. Jumlah Perahu/Kapal Penangkap Ikan Laut dan Darat di Kabupaten Ogan  Komering Ilir Tahun 2007
Tabel 9.  Produksi perikanan perairan umum dalam Kabupaten Ogan Komering  Ilir, Tahun 2007

Referensi

Dokumen terkait

1. Prioritas kebijakan pengembangan perikanan di Kabupaten Tanjung Jabung secara berturut-turut adalah: Pengembangan perikanan tangkap, Peningkatan mutu hasil perikanan,

Berdasarkan Evaluasi Pokja Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan paket kegiatan Pengadaan Alat Tangkap Ikan di Perairan Umum untuk 2 Desa maka bersama ini kami

(d) Penangkapan berlebih adalah tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan melalui suatu effort (jumlah perahu, alat tangkap, trip melaut) dengan hasil tangkap

Kecamatan Pelabuhan Ratu merupakan kecamatan perikanan tangkap yang paling produktif di banding dengan kecamatan pesisir yang lainnya, dengan jumlah nelayan kurang lebih 4.489

penuh potensi sumber daya perikanan yang ada di perairan ZEE Indonesia. 4) Dalam upaya diversifikasi usaha nelayan dari perikanan tangkap yang sering terindikasi over

Terkait penelitian yang berkenaan dengan perikanan bagan tancap di Perairan Pesisir Banyuasin adalah pengembangan perikanan tangkap berbasis optimasi sumberdaya ikan

Tabel 3 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Kepulauan Sitaro Nomor Kelompok Ikan MSY ton/tahun C2012=C2010/MSY % Keterangan 1 Pelagis Kecil

Informasi yang ditampilkan meliputi: i Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di Perairan Pesisir Kabupaten Bangka dengan Pendekatan Bioekonomi; ii Karakteristik Perikanan Tangkap di