• Tidak ada hasil yang ditemukan

pu$ /-S JURNAI IIMU.ILMU BUDAYA Volume XVl, No. 2. Agustus 2016 rssn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "pu$ /-S JURNAI IIMU.ILMU BUDAYA Volume XVl, No. 2. Agustus 2016 rssn"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Volume XVl, No. 2 . Agustus 2016

r s s N

0 2 1 5 - 9 1 9 8

pu$

/-S JURNAI IIMU.ILMU BUDAYA

soBsr {SER|KAT oRGANtSASt BURUH SELURUH INDONESIA} SEBAGAI KEKUATAN K I R I D I I N D O N E S I A

I Gede Wardana

ASAS.ASAS ESTETIKA NOVEL (Rekonslruksi Teoretik)

Made Jiwa Atmaia

HEGEMONI ADAT BALI DAN RESISTENSINYA DALAM CERPEN-CERPEN KARYA GDE

ARYANTHA SOETHAMA I Made Sujaya

STUDI PANDANGAN DUNIA

DALAM KARYA RABINDRANATH TAGORE, THE POST OFFICE

Dian Rahmani Putri, S.S., M.Hum. PENERAPAN PRINSIP KERJA SAMA

DALAM DRAMA DETECTIVE CONAN SPESIAL 1 (Kaiian Pragmatik Bahasa Jepang)

Ngurah Indra Pradhana

PANDANGAN HERMENUTIK PAUL RICOUER DALAM PEMAHAMAN TEKS SASTRA LISAN

Maria Matildis Banda

Diterbitkan: Udayana University Press

bekerjasama dengan

PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI PRODUK KERAJINAN PRASI DI BALI: Studi Kasus Perajin Seni Prasi di Desa Sidemen, Kalangasem, Bali

Ketut Darmana

HUBUNGAN ANTARMAKNA SINONIMI PADA WACANA SEHARI.HARI MASYARAKAT DI DESA UNDISAN, TEMBUKU.

KABUPATEN BANGLI lG.AG. l. Aryani, I Nym. Tri Ediwan, N.K.S. Rahyuni dan PT. Evi Wahyu Citrawati

STRUKTUR SEMANTIK VERBA'YARIMORAI' SEBAGAI CERMINAN BUDAYA BAHASA MASYARAKAT JEPANG

I Nyoman Rauh Artana

TRADISIZIARAH GUA MARIA KEREP AMBARAWADAN PENGARUH BUDAYA JAWA

(2)

7e&'- {a6hrr4g

*caua.&a

Wt*a, acdr/n

PUSre

A JURNAT ILMU-IIMU BUDAYA

Diterbitkan:

Udayana University press bekerjasama dengan

(3)

PJIB

PUSTAKA

Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya

ISSN 0215-9198

Volume

XVI, Nomor 2. Agustus

2016

Terbit dua kali setahun pada bulan Februari dan Agustus. Berisi tulisan yang diangkat hasil penelitian dan kajian analitis-kritis bidang kebudayaan. ISSN 0215-9198

Penanggung Jawab Ni Luh Sutjiati Beratha

Pemimpin Redaksi Made Jiwa Atmaia

Sekretaris Ngurah Indra Pradhana

Staf Redaksi I Nyoman Suparwa I Gede Nala Antara I Nyoman Weda Kususma

I Nyoman Duana Sutika I Nyoman Sukartha Rochtri Agung Bawono Fransiska Dewi Setiowati Sunarya

A.A Sagung Shanty Sari Dewi Aliffiati

Mitra Bebestari

Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A (Unud) Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S (Unud) Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A (Unud) Thomas Reuter (Melboure University) Nengah Bawa Atmadja (LNDIKSHA)

Prof. Dr. Susantu Ztfidi GIB UI) Prof. Dr. h"wanAbdulah (FIB UGM)

Pelaksana Tata Usaha I Gusti Bagus Ngurah Antara

Alamat Penyunting dan Tata Usaha: Fakultas Sastra Unud

Jln. Nias 13, Denpasar Bali, Telp (0361) 224121, E-mil [email protected]

Pustaka Jumal Ilmu-ilmu Budaya terbit perlama kali dengan nama Widya Pustaka

Penlunting menerima sumbangan tulisan yang belum pemah diterbitkan dalam medi: Naskah diketik di atas kerta HVS kuarto spasi ganda sepanjang lebih kurang 20 hair..

(4)

PIIB

PUSTAKA

|urnal Ilmu-Ilmu Budaya

ISSN 02rs-9198

Volume XVI, Nomor 2 o Agustus 2016

-DAFTAR ISI

zu.TAPENGANIAR

SOBSI

(SERIKAT

ORGANISASI

BURUH SELTJRUH

INDONESIA) SEBAGAI KEIOATAN KIRI DI INDONESIA

IceileWmda,na

87_L54

ASA$ASAS ESTETIKA

NOVEL

(Rekonstmksi

Teoretik)

Mnde

liwaAtmaja

$S_t66

FTEGEMONI

ADAT BALI DAN RESISTENSINYA

DALAM CERPEN.CERPEN

KARYA GDE ARYANTHA SOETHAMA

IMnde Sujaya

.. rc7i83

STUDI PANDANGAN DUNIA DALAM KARYA RABINDRANATI{

TAGORE THE POST OFFICE

DianRahmanipulri,5.5.,

M.Hum

1g4_206

PENERAPAN

PRINSIP

KERIA SAMA

DALAM DRAMA DETECTNE CONAN SPESIAL

1

(IGjian Pragmatik Bahasa

lepang)

Ngurah

Inilra pradhana...

207_2L7

PANDANGAN HERMENUTIK PAUL RICOUER

DALAM PEMAHAII4AN TEKS SASTRA LISAN

Maria Matildis Bands

... 21g_2J0

(5)

PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALII PRODI.JK

KERAIINAN PRASI DI BALI:

sfudi Kasus Peraiin seni prasi di Desa sidemen, Karangasem,

Bali

Ketut Dar:nana

Program

studi Antropologi

Fahtltas llmu Builnya,

Llnhtersitas

lJipyana

Abshact

Prasi art crafts in Bali canbe dassified as one of the efforts for the economic development of the creative community. products of this prasi art craft market share are tourists, both the domestic and foreign countries who visit this area" Therefore, it is very significant contribution to the economy of the people in this area. Although, for crafters prasii art to be able to embody the results of a work of art or artistic talent is needed taksu (inner beauty) inbom. In addition, it should be also based leaming (training) a resilient, diligent, and serious. In order fretwork can produce scratches ttfu! thick and smooth by using pengerupak on a sheet of papyms it takes constant practice. Then" for a craftsman art prasi should also have abroad knowledge of religious literature as a baboon than the themes of the story you want divesualisasikan so for society as a connoisseur of art prasi can understand the story line. Today, the existmce of art prasi e'tered the era of the global market based on swor analysis (strenghts, wealcresses, oppotumities, and Threab) is a separate problesratics that must be faced by artisans in Bali prasi art. The governmentandthe parties concerned (employers andbanks), mainly engaged in the world of the tourism industry in this region there should be rigulasi at least in the marketing haril products craft o$ects are and capital credit (KUR) that can exist in the era of market grobal.

Keywords: Creative Economy, Craftsman prasi, Global Markeb

l . P e n d a h u l u a n

Pariwisata di Bali telah mendorong tumbuh dan berkembanFya sentra-senha kerajinan masyarakat sebagai kegiatan industri rumah tangga. Hal itu memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap pergerakan ekonomi sektor riil daerah Bali. walaupun tergolong seuagal sektor usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sektor ini menopang perekonomian masyarakat di Bali. selain itu, sektor ini juga tahan dari anciunan badai krisis ekonomi dan moneter (krismon) yang terjadi di Indonesia pada1997. Peristiwa Bom Bali I pada 2002 d,anBom Bali tr pada 2005 juga telah memberikan dampak pukulan yang luar biasa terhadap perekonomian masyarakat Bali. perekonomian masyarakat Bali

""r,gut lesu pasca-Bom Bali I danBom Bali rI. sektorperekonomianyangbergera\

(6)

PUSTAKA

VolumeXVI, No.2 . Agustus2016

pada industri pariwisata sangat merasakan keterpurukan ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan-dilakukannya pemutusan hubungan kerja (pHK) secara besar-besar di sektor usaha perhotelan, dan termasuk pula usaha akomodasi yang gulung tikar karlna tidak ada wisatawan asing yang berwisata ke Bali. Hampir semua negara di dunia memberlakuk arr traael anrning bagi warga negaranya untuk berwisata ke Bali. Kondisi ini juga berdampak signifikan terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat perajin industri

t*uh tangga. Dampak ini terjadi karena produk industri rumah tangga sebagian besar terserap oleh sektor indusri pariwisata. Hampir sebagian besar produk kerajinan dipasarkan unfuk memenuhi kebutuhan para wisatawan yang berkunjung ke daerah Bali, baik itu wisman (wisatawan manca negara) maupun wisnu (wisatawan nusantara) atau wisatawan domestik. Ada pura tor,"1*"r,'"rirg-y*g langsung membelinya kepada perajin yang memproduksinya. Terjadi transaksi jual-beli terhadan seiulfa]r produkLrajinan tertentu dan dikirim langsung ke negara si pembeli. Kerajinan industri rumah tangga tergorong sebagai produk ekspor.

Kebangkitan perekonomian di BaIi mulai menunjukkan tanda_ tanda dengan membaiknya kembali sektor pariwisata o"o" dewasa ini. Hal ini ditunjukkan oleh kunjungan wisatawan y*g r"*"ti'meningkat pada tahun-tahun terakhir ini. Hunian hotel

"i.rri,"-pak meningkag yang tercatat bisa mencapai rata-rata di atas 50 presen. i rft,rry" sektor pariwisata juga mendorong sektor-sekto, rain untuk tumbuh dan berkembang kembali terutama tampak

fe€uir"hrrya k"muari para perajin untuk mengembangkan produk-produk Gatif t"ryu ,"J rcqirrannya Begitu pula, pasar ser.d (art marrcet), artshop, gelteryiur, ,"r"guinya murai tampak menggeliat semenjak adanya kunjungan wisman untuk membeli cinderamata (souaTirfenang-kenangan)

p"du prrr"t-pusat pasar seni

kerajinan'

Namun,

lr

* t"."p"t"yu'tidak sebik y*g i"a"ai seberum

peristiwa

Bom

BaIi I dan Bom Bali trpada ZOOZ

aan)Wi.

t:*g dengan penetapan daerah BaIi sebagai destinasi wisat+ terjadi kenaikan kunjungan wisman dan wisnu ke daerah ini. Menurut McKean (1976: r39-1'4s),berdasarkan hasil temu*;;"rtoannya di Baf dirumuskan suatu model hubungan interaksi

".rt* orang-orang B{ dengan wisatawan, yang didasarkan atas prinsip saring mengharapkan Ir satu pihak, wisatawan mengharapkan kepuasan yang bersifat estetis da pada pihak lain hal itu merupakankesemggtan ekonomis yang diharaplcr

oleh penduduk

Bali. pengharapan

timui-u"Iik il;Glekngkapi

ih

232

(7)

. 't, 1pi

#

-s.l ih. .:

tr

*

merupakan "partial equioalence

structure,,. Ketika berwisata, wisatawan

memperoleh kepuasan estetik mengingat Bali memiliki dua aspek,

yaitu

(1) panorama alam yang indah, baik itu Lerup" ut"- p"g.rrr.rr,gur,

maupun

laut yang juga menyajikan objek-objek- #sata

f"ig'"k""k

if, dan (2)

kebudayaan Bali yang berlandask"r. pidi budaya pJ.rrr,iu'

dan agama

Hindu' yang juga menunjukkan pola u"rgryJ rl*yur"tut

Bali yang

seci!.ra

sosio-kurtural unik. Kebudayaan nat aftang; oleh konfigurasi

nilai budaya ekspresif berupa *tai-nitai solidaritaslestetis

dan religius.

Dinamika kebudayaan telah mengadopsi konfigurasrr,'r,

budaya yang

dewasa

ini didominasi nilai_nilai e-konomi dan iptek.

Kebudayaan

Bali dapat diformulasikan djstruktur danpengalaman

sejarah

sbb. (1) Kebudayaan

Bali meru31kan sruto riri"* y*gunik dengan

identitas yangjeras. (2) Kebudayaan Bali memiliki.r*iuri

dur, deversifikasi

yang tinggr sesuai

{engan

adigium desa,

kala, patra;1t"*p"t, waktu, dan

keadaan).

(3) Kebudayaan Bali me*try

"k",

d"r, i*

o*,

lembaga

tradisionar yang kokoh (seka,

subak,

banjar,

lutig-awig,iul. r+l Kebudayaan

Bali merupakan satu- kebudayaan yang hidup ,l*'rurrgrionaf

yang

selalu berkembang dan dikembutriturt untuk *"r.r"lih*"

keserasian

l;|Tffi#il:'"

dengan

r,rhurily",.

lTuriu dengan

linskungan,

Barida,am*.".rffi

".iilT::qff

.y:^Y::,;"gf]fi"1H:f

il

sifat fleksibel, selektif, dan adapuf, serta mampu menerima uinsur-unsur budaya asing untuk menjadi milik dan kekaya* b;;; sendiri tanpa kehilangan kepribadian (Mantra, 1993, Geny4 2009). --r

Kelompok masyarakat perajin di n n i"r*"t u r"g"* sesuai dengan bidang yang ditekuni. Di antara kelompot

-"r;;""k"t pengerajin, seperti perajin emas, perajin perak, dan perajin gamelan atau arat musik badisional. Ketiga jenis perajin ini menggunakan bahan logam, seperti elnas/ perak dan perunggu. Ada juga perajin anyam-anyaman berbahan daun lontar @alm leafl,bambr+ danfotan. perajinbambu

memuuat kursi, mej4 almari, tempat tidur. perajin patung dan ;ir* ;;gg""akan bahan batu padas, kayu, tulang kuliitelur, tempurung kelapa,la's"bagainya. Ada perajin kamben (kain) songket, endek, udeng (destar), saput, sabuk stagen (ikat pinggang) dengan alat tenun cagcag dan arat tenun bukan mesin (ATBM). perajin aksesoris dan alat-al"ty;g aigrr,"kur, di,,pl*a,, (bmpat suci) memproduksi kobet, lgltek" pajeng, jder, adan& dan cbagainya' selain semua itu, ada perarl prasi para perajin yang sudah meurbentuk kelompok unit usaha. li"t" dari itu,';il]* pemerintah

Pengembangan Ekonomi Kreatif

(8)

PUSTAKA

Volume XVI, No. 2 . Agustus 2016

Prasi PancaTantra

@inatang)

(1g79)yang diterbitkan ieh Gedong Kerrr

2U

provinsi ataupun kabupatenlkota lebih mudah membinanya. Jika ada persoalan-persoalan yang muncur, sorusi pemecahannya akan lebih cepat diatasi oleh dinas terkait, terutama dari Dinas Koperari dan usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Dinas perindustrian dan perdagangan. Jika mereka membutuhkan tambahan modal usaha, bank pemerintah ataupun bank swasta lebih mudah menyalurkan banfuan tanpa proses yang rumit dan bunga lebih rendah.

Tulisan ini memfokuskan bahasan pada ,,pengembangan Ekonomi Kreatif melalui produk Kerajin seni prasi di Bali: stoai Kasus di Desa sidemen, Kabupaten Karangasem". pemilihan Desa sidemen sebagai objek penelitian didasarkan pada beberapa pemikiran berikut ini. (1) Desa sidemen bisa digorongkan sebagai sentra peraiin prasi yang kegiatannya merupakan industri rumah tangga. (2) perajin prasi menggeruti profesi ini secara turun-temurun. pada masa lalu di desa ini muncul tokoh_ tokoh perajin prasi yang sangat dikagumi hasil karya seninya oleh warga masyarakat. (3) Kerajinan prasi sebagai kaqya seni sejak awar menjadi komoditas ekonomi untuk memenuhi pangsa pasar. (4) secara ekonomis produk kerajinan prasi berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pendapatan peraiin dan mendor""s p*,ir,gtatan kualitas ssri prasi. selain di desa sidemen, para perajin p*ri;"g;itemukan di Desa Tel8anan Pegringsingan, Kabupaten Karangasern -dan Desa Bungkulan Kabupaten Buleleng.

Bertitik tolak dari latarbelakangtersebut di atas, maka yangmenjadi rurnusan permasalahan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut'(l) Bagaimana potensi peraiin prasi daram pengembangan elonomi kreatip dan (2) Bagaimana faktor intemal berupa kekuatan, dan kelemaharu serta faktor ekstemal berupa peluang, dan ancaman bagi perajin pra,. menghadapi era pasar global?

2. Tinjauan Kepustakaan dan Kerangka Analisis SWOT

Kajian tentang prasi telah dilakukaru di antaranya oleh suwifi (19-74: a) dalam karya yang berju dur Mmgenal prasi.su#ap mengata*r bahwa prasi adalah. ilustrasi yang dibuat di atas daun ionta{, benF gambar ataupun lukisan yang menyertai teks atau naskah dan berfun8i sebagai penjelas. Karya ini merupakan tuIisan praktis dari seniman prei yang menyoroti daun lontar sebagai media karya seni prasi. Diulas t*t !3

(9)

p-singaraja. Ada seni prasi yang tidak diketahui dengan jeras identitas pembuahrya (pengarangnya), seperti Prasi Bagus Umbira (196g) darrprasi Suprita (1994).

Pene[tian akademik tentangprasi sudah dilakukan oleh putu winasa berjudul Prasi Knrya I Gusti nngui sua;osta dmi Desa Bungkulan singaraja Bali (1992). Penelitian tersebut lebih banyak menyoroti otobiografi I Gusti Nyoman sudiasta ketika meniti kariemya. Diceritakan kehidupannya sejak kecil sampai menjadi seniman prasi yang sangat berbakat dan tekun. Talenta itu telah diwarisinya dari neneko,oy*g."Karya-karya yang sudah digarapnya selaru bertema p€wayangan gaya Kamasan, seperti Epik Ramayana atau Mahabharata. selain it", irrj" aiu.rat prasi tentang pelelidon (telelintangan) mengenai kelahiran o."r,"iu darrpedarasaan (batk_ burulorya waktu/hari) dalam setiap murai melakukan kegiatary misalrrya: menanam padi di sawah, membangun rumah, membangun tempat suci (pura)' melangsungkan upacara ngaben (pembakaran mayat), dan lain sebagainya.

Penelitian tentang seni prasi juga telah dilakukan oreh Ketut Darmana (2004), berjudul '_Kajian tentang-g"tuk dan Malora seni prasi dalam Kehidupan sosio-Kulturar Masyarak atBali,, .Disebutkari bahwa karya seni praf ini oleh masyarakat lokal dinamai -komik lontar tradisional-. Istilah ini diambil dari istilah -komik modern,,. Disebut komik lontar hadisional karena menggunakan daun lontar (patm teaf) dengan ukuran pendek, sedang dan panjang. proses pembuatannya melalui !or"-, atau pahatan di atas daun lontar dengan menggunakan arut pe",!"rupak, yaitu pisau kecil yang berujung-lancip dan sangat tajam. Disebut ,,komik modern,, karena dibuat massar melarui p.or"r-p"r""takan bennedia kertas.

_ selain ihr, penelitian tentang prasi ini juga telah dilakukan oleh I Nyoman wiwana (2w4, be4uJj "seni pra-si sebagai Komoditi di Tenganan Pegringsingan: sebuah Kajian Budaya. Ditemukan bahwa seni prasi dewasa ini telah mengalami pengayaan tidak hanya daram bentuk gambar4ukis* p"*uyurrgL. Namun, juga telah terjadi elaborasi dengan benfuk yang lain, seperti perpaduan pemandangan alam, binatang pepohonan, karhr nama, dan sebagainya. Begitu pul4 lukisan tidak hanya diwujudkan daram bentuk '"i"p^n,

",ui

,,ko*ik,,,

tetapi dalam bentuk panil yangdikebat (lembaran daun lontar dirangkai dalam suafu ikatan) secara perrnanen. perwamaan juga dikembangkan, seperti warna gradasi dibuat dengan gores.n upis daniralus pada bagian_bagian tertentu untuk mendapatkan warna hitam yang lebih muda. Faktor_faktor

Pengenrbangan Ekonomi Kreatif

(10)

PUSTAKA

Volume XVI, No.2 o Agustus 2015

penyebab dilakukannya pengayaan, berupa penampilan dan perwamaan karya prasi, ialah tunfutan pangsa pasar mengingat konsumennya para wisatawan asing yang langsung berkunjung di desa tersebut.

Tulisan ini lebih menekankan pembicaraan pada potensi perajin prasi dalam mengembangkan ekonomi kreatif *L*putur, kerompok usaha mikro kecil dan menengah (uMrc\4). UMKM dianggap dapat menggerakkan sektor riil perekonomian masyarakat Bali.

3. Potensi perajin prasi Bali Mengembangkan Ekonomi Kreatif studi Kasus di desa sidemen" Kecamatan sidemen, Kabupaten Karangasem.

Kerajinan prasi di Bari berkembing lamban dibandingkan dengan jenis kerajinan yang lain. sentra kerajinan ini hanya ada di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Buleleng Bali. Tidak ada sentra kerajinan prasi selain dua sentra itu. Hal ini menandakan bahwa kerajinan prasi tergolong langka. seni prasi berukir dua dimensi berupa pahatan gu;u* way.rng di atas daun lontar. Alatnya berupa p"tg"*put, yaitu pisau kecil yang ujungnya sangat tancip dan tajam, nens-retas pahatan dari pengerupak dipolesi dengan cairan semacam mangsi, mirip tinta wama hitam. Bahannya berasal dari buah kemiri 4teirites Mittucana) yang dipanggang di atas sebuah kuari hingga keruar minyak berwama hitam. Minyak yang berwarna hitam ini dipoleskan pada lembaran daun lontar ketika pahatan su{ah selesai. Tirjuarurya ialah bekas-bekas pahatan supaya bisa tampak jeras dilihat dengan mata telajang. Lama proses pergerjaannya tergantung pada tema cerita. Jika ceritanya singkat, hanya dikerjakan selama 3-7hari dengan menghabiskan lembaran daun lontar sebanyak l}-l2lembar dengan ukuran g,s-4x20-2s cm. BiIa cerita cukup paniang dan memerlukan banyak gambar wayang dibutuhkan waktu pengerjaan paling lama antara g-6 uuran. Begitu pur+ jumtatr lembar daun lontar yang dibutuhkan lebih banyak.

Tampak sekali bahwa karya seni prasi merupakan seni yang unik dan rumit. Proses pengerjaarurya memerlukan kehalusanfiwa dan bakat seni. Pahatan yang rumit dikeriakannya dengan menggunakan alat pengerupak. Pahatan yang rumit demikian ini hanya bisa dilakukan dengan senttrhan tangan yang lembut disertai perasaan jiwa seni yang halus. Karya seni prasi yang dihasilkannya tampak indah dan mengagumkan. Di samping itu, perajin prasi harus mampu menguasai teks sasta-agama Hind; sebagai sumber (b abon) inspirasinya seperti kiilung, keluwin, p

^rn dan tantri. Tel<s

(11)

Pengembangan Ekonomi Kreatif ...,Ketut Darmana

sastra itu merupakan sumber inspirasi tema-tema cerita yang berasal dari epos Ramayana dan Mahabharata. Tema cerita ditransformasikan ke dalam bentuk gambar wayang berdimensi dua pada lembaran daun lontar.

Tampak keunikan dan kerumitannya. Diperlukan wawasan pengetahuan yang luas tentang teks sastra-agama Hindu untuk melahirkan daya imajinatif berkreativitas seni prasi yang variatif. Pahatan tangan yang terampil dibutuhkan dalam pengerjaan seni prasi. oleh karena itu, diperlukan latihan secara terus-menerus agar keterampilannya itu diperolehnya. Tradisi menggambari daun lontar berkait derrgan sejarah perkembangan seni prasi di Bali. Ada beberapa peneliti yang mengungkapkan hasil temuannya (sudarta 1976; Covarrubias, L977; Holt,1967; Gunarsa, 1976). Dijelaskan bahwa seni prasi di Bali tidak bisa dilepaskan dari konteks kebudayaan daerah asalnya. Hampir sebagran besar kesenian yang berkembang di Bali dipengaruhi oleh faktor sej*ah dan kondisi geografisnya. Lahirnya kesenian di Bali seiring pula dengan sejarah Bali. semasa kekuasaan kerajaan Majapahit meluaskan jajahannya Pulau Bali pun menjadi salah satu daerah koloni kerajaan yang memiliki kesenian Hinduistis. Dampak meluasnya kekuasaan Majapahit sampai ke Bali itu ialah keserrian Hindu-|awa meluas di Bali. Kesenian primitif ataupun seni megalith terdesak. sebelumnya telah ada paham kehinduan pada kebudayaan Bali asli, yang semuta selunrh kehidupan kebudyaannya dijiwai oleh kepercayaan asli (Winas a, lg2: lS)'.

Kebudayaan Bali itu merupakan akulturasi antara kebudayaanfawa-Hindu dengan kebudayaan Bali asli. Masuknya pengaruh agama Islam ke fawa pada abad )o\l mengantarkan kerajaan Hindu-|awa jatuh sejalan dengan semakin meluasnya pengaruh budaya Islam itu. Kebudayaan Hinduisme masih dapat bertahan di Bali. Masyarakat Bali mengambil-alih kesenian Hindu-]awa serta menyelaraskannya dengan cita-rasa kehidupan masyarakat. Hal ini melahirkan kesenian yang berkarakteristik Bali.

stuterheim (Holt, 1967) membagi sejarah seni Bali ke dalam tiga periode, yang meliputi: (1) periode Bali Hindu, mulai dari abad VIII - x. Pada masa ini berkembang seni patung dengan gaya India @udhisme) atau juga mendapat pengaruh dari ]aw4 mungkin juga mendapat pengaruh dari keduaduanya. (2) Periode Bali rira mulai dari abad X -)oII. Pengaruh kebudayaan Lrdia diadaptasikan ataupun dikembangkan meniadi suatu seni yang bersifat Bali. Tampalorya karya seni periode ini lebih primitif dibandingkan dengan periode sebelumnya. (3) periode

(12)

PUSTAKA

Volume XVI, No. 2 . Agustus 2016

Bali-Pertengahan yang mulai berkembang pada abad Xltr-)flv yang sebenarnya merupakan masa transisi menujuseni modem.

Kesenian Bali pada awalnya berkembang dari periode Bali-Hindu pada abad vltr. Akibat terpengaruh patung gaya krdia danfawa, periode pertengahan abad )otr dan XIV merupakan masa,ireralihan ke arah seni Bali modem. Bali jatuh ke tangan kekuasaan penjajdh Belanda dalam tahun 1906-1908. Hal ini berdampak pada perkembutb* seni rupa, termasuk seni prasi di Bali (Winasa, 1992:1,6).

seni prasi sebagai seni rupa merupakan warisan seni dari nenek moyang. Daya kreativitas yang tingg pada para seniman prasi di Bali menjadikan daun lontar sebagai media seninya. para seniman prasi itu terkenal kalaupun hanya dikenal pada kahnjan elite menengah ke atas. Lebih lanjut Gunarsa dkk. (1926: r.2) menjelaskan bahwa digunakannya daun lontar sebagl media seni prasi, karena belum ditemukannya kertas. Daun lontar inilah yang dipakai mereka untuk menulis babad, kekawin, kidung, cerita rakyat (fuIktale), dan menggambar seni prasi dan sebagainya (Winasa, 1992:16-17).

Disebut-sebut dalam manuskrip-kuno (naskah rontar) bahwa isinya adalah cerita legenda ataupun cerita wayang. Cerita ini berilustrasi gambar. Ilustrasi itu merupakan cabang seni lukis L"*p" seni grafis, yang untuk pertama kali dikenal oleh masyarakat Bali. Ilustrasi irJ b"*pu miniatur gambar wayang yang indah.

Huruf Bali dan |awa kuno (bahasa Kawi) yang dipahatkan dengan arat pengerupak di atas daun lontar sudah dikenar oleh masyarakat Bali sejak dahulu. Da'n lontar yang bertuliskan huruf Bari m"rp.r,' j"*" Kuno (Kawi) itu disimpan di kotak memanjang yang dihiasi dengan ukiran berbentuk relief. Tempat ini disebut bopak. Kumpulan lembarl daun rontar tertata rapi, di bagian tengah dilubangi untuk tempat ikatan mirip sebuah buku, yang disebut calcepan lontar. Tampak bahwa kesusastraan Bali-fawa dari abad ke-10 hingga abad ke-15 terpengaruh oleh kesusastraan ]awa-Hindu. Pada zaman ini, keluarga raja-raja warmadewa memperkenalkan lontar-lontar dari |aw4 di antaranya adarah sang Hyang Kanahyanilun yang dikarang pada tahun 929-gz4Masehi te"mls,rtluia kesusastraan Brahmandapurana, Agastyapattoa, rJtarakanita, nharatayuihi, dan lain-lain Pada masa pemerintahan Raja sindok difawa Timur diperkenarkan lebih lanjut mengenai kesusashaan purutailigama, Ciansesnia, rktadasaparrra, Canilrakirana, dart sebagainya (Tim penytrsun Monografi Daerah Bari" 1976:149).

(13)

Pengembangan Ekonomi Kreatif ...Ketut Darmana

Selama beberapa abad kemudian, seni prasi berkaitan erat dengan seni sasha. Seni sastra berbentuk gambar ifu bertujuan untuk memperjelas isi atau tema cerita. Jenis ini terus saja menginspirasi seniman prasi hingga tumbuh subur di BaIi. Keadaan ini dapat mencapai puncak kejayaannya pada zaman pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel-Klungkung. Lebih jelas diungkapkan oleh Pumata dkk. (197911980) bahwa kebudayaan Bali-Hindu baru ditandai oleh pengaruh dari kebudayaan |awa Timur di Istana Gelgel (Swecapura). Pada masa itu, telah dipelajari secala mendalam kesusastraan fawa Kuno, dan sampai sekarang pun masih tetap dipelajari. Kegiatan ini dilakukan oleh orang-orang tua;.ang mengajarkan naskah-naskah kuno yang tertulis pada daun lontar (Winas4 19.2:18).

Sejak zaman Raja Waturenggon& berbagai cabang kesenian mengalami perkembangan pesat. Zanran kerajaan Gelgel merupakan zaman keemasan Bali. Pada masa itu, diciptakan hasil kesenian yang bemut" tingg. Akibat dari kedatangan bangsa penjajah, Belanda sejak 1906 terjadi perubahan-perubahan besar dalem seni rupa di Bali. Perubahan itu ditandai dengan adanya hubungan dengan orang asing.

Budaya Bali berkembang secara perlahan-lahan, dan terpengaruh oleh budaya asing. Dampaknya adalah nilai-nilai estetika dan artistik berubah secara perlahan-lahan dari tradisional ke yang lebih baru dan modern. Seni lebih bersifat komersial sehingga seolah-olah hanya diproduksi untuk konsumsi wisatawan sebagai seni touristlk. Keadaan ini terbukti oleh kedatangan bangsa Belanda yang kemudian menguasai Bali pada L908. Pada beberapa tahun kekuasaannya itu, Belanda telah mendobrak kehidupan seni rupa di Bali ke arah kehidupan seni touristik (Pumata dl<k, 1979 /1980: 6).

Ada yang berpandangan bahwa seni prasi yang berkembang di Bali diperkirakan berasal dari abad ke-19. Secara kultural seni prasi tidak terpisah dari tradisi sastra-budaya yang berkembang di daerah ini. Seni prasi yang ditemukan berkecendmngan sebagai bentuk seni transformasi visual yang bersumber pada wayang klasik gaya Kamasan-Klungkung (Suparta 1994:96). Sebelum muncul seni lukis wayang gaya Kamasan, masyarakat Bali pun telah mengenal wayang. Hal ini terbukti dalam sejarah pemerintahan Ugrasena pada Caka 8L8 atau 896 Masehi, tersurat dalam prasastinya parbhwayang. Dilanjutkan dengan masa pemerintahan Anak Wungsu (1045-1047 Masehi) wayang disebut dengan istilah aringgit. Pahatan berupa gambar wayang berberrfuk prasi dalam lontar pernah

(14)

PUSTAKA

Volume XW, No.2 o Agustus 2016

ditemukan pada prasasti pandak Gede abad )o dan prasasti pura Kehen abad )otr (1204 Masehi). Ketika purang kembali d"ri ;;;pahit (Jawa) pada 1362 Masehi. Dallm samprangan membawa sekeropak wayang termasuk topeng dan visuarisasinya tari-tarian lain. Keseni* *y*g dibudayakan sehingga berkembang pesat ketika pusat pemerintahan kerajaan di Bali pindah dari Samprangam ke Gelgel, pada sekitar abad )OV. ,.

Masih dipertanyakan, apakah gambar wayang daram prasasti yang menyerupai prasi itu merupakan salah safu tonggak liitasan perkembangan selanjutny+ yangmenjadi gaya Kamasansekarangini? sampai dewasa ini pertanyaan ifu belum terjawab. Untuk *"r..*,-,f* jawabannya, masih diperlukan

'*I meralui kajian yang kompr"hensif di rapangan. Di kalangan para tokoh seniman di Bari,

"a" y*g mempertirakan lukisan wayang gaya Kamasan yang ada dewasa ini merupakan perkembangan dari bentuk prasi (Lingga, fiSS, S_O;.

4' Kondisi perajin prasi pada Era pasar Globat Kekuatan dan Kelemahan serta peluang dan Ancaman

Pada awarnya, kerajinan prasi diproduksi untuk memenuhi kebutuhan akan cita rasa keind"rrun irrairridual. peraj;;;;rt^;ilH;

mulanya hanya segelintir orang. Namun, mereka mampu memproduksi karya seni unggulan dengan taratterisut yang klasik i"diriorr"r. Begitu pula, produknya pun masih terbatas ainitmau oleh kalangan tertentu saja' |umlah produknya pun terbatas. Ka?a seni prasi diproduksi sebagai benda seni. Dibia (2003-. 96) pun berpendapat bahwa ,ul"rr"*y" benda_ benda estetik yang ada, tia"t rut rruhnr diciptakan dengan tujuan sebagai benda seni. Ada juga karya seni yang diproduksi karena arasan keindahannya yang semula berupa benda atau barang pakai dijadikan sebagai benda seni. Kerajinan smi prasi sebagai karya yang bernilai estetis pada awarnya gfuo sebagai media ,rr,tot

','"rrt *rfor-asikan bahasa teks ke dalam bahasa g*[* agar lebih mudah dipahami. pada perkembanganny4 terjadi perubahan pada kehidupan masyarakat yang tidak lagi melandang fungsi seni prasi yang sebenamya. Muncul gagasan baru yang berbeda. Gagasan

l"* i* *"LyJ"ut* seni prasi berubah fungsi menjadi benda rJtri. rta ini bermakna bahwa karya seni prasi itu sudah mulai menunjukkan kebebar* ;;;;;p" saja untuk menikmati' memiliki (memajang dan menyimp*

"torr mengoreksi), dan menginterpretasinya (Wiwana, 2007: 2 _B).

(15)

Pengembangan Ekonomi Kreatif ...,.Ketut Darmana

Esensi seni prasi ini ialah menhansfonnasikan teks sastra ke dalam gambar berskala kecil. Tema cerita diambil dari tema-tema pewayangan (Ramayana atau Mnhabharata). Penenfuan tema cerita dilakukan secara manasuka oleh pemrasi. Ditampilkan tokoh-tokoh utama yang berperan penting dalam cerita. Contoh, prasi "Bimaswarga" bertoJcoh senhal Bima. Alur cerita bisa dipahami sekalipun terpahat dalam daun lontar berlebar terbatas. Apabila pahatan gambar wayang terlalu banyak dan berjarak rapal hal ini dianggap kurang estetik. fika demikian, nilai seninya lcrryu seni prasi tidak rendah dan tidak memuaskan penikmabrya. Diperlukan ruang yang kosong di antara rangkaian gambar wayang. Di sela-selanya itu dipahatkan gambar pemandilgan, misalnya pemandangan alam, pepohonan (kayunan), binatang, laut, angkasa, dan lain-lainnya. Ilustrasi pemandangan ini merupakan latar belakang tema cerita. Tujuannya ialah menghidupkan cerita seolah-olah sungguh-sungguh realistik.

Tampak keahlian perajin seni prasi. Mereka berbakat seni yang disebut ketakson. Bakat seni itu dimiliki melalui proses kreatif imajinatif yang didukung oleh penguasaan sastra-agama Hindu sebagai sumber (babon) cerita. selain itu, peraiin harus memiliki keterampilan memahat yang garis-garis tekstumya lemah-lembut. Tebal-tipisnya pahatan harus terjaga sehingga kelihatan halus. Pekerjaan ini sulit b"g y*g bukan ahlinya. Dibutuhkan latihan yang tekun, ule! dan sabar melalui proses belajar yang cukup lama. Para pemula dibimbing oleh pemrasi yang mampu dan berskil ti.gg. Karya seni prasi diakui sebagai karya seni yang rumit, pelik dan kompleks.

Para perajin prasi tergabung ke dalam kelompok unit usaha yang disebut usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). perajin prasi di Desa sidemen, Kecamatan sidemeru Kabupaten Karangasem memproduksi karyanya dalam skala industri rumah tangga dilakukan secara tradisional dari generasi terdahulu sampai sekarang. Para pemrasi pada umumnya pria dan tidak ada seorang pun wanita.

Berbagai persoalan muncul pada kebijakan yang berkait dengan produk kerajinan prasi ketika memasuki pangsa pasar bebas. persaingan akan terjadi semakin ketat terhadap produk-produk kerajinan yang berkembang di Bali. Persaingan itu bisa dilihat dari dua aspek, yaitu yang bersifat intemal (antara sesiuna perajin) dan ekstemal (kelompok perajin prasi dengan perajin yang lain). Persaingan itu meningkatkan kualitas produk dan menguntungkan konsumen. Harga produknya pun kompetitif. Ada problem yang dihadapi oleh produsen kerajinan prasi

(16)

PUSTAKA

Volume XW, No.2 . Agustus 2016

pada era pasar bebas dewasa ini. Berikut ini ditampilkan analisis SWOT yang mencakup analisis faktce internal berupa kekuatan (Strenghts) dalrt kelemahan (Weakness), faktor ekstemal berupa peluang (Opportunities) darr anc€unan (Threats) untuk dijadikan acuan dalam pengernbangan kerajinan seni prasi pada masa datang.

1. Kekuatan (strenghts)

Kekuatan (strmghts\ produk kerajinan prasi tersebut, antara lain, adalah (a) Keunggulan produk kerajinan prasi ini merupakan khazanah seni budaya Nusantara yang hanya ada dan berkembang di Bali. Sebelum terjadi pemekaran, para perajin seni prasi itu tinggal di Desa Sidemen Kecamatan Sidemerr dan Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan M*ggis, Kabupaten Karangasem,.dan di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng kerajinan seni prasi berkembang. (b) Produk kerajinan prasi berkarakteristik klasik tradisional sebagai produk lokal perajin Bali; (c) Kerajinan prasi diproduksi melalui proses yang rumif pelik, dan membutuhkan ketrampilan yang tinggi. Pahatan tangan dilakukan dengan alat pengerupak. Pengeriaannya memerlukan talenta seni dari para perajin. Skil itu didapat melalui proses panjang. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelatenan, dan pemahaman tentang sastra-agama Hindu sebagai sumber tema-tema cerita dalam prasi tersebut. (d) Bahan bakunya berupa daun lontar yang mudah diperoleh karena tersedia cukup banyak. Di daerah ini pohon lontar tumbuh subur pada daerah perbukitan dan pegunungan yang merupakan tanah tandus dan kering. (e) Tema ceritanyabisa memengaruhi moralitas senimanprasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tema cerita pewayangan diadopsi dari epos Ramayana dan Mahabharata. Banyak ditemukan nasihat yang berkaitan dengan segi-segi kehidupan manusia.

2. Kelemahan (wealcness)

Kelemahan (uteakness) produk kerajinan prasi, khususnya di Desa Sidemen, antara lain, adalah sbb. (a) para perajin memproduksi kerajinan prasi sebagai industri rumah tangga yang individual. Belum dibentuk kelompok unit usaha yang permanen. Belum ada organisasi perajin prasi, iuga belum ada koperasi perajin prasi. (b) Sulit dilakukan pembinaan oleh instansi yang terkait (Dinas Koperasi dan UMKM maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan), terhadap kualitas produk kerajinan prasi, walaupun ada segelintir yang produlcnya berkualitas. Sebagian

(17)

Pengembangan Ekonomi Kreatif

besar berkualitas sedang. Harganya pun bervariatif, mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. variasi harga ini dipengaruhi oleh permintaan konsumer; dan tuntutan kebutuhan hidup para perajin. Kemampuan setiap perajinpunberbeda-beda sehirrgga kualitasproduknya juga berperingkat. Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha pun berbeda satu dengan yang lain. sebagian perajin kurang memanfaatkan bantuan modal karena usahanya tidak menjamin untuk pengembalian modal pasang surutnya produk. (c) perajin prasi di Desa sidemen belum memliki jaringan pangsa pasar secara langsung kepada konsumen. perajin yang profesional menghasilkan produk yang mampu menembus pangsa pasar tersendiri. Harganya pun lebih mahal. Berbeda dengan perajin yang produknya belum dikenal konsumen. pemasarannya melalui calo atau pemilik modal. Harga jualnya rendah. calo atau pemilik modal inilah yang menikmati keuntungan tinggr. Kadang-kadang calo atau pemilik modal memesan produk berjumlah besar dalam waktu singkat. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas produk. Akibatorya, yang dikejar perajin bukan kualitas, melainkan kuantitas produk. proses pengerjaannya memerlukan waktu 3 sampai 7 han. Kadang kala bisa dipercepat penyelesaiannya menjadi 1" atau 2 hari saja. para calo atau pemilik modal langsung menyalurkannya ke artshop atau pusat pasar sem larr marl<et). sebagaimana diketahui, konsumen utama produk kerajinan prasi adalah wisatawan yang berkunjung ke daerah Bali, uait itu wisman (wisatawan manca negara) maupun wisnu (wisatawan nusantara/domistik). Konsumen penduduk Bali kelas menengah ke atas segelintir saja.

3. Peluang (Wortunities)

Peluang (opportunities) bagi perajin prasi antara lain, adalah sbb. (a) Produk barang kerajinan prasi ini hanya ada dan berkembang di Bali. Perajin diibaratkan memonopoli produk tersebut. walaupun beium mempunyai hak paten, kualitas produk mereka terjaga. sampai dewasa ini pangsa pasar produk kerajinan prasi masih dikuasai oleh fara perajin lokal di Bali. (b) Produk kerajinan prasi berbahan baku lokal berupa daun lontar. Hal ini menguntungkan petani lontar. Mereka menikmati penghasilan dari penjualan daun lontar. (c) Lrdustri rumah tangga ini membuka peluang lapangan kerja bagi penduduk, sehingga berimplikasi dalam pengurangan pengangguran. Kontribusinya menunyang sektor perekonomian di Bali.

(18)

PUSTAKA

VolumeXVI, No.2 . Agustus2016

4. Ancaman (threats)

Ancaman (threats) bagi prajin prasi Bali disebabkan oleh dua faktor berikut ini (a) Faktor intemal disebabkan oleh kurang diminatinya jenis kerajinan prasi oleh kalangan remaja dewasa ini. proses pengeriaannya membutuhkan wakfu lama, pahatannya rumit, petik, dan membutuhkan kesabaran, ketelitian" serta diperlukan talenta jiwa seni. (b) pemasaran tidak lancar dan selalu mengalami pasang-surut karena konsumennya terbatas, yaitu terutama sasarannya wisatawan nusantarddomestik dan wisatawan m:rncimegara. Disebagian kalangan masyarakat Bali, konsumennya berkelas ke atas yang memahami serri prasi. (c) Bila kondisi seperti ini terus terjadi, dikhawatirkan seni kerajinan prasi sebagai warisan seni budaya Bali akan semakin langka dan lama-kelamaan akan punah karcna tidak ada generasi penerus yang menekuninya.

5. Simputan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1. oleh masSrarakat desa sidemen keraiinan prasi disebut ,,komik lontar tradisional" karena wujudnya menyerupai ,,komik cerita bergambar". Perbedaann5n terletak pada proses pembuatan, bahan bak& dan jumlah produksi. Kerajinan prasi berbahan baku daun lontar,diproduksi manual dengan alat ,,pengerupaY,, yaitu pisau kecil berujung lancip dan sangat taja4 jumlah produk terbatas, dan konsummrrya pun terbatas. Berbeda dengan ',komik cerita bergambar". Bahan bakunya kertas. Diproses cetak dalam jumlah

yang banyak. Komik cerita bergambar sangat digemari anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

2. Kerajinan prasi yang berkembang di Bali dewasa ini masih tetap digeluti para perajin prasi. produknya merupakan uasaha mikro kecil dan menengah (utvffcvt) sebagai industri rumah tangga. para seniman prasi menekuninya sampai sekarang sebagai warisan generasi sebelumnya. Proses pentransferan skil dari generasi ke generasi berikutrya ini terus berkembang. pada awal rnulanya produk kerajinan prasi dipandang sebagai produk seni semata-mata. Produk kerajinan prasi belum bemilai ekonomis sehingga belum menjadi komoditas untuk diperdagangkan. pada era sekarang produk kerajinanprasi menemukan pangsa pasar sehingga menjadi benda seni yang dikomersialkan.

(19)

3. Lebih-lebih lagi, Bali sebagai daerah kunjungan wisata menjadikan produk kerajinan prasi dikonsumsi wisatawan asing maupun domestik sebagai cinderamata. Kerajinan prasi berkembang melalui penciptaan yang inovatif dan kreatif sesuai dengan tuntutan pangsa pasar. Tema-tema cerita bergambar tidak hanya berupa wayang mini yang klasik hadisional. Namun, gambar wayang sudah dikemas dengan paduan gambaran kehidupan masyarakat Tema-tema cerita dalam seni prasi berisi tentang kehidupan binatang (gajah, kepiting, dan burung), sang Budha, Dewi saraswati, calon Ar*g dan lain sebagainya. Kreasi.kreasi baru yang variatif ini diciptakan untuk memenuhi selera konsumen.

4. Berdasarkan analisis swor perihal peraiin prasi di Bali, ditemukan hal-hal sebagai berikut. (a) Kerajinan prasi merupakan produk unggulan rokal yang sampai dewasa ini tetap eksis. produk kerajinan prasi memiliki ciri khas tersendiri, yang dapat dilihat dari proses pembuatan dan bahan baku yang digunakan. (b) Belum ada jaringan pangsa pasar pemasaran produk karya seni prasi ini. yang mengonsumsinya di daerah ini hanya dikalangan kelas menengJ ke atas dan wisatawan asing ataupun domestik yang berwisata di daerah ini. (c) pekerjaan sebagai perajin prasi diibaratkan bersifat monopoli. Ada peluang kesempatan berusaha untuk merebut atau bahkan menguasai pangsa pasar. Terbuka peluang untuk memperluas kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran. (d) Generasi penerus kurang berminat untuk berproiesi Lu"g" peraiin prasi. Hd ini berimplikasi negatif terhadap keberadaan kelestarian kerajinan prasi pada masa datang.

Daftar Pustaka

Bagus, I Gst Ngurah.lgZs. "Kebudayaan Bali,, Manusia ilan Kebudayann di Indonesia. (Koentjaraningrat, Ed) Jakarta: ]embatan.

Bali Post. 2009. Denpasar: penerbit pr Bali post No.: 301 Tahun ke-61, Hal 16,Kol.*7.

Cuvamrbias, M. 1.965. Thelslanils of BaIi.New york Knoft.

Darmana, Ketut. 2004.'Kajian tentang Bentuk dan Makna simbolik seni Prasi dalam Kehidupan sosio-Kultural Masyarakat Bah" (Tesis s2). Yogyakarta: Program pascasarjana universitas Gadjah Mada.

. 2008. "Makna simbolik seni prasi dalam Kehidupan Masyarakat Bah", dalam pustaka lurnal llmu-ilmu Builaya.Denpasar:

(20)

PUSTAKA

VolumeXVI, No.2 . Agustus2015

Penerbit yayasan Guna widya Fakurtas sasha unud, halaman 1.33_ -1.43.

Darmana, Kefut, Murniasih, A.A.A dan suci Ni Kefut,2002. -Revitarisasi Kerajinan seni prasi sebagai Karya seni di Desa sidemen,, dalam udayana Mengabdi lournal of Community sewice.Denpasar: Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Unud.

Dibia, I wayan. 2003. "Nilai-Nilai Estetika Hindu dalam.Kesenian Bali,,, dalam Estetika Hindu dan pembangunan BaIi,(rBG. yudha Triguna Editor). Denpasar: Wijaya Dharma.

Geertz, Clifford, 1992, Tafsir Kebudayaan yogyakarta: penerbit Kanisius. Geertz, clifford. 2003. pengetahuan Lokat Esai-esai Lanjutan Antropologi

Interpretif (penerjemah vivi Mubaikah dan Apri Danarto"). Yogyakarta: penerbit yayasan Adikarya.

Geertz, clifford. 1969, "Fo,rrand variation in Balinese vinage strucfure,,, American Anthropology, Vol. 61.

Geriya I wayan. 2009. "Memaknai Kreativitas Berkesenian sebagai Hak Asasi Manusia", Bari post. Denpasar: penerbit pr Bali post No.:296 Tahun Ke-6'!,, Kol. 3-7.

--, 2000. Transformasi Kebuitayaan BaIi Memasuki Abad xxr. Denpasar: penerbit perusahaan Daerah Bali.

Hayami, Yujiro dan Kikuchi, Masao. r9g7. Dilema El<onomi Desa: suatu Penilekntan Ekonomi terhadap pmtbahan Kelembagaan

di Asia (zahara D. Noer, penerjemah). Jakarta: penerbit yayasan obor Indonesia. Lhgga I wayan. 1988. Mengenal Nilai-Nilai Luiur dalam Lukisan wayang

Gaya Knmasan. Denpasar: proyek pengembangan permuseuman Bali, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen pendidikan dan Kebudayaan.

Mantr4 Ida Bagus. 1999. Bari Masalah sosial Budaya dan Modernisasi. Denpasar: Upada Sasha.

--- 1996. Landasan Kebudayaan Bari.Denpasar: yayasan Dharma Sastra

Mauss, Marcel. lgBB. 'Gifts and Retum Gifts- dalam High points in Anthropology.second Edition (Edited: paul Bohannan dan Mark Glazer) on. united states of Amerika: Alfred A. Knopf Inc.

McKean, Philip F. 1976. "Interaction Between Tourists and Barinese: An Anthropological Analysis of partial Equitvarence structures,, dalam Masy ar akat Indonesia Maj alah llmu-Ilmu s osial | iliit III N omor 2. fakarta: LIPI.

(21)

Pengembangan Ekonomi Kreatif ...

...Ketut Darmana

--- - - 197 g. "Toward a Theoretical Analysis of Tourism: Economic Dualism and curfural Invorution in Bali,,, Hosts and Guests (smi*r, Valene I,, Edit). Oxford: Basil Blackwell.

Plyte. r9r2. Danpati-Larangon, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBG).

sutan TakdirAlisyahb ana. r97T . perkembangan sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari lurusan Nilai_nilai.Jakarta: Idayu press.

suastika' I Made. 199G. "Tradisi penulisan Lontar diBari,,,daram Majarah Lontar, No.: 1 Tahunl Denpasar: posdok prop. Bali.

---. 1992. Bimbingan Teknis ke Arah ieningkntan Kuaritas dan Profesionalisme penuris Lontar prasi di Desa reiganan_Karangasem. Denpasar: Lembaga pengabdian pada Masya.uk; Unud.

sudana Astika Ketut. 1994. "seka daiam Kehidupan tut"ry"r"tu t Bari,, dalam Dinamikn Masyarakat ,an Kebu,ayaan BaIi(I Gde pitana Ed). Denpasar: penerbit Bali post. Halaman 1I.1._1.g1.

sairin, syafn, semedi, pujo dan Hudayan4 Bambang. 2002. pengantar Antropologi Ekonomi. yogyakarta: pustaka pelajar.

suparth4I Made. 1994. "Erottsme daram seni prasiBali,, dalam Erotisme dalam sastra dan Bahasa (Apsanti Djokozujatro dan Ibnu wahyudi, Penyunting). Edisi I(husus Lembaran sastra universitas Indonesia Nomor 29,99-109.

suwidja, I Ketut. 1g7g. Mengenal prasi.singaraja: Gedong Kertya.

swellengrebel, J.L. 19G0. BaIi studies in Life, Tiought ani nituol (Ed). The Hague and Bandung: W van Hoeve Ltd.

winasa Putu. 1992. "pnsi Karya I Gusti Bagus sudiasta dari Desa Bungkulan singaraja Bari", skripsi sl. Banlung, r"n ttu, seni dan Desain Universitas pajajaran.

wiwana, I Nyoman. z0or. "seni prasi sebagai Komoditi di renganan Pegringsingan: sebuah Kajian Bud.aya", Tbsis

s2.Denpasar: program Pascasarjana Universitas Udayana.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kondisi ini maka tindakan yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin adalah menjadi tauladan sebagi seorang pimpinan, yang menjadi panutan karyawan dan menjadi pengawas

Hasil penelitian menunjukkan pembagian kerja domestik pada keluarga penambang pasir perempuan telah dilakukan oleh laki-laki dan perempuan waulupun masih ada

Selain keberadaan vegetasi di kawasan pantai peneluran penyu di Pantai Lhoknga Gampong Mon Ikeun Kabupaten Aceh Besar juga terdapat berbagai hewan predator

Beberapa batuan vulkanik berupa aliran lava dan endapan piroklastik yang dijumpai di lereng Gunung Semeru sebagai bukti terjadinya letusan samping pada masa pra sejarah maupun

Upacara caru pengeruwak seharusnya dilaksanakan sebelum rumah dibangun, karena upacara caru pengeruwak merupakan upacara pembukaan lahan pertama dalam proses

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kesimpulan yakni Kepuasan Kerja berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap

Dalam karyanya &#34;A History of Islamic Legal Theories,&#34; khususnya pada pembahasan tentang krisisis modernitas, menuju teori hukum baru, Hallaq memuji formulasi teori

(2) sumberdaya, yaitu dalam mewujudkan keberhasilan implementasi suatu kebijakan diperlukan dukungan SDM dan non-SDM;(3) komunikasi antar organisasi dan penguatan