B. PRIMA TANI LKDTIB AIR DINGIN KABUPATEN SOLOK
Kegiatan Prima Tani agroekosistem lahan kering dataran tinggi iklim basah (LKDTIB) Air Dingin Kabupaten Solok dimulai tahun 2005 bersamaan dengan 22 lokasi pada 14 provinsi lainnya dan berakhir tahun 2008. Lokasi kegiatan ditetapkan bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Solok yang dikoordinir oleh Bappeda Kabupaten Solok bersama Dinas/Instandi terkait, BPTP Sumbar setelah melalui diskusi dan peninjauan ke lokasi.
Kondisi agroekosistem LKDTIB kawasan Prima Tani Air Dingin dipandang sangat krusial dan perlu penanganan segera. Hal ini ditandai oleh berkurangnya kawasan hutan, tidak hanya hutan produksi, tetapi juga hutan lindung yang termasuk kawasan Hutan Nasional Kerinci Seblat (TNKS) serta semakin luasnya lahan kritis. Penyebabnya selain karena penebangan hutan untuk mengambil kayu, masyarakat juga membuka hutan untuk menanam markisa yang menjadi sumber pendapatan utama dari buah-buahan. Setelah 5-6 tahun markisa tidak lagi berproduksi, lahan diterlantarkan dan akhirnya menjadi lahan kritis. Apabila praktek ini berlangsung terus, maka kerusakan alam baik di hulu maupun di hilir tidak bisa dihindari, karena kawasan Air Dingin merupakan hulu DAS Batang Hari. Kecenderungan petani menggarap hutan, karena produktivitas usahatani pada lahan usaha yang ada belum menguntungkan, disebabkan belum diterapkannya teknologi dengan baik.
Hasil survai Nurdin et. al (2003) mengidentifikasi masalah yang sering dihadapi petani di kawasan ini, adalah: (i) kesuburan lahan rendah; (ii) kualitas benih rendah; (iii) harga benih (kentang) mahal; (iv) pupuk kandang kurang tersedia (v) pestisida kurang; (vi) penyakit layu pada kentang belum teratasi; (vii) harga jual hasil panen rendah dan bersaing dengan daerah lain; (viii) akses modal terbatas; (ix) pada musim ke sawah tenaga kerja langka; (x) informasi tentang perkebunan atau agro forestery belum banyak diperoleh; dan (xi) pemeliharaan ternak masih tradisional. Kesemuanya ini menyebabkan produktivitas dan pendapatan usahatani rendah.
Dari aspek demografi tercatat jumlah penduduk 10.476 jiwa (2.358 KK), yang sebagian besar status kepala keluarga mempunyai latar belakang pendidikan tidak tamat SD (51,0%), diikuti 41,8% tamat SD/SLTP, 6,4% tamat SLTA, dan 0,8% tamat Ak/PT. Pekerjaan utama penduduk adalah bertani dengan luas penguasaan lahan bervariasi 0,25-2,0 ha/KK. Hasil baseline survey terhadap 40 responden tahun 2005 besarnya pendapatan keluarga tani di Air Dingin Rp 9.475,600/keluarga (56,5% dari usahatani, 23,6% tukang dan buruh tambang galian C, 8,8% pegawai, dan 11,1% dagang dan jasa lainnya). Penyumbang terbanyak pendapatan berasal dari usahatani sayuran (27,2%), markisa manis (19,9%), ternak (5,5%), dan padi sawah 3,9% (Artuti et al., 2005a). Dibandingkan tahun 2008 terjadi perubahan pendapatan 90,6% menjadi Rp 18.059.100/KK. Perubahan ini
jual lebih tinggi. Perubahan lain yang terjadi selain pemanfaatan lahan sawah untuk usahatani sayuran yang lebih ekonomis (peningkatan IP), ialah mulai berkurangnya petani menggarap hutan TNKS, bertambah baiknya infrastruktur dan lahan tidur mulai dimanfaatkan.
Sejalan dengan tahapan kegiatan berjalan sejak awal, serta mengacu pada rumusan lokakarya Prima Tani Kabupaten Solok bersama Pemkab. Solok beserta SKPD terkait yang dimuat dalam dokumen Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis (RBLA), dinyatakan bahwa implementasi inovasi teknologi dan kelembagaan diprioritaskan untuk pengembangan komoditas unggulan utama, yaitu: markisa, kopi dan sayuran, terutama kentang.
Tujuan
Tujuan Prima Tani adalah sebagai berikut :
1) Mempercepat proses diseminasi dan adopsi teknologi pertanian inovatif di Nagari Air Dingin Kabupaten Solok.
2) Merancang serta memfasilitasi penumbuhan dan pembinaan sistem dan usaha agribisnis
3) Mempercepat pencapaian kesejahteraan petani, melestarikan sistem pertanian dan lingkungan
Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari kegiatan Prima Tani di Nagari Air Dingin adalah membangun suatu kawasan Laboratorium Agribisnis dikawasan Nagari sebagai contoh penciptaan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). Untuk mencapai AIP telah dilakukan beberapa kegiatan mulai persiapan (melakukan PRA, pemetaan sumberdaya lahan dan survei pendasaran) dan lokakarya untuk menghasilkan suatu “rancang bangun” sebagai acuan dalam mengembangkan wilayah agribisnis berbasis sumberdaya (SDA dan SDM) dan kelembagaan yang ada. Rancang bangun ini setiap tahun dapat dilakukan perobahan disesuaikan dengan perkembangan dan dukungan SKPD terkait di lokasi. Ada tiga program utama yang dilakukan dalam upaya menciptakan kawasan AIP yaitu (!) implementasi inovasi teknologi, (2) inovasi kelembagaan dan (3) inovasi diseminasi. Ketiga inovasi ini dilakukan secara simultan dan sinergis, sehingga seluruh sub sistem agribisnis tersebut bisa dibangun dan kemudian menjadi suatu sistem agribisnis yang utuh dan terintegrasi.
B.1. Inovasi Teknologi Pertanian
Semenjak tahun 2005 sampai akhir tahun 2008 di kawasan Prima Tani Air Dingin Kabupaten Solok sudah cukup banyak inovasi teknologi yang diimplementasikan. Sesuai dengan penetapan komoditas yang akan dikembangkan yaitu, markisa, kopi, dan sayuran, maka ketiga komoditas tersebut mendapat prioritas dalam bimbingan teknologi dan pembinaan petani di lapangan. Implementasi inovasi teknologi budidaya maupun pascapanen dilakukan dalam bentuk pembinaan petani secara berkelompok
melalui kegiatan kebun kolektif, kebun contoh, peragaan/demonstrasi teknologi, dan dukungan penyediaan sarana berupa bibit/benih, pupuk dan obat-obatan sebagai berikut:
a. Implementasi terbatas inovasi teknologi benih kentang granola.
Perbanyakan plantlet kentang berasal dari Balitsa Lembang dilakukan pada Lab. Kultur Jaringan BPTP Sumbar, dan produksi G0 dan
G1 di rumah kasa Sukarami. Dari 1.500 tanaman yang tumbuh dilakukan
pengambilan dan penanaman stek kentang sebanyak 1.000 stek dan menghasilkan sebanyak 6.500 benih G1.
b. Pengadaan bibit kopi arabika, markisa, dan Trichoderma harzianum. Bibit kopi arabika siap tanam diserahkan kepada Keltan sebanyak 2.000 batang, 1.000 batang ditanam dibawah markisa umur 2 tahun, dan 1.000 batang lainnya di lahan kering untuk ditumpangsarikan dengan sayuran pada lahan yang sudah berteras. Bibit alpokat unggul (3 varietas, masing-masing 5 batang), bibit markisa (2 varietas, masing-masing 2 batang) diserahkan oleh Balitbu sebagai contoh dengan tujuan agar kawasan Air Dingin menjadi penghasil bibit unggul markisa dan alpokat pendukung agribisnis. Selain itu, BPTP Sumbar juga mengintroduksikan
penggunaan Trichoderma harzianum sebagai dekomposer dalam
pembuatan kompos.
c. Produksi benih G4 dan kentang konsumsi.
Dari 1.000 umbi bibit G3 (0,75 ha) yang ditanam, dihasilkan 4,8 ton
umbi, sebanyak 3,0 ton ukuran medium (30-60 gr) dijadikan bibit G4,
sisanya dijadikan kentang konsumsi. Benih kentang disimpan dan ditunaskan di posko Keltan Bina Usaha. Separoh hasil menjadi milik Keltan Bina Usaha, sisanya sebanyak 1.5 ton dikembalikan ke Dinas Pertanian untuk digulirkan kepada keltan lain.
Gambar B1. Temu lapang di lokasi Show Window Gapoktan Prima Usaha,
dengan inovasi teknologi perbanyakan benih kentang Granola. Air Dingin.2006
d. Budidaya cabe merah dan tomat dengan teknologi MPHP.
Kegiatan dilakukan oleh Keltan Cahaya Baru, Serumpun Bambu, dan Saiyo Sakato pada kebun kolektif di Jorong Koto Baru. Teknologi yang dikenalkan ke petani adalah penggunaan mulsa plastik hitam (MPHP) sebagai mulsa sekaligus untuk mengurangi i gangguan hama dalam pertanaman di lapangan. Benih yang digunakan varietas hibrida F1
Bagayo dan Taro berasal dari PT. Panah Merah. Perolehan hasil cabe 12,7 t/ha dengan nilai R/C 2,7. Tiga Keltan yang sama juga melaksanakan kegiatan budidaya tomat jenis Marta dengan teknologi MPHP. Teknologi MPHP pada tomat menghasilkan R/C 2,5, sedangkan teknologi petani sebagai pembanding menghasilkan R/C 1,6.
Gambar B2. Penampakan usaha tani sayuran petani di lahan sawah dan
tampilan usahatani tomat dengan teknologi MPHP e. Integrasi markisa, kopi, dan sayuran.
Keltan Harapan Sakato melaksanakan sistem integrasi markisa, kopi dan sayuran seluas 1 ha di Jorong Koto. Jenis kopi yang diintroduksikan adalah kopi Andungsari yang dianjurkan untuk dikembangkan di dataran tinggi, sedangkan jenis markisa adalah markisa unggul jenis Super Solinda. Diantara tanaman tahunan ini ditanami sayuran (kentang, kubis, tomat) secara berurutan. Dari hasil kegiatan ini sampai saat ini keltan Harapan sakato masih memanen hasil kopi dan markisa setiap minggu untuk dipasarkan, karena pohon kopi dan markisa sudah menaungi lahan, maka sayuran tidak lagi menjadi tumpuan penghasilan dilahan integrasi tersebut.
Gambar B3. Usahatani sayuran di bawah markisa dan kopi arabika th
2006 (kiri atas), tampilan buah markisa Super Solinda dan kopi arabika Andung sari 1, di lahan integrasi kopi,markisa dan sayuran. Air Dingin, 2008-2009.
f. Pengelolaan lahan kering dengan metoda konservasi.
Kegiatan berlokasi di kebun kolektif Gapotan Prima Usaha sebagai tempat pembelajaran, sekaligus sebagai lahan inti Prima Tani. Teknologi yang diterapkan adalah teknologi berwawasan konservasi pada lahan miring bergelombang dengan komoditas utama kopi arabika yang diintegrasikan dengan sayuran dan hijauan makanan ternak sebagai kontur.
Gambar B4. Sosialisasi pengelolaan lahan dengan sistem konservasi (kiri)
f
f.. Hijauan Makanan Ternak (HMT).
Pengembangan HMT mendukung pengembangan ternak dan sistem usahatani konservasi selain dilakukan pada kebun kolektif Gapoktan Prima Usaha, juga dikembangkan pada kebun kolektif Cahaya Baru (jenis Gajah Taiwan, Setaria, Panikum sp, 1 ha) Serumpun Bambu (Gajah Taiwan, 0,5 ha), serta lahan petani Darsono dan Madan (Gajah Taiwan dan Panikum, 0,5 ha).
g
g.. Block fondasi alpokat.
Dilaksanakan oleh Keltan Bendang Serumpun seluas 1 ha yang merupakan kebun bibit (Block Fondasi). Sebagai pohon induk ditanam sebanyak 3 varietas unggul yang berasal dari Balitbutrop, yaitu: Mega Gagawan, Mega Murapi, dan Paninggahan serta lokal Koto dengan jumlah total 250 batang.
h
h.. Produk olahan kentang dan markisa manis.
Tim teknis telah melakukan bimbingan teknologi pengolahan kentang menjadi kripik kentang dengan rasa pizza, rasa keju dan rasa jagung bakar, serta pembuatan jus dan sirup markisa manis campur terung belanda. Pelatihan diberikan kepada KWT Mekar Sari dan KWT Mawar Putih Jorong Koto Baru.
i. Pembibitan kopi arabika.
Tahun 2006, Keltan Bina Usaha melakukan pembibitan kopi arabika sebanyak 10.000 biji. Tahun 2008 Gapoktan Kobar Saiyo juga difasilitasi melakukan usaha pembibitan kopi arabika jenis Andungsari sebanyak 15.000 biji. Kegiatan ini diikuti oleh 3 keltan (Serumpun Bambu, Saiyo Sakato, dan Sarasah Prima) yang nantinya ditanam pada lahan usaha anggota masing-masing. Tahun 2009 dilakukan juga sanakan pembibitan sebanyak 20.000 biji kopi lagi. Selain pembibitan, telah dibagikan juga bibit kopi siap tanam kepada keltan untuk ditanam pada lahan anggota yaitu, Keltan Harapan Sakato (2.000 bibit), Cahaya Baru (1.800 bibit) Gapoktan Bina Usaha (6.200 bibit), dan Harapan Saiyo 250 bibit.
j. Polatanam sayuran.
Keltan Suka Maju di Jorong Data tahun 2007-2008 melaksanakan polatanam sayuran pada lahan bekas sawah yang sudah lama tidak diusahakan. Jenis tanaman yang diusahakan adalah tomat, kentang, dan kubis. Khusus untuk tomat menggunakan teknologi MPHP. Selain Keltan Suka Maju, kepada beberapa petani perorangan sekitar Posko juga diberikan bimbingan inovasi teknologi dan bantuan sarana produksi.
B.2. Inovasi Kelembagaan
Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) merupakan suatu model kelembagaan usaha pertanian yang sekaligus merupakan model inovasi
kelembagaan yang akan dikembangkan melalui Prima Tani, bertujuan untuk menumbuhkan elemen-elemen lembaga agribisnis seperti lembaga produksi pertanian, sarana produksi dan jasa alsintan, penyuluhan klinik agribisnis, industri pengolahan hasil dan lembaga permodalan serta terwujudnya saling keterkaitan yang harmonis baik secara fungsional maupun institusional dan saling menguntungkan antara pelaku agribisnis, terutama antara petani dan pelaku agribisnis lainnya. Pembentukan kelembagaan AIP didasarkan pada hasil inventarisasi lembaga yang sudah ada maupun yang belum ada serta lembaga yang belum berfungsi sesuai dengan kebutuhan, kapasitas sumberdaya dan budaya setempat.
B.2.1. Kelompok Tani dan Gapoktan
Untuk mewujudkan kelembagaan AIP yang operasional diperlukan serangkain kegiatan penumbuhan kelembagaan secara efektif dan efisien untuk seluruh elemen. Dalam kegiatan Prima Tani 2005-2007 telah dapat ditumbuhkan berbagai lembaga sesuai dengan prinsip kebutuhan, efektivitas, efisiensi, fleksibilitas, manfaat dan pemerataan serta keberlanjutan. Kelembagaan produksi pertanian telah ditumbuhkan sebanyak 16 kelompok tani sebagai lembaga produksi baik yang tumbuh baru maupun yang direvitalisasi (Tabel B1).
Tabel B1. Jumlah penumbuhan dan revitalisasi Keltan Binaan Prima Tani
Kabupaten Solok, 2005-2007.
No. Nama Keltan Alamat Anggota (Orang) Bidang Usaha Keterangan
1. Bina Usaha Koto 9 Benih
Kentang Baru
2. Sinar Tanjung Koto 15 Sayuran,
markisa Baru
3. Sabilal
Muhtadin Data 20 Sayuran Revitalisasi
4. Bendang
Serumpun Data 16 Sayuran, ternak Revitalisasi
5. Tunas Baru Data 12 Markisa Baru
6. Simental Koto 5 Ternak sapi Baru
7. Harapan
Sakato Aie Sonsang 8 Kopi, markisa Baru
8. Harapan Jaya Aie
Sonsang 16 Benih kentang Revitalisasi
9. Sapan Saiyo Data 24 Sayuran Baru
10. Cahaya Baru Koto Baru 16 Sayuran Baru
11. Sarasah Prima Koto Baru 16 Sayuran Baru
12. Serumpun
14. Mekar Sari Koto Baru 16 Pengolahan
Hasil Baru
15. Suka Maju Data 12 Sayuran Baru
16. Melber Koto 25 Kopi Baru
Untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga produksi pertanian, secara musyawarah yang diikuti oleh pengurus kelompok tani telah dibentuk suatu wadah yang menghimpun seluruh lembaga produksi pertanian yang dinamakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Walaupun demikian, belum semua poktan tergabung dalam Gapoktan. Dua Gapoktan yang terbentuk adalah Gapoktan Prima Usaha Jorong Koto dengan anggota Poktan Bina Usaha, Harapan Sakato, Sinar Tanjung dan Sapan Saiyo tahun 2006. Tahun 2007 dibentuk Gapoktan Kobar Saiyo di Jorong Koto Baru. Gapoktan Kobar Saiyo tercatat sebagai penerima BLM PUAP tahun 2008, dengan poktan Sarasah Prima, Serumpun Bambu, Saiyo Sakato dan KWT. Mekar Sari.
B.2.2. Seed Capital
Dalam rangka penguatan modal usaha kelompok, Gapoktan Prima Usaha ditunjuk oleh Bupati Solok sebagai wadah untuk menerima, menyalurkan dan mengkoordinir penggunaan dana seed capital sesuai SK Bupati No. 194/Bup-2006 tanggal 8 Mei 2006. Besarnya dana yang disalurkan sebesar Rp 50.000.000 berasal dari DIPA BPTP Sumbar tahun 2006. Penggunaan seed capital hanya diberikan untuk penguatan modal usaha yang dilakukan secara kolektif kelompok bukan untuk usahatani bersifat induvidu. Seed capital merupakan dana bergulir yang mana besarnya pinjaman, besarnya bunga, sistem pengembalian serta mekanisme pinjaman lainnya diatur dalam suatu perjanjian. Untuk mendapatkan peinjaman, kelompok harus mengajukan Rencana Usaha Kelompok (RUK) kepada Gapoktan dan dinilai kelayakan oleh Pembina (Tim Prima Tani dan Pengurus Gapoktan). Tahun 2006, dana seed capital telah disalurkan kepada tiga keltan dan Gapoktan Prima Usaha (Tabel B2).
Tabel B2. Alokasi dana seed capital untuk kelompok dan jenis komoditas
yang diusahakan tahun 2006.
No. Nama Kelompok Komoditas yang
diusahakan Besar pinjaman (Rp)
1. Cahaya Baru Bawang merah, tomat,
cabe
16.000.000
2. Bina Usaha Kentang konsumsi 17.750.000
3. Harapan Sakato Tomat 3.100.000
4. Gapoktan Prima
Usaha Usaha bibit kentang 10.600.000
5. Gapoktan Prima
B.2.3. Pelatihan petani
Setelah revitalisasi dan penumbuhan keltan baru dilakukan, kepada semua pengurus kelompok diberikan pembekalan dasar tentang pentingnya kelompok termasuk penyusunan AD dan ART. Dalam konteks peningkatan pengetahuan teknis petani atau anggota keltan terhadap penguasaan teknologi secara simultan, selain penerapan inovasi teknologi d ilapangan juga dilakukan pelatihan setiap tahunnya. Materi pelatihan petani periode 2005-2008, adalah sebagai berikut:
Tahun 2005
1. Pembuatan kompos jerami menggunakan Trichoderma harzianum dan fermentasi jerami menggunakan stardec untuk pakan ternak, 2. Sekolah lapang konservasi lahan dengan komoditi kopi di bawah
markisa,
3. Budidaya dan pascapanen tomat, 4. Budidaya dan pascapanen kentang, 5. Budidaya dan pascapanen kubis, 6. Budidaya ternak sapi,
7. Pengenalan benih hibrida tanaman sayuran
8. Magang tentang produksi cabe merah dan kentang bagi 2 anggota keltan Bina Usaha di Balitsa Lembang.
Tahun 2006
1. Pengenalan benih sayuran hibrida, 2. Benih kentang,
3. Manajemen kelembagaan petani, 4. Tehnis konservasi lahan,
5. Pemeliharaan ternak besar, 6. Budidaya dan pasca panen kopi, 7. Pembuatan dadieh,
8. Pengolahan sirup dan jus markisa.
Tahun 2007, pelatihan petani dilakukan bekerjasama dengan Balitsa Lembang, Dinas Pertanian dan Perikanan serta Dinas Hutbun Kabupaten Solok. Materi pelatihan mencakup:
1. Potensi dan peluang penumbuhan penangkaran bibit kentang di kawasan Prima Tani,
2. Teknis perbanyakan benih berkualitas tanaman kentang, 3. Pengenalan OPT sayuran,
6. Kebijakan pengembangan produksi kentang di Kabupaten Solok, 7. Pengendalian lalat buah markisa dengan pestisida nabati
8. Tehnik pembibitan kopi arabika, 9. Teknik budidaya kopi arabika,
10. Prospek pengembangan komoditas kopi, 11. Pemasaran kopi,
12. Pasacapanen kopi.
Tahun 2008, pelatihan petani dilakukan bersama dengan narasumber dari Dinas Hutbun
1. Usahatani kopi dan prospek pengembangan di Kabupaten Solok, 2. Pemanfaatan tanaman pelindung kopi (gamal) untuk pakan ternak, 3. Budidaya tanaman kopi,
4. Usahatani dan konservasi lahan, 5. Kelembagaan petani,
6. Dinamika kelompok.
B.3. Klinik Agribisnis
Klinik Agribisnis ”Ngalau Prima”, sebelumnya menempati salah satu ruangan di Kantor Wali Nagari Air Dingin. Sejak tahun 2006, pindah ke bangunan rumah penduduk dengan sistem sewa dan bergabung dengan Posko petugas Detasir. Bangunan klinik ditata sebagai tempat pertemuan, konsultasi, dan diskusi antara peneliti/penyuluh dengan petani serta pelaku agribisnis lainnya. Ruang klinik dilengkapi dengan sumber informasi inovasi teknologi seperti buku, majalah, jurnal, booklet, leatlet, juknis, VCD dan banner baik yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian ataupun unit kerja lainnya yang relevan. Secara khusus Tim Prima Tani juga mempersiapkan juknis yang selain digunakan untuk mengisi materi Klinik, juga dibagikan kepada petani, terutama pada saat pelatihan petani. Juknis tersebut, adalah:
1. Petunjuk Teknis Budidaya Markisa Manis, 2006
2. Petunjuk Teknis Budidaya Kentang untuk Konsumsi dan Bibit, 2006 3. Petunjuk Teknis Budidaya Kopi Arabika, 2006
4. Petunjuk Teknis Teknologi Budidaya Kubis, 2007 5. Petunjuk Teknis Teknologi Budidaya Tomat, 2007
6. Banner (integrasi markisa, kopi dan sayuran: PHT sayuran, Pengolahan jus dan sirup markisa mix terung belanda) 7. Leaflet (budidaya tomat, pengolahan sirup dan jus markisa) 8. Poster (markisa unggul)
B.3.2. Master Plan Nagai air Dingin
Untuk lebih lancarnya aktivitas Pengelolaan Laboratorium Agribisnis di Nagari Air Dingin, Pemerintah Daerah kabupaten Solok, pada tahun 2006 dalam program Bappeda Kabupaten Solok menyediakan dana Rp
20.000.000,- (dua puluh juta rupiah dengan out put peta kesesuaian lahan dan master plan pengembangan pertanian nagari Air Dingin.
Hasil analisis, dari luas lahan Nagari Air Dingin 12.860 ha, diperuntukkan kepada hutan konservasi 9.187 ha, 3.004 ha lahan budidaya pertanian dan 1.669 ha untuk budidaya dengan menerapkan teknologi konservasi. Khusus kawasan lereng di Lubuk Batu Gajah seluas 124 ha harus menjadi kawasan hutan sebagai penyangga Sungai Batang Hari.