• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut menjadikan perawat sebagai satu-satunya profesi dengan intensitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. tersebut menjadikan perawat sebagai satu-satunya profesi dengan intensitas"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Keperawatan didasarkan pada sebuah upaya promotif, preventif, rehabilitatif serta kuratif bahkan kolaboratif dalam setiap asuhan keperawatan. Semua upaya tersebut menjadikan perawat sebagai satu-satunya profesi dengan intensitas pertemuan lebih banyak dan sering kepada klien dibandingkan profesi lainnya. Intensitas waktu yang sering pula menjadikan perawat memiliki kewajiban untuk memonitoring segala perkembangan sehat sakit yang ditunjukkan klien.

Asuhan keperawatan akan menimbulkan interaksi, dan interaksi yang terjadi antara perawat dengan klien pada akhirnya akan menimbulkan komunikasi, dan komunikasi dalam praktek keperawatan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena hal ini berdasar pada pemahaman bahwa komunikasi yang baik antara perawat dengan klien berpengaruh terhadap kesehatan klien kelak (Potter & Perry, 2005).

Communis (komunikasi) dalam bahasa latin mempunyai arti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Sehingga komunikasi didefinisikan sebagai sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan sebuah pertukaran informasi satu sama lainnya sehingga akan tercipta sebuah pengertian yang mendalam dari pertukaran informasi tersebut (Roger dan Kincaid 1981, dalam Cangara 2009).

(2)

Komunikasi secara garis besar dibagi atas dua bentuk yakni komunikasi verbal serta komunikasi non verbal. Komunikasi verbal meliputi kata-kata baik yang diucapkan ataupun tertulis yang mengekspresikan ide atau perasaan, menimbulkan respon emosional serta dapat menggambarkan objek, observasi, kenangan atau kesimpulan (Potter & Perry, 2005). Sedangkan komunikasi non verbal adalah setiap bentuk perilaku manusia yang mengandung informasi tertentu serta dapat diamati oleh orang lain (Johnson 1981, dalam Cangara 2009).

Sebuah penelitian yang berjudul, “Hubungan Komunikasi Verbal non Verbal Perawat terhadap Tingkat Kepuasan Klien yang dirawat di IRNA B Kebidanan RSUP Sanglah” mengatakan, bahwa semakin baik komunikasi verbal non verbal yang dilakukan, maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan klien. Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh seorang perawat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan klien. Ketika telah mengetahui bahwa komunikasi merupakan inti dari praktik keperawatan, hal tersebut memberi pemahaman bahwa sebuah kemampuan komunikasi diperlukan oleh setiap perawat dan bahwa teknik komunikasi perlu dipelajari oleh calon perawat untuk meningkatkan kemampuan komunikasinya kelak.

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (PSIK FK UNUD), telah mengembangkan berbagai macam metode guna meningkatkan kemampuan mahasiwa baik itu kemampuan hard skill ataupun kemampuan soft skill mereka. Metode ceramah, metode problem based learning (PBL) hingga metode small group discussion (SGD) telah dikembangkan guna

(3)

meningkatkan hard skill dan soft skill baik pembelajaran yang bersifat teoritis maupun praktik.

Namun kenyataan di lapangan, ketika mahasiswa dihadapkan pada praktik di laboratorium, sering kali mahasiswa hanya terpaku pada skill keperawatan yang harus mereka kuasai seperti memasang infus, memasang kateter, menyuntik dan lain sebagainya dan mengabaikan bagaimana mereka harusnya terlebih dahulu melakukan komunikasi yang baik dengan klien sebelum mereka melakukan tindakan keperawatan. Pada studi pendahuluan yang dilakukan di PSIK FK UNUD dengan mewawancarai sepuluh mahasiswa reguler PSIK FK UNUD, 60 persen menyatakan bahwa mereka tidak tahu dalam SOP (Satuan Operasional Prosedur) terdapat item yang menilai kemampuan komunikasi mahasiswa dan sebanyak 80 persen menyatakan bahwa mereka akan fokus pada tindakan keperawatan yang akan diujikan dan sekedar mengkomunikasikan tahap orientasi dan evaluasi.

Pada studi pendahuluan yang dilakukan di ruang rawat inap kelas III RSUP Sanglah, dengan menyebarkan kuisioner kepada kepala ruangan dan clinical intructure (CI) yang bekerja di ruang rawat inap kelas III RSUP Sanglah, sebanyak 70 persen responden menyatakan bahwa mahasiswa dirasa belum mampu dalam berkomunikasi dengan klien, dan sekitar 85 persen responden menyatakan bahwa mahasiswa perlu diberikan pelatihan khusus guna meningkatkan kemampuan komunikasi. Hal inilah yang akhirnya mendasari peneliti, bahwa harus ada sebuah metode pembelajaran khusus guna meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa sebelum mereka terjun langsung ke praktik klinik.

(4)

Metode ceramah merupakan suatu metode pengajaran yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan (Roestiyah, 2008). Sedangkan bermain peran sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).

Metode ceramah merupakan metode dasar yang digunakan dalam pemberian materi di institusi PSIK FK UNUD. Bermain peran pun merupakan salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan meskipun hanya pada beberapa mata kuliah saja. Melakukan bermain peran penyuluhan dalam suatu komunitas, melakukan bermain peran ronde keperawatan, merupakan bentuk aplikasi metode bermain peran pada beberapa mata kuliah di PSIK UNUD. Sayangnya, metode bermain peran belum pernah digunakan dalam penyampaian materi komunikasi.

Ketika mengatakan sebuah kemampuan komunikasi yang harus dipelajari oleh mahasiswa keperawatan, hal tersebut berarti sangat luas. Kemampuan komunikasi sendiri adalah kecakapan atau kesanggupan penyampaian pesan, gagasan, atau pikiran kepada orang lain serta kompetensi yang mengacu pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989 dalam Payne, 2005). Menurut Bloom dalam Suprijono (2011), kemampuan terbagi menjadi tiga aspek yakni : aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Aspek kognitif diukur dari pengetahuan (knowledge), aspek afektif diukur dari sikap (attitude), dan aspek psikomotor diukur dari keterampilan (practice). Sebuah kemampuan komunikasi

(5)

akan dimiliki oleh seseorang ketika seseorang tersebut sudah mampu mencakup tiga aspek tersebut.

Untuk mencapai sebuah kemampuan komunikasi yang baik seseorang harus mengetahui dan memahami dengan baik komunikasi itu sendiri sampai bagaimana cara dia untuk bersikap dengan lawan bicara ketika berkomunikasi. Bahkan untuk mencapai sebuah keterampilan yang pada akhirnya menjadi suatu perilaku, mencapai kemampuan dalam berkomunikasi memerlukan latihan serta pengalaman yang banyak. Mencapai kemampuan komunikasi yang baik tidak hanya bisa dicapai dengan kita mendalami teknik komunikasi secara teoritis namun juga penting secara praktis. Oleh karenanya mendalami teknik komunikasi secara teoritis ditambah dengan melihat secara langsung bagaimana seseorang berkomunikasi dengan baik serta dengan rutin melatihnya, dapat memberi penggambaran secara langsung dengan pemahaman yang lebih baik. Maka melihat hal di atas, peneliti berharap melalui kombinasi metode pembelajaran ceramah dan bermain peran, mahasiswa dapat melatih kemampuan komunikasi melalui suatu simulasi sebelum akhirnya berada di praktik klinik.

1.2 Rumusan Masalah

Adakah perbedaan pengaruh metode pembelajaran ceramah dengan kombinasi ceramah dan bermain peran terhadap kemampuan komunikasi pada mahasiswa PSIK FK UNUD?

(6)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan pengaruh metode pembelajaran ceramah dengan kombinasi ceramah dan bermain peran terhadap kemampuan komunikasi pada mahasiswa PSIK FK UNUD.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

1) Mengidentifikasi kemampuan komunikasi pada kelompok perlakuan sebelum diberikan intervensi ceramah dan bermain peran.

2) Mengidentifikasi kemampuan komunikasi pada kelompok kontrol sebelum diberikan intervensi ceramah.

3) Mengidentifikasi kemampuan komunikasi pada kelompok perlakuan sesudah diberikan intervensi ceramah dan bermain peran.

4) Mengidentifikasi kemampuan komunikasi pada kelompok kontrol sesudah diberikan intervensi ceramah.

5) Mengidentifikasi perbedaan kemampuan komunikasi pada kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi intervensi metode ceramah dan bermain peran.

6) Mengidentifikasi perbedaan kemampuan komunikasi pada kelompok kontrol yang diberikan intervensi metode ceramah.

(7)

7) Menganalisis perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi antara kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi intervensi ceramah dan bermain peran dengan kelompok kontrol yang diberikan intervensi ceramah.

8) Menganalisis perbedaan kemampuan komunikasi antara kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi intervensi ceramah dan bermain peran dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan intervensi ceramah.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

1) Bagi Intitusi Keperawatan

Memberikan referensi baru dalam metode pembelajaran yakni kombinasi ceramah dan bermain peran dalam mengembangkan soft skill mahasiswa keperawatan dalam hal kemampuan komunikasi.

2) Bagi Mahasiswa

Melatih mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sebelum akhirnya berhadapan langsung dengan klien.

1.4.2 Manfaat Teoritis 1) Bagi Ilmu Keperawatan

Memberikan informasi serta manfaat dari perbedaan pengaruh metode pembelajaran ceramah dengan kombinasi ceramah dan bermain peran terhadap kemampuan komunikasi pada mahasiswa reguler PSIK FK UNUD.

(8)

2) Bagi IPTEK

Meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan. 3) Bagi peneliti

Meningkatkan pemahaman peneliti tentang perbedaan pengaruh metode pembelajaran ceramah dengan kombinasi ceramah dan bermain peran terhadap kemampuan komunikasi pada mahasiswa reguler PSIK FK UNUD.

4) Bagi peneliti selanjutnya

Memberikan gambaran dan informasi untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan strategi bermain peran di dalam kelas.

Referensi

Dokumen terkait

Alat evaluasi yang berupa soal penguasaan konsep pendidikan lingkungan mencakup aspek kognitif, psikomotor (keterampilan), dan afektif (sikap/perilaku). 7) Menyusun

Salah satu karakteristik Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan sikap ( afektif ), pengetahuan ( kognitif ), dan keterampilan ( psikomotorik ) serta menerapkannya

Hasil belajar dari mata pelajaran membuat pola kemeja di atas kain yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik dalam kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor

Tujuan pelatihan karyawan yang telah dikemukakan pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan karyawan baik secara afektif (sikap), kognitif (pengetahuan)

Hipotesis tindakan yang diajukan adalah terjadi peningkatan hasil belajar pengetahuan (ranah kognitif), sikap (ranah afektif), dan keterampilan (ranah psikomotor) serta

1.1 Penilaian dilakukan untuk mengetahui kemampuan, yang meliputi aspek, pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam melaksanakan pengawasan

Sehubungan dengan hal tersebut pembelajaran pada umumnya hanya pada pemberian pengetahuan (Kognitif) belum pada afektif dan psikomotor siswa. Kurang optimalnya pembelajaran

Menguji kemampuan mahasiswa Program Studi D4 Akuntansi Keuangan Publik Politeknik Negeri Bengkalis dalam pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam penerapan pengetahuan dan