• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Asmara Indra Perdana BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Asmara Indra Perdana BAB I"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu ruang lingkup epidemiologi ialah mempelajari faktor faktor yang mempengaruhi frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada manusia. Adapun masalah kesehatan yang dipandang sangat penting ialah yang menyangkut penyakit. Berbagai masalah kesehatan yang bukan penyakit hanya akan mempunyai arti apabila ada hubunganya dengan penyakit, jika tidak demikian maka penanggulangannya tidak akan di prioritaskan.

Salah satu masalah kesehatan di dunia saat ini adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai macam virus dan bakteri yang menginfeksi tubuh balita maupun remaja dengan kekebalan tubuh yang masih lemah (Said, 2010).

(2)

Kejadian pneumonia termasuk dalam penyakit infeksi saluran pernafasan atas akut (ISPaA) dan infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISPbA). Menurut Depkes Jateng (2010), ISPaA mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, tapi walaupun demikian ISPaA juga dapat mengakibatkan kecacatan, misalnya otitis media yang menyebabkan ketulian. Hampir seluruh kematian ISPA pada anak kecil disebabkan oleh ISPbA, paling sering adalah pneumonia. Tetapi tidak semua ISPbA itu serius, bronchitis relative sering terjadi pada anak akan tetapi jarang menyebabkan kematian, hali ini ditunjukkan dengan banyaknya anak yang menderita ISPA.

Di Jawa Tengah, penyakit ISPA merupakan masalah kesehatan utama masyarakat. Menurut Dinas Kesehatan Jawa Tengah (2010), cakupan penemuan penderita Pneumonia Balita di Wilayah Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 mencapai 24,29%. Angka tersebut menurun pada tahun 2008 menjadi 23,63% dan pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 25,96%. Di Kabupaten Banyumas, angka kejadian ISPA pada balita di tahun 2009 mencapai 41.608 jiwa atau 38%, sementara pada tahun 2010 jumlah balita terserang ISPA meningkat menjadi 48.288 jiwa atau 48,08%. Dengan begitu, peningkatan kasus ISPA balita di Kabupaten Banyumas terlihat sangat jelas baik jumlah maupun prosentasenya.

(3)

sebanyak 997 kasus. Kejadian ISPA di Puskesmas Kembaran II selalu mengalami peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2011, kejadina ISPA juga meduduki perigkat 1 dari 10 besar penyakit yang terjadi di Puskesmas Kembaran II, oleh karena itu ISPA merupakan peyakit terbesar yang terjadi di Puskesmas Kembaran II.

(4)

Imunisasi merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan terhadap bayi dan anak dari berbagai penyakit, hal tersebut diharapkan agar anak dan bayi tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Badan kesehatan dunia WHO mencanangkan program expanded program on immunization (EPI) yang bertujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak-anak di seluruh belahan dunia sejak tahun 1974. WHO dan UNICEF menetapkan indikator cakupan imunisasi adalah 90% di tingkat nasional dan 80% di tingkat kabupaten. Dalam Rencana Strategis Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2005 – 2009, target universal child immunization (UCI) desa sebesar 98% tercapai pada tahun 2009. Menurut Depkes RI (2010), target UCI desa/kelurahan di tiap kota sebesar 100%. Anak balita pada tahun 1999/2000 sebesar 66,3% yang memiliki cakupan imunisasi lengkap. Angka tersebut masih jauh dari target universal child immunization (UCI) (Ayubi, 2009).

(5)

Masih jauhnya angka cakupan imunisasi di Indonesia menjadikan beberapa peneliti melakukan penelitian yang dikaitkan dengan imunisasi, seperti yang dilakukan oleh Abdaie (2004), tentang kelengkapan imunisasi dan status gizi dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut dan diare akut pada balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA (p=0,001). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Supardi (2001), juga mengatakan bahwa status imunisasi dapat mencegah terjadinya ISPA. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian imunisai sangat berperan penting dalam kesehatan balita.

Balita yang tidak mendapat imunisasi sesuai dengan umurnya mempunyai resiko menderita ISPA sebesar 2,6 kali. Pemberian imunisasi dapat mencegah kematian akibat ISPA sebesar 25%. Imunisasi dan menyusui juga memberikan kontribusi dalam menurunkan kejadian ISPA pada balita, sehingga tidak berlanjut menjadi pneumonia (Sadono, Adi & Zain, 2005).

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.

B. Rumusan Masalah

(6)

Kabupaten Banyumas khususnya wilayah Puuskesmas Kembaran II pada tahun 2011 angka kejadian ISPA sangat tinggi mencapai 1155 kasus atau 32,25%. Disamping angka kejadian ISPA yang tinggi, cakupan imunisasi di Puskesmas Kembaran II juga belum memenuhi target UCI yaitu 100% yaitu masih 90%. Beberapa peneliti menyatakan bahwa imunisasi memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA. Maka dapat dirumuskan masalah “ Apakah ada hubungan status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan karakteristik balita penderita ISPA dan bukan penderita ISPA berdasarkan umur, BBL dan jenis kelamin.

b. Mendeskripsikan status imunisasi pada balita yang menderita ISPA dan yang tidak menderita ISPA.

(7)

D. Manfaan Penelitian 1. Bagi Dinas Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka meningkatkan upaya-upaya pencegahan ISPA pada balita khususnya di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II.

2. Bagi Peneliti

Memperluas pengetahuan dan pengalaman serta bekal untuk memanfaatkan hasil penelitian pada saat melakukan upaya pencegahan ISPA.

3. Bagi Institusi

Sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam upaya pencegahan kejadian ISPA dan hasil penelitian dapat dikembangkan oleh peneliti lain dari berbagai konsentrasi keilmuwan

E. Keaslian Penelitian

Sejauh yang peneliti ketahui, penelitian yang bertujuan untuk menghubungkan antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II belum pernah dilakukan, namun ada beberapa penelitian terkait dengan masalah yang peneliti angkat, diantaranya adalah:

(8)

signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita. Perbedaan penelian Gulo dengan penelitian yang dilakukan yaitu pada penelitian Gulo meneliti tentang analisis faktor, sedangkan dalam penelitian ini meneliti kelengkapan imunisasinya, selain itu subyek dan objek penelitian ini juga berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

• Use Case Delete Barang : memuat proses hapus barang yang dilakukan oleh admin ke dalam sistem, dalam hal ini ke database Logistik pada tabel Barang. • Use Case Cari Barang :

maupun finansial, mempunyai kemampuan dan kemauan untuk meluangkan waktu yang cukup menjalankan toko/outlet/gerai. b) Penerima waralaba yang baru harus menyetujui secara

Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin yang khusus disediakan dan atau diberikan

Tujuan dari isi paper ini adalah untuk menganalisa unjuk kerja sistem kompresi citra grayscale asli, apakah informasi data citra hasil rekonstruksi benar-benar dapat

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak