i
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI MAKANAN MINUMAN HALAL DAN HARAM DENGAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII C
SMP NEGERI 3 SURUH TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SKRIPSI
Diajukan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Oleh:
DITA AYU YUSTIA NIM 111-14-289
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING Dra. Siti Asdiqoh, M.Si.
Dosen IAIN Salatiga
Yth. Dekan FTIK IAIN Salatiga Di Salatiga
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Setelah meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudara/saudari:
Nama : Dita Ayu Yustia NIM : 11114289
Jurusan : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / Pendidikan Agama Islam Judul : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam
Materi Makanan Minuman Halal dan Haram dengan Metode Talking Stick pada Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh Tahun Pelajaran 2017/2018
dengan ini kami mohon skripsi saudara/saudari tersebut di atas supaya segera dimunaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Salatiga, 04 Juni 2018 Pembimbing
v
PERNYATAAN KEASLIAN DAN KESEDIAAN PUBLIKASI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Dita Ayu Yustia
NIM : 111-14-289
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam
Materi Makanan Minuman Halal dan Haram dengan Metode
Talking Stick pada Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh
Tahun Pelajaran 2017/2018
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar benar merupakan hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan
orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode
etik ilmiah. Skripsi ini diperkenankan untuk di publikasikan pada e-repository
IAIN salatiga
Salatiga, 04 Juni 2018
Yang menyatakan
Dita Ayu Yustia
vi MOTTO
َلَعَ ف اَمهَُداَرَأ ْنَمَو ،ِمْلِعْلاِب ِهْيَلَعَ ف َةَرِخآ ْلْاَداَرَأ ْنَمَو ،ِمْلِعْل اِب ِهْيَلَعَ ف اَيْ نُّدلاَد اَرَأ ْنَم
ِمْلِعْلاِب ِهْي
Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya
memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka
wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka
wajib baginya memiliki ilmu”. (Nabi Muhammad SAW)
اَهُّ يَأ اَي
ِناَطْيَّشلا ِتاَومطمخ اومعِبَّتَ ت َلَْو اابِّيَط الْ َلََح ِضْرَْلْا ِفِ اَِّمِ اوملمك مساَّنلا
ۚ
نيِبمم ٌّومدَع ْممكَل مهَّنِإ
Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang
terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;
vii
PERSEMBAHAN
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta
karunia-Nya, skripsi ini penulis persembahkan untuk:
1. Bapak dan ibu saya tersayang, Yusri dan Siti Rodliyah yang selalu
membimbingku, memberikan doa, nasihat, kasih sayang, dan motivasi dalam
kehidupanku, yang selalu mendengarkan keluh kesahku dalam penyusunan
skripsi ini, dan selalu mendukungku sehingga proses penempuhan gelar sarjana
ini bisa tercapai.
2. Adik saya tersayang, Fidia Mahfirohtul Ulya yang tak ada hentinya
memberikan motivasi kepadaku sehingga proses penempuhan gelar sarjana ini
bisa tercapai.
3. Sahabat dan teman dekat saya terkasih, yang mau berbagi ilmu dan
pengalaman, selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada saya, bersedia
membantu menyelesaikan skripsi ini, serta bersedia mendengarkan keluh kesah
saya tentang betapa besar perjuangan ini demi mencapai gelar sarjana
khususnya Intan Suci, Fauziyah Fatmawati, Sri Wahyuni, Alfi Aidzan Fasikha
dan Mukrimatul Arafah.
4. Keluarga besar saya yang selalu memberikan dukungan dan doanya dalam
menyelesaikan skripsi ini.
5. Teruntuk seseorang yang spesial yaitu jodoh yang sudah disiapkan oleh Allah
untuk saya yang nantinya akan menjadi pendamping hidup saya kelak.
viii
7. Teman-teman PPL MA AL Bidayah Bandungan dan teman-teman KKN
Lemahireng, Kemusu.
ix
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim. Puji syukur alhamdulillahi robbil’alamin,
penulis panjatkan kepada Allah SWT yang selalu memberikan nikmat, karunia,
taufik, serta hidayah-Nya kepada penulis sehinggap penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan
Agama Islam Materi Makanan Minuman yang Halal dan Haram dengan Metode
Talking Stick Pada Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh Tahun Pelajaran
2017/2018. Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta para pengikutnya
yang selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana beliaulah sang
revolusioner umat manusia yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan
menuju zaman terang benderang yakni dengan ajarannya agama Islam.
Penulisan skripsi ini pun tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari
berbagai pihak yang telah berkenan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Agama Islam.
4. Bapak Mufiq, S.Ag., M.Phil. selaku dosen pembimbing akademik yang telah
x
5. Ibu Hj. Siti Asdiqoh, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
mencurahkan segala tenaga, pikiran dan bimbingannya dengan penuh
kesabaran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah membekali berbagai ilmu
pengetahuan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Kepala Bagian Akademik dan para stafnya yang senantiasa memberikan
pelayanan akademik yang membantu melancarkan proses pembuatan skripsi
dengan lancar.
8. Kepala Bagian Perpustakaan dan stafnya yang memberikan ruang untuk
membuat skripsi dengan bahan sumber buku dan rujukan yang lengkap.
9. Bapak Yusri dan Ibu Siti Rodliyah dan keluarga yang selalu memberikan
do’a, semangat, motivasi dan kasih sayang tiada henti.
10. Ibu Siti Nur Supiyah. S.Pd. M.Pd. selaku Kepala SMP Negeri 3 Suruh yang
telah memberikan izin dan melancarkan proses penelitian ini.
11. Bapak Budiyono S.Ag. selaku Guru pamong mata pelajaran PAI di SMP
Negeri 3 Suruh yang telah bersedia membantu dan bekerjasama untuk
menyelesaikan penelitian ini.
12. Tak lupa siswa-siswi Kelas VIII C yang telah memberikan sumber data yang
sebenarnya untuk keberhasilan penelitian ini dilakukan.
13. Tak lupa kepada seluruh yang terlibat dalam proses pembuatan penilitian ini
xi
Demikian ucapan terimakasih penulis sampaikan. Penulis hanya bisa
berdoa kepada Allah SWT semoga jasa dan amal kebaikan yang tercurahkan
diridhoi oleh Allah SWT dengan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Dengan keterbatasan
dan kemampuan, skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun terbuka luas dan selalu penulis harapkan untuk
kesempurnaan skripsi ini.
Salatiga, 04 Juni 2018
Dita Ayu Yustia
NIM. 111-14-289
xii ABSTRAK
Yustia, Dita Ayu. 2018. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Makanan Minuman Halal dan Haram dengan Metode Talking Stick pada Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh Tahun Pelajaran 2017/2018. Skripsi. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing: Dra. Siti Asdiqoh, M.Si.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Pendidikan Agama Islam, dan Metode Talking Stick. Penelitian ini dilatarbelakangi dalam proses pembelajaran PAI di kelas VIII C SMP N 3 Suruh, yaitu keaktifan belajar siswa masih rendah, dan metode pembelajaran yang digunakan guru monoton yang membuat siswa cepat bosan dan tidak memerhatikan. Sehingga pembelajaran PAI belum mencapai KKM, yang artinya hasil belajar atau prestasi belajar PAI di kelas VIII C masih rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, seharusnya guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat agar dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kelas sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. salah satunya dapat dilaksanakan dengan penerapan metode pembelajaran talking stick. Talking stick merupakan sebuah metode pembelajaran yang berorientasi pada penciptaan kondisi dan suasana belajar aktif dari siswa karena adanya unsur permainan dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian yang ingin dicapai dari skripsi ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar belajar Pendidikan Agama Islam materi makanan minuman halal dan haram dengan metode talking stick pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh tahun pelajaran 2017/2018.
Penelitian ini merupakan Classroom Action Research/Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan dua siklus. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes, observasi, dan dokumentasi. Metode tes digunakan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam penerapan metode talking stick dalam mata pelajaran PAI materi makanan minuman halal dan haram. Metode observasi digunakan untuk mengetahui dan menilai aktivitas siswa dan guru dalam KBM berlangsung. Sedangkan dokumentasi digunakan sebagai bukti bahwa penelitian ini memiliki data dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN BERLOGO ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v
MOTTO ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
ABSTRAK ... xii
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Rumusan Masalah ... 6
C.Tujuan Penelitian ... 6
D.Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan ... 6
E. Manfaat Penelitian ... 7
F. Definisi Operasional ... 8
G.Metode Penelitian ... 9
xiv
2. Subjek Penelitian ... 11
3. Langkah-Langkah Penelitian ... 11
4. Teknik Pengumpulan Data ... 12
5. Instrumen Penelitian ... 13
6. Analisis Data ... 14
H.Sistematika Penulisan ... 15
BAB II LANDASAN TEORI A.Kajian Teori ... 16
1. Pengertian Hasil Belajar ... 16
2. Pendidikan Agama Islam ... 25
3. Kajian Materi Penelitian ... 31
a. Materi Makanan Minuman Halal dan Haram ... 31
b. Metode Talking Stick ... 36
B.Kajian Pustaka ... 41
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN A.Gambaran Umum Sekolah ... 44
B.Pra Siklus ... 52
C.Pelaksanaan Penelitian Siklus I ... 55
D.Pelaksanaan Penelitian Siklus II ... 59
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Per Siklus ... 63
1. Siklus I ... 63
xv
B.Pembahasan ... 79
BAB V PENUTUP
A.Kesimpulan ... 81
B.Saran ... 81
xvi
DAFTAR TABEL
1. Tabel 3.1 Data Guru SMP Negeri 3 Suruh ... 48
2. Tabel 3.2 Data Siswa SMP Negeri 3 Suruh Tahun Pelajaran 2017/2018 .... 49
3. Tabel 3.3 Nama Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh Tahun Pelajaran 2017/2018 ... 50
4. Tabel 3.4 Hasil Tes Siswa pada Pra Siklus ... 52
5. Tabel 4.1 Hasil Tes Siswa pada Siklus I ... 63
6. Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Guru pada Siklus I ... 66
7. Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Siswa pada Siklus I ... 69
8. Tabel 4.4 Hasil Tes Siswa pada Siklus II ... 71
9. Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Guru pada Siklus II ... 74
10. Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Siswa pada Siklus II ... 77
xvii
DAFTAR GAMBAR
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing
Lampiran 2 Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian
Lampiran 3 Surat Keterangan Melakukan Penelitian
Lampiran 4 Lembar Konsultasi
Lampiran 5 RPP Siklus I dan II
Lampiran 6 Lembar Pengamatan Siswa dan Guru Siklus I dan Siklus II
Lampiran 7 Sampel Hasil Tes
Lampiran 8 Dokumentasi
Lampiran 9 SKK
Lampiran 10 Daftar Riwayat Hidup Penulis
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menempati kedudukan yang paling penting dalam
kehidupan. Pendidikan merupakan proses mencari ilmu sebagai bekal hidup
di dunia maupun di akhirat, dan mencari ilmu merupakan kewajiban bagi
setiap manusia. Hal tersebut berkaitan erat dengan generasi muda yang masa
depannya harus dipersiapkan dengan baik, dan semuanya dapat tercapai
melalui pendidikan. Proses pendidikan terarah kepada peningkatan
penguasaan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai
dalam rangka pembentukan dan pengembangan dirinya yaitu pengembangan
semua potensi, kecakapan serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif,
baik bagi dirinya maupun lingkungannya (Sukmadinata, 2003: 4).
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 menyebutkan
bahwa Allah akan meningkatkan dan meninggikan derajat orang-orang yang
melakukan pendidikan.
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
2
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah/58: 11)
Dalam UU. No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
Nasional bab I pasal I menyebutkan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Belajar adalah suatu proses orang memperoleh berbagai
kecakapan, keterampilan, dan sikap. Dalam lingkup pendidikan, belajar
diidentikan dengan proses kegiatan sehari-hari siswa di sekolah atau
madrasah. Proses belajar terjadi ketika siswa dapat menghubungkan apa yang
telah mereka ketahui dengan apa yang mereka temukan dalam pengalaman
belajar yang terjadi melalui interaksi yang bermakna antara siswa dengan
siswa, guru, bahan pelajaran, dan lingkungan belajarnya (Majid, 2012: 107).
Siswa belajar didorong oleh keingintahuan atau kebutuhannya. Siswa yang
belajar berarti siswa yang melakukan aktivitas, baik aktivitas fisik maupun
aktivitas psikis.
Sekolah merupakan wadah yang diberikan pemerintah untuk
melaksanakan proses pendidikan. Salah satu tujuan dari pendidikan yaitu agar
dapat mengembangkan sumber daya manusia dan membangun karakter yang
baik bagi peserta didik. Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran
wajib di sekolah juga mempunyai peran untuk mempercepat proses
pencapaian tujuan pendidikan dan dapat memberikan pengaruh positif bagi
3
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran
dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta
penggunaan pengalaman.
Karenanya, proses pembelajaran PAI bukan hanya bertujuan
mengenalkan dan mengajarkan ajaran agama kepada siswa, akan tetapi yang
terpenting adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam
diri siswa sehingga nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari kepribadian
mereka. Dengan hal itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan potensi
sumber daya manusia, dan juga dapat meningkatkan prestasi dalam bidang
pendidikan.
Tercapainya tujuan pendidikan dapat dilihat dari prestasi belajar
beberapa faktor baik dari dalam diri peserta didik maupun faktor lain dari luar
peserta didik, antara lain kegiatan pembelajaran di kelas sangat berpengaruh
dalam tercapainya prestasi belajar yang tinggi. Agar kegiatan pembelajaran di
kelas berjalan lancar, guru dituntut mampu mengelola proses belajar
mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar
karena memang siswalah subyek utama dalam proses belajar.
Siswa merupakan subyek didik yang memiliki peran aktif untuk
mengkonstruksi pengetahuan yang didapatkan, tidak hanya pasif
mendengarkan ceramah dari guru atau hanya sekedar memindah tulisan guru
di papan tulis ke buku masing-masing. Siswa harus didorong untuk aktif
4
berpendapat, dan berinisiatif jika ada hal yang kurang cocok dengan diri
siswa. Dari hasil observasi penulis, diketahui pembelajaran PAI di SMP N 3
Suruh terutama di kelas VIII C yang terjadi selama ini belum mencapai hasil
yang menggembirakan, nilai pelajaran PAI tidak mencapai KKM yang
ditetapkan yaitu 78, yang artinya hasil belajar atau prestasi belajar PAI di
kelas VIII C masih rendah. Dari 32 siswa dalam kelas hanya 13 siswa yang
mendapat nilai mencapai KKM, dan sisanya yaitu 19 siswa belum berhasil
mendapatkan nilai mencapai KKM.
Dari permasalahan tersebut dapat diidentifikasi beberapa penyebab
rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut, yaitu sebagian besar
siswa kurang memerhatikan pelajaran yang disampaikan guru selama proses
pembelajaran berlangsung, siswa kurang aktif dalam kelas, masih rendahnya
minat siswa dalam belajar. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, dapat
dianalisis problematikanya dalam proses pembelajaran PAI di kelas VIII C
SMP N 3 Suruh, yaitu keaktifan belajar siswa masih rendah, dan metode
pembelajaran yang digunakan guru monoton yang membuat siswa cepat
bosan dan tidak memerhatikan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka seharusnya guru
menggunakan banyak pendekatan dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu
dituntut seorang guru yang kreatif dan inovatif dalam mewujudkan
lingkungan belajar yang menyenangkan. Dari hal tersebut diperlukan
tindakan penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat
5
meningkatkan hasil belajarnya. Agar pembelajaran PAI pada materi makanan
minuman yang halal dan haram menjadi pembelajaran yang aktif dan
menyenangkan, salah satunya dapat dilaksanakan dengan penerapan metode
pembelajaran talking stick. Talking stick merupakan sebuah metode
pembelajaran yang berorientasi pada penciptaan kondisi dan suasana belajar
aktif dari siswa karena adanya unsur permainan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan diatas, alasan dipilihnya metode talking stick
dengan materi makanan minuman yang halal dan haram adalah karena selama
proses pembelajaran berlangsung, sesudah guru menyajikan materi pelajaran
siswa diberikan waktu beberapa saat untuk mempelajari materi pelajaran yang
telah diberikan, agar dapat menjawab pertanyaan yang diajukan guru pada
saat penerapan metode talking stick berlangsung, selain itu saat siswa bisa
menjawab pertanyaan dari guru tentunya siswa tersebut paham tentang materi
makanan minuman yang halal dan haram dan diharapkan dapat menerapkan
apa yang ia pelajari dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membedakan
mana makanan atau minuman yang halal dan boleh dikonsumsi atau makanan
minuman haram yang tentunya tidak boleh untuk dikonsumsi. Berdasarkan
alasan tersebut memberikan inspirasi sekaligus motivasi bagi peneliti untuk
melakukan penelitian tentang “PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI MAKANAN MINUMAN HALAL DAN HARAM DENGAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 3 SURUH TAHUN PELAJARAN
6 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah tersebut, maka
rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah metode talking
stick dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam materi
makanan minuman halal dan haram pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 3
Suruh tahun pelajaran 2017/2018?”. C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian yang ada, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Pendidikan
Agama Islam materi makanan minuman halal dan haram dengan metode
talking stick pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 3 Suruh tahun pelajaran
2017/2018.
D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan
Hipotesis tindakan merupakan jawaban sementara atas masalah yang
diteliti dan bersifat teoritis. Hipotesis didasarkan atas kerangka berpikir, yang
berisikan pernyataan sebagai jawaban masalah penelitian yang diatasi dengan
tindakan penelitian. Karena hipotesis dapat menghubungkan teori yang
relevan dengan kenyataan yang ada atau fakta, atau dari kenyataan dengan
teori yang relevan (Sukardi, 2011: 41). Jadi, suatu hipotesis akan diterima jika
disertai dengan fakta-fakta yang membenarkan.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian
ini adalah “jika metode talking stick diterapkan dalam pembelajaran
7
hasil belajar siswa kelas VIII C di SMP Negeri 3 Suruh tahun pelajaran
2017/2018 dapat ditingkatkan”.
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Persentase hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus
sebelumnya ke siklus berikutnya dengan Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) 78.
2. Keberhasilan siswa berdasarkan tes siklus dikatakan meningkat apabila
tuntas dengan kriteria 85% dari total siswa dalam kelas.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak, antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini dapat menambah khazanah
ilmiah mengenai bidang pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
khususnya penerapan metode Talking Stick dalam meningkatkan hasil
belajar sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi
peneliti-peneliti berikutnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa
dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan memberikan pengalaman
baru sehingga dapat meningkatkan hasil belajar PAI. Selain itu sebagai
motivasi untuk meningkatkan kreatifitas guru dalam memilih metode dan
8
sistem pembelajaran. Serta dapat dijadikan pengalaman langsung dalam
menerapkan metode Talking Stick dan mendapatkan bekal tambahan
sebagai mahasiswa dan calon guru sehingga siap saat melakukan tugas di
lapangan.
F. Definisi Operasional 1. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya (Sudjana, 2014: 22). Jadi, hasil belajar harus
menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang
baru dari siswa secara menyeluruh yang mencakup aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik.
2. Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiyah Daradjat, pendidikan agama Islam adalah
pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai
dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan
ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh serta
menjadikan ajaran agama itu sebagai sutau pandangan hidupnya demi
keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak
(Daradjat, 2000: 86). Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan usaha
9
meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, pelatihan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Metode Talking Stick
Metode talking stick adalah metode pembelajaran dengan
bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab
pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokoknya (Huda,
2013: 224). Metode talking stick ini dilakukan dengan lantunan lagu-lagu
yang asyik, guru memberikan tongkat pada salah satu peserta didik lalu
tongkat tersebut digulirkan atau dikelilingkan dan pada saat lagu berhenti,
peserta didik yang memegang tongkat tersebut wajib menjawab pertanyaan
yang diberikan guru.
Jadi yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah suatu proses
usaha untuk meningkatkan hasil belajar yang diukur dengan nilai
menggunakan penerapan metode talking stick pada pembelajaran PAI,
dimana dalam metode tersebut memanfaatkan tongkat sebagai medianya
supaya siswa dapat belajar aktif dalam kelas dan tentunya paham akan materi
yang disampaikan oleh guru.
G. Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang diterapkan oleh peneliti
berupa penelitian tindakan kelas (PTK) yang istilah dalam bahasa
Inggrisnya adalah Classroom Action Research (CAR) dan di Indonesia
10
(action reasearch) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu
praktek pembelajaran di kelasnya (Arikunto, 2006: 58). Dalam penelitian
tindakan kelas tertuju dan berfokus pada kelas atau pada proses belajar
mengajar yang terjadi di dalam kelas.
Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki proses
pembelajaran secara terus menerus. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan
secara berkesinambungan dimana setiap siklus mencerminkan peningkatan
atau perbaikan. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, tiap siklus
memuat empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi. Adapun bagan siklus dalam penelitian tindakan kelas adalah
seperti berikut:
Siklus I
Siklus II
11 2. Subjek Penelitian
Subjek yang dikenai penelitian yaitu peserta didik kelas VIII C
SMP Negeri 3 Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang tahun pelajaran
2017/2018 yang berjumlah 32 siswa yang terdiri dari 19 putra dan 13 putri.
3. Langkah-Langkah Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan sebanyak dua
siklus. Siklus I direncanakan 1 kali pertemuan, begitu juga dengan siklus II.
Setelah sampai pada siklus II baru peneliti mengambil kesimpulan terkait
dengan temuan dari penelitian yang telaha dilakukan.
Dalam penelitian tindakan kelas, langkah-langkah
pelaksanaannya terdiri atas empat tahap, yaitu:
a. Perencanaan (Planning)
Kegiatan utama dalam tahap ini adalah menyusun rancangan
tindakan kelas yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.
Termasuk didalamnya menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), menyusun lembar observasi, menyusun alat evaluasi, dan
menyiapkan media yang diperlukan untuk pembelajaran.
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pelaksanaan tindakan merupakan penerapan atau implementasi
dari rancangan tindakan kelas. Pada tahap ini dilaksanakan sesuai
12 c. Pengamatan (Observation)
Pengamatan terhadap proses pembelajaran yang sedang
berlangsung untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik dengan
metode talking stick, serta mengetahui kendala yang dihadapi dalam
menerapkan pembelajaran yang sedang berlangsung.
d. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kembali
apa yang sudah dilakukan. Dari pelaksanaan tindakan dan observasi
tersebut, diperoleh informasi tentang penerapan metode talking stick.
Kemudian hasil tersebut dianalisis untuk mengetahui seberapa jauh
keberhasilan tindakan yang sudah dilaksanakan.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Tes
Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus
ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.
Tes pada umumnya dimaksudkan untuk mengukur aspek-aspek
perilaku manusia, seperti aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap
(afektif), maupun aspek keterampilan (psikomotor).
Hal yang hendak diukur adalah tingkat penguasaan peserta didik
terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan (Sudaryono, 2012:
101-102). Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada setiap
13 b. Metode Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap
kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2007: 220). Dalam
penelitian ini, peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mengadakan
pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data kegiatan guru
dan murid dalam proses pembelajaran yang berlangsung pada setiap
siklusnya.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah pendektan untuk mencari data
mengenai hal-hal yang berupa catatan, surat kabar, majalah,
buku-buku, transkrip, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2010:
274).
Peneliti menggunakan metode dokumentasi untuk mengetahui
data terkait dengan SMP Negeri 3 Suruh, struktur organisasi sekolah,
jumlah guru, jumlah siswa, dan data lain yang terkait dengan
penelitian.
5. Instrumen Penelitian
Intstrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes dan
lembar observasi. Soal tes pada setiap siklus digunakan untuk mengukur
ketuntasan belajar siswa. Lembar observasi atau pengamatan yang berupa
14
dan siswa selama proses pembelajaran di kelas yang berlangsung agar
dapat diketahui kendala yang terjadi pada setiap siklusnya.
6. Analisis Data
Peneliti menganalisa data dengan menyusun dan mengolah data yang
terkumpul melalui hasil tes dan catatan observasi. Analisis data sangat
diperlukan guna mengetahui hasil dan atau untuk menarik kesimpulan
yang logis berdasarkan data-data yang dikumpulkan setiap siklusnya.
Analisis data dilakukan dengan mencari skor nilai tiap siklus dengan
KKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu 78. Oleh karena itu setiap
siswa dikatakan tuntas belajarnya atau mencapai KKM jika nilai
perolehan siswa ≥ 78. Sebaliknya siswa dikatakan belum tuntas belajarnya
atau belum mencapai KKM jika nilai perolehan siswa <78. Nilai
maksimal yang dapat diperoleh oleh siswa adalah 100.
Selanjutnya, untuk menentukan akhir perbaikan melalui siklus-siklus
digunakan tolok ukur kriteria ketuntasan klasikal. Adapun kriteria
ketuntasan klasikal yang dipilih sebesar 85%. Untuk mengetahui
persentase ketuntasan klasikal digunakan rumus sebagai berikut (Djamarah,
2000: 226):
P = x 100 %
Keterangan:
P : Persentase
F: Jumlah siswa yang tuntas belajar
15 H. Sistematika Penulisan
Skripsi ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal, bagian inti,
dan bagian akhir. Pada bagian awal terdiri dari: halaman sampul, lembar
berlogo, judul skripsi, persetujuan pembimbing, pernyataan keaslian tulisan,
pengesahan kelulusan, motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak,
daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.
Pada bagian inti terdiri dari lima bab yaitu pendahuluan, landasan teori,
pelaksanaan penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, penutup.
BAB I Pendahuluan, pada bab ini terdiri dari latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis tindakan dan indikator
keberhasilan, manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori, pada bab ini terdiri dari kajian teori dan kajian
pustaka.
BAB III Pelaksanaan Penelitian, yang memuat gambaran umum SMP
Negeri 3 Suruh, deskripsi pelaksanaan siklus I, dan deskripsi pelaksanaan
siklus II.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, pada bab ini membahas
tentang deskripsi per siklus dan pembahasan.
BAB V Penutup, yang berisi kesimpulan, dan saran.
16 BAB II
LANDASAN TEORI
A.Kajian Teori
1. Pengertian Hasil Belajar a. Pengertian Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar berarti
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Rasulullah SAW
menganjurkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu agar dapat meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda
َيْ نُّدلاَد اَرَأ ْنَم
ِمْلِعْلاِب ِهْيَلَعَ ف اَمهَُداَرَأ ْنَمَو ،ِمْلِعْلاِب ِهْيَلَعَ ف َةَرِخآ ْلْاَداَرَأ ْنَمَو ،ِمْلِعْل اِب ِهْيَلَعَ ف ا
Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib
baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)
Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 1991: 2). Belajar juga
membutuhkan tahapan untuk bisa merubah perilaku diri, sebagaimana
yang diungkapkan oleh Kastolani, bahwa belajar adalah tahapan
17
pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya dan latihan
yang diperkuatnya (Kastolani, 2014: 56).
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk
memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut
kognitif, afektif, dan psikomotorik (Djamarah, 2011: 141). Proses belajar
terjadi ketika siswa dapat menghubungkan apa yang telah mereka ketahui
dengan apa yang mereka dapatkan dari pengalaman dengan lingkungan
belajarnya. Menurut Winkel, belajar adalah suatu aktivitas mental atau
psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya,
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap (Winkel: 1996: 53). Siswa
yang mau belajar berarti siswa tersebut telah mendapat dorongan oleh
rasa keingintahuannya atau kebutuhannya.
Berdasarkan uraian di atas, perubahan yang terjadi dalam
individu banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu
tidak setiap perubahan dalam arti belajar. Kalau kaki seorang anak
berubah menjadi bengkok karena kecelakaan, perubahan semacam itu
tidak dapat digolongkan ke dalam perubahan dalam arti belajar.
Demikian pula perubahan tingkah laku seseorang yang berada dalam
keadaan mabuk, perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan,
pertumbuhaan dan perkembangan tidak termasuk perubahan dalam arti
18
Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian
kegiatan dan tindakan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
atau penampilan sebagai hasil dari pengalaman individu dalam
interaksinya dengan lingkungan yang menyangkut aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila
terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman
melalui interaksi dengan lingkungan. Perubahan tersebut berupa hasil
yang telah dicapai dari proses belajar.
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2014: 22). Setelah
siswa melakukan kegiatan belajar dan terdapat perubahan sikap maupun
tingkah laku maka itu merupakan hasil belajar. Kegiatan belajar tersebut
dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Menurut Syaiful
Bahri Djamarah, hasil belajar merupakan hasil dari suatu kegiatan yang
telah dikerjakan atau diciptakan secara individu maupun secara
kelompok (Djamarah, 1994: 19).
Menurut AM. Sadirman dalam buku Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar, suatu hasil belajar itu meliputi keilmuan dan
pengetahuan, konsep dan fakta (kognitif); personal, kepribadian atau
sikap (afektif); kelakuan, keterampilan atau penampilan (psikomotorik)
19
dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan
pengetahuan, keterampilan berpikir, maupun keterampilan motorik.
Hasil belajar seringkali digunakan untuk ukuran dalam
mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah
diajarkan. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada
siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar adalah
perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan
tingkah lakunya.
Setiap individu atau siswa memanglah tidak ada yang sama,
perbedaan individual itulah yang menyebabkan perbedaan hasil belajar.
Sedangkan dalam lingkup pendidikan atau sekolah, hasil belajar itu
sendiri adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang telah
dikembangkan oleh mata pelajaran, yang umumnya ditunjukkan dengan
nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh pengajar. Dengan demikian,
hasil belajar diperoleh setelah siswa mengalami proses atau aktivitas
belajar.
c. Ciri-Ciri Belajar
Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada
beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri -ciri
belajar. Adapun ciri-ciri belajar tersebut adalah sebagai berikut:
1) Perubahan perilaku relative permanent, perubahan tingkah laku yang
20
berubah-ubah. Tetapi perubahan tingkah laku tersebut tidak akan
terpancang seumur hidup.
2) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
3) Perubahan yang terjadi secara sadar, individu yang belajar akan
menyadari terjadinya perubahan itu atau individu merasakan telah
terjadi suatu perubahan dalam dirinya.
4) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional, individu mengalami
perubahan yang berlangsung terus menerus dan tidak statis.
5) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, individu mengalami
perubahan-perubahan yang selalu bertambah dan tertuju untuk
memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya.
6) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, perubahan tingkah
laku terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.
7) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku (Djamarah, 2011:
15-17).
Belajar akan menghasilkan suatu pengalaman dan latihan.
Pengalaman atau latihan itu dapat memperkuat dan memberikan
semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku (Baharuddin &
Wahyuni, 2008: 15). Jadi, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri belajar
adalah bahwa dalam belajar terjadi karena suatu tindakan dan latihan
maupun pengalaman yang dialami oleh individu dan menghasilkan suatu
21
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar sebagai sebuah proses pada dasarnya melibatkan banyak
hal dan komponen yang disadari atau tidak akan berdampak terhadap
proses dan hasil belajar itu sendiri. Terdapat dua faktor yang
mempengaruhi siswa dalam proses belajar, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Masing-masing faktor tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut :
1) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
proses belajar siswa yang bersumber dari dalam diri siswa tersebut.
Faktor internal terdiri dari dua faktor, yaitu:
a) Faktor Fisiologis
Faktor Fisiologis adalah kondisi fisik yang terdapat dalam
diri siswa. Faktor fisiologis merupakan kondisi jasmani yang terdiri
dari anggota badan dan anggota tubuh yang dapat mempengaruhi
proses belajar siswa. Keadaan jasmani atau fisik seseorang
misalnya kondisi anggota tubuh, tingkat kesehatan dan kebugaran
fisik siswa.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa
yang mengalami cacat tubuh dapat menimbulkan proses belajarnya
terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga
22
menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu (Slameto,
1991: 57).
Selain itu, apabila badan siswa dalam keadaan bugar dan
sehat maka akan mendukung hasil belajar. Sebaliknya, proses
belajar seseorang akan terganggu jika badan siswa dalam keadaan
kurang bugar dan kurang sehat, selain itu juga ia akan cepat lelah,
kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah,
kurang darah ataupun ada gangguan/kelainan fungsi alat inderanya,
maka hal tersebut akan menghambat hasil belajar. Agar seseorang
dapat belajar dengan baikharuslah mengusahakan kesehatan
badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan
ketentuan-ketentuan tentang bekerja, tidur, makan, olahraga dan
rekreasi.
b) Faktor Psikologis
Faktor psikologis adalah faktor psikis yang ada dalam diri
siswa. Faktor-faktor psikis tersebut antara lain tingkat kecerdasan,
motivasi, minat, bakat, sikap, kepribadian, kematangan, dan lain
sebagainya (Sriyanti, dkk, 2009: 24-25). Dalam proses belajar
haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat
belajar dengan baik atau dapat membangkitkan motivasi untuk
berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan
melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjang belajar.
23
siswa, karena dari dalam diri siswa tersebutlah yang dapat
memunculkan gairah atau kemauan dan semangat untuk terus
belajar. Pengaruh positif dari dalam diri siswa akan menimbulkan
motivasi untuk melakukan hal positif pula sehingga dapat
mendukung hasil belajar.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
proses belajar siswa yang bersumber dari segala sesuatu dan kondisi di
luar individu yang belajar. Faktor-faktor eksternal tersebut meliputi:
a) Faktor Nonsosial
Faktor nonsosial adalah segala sesuatu dan kondisi fisik di
sekitar siswa yang mempengaruhi cepat atau lambatnya siswa
dalam belajar dan pencapaian hasil belajar siswa. Umpamanya
cuaca, suhu, udara, waktu belajar, alat belajar, penerangan,
kebersihan rumah, serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk
dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik
dan teratur, misalnya:
(1) Ruang belajar harus bersih, tak ada bau-bauan yang
mengganggu konsentrasi pikiran,
(2) Ruangan cukup terag, tidak gelap yang dapat mengganggu
mata,
(3) Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat
24 b) Faktor Sosial
Faktor sosial adalah faktor-faktor di luar siswa yang
berupa manusia. Faktor eksternal yang bersifat sosial, bisa dipilah
menjadi faktor yang berasal dari keluarga, lingkungan sekolah, dan
lingkungan masyarakat (termasuk teman pergaulan). Misalnya,
kehadiran orang dalam belajar, kedekatan hubungan antara anak
dengan orang lain, keharmonisan atau pertengkaran dalam keluarga,
hubungan antar personil sekolah dan sebagainya (Sriyanti, dkk,
2009: 24). Apabila kondisi sosial atau lingkungan di sekitar siswa
dalam keadaan baik, maka akan memberikan pengaruh positif dan
tidak mengganggu semangat belajar siswa, begitu juga sebaliknya
apabila kondisi sosial di sekitar siswa dalam keadaan buruk maka
akan dapat mengganggu semangat belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat
dua faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu faktor
internal dan eksternal. Kedua faktor tersebut dapat memberikan pengaruh
yang bersifat positif yaitu dapat mendukung dalam pencapaian hasil
belajar sehingga didapat hasil yang maksimal dan memuaskan, namun
bisa juga bersifat negatif, yaitu menghambat sehingga pencapaian hasil
belajarnya kurang maksimal. Oleh karena itu, masing-masing faktor
perlu diperhatikan agar proses belajar dapat berhasil sesuai dengan tujuan
25 2. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci
Al-Qur’an dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan,
serta penggunaan pengalaman (Majid, 2012: 11). Menurut Sahilun A.
Nasir, Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dan
pragmatis dalam membimbing anak didik yang beragama Islam dengan
cara yang sedemikian rupa, sehingga ajaran-ajaran Islam itu benar-benar
dapat menjiwai, menjadi bagian yang integral dalam dirinya yakni
ajaran-ajaran Islam itu benar-benar dipahami, diyakini kebenarannya,
diamalkan menjadi pedoman hidupnya, menjadi pengontrol terhadap
perbuatan, pemikiran dan sikap mental (Syafaat, dkk, 2008: 15).
Menurut Zakiyah Daradjat, pendidikan agama Islam adalah
pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai
dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan
ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh
serta menjadikan ajaran agama itu sebagai sutau pandangan hidupnya
demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat
26
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam secara keseluruhannya
dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-Hadits, fiqh, aqidah akhlak, dan sejarah kebudayaan Islam. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga
mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan
hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia,
makhluk lainnya maupun lingkungan. Jadi, Pendidikan Agama Islam
merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam mempersiapkan
peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran
Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, pelatihan menuju
terbentuknya kepribadian muslim yang utuh.
b. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Menurut Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam untuk
sekolah/maadrasah berfungsi sebagai berikut (Majid, 2012: 15-16):
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta
didik kepada Allah SWT yang telahh ditanamkan dalam lingkungan
keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan
keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam
keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih
lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan
agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara
optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2) Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan
27
3) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan
dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
4) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik
dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam
kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia
Indonesia seutuhnya.
6) Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam
nyata dan nirnyata), sistem dan fungsionalnya.
7) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat
khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang
secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan
bagi orang lain.
Dengan melalui proses belajar mengajar pendidikan agama
diharapakan terjadinya perubahan dalam diri anak baik aspek kognitif,
afektif maupun psikomotor. Dan adanya perubahan dalam tiga aspek
tersebut diharapkan akan berpengaruh terhadap cara berfikir dan tingkah
laku anak didik yang berdasarkan pendidikan agama. Dapat juga
28
yang dijadikan sandaran ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, jadi
pendidikan agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan
untuk membantu mengarahkan fitrah agama peserta didik menuju
terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama.
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi mata pelajaran yang
tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian
ke-Islaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik
mampu menguasai kajian ke-Islaman tersebut sekaligus dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat
(Zubaedi, 2011: 275). Pendidikan Agama Islam di sekolah atau madrasah
bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui
pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, serta
pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan
pada jenjang yang lebih tinggi (Majid dan Andayani, 2011: 135).
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk
membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT
berbudi pekerti luhur atau berakhlak mulia, dan memiliki pengetahuan
yang cukup tentang Islam terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam
lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai
pengaruh-29
pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata
pelajaran tersebut.
d. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan
dan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia
dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya
maupun lingkungannya (hablun minallah wa hablun minnanas) (Majid,
2012: 13). Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga identik dengan
aspek-aspek pengajaran agama Islam karena materi yang terkandung
didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan
yang lainnya.
Apabila dilihat dari segi pembahasannya maka ruang lingkup
Pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah adalah:
1) Pengajaran Keimanan
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang
aspek kepercayaan atau tauhid, dalam hal ini tentunya kepercayaan
menurut ajaran Islam, yang inti dari pengajaran ini adalah tentang
rukun Islam dan rukun iman.
2) Pengajaran Akhlak
Pengajaran akhlak adalah bentuk pengajaran yang mengarah
pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya,
pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan
30 3) Pengajaran Ibadah
Pengajaran ibadah adalah pengajaran tentang segala bentuk
ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar
siswa mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Selain itu
dapat mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan
pelaksanaan ibadah.
4) Pengajaran Fiqih
Pengajaran fiqih adalah pengajaran yang isinya
menyampaikan materi tentang segala bentu-bentuk hukum Islam yang
bersumber pada Al-Qur’an, sunnah, dan dalil-dalil syar’i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui dan mengerti
tentang hukum-hukum Islam dan melaksanakannya dalam kehidupan
sehari-hari.
5) Pengajaran Al-Qur’an
Pengajaran Al-Qur’an adalah pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membaca Al-Qur’an dan mengerti arti kandungan yang terdapat disetiap ayat-ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an merupakan firman Allah sebagi sumber hukum utama yang dijadikan pedoman
bagi seluruh umat Islam.
ِل نناَيَ ب اَذ َه
َيِقَّتممْلِل نةَظِعْوَمَو ىادمهَو ِساَّنل
31 6) Pengajaran Sejarah Islam
Tujuan pengajaran sejarah Islam ini adalah agar siswa dapat
mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam
dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal
dan mencintai agama Islam.
Pembelajaran PAI di Indonesia saat ini juga perlu menanamkan
nilai pluralitas. Hal ini disebabkan karena masyarakat Indonesia sangat
plural. Sebagaimana dinyatakan oleh Suwardi bahwa Indonesia memiliki
masyarakat yang plural baik suku, etnis maupun agama. Kondisi ini
dapat menimbulkan terjadinya konflik antar masyarakat di Indonesia
(Suwardi dkk, 2017: 1).
Jadi, ruang lingkup PAI secara keseluruhan mendidik dan
membangun karakter siswa serta akhlak siswa yang berpengetahuan
Islami terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya sehingga
dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu menjadi
serta menjadikan insan kamil yang mampu mengamalkan ajaran agama
dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
3. Kajian Materi Penelitian
a. Materi Makanan Minuman yang Halal dan Haram 1) Makanan Halal
Makanan halal adalah makanan yang boleh dimakan menurut
ketentuan syariat Islam. Bagi seorang muslim, makanan yang dimakan
32
a) Halal, artinya dibolehkan berdasarkan ketentuan syariat Islam.
b) Tayyib, artinya baik, mengandung nutrisi, bergizi, dan
menyehatkan.
Makanan dan minuman yang dikonsumsi tidaklah asal yang
mengenyangkan saja, tetapi harus halalan tayyiban. Adapun halalnya
makanan dan minuman meliputi tiga kriteria berikut ini:
a) Halal dari segi wujudnya/zatnya makanan itu sendiri, yaitu tidak
termasuk makanan yang diharamkan oleh Allah SWT.
b) Halal dari segi cara mendapatkannya.
c) Halal dalam proses pengolahannya.
Adapun jenis-jenis makanan halal menurut wujudnya adalah
sebagai berikut:
a) Makanan yang disebut halal oleh Allah dan Rasul-Nya.
b) Makanan yang tidak kotor dan menjijikkan.
c) Makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan
kesehatan tubuh, tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan
aqidah.
2) Makanan Haram
Makanan haram adalah makanan yang dinyatakan haram dan
tidak boleh dimakan menurut ketentuan hukum syariat Islam. Adapun
jenis dari makanan haram yaitu:
33
Artinya: “diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula)yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) karena itu perbuatan fasik...” (QS. Al-Maidah/5: 3)
Dari ayat tersebut, makanan yang diharamkan adalah
bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas
nama selain Allah, hewan yang mati karena tercekik, dipukuli,
terjatuh, ditanduk hewan lain, diterkam binatang buas, dan hewan
yang disembelih untuk berhala.
b) Semua jenis makanan yang mendatangkan mudharat/bahaya
terhadap kesehatan badan, jiwa, akal, moral, dan akidah.
c) Semua jenis makanan yang kotor dan menjijikkan.
d) Makanan yang didapatkan dengan cara yang batil (salah), misalnya
makanan hasil curian, rampasan, dan lain-lain.
3) Minuman Halal
Minuman halal adalah minuman yang boleh diminum
menurut ketentuan hukum syariat Islam. Semua jenis minuman yang
34
dalil Al-Qur’an dan hadits yang mneyatakan keharamannya. Adapun jenis minuman yang halal adalah sebagai berikut:
a) Tidak memabukkan.
b) Tidak mendatangkan mudharat bagi manusia, baik dari segi
kesehatan badan, akal, jiwa, maupun akidah.
c) Tidak najis.
d) Didapatkan dengan cara yang halal.
4) Minuman Haram
Minuman haram adalah minuman yang tidak boleh diminum
menurut ketentuan hukum syariat Islam. Adapun minuman yang
haram, yaitu sebagai berikut:
a) Minuman yang memabukkan (khamr)
Pengertian khamr itu mencakup segala sesuatu yang
memabukkan, baik berupa zat cair, maupun zat padat, baik dengan
cara diminum, dimakan, dihisap, atau disuntikkan ke dalam tubuh.
Misalnya ganja, narkotika, morfin, heroin, bir, arak, dan berbagai
minuman beralkohol lainnya.
b) Minuman yang berasal dari benda najis atau benda yang terkena
najis. Misalnya minuman yang berasal dari air kencing kucing, dan
lain-lain.
c) Minuman yang didapatkan dengan cara batil (tidak halal).
Misalnya minuman yang didapatkan dengan cara merampok,
35
5) Manfaat Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Halal
Seseorang yang membiasakan diri mengonsumsi makanan
dan minuman yang halal akan memperoleh manfaat sebagai berikut:
a) Mendapat ridha Allah kerena telah menaati perintah-Nya dalam
memilih jenis makanan dan minuman yang halal.
b) Memiliki akhlakul karimah karena setiap makanan dan minuman
yang dikonsumsi akan berubah menjadi tenaga yang dijasikan
untuk beraktivitas dan beribadah.
c) Terjaga kesehatannya karena setiap makanan dan minuman yang
dikonsumsi bergizi dan baik bagi kesehatan badan.
6) Akibat Buruk Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Haram
Mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram akan
menimbulkan akibat buruk bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat,
dan lingkungan sekitarnya. Diantara akibat buruk tersebut adalah:
a) Amal ibadahnya tidak akan diterima dan doanya tidak akan
dikabulkan oleh Allah SWT.
b) Makanan dan minuman haram bisa merusak jiwa terutama
minuman keras (khamr). menyebabkan berbagai macam penyakit
psikologis (gangguan jiwa), misalnya gangguan daya ingat,
gangguan mental, kegagalan daya pikir, menimbulkan beban
mental, emosional, dan sosial yang sangat berat, dan menimbulkan
36
c) Makan dan minuman yang haram dapat mengganggu kesehatan
tubuh. Misalnya khamr dapat menyebabkan berbagai macam
penyakit fisik, diantaranya tekanan darah tinggi, kanker, jantung,
liver, sistem kekebalan tubuh menurun, serta merusak jaringan
saraf otak.
d) Menghalangi seseorang mengingat Allah SWT.
b. Pengertian Metode Talking Stick
Metode adalah cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata
agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Majid, 2013: 193).
Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru untuk
menciptakan lingkungan belajar yang tidak monoton. Dalam mengajar
metode disusun berdasarkan prinsip dan sistem tertentu, untuk itu sebagai
seorang guru harus banyak menguasai berbagai metode pembelajaran dan
dapat menerapkan metode tersebut dalam pembelajaran dengan tepat
sesuai dengan keadaan dan kondisi siswa.
37
Carol Locust mengatakan bahwa pada mulanya, Talking Stick
(Tongkat berbicara) adalah metode yang digunakan oleh penduduk asli
Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan
pendapat dalam suatu forum (Huda, 2013: 224). Sekarang metode itu
sudah digunakan sebagai metode pembelajaran dalam kelas. Metode
Talking Stick merupakan suatu cara yang digunakan guru dalam
menjelaskan materi pelajaran kepada siswa dengan memanfaatkan
tongkat sebagai pemicu siswa untuk dapat berbicara.
c. Langkah-Langkah Metode Talking Stick
Adapun langkah-langkah metode talking stick adalah sebagai
berikut (Huda, 2013: 225):
1) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya ± 20 cm.
2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian
memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan
mempelajari materi pelajaran.
3) Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4) Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari
isinya, guru mempersilakan siswa untuk menutup isi bacaan.
5) Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa,
setelah itu guru memberi pertanyaan dan siswa yang memegang
tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai
sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap
38 6) Guru memberi kesimpulan.
7) Guru melakukan evaluasi/penilaian.
8) Guru menutup pembelajaran.
Menurut Suprijono langkah-langkah pembelajaran dengan
metode talking stick adalah sebagai berikut:
1) Diawali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan
dipelajari.
2) Peserta didik diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi
tersebut.
3) Berikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini.
4) Guru selanjutnya meminta kepada peserta didik menutup bukunya.
5) Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya.
6) Tongkat tersebut diberikan kepada salah satu peserta didik.
7) Peserta didik yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab
pertanyaan dari guru demikian seterusnya.
8) Ketika tongkat (stick) bergulir dari peserta didik ke peserta didik
lainnya, seyogyanya diiringi musik.
9) Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan
refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya.
10) Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan
peserta didik, selanjutnya bersama-sama peserta didik merumuskan
39
Dari penjelasan langkah-langkah tersebut bahwa dalam
pelaksanaan metode talking stick pada pembelajaran seorang guru harus
menjelaskan kepada siswa terkait materinya, setelah itu siswa harus
diberi waktu untuk membaca kembali materi yang telah disampaikan
guru, dan baru dapat dilakukan metode talking stick. Dalam pelaksanaan
metode talking stick bisa dilakukan variasi agar siswa semakin semangat
melakukan pembelajaran, yaitu saat metode talking stick berlangsung
atau saat tongkat digulirkan bisa menggunakan nyanyian yang semangat
dan saat nyanyian tersebut selesai siswa yang mendapat giliran
memegang tongkat harus menjawab pertanyaan.
d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Talking Stick
Dalam metode talking stick terdapat beberapa kelebihan,
diantaranya adalah sebagai berikut (Huda, 2013: 225):
1) Mampu menguji kesiapan siswa.
2) Melatih keterampilan siswa dalam membaca dan memahami materi
pelajaran dengan cepat.
3) Membuat siswa ceria, senang dan melatih mental siswa untuk siap
dalam kondisi dan situasi apapun.
4) Melatih siswa berbicara di depan teman-temanya.
5) Menciptakan suasana menyenangkan dan membuat siswa aktif.
6) Menumbuhkan jiwa berkompetisi pada diri siswa.
Adapun kekurangan metode talking stick adalah bagi siswa