• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT MELALUI SEDEKAH ( STUDI PADA JAMA’AH MAJELIS DOA MAWAR ALLAH ) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENDIDIKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT MELALUI SEDEKAH ( STUDI PADA JAMA’AH MAJELIS DOA MAWAR ALLAH ) SKRIPSI"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT

MELALUI SEDEKAH (

STUDI PADA JAMA’AH

MAJELIS DOA MAWAR ALLAH )

SKRIPSI

Diajukan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun oleh:

Liana Nurmawati

111-14-249

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

▸ Baca selengkapnya: peta konsep hakikat mencintai allah swt

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO

“Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata

baik atau diam.”

menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena

Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.” QS.

Al-Baqarah: 195. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)





(6)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah dengan ijin Allah SWT skripsi ini selesai. Skripsi ini saya

persembahkan untuk orang-orang yang telah mendorong saya untuk selalu

memperjuangkan mimpiku:

1. Bapak dan Ibuku tersayang, Bapak Muhibbin dan Ibu Budiyatun yang selalu

memberikan kasih sayang, doa, dukungan, bimbingan, dan nasehat dalam

kehidupanku.

2. Ibu Nyai Hjh. Latifah Zoemri dan keluarga, terima kasih atas semua ilmu

yang telah diberikan semoga bermanfaat dan berkah.

3. Kedelapan kakakku beserta pasangannya: Mbak Indah, Mas Dalono, Mas

Agus, Mbak Warni ,Mas Dudin, Mbak Wati , Mas Alex, Mbak Sovi , Mas

Beni , Mbak Wiwin, Mas Suwarsono , Mas Andi , Mbak Lilik , Mas Edi

ketujuh belas ponakakanku: Tuhin, Yuan, Ilham, Alm. Candra, Fajar, Keyzia,

Ajeng, Daffa, Hafid, Fatih, Al, Ais, Nabila, Juna, Jino, Raesha dan adeknya

Al yang tak pernah putus menyemangatiku.

4. Seluruh Asatidz PPTI Al-Falah, terima kasih atas semua ilmu yang telah

diberikan semoga bermanfaat dan berkah.

5. Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd. yang telah sabar membimbingku sehingga

skripsi ini dapat selesai.

6. Semua dosen dan guru-guru yang telah memberi imu kepadaku.

(7)

8. Keluarga Besar Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga.

9. Keluarga besar Biro Konsultasi Psikologi Tazkia IAIN Salatiga.

10.TIM One Student Save One Student/Family IAIN Salatiga.

11.Tim Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Psikologi Tazkia.

12.Keluarga besar Forum Komunikasi –Mahasiswa Magelang (FK-WAMA).

13.Keluarga besar Al Falah Anak Santri Magelang (Al-Asma).

14.Keluarga Besar RA/TK AL-Falah Salatiga.

15.Sahabat-sahabat perjuangan PPTI Al –Falah Salatiga serta kamar B6

Angkatan 2014 (Aini, Rodziah, Rully, Isti, Eva, Malikah Ummah, Nia, April,

Luluk, Nurul, Nikmah, Miladil, Herli, Erika, Mpit, Uswatun, Tyas, Ella).

16.Teman-temanku 8S: Dwil, Hida, Irma, Huda, Fajar, Ari, Idwal.

17.Teman-temanku 4S: Melati, Mika, Fitri, Choir.

18.Teman-teman PAI G yang selalu kompak.

19.Teman-teman PPL SMP N 1 Tengaran (Zakia, Apid, Tutik, Izatin,Chusna,

Rifki, Dika, Murahman).

20.Teman-teman KKN Posko 15 (Yofa, Rista, Evi, Okta, Desta, Bilal, Feli).

21.Mas Anam yang selalu memberikan semangat dan motivasi.

22.Calon imamku yang telah dipersiapkan Allah SWT untukku ,dimanapun

engkau berada semoga kita segera dipertemukan oleh Allah SWT dengan

ridha-Nya.

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrohim

Puji syukur alhamdulillahi robbil’alamin, penulis panjatkan kepada Allah

SWT yang selalu memberikan nikmat,karunia, taufik, serta hidayah-Nya kepada

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : Pendidikan

Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah Studi Pada Jama‟ah Majelis Doa

Mawar Allah Tahun 2018.

Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi

agung Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta para pengikutnya yang

selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana beliaulah satu-satunya umat

manusia dapat mereformasi umat manusia dari zaman terang benerang yakni dengan

ajarannya agama Islam.

Penulisan skripsi ini pun tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai

pihak yang telah berkenan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena

itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Ibu Siti Rukhayati, M. Ag. selaku Ketua Jurusan PAI IAIN Salatiga.

3. Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd. selaku pembimbing skripsi sekaligus

pembina Majelis Doa Mawar Allah yang telah membimbing dengan ikhlas,

mengarahkan dan meluangkan waktunya untuk penulis sehingga skripsi ini

(9)
(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...ii

PENGESAHAN KELULUSAN ...iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN...iv

HALAMAN MOTTO ...v

PERSEMBAHAN ...vi

KATA PENGANTAR ...viii

DAFTAR ISI ...x

ABSTRAK ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

BAB 1: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

1. Manfaat Teoritis ... ...7

2. Manfaat Praktis ... ... 7

E. Penegasan Istilah ... 8

(11)

BAB II: LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori ... 14

1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 14

a. Pengertian Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 14

b. Tujuan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 17

c. Fungsi Iman Kepada Allah SWT ... 18

d. Ciri-ciri orang yang Beriman Kepada Allah SWT ... 19

2. Sedekah ... 21

a. Pengertian Sedekah ... 21

b. Hukum Sedekah ... 22

c. Dalil Perintah untuk Bersedekah ... 23

d. Keutamaan Sedekah ... 24

e. Adab Bersedekah ... 26

f. Kemuliaan Sedekah terhadap Anak Yatim ... 33

3. Majelis Doa Mawar Allah ... 36

4. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 36

B. Kajian Pustaka ... 40

BAB III: METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 42

B. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ... 43

C. Sumber Data ... 43

(12)

E. Analisis Data ... 49

F. Pengecekan Keabsahan Data ... 50

BAB IV: PAPARAN DAN ANALISIS DATA A. Analisis Data ... 52

1. Sejarah Berdirinya Majelis Doa Mawar Allah... 52

2. Visi dan Misi Majelis Doa Mawar Allah ... 56

3. Majelis Doa Mawar Allah Sebagai Wadah ... 57

4. Perkembangan Majelis Doa Mawar Allah ... 59

5. Susunan Pengurus Majelis Doa Mawar Allah ... 62

6. Gambaran Informan ... 64

7. Kegiatan Majelis Doa Mawar Allah ... 65

8. Keimanan kepada Allah SWT melalui Sedekah ... 69

B. Analisis Data ... 77

1. Model Kegiatan ... 77

2. Keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah... 82

BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ... 84

B. Saran ... 85

(13)

ABSTRAK

Nurmawati, Liana. 2018. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah (Studi Pada Jama’ah Majelis Doa Mawar Allah). Tahun 2018. Skripsi.Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd.

Kata Kunci: Pendidikan Keimanan, Sedekah, dan Majelis Doa Mawar Allah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah studi pada jama‟ah majelis doa mawar Allah. Fokus masalah yang akan dikaji adalah; 1) Bagaimana kegiatan yang berisikan pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah dilaksanakan pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah, 2) Bagaimana pengaruh sedekah terhadap peningkatan keimanan kepada Allah

SWT pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research)dan bersifat deskriptif kualitatif maka data dari penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan triangulasi sumber sebagai instrumen untuk mengecek validitas data. Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber primer yakni hasil wawancara pembina, pengurus serta jama‟ah, dan sumber sekunder yang dapat berupa foto-foto kegiatan terkait Majelis Doa Mawar Allah.

Hasil penelitiian diketahui bahwa (1) Kegiatan yang berisikan pendidikan

keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah dilaksanakan pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah dalah amaliah sedekah. Santunan sedekah diberikan kepada anak yatim karena anak yatim itu membutuhkan bantuan. Sedekah itu ada yang difasilitasi oleh tim Majelis Doa Mawar Allah berupa bingkisan dan ada pula jama‟ah yang membawa sendiri untuk diberikan langsung kepada anak yatim. Sebenarnya sedekah itu untuk membimbing kita agar yakin kepada Allah SWT. Untuk bisa yakin kepada Allah SWT, kadang-kadang jama‟ah perlu jembatan. Jama‟ah perlu media. Salah satunya adalah sedekah. Urutan sedekah diletakkan sebelum berdoa. Untuk sampai ke

doa itu jama‟ah perlu melakukan doa-doa, (2) Pengaruh Sedekah terhadap

Peningkatan Keimanan Kepada Allah SWT pada Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah adalah Dengan sedekah doanya akan diijabah oleh Allah SWT, dengan sedekah dapat cepat terkabulnya doa, dengan sedekah dapat menyelesaikan masalah, dengan

sedekah membuat jama‟ah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT telah memberi

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara

Lampiran 2 Verbatim Wawancara

Lampiran 3 Surat Pembimbing dan Asisten Pembimbing Skripsi

Lampiran 4 Surat Keterangan Bukti Penelitian

Lampiran 5 Lembar Konsultasi Skripsi

Lampiran 6 Pernyataan Publikasi Skripsi

Lampiran 7 Daftar Nilai SKK

Lampiran 8 Daftar Riwayat Hidup

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dalam pengertiannya yang paling dasar merupakan

proses perwujudan diri secara utuh yang menyangkut aspek fisik,

intelektual, moral dan sosial. Proses pendidikan sesungguhnya menyatu

dengan poses perkembangan setiap pribadi sebagai makhluk yang

dianugerahi kemampuan untuk mendidik dirinya. Setiap pribadi

merupakan pendidik yang aktif bagi dirinya sendiri. Maka, pendidikan

seharusnya merupakan proses pengembangan pengalaman aktual setiap

pribadi dalam relasinya dengan alam semesta. (Soewandi dkk, 2005:23)

Pendidikan adalah upaya yang dilakukan secara sadar dalam

rangka mengembangkan potensi yang telah dimiliki oleh manusia kepada

kondisi yang lebih baik. Manusia dipandang sebagai makhluk yang

memiliki potensi dan dapat berkembang melalui proses pendidikan.

Potensi adalah kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang dan belum

menjadi kenyataan yang terpola untuk menghadapi lingkungan. (Rasimin,

2014:61)

Dengan adanya pendidikan tersebut, maka kita akan mendapatkan

sesuatu yang berharga untuk menjadikan manusia menjadi pribadi yang

lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bertujuan untuk

(16)

itu dicapai bila manusia semakin menyempurnakan dirinya semakin penuh

menuju yang Ilahi. Maka manusia secara bebas mengembangkan dirinya

untuk semakin menjadi sempurna. Semakin baik kesempurnaan manusia

itu ternyata hanya dapat tercapai bila dalam proses penyempurnaan itu ia

menyempurnakan sesamanya dan dunia tempat dia berada. Tanpa

menyempurnakan mereka itu, maka manusia tidak dapat menjadi semakin

sempurna. Secara sederhana itu berarti bahwa manusia baru akan menjadi

lebih baik, lebih berkembang, lebih mendekati Tuhan, apabila dalam hidup

ini dia berdamai dengan sesama manusia, dengan dunia alam ini, dan tentu

dengan Tuhan sendiri. (Soewandi dkk, 2005:108)

Manusia juga harus berdamai dengan Tuhan, Sang Pencipta.

Secara sederhana perdamaian dengan Tuhan dapat diusahakan bila

manusia memang mempunyai hubungan dekat dengan Tuhan sendiri.

Hubungan dekat dengan Tuhan ini oleh kebanyakan manusia dilakukan

dengan iman, kepercayaan atau penghayatan agama mereka

masing-masing. Dengan relasi baik dan dekat dengan Sang Pencipta itu sendiri,

manusia diangkat dan disatukan dengan satu sumber kebahagiaan yaitu

Tuhan. Dengan relasi yang baik setiap manusia dengan Sang Pencipta,

diharapkan bahwa setiap manusia dapat semakin menghargai orang lain

dan menerima orang lain sebagai saudaranya karena masing-masing

berelasi dekat dengan Sang Pencipta sendiri.

(17)

apa yang telah dijanjikan oleh Allah SWT bahwa iman adalah keyakinan

dan perbuatan. (Az-Zindani dkk, 2006:21).



“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”. QS Al-Hujurat: 15. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Di dalam surat Al-Hujurat ayat 15 yang berisi tentang kita dapat

mengetahui bahwa iman yang diterima dan yang benar adalah keyakinan

yang tidak dicampuri dengan keraguan dan amalan yang di antaranya

berupa jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT.

Syekh Abdullah Ba Alawi Al-Hadad berkata:

“Sebenarnya keimanan dan kemunafikan itu dapat bertambah atau

berkurang. Keimanan itu dapat bertambah dengan jalan terus menerus

mengerjakan amalan-amalan yang shaleh serta memperbanyaknya dengan

tujuan semata-mata untuk mengharapkan keridaan Allah SWT dengan

tulus ikhlas pula dalam mengamalkan dan tidak untuk maksud yang selain

itu. Makin bertambah amal perbuatan baik seorang itu, makin bertambah

pula keimanannya. Sebaliknya, makin sedikit amal shaleh yang

dikerjakannya, makin berkuranglah keimanan dalam kalbunya. (Zainuddin

(18)

Anjuran untuk bersedekah atau berinfak ditujukan kepada kita

sebagai orang yang beriman. Terutama, kepada orang-orang kaya yang

mempunyai harta lebih dari kebutuhannya.

Dalam pelaksanaanya, Islam memberikan tuntunan yang sangat

bagus bagaimana kita bersedekah. (Abdurrahman,2009:11). Di satu sisi

kita dianjurkan untuk bersedekah atau berinfak, tetapi di sisi lain jangan

berlebihan. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini:

QS AL-ISRA ayat 29:

29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula

terlalu Pemurah.

Dengan demikian, bersedekah itu sangat penting artinya. Kita

beramal shaleh dengan bersedekah atau berinfak, tetapi jangan berlebihan

agar tidak menjadi orang yang tercela dan menyesal.

Majelis Doa Mawar Allah adalah sebuah wadah kegiatan sosial

keagamaan yang berwujud terapi religi bersifat massal di bawah naungan

(19)

belakangi adanya kegiatan ini adalah adanya niat untuk membantu para

jama‟ah yang sedang mengalami masalah atau kesulitan, yang mana dalam

kegiatan tersebut terdapat satu momen menerapi jama‟ah dalam jumlah

yang banyak dan hanya mengharap pertolongan dari Allah SWT. Sehingga

dapat dikatakan bahwa kegiatan MDMA adalah sebagai wadah agar

terwujudnya kesadaran dalam diri masyarakat atau jama‟ah akan masalah

yang dihadapinya berasal hanya atas kehendak Allah SWT “ Sang Pemberi

Masalah” dan menumbuhkan keyakinan bahwa hanya Allah SWT “Sang

Penyelesai Masalah.”

Majelis Doa Mawar Allah merupakan majelis doa yang

menyelenggarakan kegiatan yang lebih kompleks . Dengan berkumpul dan

berharap mendapatkan berkah dari majelis yang mulia yaitu: testimoni

orang yang pernah bersedekah kemudian mendapatkan balasan dari Allah

SWT, shalat taubat, shalat hajat, santunan anak yatim, doa dan pembacaan

Asmaul Husna.

Bagi jama‟ah yang sudah aktif mengikuti Majelis Doa Mawar

Allah selalu berusaha untuk memperkuat keimanan melalui sedekah

dengan cara mengikuti Majelis Doa Mawar Allah dan berharap agar bisa

mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan pada latar belakang di

atas penulis ingin melakukan penelitian dan menyusun sebuah skripsi yang

berjudul “Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah

(20)

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat

difokuskan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Kegiatan yang Berisikan Pendidikan Keimanan Kepada

Allah SWT melalui Sedekah dilaksanakan pada Jama‟ah Majelis Doa

Mawar Allah?

2. Bagaimana Pengaruh Sedekah terhadap Peningkatan Keimanan Kepada

Allah SWT pada Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa

tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pendidikan Keimanan

melalui Sedekah Peserta Majelis Doa Mawar Allah.

1. Untuk mengetahui Kegiatan yang Berisikan Pendidikan Kegiatan yang

Berisikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah

Dilaksanakan Peserta Majelis Doa Mawar Allah.

2. Untuk mengetahui deskripsi tentang Pengaruh Sedekah terhadap

Peningkatan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT pada Jama‟ah

(21)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari hasil penelitian ini sebagi berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangasih dan kontribusi pada Fakultas Tarbiyah

dan Ilmu Keguruan (FTIK) khususnya jurusan Pendidikan Agama

Islam (PAI) di bidang psikologi pendidikan.

b. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dalam menerapkan

konsep-konsep dan mengembangkan pemikiran tentang pendidikan

keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah

c. Menambah wawasan khasanah keilmuan sekaligus bisa dijadikan

bahan acuan dalam penulisan lebih lanjut yang kritis dan

representative.

d. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bahan referensi bagi

para peneliti di bidang psikologi pendidikan dan pendidikan

keagamaan.

2. Manfaaat Praktis

a. Mengetahui konsep pendidikan keimanan kepada Allah SWT

melalui sedekah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Tazkia

IAIN Salatiga

b. Penelitian ini memberikan kontribusi kajian dan pengetahuan

tentang pengembanagn pendidikan keimanan melalui sedekah

c. Mengetahui peran pendidikan keimanan kepada Allah SWT dalam

(22)

sedekah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Tazkia IAIN

Salatiga

d. Bagi para jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi

Tazkia IAIN Salatiga, hasil penelitian ini dapat membantu dan

menciptakan pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui

sedekah

e. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk

memberikan pendidikan psikologi bagi lembaga dan mahasiswa

IAIN Salatiga

Bagi peneliti, untuk memotivasi diri dan menjadikan bekal hidup

dalam bermasyarakat, beribadah kepada Allah SWT dan berharap menjadi

hamba yang beruntung di dunia dan akhirat

E. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi tafsir pada judul yang penulis ajukan, maka perlu

kiranya penulis jelaskan pengertian frase dalam judul di atas, sebagai

berikut:

1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT

Menurut KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan

tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara,

perbuatan mendidik. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,

(23)

Keimanan menurut KBBI adalah keyakinan, ketetapan hati,

keteguhan hati. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,

2007:425)

Kehidupan religius stabil, sehingga tidak mudah

diombang-ambingkan oleh perubahan keadaan, karena kompas hidupnya ialah

Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, dan Penyayang, yang diimani

oleh manusia yang telah dewasa dan stabil, sebagai menusia

seutuhnya. (Pribad, 1987:75)

Pendidikan keimanan adalah pendidikan untuk mendekatkan diri

kepada-Nya. sehingga ia memperbanyak amal, selalu bertaqwa,

mencegah diri dari hawa nafsu, selalu melatih diri dan bermujahadah

(berjihad untuk memperbaiki kehidupan dan kesempurnaan

kepribadian) niscaya terbukalah baginya pintu hidayah (petunjuk),

tersingkaplah segala hakikat dari akidah (apa yang diyakini) ini

dengan “nur Illahi.

Pendidikan keimanan kepada Allah SWT adalah pendidikan untuk

meyakini keberadaan Allah SWT beserta sifat-sifat yang dimiliki-Nya.

(Muchtar, 2008:26). Maksudnya kita harus yakin bahwa Allah SWT

itu Dia memiliki sifat-sifat yang mulia (Asmaul Husna). Beriman

kepada Allah SWT merupakan dasar utama keimanan, dari sinilah

melahirkan ketaatan terhadap lainnya. Hanya ketaatan yang

berdasarkan keimanan kepada Allah SWT sajalah yang benar dan akan

(24)

2. Sedekah

Sedekah menurut KBBI adalah pemberian sesuatu kepada fakir

miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan

zakat firtrah sesuai dengan kemampuan pemberi(derma).

Menurut Imam Nawawi, orang yang suka bersedekah adalah orang

yang benar-benar beriman secara lahir dan batin. Dia membutikan

keimanannya dengan bersedekah. (Abdurrahman, 2009:9)

Jadi, sedekah adalah memberikan sesuatu dengan niat untuk

mengharap ridha-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Majelis Doa Mawar Allah

Majelis menurut KBBI adalah lembaga atau organisasi sebagai

wadah pengajian.

Majelis berasal dari bahasa arab yaitu majelisan yang berarti

tempat duduk. Menurut KBBI majelis adalah pertemuan dengan orang

banyak, sidang, rapat.

Doa menurut KBBI adalah permohonan, harapan, permintaan,

pujian kepada Tuhan.

Sedangkan doa menurut Imam at Thaibi yang dimaksud berdoa

menurut beliau adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan

membutuhkan Allah SWT, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan

untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh

(25)

Jadi doa adalah sebuah permohonan kepada Allah SWT dan bentuk

rasa membutuhkannya.

Allah SWT Berfirman dalam

QS Al Baqarah ayat 186:





“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS Al Baqarah:186.

(Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah,2010)

Majelis Do‟a Mawar Allah adalah sebuah wadah kegiatan sosial

keagamaan yang berada di bawah Biro Konsultasi „TAZKIA” IAIN

Salatiga, sebagai wadah yang dibentuk untuk membantu para jama‟ah

yang sedang mengalami masalah atau kesulitan, dengan mengharap

pertolongan dari Allah SWT.(Pembina tim Majelis Doa Mawar Allah)

F. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyusun serta

mempermudah pemahaman terhadap penulisan proposal ini, penulis

proposal ini dikelompokkan menjadi 5 bab. Di mana antara bab satu

(26)

BAB I : PENDAHULUAN

Bagian ini merupakan pendahuluan, yang dikemukakan dalam

bagian pertama ini akan dibahas beberapa sub bahasan, yaitu: latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, penegasan istilah dan sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori yang berisi tinjauan umum tentang peran Majelis

Doa Mawar Allah dalam pendidikan keimanan melaui sedekah, terdiri

dari beberapa sub bab, diantaranya yaitu pembahasan Pengertian

Pendidikan Keimanan, Tujuan Pendidikan Keimanan, Fungsi Iman

Kepada Allah SWT, Ciri-ciri orang yang Beriman, Pengertian

Sedekah,Hukum Sedekah, Dalil Perintah Untuk bersedekah,

Keutamaan Sedekah, Adab Bersedekah, Majelis Doa Mawar Allah,

Kemuliaan Sedekah Kepada Anak Yatim, Pendidikan Keimanan

Kepada Allah SWT melalui Sedekah Studi Pada Jama‟ah Majelis Doa

Mawar Allah SWT. Kajian pustaka yang berisi tentang kajian

penelitian terdahulu.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bagian ini berisi tentang Jenis Penelitian, Lokasi Dan Waktu

Penelitian, Sumber Data, Prosedur Pengumpulan Data, Analisis

(27)

BAB IV : PAPARAN DAN ANALISIS DATA

`Bagian ini berisikan uraian data-data yang didapat dari lapangan

yaitu gambaran umum Majelis Doa Mawar Allah meliputi sejarah

berdirinya Majelis Doa Mawar Allah, visi dan misi Majelis Doa

Mawar Allah, dasar pemikiran lahirnya Majelis Doa Mawar Allah

sebagai wadah, perkembangan Majelis Doa Mawar Allah, susunan

pengurus Majelis Doa Mawar Allah, gambaran informan Majelis Doa

Mawar Allah, dan kegiatan Majelis Doa Mawar Allah, pendidikan

keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah studi pada jama‟ah

Majelis Doa Mawar Allah ,analisis data deskriptif penelitian

Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah studi pada

jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah.

BAB V : PENUTUP

Merupakan kajian paling akhir dari skripsi ini, yang mana pada

bagian ini berisi kesimpulan penulis dari seluruh pembahasan yang

(28)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT

a. Pengertian Pendidikan Keimanan Kepada Allah

Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat

awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan

memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan

diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai

akhlak dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya, pengertian

“pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses

pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang

dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran

dan pelatihan.

Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat

diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu

sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara

bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. (Syah, 2013: 10)

Jadi, pendidikan adalah sebuah upaya untuk memperbaiki

diri. Untuk memperoleh pengetahuan melalui pengajaran dan

pelatihan.

Iman adalah ucapan di lisan, keyakinan dalam hati dan

(29)

keyakinan terhadap Allah SWT dengan segala sifat-Nya,yang

dibuktikan dengan ketaaatan yang wajib maupun yang nafil, serta

meninggalkan segala larangan dan dosa. (Al-Jaillani, 2010:182).

Iman yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang terhujam

di kedalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak

dan ragu-ragu, serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan

dan aktifitas keseharian. Jadi, tidak bisa dikatakan iman jika hanya

sekedar amal perbuatan, demikian pula jika sebatas pengetahuan

mengenai arkanul iman.(Qardhawi,2005: 27)

Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Hujurat: 15



15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa iman yang diterima dan

yang benar adalah keyakinan yang tidak dicampuri dengan

keraguan dan amalan yang di antaranya berupa jihad dengan harta

(30)

Sebab keyakinan hati saja tidak cukup sebagai syarat

diterimanya iman. Iblis saja berkeyakinan akan adanya Allah SWT

sebagaimana ucapannya yang dicantumkan dalam QS Shaad:79

:



hari mereka dibangkitkan". (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Sekalipun demikian, Allah SWT telah mengkafirkannya

dikarenakan kesombongannya sehingga ia tidak mau melaksanakan

apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 34:

Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan

Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud

memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah

(31)

Jadi, iman yang benar adalah yang meliputi dua hal, yaitu:

1. Keyakinan kuat yang tidak dicampuri dengan keraguan.

2. Perbuatan yang membuktikan keyakinan itu, dan ia

merupakan buahnya.. (Az-Zindani, :21-22)

Rasulullah SAW telah berpesan bahwa Allah SWT tidak

mengabulkan doa dri orang yang ragu dan lali. Sehingga, tidak

terkabulnya doa bukan karena Allah SWT tidak mengabulkan,

tetapi orang yang berdoa tidak yakin kalau doanya dikabulkan oleh

Allah SWT. (Sultoni, 2015:5)

Iman kepada Allah SWT adalah percaya bahwa Allah SWT

Maha Esa, tak ada sekutu bagi-Nya, Maha Tunggal tak ada yang

menyamai-Nya dan menjadi tempat bergantung bagi Hamba-Nya,

tak ada yang membandinginya. (Asrori, 1996:4)

Dari devinisi di atas dapat kita tarik kesimpulan tentang

devinisi Pendidikan keimanan kepada Allah SWT adalah

pendidikan untuk meyakini keberadaan Allah SWT beserta

sifat-sifat yang dimiliki-Nya. dan hanya Allah SWT lah tempat

bergantung bagi Hamba-Nya, tak ada yang membandinginya.

b. Tujuan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT

Secara umum memang pendidikan Islam diarahkan kepada

usaha untuk membimbing dan mengembangkan potensi fitrah

manusia hingga ia dapat memerankan diri secara maksimal sebagai

(32)

c. Fungsi Iman Kepada Allah SWT

Orang yang memfungsikan iman kepada Allah SWT dalam

hidupnya, akan memiliki sikap dan kepribadian sebagai berikut:

1. Menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah Yang Maha

Besar, sehingga ia tidak mau berbuat dan bersikap sombong

atau takabur serta menghina orang lain.

2. Menyadari bahwa segala yang ia nikmati dalam kehidupan ini

berasal dari Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha

Penyayang. Hal ini menyebabkan ia akan menjadi orang yang

senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan

segala nikmat Allah sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Menyadari bahwa pasti akan mati dan dimintai

pertanggungjawaban tentang segala amal perbuatan yang

dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati

dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.

4. Merasa bahwa dirinya selalu dilihat Allah SWT Yang Maha

Mengetahui. Ia merasa bahwa pada waktu ia melakukan

perbuatan yang buruk, Allah SWT mengetahuinya. Kemudian

ia berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk, karena dalam

dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari

bahwa sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya namun

(33)

d. Ciri-ciri orang yang Beriman Kepada Allah SWT

Iman adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki setiap

muslim. Tanpa keimanan, segalanya hanyalah tak berarti. Selain

seorang muslim harus meyakini rukun iman sebagai bukti

keimanannya, Allah SWT juga menyebutkan di dalam Surat

Al-Anfal ayat 2-4 tentang ciri-ciri orang yang beriman:

QS Al-Anfal ayat 2-4:



2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

(34)

[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

1. Hatinya gemetar ketika mendengar nama Allah SWT

Hanya orang yang berimanlah yang jika disebut

nama Allah SWT, gemetar hatinya, ada rasa takut

dalam hatinya. Rasa takutnya justru sebagai bentuk

mengagungkan asma Allah SWT. Maka, ketika ia akan

melakukan perbuatan dosa atau maksiat, ia pun segera

ingat Allah SWT dan takut melaksanakannya.

2. Bertambah imannya jika dibacakan ayat Al-Quran

Ketika ada seorang muslim membaca ayat

Al-Quran, maka ia akan senang mendengarnya.

Menguraikan isi Al-Quran dan As-Sunnah, ia akan

betah mendengarnya.

3. Bertawakal hanya kepada Allah SWT

Orang yang beriman akan menyandarkan segala

urusannya hanya kepada Allah SWT, bukan kepada

benda, gunung, cincin, keris, atau yang lain.

Karena orang beriman itu yakin bahwa tidak akan

terwujud suatu hal kecuali atas kehendak Allah SWT.

(35)

4. Mendirikan Shalat

Mendirikan shalat adalah bukti keimanan seseorang.

Di samping karena memang shalat adalah tiangnya

agama, kalau ia menegakkan shalatnya adalah sama

dengan ia menegakkan agamanya. Sebaliknya mana

kala ia tidak mengerjakan shalatnya, berarti sama saja ia

ia meruntuhkan agamanya dan mengabaikan agamanya

sendiri.

5. Gemar Berinfak di Jalan Allah SWT

Seseorang dikatakan beriman kepada Allah SWT

adalah ketika ia gemar menginfakkan hartanya di jalan

Allah. Allah SWT berfirman dalam QS Al Anfaal: 3-4

yang artinya:

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

2. Sedekah

a. Pengertian Sedekah

Kata sedekah berasal dari bahasa Arab (shadaqah).

Shadaqah berarti kita memberikan atau menyumbangkan sesuatu

yang baik dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT. sesuatu

(36)

Menurut Imam Nawawi, orang yang suka bersedekah

adalah orang yang benar-benar beriman secara lahir dan batin. Dia

membuktikan keimanannya dengan bersedekah. (Abdurrahman,

2009:9)

Sedekah adalah harta yang dinafkahkan dengan mengharap

pahala dari Allah SWT. Sedekah terbagi menjadi yang wajib dan

yang sunnah. Dalam penggunaan syariat, yang wajib disebut

dengan lafadz zakat, dan yang sunnah dengan lafadz sedekah.

Disebut dengan istilah sedekah, karena itu diambil dari pengertian

adanya ketulusan, baik dalam perbuatan, ucapan maupun

keyakinan. (Jam‟an,2009:11)

Jadi, sedekah adalah memberikan sesuatu dengan niat

mengharap ridha Allah SWT dan berharap untuk mendekatkan diri

kepada-Nya.

b. Hukum Sedekah

Sedekah hukumnya sunnah, sama dengan hukum infak.

Ketentuannya juga sama dengan infak. Namun, ada perbedaan

antara infak dan sedekah. Infak itu hanya berkaitan dengan

pemberian berupa harta. Sedangkan sedekah, tidak terbatas pada

harta saja. Contoh sedekah yang bersedekah dengan harta, kita

dapat bersedekah dengan membaca tasbih, takbir, dan tahmid.

(37)

sedekah. Pokoknya setiap kebaikan adalah sedekah.

(Abdurrahman, 2009: 9-10)

c. Dalil Perintah untuk Bersedekah

Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menolong

orang lain. Tentu saja, dalam hal ini tolong-menolong dalam

kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah

Al-Maa‟idah ayat 2. Salah satu bentuk pertolongan itu adalah

dengan bersedekah atau menginfakkan sebagian harta kita kepada

orang yang membutuhkannya. Bahkan, Allah SWT akan menolong

kita selama kita mau menolong orang lain.

Rasulullah Saw. bersabda, “Dan Allah SWT akan

menolong seorang hamba selama hamba itu menolong

saudaranya”(HR Muslim)

Dalam Al-Qur‟an, banyak ayat yang memerintahkan agar

kita berinfak atau bersedekah, di antaranya: (AbduArrahman,

2009: 10-11)

1.) Surah At-Thaghaabun ayat 16, “Maka, bertakwalah kamu

kepada Allah SWT menurut kesanggupanmu dan dengarlah

serta taatlah; dan infakanlah yang baik untuk dirimu. Dan

barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka

mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

2.) Surah Al-Baqarah ayat 254, “Hai orang-orang yang beriman,

(38)

Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada

lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatn, dan tidak ada lagi

syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

Anjuran untuk bersedekah atau berinfak itu ditujukan

kepada kita sebagai orang yang beriman. Terutama, kepada

orang-orang kaya dan yang mempunyai harta lebih dari kebutuhannya.

d. Keutamaan Sedekah

1.) Membersihkan dan menyucikan pelakunya (Abdurrahman,

2009: 12-13)

Allah SWT. Berfirman, dalam QS At-Taubah ayat 103:

zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

[658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari

kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda

[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat

kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda

(39)

adalah membersihkan diri dari kekikiran dan cinta yang berlebihan

terhadap harta. Sedangkan yang dimaksud dengan menyucikan

adalah menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati si pelaku serta

mengembangkan hartanya.

2.) Allah SWT melipatgandakan pahala sedekah(Abdurrahman,

2009: 14-15)

Dalam surah Al-Baqarah ayat 261 disebutkan bahwa

sedekah kita dilipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali lipat.

Dalam ayat tersebut Allah SWT memberikan perumpamaan

bahwa orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah

seperti menanam sebutir biji. Lalu, biji itu tumbuh menjadi

tujuh tangkai. Setiap tangkai menghasilkan seratus biji lagi.

Demikianlah. Allah SWT melipatgandakan pahala sedekah

atau infak bagi siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

3.) Malaikat mendoakan orang yang bersedekah (Abdurrahman,

2009: 17)

Sabda Rasulullah Saw. berikut ini. “Tidaklah para hamba

Allah melalui waktu paginya , kecuali ada dua malaikat yang

turun. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, balaslah (dengan

balasan yang berlipat) untuk orang yang suka

berinfak(dermawan), “Yang lain berdoa, “Ya Allah,

hancurkanlah dan musnahkanlah (harta) orang yang kikir” (HR

(40)

e. Adab Bersedekah

1.) Tidak mesti harta

Bersedekah tidak seperti berinfak. Jika berinfak mesti

memakai harta benda maka berdekah dapat dilakukan tanpa

harta benda.

Dalam hadits, Nabi Saw. bersabda,

“Setiap ruas tulang manusia ada sedekahnya setiap hari

selama matahari memancarkan sinarnya; mendamaikan antara

dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong seorang

membawa beban atau membantu mengangkatkan barang

bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata

yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah

sedekah, dan menyingkirkan bahaya dari jalanan adalah

sedekah. (HR Bukhari dan Murlim. Hadits Abu Hurairah r.a.)

Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersedekah.

Dengan adanya hadits di atas, setiap muslim memiliki

kesempatan yang sama dalam mendapatkan pahala sedekah.

Mereka yang memiliki kelonggaran harta, dapat bersedekah

dengan harta yang dimilikinya. Sedangkan bagi mereka yang

kekurangan harta dapat bersedekah dengan tasbih, tahmid, dan

(41)

2.) Tidak mengenal waktu

Bersedekah tidak mengenal waktu. Hendaknya, kapan pun,

kita selalu bersedekah. Entah waktu itu kita sedang

bergelimang harta, ataupun kekurangan. Bahkan, kita harus

senantiasa mencari kesempatan untuk bersedekah. Jangan

ketika ada orang meminta sedekah, justru kita melarikan diri

dengan berbagai alasan. Ketika ada seorang pengemis datang,

hendaknya kita memberinya uang.

Dalam Al-Qur‟an disebutkan bahwa orang yang bersedekah

baik dalam keadaan sempit maupun lapang termasuk ciri-ciri

orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah: 134)





134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

3.) Bersedekah hutang

Maksudnya adalah jika ada seorang yang meminjam uang

dari kita, dan setelah kita memperpanjang tempo pelunasan

utangnya kok dia tetap saja tidak mampu membayarnya maka

(42)

mengembalikan uang itu kepada kita. Inilah akhlak

Islam.sangat indah. Berbeda dengan akhlak para rentenir.

Perhatikan firman Allah SWT. Berikut dalam QS

Al-279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya . (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Jadi, kalau mengaku sebagai muslim, hendaknya kita

memerintahkan kaidah utang piutang dalam ayat ini. Dengan

menghapuskan utang saudara kita, berarti kita telah menolong

meringankan bebannya. Siapa yang meringankan beban

seorang muslim ketika di dunia maka Allah SWT akan

(43)

4.) Jangan diungkit-ungkit

Bersedekah harus dilakukan dengan ikhlas. Setelah

bersedekah, kita tidak boleh mengungkit-ungkit sedekah itu,

terutama kepada orang yang telah kita sedekahi. Ikhlas di sini

dapat kita analogikan dengan buang air besar. Kita tidak

merasa saying(Jawa: eman-eman) dengan “harta” yang kita

buang. Walaupun pada mulanya, ia adalah makanan yang

enak-enak. Tidak pernah ada orang yang mengaduk-aduk kembali

kotoran yang telah ia buang demi mencari “hartanya” yang

berharga. Sekali dibuang, ia pun melupakannya.

Perkataan yang baik atau pemberian maaf lebih baik

daripada sedekah diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan si

penerimanya. Allah SWT. Berfirman dalam QS Al- Baqarah:

(44)

dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf[167] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

[167] Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan

cara yang baik, dan maksud pemberian ma'af ialah

mema'afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si

penerima.

Kita boleh saja menyebut-nyebut sedekah kita kepada

seorang asalkan tidak didasari dengan perasaan riya. Kita

melakukan itu, hanya ingin memberi contoh perbuatan

baik. Siapa tahu hal itu akan memberi petunjuk kepada

pendengar. Allah SWT melarang orang yang

menyebut-nyebut sedekahnya karena riya atau ingin menyakiti si

penerima sedekahnya. Karena, perbuatan itu akan

menghilangkan pahala sedekah. Ibarat sebuah batu yang

dilapisi tanah, tetapi ditimpa air hujan sehingga tanahnya

(45)

Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 264

:

264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

[168] Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia

dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di

(46)

Adapun orang yang bersedekah hanya karena

mencari keridhaan Allah SWT maka baginya pahala yang

besar. (Suny, 2008: 28).

5.) Berikan yang terbaik

Berinfak atau bersedekah hendaknya tidak

tanggung-tanggung. Suatu kali, dalam sebuah pengajian saya merasa

disindir oleh ustadz bahwa kita tidak boleh tanggung-tanggung

dalam bersedekah atau berinfak.

Allah SWT. Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 267:





(47)

Setelah membaca ayat di atas, saya berharap tidak

ada lagi orang yang menyedekahkan baju bekas, celana

bekas, HP bekas, motor bekas, atau barang-barang second

lainnya yang notabene sudah tidak disukai oleh pemiliknya

sendiri. (Suny, 2008: 21-30)

f. Kemuliaan Sedekah terhadap Anak Yatim

1) Sebagai Tanda Tingkat Keimanan kepada Allah SWT

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”. QS Al Baqarah:177. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. QS Al Baqarah: 195. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Pasang surut keimanan bergantung pada kebaikan,

jenis dan jumlah amalan. Apabila suatu amal memiliki nilai

lebih baik di sisi Allah, peningkatan iman yang dihasilkan

darinya juga akan semakin besar. Iman akan mengalami

peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah dan

(48)

bertambahnya amal tentu saja berakibat tambahnya

keimanan. (Wahyudi, 2014:92-93)

Senantiasa berbuat kebaikan akan meningkatkan

keimanan kita kepada Allah SWT. Kebaikan dapat berupa

amalan wajib ataupun sunnah. Amalan wajib misalnya

shalat. Dan amalan sunnah adalah bersedekah.

2) Mengharapkan untuk Mendapat Keridhaan Dari-Nya

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al Baqarah: 272)

Cahaya ridha akan membuat orang yang meridhai Allah

SWT menerima segala ketentuan-Nya. Ia tidak akan ikut

mengatur bersama-Nya. Ia merasa cukup dengan

pengaturan-Nya yang baik. (Al-Sakandari, 2013:52)

3) Menyempurnakan Ketaqwaan Kepada Allah SWT

(49)

Di antara manusia, ada pula orang-orang yang dikuasai oleh

kekuatan amal sukarela. Kekuatan terebut menghasilkan

perilaku yang baik, sikap zuhud terhadap dunia, cinta kepada

akhirat, kesungguhan dan kontinuitas dalam beramal.

(Al-Haddad, 2008: 62-63)

Bersedekah merupakan salah satu bukti ketaqwaaan kepada

Allah SWT. Karena bersedekah adalah salah satu perilaku

zuhud, yaitu lebih mencintai akhirat dari pada dunia.

4) Mendapatkan Pahala dari Allah SWT

Berharap kepada Allah SWT adalah kekuatan tertinggi

mukmin. Orang yang beriman akan selalu menghadapi cobaan

dengan hati yang teguh. Mereka tidak ragu, mereka tidak jatuh

dalam perjalanan ini. Mereka tahu bahwa di balik setiap cobaan

pasti ada hikmah tersendiri dan dia sendiri akan layak

menerima manfaat dari hikmah itu. (Shirazi, 2009:30)

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. An-Nisa:104. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Artinya,kita berharap mendapat keselamatan dari segala

persoalan, ampunan dan pahala, ttetapi orang kafit tidak

memiliki harapan semacam ini. Mereka selamanya berada

(50)

5) Mengajarkan Banyak Kebaikan

Islam memberikan perhatian yang penuh kepada anak

yatim sejak dari pendidikannya, asuhan dan perawatannya

agar ia mendpatkan kehidupan yang baik sebagaimana

anak-anak lain yang hidup bersama ayah dan ibundanya

dan kelak ia menjadi orang yang berguna bagi masyarakat

muslim. (Masykur, 2010:21)

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” QS Al Baqarah:83. ( Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)

Ayat diatas menunjukkan bahwa bebuat baik kepada anak

yatim sangat ditekankan sebagaimana berbuat baik kepada

kedua orang tua dan berbuat baik kepada kerabat dekat.

3. Majelis Doa Mawar Allah

Mawar Allah terispirasi dari surat Ar – rahman ayat 37 – 38. Ayat

tersebut menjelaskan tentang “Maka apabila langit telah terbelah dan

menjadi mawar merah seperti (kilauan) minyak. Maka nikmat Tuhan

kamu yang manakah yang kau dustakan?”, itu adalah sebagai salah

satu bukti dari wujud nikmat Allah SWT. Di dalam ayat tersebut

(51)

dibuktikan oleh seorang ilmuwan yang bernama Hubbel yang berhasil

membuat foto Nebula yang menakjubkan. Nebula adalah kumpulan

dari 250.000.000.000 x 300.000.000.000 bintang atau kira – kira

75.000.000.000.000.000.000.000 bintang. Semua itu milik Allah,

semua itu baru secuil dari Kerajaan Allah SWT, dan yang lebih

menakjubkan adalah foto nebula tersebut berbentuk “Mawar Merah”

yang merekah dan nampak bersinar karena terdiri atas miliyaran

bintang. Seakan Allah SWT mengatakan kepada umat-Nya, “Aku ini

Allah SWT.” Ini adalah salah satu dari sekian miliyar Kerajaan-Ku.

Aku adalah Zat Yang Maha Kuasa dan Menguasai alam semesta, Aku

persembahkan alam semesta ini kepadamu, dalam bentuk mawar

merah merekah yang sangat indah, karena Aku sungguh sangat

mencintaimu”.(Tim Majelis Doa Mawar Allah)

Majelis Do‟a adalah suatu majelis (perkumpulan) yang di

dalamnya terdapat kegiatan saling mendo‟akan antar jama‟ah dan do‟a

bersama (dzikir) bagi umat Islam yang sedang menghadapi masalah

besar dengan harapan agar diberikan jalan keluar atas masalahnya atau

(52)

4. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah Studi Pada

Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah

Pendidikan keimanan adalah pendidikan untuk mendekatkan diri

kepada-Nya. sehingga ia memperbanyak amal, selalu bertaqwa,

mencegah diri dari hawa nafsu, selalu melatih diri dan bermujahadah

(berjihad untuk memperbaiki kehidupan dan kesempurnaan

kepribadian) niscaya terbukalah baginya pintu hidayah (petunjuk),

tersingkaplah segala hakikat dari akidah (apa yang diyakini) ini

dengan “Nur Illahi”.

Keimanan itu dapat bertambah dengan jalan terus menerus

mengerjakan amalan-amalan yang shaleh serta memperbanyaknya

dengan tujuan semata-mata untuk mengharapkan keridaan Allah SWT

dengan tulus ikhlas pula dalam mengamalkan dan tidak untuk maksud

yang selain itu. Makin bertambah amal perbuatan baik seorang itu,

makin bertambah pula keimanannya. Sebaliknya, makin sedikit amal

shaleh yang dikerjakannya, makin berkuranglah keimanan dalam

kalbunya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menolong orang

lain. Tentu saja, dalam hal ini tolong-menolong dalam kebajikan dan

takwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Maa‟idah ayat

2. Salah satu bentuk pertolongan itu adalah dengan bersedekah atau

(53)

membutuhkannya. Bahkan, Allah SWT akan menolong kita selama

kita mau menolong orang lain.

Sedekah adalah memberikan atau menyumbangkan sesuatu yang

baik dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT. sesuatu yang kita

berikan itu berupa harta, jiwa, maupun tenaga.

Dengan sedekah akan membersihkan diri dari kekikiran dan cinta

yang berlebihan terhadap harta.

Dengan sering hadir dimajelis orang-orang shaleh. Aura keburukan

menular, begitu juga aura kebaikan. Dengan berkumpul bersama

orang-orang shaleh, insya Allah kita akan mendapat gairah dan

semangat baru karena di sekeliling kita, terdapat orang-orang yang taat

kepada Allah SWT. Bahkan keutamaan ikut majelis semacam itu

cukup banyak, di antaranya sebagaimana yang disabdakan Nabi

Muhammad, “Tidak ada suatu kaum yang menghadiri majelis zikir

(pengajian) kecuali malaikat akan mengelilinginya (selama berada di

dalam majelis), dilingkupi noleh rahmat-Nya, diturunkan ketenangan

(ke dalam hatinya), dan disebut-sebut namanya oleh Allah SWT di

hadapan makhluk-makhluk langit

Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah merupakan majelis doa yang

menyelenggarakan kegiatan yang lebih kompleks . Dengan berkumpul

dan berharap mendapatkan berkah dari majelis yang mulia yaitu:

(54)

balasan dari Allah SWT, shalat taubat, shalat hajat, santunan anak

yatim, doa dan pembacaan Asmaul Husna.

B. Kajian Pustaka

Dasar atau acuan berupa teori-teori atau temuan-temuan dari

berbagai hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang kiranya perlu

untuk dijadikan sebagai data acuan atau pendukung bagi penelitian ini.

Hasil penelitian terdahulu yang hamper memilki kesamaan topik dengan

penelitian yang dilakukan peneliti di antarayanya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Aditia Pramudika Yuda yang berjudul

Pengaruh Intensitas Mengikuti Majelis Doa Mawar Allah Terhadap

Perilaku Dermawan Studi Pada Peserta Majelis Doa Mawar Allah” Biro

Psikologi Tazkia STAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa dengan mengikuti Majelis Doa Mawar Allah dapat menjadikan

jamaah yang mengikutinya menjadi orang yang dermawan.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhibatul Wahyuni yang berjudul

Hubungan Intensitas Mengikuti Majelis Doa Mawar Allah Terhadap

Sikap Tawakal (Studi Pada Peserta Majelis Doa Mawar Allah” Biro

Psikologi Tazkia STAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa jamaah bisa lebih bertawakal dengan mengikuti Majelis Doa

Mawar Allah.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurman Jaya yang berjudul Konsep

(55)

dengan rasa ikhlas serta rasa yakin untuk jalan menuju ibadah kepada

Allah SWT.

4. Penelitian yang dilakukan oleh M Maskhuri yang berjudul Sedekah dan

Gerakan Dakwah Islam(Studi Pemikiran Yusuf Mansur) Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kita bersedekah akan

dikembalikan oleh Allah Swt akan dibalas oleh Allah SWT.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiah Ratnasari yang berjudul

Konsep Sedekah Dalam Persepektif Pendidikan Islam (Studi Analisis

Isi Terhadap Buku Ajar Fiqih di Madrasah) Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa penerapan materi buku ajar usul fikih adalah

(56)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Setiap penelitian memerlukan jenis penelitian yang sesuai dengan

masalah yang dihadapi. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam

penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif.

Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif-analitis. Data yang

diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan,

analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi

penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti

segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi,

mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data

aslinya (tidak ditransformasikan dalam bentuk angka). Hasil analis

data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan

dalam bentuk naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya

menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu

fenomena terjadi. (Asmani, 2011:75)

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan jenis penelitian

deskriptif. Di dalam penelitian deskriptif tidak diperlukan administrasi

dan pengontrolan terhadap perlakuan. Penelitian deskriptif tidak

dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya

(57)

Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan

pendidikan keimanan melalui sedekah peserta Majelis Doa Mawar

Allah. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi

mengenai status gejala yang ada yaitu keadaan gejala perubahan

pendidikan keimanan melalui sedekah peserta Majelis Doa Mawar

Allah

Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengumpul

data mengenai pendidikan keimanan melalui sedekah pada kelompok

jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah. Peneliti harus berusaha untuk

mengamati, mendampingi, dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas

terlaksananya Majelis Doa Mawar Allah dalam pendidikan keimanan

kepada Allah melalui sedekah.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan secara umum di Majelis Doa Mawar

Allah Biro Konsultasi Tazkia IAIN Salatiga, khususnya Kantor Biro

Konsultasi Tazkia IAIN Salatiga, masjid Darul Amal Salatiga dimana

kegiatan Majelis Doa Mawar Allah dilaksanakan setiap awal bulan di

tempat tersebut. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena

peneliti tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang ada dalam majelis

tersebut. C. Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah

(58)

kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber

data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab

pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. (Suharsimi

Arikunto, 2014:172).

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer

Data primer(primary data) yaitu data yang dikumpulkan

sendiri oleh perorangan/suatu organisasi langsung melalui

objeknya. Digunakan untuk mendapatkan data tentang

pendidikan keimanan melalui sedekah Peserta Majelis Doa

Mawar Allah. Adapun untuk memperoleh data dengan

melakukan wawancara dengan para informan yang telah

ditentukan meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan

pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah

Peserta Majelis Doa Mawar Allah. Adapun sumber data dalam

penelitian ini yaitu: Pembina Majelis Doa Mawar Allah,

Pengurus Majelis Doa Mawar Allah, dan jamaah Majelis Doa

Mawar Allah.

Dari informasi-informasi tersebut akan dilakukan

penelusuran lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.

2. Data sekunder

(59)

dikumpulkan oleh pihak instansi lain. Data sekunder dalam

penelitian ini adalah foto terkait dengan kegiatan pendidikan

keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah Peserta Majelis

Doa Mawar Allah. (Supranto, 2003: 20-21)

D. Prosedur Pengumpulan Data

1. Metode interview atau wawancara

Wawancara menurut W. Gulo adalah bentuk komunikasi

langsung antara peneliti dan responden. Komunikasi berlangsung

dalam bentuk Tanya jawab dalam hubungan tatap muka, sehingga

gerak dan mimik responden merupakan pola media yang

melengkapi kata-kata secara verbal. Karena itu, wawancara tidak

hanya menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat

menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif, yang dimiliki

oleh responden yang bersangkutan.

Wawancara adalah salah satu bagian yang terpenting dari

setiap survai. Tanpa wawancara peneliti akan kehilangan informasi

yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung kepada

responden. Data semacam itu merupakan tulang punggung suatu

penelitian survai. (Singarimbun dan Efendi, 1983:145).

Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara:

1. Pedoman wawancara tidak tersuktur, yaitu pedoman

wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan

(60)

diperlukan, bahkan hasil dengan jenis pedoman ini lebih

banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai

pengemudi jawaban responden. Jenis interview ini cocok untuk

penelitian kasus.

2. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara

yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list.

Pewawancara tinggal membubuhkan tanda v(check) pada

nomor yang sesuai.(Arikunto, 2014:270).

Salah satu metode pengumpulan data ialah dengan jalan

wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya

langsung kepada responden tentang pendidikan keimanan

kepada Allah SWT melalui sedekah Peserta Majelis Doa

Mawar Allah

Dalam proses penelitian diperlukan adanya persiapan

wawancara. Tahap pertama ialah peneliti dan persiapan

wawancara. Sebelum peneliti melaksanakan tugas lapangan,

beberapa hal harus sudah dipersiapan terlebih dahulu dengan

masak. Tahap yang kedua adalah pewawancara dan persiapan

wawancara. Latihan wawancara dan penjelasan tentang

masalah lapangan merupakan bagian yang penting dalam

survai wawancara(interview survey). Meskipun pewawancara

(61)

penyampaian instruksi lapangan tetap perlu diadakan.

(Singarimbun, 1983:148)

Wawancara mempunyai tujuann tertentu yang disadari oleh

kedua belah pihak, walaupun pada mulanya informan belum

mempunyai gambaran yang jelas informasi apakah sebenarnya

diharapkan dari padanya. Tujuan wawancara perlu dijelaskan

lebih dahulu oleh peneliti pada tiap wawancara selanjutnya.

Wawancara yang semula bersifat informal lambat laun beralih

menjadi lebih formal, walaupun keakraban senantiasa

dipelihara. Peneliti makin lama makin banyak mengatur

jalannya wawancara, namun ia selalu menjauhi sikap otoriter.

Ia senantiasa menyadari bahwa informan memegang pernanan

penting karena dialah sumber informasi. (Nasution,

1998:75-76).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

dengan menggunakan wawancara dapat memperoleh gambaran

yang lebih mendalam tentang masalah yang sedang diteliti.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

dengan menggunakan wawancara dapat memperoleh gambaran

yang lebih mendalam dan objektif tentang fokus maslah yang

Referensi

Dokumen terkait