PENDIDIKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT
MELALUI SEDEKAH (
STUDI PADA JAMA’AH
MAJELIS DOA MAWAR ALLAH )
SKRIPSI
Diajukan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun oleh:
Liana Nurmawati
111-14-249
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
▸ Baca selengkapnya: peta konsep hakikat mencintai allah swt
(2)(3)(4)(5)MOTTO
“Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata
baik atau diam.”
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.” QS.
Al-Baqarah: 195. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah dengan ijin Allah SWT skripsi ini selesai. Skripsi ini saya
persembahkan untuk orang-orang yang telah mendorong saya untuk selalu
memperjuangkan mimpiku:
1. Bapak dan Ibuku tersayang, Bapak Muhibbin dan Ibu Budiyatun yang selalu
memberikan kasih sayang, doa, dukungan, bimbingan, dan nasehat dalam
kehidupanku.
2. Ibu Nyai Hjh. Latifah Zoemri dan keluarga, terima kasih atas semua ilmu
yang telah diberikan semoga bermanfaat dan berkah.
3. Kedelapan kakakku beserta pasangannya: Mbak Indah, Mas Dalono, Mas
Agus, Mbak Warni ,Mas Dudin, Mbak Wati , Mas Alex, Mbak Sovi , Mas
Beni , Mbak Wiwin, Mas Suwarsono , Mas Andi , Mbak Lilik , Mas Edi
ketujuh belas ponakakanku: Tuhin, Yuan, Ilham, Alm. Candra, Fajar, Keyzia,
Ajeng, Daffa, Hafid, Fatih, Al, Ais, Nabila, Juna, Jino, Raesha dan adeknya
Al yang tak pernah putus menyemangatiku.
4. Seluruh Asatidz PPTI Al-Falah, terima kasih atas semua ilmu yang telah
diberikan semoga bermanfaat dan berkah.
5. Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd. yang telah sabar membimbingku sehingga
skripsi ini dapat selesai.
6. Semua dosen dan guru-guru yang telah memberi imu kepadaku.
8. Keluarga Besar Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga.
9. Keluarga besar Biro Konsultasi Psikologi Tazkia IAIN Salatiga.
10.TIM One Student Save One Student/Family IAIN Salatiga.
11.Tim Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Psikologi Tazkia.
12.Keluarga besar Forum Komunikasi –Mahasiswa Magelang (FK-WAMA).
13.Keluarga besar Al Falah Anak Santri Magelang (Al-Asma).
14.Keluarga Besar RA/TK AL-Falah Salatiga.
15.Sahabat-sahabat perjuangan PPTI Al –Falah Salatiga serta kamar B6
Angkatan 2014 (Aini, Rodziah, Rully, Isti, Eva, Malikah Ummah, Nia, April,
Luluk, Nurul, Nikmah, Miladil, Herli, Erika, Mpit, Uswatun, Tyas, Ella).
16.Teman-temanku 8S: Dwil, Hida, Irma, Huda, Fajar, Ari, Idwal.
17.Teman-temanku 4S: Melati, Mika, Fitri, Choir.
18.Teman-teman PAI G yang selalu kompak.
19.Teman-teman PPL SMP N 1 Tengaran (Zakia, Apid, Tutik, Izatin,Chusna,
Rifki, Dika, Murahman).
20.Teman-teman KKN Posko 15 (Yofa, Rista, Evi, Okta, Desta, Bilal, Feli).
21.Mas Anam yang selalu memberikan semangat dan motivasi.
22.Calon imamku yang telah dipersiapkan Allah SWT untukku ,dimanapun
engkau berada semoga kita segera dipertemukan oleh Allah SWT dengan
ridha-Nya.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim
Puji syukur alhamdulillahi robbil’alamin, penulis panjatkan kepada Allah
SWT yang selalu memberikan nikmat,karunia, taufik, serta hidayah-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : Pendidikan
Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah Studi Pada Jama‟ah Majelis Doa
Mawar Allah Tahun 2018.
Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi
agung Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta para pengikutnya yang
selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana beliaulah satu-satunya umat
manusia dapat mereformasi umat manusia dari zaman terang benerang yakni dengan
ajarannya agama Islam.
Penulisan skripsi ini pun tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai
pihak yang telah berkenan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena
itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Ibu Siti Rukhayati, M. Ag. selaku Ketua Jurusan PAI IAIN Salatiga.
3. Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd. selaku pembimbing skripsi sekaligus
pembina Majelis Doa Mawar Allah yang telah membimbing dengan ikhlas,
mengarahkan dan meluangkan waktunya untuk penulis sehingga skripsi ini
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...ii
PENGESAHAN KELULUSAN ...iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN...iv
HALAMAN MOTTO ...v
PERSEMBAHAN ...vi
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI ...x
ABSTRAK ...xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...xiv
BAB 1: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
1. Manfaat Teoritis ... ...7
2. Manfaat Praktis ... ... 7
E. Penegasan Istilah ... 8
BAB II: LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori ... 14
1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 14
a. Pengertian Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 14
b. Tujuan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 17
c. Fungsi Iman Kepada Allah SWT ... 18
d. Ciri-ciri orang yang Beriman Kepada Allah SWT ... 19
2. Sedekah ... 21
a. Pengertian Sedekah ... 21
b. Hukum Sedekah ... 22
c. Dalil Perintah untuk Bersedekah ... 23
d. Keutamaan Sedekah ... 24
e. Adab Bersedekah ... 26
f. Kemuliaan Sedekah terhadap Anak Yatim ... 33
3. Majelis Doa Mawar Allah ... 36
4. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT ... 36
B. Kajian Pustaka ... 40
BAB III: METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ... 43
C. Sumber Data ... 43
E. Analisis Data ... 49
F. Pengecekan Keabsahan Data ... 50
BAB IV: PAPARAN DAN ANALISIS DATA A. Analisis Data ... 52
1. Sejarah Berdirinya Majelis Doa Mawar Allah... 52
2. Visi dan Misi Majelis Doa Mawar Allah ... 56
3. Majelis Doa Mawar Allah Sebagai Wadah ... 57
4. Perkembangan Majelis Doa Mawar Allah ... 59
5. Susunan Pengurus Majelis Doa Mawar Allah ... 62
6. Gambaran Informan ... 64
7. Kegiatan Majelis Doa Mawar Allah ... 65
8. Keimanan kepada Allah SWT melalui Sedekah ... 69
B. Analisis Data ... 77
1. Model Kegiatan ... 77
2. Keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah... 82
BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ... 84
B. Saran ... 85
ABSTRAK
Nurmawati, Liana. 2018. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah (Studi Pada Jama’ah Majelis Doa Mawar Allah). Tahun 2018. Skripsi.Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Drs. H. Ahmad Sultoni, M. Pd.
Kata Kunci: Pendidikan Keimanan, Sedekah, dan Majelis Doa Mawar Allah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah studi pada jama‟ah majelis doa mawar Allah. Fokus masalah yang akan dikaji adalah; 1) Bagaimana kegiatan yang berisikan pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah dilaksanakan pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah, 2) Bagaimana pengaruh sedekah terhadap peningkatan keimanan kepada Allah
SWT pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research)dan bersifat deskriptif kualitatif maka data dari penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan triangulasi sumber sebagai instrumen untuk mengecek validitas data. Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber primer yakni hasil wawancara pembina, pengurus serta jama‟ah, dan sumber sekunder yang dapat berupa foto-foto kegiatan terkait Majelis Doa Mawar Allah.
Hasil penelitiian diketahui bahwa (1) Kegiatan yang berisikan pendidikan
keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah dilaksanakan pada jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah dalah amaliah sedekah. Santunan sedekah diberikan kepada anak yatim karena anak yatim itu membutuhkan bantuan. Sedekah itu ada yang difasilitasi oleh tim Majelis Doa Mawar Allah berupa bingkisan dan ada pula jama‟ah yang membawa sendiri untuk diberikan langsung kepada anak yatim. Sebenarnya sedekah itu untuk membimbing kita agar yakin kepada Allah SWT. Untuk bisa yakin kepada Allah SWT, kadang-kadang jama‟ah perlu jembatan. Jama‟ah perlu media. Salah satunya adalah sedekah. Urutan sedekah diletakkan sebelum berdoa. Untuk sampai ke
doa itu jama‟ah perlu melakukan doa-doa, (2) Pengaruh Sedekah terhadap
Peningkatan Keimanan Kepada Allah SWT pada Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah adalah Dengan sedekah doanya akan diijabah oleh Allah SWT, dengan sedekah dapat cepat terkabulnya doa, dengan sedekah dapat menyelesaikan masalah, dengan
sedekah membuat jama‟ah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT telah memberi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara
Lampiran 2 Verbatim Wawancara
Lampiran 3 Surat Pembimbing dan Asisten Pembimbing Skripsi
Lampiran 4 Surat Keterangan Bukti Penelitian
Lampiran 5 Lembar Konsultasi Skripsi
Lampiran 6 Pernyataan Publikasi Skripsi
Lampiran 7 Daftar Nilai SKK
Lampiran 8 Daftar Riwayat Hidup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dalam pengertiannya yang paling dasar merupakan
proses perwujudan diri secara utuh yang menyangkut aspek fisik,
intelektual, moral dan sosial. Proses pendidikan sesungguhnya menyatu
dengan poses perkembangan setiap pribadi sebagai makhluk yang
dianugerahi kemampuan untuk mendidik dirinya. Setiap pribadi
merupakan pendidik yang aktif bagi dirinya sendiri. Maka, pendidikan
seharusnya merupakan proses pengembangan pengalaman aktual setiap
pribadi dalam relasinya dengan alam semesta. (Soewandi dkk, 2005:23)
Pendidikan adalah upaya yang dilakukan secara sadar dalam
rangka mengembangkan potensi yang telah dimiliki oleh manusia kepada
kondisi yang lebih baik. Manusia dipandang sebagai makhluk yang
memiliki potensi dan dapat berkembang melalui proses pendidikan.
Potensi adalah kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang dan belum
menjadi kenyataan yang terpola untuk menghadapi lingkungan. (Rasimin,
2014:61)
Dengan adanya pendidikan tersebut, maka kita akan mendapatkan
sesuatu yang berharga untuk menjadikan manusia menjadi pribadi yang
lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bertujuan untuk
itu dicapai bila manusia semakin menyempurnakan dirinya semakin penuh
menuju yang Ilahi. Maka manusia secara bebas mengembangkan dirinya
untuk semakin menjadi sempurna. Semakin baik kesempurnaan manusia
itu ternyata hanya dapat tercapai bila dalam proses penyempurnaan itu ia
menyempurnakan sesamanya dan dunia tempat dia berada. Tanpa
menyempurnakan mereka itu, maka manusia tidak dapat menjadi semakin
sempurna. Secara sederhana itu berarti bahwa manusia baru akan menjadi
lebih baik, lebih berkembang, lebih mendekati Tuhan, apabila dalam hidup
ini dia berdamai dengan sesama manusia, dengan dunia alam ini, dan tentu
dengan Tuhan sendiri. (Soewandi dkk, 2005:108)
Manusia juga harus berdamai dengan Tuhan, Sang Pencipta.
Secara sederhana perdamaian dengan Tuhan dapat diusahakan bila
manusia memang mempunyai hubungan dekat dengan Tuhan sendiri.
Hubungan dekat dengan Tuhan ini oleh kebanyakan manusia dilakukan
dengan iman, kepercayaan atau penghayatan agama mereka
masing-masing. Dengan relasi baik dan dekat dengan Sang Pencipta itu sendiri,
manusia diangkat dan disatukan dengan satu sumber kebahagiaan yaitu
Tuhan. Dengan relasi yang baik setiap manusia dengan Sang Pencipta,
diharapkan bahwa setiap manusia dapat semakin menghargai orang lain
dan menerima orang lain sebagai saudaranya karena masing-masing
berelasi dekat dengan Sang Pencipta sendiri.
apa yang telah dijanjikan oleh Allah SWT bahwa iman adalah keyakinan
dan perbuatan. (Az-Zindani dkk, 2006:21).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”. QS Al-Hujurat: 15. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Di dalam surat Al-Hujurat ayat 15 yang berisi tentang kita dapat
mengetahui bahwa iman yang diterima dan yang benar adalah keyakinan
yang tidak dicampuri dengan keraguan dan amalan yang di antaranya
berupa jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT.
Syekh Abdullah Ba Alawi Al-Hadad berkata:
“Sebenarnya keimanan dan kemunafikan itu dapat bertambah atau
berkurang. Keimanan itu dapat bertambah dengan jalan terus menerus
mengerjakan amalan-amalan yang shaleh serta memperbanyaknya dengan
tujuan semata-mata untuk mengharapkan keridaan Allah SWT dengan
tulus ikhlas pula dalam mengamalkan dan tidak untuk maksud yang selain
itu. Makin bertambah amal perbuatan baik seorang itu, makin bertambah
pula keimanannya. Sebaliknya, makin sedikit amal shaleh yang
dikerjakannya, makin berkuranglah keimanan dalam kalbunya. (Zainuddin
Anjuran untuk bersedekah atau berinfak ditujukan kepada kita
sebagai orang yang beriman. Terutama, kepada orang-orang kaya yang
mempunyai harta lebih dari kebutuhannya.
Dalam pelaksanaanya, Islam memberikan tuntunan yang sangat
bagus bagaimana kita bersedekah. (Abdurrahman,2009:11). Di satu sisi
kita dianjurkan untuk bersedekah atau berinfak, tetapi di sisi lain jangan
berlebihan. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini:
QS AL-ISRA ayat 29:
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula
terlalu Pemurah.
Dengan demikian, bersedekah itu sangat penting artinya. Kita
beramal shaleh dengan bersedekah atau berinfak, tetapi jangan berlebihan
agar tidak menjadi orang yang tercela dan menyesal.
Majelis Doa Mawar Allah adalah sebuah wadah kegiatan sosial
keagamaan yang berwujud terapi religi bersifat massal di bawah naungan
belakangi adanya kegiatan ini adalah adanya niat untuk membantu para
jama‟ah yang sedang mengalami masalah atau kesulitan, yang mana dalam
kegiatan tersebut terdapat satu momen menerapi jama‟ah dalam jumlah
yang banyak dan hanya mengharap pertolongan dari Allah SWT. Sehingga
dapat dikatakan bahwa kegiatan MDMA adalah sebagai wadah agar
terwujudnya kesadaran dalam diri masyarakat atau jama‟ah akan masalah
yang dihadapinya berasal hanya atas kehendak Allah SWT “ Sang Pemberi
Masalah” dan menumbuhkan keyakinan bahwa hanya Allah SWT “Sang
Penyelesai Masalah.”
Majelis Doa Mawar Allah merupakan majelis doa yang
menyelenggarakan kegiatan yang lebih kompleks . Dengan berkumpul dan
berharap mendapatkan berkah dari majelis yang mulia yaitu: testimoni
orang yang pernah bersedekah kemudian mendapatkan balasan dari Allah
SWT, shalat taubat, shalat hajat, santunan anak yatim, doa dan pembacaan
Asmaul Husna.
Bagi jama‟ah yang sudah aktif mengikuti Majelis Doa Mawar
Allah selalu berusaha untuk memperkuat keimanan melalui sedekah
dengan cara mengikuti Majelis Doa Mawar Allah dan berharap agar bisa
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan pada latar belakang di
atas penulis ingin melakukan penelitian dan menyusun sebuah skripsi yang
berjudul “Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat
difokuskan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Kegiatan yang Berisikan Pendidikan Keimanan Kepada
Allah SWT melalui Sedekah dilaksanakan pada Jama‟ah Majelis Doa
Mawar Allah?
2. Bagaimana Pengaruh Sedekah terhadap Peningkatan Keimanan Kepada
Allah SWT pada Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pendidikan Keimanan
melalui Sedekah Peserta Majelis Doa Mawar Allah.
1. Untuk mengetahui Kegiatan yang Berisikan Pendidikan Kegiatan yang
Berisikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah
Dilaksanakan Peserta Majelis Doa Mawar Allah.
2. Untuk mengetahui deskripsi tentang Pengaruh Sedekah terhadap
Peningkatan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT pada Jama‟ah
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari hasil penelitian ini sebagi berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan sumbangasih dan kontribusi pada Fakultas Tarbiyah
dan Ilmu Keguruan (FTIK) khususnya jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) di bidang psikologi pendidikan.
b. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dalam menerapkan
konsep-konsep dan mengembangkan pemikiran tentang pendidikan
keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah
c. Menambah wawasan khasanah keilmuan sekaligus bisa dijadikan
bahan acuan dalam penulisan lebih lanjut yang kritis dan
representative.
d. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bahan referensi bagi
para peneliti di bidang psikologi pendidikan dan pendidikan
keagamaan.
2. Manfaaat Praktis
a. Mengetahui konsep pendidikan keimanan kepada Allah SWT
melalui sedekah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Tazkia
IAIN Salatiga
b. Penelitian ini memberikan kontribusi kajian dan pengetahuan
tentang pengembanagn pendidikan keimanan melalui sedekah
c. Mengetahui peran pendidikan keimanan kepada Allah SWT dalam
sedekah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi Tazkia IAIN
Salatiga
d. Bagi para jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah Biro Konsultasi
Tazkia IAIN Salatiga, hasil penelitian ini dapat membantu dan
menciptakan pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui
sedekah
e. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk
memberikan pendidikan psikologi bagi lembaga dan mahasiswa
IAIN Salatiga
Bagi peneliti, untuk memotivasi diri dan menjadikan bekal hidup
dalam bermasyarakat, beribadah kepada Allah SWT dan berharap menjadi
hamba yang beruntung di dunia dan akhirat
E. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi tafsir pada judul yang penulis ajukan, maka perlu
kiranya penulis jelaskan pengertian frase dalam judul di atas, sebagai
berikut:
1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT
Menurut KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara,
perbuatan mendidik. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
Keimanan menurut KBBI adalah keyakinan, ketetapan hati,
keteguhan hati. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
2007:425)
Kehidupan religius stabil, sehingga tidak mudah
diombang-ambingkan oleh perubahan keadaan, karena kompas hidupnya ialah
Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, dan Penyayang, yang diimani
oleh manusia yang telah dewasa dan stabil, sebagai menusia
seutuhnya. (Pribad, 1987:75)
Pendidikan keimanan adalah pendidikan untuk mendekatkan diri
kepada-Nya. sehingga ia memperbanyak amal, selalu bertaqwa,
mencegah diri dari hawa nafsu, selalu melatih diri dan bermujahadah
(berjihad untuk memperbaiki kehidupan dan kesempurnaan
kepribadian) niscaya terbukalah baginya pintu hidayah (petunjuk),
tersingkaplah segala hakikat dari akidah (apa yang diyakini) ini
dengan “nur Illahi.
Pendidikan keimanan kepada Allah SWT adalah pendidikan untuk
meyakini keberadaan Allah SWT beserta sifat-sifat yang dimiliki-Nya.
(Muchtar, 2008:26). Maksudnya kita harus yakin bahwa Allah SWT
itu Dia memiliki sifat-sifat yang mulia (Asmaul Husna). Beriman
kepada Allah SWT merupakan dasar utama keimanan, dari sinilah
melahirkan ketaatan terhadap lainnya. Hanya ketaatan yang
berdasarkan keimanan kepada Allah SWT sajalah yang benar dan akan
2. Sedekah
Sedekah menurut KBBI adalah pemberian sesuatu kepada fakir
miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan
zakat firtrah sesuai dengan kemampuan pemberi(derma).
Menurut Imam Nawawi, orang yang suka bersedekah adalah orang
yang benar-benar beriman secara lahir dan batin. Dia membutikan
keimanannya dengan bersedekah. (Abdurrahman, 2009:9)
Jadi, sedekah adalah memberikan sesuatu dengan niat untuk
mengharap ridha-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Majelis Doa Mawar Allah
Majelis menurut KBBI adalah lembaga atau organisasi sebagai
wadah pengajian.
Majelis berasal dari bahasa arab yaitu majelisan yang berarti
tempat duduk. Menurut KBBI majelis adalah pertemuan dengan orang
banyak, sidang, rapat.
Doa menurut KBBI adalah permohonan, harapan, permintaan,
pujian kepada Tuhan.
Sedangkan doa menurut Imam at Thaibi yang dimaksud berdoa
menurut beliau adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan
membutuhkan Allah SWT, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan
untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh
Jadi doa adalah sebuah permohonan kepada Allah SWT dan bentuk
rasa membutuhkannya.
Allah SWT Berfirman dalam
QS Al Baqarah ayat 186:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS Al Baqarah:186.
(Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah,2010)
Majelis Do‟a Mawar Allah adalah sebuah wadah kegiatan sosial
keagamaan yang berada di bawah Biro Konsultasi „TAZKIA” IAIN
Salatiga, sebagai wadah yang dibentuk untuk membantu para jama‟ah
yang sedang mengalami masalah atau kesulitan, dengan mengharap
pertolongan dari Allah SWT.(Pembina tim Majelis Doa Mawar Allah)
F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyusun serta
mempermudah pemahaman terhadap penulisan proposal ini, penulis
proposal ini dikelompokkan menjadi 5 bab. Di mana antara bab satu
BAB I : PENDAHULUAN
Bagian ini merupakan pendahuluan, yang dikemukakan dalam
bagian pertama ini akan dibahas beberapa sub bahasan, yaitu: latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, penegasan istilah dan sistematika penulisan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Landasan Teori yang berisi tinjauan umum tentang peran Majelis
Doa Mawar Allah dalam pendidikan keimanan melaui sedekah, terdiri
dari beberapa sub bab, diantaranya yaitu pembahasan Pengertian
Pendidikan Keimanan, Tujuan Pendidikan Keimanan, Fungsi Iman
Kepada Allah SWT, Ciri-ciri orang yang Beriman, Pengertian
Sedekah,Hukum Sedekah, Dalil Perintah Untuk bersedekah,
Keutamaan Sedekah, Adab Bersedekah, Majelis Doa Mawar Allah,
Kemuliaan Sedekah Kepada Anak Yatim, Pendidikan Keimanan
Kepada Allah SWT melalui Sedekah Studi Pada Jama‟ah Majelis Doa
Mawar Allah SWT. Kajian pustaka yang berisi tentang kajian
penelitian terdahulu.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bagian ini berisi tentang Jenis Penelitian, Lokasi Dan Waktu
Penelitian, Sumber Data, Prosedur Pengumpulan Data, Analisis
BAB IV : PAPARAN DAN ANALISIS DATA
`Bagian ini berisikan uraian data-data yang didapat dari lapangan
yaitu gambaran umum Majelis Doa Mawar Allah meliputi sejarah
berdirinya Majelis Doa Mawar Allah, visi dan misi Majelis Doa
Mawar Allah, dasar pemikiran lahirnya Majelis Doa Mawar Allah
sebagai wadah, perkembangan Majelis Doa Mawar Allah, susunan
pengurus Majelis Doa Mawar Allah, gambaran informan Majelis Doa
Mawar Allah, dan kegiatan Majelis Doa Mawar Allah, pendidikan
keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah studi pada jama‟ah
Majelis Doa Mawar Allah ,analisis data deskriptif penelitian
Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT melalui Sedekah studi pada
jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah.
BAB V : PENUTUP
Merupakan kajian paling akhir dari skripsi ini, yang mana pada
bagian ini berisi kesimpulan penulis dari seluruh pembahasan yang
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT
a. Pengertian Pendidikan Keimanan Kepada Allah
Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat
awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan
memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan
diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya, pengertian
“pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan.
Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat
diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu
sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara
bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. (Syah, 2013: 10)
Jadi, pendidikan adalah sebuah upaya untuk memperbaiki
diri. Untuk memperoleh pengetahuan melalui pengajaran dan
pelatihan.
Iman adalah ucapan di lisan, keyakinan dalam hati dan
keyakinan terhadap Allah SWT dengan segala sifat-Nya,yang
dibuktikan dengan ketaaatan yang wajib maupun yang nafil, serta
meninggalkan segala larangan dan dosa. (Al-Jaillani, 2010:182).
Iman yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang terhujam
di kedalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak
dan ragu-ragu, serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan
dan aktifitas keseharian. Jadi, tidak bisa dikatakan iman jika hanya
sekedar amal perbuatan, demikian pula jika sebatas pengetahuan
mengenai arkanul iman.(Qardhawi,2005: 27)
Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Hujurat: 15
15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Dari ayat ini kita mengetahui bahwa iman yang diterima dan
yang benar adalah keyakinan yang tidak dicampuri dengan
keraguan dan amalan yang di antaranya berupa jihad dengan harta
Sebab keyakinan hati saja tidak cukup sebagai syarat
diterimanya iman. Iblis saja berkeyakinan akan adanya Allah SWT
sebagaimana ucapannya yang dicantumkan dalam QS Shaad:79
:
hari mereka dibangkitkan". (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)Sekalipun demikian, Allah SWT telah mengkafirkannya
dikarenakan kesombongannya sehingga ia tidak mau melaksanakan
apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.
Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 34:
Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan
Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud
memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah
Jadi, iman yang benar adalah yang meliputi dua hal, yaitu:
1. Keyakinan kuat yang tidak dicampuri dengan keraguan.
2. Perbuatan yang membuktikan keyakinan itu, dan ia
merupakan buahnya.. (Az-Zindani, :21-22)
Rasulullah SAW telah berpesan bahwa Allah SWT tidak
mengabulkan doa dri orang yang ragu dan lali. Sehingga, tidak
terkabulnya doa bukan karena Allah SWT tidak mengabulkan,
tetapi orang yang berdoa tidak yakin kalau doanya dikabulkan oleh
Allah SWT. (Sultoni, 2015:5)
Iman kepada Allah SWT adalah percaya bahwa Allah SWT
Maha Esa, tak ada sekutu bagi-Nya, Maha Tunggal tak ada yang
menyamai-Nya dan menjadi tempat bergantung bagi Hamba-Nya,
tak ada yang membandinginya. (Asrori, 1996:4)
Dari devinisi di atas dapat kita tarik kesimpulan tentang
devinisi Pendidikan keimanan kepada Allah SWT adalah
pendidikan untuk meyakini keberadaan Allah SWT beserta
sifat-sifat yang dimiliki-Nya. dan hanya Allah SWT lah tempat
bergantung bagi Hamba-Nya, tak ada yang membandinginya.
b. Tujuan Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT
Secara umum memang pendidikan Islam diarahkan kepada
usaha untuk membimbing dan mengembangkan potensi fitrah
manusia hingga ia dapat memerankan diri secara maksimal sebagai
c. Fungsi Iman Kepada Allah SWT
Orang yang memfungsikan iman kepada Allah SWT dalam
hidupnya, akan memiliki sikap dan kepribadian sebagai berikut:
1. Menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah Yang Maha
Besar, sehingga ia tidak mau berbuat dan bersikap sombong
atau takabur serta menghina orang lain.
2. Menyadari bahwa segala yang ia nikmati dalam kehidupan ini
berasal dari Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Hal ini menyebabkan ia akan menjadi orang yang
senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan
segala nikmat Allah sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Menyadari bahwa pasti akan mati dan dimintai
pertanggungjawaban tentang segala amal perbuatan yang
dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati
dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
4. Merasa bahwa dirinya selalu dilihat Allah SWT Yang Maha
Mengetahui. Ia merasa bahwa pada waktu ia melakukan
perbuatan yang buruk, Allah SWT mengetahuinya. Kemudian
ia berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk, karena dalam
dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari
bahwa sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya namun
d. Ciri-ciri orang yang Beriman Kepada Allah SWT
Iman adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki setiap
muslim. Tanpa keimanan, segalanya hanyalah tak berarti. Selain
seorang muslim harus meyakini rukun iman sebagai bukti
keimanannya, Allah SWT juga menyebutkan di dalam Surat
Al-Anfal ayat 2-4 tentang ciri-ciri orang yang beriman:
QS Al-Anfal ayat 2-4:
2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
1. Hatinya gemetar ketika mendengar nama Allah SWT
Hanya orang yang berimanlah yang jika disebut
nama Allah SWT, gemetar hatinya, ada rasa takut
dalam hatinya. Rasa takutnya justru sebagai bentuk
mengagungkan asma Allah SWT. Maka, ketika ia akan
melakukan perbuatan dosa atau maksiat, ia pun segera
ingat Allah SWT dan takut melaksanakannya.
2. Bertambah imannya jika dibacakan ayat Al-Quran
Ketika ada seorang muslim membaca ayat
Al-Quran, maka ia akan senang mendengarnya.
Menguraikan isi Al-Quran dan As-Sunnah, ia akan
betah mendengarnya.
3. Bertawakal hanya kepada Allah SWT
Orang yang beriman akan menyandarkan segala
urusannya hanya kepada Allah SWT, bukan kepada
benda, gunung, cincin, keris, atau yang lain.
Karena orang beriman itu yakin bahwa tidak akan
terwujud suatu hal kecuali atas kehendak Allah SWT.
4. Mendirikan Shalat
Mendirikan shalat adalah bukti keimanan seseorang.
Di samping karena memang shalat adalah tiangnya
agama, kalau ia menegakkan shalatnya adalah sama
dengan ia menegakkan agamanya. Sebaliknya mana
kala ia tidak mengerjakan shalatnya, berarti sama saja ia
ia meruntuhkan agamanya dan mengabaikan agamanya
sendiri.
5. Gemar Berinfak di Jalan Allah SWT
Seseorang dikatakan beriman kepada Allah SWT
adalah ketika ia gemar menginfakkan hartanya di jalan
Allah. Allah SWT berfirman dalam QS Al Anfaal: 3-4
yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
2. Sedekah
a. Pengertian Sedekah
Kata sedekah berasal dari bahasa Arab (shadaqah).
Shadaqah berarti kita memberikan atau menyumbangkan sesuatu
yang baik dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT. sesuatu
Menurut Imam Nawawi, orang yang suka bersedekah
adalah orang yang benar-benar beriman secara lahir dan batin. Dia
membuktikan keimanannya dengan bersedekah. (Abdurrahman,
2009:9)
Sedekah adalah harta yang dinafkahkan dengan mengharap
pahala dari Allah SWT. Sedekah terbagi menjadi yang wajib dan
yang sunnah. Dalam penggunaan syariat, yang wajib disebut
dengan lafadz zakat, dan yang sunnah dengan lafadz sedekah.
Disebut dengan istilah sedekah, karena itu diambil dari pengertian
adanya ketulusan, baik dalam perbuatan, ucapan maupun
keyakinan. (Jam‟an,2009:11)
Jadi, sedekah adalah memberikan sesuatu dengan niat
mengharap ridha Allah SWT dan berharap untuk mendekatkan diri
kepada-Nya.
b. Hukum Sedekah
Sedekah hukumnya sunnah, sama dengan hukum infak.
Ketentuannya juga sama dengan infak. Namun, ada perbedaan
antara infak dan sedekah. Infak itu hanya berkaitan dengan
pemberian berupa harta. Sedangkan sedekah, tidak terbatas pada
harta saja. Contoh sedekah yang bersedekah dengan harta, kita
dapat bersedekah dengan membaca tasbih, takbir, dan tahmid.
sedekah. Pokoknya setiap kebaikan adalah sedekah.
(Abdurrahman, 2009: 9-10)
c. Dalil Perintah untuk Bersedekah
Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menolong
orang lain. Tentu saja, dalam hal ini tolong-menolong dalam
kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah
Al-Maa‟idah ayat 2. Salah satu bentuk pertolongan itu adalah
dengan bersedekah atau menginfakkan sebagian harta kita kepada
orang yang membutuhkannya. Bahkan, Allah SWT akan menolong
kita selama kita mau menolong orang lain.
Rasulullah Saw. bersabda, “Dan Allah SWT akan
menolong seorang hamba selama hamba itu menolong
saudaranya”(HR Muslim)
Dalam Al-Qur‟an, banyak ayat yang memerintahkan agar
kita berinfak atau bersedekah, di antaranya: (AbduArrahman,
2009: 10-11)
1.) Surah At-Thaghaabun ayat 16, “Maka, bertakwalah kamu
kepada Allah SWT menurut kesanggupanmu dan dengarlah
serta taatlah; dan infakanlah yang baik untuk dirimu. Dan
barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka
mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
2.) Surah Al-Baqarah ayat 254, “Hai orang-orang yang beriman,
Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada
lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatn, dan tidak ada lagi
syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.
Anjuran untuk bersedekah atau berinfak itu ditujukan
kepada kita sebagai orang yang beriman. Terutama, kepada
orang-orang kaya dan yang mempunyai harta lebih dari kebutuhannya.
d. Keutamaan Sedekah
1.) Membersihkan dan menyucikan pelakunya (Abdurrahman,
2009: 12-13)
Allah SWT. Berfirman, dalam QS At-Taubah ayat 103:
zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)[658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari
kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat
kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda
adalah membersihkan diri dari kekikiran dan cinta yang berlebihan
terhadap harta. Sedangkan yang dimaksud dengan menyucikan
adalah menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati si pelaku serta
mengembangkan hartanya.
2.) Allah SWT melipatgandakan pahala sedekah(Abdurrahman,
2009: 14-15)
Dalam surah Al-Baqarah ayat 261 disebutkan bahwa
sedekah kita dilipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali lipat.
Dalam ayat tersebut Allah SWT memberikan perumpamaan
bahwa orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah
seperti menanam sebutir biji. Lalu, biji itu tumbuh menjadi
tujuh tangkai. Setiap tangkai menghasilkan seratus biji lagi.
Demikianlah. Allah SWT melipatgandakan pahala sedekah
atau infak bagi siapa saja yang Allah SWT kehendaki.
3.) Malaikat mendoakan orang yang bersedekah (Abdurrahman,
2009: 17)
Sabda Rasulullah Saw. berikut ini. “Tidaklah para hamba
Allah melalui waktu paginya , kecuali ada dua malaikat yang
turun. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, balaslah (dengan
balasan yang berlipat) untuk orang yang suka
berinfak(dermawan), “Yang lain berdoa, “Ya Allah,
hancurkanlah dan musnahkanlah (harta) orang yang kikir” (HR
e. Adab Bersedekah
1.) Tidak mesti harta
Bersedekah tidak seperti berinfak. Jika berinfak mesti
memakai harta benda maka berdekah dapat dilakukan tanpa
harta benda.
Dalam hadits, Nabi Saw. bersabda,
“Setiap ruas tulang manusia ada sedekahnya setiap hari
selama matahari memancarkan sinarnya; mendamaikan antara
dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong seorang
membawa beban atau membantu mengangkatkan barang
bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata
yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah
sedekah, dan menyingkirkan bahaya dari jalanan adalah
sedekah. (HR Bukhari dan Murlim. Hadits Abu Hurairah r.a.)
Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersedekah.
Dengan adanya hadits di atas, setiap muslim memiliki
kesempatan yang sama dalam mendapatkan pahala sedekah.
Mereka yang memiliki kelonggaran harta, dapat bersedekah
dengan harta yang dimilikinya. Sedangkan bagi mereka yang
kekurangan harta dapat bersedekah dengan tasbih, tahmid, dan
2.) Tidak mengenal waktu
Bersedekah tidak mengenal waktu. Hendaknya, kapan pun,
kita selalu bersedekah. Entah waktu itu kita sedang
bergelimang harta, ataupun kekurangan. Bahkan, kita harus
senantiasa mencari kesempatan untuk bersedekah. Jangan
ketika ada orang meminta sedekah, justru kita melarikan diri
dengan berbagai alasan. Ketika ada seorang pengemis datang,
hendaknya kita memberinya uang.
Dalam Al-Qur‟an disebutkan bahwa orang yang bersedekah
baik dalam keadaan sempit maupun lapang termasuk ciri-ciri
orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah: 134)
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
3.) Bersedekah hutang
Maksudnya adalah jika ada seorang yang meminjam uang
dari kita, dan setelah kita memperpanjang tempo pelunasan
utangnya kok dia tetap saja tidak mampu membayarnya maka
mengembalikan uang itu kepada kita. Inilah akhlak
Islam.sangat indah. Berbeda dengan akhlak para rentenir.
Perhatikan firman Allah SWT. Berikut dalam QS
Al-279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya . (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Jadi, kalau mengaku sebagai muslim, hendaknya kita
memerintahkan kaidah utang piutang dalam ayat ini. Dengan
menghapuskan utang saudara kita, berarti kita telah menolong
meringankan bebannya. Siapa yang meringankan beban
seorang muslim ketika di dunia maka Allah SWT akan
4.) Jangan diungkit-ungkit
Bersedekah harus dilakukan dengan ikhlas. Setelah
bersedekah, kita tidak boleh mengungkit-ungkit sedekah itu,
terutama kepada orang yang telah kita sedekahi. Ikhlas di sini
dapat kita analogikan dengan buang air besar. Kita tidak
merasa saying(Jawa: eman-eman) dengan “harta” yang kita
buang. Walaupun pada mulanya, ia adalah makanan yang
enak-enak. Tidak pernah ada orang yang mengaduk-aduk kembali
kotoran yang telah ia buang demi mencari “hartanya” yang
berharga. Sekali dibuang, ia pun melupakannya.
Perkataan yang baik atau pemberian maaf lebih baik
daripada sedekah diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan si
penerimanya. Allah SWT. Berfirman dalam QS Al- Baqarah:
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf[167] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
[167] Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan
cara yang baik, dan maksud pemberian ma'af ialah
mema'afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si
penerima.
Kita boleh saja menyebut-nyebut sedekah kita kepada
seorang asalkan tidak didasari dengan perasaan riya. Kita
melakukan itu, hanya ingin memberi contoh perbuatan
baik. Siapa tahu hal itu akan memberi petunjuk kepada
pendengar. Allah SWT melarang orang yang
menyebut-nyebut sedekahnya karena riya atau ingin menyakiti si
penerima sedekahnya. Karena, perbuatan itu akan
menghilangkan pahala sedekah. Ibarat sebuah batu yang
dilapisi tanah, tetapi ditimpa air hujan sehingga tanahnya
Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 264
:
264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
[168] Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia
dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di
Adapun orang yang bersedekah hanya karena
mencari keridhaan Allah SWT maka baginya pahala yang
besar. (Suny, 2008: 28).
5.) Berikan yang terbaik
Berinfak atau bersedekah hendaknya tidak
tanggung-tanggung. Suatu kali, dalam sebuah pengajian saya merasa
disindir oleh ustadz bahwa kita tidak boleh tanggung-tanggung
dalam bersedekah atau berinfak.
Allah SWT. Berfirman dalam QS Al-Baqarah: 267:
Setelah membaca ayat di atas, saya berharap tidak
ada lagi orang yang menyedekahkan baju bekas, celana
bekas, HP bekas, motor bekas, atau barang-barang second
lainnya yang notabene sudah tidak disukai oleh pemiliknya
sendiri. (Suny, 2008: 21-30)
f. Kemuliaan Sedekah terhadap Anak Yatim
1) Sebagai Tanda Tingkat Keimanan kepada Allah SWT
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”. QS Al Baqarah:177. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. QS Al Baqarah: 195. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Pasang surut keimanan bergantung pada kebaikan,
jenis dan jumlah amalan. Apabila suatu amal memiliki nilai
lebih baik di sisi Allah, peningkatan iman yang dihasilkan
darinya juga akan semakin besar. Iman akan mengalami
peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah dan
bertambahnya amal tentu saja berakibat tambahnya
keimanan. (Wahyudi, 2014:92-93)
Senantiasa berbuat kebaikan akan meningkatkan
keimanan kita kepada Allah SWT. Kebaikan dapat berupa
amalan wajib ataupun sunnah. Amalan wajib misalnya
shalat. Dan amalan sunnah adalah bersedekah.
2) Mengharapkan untuk Mendapat Keridhaan Dari-Nya
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al Baqarah: 272)
Cahaya ridha akan membuat orang yang meridhai Allah
SWT menerima segala ketentuan-Nya. Ia tidak akan ikut
mengatur bersama-Nya. Ia merasa cukup dengan
pengaturan-Nya yang baik. (Al-Sakandari, 2013:52)
3) Menyempurnakan Ketaqwaan Kepada Allah SWT
Di antara manusia, ada pula orang-orang yang dikuasai oleh
kekuatan amal sukarela. Kekuatan terebut menghasilkan
perilaku yang baik, sikap zuhud terhadap dunia, cinta kepada
akhirat, kesungguhan dan kontinuitas dalam beramal.
(Al-Haddad, 2008: 62-63)
Bersedekah merupakan salah satu bukti ketaqwaaan kepada
Allah SWT. Karena bersedekah adalah salah satu perilaku
zuhud, yaitu lebih mencintai akhirat dari pada dunia.
4) Mendapatkan Pahala dari Allah SWT
Berharap kepada Allah SWT adalah kekuatan tertinggi
mukmin. Orang yang beriman akan selalu menghadapi cobaan
dengan hati yang teguh. Mereka tidak ragu, mereka tidak jatuh
dalam perjalanan ini. Mereka tahu bahwa di balik setiap cobaan
pasti ada hikmah tersendiri dan dia sendiri akan layak
menerima manfaat dari hikmah itu. (Shirazi, 2009:30)
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. An-Nisa:104. (Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Artinya,kita berharap mendapat keselamatan dari segala
persoalan, ampunan dan pahala, ttetapi orang kafit tidak
memiliki harapan semacam ini. Mereka selamanya berada
5) Mengajarkan Banyak Kebaikan
Islam memberikan perhatian yang penuh kepada anak
yatim sejak dari pendidikannya, asuhan dan perawatannya
agar ia mendpatkan kehidupan yang baik sebagaimana
anak-anak lain yang hidup bersama ayah dan ibundanya
dan kelak ia menjadi orang yang berguna bagi masyarakat
muslim. (Masykur, 2010:21)
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” QS Al Baqarah:83. ( Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah,2010)
Ayat diatas menunjukkan bahwa bebuat baik kepada anak
yatim sangat ditekankan sebagaimana berbuat baik kepada
kedua orang tua dan berbuat baik kepada kerabat dekat.
3. Majelis Doa Mawar Allah
Mawar Allah terispirasi dari surat Ar – rahman ayat 37 – 38. Ayat
tersebut menjelaskan tentang “Maka apabila langit telah terbelah dan
menjadi mawar merah seperti (kilauan) minyak. Maka nikmat Tuhan
kamu yang manakah yang kau dustakan?”, itu adalah sebagai salah
satu bukti dari wujud nikmat Allah SWT. Di dalam ayat tersebut
dibuktikan oleh seorang ilmuwan yang bernama Hubbel yang berhasil
membuat foto Nebula yang menakjubkan. Nebula adalah kumpulan
dari 250.000.000.000 x 300.000.000.000 bintang atau kira – kira
75.000.000.000.000.000.000.000 bintang. Semua itu milik Allah,
semua itu baru secuil dari Kerajaan Allah SWT, dan yang lebih
menakjubkan adalah foto nebula tersebut berbentuk “Mawar Merah”
yang merekah dan nampak bersinar karena terdiri atas miliyaran
bintang. Seakan Allah SWT mengatakan kepada umat-Nya, “Aku ini
Allah SWT.” Ini adalah salah satu dari sekian miliyar Kerajaan-Ku.
Aku adalah Zat Yang Maha Kuasa dan Menguasai alam semesta, Aku
persembahkan alam semesta ini kepadamu, dalam bentuk mawar
merah merekah yang sangat indah, karena Aku sungguh sangat
mencintaimu”.(Tim Majelis Doa Mawar Allah)
Majelis Do‟a adalah suatu majelis (perkumpulan) yang di
dalamnya terdapat kegiatan saling mendo‟akan antar jama‟ah dan do‟a
bersama (dzikir) bagi umat Islam yang sedang menghadapi masalah
besar dengan harapan agar diberikan jalan keluar atas masalahnya atau
4. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT Melalui Sedekah Studi Pada
Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah
Pendidikan keimanan adalah pendidikan untuk mendekatkan diri
kepada-Nya. sehingga ia memperbanyak amal, selalu bertaqwa,
mencegah diri dari hawa nafsu, selalu melatih diri dan bermujahadah
(berjihad untuk memperbaiki kehidupan dan kesempurnaan
kepribadian) niscaya terbukalah baginya pintu hidayah (petunjuk),
tersingkaplah segala hakikat dari akidah (apa yang diyakini) ini
dengan “Nur Illahi”.
Keimanan itu dapat bertambah dengan jalan terus menerus
mengerjakan amalan-amalan yang shaleh serta memperbanyaknya
dengan tujuan semata-mata untuk mengharapkan keridaan Allah SWT
dengan tulus ikhlas pula dalam mengamalkan dan tidak untuk maksud
yang selain itu. Makin bertambah amal perbuatan baik seorang itu,
makin bertambah pula keimanannya. Sebaliknya, makin sedikit amal
shaleh yang dikerjakannya, makin berkuranglah keimanan dalam
kalbunya.
Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menolong orang
lain. Tentu saja, dalam hal ini tolong-menolong dalam kebajikan dan
takwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Maa‟idah ayat
2. Salah satu bentuk pertolongan itu adalah dengan bersedekah atau
membutuhkannya. Bahkan, Allah SWT akan menolong kita selama
kita mau menolong orang lain.
Sedekah adalah memberikan atau menyumbangkan sesuatu yang
baik dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT. sesuatu yang kita
berikan itu berupa harta, jiwa, maupun tenaga.
Dengan sedekah akan membersihkan diri dari kekikiran dan cinta
yang berlebihan terhadap harta.
Dengan sering hadir dimajelis orang-orang shaleh. Aura keburukan
menular, begitu juga aura kebaikan. Dengan berkumpul bersama
orang-orang shaleh, insya Allah kita akan mendapat gairah dan
semangat baru karena di sekeliling kita, terdapat orang-orang yang taat
kepada Allah SWT. Bahkan keutamaan ikut majelis semacam itu
cukup banyak, di antaranya sebagaimana yang disabdakan Nabi
Muhammad, “Tidak ada suatu kaum yang menghadiri majelis zikir
(pengajian) kecuali malaikat akan mengelilinginya (selama berada di
dalam majelis), dilingkupi noleh rahmat-Nya, diturunkan ketenangan
(ke dalam hatinya), dan disebut-sebut namanya oleh Allah SWT di
hadapan makhluk-makhluk langit
Jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah merupakan majelis doa yang
menyelenggarakan kegiatan yang lebih kompleks . Dengan berkumpul
dan berharap mendapatkan berkah dari majelis yang mulia yaitu:
balasan dari Allah SWT, shalat taubat, shalat hajat, santunan anak
yatim, doa dan pembacaan Asmaul Husna.
B. Kajian Pustaka
Dasar atau acuan berupa teori-teori atau temuan-temuan dari
berbagai hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang kiranya perlu
untuk dijadikan sebagai data acuan atau pendukung bagi penelitian ini.
Hasil penelitian terdahulu yang hamper memilki kesamaan topik dengan
penelitian yang dilakukan peneliti di antarayanya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Aditia Pramudika Yuda yang berjudul
Pengaruh Intensitas Mengikuti Majelis Doa Mawar Allah Terhadap
Perilaku Dermawan Studi Pada Peserta Majelis Doa Mawar Allah” Biro
Psikologi Tazkia STAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa dengan mengikuti Majelis Doa Mawar Allah dapat menjadikan
jamaah yang mengikutinya menjadi orang yang dermawan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhibatul Wahyuni yang berjudul
Hubungan Intensitas Mengikuti Majelis Doa Mawar Allah Terhadap
Sikap Tawakal (Studi Pada Peserta Majelis Doa Mawar Allah” Biro
Psikologi Tazkia STAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa jamaah bisa lebih bertawakal dengan mengikuti Majelis Doa
Mawar Allah.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurman Jaya yang berjudul Konsep
dengan rasa ikhlas serta rasa yakin untuk jalan menuju ibadah kepada
Allah SWT.
4. Penelitian yang dilakukan oleh M Maskhuri yang berjudul Sedekah dan
Gerakan Dakwah Islam(Studi Pemikiran Yusuf Mansur) Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kita bersedekah akan
dikembalikan oleh Allah Swt akan dibalas oleh Allah SWT.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiah Ratnasari yang berjudul
Konsep Sedekah Dalam Persepektif Pendidikan Islam (Studi Analisis
Isi Terhadap Buku Ajar Fiqih di Madrasah) Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa penerapan materi buku ajar usul fikih adalah
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Setiap penelitian memerlukan jenis penelitian yang sesuai dengan
masalah yang dihadapi. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif-analitis. Data yang
diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan,
analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi
penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti
segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi,
mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data
aslinya (tidak ditransformasikan dalam bentuk angka). Hasil analis
data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan
dalam bentuk naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya
menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu
fenomena terjadi. (Asmani, 2011:75)
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan jenis penelitian
deskriptif. Di dalam penelitian deskriptif tidak diperlukan administrasi
dan pengontrolan terhadap perlakuan. Penelitian deskriptif tidak
dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya
Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan
pendidikan keimanan melalui sedekah peserta Majelis Doa Mawar
Allah. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi
mengenai status gejala yang ada yaitu keadaan gejala perubahan
pendidikan keimanan melalui sedekah peserta Majelis Doa Mawar
Allah
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengumpul
data mengenai pendidikan keimanan melalui sedekah pada kelompok
jama‟ah Majelis Doa Mawar Allah. Peneliti harus berusaha untuk
mengamati, mendampingi, dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas
terlaksananya Majelis Doa Mawar Allah dalam pendidikan keimanan
kepada Allah melalui sedekah.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan secara umum di Majelis Doa Mawar
Allah Biro Konsultasi Tazkia IAIN Salatiga, khususnya Kantor Biro
Konsultasi Tazkia IAIN Salatiga, masjid Darul Amal Salatiga dimana
kegiatan Majelis Doa Mawar Allah dilaksanakan setiap awal bulan di
tempat tersebut. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena
peneliti tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang ada dalam majelis
tersebut. C. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah
kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber
data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab
pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. (Suharsimi
Arikunto, 2014:172).
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data primer
Data primer(primary data) yaitu data yang dikumpulkan
sendiri oleh perorangan/suatu organisasi langsung melalui
objeknya. Digunakan untuk mendapatkan data tentang
pendidikan keimanan melalui sedekah Peserta Majelis Doa
Mawar Allah. Adapun untuk memperoleh data dengan
melakukan wawancara dengan para informan yang telah
ditentukan meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan
pendidikan keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah
Peserta Majelis Doa Mawar Allah. Adapun sumber data dalam
penelitian ini yaitu: Pembina Majelis Doa Mawar Allah,
Pengurus Majelis Doa Mawar Allah, dan jamaah Majelis Doa
Mawar Allah.
Dari informasi-informasi tersebut akan dilakukan
penelusuran lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.
2. Data sekunder
dikumpulkan oleh pihak instansi lain. Data sekunder dalam
penelitian ini adalah foto terkait dengan kegiatan pendidikan
keimanan kepada Allah SWT melalui sedekah Peserta Majelis
Doa Mawar Allah. (Supranto, 2003: 20-21)
D. Prosedur Pengumpulan Data
1. Metode interview atau wawancara
Wawancara menurut W. Gulo adalah bentuk komunikasi
langsung antara peneliti dan responden. Komunikasi berlangsung
dalam bentuk Tanya jawab dalam hubungan tatap muka, sehingga
gerak dan mimik responden merupakan pola media yang
melengkapi kata-kata secara verbal. Karena itu, wawancara tidak
hanya menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat
menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif, yang dimiliki
oleh responden yang bersangkutan.
Wawancara adalah salah satu bagian yang terpenting dari
setiap survai. Tanpa wawancara peneliti akan kehilangan informasi
yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung kepada
responden. Data semacam itu merupakan tulang punggung suatu
penelitian survai. (Singarimbun dan Efendi, 1983:145).
Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara:
1. Pedoman wawancara tidak tersuktur, yaitu pedoman
wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan
diperlukan, bahkan hasil dengan jenis pedoman ini lebih
banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai
pengemudi jawaban responden. Jenis interview ini cocok untuk
penelitian kasus.
2. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara
yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list.
Pewawancara tinggal membubuhkan tanda v(check) pada
nomor yang sesuai.(Arikunto, 2014:270).
Salah satu metode pengumpulan data ialah dengan jalan
wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya
langsung kepada responden tentang pendidikan keimanan
kepada Allah SWT melalui sedekah Peserta Majelis Doa
Mawar Allah
Dalam proses penelitian diperlukan adanya persiapan
wawancara. Tahap pertama ialah peneliti dan persiapan
wawancara. Sebelum peneliti melaksanakan tugas lapangan,
beberapa hal harus sudah dipersiapan terlebih dahulu dengan
masak. Tahap yang kedua adalah pewawancara dan persiapan
wawancara. Latihan wawancara dan penjelasan tentang
masalah lapangan merupakan bagian yang penting dalam
survai wawancara(interview survey). Meskipun pewawancara
penyampaian instruksi lapangan tetap perlu diadakan.
(Singarimbun, 1983:148)
Wawancara mempunyai tujuann tertentu yang disadari oleh
kedua belah pihak, walaupun pada mulanya informan belum
mempunyai gambaran yang jelas informasi apakah sebenarnya
diharapkan dari padanya. Tujuan wawancara perlu dijelaskan
lebih dahulu oleh peneliti pada tiap wawancara selanjutnya.
Wawancara yang semula bersifat informal lambat laun beralih
menjadi lebih formal, walaupun keakraban senantiasa
dipelihara. Peneliti makin lama makin banyak mengatur
jalannya wawancara, namun ia selalu menjauhi sikap otoriter.
Ia senantiasa menyadari bahwa informan memegang pernanan
penting karena dialah sumber informasi. (Nasution,
1998:75-76).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
dengan menggunakan wawancara dapat memperoleh gambaran
yang lebih mendalam tentang masalah yang sedang diteliti.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
dengan menggunakan wawancara dapat memperoleh gambaran
yang lebih mendalam dan objektif tentang fokus maslah yang