• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Beehr and Newman ( 1978)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Beehr and Newman ( 1978)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Stres Kerja

2.1.1. Pengertian stres kerja

Menurut Beehr and Newman ( 1978)

”work stress is an internal state that deviates from the normal function of that caused by the physical demands, work environment, social situation” Stres kerja adalah Suatu keadaan internal yang menyimpang dari fungsi normal yang di timbulkan oleh adanya tuntutan fisik, lingkungan kerja, situasi sosial. Suatu keadaan yang berasal dari dalam diri yaitu sikap manusia yang menyimpang dari fungsi normalnya yang di pengaruhi oleh adanya tuntutan fisik, lingkungan kerja dan situasi sosial. Karyawan bekerja maksimal delapan jam sehari diwaktu normal, tetapi karena tuntutan fisik kerja maka karyawan harus bekerja 10 jam sehari dan waktu beristirahat kurang, sehingga penyimpangan dari segi fisik karyawan mudah lelah, jam tidur mereka berkurang, dan rentan terkena penyakit. Pekerjaan yang memakan banyak tenaga atau lingkungan kerja buruk, dimana karyawan tersebut melakukan pekerjaanya, dapat menjadi stressor, Lingkungan kerja fisik yang buruk berpotensi membuat karyawan mudah jatuh sakit, sulit berkonsentrasi, menurunnya produktifitas kerja. Kondisi fisik

(2)

9 lingkungan mempunyai pengaruh terhadap kondisi fisik dan psikologis karyawan hal ini diungkap Beehr dan Newman (1978) menyatakan bahwa lingkungan yang kotor dan tidak sehat merupakan faktor pembangkit stres.

Selain kondisi lingkungan kerja yang kotor dan tuntutan pekerjaan melebihi kemampuan pekerja akan menyebabkan tergganggunya fungsi normal fisik maupun psikologis sang pekerja. Karena tuntutan pekerjaan yang berlebih mengakibatkan pekerja kelelahan dan menurunnya stamina. Dari segi psikologis ada rasa tertekan karena ditargetkan pekerjaan selesai dalam waktu yang singkat, takut akan gagal, atau kecemasan.

2.1.2. Aspek stres kerja

Beehr dan Newman (1978) menyatakan ada 3 aspek stres kerja yaitu:

a. Aspek Psikologis

Kecemasan, kebosanan, menurunya rasa percaya diri,kehilangan daya konsentrasi, menurunya harga diri,kegelisahan

b. Aspek fisik

Mudah lelah secara fisik, lebih sering berkeringat, kepala pusing, gangguan lambung, mudah terluka, serta problem tidur ( seperti sulit tidur atau kebanyakan tidur).

c. Aspek perilaku

Menunda ataupun menghindari pekerjaan, penurunan prestasi dan produktifitas, meningkatnya penggunakan minuman keras atau obat, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kurang nafsu), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya perilaku yang beresiko tinggi seperti ngebut, berjudi, meningkatnya agresivitas dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman.

(3)

10 2.1.3. Faktor faktor pembangkit stres (stressors)

Beehr and Newman (1978) menyebutkan bahwa stres dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

a. Lingkungan kerja

Kondisi kerja yang tidak baik berpotensi menjadi penyebab karyawan stres, sulit berkonsetrasi, dan menurunya produktifitas kerja. Kondisi lingkungan kerja fisik meliputi peralatan kerja sirkulasi udara, penerangan atau pencahayaan, kebisingan, tata ruang letak. Lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Lingkungan kerja, terutama lingkungan kerja fisik merupakan hal yang utama dalam sebuah pekerjaan, para pekerja membutuhkan lingkungan kerja yang nyaman.

Lingkungan pekerjaan ada yang mempunyai sistem terbuka dan ada yang tetutup atau di ruangan, apabila di perusahaan mempunyai tipe ruangan kerja yang tertutup dan tidak terkena sinar matahari langsung perlu di perhatikan lingkungan di dalamnya, ada ventilasi yang cukup untuk pertukaran udara sehingga udara segar bisa masuk, cahaya perlu diperhatikan apalagi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan pekerjaan yang dilakukan malam hari. Tingkat kebisingan antar ruangan satu dengan yang lain, jika saling berdekatan perlu peredam suara agar suara bising tidak masuk ke ruangan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Kelembaban

(4)

11 atau suhu, tiap ruangan mempunyai pengatur suhu berapa suhu ideal untuk berada di dalam ruangan tersebut. Ruangan yang terlalu panas menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya. Begitu juga ruangan yang terlalu dingin. Panas tidak hanya dalam pengertian temperatur udara tetapi juga sirkulasi atau arus udara. Kebisingan juga memberi andil tidak kecil munculnya stres kerja, sebab beberapa orang sangat sensitif pada kebisingan dibanding yang lain. Lingkungan kerja fisik adalah yang paling utama karena para pekerja bekerja setiap hari bekerja di tempat tersebut. Apabila tidak di perhatikan maka para pekerja bisa jenuh dan mengalami stres. b. Tuntutan Pekerjaan

Penelitian Beehr and Newman (1978) menunjukan bahwa beban kerja yang melebihi batas merupakan sumber stres. Pekerjaan yang melebihi target banyak dikeluhkan para karyawan, jam lembur yang meningkat dan pekerjaan yang bertambah. Dengan tuntutan kerja yang tinggi dari pihak atasan untuk menyelesaikan tugas yang harus segera diselesaikan, maka orang tersebut akan mengalami kondisi kerja di bawah tekanan baik secara fisik maupun psikologis. Jika pekerja dibebani pekerjaan yang berlebih dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi pekerja akan tertekan fisiknya pekerja akan mulai kelelahan, dan membuat tekanan secara psikologis pekerja akan

(5)

12 mudah marah, tersinggung dan terjadi kesalahan jika kehilangan konsetrasi.

c. Tuntutan fisik

Pekerjaan yang mengharuskan karyawan mengerahkan banyak tenaga misal menjalankan mesin yang membutuhkan tenaga, dan konsentrasi tinggi.

d. Situasi sosial

Situasi dimana karyawan harus berinteraksi dengan karyawan yang lain, adanya hubungan yang kurang baik dengan karyawan lainya atau dengan atasan sering kali menumbuhkan stres kerja. hubungan tidak baik antara karyawan di tempat kerja adalah faktor yang potensial sebagai penyebab munculnya stres kerja.

Hubungan yang baik antar personal perlu di ciptakan terutama dengan teman sesama pekerja dan atasan. Sehingga tercipta hubungan yang nyaman dan harmonis dalan bekerja, hal ini memberikan efek positif bagi orang tersebut. Dukungan sosial juga sangat mempengaruhi. Tidak adanya dukungan sosial stres akan cenderung muncul stres dalam pekerjaan. Dukungan sosial dapat berupa dukungan dari lingkungan pekerjaan maupun lingkungan keluarga. Menurut pendapat Beehr dan Newman (1978) para karyawan yang mengalami stres kerja adalah karyawan yang tidak mendapat dukungan (khususnya moril) dari

(6)

13 keluarga, seperti orang tua, mertua, anak, teman dan semacamnya. Begitu juga ketika seseorang tidak memperoleh dukungan dari rekan sekerjanya (baik pimpinan maupun bawahan) akan cenderung lebih mudah terkena stres. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya dukungan sosial yang menyebabkan ketidaknyamanan menjalankan pekerjaan dan tugasnya.

e. Pelecehan seksual.

Kontak atau komunikasi yang berhubungan atau dikonotasikan dengan seks yang tidak diinginkan dapat menjadi pemicu munculnya stres di tempat kerja. Pelecehan seksual dapat dimulai dari yang paling kasar seperti memegang bagian badan yang sensitif, mengajak kencan dan semacamnya sampai yang paling halus berupa rayuan, pujian bahkan senyuman yang tidak pada konteksnya. Pelecehan seksual yang sering menyebabkan stres kerja adalah perlakuan kasar dari lawan jenis dan janji promosi jabatan namun tak kunjung terwujud hanya karena seorang wanita.

Stres akibat pelecehan seksual banyak terjadi pada negara yang tingkat kesadaran warga (khususnya wanita) terhadap persamaan jenis kelamin cukup tinggi dan perusahaan yang mayoritas tenaga kerjanya wanita.

(7)

14 f. Manajemen yang tidak sehat.

Karyawan dapat mengalami stres dalam pekerjaan karena gaya kepemimpinan para manajernya menggunakan manajemen konflik, tidak percaya orang lain (khususnya bawahan), perfeksionis, terlalu mendramatisir suasana hati atau peristiwa sehingga mempengaruhi pembuatan keputusan di tempat kerja. Situasi kerja atasan selalu mencurigai bawahan, membesarkan peristiwa/kejadian yang semestinya sepele dan semacamnya, seseorang akan tidak leluasa menjalankan pekerjaannya, yang pada akhirnya akan menimbulkan stres g. Supervisor yang kurang pandai. Seorang karyawan dalam

menjalankan tugas sehari-harinya biasanya di bawah pengawasan supervisor. Jika seorang supervisor pandai dan menguasai tugas bawahan, ia akan membimbing dan memberi pengarahan atau instruksi secara jelas, baik dan benar.

Faktor Stresor dapat menyebabkan stres, seseorang jatuh sakit, tidak saja datang dari satu macam stresor, tetapi dari beberapa stressor karena sebagian besar dari waktu manusia adalah bekerja. Oleh karena itu lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan dan tingkat stres seseorang yang bekerja.

(8)

15 2.1.4. Dampak dari stres kerja

Pengaruh stres kerja ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi perusahaan. Namun pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis maupun fisik. Biasanya pekerja atau karyawan yang stres akan menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku tcrjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres(fight) atau freeze, berdiam diri (Beehr and Newman,1978).

Menurut Beehr and Newman (1978) ada dua jenis stres yaitu : a. Stres yang baik (tekanan positif) : tekanan yang mendorong seseorang untuk berprestasi. Tekanan dari luar membuat karyawan itu terpacu dan mendorong karyawan untuk bekerja lebih baik lagi.

b. Tekanan yang merusak ( tekanan negatif ) : stres yang merusak atau negatif, akan merusak kehidupan sehari-hari dan hanya akan mengakibatkan trauma pada diri sendiri.

(9)

16 Beehr and Newman (1978) menyatakan dampak bagi perusahaan dan individu

a. Psikologis

Stres yang berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran yang terus menerus. Karyawan akan merasa ketakutan dan was - was dalam bekerja takut tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Orang yang sedang stres akan lebih peka dibandingkan orang yang tidak dalam kondisi stres.

b. Dampak bagi Individu

Tubuh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan sistem kekebalan untuk mencegah serangan penyakit. Sistem kekebalan tubuh manusia ini bekerja sama secara baik dengan sistem fisiologis lain, dan kesemuanya berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik fisik maupun psikis yang cara kerjanya di atur oleh otak. Jadi, tidak heran jika orang yang mudah stres, mudah pula terserang penyakit seperti pusing, gangguan perut, gangguan pernafasan.

c. Dampak bagi Perusahaan

Beehr and Newman (1978) mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh terhadap

(10)

17 organisasi. Stres yang dihadapi oleh karyawan berkorelasi dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja, serta resiko mengalami kecelakaan. Secara singkat dampak negatif yang ditimbulkan oleh stres kerja adalah : 1) Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen

maupun operasional kerja.

2) Mengganggu kenormalan aktivitas kerja. 3) Menurunkan tingkat produktivitas.

4) Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan. 5) Kerugian finansial yang dialami perusahaan karena tidak

imbangnya antara produktivitas dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya.

6) Banyaknya karyawan yang tidak masuk kerja dengan berbagai alasan atau pekerjaan tidak selesai pada waktunya entah karena kelambanan ataupun kerena banyaknya kesalahan yang berulang.

2.1.5. Manajemen stres kerja

Beehr dan Newman (1978) mengungkapkan Stres kerja tidak dapat dihindari. Namun demikian dengan memahami stressor dan stres kerja itu sendiri, kita dapat meminimalkan stres yang tidak diperlukan caranya yang Buatlah usaha nyata untuk mengalihkan fokus pikiran yang mengarah ke emosi, misalnya dengan sesekali

(11)

18 bersendau gurau dengan pekerja lain, Melakukan perenggangan otot, hal ini biasa dilakukan agar tidak trjadi kram setelah seharian duduk melakukan pekerjaanya, minimal 2 jam sekali lakukanlah perenggangan otot., menjaga kesehatan tubuh sebaik mungkin, memelihara hubungan yang baik dengan sesama karyawan maupun di luar tempat kerja, memanfaatkan waktu kerja dengan baik.

2.2. Lingkungan Kerja Fisik

2.2.1. Pengertian lingkungan kerja fisik

Pengertian Lingkungan kerja fisik menurut Tiffin dan Mc.Cormick (1975) adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi kinerja, kondisi fisik dan psikologis karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan antara lain fasilitas perusahaan yang menunjang dan masih layak pakai, jika ada mesin yang sudah tua seringkali bermasalah, hal ini membuat kinerja karyawan tidak optimal, dan produktifitas menurun. Lalu lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi fisik antara lain sirkulasi udara , misalnya jika udara di sekitarnya pengap maka perlu ventilasi yang mengatur keluar masuknya udara sehiungga pada saat bekerja karyawan tidak merasa panas dan sesak nafas. Lingkungan kerja fisik yang mempengaruhi kondisi psikologis antara lain apabila pekerjaan mereka tertunda karena ada salah satu mesin yang rusak,

(12)

19 atau suasana panas , pengap maka akan menimbulkan reaksi stres seperti kecemasan, ketakutan, marah.

Menurut Tiffin dan Mc.Cormick (1975) Lingkungan kerja menjadi salah satu sumber stres baik lingkungan kerja fisik maupun non fisik.

2.2.2. Beberapa aspek lingkungan kerja fisik menurut Tiffin dan Mc.Cormick

a. Peralatan kerja, perlengkapan yang tersedia merupakan komponen yang menunjang aktivitas kerja antara lain mesin penunjang pekerjaan, pakaian khusus, alat alat kerja.

b. Sirkulasi udara, seperti ventilasi dan tempat pembuangan asap dari proses produksi. Seperti diketahui udara disekitar mengandung sekitar 21% Oksigen, 0,03% Karbondioksida dan 0,9% gas lainnya (campuran). Oksigen terutama merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama untuk menjaga kelangsungan hidupnya (proses metabolisme). Udara di sekitar dikatakan kotor bila kadar oksigen di udara telah berkurang dan bercampur dengan gas-gas lain yang berbahaya bagi kesehatan. Jika kita menghirup udara kotor kita akan marasa sesak dan akan lebih cepat merasa lelah. Sirkulasi udara dengan memberikan ventilasi yang cukup akan menggantikan udara yang kotor dengan udara yang bersih.

(13)

20 Demikian juga dengan menaruh tanaman akan mampu membantu memberi kebutuhan akan oksigen yang cukup. Lingkungan kerja yang sirkulasi udaranya kurang mengakibatkan terjadinya stres dan gangguan kesehatan, untuk menimbulkan situasi udara yang baik, ventilasi udara harus diperhatikan. Jika kondisi didalam ruang kantor yang memungkinkan penuh dengan karyawan, sangat lah perlu diperhatikan mengenai pertukaran udara, karena dengan adanya pertukaran udara yang cukup akan memberikan kesegaran fisik bagi karyawan. Selain memberikan kesegaran fisik sirkulasi udara juga berguna untuk menghilangkan bau limbah atau bau yang ditimbulkan dari asap mesin terutama di bagian pengolahan agar udara bisa masuk dan sirkulasi. Sehingga karyawan tidak mengalami ganguan pada pernafasan.

c. Penerangan atau pencahayaan, lampu penerangan, tata letak lampu penerangan, perawatan lampu. Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat obyek secara jelas dan cepat tanpa melakukan kesalahan. Pencahayaan yang kurang mengakibatkan pekerja mudah lelah karena mata akan berusaha melihat dengan cara membuka lebar-lebar.

Lelahnya mata akan mengakibatkan pula kelelahan mental dan lebih jauh bisa merusak mata. Kemampuan mata untuk melihat objek dengan jelas akan ditentukan oleh ukuran objek, derajat kontras antara objek dengan sekelilingnya, luminensi

(14)

21 (brightness) serta lamanya waktu untuk melihat objek tersebut. Untuk menghindari silau (glare) karena letak dari sumber cahaya yang kurang tepat, maka sebaiknya mata tidak secara langsung menerima cahaya dari sumbernya akan tetapi cahaya tersebut harus mengenai objek yang akan dilihat yang kemudian dipantulkan oleh objek tersebut ke mata kita. Fasilitas penerangan dalam ruangan yang cukup memadai akan mendukung kelancaran dalam bekerja. Pencahayaan adalah faktor penting dalam lingkungan kerja karena dengan pencahayaan yang baik akan membantu karyawan dalam menyelesaikan tugan dengan lebih baik. Pencahayaan pada dasarnya di bagi dalam 2 jenis yaitu cahaya alami dari sinar matahari dan pencahayaan buatan dari lampu listrik menurut Tiffin Dan Mc.Cormick (1975). Bangunan ruang kantor harus memiliki desain tata cahaya yang baik dalam konstruksinya terutama dalam mempertimbangkan jumlah sinar matahari yang masuk kedalam, selain sinar matahari sumber penerangan lainya ialah lampu neon. Lampu neon merupakan sumber pencahayaan pada malam hari terutama untuk ruangan kerja yang gelap tetapi tak jarang lampu neon digunakan pada siang hati sebagai pengganti sinar matahari yang masuk.

Ada juga ruangan kerja yang tidak boleh terkena sinar matahari dikarenakan ada bahan berbahaya yang mudah terbakar jika terkena sinar matahari.

(15)

22 Macam- macam Tehnik pencahayaan menurut Tiffin dan Mc.Cormick(1975)

1. Pencahayaan Langsung

Cahaya ini langsung dari sumbernya kearah permukaan ruangan, apabila dipakai lampu biasa, cahaya bersifat tajam dan bayangan yang ditimbulkan sangat tegas.

2. Cahaya setengah langsung

Cahaya ini memancar dari sumbernya dengan melalui tudung lampu.

3. Pencahayaan setengah tak langsung

Bekerja pada ruangan yang gelap dan samar-samar akan menyebabkan ketegangan pada mata. Intensitas cahaya yang tepat dapat membantu pegawai dalam mempelancar aktivitas kerjanya. Tingkat yang tepat dari intensitas cahaya juga tergantung pada usia pegawai. Pencapaian prestasi kerja pada tingkat penerangan yang lebih tinggi adalah lebih besar untuk pegawai yang lebih tua dibanding yang lebih muda.

d. Kebisingan atau suara gaduh, bising yang ada dalam lingkungan kerja akan mengganggu konsentrasi. Menurut Tiffin dan Mc. Cormick (1975) bising mempengaruhi tingkat stres karyawan, pada pekerjaan yang memerlukan konsentrasi atau kewaspadaan tinggi.

e. Tata ruang kerja, Jarak antara tempat kerja satu ketempat kerja lain, letak peralatan satu dengan yang lain, alat alat kerja yang berdekatan dengan fasilitas lain seperti toilet dan tempat pembuangan limbah.

(16)

23 2.3. Hubungan Antara Lingkungan Kerja Fisik Dengan Stres Kerja

Karyawan

Lingkungan kerja fisik mempunyai hubungan erat dengan tingkat stres kerja karyawan akan tetapi semua itu tergantung bagaimana karyawan tersebut mengelola stresnya, stres bisa menjadi ancaman dan merugikan diri sendiri serta pekerjaan, akan tetapi jika stres dikelola dengan baik maka stres itu justru akan jadi positif dan menjadi pemicu agar karyawan tersebut lebih baik lagi.

Hasil Pra penelitian antara hubungan lingkungan kerja fisik dengan stres kerja karyawan menunjukan adanya hubungan yang signifikan yaitu rxy= -,287* dan p=0,043 p< 0,05. Berarti, semakin Tinggi skor kondisi lingkungan kerja fisik maka skor stres kerja pada karyawan bagian Dyeing akan meningkat dan sebaliknya jika Skor lingkungan kerja fisik rendah maka skor stres kerja pada karyawan bagian dyeing akan tinggi.

Hasil pra penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Sudiyanto (2010) dengan subyek penelitian 121 orang karyawan Di bagian Weaving PT. Buana Inti Sari Garmen didapat hasil rxy= -0,467 dengan p= 0,045 < 0,05 ada hubungan yang signifikandengan arah negatif antara lingkungan kerja fisik dengan stres kerja karyawan.

Sedangkan penelitian Yudhistira (2002) yang dilakukan terhadap 95 orang karyawan di Industri kerajinan enceng gondok Bejalen, didapat hasil rxy= -,044 dengan p = 0,728 > 0,05 tidak ada hubungan yang signifikan antara lingkungan kerja fisik dengan stres kerja karyawan.

(17)

24 2.4. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara yang masih harus diuji kebenaranya melalui penelitian, sebagaimana yang dikemukakan Arikunto (1998) bahwa Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbuka melalui data yang terkumpul.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Ada hubungan yang signifikan antara Lingkungan kerja fisik dengan stres kerja karyawan bagian Sizing PT.TIMATEX salatiga

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KETAHANAN TUBUH PADA BAYI USIA 6-7 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOMBA OPU..

Lika menghampiri meja Aya, dan mengajak Aya pulang bersama setelah usai bercerita dan kumpul dengan teman – temannya di kantin. Aya pun mengiyakan

Setelah mengikuti penyuluhan ini masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang Setelah mengikuti penyuluhan ini masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang pentingnya

Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu dan mempengaruhi proses belajar, seperti

Proses pergiliran yang dilakukan kepala keluarga (suami) dan pemberian nafkah serta biaya hidup dari pihak suami terhadap istrinya lebih cenderung berpihak dan

Dalam eksistensi hukum Islam menjadi bagian yang penting dan integral dalam perkembangan hukum nasional di Indonesia, ini dapat terlihat dari proses legislasi hukum positiv

[r]

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan dapat mengembangkan kesadaran masyarakat mengenai bagaimana cara menanggulangi banjir pada skala kecil yaitu pada tingkat rumah