• Tidak ada hasil yang ditemukan

SBD SENI RUPA MAKALAH MATERI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SBD SENI RUPA MAKALAH MATERI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SENI RUPA ZAMAN HINDU BUDHA INDONESIA.WWW BAB I

PENDAHULUAN

Seni rupa zaman Hindu dan Budha di Indonesia adalah budayah yang terbawa-bawa dari budayah asing yang masuk seperti halnya India, Cina , Tiong-hoa dan lain-lain. Namun bedanya Indonesia tidak terlaluh mengikutin bagai mana keagamaan itu dilakukan seperti halny di India. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Prose akulturasi kebudayan India dan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:

- Proses imitasi(peniruan) - Proses adaptasi(penyesuaian) - Proses kreasi(penguasaan)

Dan pada zaman Islam, disinilah proses kesenian sangat kental di lakukan , sepertihalnya pembangunan rehap Masjid dan lain-lain. Dan di zaman ini juga zaman Hindu Budha berakir kekuasaannya di Indonesia.

Kesenian rupa zaman Hindu Budha yang saat ini dapat kita liat yaitu, kesnian bakar mayat di bali ( ngaben ), candi boro budur di daerah Jawa tenga, dan tari kecak di Bali dan masi banyak lagi peninggalan-peninggalan kebudayaan Hindu Budha yang dapat kita liat saat ini.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1.Pengertian Seni Rupa Zaman Hindu Budha.

(2)

sehingga tersebar secara, proses imitasi (peniruan), proses adaptasi(penyesuaian), proses kreasi(penguasaan).

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien. Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.

Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak

kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Munculnya

kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai akhir dari era ini.

II.2.UNSUR-UNSUR SENI RUPA ZAMAN HINDU BUDHA DI INDONESIA. A.Ciri – Ciri Seni rupa Indonesia Hindu

a. Bersifat Peodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai medi pengabdian Raja (kultus Raja) b. Bersifat Sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama

c. Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)

d. Hasil akulturasi kebudayaan India dengan indonesia

(3)

1) Bangunan Candi 2) Bangunan pura

Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak didirikan di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga halaman pengaruh dari candi penataran yaitu:

- Halaman depan terdapat balai pertemuan - Halaman tengah terdapat balai saji

- Halaman belakang terdapat; meru, padmasana, dan rumah Dewa 3) Bangunan Puri

Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat keagamaan. Bangunan – bangunan yang terdapat di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga (Semanggen), tempat upacara meratakan gigi (Balain Munde) dsb.

b. Seni patung Hindu Budha

Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma

laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb

Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian, yaitu:

- Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha) - Diantara keningnya terdapat titik (urna) - Telinganya panjang (lamba-karnapasa) - Terdapat juga kerutan di leher

- Memakai jubah sanghati

c. Seni hias Hindu Budha

(4)

Oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur bangunan candi, contohnya:

- Hiasan mahkota pada atap candi - Hisana menara sudut pada setiap candi

- Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu - Hiasan makara, simbar filaster,dll

2) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding / bidang candi, contohnya

- Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka, Lalitapistara

- Hiasan flora dan fauna - Hiasan pola geometris - Hiasan makhluk khayangan

Sifat umum seni rupa Indonesia : 1. Bersifat tradisional/statis

Dengan adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk kesenian yang berpegang pada suatu kaidah yang turun temurun

2. Bersifat Progresif

(5)

3. Bersifat Kebinekaan

Indonesia terdiri dari beberapa daerah dengan keadaan lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang beraneka ragam

4. Bersifat Seni Kerajinan

Dengan kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan bermacam – macam bahan untuk membuat kerajinan

5. Bersifat Non Realis

Dengan latar belakang agama asli yang primitif berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan / simbolisme.

C.MANFAAT SENI RUPA ZAMAN HINDU BUDHA BAGI MASYARAKAT INDONESIA -Sebagai media religius yaitu menciptakan sebuah seni rupa yang di tujukan untuk ke agamaan - Relif bangunan yaitu membangun sebuah relif bangunan yang bercitra seni rupa seperti halnya

bangunan candi borobudur yang berada di Jawa Tenga.

- Pahatan Patung yaitu menciptakan patung yang juga bertujuan keagamaan - Sebagai simbolis yaitu sebagai simbul sebuah suku yang di percayai masyarakat

- Sebagai komersial yaitu menciptakan sebuah seni rupa yang bertujuan untuk mendapatkan uang, seperti souvenir

-Sebagai kesenian daera ataupun upacara-upacara yang di lakukan di tempat-tempat tertentu -Prasasti yag ditujukan sebagai tanda peninddalan dari kerajaan-kerajaan yang berkuasa pada Masahnya.

Berikut fungsi candi yang menjadi bermacam-macam kegunaannya : 1) Sebagai hiasan ( Candi Sari )

(6)

3) Semagai Pemujaan ( Candi Penatara ) 4) Sebai tempat Semedi ( Candi Jalatunda ) 5) Sebagai Pemandian ( Candi Belahan )

D.KARYA SENI RUPA HINDU BUDHA DI INDONESIA

Dari masuknya ajaran Hindu Budha ke Indonesia, telah banyak karya-karya yang di ciptakan, berikut karya-karya yang diciptakan :

1.Candi 2.Pahatan Batu, 3.patung budha, 4.Prasasti, 5.Wayang , 6.Seni Tari Kecak

D.TOKOH-TOKOH SENI RUPA ZAMAN HINDU BUDHA

Bangsa Indonesia mengetahui seni rupa yaitu dari kedatangannya ajaran-ajaran Hindu Budha Ke Indonesia, yang di sebar luaskan oleh orang-orang terkemuka. Berikut tokoh-tokoh yang membawa seni rupa Hindu Budha dan juga membawa ajarannya yaitu :

- Aswawarman

Aswawarman adalah raja Kutai kedua. Ia menggantikan Kudungga sebagai raja. Sebelum masa pemerintahan Aswawarman, Kutai menganut Animisme . Ketika Asmawarman naik tahta, ajaran Hindu masuk ke Kutai. Kemudian kerajaan ini menganut agama Hindu. Aswawarman dipandang sebagai pembentuk dinasti raja yang beragama Hindu. Agama Hindu masuk de dalam sendi kehidupan Kerajaan Kutai . Keturunan Aswawarman memakai nama-nama yang lazim digunakan di India. Pengaruh Hindu juga tampak pada tatanan masyarakat, upacara keagamaan, dan pola pemerintahan Kerajaan Kutai.

- Mulawarman

Mulawarman menggantikan Aswawarman sebagai raja Kutai. Mulawarman menganut agama Hindu. Kemungkinan besar pada masa pemerintahan Mulawarman telah ada orang Indonesia asli yang menjadi pendeta Hindu. Dengan demikian upacara keagamaan tidak lagi dipimpin oleh Brahmana dari India. Mulawarman mempunyai hubungan baik dengan kaum Brahmana. Hal ini dibuktikan karena semua yupa dibuat oleh pendeta Hindu. Mereka membuatnya sebagai

(7)

dan memberikan banyak hadiah kepada kaum Brahmana . Agama Hindu dapat berkembang pesat di seluruh wilayah Kerajaan Kutai.

- Purnawarman

Purnawarman merupakan raja Tarumanegara . Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua kedua setelah Kerajaan Kutai. Purnawarman memeluk agama Hindu yang menyembah Dewa Wisnu. Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara banyak menceritakan kebesaran Raja Purnawarman. Dalam Prasasti Ciaruteun terdapat jejak tapak kaki seperti tapak kaki Wisnu dan dinyatakan sebagai tapak kaki Raja Purnawarman. Di bawah kepemimpinan Raja Purnawarman, Kerajaan Tarumanegara dan rakyatnya berjalan baik dan teratur. Bukti keberhasilan kepemimpinan ini tercermin dalam Prasasti Tugu . Di prasasti itu diceritakan pembangunan saluran air untuk pengairan dan pencegahan bajir.

- Airlangga

Airlangga adalah Raja Kahuripan . Beliau memerintah pada tahun 1019- 1049. Airlangga sebenarnya putera raja Bali. Beliau dijadikan menantu oleh Raja Darmawangsa. Ketika

pernikahan berlangsung, Kerajaan Kahuripan diserang bala tentara dari Wurawuri. Airlangga dan dibeberapa pengiringnya berhasil melarikan diri. Airlangga menyusun kekuatan untuk mengusir musuh. Usaha tersebut berhasil. Bahkan, Airlangga berhasil memperkuat kerajaan Kahuripan dan memakmurkan rakyatnya. Airlangga sebenarnya merupakan gelar yang diterima karena beliau berhasil mengendalikan air sungai Brantas sehingga bermanfaat bagi rakyat.

- Jayabaya

Jayabaya adalah raja terbesar dari Kerajaan Panjalu atau Kadiri. Beliau memerintah tahun 1135-1157 M. Namanya selalu dikaitkan dengan Jangka Jayabaya yang berisi ramalan-ramalan tentang nasib Pulau Jawa. Keberhasilan dan kemasyhuran Raja Jayabaya dapat dilihat dari hasil sastra pada masa pemerintahannya. Atas perintahnya, pujangga-pujangga keraton berhasil menyusun kitab Bharatayudha. Kitab ini ditulis oleh Empu Sedah dan diselesaikan oleh Empu Panuluh . Kitab Bharatayudha itu dimaksudkan untuk mengabadikan kebesaran raja dan memperingati kemenangan- kemenangan Raja Jayabaya.

(8)

Ken Arok adalah pendiri kerajaan Singasari. Beliau juga menjadi cikal bakal raja-raja Majapahit. Mula-mula Ken Arok mengabdi kepada Awuku Tunggul Ametung di Tumapel. Tumapel

termasuk wilayah kerajaan Kediri. Ken Arok jatuh cinta kepada Ken Dedes , istri Tunggul Ametung. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Kemudian ia memperistri Ken Dedes dan menjadi penguasa di Tumapel

- Gajah Mada

- Gajah Mada adalah patih mangkubumi (maha patih) Kerajaan Majapahit. Namanya mulai dikenal setelah beliau berhasil memadamkan pemberontakan Kuti. Gajah Mada muncul sebagai seorang pemuka kerajaan sejak masa pemerintahan Jayanegara (1309-1328). Kariernya dimulai dengan menjadi anggota pasukan pengawal raja (Bahanyangkari). Mula-mula, beliau menjadi Bekel Bahanyangkari (setingkat komandan pasukan). Kariernya terus menanjak pada masa Kerajaan Majapahit dilanda beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Ragga Lawe (1309), Lembu Sura (1311), Nambi (1316), dan Kuti (1319). Pada tahun 1328 Raja Jayanegara wafat. Beliau digantikan oleh Tribhuanatunggadewi. Sadeng melakukan pemberontakan. Pemberontakan Sadeng dapat ditumpas oleh pasukan Gajah Mada. Atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih Majapahit pada tahun 1334. Pada upacara pengangkatannya, beliau bersumpah untuk menaklukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah itu dikenal dengan Sumpah Palapa .

Dan masi banyak lagi tokoh-tokoh pembawa dan penyebar seni Hindu Budha terapan di Indonesi

BAB III PENUTUP III.1.Kesimpulan

Dari penjelasan di atas di temukan bahwa adanya seni terapan zaman Hindu Budha yang berkembang pesat di Indonesaia. Dan masi dapat di temui peninggalan-peninggalan seni rupa tersebut sampai saat ini, salah satu tempat yang sangat kental mengandung unsur seni rupa Hindu Budha yaitu di daerah Bali

Dan ternyata seni rupa zaman Hindu Budha yang berkembang di Indonesia di bawa oleh kerajaan-kerajaan yang berkuasa juga pedagang-pedagang yang datang ke Indonesia sambil menyebarkan ajaran Hindu Budha serta Kesenianannya.

(9)

Pada makalah ini penulis sadari bahwah masik banyak kekurangan yang terletak di dalamnya. Untuk itu dengan pesatnya teknologi saat ini kita kita dapat mencari lebih banyak kesenian-kesenian rupa Hindu Budha yang berkembang di Indonesia saat ini. Semua ini kembali kepada kita sendiri, mau dari mana kita mencari tau kesian tersebut.

Dan pada dasarnya sebagai masyarakat Indonesia kita harus mengerti dan memahami kesenian yang telah ada di Indonesia untuk menjadi masyarakat yang berbakti pada negara sendiri dan mencintai kesenian negaranya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

- http://sanggurus.blogspot.com/2012/04/tokoh-sejarah-masa-hindu-budha-dan.html - http://theprincessblue.blogspot.com/2012/0

- http://www.google.com

- Buku “Kesenian Budaya” Kelas IX SMP/MTS

http://saniagocota.blogspot.co.id/2013/02/makalah-seni-rupa-zaman-hindu-budha.html?m=1 SENI RUPA

Rabu, 06 Februari 2013

(10)

Kronologis Sejarah Seni Rupa Hindu Budha

1. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:

Zaman Wangsa Sanjayaan

Candi-candi hanya didirikan di daerah pegunungan. Seni patungnya merupakan perwujudan antara manusian dengan binatang (lembu atau garuda).

Zaman Wangsa Syailendra

Peninggalan candinya: kelompok Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Mendut, dan Candi Plaoson.

Seni patungnya bersifat budhis, contohnya patung Budha dan Bodhisattya di Candi Borobudur.

2. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:

Zaman Peralihan

Pada seni bangunannya sudah memperlihatkan tanda-tanda gaya seni Jawa Timur seperti tampak pada Candi Belahan Yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan ataptinya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah sudah diterpakan proposisi Indonesia seper pada patung Airlangga.

Zaman Singasari

Pada seni bangunannya sudah benar-benar memperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: Candi Singosari, Candi Kidal, dan Candi Jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih halus pahatnnya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung

Prajnaparamita, Bhairawa, dan Ghanesha. Zaman Majapahit

Candi-candi majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali/andesit peninggalan

candinya: kelompok Candi Penataran, Candi Bajangratu, Candi Surowono, Candi Triwulan dan lain-lain.

(11)

3. Seni Rupa Bali Hindu

Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyaraatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah pura dan puri. Pura sebagai bangunan suci tatapi di dalamnya tidak terdapat patung perwujud dewa karena masyarakt Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja.

http://pendidikanrembang.blogspot.co.id/2014/04/kronologis-sejarah-seni-rupa-hindu-budha.html?m=1

Blog Seputar Pendidikan dan Rembang Minggu, 06 April 2014

Kronologis Sejarah Seni Rupa Hindu Budha

(12)

Penemuan jatidiri dan puncak perkembangan seni rupa Indonesia-lama pada zaman Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur

Nanang Ganda Prawira dipublikasikan pada Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.1 No.3 Agustus 2001

Abstrak

Berbicara tentang jatidiri seni rupa Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan sejarah

perkembangan seni rupa Indonesia zaman pengaruh HinduBudha yang berlandaskan seni-budaya prasejarah. Segi kontinyuitas dalam perkembangan seni rupa Hindu ini memperlihatkan benang merah yang tegas tentang kronologis aspek teknis, tematis, dan estetis kekaryaan seni rupa Indonesia. Jatidiri seni rupa Indonesia telah bisa diamati dan dikaji melalui karya-karya seni rupa (bangunan, patung, relief kriya, motif hias) zaman Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Tulisan ini menggambarkan secara garis besar tentang perkembangan seni rupa Indonesia-Hindu yang memperlihatkan puncak kegemilangannya, serta temuan jatidiri Indonesia pada zaman Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur

Kata Kunci: klasik, pluralistik, kontinyuitas, candi, patung, relief, kontak budaya, inkulturasi, akulturasi, transformasi budaya, kultus raja, relijius,kosmologis, anonim, simbolisme

1. Pendahuluan

(13)

memvisualisasikan motif-motif flora dan fauna sebagai ornamen. Motif-motif alam itu terungkap karena masyarakat Indonesia berada dalam kehidupan dan lingkungan alam yang subur. Contoh lain yang bisa membuktikan adanya kesatuan dalam keragaman corak yaitu ungkapan wujud arsitektur di setiap daerah yang variatif, tetapi di dalamnya jika diteliti akan terdapat kesamaan ungkapan (dalam aspek struktur bangunan keseluruhan dan beberapa motif hiasnya). Proses tranformasi budaya yang membentuk jati diri seni rupa Indonesia melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama yaitu peniruan unsur-unsur budaya India tanpa seleksi. Tahap berikutnya yaitu penyesuaian unsur-unsur budaya India dengan unsur budaya sendiri. Tahap yang terakhir yaitu penguasaan unsur-unsur budaya India sebagai kelengkapan dalam membentuk kepribadian budaya bangsa. Tahap ketiga inilah yang menampilkan bentuk ungkapan sebagai penemuan jati diri budaya Indonesia-Hindu.

Bagaimanakah ungkapan budaya, khususnya dalam karya-karya seni rupa Indonesia Hindu yang membuktikan adanya tingkat penguasaan budaya India dan menampakkan penemuan jati diri tersebut ? Pertanyaan seperti ini tentu saja mesti ditelusuri jawaban melalui serangkaian penelitian terhadap karya-karya seni rupa. Untuk menjawab sebagaian masalah itu, kita mesti mencoba meneliti perkembangan seni rupa pada sekitar abad ke-13 sampai ke-15 di Jawa Timur. Melalui analisis terhadap perkembangan seni rupa Indonesia-Hindu di Jawa Timur diharapkan dapat disimpulkan tentang beberapa `ciri keindonesiaan' dan penyebab terjadinya ciri tersebut.

2. Pengertian Seni Rupa Indonesia-Hindu

Seni rupa sebagai salah satu bentuk ungkapan budaya Indonesia memiliki keragaman corak dan bentuk. Kekayaan ragam ungkapan budaya ini tersebar di seluruh Nusantara. Berbagai karya seni rupa, baik seni arsitektur, patung/relief, dan kriya menampilkan aneka keunikan bentuk dan gaya setiap daerah. Namun dalam keragaman tersebut tercermin ada unsur kesamaan ungkapan, sehingga memiliki nilai kesatuan. Dalam perkembangan budaya Indonesia, khususnya periode Hindu/ Budha bersifat berkelanjutan (berkesinambungan), sejak masa prasejarah hingga masuknya unsur budaya Barat dengan tradisi Eropa, dan berakhir pula pengaruh Hindu terhadap budaya Indonesia.Pengertian budaya Hindu digunakan untuk menunjuk tempat asal dari sumber budaya, yaitu budaya India Purba yang berlandaskan agama Hindu dan Budha. Penyebaran budaya India Purba (budaya Hindu dan Budha) ini sebagian besar ke negara Asia melalui berbagai sarana, baik hubungan dagang maupun politik.Pengertian budaya Indonesia digunakan untuk menunjuk dasar budaya asli Indonesia sejak awal tahun Masehi sampai permulaan abad ke-15, yaitu budaya prasejarah (Melayu /Austronesia).Budaya Hindu yang berkembang di Indonesia tidak berarti hanya agama Hindu sebagai landasan perkembangannya, tetapi

melibatkan pula agama Budha. DiIndia, agama Hindu dan Budha ini memperlihatkan batas-batas perbedaannya yang tegas. Kedua agama tersebut di Indonesia sering berpadu dalam bentuk sinkretisme dengan nafas budaya asli Indonesia. Hal inilah salah satu segi pembeda antara budaya Hindu Indonesia dan India. Perkembangan budaya Indonesia-Hindu terbatas di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Setiap pulau tersebut mencerminkan kecenderungan budaya

(14)

(dari luar Nusantara) yang turut berperan dalam proses perkembangan budaya Indonesia-Hindu ialah budaya Cina dan Campa.

3. Pembentukan budaya IndonesiaHindu

Kebudayaan Indonesia berkembang dalam suatu proses yang berkesinambungan. Proses perkembangan budaya IndonesiaHindu tidak lepas dari peran serta seluruh bangsa Indonesia sebagai pendukung budaya. Dalam pembentukan budaya, bangsa Indonesia juga berkeinginan memperoleh dan mencapai hal-hal baru. Keinginan tersebut merupakan tenaga (dan spirit) untuk mengembangkan kebudayaan Indonesia. Proses pembentukan budaya berdasarkan upaya reka cipta dalam memperoleh hal-hal baru dinamakan proses invensi (bahasa Inggris: invention). Dalam menjawab tantangan dan tuntutan budaya baru, bangsa Indonesia juga berupaya mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran, sistem norma, dan adat-istiadat sendiri. Pembentukan budaya IndonesiaHindu berdasarkan upaya tersebut dinamakan pula

inkulturasi.Pembentukan budaya IndonesiaHindu juga dihadapkan pada pengaruh unsurunsur budaya asing. Hal ini menciptakan sosok budaya Indonesia-Hindu yang barn dengan tetap mempertahankan kepribadian budaya sendiri. Proses pembentukan budaya seperti ini termasuk proses akulturasi.Jika ditelaah secara mendalam, ketiga proses pembentukan budayaIndonesia-Hindu tersebut sebenarnya menunjukkan upaya dan peranan bangsa Indonesia dalam merintis kebudayaan baru. Kebudayaan barn yang datang dari luar (India) tidak sepenuhnya diterima dan ditiru apa adanya, tetapi melalui proses pembentukan yang bertahap. Budaya India yang

merupakan unsur budaya asing mewarnai khasanah budaya Indonesia-Hindu berdasarkan kontak budaya secara damai (penetration pacifique) . 3. Perkembangan seni rupa Indonesia-Hindu melalui "kontak budaya"Pertemuan dan kompromi budaya asing dengan budaya Indonesia menciptakan kontak budaya. Kontak budaya merupakan suatu proses persinggungan dalam pembentukan budaya baru. Hal ini kemudian merajut untaianperkembangan budaya

secarabertahap. Pembentu-kan budaya Indonesia-Hindu yang berkesinambungan dan

(15)

kontak budaya menciptakan rangsangan terhadap pembentukan budaya Indonesia-Hindu. Tahapan tersebut meliputi: (1) tahap peniruan, (2) tahap penyesuaian, dan (3) tahap penguasaan unsur-unsur budaya India yang akhirnya membentuk kepribadian budaya bangsa.

4. Karakteristik seni rupa IndonesiaHindu

Latar belakang budaya bangsa Indonesia yang didasari budaya prasejarah

memperlihatkan adanya kesinambungan hingga masa Indonesia-Hindu. Budaya prasejarah Indonesia melengkapi ungkapan senibudaya masa-masa selanjutnya. Ungkapan tersebut dapat diteliti pada artifak-artifak arsitektur, patung, relief dan kriya. Walaupun ciri-ciri budaya prasejarah tidak secara keseluruhan dipertahankan, tetapi pengaruh beberapa unsur bentuk (misalnya ornamen) dan teknikteknik berkarya masih tetap menjadi bukti yang cukup kuat. Kepercayaan bangsa prasejarah terhadap kekuatan benda-benda, roh dan hal yang gaib tercermin dalam ungkapan karya-karya budayanya. Animisme dan dinamisme yang kemudian pada masa IndonesiaHindu menjadi bentuk sinkretisme dengan agama Hindu/ Budha merupakan latar belakang yang sangat menonjol dalam berbagai bentuk. Seni rupa sebagai bagian dari cabang seni-budaya IndonesiaHindu adalah ungkapan seni yang tidak lepas dan karya yang satu dengan yang lainnya. Misalnya dalam karya arsitektur terdapat karya patung, relief, kriya, dan lukis. Karya-karya tersebut berpadu dalam integritas kepentingan dan nilai spiritualitas yang sama.

a. Seni relijius

Seni rupa Indonesia-Hindu dilatarbelakangi oleh pengaruh agama Hindu dan Budha di India. Dalam perkembangannya tidak meniru secara utuh dengan seni agama Hindu dan Budha secara utuh, melainkan mengalami adaptasi dan pengolahan dengan dasar budaya serta agama asli Indonesia. Corak seni agama Indonesia-Hindu

memperlihat-kan ciri-ciri perpaduan agama (Hindu, Budha dan agama asli Indonesia). Dengan kata lain bahwa corak tersebut merupakan sinkretisme agama. Bentuk

sinkretisme dalam seni Indonesia-Hindu yang sakral itu juga didasari oleh pandangan kosmo-logis bangsa Indonesia.

b. Seni yang didasari kosmologis

Corak seni rupa Indonesia-Hindu tampil beda dengan seni India. Perbedaan tersebut disebabkan oleh andangan kosmologis bangsaIndonesia yang berlainan dengan bangsa India. Hal ini membuktikan bahwa walaupun pengaruh seni sakral India sangat kuat tetapi seni Indonesia-Hindu memperlihatkan karakteristik tersendiri. c. Seni anonim

Kedudukan para seniman Indonesia-Hindu terikat oleh peraturan agama (artisan), dan tidak menampilkan kesenimanannya secara mandiri. Karya-karya para seniman tidak muncul membawakan nama sendiri atau bahkan karya-karyatersebut tidak pernah dipublikasikan pembuatnya. Kebebasan berkarya seorang seniman adalah kebebasan dalam lingkup peraturan agamad. Simbolisme Pandangan filsafat agama Hindu-Budha menjiwai pembentukan corak dan bentuk ungkapan seni rupa Indonesia-Hindu. Pandangan filsafat yang didasari keinginan untuk mewujudkan nilai-nilai sakral senibudaya Indonesia-Hindu itu terungkap dalam bentuk-bentuk

(16)

sumber acuan clan inspirasi yang kuat.Untuk mempertahankan nilainilai sakral, seni rupa IndonesiaHindu mengenal berbagai kriteria gaya seni rupa dengan tandatanda perlambangan yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini dapat diamati dari perbedaan gaya klasik India seni Syalendra dan gaya ldasisistis seni Singhasari (dan gaya klasik Majapahit).

e. Seni kultus raja

Budaya feodal bangsa Indonesia mempengaruhi perkembangan senibudaya Indonesia -Hindu. Banyak sekali karya-karya seni rupa yang mencerminkan kekuasaan dan kebesaran kerajaan. Raja sebagai pelindung seni (maecenas atau patron) tampak berperan dalam

menumbuhkembangkan gaya klasisisme Indonesia-Hindu. Hal ini merupakan bentuk ungkapan pengabdian dan penghormatan kepada raja. Dalam beberapa contoh karya (yang bersifat

monumental) seni bertugas untuk mengabadikan kejayaan atau kebesaran nama raja. f. Seni lingkungan hidup

Kecintaan bangsa Indonesia terhadap lingkungan hidup (alam dan sekitarnya) telah lama menjadi cerminan penghayatan terhadap nilai-nilai agama. Rangsangan lingkungan alam terhadap para artisan (perupa) Indonesia-Hindu menjelmakan corak dan bentuk ornamen yang berdasarkan bentuk-bentuk alam (nature). Kekayaan tumbuhan (flora) danbinatang (fauna) di Indonesia terungkap dalam ornamen relief atau gambar yang diterakan pada dinding arsitektur (candi, misalnya), patung, dan kriya.Pandangan bangsa Indonesia terhadap jagat raya (alam semesta) tentang keseimbangan alam ini telah hidup dalam budaya Indonesia asli. Pandangan kosmologis terhadap alam memang akan berbeda dengan latarbelakang kosmologi India.Cermin lingkungan hidup bangsa Indonesia juga dapat disaksikan pada adegan-adegan relief dinding candi. Cerita legenda, folklore dan mitologi Indonesia menjadi pelengkap cerita Ramayana dan Mahabharata.Alam Indonesia yang kaya akan material dan media seni rupa mewarnai karakteristik seni rrupa Indonesia-Hindu. Bahan baku batu alam, kayu,. dan tanah liat banyak didapatkan pada karyakarya arsitektur Indonesia-Hindu. Tentu saja penggunaan bahan seperti ini berbeda dengan yang ada di India. Karakteristik Indonesia-Hindu memperlihatkan jati dirinya, karena banyak memanfaatkan bahan lokal (atas hasil eksnlorasi bahan dan teknik

penggarapannya).

5. Perkembangan Seni Rupa Indonesia-Hindu di Jawa Timur

Perkembangan seni rupa IndonesiaHindu di Jawa Timur sangat menarik untuk diselidiki. Penyelidikan terhadap seni Jawa Timur adalah pengamatan terhadap kejayaan budaya masa kerajaan Singhasari dan Majapahit. Karyakarya seni rupa pada masa Singhasari dan Majapahit merupakan wujud kegemilangan seni rupa Indonesia-Hindu yangergaya gaya klasisisme. Secara garis besar, perkembangan seni rupa di Jawa Timur dimulai masa peralihan, Singhasari,

Majapahit dan masa akhir pengaruh Hindu.

(17)

Perpindahan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur terjadi kira-kira pada tahun 925. Perihal penyebab perpindahan itu belum diketahui secara pasti. Yang jelas bahwa bangunan-bangunan besar tidak lagi didirikan di Jawa Tengah. Pusat kebudayaan dan perkem-bangannya terdapat di Jawa Timur.Perbedaan antara

peninggalan kerajaan di Jawa Timur dengan peninggalan kerajaan Syailendra di Jawa Tengah di antaranya:

(1) bangunan-bangunan sakral yang megah di Jawa Tengah didirikan menurut corak Hindu (India, dengan peniruan yang masih kuat dan adaptasi beberapa unsur saja). Di Jawa Timur, corak Indonesia asli makin lama makin jelas.

(2) Pengaruh agama Budha dalam waktu yang lama sangat terasa pada karya-karya seni di Jawa Tengah. Sebaliknya yang terjadi di Jawa Timur, agama Ciwa mendapat pengaruh yang besar.Raja pertama dari zaman yang baru ini ialah raja Sindok yang memerintah dalam tahun 929-947. Daerah kerajaan Sindok sekitar gunung Semeru dan gunung Wilis, yaitu di daerah Surabaya, Malang,dan Kediri. Di bawah

pemerintahan Sindok, kerajaan mengalami kemakmuran dan perkembangan yang pesat. Raja Sindok yang bergelar Sri Maharaja Sri Ican Wikramatunggadewa sangat memperhatikan pembangunan bangunan-bangunan sakral.Beberapa candi yang ditemukan di Jawa Timur pada masa kerajaan ini adalah candi Badut, candi

Singgoriti, candi Belahan, pemandian Jolotundo, Gua Selomangleng (di Kediri dan Tulungagung), dan bangunan lain di Penanggungan.

b. Zaman Singhasari

Ada 4 (empat) orang raja yang memerintah kerajaan Singhasariyang terpenting dan terkenal kejayaannya. Keempat raja tersebut: (1) Ken Arok (1222-1227), (2) Anusapati (12271248), (3) Wishnuwardhana (12481268), dan (4) Kertanegara (12681292).Peninggalan karya-karya seni rupa zaman kerajaan Singhasari masih banyak ditemukan, balk yang berupa karya seni kriya maupun bangunan suci (keagamaan). Bangunan suci yang berupa candi pada zaman Singhasari menurut Pararaton dan Negarakertagama, berfungsi sebagai makam raja-raja. Bangunan tersebut misalnya Kagenangan sebagai makam raja Ken Arok dalam wujud Syiwa dan Budha. Candi Kidal sebagai makam raja Anusapati dalam wujud Syiwa. Candi Jago sebagai raja Wishnuwardhana, dan candi Jawi sebagai makam raja Kertanegara. c. Zaman Majapahit

Beberapa raja yang memerintah kerajaan Majapahit di antaranya:

(1) Kertarajasa atau Raden Wijaya (12931309), (2) Jayanegara (1309-1328), (3) Raja Putri Tribuwana Tunggadewi (1329-1350), (4) Rajasanagara atau Hayam Wuruk (1350-1389).Tribuwana Tunggadewi memerintah atas nama ibunya, Rajapatni, istri Kertarajasa IV, ialah putri Kertanegara (raja Singhasari).Dia yang pertama

(18)

menjadi patih dan panglima perang yang terkenal. di Majapahit.Dan zaman Majapahit didapat sejumlah besar peninggalan berupa bangunan suci. Peninggalannya itu tidak saja yang terdapat di lembah sungai Brantas, tetapi juga terdapat di luar daerah ini hingga ke daerah Pasuruan. Pada saat kegemilangan Majapahit, seni bangunan suci, sastra dan kesenian lain berkembang dengan pesat. Bangunan suci besar sebagai peninggalan Majapahit adalah tempat suci agama Syiwa yang sekarang dinamakan candi Penataran atau candi Palah. Semasa raja Hayam Wuruk, pada bangunan suci ini ditambahkanbeberapa patung dan bagian-bagian bangunan lainnya. Bahan bangunan yang digunakan sebagian besar adalah bata merah (terakota). Dengan bahan yang digunakan itu menyebabkan sebagian bangunan sudah mengalami kerusakan, bahkan banyak yang tinggal fondasifondasi saja. Beberapa karya peninggalan zaman

Majapahit yaitu Candi Sumberjati, Candi Rimbi, Candi Penataran, Candi Tigowangi, Candi Surowono, Candi Jabung, Candi Tikus, Candi Kedaton, Candi Sawentar, Bajang Ratu, Wringin Lawang, Plumbangan, Bangunan Jedong, Guwa Pasir. d. Zaman Akhir Pengaruh Hindu

Wilayah kekuasaan kerajaan Hindu di Jawa Timur semakin berkurang. Begitupun seni budaya HinduBudhanya menyusut perlahan, ketika berkembangnya pengaruh agama Islam. Dengan pengaruh agama Islam tersebut kerajaan Majapahit banyak mengalami kemunduran di berbagai bidang. Kemunduran itu terjadi pula pada bidang kesenirupaannya. Hal tersebut terasa pada kemandegan para seniman pahat dalam berkarya patung. Patung yang dibuat cenderung makin lama makin kaku. Ketelitian pahatan ornamen pada beberapa patung raja semakin hilang. Akhirnya patungpatung yang diciptakan mirip karya seni prasejarah (primitif), seperti halnya arca-arca nenek moyang.Kegairahan para seniman (artisan) sudah berkurang, karena selamakerajaan Hindu berjaya, kerajaan menjadi pusat kegiatan seni (istana sentris). Ketika agama Islam memasuki Majapahit seakan-akankegiatan seni pahat atau bangunan sudah hampir tak berperan lagi. Arca, dan bangunan suci sudah tidak diciptakan lagi.Di gunung-gunung dan pelosok daerah, agama Hindu masih bertahan, sebagai temppat perlindungan terakhir. Hasilhasil kesenian zaman akhir ini ada kecenderungan untuk kembali ke zaman prasejarah, misalnya pembuatan candi Sukuh dan Cetho di gunung Lawu seperti susunan bangunan punden berundak.

6. Penutup

a. Seni Bangunan (arsitektur)

(19)

Indonesia-Hindu zaman ini juga membuktikan kemampuannya dalam menggarap bangunan dengan menggunakan material baru, seperti bata merah dan kayu.

b. Seni Hias (ornamen)

Seni hias Indonesia-Hindu tidak bisa dilepaskan dan keseluruhan struktur bangunan dan patung. Keterpaduan sistem kekaryaan tercermin dalam ungkapan budaya tradisi

Hindu/Budha.Seni hias yang tertera pada dindingdinding bangunan (candi) mempergunakan teknik pahatan (relief) yang lebih mengungkapkan kesan dekoratif. Kesan dekoratif yang

diciptakan adalah pengaruh kuat dari seni Indonesia asli (yang berlanjut sejak zaman prasejarah). Pengisian bidang secara penuh dengan kepercayaan `horor vacuii'(menghindari ruang/bidang kosong) mengakibatkan format (bidang) relief menjadi padat. Renggaan atau stilasi obyek alam (flora, fauna dan manusia) mengarah pada bentuk datar. Kepejalan (kesan realistik) sudah tidak tampak lagi -berbeda dengan relief pada candi-candi di Jawa Tengah- sehingga seluruh obyek bersifat dekoratif. Oleh karena gaya kebentukan yang diciptakan tidak realistik, maka ungkapan bahasa rupa lebih cenderung bermuatan tanda-tanda simbolistis.Gaya simbolisme dalam relief (seni hias) zaman klasik Singhasari dan Majapahit telah membuktikan adanya invention (penemuan halhal yang baru). Pengaruh asing (budaya India) hanya mempengaruhi unsur tematik-nya (misalnya cerita Ramayana). Adegan dalam cerita ini pun tidak utuh diambil dan aslinya (India), tetapi telah diolah secara bebas, dengan tetap menonjolkan karakteristik budaya Indonesia asli. Adegan demi adegan yang terdiri dan beberapa waktukejadian terkadang

diungkaokan dalam satu bidang. Ada tokoh yang sama, tetapi digam.barkan dalam sikap, atribut dan perupaan yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa cerita itu ukan menggambar-kan satu waktu peristiwa (moment opname)tetapi mengandung urutan kejadian dalam waktu yang berbeda. Keunikan ini tidak ditemukan dalam pola penggambaran tradisi India.Tokoh-tokoh manusia digambarkan melalui proses stilasi. Manusia tampak mirip tokoh pewayangan dengan segala atributnya. Bahkanpada beberapa candi bisa disaksikan adanya tokoh punakawan.

d. Seni Patung

Keinginan mewujudkan patung raja yang telah meninggal dalam konsepbentuk kedewaan adalah tradisi yang sangat kuat. Patung tersebut berfungsi sebagai media pemujaan terhadap dewa (kultus dewa) dan penghormatan atau pengabdian kepada raja (kultus raja). Dalam perkembangan akhir, penciptaan patung tidak lagi sebagai monumen dan mediapemujaan, tetapi sebagai potret dari tokoh (raja, atau orang tertentu). Pada masa ini sudah berkembang media pembuatan patung yangbervariasi. Patung tidak hanya dibuat dari bahan batu, tetapi juga terakota, logam, dan kayu. Banyak ditemukankarya patung yang kecil-kecil dari bahan logam atau terakota. Patung mahluk aneh (fantasi) ditemukan sebagai rekarupa gabungan binatang atau manusia --misalnya patung raksasa, Dwarapala, kala.Pada menjelang berakhirnya budaya Hindu di Jawa Timur, ada penurunan nilai klasik. Patung tidak lagi indah (secara dekoratif) dalam gaya, tetapi lebih cenderung kaku (stereotipe), naif, dan primitif. Pengaruh seni prasejarah terasa sangat kuat, apalagi setelah masuk pengaruh budaya (agama) Islam ke Majapahit. Ada kesan bahwa dengan berakhirnya budaya Hindu di Majapahit, maka kreativitas seniman juga menurun.

(20)

Benda-benda kerajinan yang dihasilkan dari zaman Majapahit dibuat dari bahan-bahan logam (perunggu, perak, emas), terakota, kayu, dan batu putih yang bermacam-macam bentuk dan fungsinya.Kriya dari bahan perunggu berbentuk lampu gantung merupakan karya seni yang sangat halus. Tampak ciri khas daerah (Majapahit) pada ornamennya. Hal ini menunjukkan kekuatan tradisi lokal dalam berkarya seni terapan.Karya lainnya seperti genta (lonceng), jambangan, talam, hiasan wayang, barang perhiasan,dan lain-lain telah memperlihatkan karakteristik Indonesia. Begitupun benda-benda kerajinan dari bahan terakota dan kayu.

e. Wayang

Istilah wayang sudah dikenal dalam prasasti Balitung tahun 907, tetapi dalam prasasti itu tidak dijelaskan mengenai bentuk dan bahan yang digunakannya. Dalam kitab Arjuna Wiwaha dikemukakan bahwa wayang telah digemari oleh masyarakat pada zaman pemerintahan Raja Erlangga. Sebuah berita China dari tahun 1416,

menyebutkan bahwa pada permulaan abad XV, di Jawa Timur, wayang beber merupakan pertunjukan umum. Wayang beber yang tertua adalah yang terdapat di Pacitan (Karangtalun) dan Wonosari (Bejiharjo). Cerita-cerita wayang beber di kedua tempat ini menggambarkan Panji.Jika ditinjau dari segi teknik, estetik dan

tematiknya, bentuk wayang dan pertunjukannya merupakan karya seni rupa Indonesia-Hindu yang bermuatan unsur lokal.Keempat jenis karya seni rupa

Indonesia-Hindu yang telah dianalisis di atas hanya sebagian dari banyak unsur dari keragaman karya seni rupa Indonesia-Hindu. eni rupa Indonesia sejak lama telah memiliki akar tradisi yang sangat kuat, terus berlanjut hingga zaman pengaruh Islam. Kekentalan senibudaya tradisi HinduBudha (dan Sinkretismenya), dan seni prasejarah berpadu dalam ramuan spiritualitas dan kosmologisbangsa Indonesia.

Puncakkegemilangan seni rupa klasik Indonesia-Hindu di Jawa Timur ini dicapai pada zaman Singhasari dan Majapahit. Kebudayaan Indonesia bukanlah kebudayaan bayangan Barat, karena ternyata kita memiliki jati diri.Seni Rupa Indonesia-Hindu 200114 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.1 No.3 Agustus 2001

Daftar Pustaka

Ambary, Hasan Muarif, 1998, Menemukan Peradaban, jejak Arkeologis dan Histori Islam Indonesia, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta.

Atmadi, Parmono, 1988, Some Architectural Design Principles of Temples In Java, Gajah Mada University Press.

Berg, C.C., 1974, Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara, Jakarta.

Candrasasmita, Uka., 1972, Tumbuh Perkembangan Kebudayaan dan Kekuasaan Purba, Pemda Jabal, Bandung.

(21)

Fountein, J; Soekmono; Setiawati, 1971, Kesenian Indonesia Purba, Asia House Galery, New York.

Heekeren, H.R. Van, 1972, The Stone Age of Indonesia, Instituut Voor Taal, Land. en. VolkenKunde., 'S Gravenhage.

Holt, Claire., 1967, Art in Indonesia, Continuities and Change, Cornell University Press Ithaca, New York.

Hoop, A.N.J. Th.Van der, 1949, Ragam Hias Indonesia, Kon. Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschap, Batavia.

Kempers, A.B., 1959, Ancient Indonesia Art, Harvard University Press Cambridge, Massachussets.

Muller, H.R.A., 1978, Javanese Terracottas, Vitgevers maatschappij De Tijdstroom b.v. Lochem, The Netherlands.

Powell, T.G.E., 1966, Prehistoric Art, Thames and Hudson-London.

Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid I, II, III, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Nama tunggal adalah nama yang terdiri dari Nama tunggal adalah nama yang terdiri dari satu suku kata, maka diindek sebagai berikut:.. satu suku kata, maka diindek

Demikian cita Iqbal tentang insan kamil sebagai bentuk manusia ideal, dan merupakan tingkat kedirian tertinggi yang mungkin di capai oleh setiap diri.. Insan kamil

Wall’s Mag num. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen es krim Wall’s Magnum yang berada di kota Yogyakarta. Sampel yang

We study regularizing properties for transition semigroups related to Ornstein Uhlenbeck processes with values in a Banach space E which is continuously and densely embedded in a

Kearifan Lokal Dalam Kebijakan Pariwisata Di Kabupaten Pangandaran Pasca Pemekaran Wilayah Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. © Sri Dewi Saraswati 2014

Akan tetapi pada tempat yang berskala besar, seperti perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, dan lain-lain parkir adalah suatu hal yang penting karena untuk parker ditempat

Is the volatility of Mumbai’s real estate market during the past decade, then, an example of the kind of economic destabilization of local and national markets caused by the entry