AKHLAK TASAWUF
RINGKASAN MATERI AKHLAK TASAWUF
Disusun oleh:
YULI PARADITA
Nim: 0705163035
FISIKA-1
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
Para sufi selalu saja taat beribadah
Menurut ‘Abd al-Qadiriyah al-Jailan seorang sufi bisa dikatakan bahwa dia adalah sufi karna
adanya 2 alasan. Pertama, terjadinya proses penjernihsn terhadap hati mereka berkat cahaya makrifat. Kedua, dinisbahkan kepada para sahabat yang meninggalkan
A. DEFINISI, HIERARKI DAN TUJUAN TASAWUF
Istilah tasawuf terdiri dari 4 kata yaitu, al-shuf yang artinya kain wol. Karena para sufi mengenakan pakaian yang terbuat dari kain wol. Kain wol disini bermakna kesederhanaan
seorang sufi. Yang kedua istilah sufi berasal dari kata al-shaf,yaitu barisan terdepan, yang bermakna bahwa seorang sufi selalu ad pada berisan pertama dalam memdekatkan diri kepada Allah dan selalu berada barisan pertama dalam beribadah. Yang ketiga, istillah tasawuf berasal dari kata al-shuffah yang berarti erambi masjid, dikatakan serambi masjid karena para sufi pada zaman nabi Muhammad Saw. Selalu tinggal di serambi masjid agar lebih khusyuk dalam beribadah. Dan yang terakhir berasal dari kata al-shafa’ yang artinya kesucian. Maksud dari kesucian ini adalah hati seorang sufi selalu suci, dan bebas dari noda- noda dosa karena seorang segala sesuatu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tujuan akhlak tasawuf tidak lepas dari tujuan umat manusia diciptakan. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan tujuan seperti syahadah,ibadah khalifa, dan hasanah. Tujuan tasawuf ialah untuk mendekatkan diri kepada allah dengan cara menuyuciakan diri dengan melakukan ibadah, mujahadah dan riyadha.
B. EPISTOMOLOGI TASAWUF
a. Peran hati dalam tasawuf
Untuk mendapatkan hati yang suci diperlukan beberapa cara, antara lain dengan menggunakan metode tazkiyah al-nafs. Metode tazkiyah al-nafs atau disebut juga metode irfani ialah metode untuk menyucikan hati ataupun jiwa seseorang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt .dengan cara uzlah, khalwah, riyadhah, mujahadah, ibadah dan juga berdzikir.
C. AL-MAQAMAT DAN AL-AHWAL
Al-Maqamat adalah tingkatan-tingktan spritual seorang sufi, dari tingkat yang paling dasar yatu tobat sampai tingkat yang paling tnggi yaitu rida yang di peroleh secara mandiri dengan cara ibadah, riyadhah dan juga mujahadah secara terus menerus sehingga ia sampai ke maqam tertinggiyaitu rida. Tingkatan- tingkatan al maqamat yaitu : tobat, wara’, zuhud, kefakiran, sabar, tawakal, cinta dan rida
Untuk mencapai maqam tertentu salik haruslah melakukan khalwah(menyepi) dan uzlah mengasingkan diri) dalam melakasanakan perjalanan spritual menuju Allah Swt. Menyepi merupakan lah sifat asli seorang sufi. Ia menyepi agar menjauhi kesenangan dunia dan lebih fokus mengejar ilmu akhiratnya. Dan ia mengasingkan diri bertujuan untuk menjaga keselamatan dari niat buruk orang lain.
Al-Ahwal ialah keadaan hati seorang salikk yang bukan merupakan hasil usahanya, melainkan pemberian langsung dari Allah kepada hambanyadan itu hanya bersifat sementara saja, seperti perasaan takut, cemas, harap, rindu, senang ataupun juga sedih.
➢ Tobat
Menurut al-Ghazali manusia tobat dibagi menjadi empat tingkat. Pertama, seseorang yang melakukan maksiat dan bertobat, serta istiqomah sampai akhir hidupnya. Kedua, seseorang yang bertobatyang meinggalkan dosa-dosa besar, tapi belum bisa meninggalkan dosa-dosa yang dilakukan tanpa sengaja. Ketiga, sesorng yang bertobat terus menerus sampai akhirnya nafsu syahwat mengalahkannya sehingga ia melakukan dosa. Keempat,
➢ Warak
bin Ubaid mengatakan “warak adalah menghindarkan diri dari yang namanya syubhat dan
memelihara diri dari segala bentuk arah pandangan. Syubhat adalah segala sesuatu yang tidak jelas asalnya, sehingga tidak jelas pula halal atau haram kah itu.
➢ Zuhud
Zuhud berasal dari bahasa Arab, Zahada, Yazhudu, Zhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak menjadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa indonesia, zuhud berarti meninggalkan keduniawian, tapi menurut sufi meninggalkan keduniawian demi mengejar akhirat bukan berarti tidak bekerja dan hanya beribadah. Seorang sufi tetap bekerja dan berusaha tapi tidak lupa dengan sang penciptanya. Dan mereka pun mengejar dunia demi kepentingan agamanya.
➢ Kefakiran
Istilah fakir berasal dari bahasa arab faqr yang artinya kemiskinan atau seseorang yang berkekurangan. Seorang sufi memilih hidup sebagai seorang fakir yaitu seorang yang selalu merasa kurang dalam ibadah nya. Dan seorang yang selalu membutuhkan Allah Swt. Selain itu fakir dalam tasawuf ialah kesederhanaan seseorang karna tidak akan bermegah-megah dalam berpenampilan. Menurut Nashr al-Din al-Thusi, fakir dalam kajian tasawuf adalah
“seseorang tidak memiliki kecintaan terhadap kekayaan dan hiasan duniawi, dan jika ia
memilikinya maka ia tidak berkeinginan untuk menyimpan dan mengumpulkannya”
➢ Sabar
Kata sabar berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hukum, dan menahan diri dari kesedihan. Dalam bahasa
indonesia sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan ( tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati) tabah, tenang,tidak tergesa- gesa dan tidak keburu nafsu.
Al-Ghazali, Ibn Qudamah, dan Ibn Qayyim al-Jauziyah membagi sabar menjadi 3:
Yang pertama sabar dalam ketaatan kepada Allah, maksudnya ialah dalam beribadah, beramal shaleh kita harus senantiasa bersabar, dalam shalat kita juga harus bersabar, dan tidak buru-buru. Kedua, sabar dari godaan untuk melakukan maksiat, maksudnya ialah kita bersabar dalam menghadapi hawa nafsu agar tidak mudah terjerumus kedalam kemaksiatan. Ketiga, sabar dalam menerima musibah Allah, dalam menerima musibah kita jangan cepat terpuruk, dan selalu tenggelam dalam kesedihan. Kita harus sabar dan kuat dalam menghadapi musibah yang Allah berikan.
Tawakal
harapkan. Disitulah lah hamba Allah disuruh untuk bertawakal atau percaya akan Qada dan Qadar dari Allah.
Cinta
Makna cinta dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al-Baghdadi,
misalnya berkata “cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang
mencintainya.” Jadi ketika sesorang sufi mencintai Allah masuk lah sifat-sifat Allah yang 99 kedalam dirinya. Bukan hanya masuk tapi mereka juga menerpkan nya dalam kehidupan sehari-hari.
Rida
Rida merupkan maqam tertinggi, rida adalah tenangnya hati dengan ketetapan takdir Allah
Ta’ala. Menurut al-Hujwiri, rida terbagi menjadi dua macam: rida Allah terhadap hambanya dan rida hamba terhadap Allah Swt. Rida Allah Swt terhadap hambanya ialah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan rida hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-Nya.
D. AL-MAQAM LAINNYA
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat, dan menegaskan bahwaal-ridha bukanlah maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah ata sifat-sifat-Nya, dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan Tuhanan-sifat-Nya tidak dapat dipahami.
E. MENGENAL AL-AHWAL
Al-Ahwal adalah keadaan hati seorang salik yang diberikan oleh Allah tanpa adanya usaha. Seperti rasa waspada, takut, harap dan rindu.
▪ Waspada (al-Muqarabah)
▪ Takut (al-Khauf)
Seorang sufi memiliki rasa takut kepada Allah. Takut akan murkanya Allah, takut akan neraka Allah. Dan takut akan dosa-dosa yang ia buat baik secra sengaja maupun tidak sengaja.
▪ Harap (al-Raja)
Ktergantungan hati pada sesuatu yang terjadi di masa depan. Misalnya sesorang yang berbuat baik dan mengharapkan balasan dari orang yang telah menerima perbuatan baiknya, atau seorang hamba yang mengharapkan surga dari Allah Swt.
▪ Rindu (al-Syawq)
Menurut sufi orang yang cinta kepada Allah maka ia akan memiliki rasa rindu kepada-Nya. Rasa rindu ingin slalu beribadah kepada Allah.
F. INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS
a. Integrasi dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah Islam, ditemuka seprang astronomi, ahli bilogi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidng ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fiqih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman,para pemikir Muslim klasik menempu poa hidup sufistik, dan kajian-kajian mereka diarahkan kepada percapaian tujuan-tujuan relegius dan spiritual.
Para filsuf dari mazab Peripateik merupakan pemikr Muslim yang berhasil menginegrasi filsafat Yunani dengan ajaran Islam yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan Hadis,lantaran tema-tem filsafat Yunanni diislamisasikan dan disesuaikan dengan pradigma islam. Tidak sebatas integrasi semata mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu raiona dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan.
b. Integrasi dalam Ranah Ontologi
c. Integrasi dalam Ranah Epistemologi
Dalam khazanah peradaban islam , banyak saintis muslim yang ahli dalam bidang-bidang ilmu kealaman juga seorang sufi yang mumpuni dalam bidang tasawuf. Sebagian sufi
memanfaatkan metode ‘irfani unuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai dunia
metafisik dan dunia fisik. Dari prespektif islam, kesucian jiwa mmanusia menadi syarat utama untuk memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah SWT.
d. Integrasai dalam Ranah Aksiologi
Aksiologi adalah studi umum tentang nilai dan penilaian, termasuk makna, karakteristi, dan klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu.