• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ujian mata kuliah kewarganegaraan negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ujian mata kuliah kewarganegaraan negara"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

UJIAN AKHIR SEMESTER

WAR 130

KEWARGANEGARAAN - H

APLIKASI KONSEP NEGARA HUKUM DEMOKRATIS

DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

Angela Nadhia Gracyta

2014-012-374

UNIKA Atma Jaya Jakarta

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan karena telah menyertai selama proses penyusunan karya ilmiah ini berlangsung hingga selesai sebagaimana mestinya.

Karya ilmiah ini disusun sebagai bentuk Ujian Akhir Semester dari mata kuliah Kewarganegaraan dengan judul “ Aplikasi Konsep Negara Hukum Demokratis dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia ”.

Terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Drs. Mukka Pasaribu, M.M. selaku dosen

mata kuliah Kewarganegaraan yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya terselesaikan karya ilmiah ini.

Demikianlah karya ilmiah ini saya susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah Kewarganegaraan, dan saya berharap semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif dan membangun sangat penulis harapkan guna peningkatan kualitas pada karya ilmiah yang lain pada waktu yang akan datang.

Jakarta, 2 Desember 2015

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...2

Daftar Isi...3

Bab I : Pendahuluan...4

Bab II : Isi...5

Bab III : Penutup...13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbicara mengenai konsep Negara hukum, ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu demokrasi. Negara yang demokratis akan melahirkan hukum yang demokratis pula, sedangkan Negara yang otoriter tentunya akan melahirkan hukum yang tidak demokratis. Begitu eratnya tali-menali antara paham negara hukum dan kerakyatan, sehingga ada sebutan negara hukum yang demokratis atau democratische rechtsstaat. Dengan terlibatnya masyarakat dalam penentuan kebijakan publik merupakan pencerminan suatu negara merupakan negara yang mensinerjikan antara hukum dan demokrasi. Dengan demikian, Negara sebagai organisasi masyarakat yang mempunyai tujuan ideal yang ingin dicapai tidak akan mengesempingkan perananan rakyat dalam merumuskan dan mengimplementasikan tujuan bersama tersebut. Oleh karena itu, hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak boleh ditetapkan secara sepihak oleh dan atau hanya untuk kepentingan penguasa.

Beranjak dari paparan di atas, jika diamati kondisi Negara Hukum dalam konteks Indonesia, dewasa ini sangat memprihatinkan. Hukum diperlukan agar kebijakan-kebijakan kenegaraan dan pemerintahan dapat memperoleh bentuk resmi yang bersifat mengikat dan dapat dipaksakan berlakunya untuk umum. Karena hukum yang baik kita perlukan dalam rangka pembuatan kebijakan (policy making) yang diperlukan merekayasa, mendinamisasi, mendorong, dan bahkan mengarahkan guna mencapai tujuan hidup bersama dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Di samping itu, hukum juga harus difungsikan sebagai sarana pengendali dan sebagai sumber rujukan yang mengikat dalam menjalankan segala roda pemerintahan dan kegiatan penyelenggaraan negara.

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana konsep negara hukum demokratis di Indonesia?

b. Bagaimana aplikasi konsep negara hukum demokratis dalam sistem ketatanegaraan Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

(5)

b. Memahami aplikasi konsep negara hukum demokratis dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

BAB II

ISI

2.1 Konsep Negara Hukum Demokratis

Terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum yang bertumpu pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan, dengan kedaulatan rakyat, yang dijalankan melalui sistem demokrasi konstitusional, sebagaimana disebutkan diatas. Dalam sistem demokrasi, penyelenggaraan negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat. Implementasi negara hukum itu harus ditopang dengan sistem demokrasi. Hubungan antara negara hukum dan demokrasi tidak dapat dipisahkan. Demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sedangkan hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Magnis Suseno, demokrasi yang bukan hukum bukan demokrasi dalam arti sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara hukum. Dengan demikian, negara hukum yang bertopang pada sistem demokrasi dapat disebut sebagai negara hukum demokratis (democratische rechtsstaat) sebagai perkembangan lebih lanjut dari demokrasi konstitusional. Disebut negara hukum karena didalamnya mengakomodasi prinsip-prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip negara demokrasi.

2.1.1 Negara Hukum Pancasila

(6)

Pada dasarnya, Pancasila dapat ditemukan dalam rumusan pembukaan UUD 1945 alinea keempat, di sana terkandung patokan-patokan dasar terpenting dalam merumuskan norma-norma hukum positif, antara lain;

a. Ketuhanan yang Maha Esa bermakna bahwa setiap warga negara Indonesia secara positif memeluk ajaran agama. Negara tidaklah berpihak pada agama tertentu, dengan demikian tidak dikenal agama resmi negara. Untuk itu maka aturan-aturan hukum baik berbentuk Undang-undang hingga putusan Pengadilan tidak mengutamakan kepentingan agama tertentu di Indonesia;

b. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung makna bahwa pembentukan hukum harus menunjukkan karakter dan ciri-ciri hukum dari manusia yang beradab. Hukum baik Undang-undang maupun setiap putusan hukum tidak boleh melampaui standar nilai-nilai kemanusiaan;

c. Persatuan Indonesia mengandung pemahaman hukum bahwa setiap peraturan hukum mulai Undang-undang hingga putusan pengadilan harus mengacu pada terciptanya sebuah persatuan di antara warga bangsa; dan

d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan mengandung makna bahwa musyawarah menjadi hal yang utama. Musyawarah adalah cara utama dalam pengambilan setiap keputusan, dan adanya sistem perwakilan dalam proses demokratisasi di Indonesia. Pengutamaan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan berawal dari ide pemikiran kegotong-royongan warga adat Indonesia;

e. Serta dasar untuk mewujudkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung nilai-nilai bahwa setiap peraturan hukum baik Undang-undang maupun Putusan Pengadilan mencerminkan semangat keadilan. Keadilan yang dimaksudkan adalah semangat keadilan sosial bukan keadilan yang berpusat pada semangat individu.

(7)

rendah di dalam negara. Oleh sebab itu, Pancasila sering disebut sebagai “sumber dari segala sumber hukum”.

Latar belakang lahirnya Negara Hukum Pancasila didasari oleh semangat kebersamaan untuk bebas dari penjajahan dengan cita-cita terbentuknya Indonesia merdeka yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dengan pengakuan tegas adanya kekuasaan Tuhan. Karena itu, prinsip ketuhanan adalah elemen paling utama dari elemen negara hukum Indonesia. Dalam negara hukum Pancasila terdapat anggapan bahwa manusia dilahirkan dalam hubungannya atau keberadaannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu negara tidak terbentuk karena perjanjian melainkan “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas”. Dengan demkian posisi agama dalam negara hukum Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan negara dan pemerintahan. Negara hukum Indonesia tidak memberikan kemungkinan untuk adanya kebebasan untuk tidak beragama, kebebasan untuk promosi anti agama serta tidak memungkinkan untuk menghina atau mengotori ajaran agama atau kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan agama ataupun mengotori nama Tuhan. Elemen inilah yang merupakan salah satu elemen yang menandakan perbedaan pokok antara negara hukum Indonesia dengan hukum Barat, sehingga dalam pelaksanaan pemerintahan negara, pembentukan hukum, pelaksanaan pemerintahan serta peradilan, dasar ketuhanan dan ajaran serta nilai-nilai agama menjadi alat ukur untuk menentukan hukum yang baik atau hukum buruk bahkan untuk menentukan hukum yang konstitusional atau hukum yang tidak konstitusional.

(8)

Unsur berikutnya dari negara hukum Pancasila adalah adanya sistem konstitusi. Konstitusionalisme merupakan faham pembatasan kekuasaan negara dalam tingkat yang lebih nyata dan operasional. Pasal undang-undang dasar mengatur lebih jelas mengenai jaminan untuk tidak terjadinya monopoli satu lembaga kekuasaan negara atas lembaga kekuasaan negara yang lainnya, kewenangan masing masing lembaga negara, mekanisme pengisian jabatan-jabatan bagi lembaga negara, hubungan antar lembaga negara serta hubungan antara negara dengan warga negara yang mengandung jaminan kebebasan dasar manusia yang harus dihormati dan dilindungi oleh negara. Konstitusi dimaksudkan untuk mengatur tiga hal penting yaitu: menentukan pembatasan kekuasaan organ negara, mengatur hubungan antara lembaga-lembaga yang satu dengan yang lain, serta mengatur hubungan kekuasaan antara lembaga-lembaga negara dengan warga negara.

Unsur terakhir dari negara hukum Pancasila ini adalah Peradilan bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary). Dalam menjalankan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh dipengaruhi oleh siapapun juga, baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun kepentingan uang (ekonomi). Untuk menjamin keadilan dan kebenaran, tidak diperkenankan adanya intervensi ke dalam proses pengambilan putusan keadilan oleh hakim, baik intervensi dari lingkungan kekuasaan eksekutif maupun legislatif ataupun dari kalangan masyarakat dan media massa. Namun demikian, hakim harus tetap terbuka dalam pemeriksaan perkara dan menghayati nilai-nilai keadilan dalam menjatuhkan putusan.

Ciri-ciri khusus yang membedakan negara hukum pancasila dengan faham negara hukum lainnya dapat terlihat dari hal-hal sebagai berikut:

a. Negara hukum Pancasila bertitik pangkal dari asas kekeluargaan dan kerukunan; b. Tidak mengenal sekulerisme mutlak;

c. Kebebasan beragama dalam arti positif, setiap orang diharuskan beragama;

d. HAM bukanlah titik sentral, tapi keserasian hubungan antara pemerintah & rakyat lebih diutamakan.

e. Demokrasi disusun dalam bingkai permusyawaratan perwakilan.

Pada dasarnya, konsep negara hukum yang diadopsi oleh negara hukum Pancasila (Indonesia) adalah negara kesejahteraan (welfare state). Ajaran negara hukum inilah yang kini dianut oleh sebagian besar negara-negara didunia. Konsep negara hukum muncul sebagai reaksi atas konsep negara legal state atau konsep negara penjaga malam (nachtwakerstaats).

(9)

ekonomi dan sosial, sehingga oleh karenanya pemerintah atau administrasi negara menjadi pasif dalam menjalankan fungsi pemerintahannya (executive functions). Berkenaan dengan kewajiban tersebut pemerintah memiliki kewenangan yang relatif besar untuk memasuki hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Beranekaragamnya masalah dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan bagi warganya memberikan suatu kewenangan khusus yang hanya dimiliki oleh pemerintah, yaitu Freies Ermessen atau

Discretionaire. Freies Ermessen adalah wewenang yang diberikan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan guna menyelesaikan masalah penting yang mendesak yang datang secara tiba-tiba dimana belum ada peraturannya.

2.1.2 Demokrasi

Menurut Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat, bahwa Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (democracy is government of the people, by the people and for the people). Bagi negara demokrasi dikenal demokrasi lansung dan demokrasi tidak langsung. Dalam demokrasi langsung, berarti rakyat ikut serta langsung dalam menentukan policy pemerintah. Hal ini terjadi pada tipe negara-negara kota waktu zaman Yunani kuno, rakyat berkumpul pada tempat tertentu untuk membicarakan berbagai masalah kenegaraan. Pada masa modern ini cara yang demikian itu tentu tidak mungkin lagi, karena selain negaranya, urusanurusan kenegaraannya pun semakin kompleks. Maka dari itu rakyat tidak lagi ikut dalam urusan pemerintahan secara langsung melainkan melalui wakil-wakilnya yang ditentukan dalam suatu pemilihan umum, hal ini disebut demokrasi tidak langsung.

Selain itu perbedaan demokrasi menurut terbentuknya atau method of decision making dan menurut isinya atau contents of decision made. Pengertian dari segi bentuknya, demokrasi itu adalah pemerintahan yang dilakukan oleh orang banyak, sebaiknya dari segi isinya demokrasi adalah pemerintahan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak ini disebut demokrasi material, sedangkan dari sudut bentuknya disebut demokrasi formal. Untuk kriteria yang digunakan dalam klasifikasi jenis-jenis demokrasi antara lain berdasarkan hubungan antara badan legislatif dengan badan eksekutif sesuai dengan ajaran Montesquie yang kemudian dikenal dengan istilah Trias Politica.

(10)

a. Kekuasaan yang bersifat mengatur atau menentukan peraturan; b. Kekuasaan yang bersifat melaksanakan peraturan;

c. Kekuasaan yang bersifat mengawasi pelaksanaan peraturan tersebut.

Yang oleh Sunaryati Hartono, ketiga unsur diatas ditambah dengan unsur negara yang bertanggungjawab. Bahwa pemegang kekuasaan dalam menjalankan kewenangannya harus berdasarkan peraturan perundangan dan dapat mempertanggungjawabkan tugasnya.

Maka sesuai dengan gagasan Locke dan Montesquie yang kemudian dikembangkan oleh Immanuel Kant, Stahl, Dicey, dll, dimana rakyat melalui wakil-wakil yang dipilihnya yang brhak membentuk undang-undang maka pada perkembangannya, demokrasi ini menciptakan negara hukum (supremasi hukum) dan berkembang pula secara bersamaan, maka nama demokrasi selalu dikaitkan dengan konstitusi yaitu demokrasi konstitusional atau negara hukum yang demokratis menurut paham anglo saxon maupun menurut paham Eropa Kontinental yang di bawah pengaruh keduanya.

Menurut paham Anglo Saxon, untuk dapat disebut negara di bawah Rule of Law, maka negara itu harus :

a. Tunduk pada Supremacy of Law; b. Equality before the law;

c. Menjamin dan melindungi HAM.

Menurut faham Eropa Kontinental, untuk dapat disebut negara hukum yang demokratis, negara itu harus :

a. Membagi atau memisahkan kekuasaan negara; b. Menjamin dan melindungi HAM;

c. Mendasarkan tindakannya pada undang-undang; d. Diselenggarakannya undang-undang itu;

e. Diselenggarakan suatu peradilan administrasi.

(11)

2.2 Aplikasi dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Indonesia, sebagai negara yang terlahir pada abad modern melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 juga mengklaim sebagai negara hukum. Hal ini diindikasikan dari adanya suatu ciri negara hukum yang prinsip-prinsipnya dapat dilihat pada Konstitusi Negara Republik Indonesia, yaitu dalam Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh (non pasal-pasal tentang HAM), dan penjelasan UUD 1945 dengan rincian sebagai berikut:

a. Pembukaan UUD 1945, memuat dalam alinea pertama kata “perikeadilan”, dalam alinea kedua “adil”, serta dalam alinea keempat terdapat perkataan “keadilan sosial”, dan “kemanusiaan yang adil”. Semua istilah itu berindikasi kepada pengertian negara hukum, karena tujuan hukum adalah mencapai negara keadilan. Kemudian pada alinea keempat juga ditegaskan “maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”.

b. Batang Tubuh UUD 1945, menyatakan bahwa “Presiden RI memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD (pasal 14). Ketentuan ini menunjukkan bahwa presiden dalam menjalankan tugasnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar. Dipertegas lagi oleh Pasal 27 UUD 1945 yang menetapkan bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Pasal ini selain menjamin prinsip equality before the law, hak demokrasi yang fundamental, juga menegaskan kewajiban warga negara untuk menjunjung tinggi hukum suatu prasyarat langgengnya negara hukum.

(12)

menjelaskan apa yang tersirat dan tersurat telah dinyatakan dalam Batang Tubuh UUD 1945.

Setelah UUD 1945 dilakukan perubahan, rumusan negara hukum Indonesia yang semula hanya dimuat secara implisit baik dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh UUD 1945, dan secara eksplisit dimuat dalam Penjelasan UUD 1945, penempatan rumusan negara hukum di Indonesia telah bergeser ke dalam Batang Tubuh UUD 1945 yang secara tegas dinyatakan di dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi: Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Jika dikaitkan dengan unsur-unsur negara hukum sebagaimana uraian pada pembahasan di atas, maka dapat ditemukan pengaturan unsur-unsur negara hukum dalam Batang Tubuh UUD 1945 sebagai berikut:

a. Perlindungan terhadap HAM; b. Pemisahan/pembagian kekuasaan;

c. Pemerintahan berdasarkan Undang-Undang; dan d. Peradilan administrasi yang berdiri sendiri.

(13)

BAB III

PENUTUP

c.1 Kesimpulan

Negara hukum harus ditopang dengan sistem demokrasi karena terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum yang bertumpu pada konstitusi, dengan kedaulatan rakyat yang dijalankan melalui sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, partisipasi rakyat merupakan esensi dari sistem ini. Akan tetapi, demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sementara hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Negara hukum yang demokratis, hukum dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan “tangan besi” berdasarkan kekuasaan semata. Sebaliknya, demokrasi haruslah diatur berdasarkan hukum karena perwujudan gagasan demokrasi memerlukan instrumen hukum untuk mencegah munculnya mobokrasi, yang mengancam pelaksanaan demokrasi itu sendiri. Jika dikaitkan dengan konteks negara hukum secara teoritis, gagasan kenegaraan Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai negara hukum secara teoritis, gagasan kenegaraan Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai negara hukum modern, yaitu negara hukum yang demokratis.

c.2 Saran

(14)

penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

____. 2007. Dasar-dasar Ilmu Politik,Cet. XXX. Jakarta: Gramedia.

Dahl, Robert A. 1985. Dilema Demokrasi Pluralis: Antara Otonomi dan Kontrol, alih bahasa oleh Sahat Simamora. Jakarta: Rajawali Press.

HR, Ridwan. 2011. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

http://auliaakbar90.blogspot.com/2011/04/negara-hukum-dan-demokrasi.html,

diakses tanggal 15 November 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Hak Cipta Komisi

Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) digunakan sebagai ajang latihan bagi mahasiswa agar memperoleh bekal dan pengalaman sejak dini untuk dapat menciptakan

Dalam rangka tertib penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro (PPKM Mikro) serta optimalisasi Pos

Setiap guru, siswa dan staff yang tergabung dalam Global Prestasi School secara otomatis telah memiliki kartu anggota sekolah yang juga dapat digunakan sebagai kartu anggota

Keluarga merupakan tempat dimana seseorang mulai membentuk dan menemukan karakter dirinya. Dalam sebuah keluarga, seorang anak memerlukan peranan orang tua dalam

Peningkatan bobot potong, persentase karkas maupun persentase daging karkas terjadi sebagai akibat semakin baiknya proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh serta

Dari pengamatan yang telah penulis lakukan berdasarkan hasil observasi langsung dengan Reservation Agent penulis telah memberi kesimpulan bahwa penanganan pemesanan kamar

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa ke- cenderungan perkembangan riap diameter dan riap tinggi tegakan sebelum umur te- gakan 10 tahun relatif hampir sama, yaitu setelah umur