• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEGIATAN PENYULUHAN OLEH PT CIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KEGIATAN PENYULUHAN OLEH PT CIT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEGIATAN PENYULUHAN OLEH PT CITRA

NUSANTARA MANDIRI KEPADA PETANI MITRA DI

KABUPATEN SOLOK

oleh

Nuraini Budi Astuti, Elfi Rahmi, Hery Bachrizal Tj, Dwi Evaliza dan Imsar Gunawan ABSTRAK

Penyuluhan pertanian berperan sebagai ujung tombak dalam pembangunan pertanian. Salah satu fungsi penting dari penyuluhan adalah memfasilitasi proses pembelajaran dan memberikan alternatif jalan keluar bagi permasaahan yang dihadapi oleh petani. Kegiatan penyuluhan tidak saja antara petani pemerintah, namun juga melibatkan pihak swasta. Penyuluhan oleh pihak swasta semakin menguat dan menjadi penting seiring dengan melemahnya peran penyuluhan oleh pemerintah. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah petani jagung di Kabupaten Solok serta mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan oleh PT CNM dengan petani mitra. Hasil penelitian menemukan bahwa masalah petani adalah permodalan, kelangkaan saprodi, infrastruktur jalan yang buruk, teknologi dan informasi pertanian yang kurang, serangan hama dan penyakit serta harga yang rendah. Sedangkan pelaksanaan kegiatan penyuluhan oleh PT CNM telah memenuhi lima dari tujuh fungsi penyuluhan berdasarkan UU SP3K no 16/2006. Dapat disimpulkan bahwa masalah yang dihadapi oleh petani tersebut, jika dibiarkan tentu akan menjadi peghambat dalam pembangunan pertanian, Sementara pelaksanaan kegiatan penyuluhan oleh PT CNM meskipun masih pada taraf transfer teknologi yang bersifat top down, namun telah membuat petani menadi better farming dan better bussines. Oleh karena itu disarankan agar pemerintah menempatkan penyuluh pertanan di daerah tersebut. Untuk petani disarankan agar lebih mampu mengelola keuangannya agar jika tidak lagi bekerjasama dengan PT CNM, tidak kembali terjerat hutang seperti sebelumnya.

Kata kunci: penyuluhan, masalah petani, kegiatan penyuluhan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian merupakan sektor penting di Indonesia karena lebih dari 60% penduduk Indonesia berdomisili di pedesaan dengan pertanian sebagai mata pencarian utama. Oleh karena itu sudah semestinya pembangunan pertanian menjadi landasan bagi pembangunan nasional dimana sektor-sektor lain menjadi penunjang.

Penyuluhan menjadi ujung tombak dalam pembangunan pertanian. Salim (2004) menyatakan bahwa kedudukan dan peran penyuluhan pertanian sangatlah strategis dalam pembangunan pertaian, karena merupakan upaya membangun kemampuan petani agar menjadi mandiri. Peran penyuluhan pertanian yang penting itulah, menurut Mardikanto (2009) yang akhirnya menempatkan kegiatan penyuluhan pertanian sebagai faktor kunci dalam keberhasilan pembangunan pertanian, jadi tidak hanya sebagai faktor pelancar sebagaiman yang diungkap oleh Mosher (1965).

(2)

pemasok untuk in put perusahaan, menyebabkan semakin intensifnya interaksi antara perusahaan tersebut dengan petani. Keberadaan perusahaan-perusahaan (pelaku usaha) yang bersinggungan lansung dengan para petani (pelaku utama) menyebabkan seringkali pihak perusahaan melalui agennya harus melakukan transfer pengetahuan agar petani dapat berproduksi sesuai standar atau mau menggunakan produk yang mereka hasilkan. Transfer pengetahuan ini dapat dikatakan sebagai bagian dari kegiatan penyuluhan.

Kegiatan penyuluhan oleh perusahaan (swasta) dalam penelitian ini adalah kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh PT Citra Nusantara Mandir (selanjutnya akan disingkat menjadi PT CNM) kepada para petani mitra mengenai tata cara penangkaran benih jagung. Perusahaan ini mempunyai kontrak kerjasama dengan petani, sistem kerjasama yang dilaksanakan adalah Sistem inti-plasma, dimana PT CNM sebagai inti dan petani sebagai plasma. Dalam kontrak kerjasama, disebutkan bahwa inti dalam hal ini pihak perusahaan mempunyai kewajiban untuk memberikan penyuluhan tentang tata cara penangkaran dihasilkan oleh PT CNM akan di pasok ke PT Pertani sebagai perusahaan pemasaran, pada tahun 2012 PT Pertani meminta benih jagung sebanyak 3000 ton. Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh perusahaan, membuat perusahaan tidak sanggup untuk memenuhi permintaan PT Pertani. Untuk mengatasi masalah tersebut, PT CNM bekerjasama dengan para petani yang disebut sebagai petani penangkar. Kerjasama tersebut diikat oleh sebuah kontrak kerjasama, dimana masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban tertentu yang telah disepakati. Jumlah petani penangkar tahun 2013 ini adalah sebanyak 4000 orang dengan luas lahan garapan mencapai 1193,73 ha yang tersebardi 4 daerah (kota dan kabupaten) di Sumatera Barat.

Agar petani dapat menghasilkan produk sesuai dengan standar perusahaan, maka perusahaan memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuan tentang tata cara pengkaran jagung hibrida. Di lain pihak petani juga berkewajiban untuk menanam, merawat dan panen sesuai dengan anjuran atau petunjuk teknis dari inti. PT CNM menyebut proses transfer pengetahuan ini sebagai kegiatan penyuluhan. Bagi peneliti hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan “bagaimanakegiatan penyuluhan tersebut dilakukan”? pertanyaan itu sekaligus menjadi pertanyaan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi permasalahan ditingkat petani, dan 2) menganalisis pelaksanaan kegiatan penyuluhan oleh PT CNM kepada petani mitra di Kabupaten Solok

METODOLOGI

Pendekatana Teori

(3)

Margono (2000) dalam Mardikato (2009) memaknai penyuluhan sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Istilah ini telah lazim digunakan oleh banyak pihak sejak Program Pengentasan Kemiskinan pada dasawarsa 1990-an. Terkait hal tersebut, selanjutnya Mardikanto (2009) merangkum kegiatan penyuluhan dari berbagai pemahaman, yaitu:

1. Penyebarluasan (informasi), penyuluhan sebagai terjemahan dari kata “extention”, dapat diartikan sebagai proses penyebarluasan, dalam hal ini informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dihasilkan leh perguruan tinggi ke dalam praktek atau kegiatan teknis.

2. Penerangan/penjelasan, penyuluhan berasal dari kata ”sulu” atau obor,dapat diartikan sebagai kegiatan penerangan atau memberikan terang bagi yang dalam kegelapan.

3. Pendidikan non-formal (luar sekolah),

4. Perubahan perilaku, penyuluhan adalaah proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun “perubahan perilaku” yang merupakan perwujudan dari: pengethuan, sikap dan keterampilan.

5. Rekayasa sosial, melakukan segala upaya untuk menyiapkan sumberdaya manusia agar mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam sistem sosialnya masing-masing.

6. Pemasaran inovasi (teknis dan sosial)

7. Perubahan sosial, penyuluhan dalam jangka panjang diharapan mampu menciptakan pilihan-pilihan baru untuk memperbaiki kehidupan masyarakatnya. 8. Pemberdayaan masyarakat, penyuluhan bertujuan untuk mrwujudkan masyarakat

madani dan mandiri dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri.

9. Penguatan kapasitas, upaya untuk melebih mampukan individu agar lebih mampu berperan di dalam kelompok dan masyarakat global.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus hingga Oktober 2013 di dua lokasi yaitu di Kota Solok tempat kantor PT CNM dan Kabupaten Solok yang merupakan lokasi dari petani mitra/penangkar. Dengan menggunakan metode studi kasus data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan studi literatur akan dianalisa secara deskriptif kualitatif. Data akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi dan uraian yang akan dikomparasi dengan konsep dan teori yang relefan. Sumber data berasal dari sampel petani sebanyak 20 orang dari populasi sebanyak 45 orang dengan periode tanam April – Juni 2013 ditambah key informan dari pihak PT CNM.

Kerangka Pemikiran

(4)

SWASTA yang menguasi teknologi PETANI dg teknologi sederhana

PENYULUHAN

informasi mengenai permasalahan

informasi mengenai permasalahan

Gambar 1. Kerangka pemikiran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Masalah Petani

Secara umum petani Indonesia merupakan petani gurem dengan berbagai masalah. Proses penyuluhan hadir memberikan alterntif berbagai pilihan kepada petani untuk membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi atau sebagai proses penumbuhan kesadaran petani akan masalah yang ada. Kegiatan penyuluhan tidak hanya melibatkan pemerintah dalam hal ini penyuluh pertanian yang berstatus PNS dengan petani saja, namun juga melibatkan pihak swasta. Bentuk hubungan yang terjalin antara swasta dan petani hendaknya tidak bersifat eksploitatif namun hubungan yang sifatnya kemitraan (kerjasama yang saling menguntungkan). Dengan pola kemitraan petani mendapatkan informasi dan teknologi pertanian yang lebih baik melalui transfer teknologi, sementara swasta atau dalam hal ini PT CNM mendapatkan sumberdaya yang membantu pemenuhan kebutuhan mereka yaitu produksi bibit jagung. Melalui pola kemitraan juga diharapkan petani memiliki alternatif jalan keluar bagi permasalahan yang mereka hadapi.

Dari hasil penelitian, berikut ini adalah masalah-masalah yang dihadapi oleh petani di Solok sebelum menjadi petani mitra pada PT CNM:

(5)

Masalah permodalan dirasakan oleh 85% petani, tidak hanya menyangkut tidak tersedianya lembaga permodalan saja namun juga ketidak mampuan petani untuk mengakses lembaga permodalan tersebut. Kurangnya modal sering kali menjadi penghambat bagi petani untuk mengembangkan usaha taninya. Dalam pembangunan pertanian, modal produksi atau dalam hal ini Mosher (1965) menyebutnya sebagai kredit produksi yang berfungsi sebagai faktor pelancar. Agar dapat berproduksi lebih banyak, petani harus lebih banyak mengeluarkan uang – untuk bibit unggul, obat-obat pemberantas hama pupuk dan alat-alat. Pengeluaran-pengeluaran seperti itu harus dibiayai dari tabungan atau dengan meminjam untuk jangka waktu antara pada saat sarana produksi dibeli hingga hasil panen dapat dijual.

Untuk daerah penelitian, tabel berikut ini akan menjelaskan sumber-sumber permodalan yang pernah dimanfaatkan oleh petani:

Tabel 1. Sumber modal yang pernah dimanfaatkan oleh petani

No. Sumber Permodalan Jumlah Petani (orang)

Keterangan

1 Modal Sendiri 20 Modal yang berasal dari

hasil panen sebelumnya dan tambahan dari bantuan keluarga di rantau.

2 Koperasi 8 Berdiri tahun 2005 – 2007

3 Perbankan 2 Hanya ada bank BRI di

kawasan tersebut dan letaknya di Pasar Sumani. 4 Pinjaman dari Toke 14 Tidak memerlukan agunan

dan proses peminjamannya lebih sederhana.

Biasanya para petani menggunakan modal yang berasal dari dana pribadi yang terbatas jumlahnya. Dana ini berasal dari simpanan hasil panen sebelumnya atau dana yang berasal dari keluarga mereka yang berada di rantau. Apa bila modal sendiri tidak mencukupi maka mereka biasanya akan melakukan peminjaman kepada toke. Pinjaman tersebut tidak akan ditambah bunga tetapi petani yang meminjam harus menjual hasil produksinya kepada toke tersebut dengan harga yang ditentukan oleh toke yag biasanya lebih rendah dari harga pasar. Lembaga lain yang menjadi sumber modal adalah koperasi dan Bank BRI. kedua lembaga ini dirasa agak merepotkan terutama bank selain prosedurny yang rumit, tempatnya relatif jauh masa pencairan dana pinjaman pun dirasa lama yaitu ± 10 hari. Sementara koperasi walau tidak serumit bank namun hanya bertahan 2 tahun saja karena manajemen yang kurang baik.

(6)

informasi/tindakan informasi teknologi

informasi permasalahan petani informasi kebutuhan

Balai Pengawas Sertifkasi Benih

(BPSB) Penyuluhan PT CNM Penyuluhan Petani Mitra

Infra struktur yang buruk, kelangkaan saprodi dan harga yang rendah

Kondisi jalan yang menghubungkan lokasi petani dengan pusat kabupaten dan pasar sangat buruk. Hal ini menyebabkan mobilitas masuk dan keluar lokasi menjadi terhambat dn ongkos transportasi yang mahal dirasakan oleh 40% petani. kondisi ini juga menjadi alasan seringnya pupuk datang terlambat atau tidak tersedia pada saat diperlukan (dirasakan oleh 80% petani). Sebenarnya petani bisa saja membeli ke Pasar Sumani (sekitar 7 km dari lokasi) namun karena harus mengeluarkan biaya tambahan berupa ongkos, maka petani merasa hal itu cukup memberatkan karena terkait juga dengan keterbatasan modal. Infrastruktur yang buruk juga menjadi alasan petani tidak menjual hasil panen ke pasar namun lebih memilih datangnya pedagang pengumpul ke lokasi. Hal ini membuat posisi tawar petani menjadi lemah karena harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Harga yang rendah dirasakan oleh 90% petani

Menurut Mosher (1965) syarat mutlak yang kelima dalam pembangunan pertanian adalah pengangkutan (sebelumnya ada aspek Pasar untuk hasil-hasil produksi, teknologi yang senantiasa berubah tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal, peransang produksi bagi petani). Tanpa pengangkutan yang efisien dan murah, keempat syarat lainnya tidak dapat diadakan secara efektif. Tanpa infrastruktur jalan yang baik, tentunya tidak akan mungkin ada pengangkutan yang efisien dan murah.

Kurangnya Informasi, teknologi yang sederhana dan serangan hama penyakit

Petani sebanyak 85% mengeluhkan tidak pernahnya penyuluh datang ke lokasi mereka. Hal ini menjadikan salah satu penyebab teknologi budidaya petani tidak pernah berubah dari tahun-ketahun yang berimplikasi terhadap produksi yang juga tidak pernah meningkat. Bahkan lebih buruk lagi jika terjadi serangan hama dan penyakit sangat berdampak signifikan dengan penurunan prodksi atau terjadi gagal panen seperti yang dirasakan oleh 70% petani didaerah penelitian.

Menurut Mosher (1965), teknologi yang senantiasa berubah merupakan syarat yang esensial atau mutlak dalam pembangunan pertanian. Hal ini karena peningkatan produksi pertanian adalah akibat dari pemakaian teniknik-teknik di dalam usahatani.

Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan oleh PT CNM kepada Petani Mitra di Kabupaten Solok

Penyuluhan dapat diartikan sebagai kegiatan memberikan saran atau pendapat kepada petani, sehingga petani mempunyai berbagai pilihan untuk memecahkan persoalan sesuai dengan kondisi dan masalah yang mereka hadapi (van den Ban, 1999).

Kegiatan penyuluhan oleh PT CNM ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(7)

Gambar 2. Proses Penyuluhan

Kegiatan penyuluha yang ditemui ternyata tidak saja melibatkan pihak PT CNM dengan petani saja, tetapi juga melibatkan pihak lain yaitu pemerintah dalam kasus ini pihak dari Balai Penjamin sertifikasi Benih (BPSB). Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa penyuluhan berperan sebagai perantara antara pemerintah (BPSB) dan pelaku bisnis (PT CNM) dan perantara antara pelaku bisnis dengan masyarakat (petani) (Mardikanto 2009).

PT CNM memberikan informasi mengenai kebutuhan perusahaan yang berkaitan dengan teknologi budidaya jagung hibrida kepada BPSB. Berdasarkan informasi tersebut kemudian BPSB memberikan penyuluhan baik dengan teknik pelatihan, ceramah maupun diskusi. Pertemuan antara BPSB dengan PT CNM yang diwakili oleh para kepala wilayah berlangsung sekali setahun. Sementara pertemuan antara BPSB dengan PT CNM yang diwakili oleh para pengawas lapangan diadakan tiap bulan. Dalam pertemuan yang diadakan setiap bulan biasanya dilakukan dengan metoda diskusi dimana masing-masing pengawas lapangan yang berhadapan lansung dengan petani mitra menceritakan permasalahan atau kondisi yang mereka temui dilapangan. Dalam kegiatan ini biasanya berlangsung diskusi, saling tukar pengalaman antar pengawas lapangan.

Pada awal petani bergabung menjadi petani penangkar/mitra di PT CNM mereka diberikan pelatihan mengenai teknik budi daya atau penangkaran benih jagung hibrida. Selanjutnya kegiatan penyuluhan antara PT CNM dengan petani mitra berlangsung untuk setiap satu musim tanam. Setiap hari para petugas lapangan akan memonitor/mengnjungi lahan petani sesuai dengan wilayah kerjanya. Pengawasan ini perlu untuk memastikan petani melakukan teknik budidaya sesuai dengan anjuran karena petani harus menghasilkan produk sesuai standar yang ditetapkan oleh PT CNM. Pada saat kunjungan ini petani bisa menyampaikan masalah yang tengah mereka hadapi. Pada saat penelitian, selama periode musim tanam April – Juni 2013 ditemui dua permasalahan yaitu serangan hama babi dan ulat penggerek.

Petugas lapangan yang mengetahui adanya masalah ditingkat petani akan melaporkan hal tersebut kepada kepala wilayah yang diteruskan kepada menejer lapangan. Menejer lapangan akan meneruskan informasi tersebut kepada direktur umum PT CNM untuk mengambil tindakan guna mengatasi permasalahan. Keputusan inilah yang kemudian diterima oleh petani sebagai solusi atas permasalahan mereka, namun tetap diberikan keleluasaan kepada petani apabila mempunyai cara lain yang dianggap lebih baik. Dari proses pengambilan keputusan pemecahan masalah terlihat bahwa petani tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Sistem pengambilan keputusan bersifat top down, meskipun dibebaskan apakah petani akan mengikutinya atau tidak.

(8)

teknologi yang digunakan dan sering juga lemah semangatnya untuk maju (Hadisapoetro, 1970 dalam Mardikanto, 2009)

Dari kegiatan penyuluhan yang dideskripsikan di atas, dapat dipahami bahwa penyuluhan disini lebih kepada proses transfer ilmu. Hal ini karena adanya kontrak kerjasama yang harus dipatuhi oleh petani, yaitu berproduksi sesuai dengan standar yang telah disepakati.

Uraian kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan oleh PT CNM kepada petani mitra di Kabupaten Solok sepertinya masih menitik beratkan pada aspek transfer pengetahuan. Belum terlihat adanya upaya yang dikembangkan oleh pihak perusahaan untuk membuat petani menjadi lebih berdaya. Ruang partisipasi bagi petani dalam kegiatan penyuluhan juga tidak terlihat, semua keputusan masih bersifat top down. Model seperti ini tidak akan menumbuhkan atau merangsang kreatifitas para petani. Jika kerjasama antara petani dengan PT CNM berakhir dapat diramalkan bahwa petani akan kembali kepada keadaan semula, karena begitu besar ketergantungan petani kepada PT CNM. Namun saat ini tidak dipungkiri bahwa kondisi petani (pelaku utama) telah relatif lebih baik. Sesuai dengan tujuan penyuluhan yaitu better farming dan better bussines, sementara untuk better living masih perlu dibuktikan dengan penelitian lain yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan petani.

PENUTUP Kesimpulan

1. Sebelum bergabung menjadi petani penangkar pada PT CNM, petani menghadapi masalah berupa, permodalan, kelangkaan saprodi, infrastruktur jalan yang buruk, teknologi dan informasi pertanian yang kurang, serangan hama dan penyakit serta harga yang rendah. Jika hal ini dibiarkan saja, maka kondisi ini akan menjadi penghambat dalam pembangunan pertanian.

2. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh PT CNM masih bersifat top down namun telah membuat membuat kondisi petani mencapi dua dri tiga tujuan penyuluhan yaitu better farming dan better living.

Saran

1. Tidak ada jaminan bahwa PT CNM akan terus mempertahankan kerjasama dengan petani, oleh karena itu peran pemerintah untuk menyediakan tenaga penyuluh pertanian tetap menjadi sesuatu yang penting.

2. Bagi petani agar mampu mengelola keuangan karena sekarang sudah tidak lagi terjerat hutang dengan toke. Jadi apabila suatu saat kerjasama ini berkahir petani dapat mandiri, setidaknya dalam aspek pembiayaan usahatani. Karena permasalahan petani sebagian besar berpangkal dari kurangnya modal sehingga membuat petani terjerat hutang.

3. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menggali keterangan mengenai kondisi kehidupan petani baik secara sosial maupun ekonomi setelah bergabung menjadi petani penangkar pada PT CNM untuk menjawab apakah aspek better living telah tercapai atau belum.

(9)

Braverman, A. and J.L. Gausch. 1989. Rural Credit in Development Countries. Working Paper Series 219. The World Bank, Washington DC.

Krisnamurti, B. 2008. “Agenda Pemberdayaan Petani dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional”. Jurnal Ekonomi Rakyat Th. 11 No. 7 [Jurnal On-Line]; Diperoleh dari: http://www.ekonomirakyat.org/edisi19/artikel 3.htm; Internet; Diakses pada 23 Agustus 2013.

Mardikato, Totok. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Solo

Mosher, AT, 1965. Menggerakan dan Membangun Pertanian. CV Yasaguna. Djakarta Syukur, M. dan H. Windarti. 2001. Karya Usaha Mandiri: Sebuah Skim Pembiayaan

Mikro Dalam Pengembangan Ekonomi Lokal. Puslitbang Sosek Pertanian, Badan Litbang Pertanian.

Van den ban, HW dan Hawkins. 2003. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Gambar

Gambar 1. Kerangka pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

j. Menugaskan kepada setiap Anggota Majelis Syura untuk mengadakan kunjungan kerja perseorangan ataupun bersama-sama di daerah pemilihannya atau daerah yang ditentukan. Dalam

Penelitian ini membahas tentang permasalahan yang berkaitan dengan pernikahan dan kehidupan berkeluarga sering sekali tidak dapat diatasi sendiri dengan adanya pengajian

Faktor yang dapat mempengaruhi motivasi, jenjang karier dan disiplin terhadap kinerja karyawan dengan variabel intervening kompensasi adalah faktor penentu yang penting untuk

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha (Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2012 Nomor 170),

Pemberian Serifikat Produk Pengguna Tanda SNI dapat diberikan kepada pelaku usaha apabila telah menerapkan sistem manajemen mutu, barang atau jasa yang dihasilkan telah

Terlihat perbaikan atrofi dan kematian sel pada sel-sel Langerhans berkurang kemudian oleh tubuh kerusakan jaringan dapat diperbaiki dengan cara regenerasi sel yang

Untuk itu diperlukan adanya media lain untuk melakukan knowledge sharing tentang tata cara pelaksanaan aktivitas penjilidan agar knowledge yang dimiliki oleh karyawan