• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Kasus Money Laundering Nazaruddi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Kasus Money Laundering Nazaruddi"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Kasus Money Laundering oleh M. Nazaruddin Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tindak Pidana Khusus

Semester ganjil 2016

Disusun oleh:

Anzhar Muhammad (1510631010013) Erik Herta Rotama (1510631010044) Fazlur Faqta Fauzan (1510631010052) Gita Nur Intan M.S (1510631010062) Sri Andini (1510631010145)

III A

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Analisis Kasus Money Laundring oleh M. Nazaruddin.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan batuan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi penyusunan kalimat maupun tata bahasa yang terdapat dalam makalah ini. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memnyempurnakan makalah ini.

Akhir kata penyusun berharap agar makalah tentang Analisis Kasus Money Laundring oleh M. Nazaruddin ini dapat memberikan wawasan serta manfaat bagi pembaca.

Karawang, 3 Oktober 2016

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengatar...i

Daftar Isi...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

BAB II TINJAUAN TEORI...2

A. Sejarah Money Laundering...2

B. Definisi Money Laundering...2

C. Unsur-unsur Tindak Pidana Pencucian Uang...4

D. Pengaturan Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang...5

E. Model Pencucian Uang...5

F. Modus Operandi...6

G. Metode Pencucian Uang...7

H. Instrumen...8

I. Tahap Pencucian Uang...8

J. Sanksi Hukum...10

BAB III ANALISIS KASUS...14

BAB IV PENUTUP...15

A. Kesimpulan...15

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tindak pidana pencucian uang merupakan suatu tindakan memproses sejumlah besar uang ilegal dari hasil tindak pidana menjadi dana yang kelihatannya bersih atau sah menurut hukum dengan menggunakan metode yang canggih, kreatif, dan kompleks.

Kejahatan pencucian uang tidak hanya merupakan permasalahan di bidang penegakan hukum, namun juga menyangkut ancaman keamanan nasional dan internasional suatu negara. Saat ini kegiatan pencucian uang telah melewati batas juridiksi yang menawarkan tingkat kerahasiaan yang tinggi atau menggunakan bermacam mekanisme keuangan dimana uang dapat ‘bergerak’ melalui bank, money transmitters, kegiatan usaha bahkan dapat dikirim ke luar negeri sehingga menjadi clean-laundered money.

Sehubungan dengan hal tersebut upaya untuk mencegah dan memberantas praktik pemutihan uang telah menjadi perhatian internasional yang antara lain dilakukan dengan melakukan kerjasama bilateral maupun multilateral.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan money laundrying 2. Apa saja tahap dalam tindak pidana money laundring

(5)

BAB II disebut dengan istilah money laundering. Pada waktu itu banyak orang yang membeli perusahaan dengan uang hasil kejahatan (uang panas), seperti hasil perjudian, penjualan narkotika, minuman keras secara ilegal, dan hasil pelacuran. Pusat-pusat gangster besar yang piawai masalah pencucian uang di Amerika Serikat yang terkenal adalah kelompok Legendaries Al Capone (Chicago). Mayer Lansky memutihkan uang kotor milik kelompok Al Capone dengan mengembangkan pusat perudian, pelacuran, serta bisnis hiburan malam di Las Vegas (Nevada). Lalu dikembangkan lagi offshore banking di Havana (Cuba) dan Bahama. Kegiatan pencucian uang yang dilakukan oleh kelompok ini menjadikan Mayer Lansky dijuluki sebagai bapak Money Laundering Modern.1

B. Definisi Money Laundering

Menurut Sarah N. Welling (1992) pencucian uang adalah proses dimana seseorang menyembunyikan keberadaan sumber (pendapatan) ilegal atau aplikasi pendapatan ilegal dan kemudian menyamarkan sumber (pendapatan) tersebut agar terlihat seperti sesuai dengan aturan huku yang berlaku.

Dalam definisi David Fraser (1992) pencucian uang kurang lebih adalah proses dimana “uang kotor” hasil dari tindak pidana dicuci menjadi “bersih” atauuang kotor yang dibersihkan melalui suatu sumber hukum dan perusahaan yang legal sehingga “para penjahat” dapat dengan aman menikmati hasil jerih payah tindak pidana mereka.

(6)

Pencucian uang adalah sebuah kegiatan memproses uang yang secara akal sehat dipercayai berasal dari tindakan pidana yang dialihkan, ditukarkan, diganti, atau disatukan dengna dana yang sah dengan tujuan untuk menutupi ataupun mengaburkan asal, sumber, disposisi, kepemilikan, pergerakan, ataupun kepemilikan proses tersebut.

Tindak pidana pencucian uang adalah sengketa perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini.2 Adapun yang dimaksud dengan hasil tindak pidana pencucian uang adalah harta kekayaan yang diperoleh dari berbagai

5. Tindak pidana penyelundupan tenaga kerja; 6. Tindak pidanapenyelundupan migran; 7. Tindak pidana di bidang perbankan; 8. Tindak pidana di bidang pasar modal; 9. Tindak pidana di bidang perasuransian; 10. Tindak pidana pebaeanan;

11. Tindak pidana cukai;

12. Tindak pidana perdagangan orang;

13. Tindak pidana perdagangan senjata gelap; 14. Tindak pidana terorisme;

(7)

24. Tindak pidana di bidang lingkungna hidup;

25. Tindak pidana di bidang kelautan dan perikanan; atau

26. Tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih;

Yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau diluar wilayah NKRI, dan tindak-tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indoneisa. (Ketentuan pasal 2 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010).

C. Unsur-unsur tindak pidana pencucian uang

Berdasarkan ketentuan pasal-pasal 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 UU No. 8 Tahun 2010, yang termasuk ke dalam unsur-unsur tindak pidana pencucian uang adalah :

1. Setiap orang baik perseorangan maupun korporasi dan personil pengendali korporasi.

2. Menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar egeri, mengubah bentuk, menukarkan dengna mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain alias harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak-tindak pidana sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010.

3. Menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak-tindak pidana sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010.

4. Bertujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas hart akekayaan yang diketahuiya atau patut diduganya merupakan hasil tindak-tindak pidana sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010.

(8)

Tindak pidana pencucian uang di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasa tindak pidana pencucian uang.

UU No. 8 Tahun 2010 diundangkan pada 22 Oktober 2010 menggantikan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, yang sebelumnya juga telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, yang dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan penegakan hukum, praktik, dan standar internasional.

E. Model Pencucian Uang

Schaap, Cees sebagaimana dikutip oleh Munir Fuady mengemukakan banyak model untuk melakukan kejahatan pencucian uang. Diantaranya model pencucian uang yang paling lazim adalah sebagai berikut:

1. Model dengan operasi C-Chase mendapatkan konses pizza, dan melibatkan negara tax haven dengan memanfaatkan ekspor fiktif.

3. Model La Mina

Model ini memanfaatkan pedagang grosis emas dan permata dalam negeri dan luar negeri.

4. Model dengan penyelundupan uang kontan ke negara lain

Model ini mempergunakan konspirasi bisnis semu dengan sistem bank paralel.

5. Model dengan melakukan perdagangan saham di bursa efek

Model ini melakukan kerja sama dengan lembaga keuangan yang bergerak di bursa efek.

(9)

1. Kerja sama penanaman modal

Uang hasil kejahatan dbawa ke luar negeri. Kemudian, uang itu dimasukan lagi ke dalam negeri melalui proyek penanaman modal asing (joint venture). Selanjutnya, keuntungan dari perusahaan joint venture diinvestasikan lagi ke dalam proyek-proyek lain sehingga keuntungan dari proyek tersebut sudah uang bersih bahkan dikenakan pajak.

2. Kredit bank swiss

Uang hasil kejahatan diselundupkan dulu ke luar negeri, dimasukkan di bank tertentu lalu ditransfer ke bank seiss dalam bentuk deposito. Deposito dijadikan jaminan utang atas pinjaman di bank lain di negara lain. Uang dari pinjaman ditanamkan kembali ke negara asal tempat kejahatan dilakukan. Segala kegiatan ini menjadikan uang tu bersih.

3. Transfer ke luar negeri

Uang hasil kejahatan ditransfer ke luar negeri melalui cabang bank luar negeri di negar asal. Selanjutnya, dari luar negeri uang dibawa kembali ke dalam negeri oleh orang tertentu seolah-olah itu berasal dari luar negeri.

4. Usaha tersamar dalam negeri

Suatu perusahaan samaran di dalam negeri didirikan dengan hasil kejahatan. Perusahaan itu berbisnis tanpa mempersoalkan untung atau rugi. Akan tetapi, seolah-olah perusahaan itu telah menghasilkan uang bersih.

5. Tersamar dalam perjudian

Uang hasil kejahatan digunakan untuk usaha perjudian sehingga uang itu dianggap sebagai usaha judi. Selain itu, uang tersebut digunakan untuk membeli nomor undian berhadiah dan nomor yang akan keluar dipesan dengan harga tinggi sehingga uang itu dianggap sebagai hasil menang undian.

(10)

Uang hasil kejahatan tetap di dalam negeri. Keberadaan uang itu didukung oleh dokumen bisnis yang dipalsukan atau direkayasa sehingga ada kesan bahwa uang itu merupakan hasil berbisnis yang berhubungan dengan dokumen yang bersangkutan. Rekayasa itu misalnya, dengan melakukan double invoice dalam halekspor-impor sehingga uang itu dianggap hasil kegiatan ekspor-impor.

7. Pinjaman luar negeri

Uang hasil kejahatan dibawa ke luar negri. Kemudian, uang itu dimasukkan lagi ke dalam negeri asal dalm bentuk pinjaman luar negeri. Dengan cara ini, uang itu dianggap diperoleh dari pinjaman (bantuan kredit) luar negeri.

8. Rekayasa pinjaman luar negeri

Uang hasil kejahatan tetap berada di dalam negeri, tetapi dibuat rekayasa dkumen seakan-akan bantuan pinjaman dari luar negeri.

G. Metode pencucian uang 1. Buys and sell conversions

Metode ini dilakukan melalui transaksi barang dan jasa. Suatu aset dapat dijual kepada konspirator yang bersedia membeli atau menjual lebih mahal dengna mendapatkan fee atau diskon. Selisih harga yang dibayar kemudian dicuci secara transaksi bisnis. Barang atau jasa dapat diubah menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau perusahaan yang ada di suatu bank.

2. Offshore conversions

(11)

ketat serta pembentukan usaha trust fund. Untuk mendukung usaha itu, pelaku memakai jasa pengacara, akuntan, dan konsultan keuangna dan par apengelola dana yang handal untuk memanfaatkan segala cela yang ada di negara itu.

3. Legitimate business conversions

Metode ini dilakukan dengan mendirikan kegiatan bisnis yang sah sebagai cara pengalihan atau pemanfaatan hasil uang kotor. Uang kotor kemudian dikonversi secara transfer, cek, atau alat pembayan lain untuk disimpan di rekening bank atau ditransfer kemudian ke rekening bank lainnya. Biasanya, pelaku bekerja sama dengan perusahaan yang rekeningnya dapat digunakan sebagai terminal untuk menampung uang kotor.

H. Instrumen

Intrumen adlaah lembaga penyedia jasa, baik penyedia jasa keuangna berupa bank atau nonbank maupun non-keuangan.

Ada beberapa instrumen yang dipergunakan dakam pencucian uang, yaitu:

1. Bank dna lembaga keuangan lainnya; 2. Perusahaan swasta;

3. Real estate;

4. Deposit taking institution dan money changer; 5. Institusi penanama uang asing;

6. Pasar modal dan pasar uang 7. Emas dan barang antik 8. Kantor konsultan keuangan.

I. Tahap pencucian uang

(12)

dapat diketahui atau dilacak oleh penegak hukum, para pelaku umumnya memakai tiga tahap pencucian uang sebagai berikut :3

1. Placement

Placement diartikan sebagai upaya untuk menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu aktivitas kejahatan ke dalam sistem keuangan. Dalam hal ini terdapat pergerakan fisik dan uang tunai baik melalui penyelundupan uang tunai dari satu negara ke negara lain, menggabungkan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil kegiatan yang sah, ataupun dengan melakukan penempatan uang giral ke dalam sistem perbankan, misalnya deposito bank, cek atau melalui real estate atau saham-saham atau juga mengkonversikan ke dalam mata uang lainnya atau transfer uang ke dalam valuta asing.

2. Layering

Layering diartikan sebagai memisahkan hasil kejahatan dari sumbernya yaitu aktivitas kejahatan yang terkait melalui beberapa tahapan tranaksi keuangan. Dalam hal ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lainnya melalui serangkaian transaksi yang kompleks yang didesain untuk menyamarkan/mengelabui sumber dana ”haram” tersebut. Layering dapat pula dilakukan melalui pembukaan sebanyak mungkin perusahaan-per usahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank.

3. Integration

Integration adalah upaya menggunakan harta kekeyaan yang telah tampak sah baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana. Dalam melakjukan pencucian uang, pelaku tidak terlalu mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh dan biaya yang harus dikeluarkan, karena tujuan

(13)

utamanya adalah menyamarkan atau menghilangkan asal-usul uang sehingga hasil akhirnya dapat dinikmati atau digunakan secara aman. Ketiga kegiatan di atas dapat terjadi secara terpisah atau simultan, namun umumnya dilakukan secara tumpang tindih. Modus operandi pencucian uang dari waktu ke waktu semakin komppleks dengan menggunakan teknologi dan rekayasa keuangan yang cukup rumit. Hal itu terjadi baik pada tahap placement, layering, maupun integration., sehingga penanganannya pun semakin sulit dan membutuhkan peningkatan peningkatan (capacity building) secara sitematis dan berkesinambungan. Jadi dalam integration, begitu uang tersebut telah berhasil diupayakan proses pencuciannya melalui cara layering, maka tahap selanjutnya adalah menggunakan uang yang telah menjadi “uang halal” (clean money) untuk kegiatan bisnis atau kegiatan operasi kejahatan dari penjahat atau organisasi kejahatan yang mengendalikan uang tersebut. Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini dana yang begitu besar dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan terutama yang menyangkut narkotika. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar, maka ada tiga permasalahan yang harus ditanganin jika ingin menggagalkan praktik kotor pencucian uang haram ini, yaitu kerahasiaan bank, kerahasiaan financial secara pribadi, dan efesiensi transaksi.

J. Sanksi hukum

(14)

Pasal 3 UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 4 UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 5 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 6 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

(15)

Pasal 6 ayat (2) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Pidana dijatuhkan terhadap Korporasi apabila tindak pidana Pencucian Uang:

a. dilakukan atau diperintahkan oleh Personil Pengendali Korporasi; b. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dan tujuan Korporasi; c. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku atau pemberi perintah; dan

d. dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi Korporasi.

Pasal 7 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Pidana pokok yang dijatuhkan terhadap Korporasi adalah pidana denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Pasal 7 ayat (2) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap Korporasi juga dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa:

a. pengumuman putusan hakim;

b. pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha Korporasi; c. pencabutan izin usaha;

d. pembubaran dan/atau pelarangan Korporasi; e. perampasan aset Korporasi untuk negara; dan/atau f. pengambilalihan Korporasi oleh negara.

Pasal 8 UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Dalam hal harta terpidana tidak cukup untuk membayar pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5, pidana denda tersebut diganti dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan.

Pasal 9 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

(16)

Korporasi yang nilainya sama dengan putusan pidana denda yang dijatuhkan.

Pasal 9 ayat (2) UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

Dalam hal penjualan Harta Kekayaan milik Korporasi yang dirampas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mencukupi, pidana kurungan pengganti denda dijatuhkan terhadap Personil Pengendali Korporasi dengan memperhitungkan denda yang telah dibayar.

Pasal 10 UU No. 8 Tahun 2010 berbunyi :

(17)

BAB III ANALISIS KASUS

Mantan Bendahara Partai Demokrat yakni M. Nazaruddin ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana pencucian uang (money laundering). Penetapan tersangka ini merupakan pengembangan penyidikan dari perkara Wisma Atlet, dimana M. Nazaruddin menjadi terdakwa. Pemilik permai grup itu diduga membeli saham di PT Garuda menggunakan dana yang berasal dari hasil tindak pidana korupsi proyek Wisma Atlet.

Pembelian saham garuda oleh permai grup terungkap dari kesaksian Yulianis yang mengatakan bahwa perusahaan Nazaruddin membeli saham garuda senilai Rp 300,8 miliar. Uang pembelian saham berasal dari dana fee proyek-proyek yang diterima permai grup.

Pembelian dilakukan oleh lima anak perusahaan permai grup yakni PT Permai Raya Wisata (Rp 22,7 miliar), PT Cakrawala Abadi (Rp 37,5 miliar), PT Exartech Technology Utama (Rp 124,1 miliar), PT Pasific Putra Metropolitan (Rp 75 miliar), dan PT Darmakusuma (Rp 41 miliar). Total pembelian saham garuda itu Rp 300,8 miliar yang berasal dari keuntungan proyek.

(18)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah, maka penulis menyimpulkan bahwa:

1. Pencucian uang (Money Laundering) adalah sebuah kegiatan memproses uang yang secara akal sehat dipercayai berasal dari tindakan pidana yang dialihkan, ditukarkan, diganti, atau disatukan dengna dana yang sah dengan tujuan untuk menutupi ataupun mengaburkan asal, sumber, disposisi, kepemilikan, pergerakan, ataupun kepemilikan proses tersebut.

2. Tahapan dalam tindak pidana pencucian uang yakni : a. Penempatan uang (placement)

b. Pelapisan uang (layering) c. Penyatuan uang (integration)

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Syamsuddin Aziz, S.H., S.E., M.H., MAF, 2016, Tindak Pidana Khusus, Sinar Grafikaa Jakarta

Drs. Yamin Muhammad, M.H., 2012, Tindak Pidana Khusus, Pustaka Setiaa Bandung

Referensi

Dokumen terkait

“Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata

8 Tahun 2010 Pasal 3 mengenai ketentuan “setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar

Tindak pidana pencucian uang : yaitu tindakan untuk menempatkan, mentransfer, membayar/membelanjakan, menghibahkan atau menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan

mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat

setiap orang yang menempatkan, mentrasfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan

mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain

Menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga

SETIAP ORANG YANG MENEMPATKAN, MENTRANSFER, MENGALIHKAN, MEMBELANJAKAN, MEMBAYARKAN, MENGHIBAHKAN, MENITIPKAN, MEMBAWA KE LUAR NEGERI, MENGUBAH BENTUK, MENUKARKAN DENGAN MATA UANG ATAU