• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSIKOPATOLOGI DAN PSIKOTERAPI MENURUT PS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PSIKOPATOLOGI DAN PSIKOTERAPI MENURUT PS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOPATOLOGI DAN PSIKOTERAPI MENURUT

PSIKOLOGI BUDDHIS

A. PENGANTAR

Pada makalah ini akan dibahas tentang Psikopatologi dan Psikoterapi dari psikologi Budhisme. Dimana pada jaman sekarang ini ilmu psikologi klinis sudah berkembang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi tentang psikopatologi dan psikoterapi. Psikopatologi sendiri adalah ilmu atau studi yang mempelajari tentang gangguan jiwa, perilaku maladaptive dan tekanan mental. Kemudian psikoterapi sendiri adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku seseorang dengan interaksi formal antara dua pihak atau lebih yaitu antara klien dan psikoterapis yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien.

(2)

Jalan untuk transformasi ini selalu melalui suatu perubahan yang menyeluruh dalam kepribadian seseorang, sehingga kualitas- kualitas ideal ini dapat menjadi sifat – sifat yang tetap. Akhirnya, semua psikologi Timur mengakui bahwa jalan utama ke arah transformasi diri ini adalah meditasi.

Pada psikologi timur ini yang banyak berperan yaitu agama budha dimana prinsip – prinsip psikologisnya dikemukakan oleh penemu agama ini yaitu budha Gautama. Dan ilmu psikologi budha yang paling sistematik tersusun paling rinci diberinama Abhidhama yang berarti ajaran pokok. Psikologi ini menguraikan wawasan asli dari budha Gautama tentang kodrat manusia. Karena psikologi ini berasal dari ajaran – ajaran pokok agama budha maka abhidama ini merupakan inti dari berbagai cabang budhisme.

Pada abhidhama ini sendiri, sama halnya seperti psikologi barat yang mengenal ada mental yang sehat atau kesehatan mental, mengenal adanya konsep faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat. Dimana akhirnya dari situ kita akan bisa mengetahui apa itu pskopatologi menurut budhisme dan apa itu psikoterapi menurut budhisme.

B. TEORI

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik nampak maupun tidak nampak, terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor tidak sehat tertentu maka akan menghasilkan psikopatologi.

1. Unsur-Unsur Kepribadian

Kepribadian adalah perpaduan dari sekumpulan proses impersonal (bersifat pribadi) yang timbul dan menghilang. Munculnya perilaku dalam suatu individu merupakan gabungan dari pikiran, penginderaan, hawa nafsu dan sebagainya. Hanya kesadaran penuh akan diri lah yang dapat menghubungkan dari waktu ke waktu, biasanya disebut Bhava.

Objek psikologi Abhidamma adalah: a. Penginderaan dari panca indera

b. Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam

c. Setiap keadaan jiwa yang terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa, yang disebut faktor jiwa.

Prinsip-prinsip keadaan jiwa, baik sehat maupun tidak sehat:

a. Setiap keadaan jiwa hanya sebagian kecil kumpulan faktor yang hadir.

(3)

c. Abhidhamma yakin bahwa setiap keadaan jiwa berasal dari pengaruh biologis dan pengaruh situasi, di samping pemindahan pengaruh psikologis sebelumnya. d. Setiap keadaan jiwa pada gilirannya menentukan kombinasi khusus faktor-faktor

dalam keadaan jiwa berikutnya.

Peranan faktor-faktor jiwa adalah:

a. Kunci menuju karma (prinsip bahwa setiap perbuatan dimotivasi oleh keadaan-keadaan jiwa yang melatarbelakanginya.

b. Suatu tingkah laku pada hakikatnya secara moral adalah netral.

c. Oleh sebab itu sifat moral tingkah laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi orang untuk melakukan perbuatan itu.

d. Perbuatan seseorang memiliki campuran fator-faktor jiwa negatif.

e. Intinya bahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang dipikirkannya, yakni berdasarkan pikirannya, dan dibentuk oleh pikirannya juga.

2. Macam-Macam Faktor Jiwa

a. Kusula : Berarti murni, baik, sehat.

b. Akusula : Berarti tidak murni, tidak baik, tidak sehat.

Ada tujuh sifat netral yang ada dalam setiap keadaan jiwa. Faktor-faktor tersebut merupakan jenis kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. kombinasi khusus faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen.

a. Phasa : Appersepsi adalah kesadaran semata-mata (penghayatan maksimal) ke suatu objek.

b. Sanna : Persepsi, adalah pengenalan pertama bahwa kesadaran semata-mata pada suatu objek yang tersebut termasuk dalam salah satu indera. Misalnya penglihatan, pendengaran, pembauan, dsb.

c. Cetana : Kemauan, yakni reaksi terkondisi yang menyertai suatu objek. d. Vedana : Perasaan, aneka penginderaan yang dibangkitkan oleh objek itu. e. Ekaggata : Keterarahan kepada satu titik, yakni pemusatan kesadaran.

f. Manasikara : Perhatian spontan, yakni pengarahan perhatian yang tidak disengaja karena daya tarik dari objek.

g. Jivitindriya : Energy psikis, yang memberi vitalitas dan mempersatukan keenam faktor jiwa lainnya.

3. Faktor-Faktor Jiwa Tidak Sehat

A. Beberapa contoh faktor tidak sehatnya pada jiwa dari kelompok kognitif, antara lain sebagai berikut:

1) Moha : Delusi, bersifat perceptual, sentral, yakni kegelapan jiwa, penyebab persepsi salah pada objek kesadaran.

(4)

yang tertuju menjadi tidak menyenangkan. Misalnya, pandangan diri sebagai yang tetap model barat, secara timur hal-hal tersebut adalah aditthi.

3) Vicikiccha : Kebingungan, mencerminkan ketidak mampuan untuk menentukan atau membuat suatu keputusan yang tepat.

4) Ahirika : Sikap tidak tahu

5) Anottapa : Tanpa belas kasihan, bengis, kejam, sadis.

6) Mana : Egoism, egoistis, mementingkan diri sendiri

B. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok afektif ialah : 1) Uddhacca : Keresahan , rasa tidak tentram

2) Kukkucca : Kekhawatiran, yakni keadaan bingung, linglung,penyesalan.

3) Lobha : Tamak, rakus serakah. 4) Macchariya : Kekikiran , pelit .

5) Issa : Iri hati, menyebabkan keterikatan pada objek.

6) Dosa : Kemuakan, merupakan sisi negatifnya dan selalu berhubungan dengan delusi .

7) Thina : Kontraksi , pengerutan, kejang-kejang,gemetar 8) Middha : Kebekuan,sikap dingin .

Faktor-faktor tersebut penyebab jiwa menjadi kaku, tidak luwes, dan jika dominan maka orang menjadi lamban.

Faktor-faktor jiwa sehat bersifat polar dengan lawannya. Jalan tengah tidak ada. Prinsip polar tersebut dijadikan cara untuk membuat jiwa yang sehat, yakni mengganti faktor-faktor tidak sehat. Hal ini merupakan prinsip resiprokal yang menghambat timbale balik .

Sementara itu berapa faktor jiwa sehat dari kognitif ialah sebagai berikut :

a. Panna : Pemahaman, insight, lawan dari delusi, persepsi yang jelas. Panna dan moha tidak dapat hadir bersama .

b. Sati : Sikap penuh perhatian, mind fulnness, pemahaman yang jelas dan kontinyu pada objek. Panna dan sati menyebabkan orang menjadi tenang selalu, dapat untuk menekan semua faktor tidak sehat.

c. Hiri : Rendah hati, menghambat tidak tahu malu . d. Ottappa : Sikap penuh hati-hati, sikap tanpa penyesalan . e. Cittujjukata : Kejujuran, gandengan dari ottappa ( kejujuran )

f. Saddaha : Kepercayaan, yakni kepastian berdasarkan pada persepsi yang tepat. Kombinasi dari hiri, ottapa, cittjjukata dan saddha.

4. Tipe-Tipe Kepribadian

Tipe kepribadian menurut ajaran Abhidhamma adaah sebagai berikut:

(5)

2. Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan pengaruh fakor-faktor tersebut pada tingkah laku. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari sesuatu atau menjauhinya.

3. Tipe-tipe manusia menurut Visudhimagga antara lain ialah:

a. Tipe orang suka kenikmatan: berpenampilan menarik, sopan dan menjawab dengan hormat jika disapa. Mereka melakukan tugas-tugas mereka dengan seni, rapi, sangat berhati-hati. Jika melihat objek yang menyenagkan, mereka akan berhati-hati untuk mengaguminya, terpesona oleh tindakan, dan tidak memperhatikan kekurangannya. Jika mereka meninggalakan objek yang yang indah dengan rasa sesal.

b. Tipe orang pembenci: berdiri dengan kaku, tempat tidur dibereskan dengan serampangan dan tergesa-gesa, berdiri dengan tegang, dan marah jika dibangunkan. Jika bekerja, mereka kasar dan sembrono, jika menyapu berbunyi keras dan gaduh. Berpakaian ketat dan tidak rapi. Senang pada makanan pedas dan asam, makan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan cita rasa, tidak suka makanan hambar. Mereka tidak tertarik pada objek-objek yang indah, memperhatikan kekurangan sampai yang kecil-kecil, sementara mengabaikan kebaikan-kebaikannnya, sering marah, penuh kebencian, kejam, mudah iri hati dan kikir.

c. Tipe orang delusi, dapat dideskripsikan sebagai berikut:

 Pakaiannya compang-camping, benangnya berselawiran, kasar seperti rami,berat dan tidak enak dipakai.

 Mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang berat, bentuknya tidak serasi, memuakkan,tidak rata, tidak ada di desa sekitarnya.

 Desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur, orangnya lalu-lalang seolah-olah tidak melihatnya.

 Orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar, kotor, tak sedap dipandang mata, makanan kotor, berbau dan menjijikkan.

 Makannya bubur yang telah hancur, dadih basi (langit-langit susu), bubur yang asam, kari dari sayuran tua-tua, atau apa saja asal dapat mengisi perut. Mengisi mulut sepenuh-penuhnya, ceroboh, mengotori muka (dalam bahasa jawa gabres).

 Cara berdiri seenaknya, suka tidur terlentang, bangun lamban, suka menggerutu, banyak keluh kesah, tempat tidur tidak rapi.

(6)

 Mereka tidak mempunyai ide baik atau jelek pada benda, percaya saja apa

yang dikatakan oleh orang lain, lalu turut memuja atau mencelanya.

 Sering berkelakuan malas, kaku, kacau, mudah menyerah, dan bingung, dapat juga keras kepala dan bandel.

3A. DINAMIKA PSIKOPATOLOGI

Psikopatologi di dalam Buddhis adalah ketika manusia dipenuhi atau didominasi oleh faktor-faktor jiwa yang tidak sehat seperti delusi, pandangan yang salah, sikap tak tahu malu, kecerobohan, egoirsme, keresahan, ketamakan, kemuakan, iri hati, kekikiran, kekhawatiran, pengerutan, kebekuan dan kebingungan. Faktor-faktor jiwa yang tidak sehat tersebut mengganggu usaha manusia untuk mengheningkan jiwa dalam samadi (meditasi)

Secara operasional, indikator untuk mengkategorikan seseorang dalam kepribadian yang sehat atau gangguan jiwa adalah sebagai berikut:

a) Pribadi sehat  Tidak ada faktor-faktor tidak sehat atau selalu ada faktor sehat. b) Jiwa terganggu  Ada faktor jiwa tidak sehat yang menguasai kejiwaan

seseorang.

c) Kriterium untuk kesehatan jiwa  Adanya faktor-faktor yang sehat dan ketiadaan

faktor-faktor yang tidak sehat dalam sistem pengelolaan sumber daya psikologis seseorang.

Sehingga, menurut Abhidhamma orang yang sehat adalah

- Karuna yaitu kebaikan hati yang penuh kasih. Dalam Psikologi Humanistik dikenal dengan Unconditional positive regard.

- Mudita yaitu merasakan nikmat dalam kebahagiaan orang lain.

- Tidak tertarik akan hal-hal duniawi. Karena dalam kitab suci Buddha mengatakan bahwa “Semua orang yang tertarik hal-hal duniawi adalah gila”

- Annusaya yaitu telah dipahami bahwa kecenderungan dari jiwa mengarah ke keadaan-keadaan jiwa tidak sehat.

- Meditasi yaitu sebagai sarana menuju kepribadian sehat dengan bhava.

Dinamika psikologis yang terjadi dalam diri manusia menurut Buddhis adalah sebagai berikut:

a. Faktor faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat.

b. Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang faktor-faktor sehat dan tidak sehat.

c. Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya.

(7)

e. Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor tandingan secara keseluruhan, misalnya jika terdapat delusi, maka tidak satu pun faktor baik dapat timbul atau hadir bersamanya.

f. Kamma atau karma seseoranglah sebagai penentu, apakah ia akan mengalami keadaan jiwa sehat atau keadaan jiwa tidak sehat.

g. Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dann pengaruh-pengaruh situasi di samping juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Biasanya berupa suatu kelompok, entah positif atau negatif (baik atau buruk).

h. Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda.

i. Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan bagaimana seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu.

j. Walaupun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang dialami akan sangat berbeda, tergantung pada apakah, misalnya ketamakan dan kebekuan yang mendominasi jiwa.

k. Hierarki kekuatan dan faktor-faktor tersebut menetukan apakah keadaan spesifik itu akan menjadi positif atau negatif.

l. Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam keadaan jiwa seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian.

m. Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang, menentukan sifat-sifat kepribadiannya.

n. Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat sebagai berikut:

(8)

h) Kecakapan

i) Kejujuran h) Kebekuani) Kebingungan

3B. BERBAGAI MODEL & PROSES PSIKOTERAPI

Tujuan dalam psikoterapi adalah untuk melatih manusia mengalahkan gejala-gejala psikologis yang dominan sehingga menjadikan jiwa manusia seimbang dan dapat disebut sebagai manusia yang harmonis. Setelah seseorang menyadari faktor tidak sehat dalam dirinya, belum berarti apa-apa. Seseorang tersebut sebaiknya mencari strategi untuk mencapai keadan sehat. Pendekatan yang dianjurkan ialah melakukan meditasi atau samadi.

Kegiatan meditasi ada dua cara, meditasi dengan berkonsentrasi dan metode meditasi dengan bersikap netral terhadap apapun yang muncul dan hilang dalam kesadaran. Metode yang pertama disebut meditasi konsentrasi dan metode yang kedua disebut meditasi penuh perhatian.

1. Meditasi Konsentrasi

Pada meditasi konsentrasi, meditator (pelaku meditasi) berusaha fokus pada satu objek atau satu titik. Selama proses meditasi, meditator berusaha melampaui apa yang dianggap batas normal dalam berfokus dengan satu objek dalam kesadaran. William James berkata bahwa mungkin tidak seorang pun secara terus menerus dapat mempertahankan hanya satu objek yang tidak berubah. Dan memang itulah tujuan meditasi. Semakin mendalam konsentrasi, maka semakin stabil jiwa meditator dan meditator dapat menyadari apa saja yang dia pikirkan dan rasakan (awareness). Dengan banyak latihan meditasi, seorang meditator dapat mencapai kondisi dimana hambatan-hambatan terhadap konsentrasi dapat diatasi.

Faktor-faktor yang mempercepat konsentrasi ialah:

a. Vicara dan vitakka, artinya perhatian yang diterapkan dan dipertahankan, memusatkan perhatian hanya pada satu objek secara terus menerus.

b. Piti : Perasaan terpesona c. Viriya : energi, tenaga d. Uphekka : Ketenangan hati

Tingkatan samadi terdapat dua macam, ialah:

(9)

pada tingkat kedua.

2. Jhana, keadaan diluar kesadaran. Dalam beberapa tradisi Buddha dan Hindu disebut samadi. Dalam jhana persepsi-persepsi dan pikiran-pikiran normal berhenti sama sekali.

Tingkatan jhana ada beberapa macam yang menggambarkan bahwa tingkatan samadi semakin mendalam pada jhana-jhana berikutnya. Dalam jhana pertama, meditator secara total terarah pada satu objek, sehingga jiwanya seperti melebur di dalamnya. Rasa lebur itu dibarengi dengan kebahagiaan, perasaan terpesona, dan lenyapnya pikiran dan perasaan lain dari jiwanya.

Diluar jhana terdapat tujuh tingkatan lainnya. Semakin tinggi tingkatannnya ditandakan dengan semakin intens disertai perasaan bahagia yang semakin sukar untuk dilukiskan. Pada jhana yang tinggi, perasaan bahagia akan digantikan dengan ketenangan batin yang kuat. Hal ini akan membuat faktor tidak sehat akan terhamabt dan faktor-faktor tidak sehat akan berkuasa. Jika jhana semakin dalam, maka penghilangan faktor tidak sehat akan semakin efisien.

2. Meditasi dengan Sikap Penuh Perhatian

Pada metode ini, meditator berusaha mencapai kesadaran penuh kepada sikap dan semua isi jiwa. Meditator tidak membiarkan perhatiannya berpusat pada pikiran atau perasaan tertentu, tetapi berusaha mempertahankan peran sebagai “saksi” yang netral terhadap semua itu. Meditator tidak menolak atau mengejar, tetapi setelah hal-hal tersebut tercatat lalu dikeluarkan dari kesadaran. Tiap kesadaran yang muncul dianggap sama. Tidak ada yang diistimewakan sebagai figure atau latar belakang. Sebagai meditator pemula terasa sukar untuk melepaskan persepsi dan pikiran. Meditator akan terus menerus terseret dalam rentetan pikiran yang membuyarkan sikap penuh perhatian.

(10)

Dalam samadi dengan penuh perhatian terdapat 3 tingkatan, ialah: 1. Tahap Vipassana

Pada tahap ini, konsentrasi sangat kuat sehingga tidak satu momen pun terlupakan. Maka masuklah kedalam tahap pemahaman atau insight atau vipassana. Datangnya vipassana ditandai dengan persepsi yang semakin halus dan tepat pada segala macam kegiatan kejiwaan.

2. Tahap Nirvana

Dalam tahap nirvana, meditator tidak mengalami apa pun, juga tidak menglami kebahagiaan dan ketenangan hati. Nirvana adalah keadaan lebih hampa dari jhana. Masuk kedalam tahap nirvana ini dipandang sebagai jalan menuju kepribadian yang sehat.

3. Tahap Arahat

Tingkat ini adalah ideal kepribadian yang sehat. Arahat merupakan hakikat dari kesehatan jiwa dan kepribadian menurut Abhidhamma. Tahap ini cenderung permanen atau menetap. Bahwa setiap motif, persepsi, perbuatan yang sebelumnya dipengaruhi faktor tidak sehat akan lenyap.

4. CONTOH KASUS

Ketika seseorang mencuri karena iri dengan barang milik orang lain dan tidak malu bila di cap sebagai seorang pencuri.

Misalnya si A memiliki kalung emas yang sangat indah dan mahal. Si B melihat dan iri terhadap si A yang seorang kaya yang memiliki barang-barang mewah. Lalu saat si A sedang lengah, si B diam-diam mencuri kalung emas miliki si A. Setelah si A sadar bahwa kalung emasnya hilang, si A melaporkan kepada pihak berwajib. Setelah ditelusuri, kalung tersebut ditemukan berada di si B. si B mengelak tidak mencuri padahal barang bukti ada di si B.

(11)

belum sembuh ia sudah minta pulang. Usaha ingin membunuh diri didorong oleh komik yang ia baca. Tokoh komik itu diceritakan membunuh dirinya lalu masuk ke dalam sumur. Suatu hari B mendapat halusinasi, melihat api neraka yang sangat panas, dan pemiliknya meminta B membakar dirinya sendiri agar terlepas dari masalah-masalah hidupnya. Lalu B ke dapur mengambil minyak tanah dan menyiramkannya ke badannya lalu menyulut dengan api. Setelah terbakar B berlari menuju sumur dan mencemplungkan diri ke dalam sumur. Ia menderita luka bakar yang cukup parah.

Dari cerita tersebut, dapat dinyatakan bahwa B di dominasi oleh keadaan jiwa tidak sehat yaitu delusi, adhitti dan ahirika.

5. REFERENSI

Fudyartanto, Ki. 2003. Psikologi Kepribadian Timur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hall, C.S. & Lindszey, G. 1993. Psikologi Kepribadian 2, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Kanisius

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat diaplikasikan pada struktur gedung yang mempunyai subsistem yang berdeda. Dalam masalah ini, akan digunakan dua subsistem dalam satu struktur, yaitu sistem portal

Latar belakang berisi penjelasan secara umum mengenai pemahaman akan materi yang akan dibahas atau diteliti disertai dengan alasan-alasan mengapa kapasitas mahasiswa

Kedudukan Protokoler Dan Keuangan Pimpinan Dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara

Nama Field Jenis Panjang Keterangan KodeBrg Varchar 5 Kode barang NamaBrg Varchar 20 Nama Barang Satuan Varchar 1 1=KG 2=Ton 3=Liter 4=Kubik Master Pengelola

Hasil: Berdasarkan aspek legal diketahui bahwa penye- lenggaraan Jamsoskes dalam bentuk BLU tidak bertentangan dengan UU dan peraturan yang ada, dengan memperhatikan beberapa

NH4 + yang terbentuk dikeluarkan dari bakterioid ke sitosol sel-sel yang mengandung bakterioid ( ke luar membran bakterioid) dan diubah menjadi asam glutamat, senyawa amida

Admin hanya satu orang yaitu orang yang ditunjuk dan dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengelolah data akademik sekolah, siswa dan guru adalah anggota dan bagian dari

Berdasarkan penelitian yang sudah pernah diteliti sebelumnya yang telah dipaparkan dalam latar belakang penelitian, maka peneliti terdorong untuk menggabungkan faktor-faktor