• Tidak ada hasil yang ditemukan

285295323 Jurnal Widyandari Bulan Oktober Tahun 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "285295323 Jurnal Widyandari Bulan Oktober Tahun 2014"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

pendidikan. Dinamika ilmu pendidikan amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah untuk menghimpun dan mempublikasikan perkembangan ilmu pendidikan itu. Berdasarkan kesadaran dan komitmen civitas akademika, IKIP PGRI Bali berhasil mewujudkan idealisme ilmiahnya melalui jurnal pendidikan Widyadari yang terbit dua kali dalam setahun, yakni bulan April dan Oktober. Apa yang ada ditangan pembaca yang budiman saat ini merupakan jurnal pendidikan Widyadari Nomor 16 Tahun X Oktober 2014.

Jurnal pendidikan Widyadari ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini disebarkan baik secara internal di kampus IKIP PGRI Bali, dan juga disebarkan pada alumni beserta komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Pendidikan Widyadari kali ini memuat tiga belas artikel ilmiah dari dosen di lingkungan IKIP PGRI Bali dan alumi IKIP PGRI Bali. Adanya sumbangan dari alumni kampus IKIP PGRI Bali diharapkan memperluas cakrawala ilmiah komunitas akademik.

Semoga penerbitan Jurnal Pendididkan Widyadari ini menjadi wahana yang baik untuk membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutnya.

(2)

Daftar Isi ... ii Pengaruh Perhatian Orang Tua Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014.

I Ketut Westra, S.Pd.,M.Pd.……….. 1 Pengaruh Metode Humor Terhadap Hasil Belajar Biologi

I Nengah Suka Widana dan Ni Kadek Mita Pratiwi……… 11 Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Pendekatan Jas Pada Mata Pelajaran Biologi

I Wayan Sucipta………... 22

Kepengawasan Pendidikan Kejuruan dalam Perspektif Budaya Organisasi dan Manajemen Strategic.

I Nyoman Rana………... 33

Metode Outbound Untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1 Busungbiu Tahun Pelajaran 2013/2014.

Kadek Suhardita……….. 45

Efektivitas Konseling Rational Emotive Behavioral Therapy Untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Mahasiswa Bimbingan dan Konseling IKIP Pgri Bali Tahun Akademik 2014/2015

I Gede Tresna,S.Pd.,M.Pd……… 59 Pengaruh Akuntansi Konservatisma Terhadap Return Saham

Putu Diah Asrida……….. 69

Implementing Cooperative Learning Model Type Numbered Head Together (NHT) to Improve Activities and Learning Outcomes of Math of Ninth Year (IX A) Student Semester 2 at SMP Negeri 1 Mengwi in academic year 2013/2014.

I Made Artamayasa, S.Pd. ……….. 80

Meningkatkan Kemampuan Menulis Naskah Drama Melalui Model Pembelajaran CIRC Siswa Kelas IXD SMP Negeri 1 Mengwi Tahun Pelajaran 2014/2015 Oleh

(3)
(4)

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS VIII

SMP GANESHA DENPASAR TAHUN AJARAN 2013/2014

Oleh:

I Ketut Westra, S.Pd, M.Pd

ABSTRAK

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perhatian orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun ajaran 2013/2014 baik secara parsial maupun secara bersama-sama. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 343 siswa. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan tehnik Cochran sejumlah 181 siswa. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode kuisioner dan pencatatan dokumen, selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan analisis product moment dan analisis regresi dua prediktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun ajaran 2013/2014, 2) ada pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun ajaran 2013/2014, dan 3) ada pengaruh perhatian orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014”.

Kata kunci: perhatian orang tua, kebiasaan belajar, dan prestasi belajar IPS

ABSTRACT

This research aims to investigate the effect of the attention of parents and study habit toward IPS learning achievement of eight grade students of SMP Ganesha Denpasar in academic year 2013/2014 both partially and simultaneously. Population in this research were 343 students. Sample was taken using Cochran technique which were 181 students. Data that used in this research collected by questionairre method and documentation, thus were analyzed using product moment and two predictor regression. The results of this research show that: 1) there is an effect of the attention of parents toward IPS learning achievement of eight grade students of SMP Ganesha Denpasar in academic year 2013/2014, 2) there is an effect of the study habit toward IPS learning achievement of eight grade students of SMP Ganesha Denpasar in academic year 2013/2014, and there is an effect of the attention of parents and study habit toward IPS learning achievement of eight grade students of SMP Ganesha Denpasar in academic year 2013/2014.

(5)

I. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu hal yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan kelangsungan hidup manusia. Pendidikan bukan lagi menjadi sebuah keharusan dalam kehidupan manusia, melainkan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Hakikat pendidikan yang bertujuan untuk memberikan perubahan baik secara pemikiran, sikap, mental dan tingkah laku dirasa mampu menjadi bekal utama bagi individu untuk memenuhi segala kebutuhan dan menghadapi permasalahan-permasalahan yang muncul di sekitarnya.

Keberhasilan dunia pendi-dikan dapat ditandai dengan bukti bahwa terjadinya perkembangan kebudayaan dalam masyarakat yang merambah ke dalam peningkatan kemampuan manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Tujuan utama dalam pendidikan itu sendiri adalah memaksimalkan kemampuan yang ada dalam setiap individu, tetapi secara lebih jelas hal ini dapat dilihat melalui prestasi belajar yang diperoleh melalui proses pendidikan.

Individu yang telah masuk ke dalam dunia pendidikan formal akan melalui tahap evaluasi pembelajaran yang nantinya akan menghasilkan sebuah indeks prestasi. Individu merupakan titik pusat proses pendidikan yang mempunyai peranan sangat penting. Dalam diri manusia atau individu tersebut terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan yang dapat dilihat dari prestasi belajar yang diperolehnya. Prestasi belajar yang bagus tentunya didukung oleh faktor intern individu yang bagus dan juga faktor ekstern yang memadai. Jika dipandang secara umum, baik dari faktor intern maupun ekstern ada beberapa variabel yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain kompetensi siswa, kecakapan guru dalam mengajar, kecerdasan intelektual siswa, disiplin belajar, lingkungan belajar, minat serta kebiasaan belajar siswa dan lain-lain.

Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar itu sendiri, karena belajar merupakan suatu proses , sedangkan prestasi be lajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang siswa belajar merupakan sebuah kewajiban yang harus ia kerjakan dalam tujuannya memperoleh ilmu.

Keberhasilan seorang siswa dapat diindikasikan melalui bagaimana proses belajar yang ia alami dalam pendidikannya. Disadari atau tidak, setiap individu tentu pernah melakukan aktivitas belajar, karena aktivitas belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang mulai sejak lahir sampai mencapai umur tua. Belajar adalah suatu proses psikis ya ng berlangsung dalam interaksi antara subjek dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan kebiasaan yang bersifat relatif, baik melalui pengalaman, latihan maupun praktek.

(6)

Berhasil tidaknya kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan akan tergantung pada faktor dan kondisi yang mempengaruhinya. Secara umum disebutkan “Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor intern dan faktor ekstern.Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu yang sedang belajar (Slameto, 2013 : 56).

Prestasi belajar merupakan suatu hal yang sangat penting dalam perubahan proses belajar. Siswa sebagai pelajar merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil tidaknya bagi diri siswa akan tampak pada perubahan yang terjadi pada diri siswa.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam proses pembelajaran yang berpusat pada individu, tentunya dapat kita telaah dari dua faktor, salah satunya faktor intern individu tersebut atau dalam hal ini adalah siswa. Faktor intern berupa kecerdasan yang ada dalam siswa dapat menjadi tolak ukur awal bagi prestasi belajar yang akan dicapai. Kecerdasan siswa tidak begitu saja muncul secara alamiah melainkan juga berkembang atas faktor-faktor yang mempengaruhinya. Individu yang lahir dalam sebuah lingkungan keluarga, secara otomatis perkembangannya akan dipengaruhi oleh kondisi atau situasi dari keluarga tersebut. Terlebih lagi, keluarga merupakan tempat sosialisasi primer dan pertama bagi seorang manusia.

Berbicara tentang keluarga maka akan identik dengan orang tua. Orang tua yang memiliki peranan sentral dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Ketika proses pembelajaran atau pendidikan dilalui oleh individu maka faktor orang tua menjadi sangat penting, selain harus memberikan sarana dan prasarana bagi pendidikannya, perhatian dan motivasi orang tua juga merupakan faktor yang dibutuhkan individu dalam mencapai hasil belajar yang maksimal. Perhatian orang tua dapat diwujudkan dalam suatu proses pemberian bantuan kepada individu agar dapat memilih, menyiapkan, menyesuaikan dan menetapkan dirinya dalam kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan individu tersebut. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun mengingat anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak, karena dengan merekalah anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga” (Supriyadi, 2013: 140). Orang tua harus dapat memposisikan diri sebagai tempat paling nyaman untuk anak bertanya dan mengadu tentang kesulitan-kesulitan yang dialaminya dalam belajar. Menjalin komunikasi yang baik dan secara intens menanyakan kepada anak tentang keadaannya di sekolah atau seputaran belajarnya, maka anak akan merasa diperhatikan dan semakin giat belajar.

(7)

menghadapi ulangan misalnya. Maka orang tua memandang bahwa situasi pada saat itu sangat membutuhkan perhatian agar anak dapat belajar dengan sungguh-sungguh. Sumitro (1999: 25) menjelaskan “perbeda-an kualitas dapat dipengaruhi oleh keadaan yang akan, sedang maupun yang telah terjadi sebelumnya sehingga akan memberikan efek terhadap rangsangan yang dibentuk”. Situasi sedang menghadapi ulangan adalah salah satu contoh kualitas rangsangan yang membuat orang tua memberikan perhatian.

Selain perhatian orang tua, hal lain yang juga menjadi salah satu faktor penentu prestasi belajar adalah kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar ini dikaitkan dengan bagaimana siswa melakukan proses belajar dalam upayanya memahami materi-materi yang telah disampaikan di sekolah.

Kebiasaan belajar dikaitkan erat dengan kebiasaan belajar siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Seperti contoh, kebiasaan belajar siswa yang lebih dapat berkonsentrasi dengan membuat rangkuman sendiri dari buku pelajaran yang ada, kebiasaan belajar dengan mendengarkan dan lain sebagainya. Kebiasaan belajar siswa bergantung pada bagaimana seorang siswa menemukan kenyamanan dan dapat memperoleh hasil yang optimal dalam melakukan kegiatan belajar. Banyak sekali disajikan teori yang membahas bagaimana kebiasaan belajar yang baik dan efektif agar mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan.

”Kebiasaan belajar adalah serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan suatu peristiwa yang sifatnya otomatis yang dilakukan dengan sadar dan mengakibatkan tingkah laku yang baru berupa penambahan pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan dalam belajar” (Tirtonegoro, 1994: 67).

Menurut Burghardt (1973) yang dikutip Syah (2000 : 118) “kebiasaan belajar timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang”. Dalam proses belajar, pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang diperlukan. Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Bagaimanapun keadaan dan kemampuan siswa, mereka berhak mendapatkan pembelajaran yang sama. Siswa harus dapat memahami dan mengerti setiap materi yang disampaikan dalam proses belajar. Banyak metode yang telah disediakan bagi kalangan pendidik untuk diterapkan kepada siswa agar siswa dapat menyerap materi. Ada metode ceramah, dimana pendidik berperan aktif menerangkan materi sedangkan siswa menjadi pendengar, adapula metode yang menerapkan peran siswa yang aktif dalam pembelajaran.

(8)

untuk mendapatkan kebiasaan belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya. Penelitian tentang metode mengajar yang pal ing sesuai ternyata semuanya menemukan hasil yang kurang memuaskan, karena setiap metode mengajar bergantung pada cara atau kebiasaan belajar siswa, pribadinya dan kesanggupannya. Biasanya dicari metode mengajar yang paling sesuai dengan siswa “rata- rata” yang sebenarnya juga tidak berpengaruh secara signifikan.

Sesuai dengan paparan di atas, adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014, 2) pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014, dan 3) pengaruh perhatian orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini tergolong menggunakan rancangan ex post facto. Adapun populasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas VIII semester 1 SMP Ganesha Denpasar yang terdiri dari 8 kelas dengan jumlah populasi sebanyak 343 siswa yang terdiri dari 187 siswa laki-laki dan 156 siswa perempuan. Dari jumlah populasi sebanyak 343 orang siswa, selanjutnya diambil sampel dengan menggunakan teknik pengambilan sampel menurut Cochran. Sesuai dengan hasil penghitungan, jumlah sampel yang diambil sebanyak 181 orang siswa.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner untuk variabel perhatian orang tua dan kebiasaan belajar. Sedangkan, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang prestasi belajar IPS siswa.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, analisis product moment, dan analisis regresi dua prediktor.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Untuk mengetahui kecen-derungan variabel perhatian orang tua, digunakan skor rerata ideal Gambaran lebih jelas mengenai presentase kecenderungan perhatian orang tua dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 1

Persentase Kecenderungan Variabel Perhatian Orang Tua

Skor Kategori Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif

>120 Tinggi 168 92,818%

90-119 Cukup 13 7,182%

60-89 Kurang 0 0%

<59 Rendah 0 0%

(9)

Untuk mengetahui kecen-derungan variabel kebiasaan belajar, digunakan skor rerata ideal Gambaran lebih jelas mengenai pre sentase kecenderungan kebiasaan belajar dapat dilihat dari tabel berikut .

Tabel 2

Persentase Kecenderungan Variabel Kebiasaan Belajar

Skor Kategori Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif

>80 Tinggi 52 28,730%

60-79 Cukup 129 71,270%

40-59 Kurang 0 0%

<39 Rendah 0 0%

Jumlah 181 100%

Untuk mengetahui kecen-derungan variabel prestasi belajar IPS digunakan skor rerata ideal Gambaran lebih jelas mengenai presentase kecenderungan prestasi belajar IPS dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 3

Persentase Kecenderungan Variabel Prestasi Belajar IPS

Skor Kategori Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif

>84,4 Tinggi 28 15,496%

79-83,4 Cukup 113 62,431%

73,6-78 Kurang 29 16,022%

<73,6 Rendah 11 6,077%

(10)

Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien rxy = 0,540, selanjutnya koefisien rxy = 0,540 dikonsultasikan dengan tabel nilai-nilai r Product Moment, dengan N = 181 dan taraf signifikasi 5% diperoleh Nilai r yang Hipotesis Alternatif (Ha) diterima, “Ada Pengaruh Perhatian Orang Tua terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Semester 1 Tahun Ajaran 2013/2014”.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien rxy = 0,640, selanjutnya koefisien rxy = 0,640 dikonsultasikan dengan tabel nilai-nilai r Product Moment, dengan N = 181 dan taraf signifikasi 5% diperoleh Nilai r yang Hipotesis Alternatif (Ha) diterima, “Ada Pengaruh Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Semester 1 Tahun Ajaran 2013/2014”.

Selanjutnya analisis regresi dilakukan untuk menguji hipotesis ketiga seperti ringkasan analisis regresi pada tabel berikut.

Tabel 4

(11)

Prestasi belajar yang tinggi yang dicapai di sekolah merupakan harapan semua pihak, baik pihak siswa sendiri, guru, orang tua bahkan pemerintah. Menurunnya prestasi belajar peserta didik pada seluruh jenjang di Indonesia saat ini termasuk SMP, menyebabkan perlu diselidikinya faktor -faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut. Pada dasarnya prestasi belajar yang diraih siswa merupakan hasil suatu proses dalam suatu sistem yang saling berhubungan, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pun dapat terjadi saling berhubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain.

Untuk mendapatkan prestasi belajar tidaklah semudah yang dibayangkan, karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Penilaian terhadap hasil belajar siswa diperlukan dalam tujuannya mengetahui sejauh mana keberhasilan sasaran belajar yang dilakukan selama ini. Prestasi merupakan hasil kegiatan belajar yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah ada penilaian terhadap prestas i belajar siswa. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan prestasi belajar itu sendiri diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seseorang siswa pada jangka waktu tertentu dan dicatat dalam buku hasil belajar siswa.

Perhatian orang tua dapat menjadi indikasi faktor perkembangan psikologis yang akan membawa dampak pada kemampuan anak menghadapi problematika dalam tujuannya meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Orang tua selaku motivator terdekat bagi individu atau siswa menjadi salah satu pendukung terbesar dalam usaha siswa untuk mendapatkan hasil yang baik dalam belajarnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Jalaluddin (2000 : 15) yang menyatakan bahwa perhatian yang cukup dari orang tua seperti, memonitoring hasil belajar anak, menyediakan media pembelajaran, dan memberi motivasi dapat menjadi faktor penunjang keberhasilan belajar anak. Mengecek hasil belajar anak, merupakan salah satu bagian dari kegiatan memonitoring kegiatan belajar anak dan hasil yang nak telah peroleh selama kegiatan belajarnya.

Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya” (Patmonodewo, 2008 : 123). Disinilah peran orang tua untuk memberikan arahan agar anak dapat belajar secara berkelanjutan dan sistematis. Oran g tua dapat memberikan cara belajar yang tepat bagi anak dan sesuai dengan mobilitas belajar anak atau tipe-tipe belajar anak itu sendiri.

(12)

Perhatian orang tua adalah konsentrasi dan pemusatan pemikiran yang dilakukan orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak -anaknya termasuk di dalamnya perkembangan pendi-dikannya. Peran ini tidak dapat digantikan oleh siapapun bahkan guru di sekolah, karena orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi individu.

Selain itu bagaimana kebiasaan belajar intern pribadi siswa juga menjadi faktor pendorong yang kuat bagi keberhasilan belajar.

Kebiasaan belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar.

Kebiasaan belajar dimulai dari cara mengikuti pelajaran, belajar mandiri di rumah, belajar kelompok, cara mempelajari buku dan sikap dalam menghadapi ujian/ ulangan/tes. Cara atau kebiasaan belajar diatas harus dimulai oleh diri sendiri dengan membiasakan diri dan mendisiplinkan diri dalam belajar. Hindari belajar dalam tempo dan kadar belajar yang berat saat akan ujian sebab kurang membantu dalam keberhasilan belajar. Kebiasaan belajar harus dimulai sejak dini kepada seorang siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa merasa terbiasa melakukan kegiatan belajar dalam kese -hariannya. Kebiasaan belajar menjadi faktor yang cukup vital dalam membentuk aktivitas belajar siswa. Kebiasaan belajar yang dapat dibentuk secara sengaja maupun tidak sengaja merupakan bentuk dari usaha individu dalam mencapai tujuan pendidikan yang baik. Jika kebiasaan belajar semakin membaik maka tingkat perkembangan individu maupun siswa dalam segi prestasi dapat diperhitungkan.

Kebiasaan belajar tidak dapat dipaksakan untuk diterapkan bagi tiap individu atau siswa, melainkan harus dilihat juga tipe -tipe siswa dan kebiasaan belajar seperti apa yang nyaman bagi siswa. Faktor -faktor pendukung kebiasaan belajar yang baik pun patut diperhatikan secara seksama agar tujuan belajar yang diharapkan dapat tercapai.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bila perhatian dari orang tua bagus maka akan diperoleh hasil dan prestasi belajar yang tinggi. Begitu juga apabila kebiasaan belajar yang dipilih siswa tepat maka hasilnya akan baik pula.

IV. PENUTUP

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan hasil penelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1) ada pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014, 2) ada pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014, dan 3) ada pengaruh perhatian orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar tahun pelajaran 2013/2014.

(13)

menunjukkan bahwa ada pengaruh Perhatian Orang T ua terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014 baru mencapai 13,86%. Sehubungan dengan hal tersebut perlu adanya upaya konkret yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anak dalam belajar yaitu dengan memberikan motivasi kepada anak, menyediakan fasilitas belajar yang memadai, memberitahu cara mengatur jadwal belajar, memberikan makanan bergizi, menegur anak bila lalai tugas dan tanggung jawab, menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak, memberikan contoh teladan dan memberitahukan hal-hal apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan anak di sekolah maupun di rumah dalam belajar. Melalui peningkatan perhatian orang tua maka akan diiringi dengan peningkatan prestasi belajar IPS siswa, 2) Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Ada Pengaruh Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014. Bila ditinjau dari sumbangan efektif Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar mencapai 35,35%, kenyataan ini menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang baik harus diperhatikan oleh kalangan pendidik maupun orang tua dalam memberikan upaya yang maksimal agar prestasi belajar siswa dapat menjadi semakin baik.Mengingat kebiasaan belajar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, maka harus menjadi tugas siswa untuk membenahi baik secar ainternal maupun eksternal kebiasaan belajarnya, dan 3) Walaupun secara keseluruhan prestasi belajar IPS siswa sudah memadai dan memenuhi kriteria minimum, tetapi masih perlu adanay upaya-upaya dalam rangka mencapai prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Ganesha Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014 yang optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut siswa diharapkan belajar tidak tergantung karena kebutuhan untuk belajar, melainkan sebagai sua tu kewajiban. Bagi guru IPS diharapkan mampu meningkatkan kompetensinya dalam mengajar dan juga dapat memberikan pemahaman tentang arti penting dan makna IPS untuk digunakan sebagai kajian masalah sosial di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

Jalaludin, H. 2000. Psikologi Anak. Yogyakarta: Sumber Baru

Patmonodewo, S. 2008. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Supriyadi. 2013. Strategi Belajar dan Mengajar. Yogyakarta: Jaya Ilmu.

Suryabarata, S. 2000. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.

Syah, M. 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.

(14)

PENGARUH METODE HUMOR TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI

I Nengah Suka Widana dan Ni Kadek Mita Pratiwi Prodi. Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali.

ABSTRACT

The research objective was to determine differences in learning outcomes that follow the teaching methods of biology humor with conventional methods. Research conducted classified research Quasi Experiment (quasi-experimental), using the design of the nonequivalent control group. The study population such as students of class X semester SMAN 2 Mengwi 2013/2014 academic year consisting of 12 classes. Samples were taken from the population randomly (simple random) to obtain two classes, where class X2 and X3 as an experimental group as a control group. The type of data that is required in the form of data from study biology (quantitative data). Data collection techniques taken with the post test, then analyzed by parametric statistical tests using t-test. From t-test calculation results obtained t count equal to 4.246 with a significance level of 5% and 74 hp, so the values obtained ttabel 1,980. This means that t count> t table (4.246> 1.980), so that it can be concluded that there is a learning effect method biology humor on learning outcomes of students of class X semester SMAN 2 Mengwi school year 2013/2014. Based on the average results of learning in the experimental group (humor method) amounted to 73.28 while the control group (conventional method) amounted to 64.026. It shows that there are significant differences and the application of learning methods with humor gives better impact compared to conventional methods.

Keywords: Methods humor, learning outcomes

PENDAHULUAN

(15)

menggunakan berbagai sumber untuk menciptakan suasana yang humoris akan membuat peserta didik lebih kreatif dan penuh tawa. Humor dapat juga dipelajari dan dikaji seperti layaknya ilmu pengetahuan yang lain (Marketerbodoh, 2012). Apa yang terjadi pada humor merupakan suatu paradox dan merupakan sarana untuk menimbulkan kelucuan. Lucu dalam bahasa Jawa identik dengan guyonan atau bercanda, artinya berdimensi ketidakseriusan. Namun ternyata dibalik hasil akhir berupa kata “lucu” tersebut, ada sebuah proses yang sangat serius dalam penciptaannya. Metode humor adalah salah satu bentuk komunikasi dan interaksi pembelajaran yang dapat memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan kata-kata, bahasa atau gambar yang mampu menggelitik peserta didik untuk tertawa, sehingga menciptakan pembelajaran yang menyenangkan yang pada gilirannya mampu meningkatkan pemahaman dan mempertinggi daya ingat sehingga akan memberi peluang kepada peserta didik untuk memfungsikan otak memori dan otak berpikirnya secara optimal. Khanifatul (2013), bahwa tidak semua orang memiliki sense of humor. Biasanya seseorang yang cerdas cenderung bersifat linier atau saklek, tertutup, dan tidak humoris. Dananjaya dalam Khanifatul (2013), humor adalah sesuatu yang dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya merasa tergelitik perasaan lucunya sehingga terdorong untuk tertawa. Berdasarkan paparan tersebut, masalah yang dikaji dalam penelitian ini apakah ada perbedaan hasil belajar biologi antara peserta didik dengan metode humor dengan metode konvensional pada peserta didik kelas X semester genap SMAN 2 Mengwi Tahun Pelajaran 2013/2014? Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Biologi antara yang dibelajarkan dengan metode humor dan metode konvensional pada peserta didik kelas X Semester Genap SMAN 2 Mengwi Tahun Pelajaran 2013/2014.

(16)

terhadap situasi yang ada atau yang dihadapi. Penggagas Teori ini antara lain Mainer, Schller, dan Scheerer. (7) Teori Psikoanalisis Sigmund Freud, menurut Goldstein dan McGhee dalam Khanifatul (2013) menyatakan hal-hal yang menyenangkan cenderung menjurus pada pelepasan energi kejiwaan. Apabila energi terbentuk karena pikiran diarahkan ke objek tertentu, tetapi energi tersebut tidak dapat dimanfaatkan maka energi tersebut mungkin dapat dilepaskan melalui humor. (8) Teori Ambivalensi, lebih menekankan adanya emosi atau perasaan yang berbeda atau bertolak belakang. Dalam Antropologi, teori humor dikaji pada relasi humor (joking relationship) di antara siapa saja atau dalam ikatan kekerabatan bagaimana humor itu terjadi. Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Apte pada 1985. Teori Humor dalam teori kebahasaan menurut Victor Rasikin dalam artikel Jokes dinamakan script-based semantic theory (teori sematik berdasarkan skenario). Berdasarkan teori ini tingkah laku manusia ataupun kehidupan pribadinya telah terpapar dan terekam dalam sebuah peta semantik. Penyimpangan yang terjadi pada peta semantik tersebut akan merusak keseimbangan dan akan menimbulkan kelucuan. Marketerbodoh (2012), menyatakan bahwa Teori ketidak seimbangan, putus harapan dan bisosiasi. Teori ini dicetuskan oleh seorang Arthur Koestler. Dia mengatakan, “Hal yang mendasari semua bentuk humor ialah bisosiasi, yaitu mengemukakan dua situasi atau kejadian yang mustahil terjadi sekaligus, konteks yang menimbulkan bermacam-macam asosiasi.” Contoh humor bisosiasi adalah sebagai berikut: “beberapa orang sipir penjara mengajak para tahanan bermain kartu dengan mereka, para tahanan yang bermain curang dibuang ke luar penjara” Schopen Hauer dalam Nurjanah (2012). Menurut teori ini, humor timbul karena kita menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat (juga kata) yang menimbulkan dua macam asosiasi. Yang pertama kita sebut tehnik belokan mendadak (unexpected turns) kata yang kedua, asosiasi ganda (puns). Teori pelepasan inhibisi, diambil dari teori Sigmund Freud dalam Resta (2011) yaitu kita banyak menekan ke alam bawah sadar kita, pengalaman-pengalaman yang tidak enak atau keinginan-keinginan yang tidak bisa kita wujudkan. Salah satu diantara dorongan yang ditekan adalah dorongan agresif. Dorongan agresif masuk ke alam bawah sadar dan bergabung dengan kesenangan bermain dari masa kanak-kanak kita. Contoh pelepasan inhibisi adalah ketika sedang jatuh untuk menetralkan suasana maka kita akan tertawa.

(17)

persediaan ilustrasi-ilustrasi yang bersifat humor (jenaka) atau memiliki kepandaian berkelakar. Manfaat humor dalam pembelajaran, (a) membangun hubungan dan meningkatkan komunikasi; (b) sarana menghilangkan stres; (c) menjadikan pembelajaran lebih menarik; (d) memperkuat daya ingat.

Penerapan humor selama proses pembelajaran meliputi merencankan, dan memunculkan selingan humor. Merencanakan humor tidak mengharuskan seorang guru menjadi pencipta atau perancang humor, bahkan tidak harus memiliki syarat sense of humor yang tinggi. Namun, diperlukan sedikit kemampuan untuk memilih dan meramu humor. Guru bisa memperolehnya dari berbagai sumber yang dianggap bermanfat dan memberikan kesenangan dalam pembelajaran, dapat melalui (a) Gambar atau film kartun; (b) Cerita singkat Lucu atau Anekdot Humor; Cerita singkat lucu bisa didapat dari beberapa sumber, seperti pengalaman hidup, cerita dalam kehidupan sehari-hari, atau jika kesulitan mendapatkan cerita lucu guru bisa mencari buku-buku humor atau dari internet (Cen35, 2013). (c) Karikatur; (d) Pertanyaan atau Soal Humor dalam Tes. Contoh Soal yang bersifat humor, Hewan apa yang matanya, mulutnya, hidungnya dikaki? Jawabannya: kodok keinjek. Kenapa kentut bau? Jawabannya: Biar yang nggak bisa dengar, bisa merasakan baunya (Akhmad, 2013). (e) Plesetan kata, berikut adalah beberapa contoh plesetan kata, Sebuas-buasnya ibu macan, tak mungkin makan semur jengkol (Nurjanah 2012). Agar sisipan humor dalam pembelajaran lebih efektif maka penting untuk menentukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Waktu yang tepat untuk menggunakan humor dalam pembelajaran menurut Darmansyah dalam Khanifatul (2013) adalah pada pertemuan awal, saat jeda strategis dan pada akhir sesi pembelajaran. Berdasarkan teori-teori tersebut, maka terhadap masalah dihipotesiskan bahwa ada perbedaan hasil belajar biologi antara yang mengikuti pembelajaran dengan metode Humor dan menggunakan metode konvensional pada peserta didik kelas X Semester Genap SMAN 2 Mengwi Tahun Pelajaran 2013/2014.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan adalah quasi experiment, karena gejala yang diselidiki ditimbulkan terlebih dahulu dengan sengaja, dan mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2013). Dalam eksperimen digunakan dua kelompok sampel, yaitu kelompok perlakuan (kelompok eksperimen) dan kelompok kontrol, dengan Non Equivalent posttest-only Control Group Design. Populasi berupa semua peserta didik kelas X semester genap SMA Negeri 2 Mengwi tahun pelajaran 2013/2014, sebanyak 12 kelas. Dari populasi tersebut dipilih secara random 2 kelas sebagai sampel penelitian, sebagai kelompok eksperimen (kelas X2) dan kontrol (kelas X3).

(18)

yang mendukung pembelajaran. (c) Kelompok kontrol dengan metode konvensional sedangkan kelompok eksperimen diberikan pembelajaran dengan metode humor. (d) Menyusun tes (instrumen) untuk mengumpulkan data hasil belajar.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data hasil belajar biologi peserta didik, merupakan data primer dan kuantitatif. Adapun teknik yang digunakan yaitu (a) observasi, terhadap profil sekolah SMAN 2 Mengwi dan peserta didiknya secara umum. (b) Metode Tes, Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar peserta didik baik pada kelompok kontrol dan eksperimen dikumpulkan dengan pemberian post tes. Instrumen pengumpul data berupa tes pada Kompetisi Dasar (KD) Keanekaragaman hayati. Tes hasil belajar biologi peserta didik yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan kisi-kisi instrumen yang telah disusun sebelumnya. Skor yang diperoleh merupakan skor mentah yang diperoleh dari menunjukkan setiap nilai yang diperoleh dari tiap-tiap soal. Skor berkisar 0 sampai 100. Melalui uji validitas instrumen penelitian, diperoleh bahwa instrument yang digunakan telah valid, dan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach diketahui instrumen telah memenuhi syarat sebagai instrument yang reliabel. Instrument tersebut disiapkan dengan membuat soal, dimana soal tersebut sebelumnya telah diujicobakan kepada kelas X.1 yang bukan merupakan sampel penelitian. Hal ini dilakukan untuk uji validitas dan reliabelitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Dalam penelitian data yang dikumpulkan adalah data tentang hasil belajar biologi peserta didik dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan mulai bulan Pebruari sampai dengan Maret 2014 di SMA Negeri 2 Mengwi. Perhitungan ukuran sentral (mean, modus, median) dan ukuran sebaran data (standar deviasi) disajikan pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar Biologi

Data Statistik

Hasil Belajar Biologi

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mean 73,78 64,02

Modus 69,00 59,00

Median 73,50 63,00

Standar Deviasi 8,76466 1,02759

Varians 76,81 105,59

Skor Minimum 55,00 45,00

Skor Maksimum 90,00 86,00

Rentangan 35 41

(19)

(kelompok eksperimen) dengan rentangan skor sebesar 35, n= 38; skor maksimum= 90; banyak kelas interval=6; panjang kelas interval=6; rata-rata=73,78; simpangan baku (SD) =8,76, modus =69,00, dan median =73,5. Tabel 2 berikut memuat ringkasan distribusi frekuensi hasil belajar biologi yang mengikuti pembelajaran dengan metode humor (kelompok eksperimen).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Biologi Kelompok Kontrol.

Kelas Kelas sebanyak 47,29% memperoleh skor di bawah rata-rata.

Deskripsi Data Hasil Belajar Biologi Kelompok Kontrol. Data tentang hasil belajar biologi peserta didik yang dibelajarkan dengan model konvensional (kelompok kontrol), rentangan skor sebesar 41; n=38; skor maksimum=86; banyak kelas interval=7; panjang kelas interval=7; rata-rata=64,02; simpangan baku (SD)=1,0275; modus=59,00; dan median=63,00. Berikut ringkasan distribusi frekuensi data hasil belajar biologi peserta didik yang mengikuti pembelajaran model konvensional (Kelompok kontrol).

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Biologi Kelompok Kontrol.

Kelas Kelas

Tabel 3 menunjukkan bahwa 28,9% peserta didik memperoleh skor di sekitar rata-rata, 41,9% memperoleh skor di atas rata-rata dan 28,8% di bawah rata-rata.

(20)

Uji normalitas sebaran data dilakukan untuk meyakinkan bahwa uji statistik parametrik yang digunakan dalam pengujian hipotesis benar-benar dapat dilakukan. Hal ini penting karena jika sebaran data tidak mengikuti arah normal maka uji-t tidak dapat dilakukan. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Chi-kuadrat (X2) pada 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen (x1) dan kelompok kontrol (x2). Penghitungan uji Chi-kuadrat (X2) menunjukkan bahwa harga X2hitung < X2tabel untuk kedua kelompok data. Ini berati H0 diterima (gagal ditolak), maka kedua kelompok data terdistribusi normal. Ringkasan uji normalitas untuk kedua kelompok tersebut disajikan pada tabel 4. (b) Uji homogenitas varians dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa perbedaan yang diperoleh dari uji-t benar-benar berasal dari perbedaan antar kelompok, bukan disebabkan oleh perbedaan di dalam kelompok. Pengujian homogenitas varians menggunakan uji F pada taraf signifikansi 5% (α=0,05). Ringkasan uji F untuk data hasil belajar biologi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 1,41 yang lebih kecil dari F tabel pada taraf signifikansi 5% dengan dk = (35,37) sebesar 1,79 hal ini berarti bahwa data hasil belajar biologi peserta didik antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai varians yang homogen.

Tabel 4.Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Sampel

No Kelompok Sampel

Jumlah Sampel

X2 hitung X2tabel Kesimpulan

1 X1 38 2,8 11,07 Normal

2 X2 38 8,08 11,07 Normal

(21)

Tabel 5. Rekapitulasi Hasil uji-t TS (5%) dan dk =74

No Kelompok N Dk

Rata-rata

thitung ttabel Keterangan

1 Eksperimen 38 74 73,28 4,246 1,980 Ha.

diterima

2 Kontrol 38 74 64,026

Pembahasan

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara yang mengikuti pembelajaran dengan metode Humor dan menggunakan metode konvensional pada peserta didik kelas X Semester Genap SMAN 2 Mengwi Tahun Pelajaran 2013/2014, dan hasil belajar peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan metode humor secara rata-rata lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran model konvensional. Sejalan dengan pendapat Darmansyah dalam Khanifatul (2013), berdasarkan penelitiannya, bahwa humor diperlukan dalam pembelajaran, karena dapat membentuk komunikasi dan interaksi pembelajaran yang menyenangkan. Penyertaan humor dalam pembelajaran membuat peserta didik secara emosional memacu mereka tertawa, tercipta suasana menyenangkan yang pada gilirannya menciptakan pembelajaran menyenangkan. Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan dapat meningkatkan pemahaman dan mempertinggi daya ingat sehingga akan memberi peluang kepada peserta didik untuk memfungsikan bagian otak memori dan bagian otak berpikirnya secara optimal. Menggunakan humor di ruang kelas memberikan banyak manfaat mencangkup mengurangi stress, meningkatkan motivasi, mengurangi jarak secara psikologis antara guru dan peserta didik, dan meningkatkan kreativitas, sehingga guru yang sukses hendaknya mempunyai persediaan ilustrasi-ilustrasi yang bersifat humor (jenaka) atau memiliki kepandaian berkelakar. Dengan demikian maka pembelajaran metode humor berpengaruh positif dalam meningkatkan hasil belajar biologi. Berpengaruh positifnya pembelajaran dengan metode humor terhadap hasil belajar biologi, hal tersebut terjadi karena dalam pembelajaran metode humor tercipta komunikasi dan interaksi pembelajaran yang dapat memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan kata-kata, bahasa, atau gambar yang mampu menggelitik peserta didik untuk tertawa sehingga terciptanya suatu proses pembelajaran yang menyenangkan yang pada gilirannya mampu meningkatkan pemahaman dan memprtinggi daya ingat sehingga akan memberi peluang kepada peserta didik untuk memfungsikan otak memori dan otak berpikirnya secara optimal. Berdasarkan uraian tersebut maka metode pembelajaran humor dapat meningkatkan hasil belajar. Sehingga metode pembelajaran humor dapat diterapkan dikelas sebagai alternatif untuk memperkaya ragam variasi metode pembelajaran.

(22)

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan bahwa ada pengaruh penerapan metode humor terhadap hasil belajar biologi peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Mengwi. Dimana hasil belajar biologi peserta didik yang dibelajarkan dengan metode humor lebih baik daripada peserta didik yang dibelaajarkan dengan model konvensional.

Saran

Berdasarkan simpulan tersebut, dapat diajukankan beberapa saran sebagai berikut, (1) kepada praktisi pendidikan khususnya guru biologi disarankan untuk menerapkan metode humor sebagai pembelajaran yang inovatif dan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. (2) Bagi sekolah, dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah hendaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk mengadakan perbaikan dalam pembelajaran serta dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam mata pelajaran lain. (3) Bagi peneliti lain, oleh karena penelitian ini dilaksanakan terbatas pada peserta didik kelas X semester genap SMA Negeri 2 Mengwi tahun pelajaran 2013/2014, maka disarankan pada peneliti yang menaruh perhatian terhadap pendidikan, untuk mengembangkan penelitian dalam ruang lingkup yang lebih baik dan lebih luas.

DAFTAR RUJUKAN

Adnyani. 2009. “Pengaruh Penerapan Improving Learning dengan Strategi Pembelajaran Inkuiri terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta didik Kelas VIII SMP Negeri 2 Denpasar Tahun Pelajaran 2012/2013".(tidak diterbitkan). Skripsi IKIP PGRI Bali.

Akhmad. 2013. Pentingnya rasa humor guru dikelas. http://akhmad sudrajat. wordpress. com/2013/05/16/rasa-humor/. (diakses pada sabtu 23 Nopember 2013.

Anonim. 2012. Humor itu serius. http://marketerbodoh. blogspot. com/2012/07/humor-itu-serius. html. rabu (diakses tanggal 5 maret 2014 jam 12.05)

Ayutri. 2007. “Pengaruh penerapan strategi pembelajaran kelompok peserta didik dengan gaya kepemimpinan heroik (student team heroic leadership) yang dilengkapi tugas terstruktur terhadap hasil belajar matematika pada peserta didik kelas VIII SMP Dharmasastra Sempidi tahun Ajaran 2012/201”. (tidak diterbitkan). Skripsi IKIP PGRI Bali.

Bergambarku. 2014. Kumpulan-gambar-kartun-lucu-terbaru-7. http://www. bergambarku.com/?attachment_id=464. (diakses pada tanggal 11 januari 2014. Pukul 12.30)

Cen35. 2013. “50 Tebak-tebakan lucu dan jawabannya”. http://cen35. blogspot. com/2013/02/50-tebak-tebakan-lucu-dan-jawabannya. html. (diakses pada tanggal 20 januari pukul 14.200).

(23)

Fitria. 2012. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Motivasi Peserta didik terhadap Hasil Mata Pelajaran Akuntansi Kelas X SMK N 1 Kota Jambi. http://www. scribd. com/doc/81368530/29/Pengertian-Pembelajaran-Konvensional-Ceramah. (diakses tanggal 1 januari 2014 pukul 13.35)

Ikatan alumni SMU N 4 Depok. 2008. Humor seputar Hewan dan Tumbuhan. http://smun4depok. forumotion. com/t340-humor-seputar-hewan-dan-tumbuhan. (diakses tanggal 17 maret 2014 pukul 11.00)

Khanifatul. 2013. Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

---(2013). Humor adalah sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya merasa tergelitik perasaan lucunya sehingga terdorong untuk tetawa.

Kodzan. 2010. Sekilas Pengetahuan tentang Humor. http://kodzan. blogspot.com/2010/07/sekilas-pengetahuan-tentang-humor. html. rabu, 5 (diakses tanggal 5 maret 2014 jam 12.05)

Koekoehiman. 2013. Tes, Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi. http://imankoekoeh. blogspot. com/2013/12/tes-pengukuran-penilaian-dan-evaluasi. html (diakses pada 3 maret 2014 jam 12.30)

Koyan. 2012. Statistik Pendidikan. Singaraja-Bali: Universitas Pendidikan Ganesha Press

Maiyusrisusanti. 2013. happy with math. http://susantimaiyusri.blogspot. com/ 2013/01/proposal-penelitian-pengaruh-penerapan_29. html. (diakses tanggal 25 desember 2013).

Muhammadkholik. wordpress. com/2011/11/08. Metode Pembelajaran Konvensional

Munawar, I. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar. http: indramunawar. blogspot. com/2009/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil. html (diakses tanggal 4 Desember 2013 pukul 10.30)

Nurul. 2008. Pengaruh Pembelajaran Aktif Card Sort terhadap Prestasi Belajar IPA (Sains) Peserta didik Kelas VIII MTs AL- MUHAJIRIN Tahun Pelajaran 2012/2013. (tidak diterbitkan). Skripsi IKIP PGRI Bali.

Nurjanah. 2012. Humor sehat. http://nurjanahpsikodista. blogspot. com/2012/06/humor-sehat. html. (diakses tanggal 3 maret 2014 pukul 12.05

Resta. 2011. Sociology Community. http://resta-ariestya. blogspot.

com/2011/11/teori-superioritas-degradasi.html#!/2011/11/teori-superioritas-degradasi. html. (diakses tanggal 2 Desember 2013 pukul 11.45)

Riduwan. 2010. Dasar-dasar Statistika. Alfabeta. Bandung

Ritmehati. 2008. Humor dalam bingkai psikologi. http://ritmehati. wordpress.com/2008/06/26/humor-dalam-bingkai-psikologi/ (diakses tanggal 3 maret 2014 pukul 12.00)

(24)

Shanti. 2012. Kartun ayam menonton film horror. http:// www. make4fun. com/images/Animal-photos/907-Horror-Movie (diakses tanggal 22 maret 2014 pukul 12.35).

Sociology Community. 2011. Teori Superioritas Degradasi. Sociology Comunityhttp://resta-ariestya. blogspot. com/2011/11/teori-superioritas-degradasi. html#!/2011/11/teori-superioritas-com/2011/11/teori-superioritas-degradasi. html (diakses tanggal 5 maret 2014 pukul 12.10).

Susanti. 2013. “Pengaruh penerapan strategi pembelajaran menyenangkan dengan humor pada peserta didik kelas VIII di SMPN 6 bukittinggi”. http://winft. wordpress. com/category/teori-humor/. [diakses pada tanggal 28 Desember 2013]

Sugiyono. 2013. “Statistik untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.

Trianto. 2010. Pengantar Penelitian Pendidikan bagi Pengembangan Profesi Pendidikan & Tenaga Kependidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Triadnyani. 2008. “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Course Review Horay terhadap motivasi dan Hasil Belajar Matematika peserta didik kelas vii smp Sunari Loka Kuta Tahun Pelajaran 2011/2012”. (Tidak diterbitkan). Skripsi IKIP PGRI Bali.

(25)

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN

PENDEKATAN JAS PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI

Oleh: I Wayan Sucipta

Guru SMK NegeriI 1 Petang Pemkab.Badung Abstract

The purpose of this research is to know the application of coorporative study, STAD type with JAS approach in biology lesson. This research is a class action research (PTK) with a circle planning.The target of ths reseach are the activities and achivement of student in biology lesson.The result of data analysis shows the increasing of student study activities everage in biology lesson from 61,67 (70,80%) in circle I to 78,83 (89,58%) in cilcle II, increase 17,16 (19,50%).The increasing about 19,50% has reached far away over the target of criteria either the scoring processas well as the examination of hypotesa which has been determined of 10%.The achievement and the completeness of student‟s study in this research, has been successful in increasing the achievement or the completeness student‟s study from circle I to circle II.Based on the result from the research of action, which is recorded from 10 students (45,45%) which are incompleteness in circle I, decrease to 1 student (4,55%) who are incompleteness at the end of circle II.If we see from the student‟s study achievement, at the begining it is only 12 students 54,54%, are completeness and at the circle II are increasing to 21 students (95,45%).For the categories of incompleteness student scoring, in circle I are recorded 10 studens (45,45%)drastically becomes 1 student (4,55%) at the end of circle II, decreased 40,91%.If it is related to criteria of the success determined previously for hypotesa that is increasing 10%.From the result of the research can be concluded that the application of coorporative study STAD type with JAS approach has reached the goal sucessfully.

Key words: activity, study achievement, STAD, dan JAS.

Pendahuluan

(26)

menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.

Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Mata pelajaran biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar

Biologi sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang lahir dan berkembang berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian, belajar Biologi tidak cukup hanya dengan menghafalkan fakta dan konsep yang sudah jadi, tetapi dituntut pula menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep tersebut melalui observasi dan eksperimen. Melalui pembelajaran Biologi siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan eksplorasi alam. Melalui proses inilah dapat dikembangkan keterampilan sains (keterampilan proses Ilmiah),sehingga pengalaman belajar yang benar-benar bermakna tentang sains dapat diperoleh subjek didik.

Keterampilan sains yang dimiliki siswa merupakan pintu gerbang untuk menguasai pengetahuan yang lebih tinggi dan akhirnya merupakan kecakapan hidup (life skill), karena dengan keterampilan sains yang dimiliki, siswa secara mental siap untuk menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya. Dengan demikian proses belajar mengajar Biologi bukan sekadar transfer ilmu dari guru kepada siswa. Pola interaksi seharusnya terjadi antara siswa dengan materi (objek), dan guru hanya bertindak sebagai motivator, fasilitator, dan supervisor. Itulah perubahan mendasar dalam pola pembelajaran Biologi yang harus diakomodir dan disikapi secara positif oleh guru Biologi seiring dengan penerapan KTSP.

(27)

mencari pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul sepanjang masih dalam batas jangkauan kompetensi dan profesinya demi terciptanya suasana belajar yang lebih baik dan kondusif dan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Seperti halnya yang terjadi dalam pembelajaran Biologi pada siswa Kelas XII AHP2 SMK Negeri 1 Petang Tahun Pelajaran 2014/2015, khususnya terhadap penguasaan materi/Kompetensi Dasar: “Mengidentifikasi lingkungan abiotikdanbiotik.”

Dalam proses pembelajaran, guru telah berupaya agar semua siswa ikut berpartisipasi aktif.Pembelajaran dengan mempergunakan beberapa macam media yang ada di sekolah telah dilakukan, berbagai bentuk penugasan telah pula diberikan kepada siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Namun dalam berbagai kesempatan tanya jawab, diskusi kelas, maupun ulangan harian, aktivitas dan prestasi belajar masih relatif rendah.

Bertolak dari permasalahan tersebut kemudian dilakukan refleksi dan konsultasi dengan guru sejawat untuk mendiagnosis faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya masalah. Beberapa faktor kemungkinan penyebab rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa, di antaranya:

1) minat dan motivasi belajar siswa yang belum optimal; 2) penyampaian materi dari guru;

3) pengelolaan kelas; dan

4) kesulitan beradaptasi dan kerjasama di antara siswa.

5) pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

Dari berbagai faktor di atas ada sinyalemen, rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa lebih mengarah pada faktor ke-5, yaitu pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat diterapkan oleh guru pada siswa kelas XII AHP2 SMK Negeri 1 Petang untuk mata pelajaran Biologi, khususnya materi/Kompetensi Dasar: “Mengidentifikasi komponen lingkungan abiotik dan biotik.” Sebagai upaya pemecahan terhadap masalah yang timbul, maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research. Pendekatan dari segi metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan dalam penelitian tindakan ini adalah “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions)” dan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS).

(28)

teamwork. Pembelajaran kooperatif sangat menekankan tumbuhnya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran demi tercapainya prestasi belajar yang optimal.

Demikian pula halnya dengan pendekatan pembelajaran JAS. Pendekatan pembelajaran ini telah dikaji dari berbagai aspek yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai pendekatan pembelajaran Biologi yang handal. Pendekatan ini menekankan pada gaya dalam menyampaikan materi yang eksploratif memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik. Pendekatan pembelajaran JAS secara komprehensif memadukan berbagai pendekatan antara lain; eksplorasi dan investigasi, konstruktivisme, keterampilan proses dengan cooperative learning. Pendekatan pembelajaran JAS menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi dunia nyata, sehingga selain dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh peserta didik, pendekatan ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan dunia nyata sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna.

(29)

Pada akhirnya diharapkan, melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan JAS tersebut nantinya bisa memicu dan memacu tumbuhnya semangat kebersamaan, saling membantu dan saling memotivasi di antara siswa, yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar mereka pada mata pelajaran Biologi, khususnya materi/Kompetensi Dasar: “Mengidentifikasi komponen lingkungan abiotik dan biotik.”

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang dilakukan terhadap subjek penelitian di kelas tersebut.

Menurut Sulipan, dalam tulisannya yang disusun untuk Program Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Online (http://www.ktiguru.org) berjudul ”Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”, pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan lainnya. Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu di mana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas itu tidak lain adalah untuk memecahkan masalah, memperbaiki kondisi, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Arikunto (2002:82) menjelaskan, penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Targart (dalam Arikunto, 2002:83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus berikutnya. Setiap siklus meliputi; planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi).Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

(30)

Penjelasan alur diatas adalah:

1. Rancangan/rencana awal. Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dahulu menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrument penelitian dan Perangkat pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

2. Pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini guru menerapkan tindakan yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya, yang tidak lain adalah langkah-langkah kegiatan pembelajaran terkait dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dipilih dan ditetapkan.

3. Pengamatan atau observasi. Tahap ini pelaksanaannya bersamaan dengan tahap sebelumnya, yakni pelaksanaan tindakan. Jika pelaksana tindakan (guru) sekaligus bertindak sebagai pengamat (dalam penelitian tindakan individual, di mana guru bertindak sekaligus sebagai peneliti tanpa kolaborasi dengan pihak lain), maka instrumen pengamatan sebaiknya telah disiapkan secara terstruktur dan sistematis.

4. Refleksi. Tahap ini merupakan kegiatan untuk merenungkan dan memikirkan kembali tindakan-tindakan yang sudah maupun yang belum dilakukan, keberhasilan dan kekurangannya, hambatan-hambatan yang dihadapi selama melakukan tindakan, dan lain sebagainya. Apabila guru pelaksana tindakan juga berstatus sebagai pengamat (peneliti), maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan ”dialog” dengan dirinya sendiri untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan

Permasalahan Perencanaan Pelaskanaan

Refleksi - I

Perencanaan

Refleksi - II

Pengamatan/ Pengumpulan DataI

Pelaksanaan

Pengamatan/ Pengumpulan DataII Permasalahan

Baru, Hasil Refleksi

Bila Permasalahan Belum Terselesaikan

Dilanjutkan ke siklus berikutnya

(31)

memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rencana, atau untuk menemukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal-hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation”, introspeksi, otokritik, dan sebagainya yang sudah barang tentu diharapkan bisa bersikap objektif. Untuk menjaga objektivitas yang diharapkan seringkali diperlukan hasil refleksi itu divalidasi atau minimal dikonsultasikan dengan teman sejawat, ketua jurusan, kepala sekolah, atau pihak lain yang kompeten dalam bidang itu. Jadi pada intinya, kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi tindakan, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus penelitian berikutnya.

Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian

Penelitian ini berjalan dalam dua siklus, yang dalam setiap siklusnya berlangsung dua kali pertemuan atau tatap muka (setiap pertemuan = 2 x 45 menit). Setiap siklus penelitian terdiri dari 4 (empat) tahap kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Data yang dikumpulkan dalam setiap siklus adalah data yang berhubungan dengan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa melalui instrumen pengumpul data yang telah ditetapkan, dalam hal ini adalah melalui format observasi dan lembar soal tes yang telah disiapkan oleh guru.

Hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus setelah diolah diperoleh hasil aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan rata-rata dari 61,67 (70,08%) pada siklus I menjadi 78,83 (89,58%) pada siklus II, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 17,16 (19,50%).

Demikian pula halnya dengan prestasi belajar dan atau ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II cenderung mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 10 siswa (45,45%) yang tidak tuntas pada siklus I menurun menjadi hanya 1 siswa (4,55%) yang tidak tuntas dan memerlukan remidi pada akhir siklus II. Sementara itu jumlah siswa yang tuntas tetapi tidak perlu pengayaan juga meningkat, dari 6 siswa (27,27%) pada siklus I menjadi 9 siswa (40,91%) pada siklus II. Berikutnya adalah siswa yang “tuntas dengan predikat memuaskan” dan “sangat memuaskan”, masing-masing sebanyak 2 (9,09 %) dan 4 (18,18%) pada siklus I dan meningkat pada akhir siklus II, yaitu masing-masing menjadi 9 (40,91%) dan 3 (13,64%). Baik yang tuntas memuaskan maupun yang tuntas sangat memuaskan, keduanya adalah termasuk kategori siswa yang perlu mendapat program pengayaan. Jumlah siswa dalam kategori yang terakhir itu secara kumulatif pada akhir siklus II adalah sebanyak 12 siswa (54,54%).

2. Pembahasan

(32)

pengamatan mengalami peningkatan yang sangat berarti dari siklus I ke siklus II. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan JAS, melalui tindakan guru yang berupa pembentukan kelompok belajar secara acak terstruktur ditambah dengan label nama pada baju siswa untuk memudahkan observasi dan memberikan penilaian sepertinya cukup ampuh untuk menggugah motivasi dan gairah belajar siswa. Siswa seolah menjadi sangat terkesan dengan penciptaan suasana belajar, terlebih setelah mereka diajak secara langsung melakukan pengamatan dan memberikan perlakuan terhadap lingkungan yang menjadi sasaran dalam pembelajaran yakni komponen lingkungan abiotik dan biotik di lingkungan sekolah, melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Antusiame mereka juga meningkat, dikarenakan dalam proses penilaian yang sangat beda ketimbang sebelumnya yang kali ini kelihatan lebih serius dan resmi dari guru. Kiranya itu yang membuat mereka untuk dapat tampil sebaik mungkin dalam rangka mendapat penilaian yang terbaik dari guru selama proses pembelajaran.

Model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran mengidentifikasi lingkungan komponen abiotik dan biotik, diakui cukup mendorong para siswa untuk berlomba dan terpacu meningkatkan aktivitas belajar mereka di kelas. Dari yang semula kelihatan agak sungkan urun pendapat berubah menjadi proaktif dalam berinteraksi dan berkomunikasi, baik dengan guru maupun dengan teman sekelas atau teman kelompok belajarnya; dari yang semula pemalas, pelamun dan kurang bergairah belajar mendadak menjadi rajin dan bersemangat belajar; dari yang semula kelihatan peragu dan penakut berubah menjadi penuh percaya diri dalam kegiatan tanya jawab; dari yang semula kelihatan tak peduli dan egois berubah menjadi penuh antusias dan mau berbagi dengan teman. Hal itu semua terbukti dari data hasil penelitian sebagaimana tersajikan pada tabel 3 di atas, di mana aktivitas belajar siswa dalam segala aspek pengamatan dari 70,08% pada siklus I meningkat menjadi 89,58% pada akhir siklus II, yang berarti naik sebesar 19,50%.

Berdasarkan kriteria penilaian aktivitas belajar yang telah ditetapkan, prosentase aktivitas belajar sebesar 89,58% itu tergolong tinggi sekali. Demikian pula angka prosentase kenaikan sebesar 19,50% tersebut jelas jauh melampaui kriteria keberhasilan penilaian proses sekaligus kriteria pengujian hipotesis yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, yakni sebesar 10%.

(33)

Memang harus diakui, bahwa dengan model pembelajaran kooperatif seperti yang diterapkan dalam penelitian tindakan ini suasana belajar di kelas menjadi “kesannya” agak ramai dan cenderung gaduh. Sesekali sering terdengar suara tepukan meriah dan gelak tawa riang dari para siswa untuk memberikan “applause” dan support atau karena munculnya spontanitas perilaku jenaka dari teman sekelas ketika berdiskusi ataupun saat mengerjakan tugas-tugas kelompok dan tanya jawab.. Meskipun begitu suasana kelas tetap kondusif bagi proses pembelajaran, dan bahkan siswa sepertinya merasakan adanya suasana belajar yang menyenangkan (joyful learning atau learning is fun).

Demikian pula halnya bila ditinjau dari segi hasil, data prestasi belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Semula pada siklus I hanya 12 siswa (6 + 2 + 4) atau sebesar 54,54% yang tuntas belajar, pada siklus II meningkat cukup tajam menjadi 21 siswa (9 + 9 + 3) atau sebesar 95,45. Jadi untuk kategori ini terjadi peningkatan sebesar 40,91%. Sementara itu untuk kategori penilaian hasil yang lain, yakni kategori siswa yang tidak tuntas, dari semula pada siklus I sebanyak 10 siswa (45,45%) yang tidak tuntas pada siklus II berkurang drastis menjadi hanya 1 siswa (4,55%) yang tidak, yang berarti berkurang sebesar 40,91%.

Angka prosentase kenaikan, baik bagi yang tuntas maupun prosentase pengurangan bagi yang tidak tuntas dari siklus I ke siklus II masing-masing 40,91%. Jika dihubungkan dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk pengujian hipotesis, yakni kenaikan 10%, maka hal itu tentu cukup membanggakan. Terlebih lagi bila dilihat dari segi kriteria keberhasilan secara klasikal yang telah ditetapkan, yakni sebesar 85% dari seluruh siswa dalam kelas harus mencapai ketuntasan belajar. Sementara dari penilaian hasil di akhir siklus II ini hanya menyisakan 4,55% yang tidak tuntas, itu sama artinya 95,45% siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Dari hasil analisis tersebut dapat dipahami lebih jauh bahwa tindakan guru menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan JAS telah berhasil mencapai tujuannya.

Dengan demikian maka hipotesis penelitian (tindakan) yang dirumuskan dalam penelitian ini terbukti dapat diterima kebenarannya secara sah dan meyakinkan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan JAS pada pembelajaran Biologi, khususnya pada materi atau Kompetensi Dasar “Mengidentifikasi komponen lingkungan abiotik dan biotik” terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa Kelas XII AHP2SMK Negeri 1 PetangTahunPelajaran 2014/2015.

Simpulan

Gambar

Tabel 1
Tabel 2
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar Biologi
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Biologi Kelompok Kontrol.
+7

Referensi

Dokumen terkait