• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai karakter dalam hubungan dengan diri sendiri meliputi; a Jujur

SEKOLAH MENEGAH ATAS oleh

4. Nilai karakter dalam hubungan dengan diri sendiri meliputi; a Jujur

Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. Terdapat dalam sesawangan (perumpamaan), munyine jangih kadi sunarine tempuh angin, tatuekne, jangih, ngulangunin, tur lengut pisan. „ tutur bahasanya nyaring bagai sunari yang di hembus angin, maknanya halus, merdu, dan indah sekali. Siswa yang jujur adalah siswa yang memilki tutur kata, tindakan,pekerjaan yang baik, halus, dapat dipercaya, dan dipertanggung jawabkan.

b. Bertanggung jawab

Merupakan sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya siswa lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat dalam sesonggan (pepatah), sekah gelah nyen man tunden maktinin, tatuekne, gumi Indonesia ene mula iraga ngelah, iraga patut

ngutamayang, „ tempat dewa-dewi (dalam agama hindu) siapa yang disuruh menyembahnya, sama halnya dengan bumi Indonesia yang tercinta ini memang kita yang memiliki harus kita yang menjaganya. Sebagai siswa yang bertanggung jawab harus melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap Tuhan, nusa dan bangsa.

c. Kerja keras

Merupakan suatu prilaku yang menunjukkan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/bekerja) dengan sebaik-baiknya. Terdapat dalam sesonggan (pepatah), sapuntul-puntulan besine yening sangih dadi mangan, tatuekne,lamun apa je belogne yening malajah pasti lakar dueg, „ setumpul-tumpulnya besi apabila diasah pasti akan tajam,‟maknanya sebodoh bodohnya siswa apabila mau sungguh- sungguh dalam mengatasi permasalahan, pekerjaan maupun belajar pasti akan berhasil dan pintar,dalam menanamkan nilai kerja keras dalam paribasa dapat dilakukan juga melalui pujian atau cara sopan dalam sindiran. Nilai prilaku upaya sungguh-sungguh dalam bekerja dalam paribasa Bali disampaikan secara sopan dalam paribasa Bali dapat tercermin dalam sesonggan, seperti, “cenik-cenikan punyan sotong”, keci-kecilan pohon jambu biji, “ yeh ngetel bisa molongin batu” setetes air dapat melobangi batu, sesenggakan, seperti, “buka petapan ambengane”, ibarat alang-alang, sesonggan dan sesenggakan tersebut dipakai untuk menasehati, mendidik anak- anak agar memiliki sikap kerja keras, prilaku yang sungguh- sungguh, belajar yang kuat seperti pohon jambu kecil tapi kuat, begitu juga dengan setetes air lama-lama bisa melobangi batu . Semua manusia memiliki potensi yang baik. Manusia harus belajar dari kecil karena pada usia muda, pikiran, konsentrasi dan kecerdaasan anak-anak sangat tajam serta sudah tua akan dijadikan sebagai pengayom inilah yang diumpamakan seperti alang-alang. Siswa sangat perlu diberikan nasehat paribasa Bali ini supaya mampu mengerjakan dan menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan baik.

d. Percaya diri

Merupakan sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. Terdapat dalam bladbadan (metafora), prakpak balok kaden sundih, awak belog ngaku ririh,‟ bara balok dikira api lampu templek, dirinya bodoh mengaku pintar‟ maknanya sebagai siswa harus memiliki sikap percaya diri, keyakinan dan kemampuan diri sendiri sehingga

dapat bersaing dalam kehidupan sehari-hari, meskipun ilmu yang dimiliki kurang memadai tetapi kalau sudah memiliki keyakinan, percaya diri niscaya semuanya dapat teratasi. Adakalanya dalam masyarakat Bali, pengakuan sikap, prilaku bijaksana dan percaya diri seseorang terindikasi melalui sikap rendah hati seseorang. Karena itu, sikap rendah hati dan percaya diri menjadi indikator bagi tingkah laku manusia Bali, sebagai mana tercermin dalam ungkapan “eda ngaden awak bisa depang anake ngadanin”, sikap percaya diri berkaitan dengan sikap tidak menyombongkan diri meskipun dipuji, suka menerima saran atau kritikan untuk meningkatkan prestasi.

e. Cinta ilmu

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunujukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. Terdapat dalam sesonggan (pepatah) song beduda buin titinin, tatuekne, buka anake ane plapan melaksana, ngidepang ilmu pengetahuan di sahananing laksana.‟ Lobang beduda (semacam serangga yang sering buat lubang ditanah) dibuatkan jembatan, hal ini sangat baik diajarkan pada siswa dalam berbuat, berbicara, harus selalu berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sehingga apa yang dicita-citakan dapat diraih dan berhasil.

f. Berpkir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

Berpikir dan melakukan sesuatu cara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. Tersurat dalam sesenggakan (ibarat), buka padine ane misi nguntul, ane puyung sunggar, tatuekne buka anake pradnyan alep tur mendep, sakewala anake ane belog punggung, sombong ngucicak. „ seperti padi yang penuh berisi menunduk, sedangakan yang kosong berdiri, makna seperti siswa yang sangat pandai diam, tidak banyak bicara, tetapi siswa yang bodoh terlalu banyak bicara dan sombong. Artinya sebagai siswa harus rajin belajar, berpikir logis, kritis, dan inovatif demi bangsa dan negara.

g. Mandiri

Sesuatu sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Seperti terdapat dalam sesenggakan (ibarat), buka ulungan durene, nyaputin iba, tatuekne, buka anake ane tanggar teken awakne apang tuara kasengkalen tipal. „ seperti jatuhnya buah duren, berselimut sendiri, maknanya sebagai siswa harus bersikap dan berprilaku mandiri tidak tergantung orang lain. Ini sangat baik dipakai mendidik anak-anak

supaya bisa hidup tabah, kuat, berani mengambil resiko, dan berpikir fositif dalam mengerjakan tugas-tugas pribadi maupun tugas negara. 5. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Nilai ini berhubungan dengan sikap, sifat, perhatian, karena dewasa ini masyarakat sudah mulai melakukan illegal loging secara besar-besaran sehingga pemanasan global terjadi. Pada era reformasi sekarang mengelola kekayaan alam, hutan, dan hasil bumi lainnya sudah semakin meraja lela sehingga hutan menjadi rusak, lingkungan rusak, dan kekayaan alam semakin menipis sebenarnya masyarakat yang baik adalah masyrakat yang eling, ingat, dan selalu waspada sehingga tidak terjadi kerusakan dimana-mana. Nilai karakter ini maknanya dapat dilihat dalam sindiran berikut, sesonggan, ngalih baling ngaba alutan, buta tumben ngedat, takut ngetel payu makebios, sau kerep dungki langah, mengandung makna tidak mampu mengelola kekayaan alam dengan baik (berhasil guna, tepat sasaran) menyebabkan hidup ini hancur berantakan (takut ngetel payu makebios), cendrung boros tidak mau lagi menanam hutan hanya menebang saja sehingga banjir dan pemanasan global terjadi (sau kerep dungki langah), membuat hidup menjadi menderita, pas-pasan (ngalih balang ngaba alutan), sesonggan tersebut sering digunakan menyindir sikap dan tingkah laku orang yang angkuh, sombong, dan conkak, dengan tujuan untuk menyadarkan orang tersebut bahwa kepentingan pribadi yang dilakukan untuk memperkaya diri sendiri dengan cara merusak lingkungan sangat merugikan orang banyak.

KESIMPULAN

Ungkapan-ungkapan tradisional yang merupakan mutiara kata dari nenek moyang mengandung pesan moral yang dapat berlaku sepanjang jaman. Ungkapan- ungkapan tradisional tersebut dibuat sebagai petuah, nasehat yang disampaikan secara tersirat dengan memperhatikan estetika bahasa yang tinggi. Seiring dengan tergerusnya akar budaya maka perlu adanya penguatan karakter bangsa. Lebih lanjut karakter bangsa perlu dijaga agar tetap terjaga.paribasa bali merupakan genre sastra lisan Bali tradisional yang sangat kaya dengan nilai-nilai karakter. Nilai-nilai karakter tersebut memiliki kontribusi strategis dalam pembentukan karakter bangsa. Manusia berkarakter adalah manusia yang memiliki kesehimbangan dan keharmonisan dalam hal rasa. Untuk itu revitalisasi budaya melalui pengkajian sebagai aset budaya termasuk paribasa Bali, merupakan upaya penting dan strategis dalam rangka penguatan dan ketahanan budaya.

Karakter-karakter yang tampak kental pada ungkapan-ungkapan paribasa Bali adalah pembentukan karakter, hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan sesama, hubungan dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan. Untuk memahami ungkapan dalam paribasa Bali tersebut perlu adanya orientasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal upaya pengembangan makna sesuai dengan konteks dapat maksimal, lebih lanjut siswa dapat menerima dan mengaplikasikan dalam tutur dan tindakan untuk pembelajaran karakter baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun bangsa dan negara.

DAFTAR PUSTAKA

Ginarsa, Ketut t. th. Paribasa Bali. Denpasar: CV. Kayumas.

Gunawan, Heri. 2012. Pendidikan Karakter, Konsep, dan Implementasi. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Buku Pedoman Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Jendral Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jendral Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. Jakarta: Direktorat Jendral Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Suarka, I Nyoman. 2010. Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra. Balai Bahasa Denpasar. Nomor 36, TH XXII, Desember 2010

Suyanto. 2011. “Pendidikan Karakter di Sekolah Perlu Direvitalisasi” Majalah Diknas

Kementerian Pendidikan Nasional RI Jakarta.

Yudhoyono, Susilo Bambang. 2011. “Mari Kita Kerja Keras melalui Jalur Pendidikan” Majalah Diknas Kementerian Pendidikan Nasional RI Jakarta.

Dokumen terkait