Laporan Tutorial Skenario 1 PSIKIATRI

51  75 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BLOK PSIKIATRI

SKENARIO 1

TETANGGA SAYA BERPERILAKU ANEH

KELOMPOK 18

LES YASSIN G0012244

M. BEIZAR YUDHISTIRA G0012134

RIZKI FEBRIAWAN G0012190

YUSUF ARIF SALAM G0012240

TRIA MULTI FATMAWATI G0012222

LELY AMEDIA RATRI G0012114

TIA KANZA NURHAQIQI G0012220

R.Rr ERVINA KUSUMA W G0012168

LATIFA ZULFA S G0012112

RIANITA PALUPI G0012180

OKI SARASWATI UTOMO G0012156

TUTOR:

dr. Novianto Adi Nugroho

FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

SKENARIO 1

TETANGGA SAYA BERPERILAKU ANEH

Sejak kurang lebih 2 minggu ini tetangga saya, seorang laki-laki berusia 24 tahun berperilaku aneh dan tidak seperti biasanya, yaitu sering bicara sendiri, tidak mau mandi, dan mondar-mandir ke aluar – masuk rumah. Hal ini terjadi setelah dia dikeluarkan dari tempat kerjanya di Jakarta, sehingga saya menduga dia sedang mengalami stress yang berat. Saat pulang ke rumahnya dari Jakarta, dia tampak bingung dengan pakaian kusut dan kumal seperti tidak pernah dicuci.

Setelah 1 pekan di rumah dan tidak tampak perbaikan walaupun sudah diobati oleh beberapa paranormal, akhirnya dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Dokter jaga di RSJ mengatakan bahwa pada pasien didapatkan waham, halusinasi, dan depersonalisasi sehingga dia berperilaku aneh.

(3)

BAB II

DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA

Seven Jump

Jump I: Klarifikasi Istilah

Dalam skenario ini beberapa istilah yang perlu diklasifikasi adalah sebagai berikut:

1. Waham : keyakinan yang salah yang diyakini 100% oleh pasien; bias atau aneh dan tidak sesuai fakta.

2. Halusinasi : persepsi tanpa stimulus dari eksternal

3. Depersonalisasi : perasaan aneh pada diri sendiri yang tidak nyata 4. Paranormal : sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah

5. Stress : reaksi/respon tubuh terhadap psikososial yang berupa gangguan mental berupa respon tubuh fisiologis serta perilaku.

Jump II: Menentukan/mendefinisikan permasalahan Permasalahan pada skenario ini yaitu sebagai berikut:

1. Mengapa pasien sering bicara sendiri, jarang mandi, mondar mandir? 2. Mengapa pasien tampak bingung?

3. Apa hubungan antara PHK dengan keluhan ?

4. Mengapa bisa timbul waham, halusinasi dan depersonalisasi? 5. Mengapa pasien dirujuk ke rumah sakit?

6. Bagaimana penanganan pasen di rumah sakit? 7. Apa hubungan stress berat dengan keluhan pasien?

8. Apa hubungan onset dengan gejala, jenis kelamin serta usia pasien 9. Apa saja Faktor resiko yang mempengaruhi keluhan?

10. Bagaimana prosedur pemeriksaan status mental? 11. Apa definisi sehat mental?

12. Apa saja jenis-jenis gangguan jiwa?

Jump III: Menganalisis permasalahan dan membuat penyataan sementara mengenai permasalahan

Untuk pertanyaan yang belum terjawab, dimasukkan ke dalam LO (Learning Objective) pada Jump V

(4)

Pengertian sehat menurut WHO adalah "Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity". Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam defenisi sehat yaitu:

1. Sehat Jasmani

Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.

2. Sehat Mental

Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno "Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat" (Men Sana In Corpore Sano).

3. Sehat Spritual

Spritual merupakan komponen tambahan pada pengertian sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kahidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.

Jump IV: Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan pernyataan sementara mengenai permasalahan pada langkah 3.

Laki-laki, 24 tahun px status mental, tes darah, dll

Diagnosis Banding : Psikosis akut

Scizofrenia

Diagnosis multiaksial

(5)

Jump V: Merumuskan tujuan pembelajaran

LO (Learning Objection) yang perlu diketahui dan dicari pada pertemuan kedua adalah:

1. Mengapa pasien sering bicara sendiri, jarang mandi, mondar mandir? 2. Mengapa pasien tampak bingung?

3. Apa hubungan antara PHK dengan keluhan ? 4. Mengapa pasien dirujuk ke rumah sakit? 5. Bagaimana penanganan pasen di rumah sakit? 6. Apa hubungan stress berat dengan keluhan pasien?

7. Apa hubungan onset dengan gejala, jenis kelamin serta usia pasien 8. Apa saja faktor resiko yang mempengaruhi keluhan?

9. Bagaimana prosedur pemeriksaan status mental? 10. Apa saja jenis-jenis gangguan jiwa?

Jump VI : Mengumpulkan Informasi Baru (Belajar Mandiri).

(6)

1. Mengapa pasien sering bicara sendiri, jarang mandi, mondar mandir?

Berhubungan dengan penyakit yang diderita oleh pasien. (penjelasan pada nomor 9)

2. Apa hubungan antara PHK dengan keluhan ?

PHK merupakan sumber stress (stressor) pada pasien. Sehingga dengan adanya stressor ini tanpa disertai tidak adanya mekanisme menejemen stress yang baik oleh pasien menyebabkan pasien mengalami gangguan kejiwaan.

Macam-macam stressor antara lain : a. Cataclysmic events

Merupakan stressor kuat yang muncul secara tiba-tiba dan dapat mempengaruhi banyak orang dalam sebuah populasi. Misalnya adalah terjadinya bencana alam, dan peperangan yang tidak pernah terduga kapan akan terjadinya.

b. Personal Stressor

Merupakan kejadian-kejadian pada hidup yang khusus dan lebih bersifat pribadi. Misalnya adalah terdapat anggota keluarga yang meninggal, kehilangan pekerjaan, kehilangan benda berharga, dll c. Background stressors

Merupakan stressor ringan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya apabila sesorang terlambat masuk kantor, tidak dapat mengerjakan ujian, dll.

3. Mengapa pasien dirujuk ke rumah sakit?

Indikasi pasien dirawat di rumah sakit adalah :

a. Untuk peninjauan lebih lanjut sehubungan dengan proses diganostik. b. Stabilisasi medik

c. Menjaga keamanan pasien dan lingkungannya

d. Apabila situasi di rumah tidak memadahi dan tidak memungkinkan untuk dilakukan rawat jalan.

4. Bagaimana penanganan pasen di rumah sakit?

Proses diagnosis gangguan jiwa meliputi prosedur klinis yang lazim dilakukan dalam praktek kedokteran klinis, yaitu meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

(7)

Alasan Berobat, riwayat gangguan sekarang, riwayat gangguan dahulu,riwayat perkembangan diri dan latar belakang sosial b. Pemeriksaan

Fisik diagnostik, status mental, Laboratorium, rdiologik, evaulasi psikologik, lain-lain

c. Diagnosis

Menggunakan diagnosis multiaksial yang terdiri dari 5 aksis yaitu, aksis I (klinis), aksis II (kepribadian), aksis III (kondisi medik), aksis IV (Psiko-sosial) dan aksis V (taraf fungsi)

d. Terapi

Farmakoterapi, psikoterapi, terapi sosial, terapi okupasional, lain-lain. e. Tindak lanjut

Evaluasi terapi, evaluasi diagnosis, lain-lain

5. Apa hubungan stress berat dengan keluhan pasien?

Stress berat merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya berbagai macam kasus gangguan jiwa. Terdapat beberapa tahapan dari efek stress yaitu :

a. Alarm and mobilization

Seseorang mulai menyadari adanya stressor yang akhirnya menimbulkan pengaktifan saraf simpatis dan berujung pada mekanisme penanganan stressor tersebut.

b. Resistance (Adaption to stress)

Apabila stressor tidak dapat diatasi dengan manajemen stress yang baik maka akan terjadi resistensi dimana tubuh beradaptasi untuk selanjutnya menghadapi stressor tersebut dengan tekanan yang lebih berat.

c. Exhaustion

Kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap stressor menurun menuju suatu titik dimana muncul konsekuensi negatif dari stressor tersebut.

6. Apa hubungan onset dengan gejala, jenis kelamin serta usia pasien

(8)

Berdasarkan atas studi epidemiologi didapatkan bahwa hampir pada sebagian besar kasus psikiatrik laki-laki lebih sering terkena gangguan psikiatri

Usia pasien dapat digunakan sebagai faktor pendukung terhadap jenis stressor yang mungkin diderita oleh pasien.

7. Apa saja faktor resiko yang mempengaruhi keluhan?

Dijelaskan pada nomor 9.

8. Bagaimana prosedur pemeriksaan status mental?

Pemeriksaan status mental adalah bagian dari pemeriksaan klinis yang menggambarkan tentang keseluruhan pengamatan pemeriksa dan kesan tentang pasien psikiatrik saat wawancara, yang meliputi penampilan, pembicaraan, tindakan, persepsi, dan pikiran selama wawancara.

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL HAL YANG HARUS

DIKERJAKAN agitasi, retardasi, fleksibilitas, rigiditas, dll.)

Mengamati dan/ atau memeriksa cara berjalan, gerakan, dan aktivitas pasien.

c. Sikap terhadap pemeriksa (bekerja sama, bersahabat, menggoda, apatis, bermusuhan, merendahkan, dll.)

Mengamati dan merasakan sikap dan jawaban pasien saat wawancara psikiatrik.

2. Mood dan Afek

a. Mood (emosi yang meresap dan terus-menerus mewarnai persepsi seseorang terhadap dunia.

(9)

Digambarkan dengan depresi, kecewa, mudah marah, cemas, euforik, meluap-luap, ketakutan, dsb.)

b. Afek (respon emosional pasien yang tampak, digambarkan sebagai meningkat, normal, menyempit, tumpul, dan datar)

“Bagaimana perasaan Anda akhir-akhir ini?” (pertanyaan terbuka)

“Apakah Anda merasa sedih?” (pertanyaan tertutup)

c. Keserasian (serasi afek atau tidak serasi afek)

Mengamati variasi ekspresi wajah, irama dan nada suara, gerakan tangan, dan pergerakan tubuh.

Logorrhea: bicara yang banyak sekali, bertalian, dan logis.

Flight of idea: pembicaraan dengan kata-kata yang cepat dan terdapat loncatan dari satu ide ke ide yang lain, ide-ide cenderung meloncat/ sulit dihubungkan.

(10)

membingungkan (inkoheren). 4. Gangguan Persepsi

(Halusinasi, ilusi, depersonalisasi,

derealisasi) Menanyakan tentang gangguan persepsi yang pernah atau sedang dirasakan oleh pasien.

“Apakah Anda pernah mendengar suara atau bunyi lain yang tidak dapat didengar oleh orang lain?”

“Apakah Anda dapat atau pernah melihat sesuatu yang tampaknya tidak dilihat orang lain?”

5. Pikiran

a. Proses atau bentuk pikiran (termasuk di sini realistik, nonrealistik, autistik, irasional, dll.)

b. Isi pikiran (waham, preokupasi, obsesi, fobia, dsb.)

Waham kejar: “Apakah Anda merasa orang-orang memata-matai Anda?”

Waham cemburu: “Apakah Anda takut pasangan Anda tidak jujur? Bukti apa yang Anda miliki?”

Waham bersalah: “Apakah Anda merasa bahwa Anda telah melakukan kesalahan yang berat? Apakah Anda merasa pantas mendapat hukuman?”

“Apakah Anda merasa pikiran Anda disiarkan sehingga orang lain dapat mendengarnya?” (waham siar pikir).

(11)

Anda telah dimasuki oleh kekuatan atau sumber lain di luar?” (waham sisip pikir).

“Apakah Anda merasa bahwa pikiran Anda telah diambil oleh kekuatan atau orang lain?” (waham penarikan pikiran).

6. Sensorium dan Kognitif

a. Kewaspadaan dan tingkat kesadaran (sadar, pengaburan, somnolen, stupor, koma, letargi, keadaan fugue) orang, dan situasi: “Sekarang hari apa? Tanggal berapa? Siang/ malam? Jam berapa sekarang? Di mana kita saat ini? Kerjanya apa?” segera/ immediate retention and

Menilai daya ingat dengan

menanyakan data masa anak-anak, peristiwa penting yang terjadi pada masa muda.

(12)

recall memory). Peristiwa beberapa hari yang lalu, apa yang dilakukan kemarin, apa yang dimakan untuk sarapan, makan siang, dsb.

d. Konsentrasi dan perhatian Meminta pasien untuk mengulangi enam angka maju kemudian mundur.

Mengulang tiga kata, segera dan 3-5 menit kemudian.

Pasien diminta mengurangi 7 secara berurutan dari angka 100. Pasien diminta mengeja mundur suatu kata sederhana.

e. Kapasitas membaca dan menulis Pasien diminta membaca dan mengikuti apa yang diperintahkan serta menulis kalimat sederhana tapi lengkap.

f. Kemampuan visuospasial Pasien diminta mencontoh suatu gambar, seperti jam atau segilima. g. Pikiran abstrak Menanyakan arti peribahasa

sederhana, persamaan, perbedaan benda.

h. Sumber informasi dan

kecerdasan (dengan

memperhitungkan tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi pasien)

Pasien diminta menghitung uang kembalian setelah dibelanjakan, jarak antarkota.

7. Pengendalian Impuls

(Impuls seksual, agresif, atau lainnya)

Menanyakan tentang riwayat pasien sekarang dan mengamati perilaku pasien selama wawancara

(13)

Derajat tilikan (kesadaran dan pengertian pasien bahwa mereka sakit):

1) Penyangkalan penyakit sama sekali

2) Agak menyadari tetapi sekaligus menyangkal

3) Menyadari tetapi melemparkan kesalahan pada orang lain

4) Menyadari bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui pada diri pasien 5) Tilikan intelektual: menerima

bahwa pasien sakit dan disebabkan oleh perasaan irasional atau gangguan tertentu kesadaran emosional tentang motif dan perasaan dalam diri

“Apakah perawatan Anda di Rumah Sakit ini merupakan kesalahan?”

9. Reliabilitas Menilai kebenaran atau kejujuran pasien dalam melaporkan suatu situasi atau masalahnya

(Susilohati, et.al., 2013)

9. Apa saja jenis-jenis gangguan jiwa beserta simptomatologinya?

(14)

Simptomatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala. Simptomatologi gangguan jiwa berarti ilmu yang mempelajari gejala-gejala gangguan jiwa. Dalam kerja psikiatri (ilmu tentang cara pengobatan jiwa yang sakit), mempelajari gejala-gejala sangat penting artinya. Tidak saja untuk menentukan atau mengklasifikasikan gangguan yang dialami penderita, tetapi yang lebih penting adalah untuk mengidentifikasi sebab-sebab dari gangguan tersebut (etiologi).

Beberapa macam-macam simptomatologi psikiatri antara lain : 1. Kesadaran

Persepsi yangg dimodifikasi oleh emosi dan pikiran diri seseorang, sensorium sering di identikkan dengan kesadaran sensorium kearah kognitif.

a. Gangguan Kesadaran/ Conciousness Jenis-jenis gangguan kesadaran:

1) Disorientasi, yaitu kesadaran pemahaman diri dalam lingkungan atau gangguan orientasi waktu, tempat, orang dan situasional. 2) Pengaburan kesadaran, yaitu kejernihan ingatan yang tidak lengkap

disertai gangguan persepsi dan sikap.

3) Stupor, yaitu hilangnya reaksi ketidaksadaran terhadap lingkungan sekelilingnya seperti orang yang tertidur lelap dimana ingatan, orientasi dan pertimbangannya sudah hilang. Bila dirangsang hanya sedikit memberikan respon, dengan tidak acuh atau dengan membuka mata sebentar kemudian tidur lagi.

4) Delirium, yaitu kebingungan, kegelisahan reaksi disorientasi yang disertai rasa`takut dan halusinasi.

5) Twilight state, yaitu keadaan remang, gangguan kesadaran dengan halusinasi.

6) Dream like state, yaitu keadaan mimpi, gangguan kesadaran pada epilepsi psikomotor.

(15)

8) Koma vigil, yaitu pasien tertidur tetapi dapat dibangunkan, mutisme akinetik.

9) Koma yaitu penurunan derajat kesadaran berat dan sudah tidak ada reaksi terhadap rangsangan yang kuat.

b. Gangguan Atensi/Perhatian

Jenis-jenis gangguan atensi/perhatian:

1) Atensi/Perhatian, yaitu usaha yangg dilakukan untuk memusatkan pada bagian tertentu dari pengalaman; kemampuan untuk tetap memfokuskan perhatian pada`suatu aktifitas; kemampuan untuk berkonsentrasi.

2) Distrakbilitas, yaitu ketidakmampuan mengarahkan/memusatkan perhatian dirinya, perhatian mudah teralihkan pada rangsang atau stimuli yang tidak berarti. Biasanya ditemukan pada pasien ADHD. 3) Inatensi Selektif, yaitu hambatan atensi/perhatian karena ada hal-hal

yang menimbulkan kecemasan.

4) Hipervigilensi/Kewaspadaan berlebih, yaitu perhatian atau konsentrasi yang berlebih-lebihan, sehingga lapangan persepsi menjadi sangat sempit. Terjadi pada pasien paranoid dan cemas. 5) Trance/Keadaan tidak sadarkan diri, yaitu tidak sadarkan diri karena

perhatian terpusat dan kesadaran berubah; biasanya terlihat pada hipnosis, gangguan disosiatif, & pengalaman religius yang luar biasa. c. Gangguan Sugestibilitas.

Kepatuhan dan respon yang tidak kritis terhadap gagasan atau pengaruh. 1) Folie a deux (folie`a trois), yaitu penyakit emosional yang

berhubungan pada dua orang atau lebih, salah satu orang paranoid yang lain akan menjadi paranoid.

2) Hipnosis, yaitu modifikasi kesadaran yang diinduksi secara buatan yang ditandai dengan peningkatan sugestibilitas.

2. Emosi

Suatu komplek keadaan perasaan dengan komponen psikis, somatik dan perilaku yang berhubungan dengan afek dan mood.

a. Afek

(16)

1) Afek yang sesuai (appropiate affect), yaitu irama emosi harmonis dengan gagasan pikiran atau pembicaraan yang menyertai; afek yangg luas dan penuh dimana rentang emosional yang lengkap diekspresikan secara sesuai.

2) Afek tidak sesuai (inappropiate affect), yaitu ketidakharmonisan antara irama perasaan emosional dengan gagasan, pikiran atau pembicaraan yang menyertainya.

3) Afek tumpul (blunted affect) yaitu manifestasi penururan afek yang berat pada intensitas irama perasaan yang diungkapkan keluar. Afek/emosinya datar, tumpul, atau dingin.

4) Afek terbatas (restricted affect), yaitu penurunan intensitas irama perasaan tidak separah afek tumpul.

5) Afek datar (flat affect), yaitu tidak ada ekspresi afek; suara yang monoton; wajah tidak ada mimik.

6) Afek labil (labile affect), yaitu perubahan irama afek cepat dan tiba-tiba yang tidak berhubungan dengan stimuli eksternal.

b. Mood

Emosi yang meresap dan dipertahankan, dialami secara subjektif, dilaporkan pasien dan terlihat orang lain.

1) Mood disforik, yaitu perasaan yang tidak menyenangkan, sedih, merasa bersalah dan marah.

2) Mood eutimik, yaitu mood rentang normal atau perasaan yang wajar.

3) Mood meluap-luap (expansive mood), yaitu ekspresi perasaan seseorang tanpa pembatasan; sering kali dengan penilaian yang berlebih terhadap kepentingan atau makna seseorang.

4) Mood irritabel (irritrable mood), yaitu perasaan yang mudah dibuat marah atau diganggu dan mudah tersinggung.

5) Mood meninggi (elevated mood), yaitu mood yang lebih ceria dari biasanya dengan suasana keyakinan dan senang.

6) Euforia, yaitu mood yang elasinya kuat disertai rasa kebesaran. 7) Ectasy, yaitu mood yang gembira luar biasanya disertai rasa

gairah yang tinggi.

(17)

9) Anhedonia, yaitu mood yang rendah disertai hilangnya minat dan menarik diri dari semua aktifitas rutin dan menyenagkan, biasanya disertai depresi.

10) Aleksitemia, yaitu seseorang tak mampu atau sulit menggambarkan atau menyadari mood dan emosinya.

c. Emosi yang lain

1) Kecemasan, yaitu perasaan ketakutan disebabkan oleh dugaan bahaya yang mungkin berasal dari luar atau dalam dirinya.

2) Kecemasan yang mengambang (free floating anxiety), yaitu rasa takut yang meresap dan tidak terpusatkan yang tidak berhubungan dengan gagasan.

3) Ketakutan, yaitu kecemasan oleh adanya bahaya yang dikenal secara sadar dan realistik.

4) Agitasi, yaitu kecemasan berat yang disertai ketegangan dan kegelisahan motorik.

5) Ketegangan (Tension), yaitu peningkatan aktivitas motorik dan psikologis yang tidak menyenangkan.

6) Panik, yaitu puncak kecemasan; serangan kecemasan akut episodik dan kuat disertai perasaan takut`dan disertai pelepasan otonomik.

7) Apati, yaitu irama emosi yang tumpul disertai ketidak-acuhan terhadap lingkungannya.

8) Abreaksional, yaitu pelepasan/pelimpahan emosional setelah mengingat pengalaman yang menakuntukan.

9) Ambivalensi, yaitu terdapat dua impuls/gagasan datang secara bersama pada orang dan waktu yang sama.

10) Rasa malu, yaitu kegagalan membangun pengharapan diri.

11) Rasa bersalah, yaitu emosi sekunder karena melakukan sesuatu yang dianggap salah.

(18)

Suatu tanda disfungsi somatik (biasanya otonomik) pada seseorang dan sering berhubungan dengan depresi dan juga disebut tanda vegetatif. 1) Anoreksia, yaitu hilangnya atau menurunnya nafsu makan. 2) Hiperfagia, yaitu meningkatnya nafsu makan dan asupan makan. 3) Insomnia, yaitu hilangnya atau menurunnya kemampuan untuk

tidur (early, midle dan late insomia).

4) Hiperinsomnia, yaitu tidur yang berlebihan.

5) Variasi diurnal, yaitu mood yang secara teratur berubah, terburuk saat bangun tidur dan membaik pada siang hari.

6) Penururan libido, yaitu menurunnya minat, dorongan dan daya seksual (saat depresi atau meningkat saat pada manik).

7) Konstipasi, yaitu ketidakmampuan atau kesulitan untuk defekasi.

3. Konasi/Perilaku Motorik.

Aspek jiwa dimana impuls, motivasi, harapan, dorongan, insting dan idaman diekspresikan oleh perilaku dan atau aktivitas motorik seseorang. 1) Ekopraksi, yaitu peniruan gerakan yang patologis oleh seseorang dari

orang lain.

2) Katatonia, yaitu kelainan motorik oleh karena faktor psikogenik. a) Katalepsi, yaitu suatu posisi tidak bergerak dan dipertahankan

terus-menerus.

b) Agitasi katatonik/furor katatonik, yaitu aktifitas motorik yang teragitasi, tidak bertujuan dan tidak disebabkan oleh stimuli eksternal.

c) Rigiditas katatonik, yaitu penerimaan posisi atau postur tubuh yang kaku, disadari, menentang usaha untuk digerakkan.

d) Stupor katatonik, yaitu penurunan aktivitas motorik nyata sampai immobilitas dan tidak menyadari di sekelilingnya.

(19)

f) fleksibilitas serea, yaitu posisi seseorang dapat diatur seperti lilin oleh pemeriksa dan dipertahankan agak lama.

3) Negativisme, yaitu menahan tanpa motivasi terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi/perintah.

4) Katapleksi, yaitu hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dicetuskan oleh keadaan reaksi emosional.

5) Stereotipik, yaitu pola tindakan fisik atau bicara yang terfiksasi dan berulang.

6) Manirisme, yaitu gerakan tidak disadari yang sudah mendarah daging dan kebiasaan / gerakan menyeringai pd anak.

7) Otomatisme simbolik, yaitu tindakan-tindakan otomatis yang baiasanya mewakili suatu aktivitas simbolik dan tidak disadari.

8) Otomatisme sugestik, yaitu tindakan-tindakan otomatis tidak disadari mengikuti sugesti/kepatuhan otomatis mengikuti perintah.

9) Hipoaktivitas (hipokinesis), yaitu penurunan aktivitas motorik & kognitif seperti retardasi psikomotor, bicara lambat dan pergerakan yang dapat terlihat.

10) Mimikri, yaitu aktivitas motorik tiruan dan sederhana pada`anak-anak yang tanpa disadari.

11) Agresi, yaitu tindakan yang kuat, diarahkan tujuan, bisa verbal atau fisik; bagian afek motorik dari kekasaran, kemarahan atau permusuhan.

12) Acting out ( memerankan ), yaitu ekspresi langsung suatu harapan atau impuls yang tidak disadari dalam bentuk gerakan; fantasi yang tidak disadari dihidupkan secara impulsif dalam perilaku.

13) Abulia, yaitu penurunan impuls untuk bertindak/berfikir disertai ketidak acuhan tentang akibat tindakan.

14) Over aktifitas :

(20)

b) Hiperaktivitas/hiperkinesis, yaitu kegelisahan, agresif, aktifitas destruktif seringkali dengan patologi otak dasar.

c) Tik, yaitu gerakan motorik spasmodik yang tidak disadari.

d) Somnambulisme/sleep walking, yaitu tidur berjalan, aktifitas motorik saat tidur.

e) Ataksia, yaitu kegagalan koordinasi gerakan otot.

f) Akatisia, yaitu perasaan subjektif ketegangan motorik karena obat antipsikotik yang dapat menyebabkan kegelisahan, melangkah bolak-balik, duduk dan berdiri berulang-ulang; dapat disalah artikan sebagai agitasi psikotik.

g) Kompulsi, yaitu impuls tidak terkontrol untuk melakukan suatu tindakan segera dan berulang:

 Dipsomania, yaitu kompulsif untuk minum alkohol.

 Kleptomania, kompulsif untuk mencuri.

 Nimfomania, kompulsif untuk melakukan koitus pada wanita.

 Satiriasis, yaitu kompulsif untuk koitus pd pria.

 Trikotilomania, yaitu kompulsif untuk mencabuti rambut.

 Ritual, yaitu aktifitas kompulsif otomatik dalam sifat untuk

menurunkan kecemasan.

 Berjudi patologis.

4. Berfikir

Aliran, gagasan simbol dan assosiasi yang diarahkan oleh tujuan dimulai oleh suatu masalah atau suatu tugas dan mengarah pada kesimpulan yang berorientasi pada kenyataan.

a. Gangguan umum bentuk fikir.

(21)

2) Berfikir dereistik (autistik), yaitu preokupasi dgn dunia dalam dan pribadi.

3) Berfikir tidak logis, yaitu berfikir mengandung kesimpulan yang salah atau kontradiksi internal, berikir ini bersifat patologis jika nyata dan tidak disebabkan oleh nilai kultural.

4) Berfikir magis, yaitu berfikir dimana fikiran, tindakan dan kata-kata mempunyai kekuatan misalnya dapat mencegah penyebabkan suatu peristiwa.

5) Proses berfikir primer yaitu istilah umum berfikir magis, dereistik, tidak logis. Normal pd mimpi dan abnormal pd psikosis.

b. Gangguan spesifik proses/arus fikir.

1) Neologisme, yaitu kata baru diciptakan pasien, sering kombinasi beberapa kata, tidak mengandung makna baru, menunjukkan keanehan psikologik pasien.

2) Word salad/gado-gado kata, yaitu campuran kata dengan frase yang membingungkan.

3) Inkoherensi, yaitu pembicaraan tidak logis, tidak dapat dimengerti yang berjalan bersama kata yang diucapkan tidak logis, tanpa tata bahasa sehingga terjadi disorganisasi bicara. 4) Assosiasi longgar/pengenduran assosiasi, yaitu arus fikir dimana

gagasan-gagasan bergeser dari subjek satu ke subjek lainnya yang tidak berhubungan, lebih ringan dari inkoherensi.

5) Flight of ideas, yaitu verbalisasi atau pengucapan kata-kata yang cepat dan terus menerus mengakibatkan pergeseran terus menerus dari satu ide ke ide lainnya.

(22)

7) Tangensial, yaitu ketidakmampuan untuk mempunyai assosiasi pikiran yang diarahkan oleh tujuan; pasien bicara tidak ada titik awal yang sampai pada titik akhir.

8) Perseverasi, yaitu respon terhadap stimulus sebelumnya yang menetap setelah stimulus baru diberikan sehingga tampak pasien mengulangi kalimat jawaban; kadang-kadang disertai gangguan kognitif.

9) Verbigerasi, yaitu pengulangan kata-kata atau frasa-frasa spesifik yang tidak mempunyai arti.

10) Ekolalia, yaitu menirukan kata-kata atau frasa-frasa seseorang oleh orang lain, cenderung berulang-ulang dan menetap dan bisa`intonasinya terputus-putus.

11) Kondensasi, yaitu penggabungan beberapa kata menjadi satu kata.

12) Jawaban irrelevan, yaitu jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, pasien mungkin mengabaikan atau tidak memperhatikan.

13) Glossolalia , yaitu ekspresi pesan-pesan yang relevan melalui kata-kata yang tidak dapat dipahami.

14) Assosiasi bunyi, yaitu assosiasi kata-kata yang mirip bunyinya tapi berbeda artinya, kata-kata tidak mempunyai hubungan logis sering seperti sajak atau pantun.

 Assoasiasi pengertian, yaitu ada kata-kata yang diidentikkan

persamaan fungsi, misalnya rajawali besi maksudnya adalah kapal terbang.

 Blocking, yaitu terputusnya aliran berfikir secara tiba-tiba

sebelum pikiran/gagasan diselesaikan, setelah periode terhenti singkat pasien tidak tampak ingat apa yang telah dikatakan dan apa yang akan dikatakan.

(23)

1) Kemiskinan isi fikiran yaitu fikiran yang memberikan sedikit informasi karena tidak ada informasi pengertian, pengulangan kosong atau frase yang tidak jelas.

2) Grandiositas (gagasan berlebihan/gagasan mirip waham), yaitu keyakinan palsu yang dipertahankan dan tidak beralasan, dipertahankan secara kurang kuat dibandingkan dengan waham. 3) Preokupasi fikiran, yaitu pemusatan fikiran pada ide tertentu

disertai irama afektif yang kuat seperti kecenderungan paranoid ingin membunuh atau bunuh diri.

4) Egomania, yaitu preokupasi pada diri sendiri yang patologis. 5) Monomania, yaitu preokupasi pada suatu objek tunggal.

6) Hipokondria, yaitu ketakutan/kecemasan yang berlebihan tentang kesehatan diri pasien didasarkan bukan pd patologi organ yang nyata tetapi pada interpretasi yang tidak realistik terhadap tanda atau suatu sensasi fisik yang sebagai abnormal.

7) Obsesi, yaitu ide yang terpaku dan patologis dari suatu fikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang dan dihilangkan dari kesadaran oleh logika serta disertai kecemasan.

8) Fikiran kompulsi, yaitu kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls dimana bila ditahan akan timbul kecemasan; perilaku berulang sebagi respon suatu obsesi atau dilakukan menurut aturan tertentu tanpa akhir yang sebenarnya dalam diri terjadi dimasa depan.

9) Koprolali, yaitu pengungkapan secara kompulsif dari kata-kata yang cabul.

10) Waham, yaitu keyakinan palsu didasarkan pada keyakinan yang salah tentang kenyataan eksternal, tidak sejalan dengan logika dan budaya serta tidak dapat dikoreksi dengan suatu alasan.

(24)

pasien disedot (thought withdrawl), fikirannya disisipi/ dimasuki (thought insertion), fikiran disiarkan/ disebarkan (thought broadcast) atau fikiran dipengaruhi/diatur (thought control ) mahluk lain.

b) Waham tersistematisasi, yaitu keyakinan adanya peristiwa yang digabungkan oleh suatu tema/peristiwa tunggal, misalnya ada yang memata-matainya mau menculik/membunuh.

c) Waham nihilistik, yaitu perasaan palsu bahwa dirinya atau orang lain dan dunianya tidak ada atau berakhir.

d) Waham somatik, yaitu merasa bahwa fungsi/struktur organ tubuhnya ada kelainan/perubahan yang patologis. contoh : keyakinan bahwa otak pasien adalah berakar atau mencair. e) Waham sejalan dengan mood, yaitu waham dengan isi yang

tidak punya hubungan dengan mood misalnya pasien depresi atau merupakan mood netral.

(25)

11) Erotomania, yaitu keyakinan bahwa seseorang sangat mencintai dirinya, lebih sering terjadi pada wanita (juga dikenal sebagai Kompleks Clerambault-Kandinsky.

12) Pseudologia phantastica, yaitu suatu jenis kebohongan dimana seseorang tampak percaya terhadap kenyataan fantasinya dan bertindak atas kenyataannya disertai dengan Sindroma Munchausen, berpura-pura sakit yang berulang

13) Fobia, yaitu rasa takut yang persisten, irrasional, berlebihan dan selalu terjadi terhadap sesuatu jenis stimulasi atau situasi tertentu; menyebabkan keinginan menghindar stimulus atau situasi tersebut.

 Fobia simplek, yaitu rasa takut yang jelas pada objek atau

situasi yang jelas, tunggal dan tidak berbahaya.

 Fobia sosial, yaitu rasa takut pada keramaian/banyak orang.

 Akrofobia, yaitu rasa takut ditempat yang tinggi.

 Agorafobia, yaitu rasa takut pada tempat yang terbuka,

biasanya takut menyeberang jalan.

 Klaustrofobia, yaitu takut pada tempat tertutup, biasanya

pada lift.

 Erithrofobia, yaitu takut pd warna merah, biasanya pd darah.

 Panfobia, yaitu rasa takut terhadap segala sesuatu.

 Xenofobia, yaitu rasa takut terhadap orang asing.

 Zoofobia, yaitu rasa takut terhadap binatang.

 Dll.

14) Noesis, yaitu suatu wahyu dimana terjadi pencerahan yang besar sekali disertai dengan perasaan bahwa pasien dipilih untuk memimpin dan memerintah

(26)

dianggap suatu gangguan isi pikiran jika sejalan dengan keyakinan pasien atau lingkungan kultural

5. Bicara.

Gagasan, pikiran, perasaan yang diekspresikan melalui bahasa, komunikasi dalam penggunaan kata dan bahasa.

b. Gangguan bicara.

1) Tekanan Bicara, yaitu bicara cepat yaitu peningkatan jumlah dan kesulitan untuk memutus pembicaraan.

2) Logorrhhea, yaitu suka banyak bicara, kwantitas bicara berlebih, bertalian dan logis.

3) Miskin bicara (poverty of speech), yaitu pembatasan jumlah bicara yang digunakan, jawaban mungkin monosillabic.

4) Bicara yang tidak spontan, yaitu respon verbal yang diberikan hanya jika ditanya atu dibicarakan langsung; tidak ada bicara yang dimulai dari diri sendiri.

5) Miskin isi bicara, yaitu kwantitas kata adekuat, tetapi sedikit memberi informasi karena ketidak jelasan, kekosongan, atau frasa yang stereotipik.

6) Diprosodi, yaitu hilangnya irama bicara normal ( lawannya prosodi ).

7) Distartria, yaitu celat, cedal, kesulitan dalam artikulasi, bukan dalam penemuan kata atau bahasa.

8) Gagap, yaitu pengulangan atau perpanjangan suara atau suku kata yang sering dan menyebabkan gangguan kefasihan bicara yang jelas.

9) Kekacauan bicara, yaitu bicara`yang aneh dan disritmik, yang mengandung semburan yang cepat dan menyentak.

c. Gangguan afasia

(27)

1) Afasia motorik (afasia ekspresif, afasia kortikal, afasia tidak fasih, afasia Broka), yaitu gangguan bicara disebabkan oleh gangguan kognitif dimana pengertiannya tetap tetapi kemampuan untuk bicara terganggu, bicara banyak berhenti, bicara susah, bicara tidak fasih adan ekspresif.

2) Afasia sensorik (afasia reseptif, afasia subkorteks, afasia Wernicke, afasia fasih), yaitu kehilangan kemampuan organik untuk mencari kata, bicara lancar dan spontan, tetapi membingungkan dan tidak mengerti yang dibicarakan.

3) Afasia nominal (afasia anomia, afasia amnestik ), yaitu kesulitan untuk menemukan nama yang tepat suatu benda.

4) Afasia sintatikal, yaitu ketidakmampuan menyusun kata-kata dalam urutan yang tepat.

5) Afasia global, yaitu gabungan afasia motorik dan afasia sensorik.

6. Persepsi

Suatu proses memindahkan stimulasi fisik menjadi informasi psikologis; suatu proses mental dimana stimulasi sensoris dibawa ke kesadaran.

a. Gangguan persepsi. 1) Halusinasi

Persepsi sensoris yang palsu yang tidak disertai stimuli eksternal yang nyata, mungkin terdapat atau tidak terdapat interpretasi waham tentang pengalaman halusinasi.

a) Halusinasi hipnagogik yaitu halusinasi terjadi saat akan tertidur.

(28)

c) Halusinasi visual yaitu halusinasi penglihatan dapat berupa orang, benda (fisik) atau citra yang tidak berbentuk (kilatan), sering terjadi pada kerusakan otak.

d) Halusinasi olfaktorik (cium) yaitu halusinasi membau sesuatu, sering terjadi pada kerusakan otak.

e) Halusinasi akustik (auditorik) yaitu halusinasi dengar, ditemukan lebih 99 % halusinasi.

f) Halusinasi kecap (gustatoris), yaitu halusinasi tentang rasa kecap yang palsu; paling sering pada gangguan organik g) Halusinasi somatik, yaitu sensasi palsu tentang sesuatu hal

yang terjadi di dalam atau terhadap tubuh, paling sering berasal dari visceral (dikenal sebagai halusinasi kinestetik) h) Halusinasi raba (taktil, haptik) yaitu halusinasi ada sesuatu

rabaan pada kulit, adanya gerakan dibawah kulit.

i) Halusinasi somatik (halusinasi kinestetik) yaitu halusinasi adanya kejadian disuatu alat/bagian tubuhnya.

j) Halusinasi liliput (mikroskopik) yaitu halusinasi dimana benda yang dilihat tapak lebih kecil ukurannya.

k) Halusinasi yg sejalan dg mood (mood-congruent hallucination) yaitu halusinasi dimana isi halusinasi adalah konsisten dengan mood.

l) Halusinasi yang tidak sejalan dengan mood (mood-incongruent hallucination) yaitu halusinasi dimana isinya tidak konsisten dengan mood.

m) Halusinosis yaitu halusinasi oleh karena pengunaan alkohol yang kronik.

(29)

o) Trailling phenomena yaitu halusinasi oleh karena pengguaan obat/zat.

2) Illusi.

Mispersepsi atau misinterpretasi terhadap stimuli eksternal yang nyata.

b. Gangguan persepsi yang berhubungan dengan gangguan kognitif yaitu ketidakmampuan mengenali, menginterpretasikan kepentingan kesan sensorik.

1) Agnosognosia (ketidaktahuan tentang penyakit): yaitu ketidakmampuan mengenali suatu defek neurologis yang terjadi pada dirinya.

2) Somatopagnosia (autopagnosia) yaitu tidak mengenali bagian tubuhnya sendiri.

3) Agnosia visual yaitu tidak mengenali benda/orang yang sudah dikenalnya.

4) Astereognosia yaitu tidak mengenal benda melalui sentuhan/rabaan.

5) Prosopagnosia yaitu tidak mengenali wajah.

6) Apraksia yaitu ketidakmampuan mengerjakan tugas tertentu. 7) Stimultagnosia yaitu ketidakmampuan mengerti lebih satu elemen

pandangan visual pada`suatu waktu atau mengintegrasikan bagian-bagian menjadi keseluruhan.

8) Adiadokokinesia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan pergerakan yg berubah dengan cepat

c. Gangguan persepsi yang berhubungan fenomena konversi dan disosiasi.

(30)

2) Makropsia yaitu benda-benda yang dilihat tampak lebih besar dari yang sebenarnya.

3) Mikropsia yaitu benda-benda yang dilihat tampak lebih kecil dari yang sebenarnya.

4) Depersonalisasi yaitu perasaan subjektif dirinya berubah terhadap lingkungannya.

5) Derealisasi yaitu perasaan subjektif lingkungannya berubah terhadap dirinya.

6) Fugue yaitu mengambil identitas baru pada amnesia dari identitas lama, pasien dapat bertindak dg identitas baru tersebut.

7) Kepribadian ganda (multiple personality) yaitu satu orang yang tampak pd wkt yang berbeda menjadi dua atau lebih kepribadian atau karakter yang sama sekali berbeda ( gangguan disosiasi ).

7. Daya Ingat

Fungsi dimana informasi disimpan di otak dan selanjutnya diingat kembali ke kesadaran.

a. Gangguan daya ingat

1) Amnesia yaitu ketidakmampuan sebagian atau seluruhnya untuk mengingat pengalaman masa lalu, bisa organik atau psikogenik. a) Amnesia anterograde, yaitu tidak mengingat sesuatu sebelum

kejadian.

b) Amnesia retrograde, yaitu tidak mengingat ssesuatu sesudah kejadian.

2) Paramnesia yaitu pemalsuan ingatan oleh distorsi pengingatan. a) Fausse reconnaissance, yaitu pengenalan yang palsu

b) Pemalsuan retrospektif, yaitu ingatan secara tidak diharapkan menjadi terdistorsi pada saat disaring melalui keadaan emosional, kognitif, dan pengalaman pasien sekarang

(31)

4) Déjà vu yaitu merasa sudah melihat sesuatu tetapi sebenarnya belum melihatnya.

5) Deja etendu yaitu merasa sudah mendengar sesuatu tetapi sebenarnya belum mendengarnya.

6) Jamais vu yaitu merasa belum melihat, sebenarnya sudah melihatnya.

7) Jamais etendu ( pense ) yaitu merasa belum mendengar, sebenarnya sudah mendengarnya.

8) Hiperamnesia yaitu peningkatan derajat penyimpanan dan pengingatan.

9) Screen memory yaitu ingatan yang dpt ditoleransi secara sadar menutupi ingatan yang menyakitkan.

10) Represi yaitu melupakan ingatan secara tidak sadar karena tidak dapat diterima.

11) Letologika yaitu ketidakmampuan sementara mengingat nama suatu orang/benda.

b. Tingkat daya ingat.

Daya ingat segera ( immediate ) yaitu mengingat hal-hal yang dirasakan dalam beberapa detik sampai menit.

1) Segera (immediate) yaitu reproduksi atau pengingatan hal-hal yang dirasakan dalam beberapa detik sampai menit

2) Daya ingat baru ( recent ) yaitu mengingat hal-hal yang dirasakan dalam waktu hitungan hari/minggu/bulan.

3) Agak lama (recent past) yaitu pengingatan peristiwa yang telah lewat selama beberapa bulan.

4) Jauh ( remote ) yaitu mengingat peristiwa jauh ( tahun ).

8. Intelegensia

(32)

Intelegensia yaitu faktor bakat. Intelektual yaitu faktor pendidikan. a. Retardasi mental.

Kurangnya intelegensia sampai derajat dimana terjadi gangguan pada kinerja sosial dan pendidikan.

Borderline yaitu dibawah rata-rata. IQ kurang 90. 1) R.M ringan yaitu IQ 55 - 79 ( debil ). 2) R.M sedang. IQ 30 - 50 ( imbecil ). 3) R.M berat yaitu IQ kurang 30 ( idiot ).

b. Demensia ( pikun ).

Perburukan fungsi intelektual secara global tanpa pengaburan kesadaran, terjadi karena faktor kerusakan otak.

1) Diskalkulia ( akalkulia ) yaitu hilangnya kemampuan berhitung. 2) Disgrafia ( agrafia ) yaitu hilangnya kemampuan menulis atau

menyususn struktur kata.

3) Aleksia yaitu hilangnya kemampuan membaca, penglihatan baik.

c. Pseudo demensia.

Ada gejala dan tanda seperti demensia yang tidak disebabkan oleh kerusakan otak dan sering disebabkan oleh depresi.

d. Berfikir konkrit.

Berfikir harfiah, penggunaan kiasan yang terbatas tanpa pengertian nuansa arti, pikiran satu dimensi.

e. Berfikir abstrak.

Kemampuan untuk mengerti nuansa arti, berfikir multi dimensi dgn kemampuan menggunakan kiasan dan hipotesis dgn tepat.

9. Tilikan ( Insight )

(33)

a. Tilikan intelektual yaitu mengerti kenyataan objektif tentang suatu keadaan tanpa kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam cara yang berguna untuk mengatasi situasi

b. Tilikan sesungguhnya yaitu mengerti kenyataan objektif tentang suatu situasi disertai dengan daya pendorong motivasi dan emosi untuk mengatasi situasi.

c. Tilikan terganggu yaitu hilangnya kemampuan untuk mengerti kenyataan objektif dari suatu situasi.

10. Pertimbangan ( Judgment ).

Kemampuan untuk menilai situasi secara benar dan untuk bertindak secara tepat di dalam situasi tersebut.

a. Pertimbangan kritis yaitu kemampuan menilai, melihat, dan memilih berbagai pilihan didalam suatu situasi.

b. Pertimbangan otomatis yaitu kinerja reflek didalam suatu tindakan. c. Pertimbangan terganggu yaitu hilangnya kemampuan untuk

mengerti suatu situasi dengan benar dan bertindak secara tepat.

WAHAM

d. Definisi Waham

Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin aneh atau bisa pula tidak aneh (hanya sangat tidak mungkin) dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya (Purba dkk, 2008).

(34)

Delusi atau waham merupakan gagasan (idea) atau pendapat bahwa seorang individu meyakini sutu kebenaran, yang kemungkinan besar bahkan hampir pasti, jelas, tidak mungkin (Wiramihardja, 2007).

e. Penyebab Waham 1. Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya waham yang dijelaskan oleh Towsend 1998 adalah :

1.1 Teori Biologis

Teori biologi terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap waham:

a) Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).

b) Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia.

c) Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis. 1.2 Teori Psikososial

(35)

dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu memenuhi tugas perkembangan dewasanya.

b) Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dari orang tua dan tidak mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain.

c) Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan segmen di dalam kepribadian.

2. Faktor Presipitasi 2.1 Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan. Pada pasien dengan waham, pemeriksa MRI menunjukkan bahwa derajat lobus temporal tidak simetris. Akan tetapi perbedaan ini sangat kecil, sehingga terjadinya waham kemungkinan melibatkan komponen degeneratif dari neuron. Waham somatic terjadi kemungkinan karena disebabkan adanya gangguan sensori pada sistem saraf atau kesalahan penafsiran dari input sensori karena terjadi sedikit perubahan pada saraf kortikal akibat penuaan (Boyd, 2005 dalam Purba dkk, 2008).

2.2 Stres Lingkungan

(36)

2.3 Pemicu Gejala

Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan perilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.

3. Sumber Koping

Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap gangguan otak dan perilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.

f. Tanda dan Gejala Waham

Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.

(37)

a) Pada pemeriksaan status mental, menunjukkan hasil yang sangat normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.

b) Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.

c) Pada waham curiga didapatkannya perilaku pencuriga

d) Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal

e) Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas depresi ringan.

f) Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.

2. Sensorium dan kognisi

a) Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki wham spesifik tentang waktu, tempat, dan situasi.

b) Daya ingat dan proses kognitif klien dengan intak (utuh) c) Klien waham hampir seluruh memiliki insight (daya tilik diri)

yang jelek.

d) Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya, keputusan yang terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.

Tanda dan gejala waham berdasarkan jenis waham menurut Keliat (2009):

a) Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.

(38)

c) Waham agama: Individu memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

d) Waham somatic: Individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

e) Waham nihilistic: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada didunia/meniggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kadaan nyata.

SCHIZOFRENIA a. Epidemiologi

Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan daerah rural (Sadock, 2003).

Pasien skizofrenia beresiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama ketergantungan nikotin.Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin.Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang.Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi, 2008).

(39)

onset-nya jelas. Onset untuk perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang mengalami skizofrenia pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan laki-laki (Durand & Barlow, 2007).

b. Etiologi

Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain:

Faktor Genetik

Menurut Maramis (2009), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 – 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%; bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.

Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).

Faktor Psikologis dan Sosial

(40)

Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).

Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian.Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya.

c. Diagnosis

Kriteria diagnosis skizofrenia menurut PPDGJ-III Persyaratan normal untuk diagnosis skizofrenia adalah:

 Dari gejala-gejala di bawah ini harus ada paling sedikit satu gejala yang sangat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih apabila gejala-gejala itu kurang jelas) :

a) - thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau

- thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan

- thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.

b) - delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tetentu dari luar; atau

- delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

(41)

(tentang dirinya : secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau pikiran, tindakan, atau penginderan khusus);

- delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c) halusinasi auditorik :

- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau

- mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau

- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh d) waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau poltik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan dia atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

 Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas :

e) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setangah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama bermunggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus;

f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea (waxy flexibility), negativisme, mutisme, dan stupor;

(42)

kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak dsebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nopsikotik prodromal);

 Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku peribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara social (Maslim, 2001).

d. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi psikososial.

Terapi Biologis

Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak.Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala skizofrenia. Obat yang digunakan adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol (haldol).Obat ini disebut obat penenang utama.Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun).Obat ini cukup tepat bagi penderita skizofrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidak relevan (Durand & Barlow, 2007).

(43)

beberapa alasan.ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk skizofrenia.

Terapi Psikososial

Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga (Durand & Barlow, 2007).

Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik.Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya.Para peserta terapi saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami.Peserta diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.

Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok.Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya.Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.

(44)

sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita, dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.

e. Prognosis

Kekambuhan pasien skizofrenia adalah istilah yang secara relatif merefleksikan perburukan gejala atau perilaku yang membahayakan pasien dan atau lingkungannya.Tingkat kekambuhan sering di ukur dengan menilai waktu antara lepas rawat dari perawatan terakhir sampai perawatan berikutnya dan jumlah rawat inap pada periode tertentu (Pratt, 2006).

Keputusan untuk melakukan rawat inap di rumah sakit pada pasien skizofrenia adalah hal terutama yang dilakukan atas indikasi keamanan pasien karena adanya kekambuhan yang tampak dengan tindakan seperti ide bunuh diri atau mencelakakan orang lain, dan bila terdapat perilaku yang sangat terdisorganisasi atau tidak wajar termasuk bila pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar berupa makan, perawatan diri dan tempat tinggalnya. Selain itu rawat inap rumah sakit diperlukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan diagnostik dan stabilisasi pemberian medikasi (Durand & Barlow, 2007).

Perawatan pasien skizofrenia cenderung berulang (recurrent), apapun bentuk subtipe penyakitnya.Tingkat kekambuhan lebih tinggi pada pasien skizofrenia yang hidup bersama anggota keluarga yang penuh ketegangan, permusuhan dan keluarga yang memperlihatkan kecemasan yang berlebihan. Tingkat kekambuhan dipengaruhi juga oleh stress dalam kehidupan, seperti hal yang berkaitan dengan keuangan dan pekerjaan. Keluarga merupakan bagian yang penting dalam proses pengobatan pasien dengan skizofrenia.

Keluarga berperan dalam deteksi dini, proses penyembuhan dan pencegahan kekambuhan. Penelitian pada keluarga di Amerika, membuktikan bahwa peranan keluarga yang baik akan mengurangi angka perawatan di rumah sakit, kekambuhan, dan memperpanjang waktu antara kekambuhan.

(45)

menimbulkan bahaya bagi pasien dan keluarganya, yakni seringkali mengakibatkan perawatan kembali/rehospitalisasi dan membengkaknya biaya pengobatan.

Komplikasi

Orang dengan gangguan jiwa khususnya depresi dan skizofrenia memiliki risiko tinggi melakukan bunuh diri. Risiko bunuh diri pada penderita skizofrenia yaitu sebesar 46,3% sedangkan pada pasien depresi risiko bunuh diri sebesar 26,8 %

PSIKOTIK

a. Definisi

Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh.

Gangguan psikotik singkat/akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang terjadi selama 1 hari sampai kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat kembali ke tingkat fungsional premorbid.

b. Epidemiologi

Menurut sebuah studi epidemiologi internasional, berbeda dengan skizofrenia, kejadian nonaffective timbul psikosis akut 10 kali lipat lebih tinggi di negara berkembang daripada di negara-negara industri. Beberapa dokter percaya bahwa gangguan yang mungkin paling sering terjadi pada pasien dengan sosioekonomi yang rendah, pasien dengan gangguan kepribadian yang sudah ada sebelumnya ( paling sering adalah gangguan kepribadian histrionik, narsistik, paranoid, skizotipal, dan ambang ), dan orang yang pernah mengalami perubahan kultural yang besar ( misalnya imigran ).

(46)

Didalam DSM III faktor psikososial bermakna dianggap menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi kriteria tersebut telah dihilangkan dari DSM IV. Perubahan dalam DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik singkat didalam kategori yang sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk gangguan yang heterogen.

Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di jumpai pada pasien dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis terhadap perkembangan gejala psikotik. Satu atau lebih faktor stres berat, seperti peristiwa traumatis, konflik keluarga, masalah pekerjaan, kecelakaan, sakit parah, kematian orang yang dicintai, dan status imigrasi tidak pasti, dapat memicu psikosis reaktif singkat. Beberapa studi mendukung kerentanan genetik untuk gangguan psikotik singkat.

d. Manifestasi klinis

Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :

1. Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya 2. Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal 3. Kebingungan atau disorientasi

4. Perubahan perilaku; menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri, kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul tanpa alasan.

(47)

pakaian atau perilaku yang aneh, berteriak teriak atau diam membisu dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi..

Pemeriksaan status mental biasanya hadir dengan agitasi psikotik parah yang mungkin terkait dengan perilaku aneh, tidak kooperatif, agresif fisik atau verbal, tidak teratur berbicara, berteriak atau kebisuan, suasana hati labil atau depresi, bunuh diri, membunuh pikiran atau perilaku, kegelisahan , halusinasi, delusi, disorientasi, perhatian terganggu, konsentrasi terganggu, gangguan memori, dan wawasan miskin.

Seperti pada pasien psikiatrik akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya gejala psikotik mungkin jelas, informasi mengenai gejala prodromal, episode suatu gangguan mood sebelumnya, dan riwayat ingesti zat psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara klinis saja. Disamping itu, klinis mungkin tidak mampu memperoleh informasi yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus.

Contoh yang paling jelas dari stresos pencetus adalah peristiwa kehidupan yang besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang. Peristiwa tersebut adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang berat. Beberapa klinis berpendapat bahwa keparahan peristiwa harus dipertimbangkan didalam hubungan dengan kehidupan pasien. Walaupun pandangan tersebut memiliki alasan, tetapi mungkin memperluas definisi stressor pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan episode psikotik.

e. Diagnosis

(48)

Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas yang dipakai ialah:

(a) Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jangka waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok.

(b) Adanya sindrom yang khas ( berupa “polimorfik” = beraneka ragam dan berubah cepat, atau “schizophrenia-like” = gejala skizofrenik yang khas). (c) Adanya stres akut yang berkaitan ( tidak selalu ada, sehingga dispesifikasi dengan karakter tanpa penyerta stres akut, dengan penyerta stres akut). Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak boleh dimasukkan sebagai sumber stres dalam konteks ini.

Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria episode manik atau episode depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu ke waktu.

Tidak ada penyebab organik, seperti trauma kapitis, delirium dan demensia. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alkohol atau obat-obatan.

f. Penatalaksanaan

Informasi yang perlu untuk pasien dan keluarga

(49)

 Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi lama perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu episode akut saja

 Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat, memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa serta keamanan setempat

 Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya: 1. Keluarga atau teman harus mendampingi pasien.

2. Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum, eliminasi dan kebersihan)

3. Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera

Konseling pasien dan keluarga

1. Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien, kewajiban dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien

2. Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak dengan stresor

3. Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala membaik

Pengobatan

Program pengobatan untuk psikotik akut :

1. Berikan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik : • Haloperidol 2-5 mg, 1 sampai 3 kali sehari, atau

• Chlorpromazine 100-200 mg, 1 sampai 3 kali sehari

(50)

2. Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya: lorazepam 1-2 mg, 1 sampai 3 kali sehari)

3. Lanjutkan obat antipsikotik selama sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah

gejala hilang.

Apabila saudara menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku di bawah ini, lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya. • Kekakuan otot (Distonia atau spasme akut), bisa ditanggulangi dengan suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson

• Kegelisahan motorik berat (Akatisia), bisa ditanggulangi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker

• Gejala parkinson (tremor/gemetar, akinesia), bisa ditanggulangi dengan obat antiparkinson oral (misalnya, trihexyphenidil 2 mg 3 kali sehari)

g. Prognosis

(51)

Faktor risiko pada keluhan pasien

o Endokrin : disebabkan oleh adanya gangguan endokrin. Biasanya ditemukan timbul pada waktu pubertas, waktu kehamilan dan waktu klimakterium.

o Metabolisme : teori metabolism menyebutkan bahwa mungkin ada kaitan dengan suatu Inborn error of Metabolism . Biasanya penderita tidak sehat, tampak pucat, ujung extremitas agak sianotik, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun.

o Psikogenik : adanya gangguan fungsional dan penyebab utama adalah konflik, stress psikologis, hubungan antara manusia yang mengecewakan dan kelemahan ego yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatic.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...