• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENTINGNYA IMPLEMENTASI REGULASI DAN REG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENTINGNYA IMPLEMENTASI REGULASI DAN REG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENTINGNYA IMPLEMENTASI REGULASI DAN

REGULATOR PADA PENYIARAN TELEVISI

DI INDONESIA

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Mata Kuliah Etika Regulasi dan Media

Oleh :

MAHARANI PRATIWI

0802514068

PEMINATAN BROADCASTING AND NEW MEDIA

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi komunikasi telah melahirkan masyarakat yang makin besar tuntutannya akan hak untuk mengetahui dan hak untuk mendapatkan informasi. Informasi telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa implikasi terhadap dunia penyiaran, termasuk penyiaran di Indonesia.

Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum (public opinion). Menurut UU No. 32 Tahun 2002, penyiaran merupakan padanan kata “broadcasting” adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spectrum frekuensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.1

Penyiaran juga merupakan keseluruhan proses penyampaian siaran yang dimulai dari penyiapan materi produksi, proses produksi, penyiapan bahan siaran, kemudian pemancaran sampai kepada penerimaan siaran tersebut oleh masyarakat di satu tempat. Sebagai media massa, penyiaran termasuk media elektronik yang terjadwal secara periodik yang merupakan saluran komunikasi massa jenis media (tak langsung). Salah satu jenis penyiaran adalah penyiaran televisi. Penyiaran televisi merupakan media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalambentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.2

Pada umumnya, setiap individu memiliki kebutuhan mendasar, seseorang mengharapkan bahwa penggunaan penyiaran televisi akan memberikan sejumlah

1 Hidajanto Djamal dan Andi Fachruddin. 2013. Dasar-Dasar Penyiaraan: Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi. Jakarta: KENCANA.Hal 94

(3)

pemenuhan bagi kebutuhannya seperti pengetahuan, hiburan, pendidikan.3 Oleh

karena itu, penyiaran televisi memiliki peran yang penting, dikarenakan televisi merupakan salah satu media massa yang efesien untuk mencapai audiennya dalam jumlah yang sangat banyak.4

Dengan berkembangnya penyiaran di Indonesia maka regulasi penyiaran sangatlah penting untuk penyiaran di ruang publik, untuk memberikan informasi yang bermutu, berimbang dan mencegah terjadinya penetrasi nilai-nilai moral dan budaya tertentu agar tidak timbul permasalahan yang tidak diinginka oleh masyarakat ataupun publik. Tetapi terkadang kebanyakan tayangan televisi tidak memenuhi kriteria agar mewujudkan fungsi tersebut. Untuk itu, diperlukan lembaga yang mengawasi dan mengatur konten acara televisi. Lembaga-lembaga tersebut biasanya memberikan sejumlah peraturan atau undang-undang yang disebut regulasi

Regulasi Media adalah aturan-aturan dan kebijakan yang berkaitan dengan yang mengatur hubungan dan operasinal media massa. Regulasi sangat penting bagi keteraturan dan keseimbangan hubungan media dengan pemerintah, masyarakat, sesama industri media dan global media. Regulasi media tidak jarang dianggap sebagai suatu aturan yang bersifat membatasi, adanya kontrol penuh, bahkan dianggap sebagai penghalang atas kebebasan berekspresi. Namun, harus diakui bahwa regulasi media sangat diperlukan dalam situasi tertentu. Berikut terdapat tiga alasan pentingnya regulasi media.5

Regulasi penyiaran di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dan UU tersebut membuat suatu badan regulator yang disebut Komisi Penyiaran Indonesia yang membuat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012 untuk mengatur penyiaran yang ada di Indonesia. Dengan adanya UU tersebut, penyelenggaraan penyiaran mendapat kepastian hukum dan menjadi lebih tertib dan juga dengan

3 Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran, Edisi Revisi. Jakarta: KENCANA. Hal 26. 4Ibid. Hal 13.

(4)

adanya undang-undang tersebut yang memberi pengawasan atau yang menjadi regulator terhadap penyiaran yang ada di Indonesia ialah Komisi Penyiaran Indomesia (KPI), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah lembaga Negara yang bersifat independen yang ada di pusat maupun daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam Undang-Undang sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran. KPI melakukan peran-perannya sebagai wujud peran serta masyarakat yang berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran yang ada di Indonesia saat ini.6

PERMASALAHAN

Regulasi berisi batasan siaran yang boleh dan tidak untuk disiarkan. Stasiun televisi terutama stasiun televisi swasta di Indonesia yang semakin lama tidak benar-benar menjalankan fungsinya sebagai media yang mengedukasi dan menghibur. Televisi mungkin hanya menjalankan satu fungsinya, yaitu menghibur tetapi terkadang tidak mengedukasi sama sekali. Tentu saja dalam hal ini tugas KPI sebagai satu regulator penyiaran di Indonesia yang memberi teguran kepada media penyiaran di Indonesia. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti sebagai berikut: Bagaimana pentingnya Implemenasi Regulasi dan Regulator Penyiaran Televisi di Indonesia?

KERANGKA PEMIKIRAN

(5)

Regulasi penyiaran di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dan UU tersebut membuat suatu badan regulator yang disebut Komisi Penyiaran Indonesia yang membuat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012 untuk mengatur penyiaran yang ada di Indonesia. Dengan adanya UU tersebut, penyelenggaraan penyiaran mendapat kepastian hukum dan menjadi lebih tertib dan juga dengan adanya undang-undang tersebut yang memberi pengawasan atau yang menjadi regulator terhadap penyiaran yang ada di Indonesia, sebagaimana di atur dalam UU no. 32 tahun 2002 pasal 7. KPI ialah lembaga negara yang bersifat independen yang mengatur hal-hal mengenai penyiaran.

Terdapat beberapa regulasi tentang penyiaran yang antaralain ialah:

- UU no 32 tahun 2002 tentang penyiaran, berisi pedoman lembaga penyiaran baik lembaga penyiaran swasta, komunitas, berlangganan, sampai lembaga penyiaran asing.

- Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS)

UU no 32 tahun 2002 pasal 36 menjelaskan tentang larangan dan kewajiban dari lembaga penyiaran. Ada satu hal dari pasal tersebut yang intinya melarang lembaga penyiaran menyiarkan isi siaran yang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong, menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Terlebih lagi, isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.7

Berikut ialah fungsi, wewenang, tugas, dan kewajiban KPI yang tertuang dalam pasal 7 ayat (2) dan pasal 8 UU Penyiaran8

7Admin Website Hukum Online. Tanpa Tanggal, Diakses dari http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/11783/node/111/uu-no-32-tahun-2002-penyiaran pada tanggal 27 Januari 2018 pukul 10.00 WIB.

(6)

- Mengatur hal-hal mengenai penyiaran

- Menetapkan standar program siaran

- Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran

- Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran

- Memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran

- Menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia

- Ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran

- Ikut membangun iklim persaingan yang sehat antarlembaga penyiaran dan industri terkait

- Memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang

- Menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran

- Menyusun perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang menjamin profesionalitas di bidang penyiaran

Terkait konten acara yang disajikan oleh televisi dalam UU no 32 tahun 2002 pasal 36 mengenai isi siaran:

(7)

kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

2. Isi siaran dari jasa penyiaran televisi, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Publik, wajib memuat sekurang-kurangnya 60% (enam puluh per seratus) mata acara yang berasal dari dalam negeri.

3. Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.

4. Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.

5. Isi siaran dilarang:

a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong;

b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalah-gunaan narkotika dan obat terlarang; atau

c. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.

6. Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.

ANALISA DAN DISKUSI

(8)

Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012 serta memberikan sanksi terhadap pelanggaran P3 dan SPS. Berdasarkan pemantauan dan hasil analisis, KPI Pusat telah menemukan pelanggaran pada Program Siaran “Selebrita Siang” yang ditayangkan oleh stasiun TRANS 7 pada tanggal 10 Januari 2018 pukul 11.18 WIB. Program siaran tersebut menampilkan rekaman video stand up comedy Joshua Suherman yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam masyarakat. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan terhadap nilai-nilai SARA KPI Pusat memutuskan bahwa tayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia. KPI Pusat memutuskan bahwa tayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 Ayat (1).9

BAB IV PENGHORMATAN TERHADAP NILAI-NILAI KESUKUAN, AGAMA, RAS, DAN ANTARGOLONGAN

Pasal 6

(1) Program siaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/ atau kehidupan sosial ekonomi.

(2) Program siaran dilarang merendahkan dan/atau melecehkan:

a. suku, agama, ras, dan/atau antargolongan; dan/atau

b. individu atau kelompok karena perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, usia, budaya, dan/atau kehidupan sosial ekonomi.

(9)

Contoh kasus diatas membuktikan bahwa penyiaran di Indonesia membutuhkan regulasi dan regulator agar dapat memberikan siaran yang mendidik bukan hanya menghibur saja serta menyebarkan informasi yang dapat diterima publik secara bahasa dan prilaku. Jika tidak memperhatikan semua itu maka akan terjadi hal yang tidak diinginkan oleh pihak yang bersangkutan. Seperti yang terjadi pada tanyangan “Selebrita Siang” tayangan tersebut telah melanggar Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 Ayat (1). Pasal 6 Ayat (1) yang berisi wajib menghormati perbedaan SARA, dan acara “Selebrita Siang” telah melanggar Pasal 6 Ayat (1) karena menayangkan adegan Stand Up Comedy Joshua yang isi kontenya mempersangkutpautkan agama kedalam Stand Upnya, oleh karena itu seharusnya “Selebrita Siang” lebih memperhatikan nisi konten siarannya.

(10)

2012 Pasal 14, Pasal 15 dan Pasal 21 Ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 Ayat (1), Pasal 17 Ayat (1) dan Ayat (2) huruf d serta Pasal 37 Ayat (4) huruf a.10

Contoh kasus diatas membuktikan bahwa penyiaran di Indonesia membutuhkan regulasi dan regulator agar dapat memberikan siaran yang mendidik bukan hanya fokus untuk menghibur saja. Seperti yang terjadi pada acara “Baper” di RCTI yang isi kontennya hanya fokus untuk menghibur. Program Acara Baper telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 14, Pasal 15 dan Pasal 21 Ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 Ayat (1), Pasal 17 Ayat (1) dan Ayat (2) huruf d serta Pasal 37 Ayat (4) huruf a. Karena pada Ep tersebut acara Baper telah menggeluarkan kata-kata candaan yang berpotensi melecehkan fisik seseorang seperti bertubuh pendek dan bergigi tonggos seperti pada pasal 17 ayat 1 dan 2 mengenai perlindungan orang-orang tertentu. Kata-katesebut sebenarnya bisa menimbulkan kesalahpahaman terhadap orang-orang yang memiliki fisik tertentu dan kata-kata lainnya yang dilontarkan di program Baper tidak layak untuk didengar oleh anak-anak karena mereka masih terlalu muda untuk mendengar kata-kata tersebut. Oleh karena itu penting bagi media penyiaran untuk memperhatikan isi konten tayangan yang akan mereka tayangan ke publik.

3. Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran), berwenang mengawasi pelaksanaan peraturan dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012 serta memberikan sanksi terhadap pelanggaran P3 dan SPS. Berdasarkan aduan masyarakat, pemantauan dan hasil analisis, KPI Pusat telah menemukan pelanggaran pada Program Siaran “Siapa Takut Jatuh Cinta” yang ditayangkan oleh stasiun SCTV pada tanggal 27

(11)

November 2017 mulai pukul 18.00 WIB. Program siaran tersebut menayangkan adegan seorang pria berjaket biru seakan sedang mencium bibir wanita berpakaian hijau. KPI Pusat menilai muatan tersebut tidak layak ditampilkan, terutama pada khalayak remaja. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas ketentuan tentang norma kesopanan dan kesusilaan, perlindungan remaja, pelarangan adegan yang mengesankan ciuman bibir, dan penggolongan program siaran. KPI Pusat memutuskan bahwa tayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 9, Pasal 14 Ayat (2), Pasal 16 dan Pasal 21 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 9 Ayat (2), Pasal 15 Ayat (1), Pasal 18 huruf k, dan Pasal 37 Ayat (4) huruf f.11

Contoh kasus diatas membuktikan bahwa siaran televisi semakin lama semakin tidak memperhatikan isi konten yang ada pada siaran tersebut seperti sinetron “Siapa Takut Jatuh Cinta” yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 yang isi kontennya terdapat pelanggaran norma kesopanan, kesusilaan, perlindungan remaja dan pelarangan adegan yang mengesankan ciuman bibir, dan penggolongan program siaran, yang seharusnya siaran sinetron tersebut mengikuti aturan P3SPS dan UU no 32 tahun 2002 agar isi siaran lebih berkualitas.

(12)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa peran regulasi dan regulator sangatlah penting dalam penyiaran terutama penyiaran yang ada pada televisi. Karena jika tidak ada sebuah regulasi dan regulator yang mengatur dan mengawasi sudah pasti isi konten yang ada dalam penyiaran televisi akan bertindak semaunya yang hanya mementingkan keuntungan untuk pihak-pihak yang bersangkutan agar mendapatkan rating sebesar-besarnya. Sebenarnya tujuan adanya penyiaran terutama ditelevisi ialah untuk mempermudah masyarakat mengetahui informasi dengan cepat, menghibur serta mendapatkan edukasi. Bukan hanya hiburan saya yang di nomer satukan akan tetapi juga penyiaran harus mengandung unsur mendidik dan member informasi.

`Saran

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Djamal, Hidajanto dan Fachruddin, Andi. 2013. Dasar-Dasar Penyiaraan:

Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi. Jakarta: KENCANA. KPI. 2012. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah: Eksistensi, Rekrutmen, Tata

Hubungan, dan Penganggaran. Jakarta: Bidang Kelembagaan KPI Pusat. Morissan. 2005. Media Penyiaran Strategi Mengelola Radio dan Televisi.

Tangerang: Ramdina Prakarsa.

Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran, Edisi Revisi. Jakarta: KENCANA.

Mufid, Muhamad. 2007. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Website

Admin Website Hukum Online. Tanpa Tanggal, Diakses dari http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/11783/node/111/uu-no-32-tahun-2002-penyiaran pada tanggal 27 Januari 2018 pukul 10.00 WIB. Admin Website Komisi Informasi. Tanpa Tanggal. Diakses dari

https://www.komisiinfor masi.go.id/regulasi/download/id/137 pada tanggal 26 Januari 2018, pukul 22.00 WIB.

Admin Website KPI. Tanpa Tanggal. Diakses dari http://www.kpi.go.id/index.php/id/edaran-dan-sanksi/34285-teguran-tertulis-program-siaran-selebrita-siang-trans-8 pada tanggal 26 Januari 2018, pukul 23.00 WIB

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Hukum yang mengatur media massa berupa Undang-Undang Pers nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, Kode Etik Jurnalistik, aturan yang diatur dalam Aliansi Jurnalisme Independen dan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian lembaga penyiaran adalah sama dnegan dengan penyelenggara penyiaran. Ada pun istilah jasa penyiaran yang adalam UU 32/2002

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta, Peraturan Menteri

1) Dalam Pelaksanaannya Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau sudah menjalankan kewenangannya, sebagaimana kewenanganya yang diatur dalam pasal 8 Undang-Undang

Maksud lain dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 yang sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 8 ayat (3) bahwa tugas dan kewajiban Komisi Penyiaran Indonesia adalah menjamin

Ada beberapa etika yang harus diterapkan dalam penyiaran program acara yang harus sesuai dengan UU no 32 tahun 2002 tentang penyiaran, Pedoman Perilaku penyiaran

Selanjutnya, melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, TVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan

YAYASAN AKRAB PEKANBARU Jurnal AKRAB JUARA Volume 7 Nomor 1 Edisi Februari 2022 65-79 72 No 32 Tahun 2002 tentang penyiaran dan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia tentang standar