• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Makalah ini ditulis untuk memenu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH Makalah ini ditulis untuk memenu"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah

LOGIKA MANTIQ

“KEBENARAN MASALAH-MASALAH KEBENARAN”

Dosen Pengampu :

ZUMROTUS SA’DIYAH M. Pd I

Ditulis oleh:

1. Fatimatuzzahro (2017.5501.26.0212)

2. Ali mustofa (2017.5501.26.0187)

3. nia ika famila (2017.5501.26.0178)

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI)

SUNAN GIRI BOJONEGORO

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempura. Manusia memiliki banyak kelebihan dibading dengan makhluk yang lain seperti yang terdapat dalam Al Quran surat At-Tin ayat 4 yang artinya :

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya” (QS At-Tin [95]: 4)”

Satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah kepemilikan akal. Akal yang dimiliki oleh manusia, digunakan untuk memilih, mempertimbangkan, dan menentukan jalan pikirannya sendiri. Dengan menggunakan akal, manusia mampu memahami Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sebagai wahyu. Dengan akal pula, manusia mampu menelaah sejarah Islam dari masa ke masa mulai dari masa lampau. Akal ini juga digunkan untuk memedaan baik dan buruknya sesuatu.

Tentu saja kemampuan manusia ini tidak diperoleh begitu saja. Melainkan melalui pengalaman serta pendidikan, dengan begitu lambat laun manusia mampu mamahami tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Namun, manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah didapatnya. Rasa ingin tahu, ingin mengerti yang merupakan kodrat manusia membuat manusia selalu bertanya-tanya apa ini? Apa itu? Bagaimana ini? Bagaimana itu? Mengapa begini? Mengapa begitu? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul sejak manusia mulai bisa berbicara dan dapat mengungkapkan isi hatinya. Makin jauh jalan pikirannya maka semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dan tentunya semakin besar pula usaha yang harus dilakukan. Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mencapai alasan atau dasar, sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya, maka puaslah ia dan tidak akan bertanya lagi. Akan tetapi, jika jawaban itu belum mencapai dasar, maka manusia akan mencari lagi jawaban yang memuaskannya.

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A.

Hakekat Manusia

Dalam rumusan ilmu mantiq (logika), kita temukan sebuah rumusan tentang manusia dari hewan, yaitu al-insan hayawanun nathiq, yang artinya insan itu adalah hewan (bukan hewan) yang nathiq, yang mengeluarkan pendapat dan berkata-kata dengan mempergunakan pikirannya. Tegasnya, manusia adalah hewan yang berpikir.

Pada saat-saat tertentu dalam perjalanan hidupnya, manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri. Prof. Dr. R. F. Beerling, mantan Guru Besar Universitas Indonesia mengatakan, “sepanjang zaman telah dicoba orang menyatakan dengan berbagai macam cara, dimana letak hakikat perbedaan manusia, misalnya dengan binatang. Bahwa ia pandai tertawa, bahwa ia memiliki perasaan malu, bahwa ia membedakan antara yang baik dan yang buruk, bahwa ia memiliki kemauan yang bebas. Semuanya ini adalah sifat-sifat yang mungkin menimbulkan pandangan tentang manusia secara filsafat yang panjang lebar. Akan tetapi yang tipis sekali ialah bahwa manusia itu makhluk bertanya.

Ilmu mantiq menyimpulkan “manusia hewan berpikir” dan Beerling menyimpulkan “manusia adalah hewan bertanya”. Masalahnya bagi kita ialah bagaimana hubungan antara pikir dan tanya? Apakah ia saling bertentangan? Apakah ia berbeda? Apakah ia sama?

Berkata sebenarnya ialah mengeluarkan pendapat berdasarkan pikiran. Sedang berpikir itu sendiri hakikatnya adalah bertanya. Berpikir tentang sesuatu berarti bertanya tentang sesuatu. Bertanya tentang sesuatu artinya mencari jawaban tentang sesuatu yang dipertanyakan. Mencari jawaban sama juga mencari kebenaran. Jadi pada akhirnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran.

B. KEBENARAN

1. Pengertian Kebenaran

Maksud hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Kebenaran ini menurut kamus besar Baha sa Indonesia adalah keadaan (hal dsb) yang cocok dengan keadaan (hal) yang

sesungguhnya. Sementara menurut Syafi’i dikutip oleh Marwar didalam

artikelnya, “Kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu” mengatakan bahwa kebenaran itu adalah kenyataan. Kenyataan yang dimaksud itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan). Jadi, ada dua pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran).

Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyataan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bias memuaskan rasa ingin tahu, dengan kata lain tujuan pengetahuan ialah mengetahui

(4)

Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahui kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara

pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.

2. Macam-macam Kebenaran

Terdapat banyak pandangan mengenai teori kebenaran dalam kaitannya dengan

pengembangan ilmu, di antaranya adalah kebenaran empiris, kebenaran rasional, kebenaran ilmiah, kebenaran intuitif,dan kebenaran relegius.

a. Kebenaran empiris.

Empiris adalah suatu keadaan yang bergantung bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.Data empiris yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan (Wikipedia).Jadi, empiris itu artinyakelihatan jelas, ada pembuktiannya, bias kita dengar, sentuh, berdasarkan pada hal-hal yang

kelihatan dansudah diuji kebenarannya. Merupakan hal yang dapat diinderawi, hal yang dirasakan oleh manusia denganinderanya. Secara lebih jelas dengan contoh berikut ini:

1. Api itu panas.

2. Es itu dingin.

3. Daun itu hijau.

b. Kebenaran Rasional.

Rasional berarti menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocokdengan akal. Rasionalisme adalah pandangan bahwa kita mengetahui apa yang kita pikirkan dan bahwa akal mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan kebenaran dengan diri sendiri, atau bahwa pengetahuan itu diperoleh dengan cara membandingkan ide dengan akal

Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir,

sehingga kemampuannya tersebut dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu yang pada akhirnya sampai kepada kebenaran, yaitukebenaran rasional. Sebagaicontohberikut:

Ketika TV kita tidak berfungsi dengan baik maka dapat dipikir bahwa dan dipastikan kalau ada komponen di dalam TV yang rusak atau sudah perlu diganti. Pemikiran tentang ada sesuatu yang tidak beres ini merupakan suatu hal rasional yang timbul dari fenomena TV dan dapat dipastikan pikiran rasional ini benar.

c. Kebenaran Ilmiah.

Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.

(5)

kebenaran, tetapi pada masa berikutnya bisa jadi sebuah kesalahan besar. Contoh kebenaran ilmiah:

1. Bumi itu bulat dan tidak datar.

2. Air mendidih pada 100°C

d. Kebenaran Intuitif.

Intuitif merupakan suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Unsur utama bagi

pengetahuan adalah kemukinan adanya sesuatu bentuk penghayatan langsung (intuitif) Bergson dalam Muslih (2004: 68). Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu.

Intuisi bersifat personal dan tidak bias diramalkan.

Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tidak bisa dijelaskan, dan tidak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang

pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bias mengulang pengalaman serupa, misalnya, seorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara

tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yang dihadapi, atau secara tiba-tiba-tiba-tiba seseorang memperoleh informasi mengenai peristiwa yang akan terjadi.

e. Kebenaran Religius.

Kebenaran religius ialah kebenaran Ilahi, kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Kebenaran ini

disampaikan melalui wahyu. Manusia bukan semata makhluk jasmani yang

ditentukan oleh hukum alam dan kehidupan saja, ia juga makhluk rohaniah sekaligus, pendukung nilai.

Kebenaran tidak cukup diukur dengan interes dan rasio individu, akan tetapi harus bisa menjawab

kebutuhan dan memberi keyakinan pada seluruh umat. Karena itu kebenaran haruslah mutlak, berlaku sepanjang sejarah manusia. Contoh kebenaran religius:

1. Alkitab atau Alquran.

C. Renungan Tentang Kebenaran

Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Hal yang sekarang menjadi pertanyaan ialah mencari kebenaran tentang apa? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dikemukakan bahwa: kebenaran yang dicari manusia ialah kebenaran tentang sesuatu yang menjadi masalah manusia atau yang dimasalahkan manusia. Manusia dari waktu ke waktu selalu memiliki masalah yang ingin dipecahkan atau ingin dicari jawabannya. Apabila kita cermati dengan seksama segala sesuatu yang dipermasalahkan manusia itu teramat banyak dan kompleks. Oleh karenanya untuk memudahkan memahami masalah manusia, berikut ini dikemukakan tentang teori kebenaran. Ada tiga teori kebenaran yaitu sebagai berikut:

(6)

Teori korespondensi tentang kebenaran (the correspondence theory of truth)menyatakan bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan atau dengan kata lain pernyataan yang sesuai dengan kenyataan, contoh misalnya ali mustofa adalah mahasiswa IAI SUNAN GIRI. Pernyataan yang baru saja kita katakan itu sebagai hal yang benar, karena memang Ali mustofa kenyataannya adalah mahasiswa IAI SUNAN GIRI (mahasiswa prodi PGMI semester 2 di IAI SUNAN GIRI bojonegoro).

2. Teori Konsistensi/koherensi (keteguhan)

Teori konsistensi tentang kebenaran (the consistence theory of truth)menjelaskan bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu kita ketahui, terima dan akui sebagai benar. Teori ini juga disebut teori penyaksian (yustifikasi) tentang kebenaran, karena memang menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (yustifikasi) oleh putusan-putusan lainnya terdahulu yang sudah diketahui dan diakui sebagai benar, contoh: A adalah ayah B, ini adalah suatu pernyataan yang sudah kita ketahui, terima dan akui sebagai hal yang benar, selanjutnya kita sebut sebagai pernyataan pertama. Kemudian kita membuat pernyataan lain misalnya: A mempunyai putra B atau B adalah putra A. Dua pernyataan berturut-turut yang baru kita sebut di atas adalah pernyataan yang benar, karena konsisten dengan pernyataan pertana yang telah kita ketahui, terima dan akui kebenarannya.

3. Teori Pragmatis/inherensi

Teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth) ialah bahwa suatu ucapan, dalil atau teori itu dianggap benar tergantung berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam penghidupannya. Jadi, kriteria kebenaran pragmatis adalah:

a. Adakah kegunaannya (utility) b. Dapatkah dikerjakan (workability)

c. Apakah pengaruhnya (satisfactory consequences) memuaskan atau tidak? . Teori Kebenaran Pragmatis/ Inherensi.

Teori ini menyatakan bahwa suatu kebenaran hanya dalam salah satu konsekwensi saja. Kelemahan teori ini yaitu apabila kemungkinan-kemungkinannya luas, oleh karena itu harus dipilih kemungkinannya hanya dua dan saling bertolak belakang. Misalanya, semua yang teratur ada yang mengatur, dalam hal ini kita tidak membicarakan yang tidak teratur, dari uraian tersebut dapat difahami hanya ada dua kemungkinan yaitu ada yang mengatur atau tidak ada yang mengatur, apabila diterima salah satu maka yang lain dicoret karna bertolak belakang.

Contohnya lagi yaitu pengetahuan naik bis, kemudian akan turun dan berkata kepada kondektur “kiri-kiri”, kemudian bis berhenti di posisi kiri. Dengan berhenti di posisi kiri, maka penumpang bis bisa turun dengan selamat. Jadi, mengukur kebenaran bukan semata-mata dilihat karena bis berhenti di posisi kiri, namun penumpang bisa turun dengan selamat karena berhenti di posisi kiri.[9]

4. Teori Kebenaran Sintaksis.

(7)

gramatika. Misalnya suatu kalimat standar harus ada subjek dan predikat. Jika kalimat tidak ada subjek maka kalimat itu dinyatakn tidak baku atau bukan kalimat. Seperti unkapan “semua korupsi”, ini bukan kalimat standar karena tidak ada subjeknya.[10]

5. Teori Kebenaran Performatif

Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dan nama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia.

Keinginan hendak mengetahui kebenaran merupakan salah satu dari gerak asli pikiran manusia, demikian menurut S. Takdir Alisjahbana. Kebenaran dari dunia yang dilihat, didengar, dan dipikirkan merupakan kebenaran yang hendak dicari oleh manusia. Manusia belum puas dengan kenyataan yang dihadapinya secara langsung dengan panca inderanya. Ia mencari kebenaran yang tersembunyi dibaliknya. Manusia akan berusaha mendapatkan kebenaran yang ia cari dengan pengetahuan yang dimilikinya.

D. Cara Mencari Kebenaran

Menemukan jawaban yang salah terhadap masalah asasi (manusia, alam dan Tuhan) akan berakibat fatal bagi kehidupan umat manusia tersendiri. Oleh karenanya persoalan penting dan mendasar adalah dengan cara apa manusia mencari jawaban atau mencari kebenaran itu. Atau dengan kata lain manusia menemukan kebenaran itu menggunakan cara seperti apa. Ada tiga cara manusia mencari dan menemukan kebenaran yaitu dengan ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama.

1. Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan atau disingkat ilmu, berasal dari kata arab ‘ilm masdar dari kata ‘alima yang artinya pengetahuan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memerhatikan objek, cara dan kegunaannya, pengetahuan ini disebut knowledge. Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memerhatikan objek yang ditelaah. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memerhatikan objek antologis, epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan ilmiah inilah yang disebutilmu atau science.

Pada dasarnya ilmu mempunyai tujuan untuk mencari kebenaran, sehingga untuk mencapai kebenaran yang dimaksud dipakailah metode yang dikenal dengan metode ilmiah. Metode ini yang membedakan antara pengetahuan dan ilmu, dimana ilmu memerlukan jalan panjang yang harus dilalui dalam proses dari pengetahuan biasa menjadi pengetahuan ilmiah. Perumusan metode ilmiah pada umumnya melalui proses sebagai berikut:

(8)

g. Perumusan hipotesia

h. Pengujian hipotesis melalui riset, eksperimen i. Penilaian

j. Perumusan teori ilmu pengetahuan

k. Perumusan dalil atau hukum ilmu pengetahuan

Ilmu memiliki karakteristik tertentu yaitu hasil pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum tentang hal ikhwal yang diselidiki (objek) sejauh yang dapat dijangkau daya akal manusia melalui pengujian secara empiris, riset dan eksperimen. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ilmu memiliki ciri-ciri rasional, komulatif, objektif, dan universal. Dengan ciri-ciri yang demikian dimana akal sebagai tumpuannya maka sudah tentu tidak semua persoalan manusia, khususnya ultimate problems bisa mampu dijawab oleh ilmu. Karena sejatinya pencapaian kebenaran ilmu itu tidaklah absolut melainkan nisbi.

2. Filsafat

Kata filsafat atau falsafah berasal dari bahasa yunani “philosophia”. Secara etimologi berarti cinta pengetahuan atau cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kebijaksanaan disebut philosophas atau failosuf (filsuf). Pecinta kebijaksanaan atau pengetahuan disini maksudnya ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain orang yang mengabdikan hidupnya kepada pengetahuan. Para pakar berbeda dalam memutuskan batasan filsafat misalnya plato (427-347 SM), filsuf yunani ini menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles (384-322 SM), murid plato menyatakan bahwa filsafat itu ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Al-Farabi (870-950 M) seorang filsuf muslim memberikan definisi filsafat ialah pengetahuan alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (al-‘ilm bi al-maujudat bima hiya maujudat).

Harun Nasution sebagai pakar filsafat Indonesia memberikan definisi filsafat ialah pengetahuan tentang hikmat, pengetahuan tenteng prinsip atau dasar-dasar tentang hal yang dibahas. Intisari filsafat ialah berpikir menurut tata tertib logika dengan bebas tanpa terikatpada tradisi, dogma serta agama dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan. Hasbullah Bakry, penulis Sistematik Filsafat menjelaskan bahwa filsafat ialah ilmu yang menyelidiki tentang segala sesuatu yang mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusiasehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat sejauh yang dapat dijangkau oleh akal manusiadan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Dari definisi-definisi yang ditampilkan diatas dapat disimpulkan secara singkat bahwa filsafat ialah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, yaitu usaha manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik hakikat segala yang ada, yaitu hakikat Tuhan, alam, dan manusia.

(9)

keseluruhan kebenaran tentang manusia, alam dan Tuhan. Dengan kata lain kebenaran yang dicapai filsafat adalah tidak mutlak atau nisbi.

3. Agama

Kata agama dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan “din” dalam bahasa Arab dan semit, atau dalam bahasa Inggris religion. Secara bahasa agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun-temurun. Sedangkan kata “din” memiliki arti yaitu menguasai, memudahkan, patuh, utang, balasan atau kebiasaan.

Dalam pengertian teknis terminologis, ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sama, yaitu:

a. Agama, din, region adalah satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya Yang Maha Mutlak di luar diri manusia;

b. Agama juga adalah satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Yang Maha Mutlak tersebut;

c. Disamping merupakan satu sistema credo dan satu sistema ritus, agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah atau tata aturan) yang mengatur hubungan manusia sesama manusiadan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan

Menurut Durkheim, agama adalah sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus. Bagi Spencer, agama adalah kepercayaan terhadap sesuatu Yang Maha Mutlak. Sementara Dewey, menyatakan bahwa agama adalah pencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat. Dengan demikian mengikuti pendapat Smith, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa hingga saat ini belum ada definisi yang benar dan dapat diterima secara universal.

Kebenaran agama bersifat mutlak karena itu berasal dari Allah SWT. Manusia memperoleh kebenaran agama dengan melihat kitabsuci, apa yang dikatakan benar oleh kitab suci adalah benar, dan apa yang dikatakan salah oleh kitab suci adalah salah.

E. Masalah-masalah dalam filsafat ilmu

Seperti ilmu-ilmu lainnya, filsafat ilmu juga memiliki masalah-masalah yang sistematis yang dapat digolongkan berdasarkan pada 6 hal (Gie, 2000) yaitu: pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Sedangkan masalah atau problem yang dihadapi filsafat ilmu yang tidak sistematis juga ada 6 yaitu:

Pertama, Problem epistemologi tentang ilmu; problem tersebut membahas tentang segi-segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reliabilitas sampai soal kebenaran.

Kedua, Problem metafisis tentang ilmu: metafisika adalah teori mengenai apa yang ada. Segi filsafat ilmu ini mempersoalkan tentang eksistensi dari entitas-entitas dalam sesuatu ilmu khusus atau status dari kebenaran ilmu.

Ketiga, Problem metodologis tentang ilmu; metodologi ilmu merupakan penelahaan terhadap metode yang dipergunakan dalam suatu ilmu. Validitas dan reliabilitas hasil ilmu sangat ditentukan oleh kuatnya metode yang dipakai.

(10)

Kelima, Problem etis tentang ilmu; problem etis dari ilmu tersebut mengandung implikasi baik atau buruk bagi kehidupan manusia.

Keenam, Problem estetis tentang ilmu; aspek estetis mempermasalahkan tentang keindahan atau kejelekan dari analisis, pemaparan, penilaian dan penafsiran peranan suatu ilmu dalam peradaban manusia.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

1. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT, karena manusia manusia disempurnakan oleh akal pikiran yang tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lainnya.

2. Manusia dari waktu ke waktu selalu memiliki masalah yang ingin dipecahkan atau ingin dicari jawabannya. Oleh karenanya ada tiga teori untuk mempermudah memecahkan masalah yang dialami manusia, yaitu: teori korespondensi, teori konsistensi, dan teori pragmatis. 3. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran, tentulah akan melakukan segalanya uncuk

mencapai kebenaran yang diinginkan, ada tiga cara manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran yaitu: melalui pengetahuan, filsafat dan agama.

DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saifuddin, Wawasan Islam: pokok-pokok pikiran tentang paradigma dan sistem islam, cet. I, (Jakarta: Gema Insani, 2004)

Supadie, Didiek Ahmad, Sajuni. Pengantar Studi Islam,cet. II, (Jakarta: Rajawali Pers. 2012)

Alisjahbana, S. takdir, "Pembimbing ke Filsafat" dalam Anshari, Endang Saifuddin, Wawasan Islam: pokok-pokok pikiran tentang paradigma dan sistem islam, cet. I, (Jakarta: Gema Insani, 2004)

http://kerangkang143.blogspot.co.id/2015/03/manusia-sebagai-makhluk-pencari.html

https://eviayunita.wordpress.com/2016/10/18/masalah-masalah-dalam-filsafat-ilmu/(di posting 18 oktober 2016)

http://arfin19.blogspot.co.id/2013/11/makalah-filsafat-kebenaran.html (di posting selasa 12 november 2013)

Referensi

Dokumen terkait

Keterlibatan kognitif dan perasaan ini merupakan kondisi interaksi akal dan hati manusia dalam perilaku sehari-hari, hal ini perlu menjadi perhatian utama jika ingin

concern terhadap apa yang saya tulis ini, Ugi mampu meramu resep untuk mensosialisasikan ekonomi Islam dengan menggunakan paradigma ekonomi konvensional. Hanya saja hal ini

Agar subsektor kerajinan dapat menjadi efisien maka yang harus dilakukan adalah dengan menaikkan target pasar (PDB) dari subsektor kerajinan sebesar 38,84%, hal

Hasil Analisa Multivariat Multiple Correlation antara Harapan, Arti dan Tujuan, Pengampunan, Keyakinan dan Nilai-Nilai, Hubungan yang Harmonis, Kepercayaan Terhadap

SK TAMAN MUTIARA RINI HIDAYATUNNISA BINTI ABDUL HALIM 95. SK TAMAN ANGGERIK ZAHARAH

No.1 : DSSC dengan substrat TCO handmade dan perendaman dye selama ½ jam No.2 : DSSC dengan substrat TCO handmade dan perendaman dye selama 1 jam No.3 : DSSC dengan

Jumlah saham yang ditawarkan 1.000.000.000 Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp 100, - (seratus rupiah) setiap saham. Penjamin Pelaksana