• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Bangunan Tinggi Untuk Evaku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi Bangunan Tinggi Untuk Evaku"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI BANGUNAN TINGGI UNTUK EVAKUASI PENDUDUK SECARA VERTIKAL BERBASIS SISTEM

INFORMASI GEOGRAFIS

TUGAS AKHIR

M UHAM M AD M IFTAH F ARI D 0910922027

(2)

IDENTIFIKASI BANGUNAN TINGGI UNTUK EVAKUASI PENDUDUK SECARA VERTIKAL BERBASIS SISTEM

INFORMASI GEOGRAFIS

TUGAS AKHIR

Di a j u k an se ba ga i sy a rat un t u k me n y e l e sa ik a n p e nd i di k an Pro g ra m S t rat a -I p a da Ju ru san Te k n i k S i pi l Fak u l ta s Te k n i k

Un i v e rsi t a s And a la s Pad a ng

M UHAM M AD M IFTAH F ARI D 0910922027

Pembi mbi ng

Ir. AK HM AD SUR ADJI, M T., P.hD Ir. M ASRI L SYUKU R, M .Sc

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ANDALAS P A D A N G

(3)

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS

P A D A N G

IDENTIFIKASI BANGUNAN TINGGI UNTUK EVAKUASI PENDUDUK SECARA VERTIKAL BERBASIS SISTEM

INFORMASI GEOGRAFIS

Oleh

Na ma : M UHAM M AD M IFTAH FARI D

B P : 0910922027

(4)

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ANDALAS P A D A N G

IDENTIFIKASI BANGUNAN TINGGI UNTUK EVAKUASI PENDUDUK SECARA VERTIKAL BERBASIS SISTEM

INFORMASI GEOGRAFIS

Oleh

Na ma : M UHAM M AD M IFTAH FARI D

B P : 0910922027

Dis ahkan ol eh : Ko-Pe mbi mbi ng ,

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS AKHIR

IDENTIFIKASI BANGUNAN TINGGI UNTUK EVAKUASI PENDUDUK SECARA VERTIKAL BERBASIS SISTEM

INFORMASI GEOGRAFIS

Oleh:

MUHAMMAD MIFTAH FARID 0910922027

Telah diuji dan dipertahankan dalam Ujian Sidang Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil–Fakultas Teknik Universitas Andalas

Pada tanggal 24 April 2015

TIM PENGUJI:

(6)

i ABSTRAK

Kondisi geografis kota Padang yang landai di bagian tengah kota dan dikelilingi oleh perbukitan disekitarnya menyebabkan aktifitas pennduduk berpusat pada bagian yang landai. Jika terjadi bencana gempa dan disusul tsunami, maka akan memberikan dampak yang besar. Evakuasi merupakan hal pokok dalam perencanaan menghadapi ancaman bencana. Tujuan dari evakuasi adalah untuk memindahkan orang dan dimana makhluk hidup yang patut sejauhnya dari daerah yang meiliki bahaya potensial ke tempat yang lebih aman.

Pemerintah kota Padang sudah menentukan titik-titik lokasi untuk evakuasi penduduk menuju ke tempat yang lebih tinggi dari pusat kota. Jauhnya lokasi evakuasi dan perkiraan waktu untuk pencapaian lokasi evakuasi akan menambah kerentanan terhadap bahaya tsunami.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui luas wilayah yang termasuk pada zona rawan tsunami terhadap sebaran penduduk di setiap kecamatan kota Padang. Penelitian ini akan menghasilkan sebuah peta berbasis SIG untuk evakuasi penduduk secara vertikal ke bangunan yang layak. Informasi tentang luas wilayah rawan tsunami, kepadatan penduduk dan gedung-gedung yang layak untuk evakuasi vertikal akan ditampilkan dalam salah satu perangkat lunak SIG yaitu ArcMAP 10.

(7)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... 7

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

KATA PENGANTAR... xi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan ... 2

1.3. Manfaat ... 2

1.4. Batasan Masalah ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5

2.1. Tinjauan Pustaka ... 5

2.2. Dasar Teori... 8

2.2.1. Pilihan Evakuasi Vertikal ... 8

2.2.2. Sistem Informasi Geografis... 17

2.2.3. Asas Pemetaan... 23

2.2.4. Sistem Proyeksi Peta ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31

3.1. Mekanisme Penyusunan... 31

3.2. Metodologi Penelitian ... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 35

4.1. Kondisi Geografis Kota Padang... 35

(8)

4.2.1. Data Spasial... 38

4.2.2. Data Atribut... 39

4.3. Digitasi dan Analisa Peta ... 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 53

5.1. Kesimpulan ... 53

5.2. Saran ... 53

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jumlah Penduduk, Luas, dan Kepadatan Penduduk Kota Padang ... 7

Tabel 2 Tinggi Daerah menurut Kecamatan dari Permukaan Laut... 7

Tabel 3. Perbandingan SIG dengan Pekerjaan Manual ... 23

Tabel 4. Luas Kecamatan Dan Persentase Menurut Kecamatan... 39

Tabel 5. Tinggi Daerah Menurut Kecamatan... 40

Tabel 6. Analisa Kebutuhan Ruang Evakuasi ... 46

(10)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tanggul Tanah... 14

Gambar 2. Garasi Parkir ... 15

Gambar 3. Gedung Olahraga... 16

Gambar 4. Hotel... 17

Gambar 5. Sub-sistem dalam SIG ... 18

Gambar 6. Komponen SIG ... 19

Gambar 7. Sistem Kerja SIG ... 20

Gambar 8. (a) Bentuk fisik bumi (b) Irisan tegak permukaan bumi ... 24

Gambar 9. Proses Proyeksi Peta... 27

Gambar 10. Peta Topografi Kota Padang... 35

Gambar 11. Zona Ketinggian Kota Padang... 36

Gambar 12. Peta Sebaran Sungai Kota Padang ... 37

Gambar 13. Gambar Citra Satelit Kota Padang ... 38

Gambar 14. Digitasi image ke format digital dengan ArcGIS... 41

Gambar 15. Input Data Spasial ke ArcMAP ... 42

Gambar 16. Layer Kecamatan... 43

Gambar 17. Data Atribut Layer Kecamatan... 43

Gambar 18. Layer Kelurahan... 44

Gambar 19. Data Atribut Layer Kelurahan ... 44

Gambar 20. Layer Jalan, Jembatan dan Jalur Kereta Api ... 45

Gambar 21. Bangunan Kota Padang pada skala 1 : 300.000... 47

Gambar 22. Bangunan Kota Padang pada skala 1 : 2.000... 48

Gambar 23. Sebaran sungai kota Padang ... 48

Gambar 24. Zona Rawan Tsunami Kota Padang... 49

Gambar 25. Peta Densiti Kota Padang... 50

Gambar 26. Peta Densiti Kota Padang... 51

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

(12)

xi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt. atas berkah rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.

Tugas akhir dengan judul Identifikasi Bangunan Tinggi Untuk Evakuasi Penduduk Secara Vertikal Berbasis Sistem Informasi Geografis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan akademis untuk penyelesaian Program Strata 1 Teknik Sipil universitas Andalas.

Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis mendapat banyak bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Akhmad Suraji, P.hD sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penyusunan tugas akhir ini.

2. Bapak Masril Sykur, M.Sc sebagai ko-pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penyusunan tugas akhir ini.

(13)

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat yang berarti untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Padang, April 2015

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Padang yang berbatasan dengan Lautan Hindia berpotensi untuk terancam bahaya tsunami yang dipicu oleh adanya gempa tektonik pada zona sub-duksi lempeng Hindia-Australia dan Eurasia, yang berjarak sekitar 200 km dari tepi pantai barat kota ini. Mayoritas penduduk dan aktivitas warga Kota Padang berpusat di wilayah pesisir, termasuk sekolah, rumah sakit dan perkantoran serta perdagangan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat yang berada di wilayah pesisir menjadi rentan terhadap bahaya tsunami. Penduduk Kota Padang yang terancam bahaya tsunami tersebut berjumlah sekitar 406,879.

Sejak 1822 hingga 2009 telah terjadi setidaknya 14 kali kejadian gempa bumi kuat dan merusak di Sumatera Barat dan diantaranya menyebabkan tsunami. Sejarah panjang gempa bumi merusak di Sumatera Barat, diantaranya adalah gempa bumi Singkarak (1943), gempa bumi Pasaman (1977) dan gempa bumi Agam (2003). Sedangkan gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi di Mentawai (1861) dan Sori-Sori (1904). Khususnya kota Padang memiliki catatan sejarah bencana gempa dan tsunami pada tahun 1822, 1835, 1981, 1991, 2005, 2007, dan 2009.

(15)

Sistem informasi geografis sebagai suatu sistem yang kompleks memainkan peran penting dalam siklus manjemen kebencanaan dengan menyajikan data dan informasi ketika dan dimana diperlukan. Untuk itu dalam penelitian ini penulis tertarik untuk membuat sistem informasi geografis untuk evakuasi penduduk ke escape building.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari tugas akhir ini adalah:

a. Menghitung luas wilayah yang termasuk pada zona rawan tsunami.

b. Menghitung jumlah sebaran penduduk pada zona tersebut. c. Analisa ketersediaan kapasitas gedung dengan jumlah

penduduk.

d. Membuat peta informasi escape building dengan menggunakan ArcGIS.

1.3. Manfaat

Manfaat dari tugas akhir ini adalah menghasilkan suatu sistem informasi geografis untuk evakuasi penduduk ke tempat perlindungan sementara.

1.4. Batasan Masalah

(16)

3

2. Populasi yang ditinjau adalah data populasi penduduk setiap kelurahan di Kota Padang.

3. Penentuan ruang bangunan yang digunakan untuk lokasi evakuasi vertikal untuk kondisi malam hari.

4. Bangunan yang diidentifikasi adalah bangunan tinggi publik yang berada pada zona rawan tsunami. 5. Junlah lantai bangunan yang diidentifikasi minimal 2

lantai.

6. Data yang digunakan adalah:

a. Sensus penduduk Kota Padang tahun 2013 b. Peta ketinggan Kota Padang

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka

Secara geografis, kota Padang terletak di 00° 44’00’’ –01°08’ 35’’LS dan 100° 05’05’’ - 100° 34’09’’ BT. Di sebelah utara, kota Padang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Padang Pariaman, di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, di sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Solok, dan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat terletak di daerah pesisir dataran rendah di Pantai Barat Pulau Sumatera garis pantai sepanjang 68,126 km dengan 5 buah sungai besar serta memiliki 19 buah pulau. (Data Badan Pusat Statistik, 2005)

Kondisi topografi wilayah kota Padang yang relatif datar adalah kecamatan Padang Utara,Padang Barat, Padang Timur, Nanggalo, dan sebagian kecamatan Kuranji, Pauh, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan serta sebagian kecil Padang Selatan. Sedangkan wilayah perbukitan terdapat di sebagian besar wilayah kecamatan Koto Tangah bagian timur, Kecamatan Pauh, Lubuk Kilangan dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

(18)

Gempa-sering menimbulkan tsunami di perairan barat Sumatera tersebut perlu diwaspadai, terutama di kawasan pantai yang padat penduduk.

Kota Padang yang berbatasan dengan Lautan Hindia berpotensi untuk terancam bahaya tsunami yang dipicu oleh adanya gempa tektonik pada zona sub-duksi lempeng Hindia-Australia dan Eurasia, yang berjarak sekitar 200 km dari tepi pantai barat kota ini. Mayoritas penduduk dan aktivitas warga Kota Padang berpusat di wilayah pesisir, termasuk sekolah, rumah sakit dan perkantoran serta perdagangan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat yang berada di wilayah pesisir menjadi rentan terhadap bahaya tsunami.

Tingginya jumlah populasi masyarakat yang bertempat tinggal dan beraktifitas di wilayah pesisir kota Padang meningkatkan kerentanan terhadap bahaya tsunami. Walaupun frekuensi kejadiannya lebih rendah dibandingkan dengan bahaya alam lainnya seperti banjir dan longsor, tetapi dampak yang ditimbulkannya akan sangat luas baik korban jiwa, luka-luka, harta benda dan kerugian lingkungan. Karena itu kejadian tsunami yang cukup besar sering dikatakan sebagai sebuah bencana besar atau catastrophe.

(19)

Tabel 1. Jumlah Penduduk, Luas, dan Kepadatan Penduduk Kota Padang

Total 854.336 694,96 1.230

Sumber: BPS 2013

Tabel 2. Tinggi Daerah menurut Kecamatan dari Permukaan Laut

No Kelas Ketinggian Tinggi

(20)

2.2. Dasar Teori

2.2.1. Pilihan Evakuasi Vertikal

Perlindungan evakuasi vertikal dari tsunami adalah bangunan atau gundukan tanah yang memiliki ketinggian yang cukup untuk meningkatkan pengungsi di atas tingkat genangan tsunami, dan dirancang dan dibangun dengan kekuatan dan ketahanan diperlukan untuk melawan efek dari gelombang tsunami.

Perlindungan evakuasi vertikal dapat berdiri sendiri atau bagian dari fasilitas yang lebih besar. Mereka bisa menjadi satu tujuan perlindungan-hanya fasilitas, atau fasilitas multi-tujuan digunakan secara teratur saat tidak melayani sebagai tempat berlindung. Mereka juga dapat tunggal-bahaya (tsunami saja) atau multihazard fasilitas.

Dalam konsepnya, pilihan ini berlaku untuk struktur baru atau yang sudah ada, tetapi umumnya akan lebih sulit untuk retrofit struktur yang ada daripada membangun struktur tsunami tahan baru menggunakan kriteria ini. Bab ini menjelaskan fitur yang berbeda pilihan evakuasi vertikal yang tersedia, dan memberikan panduan untuk membantu dalam memilih antara berbagai pilihan.

2.2.1.1. Pertimbangan Evakuasi vertikal

(21)

keuangan – proyek tertentu negara, kota, masyarakat setempat, atau pemilik swasta mempertimbangkan seperti struktur.

1. Single-purpose Fasility

Penilaian bahaya tsunami dan studi genangan dapat menunjukkan bahwa solusi terbaik adalah untuk membangun fasilitas khusus baru, terpisah (yaitu, berdiri sendiri) yang dirancang dan dikonfigurasi untuk melayani sebagai struktur evakuasi vertikal. Potensi keuntungan dari fasilitas satu-tujuan yang berdiri sendiri meliputi : a. Dapat diletakkan jauh dari potensi sumber reruntuhan atau situs

lain bahaya.

b. Tidak perlu diintegrasikan ke dalam desain bangunan yang ada atau terganggu oleh pertimbangan desain untuk penggunaan yang berpotensi konflik.

c. Secara struktural terpisah dari bangunan lain dan karena itu tidak mengikuti pada potensi kerentanan struktur bangunan lainnya. d. Selalu siap untuk penghuni dan tidak akan penuh dengan perabot

atau barang-barang yang berhubungan dengan penyimpanan kegunaan lain.

(22)

Salah satu contoh fasilitas satu-tujuan adalah kecil, struktur tinggi dengan fungsi tunggal memberikan perlindungan tinggi untuk daerah sekitarnya jika terjadi tsunami. Sebuah aplikasi yang mungkin untuk fasilitas tersebut akan termasuk dataran rendah lingkungan perumahan di mana rute evakuasi tidak struktur yang lebih aman yang memadai, dan lebih tinggi tidak ada di daerah tersebut.

2. Multi-Purpose Fasility

Sebuah masyarakat pesisir mungkin tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkan sebuah struktur single-purpose untuk evakuasi tsunami vertikal atau serangkaian struktur lainnya, sehingga diperlukan cara-cara kreatif untuk mengatasi kendala ekonomi. Solusi lainnya termasuk lokasi cadangan dengan fungsi fasilitas evakuasi yang berbasis komunitas masyarakat lainnya, lokasi cadangan dengan fungsi berbasis komersial, dan ekonomi atau insentif lainnya bagi para pengembang swasta untuk menyediakan daerah perlindungan yang tahan tsunami dalam perkembangan mereka.

Kemampuan untuk menggunakan fasilitas selama lebih dari satu tujuan memberikan kemungkinan langsung untuk laba atas investasi melalui bisnis atau komersial penggunaan sehari-hari ketika struktur tidak diperlukan sebagai perlindungan.

(23)

Di daerah pusat kota atau distrik bisnis, mereka dapat khusus dibangun pribadi atau kota struktur parkir menggabungkan tahan tsunami desain. Di sekolah-sekolah, fasilitas evakuasi vertikal bisa berfungsi sebagai gimnasium atau lunchrooms setiap hari. Dalam subdivisi perumahan, mereka dapat digunakan sebagai pusat-pusat komunitas.

3. Pertimbangan Multi- Hazard

Masyarakat yang terkena bahaya lain (misalnya gempa bumi, angin topan) dapat memilih untuk mempertimbangkan melindungi kemungkinan adanya kebutuhan yang terkait dengan bahaya lain, selain tsunami. Hal ini dapat mencakup tunjangan untuk jangka waktu yang berbeda hunian, pertimbangan paska penyelamatan dan pemulihan kegiatan yang berbeda, dan evaluasi kebutuhan perawatan medis jangka pendek dan panjang.

(24)

pembangunan akan memerlukan biaya khusus dan potensi persyaratan yang saling bertentangan lainnya.

2.2.1.2. Konsep Evakuasi Vertikal

Untuk memberikan perlindungan dari genangan tsunami, solusi evakuasi vertikal harus memiliki kemampuan untuk menerima sejumlah besar orang dalam jangka waktu yang singkat dan efisien mengangkut mereka ke daerah-daerah pengungsian yang terletak di atas tingkat banjir. Potensi solusi evakuasi vertikal dapat mencakup area alami tanah tinggi, daerah tanah buatan tinggi diciptakan melalui penggunaan tanggul tanah, struktur baru yang secara khusus dirancang untuk menjadi tahan tsunami, atau struktur yang ada menunjukkan memiliki cukup kekuatan untuk melawan efek tsunami yang dapat diantisipasi.

Sistem nonstruktural dan isinya yang terletak di tingkat bawah dalama genangan harus diasumsikan total kerugian jika melakukan perancangan bahaya tsunami. Jika bangunan diperlukan untuk tetap bisa berfungsi pada saat terjadi bencana, hilangnya dinding tingkat yang lebih rendah, sistem nonstruktural, dan isinya harus diperhitungkan dalam desain fasilitas dan pemilihan penggunaan alternatif yang mungkin.

1. Existing High Ground

(25)

menghindari kemungkinan kekhawatiran tentang memasuki sebuah gedung setelah gempa bumi. Selain itu, sebagian masyarakat pesisir telah mendidik rakyatnya untuk “pergi ke tempat yang tinggi “dalam hal peringatan tsunami. Topografi tanah tinggi yang ada harus dievaluasi untuk potensi kenaikan air gelombang atau erosi. Beberapa modifikasi topografi yang ada mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

2. Soil Berms atau Tanggu Tanah

(26)

Gambar 1. Tanggul Tanah

3. Parkir Garasi

Parkir garasi adalah kandidat yang sangat baik untuk digunakan sebagai struktur evakuasi vertikal. Mirip dengan contoh yang ditunjukkan pada Gambar 4-2, Kebanyakan parkir garasi adalah struktur terbuka yang akan memungkinkan air mengalir melalui dengan resistensi minimal. Interior landai memungkinkan banyak kesempatan untuk masuknya, dan sirkulasi vertikal mudah untuk tingkat yang lebih tinggi dalam struktur. Parkir garasi juga dapat digunakan untuk menyediakan fasilitas masyarakat tambahan di tingkat atas, termasuk taman, dek observasi, dan lapangan olahraga. Fasilitas ini jelas menghasilkan pendapatan, terutama di daerah yang menarik sejumlah besar wisatawan.

(27)

dirancang dengan tujuan kinerja yang lebih tinggi dalam pikiran, dan jika mengalami kode tambahan review dan inspeksi konstruksi dengan yurisdiksi lokal, garasi parkir bisa menjadi struktur evakuasi vertikal efektif.

Gambar 2. Garasi Parkir

4. Fasilitas Umum

(28)

lain mungkin pada fungsi evakuasi vertikal. Potensi dampak negatif dapat mencakup kekacauan yang bisa menjadi puing-puing yang mengganggu masuknya. Prioritas harus diberikan pada penggunaan dengan fungsi yang saling melengkapi, seperti akomodasi bagi sejumlah besar orang.

Gambar 3. Gedung Olahraga

5. Fasilitas Komersial

(29)

Gambar 4. Hotel

2.2.2. Sistem Informasi Geografis

Sistem informasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengandung suatu set proses yang melakukan fungsi pengolahan terhadap data untuk menghasilkan satu bentuk informasi yang dibutuhkan bagi suatu fungdi tertentu.

2.2.2.1. Komponen SIG

(30)

Gambar 5. Sub-sistem dalam SIG

Sebagai suatu sistem informasi yang menyimpan data ruang, SIG mempunyai komponen pentingsebagai berikut (Harmon & Anderson, 2003) :

1. Orang yang menjalankan sistem meliputi orang yang mengoperasikan, mengembangkan bahkan memperoleh manfaat dari sistem. Kategori orang yang menjadi bagian dari SIG beragam, misalnya operator, analis, programer, database administrator bahkan stakeholder.

2. Aplikasi merupakan prosedur yang digunakan untuk mengolah data menjadi informasi. Misalnya penjumlahan, klasifikasi, rotasi, koreksi, geometri, query, overlay, buffer, jointable, dsb.

3. Data yang digunakan dalam SIG berupa data grafis dan atribut. a. Data posisi/koordinat/grafis/ruang/spasial, merupakan data

representasi fenomena permukaan bumi yang memiliki referensi koordinat lazim berupa peta, foto udara, citra satelit, dan sebagainya.

b. Data attribut atau non-spasial, merupakan data yang mempresentasikan aspek-aspek deskriptif dari fenomena yang dimodelkan. Misalnya data sensus penduduk, catatan survei, dan data statistik lainnya.

Input Data

Penyimpan-an Data Analisa Data

(31)

4. Software adalah perangkat lunak SIG eberupa program aplikasi yang memiliki kemampuan pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, analisis dan penyajian data spasial.

5. Hardware merupakan perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem berupa perangkat komputer, printer, scanner, digitizer, plotter, dan perangkat pendukung lainnya.

Gambar 6. Komponen SIG

2.2.2.2. Sistem Kerja SIG

Sistem kerja SIG pada prinsipnya sama dengan dengan sistem kerja sistem pada umumnya, yaitu yang terdiri dari input, unit pemrosesan, unit output serta system feedback.

(32)

Gambar 7. Sistem Kerja SIG

Dapat dilihat pada gambar secara prinsip, data SIG itu adalah data yang mengacu kepada lokasi atau ruang atau data geografis. Dalam satu data SIG terdiri data spasial dan data non-spasial yang saling berintegrasi.

Data spasial dengan konsep pemetaan, dimana sumber data yang diperoleh dari berbagai alternatif, seperti; foto udara, remote sensing, atau pengukuran lapangan. Sedankan data non-spasial biasanya disajikan dalam bentuk tabular yang bersumber dari survey langsung, wawancara atau pengumpulan deskripsi.

2.2.2.3. Sumber Data SIG

Sumber data SIG secara garis besar terdiri dari dua bagian, yaitu sumber data spasial dan sumber data non-spasial.

1. Sumber data spasial

(33)

Sumber data spasial merupakan sumber data keruangan atau berbentuk grafis dari permukaan bumi yang biasanya berupa peta.

Berbagai sumber data spasial yang dapat dilihat digunakan sebagai basis data SIG antara lain adalah: a. Peta garis berbentuk kertas (hardcopy)

b. Peta garis dalam format digital c. Peta foto ( raster atau image ) d. Peta remote sensing

2. Sumber data non-spasial

Sumber data non-spasial merupakan sumber data yang terdiri dari keterangan-keterangan atau deskripsi yang berkaitan dengan objek atau aspek keruangan.

Data non-spasial yang dijadikan sebagai sumber data biasanya adalah sebagai berikut:

a. Tabel tema objek spasial b. Hasil survei lapangan c. Deskripsi wilayah

Dalam pengolahannya, sumber data non-spasial akan diintegrasikan dengan basis data spasial menjadi basis data SIG.

2.2.2.4. Basis Data SIG

(34)

lapisan-lapisan data (layers) yang disusun sedemikian rupa dalamsoftware SIG berdasarkan aplikasinya. Masing-masing lapisan data tersebut mempunyai tema tersendiri yang terdiri dari pasangan data sapsial dan data non-spasial.

Data spasial adalah peta digital yang dibangun berdasarkan jenis grafik (titik, garis dan area), sedangkan data non spasial merupakan tabel-tabel yang berintegrasi dengan data spasialnya.

2.2.2.5. Keuntungan SIG

Hal-hal yang menyebabkan studi ini dilakukan dengan mempergunakan SIG dibandingkan dengan metode konvensional adalah:

a. Dapat mengelola data dalam jumlah besar

b. Hasil analisa akan dibuat dalam bentuk format digital yang interaktif sehingga lebih menarik dan mudah dimengerti.

c. Basisi data yang telah terbangun dapat terus ditingkat, sehingga analisa dapat dilakukan sesuai kondisi terbaru

d. Basis data yang telah dibangun dapat dimodifikasi sedemikian rupa untuk dipergunakan bagi keperluan perencanaan dan analisa lain di luar studi ini e. Dengan menggunakan SIG dapat mempermudah

(35)

Pada tebel berikut dapat dilihat perbandingan antara pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan SIG dengan pekerjaan manual tanpa SIG.

Tabel 3. Perbandingan SIG dengan Pekerjaan Manual

Peta SIG Pekerjaan Manual

Penyimpanan Database digital baku dan terpadu

Skala dan standar berbeda Pemanggilan

kembali Sistematik Tidak Sistematik

Analisis

Overlay Sangat Cepat Lama

Analisis Spasial Mudah Rumit

Penyajian Murah Mahal

2.2.3. Asas Pemetaan

Peta didefenisikan sebagai gambaran permukaan bumi pada suatu bidang datar dengan perbandingan ( skala ) tertentu. Dengan demikian ada hal yang mendasar yang harus diketahui dalam pemindahan ukuran dan besaran bumi pada suatu bidang kertas untuk menjadi peta.

(36)

2.2.3.1. Kondisi Fisik Bumi

Jika kita perhatikan kondisi riil permukaan bumi, maka terlihat bahwa bentuk permukaan bumi tersebut tidaklah beraturan atau tidak rata dan tidak homogen.

Permukaan bumi terdiri dari lautan dan daratan, dimana lautan merupakan suatu permukaan yang rata sedangkan daratan permukaannya tidak rata. Jadi secara keseluruhan bentuk bumi bukanlah merupakan bentuk matematis (bidang datar, bola, ellipsoid) dapat dilihat pada gambar.

Gambar 8. (a) Bentuk fisik bumi (b) Irisan tegak permukaan bumi

Pada kondisi seperti ini sebetulnya posisi relatif satu titik terhadap titik lain tidak dapat dihitung, karena rumus matematis apa yang digunakan jika model atau bidang matematis tidak ada.

Sebagian permukaan bumi yang akan dijadikan peta itu sebetulnya terdiri dari titik-titik, garis-garis, dan areal-areal.

(a) (b)

(37)

2.2.3.2. Model Matematis Bumi

Satu ciri model matematis adalah adanya keteraturan komponen-komponen sehingga dapat dibuat formulasinya. Sebagai contoh model matematis adalah seperti ; bidang datar, lingkaran, bola, ellipsoid, dlsb. Posisi relatif satu titik dapat ditentukan dari titik-titik lain jika titik-titik tersebut terletak pada suatu bidang matematis, dimana formulanya telah tertentu secara matematis. Model matematis bumi adalah satu bidang matematis bumi yang merupakan pendekatan dari bentuk bumi yang sebenarnya. Hal ini mesti diadakan supaya semua titik-titik dipermukaan bumi dapat dihitung posisinya dengan satu formula tertentu.

Model matematis bumi yang mendekati bentuk dan ukuran bumi sebenarnya adalah Ellipsoid, yang disebut dengan ellipsoid referensi. Pendekatan dari permukaan ellipsoid referensi ini pada kondisi nyata adalah permukaan air laut rata-rata yang disebut dengan geoid. Berbagai ukuran ellipsoid referensi telah diteliti oleh banyak para ahli geodesi dunia, seperti; Bessel, GRS, WGS.

WGS adalah singkatan dari world geodetic sistem, yang mana merupakan salah satu ellipsoid referensi yang sering digunakan dalam pembuatan peta.

(38)

2.2.3.3. Bidang Referensi

Bidang referensi adalha bidang yang digunakan untuk memproyeksikan semua data ukuran pada permukaan bumi sehingga pada bidang ini dapat dihitung posisi semua titik-titik. Disamping itu pada penetuan hitungan tinggi, bidang referensi ini adalah tempat dimulainya hitungan tinggi seperti pada gambar 2.6 dibawah ini.

Dalam hal ini sebagai bidang referensi yang digunakan adalah permukaan air laut rata-rata (Mean Sea Level). Secara teoritis, semua titik pada bidang ini tegak lurus terhadapa garis gaya berat.

Penentuan permukaan air laut rata-rata tersebut melalui satu teknis pengukuran tertenetu, yaitu proses pengukuran pasut (pasang surut).

2.2.4. Sistem Proyeksi Peta

2.2.4.1. Pengertian Sistem Proyeksi

Sistem proyeksi peta adalah proses dan aturan-aturan (matematis) yang digunakan dalam memindahkan data ukuran dari permukaan bumi sampai ke bidang datar tersbut.

Banyak sekali metoda sistem proyeksi peta yang digunakan didunia atau pada masing-masing negara. Di Indonesia sendiri terdapat sistem proyeksi peta yang berbeda-beda dari dulu sampai sekarang, seperti sistem lambert (Zaman Belanda), Transfer Mercator 3 (TM 3), Universal Transfer Mercator (UTM).

(39)

Gambar 9. Proses Proyeksi Peta

Sistem Proyeksi UTM :

a. Bumi dibagi atas zone-zone (60 Zone) b. Setiap Zone mempunyai ukuran 6o

c. Setiap Zone mempunyai satu sistem koordinat

2.2.4.2. Sistem koordinat peta

Pada prinsipnya ada dua sisitem koordinat peta yang biasa digunakan, yaitu sistem koordinat geografis dan sistem koordinat kartesian

1. Sistem koordinat geografis

Sistem koordinat ini dinyatakan dengan lintang dan bujur dan satuannya adalah derjat. Sistem koordinat ini mengacu kepada sistem koordinat bola atau elllipsoid bahwa titik-titik permukaan bumi diletakkan pada permukaan bola atau ellipsoid.

Sistem koordinat ini digunakan umumnya pada peta-peta skala kecil atau menggambarkan satu permukaan bumi yang relatif luas.

model

(40)

2. Sistem koordinat kartesian

Sistem koordinat ini dinyatakan dengan sistem salib sumbu X dan Y, jadi posisi setiap titik dinyatakan dengan koordinat (X,Y) dan satuannya adalah meter. Sistem koordinat kartesian terdiri sistem koordinat tiga dimensi (3D) dan sistem koordinat dua dimensi (2D).

Sistem koordinat kartesian yang sering digunakan untuk peta adalah sistem koordinat 2D, dimana sistem koordinat dinyatakan salam sumbu X dan Y (X,Y).

2.2.4.3. Fokus survey dan pemetaan

Fokus dari survey/pemetaan pada prinsipnya adalah penetuan posisi/letak satu titik relatif dari titik lain. Dari titik-titik akan membentuk garis,dan dari garis-garis akan terjadi area atau objek satu unsur permukaan bumi. Kemudian objek/unsur-unsur permukaan bumi tersebut dapat digambarkan menjadi sebuah peta (pemetaan).

Ada dua jenis titik dalam survey/pemetaan, yaitu : a. Titik kerangka dasar (Titik Kontrol/BM) b. Titik detail / situasi.

Perlakuan dua jenis titik tersebut dalam survey pemetaan adalah berbeda, baik dari segi metoda pengukurannya maupun metoda hitunganya.

(41)

2.2.4.4. Metodologi pemetaan

Yang dimaksud metodologi pemetaan disini adalah semua metoda yang dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran (bentuk dan ukuran) sebagian permukaan bumi sehingga dapat diproses menjadi sebuah peta.

Berbagai metodologi yang dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran permukaan bumi tersebut antara lain adalah:

a. Remote sensing (pengindraan jauh) b. Foto udara

c. Global Positioning Sistem(GPS) d. Terestris

e. Bathimetrik/hidrografi f. Kombinasi

Masing-masing metoda mempunyai ciri/karakteristik tertentu dan mempunyai perbedaan dari segi :

a. Teknologi yang digunakan

b. Bentuk/format data yang dihasilkan c. Metoda pemrosesan

d. Penggunaan/aplikasinya e. Biaya

f. Waktu

g. Luas area terpetakan

(42)
(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Mekanisme Penyusunan

Studi identifikasi dalam menentukan jumalah escape building pada zona rawan bencana tsunami adalah salah satu upaya dalam penanggulangan dampak bencana.Skema pelaksanaan tugas akhir ini digambarkan dalam flow chart di bawah ini.

Pengolahan data

AWAL

Studi Literatur

Survey Pendahuluan

Pengumpulan data: • Peta topografi dan detail situasi Kota

Padang

• Peta evakuasi tsunami Kota Padang • Padang dalam angka tahun 2005, 2009,

dan 2013

Data escape building

ANALISIS

Permodelan/pengambaran Integrasi Data Spasial dan Atribut

HASIL

(44)

3.2. Metodologi Penelitian 1. Tahap Awal

a. Studi Literatur

Dalam pengerjaan tugas akhir ini diperlukan beberapa literatur yang berhubungan dengan kebencanaan dan Sistem Informasi Geografis.

b. Survey Pendahuluan

Survey pendahuluan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi awal di lapangan secara garis besar untuk mendapatkan variabel-variabel yang diperlupakan dalam penelitian selanjutnya.

2. Data

Data yang dibutuhkan adalah data teknis dan data non-teknis.

a. Data teknis; terdiri dari data, lokasi bangunan, jumlah lantai, fungsi utama bangunan, serta data lain yang berkenan dengan fisik bangunan.

(45)

3. Pengolahan Data dan Perhitungan

Pengolahan data dan perhitungan dalam penelitian ini meliputi:

a. Perhitungan luas daerah studi.

b. Perbandingan jumlah penduduk, luas daerah studi, dan kapasitas escape building.

4. Hasil dan Kesimpulan

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Geografis Kota Padang

Kota Padang sebagai ibukota Sumatera Barat sangat rentan dengan bencana gempabumi dan tsunami. Kondisi geografis kota Padang yang landai dibagian tengahnya menyebabkan aktifitas masyarakat banyak terpusat di daerah tersebut. Banyak objek vital dan fasilitas umum/fasilitas sosial yang mendukung kehidupan di Kota Padang tertumpu di daerah landai di pusat kota.

(47)

Pada gambar 4. 8 tampak daerah yang landai berada di bagian tengah dan dikelilingi bukit yang ditunjukan dari kontur yang sangat rapat disekitar daerah landai tersebut.

(48)

37

Gambar 12. Peta Sebaran Sungai Kota Padang

Kondisi geografis kota Padang yang nampak seperti gambar 3 juga menunjukan tingkat resiko tsunami yang tinggi dimana lokasi landai dan diapit oleh sungai sungai besar.

4.2. Pengumpulan Data

(49)

4.2.1. Data Spasial

Sumber data spasial merupakan sumber data keruang berbentuk grafis dari permukaan bumi yang biasanya berupa peta. Berikut ini berbagai sumber yang biasanyadijadikan sebagai basisdata SIG:

a. Peta garis berbentuk kertas (hardcopy) b. Peta garis dalam format digital c. Peta foto

d. Peta remote sensing

(50)

39 4.2.2. Data Atribut

Data atribut merupakan data sekunder dalam pembuatan peta informasi. Data atribut meliputi data-data ataupun informasi meliputi jumlah penduduk, luas wilayah, laju pertumbuhan penduduk, jumlah kepadatan, elevasi, lokasi bangunan dan data lain sebagainya.

Pada penelitian kali ini berikut contoh data atribut yang digunakan bersumber dari hasil statistik BPS tahun 2013.

(51)

Tabel 5. Tinggi Daerah Menurut Kecamatan

4.3. Digitasi dan Analisa Peta

(52)

41

atau yang berkaitan dengan permukaan bumi dan benda-benda diangkasa.

Menurut Erwin Raiz, peta merupakan gambaran konvensional permukaan bumi yang terpencil dan kenampakannya terlihat dari atas dan ditambah tulisan sebagai penjelasnya. Gambaran konvesial merupakan gambaran yang sudah umum dan diatur dengan aturan tertentu.

Sedangkan menurut Soetarjo Soerjosumarmo, peta adalah lukisan dengan tinta dari seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diperkecil dengan perbandingan ukuran yang disebut skala.

Digitasi secara umum dapat didefinisikan sebagai proses konversi data analog dalam format digital. Objek seperti bangunan, jalan, sawah, perkebunan, dan lain sebagainya yang sebelumnya masih dalam format raster. Pada sebuah citra satelit resolusi tinggi dapat diubah ke dalam format digital.

(53)

Selain digitasi onscreen pada ArcGIS kita bisamelakukan digitasi lain sengan software lain seperti AutoCAD Land Development atau MAPINFO. Seperti gambar 4.6 merupakan konversi dari data lain ke format file ArcGIS.

Gambar 15. Input Data Spasial ke ArcMAP

(54)

43

Gambar 16. Layer Kecamatan

Tambahkan data atribut berdasarkan data survey atau data dari sumber yang sudah, pada layer kecamatan penulis menambahakan data tentang kependudukan, kepadatan, luas wilayah, serta pertumbuhan penduduk dari tahun 2002.

(55)

Selanjutnya penulis menambahkan batas kelurahan untuk mendapatkan peta yang jelas dan detail.

Gambar 18. Layer Kelurahan

(56)

45

Lakukan digitasi untuk jalan dan jalur kereta api serta jembatan yang ada dan terlihat pada citra satelit. untuk infrastruktur bertipe jalur pada arcgis kita gambarkan dengan format polyline.

Gambar 20. Layer Jalan, Jembatan dan Jalur Kereta Api

Berikutnya adalah mengidentifikasi dan digitasi bangunan untuk diubah kedalam bentuk format digital. Bangunan yang di digit adalah seluruh bangunan yang nampak pada citra satelit, yang selanjutnya diidentifikasi kedalam beberapa kategori seperti, bangunan pemerintahan, sekolah, tempat ibadah, fasilitas umum, bank, pasar, dan lain sebagainya.

(57)

Tabel 6. Analisa Kebutuhan Ruang Evakuasi

No Kondisi Furnitur Pada Ruang Evakuasi

Persentase Luas Ruang Efektif

1

Perabotan maupun furniture tetap yang terkonsentrasi dan tempat duduk yang sudah tetap

50 %

2

Perabotan maupun furniture tetap yang tidak terkonsentrasi dan tempat duduk tidak tetap

65 %

3

Perabotan maupun furniture yang bisa diatur untuk memberikan ruang yang lebih lapang dan tempat duduk tidak tetap

85 %

4

Tidak terdapat tempat perabotan maupun furnitur sehingga

diasumsikan bahwa keseluruhan luas ruang dapat dipakai

100 %

(58)

47

Tabel 7. Persentase Luas Bangunan untuk Evakuasi Berdasarkan Fungsi

No Fungsi Bangunan Luas Efektif

1. Perkantoran 23.6 %

2. Sekolah 30 %

3. Area Pertokoan 23 %

4. Hotel 26.3 %

5. Tempat Ibadah 62 %

Luas efektif ruang untk evakuasi vertikal dapat dihitung dengan menggunakan formula: Luas Ruangan Evakuasi x Faktor Ruang x Faktor Fungsi Bangunan.

(59)

Gambar 22. Bangunan Kota Padang pada skala 1 : 2.000

(60)

49

Ketinggian kota padang dimulai dari 0 meter dari permukaan laut sampai dengan 1853 meter dari permukaan laut. Untuk itu penulis membagi ketinggian kota padang dalam beberapa zona yaitu, 0-5 mdpl, 5-10 mdpl, 10-25 mdpl, 25-100 mdpl, dan zona melebihi 100 mdpl.

Gambar 24. Zona Rawan Tsunami Kota Padang

(61)

Gambar 25. Peta Penduduk Kota Padang

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa penduduk paling berada di kecamatan Koto Tangah kemudian diikuti oleh kecamatan Kuranji, Lubuk Begalung dan Padang Timur.

Kepadatan penduduk adalah perbandingan populasi penduduk dengan luas wilayah yang ditempati. Semakin banyak penduduk dan wilayah yang ditempati memiliki luas yang kecil maka kepadatan penduduk pada wilayah tersebut semakin besar.

(62)

51

Gambar 26. Peta Densiti Kota Padang

Jika layer bangunan dan jalan diaktifkan dan kemudian diintegrasikan dengan peta density maka pada pusat kota Padang sangat memiliki resiko yang besar jika terjadi bencana tsunami.

(63)
(64)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa yang telah penulis lakukan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil evaluasi bangunan secara visual diperoleh 58 unit bangunan yang layak dijadikan sebagai tempat evakuasi.

2. Luas daerah yang termasuk zona rawan tsunami pada ketinggian 0-5 meter dari permukaan laut lebih kurang 55329780.108 m2atau 5.532,878 Ha.

3. Jumlah penduduk yang termasuk pada zona 0-5 mdpl adalah sebanyak 406,879 jiwa.

4. Kapasitas yang tersedia untuk evakuasi vertikal penduduk yang tersedia sebanyak 64.544 orang.

5. Jumlah kapasitas escape building yang tersedia masih belum mencukupi dari jumlah kapasitas penduduk yang berada pada zona rawan tsunami.

6. Sistem informasi geografis yang dibuat membantu dalam pengolahan informasi pada bangunan dan jalan.

5.2. Saran

(65)

2. Sebaiknya data informasi yang berhubungan dengan bangunan dan jalan diperoleh secara lengkap untuk mempermudah dalam menganalisa peta.

3. Penulisan tugas akhir ini bisa menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan bagi pihak dan instansi yang terkait.

(66)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Amdahl, G. (2002). Disaster Response: GIS for Public Safety. Redlands California: ESRI.

Bappeda. (2009). Letak Geografis Kota Padang. In BPS, Padang Dalam Angka 2009 (p. 5). Padang: BPS Kota Padang.

Bappeda. (2009). Luas Daerah dan Persentasenya menurut Kecamatan. In BPS, Padang Dalam Angka 2009 (p. 6). Padang: BPS Kota Padang.

Bappeda. (2013). Tinggi Daerah Menurut Kecamatan dari Permukaan Laut. In BPS, Padang Dalam Angka 2013 (p. 7). Padang: BPS Kota Padang.

Fauzan. (2010). Evaluasi Existing Builing dan Pembuatan Peta Evakuasi Vertikal. TeknikA, 1-6.

Federal Emergency Management Agency. (2008). Guidlines for Designe of Structures for Vertical Evacuation from Tsunami. Washington, D.C., USA: Federal Emergency Management Agency.

Gempa Padang. (2012, 4 11). SISTEM EVAKUASI VERTIKAL : Alternatif Pengurangan Resiko Bahaya Tsunami Kota Padang.

Retrieved 6 12, 2014, from Gempa Padang:

http://www.gempapadang.wordpress.com

(67)

Harmon, J. E., & Anderson, S. J. (2003). The Design and Implementation of Geographic Information Systems. Hoboken: Jhon Wiley & Sons, Inc.

HM Government. (2006). Evacuation and Shelter Guidence: Non-statuory guidence to complement Emergency Preparedness and Emergency Response & Recovery. York: Easingworld.

Johnson, R. (2010). GIS Technology for Disaster and Emergency Management. An Esri White Paper, 3.

Mackie, N. (1994). Worst-case Scenario: GIS at the Centre of UK Nuclear Emergency Response. Journal of Environmental Sciences, 72-178.

Natawidjaja, D. H., Sieh, K., Chlieh, M., Galetzka, J., Suwargandi, B. W., Cheng, H., et al. (2006). Source Paramaters of the Great Sumatran Megathrust Earthquakes of 1797 and 1833 Inferred from Coral Microatolls. Journal of Geophysical Reserch, B06403.

Oktiari, D., & Manurung, S. (2010). Model Geospasial Potensi Kerentanan Tsunami Kota Padang. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 136-141.

(68)
(69)

Luas Ruangan

Luas Ruangan

Efektif Kapasitas

m2 m2 orang

1 1 MASJID RAYA SUMBAR 2 4334 Tempat Ibadah 1746.602 3493

2 4 SMKN 5 PADANG 2 3572 Sekolah 696.54 1393

3 3 SMPN 7 PADANG 3 1452 Sekolah 566.28 1133

4 6 SMPN 25 PADANG 4 365 Sekolah 213.525 427

5 7 SMPN 25 PADANG 3 246 Sekolah 95.94 192

6 5 SMPN 25 PADANG 2 1161 Sekolah 226.395 453

7 27 KANTOR IMIGRASI 2 662 Kantor 101.5508 203

8 26 BPJS 2 534 Kantor 81.9156 164

9 25 STIKES 2 1136 Sekolah 221.52 443

10 23 BPKP 3 548 Kantor 168.1264 336

11 24 BPKP 3 603 Kantor 185.0004 370

12 22 SMP AL-AZHAR 32 3 848 Sekolah 330.72 661

13 21 SDI AL-AZHAR 3 905 Sekolah 352.95 706

14 8 HOTEL ION 3 832 Hotel 284.4608 569

15 18 DPRD TK. 1 2 3734 Kantor 572.7956 1146

16 20 AUTO 2000 2 3543 Kantor 543.4962 1087

17 19 BKKBN 2 1807 Kantor 277.1938 554

18 17 DINAS PSDA 2 2096 Kantor 321.5264 643

19 9 BASKO GRAND MALL 4 4867 Area Pertokoan 2182.8495 4366

20 10 BASKO GRAND HOTEL 7 1291 Area Pertokoan 1158.027 2316

21 11 FPBS UNP 3 5837 Sekolah 2276.43 4553

22 13 REKTORT UNP 2 1969 Kantor 302.0446 604

23 14 GEDUNG KULIAH BERSAMA UNP 2 1401 Sekolah 273.195 546

No Id Jumlah

(70)

27 28 BADAN PUSAT STATISTIK 3 754 Kantor 231.3272 463

28 8 HOTEL EDEN 4 369 Hotel 189.24165 378

29 0 BALAI WILAYAH SUNGAI V 3 1094 Kantor 335.6392 671

30 25 HOTEL PANGERAN 6 1907 Hotel 1630.00825 3260

31 30 BADAN PUSAT STAISTIK 2 981 Kantor 150.4854 301

32 29 DINAS PERHUBUNGAN 2 1180 Kantor 181.012 362

33BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH31 3 1274 Kantor 390.8632 782

34 45 DINAS PETERNAKAN 3 881 Kantor 270.2908 541

35 44 BANK BTN 2 881 Kantor 135.1454 270

36 42 JASA RAHARJA 2 558 Kantor 85.5972 171

37 43 BPPK 2 1274 Kantor 195.4316 391

38 0 PDK SUMBAR 3 1297 Kantor 397.9196 796

39 KANTOR GUBERNUR SUMATERA BARAT48 3 2220 Kantor 681.096 1362

40 33 KANTOR GUBERNUR 4 675 Kantor 310.635 621

41 27 BANK INDONESIA 3 2255 Kantor 691.834 1384

42 35 KANTOR PELAYANAN PAJAK 3 743 Kantor 227.9524 456

43 36 BANK MANDIRI 3 1785 Kantor 547.638 1095

44 37 SDN 23 DAN 24 3 1362 Sekolah 531.18 1062

45 40 GRAPHARI 5 861 Kantor 528.3096 1057

46 41 MASJID AL-AZHAR 2 513 Tempat Ibadah 206.739 413

47 26 PLAZA ANDALAS 5 5828 Area Pertokoan 3485.144 6970

48 0 AXANA HOTEL 5 1255 Hotel 858.169 1716

49 0 GRAND INNA MUARA 5 1016 Hotel 694.7408 1389

50 45 HOTEL BUMI MINANG 4 2456 Hotel 1259.5596 2519

51 41 HOTEL HAYAM WURUK 4 656 Hotel 336.4296 673

52 44 TEEBOX 4 1288 Kantor 592.7376 1185

53 45 KANTOR POS 3 1097 Kantor 336.5596 673

54 34 BANK BCA 3 943 Kantor 289.3124 579

55 36 KANTOR UPT DINAS PENDIDIKAN 2 2548 Kantor 390.8632 782

(71)

57 40 MUSEUM GEMPA 3 1591 Kantor 488.1188 976

58 47 BANK NAGARI 3 1202 Kantor 368.7736 738

(72)

FID

LUAS (Ha)

NAMA

KOTA

POPULASI

0

160

Kec. Pauh

Padang

61775

1

57

Kec. Kuranji

Padang

130916

2

84

Kec. Lubuk Kilangan

Padang

50249

3

28

Kec. Lubuk Begalung

Padang

109584

4

80

Kec. Bungus Teluk Kabung

Padang

23360

5

231

Kec. Koto Tangah

Padang

167791

6

11

Kec. Nanggalo

Padang

58232

7

9

Kec. Padang Utara

Padang

69729

8

6

Kec. Padang Barat

Padang

46411

9

10

Kec. Padang Timur

Padang

77989

10

13

Kec. Padang Selatan

Padang

58320

854356

Total

(73)

FID LUAS (Km2) ID KELURAHAN PENDUDUK KECAMATAN

0 5.906 13 Padang Sarai 10175 Koto Tangah

1 4.216 5 Parupuk Tabing 22162 Koto Tangah

2 5.119 4 Dadok Tunggul Hitam 11280 Koto Tangah

3 5.603 11 Lubuk Buaya 14207 Koto Tangah

4 2.902 6 Bungo Pasang 12705 Koto Tangah

5 5.968 3 Air Pacah 4507 Koto Tangah

6 2.763 10 Pasir Nan Tigo 8817 Koto Tangah

7 15.312 12 Batipuh Panjang 10305 Koto Tangah

8 65.227 2 Lubuk Minturun 5552 Koto Tangah

9 1.561 9 Batang Kabung Ganting 10418 Koto Tangah

10 5.118 7 Koto Panjang Ikua Koto 10122 Koto Tangah

11 2.467 8 Koto Pulai 2439 Koto Tangah

12 110.162 1 Balai Gadang 11079 Koto Tangah

13 0.532 1 Flamboyan Baru 6154 Padang Barat

14 0.265 9 Pondok 6614 Padang Barat

15 0.545 2 Rimbo Kaluang 4949 Padang Barat

16 0.646 5 Padang Pasir 5927 Padang Barat

17 0.397 6 Olo 8547 Padang Barat

18 0.524 10 Berok Nipah 6021 Padang Barat

19 0.664 7 Kampung Jawa 6500 Padang Barat

(74)

23 0.983 6 Seberang Palinggam 3060 Padang Selatan

24 2.222 11 Air Manis 1463 Padang Selatan

25 0.124 1 Belakang Pondok 2378 Padang Selatan

26 0.124 1 Belakang Pondok 2378 Padang Selatan

27 0.786 12 Gado-gado 1508 Padang Selatan

28 0.956 10 Teluk Bayur 3681 Padang Selatan

29 2.315 9 Rawang 10200 Padang Selatan

30 2.638 8 Mata Air 10324 Padang Selatan

31 0.576 7 Seberang Padang 7445 Padang Selatan

32 0.237 2 Alang Lawas 5088 Padang Selatan

33 1.187 10 Batang Arau 5045 Padang Selatan

34 0.492 3 Ranah Parak Rumbio 4127 Padang Selatan

35 0.492 3 Ranah Parak Rumbio 4127 Padang Selatan

36 0.462 4 Pasar Gadang 7435 Padang Selatan

37 0.828 2 Jati Baru 8663 Padang Timur

38 1.404 7 Andalas 9924 Padang Timur

39 0.682 9 Parak Gadang Timur 8704 Padang Timur

40 1.079 4 Sawahan Timur 6809 Padang Timur

41 1.814 8 Kubu Dalam Prk Karakah 7723 Padang Timur

42 0.631 6 Kubu Marapalam 6012 Padang Timur

43 0.755 3 Jati 9344 Padang Timur

44 0.555 5 Simpang Haru 6094 Padang Timur

45 0.947 1 Sawahan 4166 Padang Timur

46 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

47 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

48 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

49 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

(75)

51 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

52 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

53 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

54 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

55 0.984 10 Ganting Parak Gadang 11974 Padang Timur

56 3.265 7 Sungai Sapih 7492 Kuranji

57 21.509 9 Kuranji 22335 Kuranji

58 1.657 2 Anduring 10774 Kuranji

59 4.338 6 Korong Gadang 11430 Kuranji

60 0.77 3 Ampang 5825 Kuranji

61 1.085 4 Lubuk Lintah 5757 Kuranji

62 17.542 8 Gunung Sarik 11365 Kuranji

63 2.156 1 Pasar Ambacang 22765 Kuranji

64 5.299 5 Kalumbuk 7627 Kuranji

65 1.976 6 Pisang 5349 Pauh

66 77.939 9 Lambung Bukit 3700 Pauh

67 1.907 7 Kampung Dalam 4225 Pauh

68 1.484 5 Piai Tangah 3457 Pauh

69 2.025 2 Koto Luar 5173 Pauh

70 56.089 1 Limau Manis 10233 Pauh

71 15.611 3 Limau Manis Selatan 6431 Pauh

72 1.953 8 Kapalo Koto 4131 Pauh

73 1.544 4 Cupak Tangah 5257 Pauh

74 2.932 4 Bandar Buat 14675 Lubuk Kilangan

(76)

79 37.115 1 Indarung 4826 Lubuk Kilangan

80 25.923 3 Batu Gadang 5157 Lubuk Kilangan

81 3.173 3 Bungus Selatan 3231 Bungus Teluk Kabung

82 12.39 6 Teluk Kabung Selatan 1862 Bungus Teluk Kabung

83 28.088 2 BUngus Timur 5856 Bungus Teluk Kabung

84 18.364 5 Teluk Kabung Tengah 2739 Bungus Teluk Kabung

85 10.281 1 Bungus Barat 5848 Bungus Teluk Kabung

86 8.429 4 Teluk Kabung Utara 3224 Bungus Teluk Kabung

87 2.569 1 Surau Gadang 25349 Nanggalo

88 0.906 2 Kamp Olo 5585 Nanggalo

89 2.444 4 Kurao Pagang 8391 Nanggalo

90 1.069 3 Kamp Lapai 9843 Nanggalo

91 2.194 5 Gurun Laweh 1927 Nanggalo

92 1.545 6 Tabing Bandar Gadang 2076 Nanggalo

93 1.202 1 Airtawar Timur 7612 Padang Utara

94 0.691 2 Air Tawar Barat 15052 Padang Utara

95 0.857 3 Ulak Karang Utara 8201 Padang Utara

96 0.857 3 Ulak Karang Utara 8201 Padang Utara

97 0.857 3 Ulak Karang Utara 8201 Padang Utara

98 1.129 4 Ulak Karang Selatan 9823 Padang Utara

99 1.35 5 Lolong Belanti 7670 Padang Utara

100 2.214 7 Gunung Pangilun 12521 Padang Utara

101 2.214 7 Gunung Pangilun 12521 Padang Utara

102 1.131 6 Alai Parak Kopi 8600 Padang Utara

103 0.065 1 Cengkeh 3334 Lubuk Begalun

104 0.775 5 Lubuk Begalung 6509 Lubuk Begalun

105 0.604 9 Banuaran 6140 Lubuk Begalun

(77)

107 0.816 10 Parak Lawas Pulau Aia 8104 Lubuk Begalun

108 1.931 13 Pampangan 7622 Lubuk Begalun

109 0.309 7 Tanjung Aur 1349 Lubuk Begalun

110 7.549 14 Gates 6633 Lubuk Begalun

111 0.476 6 Gurun Laweh 5490 Lubuk Begalun

112 0.569 4 Pitameh Tjg Sabar 3708 Lubuk Begalun

113 0.289 3 Tanah Sirah 4930 Lubuk Begalun

114 1.122 2 Kampung Baru 4146 Lubuk Begalun

115 5.377 11 Batu Taba Kp Jua 10221 Lubuk Begalun

(78)
(79)

Kec. Pauh Kec. Koto Tangah

Kec. Kuranji

Kec. Lubuk Kilangan

Kec. Bungus Teluk Kabung Kec. Lubuk Begalung

400000 500000 600000 700000 800000 900000 9720000

(80)

630000 640000 650000 660000 670000 680000 690000

400000 500000 600000 700000 800000 900000 9720000

Koto Tangah, Lubuk Buaya

Koto Tangah, Parupuk Tabing

Kuranji, Kuranji

Padang Barat, Belakang Tangsi

Padang Barat, Purus

Padang Selatan, Air Manis

Padang Timur, Jati

Padang Timur, Sawahan

(81)

Kec. Pauh Kec. Koto Tangah

Kec. Kuranji

Kec. Lubuk Kilangan

Kec. Bungus Teluk Kabung Kec. Lubuk Begalung

(82)

Kec. Pauh Kec. Koto Tangah

Kec. Kuranji

Kec. Lubuk Kilangan

Kec. Bungus Teluk Kabung Kec. Lubuk Begalung

630000 640000 650000 660000 670000 680000 690000

9

(83)

Kec. Pauh Kec. Koto Tangah

Kec. Kuranji

Kec. Lubuk Kilangan

Kec. Bungus Teluk Kabung Kec. Lubuk Begalung

400000 500000 600000 700000 800000 900000 9720000

PETA ZONA RAWAN TSUNAMI

(84)

Kec. Kuranji

649000 650000 651000 652000 653000 654000 655000

9

(85)

Kec. Padang Barat

(86)

Kec. Padang Timur Kec. Padang Barat

BPPK

PDK SUMBAR BANK BTN

KANTOR GUBERNUR SUMATERA BARAT DINAS PETERNAKAN

JASA RAHARJA

KANTOR GUBERNUR

651000 651200 651400 651600 651800 652000

9

400000 500000 600000 700000 800000 900000 9720000

KANTOR GUBERNUR SUMATERA BARAT

(87)
(88)

AKBID dan STIKES Alifah

(89)
(90)

Bank Indonesia

(91)
(92)

Bumi Minang Hotel

(93)
(94)

FBS UNP

(95)
(96)

HW Hotel

(97)
(98)

Kantor DPRD Sumbar

(99)
(100)

Kantor PDAM

(101)
(102)

Kejaksaan Sumbar

(103)
(104)

SD Pembangunan

(105)
(106)

SMAN 1 Padang

(107)
(108)

SMPN 7 Padang

Gambar

Tabel 2. Tinggi Daerah menurut Kecamatan dari Permukaan LautTinggi
Gambar 4. Hotel
Gambar 5. Sub-sistem dalam SIG
Gambar 6. Komponen SIG
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai langkah antisipatif, perlindungan hukum bagi pemilik satuan bangunan vertikal bawah tanag dapat mengacu pada peraturan perlindungan yang diberikan kepada

Tiga cara penghijauan secara vertikal yang dapat dilakukan untuk menanaman pohon pada bagian dinding luar bangunan, penanaman pohon pada beberapa bagian lantai bangunan tinggi

Bangunan gedung dengan jumlah lantai lebih dari 5 (lima) harus dilengkapi dengan sarana transportasi vertikal (lift) yang dipasang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan

ketinggian bangunan, maka metode yang digunakan adalah dengan membandingkan antara ketinggian bangunan yang diperoleh dari data DEM LiDAR dengan hasil pengukuran

Serangan tersebut bisa terjadi walaupun tidak ada hubungan langsung dengan tanah, setelah menyerang rayap perusak bangunan ini akan membuat sarang yang cukup

Tiga cara penghijauan secara vertikal yang dapat dilakukan untuk menanaman pohon pada bagian dinding luar bangunan, penanaman pohon pada beberapa bagian lantai bangunan tinggi

Melihat letak jalur-jalur vertikal yang berada di pertemuan antar massa sebenarnya cukup berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai core yang mengikat kedua massa

Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kerentanan bangunan terhadap tsunami, menganalisis potensi risiko kerusakan bangunan akibat bencana tsunami serta mengetahui kapasitas