• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan sebuah bangunan tinggi untuk p

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rancangan sebuah bangunan tinggi untuk p"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rancangan sebuah bangunan tinggi untuk penggunaan tunggal seperti

apartemen, perkantoran, sekolahan dan rumah sakit, ataupun untuk penggunaan ganda

berskala lebih besar, sudah tentu memerlukan pendekatan berbagai disiplin ilmu

perencanaan, fabrikasi bahan, dan konstruksi bangunan.

Para ahli secara keseluruhan dalam tim tersebut harus menggunakan

pendekatan perencanaan bangunan sebagai suatu sistem yang menyeluruh dimana

struktur penunjang fisik sebagai bagian organik tumbuh bersama rancangan bangunan

tersebut. Struktur tidak boleh dipandang sebagai suatu tambahan yang tidak

berhubungan dalam ruang fungsional oleh perancangnya, karena skala bangunan tinggi

pasti memerlukan sistem penunjang struktur yang rumit dimana gaya-gaya fisik dan

lingkungan merupakan penentu rancangan yang penting. Dalam hal ini bangunan harus

mampu menahan gaya-gaya vertikal gravitasi dan gaya horizontal angin serta gaya

gempa di bawah tanah.

Dapat dikatakan bahwa struktur bangunan tinggi yang dikembangkan hingga

(2)

konstruksi di lapangan, shear wall ini sering ditempatkan di bagian ujung dalam fungsi

ruang suatu bangunan, ataupun ditempatkan memanjang di tengah searah tinggi

bangunan, yang mana akan berfungsi untuk menahan beban angin ataupun beban gempa

yang ditransfer melalui struktur portal atau struktur lantai.

Sedangkan core wall adalah merupakan sistem dinding pendukung linear yang

cukup sesuai untuk bangunan tinggi yang kebutuhan fungsi dan utilitasnya tetap yang

juga berfungsi untuk memenuhi kekakuan lateral yang diperlukan oleh struktur

bangunan. Dan dalam aplikasi konstsruksi di lapangan kita dapat mengenal struktur core

wall ini sebagai struktur ruang lift, shaft atau service duct. Struktur core wall ini juga

biasanya ditempatkan memanjang searah tinggi bangunan.

Sebagai gambarannya, core wall dapat dibayangkan sebagai penahan lateral

yang mirip dengan balok besar yang terkantiliver dari tanah. Oleh sebab itu tegangan

geser dan lentur yang bekerja pada dinding inti menyerupai balok berpenampang

persegi, dengan anggapan bahwa struktur itu akan sanggup menahan gaya-gaya yang

bekerja padanya dan tidak akan runtuh. Karena inti ini juga memikul beban gravitasi,

keuntungannya adalah timbul pratekan oleh gaya-gaya induksi sehingga inti tersebut

tidak perlu dirancang untuk menahan tegangan tarik oleh lentur yang diakibatkan oleh

beban lateral (hal ini nyata sangat berlaku pada struktur inti beton yang besar).

Dalam aplikasi desain konstruksi dewasa ini, penggunaan core wall

dipertimbangkan sebagai suatu bagian dari sistem konstruksi bangunan tinggi yang bisa

(3)

eksentrisitas struktur. Selain itu, struktur ini juga dapat dibuat secara asimetris dan

ditempatkan di dalam ataupun di luar bangunan.

1.2. Perumusan Masalah

Semakin tinggi suatu bangunan, pentingnya aksi gaya lateral menjadi semakin

berarti. Pada ketinggian tertentu, ayunan lateral bangunan menjadi demikian besar

sehingga pertimbangan kekakuan, kekuatan bahan struktur, akan sangat menentukan

keberhasilan rancangan. Tingkat kekakuan terutama bergantung pada jenis sistem

struktur yang dipilih. Selain itu, efisiensi suatu sistem struktur tertentu berhubungan

(berbanding lurus) dengan kuantitas material yang dipergunakan. Sehingga optimasi

suatu struktur untuk kebutuhan ruang tertentu haruslah menghasilkan kekakuan

maksimum, tetapi dengan berat seminimal mungkin. Dengan demikian akan

menciptakan suatu sistem struktur yang inovatif dan dapat diterapkan hingga ambang

ketinggian tertentu.

Kestabilan dan kekakuan suatu jenis struktur bangunan tinggi untuk menahan

beban sangat tergantung pada sistem struktur itu sendiri. Dalam proses perencanaan

suatu bangunan tinggi (apakah bangunan itu terbuat dari beton ataupun baja), kita

mempunyai tujuan yang hendak dicapai adalah bahwa bangunan itu nantinya akan

mampu menahan beban-beban vertikal, horizontal maupun beban gempa yang terjadi

padanya.

Untuk aplikasi struktur bangunan tinggi konstruksi beton, ada dua sistem

(4)

seperti yang disebutkan di atas (gaya-gaya horizontal, vertikal, maupun gempa), yakni

kita dapat mengaplikasikan sistem struktur shear wall (dinding geser) atau

menggunakan sistem struktur core wall (dinding inti).

Sesuai penjelasan sebelumnya pada bagian pendahuluan, sistem shear wall ini

direncanakan dengan menempatkan struktur dinding geser tersebut sesuai dengan tujuan

perencanaan yang kita kehendaki, sehingga mampu mengeliminasi gaya-gaya luar yang

akan timbul pada struktur tersebut.

Sedangkan sistem core wall kita aplikasikan pada struktur shaft perpipaan,

shaft lift, dimana kita kadangkala merencanakan suatu sistem tabung beton yang

konstruksinya adalah berupa pelat beton tipis, yang dibuat dari bawah hingga ke atas

bangunan.

Pemahaman analisis suatu struktur inti terhadap beban lateral bergantung pada

bentuk, tingkat homogenitas, kekakuan dan arah datangnya beban. Di setiap lantai

terdapat bukaan struktur inti yang berkesinambungan yang dikombinasikan dengan

balok pengikat yang akan menimbulkan karakteristik perilaku struktur inti tersebut.

Struktur inti tersebut dapat berlaku sebagai penampang terbuka dan terpengaruh gaya

yang bekerja padanya (menekuk) pada bagian atasnya, terutama jika menerima gaya

asimetris yang menimbulkan puntir. Dengan demikian, tegangan torsi tambahan pada

bagian atas inti akan terjadi bersamaan dengan lentur lateral tambahan serta geser pada

(5)

Gambar 1.1. Denah tampang core wall 2 cell

Dalam tesis ini pembahasannya akan difokuskan pada struktur core wall dua

cell, yaitu core wall yang diberi pelat pengaku di bagian tengahnya. Dengan adanya

beban torsi pada pelat dinding, maka akan terjadi pelengkungan (warping). Oleh sebab

itu, dalam tesis ini, analisis dari permasalahannya akan membahas core wall dua cell

dengan konsep dinding tipis (thin wall).

1.3. Tujuan Pembuatan Tesis

Adapun tujuan pembahasan yang diharapkan dari penulisan tesis ini intinya

adalah sebagai berikut :

Dengan adanya beban Torsi yang terjadi pada Core Wall 2 Cell dari analisa pembebanan

akibat beban angin, akan ditinjau bagaimana tegangan-tegangan yang terjadi pada pelat

tipis Core Wall 2 Cell tersebut.

Core Wall berperilaku bagai dinding penahan yang mampu mengeliminasi gaya-gaya

(6)

segi empat ataupun kolom besar yang juga berpenampang segi empat dengan kondisi

jepit bebas menjulang dari bawah sampai ke atas.

1.4. Pembatasan Masalah

Sebagai pembatas permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan tesis ini

adalah sebagai berikut :

a. Beban luar yang ditinjau hanya beban angin yang dimodifikasi menimbulkan

beban torsi pada pelat core wall 2 cell.

b. Analisa perhitungan struktur akan dibantu dnegan menggunakan methode elemen

hingga

c. Material pelat core wall 2 cell yang dianalisa diasumsikan terbuat dari beton.

d. Bahan yang ditinjau diasumsikan bersifat homogen, isotropis dan berlaku Hukum

Hooke

e. Menggunakan teori lendutan kecil sehingga diasumsikan penampang masih utuh

serta belum sampaim pada stadium retak..

e. Tampang core wall 2 cell yang ditinjau adalah pelat tipis bertampang segi empat.

1.5. Metodologi Pembuatan Tesis

Metodologi yang dipakai dalam penyusunan tesis ini adalah kajian studi

(7)

analisis perhitungannya akan dibandingkan dengan hasil perhitungan dengan

menggunakan Metode Finite Elemen..

1.6. Sistematika Penulisan Tesis

Sebagai salah satu produk tulisan ilmiah, maka penulisan tesis ini akan mengacu

kepada format penulisan tulisan ilmiah yang baku, yang sesuai dengan sistematika

penulisan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.2. Perumusan Masalah

1.3. Tujuan Pembuatan Tesis

1.4. Pembatasan Masalah

1.5. Metodologi Pembuatan Tesis

1.6. Sistematika Penulisan Tesis

BAB II : LANDASAN TEORI CORE WALL 2.1. Karakterisitik Bentuk dan Letak Core Wall

2.2. Karakterisitik Beban Core Wall

2.3. Torsi pada batang penampang dinding tipis terbuka

(8)

BAB III : IDEALISASI STRUKTUR CORE WALL 2 CELL 3.1. Box Girder Dengan Dua Lubang

3.2. Gaya-Gaya dan Tegangan Shell dalam Terminologi Gaya Batang

BAB IV : ANALISA PEMBAHASAN STRUKTUR CORE WALL DUA CELL 4.1. Masalah Torsi

4.2. Torsi dan Lentur pada Batang dengan Penampang Dinding Tipis Terbuka

4.3. Torsi pada Batang dengan Penampang Dinding Tipis Tertutup

4.4. Lentur dan Torsi pada Penampang Persegi

BAB V : METODE ELEMEN HINGGA

5.1.Constant Strain Triangle Elemen (CST Elemen) dan Elemen Segi Empat

5.2. Element Quadrilateral Empat Noche Isoparametrik

BAB VI APLIKASI 6.1.Data – Data

6.2.BebanTorsi

6.3.Distribusi Tegangan

6.4.Distribusi Tegangan Pada Sekat Tengah

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan

Gambar

Gambar 1.1. Denah tampang core wall 2 cell

Referensi

Dokumen terkait

Barang yang menjadi sampel penelitian adalah aluminium jenis casement (jendela), yaitu daun casement putih, ceplokan casement putih, kusen tanduk sakura putih dan

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Sekarang saatnya bagi pembeli untuk mengambil keputusan apakah membeli atau tidak membeli. Apabila konsumen memutuskan untuk membeli maka konsumen akan menjumpai

Pilih permukaan ujung benda solid paling atas yang sudah terbentuk tersebut, kemudian Anda klik toolbar Sketcher Sketcher maka akan terbuka bidang sketsa.. Atau Anda juga

Beberapa faktor yang tidak dapat begitu saja diambil dari literatur di luar negeri harus dicari dan diteliti sendiri di Indonesia, misalnya faktor over strength dan tegangan leleh

Alat ini akan bekerja dengan baik untuk partikel dengan ukuran yang lebih besar dari 40 mikron dan tidak digunakan sebagi pemisah debu tingkat akhir. Di industri, terdapat

Selain itu, pelimpahan sebagian kewenangan Bupati Sidoarjo kepada Camat di Kecamatan Tanggulangin ini juga merupakan amanat dari Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004

pendidikan yang dituntut untuk dapat membekali siswa sehingga nantinya dapat menjadi generasi muda yang baik dan sesuai yang diharapkan. Hal ini dibutuhkan kerja sama dengan