• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Perlindungan dan Penegakan Hu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pentingnya Perlindungan dan Penegakan Hu"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Pentingnya Perlindungan dan Penegakan Hukum

Sebagai negara hukum, Indonesia wajib melaksanakan proses perlindungan dan penegakan hukum.

Negara wajib melindungi warga negaranya dari berbagai macam ketidakadilan, ketidaknyaman dan

penyimpangan hukum lainnya. Selain itu, Negara mempunyai kekuasaan untuk memaksa seluruh

warga negaranya untuk melaksanakan semua ketentuan-ketentuan yang berlaku. Perlindungan dan

penegakan hukum sangat penting dilakukan, karena dapat mewujudkan hal-hal berikut ini:

mewujudkan hal-hal berikut ini:

1. Tegaknya supremasi hokum

Supremasi hukum bermakna bahwa hukum mempunyai kekuasaan mutlak

dalam mengatur

pergaulan manusia dalam berbagai macam kehidupan.

Dengan kata lain, semua tindakan warga

negara maupun pemerintahan selalu

berlandaskan pada hukum yang berlaku. Tegaknya supremasi

hukum tidak

akan terwujud apabila aturan-aturan yang berlaku tidak ditegakkan baik oleh

masyarakat maupun aparat penegak hukum.

2. Tegaknya keadilan

Tujuan utama hukum adalah mewujudkan keadilan bagi setiap warga negara. Setiap warga negara

dapat menikmati haknya dan melaksanakan kewajibannya merupakan wujud dari keadilan tersebut.

Hal itu dapat terwujud apabila aturan-aturan ditegakkan.

3.

Mewujudkan perdamaian dalam kehidupan di masyarakat

Kehidupan yang diwarnai suasana yang damai merupakan harapan setiap orang. Perdamaian akan

terwjud apabila setiap orang merasa dilindungi dalam segala bidang kehidupan. Hal itu akan

terwujud apabila aturan-aturan yang berlaku dilaksanakan.

Keberhasilan proses perlindungan dan penegakan hukum tidaklah semata-mata menyangkut

ditegakkannya hukum yang berlaku, akan tetapi menurut Soerjono Soekanto (dalam bukunya yang

berjudul

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Penegakan Hukum

, 2002) sangat tergantung pula dari

beberapa faktor, antara lain:

1.

Hukumnya

. Dalam hal ini yang dimaksud adalah undang-undang dibuat tidak boleh

bertentangan dengan ideologi negara, dan undang-undang dibuat haruslah menurut ketentuan yang

mengatur kewenangan pembuatan undangundang sebagaimana diatur dalam Konstitusi negara, serta

undang dibuat haruslah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di mana

undang-undang tersebut diberlakukan.

2.

Penegak hukum

, yakni pihakpihak yang secara langsung terlibat dalam bidang penegakan

hukum. Penegak hukum harus menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan peranannya

masing-masing yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Dalam menjalankan tugas

tersebut dilakukan dengan mengutamakan keadilan dan profesionalisme, sehingga menjadi panutan

masyarakat serta dipercaya oleh semua pihak termasuk semua anggota masyarakat.

3.

Masyarakat

, yakni masyarakat lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

Maksudnya warga masyarakat harus mengetahui dan memahami hukum yang berlaku, serta menaati

hukum yang berlaku dengan penuh kesadaran akan penting dan perlunya hukum bagi kehidupan

masyarakat.

(2)

memadai, keuangan yang cukup, dan sebagainya. Ketersediaan sarana dan fasilitas yang memadai

merupakan suatu keharusan bagi keberhasilan penegakan hukum.

5.

Kebudayaan, yakni sebagai hasil karya

, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia

di dalam pergaulan hidup. Dalam hal ini kebudayaan mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum

yang berlaku, nilai-nilai mana merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap

baik sehingga dianut, dan apa yang dianggap buruk sehingga dihindari.

HAMBATAN & TANTANGAN DALAM

PENEGAKAN HAM

Tentang berbagai hambatan dalam

pelaksanaan dan penegakan hak asasi

manusia di Indonesia, dapat kita

identifikasi sebagai berikut:

1. SECARA UMUM

A.Faktor Kondidisi Sosial-Budaya

1. Stratifikasi dan status sosial; yaitu

tingkat pendidikan, usia, pekerjaan,

keturunan dan ekonomi masyarakat

Indonesia yang multikompleks

(heterogen)

2. Norma adat atau budaya lokal yang

kadang bertentangan dengan HAM,

terutama jika sudah bersinggungan

dengan kedudukan seseorang,

upacara-upacara sakral, pergaulan dan sebagainya.

3. Masih adanya konflik horizontal

dikalangan masyarakat yang hanya

disebabkan oleh hal-hal sepele.

B.Faktor komunikasi dan Informasi

1. Letak geografis Indonesia yang luas

dengan laut, sungai, hutan, dan gunung

yang membatasi komunikasi antar daerah.

2. Sarana dan prasarana komunikasi dan

informasi yang belum terbangun secara

baik yang mencakup seluruh wilayah

Indonesia.

3. Sistem informasi untuk kepentingan

sosialisasi yang masih sangat terbatas baik

sumber daya manusianya maupun

perangkat yang diperlukan.

C. Faktor kebijakkan pemerintah

1. Tidak semua penguasa memiliki

kebijakkan yang sama tentang pentingnya

jaminan hak asasi manusia.

(3)

3. peran pengawasan legislatif dan

kontrol sosial oleh masyarakat terhadap

pemerintah sering diartikan oleh

penguasa sebagai tindakan

“pembangkangan”

D.Faktor perangkat perundangan

1. Pemerintahan tidak segera meratifikasi

hasil-hasil konvensi internasional tentang

hak asasi manusia.

2. Kalaupun ada, peraturan

perundang-undangannya masih sulit untuk

diimplementasikan.

E. Faktor Aparat dan Penindakannya.

(Law Enforcement)

1. Masih adanya oknum aparat yang

secara institusi atau pribadi mengabaikan

prosedur kerja yang sesuai dengan hak

asasi manusia.

2. Tingkat pendidikan dan kesejahteraan

sebagian aparat yang dinilai masih belum

layak sering membuka peluang (jalan

pintas) untuk memperkaya diri.

3. Pelaksanaan tindakan pelanggaran oleh

oknum aparat masih diskriminatif, tidak

konsekuen, dan tindakan penyimpangan

berupa KKN

2. MENURUT WILAYAHNYA

A. DARI DALAM NEGERI

Kualitas peraturan perundang-undangan.

Kualitas peraturan perundang-undangan

belum sesuai dengan harapan

masyarakat. Ini disebabkan oleh hal-hal

berikut:

a. Adanya hukum, sebagai peninggalan

atau warisan hukum kolonial.

b. Adanya peraturan perundang-undangan

yang dikeluarkan oleh pemerintahan masa

lalu (ORLA) yang bersifat otoriter seperti

UU No.11 PPNS/1963 tentang subversi.

Penegakan hukum yang tidak bijaksana

karena bertentangan dengan aspirasi

masyarakat.

Kesadaran hukum yang masih rendah

sebagai akibat redahnya SDM

Rendahnya penguasaan hukum dari

sebahagian aparat penegak hukum.

(4)

Budaya hukum dan HAM yang belum

terpadu.

Keadaan geografis Indonesia yang luas.

B. DARI LUAR NEGERI

Penetrasi ideologi dan kekuatan

komunisme.

Penetrasi ideologi dan kekuatan

liberalisme.

TANTANGAN PENEGAKAN HAM

1. Prinsip Universal, yaitu bahwa adanya

hak-hak asasi manusia bersifat

fundamental dan memiliki keberlakuan

universal, karena jelas tercantum dalam

piagam PBB dan oleh karenanya

merupakan bagian dari keterikatan setiap

anggota PBB

2. Prinsip Pembangunan nasional, yaitu

bahwa kemajuan ekonomi dan sosial

melalui keberhasilan pembangunan

nasional dapat membantu tercapainya

tujuan peningkatan demokrasi dan

perlindungan terhadap asasi manusia.

3. Prinsip Kesatuan hak-hak asasi

manusia, yaitu berbagai jenis atau

kategori hak-hak asasi manusia, yang

meliputi hak-hak sipil dan politik disatu

pihak dan hak-hak ekonomi, sosial dan

kultural dipihak lain.

4. Prinsip Objektivitas atau Non

Selektivitas, yaitu penolakkan terhadap

pendekatan atau penilaian terhadap

pelaksanaan hak-hak asasi pada suatu

negara oleh pihak luar, yang hannya

menonjolkan salah satu jenis hak asasi

manusia saja mengabaikan hak-hak asasi

manusia lainya.

5. Prinsip Keseimbangan, yaitu

keseimbangan dan keselarasan antara

hak-hak perseorangan dan hak-hak

masyarakat dan bangsa, sesuai dengan

kodrat manusia sebagai makhluk

individual dan makhluk sosial sekaligus.

6. Prinsip Kompetensi nasional, yaitu

bahwa penerapan dan perlindungan

hak-hak asasi manusia merupakan kompetensi

dan tanggung jawab nasional.

(5)

aturan-aturan hukum, baik hukum tertulis

maupun hukum tidak tertulis.

Di Indonesia terdapat beberapa pejuang HAM, berikut ini adalah beberapa orang yang terlibat

dalam pejuang Hak Asasi Manusia ;

Pertama adalah

Yap Thiam Hien

, beliau lahir di Kota Radja, Aceh pada 25 Mei 1913 dan wafat

pada 25 April 1989. Beliau adalah seorang pengacara yang memiliki keturunan Tionghoa. Beliau

mengabdikan seluruh hidupnya demi menegakkan keadilan dan HAM Namanya diabadikan sebagai

nama sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar bagi penegakan

hak asasi manusia di Indonesia.

Kedua adalah

Abdul Hakim Garuda Nusantara

, beliau lahir di Pekalongan pada 12 Desember

1954. Mantan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ini terpilih menjadi

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2002-2007).

Berikutnya adalah

Munir Said Thalib,

beliau lahir di Malang pada 8 Desember 1965 dan

meninggal pada 7 September 2004 saat ingin melanjutkan pendidikan masternya di bidang hukum.

Ia dihormati oleh para aktivitis, LSM, hingga dunia internasional.

(6)

Ketiga tokoh di atas hanya merupakan beberapa contoh tokoh HAM di Indonesia, masih ada

beberapa tokoh HAM lain yang ada pernah berjuang untuk Indonesia.

HAM atau singkatan dari hak asasi manusia kini sudah bannyak dilanggar oleh manusia itu sendiri. hal ini dikarenakan masih banyak yang belum mengerti definisi dan pengertian HAM itu sendiri. di artikel kali ini akan dibahas mengenai contoh kasus pelanggaran HAM berat di seluruh dunia maupun di Indonesia dan bagaimana upaya penegakannya. nah langsung saja simak Pengertian Hak dan Kewajiban Asasi Manusia berikut ini . . .

- Hak Asasi Manusia (HAM)

Hak asasi manusia merupakan hak yang bersifat asasi, artinya hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya. Jadi, hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Jika memperhatikan UUD 1945 hasil amandemen IV, maka jaminan terhadap HAM diatur dalam Pasal 27, 28 28A – 28I, 29, 30, dan 31.

- Kewajiban Asasi Manusia

Disamping ada hak asasi ada pula kewajiban asasi yang harus kita laksanakan terlebih dahulu sebelum menuntut hak. Dalam pelaksanaannya, hak asasi manusia itu tidak dapat dituntut secara mutlak karena penuntutan pelaksanaan hak asasi manusia secara mutlak, dapat melanggar hak-hak asasi orang lain. Contohnya, jika berjalan di jalan umum, kita tidak dapat berjalan sesuai dengan kehendak kita karena ada orang lain juga yang mempunyai hak untuk menggunakan jalan tersebut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 1 angka (2) menegaskan bahwa ”kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak

memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia”. Contoh kewajiban asasi seperti yang dijamin dalam UUD NKRI 1945 sebagaimana termaktub dalam Pasal 27, 28 J dan Pasal 30.

Kasus-kasus Pelanggaran HAM

Dalam sejarah peradaban manusia telah banyak peristiwa dan penindasan terhadap manusia, baik yang terjadi di wilayah publik maupun pada wilayah domestik yang di dalamnya terjadi tindakan pelanggaran HAM. Sebagai contoh; Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda dan Jepang, oleh karena itu muncullah bentuk-bentuk perlawanan untuk melindungi HAM dengan melakukan perlawanan terhadap para penguasa yang menindas. Adanya bentuk pertentangan yang terjadi antara penjajah dengan yang dijajah, yang berkuasa dengan rakyat, mayoritas dan minoritas, kaya dan miskin serta tuan dan budak. Berdasarkan hal tersebut maka kita dapat mengidentifikasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi diseluruh dunia. berikut contoh kasus pelanggaran HAM terbesar di dunia yang umum terjadi, diantaranya sebagai berikut :

Contoh kasus pelanggaran HAM di dunia internasional :

1. Bentuk penjajahan yang terjadi pada masa lalu yang dilakukan oleh negara-negara imperialis (Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang).

2. Pembantaian Suku atau kaum Minoritas (pembantaian suku Kurdi dan pembantaian warga Bosnia).

3. Pembantaian Ras (yang dilakukan oleh NAZI pada masa Hitler).

4. Kejahatan perang yang dilakukan oleh suatu rezim atau elite politik yang berkuasa.

5. Penindasan Ras kulit hitam di Afrika.

Contoh kasus pelanggaran HAM di Indonesia :

(7)

Munir Said Thalib bukan sembarang orang, dia adalah aktifis HAM yang pernah menangani kasus-kasus pelanggaran HAM. Munir lahir di Malang, 8 Desember 1965. Munir pernah menangani kasus pelanggaran HAM di Indonesia seperti kasus pembunuhan Marsinah, kasus Timor-Timur dan masih banyak lagi. Munir meninggal pada tanggal 7 September 2004 di dalam pesawat Garuda Indonesia ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Amsterdam, Belanda. Spekulasi mulai bermunculan, banyak berita yang mengabarkan bahwa Munir meninggal di pesawat karena dibunuh, serangan jantung bahkan diracuni. Namun, sebagian orang percaya bahwa Munir meninggal karena diracuni dengan Arsenikum di makanan atau minumannya saat di dalam pesawat.

2. Pembunuhan Aktivis Buruh Wanita, Marsinah

Marsinah merupakan salah satu buruh yang bekerja di PT. Catur Putra Surya (CPS) yang terletak di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Masalah muncul ketika Marsinah bersama dengan teman-teman sesama buruh dari PT. CPS menggelar unjuk rasa, mereka menuntut untuk menaikkan upah buruh pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993. Dia aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Masalah memuncak ketika Marsinah menghilang dan tidak diketahui oleh rekannya, dan sampai akhirnya pada tanggal 8 Mei 1993 Marsinah ditemukan meninggal dunia.

3. Penembakan Mahasiswa Trisakti

Kasus penembakan mahasiswa Trisakti merupakan salah satu kasus penembakan kepada para mahasiswa Trisakti yang sedang berdemonstrasi oleh para anggota polisi dan militer.

4. Peristiwa Tanjung Priok

Kasus ini murni pelanggaran HAM. Bermula ketika warga sekitar Tanjung Priok, Jakarta Utara melakukan demonstrasi beserta kerusuhan yang mengakibatkan bentrok antara warga dengan kepolisian dan anggota TNI yang mengakibatkan sebagian warga tewas dan luka-luka.

Upaya-upaya Penegakan HAM

Pasal 28 UUD NKRI 1945 menjamin adanya hak berserikat, menyatakan pikiran baik secara lisan maupun tulisan. Pasal ini merupakan salah satu dasar utama adanya kehidupan kenegaraan yang berdinamika di mana setiap orang bebas mendirikan organisasi dan bebas pula menyatakan pendapat. Dari penjelasan tersebut mencerminkan bangsa Indonesia menjamin pelaksanaan HAM, dimana dalam pelaksanaanya memerlukan dukungan dari semua pihak seperti tokoh masyarakat, LSM, POLRI, TNI dan kalangan profesi hukum, ekonomi, politik, serta political will pemerintah Indonesia. Perjalanan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang demokratis tanpa melupakan budaya bangsa yang sudah berakar beratus-ratus tahun lampau tetap harus berlandaskan pada prinsip supremasi hukum, transparansi, akuntabilitas,

profesionalisme serta prinsip musyawarah dan mufakat. Adapun langkah-langkah pembentukan sistem hukum yang ditempuh bangsa Indonesia dalam upaya penegakan HAM adalah sebagai berikut:

a. Prinsip transparansi; yaitu pembahasan naskah RUU harus terbuka, artinya DPR dan Presiden dalam membuat UU harus terbuka menerima masukan dari masyarakat.

b. Prinsip supremasi hukum; yaitu kepastian hukum, persamaan kedududkan didepan hukum dan keadilan hukum berdasarkan proporsionalitas.

c. Prinsip profesionalisme; yaitu dalam penyusunan dan pembentukan hukum keikutsertaan dan perananan pakar-pakar hukum dan non hukum yang releVan harus diutamakan sehingga diharapkan dapat melahirkan perundang-undangan yang berkualitas.

d. Internalisasi nilai-nilai HAM; yaitu wujud nyata dari pengakuan rakyat dan pemerintah terhadap hak-hak asasi manusia sehingga diharapkan memberikan karakteristik tersendiri terhadap setiap produk hukum dan perundang-undangan.

(8)

1. UUD NKRI 1945

2. UU No. 5 Thn 1998 tentang pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia .

3. UU No. 9 Thn 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum

4. UU No. 39 Thn 1999 tentang HAM

5. UU No. 26 Thn 2000 tentang pengadilan HAM

6. UU No. 23 Thn 2004 tentang PKDRT

7. UU No. 12 Thn 2006 tentang UU kewarganegaraan

8. UU No. 23 Thn 2002 tentang perlindungan anak

Nah, itu tadi sedikit mengenai beberapa contoh kasus pelanggaran HAM dan bagaimana cara upaya penegakannya sehingga tidak ditemui lagi kejahatan kemanusiaan yang telah merusak hak- hak hidup masyarakat.

Instrumen terpenting dalam upaya penegakan HAM di Indonesia adalah peradilan. Agar dapat memahami dengan baik peran yang dilaksanakan oleh lembaga peradilan terkait dengan penegakan HAM di Indonesia, kita harus mengenal lembaga peradilan secara baik, terutama tentang kedudukan dan wewenangnya.

1. Kedudukan dan Kewenangan Peradilan HAM

Kedudukan pengadilan hak asasi manusia (HAM) adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia berat yang berada di lingkungan peradilan umum.

Pengadilan hak asasi manusia berkedudukan di daerah kabupaten atau kota yang daerah hukumnya meliputi daerah khusus Jakarta, pengadilan negeri yang bersangkutan. Adapun untuk daerah khusus Jakarta, pengadilan hak asasi manusia berkedudukan di setiap wilayah pengadilan negeri yang bersangkutan.

Lingkup kewenangan peradilan hak asasi manusia diatur oleh undang-undang pada Pasal 4 UU No. 26/2000 dinyatakan, "Pengadilan hak asasi manusia bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara dan pelanggaran hak asasi manusia yang berat".

Perlu diketahui bahwa perkataan "memeriksa dan memutus dalam ketentuan ini" termasuk menyelesaikan perkara yang menyangkut kompensasi restitusi dan rehabilisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Maksud pelanggaran hak asasi yang berat adalah kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan sesuai dengan "rome status of international criminal court".

2. Penyelidikan, Penyidikan, dan Penangkapan

Menurut pasal 1 UU No. 26/2000, penyelidikan adalah "serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan menemukan ada tidaknya suatu peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berat guna ditindak lanjuti dengan penyelidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang".

Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah penindakan atau penyidikan oleh penyidik. Penyidikan perkara pelanggaran hak asasi manusia diatur di dalam pasal 21 UU No. 26/2000 sebagai berikut:

1. Penyidikan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan oleh jaksa agung;

(9)

3. Selama pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jaksa agung dapat mengangkat Panitia Ad Hoch yang terdiri atas unsur pemerintah atau masyarakat;

4. Sebelum melaksanakan tugas. Penyidik Ad Hoeh mengucapkan sumpah janji menurut agamanya masing-masing.

Tindakan berikutnya adalah penangkapan. Menurut pasal 11 ayat 1 UU No. 26/2000, "Jaksa agung sebagai penyidik berwenang melakukan penangkapan untuk kepentingan penyidikan terhadap seorang yang diduga keras melakukan pelanggaran hak asasi yang berat berdasarkan bukti permulaan yang cukup".

3. Pemeriksaan Sidang Pengadilan

Peradilan hak asasi manusia merupakan bagian dari peradilan umum atau peradilan negeri yang bertugas menyelesaikan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Menurut pasal 27, "Perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat diperiksa dan diputus oleh pengadilan hak asasi manusia sebagaimana dalam pasal 4".

Penuntutan dilakukan setelah tahap penyelidikan selesai. Berkas perkara atas pelanggaran hak asasi manusia itu diserahkan kepada pengadilan hak asasi manusia oleh jaksa agung untuk diperiksa dan diputus. Penuntutan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan oleh jaksa agung.

4. Perlindungan Korban Pelanggaran HAM

Korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat wajib mendapat perlindungan, baik fisik maupun mental, dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak mana pun.

Apabila terhadap korban dan saksi tidak diadakan perlindungan oleh aparat penegak hukum dan keamanan setempat, dikhawatirkan terhadap korban dan saksi akan terancam jiwa dan mentalnya. Bahkan, mereka bisa saja selalu merasa dihantui oleh kejadian yang dialaminya. Korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat atau ahli warisnya berhak untuk mendapatkan kompensasi restitusi dan rehabilitasi atas namanya.

Kompensasi merupakan imbalan yang diberikan oleh negara karena pelaku tidak mampu memberikan ganti rugi yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab. Restitusi adalah ganti rugi yang diberikan kepada korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga. Restitusi dapat berupa:

 Pengembalian harta milik;

 Pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan;

 Penggantian biaya untuk tindakan tertentu.

(10)

Ringkasan Materi PKn Kelas X

Materi (Kasus Pelanggaran HAM)

Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia atau HAM adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai anugerah yang melekat pada setiap diri manusia sejak lahir. Adapun pengertian HAM menurut para ahli adalah hak yang dimiliki oleh seseorang karena orang itu manusia. HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Selain itu HAM juga diartikan sebagai hak yang bersifat asasi. Artinya, hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci.

Dari beberapa pendapat para ahli, maka HAM dapat dikatakan sebagai dasar yang meliputi hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak untuk memiliki sesuatu dan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian diataranya adalah Hak asasi pribadi, hak asasi ekonomi, hak asasi politik, hak asasi dalam tata peradilan, hak asasi sosial budaya, dan hak asaski mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.

Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999, merinci HAM sebagai berikut : 1. Hak untuk hidup.

2. Hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 3. Hak mengembangkan diri.

4. Hak memperoleh keadilan. 5. Hak atas kebebasan pribadi. 6. Hak atas rasa aman. 7. Hak atas kesejahteraan.

8. Hak turut serta dalam pemerintahan. 9. Hak wanita.

10. Hak anak.

Kewajiban Asasi

Disamping ada hak asasi ada pula kewajiban asasi yang harus kita laksanakan terlebih dahulu sebelum menuntut hak. Dalam pelaksanaannya, hak asasi manusia itu tidak dapat dituntut secara mutlak karena penuntutan pelaksanaan hak asasi manusia secara mutlak, dapat melanggar hak-hak asasi orang lain. Contohnya, jika berjalan di jalan umum, kita tidak dapat berjalan sesuai dengan kehendak kita karena ada orang lain juga yang mempunyai hak untuk menggunakan jalan tersebut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 1 angka (2) menegaskan bahwa ”kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia”. Contoh kewajiban asasi seperti yang dijamin dalam UUD NKRI 1945 sebagaimana termaktub dalam Pasal 27, 28 J dan Pasal 30.

Contoh Kasus Pelanggaran HAM di Indonesiadan Penegakannya

(11)

Upaya penegakan terhadap kasus pelanggaran HAM tergantung pada apakah pelanggaran HAM itu masuk kategori berat atau bukan. Apabila berat, maka penyelesaiannya melalui Peradilan HAM, namun apabila pelanggaran HAM bukan berat melalui Peradilan Umum. Kita sebagai manusia dan sekaligus sebagai warga negara yang baik, bila melihat atau mendengar terjadinya pelanggaran HAM sudah seharusnya memiliki kepedulian. Meskipun pelanggaran itu tidak mengenai diri kalian atau keluarga kalian. Kita sebagai sesama anak bangsa harus peduli terhadap korban pelanggaran HAM atas sesamanya. Baik korban itu anak, wanita, laki – laki, berbeda agama, suku dan daerah semua itu saudara kita. Saudara kita di Merauke – Papua menyatakan “IZAKOD BEKAI IZAKOD KAI” (satu hati satu tujuan) .

Kepedulian kita terhadap penegakan HAM merupakan amanah dari nilai Pancasila yakni kemanusiaan yang adil dan beradab yang sama – sama kita junjung tinggi, karena akan dapat menghantarkan sebagai bangsa yang beradab. Oleh karena itu sikap tidak peduli harus dihindari.

Kasus Pelanggaran dan Penyelesaiannya

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Adapun contoh kasus pelanggarah HAM yang akan dipublikasikan meliputi kasus pelanggaran HAM yang sudah diajukan ke sidang pengadilan.

1. Peristiwa Tanjung Priok

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1984 dengan jumlah korban sebanyak 74 orang. Peristiwa ini ditandai dengan penyerangan terhadap masa yang berunjuk rasa, dan penyelesaiannya sudah berlangsung di Pengadilan HAM ad hoc Jakarta pada tahun 2003 hingga 2004.

2. Penculikan Aktivis 1998

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1984-1998 dengan jumlah korban sebanyak 23 orang. Peristiwa ini ditandai dengan penghilangan secara paksa oleh pihak Militer terhadap para aktivis pro-demokrasi. Penyelesaian kasus ini sudah dilakukan di Pengadilan Militer untuk anggota tim mawar.

3. Penembakan Mahasiswa Trisakti

Kasus penembakan mahasiswa Trisakti terjadi pada tahun 1998 dengan jumlah korban sekitar 31 orang. Peristiwa ini tidandai dengan penembakan aparat terhadap mahasiswa yang sedang berunjuk rasa. Penyelesaian kasus ini sudah dilaksanakan di Pengadilan Militer bagi pelaku lapangan.

4. Kerusuhan Timor-Timur Pasca JajakPendapat

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1999 dengan jumlah korban sebanyak 97 orang. Peristiwa ini ditandai dengan Agresi Militer dan penyelesaiannya sudah dilakukan di Pengadilan HAM ad hoc Jakarta pada tahun 2002 hingga 2003.

5. Peristiwa Abepura,Papua

Kasus pelanggaran HAM ini terjadi pada tahun 2000 dengan jumlah korban sebanayak 63 orang. Peristiwa ini ditandai dengan penyisiran secara membabi buta terhadap pelaku yang diduga menyerang Mapolsek Abepura. Penyelesaian kasus ini sudah dilakukan di Pengadilan HAM di Makassar.

Upaya-upaya Penegakan HAM

Pasal 28 UUD NKRI 1945 menjamin adanya hak berserikat, menyatakan pikiran baik secara lisan maupun tulisan. Pasal ini merupakan salah satu dasar utama adanya kehidupan kenegaraan yang berdinamika di mana setiap orang bebas mendirikan organisasi dan bebas pula menyatakan pendapat. Dari penjelasan tersebut mencerminkan bangsa Indonesia menjamin pelaksanaan HAM, dimana dalam pelaksanaanya memerlukan dukungan dari semua pihak seperti tokoh masyarakat, LSM, POLRI, TNI dan kalangan profesi hukum, ekonomi, politik, serta political will pemerintah Indonesia. Perjalanan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang demokratis tanpa melupakan budaya bangsa yang sudah berakar beratus-ratus tahun lampau tetap harus berlandaskan pada prinsip supremasi hukum, transparansi, akuntabilitas, profesionalisme serta prinsip musyawarah dan mufakat. Adapun langkah-langkah pembentukan sistem hukum yang ditempuh bangsa Indonesia dalam upaya penegakan HAM adalah sebagai berikut:

a. Prinsip transparansi; yaitu pembahasan naskah RUU harus terbuka, artinya DPR dan Presiden dalam membuat UU harus terbuka menerima masukan dari masyarakat.

(12)

c. Prinsip profesionalisme; yaitu dalam penyusunan dan pembentukan hukum keikutsertaan dan perananan pakar-pakar hukum dan non hukum yang releVan harus diutamakan sehingga diharapkan dapat melahirkan perundang-undangan yang berkualitas.

d. Internalisasi nilai-nilai HAM; yaitu wujud nyata dari pengakuan rakyat dan pemerintah terhadap hak-hak asasi manusia sehingga diharapkan memberikan karakteristik tersendiri terhadap setiap produk hukum dan perundang-undangan.

Selanjutnya langkah-langkah hukum yang ditempuh pemerintah Indonesia telah diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan yakni :

1. UUD NKRI 1945

2. UU No. 5 Thn 1998 tentang pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia .

3. UU No. 9 Thn 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum

4. UU No. 39 Thn 1999 tentang HAM

5. UU No. 26 Thn 2000 tentang pengadilan HAM

6. UU No. 23 Thn 2004 tentang PKDRT

7. UU No. 12 Thn 2006 tentang UU kewarganegaraan

8. UU No. 23 Thn 2002 tentang perlindungan anak

Pengadilan HAM

Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum dan berkedudukan di daerah kabupaten atau kota. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM berat yang meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan (UURI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM) Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompk bangsa, ras, kelompok, etnis, dan agama. Cara yang dilakukan dalam kejahatan genosida, misalnya ; membunuh, tindakan yang mengakibatkan penderitaan fisik atau mental, menciptakan kondisi yang berakibat kemusnahan fisik, memaksa tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran, memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. Sedangkan yang dimaksud

kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. Kejahatan terhadap kemanusiaan

misalnya:

1. pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, penyiksaan; 2. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;

3. perampasan kemerdekaan atau perampasan kemerdekaan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar ketentuan pokok hukum internasional;

4. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara;

5. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;

6. penghilangan orang secara paksa (penangkapan, penahanan, atau penculikan disertai penolakan pengakuan melakukan tindakan tersebut dan pemberian informasi tentang nasib dan keberadaan korban dengan maksud melepaskan dari perlindungan hukum dalam waktu yang panjang);

(13)

Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat. Pengadilan HAM juga berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan di luar batas territorial wilayah negara RI oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Disamping itu juga dikenal Pengadilan HAM Ad Hoc, yang diberi kewenangan untuk mengadili pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum di undangkannya UURI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Oleh karena itu pelanggaran HAM berat tidak mengenal kadaluwarsa. Dengan kata lain adanya Pengadilan HAM Ad Hoc merupakan pemberlakuan asas retroactive (berlaku surut) terhadap pelanggaran HAM berat.

Hambatan dan Tantangan dalam Penegakan HAM di Indonesia. a. Dari Dalam Negeri

Hambatan dan tantangan yang berasal dari dalam negeri, antara lain sebagai berikut : 1. Kualitas peraturan perundang undangan yang belum sesuai dengan harapan masyarakat

Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai peraturan (materi) hukum peninggalan atau warisan kolonial (peninggalan zaman kolonial belanda), padahal sejak kemerdekaan Indonesia sudah berlaku tata hukum nasional.

Tentu saja jiwa dan latar belakangnya sangat erat dengan nilai- nilai dan sistem politik penjajah. Yang jauh dari perlindungan, keadilan dan hak asasi manusia Indonesia.

2. Penegakan hukum yang kurang atau tidak bijaksana karena bertentangan dengan aspirasi masyarakat Misalnya :

Hak atas penggunaan tanah yang kepemilikannya di atur oleh undang undang, di buktikan dengan sertifikat kepemilikan tanah. Secara yuridis formal sah-sah saja pemilik lahan menggunakan lahannya menurut kepentingannya,

namunaspirasi masyarakat bisa saja bertentangan dengan pemilik lahan.

Untuk itu, di perlukan kesadaran semua pihak akan pentingnya penggunaan hak dan kewajiban asasi orang lain.

3. Kesadaran hukum yang masih rendah sebagai akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Berbagai bentuk pelanggaran hukum atau ketidakpedulian terhadap perlindungan hak asasi orang lain sering terjadi karena hal ini.

Misalnya :

Keroyok massa, salah suatu perbuatan main hakim sendiri ( eigenrichting ) yang biasanya dianggap perbuatan yang biasa dan bukan pelanggaran hukum di masyarakat. Dan penegak hukum di masyarakat pun tidak mampu menegakkan hukum dalam situai kacau yang melibatkan massa seperti itu.

Salah satu solusinya bagi anak zaman sekarang adalah dengan belajar sehingga memperoleh pendidikan di bangku sekolah yang tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia di indonesia dan untuk mendidik anak agar mengerti hukum.

4. Rendahnya penguasaan hukum dari sebagian aparat penegak hukum

Sebagai seorang penegak hukum di suatu negara, seharusnya mereka bisa menguasai hukum baik teori maupun pelaksanaannya. Serius dan profesional dalam menangani perkara hukum yang terjadi. Tetapi jangan menggunakan cara yang kasar yang bertentangan dengan hukum itu sendiri.

5. Mekanisme lembaga penegak hukum yang fragmentaris, sehingga sering timbul disparitas penegak hukum dalam kasus yang sama.

Sistem pengadilan hukum dan upaya mencari keadilan di negegara kita mengenai tingkatan peradilan yang belum sepenuhnya di pahami masyarakat. Secara kenyataan, di negara kita berlaku sistem hukuman maksimal dalam hukum pidana materiil (KUHP) dan hukuman hukuman lainnya yang di berikan kepada pelanggar sesuai dengan perbuatannya. Oleh sebab itu, di mungkinkan terjadinya perbedaan bobot hukuman oleh hakim dari tingkat peradilan yang berbeda walaupun dalam perkara yang sama. Akubatnya sebagian warga masyarakat merasakan tidak adanya kepastian hukum.

6. Budaya hukum dan hak asasi manusia yang belum terpadu

Perbedaan persepsi dalam kasus hukum tertentu masih sering mewarnai kehidupan masyarakat. Misalnya :

Orang tua menganiaya anak kandungnya hingga melewati batas kewajaran yang menurutnya itu adalah hal yang wajar dalam mendidik anaknya. Sebagian warga ada yang setuju dengan orang tua itu dan sebagian lagi justru bertentangan. Tetapi sebaiknya orang tua tersebut tidak boleh mendidik anaknya dengan kasar sehingga melanggar terhadap HAM dan anak tersebut seharusnya mendengarkan nasehat orang tuanya.

7. Keadaan geografis indonesia yang luas

(14)

mensosialisasikannya. Akibatnya banyak warga indonesia yang tidak mengetahui tentang pelanggaran hak asasi manusia yang mungkin saja mereka lakukan.

Menurut prof. Baharuddin Lopa, S.H. ada 4 macam pelanggaran HAM di Indonesia, yaitu :

a. Adanya kecenderungan pada pihak pihak tertentu, terutama yang memiliki kekuasaan dan wewenang, saling tidak mampu mengekang.

b. Adanya kebiasaan bahwa pihak yang memiliki wewenang dan kekuasaan, masih sering menyalah gunakannya. c. Masih kentalnya budaya “ewuh pakewuh” artinya rasa tidak enak di perasaan, sehingga membuka peluang terjadinya pelanggaran HAM sehingga penegakkannya (enforcement) terganggu.

d. Law enforcement masih lemahdan sering kali bersifat diskriminatif. b. Dari Luar Negeri

Hambatan dan tantangan dari luar negeri, antara lain : 1. Penetrasi Ideologi dan Kekuatan Komunisme

Di era global sekarang pengaruh ideologi asing sangat mudah masuk ke suatu negara termasuk Indonesia, misalnya komunisme. Meskipun idiologi ini semakin kurang popular namun tetap perlu diwaspadai. Inti ajaran dari Karl Marx yang disebut histories materialisme merupakan asal mula ajaran komunisme dunia.

Dalam praktiknya ajaran komunisme mempunyai ciri menonjol, yaitu: a. Di bidang politik

Pemerintah dipegang oleh kaum proletar yang menjalankan pemerintahan secara diktator , sehingga disebut diktator proletariat. Dalam hal ini penguasa dapat bertindak apa saja dan menyingkirkan siapa sajayang dianggap menghambat tercapainya tujuan.

b. Di bidang ekonomi

Seluruh aktivitas ekonomi dipegang secara totaliter oleh negara. Hak milik perorangan terhadap alat produksi tidak diakui, karena semuanya sudah ditentukan oleh pusat ( sentralisasi ).

c. Di bidang agama

Negara yang menganut paham komunisme melarang rakyatnya untuk memeluk agama, karena agama dianggap racun masyarakat yang dapat menghambat kemajuan.

Atas dasar pelaksanaan yang demikian, ajaran komunis mempunyai empat kecendurungan, dan dampak yang kurang kondusif bagi tegaknya hak asasi manusia, yaitu:

a) Timbulnya suasana tegang dan resah, karena komunis cenderung menciptakan konflik dan kontradiksi bagi masyarakan dalam merebut kekuasaan.

b) Terciptanya sistem otoriter, sebab awal terbentuknya masyarakat didahului oleh sistem dictator proletariat, kemudian sistem dictator jatuh ke tangan partai.

c) Timbulnya proses dehumanisasi, yaitu timbulnya berbagai tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabat manusia diluar batas kemanusiaan. Sebabnya ajaran menghalalkan segala cara menjadi popular di masyarakat komunis. d) Menjalankan ekspansi kekuasaan karena tujuan komunisme internasional adalah menjadikan masyarakat dunia ini seluruhnya menjadi komunis ( menkomuniskan dunia).

2. Penetrasi Idiologi dan Kekuatan Liberalisme.

Liberalisme barasal dari kata liberal yang berarti berpendirian bebas. Liberalisme adalah suatu paham yang melihat manusia sebagai mahluk bebas. Artinya, manusia memiliki kemauan bebas serta merdeka serta harus di berikan kesempatan untuk memajukan diri sendiri dengan merdeka pula. Liberal membatasi hak negara untuk urusan ekonomi, kebudayaan, agama dan sebagainya.

Dalam bidang politik, kebebasan individu atau partai sanagat ditonjolkan sehingga dikenal adanya adanya partai oposisi dan mosi tidak percaya kepada pemerintah.

Paham Liberalisme dilaksanakan di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Asia. Paha mini menghendaki hal-hal berikut

a) Kekuasaan mutlak mayoritas atas minoritas.

b) Lebih mengutamakan pemungutan suara mayoritas dalam mengambil keputusan. c) Golongan besar dan kuat dapat memaksakan kehendaknyanya kepada minoritas.

Kebebasan yang tidak terkendali dapat mengganggu jalannya pemerintahan, contohnya pelaksanaan demonstrasi. d) Di bidang ekonomi, persaingan bebas akan mematikan ekonomi golongan lemah.

(15)

Dalam upaya perlindungan dan penegakan HAM telah dibentuk lembaga – lembaga resmi oleh pemerintah seperti Komnas HAM, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Peradilan HAM dan lembaga – lembaga yang dibentuk oleh masyarakat terutama dalam bentuk LSM pro-demokrasi dan HAM. Uraian masing – masing sebagai berikut.

Komnas HAM

Komisi Nasional (Komnas) HAM pada awalnya dibentuk dengan Keppres Nomor 50 Tahun 1993. Pembentukan komisi ini merupakan jawaban terhadap tuntutan masyarakat maupun tekanan dunia internasional tentang perlunya penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Kemudian dengan lahirnya UURI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang didalamnya mengatur tentang Komnas HAM ( Bab VIII, pasal 75 s/d. 99) maka Komnas HAM yang terbentuk dengan Kepres tersebut harus menyesuaikan dengan UURI Nomor 39 Tahun 1999.

Komnas HAM bertujuan:

1. membantu pengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia.

2. meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.

(16)

1) Fungsi pengkajian dan penelitian.

Untuk melaksanakan fungsi ini, Komnas HAM berwenang antara lain:

 melakukan pengkajian dan penelitian berbagai instrumen internasional dengan tujuan memberikan saran – saran mengenai kemungkinan aksesi dan atau ratifikasi.

 melakukan pengkajian dan penelitian berbagai peraturan perundang-undangan untuk memberikan rekomendasi mengenai pembentukan,perubahan dan pencabutan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

2) Fungsi penyuluhan.

Dalam rangka pelaksanaan fungsi ini, Komnas HAM berwenang:

 menyebarluaskan wawasan mengenai hak asasi manusia kepada masyarakat Indonesia.

 meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia melalui lembaga pendidikan formal dan non formal serta berbagai kalangan lainnya.

 kerjasama dengan organisasi, lembaga atau pihak lain baik tingkat nasional, regional, maupun internasional dalam bidang hak asasi manusia.

3) Fungsi pemantauan.

Fungsi ini mencakup kewenangan antara lain:

 pengamatan pelaksanaan hak asasi manusia dan penyusunan laporan hasil pengamatan tersebut.

 penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia.

 pemanggilan kepada pihak pengadu atau korban maupun pihak yang diadukan untuk dimintai atau didengar keterangannya.

 pemanggilan saksi untuk dimintai dan didengar kesaksiannya, dan kepada saksi pengadu diminta menyerahkan bukti yang diperlukan.

 peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang dianggap perlu.

 pemanggilan terhadap pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya dengan persetujuan Ketua Pengadilan.

 pemeriksaan setempat terhadap rumah, pekarangan, bangunan dan tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu dengan persetujuan Ketua Pengadilan.

 pemberian pendapat berdasarkan persetujuan Ketua Pengadilan terhadap perkara tertentu yang sedang dalam proses peradilan, bilamana dalam perkara tersebut terdapat pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah publik dan acara pemeriksaan oleh pengadilan yang kemudian pendapat Komnas HAM tersebut wajib diberitahukan oleh hakim kepada para pihak.

4) Fungsi mediasi.

Dalam melaksanakan fungsi mediasi Komnas HAM berwenang untuk melakukan :

 perdamaian kedua belah pihak.

 penyelesaian perkara melalui cara konsultasi, negosiasi, konsiliasi, dan penilaian ahli.

 pemberian saran kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui pengadilan.

 Penyampaian rekomendasi atas sesuatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada Pemerintah untuk ditindaklanjuti penyelesaiannya.

(17)

Bagi setiap orang dan atau kelompok yang memiliki alasan kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar dapat mengajukan laporan dan pengaduan lisan atau tertulis pada Komnas HAM. Pengaduan hanya akan dilayani apabila disertai dengan identitas pengadu yang benar dan keterangan atau bukti awal yang jelas tentang materi yang diadukan.

A. Upaya Pemajuan, Penghormatan, dan Penegakan Hukum.

1. Peraturan perundang-undangan tentang Perlindungan HAM di Indonesia.

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar stiap manusia sejak dilahirkan dan merupakan anugrah dari tuhan. Hak asasi memiliki cirri khusus,yaitu :

a. Hakiki,artinya Hak asasi manusia adalah hak yang sudah ada sejak lahir.

b. Universal, artinya Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang dan tidak memandang dari suku,ras,agama,bangsa,gender dan perbedaan lainnya.

c. Tidak dapat dicabut, yaitu Hak asasi manusia tidak dapat di cabut atau dserahkan. d. Tidak dapat dibagi,yaitu semua orang berhak mendapatkan haknya.

HAM dalam UUD 1945 (sebelum di amandemen) hanya tercantum pada pasal 27 samapi dengan pasal 34 saja dan tidak ada pasal dan bab khusus mengenai Hak asasi. Pasal – pasal ini mencantumkan hak persamaan dalam hukum dan pemerintahan dan hak mendapat pekerjaan yang layak (pasal 27 ayat (1) dan (2)), jaminan kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan (pasal 28), jaminan untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaan (pasal 29 ayat (2)), hak untuk membela Negara (pasal 30 ayat(1)),hak mendapatkan pengajaran (pasal 31 ayat (1)), hak untuk mengembangkan kebudayaan (pasal 32), hak berekonomi (pasal 33 ayat (1) sampai dengan (3)), dan hak social bagi fakir miskin dan anak terlantar untuk di pelihara oleh Negara (pasal 34). Setelah amandemen ke-4 tahun 2002, UUD 1945 dismepurnakan rician tentang HAM menjadi lebih banyak dan lengkap. Di samping pasal-pasal terdahulu masih dipertahankan, di munculkan pula bab baru yang berjudul bab XA tentang HAM berert pasal – pasal tambahannya (pasal 28A sampai 28J).

Siding istimewa MPR yang diselenggarakan pada bulan November 1998berhasil mengeluarkan ketetapan MPR Republik Indonesia No. XVII/MPRI/1998 tentang HAM. Dan dimuat beberapa pertimbangan yang penting, yakni : 1. bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa di anugrahi hak dasar yaitu hak asasi untuk mengembangkan diri pribadi, peranan dan sumbangan bagi kesejahteraan hidup manusia.

2. Bahwa pembukaan UUD 1945 telah mengamanatkan pengakuan, penghormatan dan kehendah bagi pelaksanaan Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

3. Bahwa bangsa Indonesia sebagai bagian masyarakat dunia patut menghormati Hak Asasi Manusia dan termaktub dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.

Perincian HAM yang dirumuskan dalam Pasal 1 sampai 44 tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut : 1. Hak untuk hidup.

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 3. Hak mengembangkan diri.

4. Hak keadilan. 5. Hak kemerdekaan.

6. Hak atas kebebasan informasi. 7. Hak keamanan.

8. Hak kesejahteraan.

9. Hak perlindungan dan pemajuaan.

10. Kewajiban menghormati hak asasi manusia lain.

Di samping itu, dimuat pula kewajiban dasar Negara manusia, yaitu :

1. Setiap orang yang ada di wilayah RI wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tidak tertulis, dan hukum internasional (mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh Negara RI).

2. Setiap warga Negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara.

3. Setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain, moral,etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(18)

5. Dan menjalankan hak dan kebebasannya,setiap orang wajib tunduk kepada batasan yang di tetapkan oleh undang-undang.

Sifat Hak Asasi Manusia terdiri atas 6 macam, yaitu : 1. Hak asasi pribadi (personal rights).

2. Hak asasi ekonomi (poverty rights) 3. Hak politik (political rights).

4. Hak asasi untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of legal equality). 5. Hak asasi social dan kebudayaan (social and cultural rights).

6. Hak asasi untuk memperoleh perlakuaan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights).

Dalam perkembangan selanjutnya beberapa undang-undang yang mengandung unsur perlindungan dan penegakan HAM yang telah disahkan, yaitu:

1. UU Nomor 23 tahun 2004, tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. 2. UU Nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak.

3. UU Nomor 18 tahun 2002, tentang advokasi.

4. UU Nomor 24 tahun 2003, tentang Mahkamah Konstitusi. 5. UU Nomor 2 tahun 2004, tentang kepolisian.

6. UU Nomor 4 tahun 2004, tentang kekuasaan dan kehakiman.

7. UU Nomor 5 tahun 2004, tentang perubahan atas UU No.14 tahun 1985 tentang Mahkamah agung. 8. UU Nomor 8 tahun 2004, tentang Peradilan Umum.

9. UU Nomor 16 tahun 2004, tentang Kejaksaan RI.

10. UU Nomor 27 tahun 2004, tentang Komisi kebenaran dan Rekonsiliasi.

2. Ratifikasi Piagam dan Konvensi Internasional HAM

Bangsa Indonesia memiliki ideologi nasional Pancasila sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Penghargaan itu diwujudkan dengan mengakui dan menghormati berbagai piagam dan dokumen HAM. Deklarasi HAM se-Dunia merupakan dokumen hak asasi manusia internasional yang paling penting yang berisi panduan atau standar tingkah laku bagi seluruh Negara. Dalam artikel 1, deklarasi tersebut menyatakan “seluruh manusia terlahir bebas dan sama

derajatnya. Mereka dihargai dengan suatu alasan dan kesadaran dan juga harus memandang serta memperlakukan orang lain dalam semangat persaudaraan”. Walaupun belum setiap Negara didunia meratifikasi Deklarasi HAM se-Dunia itu dalam tata hukum nasionalnya, namun secara moral setiap bangsa dan Negara di dunia ,seharusnya mendukung dan merealisasikan gagasan dan konsep luhur penghargaan hak asasi manusia tersebut. konvensi internasional tentang perlindungan HAM juga diikuti dan menjadi perhatian penting pemerintah Indonesia.

Hal ini menjadi salah satu bukti komitmen pemerintah Indonesia yang peduli dengan perlindungan HAM sebagai salah satu usaha untuk ikut melaksanakan ketertiban dan perdamaian dunia. Beberapa konvensi internasional yang telah diratifikasi, yaitu mengenai konvensi internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap

perempuan international Convention on the Elimination of All Forms Discrimination Against Women (CEDAW) yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial.

1965 (international Convention on the Elimination of 11 Forms of Racial Discrimination, 1965) adanya ratifikasi CEDAW ini. Membuat Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan penyesuaian berbagai peraturan perundang undangan nasional yang terkait dengan konvensi internasional tersebut dan mempunyai komitmen untuk melaksanakan kewajiban melaporkan pelaksanaan dalam rangka menghapuskan segala bentuk diskriminasi terutama yang terkait dengan diskriminasi terhadap perempuan.

3.

. Upaya Pemajuan, Penghormatan, dan Penegakan HAM di Indonesia. 1. Instrumen Penegakan HAM di Indonesia.

Indonesia sebagai Negara hokum, memiliki komitmen untukmenegakkan hokum dan melindungi hak asasi manusia, baik berskala nasional maupun internasional. Pelanggar Hak Asasi Manusia diadili menurut hokum yang berlaku. Disamping itu telah dilakukan berbagai aspek penegakan dan perlindungan hak asasi manusia, yakni :

a. Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia

Pengadilan HAM dibentuk sesuai UU Ni. 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran haka asasi manusia yang berat, baik seorangan maupun masyarakat, dan menjadi dasar penegakan, kepastian hokum,keadilan, dan perasaan aman.

(19)

HAM berat :

1. Kejahatan genocide

Perbuatan yang dilakuakan dengan maksud menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras kelompok etnis maupun agama. Dengan cara : membunuh, membuat anggota kelompokmenjadi cacat mental maupun fisik.

2. Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Suatu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas yang sistematik,dan ditunjukkan langsung terhadap penduduk sipil, berupa hal hal : pembunuhan, pengusiran secara paksa, perbudakkan, penganiayaan,dll)

Penyelidikan terhadap pelnggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan pula oleh Komisi Nasional HAM / Komnas HAM .Dalam melakukan penyelidikan, Komnas HAM dapat membentuk Tim As hoc yang terdiri atas Komnas HAM dan unsure masyarakat.

Selanjutnya, perkara pelanggaran HAM yang berat diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan HAM yang dilakukan oleh Majelis HakimPengadilan HAM.

b. Pelaksanaan penegakan HAM dalam masyarakat, bangsa, dan Negara

Dalam masyarakat perlu ditegakkan norma yang mencerminkan keadilan dan perlindungan hak warga masyarakat, hendaknya cara yang diterapkan untuk mengatasinya dengan mengutamakan kekeluargaan dan komunikasi yang intensif, maka dari itu tidak terjadi eigenrichting atau main hakim sendiri.

2. Partisipasi terhadap Penegakan HAM dalam kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara. a. Membantu pelaksanaan sosialisasi hukum dan hak asasi manusia.

Diperlukan kerja sama yang baik dari semua pihak, terutama dari kalangan aparat Negara maupun penegak hokum. Heterogenitas masyarakat mensyaratkan kebijakan yang benar-benar arif untuk mengajak para warga masyarakat berpengetahuan dan berkesadaran tinggi menjunjung hokum dan hak asasi manusia.

Media masa, media cetak maupun media elektronik mempunyai peranan yang sangat besar dalam upaya sosialisasi hokum dan penegakan hak asasi manusia. Pemuatan berita atas suatu peristiwa dalam masyarakat yang tampaknya sekilas berupa penyampaian informasi, apabila kurang berimbang dapat berakibat lain yang tentu positif bagi sosialisasi pengetahuan dan aturan hukum, contoh : penayangan gambar dalam berita kurang dilengkapi dengan informasi yang berasal dari pihak pemilik lahan dari rumah yang disusun secara lengkap, kapan diberi peringatan, berapa kali, dan serbagainya, pemilik tanah yang sah secara hukum memiliki hak asasi manusia yang juga perlu dilindungi. Sebaliknya, suatu kasus melibatkan orang yang sedang menjabat di pemerintahan. Informasi lebih banyak disiarkan dengan kecenderungan menguntungkan pejabat atau penguasa tertentu. Ini pun merupakan ketidak seimbangan informasi kalau memang ada pihak-pihak yang mungkin merasa dirugikan.

Pesatnya perkembangan media masa baik media cetak maupun elektronik memungkinkan sosialisasi hokum dan penegakan hak asasi manusia semakin cepat dan efektif.

a. Meningkatkan kesadaran hokum dan penghargaan HAM.

Dalam sebuah Negara dan masyarakat yang demokratis sekaligus menghargai nilai-nilai kemanusiaan, sesuatu kebijakan peemerintah tidak selalu cepat implementasinya. Perlu perencanaan dan pengkajian apakah pelanggaran hak asasi manusia atau tidak. Sebab, umumnya sesuatu langkah kebijakan akan menimbulkan sebuah kerugian bagi pihak tertentu. Bagaimana kerugian itu dapat dimimalisir sementara manfaat dan keuntungan dapat diraih secara lebih maksimal bagi orang banyak.

Apabila kesadaran hokum dan penghargaan hak asasi manusia semakin tinggi maka masyarakat semakin maju dan berkualitas, hal itu dapat ditandai sebagai berikut :

1. Masyarakat menghindari perilaku main hakim sendiri dalam menyelesaikan masalah. 2. Tokoh dan pemimpin masyarakat dapat menjadi contoh teladan bagi warga masyarakatnya. b. Wujud partisipasi warga Negara dalam pemajuan, penghormatan, dan perlindungan HAM.

Sebagai warga Negara, kita dapat berpartisipasi dalam pemajuan, penghormatan, dan perlindungan HAM antara lain dengan cara sebagai berikut :

1) Memengaruhi pengambil kebijakan dalam pembuatan perundang-undangan yang melindungi HAM. Masyarakat diharapkan dapat membantu terwujudnya peraturan yang menghormati dan melindungi HAM.

2) Membantu mensosialisasikan berbagai peraturan HAM. Dengan membantu mensosialisasikan UU nomor 22 tahun 2002 dan UU nomor 23 tahun 2004, merupakan partisipasi yang besar demi kemajuan penghormatan HAM di masyarakat.

3) Kepedulian dan kepekaan krisis dalam menyampaikan pendapat atas peristiwa pelanggaran HAM. 4) Mengutamakan komunikasi yang sehat dalam penyelesaian masalah pelanggaran HAM.

5) Menyelesaikan kasus pelanggaran HAM sesuai dengan hokum yang berlaku sesuai dengan prioritas.

(20)

C. Instrumen Hukum dan Peradilan Internasional HAM. 1. Usaha Memperkuat Hukum Internasional.

1. Pelanggaran HAM Internasional.

Pelanggaran HAM yang berskala internasional antara lain sebagai berikut :

• Genocide adalah pembunuhan atau pemusnahan yang bersar-besaran yang dilakukan secara sistematis dan terencana terhadap suatu bangsa,suku atau ras.untuk kepentingan politik semata.

• Kejahatan perang adalah tindak kejahatan atau pelanggaran hukum atau pelanggaran hukum perang yang dilakukan oleh pihak atau pribadi yang sedang berperang.

• Kejahatan humanier adalah tindakan atau serangan yang akibatnya diketahuo dapat membunuh penduduk sipil ,membunuh orang atau kelompok orang dengan cara sewenang-wenang di luar batas

kemanusiaan,pengursiran,perkosaan dan sebagainya.

• Agresi adalah penyerangan atau serangan dari suatu Negara terhadap Negara lain ,biasanya dari Negara kuat kepada Negara yang lemah.

• Pembajakan kapal laut atau pesawat udara dan terorisme.

2. Instrumen HAM internasional .

Instrumen internasional HAM dan berbagai piagam dan deklarasi tentang HAM di Barat, antara lain: A. Instrumen HAM internasional.

1) Universal Declaration of Human Right of the World,10 Desember 1948.Rumusan HAM dalam piagam PBB,antara lain :

a. Hak kebebasan politik mengeluarkan pendapat dan berserikat (pasal2-21) b. Hak social (pasal 22-23)

c. Hak beristirahat dan liberal (pasal 24)

d. Hak penghidupan yang cukup dan keselamatan diri sendiri dan keluarga e. Hak pendidikan

2) Kovensi-konvensi internasional HAM PBB 3) Komite HAM PBB

4) Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (CERD/Convention the Elimination of All Froms of Rasial Discrimination) 5) Komite Menentang Penyiksaan

6) Komite penghapusan Dikriminasi Perempuan

7) Komisi Penyelidik yang dibentuk berdasarkan konstitusi ILO. 8) Mahkamah Internasional PBB (Internasional Court of Justice). Piagam dan Deklarasi tentang HAM di Barat.

1) First Charter of Virginia tahun 1606 di Amerika 2) Ordonance of Virginia tahun 1618 di Amerika 3) May Flower Compact tahun 1620 di Amerika 4) Habeas Corpus Act tahun 1679 di Inggris 5) Bill of Right tahun 1689 di Inggris

6) Pensylvania Privileges tahun 1701 di Amerika 7) Declaration of Independence tahun 1776 di Amerika

8) Declaration de Droit de’l Homme et du Citoyen tahun 1789 di Prancis 9) The Four Freedom of Franklin D.Roosevelt tahun 1941 di Amerika 10) Universal Declaration of Human Right tahun 1948 oleh PBB. 3. Usaha Memperkuat Hukum Internasional .

Kekuatan mengikat hukum internasional sangat tergantung kesepakatanya dan dukungan masyarakat internasional untuk menaati perjanjian ataupun kebiasaan internasional yang ada . Pada dasarnya manusia menginginkan ketertiban dalam kehidupan , masyarakat dunia , sehingga usaha untuk memperkuat hukum internasional selalu diusahakan. A. Beberapa bukti yang memperkuat hukum internasional.

· Dalam kehidupan sehari-hari dari masyarakat internasional terbukti adanya kenyataan yang memperkuat hukum internasional , antara lain adanya organ-organ pemerintah Negara,khususnya dalam tugas dan kewenangan yang berhubungan dengan masalah luar negri atau internasional ,tetap menghormati prinsip-prinsip dan kaidah –kaidah hukum internasional dalam hubungan-hubungan antar sesamanya.

· Demikian pula jika telah berhasil disepakati sebuah perjanjian internasional,misalnya perjanjian internasional tentang garis batas wilayah , perjanjian tentang kerja sama dalam perdagangan, perjanjian tentang kerja sama dalam

kebudayaan, dan sebagainya.

· Persengketaan – persengketaan antara subyek-subyek hukum internasional,misalnya antara dua atau lebih Negara ,khususnya yang mengandung aspek-aspek hukum, meskipun tidak selalu diselesaikan dengan cara damai dengan melakukan berbagai alternative.

(21)

Sebagai contoh adalah Indonesia, ketika akan menyusun undang-undang pidana tentang kejahatan penerbangan, tidak bisa melepaskan diri dari konvensi-konvensi internasional yang berkenaan dengan kejahatan penerbangan ,seperti Konvensi Tokyo 1963,Konvensi Den Hagg 1970,dan konvensi Monteral 1971.

Berdasarkan fakta-fakta diatas,tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa hukum internasional bukan merupakan hukum dalam pengertian yang sebenarnya demikian pula pandangan yang masih meragukan eksistensi hukum internasional,sudah tidak pada waktu dan tempatnya lagi untuk dipertahankan karena sudah ketinggalan zaman. B. Usaha-Usaha Memperkuat Hukum Internasional.

• Pembentukan PBB (sebelumnya LBB) pada tahun 1945 merupakan rangka mengefektifkan hukum internasional itu sendiri meskipun hasilnya optimal.Organisasi internasional Uni Eropa . Sanksi dari WTO juga sudah tampak keefektifanya dalam menerapkan hukum ekonomi dan hukum perdagangan internasional.

• Melengkapi perjanjian-perjanjian internasional multilateral dengan organ-organ pelaksanaanya .

• Convention Against of Punishment 1984 (Konvensi Anti Penyiksaan dan Kekejaman Lain, Perlakuan atau Penghukuman yang Tidak Manusiawi atau yang Merendahkan Martabat Kemanusiaan 1984).Dilengkapi dengan Committe Against Torture(Komisi Anti Penyiksaan).

2. Lembaga-lembaga Internasional yang Menegakkan HAM. a. Dewan Keamanan (security Council)

1) Susunan Dewan Keamanan PBB

Dewan keamanan pada mulanya terdiri dari 11 negara anggota,yaitu 5 anggota tetap(Amerika Serikat,Uni Soviet,Inggris,Prancis,dan Tiongkok) dan 6 anggota yang diganti-ganti.Tetapi pada tahun 1965,mulailah berlaku amandemen pada Piagam PBB yang menaikkan jumlah itu menjadi 15.

2) Sidang Dewan Keamanan PBB

Dewan keamana adalah suatu badan tetap dan bertempat di pusat PBB. Ketua dapat memanggil anggota untuk mengadakan rapat,jika dianggap perlu diluar siding berkala.Rapat akan diadakan pula jika sekretaris jenderal meminta perhatian dewan untuk suatu soal yang dianggapnya membahayakan perdamaian dan keamanan internasional,jika suatu Negara anggota atau yang bukan anggota meminta perhatian dewan terhadap hal atau keadaan yang mungkin

menimbulkan perselisihan antara Negara-negara,sehingga berbahaya bagi perdamaian internasional(pasal 35).

3) Hak Veto

Hak menjatuhkan uasul itu secara demikian disebut hak veto(veto berasal dari Bahasa Latin,yang artinya melarang,tidak mengizinkan,menyatakan bahwa tidak boleh terjadi).Tetapi untuk memutuskan perkara-perkara procedural tidak berlaku hak veto,kecuali tercapai jumlah sembilan suara yang setuju.Ketidak hadiran suatu Negara besar dalam pemungutan suara,sekali-kali tidak berarti memveto.

4) Kekuasaan dan Kewajiban

Menurut pasal 24, anggota-anggota PBB menyerahkan kepada dewan keamanan pertanggung jawaban untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional.

5) Menyelesaikan perselisihan dengan cara-cara damai (pasal 33). a. Cara yang Didasarkan Atas Persetujuan Sukarela

1. Perundingan.

Cara ini merupakan jalan yang paling luas dan biasa dipakai dalam diplomasi. 2. Penyelidikan

Cara ini diperlukan untuk menetapkan peristiwa-peristiwa yang mungkin menghilangkan perselisihan jika sudah terang letaknya perkara.

3. Perdamaian(conciation)

Usaha ini diserahkan kepada panitia internasional yang ditunjuk oleh pihak-pihak yang berselisih untuk mengusulkan atas inisiatif sendiri suatu persetujuan yang layak diterima oleh kedua pihak.

4. Perantara atau jasa-jasa baik.

Perantara disediakan oleh suatu Negara,suatu komisi atau seorang tokoh saja yang ditunjuk oleh pihak-pihak yang bersangkutan untuk mempermudah dan mempercepat tercapainya perdamaian.

b. Cara-Cara dengan Paksaan Hukum dalam Menjalankan Persetujuan yang Tercapai 1. Perwasitan(arbitrage)

Dengan cara penyelesaian ini pihak-pihak yang bersangkutan berjanji terlebih dahulu,bahwa mereka akan menerima dan sedia menjalankan keputusan seorang pendamai yang ditunjuk(arbitrator) atau pengadilan arbitrase.

2. Keputusan

Dalam cara penyelesaian ini termasuk keputusan-keputusan yang diambil menurut cara-cara hukum.

3. Mengambil tindakan-tindakan terhadap ancaman perdamaian dan perbuatan yang berarti penyerangan(pasal 39)

6) Dewan Keamanan

(22)

a) Panitia Staf Militer

b) Panitia Perluncutan Senjata,Disarmament Commision(dengan sidang umum) c) Pasukan PBB,

Peranan Dewan Keamanan yang efektif merupakan tumpuan harapan bagi seluruh Bansa di dunia dalam memelihara perdamaian dan keamanan internasional yang abadi. 7) Pasukan PBB

Dalam rancangan PBB di Dumbarton Oaks,pada tanggal 7 Oktober 1944 telah diputuskan bahwa Mahkamah Tetap Pengadilan Internasionalyang didirikan oleh Liga Bangsa-bangsa dahulu di Den Haag,akan dihapus dan diganti oleh mahkamah baru,yaitu Mahkamah Internasional Court of Justice,yang akan menjadi perlengkapan PBB sendiri dan piagamnya akan dimasukkan sebagai suatu bagian dari Piagam PBB.

2) Susunan

Semua anggota PBB dengan sendirinya menjadi peserta dalam Piagamn Mahkamah itu. 3) Hakim-Hakim

Dalam Mahkamah itu duduk 15 orang hakim yang dipilih dari warga 15 negara,tidak dapat dua hakim diangkat dari satu Negara(pasal 3 Piagam Mahkamah Pengadilan Internasional-MPI).

4) Kompetensi

Tiap-tiap anggota PBB berjanji akan tunduk kepada keputusan Mahkamah atas suatu perkara dalam mana ia tersangkut sebagai pihak.Kewajiban tunduk itu sudah diakui dalam hukum internasional.

5) Pengadilan yang Diwajibkan (obligatory jurisdiction).

keputusaan-keputusa yang di maksud itu mengenai perseketan tentang: a. penafsiran isi perjanjian;

b. soal-soal yang menyinggung hukum internasional;

c. adanya suatu hal yang mengakibatkan pelanggaran perjanjian internasional yang dilakukan oleh satu pihak; d. sifat atau besarnya ganti rugi yang akan dibayar berhubung dengan pelanggaran suatu perjanjian internasional. 6) Sumber-Sumber Hukum yang Dipergunakan

Dalam menentukan keputusan-keputusan itu,mahkamah menggunakan sumber-sumber seperti tersebut dalam pasal 38 Piagam MPI yaitu:

a) International Convention b) International costum

c) The general principles of low recognized by civilized nations

d) Judical decisions and the teachings of the most highly qualifed publicist Of the various nations. 7) Mahkama Internasional

a. Tribunal-Tribunal Administrasi Internasional,seperti ILO(Tribunal Administratif Organisasi Buruh Sedunia),da Tribunal Administratif PBB tahun 1949,yang didirikan tahun 1927 dalam kerangka SDN,

b. Mahkamah Peradilan Masyarakat Ekonomi Eropa yang didirikan pada tanggal 18 April 1951, c. Mahkamah Eropa Mengenai Hak Asasi Manusia yang didirikan pada tanggal 4 November 1950, d. Tribunal administratif Bank Dunia yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1980.

c. International Crime Count (ICC)

Hukum pidana internasional telah menyepakati pembentukkan Internasional Crime Count (ICC) dalam suatu sidang United Nations Diplomatic Conference on Criminal Count,17 Juni 1998 di Roma(Italia).Badan ini mempunyai kekuasaan untuk melaksanakan yurisdiksinya atas seseorang yang melakukan kejahatan yang sangat serius.Dalam konfersi diplomatic PBB mengenai pengadilan kejahatan diatas,disepakati bahwa kejahatan itu adalah sebagai berikut: 1) The crime of genocide(permusnahan massal terhadap kelompok etnis atau penganut agama tertentu).

2) Crime Agains Humanity(kejahatan melawan kemanusiaan). 3) War crimes(kejahatan perang).

4) The crime of aggressioan(penyerangan suatu bangsa atau Negara terhadap bangsa lain).

ICC diharapkan dapat berfungsi untuk melengkapi upaya menegakkan perlindungan hak asasi manusia.Indonesia harus menyiapkan profesionalisme sumber daya manusia dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berskala

internasional dan dikategorikan pelanggaran hak asasi manusia berat.

(23)

besar bila terjadio pelanggaran hak asasi manusia berat dan berskala internasional,proses peradilannya sebagai berikut. 1) Penyelidikan,penyidikan atau penuntutan atas kejahatan yang terjadi maka pengadilan pidana internasional berada dalam posisi inadmissible untuk menangani perkara kejahatan tersebut.

2) Perkara yang telah diinvestigasi oleh suatu Negara,kemudian Negara yang bersangkutan telah memutuskan untuk tidak melakukan penuntutan lebih lanjut(misalnya mendeponir) terhadap pelaku kejahatan maka pengadilan pidana internasional berada dalam posisi inadmissible.

3) Pelaku kejahatan telah diadili dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap maka terhadap pelaku kejahatan tersebut sudah melekat asas nebis in idem,artinya seseorang tidak dapat dituntut untuk kedua kalinya dalam perkara yang sama setelah terlebih dahulu diputuskan perkaranya oleh putusan pengadilan yang tetap.

3. Instrument Peraturan Internasional yang menegakkan HAM. A. Magna Charta

Pada Abad Pertenganhan , Perjuangan kaum bangsawan Inggris untuk menegakan Hak asasi politik rakyat rakyat , menghasilkan suatu dokumen yang di tandatanganni tahun 1215 yang dikenal dengan nama Magna Charta (Piagam besar), yang berisi perjanjian antara kaum bangsawan dan Raja John . Kemudian pada awal abad ke-16 di Eropa barat terjadi kejadian penting yang berkaitan dengan kehidupan demokrasi , yaitu Renaisance dan Reformasi . Renaisance yaitu aliran yang berusaha menghidupkan kembali kebudayaan Yunani Kuno yang selama abad pertengahan (600-1400 M) telah tersisihkan. Sedangkan reformasi adalah suatu gerakan dilinkungan agama Kristen yang dipelopori oleh Martin Luther . dua pemikiran itu mempersiapkan bangsa eropa barat untuk menyelami masa Aufklarung(abad pemikiran) , beserta rasionalisme yaitu suatu aliran pemikiran yang ingin memerdekakan pikiran manusia dari batas-batas yang ditentukan oleh gereja dan mendasarkan pada akal semata . Sosial contract (kontrak sosial) , di antara asas dari gagasan kontrak sosial adalah bahwa dunia ini dikuasai hukum yang timbul dari alam yang mengandung prinsip-prinsip keadilan universal yang berlaku bagi semua, termasuk raja , bangsawan , dan rakyat jelata . Pada Hakikatnya , teori ini untuk membatasi pemerintahan raja yang absolute dan menetapkan hak-hak politik rakyat.

B. Revolusi amerika serikat (1766)dan Perancis (1789)

Revolusi di perancis tokohnya adalah Montesquieu yang mengemukakan ajaran Trias politica . Gasasan perlunya pembatasan kekuasaan mendapat rumusan yang yudiris ,yaitu dengan membentuk Negara hukum . Sehingga jaminan hukum tentang kebebasan dan hak asasi tanpa memerhatikan kesejahteraan rakyat. Negara tidak ikut campur dalam urusan ekonomi dan kesejah teraan warga Negara , karena itu urusan masing-masing warga Negara sesuai dengan asas Laissez faire, Laissez aller , maka dari itu Negara hanya berfungsi sebagai Negara penjaga malam (NachtWatcherstaat). Pandangan tersebut berubah pada abad ke-20 , dimana Negara harus mengurusi bidang ekonomi dan sosial. Sehingga Negara demokrasi berfungsi sebagai Negara Kesejahyeraan(Welfare state)atau Negara yang memberikan peleyanan sosial (Socia service state),yang berarti Negara turut campur dan bertanggung jawab dalam kesejah teraan rakyat . Rule of law , Yaitu :

1) Perlindungan konstitusional .

2) Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak . 3) Pemilihan umum yang bebas .

4) Kebebasan menyatakan pendapat .

5) Kebebasan berserikat atau berorganisasi dan berkumpul. 6) Pendidikan Kewarganegaraan(civic education).

Henry B. Mayo berpandangan bahwa demokrasi didasari oleh beberapa nilai , yaitu : 1) Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara lembaga

2) Menjamin terselenggaranya perubahan yang damai dalam masyarakat yang sedang berubah 3) Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur

4) Membatasi pemakaian kekerasan seminimal mungkin 5) Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman 6) Menjamin tegaknya keadilan

Hampir semua Negara modern memeliki undang-undang dasar tertulis , satu pengecualian adalah Inggris yang tidak memiliki Konstitusi tertulis, melainkan pemerintahannya didasarkan kepada convension(kebiasaan),seperti :

Referensi

Dokumen terkait

Pengkajian keperawatan dilakukan dengan cara pengumpulan data secara subjektif (data yang didapatkan dari pasien/keluarga) melalui metode anamnesa dan data objektif (data

Judul : “ Pengaruh Islamic Flashcard Terhadap Interaksi Sosial dan Pengetahuan Keagamaan pada Anak Tunagrahita ” Saya memahami penelitian ini dimaksudkan untuk

[r]

Metode regresi yang biasa digunakan oleh para analisis regresi dan merupakan dasar teknik regresi adalah metode kuadrat terkecil (MKT) atau metode regresi klasik, dimana

breakdown beberapa peralatan sehingga harus digantikan dengan alat yang lain agar proses produksi dapat terus berjalan, penggunaan jam kerja yang tidak sesuai dengan

An even more significant difference was found under natural forest and sugarcane without burn for MB-C, which was 222% higher under native forest and 102% higher under sugarcane

Program ini dirancang untuk memudahkan puskesmas dalam pengelolaan data dan informasi dengan input seminim mungkin dan output semaksimal mungkin... pelayanan dalam gedung : SIMPUS

Teori Akuntansi Normatif adalah penjelasan atau penalaran untuk menjustifikasi kelayakan suatu perlakuan akuntansi paling sesuai dengan tujuan yang