PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
TRADISI BANTENGAN DAN MODERNISASI: STUDI TENTANG EKSISTENSI TRADISI BANTENGAN DI DESA CLAKET KECAMATAN
PACET KABUPATEN MOJOKERTO
BIDANG KEGIATAN PKM PENELITIAN
Diusulkan Oleh:
Rofi’atin Novia 15040254008/2015 Hari Wijayanti 15040254043/2015 Erik Darmawan 16040704130/2016
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2017
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ... i
Daftar Isi... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
1.4 Manfaat ... 2
1.5 Luaran ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. Kerangka Teoritik ... 3
2.2. Modernisasi ... 3
2.3. Penelitian Terdahulu ... 4
BAB III METODE PENELITIAN... 6
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 6
3.2 Variabel ... 6
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 6
3.4 Teknik Pengolahan Data ... 7
3.5 Teknik Analisis Data ... 7
BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ... 9
4.1 Anggaran Biaya ... 9
4.2 Jadwal Kegiatan ... 9
DAFTAR PUSTAKA ... 10 LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing Lampiran II Justifikasi Anggaran Kegiatan
Lampiran III Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas Lampiran IV Surat Pernyataan Ketua Peneliti/Pelaksana
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Begitu banyak budaya Indonesia menjadikan Indonesia terkenal dikancah luar negeri mengenai keberagaman suku, tarian, bahasa dan lain-lain. Salah satu seni budaya yang masih tetap eksis di era modernisasi ini adalah tradisi Bantengan yang digadang berasal dari Malang dan Mojokerto. Memang kedua kota tersebut merupakan kota sejarah yang dahulunya memang tempat kerajaan Jawa yang pesat. Kesenian tradisional Bantengan yang tumbuh subur di daerah pegunungan di empat wilayah kecamatan, meliputi: Pacet, Trawas, Gondang, dan Jatirejo, kini berkembang di hampir 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kesenian Bantengan yang ada di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto merupakan kesenian yang turun temurun di wariskan sejak jaman kolonial Belanda. Dimana kesenian ini menggabungkan antara seni silat dengan musik gamelan yang berpadu dengan heroisme pejuang masa kolonial yang di bumbui dengan kesurupan seperti umumnya kesenian yang ada di tanah Jawa.
Peralatan atau perlengkapan dalam pementasan Seni Bantengan sangat berperan penting untuk pementasan antara lain yaitu: Topeng, Atribut pemain, dan alat musik pengiring berupa jidor, gamelan, pengrawit, dan juga sinden. Dalam sebuah pagelaran seni tradisional tidak lengkap tanpa adanya iringan musik. Sehingga musik juga penting untuk menambah suasana meriah sebuah pertunjukan terutama Seni Bantengan. Bantengan juga selalu diiringi oleh macanan. Kostum macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oranye), yang dipakai oleh seorang lelaki. Macanan ini biasanya membantu bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. Namun tidak jarang macanan juga mengalami kesurupan. Pementasan Seni Bantengan dilakukan berdasarkan sistem kekeluargaan tanpa upah, meskipun banyak dari kelompok lain yang mematok harga. Kostum-kostum atau pakaian semua diperoleh dari sponsor atau dana anggota kelompok Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
Sedangkan fungsi internalnya kegiatan ini biasanya ada beberapa bagian penting yang harus dilakukan kelompok kesenian
Di tengah perkembangan zaman dan teknologi bantengan sudah memiliki tempat dihati masyarakat Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Hiburan yang lebih modern tidak jarang pula hadir di tengah masyarakat tetapi kesenian bantengan ini tidak begitu saja tergeserkan dari hiburan warga setempat. Untuk itu penulis ingin meneliti dari adanya tradisi Bantengan di Dusun Banong yang masih tetap ada di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, maka kami mengangkat judul “Tradisi Bantengan Dan Modernisasi : Studi Tentang Eksistensi Tradisi Bantengan Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto”
1.2Rumusan Masalah
1. Bagaimana eksistensi tradisi Bantengan di tengah era modernisasi Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto?
2. Bagaimana peran masyarakat dalam menjaga tradisi bantengan Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi tradisi Bantengan di tengah era modernisasi Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto 2. Untuk mengetahui peran masyarakat dalam menjaga tradisi bantengan Di
Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto 1.4Manfaat
1. Dapat memberikan informasi atau gambaran bagi penulis lainnya mengenai Eksistensi Tradisi Bantengan Di Tengah Era Modernisasi Di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Dengan adanya penulisan ini diharapkan masyarakat lebih bisa menyadari dan melestarikan budaya tradisi dari kesenian Bantengan yang sudah turun temurun diwariskan.
1.1Luaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Kerangka Teoretik
Berdasarkan fakta yang sudah ada di Desa Claket tradisi Bantengan memang menjadi sorotan yang diteliti karena perananya di era modernisasi ini Bantengan masih tetap eksis dan diminati warga, dari kondisi yang demikian maka dapat dikatakan adanya sistem yang saling memelihara, melengkapi serta mampu mempertahankan pola-pola kultural yang ada, dari fenomena tersebut peneliti akhirnya menggunakan teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons yang bisa dijabarkan di bawah ini. Dengan menggunakan definisi ini Parsons yakin bahwa ada empat fungsi penting untuk diperlukan dalam semua sistem. Yaitu adaptation (A), goal attainment (G), integration (I), dan latensi (L).
1. Adaptation (adaptasi) yaitu sebuah sistem harus bisa menanggulangi suatu eksternal yang gawat. Sistem harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhannya.
2. Goal attainment (pencapaian tujuan) yaitu sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3. Integration (Integrasi) yaitu Sebuah sistem harus bisa mengatur antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistem harus bisa mengola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A,G,L). 4. Latency (latensi atau pemeliharaan pola) yaitu Sebuah sistem harus bisa
melangkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi. Pertama adaptasi dilaksanakan oleh organisme perilaku dengan cara melaksanakan fungsi adaptasi dengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal.
2.2Modernisasi
Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan pendapat Wilbert E. Moore yang mengemukakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra moderen dalam arti teknologi serta organisasi sosial, ke arah pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri-ciri negara barat yang stabil.
Syarat-syarat Modernisasi adalah sebagai berikut :
1. Cara berpikir yang ilmiah (Scientific thinking) yang melembaga dalam kelas pengusaha maupun masyarakat. Hal ini menghendaki suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dan baik. 2. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar
mewujudkan birokrasi
3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Hal ini memerlukan penelitian yang kontinu, agar data tidak tertinggal 5. Penciptaan iklim yang favourable dari masyarakat terhadap
modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. Hal ini harus dilakukan tahap demi tahap, karena banyak sangkut pautnya dengan sistem kepercayaan masyarakat (belief system) 6. Tingkat organisasi yang tinggi, di satu pihak berarti disiplin, di
lain pihak berarti pengurangan kemerdekaan
7. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial (Social Planning). Apabila tidak dilakukan, maka perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat.
2.3Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, peneliti menganggap penting terhadap penelitian terdahulu yang mempunyai relevansi tema penelitian ini, karena dengan adanya hasil penelitian maka akan mempermudah dalam melakukan penelitian ini. Adapu yang menjadi pedoman pelitian antara lain:
menggunakan metode kualitatif dalam menggali informasi, dan memfokuskan pada dua maslah yang di teliti yaitu (1) bagaimana corak kesenian topeng loreng dan (2) mengapa sholawat bisa dimunculkan dalam kesenian topeng loreng. Sedangkan dari rumusan masalah yang sudah di gali tersebut maka dapat di temukan hasil penelitian adalah:
a. Penduduk desa manggong mayoritas beragama islam meskipun sebagian tidak menjalankan syariat islam secara penuh.
b. Berkembangnya tadisi yang ada pada masyarakat tersebut, merupakan aktifitas kebudayaan yang kemudian dikembangkan menjadi suatu kebudayaan yang akan selalu dijaga keberadaanya. c. Kesenian topeng loreng apabila kita lihat secara cermat di
dalamnya terdapat ajaran-ajaran ataupun pesan-pesan moral, social maupun agama.
d. Alkuturasi ajaran agama dan tradisi masyarakat setempat terutama ketika berlangsungnya upacara-upacara keagamaan yang berkaitan dengan tradisi selamatan tidak bisa dihadiri, karena disitu merupakan suatu bentuk kemasyarakatan yang dinamis dan agamis. Kesenian topeng loreng dari desa manggong ini tampak mengandung nilai-nilai religi yang dianut oleh warga masyarakat. Oleh karena di topang nilai-nilai dasar yang berlaku didalam masyarakat ini pula. Jenis kesenian ini masih bertahan hidup hingga sekarang.
Bagan 1. Kerangka Berpikir
Teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons Tradisi
Bantengan
Modernisasi
Peran masyarakat dalam menjaga tradisi
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan keadaan, tingkah laku atau makna dari keadaan dan tingkah laku yang ada berdasarkan data-data kualitatif yang telah dikumpulkan. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini mengeksplor fenomena tetang Tradisi Bantengan Dan Modernisasi :Studi Tentang Eksistensi Tradisi Bantengan di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto”.
3.1Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berdasarkan tempat studi kasus yang relevan, yakni di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto karena desa tersebut masih memegang teguh tradisi Bantengan. Penelitian ini akan dilaksanakan selama 4 bulan terhitung tempat yang menjadi sampel penelitian di berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:
1. Peneliti sudah melakukan observasi dan tertarik untuk meneliti tentang masyarakat di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
2. Terdapat banyak kearifan lokal di tengah pesatnya modernisasi di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
3.2 Variabel
Adapun variabel di dalam penelitian ini adalah Tradisi Bantengan Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto sebagai variabel bebas dan Eksistensi Tradisi Bantengan Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto di tengah modernsisasi sebagai variabel terikat.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan karakteristik data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:
1. Observasi
Tradisi Bantengan Dan Modernisasi :Studi Tentang Eksistensi Tradisi Bantengan di Desa Claket Kecamatan
Pacet Kabupaten Mojokerto
Pendekata
Metode Kualitatif
deskriptif
Berkaitan dengan observasi yang dilakukan dalam penelitian kualitatif maka observasi yang digunakan yaitu observasi langsung. Observasi langsung dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkap data mengenai eksistensi masyarakat suku Samin yang masih memegang tegug nilai – nilai tradisi dan kearifan lokalnya. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap mengenai masyarakat di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
2. Wawancara
Wawancara menurut Esterberg (Sugiyono, 2012:73) mengemukakan beberapa macam wawancara, di antaranya sebagai berikut:
1) Wawancara Terstruktur (Structured Interview)
Ketika ,elakukan wawancara, peneliti data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis, yaitu dimana alternatif jawabannya sudah disiapkan.
2) Wawancara Semiterstruktur (Semistructure Interview)
Wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawan cara jenis ini adalah untuk menemukan keberadaan Tradisi Bantengan secara lebih terbuka, dimana pihak yang dijak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya. 3) Wawancara Tak Berstruktur (Unstructure Interview)
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Maksudnya, dalam melakukan wawancara peneliti sudah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis. Di sini, peneliti melakukan wawancara terhadap kepala desa dan sejumlah tokoh masyarakat di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
3.4 Teknik Pengolahan Data
1. Menentukan daerah survey, bertempat di Desa Claket yang menjadi sampel yaitu Menentukan Responden
2. Pelaksanaan survey sesuai jadwal, waktu wawancara dilakukan kondisional tergantung jam masyarakat namun dibatasi selama 3 minggu pada bulan ketiga
3. Pengolahan Data
Langkah-langkah penelitian ini mulai dari : 1.Tahap Pra-Lapangan
2.Tahap Pekerjaan Lapangan 3.Tahap Analisa Data
6.Publikasi (seminar)
3.5 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan unsur metodis filosofis untuk melakukan perspektif filosofis khususnya salah satu cabang filsafat khusus yaitu filsafat sosial. Unsur metodis ini antara lain:
1. Interpretasi, metode untuk berhadapan dengan kenyataan, bisa berbentuk fakta, bisa berbentuk data, yaitu pemberian dalam wujud hal atau peristiwa yang disajikan, atau pula dalam wujud sesuatu yang tercatat tentang hal, peristiwa, atau kenyataan lain yang mengandung pengetahuan untuk dijadikan dasar keterangna selanjutnya (Bakker & Achmad, 1990:41) 2. Deskriptif, berusaha memaparkan tentang konsep tradisi Bantengan serta
makna yang ada di dalamnya yang dapat diperoleh gambaran tentang tradisi Bantengan dan Modernisasi, khususnya studi tentang Eksistensi Tradisi Bantengan di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto .
3. Koherensi, dengan menelaah data kepustakaan yang ada dengan menarik garis besar tradisi Bantengan dalam era modernisasi di Pulau Madura, khususnya studi Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1Anggaran Biaya
Tabel. Format Ringkasan Anggaran Biaya PKM
Adapun anggaran yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
No. Jenis Pengeluaran Biaya
1 Peralatan penunjang, ditulis sesuai kebutuhan Rp. 1025000
2 Bahan habis pakai Rp. 1870000
3 Perjalanan, Rp. 1310000
4 Lain-lain : administrasi, publikasi, seminar, laporan, lainnya sebutkan
Rp. 5165.000
Jumlah Rp. 51650000
4.2Jadwal Kegiatan
Tabel.2 Timeline pelaksanaan penelitian Bulan I,II,III,IV N
O
KEGIATAN BULAN
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Asy’ari dkk, 2005. Pengantar Study Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press Darma, Ruri. No I Januari 2013. “Kesenian Bantengan Mojokerto”, AVATARA
e-Journal Pendidikan Sejarah Volume I
Gani, A.G. (dkk). 2012. Ensiklopedi Umum cet. ke-20. Yogyakarta: Kanisius. Lindsay, Jennifer. 1991. Klasik, Kitsch, Kontemporer: Sebuah Studi tentang Seni
Pertunjukkan Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
M Paloma, Margaret. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nasikun. 1988. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali
Peursen, C.A. Van. 1988. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisisus
Setyawati, Edi & Sapardi Djoko Damono ( Editor ). 1983. Seni Dalam Masyarakat Indonesia, Bunga Rampai. Jakarta: PT Gramedia
Soedarsono, R.M. 2003. Seni Pertunjukan dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Soedarsono. 1985. Peran Seni Budaya dalam Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannnya. Yogyakarta: FSUGM.
Soekanto, Soerjono. 1992. Memperkenalkan Sosiologi. Jakarta: Rajawali Pers Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Grup Wagiyo, 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Universitas Terbuka
Wilbert E. Moore, "Social Verandering" dalam Social Change, diterjemahkan oleh A. Basoski, Prisma Boeken, Utrech, Antwepen, 1965 hlm 129
Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan 1. Peralatan Penunjang
Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
Cetak Foto Melengkapi data logbook, dokumentasi
4 Paket 175000 700000
Buku Penunjang Penelitian
Literatur Pustaka 4 75000 300000
Kertas Binder Mencatat Hasil Penelitian 2 12500 25000
SUB TOTAL (Rp) 1025000
2. Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
Materai Administrasi dengan informan dan pihak lain yang terkait penelitan
15 8000 120000
Kertas HVS Keperluan Kesekretariatan
Mencatat hasil penelitian lapangan
4 buah 15000 60000
Fotocopy Keperluan Kesekretariatan
1700 lembar
200 340000
Sovenir informan
Memberikan balas jasa kepada informan
15 paket 23000 345000
Konsumsi Informan
Memberikan balas jasa kepada informan
10 kontak 15000 150000
Alat Tulis Sebagai alat menulis 3 paket 15000 45000 Flash Disk Untuk Penyimpangan
data
2 buah 90000 180000
SUB TOTAL (Rp) 1870000
3. Perjalanan
Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga Satuan Tempat Pengabdian
2 Motor x Tempat Pengabdian
Sewa Motor
Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga Satuan
Untuk Uji Coba
Pengetahuan Masyarakat
Untuk Uji Coba
Pegetahuan Masyarakat Sebelum Adanya Program
Penjilidan Untuk Merapikan Data 10 kali 6000 60000 Studi Literatur Untuk Penelusuran
Sumber - sumber Terpercaya
250000
ID Card Untuk Identitas Pelaksanaan Kegiatan
25000
Cetak Foto Untuk Pendokumentasian Kegiatan Pelaksanaan Program
250000
SUB TOTAL (Rp) 960000
TOTAL KESELURUHAN 5165000
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas No Nama/NIM Program
1. Menyusun Laporan 2. Menyusun Daftar
Pustaka
3. Konsultasi Dosen Pembimbing 4. Merevisi cover 2 Hari
Wijayanti / 15040254043
PPKn Sosial 3 Jam / Minggu
1. Menyusun Laporan, 2. Membuat Daftar isi 3. Membuat Daftar
Lampiran 4. Merevisi format
penulisan
1. Merevisi format penulisan
2. Membuat Anggaran Dana
3. Memperbaiki format penulisan