• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PEMALSUAN SIM - Kajian Yuridis Tindak Pidana Pemalsuan Surat Izin Mengemudi (Study Putusan Nomor 600/PID.B/2009/PN.Mdn)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PEMALSUAN SIM - Kajian Yuridis Tindak Pidana Pemalsuan Surat Izin Mengemudi (Study Putusan Nomor 600/PID.B/2009/PN.Mdn)"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENGATURAN TINDAK PIDANA

PEMALSUAN SIM

A. Pengaturan Tindak Pidana Pemalsuan Surat yang Diatur Di Dalam

KUHP

1. Pemalsuan surat pada umumnya (Pasal 263 KUHP)

Perbuatan pemalsuan merupakan suatu jenis pelanggaran terhadap

kebenaran dan kepercayaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan bagi diri

sendiri atau bagi orang lain. Suatu pergaulan hidup yang teratur di dalam

masyarakat yang teratur dan maju tidak dapat berlangsung tanpa adanya jaminan

kebenaran atas beberapa bukti surat dan alat tukarnya. Karenanya perbuatan

pemalsuan dapat merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup dari masyarakat

tersebut.44 Perbuatan pemalsuan dapat digolongkan pertama-tama dalam kelompok kejahatan “penipuan”, tetapi tidak semua perbuatan penipuan adalah

pemalsuan. Perbuatan pemalsuan tergolong kelompok kejahatan penipuan, apabila

seseorang memberikan gambaran tentang sesuatu keadaan atas sesuatu barang

(surat) seakan-akan asli atau kebenaran tersebut dimilikinya. Karena gambaran ini

orang lain terpedaya dan mempercayai bahwa keadaan yang digambarkan atas

barang/surat tersebut itu adalah benar atau asli.45

44

H.A.K. Moch. Anwar, Hukum Pidana di Bidang Ekonomi, Log. Cit.

45Ibid

.

Pemalsuan terhadap tulisan/surat

(2)

Pembahasan tentang pemalsuan surat yang tertuang di dalam Pasal 263

KUHP terlebih dahulu diuraikan aspek-aspek tentang unsur-unsur di dalam suatu

tindak pidana atau perbuatan pidana itu. Seperti diketahui bersama bahwa terdapat

beberapa istilah yang merupakan terjemahan dari istilah Belanda "Strafboarfrii"

ke dalam bahasa Indonesia. Istilah "peristiwa pidana" adalah sebagai terjemahan

dari istilah Belanda "Strafbaar feit" atau "delict". Dalam perumusan unsur-unsur

delik atau tindak pidana, perbuatan pidana maupun peristiwa pidana, dikenal

beberapa cara. Oleh Junkers disebutkan empat jenis metode rumusan delik di

datum undang-undang, yang terdiri atas :46

a. Cara yang paling lazim adalah menerangkan isi delik dari keterangan itu

dapat dijabarkan unsur-unsur perbuatan yang dapat di pidana, seperti

misalnya Pasal 279, 281, 286, 242 dan sebagainya dari KUHP.

b. Dengan cara menerangkan/memberikan unsur-unsur dan memberikan

pensifatan/kualitikasi, seperti misalnya pemalsuan Pasal 263, pencurian Pasal

362, penggelapan Pasal 372, penipuan Pasal 378 dari KUHP.

c. Cara yang jarang dipakai adalah hanya memberikan pensifatan kualifikasi

saja seperti misalnya penganiayaan Pasal 351, pembunuhan Pasal 338 dari

KUHP.

d. Kadangkala undang-undang merumuskan ancaman pidana- nya saja untuk

peraturan-peraturan yang masih akan dibuat kemudian seperti misalnya, Pasal

521 dan Pasal 122 ayat 1 KUHP).

46

(3)

Tentang elemen-elemen "Strajbaar fell" oleh Vos disebutkan kemungkinan

adanya beberapa elemen, yaitu:47

a. Elemen perbuatan atau kekuatan orang, dalam hal berbuat atau tidak berbuat

(een doen of een whiten).

b. Elemen akibat dari perbuatan, yang terjadi dalam delik selesai.

c. Elemen subyektif yaitu kesalahan, yang diwujudkan dengan kata-kata sengaja

(opzet) atau alpa (culpa).

d. Elemen melawan hukum (wederrelutellikeheid).

e. Dan sederetan elemen-elemen lain menurut rumusan undang-undang, dan

dibedakan menjadi segi obyektif misalnya di dalam Pasal 160 KUHP

diperlukan elemen di muka umum (in het openbaar) dan segi subyektif

misalnya Pasal 340 KUHP diperlukan unsur direncanakan lebh dahulu

(voorbedachterdaad).

Suatu tindak pidana atau perbuatan pidana itu juga dibagi unsur-unsurnya ke

dalam dua golongan, yaitu:48 a. Unsur-unsur yang obyektif;

b. Unsur-unsur yang subyektif.

Satochid Kartanegara, menerangkan tentang unsur-unsur yang obyektif adalah

unsur-unsur yang terdapat di luar manusia, yaitu yang berupa :

a. suatu tindak tanduk, jadi suatu tindakan;

b. suatu akibat tertentu (eem bepaald gevolg);

47

Bambang Poernomo, Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Cetakan III, Jakarta, 1978. hlm._85

48Ibid

(4)

c. keadaan (omstanddigheid), yang kesemuanya ini dilarang dan diancam

dengan hukuman oleh undang-undang.

Sedangkan unsur-unsur yang subyektif, dapat berupa :49 a. Toerekeningsvaibawbeid (dapat dipertanggungjawabkan).

b. Schuld (kesalahan).

Dari uraian-uraian di atas, marilah kita kaji dan bahas tentang Pasal 263 KUHP

dan unsur-unsurnya di mana bunyi daripada Pasal 263 KUHP, sebagai berikut :

(1) “Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat

menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu

pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan atau menyuruh orang lain

mempergunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan,

maka kalau mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian

dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya

enam tahun.

(2) “Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barangsiapa dengan sengaja

menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli

dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu

kerugian.

Unsur-unsur daripada Pasal 263 ayat (1) KUHP ini adalah meliputi:50

a. Unsur Objektif:

49

R.Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Politeia, Cetakan ke-8, Bogor, 1985.

50

(5)

1) Perbuatan:

a) membuat surat palsu;

b) memalsu.

2) Objeknya yakni surat:

a) yang dapat menimbulkan hak;

b) yang menimbulkan suatu perikatan;

c) yang menimbulkan suatu pembebasan hutang;

d) yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal.

3) Dapat menimbulkan akibat kerugian dari pemakaian surat tertentu.

b. Unsur Subjektif:

Dengan maksud untuk menggunakannya sebagai surat yang asli dan tidak

dipalsukan atau untuk membuat orang lain menggunakan orang tersebut.

Adapun penjelasan terhadap Pasal 263 ayat (1) KUHP ini adalah:51

a. Yang diartikan surat dalam Pasal 263 ayat (1) KUHP ini adalah segala surat

yang baik ditulis tangan, dicetak, maupun ditulis memakai mesin dan

lain-lainnya. Namun oleh penulis, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi sekarang ini, surat tidak hanya ditulis, dicetak dan lainnya, tetapi

telah ada pula surat elektronik yang tidak ditulis atau tertera pada selembar

kertas.52

51

R. Soesilo, Op. Cit., hlm. 197-198.

52

R. Soesilo, Log. Cit.

(6)

bahwa surat atau tulisan adalah sesuatu yang terdiri atas serangkaian huruf-

huruf yang mengandung arti dan yang memuat sesuatu isi tertentu.53

Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dibedakan dua

macam surat, yakni :

1) Surat berharga, terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda

"waarde papier", di negara-negara Anglo Saxon dikenal dengan istilah

“negotiable instruments”;

2) Surat yang mempunyai harga atau nilai, terjemahannya dari istilah aslinya

dalam bahasa Belanda "papier van waarde"; dalam bahasa Inggrisnya

"letter of value".54

Oleh Abdulkadir Muhammad, disebutkan adalah tiga fungsi utama dari surat

berharga, yaitu:

1) Sebagai alat pembayaran (alat tukar uang);

2) Sebagai alat untuk memindahkan hak tagih (diperjualbelikan dengan

mudah atau sederhana);

3) Sebagai surat bukti hak tagih (surat legitimasi).55 b. Surat yang dipalsu itu harus suatu surat yang:

1) dapat menerbitkan suatu hak (misalnya: ijazah, karcis tanda masuk, surat

andil dan lain-lain),

2) dapat menerbitkan suatu perjanjian (misalnya: surat perjanjian piutang,

perjanjian jual beli, perjanjian sewa dan sebagainya),

53

H.A.K. Moch. Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus KUHP Buku II, Log. Cit.

54

Abdulkadir Muhammad, Hukum Dagang tentang Surat-surat Berharga, Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-3, Bandung, 1989. hlm. 5.

55Ibid

(7)

3) dapat menerbitkan suatu pembebasan utang (kwitansi atau surat semacam

itu) atau,

4) suatu surat yang boleh dipergunakan sebagai suatu keterangan bagi sesuatu

perbuatan atau peristiwa (misalnya: surat tanda kelahiran, buku tabungan

pos, buku kas, buku harian kapal, surat angkutan, obligasi dan masih

banyak lagi).

Walaupun pada umumnya sebuah surat tidak melahirkan secara langsung

adanya suatu hak, melainkan hak itu timbul dari adanya perikatan hukum

(perjanjian) yang tertuang dalam surat itu, tetapi ada surat-surat tertentu

yang disebut surat formil yang langsung melahirkan suatu hak tertentu,

misalnya cek, bilyet giro, wesel, surat izin mengemudi, ijazah dan lain

sebagainya.

Surat yang berisi suatu perikatan pada dasarnya adalah berupa surat yang

karena perjanjian itu melahirkan hak. Misalnya surat jual beli melahirkan

hak si penjual untuk menerima uang pembayaran harga benda, dan

pembeli mempunyai hak untuk memperoleh atau menerima benda yang

dibelinya. Begitu juga dengan surat yang berisi pembebasan hutang.

Lahirnya pembebasan hutang pada dasarnya disebabkan karena dan dalam

hubungannya dengan suatu perikatan. Misalnya suatu Kuitansi yang

bersisi penyerahan sejumlah uang tertentu dalam hal dan dalam

hubungannya dengan misalnya jual beli, hutang piutang dan lain

(8)

Mengenai unsur “surat yang diperuntuhkan sebagi bukti akan adanya

sesuatu hal” di dalamnya ada 2 (dua) hal yang perlu dibicarakan, yakni:

• Mengenai diperuntuhkan sebagai bukti;

• Tentang sesuatu hal.

Sesuatu hal, adalah berupa kejadian atau peristiwa tertentu baik yang

karena diadakan (misalnya perkawinan) Maupun karena peristiwa

alam (misalnya kelahiran dan kematian), peristiwa mana mempunyai

suatu akibat hukum.56

c. Perbuatan yang dicantum hukuman di sini ialah “membuat surat palsu” atau

“memalsukan surat”.

HR dalam suatu arrestnya (22-10-1923)

menyatakan bahwa “yang diperhatikan sebagai bukti suatu hal adalah

kejadian yang menurut hukum mempunyai, jadi yang berpengaruh

terhadap hubungan hukum orang-orang yang bersangkutan”.

“Membuat surat palsu” sama dengan membuat yang isinya bukan semestinya

(tidak benar), atau membuat surat demikian rupa, sehingga menunjukkan asal

surat itu yang tidak benar. Pegawai polisi membuat prosesperbal yang berisi

sesuatu cerita yang tidak benar dari orang yang menerangkan kepadanya,

tidak masuk pengertian membuat perbal palsu. Ia membuat

proses-perbal palsu, apabila pegawai polisi itu menuliskan dalam proses proses-perbalnya

lain daripada hal yang diceritakannya kepadanya oleh orang tersebut.

“Memalsu surat” sama dengan mengubah surat demikian rupa, sehingga

isinya menjadi lain dari isi yang asli atau sehingga surat itu menjadi lain dari

56

(9)

yang asli. Adapun caranya bermacam-macam, tidak senantiasa perlu, bahwa

surat itu diganti dengan yang lain. Dapat pula dilakukan dengan jalan

mengurangkan, menambah atau merubah sesuatu dari surat itu. Memalsu

tandatangan masuk pengertian memalsu surat dalam pasal ini. Demikian pula

penempelan foto orang lain daripada pemegang yang tidak berhak dalam

suatu surat ijazah sekolah, ijazah mengemudi (rijbewijs), harus dipandang

dalam suatu pemalsuan.

Sedangkan perbuatan memalsu surat menurut Soenarto Soerodibroto adalah

berupa perbuatan mengubah dengan cara bagaimanapun oleh orang yang

tidak berhak atas sebuah surat yang berakibat sebagian atau seluruh isinya

menjadi lain/berbeda dengan isi surat semula. Tidak penting apakah dengan

perubahan itu lalu isinya menjadi benar atau tidak ataukah bertentangan

dengan kebenaran ataukah tidak, bila perbuatan mengubah itu dilakukan oleh

orang yang tidak berhak, memalsu surat telah terjadi. Orang yang tidak

berhak itu adalah orang selain si pembuat surat.57

Yurisprudensi di Jawa Barat, Mahkamah Agung R.I (MARI) membenarkan

bahwa pengertian pemalsuan surat dalam Pasal 263 KUHP adalah termasuk

mengubah surat asli sedemikian rupa sehingga isinya atau tanggalnya atau

tanda tangannya bertentangan dengan kebenaran yang mempunyai maksud

tertentu, seumpamanya untuk membuktikan suatu perkara.58

Dan dalam Yurisprudensi Tetap MARI No. 40/Kr/1973, tertanggal 5 Juni

1975, menyatakan bahwa mengisi blangko kuitansi tidak mempunyai unsur

57Ibid

, hlm. 100.

58

(10)

melawan hukum sepanjang pengisiannya tidak bertentangan dengan maksud

dari si-penandatangan untuk apa kuitansi itu ditandatanganinya.59

Ditambahkan lagi menurut Soenarto Soerodibroto dalam hal ini ada suatu

arrest HR (14-4-1913) yang menyatakan bahwa “barang siapa di bawah suatu

penulisan membubuhkan tanda tangan orang lain sekalipun atas perintah dan

persetujuan orang tersebut telah memalsukan tulisan itu”60

Menurut Adami Chazawi, membuat surat palsu adalah membuat sebuah surat

yang seluruh atau sebagian isinya palsu. Membuat surat palsu ini dapat

berupa:

Perbedaan prinsip antara perbuatan membuat surat palsu dan memalsu surat,

adalah bahwa membuat surat palsu/membuat palsu surat sebelum perbuatan

dilakukan belum ada surat, kemudian di buat suatu surat yang isinya

sebagaian atau seluruhnya adalah bertentangan dengan kebenaran atau palsu.

Seluruh tulisan dalam tulisan itu di hasilkan membuat surat palsu. Surat yang

demikian di sebut dengan surat palsu atau surat tidak asli. Tidak demikian

dengan perbuatan memalsu surat. Sebelum perbuatan ini dilakukan, sudah ada

sebuah surat disebut surat asli. Kemudian pada surat yang asli ini, terhadap

isinya (termasuk tanda tangan dan nama si pembuat asli) dilakukan perbuat

memalsu yang akibatnya surat yang semula benar menjadian surat yang

semula benar dan bertentangan dengan kebenaran atau palsu.

61

59

Yurisprudensi Tetap Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 40/Kr/1973, tertanggal 5 Juni 1975.

60

Soenarto Soerodibroto, Op. Cit.,hlm. 154.

61

(11)

• Membuat sebuah surat yang sebagian atau seluruh isi surat tidak sesuai

atau bertentangan dengan kebenaran. Membuat surat yang demikian

disebut dengan pemalsuan intelektual.

• Membuat sebuah surat yang seolah-olah surat itu berasal dari orang lain

selain si pembuat surat. Membuat surat palsu yang demikian ini disebut

dengan pemalsuan materil. Palsunya surat atau tidak benarnya surat

terletak pada asalnya atau si pembuat surat

d. Supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka pada waktu pemalsuan surat

itu harus dengan maksud akan menggunakan atau suruh orang lain

menggunakan surat itu seolah-olah asli dan tidak palsu. Jadi pemalsuan surat

untuk kepentingan pelajaran, penyelidikan atau percobaan dilaboratorium,

tidak dapat dikenakan pasal ini. Dengan demikian memiliki makna bahwa:62 1) adanya orang-orang yang terpedaya dengan digunakannya surat-surat yang

demikian;

2) surat itu berupa alat yang digunakan untuk memperdaya orang, orang

mana adalah orang yang menganggap surat itu asli dan tidak dipalsu, orang

terhadap siapa maksud surat itu digunakan, bisa orang-orang pada

umumnya dan bisa juga orang tertentu. Seperti membuat SIM (Surat Ijin

Mengemudi) dirinya secara palsu, yang terpedaya adalah Polisi, dan bila

penggunaannya dengan maksud untuk diterimanya bekerja sebagai sopir,

maka yang terpedaya adalah majikannya yang akan mempekerjakan orang

itu.

62

(12)

e. Penggunaannya itu harus dapat mendatangkan kerugian. “Dapat” maksudnya

tidak perlu kerugian itu betul-betul sudah ada, baru kemungkinan saja akan

adanya kerugian itu sudah cukup, yang diartikan dengan “kerugian” di sini

tidak saja hanya meliputi kerugian materiil, akan tetapi juga kerugian

dilapangan kemasyrakatan, kesusilaan, kerhormatan dan sebagainya.

Menurut Soenarto Soerodibroto “Kerugian yang dapat timbul akibat dari

pemakaian surat palsu atau surat dipalsu, tidak perlu diketahui atau disadari

oleh petindak”. Hal ini ternyata dari adanya suatu arrest HR (8-6-1897) yang

menyatakan bahwa “petindak tidak perlu mengetahui terlebih dulu

kemungkinan timbulnya kerugian ini”. Tidak ada ukuran-ukuran tertentu

untuk menentukan akan adanya kemungkinan kerugian jika surat palsu atau

surat dipalsu itu dipakai, hanya berdasarkan pada akibat-akibat yang dapat

dipikirkan oleh orang-orang pada umumnya yang biasanya terjadi dari adanya

penggunaan surat semacam itu.63

a. Membuat dengan meniru tanda tangan seseorang yang tidak ada orangnya,

seperti orang yang telah meninggal dunia atau secara fiktif;

Di samping isi dan asalnya sebuah surat disebut surat palsu, apabila tanda

tangannya yang tidak benar. Hal ini dapat terjadi dalam hal misalnya:

b. Membuat dengan meniru tanda tangan orang lain baik dengan persetujuannya

ataupun tidak.64

Tanda tangan yang dimaksud di sini termasuk tanda tangan dengan menggunakan

cap/stempel tanda tangan. Hal ini ternyata dari suatu arrest HR (12-2-1920) yang

63Ibid

, hlm. 156.

64

(13)

menyatakan bahwa disamakan dengan menandatangani suatu surat ialah

membubuhkan stempel tanda tangannya.65

a. Unsur Objektif

Unsur-unsur daripada Pasal 263 ayat (2) KUHP ini adalah meliputi:

1) Perbuatan: Memakai.

2) Objeknya:

a) Surat palsu;

b) Surat yang dipalsukan.

3) Pemakaian surat tersebut dapat menimbulkan kerugian.

b. Unsur Subjektif yakni dengan sengaja.

Adapun penjelasan dalam Pasal 263 ayat (2) KUHP ini tersebut menurut

R. Soesilo adalah:

Yang dihukum menurut pasal ini tidak saja “memalsukan” surat (ayat 1), tetapi

juga “sengaja mempergunakan” surat palsu (ayat 2), “sengaja” maksudnya, bahwa

orang yang menggunakan itu harus mengetahui benar-benar bahwa surat yang ia

gunakan itu palsu. Jika ia tidak tahu akan hal itu, ia tidak dihukum.66

Pengertian kesengajaan yang dirumuskan oleh Satochid Kartanegara, ialah

melaksanakan sesuatu perbuatan, yang didorong oleh suatu keinginan untuk

65

Soenarto Soerodibroto, Log. Cit.

66

(14)

berbuat atau bertindak.67 Oleh Bambang Poernomo, dikemukakannya bahwa kesengajaan itu secara alternatif dapat ditujukan kepada tiga elemen perbuatan

pidana sehingga terwujud kesengajaan terhadap perbuatan, kesengajaan terhadap

akibat dan kesengajaan terhadap hal ikhwal yang menyertai perbuatan pidana.68

Sebab dianggap sebagai mempergunakan, ialah misalnya menyerahkan surat itu

kepada orang lain yang harus mempergunakan lebih lanjut atau menyerahkan

surat itu ditempat dimana surat tersebut harus dibutuhkan. Dalam hal ini

menggunakan surat palsu inipun harus pula dibuktikan, bahwa orang itu bertindak

seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, demikian pula perbuatan itu harus

dapat mendatangkan kerugian.69

2. Pemalsuan surat yang diperberat ( Pasal 264 KUHP)

Dalam Pasal 264 KUHP merumuskan sebagai berikut:70

• Akta-akta otentik;

(1) Pemalsuan surat di pidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan)

tahun, jika dilakukan terhadap:

• Surat hutang atau sertifikat hutang dari suatu negara atau bagiannya

ataupun dari suatu lembaga umum;

67

Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Bagian Satu, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, 1890. hlm. 183.

68

Bambang Poernomo, Log. Cit.

69

R. Soesilo, Op. Cit., hlm. 196.

70Ibid

(15)

• Surat sero atau surat hutang atau sertifikat sero atau hutang dari suatu

perkumpulan, yayasan, perseroan, atau maskapai;

• Talon, tanda bukti deviden atau bunga dari salah satu surat yang

diterangkan dalam 2 (dua) dan 3 (tiga), atau tanda bukti yang dikeluarkan

sebagai pengganti surat-surat itu;

• Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan unutk diedarkan;

(2) Di pidana dengan pidana yang sama barangsiapa dengan sengaja memakai

surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak asli atau dipalsukan

seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemakaian surat itu dapat

menimbulkan kerugian.

Adapun penjelasan terhadap Pasal 264 KUHP tersebut adalah:71

a. Sudah barang tentu perbuatan yang diancam hukuman dalam pasal ini harus

memuat segala elemen-elemen atau syarat-syarat yang termuat dalam Pasal

263 KUHP dan selain daripada itu ditambah dengan syarat, bahwa surat yang

dipalsukan itu terdiri dari surat autentik dan sebagainya, yang tersebut

berturut-turut pada sub 1 (satu) sampai 5 (lima) dalam pasal ini, surat-surat

mana bersifat umum dan harus tetap membahayakan kepercayaan umum,

sehingga menurut pasal ini diancam hukuman yang lebih berat dari

pemalsuan surat biasa.

71Ibid

(16)

b. Akta otentik adalah akte yang dibuat dihadapan seorang pegawai negeri

umum yang berhak untuk itu, biasanya notaris, pegawai pencatatan jiwa dan

sebagainya.

Kepercayaan yang lebih besar terhadap kebenaran akan isi dari

macam-macam surat itulah yang menyebabkan diperberat ancaman pidananya.

Penyerangan terhadap kepercayaaan masyarakat yang lebih besar terhadap isi

surat-surat yang demikian dianggap membahayakan kepentingan umum

masyarakat yang lebih besar pula.

3. Menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta autentik ( Pasal 266

KUHP)

Dalam Pasal 266 KUHP merumuskan sebagai berikut:72

(1) Barangsiapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta

autentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta

itu, dengan maskud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta

itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, di pidana, jika

pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengna pidana penjara paling

lama 7 (tujuh) tahun;

(2) Di pidana dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai

akta tersebut seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran, jika karena

pemakaian tersebut dapat menimbulkan bukan kerugian.

72Ibid

(17)

Adapun penjelasan terhadap Pasal 266 KUHP tersebut adalah:73

a. Yang dinamakan akta autentiek yaitu suatu surat yang dibuat menurut bentuk

dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang, oleh pegawai umum.

b. Yang dapat dihukum menurut pasal ini misalnya orang yang memberikan

keterangan tidak benar kepada pegawai Burgerlijke Stand untuk dimasukkan

kedalam akte kelahiran yang harus dibuat oleh pegawai tersebut, dengan

maksud untuk mempergunakan atau menyuruh orang lain menggunakan akte

itu seolah-olah keterangan yang termuat di dalamnya itu benar.

c. Yang diancam hukuman itu tidak hanya orang yang memberikan keterangan

tidak benar dan sebagainya, akan tetapi juga orang yang dengan sengaja

menggunakan surat (akte) yang memuat keterangan tidak benar itu. Dalam

dua hal ini senantiasa harus dibuktikan, bahwa orang itu seakan-akan isi surat

itu benar dan perbuatan itu dapat mendatangkan kerugian.

d. Orang yang memberikan keterangan palsu (tidak benar) kepada pegawai

polisi untuk dimasukkan kedalam proses-perbal itu tidak dapat dikenakan

pasal ini, karena proses-perbal itu gunanya bukan untuk membuktikan

kebenaran dari keterangan orang itu, tetapi hanya untuk membuktikan bahwa

keterangan yang diberikan orang itu demikianlah adanya. Ini beda sekali

dengan surat (akte) kelahiran yang gunanya benar-benar untuk membuktikan

kebenaran kelahiran itu.

73Ibid

(18)

e. Dapat dihukum menurut pasal ini misalnya pedagang yang menyuruh

membuat persetujuan dagang kepada seorang notaris mengenai sebidang

tanah, jika terlebih dahulu ia menjual tanah itu kepada orang lain. Dalam hal

ini maka akte notaris merupakan suatu surat yang digunakan sebagai bukti

terhadap suatu pemindahan hak milik. Kerugian yang akan diderita oleh

pembeli sudah terang, ialah jumlah uang yang telah dibayar untuk pembelian

itu yang bukan semestinya, biaya notaris dan sebagainya pun dapat dihukum

pula seorang yang menyuruh pegawai kantor pencatatan jiwa untuk membuat

suatu akte tentang kelahiran seorang anak dari istrinya dengan nama kecil A,

sedangkan anak itu sebenarnya telah dilahirkan oleh perempuan lain daripada

istrinya itu, sehingga pemakaian akte itu dapat menimbulkan kerugian bagi

anaknya yang sebenarnya. Akan tetapi menurut keputusan ketua Pengadilan

Negeri Indramayu 17 Januari 1939, demikian tulis W.F.L. Buschkens, maka

seorang terdakwa yang telah menikah dihadapkan penghulu, sambil tidak

mengatakan pada ketika itu, bahwa antara mereka ada hubungan paman dan

keponakan, hubungan kekeluargaan mana menurut hukum islam merupakan

penghalang untuk menikah tidak menimbulkan pemalsuan surat oleh karena

dalam apa yang biasa dinamakan “surat kawin” itu hubungan kekeluargaan

yang ada antara pihak-pihak yang menikah tidak pernah disebutkan.

Untuk selesainya perbuatan menuyuruh memasukkan dalam arti selesainya

kejahatan secara sempurna, tidak cukup dengan selesainya perbuatan memberikan

(19)

hal/kejadian itu telah nyata-nyata dimuatnya dalamakta autentik yang

dimaksudkannya.

Objek kejahatan ini adalah keterangan palsu, artinya suatu keterangan

yang bertentangan dengan kebenaran, keterangan mana mengenai sesuatu

hal/kejadian. Tidak semua hal/kejadian berlaku di sini, melainkan kejadian yang

harus dibuktikan oleh akta autentik itu. Suatu hal atau kejadian yang dimaksud

adalah sesuatu hal yang menjadi isi pokok dari akta autentik yang dibuat itu. Akta

nikah isi pokoknya adalah perihal pernikahan, akta jual beki isi pokoknya perihal

jual beli, akta kelahiran isi pokoknya adalah perihal kelahiran, dan bukan

mengenai hal-hal di luar mengenai isi pokok dari akta.

Memberikan keterangan palsu dalam Pasal 266 KUHP memang berkaitan

erat dengan ketentuan-ketentuan serta unsur-unsur yang ada dalam Pasal 263 dan

Pasal 264 KUHP. Bahwa Pasal 264 ayat (1) KUHP memiliki unsur-unsur yang

sama dengan Pasal 263 ayat (1) KUHP, sedangkan perbedaannya terletak dalam

obyek daripada pemalsuan. Obyek daripada pemalsuan ini adalah beberapa jenis

surat tertentu, seperti akta otentik, dan sebagainya.74

Tentang Pasal 266 KUHP ini, dapat dijelaskan lebih lanjut apabila seorang

yang memiliki sebidang tanah datang menghadap kepada pejabat umum yakni

Notaris untuk dibuatkan suatu akte tanah sebagai bukti pemilikannya, padahal

batas-batas tanahnya dilebihkan dari batas-batas tanah sebenarnya dengan cara

menambah beberapa bagian dari tanah tetangganya. Kepada Notaris dikemukakan

74

(20)

batas-batas tanah termasuk tanah tambahan yang sebenarnya bukan miliknya

tetapi milik tetangganya. Di sini si pelaku telah memberikan keterangan yang

tidak benar kepada Notaris. Apabila kemudian Notaris membuatkan bukti

kepemilikan tanah dari keterangan palsu tersebut, lalu orang yang memberikan

keterangan palsu itu menjual kembali tanah yang dibuatkan aktanya oleh Notaris,

kemudian digugat oleh si pemilik tanah (tetangganya), maka di sini telah ada

kerugian yang diderita. Namun lebih prinsipil dari kajian ini, bukan unsur

kerugiannya, melainkan memberikan keterangan palsu atau tidak benar, dan yang

lebih penting lagi keterangan itu diberikannya dengan sengaja (opzet). Ini yang

penting sehubungan dengan unsur-unsur dalam Pasal 266 KUHP tersebut.

4. Pemalsuan surat tertentu ( Pasal 269 KUHP dan Pasal 270 KUHP)

Dalam Pasal 269 KUHP merumuskan sebagai berikut:75

(1) Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsu surat keterangan tanda

kelakuan baik, kecakapan, kemiskinan, kecacatan atau keadaan lain, dengan

maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat itu supaya

diterima dalam pekerjaan atau supaya menimbulkan kemurahan hati dan

pertolongan, di pidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 4

(empat) bulan.

(2) Di pidana dengan pidana yang sama barangsiapa yang dengan sengaja

memakai surat keterangan yang palsu atau yang dipalsukan tersebut dalam

ayat pertama, seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsu.

75

(21)

Adapun penjelasan terhadap Pasal 269 KUHP tersebut adalah:76

a. Orang yang membuat palsu atau memalsukan surat keterangan tentang

kekuasaan baik, kecakapan, kemiskinan, cacat atau keadaan lain-lain dengan

maksud akan menggunakan satu menyuruh menggunakan surat itu supaya

dapat masuk pekerjaan, menerbitkan kemurahan hati atau perasaan suka

member pertolongan;

b. Orang yang menggunakan surat semacam itu sedang ia tahu akan

kepalsuaannya.

Jenis surat yang menjadi objek kejahatan Pasal 269 KUHP tersebut di atas

yang menurut kebiasaan dikeluarkan oleh pejabat umum yang berwenang.

Misalnya surat keterangan tanda kelakuan baik yang dikeluarkan Pejabat

Kepolisian setempat, surat tentang kemiskinan atau tidak mampu oleh Kepala

Desa atau Lurah setempat, bahkan kadang juga dikeluarkan oleh Camat atas surat

Kepala Desa atau Lurah setempat. Subjek hukum kejahatan ini dapat pejabat itu

sendiri, orang lain selain pejabat yang bersangkutan.

Pasal 270 KUHP merumuskan sebagai berikut:77

(1) Barangsiapa membuat secara palsu atau memalsu surat jalan atau surat

penggantinya, kartu keamanan, surat perintah jalan atau surat yang diberikan

menurut ketentuan undang-undang tentang pemberian izin kepada orang

asing untuk masuk dan menetap di Indonesia, ataupun barangsiapa menyuruh

memberikan surat serupa itu atas nama palsu atau nama kecil yang palsu atau

dengan menunjuk pada keadaan palsu, dengan maksud untuk memakai atau

76Ibid

.

77Ibid

(22)

menyuruh orang lain memakai surat itu seolah-olah asli dan tidak dipalsukan

atau seolah-olah isinya sesuai dengna kebenaran, di pidana dengan pidana

penjara paling lama 2 (dua) tahun 8 (delapan) bulan.

(2) Di pidana dengan pidana yang sama, barangsiapa yang dengan sengaja

memakai surat yang tidaka benar atau yang dipalsu tersebut ayat pertama,

seolah-olah benar dan tidak dipalsu atau seolah-olah isinya sesuai dengan

kebenaran.

Adapun penjelasan terhadap Pasal 270 KUHP tersebut adalah:78

a. Yang menjadi objek pemalsuan dalam pasal ini ialah surat pas jalan, surat

pengganti pas jalan, surat keselamatan (jaminan atas keamanan diri), surat

perintah, surat-surat izin yang diberikan menurut peraturan undang-undang

izin masuk ke Indonesia tersebut dalam L.N. 1949 No. 331, misalnya: surat

izin masuk paspor, surat izin mendarat, surat izin berdiam dan sebagainya.

b. Seorang pembesar polisi atau pembesar lain-lainya mengeluarkan surat

perintah jalan yang tidak betul, umpanya kepada seorang partikulir

disebutkan sebagai berpangkat agen polisi, atau sebenarnya untuk

kepentingan prive disebutkan untuk kepentingan dinas, agar supaya mendapat

ongkos jalan dari dinas, dapat dikenakan pasal ini. Bukan pembesar itu saja,

akan tetapi orangnya yang sengaja mempergunakan surat perintah jalan palsu

itu dapat dikenakan pasal ini pula.

Pemalsuan tehadap surat-surat seperti ini dapat dilakukan baik oleh pejabat

78Ibid

(23)

tersebut maupun orang lain selain pejabat, maupun oleh pemilik maupun orang

lain selain pemilik. Kejahatan membuat secara palsu atau memalsu dan kejahatan

menyuruh memberi surat jenis paspor palsu beserta kejahatan menggunakannya

sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 270 KUHP dapat terjadi secara

berbarengan dengan kejahatan mengenai objek paspor menurut Undang-undang

Nomor 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian.79

5. Menyimpan bahan atau benda untuk pemalsuan surat ( Pasal 275 KUHP) Misalnya seorang waga negara

asing memiliki paspor palsu atau paspor dipalsu (hasil kejahatan Pasal 270 ayat

(1) KUHP), kemudian ia menggunakannya untuk masuk dan berada di Indonesia,

maka ia telah melanggar sekaligus Pasal 270 ayat (2) KUHP dan Pasal 1

Undang-undang Keimigrasian.

Pada kejahatan yang dimaksud Pasal 270 ayat (1) KUHP, yang di pidana

adalah orang-orang yang melakukan perbuatan minta dikeluarkannya surat-surat

yang disebutkan dalam ayat (1). Sedangkan pada pejabat pembuat surat-surat

palsu itu, apabila sikap batinnya sama dengan orang yang meminta dibuatkan

surat semacam ini, maka ia dapat di pidana berdasarkan kejahatan ayat (1).

Mengenai unsur kesalahan, yakni maksud untuk menggunakan surat

seperti itu seolah-olah surat yang isinya benar dan tidak palsu (ayat 1) maupun

dengan sengaja (ayat 2) telah dibahas secara cukup pada pembicaraan pasal-pasal

sebelumnya.

Dalam Pasal 275 KUHP merumuskan sebagai berikut:80

79

Soenarto Soerodibroto, Op. Cit., hlm. 131.

80

(24)

(1) Barangsiapa menyimpan bahan atau benda yang diketahuinya bahwa

diperentukkan untuk melakukan salah satu kejahatan berdasarkan Pasal 264

No.2-5, di pidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun atau pidana

denda paling banyak Rp 4.500,.

(2) Bahan-bahan dan benda-benda itu dirampas.

Perbuatan menyimpan adalah berupa perbuatan membuat benda berada

dalam kekuasaanya sedemikian rupa yang bilamana diperlukan ia dapat segera

mempergunakannya.81

Unsur kesalahan dalam kejahatan ini adalah berupa yang diketahuinya

bahwa bahan atau benda itu dipergunakan untuk melakukan pemalsuan surat Pasal

264 butir 2-5 KUHP.

Dalam menyimpan tidak perlu benda itu berada langsung

dalam kekuasaannya, dapat juga berada dalam tangan orang lain atas

permintaannya atau perintahnya, dan orang lain itu tunduk sepenuhnya atas

perintah orang itu mengenai benda tadi. Benda yang dimaksudkan adalah

benda-benda yang digunakan sebagai alat dalam membuat palsu atau memalsu surat

objek cetak, stempel, pulpen, dan sebagainya. sedangkan bahan berupa bahan

pembuat surat palsu atua surat yang dipalsu, misalnya tinta dan kertas.

82

B. Pemalsuan SIM Dalam Hukum Pidana Di Indonesia

Adapun hukum positif di Indonesia yang mengatur wajibnya kepemilikan

SIM sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor dalam mengendarai/mengemudikan

kendaraan bermotor di jalan adalah sebagaimana tertulis di dalam Pasal 77 ayat

(1) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

81

Soenarto Soerodibroto, Op. Cit., hlm. 138.

82Ibid

(25)

Jalan yakni setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib

memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang

dikemudikan.83 Dan dalam Pasal 288 ayat (2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yakni dijelaskan bahwa setiap orang

yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang tidak dapat menunjukkan

Surat Izin Mengemudi yang sah di pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan

dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).84

Adapun SIM berfungsi sebagai berikut:

Dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan diharapkan akan menjadi suatu perbaikan dari aturan

yang sebelumnya yaitu Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu

Lintas. Jika membandingkan antara kedua undang-undang tersebut, bahwa dalam

Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 telah mengalami perubahan tetapi

perubahan tersebut hanya sedikit dan tidak signifikan terhadap tindak pidana

pelanggaran lalu lintas dari undang-undang yang lama. Perundang-undangan lalu

lintas dan angkutan jalan, diarahkan untuk menciptakan peraturan yang mampu

melandasi dan menjamin tahap-tahap pelaksanaan sistem perhubungan nasional

secara menyeluruh.

85

1. Legitimasi kompetensi Pengemudi

83

Pasal 77 ayat (1) Undang-undang No. 22 Thn. 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

84

Pasal 288 ayat (2) Undang-undang No. 22 Thn. 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

85

(26)

yakni merupakan bentuk pengakuan dan penghargaan dari Negara Republik

Indonesia kepada para peserta uji yang telah lulus Ujian Teori, Ujian

Keterampilan melalui Simulator, dan Ujian Praktik.

Ujian Teori adalah penilaian terhadap tingkat pengetahuan dan pemahaman

mengenai peraturan perundang-undangan di bidang lalu lintas, teknis dasar

Ranmor, cara mengemudikan Ranmor, dan tata cara berlalu lintas bagi

peserta uji sedangkan Ujian Praktik adalah penilaian terhadap tingkat

kemampuan dan keterampilan mengemudi Ranmor dan berlalu lintas di jalan

bagi peserta uji.

2. Identitas Pengemudi

yakni memuat keterangan identitas lengkap pengemudi.

3. Kontrol kompetensi Pengemudi

yakni merupakan alat penegakan hukum dan bentuk akuntabilitas pengemudi.

4. Forensik kepolisian

yakni memuat identitas pengemudi yang dapat digunakan untuk mendukung

kegiatan penyelidikan dan penyidikan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas

serta tindak pidana lain.

Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) adalah unsur pelaksana

Polri di bidang lalu lintas yang berada di lingkungan kantor Kepolisian setempat

atau di luar lingkungan kantor Kepolisian, yang dimana SIM yang diterbitkan oleh

Satpas di Indonesia berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.86

86

(27)

SIM tidak mempunyai kekuatan berlaku apabila:87 1. habis masa berlakunya;

2. dalam keadaan rusak dan tidak terbaca lagi;

3. diperoleh dengan cara tidak sah;

4. data yang terdapat dalam SIM diubah; dan/atau

5. SIM dicabut berdasarkan putusan pengadilan.

Adapun persyaratan pendaftaran SIM bagi peserta uji meliputi:88 1. Usia

• berusia 17 (tujuh belas) tahun untuk SIM A, SIM C, dan SIM D;

• berusia 20 (dua puluh) tahun untuk SIM B I dan berusia 21 (dua puluh

satu) tahun untuk SIM B II;

• berusia 20 (dua puluh) tahun untuk SIM A Umum;

• berusia 22 (dua puluh dua) tahun untuk SIM B I Umum dan berusia 23

(dua puluh tiga) tahun untuk SIM B II Umum.

2. Administrasi

yakni terdiri atas persyaratan pengajuan:

• SIM baru;

• perpanjangan SIM;

• pengalihan golongan SIM;

• perubahan data pengemudi;

• penggantian SIM hilang atau rusak;

87

Pasal 12 Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. 9 Thn. 2002 tentang Surat Izin Mengemudi.

88

(28)

• penerbitan SIM akibat pencabutan SIM

3. Kesehatan meliputi:

• Kesehatan Jasmani

• Kesehatan Rohani

Adapun persyaratan dan tata cara memperoleh SIM Golongan C baru

sebagai berikut:89

1. Sehat Jasmani dan rohani dinyatakan dengan surat keterangan Dokter.

2. Berusia sekurang-kurangnya 16 tahun.

3. Membayar formulir di BII/BRI.

4. Mengisi formulir permohonan

5. Dapat menulis dan membaca huruf latin.

6. Melampirkan foto copy KTP.

7. Memiliki pengetahuan yang cukup mengenai lalu-lintas jalan dan memiliki

ketrampilan mengemudikan kendaraan bermotor.

8. Lulus ujian teori dan praktek.

89

Referensi

Dokumen terkait

Tema yang penulis pilih untuk disertasi adalah Tipologi Kemiskinan dan Kerentanan Berbasis Agroekosistem dan Implikasinya pada Kebijakan Pengurangan

Sesuai dengan tujuan pendidikan, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VA SDN 004 Bagan Besar Dumai pada materi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, reliability (kehandalan) dari Galeri Indosat Solo yang ditunjukkan dengan kehandalan dalam bentuk prosedur pelayanan, kesiapan dan kesigapan

Dalam membincangkan isu keselamatan penggunaan transaksi atas talian ini, umumnya, ia menfokuskan kepada keselamatan maklumat-maklumat pelanggan yang digunakan semasa transaksi

1. Para migran beranggapan bahwa pendapatan yang dihasilkan di Malaysia atau Arab Saudi lebih banyak daripada pendapatan mereka yang hanya bekerja di daerahnya

Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian Lasmawan (2009:1) sistimatika kurikulum IPS SD 2006 dilihat dari kepentingan belajar peserta didik memiliki tujuan

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Pekanbaru merupakan instansi publik yang menyelenggarakan pelayanan publik dibidang kependudukan dan pencatatan sipil,

1) Perencanaan mutu layanan di SMP Assa’adah melibatkan Kepala Sekolah, komite, dan juga kepala yayasan. Tujuan dari perencanaan mutu layanan di SMP Assa’adah yaitu