PARADIGMA PEMANFAATAN
SUMBERDAYA ALAM DAN
LINGKUNGAN
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH)
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)
Institut Pertanian Bogor
Hefni Effendi
Outline Presentasi
1. Pengertian Sumberdaya Alam dan Lingkungan
2. Regulasi Pengelolaan SDA dan Lingkungan
3. Paradigma Pemanfaatan Sumberdaya Alam
Sumberdaya Alam
Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan
hidup yang terdiri atas sumberdaya hayati dan
Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
Renewable vs Non Renewable
Sumberdaya alam dapat diperbaharui adalah sumberdaya alam yang tidak akan pernah habis jika
dugunakan karena selalu mengalami siklus dan terbarukan.
Sumberdaya alam tidak dapat diperbaharui
adalah sumberdaya alam yang jumlahnya terbatas karena
Tangible vs Intangible
Sumberdaya tangible : Sumberdaya yang dapat dan tak dapat diperbaharui.
• Sumberdaya yang tak dapat diperbaharui : minyak, gas, mineral batuan, tanah pucuk (top soil), dsb.
• Sumberdaya yang terbarukan: air, angin, gelombang, arus, biota, vegetasi, ekosistem, dsb.
Regulasi
UUD 45, Pasal 33
• Bumi, air dan kekayaan alam menjadi modal dasar
pembangunan bangsa Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
• (ayat 4) Perekonomian nasional diselenggarakan
berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efesiensi keadilan, berkelanjutan,
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah
terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
yang meliputi
perencanaan
, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan
penataan
, pemanfaatan, pengembangan,pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan
- Lalu menggunakannya untuk membangkitkan
Buku
The power of sustainable thinking
(Bob Doppelt, 2010)
- Hasil sampingnya berupa limbah yang dirilis ke alam
berupa gas penyebab efek rumah kaca, pencemaran air, pencemaran tanah, dan limbah B3.
untuk pertumbuhan selanjutnya.
Dengan demikian berupa
close-loop system
melalui pemanfaatan energi terbarukan, seperti matahari, angin, gelombang, biomassa, dsb, serta bahan baku dan proses yang eco friendly.
Paradigma pengejaran kesejahteraan seyogyanya
menganut
close-loop system
ini.Eliminasi jauh
take-make-waste
yang telah merusak sumberdaya alam dan lingkungan dan
Paham lain yang menguras sumberdaya alam
adalah
Utilitarianism
(Mill, 1861 in Doppelt, 2010)yang disimplifikasi sebagai
Ends-based-thinking
(Kidder, 1995).Pemanfaatan sumberdaya alam demikian
berfokus pada hasil terbaik (the greatest good) yang dinikmati oleh banyak orang (the greatest
number), tanpa memikirkan konsekuensi
Rule-base-thinking
dintroduksi oleh Filosof Jerman Immanel Kant pada abad 18
- Mesti berperilaku sesuai dengan ketentuan yang orang lain juga mengikuti ketentuan tersebut.
- Paham demikian berpedoman semata pada adanya ketentuan/regulasi.
- Ketiadaan aturan yang melarang pembakaran
hutan dalam pembukaan, dimaknai bahwa praktisi
perkebunan boleh membakar hutan sesukanya.
Paham demikian terpaku hanya pada sekedar taat.
- Belum mengakomodir
terminologi beyond
complience
atau lebih dari sekedar taat yangPrinsip lain dalam pemanfaatan sumberdaya secara bijak adalah
Care-base-thinking
(Kidder, 1995) dengan slogan love your neighbour as yourself.- Bahwa pemanfaatan sumberdaya alam berlebihan mesti
memikirkan konsekuensinya dan kemungkinan habisnya yang tak dinikmati oleh generasi penerus.
- Paham ini sebetulnya telah diadopsi pada ideologi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang
menginkorporasikan pertumbuhan ekonomi dengan kerusakan lingkungan dan sosial (Fiksel, 2003).
- The earth’s natural capital-ecological wealth not created by, but essential for, human survival – as well as social and economic well-being are at grave risk.
- The way in which society responds to these challenges will define the winners and
Pembangunan
berkelanjutan
Upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk
Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan hidup
meliputi:a. Perencanaan
b. Pemanfaatan c. Pengendalian d. Pemeliharaan e. Pengawasan
1. Inventarisasi Lingkungan Hidup
2. Penetapan Wilayah Ekoregion
3. Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Perencanaan
Perlindungan
Inventarisasi Lingkungan Hidup
mencakup:
a. Tingkat nasional
Inventarisasi Lingkungan Hidup
Penetapan Wilayah Ekoregion
Inventarisasi lingkungan hidup menjadi
Penetapan Wilayah Ekoregion
mempertimbangkan kesamaan:
a. Karakteristik bentang alam b. Daerah aliran sungai
c. Iklim
d. Flora dan fauna e. Sosial budaya f. Ekonomi
g. Kelembagaan masyarakat
Inventarisasi lingkungan hidup di tingkat wilayah ekoregion dilakukan untuk
menentukan
1) Daya dukung
2) Daya tampung
3. Rencana Perlindungan dan
Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
(RPPLH)
Perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup, serta upaya perlindungan dan
pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu, mencakup
a. RPPLH nasional b. RPPLH provinsi
Penyusunan RPPLH
memperhatikan:a. Keragaman karakter dan fungsi ekologis b. Sebaran penduduk
c. Sebaran potensi sumber daya alam d. Kearifan lokal
RPPLH
memuat rencana tentang:a. Pemanfaatan dan/atau pencadangan sumberdaya alam
b. Pemeliharaan dan perlindungan kualitas dan/atau fungsi lingkungan hidup
c. Pengendalian, pemantauan, serta
pendayagunaan dan pelestarian sumberdaya alam
RPPLH
menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam Rencana PembangunanJangka Panjang (RPJP) dan Rencana
1. Doppelt, B. 2008. The power of sustainable thinking. Earthscan publishing for a sustainable future. London, Washinton DC. 218 p. 2. Effendi, H. 2016. Lingkungan dalam perspektif kekinian. IPB Press.
Bogor. 300 hal.
3. Effendi, H. 2011. Senarai bijak terhadap alam dan inspiratif dalam gagasan. IPB Press. Bogor. 178 hal.
4. Fiksel, J. 2003. Designing Resilient, Sustainable System. Environ. Sci. Technol. 37: 5330-5339.
5. Kidder, R. 1995. How good people make tough choices. Harper Collins Publisher. New York.
6. Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.