• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriminologi Pelanggaran yang Berkaitan d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kriminologi Pelanggaran yang Berkaitan d"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KRIMINOLOGI

“Pelanggaran Yang Berkaitan Dengan Psikis”

Disusun Oleh :

Rangga P.R. Kartasasmita (2014200157)

Fridho Pambudi (2014200018)

Muhammad Galing Ganesworo (2014200133)

DOSEN : Dr. Anne Safrina Kurniasari, S.H., LL.M.

KELAS : B

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

BANDUNG

(2)

LATAR BELAKANG

Kejahatan pada dasarnya adalah perbuatan tingkah laku yang melawan hukum dan secara

norma atau nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat berlawanan. Dahulu anggapan

kejahatan oleh orang-orang dipercayai sebagai perbuatan yang berasal dari setan. Seiring

perkembangan, filsuf-filsuf di dunia mulai beranggapan bahwa perbuatan kejahatan bukanlah

dari setan dan dianggap tidak masuk akal. Menurut Becaria, “Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki free will atau kehendak bebas” artinya, tiap orang bertindak sesuai keinginannya sendiri. Adapun pemikiran tentang kehendak bebas yang berkembang pada zaman

klasik mulai melahirkan adanya pengelompokkan hukum contohnya code civil yang dibuat oleh Napoleon. Namun pada kenyataannya zaman klasik masih menimbulkan ketidakadilan bagi

pelaku kejahatan itu sendiri, maka berkembanglah zaman neo klasik yang tidak dilandaskan pada

pemikiran ilmiah namun aspek-aspek kondisi pelaku dan lingkungannya mulai diperhatikan. Hal

ini yang membedakan dengan zaman klasik. Pada zaman positivisme perkembangan mengenai

kejahatan sendiri mulai terbagi menjadi dua pendekatan yaitu Determinisme Biologis dan

Determinisme Cultural, pada zaman ini teori yang berkembang amat bertolak belakang dengan

zaman klasik yang masih indeterminisme. Metode ilmiah yang berkembang mengenai kejahatan

berkembang karena pemikiran Cesare Lombrosso yang melahirkan teori “born criminal” dimana seseorang memang memiliki sifat jahat sejak lahir, meskipun pada akhirnya teori Lombrosso

mengalami banyak perbaikan karena ciri fisik bukanlah satu-satunya pendekatan untuk

mengetahui apakah seseorang akan melakukan kejahatan atau tidak. Tetapi lanjutan dari ajaran

Lombrosso berkembang menjadi ajaran psikiatri. Pokok dari ajaran ini adalah organisasi tertentu

dari kepribadian orang yang berkembang jauh terpisah dari pengaruh-pengaruh jahat akan tetapi

menghasilkan kelakuan jahat tanpa mengingat situasi-situasi sosial.

Setelah mengetahui perkembangan sejarah kejahatan menurut para ahli, hal itu melatar

belakangi kami untuk lebih mendalami kejahatan tersebut dari sisi yang lebih spesifik, yaitu

psikis. Kami melihat kejahatan di jaman sekarang ini tidak selalu terpaku teori Lombrosso yang

memperkasai tentang teori “Born Criminal”. Justru perbaikan dari teori Lombrosso menjadi

ajaran psikiatri yang akhirnya menjadi tolak ukur kami melakukan studi psikis dengan membuat

(3)

TEORI

Dalam penelitian ini, kami menggunakan 4 teori yang relevan dengan bahasan kami, yakni :

A. Teori Psikiatrik

Menurut Made Darma Weda, (1996;18), bahwa :

1Teori psikiatrik merpakan lanjutan teori-teori Lombroso dengan melihat tanpa adanya

perubahan pada cirri-ciri morfologi (yang berdasarkan struktur). Teori ini lebih menekankan pada unsure psikologis, epilepsy, dan oral insanity sebagai sebab-sebab kejahatan.

Lebih lanjut menurut Made Darma Weda, (1996:18), bahwa :

Teori psikiatrik ini, memberikan arti penting kepada kekacaun emosional, yang dianggap timbul dalam interaksi social dan bukan karena pewarisan. Pokok teori ini adalah organisasi tertentu dari pada kepribadian orang, yang berkembang jauh terpisah dari pengaruh jahat, tetapi tetap akan menghasilkan kelauan jahat tanpa mengingat situasi situasi social.

B. Teori Sosiologis

Menurut Made Darma Weda, (1996;18), bahwa :

2Dalam memberi kausa kejahatan, teori sosiologis merupakan aliran yang sangat bervariasi.

Analisis sebab-sebab kejahatan secara sosiologis banyak di pengaruhi oleh teori kartografik dan sosialis. Teori ini menafsirkan kejahatan sebagai fungsi lingkungan social ( crime as a function of social environment ).

Lebih lanjut menurut Made Darma Weda, (1996:18), bahwa :

Pokok pangkal dengan ajaran ini adalah, bahwa kelakuan jahat dihasilkan oleh proses-proses yang sama seperti kelakuan social. Dengan demikian proses terjadinya tingkah laku jahat tidak berbeda dengan tingkah laku lainnya termasuk tingkah laku yang baik. Orang melakukan kejahatan disebabkan karena orang tersebut meniru keadaan sekelilingnya.

C. Teori Biososiologi

Menurut Made Darma Weda, (1996;18), bahwa :

1 Darma, Tinjauan Kriminologis Terhadap Penyalahgunaan Psikotropika , dala Studi Kasus Putusan No.

478/Pid.B/2009/PN.Mks (Makassar, 2010), hlm. 34

(4)

3Tokoh dari aliran ini adalah A. D. Prins, van Humel, D. Simons dan lain-lain. Aliran ini

sebenarnya merupakan perpaduan dari aliran antropologi dan aliran sosiologis, oleh karena ajarannya didasarkan bahwa tiap-tiap kejahatan itu timbul karena factor individu seperi keadaan psikis dan fisik dari si penjahat dan juga karena factor lingkungan.

Lebih lanjut menurut Made Darma Weda, (1996:18), bahwa :

Teori individu itu dapat meliputi sifat individu yang diperoleh sebagai warisan dari orang tuanya, keadaan badaniah, kelamin, umur, intelek, temperamen, kesehatan, dan minuman keras. Keadaan lingkungan yang mendorong seseorang melakukan kejahatan itu meliputi keadaan alam

( geografis dan kilmatologis ), keadaan ekonomi, tingkat peradaban dan keadaan politik suatu Negara misalnya meningkatnya kejahatan menjelang pemilihan umum dan menghadapi siding MPR

D. Teori Labeling

Teori Labeling atau Labelling Theory dikemukakan oleh Frank Tannenbaum, David Matza, dll bahwa Teori ini adalah membicarakan :

4Proses yang membuat kejahatan adalah sebuah proses yang panjang yang secara terus menerus

bergulir dan saling terkait antara satu hal dengan hal yang lain.

Ketika orang melakukan tindak kejahatan, tidak secara oto-matis proses labeling memberikan cap bahwa ia adalah seorang penjahat. Teori labeling menekankan issu sentralnya dari meng-apa atau bagaimana seseorang melakukan tindak kejahatan hingga bagaimana seseorang dapat didefinisikan sebagai seorang penjahat.

3Dar a, Ti jaua Kri i ologis Terhadap Pe yalahgu aa Psikotropika , dala “tudi Kasus Putusa No.

478/Pid.B/2009/PN.Mks (Makassar, 2010), hlm. 35

4 Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph. D , Kri i ologi , dalam bahan kuliah Fakultas Psikologi Universtitas Gadjah

(5)

HASIL PENELITIAN-ANALISA Wawancara

Dalam penelitian ini kami mendatangi 5Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan melakukan wawancara dengan narasumber bernama Dra. Heryanti Wahyuningsih, M.M. , beliau menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Rehabilitasi Sosial di Balai Rehabilitas Sosial Pamardi Putra Lembang, Bandung Barat.

Kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada Dra. Heryanti Wahyuningsih, M.M, yakni :

1. Apa saja faktor yang membuat seseorang menggunakan obat-obatan terlarang? 2. Secara psikologis apakah seorang pengguna sadar akan perbuatannya ?

3. Tahap-tahap apa saja yang harus dilalui oleh seorang pengguna hingga dirinya dinyatakan sembuh dan dapat meninggalkan panti rehabilitasi sosial ?

4. Bagaimana perbandingan sikap seorang pengguna sebelum dilakukan rehabilitasi, saat di rehabilitasi dan sesudah direhabilitasi ?

Kemudian Dra. Heryanti Wahyuningsih, M.M menjawab pertanyaan kami tersebut :

1. Faktor yang mempengaruhi penggunaan obat-obatan terlarang adalah gaya hidup atau

lifestyle yang kebanyakan terjadi pada anak-anak muda saat ini. Gaya hidup ini awalnya terjadi pada orang-orang mapan karena mereka merasa tidak puas dan ingin mencoba-coba sesuatu hal dan pola hidup yang baru, ternyata ujung-ujungnya mereka

ketergantungan terhadap pemakaian obat-obatan tersebut. Tapi, faktor yang paling utama adalah kemiskinan karena mereka merasa depresi dengan kehidupannya yang serba kurang sehingga mereka memilih untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Selain itu ada ketidaktahuan dari pengguna bahwa yang dikonsumsinya adalah obat-obatan

terlarang, maka dibutuhkan juga edukasi terhadap keluarga dan anak-anak muda sekarang. Ada juga yang tertipu dengan modus obat-obatan yang diklaim merupakan vitamin atau obat vitalitas yang sebenarnya adalah doping yang termasuk obat-obatan terlarang, sehingga penggunanya pun akan mengalami ketergantungan.

2. Sebenarnya secara psikologis mereka tidak sadar menggunakan obat-obatan tersebut, mengkonsumsi berulang kali obat-obatan tersebutpun mereka tidak akan sadar karena zat dari obat-obatan tersebut telah menyerang otak mereka. Karena ketidaksadaran mereka itu, mereka akan cenderung melakukan perbuatan melanggar hukum seperti mencuri atau melakukan kekerasan demi mendapatkan obat-obatan lagi. Maka dari itu mereka harus direhabilitasi karena yang sadar bahwa mereka menggunakan obat-obatan adalah orang lain bukan diri mereka sendiri.

5 Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 40 tahun 2010 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Rincian Tugas dan Tata Kerja

(6)

3. Untuk di Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra, terdapat beberapa tahap yang akan dilakukan terhadap orang yang akan direhabilitasi (biasa dipanggil klien). Sebelumnya, klien akan diseleksi atau screening karena 6Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra hanya menerima mereka yang kurang mampu dari segi ekonomi, diutamakan remaja usia 14-28 tahun dan tidak mengalami gangguan kejiwaan maupun penyakit kronis. Jika klien mengalami gangguan kejiwaan maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa hingga keadaan mereka sudah stabil, maka baru akan direhabilitasi di Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra. Tahap Pertama adalah pendekatan awal dimana ada sosialisasi, konsultasi, identifikasi, motivasi, screening dan penerimaan. Hal itu bertujuan untuk memperoleh dukungan data awal klien. Tahap kedua adalah Pengungkapan dan Pemahaman

Masalah/Asesmen yang merupakan kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan

merumuskan masalah, kebutuhan dan sumber yang meliputi aspek fisik, psikis, sosial dan spiritual. Tahap ketiga adalah Rencana Pemecahan Masalah (Rencana Intervensi) dalam tahap ini akan disusun masalah berdasarkan hasil pengungkapan dan pemahaman masalah dengan melakukan kegiatan temu bahas khusus sesuai dengan kebutuhan obyektif klien. Tahap keempat adalah Pemecahan Masalah (Intervensi) merupakan penerapan dari tahap sebelumnya yang meliputi kegiatan bimbingan fisik, sosial dan mental serta vokasional yang meliputi, keterampilan inti seperti : Otomotif Motor dan Mobil, Menjahit, Sablon, Tata Rias/ Barbershop. Lalu, keterampilan penunjang seperti : Komputer, pertanian, kesenian. Tahap ini merupakan tahap dimana klien akan diberikan aktivitas atau kesibukan agar pikiran mereka akan obat-obatan secara perlahan akan hilang dengan sendirinya. Tahap kelima adalah Resosialisasi, tahap ini bertujuan untuk menyiapkan klien untuk diterima kembali di lingkungan keluarga dan sosial dengan kegiatan : Bimbingan pemantapan ketrampilan, Praktek belajar kerja (PBK) di

perusahaan, Bimbingan cara hidup bermasyarakat, konseling individu. Tahap keenam adalah pembinaan lanjut (After Care), kegiatan ini ditujukan pada klien yang telah selesai mengikuti rangkaian kegiatan rehabilitasi sosial untuk kembali pada keluarga dan

lingkungan sosialnya agar mampu melaksanakan fungsi sosial, memelihara kepulihan dan kemandirian ekonomi, dengan kegiatan : melakukan bimbingan sosial pada klien melalui kunjungan ke rumah, tempat pendidikan, tempat kerja maupun tempat klien melakukan aktivitas di luar panti rehabilitas. Dan melakukan pemantauan perkembangan kepulihan klien yang telah selesai melakukan rehabilitasi sosial. Tahap terhadap adalah Terminasi, kegiatan pada tahap ini merupakan pengakhiran dari proses rehabilitasi sosial dengan kegiatan : Identifikasi keberhasilan yang telah dicapai klien dari aspek bio-psiko-sosial dan spiritual, kunjungan pada keluarga dan pihak klien sendiri yang terkait dengan rencana terminasi.

4. Kembali ke pernyataan awal, pengguna tidak akan sadar mengkonsumsi obat-obatan terlarang tersebut sehingga untuk terjadinya tindakan kriminal akan sangat besar sebelum

6 Surat Edaran Mahkamah Agung RI. No 4 tahun 2010 tentang penempatan penyalahgunaan,korban

(7)

dilakukan rehabiltasi. Saat dilakukan rehabilitasi, kita harus pintar membina klien karena rata-rata mereka sangat pintar memainkan watak, terkadang mereka terlihat seolah sedih sejadi-jadinya dan terkadang mereka terlihat senang berlebihan. Disini pembibing perlu memantau dan membina klien lebih dekat. Saat dilakukan pembinaan juga diperlukan bantuan dari Senior Brother yang merupakan mantan pengguna dan alumni dari Balai Rehabilitas Sosial Pamardi Putra Lembang yang dianggap bisa menjadi seorang leader , karena mereka merupakan mantan pengguna maka mereka tentu akan lebih mengetahui sikap-sikap para klien. Intinya saat direhabilitasi, klien tidak boleh diberi kesempatan untuk melamun karena jika dibiarkan, memori mengenai obat-obatan tersebut akan terus terngiang di otak mereka. Setelah melalui beberapa tahap dan lulus dari tahap rehabilitasi tentu para klien dianggap sudah bisa kembali bersosialisai dengan lingkungannya,

sikapnya pun sudah kembali menjadi orang biasa pada umunya. Justru yang menjadi faktor adalah stigma dari masyarakatnya, jika diberi aura positif tentu sikapnya pun akan positif, namun jika dari awal auranya sudah negatif maka mereka pun akan merasa dikucilkan dan minder. Padahal mereka yang sudah lulus dari rehabilitasi malah sudah mempunyai bekal keterampilan yang baik untuk bekerja. Seharusnya mereka

diperlakukan adil dan diberi kesempatan yang sama didalam bermasyarakat.

Analisa

Setelah mengumpulkan keterangan dari hasil wawancara dengan Dra. Heryanti Wahyuningsih, M.M , kami mencari fakta-fakta yang menjadi topic utama kami dan kemudian menganalisis keterangan tersebut. Sehingga kami mendapatkan poin-poin penting untuk hasil analisis kami.

Hasil analisa pertama adalah mengenai lifestyle dan kemiskinan yang menjadikan maraknya penggunaan obat-obatan yang berpotensi melakukan tindakan kriminal. Mengenai lifestyle

sendiri yang timbul karena adanya hasrat individu yang tidak pernah puas, ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan ingin mengikuti gaya hidup sekitarnya selaras dengan Teori Biososiologi dimana teori ini mendasarkan bahwa tiap-tiap kejahatan timbul karena faktor individu seperti keadaan psikis dan fisik dari si penjahat dan juga karena faktor lingkungan. Faktor kemiskinan yang paling erat kaitannya dengan keadaaan ekonomi membuat tindakan kejahatan melalui penggunaan obat-obatan bisa timbul, hal itu juga sudah dinyatakan dalam Teori Individu lanjutan dari Made Darma Weda bahwa keadaan ekonomi mempengaruhi sifat dari individu itu sendiri. Jadi, sejauh ini faktor lifestyle dan kemiskinan memang merupakan faktor-faktor yang paling banyak terjadi saat ini melalui jalur obat-obatan terlarang.

(8)

ketergantungan akan obat telah menyerang otak mereka. 7Karena biasanya, setelah seorang pecandu sembuh dan sudah sadar dari mimpi-mimpinya maka ia baru akan menyesali dan menyadari semua perbuatannya. Psikis yang tidak sadar telah melakukan suatu tindakatan tertentu tersebut sebenarnya telah dijeskan melalui Teori Psikiatrik dimana teori ini menekankan pada unsur psikologis, epilepsy, dan oral insanity sebagai sebab-sebab kejahatan. Maka segala kejahatan yang timbul karena penggunaan obat-obatan terlarang tersebut berkaitan erat dengan Teori Psikiatrik lanjutan dari Lombroso.

Hasil analisa ketiga kami adalah mengenai sikap dari para pengguna obat-obatan terlarang ketika direhabilitasi. Para klien menurut Dra. Heryanti Wahyuningsih, M.M sangat pintar bermain watak ataupun berbohong. Sebenarnya hal ini juga tak lepas dari dampak tidak langsung dari penggunaan obat-obatan terlarang yaitu 8tidak dipercaya lagi oleh orang lain karena umumnya pemakai obat-obatan terlarang akan gemar berbohong dan melakukan tindak kriminal. Maka dsegala pembina akan melakukan beberapa strategi salah satunya dengan memberikan tahap-tahap kepada klien. Melalui tahap-tahap-tahap-tahap tersebut akan terlihat keadaan klien sampai menjadi normal kembali.

Hasil analisa keempat adalah mengenai sikap dari mantan para pengguna obat-obatan terlarang ketika sudah keluar dari tempat rehabilitasi. Pasca rehabilitasi sebenarnya fisik, mental ,

emosional dan spiritual mereka sudah menjadi normal. Namun masih akan dipantau melalaui pembinaan lanjutan agar dapat melakukan fungsi sosialnya dengan baik. Jadi sebenarnya yang menjadi perhatian disini adalah tinggal bagaimana masyarakat merespon secara positif pasca rehabilitasi tersebut.

Hasil analisa kelima adalah mengenai Stigma masyarakat terhadap para mantan pengguna obatan terlarang. Jika masyarakat terus berfikiran negatif terhadap para mantan pengguna obat-obatan terlarang maka hal tersebut akan menjadi labelling yang membuat adanya potensi melakukan tindakan kriminal kembali. Teori labeling sendiri menekankan issu sentralnya dari meng-apa atau bagaimana seseorang melakukan tindak kejahatan, sehingga jika orang tersebut sudah pulih tetapi masih dicap sebagai seorang pelanggar hukum oleh masyarakat tentu rasanya tidak adil.

Hasil analisa keenam adalah mengenai lingkungan bagi para mantan pengguna obat-obatan terlarang. Menilik teori sosiologis yang menekankan bahwa proses terjadinya tingkah laku jahat tidak berbeda dengan tingkah laku lainnya termasuk tingkah laku yang baik. Maka mantan pengguna obat-obatan terlarang pun harus diberikan lingkungan yang lebih layak dan memberikan dampak positif baginya agar sekaligus mengurangi potensi kejahatan.

7 Diakses dari http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2014/03/20/957/dampak-langsung-dan-tidak-langsung-penyalahgunaan-narkoba 3 April 2016

(9)

KESIMPULAN

Dari hasil studi ke lapangan dan analisa, kami menyimpulkan bahwa pengguna obat-obat terlarang bukanlah sesuatu yang selalu identik dengan tindakan kriminal. Karena para pengguna obat-obatan tersebut hanyalah korban atau lebih tepatnya pelanggar hukum yang terjadi karena adanya faktor gaya hidup dan kemiskinan yang terus meningkat. Konsumsi obat-obatan terlarang akan memberikan dampak langsung yaitu merusak tubuh mereka sendiri, sedangkan melakukan tindakan kriminal seperti mencuri atau melakukan kekerasan adalah dampak yang secara tidak langsung terjadi karena kebutuhan untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Selain itu tindakan kriminal yang dilakukan oleh pengguna obat-obatan terlarang harus melihat aspek psikisnya, karena kesadaran akan penting untuk menjeratnya kedalam hukum.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Topo S.H.MM. & Zulfa, Eva Achjani, S.H., (2015), Kriminologi. Jakarta: Rajawali Pers.

Darma, (2010), Tinjauan Kriminologis Terhadap Penyalahgunaan Psikotropika.

Makassar: Studi Kasus Putusan No. 478/Pid.B/2009/PN.Mks

Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph. D, Kriminologi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Surat Keputusan Menteri Sosial RI No.6/HUK/1994 tentang Pembentukan 18 Panti di Lingkungan Departemen Sosial, Panti Sosial Pamardi Putra

Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 40 tahun 2010 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Rincian Tugas dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas di Lingkugan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat

Surat Edaran Mahkamah Agung RI. No 4 tahun 2010 tentang penempatan

penyalahgunaan,korban penyalahgunaan & pecandu Narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi medic dan rehabilitasi sosial

Jaid (2014). Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba. From

http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2014/03/20/957/dampak-langsung-dan-tidak-langsung-penyalahgunaan-narkoba. 3 April 2016

Referensi

Dokumen terkait

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi yaitu variabel dependen dalam hal ini keputusan pembelian dan variabel independen dalam hal

Setelah itu didapatkan larutan standar 10 ppm, untuk diketahui alat yang kami gunakan yakni pada spektrofotometer uv vis dapat menyerap cahaya apabila senyawa

(2008) keragaman genetik dan fenotipik yang luas dapat menunjukkan kon- disi lingkungan tumbuh yang optimal yang di- tunjukkan dari hasil penelitian mereka pada 39 galur murni

Berdasarkan difraktogram masing-masing sampel, dapat dinyatakan bahwa lapisan tipis yang diperoleh pada variasi kuat Medan magnet memiliki struktur yang sangat baik (kristal).. Hal

Tampilan ini berisi data lengkap dari calon mahasiswa baru sesuai jalur prestasi dan menyajikan perhitungan hasil SPK dengan metode SMART di mana data ini berfungsi

protoype ini dilakukan pengujian perancangan sistem kontrol dengan bantuan software CodeVisionAVR pada laptop untuk menggerakan pelontar peluru plastik sesuai dengan

Pengujian 1 yaitu pengujian pengaruh ukuran panjang pesan terhadap proses embedding dan extracting dilakukan dengan menggunakan file gambar yang memiliki dimensi

Skripsi dengan judul Peran Pemerintah Dalam Penanggulangan Masalah Sosial (Studi Kebijakan Publik Terhadap Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak