LES MISERABLES:
MEMBACA REVOLUSI – KAUM BORJUIS – KONFLIK SOSIAL – PENEGAKAN HUKUM PIDANA DI PERANCIS1
Ide utama dari Les Miserable adalah bagaimana hukum ditafsirkan secara normatif dan
kurang melihat ada nilai-nilai moral, sosial dan politik yang mengiringi bahkan termasuk kedalam
materi hukum tersebut. Dengan pengertian, pada era ini hukum ditafsirkan sebagai suatu paham
sangat positivis. Oleh sebab itu, memahami jalan pikir cerita Les Miserables guna kepentingan
refleksi teoritis, filosofis dan argumentatif, penggunaan pendekatan mazhab historis dan
kefilsafatan menjadi metode dalam melakukan refleksi tersebut. Pendekatan sejarah ini penting
untuk melihat nilai, moral, hukum, dan keadaan sosial, politik dan ekonomi yang ada pada masa
jalan cerita Les Miserable terjadi. Harapannya agar dapat memahami secara komprehensif
tentang makna cerita Les Miserables ini. Berikut aspek kesejarahan dari cerita tersebut.
A. Sejarah Perancis: Dari Monarki ke Republik
Tokoh sentral dalam kisah Les Miserable yang ditulis Victor Hugo2 ini terletak pada sosok Jean Valjean yang diceritakan hidup sekitar 1771-1832.3 Perancis sebagai sebuah negara pada era rentang waktu ini begitu banyak mengalami peristiwa politik, hukum, sosial, budaya, dan
ekonomi yang membawa dampak kehidupan yang sangat signifikan kepada warganya. Tahun
1789 merupakan tahun yang penting pada rentang waktu cerita dalam Les Miserable, karena pada
tahun ini, tepatnya 14 Juli 1789, Bastille dijatuhkan atau direbut oleh kaum revolusioner. Bastille
sendiri merupakan sebuah benteng yang difungsikan sebagai penjara negara untuk menampung
tahanan politik yang melawan negara atau kerajaan pada saat itu.4 Didirikan pertama kali pada
tahun 1369 oleh Hugh Aubriot di dekat Place de la Bastille. Hugh Aubriot sendiri merupakan
seorang provost Walikota Paris yang berada dibawah kekuasaan Raja Charles V. Benteng ini
sangat dibenci karena menjadi simbol absolutisme sikap pemerintahan pada saat itu. Perebutan
1 Oleh Husendro, S.H., M.H/Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Indonesia –
Founder/Managing Partner Husendro & Rekan: www.hnr-law.co.id
2 Lihat: http://www.france.fr/en/literature-and-french-language/victor-hugo-1802-1885.html .
Diakses pada 21 Desember 2014.
3 Asumsi ini diperoleh berdasarkan data pada tahun 1815, Jean Valjean dibebaskan setelah 19
(Sembilan belas) tahun lamanya dipenjara. Dengan kata lain, vonis bersalahnya diputuskan pada tahun 1796, dimana usianya pada saat itu 25 (dua puluh lima) tahun. Oleh sebab itu, diperkirakan Jean Valjean lahir pada tahun 1771. Sedangkan rentang batas waktu maksimun diambil pada tahun 1832, karena peristiwa pemberontakan kaum republik kepada raja dilakukan pada sekitar 1830-1832, dimana pada saat itu Jean Valjean hadir dan terlibat perseteruan dan debat dengan Inspektur Javert yang kemudian diakhiri dengan peristiwa bunuh diri Inspektur Javert.
4 Lihat: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/215768/France/40369/France-1715-89.
benteng ini menandai awal terjadinya Revolusi Perancis dan tanggal 14 Juli 1789 ditandai sebagai
hari libur nasional Republik Perancis hingga sekarang.5
Absolutisme di Perancis dimulai pada masa Cardinal Richeliu dari golongan gereja
(1642-1643) yang menjadi Perdana Menteri pada masa Louis XIII (1610-(1642-1643). Dilanjutkan oleh
Cardinal Mazarin (1643-1661). Pada masa itu, metode perdagangan merkantilisme yang
dipelopori oleh Jean Baptist Colbert menjadikan Perancis makmur sehingga mampu membangun
kekuatan militer yang kuat. Selanjutnya, pada masa Louis XIV dilakukan beberapa tindakan yang
mengarah pada pembentukan Negara yang absolut, yakni mengalahkan kaum Huguenots
(Protestan Prancis) dan membubarkan dan menghapus sistem Parlemen. Louis XIV berhasil
menjadikan Prancis sebagai monarki absolut yang paling berhasil di Eropa dengan ciri-ciri:
Memerintah tanpa Undang-Undang; Memerintah tanpa Dewan Legislatif; Memerintah tanpa
kepastian hukum; Memerintah tanpa anggaran belanja dan Memerintah tanpa di batasi
hukum. Louis XIV menunjukkan bahwa seolah-olah kekuasaan raja berasal dari Tuhan (Les droit
divin) sehingga tidak dapat diganggu gugat. Ia terkenal dengan semboyannya Le etate c’es moi
(Negara adalah saya). Kondisi absolutisme seperti ini yang kemudian menjadi pemicu Revolusi
Perancis.6
Revolusi Perancis ini bermula dari banyaknya persoalan dan peristiwa-peristiwa penting
yang terjadi pada kehidupan masyarakat. Pertama, Zaman Pencerahan (the Enlighment)
memberikan kontribusi kesadaran lingkungan masyarakat bahwa revolusi itu dimungkinkan
untuk mereformasi institusi agar memenuhi standar akal dan utilitas. Selain itu, bertepatan
dengan munculnya opini publik, yang menentang pernyataan bawah keputusan politik tidak
perlu konsultasi publik atau tidak ada toleransi kepada oposisi. Kedua, Negara Perancis
menghadapi kebangkrutan karena sistem pajak regresif dan tidak efisien serta partisipasi dalam
Perang Tujuh Tahun (1756-1763) dan Perang Kemerdekaan Amerika (1775-1783). Ketiga,
Perancis mengalami perselisihan politik endemik pada abad kedelapan belas. Raja secara teknis
absolut memerintah melalui hak yang diperoleh dari hak ilahi yang dilakukan secara berdaulat
tanpa campur tangan dari lembaga perwakilan. Namun, Raja-raja Perancis pada kenyataannya
bertemu dengan oposisi untuk mendiskusikan kebijakan mereka. Oposisi ini berasal dari hakim
yang mulia dari pengadilan hukum tertinggi (Parlements), yang menolak reformasi fiskal untuk
melindungi hak-hak tradisional dari otoritas yang sewenang-wenang.7
Akhirnya, sementara konflik kelas tidak menyebabkan revolusi, ada ada zona stres dalam
masyarakat Perancis, sebagai akibat dari pertumbuhan populasi yang menyebabkan banyak
5 Lihat: http://www.encyclopedia.com/topic/Bastille.aspx. Diakses pada 21 Desember 2014. 6 Lihat: http://www.pustakasekolah.com/revolusi-perancis.html. Diakses pada 21 Desember
2014.
7 Lihat: http://www.encyclopedia.com/topic/French_Revolution.aspx . Diakses pada 21 Desember
menjadi miskin dan jelata, kemudian mereka kesal terhadap pengecualian keadaan ini pada
jabatan tinggi di gereja, negara, dan militer. Masalah ekonomi ini kemudian meningkat setelah
cuaca buruk yang menyebabkan harga roti menjadi dua kali lipat pada 1789.8 Penyebab revolusi lainnya adalah kondisi akibat Perang Kemerdekaan Amerika Serikat (1780), dimana pada saat
itu, Perancis yang merupakan musuh bebuyutan dari Inggris mengirimkan pasukan untuk
membantu Amerika di bawah pimpinan Jenderal Marquis de Lafayette. Sekembalinya dari
Amerika, tentara-tentara tersebut membawa pengaruh euphoria kebebasan di Perancis dan juga
alasan pemborosan uang negara untuk mengadakan pesta-pesta mewah di Istana Versailles oleh
Permaisuri Marie Antoinette sehingga ia sering dijuluki Madame Deficit.9
Revolusi Perancis yang berlangsung selama sepuluh tahun ini dapat dibagi menjadi
beberapa masa, sebagai berikut:10
a. Masa Dewan Kontituante (1789–1791)
Dewan Perwakilan Rakyat Perancis terdiri atas tiga golongan: 1) Golongan I (dari
bangsawan) dengan jumlah 300 orang; 2) Golongan II (dari Gereja) dengan jumlah 300 orang;
dan 3) Golongan III (dari rakyat) dengan jumlah 600 orang. Estats Generauxi ini bersidang pada
tanggal 5–17 Juni 1789.11 Golongan I dan II menghendaki pengambilan keputusan didasarkan atas golongan sehingga kelompoknya akan tetap menang, sedangkan golongan III menghendaki
atas dasar perorangan. Hal itu disebabkan golongan III telah memiliki setengah dari jumlah
anggota dewan. Perbedaan pendapat tersebut tidak dapat diselesaikan. Raja Louis XVI tidak
bersikap tegas sehingga menimbulkan keberanian Golongan III untuk terus menentang pendapat
Golongan I dan II. Golongan III mengadakan sidang sendiri (tanggal 17 Juni 1789) di bawah
pimpinan Merabeau, Lafayette, dan Seiyes. Mereka menyatakan bahwa Estats Generauxi sebagai
Essemble Nationale yang merupakan Dewan Perwakilan Rakyat Perancis dengan
sidang-sidangnya yang tidak mengenal sistem golongan. Dewan ini kemudian disebut Assemble Nationale
Constituante yang bertugas menyusun Undang-Undang Dasar (UUD) Prancis.12
Perselisihan dan ketegangan makin tajam. Raja tidak mau mengakui Dewan tersebut dan
akan membubarkan dengan kekerasan senjata. Rakyat menjadi marah sehingga pada tanggal 14
Juli 1789 menyerbu Penjara Bastille dan membebaskan orang-orang yang
ditahannya.13 Meskipun terus menghadapi rintangan dari pemerintah kerajaan, Dewan
8Ibid.
9 Lihat: http://www.pustakasekolah.com/revolusi-perancis.html . Diakses pada 21 Desember
2014.
10 Lihat: http://www.materisma.com/2014/03/sejarah-jalannya-revolusi-perancis-6.html
Diakses pada 21 Desember 2014.
Konstituante Nasional terus mengadakan sidang untuk menyusun UUD. Pada tanggal 27 Agustus
1789, Dewan berhasil mengumumkan Declaration des Droits de l'homme et du citoyen
(pernyataan hak-hak asasi manusia dan pengakuan hak warga negara). Deklarasi inilah yang
dijadikan dasar untuk menyusun UUD Perancis. Pada tanggal 14 Juli 1790, UUD disahkan dan
Perancis menjadi kerajaan berkonstitusional. Raja Louis XVI menyetujui UUD tersebut dan
bersumpah setia kepadanya. Kaum Borjuis yang merupakan rakyat lapisan atas berhasil
memimpin dan memenangkan revolusi. Mereka itulah yang menggantikan kedudukan kaum
bangsawan dalam pemerintahan maupun perekonomian.14 b. Masa Legislatif (1791–1792)
Setelah UUD Perancis disahkan maka Dewan Konstituante Nasional kembali kepada
fungsinya sebagai lembaga legistatif. Golongan III (khususnya kaum Borjuis) merasa puas dengan
apa yang telah dicapai, tetapi rakyat belum merasakan adanya perbaikan nasib. Mereka
membentuk suatu kelompok tersendiri dalam Partai Motagne yang tidak puas dengan
pemerintahan kerajaan konstitusional dan menghendaki bentuk pemerintahan
republik.15 Golongan Borjuis yang mulai terancam oleh partai rakyat yang juga membentuk kelompok sendiri dalam Partai Gironde. Situasi politik tegang kembali, Louis XVI yang merasa
posisinya terjepit dan khawatir akan keselamatannya berusaha melarikan diri ke luar negeri.
Rakyat yang mengetahui hal itu sangat marah dan menuduh bahwa raja telah berkhianat
terhadap negara dan UUD. Untuk itu, raja ditangkap dan dikembalikan ke Paris.16
Anggapan rakyat bahwa raja telah berkhianat semakin kuat setelah Austria dan Prusia
(1792) menyerang Prancis sehingga menimbulkan Perang Koalisi I (1792–1797). Tujuan
serangan adalah untuk menghancurkan Revolusi Prancis yang dianggap membahayakan negara
yang bersifat absolut. Rakyat Prancis berhasil mematahkan serangan koalisi. Selanjutnya, di
bawah pimpinan Danton dari golongan Yacobin berhasil membentuk pemerintahan baru yang
disebut Konvensi Nasional. Masa ini pimpinan di tangan rakyat.17 c. Masa Konvensi Nasional (1792–1795)
Pertentangan antara Partai Gironde dan Partai Montagne terus berlanjut dan berakhir
dengan kemenangan Partai Montagne. Bentuk kerajaan dihapuskan dan digantikan dengan
republik [merupakan Republik I (1792)]. Raja Louis XVI bersama permaisurinya (Maria
Antoinette) dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepalanya dengan di tiang guillotine pada
21 Januari 1793 disuatu tempat yang sekarang disebut Place de la Concorde di Paris.18 Sementara
14Ibid.
15Ibid. 16Ibid. 17Ibid.
18 Lihat: http://www.france.fr/en/outstanding-men-and-women/louis-xvi-1754-1793.html .
itu, situasi Prancis makin gawat. Untuk menyelamatkan negara, golongan Yacobin mendirikan
pemerintahan Diktator (Terror) di bawah pimpinan Robespiere yang bertindak tegas dan kejam
terhadap lawan-lawan politiknya. Golongan bangsawan dan Borjuis terus berusaha untuk
menjatuhkan Robespiere. Usaha tersebut berhasil, Robespiere berhasil ditangkap dan dihukum
mati. Dengan jatuhnya Pemerintahan Terror, tampuk pimpinan revolusi kembali ke tangan
golongan Borjuis.19
d. Masa Directoire (1795–1799)
Untuk mengatasi keadaan yang kalut, kaum Borjuis membentuk Dewan Pimpinan Pusat
bidang eksekutif yang terdiri atas lima orang direktur (Directoire), yakni Barras, Moulin, Gohier,
Roger Ducos, dan Seiyes. Maksud dibentuknya Directoire adalah untuk memberikan gambaran
adanya pemerintahan yang demokratis supaya dapat mengatasi keadaan. Sementara itu, kekuasa
legislatif yang didominasi oleh golongan bangsawan semakin kuat (golongan Monarki). Kaum
Borjuis (golongan Republiken) cemas, namun tidak berdaya. Rakyat Perancis mengharapkan
tampilnya seorang pemimpin yang kuat. Tampilnya Napoleon Bonaparte yang namanya menjadi
tenar karena kemenangan militernya dalam Perang Koalisi sangat diharapkan oleh rakyat
Perancis.20
e. Masa Konsulat (1799–1804)
Pemerintahan Directoire tidak efektif lagi sehingga Napoleon Bonaparte mengambil alih
kekuasaan (coup d'etat yang dikenal dengan Revolusi Brumai pada tanggal 9 November 1799).
Directoire dibubarkan, kemudian Napoleon Bonaparte membentuk pemerintahan Konsulat yang
terdiri atas tiga orang konsul, yakni Napoleon Bonaparte, Seiyes, dan Roger Ducos. Napoleon
adalah seorang jenderal muda yang cakap memiliki cita-cita dan ambisi yang besar. Sebagai
konsul yang pertama, ia tampil mengesankan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Rakyat Prancis menaruh harapan untuk mengembalikan kejayaan Prancis. Untuk itu, Napoleon
melakukan langkah-langkah penting sebagai berikut:21
1) Pembentukan pemerintahan yang kuat dan stabil dengan cara memusatkan kekuasaan
pemerintahan ditangannya sendiri, menyeragamkan sistem administrasi pemerintahan,
dan menyusun Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Code de Penal) dan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (Code de Civil).
2) Menciptakan suasana aman, tenteram dan damai dengan cara kaum bangsawan yang lari
ke luar negeri akibat revolusi, diizinkan kembali ke Prancis dengan aman, mengadakan
19 Lihat: http://www.materisma.com/2014/03/sejarah-jalannya-revolusi-perancis-6.html
Diakses pada 21 Desember 2014.
perdamaian dengan Paus guna mengembalikan citra gereja dan ulama di Prancis seperti
sedia kala, dan membentuk tentara yang kuat.
3) Meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara memajukan pendidikan bagi rakyat,
memajukan perekonomian melalui industrialisasi dan perdagangan, dan menciptakan
Kitang Undang-Undang Hukum Perdagangan (Code de Commerce) agar perdagangan
Prancis berkembang pesat dan membawa keuntungan.
4) Membangun sarana dan prasarana, seperti jalan raya dan gedung-gedung pemerintahan.
5) Memberantas korupsi dan memperbaiki keuangan negara.
Selain itu, dalam rangka mengembalikan kejayaan Prancis, Napoleon harus
memenangkan perang dalam Perang Koalisi II (1799–1802). Usaha-usaha yang dilakukan
Napoleon menunjukkan kepedulian dan kesungguhan Napoleon dalam memperbaiki keadaan
Perancis. Dengan usaha-usaha tersebut, Perancis mulai bangkit kembali dari kehancuran. Rakyat
Prancis makin menaruh kepercayaan kepada Napoleon untuk memimpin Prancis. Keberhasilan
dalam membangun Perancis juga mendapat tanggapan yang positif dari Paus VII. Hal ini terbukti
dengan diangkatnya Napoleon sebagai kaisar oleh Paus VII.22 f. Masa Kekaisaran (1804–1815)
Ketika Paus VII mengangkat Napoleon sebagai kaisar, rakyat Prancis mendukung
sepenuhnya kepemimpinan Napoleon sebagai Kaisar Prancis. Selama 15 tahun, rakyat Prancis
berjuang melancarkan revolusi dan menentang kekuasaan absolut. Namun, dengan
persetujuannya pengangkatan Napoleon menjadi Kaisar Prancis, berarti rakyat Prancis kembali
menyetujui kekuasaan absolut, yakni suatu kekuasaan yang berada pada satu pimpinan, yakni
Kaisar Napoleon.23
Dengan demikian, pada tahun 1804 berakhirlah masa Konsulat dan memasuki babak baru
yakni masa Kekaisaran. Napoleon kemudian membentuk dinasti baru yang dikenal dengan
Dinasti Bonaparte. Sebagai kaisar, kedudukan Napoleon menjadi makin mantap dalam
mengendalikan roda pemerintahan Prancis.24
Sebagai kader revolusi yang berpaham liberal, Napoleon tetap memberikan kebebasan
terutama di bidang keagamaan, pendidikan, perdagangan, dan persamaan hak dalam
undang-undang. Akan tetapi, di bidang politik, Napoleon berpegang teguh pada prinsip absolutisme yang
bersifat turun-temurun. Ia berkuasa secara diktator menurut kehendaknya sendiri yang
dipandang baik dan cocok sehingga prinsip demokrasi dikesampingkan. Dengan demikian,
Napoleon memadukan prinsip kepemimpinan absolutisme dan demokrasi. Oleh karena itu,
22Ibid.
sistem pemerintahan Napoleon sering dikenal dengan Verlicht Despotisme.25 Sesuai dengan prinsip dinasti dan deportisme maka keturunan dan keluarga ikut berpengaruh dalam
pemerintahan. Bagi Napoleon, keturunan adalah penting. Oleh karena itu, istrinya yang pertama,
Josephine de Beauharnaise diceraikan karena tidak memiliki keturunan. Napoleon kemudian
menikahi Maria Louis, putri dari Austria.26
Dari pernikahannya dengan Louis, Napoleon mempunyai putra, yaitu Napoleon II yang
kemudian diangkat sebagai penguasa di Roma (1811–1832). Saudara-saudara Napoleon juga
diberikan kedudukan. Misalnya, Joseph Bonaparte diangkat menjadi Raja Spanyol. Louis
Napoleon diangkat menjadi raja di Belanda, dan Jerome sebagai raja di Jerman. Secara politis, itu
semua dilakukan agar seluruh Eropa berada di bawah kekuasaan keluarga Napoleon Bonaparte.27 Pada tahun 1813 di Eropa muncul koalisi yang sangat kuat yakni Rusia, Inggris, Swedia,
Austria, Spanyol, dan Prusia. Koalisi ini sepakat untuk menghancurkan kekuasaan Napoleon.
Tentara Napoleon semula memperoleh kemenangan. Namun, dalam pertempuran di Leipzig
tentara Napoleon akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan koalisi (1813). Napoleon
menyerahkan dan ia turun dari takhta kekaisaran. Napoleon kemudian dibuang ke Pulau Elba di
selatan Prancis (1814). Sebagai raja Perancis diangkatlah seorang Bourbon yakni Louis XVIII
(adik Louis XVI). Raja Louis XVIII ternyata seorang raja yang lemah sehingga bertolak belakang
dengan Napoleon yang cakap, berani, dan dikagumi rakyat. Louis XVIII dipandang tidak cocok
dengan kondisi Prancis yang sedang kacau akibat kalah perang. Rakyat Prancis mendambakan
datangnya Napoleon atau tokoh yang sejajar. Hal ini terdengar oleh Napoleon di pembuangan.
Oleh karena itu, Napoleon berusaha meloloskan diri dan ingin kembali ke Prancis. Napolen
berhasil lolos dan kembali ke Perancis yang kemudian disambut dengan meriah oleh rakyat
Prancis. Louis XVIII yang merasa terancam melarikan diri ke luar negeri. Mendengar kedatangan
Napoleon di Perancis, maka Kongres Wina dihentikan dan negara-negara koalisi sepakat untuk
menghadapi Perancis. Napoleon dengan pasukannya ke luar menghadapi tentara koaliasi.28 Di Ligny, pasukan Napoleon mendapatkan kemenangan. Namun, dalam pertempuran di
Waterlo pada tahun 1815, Napoleon dapat dikalahkan. Napoleon dapat ditangkap dan diasingkan
ke Pulau Saint Herlena (sebelah barat Afrika) sampai meninggalnya pada tanggal 5 Mei 1821.29 Pada Masa Restorasi (1814-1830), Louis XVIII dipulihkan sebagai raja yang dibatasi
konstitusi untuk kedua kalinya oleh sekutu pada tahun 1815, mengakhiri lebih dari duadekade
perang. Pasukan Sekutu tetap dinegara itu sampai dibayar. Ada skala besar pembersihan
25Ibid.
26Ibid. 27Ibid.
28 Lihat: http://www.materisma.com/2014/03/perang-koalisi-dan-pengaruh-revolusi.html.
Diakses pada 21 Desember 2014.
29 Lihat: http://www.france.fr/en/outstanding-men-and-women/napoleon-1er-1769-1821.html.
Bonapartists dari pemerintah dan militer, dan"Teror Putih" singkat di selatan Perancis
mengklaim 300 korban.Meskipun kembalinya House of Bourbon berkuasa, Prancis banyak
berubah dari erarezim lama. Para egalitarianisme dan liberalisme kaum revolusioner tetap
menjadi kekuatan penting dan otokrasi dan hirarki dari era sebelumnya tidak bisa sepenuhnya
pulih. 30
Perubahan ekonomi, yang telah berlangsung jauh sebelum revolusi, telah lebih
ditingkatkan pada tahun-tahun kekacauan dan telah tertanam kuat pada 1815. Perubahan ini
telah melihat pergeseran kekuasaan dari pemilik tanah untuk para pedagang perkotaan.
Reformasi administrasi Napoleon, seperti Kode Napoleon dan birokrasi yang efisien, juga tetap
digunakan. Perubahan ini menghasilkan pemerintah pusat yang terpadu pada sistem fiskal dan
telah banyak memegang kendali atas segala bidang kehidupan Prancis, perbedaan yang tajam
dari situasi Bourbon dihadapi sebelum Revolusi.31
Louis XVIII meninggal pada bulan September 1824 dan digantikan oleh saudaranya,
Charles X dari Prancis yang mengambil garis yang jauh lebih konservatif. Ia berusaha untuk
memerintah sebagai raja absolut dan menegaskan kembali kekuatan Gereja Katolik di Perancis.
Kisah penghujatan digereja-gereja menjadi hukuman mati, dan kebebasan pers sangat dibatasi.
Akhirnya, ia mencoba untuk mengkompensasi keluarga para bangsawan yang telah memiliki
harta benda mereka yang hancur selama Revolusi.32
Pada tahun 1830, ketidakpuasan yang disebabkan oleh perubahan dan nominasi otoriter
Charles X memuncak dalam pemberontakan di jalanan Paris,yang dikenal sebagai 1830 Revolusi
Juli (atau, dalam bahasa Perancis, "Les trois Glorieuses"–The Agung Tiga Hari – dari 27, 28 dan 29
Juli).33
Charles terpaksa melarikan diri dan Louis-Philipped'Orléans, anggota keluarga Orléans
dan anak dari Philippe Egalité, naik tahta. Louis-Philippe memerintah, bukan sebagai "Raja
Perancis" tapi sebagai "Raja Perancis". Ini semakin memperjelas bahwa haknya
untuk memerintah berasal dari rakyat dan bukan diberikan ilahi. Dia juga menghidupkan kembali
Tricolor sebagai bendera Perancis, di tempat bendera Bourbon putih yang sudah digunakan sejak
tahun 1815, perbedaan penting karena Tricolour itu simbol revolusi.
Masa Louis-Philipped'Orléans disebut juga dengan Monarki Juli (1830-1848) yang
umumnya dipandang sebagai periode dominasi kaum borjuis dominan, menandai pergeseran
30 Lihat: https://www.academia.edu/4597586/Hankam_Perancis. Diakses pada 21 Desmber
2014.
dari kontra-revolusioner Legitimis ke Orleanis, yang bersedia untuk membuat beberapa
kompromi dengan perubahan yang dibawa oleh Revolusi 1789.34
Louis-Philippe jelas memahami basis kekuasaannya: kaum borjuis kaya telah
membawanya tinggi-tinggi selama Revolusi Juli melalui pekerjaan mereka di Parlemen, dan
selama pemerintahannya, ia terus menjaga kepentingan mereka. Louis-Philippe, yang telah main
mata dengan liberalisme di masa mudanya, ditolak banyak kemegahan dan keadaan dari Bourbon
dan dikelilingi dirinya dengan pedagang dan bankir. Monarki Juli, bagaimanapun, tetap ada
kekacauan. Sekelompok besar Legitimis dikanan menuntut restorasi tahta Bourbon. Di sebelah
kiri, Republikanis, kemudian Sosialisme, tetap menjadi kekuatan yang kuat. Akhirnya,
pemerintahan Louis-Philippe menjadi semakin kaku dan dogmatis.35
Ditambah fakta bahwa Presiden Dewan, François Guizot, telah menjadi sangat tidak
populer, tapi Louis-Philippe menolak untuk menyingkirkannya. Situasi secara bertahap
meningkat sampai Revolusi tahun 1848 melihat jatuhnya monarki dan pembentukan Republik
Kedua.36
Pada rentang waktu, 1771-1832 ini juga berkembang pemikiran filsafat modern. Zaman
ini disebut juga Zaman Rasionalisme, yang berlangsung dari pertengahan abad XVII sampai akhir
abad XVIII. Istilah rasionalisme menandakan semangat zaman itu: akal budi diutamakan. Dalam
lapangan ilmu pengetahuan, sangat khas untuk menggunakan akal budi (ratio) untuk
menemukan kebenaran.37
Filsafat modern berawal pada paruh kedua abad ke 16 Masehi, setelah terlebih dahulu
dimulai Gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat (pertengahan 1300-an hingga
1600-an). Gerakan ini merupakan reaksi atas kekuasaan gereja. Menurut gerakan ini, manusia pada
prinsipnya merupakan pusat dari alam semesta, sehingga memiliki kebebasan untuk mencari
kebenarannya sendiri. Manusia harus mencari sendiri kebenaran, bukan bersandar pada ajaran
yang telah diberikan oleh gereja dan agama.38 Pada zaman ini berkembang berbagai aliran filsafat hukum. Ada 3 aliran besar filsafat hukum yang berkembang pada masa ini, yakni Aliran Hukum
Alam Rasional, Aliran Hukum Positif, Aliran Utilitarianisme dan Mazhab Sejarah.
Para filsuf pada zaman ini diantaranya adalah: Francis Bacon (1561-1626), Thomas
Hobbes (1588-1679), Rene Descartes (1596-1650), Spinoza 1677), John Locke
(1632-1704), David Hume (1711-1776), Immanuel Kant (1724-1804), Hegel (1770-1831), Jeremy
34Ibid.
35Ibid. 36Ibid.
Bentham (1748-1832), August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), Karl Marx
(1818-1883), Nietzsche (1884-1900).39
Dasar filosofis rasionalisme diletakan oleh Rene Descartes, terutama dalam bukunya
tentang metode berpikir secara tepat, yang berjudul: Discours de la method, 1673 (Ulasan
mengenai metode). Tujuan Descartes ialah membentuk suatu sistem filsafat yang sama kuat
dengan sistem ilmu-ilmu pengetahuan alam dan matematika.40
Pada zaman ini, berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi
(ratio), lama kelamaan orang-orang abad-abad [sich!] itu berpandangan bahwa orang yang hidup
sebelumnya masih berada dalam kegelapan. Baru dalam abad ini mereka dinaikan obor terang
yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah lama dirindukan. Karena
kepercayaan itu, abad XVIII itu disebut juga: Zaman Aufklarung (Englighment), zaman
pencerahan, zaman terang Budi.41
Ide-ide baru yang muncul selama zaman Pencerahan menemukan tanah yang paling
subur di Perancis. Untuk mengerti hal ini perlu diketahui bahwa pada abad-abad itu situasi
masyarakat Perancis masih feodal. Feodalisme berarti bahwa orang-orang dibagi menurut
kedudukan. Sekelompok orang memiliki hak-hak istimewa, yakni raja, bangsawan dan para tokoh
agama, sedangkan orang-orang biasa hanya memiliki hak-hak yang sesuai dengan kedudukan
rendah mereka. Rakyat harus memberi sumbangan terbesar bagi kesejahteraan masyarakat dan
menanggung beban hidup bersama. Namun rakyat tidak menikmati hak-hak dasar yang dimiliki
oleh seorang warganegara dalam masyarakat modern. Inilah suatu ketidakadilan yang makin
disadari pada abad XVIII itu. Selaras dengan kesadaran itu, kedengaran juta slogan-slogan
revolusioner yang mencerminkan cita-cita rakyat, seperti: liberté, égalité, fraternité (kebebasan,
kesamaan dan persaudaraan).42
Keadaan masyarakat di Perancis ini mendapat kritik keras dari tokoh-tokoh, diantaranya
adalah Montesquieu, John Locke, Jean-Jacques Rousseau. Montesquieu membedakan antara tiga
bentuk negara, yakni monarki, republi dan despotisme. Republik adalah atau bersifat demokratis,
yakni kalau seluruh rakyat memiliki kekuasaan yang tertinggi, atau bersifat aristokratis, yakni
kalau hanya sebagian dari rakyat yang memiliki kekuasaan. Monarki beralaskan kehormatan,
republik beralaskan kebajikan sipil, despotisme beralaskan ketakutan. Bentuk manakah yang
paling cocok tergantung dari situasi bangsa. Kebebasan politik berarti bahwa tiap-tiap
warganegara dapat berbuat apa yang harus dilakukan menurut undang-undang.43
39Ibid., hal. 112.
40 Theo huijbes, Op.cit., hal. 69. 41Ibid., hal. 68.
Montesquieu terkenal karena ajarannya mengenai Trias Politica. Sebenarnya ajaran ini
sebagian besar sudah dirintis oleh John Locke. Locke membela pendapat bahwa kekuasaan dalam
negara harus dibagikan dalam suatu kekuasaan legislatif, suatu kekuasaan eksekutif, dan
federatif. Namun kekuasaan federatif sulit dibedakan dari kekuasaan eksekutif, sehingga
sebenarnya tinggal dua kekuasaan. Montesquieu berjasa menambah yang ketiga, yakni
kekuasaan yudikatif, sebagai kekuasaan yang berbeda dari kekuasaan-kekuasaan lain. Seorang
hakim harus berdaulat dalam bidangnya. Artinya bahwa pemimpin negara tidak berhak untuk
campur tangan dalam bidang ini Prinsip kedaulatan kekuasaan yudikatif sangat mendorong
perkembangan negara hukum.44
Tokoh lainnya adalah JJ Rousseau (1712-1778) yang menginginkan masyarakat Perancis
hidup bahagia sesuai dengan martabatnya. Rousseau menginginkan suatu masyarakat dimana
kebebasan asli manusia sunggu-sungguh terjamin.45
Immanuel Kant menyebut Rousseau sebagai Newtonnya dunia moral karena Rousseau menunjukkan bahwa keberadaan sejati manusia adalah otonomi etisnya, bahwa kebebasan
merupakan bagian dari manusia sebagaimana gravitasi merupakan bagian dari materi, dan
bahwa hukum dan negara hanya bisa dipahami berdasarkan realitas dasar ini. Otonomi manusia
ditafsirkan bermakna bahwa norma hukum hanya akan memiliki kewajiban yang secara absah
bersifat mengikat jika ia diciptakan dengan partisipasi bebas dari mereka yang tunduk
kepadanya, dan lebih lanjut bahwa hanya dalam kerangka imperatif kategoris-lah keputusan
bebas itu bisa direalisir sebagai wujud otonomi manusia, sebagai sebuah indikasi dari kehendak
umum (volunte generale).46
Menurut Rousseau, kehendak umum ini perlu dipahami sebagai otoritas final dalam
semua keputusan mengenai hukum dan dengan demikian diberi pengetian yang sangat
demokratis dan tidak terbatas, sedangkan dalam pemikiran Kant, kehendak umum ini tetap
tunduk kepada hukum umum alamiah, dalam pengertian konstitusionalis.47
Tentang Otonomi manusia ini ditulis Rousseau dalam dua roman, yakni Emile dan La
nouvelle Heloise. Pokok yang sama diuraikannya dalam sebuah buku tematis yang berjudul: Du
contract social ou principes di droit politique, 1762 (tentang kontrak sosial atau prinsip-prinsip
hukum politik).48
Dari pemaparan sejarah dapat dinyatakan bahwa jalan cerita Les Miserables atau
kehidupan Jean Valjean berada dalam lingkungan keadaan sosial politik yang tidak stabil,
44Ibid.
45Ibid., hal. 87-88.
46 Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum: Perspektif Historis, Penerjemah Raisul Muttaqien, Cet.
Ke-3, (Bandung: Nusa Media, 2010), hal. 154.
47Ibid.
ekonomi yang memprihatinkan dengan fakta banyaknya warga yang kelaparan, kaum borjuis
yang secara mendominasi dan mengatur kehidupan bernegara dan tentu saja perspektif hukum
yang mengutamakan cara pandang positivism yuridis atau positivisme hukum. Situasi dan
kondisi seperti ini yang kemudian mewarnai jalannya kehidupan Valjean dengan segala hal
problematikanya.
B. Positivisme Hukum dan Faktor Sosial Kemanusiaan dalam Vonis Jean Valjean Kemiskinan, krisis ekonomi dan Revolusi Perancis sebagaimana yang telah dikemukakan
telah membawa dampak atau pengaruh yang besar bagi kehidupan Jean Valjean. Kehidupan
Valjean yang miskin dan yatim piatu membuatnya dibesarkan kakak perempuannya hingga pada
saat berumur 25 tahun, abang iparnya yang selama ini menghidupinya telah meninggal dunia
dengan meninggalkan 7 orang anak dimana yang terbesar berusia 8 tahun dan terakhir berusia 1
tahun dan tentu kakak perempuan Valjean juga. Keadaan ini membuatnya secara otomatis
menggantikan kewajiban almarhum abang iparnya untuk bertindak sebagai ayah dari keponakan
dan mencari nafkah untuk menghidupi kakak perempuan dan keponakan-keponakannya.
Valjean bekerja serabutan untuk menafkahi keluarganya. Namun, di suatu malam, Ia tidak
memiliki pekerjaan dan di rumah tidak ada makanan untuk keluarganya, ia berjalan keluar rumah
menyusuri jalan hingga tiba di sebuah rumah seorang boulanger yang menjual roti di ruang depan
rumahnya. Valjean kemudian mencuri roti tersebut dan tertangkap pada 1795. Kemudian
dihukum selama 5 tahun penjara. Namun, karena teringat nasib saudara perempuan dan ketujuh
orang keponakannya yang kelaparan, Valjean berkali-kali berusaha melarikan diri dari penjara
sehingga hukumannya ditambah menjadi 19 tahun penjara dan bebas pada 1815.
Pada masa ini, telah berlaku The French Penal Code of 1791, yakni hukum pidana yang
diterapkan selama Revolusi Perancis oleh Majelis Konstituante, antara 25 September dan 6
Oktober 1791. Ini KUHP pertama Prancis, dan dipengaruhi oleh pemikiran Pencerahan dari
Cesare Beccaria dan Montesquieu.49
Setelah runtuhnya monarki Perancis, kaum revolusioner menghapuskan maréchaussée,
namun dikembalikan dengan nama Gendarmerie National pada 1791. Pada 1796, Pemerintahan
Revolusioner mendirikan kementerian umum polisi dan mengangkat Fouché sebagai menteri.
Didukung oleh Bonaparte, Fouché melakukan reorganisasi polisi Prancis dalam undang-undang
yang berlaku di 1800. seorang komisaris polisi diangkat di setiap kota dengan penduduk paling
sedikit 5.000 jiwa, dan bagi kota yang lebih dari 100.000 jiwa jatuh di bawah pengawasan
49 Lihat:
seorang komisaris polisi umum, yang direkrut tenaga sendiri. Paris sendiri dipimpin polisi
dengan pangkat letnan polisi, independen Préfecture de Police, yang bertahan saat ini.50
Jean Valjean sendiri ditangkap oleh Inspektur Polisi yang bernama Javert. Sebagai
seorang anggota Kepolisian pada masa Revolusi, Javert memiliki pandangan positivist, artinya
hanya sekedar menegakan aturan hukum yang berlaku pada saat itu tanpa mempertimbangkan
aspek kemanusiaan terkait permasalahan kemiskinan yang sedang dihadapi Valjean. Begitu-pun
hakim yang menangani perkara Valjean.
Perancis setelah masa revolusi menganut asas legalitas atau asas nullum delictum yang
terdapat dalam ajaran Montesqieu. Kemudian dimasukkan dalam Pasal 5 dari Declaration du droit de I’homme et du citoyen. Selanjutnya, asas inipun dicantumkan pula dalam Pasal 4 dari Code
Penal.51 Akibat dari asas ini, pandangan penegak hukum terhadap penegakan hukum menjadi
terlalu positivis. Hal ini karena euphoria kaum revolusioner yang merasakan berabad-abad
lamanya, sejak era Louis XIV, Perancis tidak memiliki hukum dan marak terjadinya pelanggaran hak-hak sipil warga karena sifat absolutisme raja.
Peristilahan legal positivism atau positivisme hukum untuk pertama kalinya diinagurasi
[dikukuhkan] dalam suatu rumusan yang sistematikal dan konseptual, adalah dari apa yang
didiskusikan John Austin dalam The Province of Jurisprudence (1832) lewat suatu pernyataan atau
klaim positif mengenai hukum, bahwa hukum, dalam tema yang paling generik dan
menyeluruh…diartikan sebagai aturan yang diterbitkan untuk memberi pedoman perilaku kepada seorang manusia selaku mahluk intelegen…dari seorang manusia lainnya [mahluk intelegen
lainnya] yang ditangannya ada kekuasaan (otoritas) terhadap mahluk intelegen pertama itu .52
Bahwa positivisme hukum bermasalah, baru disadari sepenuhnya pada waktu
kelemahanmya dimanfaatkan oleh rezim-rezim fasis. Kelemahan dasar positivisme hukum
adalah mengindentifikasikan hukum dengan undang-undang (hukum positif). Cara pandang yang
formalistik ini menghilangkan kemungkinan untuk mempertanyakan apakah norma yang
diundangkan itu adil atau tidak. Betapapun buruknya, asal norma sudah menjadi hukum positif,
hakim dan masyarakat terikat kepadanya.53
Yang pertama kali melakukan kritik terhadap mazhab ini adalah mazhab sejarah hukum
yang dirintis oleh Friedrich Carl von Savigny (1779-1861), ahli hukum berkebangsaan Jerman.
50 Lihat:
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/467289/police/36617/Postrevolutionary-French-police. Diakses pada 21 Desember 2014.
51 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana: Dua Pengertian Dasar dalam
Hukum Pidana, (Jakarta: Aksara Baru, 1983), hlm. 39
52 Herman Bakir, Filsafat Hukum: Desain dan Arsitektur Kesejarahan, (Bandung: Refika Aditama,
2007), hal. 263.
53 Sulistyowati Irianto dan Sidharta, Metode Penelitian Hukum: Konstelasi dan Refleksi, Ed, (Jakarta:
Pemikiran Savigny ini kemudian diteruskan oleh muridnya yang bernama Puchta. Kemudian
berkembang pengaruhnya sampai ke Inggris dengan tokohnya Henry Maine. Kelompok mazhab
sejarah ini menyerang mazhab positivisme hukum dengan mengatakan bahwa hukum bukan
hanya yang dikeluarkan oleh penguasa dalam bentuk undang-undang namun hukum adalah jiwa
bangsa (volkgeist) dan substansinya adalah aturan tentang kebiasaan hidup masyarakat. Tidak
hanya penguasa, rakyat yang terdiri dari kompleksitas individu dan kelompok juga mempunya
kekuatan melahirkan hukum (sebagaimana ungkapan Cicero: Ubi societas ibi ius, dimana ada
masyarakat, disitu ada hukum). Hukum, menurut mazhab hukum sejarah, bukan diciptakan
melainkan ditemukan.54
C. Penegakan Hukum untuk Kepentingan Kaum Borjuis: Kasus Fantine
Kasus Fantine yang bertengkar dengan penguasa dimana tempat ia bekerja karena
dibayar tidak layak dan dihina, dimana kemudian Fantine melawan dan melakukan tindakan
agresif, akibatnya kemudian Fantine ditangkap Javert dan dihukum 6 bulan penjara. Penegakan
hukum yang begitu tajam kepada Fantine tanpa melihat akar persoalan menimbulkan sebuat
pernyataan bahwasanya hukum dibuat dan berpihak kepada kelas masyarakat atas, dalam hal ini
kaum Borjuis atau dengan bahasa yang lain pada masa kini banyak orang menyebutnya, hukum
tumpul kepada orang kaya dan tajam kepada orang yang miskin. Hal ini sebagaimana yang
dipandang oleh penganut mazhab sosiologi hukum, yakni melihat keberlakuan hukum dalam
kehidupan sosial masyarakat. Salah satu tokoh sosiologi hukum ini adalah Karl Marx.
Salah satu alasan pecahnya Revolusi Perancis juga dipicu oleh ketidakadilan antar kelas
yang dimotori oleh negara sebagai kelompok dominan. Perekonomian Perancis saat itu sangat
tergantung dari ekonomi pertanian, sehingga melahirkan kelas keluarga petani, kelas pemilik
tanah sebagai kelas dominan dan Negara sebagai kelas tersendiri yang terdiri dari para pejabat
dan keluarga dari pemerintahan monarki. Dua kelas sosial terakhir menjadi mitra eksploitasi
sekaligus bersaing dalam penguasaan surplus dari ekonomi perdagangan pertanian. 55
Menjelang abad 18, muncul kelas dominan baru di Perancis yang justru semakin
memperburuk politik dan ekonomi Negara. Mereka itu adalah kelas dominan yang mengambil
surplus secara langsung maupun tidak langsung dari pertanian dan golongan petani melalui
sewa-menyewa dan iuran-iuran tanah pertanian yang dikuatkan oleh lembaga peradilan yang
dikuasai oleh para tuan tanah, menarik retribusi pendapatan dari para petani dengan berlindung
dibalik kekuasan dan hukum Negara kerajaan.56
54Ibid., hal. 24-25
55 Lihat: http://www.polisikita.net/index.php/ilmu-kepolisian/hukum-kepolisian/26-diskresi-kepolisian-dalam-nilai-nilai-dasar-hukum. Diakses pada 21 Desember 2014.
Kelompok dominan ini yang disebut dengan istilah feodal, yaitu satu kelas istimewa yang
berkaitan dengan surplus dari kepemilikan tanah berdasarkan sarana kekuasaan pemaksa dari
Negara. Oleh karena itu terjadinya Revolusi sosial di Perancis, disamping beratnya tantangan
yang datang dari luar negeri, juga disebabkan karena munculnya kaum borjuis, kritik terhadap
kekuasaan tradisional yang sewenang-wenang, dan yang lebih penting dari itu adalah
diproduksinya hukum yang lebih memberikan kepastian dan kegunaan kepada para kaum
borjuis ketimbang keadilan kepada rakyatnya. Supremasi hukum dijunjung dengan
mengedepankan nilai kepastian dan kegunaan hukum yang berpihak kepada kelas borjuis
feodal.57
Kasus pemidanaan terhadap Fantine ini mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Karl
Marx bahwa hukum tidak lebih dari sebuah instrumen untuk melindungi dan menjamin
kepentingan kelas yang berkuasa (kapitalis) di satu pihak, dan memeras serta menindas kelas
pekerja (proletar) di pihak lain.58 Padahal pemidanaan terhadap Fantine dilakukan sekitar tahun 1815-1820, dimana semboyan Revolusi Perancis, égalité, terus dikumdangkan.
Konsep égalité kemudian diagregasi oleh pakar hukum di masa Bonaparte pada tahun
(1804-1807) ke dalam kodifikasi hukum yang kemudian dikenal dengan nama Code Napoleon.
Landasan penting dari kodifikasi ini adalah tidak adanya hak-hak istimewa berdasarkan
kelahiran dan asal usul seseorang, semua orang sama derajat dihadapan hukum.
Namun, fakta pemidanaan terhadap Fantine ini seolah-olah mengingatkan kepada semua
umat manusia, hukum dalam suatu waktu dapat disalahgunakan untuk dan demi kepentingan
orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang memiliki harta yang berlimpah (kaum
borjuis/orang kaya). Fakta ini terus terjadi meskpun, prinsip-prinsip persamaan dihadapan
hukum dan memperoleh keadilan telah dijamin dan dimuat dalam Konstitusi banyak negara dan
berbagai peraturan perundang-undangan terkait lainnya.
D. Perburuan Jean Valjean dan Kematian Inspektur Javert: Pelanggaran terhadap Prinsip liberté, égalité, fraternité dan Tafsir Hukum yang sangat Positivis
Tindakan Javert yang terus mengejar dan mencari kesalahan Jean Valjean merupakan
pelanggaran terhadap prinsip liberté yang seharusnya justru harus ditaati Javert sebagai penegak
hukum. Valjean sebagai individu memiliki hak untuk bebas dari rasa praduga tak bersalah
sebagaimana Prinsip ke-5 dari Declaration du droit de I’homme et du citoyen, yang menyatakan:
57Ibid.
Law can only prohibit such actions as are hurtful to society. Nothing may be prevented which is not
forbidden by law, and no one may be forced to do anything not provided for by law .59
Tindakan Javert ini dapat dikatakan sebagai bentuk penyalahgunaan kewenangan jabatan
publik atau diskresi yang keliru. Hal ini karena perburuan yang dilakukan Javert terhadap Valjean
bukan dalam rangka fungsi pelaksanaan penegakan hukum yang dalam hal ini operasi
penangkapan atau pengejaran seorang tersangka atau buronan.
Diskresi merupakan kewenangan polisi dalam melaksanakan kegiatan kepolisian.
Diskresi merupakan tindakan yang diambil untuk tidak melakukan tindakan hukum dengan
tujuan untuk kepentingan umum, kemanusiaan, memberikan pencerahan atau pendidikan
kepada masyarakat. Tindakan diskresi bisa dilakukan oleh setiap anggota kepolisian yang
bertugas atau menangani suatu kasus atau permasalahan dalam lingkup tugas dan
kewenangannya. Menurut Davis (dalam Bailey (ed), 1995) police dicretion maybe defined as the
capacity of police officers to select from among a number of legal and ilegal courses of action or
inaction while performing their duties”. Tindakan diskresi juga harus didasari dengan hati nurani,
etika dan moral untuk kepentingan umum, bersifat mendesak dan tidak untuk memenuhi
kepentingan pribadi atau kelompok atau organisasi.60
Azas plichmatigheid dalam hukum kepolisian juga sangat dekat kaitannya dengan
pembatasan kewenangan polisi dalam konsep diskresi yaitu membatasi kewenangan polisi dalam
melaksanakan kekuasaan umum untuk melakukan tindakan yang diserahkan kepada inisiatif
petugas polisi itu sendiri. Batas-batas kewajiban dan sekaligus membatasi kewenangan dalam
azas plichmatigheid adalah (1) azas keperluan (noodzakelijk) yaitu secara obyektif menurut
pendapat umum tindakan polisi harus dilakukan, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih,
misalnya memerintahkan pemindahan pemasangan papan reklame yang menutupi rambu
lalulintas, meskipun pemasangan tersebut telah mendapatkan ijin dari instansi yang berwenang,
(2) azas masalah sebagai patokan (zakelijk) yaitu tindakan yang diambil benar-benar untuk
kepentingan masyarakat, untuk kepentingan umum bukan kepentingan pribadi anggota polisi,
(3) azas tujuan (doelmatig) yaitu tindakan yang diambil benar-benar untuk mengelakkan
gangguan dan memperkecil kerugian serta korban, dan (4) azas keseimbangan (evenreding) yaitu
tindakan yang diambil polisi harus sesuai antara tindakan dengan berat ringannya masalah.
Sehubungan pemolisian, penyidikan dan bimbingan masyarakat secara umum termasuk dalam
rangka keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu-lintas, sehubungan dengan tindakan yang
59 Lihat: http://www.hrcr.org/docs/frenchdec.html . Diakses pada 21 Desember 2014.
didasarkan atas penilaian sendiri, untuk kepentingan umum dan memperhatikan norma-norma
susila, sopan santun dan sosial serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.61
Oleh karena alasan-alasan yang telah dikemukakan tersebut, tindakan Javert dapat
dikualifikasikan sebagai penyalahgunaan diskresi kepolisian dan pelanggaran hak asasi Valjean,
khususnya hak untuk tidak dituntut, ditangkap dan ditahan tanpa dasar hukum yang jelas. Tidak
ada manfaat atau utilitarian penegakan hukum yang dilakukan oleh Javert mengingat yang
dikejarnya bukanlah seorang penjahat besar bahkan berkualifikasi sebagai seorang penjahat dalam artian memiliki niat yang sangat jahat (cruel).
Javert adalah karakter yang komplet, yang tidak pernah mengertu dalam tugasnya dan
seragamnya, sistematis dalam menangani para penjahat, kaku seperti kancing di mantelnya.
Kepuasan karena berhasil menangkap Valjean menimbulkan kepuasan dalam dirinya dan
tergambarkan dalam sikapnya yang congkak. Tanpa membuat segala sesuatunya menjadi lebih
jelas terlebih dahulu, salah atau benarkah Valjean, hanya dengan menggunakan instuisi yang
bercampur aduk dengan kepentingan kesuksesaannya, Javert memersonifikasi keadilan dalam
fungsinya untuk menghancurkan kejahatan.
Penafsirannya tentang penegakan hukum terlalu mengikuti aliran paham positivist tanpa
memandang rasa kemanusiaan dan hanya meyakini instuisinya semata yang telah lama
kehilangan rasa kemanusiaan dalam bentuk praduga tak bersalah.
Kejujuran, ketulusan, keterusterangan, keyakinan, dan rasa tanggung jawab yang Javert
miliki adalah hal-hal yang dapat menjadi sesuatu yang mengerikan jika diarahkan dengan keliru.
Kematian Javert, yang menenggelamkan dirinya sendiri dan membiarkan Valjean bebas, adalah
bentuk dualisme sikap Javert, satu sisi masih tetap mempertahankan sikap positivisnya,
sedangkan disisi lain ada nilai moral kemanusiaan sebagai penegak hukum yang sedang
diperjuangkannya, dalam bentuk memberikan kebebasan kepada Valjean.
Jika moral diartikan sebagai sesuatu yang menyangkut mengenai baik-buruknya manusia
sebagai manusia, maka moralitas adalah keseluruhan norma, nilai, dan sikap moral seseorang
atau sebuah masyarakat.62 Kualitas norma moral ditentukan oleh unsur kebebasan, tanggung jawab dan suara hati. Semakin tinggi derajat kebebasan, tanggung jawab dan kemurnian suara
hatinya, semakin baik kualitas moral yang bersangkutan.63 -Terima kasih -
61Ibid.
62 Shidarta, Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir, (Bandung: Refika Aditama,
2006), hal. 43.