Oleh:
Dea Nusa Aninditya
3613100002
M. Ermando N. S.
3613100013
Virta Sa tri R.
3613100025
Dian Fajar N.
3613100036
Sho a Ermirasari
3613100079
Mata Kuliah Ekonomi Kota
RP 141308
Dosen:
Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic. Rer. Reg.
Vely Kukinul Siswanto, ST., MT., M.Sc.
Aspek Perumahan
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahhirabbil’alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena tak lepas
dari rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis
Permasalahan Ekonomi Kota Aspek Perumahan Makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Ekonomi Kota.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tersusun dengan peran serta dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat
kami sebutkan satu – persatu dalam muqaddimah singkat ini.
Makalah ini merupakan pembahasan mengenai Permasalahan yang terjadi pada permintaan perumahan yang berkaitan dengan ekonomi kota khususnya di kota Surabaya dengan sampel yakni perumahan Sukolilo Dian Regency.
Seperti pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan laporan ini. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun sangat kami harapkan, Akhir kata, semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surabaya, Mei 2015
ii
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 2
1.3 Sistematika Penulisan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Pengertian Perumahan ... 3
2.1.1 Jenis Jenis Perumahan ... 3
2.2 Permintaan dan Penawaran Perumahan ... 4
2.2.1 Hukum Penawaran dan Permintaan ... 4
2.2.2 Fenomena Pasar Perumahan ... 5
2.2.3 Permintaan Terhadap Perumahan ... 5
2.2.4 Penawaran Terhadap Perumahan ... 6
2.3 Faktor Nilai Tanah dan Permintaan Perumahan ... 7
2.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tanah ... 7
2.3.2 Faktor permintaan ... 8
2.4 Dampak Permintaan Perumahan ... 10
2.4.1 Pengertian Dampak ... 10
2.4.2 Dampak negatif ... 10
2.4.3 Dampak Positif ... 11
2.5 Kebijakan Pengaturan Perumahan ... 11
2.5.1 Kebijakan Sisi Penawaran... 11
2.5.2 Kebijakan Sisi Permintaan ... 12
2.5.3 Kebijakan Pembaruan Kembali Daerah Perkotaan ... 12
BAB III GAMBARAN UMUM ... 13
3.1 Gambaran Umum Wilayah ... 13
3.2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya ... 14
3.3 Kondisi Perumahan di Kota Surabaya ... 14
3.4 Permintaan Perumahan di Surabaya ... 15
3.4.1 Peningkatan permintaan rumah tinggal di Surabaya akibat peningkatan jumlah penduduk ... 15
iii
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 17
4.1 Analisis Skala Likert ... 17
4.2 Permintaan Perumahan ... 17
4.2.1 Likert Permintaan Perumahan Menurut Pengembang Perumahan (Developer) ... 18
4.2.2 Likert Permintaan Perumahan Menurut Akademisi ... 18
4.2.3 Likert Permintaan Perumahan Menurut Konsumen Perumahan ... 18
4.3 Hasil Analisis ... 19
BAB V SOLUSI PENGEMBANGAN ... 21
BAB VI KESIMPULAN ... 23
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kurva Permintaan Rumah dan Pergeserannya ... 6
Gambar 2 Kurva Permintaan Rumah dan Pergeserannya ... 7
Gambar 3 Peta Administrasi Kota Surabaya... 13
Gambar 4 Diagram Tingkat Prioritas Faktor Permintaan Perumahan di Surabaya ... 20
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Penduduk Kota Surabaya tahun 2008-2013 ... 14Tabel 2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya tahun 2006-2010 ... 14
Tabel 3 Sintesa Pustaka ... 17
Tabel 4 Likert hasil wawancara dengan Pengembang Perumahan ... 18
Tabel 5 Likert hasil wawancara dengan Akademisi ... 18
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian dan sarana pembinaan keluarga. Merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, selain kebutuhan sandang, pangan, layanan kesehatan dan pendidikan. Rumah sebagai sarana
“memanusiakan‟ manusia, pemberi ketentraman hidup dan sebagai pusat kegiatan
berbudaya manusia. Memiliki rumah merupakan investasi jangka panjang (Yudohusodo dkk; 1991). Nilai dari suatu rumah terletak dalam hubungan antara elemen-elemen kegiatan perumahan, yakni: pelaku (actor), aktivitasnya (activities), dan prestasi atau hasilnya (achievment). Nilai rumah akan menyangkut nilai pasar dari unit rumah serta nilai manusiawi dan nilai sosial dari proses bermukim. Sehingga rumah sebagai produk dalam perumahan yang dapat menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya dsb.
Menurut Turner (1982 ) Rumah bukanlah produk akhir tetapi suatu produk yang berkembang. Rumah tidak saja hanya dalam wujud fisik tetapi lebih merupakan suatu proses yang tumbuh dan berkembang. Dalam hal ini rumah bukan lagi suatu produk statis, tetapi adalah produk untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat dinamis. Maksudnya akan terjadi perubahan, tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh penghuni atau pemilik rumah secara pribadi seperti keinginan, motivasi, latar belakang budaya dan sebagainya. Selain itu, perkembangan tingkat ekonomi yang terjadi di masyarakat menyebabkan rumah tidak hanya sekedar pemenuhan terhadap kebutuhan dasar. Rumah menjadi pemenuhan kebutuhan dari aspek psikologis, yaitu sebagai aktualisasi seseorang atau menjadi objek investasi. Terkait dengan aspek investasi ini, rumah dipandang sebagai produk, yaitu komoditas yang dapat diperjual-belikan. Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai identifikasi permasalahan permintaan perumahan terkait dengan ekonomi kota.
1.2 Tujuan
Tujuan dari adanya penulisan makalah ini adalah:
Menjelaskan ragam persoalan pemenuhan kebutuhan perumahan dan kaitannya
dengan pengembangan ekonomi kota.
Menganalisis faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan perumahan di Surabaya.
Memberikan solusi pengembangan dari permasalahan permintaan perumahan yang
2
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Pada ruang lingkup wilayah dalam pembahasan analisis lokasi dan keruangan ini adalah perumahan di kota Surabaya dengan sample nya yakni perumahan Sukolilo Dian Regency yang terdapat di Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur.
Dalam ruang lingkup pembahasan, penulisan Makalah identifiasi permasalahan permintaan perumahan di Surabaya dengan sample Perumahan Sukolilo Dian Regency.
1.3 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Berisi uraian mengenai latar belakang, tujuan, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tinjauan tentang teori-teori yang ada kaitannya dengan wilayah studi perencanaan utamanya yang berkaitan dengan model analisis likert dan faktor yang mungkin dapat mempengaruhi tingkat permintaan perumahan.
BAB III GAMBARAN UMUM
Berisi uraian mengenai lokasi wilayah studi, karakteristik wilayah studi ditinjau dari keadaan eksisting.
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Berisi uraian interpretasi dari hasil kuesioner dengan metode Likert.
BAB V SOLUSI PENGEMBANGAN
Berisi uraian yang menjelaskan mengenai solusi yang dapat diberikan dari analisis permasalahan permintaan perumahan yang terjadi.
BAB V PENUTUP
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Perumahan
Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, Yang dimaksud dengan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Menurut Suparno Sastra M. dan Endi Marlina pengertian perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan (Perencanaan dan Pengembangan Perumahan, 2006:29). Bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan, maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Ada perbedaan mendasar pola pembangunan permukiman di perkotaan dan perdesaan. Wilayah permukiman di perkotaan sering disebut sebagai daerah perumahan, memiliki keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian besar rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan yang ada dan sebagian besar terdiri dari bangunan permanen, berdinding tembok dan dilengkapi dengan penerangan listrik. Kerangka jalannya pun ditata secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan lingkungan atau lokal.
2.1.1 Jenis Jenis Perumahan
Menurut Suparno,dkk (2006), jenis perumahan dibagi menjadi 3 golongan,diantaranya yaitu:
1. Perumahan Sederhana
Perumahan sederhana merupakan jenis perumahan yang biasanya diperuntukkan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan mempunyai keterbatasan daya beli. Jenis perumahan ini memiliki fasilitas yang masih minim. Hal ini dikarenakan pihak pengembang tidak dapat menaikkan arga jual bangunan dan fasilitas pendukung operasional seperti pada perumahan menengah dan mewah, dimana harga sarana dan prasarana perumahan dibebankan kepada konsumen. Perumahan sederhana biasanya terletak jauh dari pusat kota. Hal tersebut dikarenakan harga tanah di sekitar pusat kota yang mahal sehingga tidak dapat dibebankan kepada konsumen.
2. Perumahan Menengah
4
atas. Jenis perumahan ini sudah dilengkapi dengan sarana dan prasaranapenunjang operasional, seperti pengerasan jalan, open space berikut tamannya,
jalan serta lampu taman dan lampu jalan, bahkan dilengkapi juga dengan fasilitas untuk olah raga seperti lapangan tenis. Perumahan menengah biasanya terletak tidak jauh dari pusat kota yang strategis letaknya terhadap berbagai fasilitas pendukung lain seperti pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, pusat kegiatan pelayanan perdagangan dan jasa.
3. Perumahan Mewah
Perumahan mewah merupakan jenis perumahan yang dikhususkan bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Jenis perumahan ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang operasional yang sudah sangat lengkap, seperti pusat olah raga, taman dan fasilitas bermain, gedung pertemuan, pusat perbelanjaan, bahkan fasilitas rekreasi. Hal tersebut dikarenakan penghuni rumah tersebut menginginkan kemudahan akses dan pelayanan sekitar perumahan yang cepat dan lengkap. Perumahan mewah biasanya hanya ada di kota-kota besar dimana lokasinya beada di pusat kota, karena konsumennya menginginkan kemudahan akses dan pelayanan sekitar perumahan yang serba instan.
2.2 Permintaan dan Penawaran Perumahan
2.2.1 Hukum Penawaran dan Permintaan
Hukum penawaran dan permintaan dalam segi ekonomi, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kenaikan permintaan menyebabkan kenaikan baik pada harga ekuilibrium maupun kuantitas ekuilibrium.
2. Penurunan permintaan menyebabkan penurunan baik pada harga ekuilibrium maupun kuantitas ekuilibrium.
3. Kenaikan penawaran menyebabkan penurunan harga ekuilibrium dan mempengaruhi kuantitas ekuilibrium.
4. Penurunan penawaran menyebabkan kenaikan harga ekuilibrium dan menyebabkan penurunan kuantitas ekuilibrium.
5
Kuantitas yang diminta adalah jumlah produk yang akan dibeli rumah tangga dalam suatu periode tertentu jika rumah tangga tersebut dapat memenuhi semua yang diinginkan dengan harga pasar terkini (William A. Checern, 2002).2.2.2 Fenomena Pasar Perumahan
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar. Pada tahun 2005, jumlah penduduk Indonesia berada dalam urutan yang ke-enam di dunia. Tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Peningkatan jumlah penduduk itu juga akan meningkatkan kebutuhan atas fasilitas tempat tinggal, yang berarti pula meningkatkan kebutuhan akan unit-unit hunian baru.
Rumah atau tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Berdasarkan pendekatan Maslow, rumah sebagai pemenuhan kebutuhan manusia dapat merupakan perwujudan dari pemenuhan berbagai kebutuhan, dari tingkat yang paling dasar hingga tingkat yang paling tinggi.
Perkembangan tingkat ekonomi yang terjadi di masyarakat menyebabkan rumah tidak hanya sekedar pemenuhan terhadap kebutuhan dasar. Rumah menjadi pemenuhan kebutuhan dari aspek psikologis, yaitu sebagai aktualisasi seseorang atau menjadi objek investasi. Terkait dengan aspek investasi ini, rumah dipandang sebagai produk, yaitu komoditas yang dapat diperjual-belikan.
Pada daerah dengan potensi baik, seperti potensi wisata, potensi ekonomi, potensi pendidikan dan lain-lain, investasi dapat berupa usaha sewa ataupun jual beli. Investasi rumah dipandang sebagai investasi hari tua, dalam arti bahwa rumah yang dibeli direncanakan sebagai tempat tinggal untuk masa tua atau masa pensiun, dan dapat pula investasi rumah ini digunakan sebagai suatu usaha dagang, jual beli unit hunian.
2.2.3 Permintaan Terhadap Perumahan
Pada persamaan permintaan perumahan, variable harga rumah, pendapatan masyarakat, dan harga barang substirusi merupakan unsur yang sangat menentukan. Unsur produk perumahan yang tersedia di pasaran juga ikut menentukan permintaan terhadap jasa perumahan, serta unsur tingkat pengembalian modal dalam kegiatan investasi perumahan dan kekayaan rumah tangga juga ikut menentukan.
6
barang dan jasa pada umumnya, mempnyai sudut (slope) negative, yang didasarkan
pada hukum permintaan (law of demand).
Akan tetapi bila asumsi berubah, misalnya tejadi peningkatan pendapatan masyarakat secara signifikan, maka akan menyebabkan pergeseran fungsi
permintaan ke kanan (dari d1ke d2). Akibatnya, baik harga dan jumlah rumah yang
diminta akan naik. Bila terjadi kenaikan inflasi cukup tinggi sehingga daya beli
masyarakat menurun, maka kurva permintaan akan bergeser ke kiri (dari d1 ke d3),
harga dan jumlah produk perumahan yang diminta akan turun. Untuk lebih jelasnya mengenai kurva permintaan perumahan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 1 Kurva Permintaan Rumah dan Pergeserannya
Sumber :Syafrizal, 2012
2.2.4 Penawaran Terhadap Perumahan
Penawaran produk perumahan pada dasarnya menunjukkan jumlah produk perumahan yang dapat ditawarkan pada masyarakat pada berbagai tingkat harga. Aspek-aspek yang berkaitan dengan kegiatan produksi akan berpengaruh langsung pada penawaran jasa produk perumahan ini. Sama halnya pada analisis permintaan produk perumahan ini juga dibagi atas dua jenis yaitu jasa perumahan dan jumlah rumah.
Diasumsikan bahwa faktor-faktor lain di luar harga produk perumahan dianggap
tetap, maka kurva penawaran produk perumahan mempunyai sudut (slope) positif.
Bentuk kurva penawaran dilandasi oleh hukum penawaran (law of supply) dimana
7
Bila asumsi tersebut mengalami perubahan, misalnya terjadi peningkatan harga bahan bangunan di pasarab sehingga biaya produksi perumahan meningkat tajam, menyebabkan terjadinya pergeseran kurva penawaran ke kiri sehingga jumlah produk perumahan yang ditawarkan cenderung menurun, sedangkan bila terjadi kemajuan teknologi konstruksi perumahan sehingga biaya produksi dapat ditekan, maka kurva penawaran akan bergeser ke kanan dan jumlah penawaran rumah akan cenderung meningkat. Untuk lebih jelasnya mengenai kurva penawaran perumahan dapat dilihat pada gambar berikut.Gambar 2 Kurva Permintaan Rumah dan Pergeserannya
Sumber :Syafrizal, 2012
2.3 Faktor Nilai Tanah dan Permintaan Perumahan
2.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tanah
Seorang ahli real estate (anonim), pernah menyatakan bahwa ada 3 cara untuk
menguji apakah suatu real estate “baik” atau tidak, yaitu pertama lokasi, kedua
lokasi, dan ketiga lokasi (Ray M. Northam, 1975). Namun secara keseluruhan, ada 4 faktor yang mempengaruhi nilai tanah, yaitu:
1. Faktor ekonomi.
Faktor ekonomi berkaitan dengan keadaan ekonomi global/internasional,
nasional, regional maupun lokal. Variabel-variabel permintaan (demand) yang
mempengaruhi nilai tanah termasuk di dalamnya ialah jumlah tenaga kerja, tingkat upah, tingkat pendapatan dan daya beli, tersedianya keuangan, tingkat suku bunga dan biaya transaksi.
2. Faktor sosial
8
memiliki (daerah bergengsi) adalah faktor-faktor sosial yang mempengaruhi nilai tanah.3. Faktor politik dan kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah di bidang hukum dan politik mempengaruhi nilai tanah. Beberapa contoh kebijakan yang dapat mempengaruhi biaya dan alokasi penggunaan tanah yang pada gilirannya akan meningkatkan harga tanah, antara lain; kebijakan pemilikan sertifikat tanah, peraturan penataan ruang dengan penentuan mintakat atau zoning, peraturan perpajakan, peraturan perijinan (SIPPT, IMB dan lain-lain) ataupun penentuan tempat pelayanan umum (sekolah, [asar, rumah sakit, dan lain-lain).
4. Faktor fisik dan lingkungan.
Ada dua konsep yang harus dipahami dalam faktor fisik dan lingkungan, yaitu
site dan situasi (situation). Pengertian tentang site adalah semua sifat atau karakter
internal dari suatu persil atau daerah tertentu, termasuk di dalamnya adalah ukuran
(size), bentuk, topografi dan semua keadaan fisik pada persil tanah. Sedangkan
yang dimaksud dengan situasi (situation) ialah yang berkenaan dengan sifat-sifat
eksternalnya. Situasi suatu tempat berkaitan erat dengan relasi tempat itu dengan tempat-tempat di sekitarnya pada suatu ruang geografi yang sama. Termasuk dalam pengertian situasi adalah aksesibilitas (jarak ke pusat pertokoan (CBD), jarak ke sekolah jarak ke rumah sakit, dan lain-lain), tersedianya sarana dan prasarana (utilitas kota) seperti jaringan transportasi, sambungan telepon, listrik, air minum dan sebagainya.
Site mempengaruhi nilai tanah karena “sumberdaya”-nya, sedangkan situasi mempengaruhi nilai tanah karena kemudahan atau kedekatannya (aksesibilitas)
dengan “sumberdaya” yang lain di sekitarnya.
2.3.2 Faktor permintaan
Dengan asumsi tersebut, maka permintaan perumahan untuk kedua motif tersebut akan dipengaruhi oleh faktor harga rumah, daya beli masyarakat dan faktor lain yang ditentukan dari waktu ke waktu. Berdasarkan penelitian diatas, maka dapat diperkirakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan perumahan diantaranya:
1. Harga Rumah
9
tetap, dimana terdapat stok perumahan yang telah tertentu (fixed) yang tidak dapat
disesuaikan dengan cepat sebagai tanggapan terhadap perubahan perubahan harga.
Komponen harga rumah pada keseimbangan merupakan titik pertemuan antara permintaan dan penawaran. Perubahannya dapat diukur dengan menggunakan indikator inflasi sektor perumahan. Jika harga rumah terus mengalami kenaikan, maka permintaan dari masyarakat akan menurun. Sebaliknya, kenaikan harga rumah merupakan suatu rangsangan bagi pihak pengembang untuk membangun perumahan.
2. Daya Beli masyarakat
Nicolson (1999) mengemukakan bahwa jika pendapatan bertambah maka secara otomatis bagian dari pendapatan yang akan dibelanjakan akan bertambah, sehingga jumlah barang yang bisa dibeli juga meningkat (Iskandar, 2002). Sedangkan Soeharjoto (1998) menyatakan bahwa semakin besar pendapatan per kapita, maka pembelian perumahan akan bertambah.
Berdasarkan konsep engel, semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin
rendah porsi pendapatan yang dibelanjakan untuk makanan, dan semakin tinggi pula porsi pendapatan yang dibelanjakan untuk kebutuhan non-makanan. Jika pendapatan per kapita masyarakat meningkat, maka porsi pendapatan yang digunakan untuk membeli rumah atau membayar cicilan KPR lebih besar.
3. Tingkat Bunga
Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit, maka semakin besar cicilan kredit yang harus dibayarkan oleh nasabah. Tingkat suku bunga berbeda tergantung tingkat kepercayaaan kredit dari si peminjam, jangka waktu pinjaman dan bebagai aspek perjanjian lainnya antara peminjam dengan pemberi pinjaman (Dornbusch et. al., 2004).
Kenaikan tingkat suku bunga kredit, baik konsumsi maupun investasi akan mengurangi permintaan agregat untuk setiap tingkat pendapatan, karena disamping menaikkan jumlah cicilan kredit yang harus dibayar, tingkat suku bunga yang lebih tinggi juga akan mengurangi keinginan untuk baik untuk konsumsi maupun berinvestasi.
4. Jumlah Penduduk
10
Biasanya pertambahan penduduk juga diikuti dengan perkembangan dalam kesempatan kerja. Dengan demikian lebih banyak orang yang menerima pendapatan dan meningkatkan daya beli. Peningkatan daya beli ini akan meningkatkan permintaan.2.4 Dampak Permintaan Perumahan 2.4.1 Pengertian Dampak
Dampak merupakan akibat dari suatu perubahan atau aktivitas yang terjadi secara
alami maupun buatan manusia. Akibat dari perubahan tersebut menyebabkan
adanya pengaruh dan konsekuensi yang timbul dari adanya suatu aktivitas atau
kegiatan oleh manusia baik berdampak positif maupun dampak negatif. Dampak
positif dalam arti luas akan mengakibatkan adanya peningkatan kesejahteraan
manusia dan kondisi lingkungan menjadi lebih baik. Dampak negatif berarti
penurunan kesejahteraan manusia akibat menurunnya daya dukung alam.
2.4.2 Dampak negatif
Winarso (1995) menyatakan masalah ketersediaan lahan semakin parah dengan adanya kasus-kasus seperti lahan yang semula telah dialokasikan untuk suatu kegiatan tertentu dalam rencana kota, pada saat akan diimplementasikan telah digunakan oleh jenis kegiatan lainnya. Keadaan ini tentu tidak benar, bahkan sering pula menyulut ketidak puasan masyarakat karena perubahan yang terjadi tidak sesuai dengan rencana yang telah diketahui masyarakat. Perubahan juga mempunyai dampak yang besar terhadap pengeluaran publik, terutama jika perubahan itu untuk tata guna lahan yang lebih komersial.
Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) adalah telah terjadi: (1) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat; (2) ketimpangan pelayanan infrastruktur, pelayanan perkotaan, dan perumahan; (3) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan; (4) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam; dan (5) komunitas lokal tersisih, dengan orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan.
11
Setelah lokasi perumahan ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal, perludibuat rencana tapak (site planning), agar dalam jangka panjang perumahan tersebut
tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. Rencana tapak ini penting, karena akan menentukan bentuk kota, dapat menciptakan kemudahan atau kesukaran bagi para penghuni, serta dapat mempengaruhi tingkah laku penghuni di lokasi perumahan tersebut. Pengadaan perumahan, baik yang dilakukan oleh sektor formal maupun informal, didasarkan atas kebutuhan rumah. Pengusaha swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyediakan rumah berbagai tipe untuk berbagai kelompok masyarakat dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterjangkauan daya beli masyarakat untuk membeli rumah.
2.4.3 Dampak Positif
Adapun dampak positive dari permintaan perumahan yang tinggi, yaitu kenaikan harga dan nilai lahan di kota. Sehingga taraf pendapatan masyarakat kota akan terus bertumbuh. Ditunjang dengan infrastuktur dan fasilitas yang semakin memadai di dalam kota. Banyaknya perkembangan perumahan disini akan menunjang para pekerja untuk lebih mudah dan berkembang menjadi kota yang semakin berkembang.
2.5 Kebijakan Pengaturan Perumahan
2.5.1 Kebijakan Sisi Penawaran
Kebijakan sisi penawaran pada umumnya menyangkut dengan upaya umum pemerintah yang diarahkan pada perusahaan pembangunan perumahan untuk meningkatkan produksi dan penawaran produk perumahan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau. Dalam hal ini terdapat kebijakan publik yang dilakukan pemerintah, yaitu:
Subsidi Modal (Capital Subsidy), yaitu dengan memberikan kebebasan pajak
kepada perusahaan pembangunan perumahan.
Subsidi Biaya Operasional (Operational Cost Subsidy), yaitu subsidi yang
diberikan pemerintah kepada perusahaan pembangunan perumahan untuk menutup kekurangan biaya operasi karena jumlah penerimaan dari sewa rumah atau harga rumah tidak dapat menutup kebutuhan biaya produksi perusahaan perumahan.
Subsidi Renovasi (Modernization Subsidy), yaitu subsidi yang diberikan kepada
12
Pemilihan Penyewa Rumah (Tenant Selection), yaitu memberikan prioritas bagi
penyewa dengan pendapatan rendah sehingga keluarga miskin masih dapat memenuhi kebutuhannya terhadap jasa perumahan.
2.5.2 Kebijakan Sisi Permintaan
Kebijakan sisi permintaan pada umumnya menyangkut dengan upaya umum pemerintah untuk membantu secara langsung golongan masyarakat dengan pendapatan rendah untuk dapat memenuhi kebutuhan terhadap jasa perumahan. Kebijakan publik yang dilakukan pemerintah yaitu:
Sertifikat Sewa Rumah (Rent Certificate), yaitu penduduk miskin diberikan
semacam sertifikat yang dapat digunakan untuk menyewa rumah selama periode tertentu dengan nilai yang ditetapkan pemerintah.
Kupon Rumah (Housing Voucher), yaitu hampir sama dengan sertifikat sewa
rumah, hanya saya penerima kupon harus menempati rumah yang spesifikasinya ditetapkan oleh pemerintah.
2.5.3 Kebijakan Pembaruan Kembali Daerah Perkotaan
Kebijakan ini dilakukan untuk membantu kelompok miskin yang tinggal di daerah kumuh dengan melakukan renovasi perumahan dan fasilitas lingkungan permukimannya dengan bantuan dana pemerintah. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Penggusuran perumahan lama
Pembangunan Rumah Baru
Pembangunan Fasilitas Pelayanan Umum
Pembangunan Fasilitas Komersial
Untuk menjaga agar pelaksanaan pembaruan kebijakan ini berjalan dengan baik, maka kepentingan masyarakat miskin penghuni daerah kumuh perlu diperhatikan. Hal ini untuk mengurangi sikap antipati dan penolakan dari kelompok masyarakat tersebut. Kebijakan yang perlu dilakukan yaitu:
Melakukan pembaruan kembali daerah perkotaan menggunakan system kredit
perumahan dengan bunga rendah agar kelompok miskin dapat ikut berpartisipasi.
Memprioritas pemanfaatan rumah-rumah baru yang telah dibangun untuk
ditempati oleh keluarga miskin yang semula tinggal di daerah tersebut.
Melakukan program pemberdayaan masyarakat dalam rangka membantu
13
BAB III
GAMBARAN UMUM
3.1 Gambaran Umum Wilayah
Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur terletak di tepi pantai utara Provinsi Jawa Timur atau tepatnya berada diantara 7° 9'- 7° 21' Lintang Selatan dan 112° 36' -112° 54' Bujur Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di sebelah Utara dan Timur, Kabupaten Sidoarjo di sebelah Selatan dan Kabupaten Gresik di sebelah Barat.
Secara topografi, sebagian besar (25.919,04 Ha) merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3 - 6 meter di atas permukaan laut pada kemiringan kurang dari 3 persen, sebagian lagi pada sebelah barat (12,77%) dan sebelah selatan (6,52%) merupakan daerah perbukitan landai dengan ketinggian 25 - 50 meter di atas
permukaan laut dan pada kemiringan 5 – 15 persen. Sebagaimana daerah tropis
lainnya, Surabaya mengenal 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan rata-rata 172 mm, dengan temperatur berkisar maksimum 30° C dan minimum 25° C.
Secara administrasi pemerintahan Kota Surabaya dikepalai oleh Walikota yang juga membawahi koordinasi atas wilayah administrasi kecamatan yang dikepalai oleh Camat. Jumlah kecamatan yang ada di Kota Surabaya sebanyak 31 kecamatan dan jumlah kelurahan sebanyak 160 kelurahan dan terbagi lagi menjadi 1.405 Rukun Warga (RW) dan 9.271 Rukun Tetangga (RT). Berikut peta administrasi Kota Surabaya. Berikut merupakan peta administrasi Kota Surabaya.
14
Dilihat berdasarkan jumlah penduduk, kota Surabaya setiap tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk akan mempengaruhi terhadap peningkatan jumlah permintaan perumahan. Berikut tabel pertumbuhan jumlah penduduk kota Surabaya.Tabel 1 Jumlah Penduduk Kota Surabaya tahun 2008-2013 Tahun Jumlah Penduduk
2008 2.902.057
2009 2.938.225
2010 2.929.528
2011 3.024.321
2012 3.125.576
2013 3.200.454
Sumber: Surabaya dalam Angka, BPS 2014
3.2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya
Kegiatan ekonomi Surabaya terkait dengan kegiatan ekonomi Jawa Timur yang jugaterkait dengan kegiatan perekonomian secara nasional. Dalam perkembanganya, pertumbuhan ekonomi Surabaya semakin mantap, hal ini tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang sejak tahun 2006 selalu lebih tinggi dari Jawa Timur
bahkan Nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 tumbuh sebesar 7,09%, cukup
tinggi dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 5,53%. Untuk sektor primer terus mengalami penurunan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Surabaya saat ini berkembang sebagai kota metropolitan, sehingga karakteristik ekonomi yang melingkupinya lebih cenderung mengarah pada sektor non primer khususnya semakin berkembangnya sektor tersier. Pertumbuhan ekonomi Surabaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya tahun 2006-2010
Sumber: RPJMD Kota Surabaya Tahun 2010-2015
3.3 Kondisi Perumahan di Kota Surabaya
15
keseluruhan luasan kawasan perumahan di Surabaya sebesar 38,14% dari luas wilayah Kota Surabaya (RPJMD Kota Surabaya Tahun 2010-2015).Jenis perumahan yang ada di Kota Surabaya terklasifikasi dalam perumahan formal dan informal. Perumahan formal yaitu jenis perumahan yang didirikan oleh pengembang dan/atau pemerintah, seperti real estate di wilayah Perumahan Galaxy, Pakuwon, Citraland, dan perumahan militer. Dan sampai dengan tahun 2011, terdapat 128 pengembang real estate yang ada di Kota Surabaya dengan luas total 4.983.61 Ha. Sedangkan perumahan informal adalah perumahan yang dibangun dengan swadaya masyarakat seperti rumah perkampungan, yang dimaksudkan dengan kampung di sini adalah perumahan dan permukiman legal di kota yang berkembang atas inisiatif dan kemampuan masyarakat secara mandiri. Karakter yang tampak pada penduduk di perkampungan adalah adanya homogenitas dan nilai kebersamaan yang lebih kental karena telah lama tinggal berkelompok pada satu wilayah.
Daya tarik Kota Surabaya telah mengakibatkan tumbuhnya penduduk kota dalam jumlah besar yang diakibatkan tingginya angka urbanisasi ke kota. Kondisi ini menyebabkan dibutuhkannya keseimbangan antara penambahan rumah tangga dengan penyediaan rumah. Perkembangan harga lahan dan perkembangan biaya mendirikan bangunan menyebabkan harga rumah di Kota Surabaya semakin meningkat dan menyebabkan banyaknya penduduk yang tidak mampu menjangkau harga rumah.
3.4 Permintaan Perumahan di Surabaya
3.4.1 Peningkatan permintaan rumah tinggal di Surabaya akibat peningkatan jumlah penduduk
Peningkatan sektor properti di Surabaya terjadi karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang mengakibatkan naiknya kebutuhan rumah tinggal sebesar 665.545 unit tiap tahun dengan pertambahan sebesar 5.000 unit pertahun (RTRW Kota Surabaya 2003-2013). Kota Surabaya mengalami peningkatan kebutuhan rumah tinggal setiap tahunnya. Permintaan akan rumah tinggal tersebut tidak hanya berasal dari golongan kelas sosial atas, tetapi juga menengah (Nadira, dkk, 2014).
Hal tersebut mengakibatkan banyak developer yang beralih dari proyek
perumahan premium menjadi perumahan menengah dan menengah ke bawah. Penyediaan rumah tinggal tersebut berimbas terhadap peningkatan akan lahan untuk
perumahan. Peningkatan akan lahan untuk perumahan mengakibatkan
16
untuk membeli rumah. Menurut Ismail (2003), di samping itu masyarakat tetap memerlukan hunian, yang mengakibatkan lokasi hunian baru banyak bergeser ke arah pinggiran kota (dalam Nadira, dkk, 2014).3.4.2 Permintaan rumah sebagai fungsi komersial bukan residen
Walaupun harga hunian tempat tinggal atau property residensial di Surabaya terus mengalami peningkatan, jumlah permintaan akan property residensial tersebut juga ikut terdongkrak naik. Harga property residensial sekunder di limah wilayah Kota Surabaya (Surabaya Barat, Surabaya Pusat, Surabaya Selatan, Surabaya Utara, dan Surabaya Timur) pada triwulan IV/2014 mengalami kenaikan sebesar 4,53%. (Kabarbisnis, Rabu 4 Februari 2015| 18:06 WIB). Meskipun demikian, kondisi pasar residen di Surabaya masih terlihat cukup aktif, terutama pada wilayah Surabaya Pusat dan Surabaya Barat.
17
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Skala Likert
Merupakan teknik self report bagi pengukuran sikap dimana subjek diminta untuk mengindikasikan tingkat kesetujuan atau ketidak setujuan mereka terhadap masing-masing pernyataan. Skala likert adalah salah satu teknik pengukuran sikap yang paling sering digunakan dalam riset pemasaran. Dalam pembuatan skala likert, periset membuat beberapa pernyataan yang berhubungan dengan suatu isu atau objek, lalu subjek atau responden diminta untuk mengindikasikan tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka terhadap masing-masing pernyataan. Dari masing-masing faktor terdapat pembobotan terhadap faktor dari skala 1-5 yang berarti :
1. Sangat Tidak Setuju
Berdasarkan tinjauan pustaka yang terlah dibahas pada bab II menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan perumahan yakni :
Tabel 3 Sintesa Pustaka
Faktor Sumber Keterangan
Harga Rumah Ray M Northan
Komponen harga rumah pada keseimbangan merupakan titik pertemuan antara permintaan dan penawaran. Perubahannya dapat diukur dengan menggunakan
indikator inflasi sektor perumahan.
Daya Beli Masyarakat
Nicolson
pendapatan bertambah maka secara otomatis bagian dari pendapatan yang akan dibelanjakan akan bertambah, sehingga jumlah barang yang bisa dibeli juga meningkat
Soeharjoto semakin besar pendapatan per kapita, maka pembelian perumahan akan bertambah
Tingkat Bunga Dombusch
Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit, maka semakin besar cicilan kredit yang harus dibayarkan oleh nasabah.
Tingkat suku bunga berbeda tergantung tingkat kepercayaaan kredit dari si peminjam, jangka waktu pinjaman dan bebagai aspek perjanjian lainnya antara
peminjam dengan pemberi pinjaman
Jumlah
Penduduk Ray M Northan
Kenaikan pada tingkat pertumbuhan populasi akan menyebabkan kebutuhan perumahan menjadi semakin
besar.
18
4.2.1 Likert Permintaan Perumahan Menurut Pengembang Perumahan (Developer)
Berdasarkan hasil wawancara dengan sampel Pengembang Perumahan di Surabaya yakni marketing perumahan Sukolilo Dian Regency menghasilkan tabel likert sebagai berikut:
Tabel 4 Likert hasil wawancara dengan Pengembang Perumahan
No Faktor 1 2 3 4 5
Berdasarkan tabel likert menurut salah satu pengembang perumahan di Surabaya yakni pengembang perumahan Sukolilo Dian Regency di atas, faktor yang paling mempengaruhi yaitu Daya Beli Masyarakat. Sedangkan, yang mempengaruhi permintaan perumahan yaitu harga rumah dan jumlah penduduk. Sedangkan faktor tingkat bunga tidak mempengaruhi permintaan perumahan.
4.2.2 Likert Permintaan Perumahan Menurut Akademisi
Berdasarkan hasil wawancara dengan sampel akademisi yakni salah satu dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITS menghasilkan tabel likert sebagai berikut:
Tabel 5 Likert hasil wawancara dengan Akademisi
No Faktor 1 2 3 4 5
Berdasarkan tabel likert menurut akademisi di atas, faktor yang mempengaruhi permintaan perumahan yaitu harga rumah dan jumlah penduduk. Sedangkan faktor daya beli masyarakat dan jumlah penduduk tidak mempengaruhi permintaan perumahan.
4.2.3 Likert Permintaan Perumahan Menurut Konsumen Perumahan
19
Tabel 6 Likert hasil wawancara dengan Konsumen
No Faktor 1 2 3 4 5 mempengaruhi permintaan perumahan yaitu harga rumah. Sedangakan faktor yang mempengaruhi yakni jumlah penduduk, daya beli masyarakat dan jumlah penduduk mempengaruhi permintaan perumahan.
4.3 Hasil Analisis
Berdasarkan hasil tabel likert yang telah didapat dari ketiga stakeholder yakni pengembang perumahan sampel Sukolilo Dian Regency, Akademisi dan Konsumen maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap permintaan perumahan adalah faktor Harga Rumah.
Dalam konteks harga rumah, sangat berhubungan dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan inflasi. karena saat terjadi peningkatan pendapatan masyarakat secara signifikan, maka menyebabkan harga dan jumlah rumah yang diminta akan naik. Bila terjadi kenaikan inflasi yang cukup tinggi sehingga daya beli masyarakat turun maka harga dan jumlah produk perumahan yang diminta akan turun.
Faktor berpengaruh yang selanjutnya yaitu jumlah penduduk. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Surabaya setiap tahun. Dimana, saat jumlah penduduk meningkat, akan menyebabkan kebutuhan perumahan menjadi semakin besar karena jumlah penduduk yang besar merupakan pasar yang potensial yang potensial dalam memasarkan suatu produk perumahan. Selain itu, pertambahan penduduk diikuti dengan perkembangan dalam kesempatan kerja sehingga banyak orang yang menerima pendapatan dan daya beli akan perumahan mengalami peningkatan.
Faktor dengan urutan ketiga yaitu daya beli masyarakat dimana adanya peningkatan pendapatan disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat di kota Surabaya mengakibatkan daya beli masyarakat akan produk perumahan akan semakin meningkat. Adanya hal ini juga menyebabkan munculnya pembelian rumah yang pada dasarnya untuk pemenuhan kebutuhan primer manusia bergeser menjadi rumah untuk investasi.
20
mengurangi permintaan agregat untuk setiap pendapatan, karena disamping menaikkan jumlah cicilan kredit yang harus dibayar, tingkat suku bunga yang lebih tinggi juga akan mengurangi keinginan untuk konsumsi maupun investasi pada bidang perumahan. Namun, faktanya saat ini dengan tingginya pertumbuhan ekonomi di Kota Surabaya akan berpengaruh pada kenaikan pendapatan masyarakat kota Surabaya. Sehingga, saat inimasyarakat mempu membeli rumah secara langsung (cash) dan tidak terpengaruh oleh
tinggi dan rendahnya suku bunga di perumahan.
Gambar 4 Diagram Tingkat Prioritas Faktor Permintaan Perumahan di Surabaya
Sumber : Hasil Analisis, 2015
1.
•
Harga Rumah
2.
•
Jumlah Penduduk
3.
•
Daya Beli Masyarakat
21
BAB V
SOLUSI PENGEMBANGAN
Setelah melakukan analisis mengenai permintaan dan penyediaan perumahan dapat diperoleh kesimpulan mengenai faktor permintaan perumahan di Surabaya berdasarkan tingkat prioritas yaitu 1) Harga rumah, 2) Jumlah penduduk, 3) Daya beli masyarakat, dan 4) Tingkat Bunga. Dari hasil analisis tersebut, maka disusun solusi pengembangan terkait permintaan perumahan di Surabaya. Solusi pengembangan tersebut antara lain :
1) Pengadaan sertifikat sewa rumah (rent certificate) dan kupon rumah (housing
voucher)
Jumlah penduduk di Surabaya selalu mengalami peningkatan yang berdampak terhadap permintaan akan perumahan juga meningkat. Dapat diketahui bahwa ekonomi masyarakat Surabaya mengalami peningkatan atau dapat dikatakan bahwa daya beli masyarakat Surabaya terhadap perumahan juga ikut meningkat. Namun hal tersebut hanya terjadi pada beberapa masyarakat Surabaya, masih banyak masyarakat berekonomi rendah yang juga memiliki hak untuk memiliki tempat tinggal tidak dapat membeli rumah tinggal akibat harga perumahan di Surabaya meningkat. Dalam mengatasi permasalahan tersebut maka diberlakukan kebijakan berupa sertifikat sewa rumah dan kupon rumah.
Sertifikat rumah diberikan kepada penduduk miskin untuk menyewa rumah selama periode tertentu dengan nilai yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan kupon rumah diberikan pada masyarakat miskin untuk menyewa rumah pada rumah yang spesifikasinya ditetapkan oleh pemerintah. Dalam pemberlakuan kebijakan tersebut dapat diiringi dengan kebijakan mengenai pemilihan penyewa
rumah (tenant selection) dimana penyewa dengan pendapatan rendah dapat
memperoleh prioritas dalam menyewa, sehingga keluarga miskin masih dapat memenuhi kebutuhannya terhadap jasa perumahan.
2) Kebijakan terhadap developer dalam penyediaan perumahan komersil harus
diimbangi dengan pembangunan rumah yang dapat dijangkau masyarakat kelas menengah kebawah
Dalam mengatasi permasalahan perumahan di Surabaya, maka dapat
diberlakukan kebijakan pada developer terkait penyediaan perumahan. Apabila
22
3) Pembangunan perumahan berpola kampung deretUpaya lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan perumahan di Surabaya adalah dengan membangun perumahan berpola kampung deret. Tindakan tersebut dilakukan dengan melakukan penggusuran terhadap perumahan lama yang
tumbuh secara incremental agar dapat tertata rapi dan efisien dalam penggunaan
lahannya. Namun dalam pembangunannya, masyarakat yang terkena gusur tersebut
diberikan kompensasi uang ganti oleh pemerintah (dengan kata lain rumah tersebut dibeli), kemudian diberikan prioritas untuk dapat meninggali lokasi tersebut lagi setelah pembangunan selesai dilakukan. Sehingga masyarakat yang terkena gusur tidak merasa dirugikan.
Pembangunan yang dilakukan akan menghasilkan sebuah perumahan yang berpola
kampung deret. Perumahan tersebut berpola linier atau grid, pola tersebut bertujuan
agar lahan yang digunakan dapat dihemat atau diefisienkan dalam
penggunannya.Dalam melakukan pembangunan tersebut pemerintah dapat
bekerjasama dengan developer. Dan dalam pemberian harga jual tersebut ditujukan
23
BAB VI
KESIMPULAN
Dari hasil analisis mengenai permasalahan perumahan di Surabaya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut
- Kota Surabaya setiap tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan
jumlah penduduk akan mempengaruhi terhadap peningkatan jumlah permintaan perumahan.
- Kawasan perumahan di Kota Surabaya tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya
dengan distribusi kawasan perumahan terbesar di Kota Surabaya terdapat di wilayah Surabaya Timur dengan persentase 12% dari luas wilayah Kota Surabaya. Sedangkan untuk kawasan Surabaya Barat distribusi perumahannya paling sedikit yaitu 2%. Secara keseluruhan luasan kawasan perumahan di Surabaya sebesar 38,14% dari luas wilayah Kota Surabaya.
- Daya tarik Kota Surabaya telah mengakibatkan tumbuhnya penduduk kota dalam
jumlah besar yang diakibatkan tingginya angka urbanisasi ke kota. Kondisi ini menyebabkan dibutuhkannya keseimbangan antara penambahan rumah tangga dengan penyediaan rumah. Perkembangan harga lahan dan perkembangan biaya mendirikan bangunan menyebabkan harga rumah di Kota Surabaya semakin meningkat dan menyebabkan banyaknya penduduk yang tidak mampu menjangkau harga rumah.
- Saat ini sebagian besar masyarakat Surabaya mencari hunian untuk dikembangkan
sebagai fungsi komersial bukan residen, karena di Surabaya banyak kegiatan komersial yang berkembang pesat sehingga mengakibatkan harga menjadi tinggi.
- Hasil analisis menggunakan tabel likert untuk mengetahui faktor permintaan
perumahan di Surabaya, diperoleh hasil sebagai berikut (diurutkan menurut tingkat prioritas)
1. Harga rumah 2. Jumlah penduduk 3. Daya beli masyarakat 4. Tingkat bunga
- Setelah melakukan analisis terhadap permasalahan perumahan di Surabaya, maka
diperoleh solusi pengembangan sebagai berikut
1. Pengadaan sertifikat sewa rumah (rent certificate) dan kupon rumah (housing
24
2. Kebijakan terhadap developer dalam penyediaan perumahan komersil harus
diimbangi dengan pembangunan rumah yang dapat dijangkau masyarakat kelas menengah kebawah
25
DAFTAR PUSTAKA
Ghana, A. K., & Navastara, A. M. (2012). Pengaruh Perkembangan Permukiman Terhadap
Dinamika Harga Lahan Di Surabaya Barat. Jurnal Teknik POMITS, 1-8.
Kuswartojo, T. (2005). Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.
M, S. S., & Marlina, E. (2006). Perencanaan dan Pengembangan Perumahan. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Nadira, Setijanti, P., & Utomo, C. (2014). PEMILIHAN LOKASI RUMAH TINGGAL PADA
PERUMAHAN MENENGAH DI SURABAYA TIMUR.Prosiding Seminar Nasional Manajemen