• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - Kendala Penyidikan Tindak Pidana Kelalaian (CULPA) pada Perkara Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan matinya Korban (Studi pada POLDASU)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - Kendala Penyidikan Tindak Pidana Kelalaian (CULPA) pada Perkara Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan matinya Korban (Studi pada POLDASU)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa arus lalu lintas jalan di

kota-kota besar di Negara Republik Indonesia umumnya dan khususnya di Kota

Medan, semakin bertambah padat sejalan dengan perkembangan dan kemajuan

teknologi, perkembangan ekonomi, serta ditambah dengan jumlah penduduk

yang semakin meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka secra

otomatis akan timbul problema yang kompleks dalam kaitannya dengan

kecelakaan lalu lintas yang sering menelan korban jiwa dan harta benda.

Jauh sebelum kendaraan bermotor ditemukan, kecelakaan di jalan hanya

melibatkan kereta, hewan, dan manusia. Kecelakaan lalu lintas menjadi

meningkat secara drastis ketika ditemukan berbagai jenis kendaraan bermotor.1

Kecelakaan lalu lintas merupakan peristiwa yang tidak diharapkan yang

melibatkan paling sedikit satu kendaraan bermotor pada satu ruas jalan dan

mengakibatkan kerugian material bahkan sampai menelan korban jiwa. Laju

pertambahan penduduk dan jumlah arus lalu lintas di Kota Medan meningkat

secara pesat, sehingga kebutuhan akan prasarana transportasi terus bertambah.

Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap tingkat pelayanan yang ada, sehingga

jika tidak diimbangi dengan peningkatan prasarana transportasi yang memadai,

1

(2)

maka dampak yang diakibatkan adalah timbulnya masalah-masalah pada lalu

lintas, seperti kemacetan dan kecelakaan.

Dari hasil pra survey di Poldasu telah diperoleh data mengenai

kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan Kota Medan. Karakteristik

kecelakaan di Kota Medan antara lain jumlah kejadian kecelakaan dengan

korban-korban luka ringan menempati urutan pertama, diikuti korban

meninggal dunia, jenis kecelakaan yang paling sering terjadi adalah melibatkan

dua kendaraan, jenis kendaraan yang paling sering terlibat adalah sepeda motor,

pelaku dan korban kecelakaan terbesar berjenis kelamin laki-laki, berusia antara

17-26 tahun, berpendidikan SMA, dan bekerja sebagai karyawan swasta.

Bertambahnya volume lalu lintas akan menyebabkan kenaikan

kecelakaan lalulintas yang terjadi secara cukup signifikan, dan bertambahnya

kecepatan lalu-lintas pada kondisi tertentu justru akan menurunkan jumlah

kecelakaan, namun lebih lanjut peningkatan kecepatan akan menaikkan jumlah

kecelakaan lalu lintas yang terjadi.

Dari data yang diperoleh, ternyata pada kecepatan sekitar 40-50 km/jam

terjadi kondisi jumlah kecelakaan minimal. Ada tiga faktor utama yang

menyebabkan terjadikanya kecelakaan, Pertama adalah faktor manusia, kedua

adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Kombinasi dari

ketiga faktor itu bisa saja terjadi, antara manusia dengan kendaraan misalnya

berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan kemudian ban pecah yang

(3)

faktor lingkungan, cuaca yang juga bisa berkontribusi terhadap kecelakaan.2

Kekurang cermatan tidak dapat dicelakan jika pelaku tidak dapat berbuat

lain daripada apa yang telah ia lakukan. Dalam hal ini, penting bahwa

pelaksanaannya mengetahui sejauh mana sifat kekurang hati-hatian dapat Dari banyaknya kecelakaan yang terjadi dan faktor-faktor yang

menyebabkan kecelakaan terdapat suatu kendala dalam proses penyidikan

kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan matinya korban. Kendala

penyidikan ini dapat dilihat dari hasil pra survey pada tahun 2008 sampai

dengan pertengahan 2010 jumlah kecelakaan yang mengakibatkan matinya

korban sebanyak 856 perkara. Dari jumlah tersebut, perkara yang dapat

diselesaikan dalam proses penyidikan sebanyak 700 perkara. Sedangkan yang

tidak dapat diselesaikan secara tuntas sebanyak 156 perkara. Dalam tiap

tahunnya terdapat ±20% perkara kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan

matinya korban tidak dapat terselesaikan atau dapat diselesaikan tetapi

membutuhkan waktu yang sangat lama.

Perkara kecelakaan merupakan bagian dari tindak pidana kealpaan yang

disebutkan dalam pasal 359 KUHP. Dalam pasal 359 KUHP ditegaskan dengan

dua cara bahwa kematian orang lain adalah akibat dari kelalaian pembuat, yaitu

dengan tidak menyebutkan pembuat tetapi kesalahannya (kealpaannya). Dalam

situasi pengendara kendaraan bermotor, salah berbuat dan tidak berbuat

seakan-akan menjadi satu perbuatan.

(4)

dikenakan pada pelaku. Dalam kealpaan, kurang mengindahkan larangan

sehingga tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu perbuatan yang obyektif

kausal menimbulkan keadaan yang dilarang.3

1. Bilamana pembuat delik menyadari bahwa dari tindakannya dapat

mewujudkan suatu akibat yang dilarang oleh undang-undang, tetapi ia

beranggapan secara keliru bahwa akibat itu tidak akan terjadi atau ia mampu

untuk mencegahnya.

Menurut pasal 7 (3) Criminal Code of Yugoslavia yang dikutip dalam

buku A. Zainal Abidin, bahwa kealpaan terbagi atas dua bentuk, yaitu:

2. Bilamana pembuat delik tidak menyadari kemungkinan akan terwujudnya

akibat, sedangkan di dalam keadaan ia berbuat oleh karena kualitas

pribadinya ia seharusnya dan dapat menyadari kemungkinan itu.4

Pada dua kemungkinan tersebut maka terdapat hubungan batin antara pelaku dengan akibat perbuatannya tersebut. Hubungan batin ini diperlukan sebagai pedoman sejauh mana pelaku dapat mempertanggungjawabkan

perbuatannya. Dalam hal penyidikan dalam menentukan perbuatannya itu sebagai suatu kealpaan atau suatu kesengajaan sangatlah sulit, karena dalam hubungannya kealpaan dan kesengajaan merupakan perbuatan yang mirip.

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, tingginya angka

kecelakaan dan tidak tuntasnya perkara kecelakaan lalu lintas yang

menyebabkan matinya korban disebabkan oleh banyaknya kendala dalam

proses penyidikan pada perkara kecelakaan lalu lintas ini.

Dari latar belakang penulisan tersebut, penulis mengangkat

permasalahan dalam skripsi ini dengan judul Kendala Penyidikan Tindak

3

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana,Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 199. 4

(5)

Pidana Kelalaian (Culpa) Pada Perkara Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Matinya Korban (Studi Pada Poldasu).

B. Permasalahan

Hal yang telah merupakan kebiasaan di dalam menulis skripsi, harus

ditentukan masalah yang menjadi titik tolak dari pembahasan selanjutnya.

Adapun yang menjadi permasalahan dalam pembahasan skripsi ini

adalah :

1. Bagaimana pertanggung jawaban pidana terhadap kelalaian (culpa) pada

kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan matinya korban?

2. Apakah faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas?

3. Apakah kendala dalam penyidikan tindak pidana (culpa) dalam kecelakaan

lalu lintas?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam skripsi ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui pertanggung jawaban pidana terhadap kelalaian (culpa)

pada kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan matinya korban.

2. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas.

3. Untuk mengetahui kendala dalam penyidikan tindak pidana (culpa) dalam

kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan yang menjadi manfaat penulisan dalam hal ini adalah:

(6)

sendiri khususnya dalam bidang hukum pidana tentang penyidikan tindak

pidana kelalaian (culpa) pada perkara kecelakaan lalu lintas yang

mengakibatkan matinya korban.

b. Secara praktis ini juga diharapkan kepada masyarakat dapat mengambil

manfaatnya terutama dalam hal mengetahui tentang hal-hal yang dapat

dilakukan masyarakat apabila terjadi tindak kelalaian (culpa) pada perkara

kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan matinya korban.

D. Keaslian Penulisan

Adapun penulisan skripsi yang berjudul “Kendala Penyidikan Tindak

Pidana Kelalaian (Culpa) Pada Perkara Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Matinya Korban (Studi Pada Poldasu)”, dan penulisan skripsi ini tidak sama dengan penulisan skripsi lainnya. Sehingga penulisan

skripsi ini masih asli serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan

akademik.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Penyidikan

Sebagaimana dijelaskan dalam ketentuan umum Pasal 1 butir 1 dan 2

KUHAP, merumuskan pengertian penyidikan yang menyatakan, penyidik

adalah pejabat Polri atau pejabat pegawai negeri tertentu yang diberi wewenang

khusus oleh undang-undang. Sedang penyidikan berarti serangkaian tindakan

(7)

undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu

membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus

menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya.

Pada tindakan penyelidikan penekanan diletakkan pada tindakan

mencari dan menemukan sesuatu peristiwa yang dianggap atau diduga sebagai

tindak pidana. Pada penyidikan, titik berat tekanannya diletakkan pada tindakan

mencari serta mengumpulkan bukti, supaya tindak pidana yang ditemukan

dapat menjadi terang, serta tidak ada perbedaan makna keduanya. Hanya

bersifat gradual saja. Antara penyelidikan dan penyidikan adalah dua fase

tindakan yang berwujud satu. Antara keduanya saling berkaitan dan isi mengisi

guna dapat diselesaikan pemeriksaan suatu peristiwa pidana. Namun demikian,

ditinjau dari beberapa segi, terdapat perbedaan antara kedua tindakan tersebut :

Menurut KUHAP yang dimaksud dengan penyidik adalah pasal 1 butir 1

menyebutkan: “ penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau

pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

undang-undang untuk melakukan penyidikan “.

Kemudian, pasal 6 ayat (1) penyidik adalah :

1. Pejabat polisi negara Republik Indonesia,

2. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

undang-undang.

Pasal 6 ayat (2) menyebutkan “syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dalam

ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah“.

(8)

“Kedudukan dan kepangkatan penyidik yang diatur dalam peraturan pemerintah

diselaraskan dan diseimbangkan dengan kedudukan dan kepangkatan penuntut

umum dan hakim peradilan umum“.

Mengenai kepangkatan penyidik ini oleh Peraturan Pemerintah No. 27

Tahun 1983 tentang pelaksanaan KUHAP, diterangkan :

Pasal 2 ayat (1) :

a. pejabat polisi negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya

berpangkat pembantu letnan dua polisi.

b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat

pengatur muda tingkat I (Golongan II/b atau yang disamakan dengan itu.

Mengenai kepangkatan ini masih ada pengecualiaan apabila tidak ada penyidik

yang berpangkat pembantu letnan dua, seperti yang ditegaskan oleh ayat (2)

dari pasal 2 di atas yaitu :

“dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Sektor Kepolisian yang

berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya

adalah penyidik “.

Ayat (3) “ Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a ditunjuk

oleh Kepala Kepolisian republik Indonesia sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku “.

Ayat (4) “ Wewenang penunjukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat

dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai

(9)

Ayat (5) “ Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b diangkat

oleh Menteri atas usul dari Departemen yang membawahkan pegawai negeri

tersebut, Menteri sebelum melaksanakan pengangkatannya terlebih dahulu

mendengarkan pertimbangan Jaksa Agung dan Kepala Kepolisian Republik

Indonesia “.

Setelah dikemukakan pengertian dan hal-hal yang berhubungan dengan

penyidik, maka berikut yang akan dibicarakan adalah pengertian dari

penyidikan itu. Yang dimaksud dengan penyidikan adalah : serangkaian

tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu

membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya

(pasal 1 butir 2 KUHAP).

Dari rumusan pengertian penyidikan tersebut, maka dapatlah

dimengerti bahwa tujuan daripada penyidikan itu demikian luasnya, yakni harus

mampu mengumpulkan bukti-bukti, menerangkan peristiwa pidana tentang apa

yang telah terjadi serta harus dapat menemukan tersangkanya.

Untuk dapat terlaksananya tugas dan tujuan dari penyidikan itu, maka

dibutuhkan adanya tenaga-tenaga penyidik yang telah terlatih dan terampil.

Di dalam undang-undang No. 8 Tahun 1981, seperti yang telah

dinyatakan di atas, tidak semua polisi negara Republik Indonesia mempunyai

kedudukan sebagai penyidik. Artinya, hanya pejabat polisi yang telah

memenuhi syrat-syarat tertentu sajalah yang dapat diangkat menjadi seorang

(10)

negara ini, di samping adanya pembagian tugas tersendiri pada dinas

kepolisian, juga adalah atas dasar pemikiran bahwa penyidikan itu haruslah

dilakukan oleh yang telah mempunyai syarat-syarat kepangkatan tertentu pada

dinas kepolisian. Demikian juga penyidik, haruslah orang-orang yang telah

memiliki keterampilan khusus dalam bidang penyidikan, baik dalam segi teknik

maupun taktis, serta orang-orang yang mempunyai dedikasi dan disiplin yang

tinggi, karena di dalam pelaksanaan penyidikan ini adakalanya penyidik harus

menggunakan upaya paksa seperti penangkapan, penahanan dan lain-lain.

Dimana apabila hal ini tidak dilakukan oleh penyidik-penyidik yang telah

terlatih, maka kemungkinan besar hak-hak asasi seseorang yang hendak

diadakan penyidikan terhadap dirinya, walaupun prinsip undang-undang itu

sendiri menjunjung hak asasi manusia.

Namun demikian terlepas daripada kelayakan dan keharusan yang

harus dimiliki oleh setiap penyidik, maka di dalam situasi dan kondisi yang

tertentu, sesuai dengan letak geografis daripada Indonesia dan serta masih

kurangnya tenaga, terutama tenaga ahli khususnya di dalam penyidikan pada

dinas kepolisian negara Republik Indonesia, maka oleh undang-undang

diberikan kesempatan untuk mengangkat penyidik-penyidik pembantu baik dari

Polisi sendiri maupun dari pejabat-pejabat pegawai negeri sipil di dalam

lingkungan kepolisian negara.

2. Pertanggung Jawaban Pidana

(11)

jika telah melakukan suatu tindak pidana dan memenuhi unsur-unsur yang telah

ditentukan dalam undang-undang. Dilihat dari sudut terjadinya suatu

tindakan yang terlarang (diharuskan), seseorang akan dipertanggung jawabkan

atas tindakan tersebut apabila tindakan tersebut bersifat melawan hukum (dan

tidak ada peniadaan sifat melawan hukum atau rechtsvaardigingsgrond atau

alasan pembenar) untuk itu.5

1) Tidak terganggu oleh penyakit terus-menerus atau sementara

(temporair).

Dilihat dari sudut kemampuan bertanggung jawab

maka hanya seseorang yang mampu bertanggung jawab yang dapat

dipertanggung jawabkan (pidana) kan. Dikatakan seseorang mampu

bertanggung jawab (toerekeningsvatbaar) bilamana pada umumnya:

a. Keadaan jiwanya:

2) Tidak cacat dalam pertumbuhan (gagu, idiot, imbecile dan

sebagainya) dan.

3) Tidak terganggu karena terkejut, hyponotisme, amarah yang

meluap, pengaruh bawah sadar/reflexe beweging,

melindur/slaapwandel, mengingau karena demam/koorts, nyidam

dan lain sebagainya. Dengan perkataan lain dia dalam keadaan sadar.

b. Kemampuan jiwanya:

1) Dapat menginsyafi hakekat dari tindakannya.

2) Dapat menentukan kehendaknya atas tindakan tersebut, apakah

akan dilaksanakan atau tidak dan,

3) Dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan tersebut”.6

Kemampuan bertanggung jawab didasarkan pada keadaan dan

kemampuan jiwa dan bukan kepada keadaan dan kemampuan berfikir dari

seseorang, walaupun dalam istilah yang resmi dalam Pasal 44 KUHP adalah

5

EY Kanter dan SR Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Storia Grafika, Jakarta. 2002, hal. 249.

6Ibid.

(12)

verstandelijke vermogens. Untuk terjemahan dari vertandelijke vermogens

sengaja digunakan istilah keadaan dan kemampuan jiwa seseorang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan

wajib menanggung segala sesuatu (kalau terjadi apa-apa, boleh dituntut,

dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya).7 Pidana adalah kejahatan (tentang

pembunuhan, perampokan, dan sebagainya).8

Alf Ross mengemukakan pendapatnya mengenai apa yang dimaksud

dengan seseorang yang bertanggungjawab atas perbuatannya. Pertanggung

jawaban pidana dinyatakan dengan adanya suatu hubungan antara

kenyataan-kenyataan yang menjadi syarat akibat dan akibat hukum yang diisyaratkan.

Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya suatu

perbuatan dengan pidana. Ini tergantung dari persoalan, apakah dalam

melakukan perbuatan itu dia mempunyai kesalahan, sebab asas dalam

pertanggungjawaban dalam hukum pidana ialah: tidak dipidana jika tidak ada

kesalahan (Geen straf zonder schuld; Actus non facit reum mens rea).9

7

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta, 2003, hal. 1006.

8Ibid

, hal. 766. 9

Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2003, hal. 64.

Pertanggung jawaban pidana dalam istilah asing tersebut juga dengan

teorekenbaardheid atau criminal responsibility yang menjurus kepada

pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan apakah seseorang

terdakwa atau tersangka dipertanggung jawabkan atas suatu tindakan pidana

(13)

Untuk dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana

yang dilakukannya itu memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam

Undang-undang. Dilihat dari sudut terjadinya tindakan yang dilarang,

seseorang akan dipertanggung jawabkan atas tindakan-tindakan tersebut,

apabila tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau

peniadaan sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Dan dilihat

dari sudut kemampuan bertanggung jawab maka hanya seseorang yang mampu

bertanggung jawab yang dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya.

Tindak pidana jika tidak ada kesalahan adalah merupakan asas pertanggung

jawaban pidana, oleh sebab itu dalam hal dipidananya seseorang yang

melakukan perbuatan sebagaimana yang telah diancamkan, ini tergantung dari

soal apakah dalam melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan.10

1. Kemampuan bertanggung jawab atau dapat dipertanggung jawabkan dari si

pembuat.

Berdasarkan hal tersebut maka pertanggung jawaban pidana atau

kesalahan menurut hukum pidana, terdiri atas tiga syarat yaitu:

2. Adanya perbuatan melawan hukum yaitu suatu sikap psikis si pelaku yang

berhubungan dengan kelakuannya yaitu:

a. Disengaja

b. Sikap kurang hati-hati atau lalai

10

(14)

c. Tidak ada alasan pembenar atau alasan yang menghapuskan

pertanggung jawaban pidana bagi si pembuat.

Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang

buruk, adalah merupakan faktor akal (intelectual factor) yaitu dapat membedakan

perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak. Dan kemampuan untuk menentukan

kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan tersebut adalah

merupakan faktor perasaan (volitional factor) yaitu dapat menyesuaikan tingkah

lakunya dengan keinsyafan atas mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak.

Sebagai konsekuensi dari dua hal tadi maka tentunya orang yang tidak mampu

menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan,

dia tidak mempunyai kesalahan kalau melakukan tindak pidana, orang demikian itu

tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Oleh karena kemampuan bertanggung jawab merupakan unsur kesalahan,

maka untuk membuktikan adanya kesalahan unsur tadi harus dibuktikan lagi.

Mengingat hal ini sukar untuk dibuktikan dan memerlukan waktu yang cukup

lama, maka unsur kemampuan bertanggung jawab dianggap diam-diam selalu ada

karena pada umumnya setiap orang normal bathinnya dan mampu bertanggung

jawab, kecuali kalau ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa terdakwa mungkin

jiwanya tidak normal. Dalam hal ini, hakim memerintahkan pemeriksaan yang

khusus terhadap keadaan jiwa terdakwa sekalipun tidak diminta oleh pihak

(15)

bertanggung jawab tidak berhenti, sehingga kesalahan tidak ada dan pidana tidak

dapat dijatuhkan berdasarkan asas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan.11

1. Syarat Psychiartris yaitu pada terdakwa harus ada kurang sempurna akalnya

atau sakit berubah akal, yaitu keadaan kegilaan (idiote), yang mungkin ada

sejak kelahiran atau karena suatu penyakit jiwa dan keadaan ini harus terus

menerus.

Dalam KUHP masalah kemampuan bertanggung jawab ini terdapat dalam

Pasal 44 ayat 1 yang berbunyi : “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak

dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam

pertumbuhan atau terganggu karena cacat, tidak dipidana.” Kalau tidak

dipertanggung jawabkan itu disebabkan hal lain, misalnya jiwanya tidak normal

dikarenakan dia masih muda, maka Pasal tersebut tidak dapat dikenakan.apabila

hakim akan menjalankan Pasal 44 KUHP, maka sebelumnya harus memperhatikan

apakah telah dipenuhi dua syarat sebagai berikut :

2. Syarat Psychologis ialah gangguan jiwa itu harus pada waktu si pelaku

melakukan perbuatan pidana, oleh sebab itu suatu gangguan jiwa yang timbul

sesudah peristiwa tersebut, dengan sendirinya tidak dapat menjadi sebab

terdakwa tidak dapat dikenai hukuman.

Untuk menentukan adanya pertanggung jawaban, seseorang pembuat

dalam melakukan suatu tindak pidana harus ada sifat melawan hukum dari

tindak pidana itu, yang merupakan sifat terpenting dari tindak pidana. Tentang

sifat melawan hukum apabila dihubungkan dengan keadaan psikis (jiwa)

11Ibid

(16)

pembuat terhadap tindak pidana yang dilakukannya dapat berupa kesengajaan”

(opzet) atau karena kelalaian (culpa). Akan tetapi kebanyakan tindak pidana

mempunyai unsur kesengajaan bukan unsur kelalaian. Hal ini layak karena

biasanya, yang melakukan sesuatu dengan sengaja. Dalam teori hukum pidana

Indonesia kesengajaan itu ada tiga macam, yaitu:12

1. Kesengajaan yang bersifat tujuan

Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku dapat

dipertanggung jawabkan dan mudah dapat dimengerti oleh khalayak ramai.

Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si pelaku

pantas dikenakan hukuman pidana. Karena dengan adanya kesengajaan

yang bersifat tujuan ini, berarti si pelaku benar-benar menghendaki

mencapai suatu akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman

hukuman ini.

2. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian

Kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannya tidak bertujuan

untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia tahu benar

bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.

3. Kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan.

Kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu

kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan

hanya dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu.

Selanjutnya mengenai kealpaan karena merupakan bentuk dari

12

(17)

kesalahan yang menghasilkan dapat dimintai pertanggung

jawaban atas perbuatan seseorang yang dilakukannya, seperti

yang tercantum dalam Pasal 359 KUHP yang menyatakan

sebagai berikut: “Barangsiapa karena kealpaannya

menyebabkan matinya orang lain diancam dengan pidana

penjara paling lama lima tahun atau kurangan paling lama satu

tahun.”

Kealpaan mengandung dua syarat, yaitu:

1. Tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan hukum.

2. Tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan hukum.13

Dari ketentuan diatas, dapat diikuti dua jalan, yaitu pertama

memperhatikan syarat tidak mengadakan penduga-duga menurut semestinya.

Yang kedua memperhatikan syarat tidak mengadakan penghati-hati guna

menentukan adanya kealpaan. Siapa saja yang melakukan perbuatan tidak

mengadakan penghati-hati yang semestinya, ia juga tidak mengadakan

menduga-duga akan terjadi akibat dari kelakuannya. Selanjutnya ada kealpaan

yang disadari dan kealpaan yang tidak disadari. Dengan demikian tidak

mengadakan penduga-duga yang perlu menurut hukum terdiri atas dua

kemungkinan yaitu:

a. Terdakwa tidak mempunyai pikiran bahwa akibat yang dilarang mungkin

timbul karena perbuatannya.

b. Terdakwa berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi ternyata tidak benar

13

(18)

Kemudian syarat yang ketiga dari pertanggung jawaban pidana yaitu

tidak ada alasan pembenar atau alasan yang menghapuskan pertanggung

jawaban pidana bagi si pembuat. Dalam masalah dasar penghapusan pidana,

ada pembagian antara “dasar pembenar” (permisibilry) dan “dasar pemaaf”

(ilegal execuse). Dengan adanya salah satu dasar penghapusan pidana berupa

dasar pembenar maka suatu perbuatan kehilangan sifat melawan hukumnya,

sehingga menjadi legal/boleh, pembuatanya tidak dapat disebut sebagai pelaku

tindak pidana. Namun jika yang ada adalah dasar penghapus berupa dasar

pemaaf maka suatu tindakan tetap melawan hukum, namun si pembuat

dimaafkan, jadi tidak dijatuhi pidana.

Dasar penghapus pidana atau juga bisa disebut alasan-alasan

menghilangkan sifat tindak pidana ini termuat di dalam Buku I KUHP, selain

itu ada pula dasar penghapus diluar KUHP yaitu:

1. Hak mendidik orang tua wali terhadap anaknya/guru terhadap muridnya.

2. Hak jabatan atau pekerjaan.

Yang termasuk dasar Pembenar Bela paksa Pasal 49 ayat 1 KUHP,

keadaan darurat, pelaksanaan peraturan perundang-undangan Pasal 50,

pemerintah jabatan-jabatan Pasal 51 ayat 1 Dalam dasar pemaaf atau fait

d’excuse ini semua unsur tindak pidana, termasuk sifat melawan hukum dari

suatu tindak pidana tetap ada, tetapi hal-hal khusus yang menjadikan si pelaku

tidak dapat dipertanggung jawabkan, atau dengan kata lain menghapuskan

(19)

dalam daya berpikir, daya paksa (overmacht), bela paksa, lampau batas

(noodweerexes), perintah jabatan yang tidak sah.

Seseorang yang melakukan tindak pidana dapat dihukum apabila si

pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Masalah

pertanggungjawaban tersebut sangat berkaitan erat dengan adanya kesalahan.

3. Kelalain/Culpa

Kealpaan terdapat pada pasal 359 KUHP, yaitu : “Barangsiapa karena

kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana

penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.”

Selain kealpaan dapat menyebabkan matinya korban, kealpaan juga dapat

mengakibatkan luka berat yang diatur dalam pasal 360 KUHP,yaitu :

1) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat

luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau

kurungan paling lama satu tahun.

2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka

sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halanagn menjalankan

pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan

pidana penjara paling lama sembilan bulan atau kurungan paling lama enam

bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.”

Luka berat yang dimaksud dalam pasal 360 KUHP disebutkan dan

(20)

- Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh

sama sekali atau yang menimbulkan bahaya maut.

- Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau

pekerjaan pencarian.

- Kehilangan salah satu panca indera.

- Mendapat cacat berat.

- Menderita penyakit lumpuh.

- Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih.

- Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.”

Sebelum diuraikan lebih lanjut tentang kelalaian, maka untuk

memperjelas apa yang dimaksud dengan kelalaian tersebut akan dijelaskan

terlebih dahulu mengenai perbedaan dan persamaan kelalaian dengan

kesengajaan. Perbedaan kelalaian dengan kesengajaan adalah terletak pada

unsur subyektifnya. Kesengajaan adalah kehendak untuk melakukan atau tidak

melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diharuskan oleh

undangundang.14

Kelakuan alpa” diartikan sebagai kelakuan yang tidak memenuhi

syarat-syarat yang ditentukan oleh situasi.15

14

J.E.Sahetapy, Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta, 1995. hal. 87.

15

Ibid, hal. 115.

Moeljatno mengutip dari pendapat

Langemeyer bahwa kealpaan adalah suatu struktur yang sangat gecompliceerd.

Dia mengandung dalam satu pihak kekeliruan dalam perbuatan lahir, dan

(21)

keadaan batinnya itu sendiri.16

1. Tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum.

Moeljatno mengutip pernyataan Van Hamel

bahwa kealpaan itu mengandung dua syarat, yaitu :

2. Tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum.

Sedangkan pendapat Simons yang dikutip oleh Moeljatno tentang

kealpaan mengatakan bahwa isi kealpaan adalah tidak adanya penghati-hati di

samping dapat diduga-duganya akan timbul akibat.17

1. Pembuat berbuat lain daripada seharusnya dia berbuat sesuai aturan hokum

tertulis dan tidak tertulis. Jadi dia berbuat melawan hukum. Pengertian kealpaan terdiri dari tiga komponen, yaitu :

2. Selanjutnya pelaku berbuat sembrono, lalai, kurang berpikir, lengah.

3. Akhirnya pelaku dapat dicela, yang berarti bahwa dia dapat dipertanggung

jawabkan atas perbuatan yang sembrono, lalai, kurang berpikir, dan

lengah.18

Menurut pasal 7 (3) Criminal Code of Yugoslavia yang dikutip oleh

Zainal Abidin, bahwa kealpaan terbagi atas dua bentuk, yaitu:

1. Bilamana pembuat delik menyadari bahwa dari tindakannya dapat

mewujudkan suatu akibat yang dilarang oleh undang-undang, tetapi ia

beranggapan secara keliru bahwa akibat itu tidak akan terjadi atau ia mampu

untuk mencegahnya.

2. Bilamana pembuat delik tidak menyadari kemungkinan akan terwujudnya

16

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Op.Cit., hal. 200. 17

Ibid, hal. 201.

18

(22)

akibat, sedangkan di dalam keadaan ia berbuat oleh karena kualitas

pribadinya ia seharusnya dan dapat menyadari kemungkinan itu.19

Kesimpulam Moeljatno yang dikutip oleh Zainal Abidin bahwa orang

yang mempunyai sikap batin culpa lata adalah :

1. Kurang memperhatikan benda-benda yang dilindungi oleh hokum, dan

2. Ditinjau dari segi masyarakat, ia kurang memperhatikan larangan-larangan

yang berlaku dalam masyarakat.20

Culpa dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Pelaku telah berbuat schuld yang mencolok atau culpa lata, dan

2. Dalam hal ini pelaku telah berbuat kesalahan ringan atau culpa levis.21

Perbedaan antara dolus dan culpa, yaitu :

Dolus :

1. Perbuatan dilakukan dengan sengaja

2. Perbuatan itu disebut doleuz delicten

3. Diancam dengan hukuman lebih berat daripada culpoze delicten.

Sedangkan culpa :

a. Perbuatan yang dilakukan karena kelalaian / kealpaan

b. Perbuatan itu disebut culpose delicten atau schuld delicten

c. Ancaman hukumannya adalah lebih ringan daripada doleuze delicten.

F. Metode Penelitian

19

H.A. Zainal Abidin, Hukum Pidana I, Sinar Grafika, Jakarta, 1995, hal. 326. 20Ibid, hal. 332.

21

(23)

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Sifat/materi penelitian

Sifat/materi penelitian yang dipergunakan dalam menyelesaikan skripsi

ini adalah bersifat deksriptif analisis mengarah pada penelitian yuridis normatif,

yaitu suatu penelitian yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan yang

tertulis atau bahan hukum yang lain.22

2. Sumber data

Sumber data penelitian ini diambil berdasarkan data sekunder. Data

sekunder didapatkan melalui:

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, yakni

Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Undang-Undang Republik Indonesia

No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana,

Undang-Undang No. 22 Tahun 2009, Tentang Angkutan Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan serta Undang-Undang Kepolisian Negara (Undang-Undang

Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002).

b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan

hukum primer, seperti: hasil-hasil penelitian, karya dari kalangan hukum

dan sebagainya.

c. Bahan hukum tertier atau bahan hukum penunjang mencakup:

1) Bahan-bahan yang memberi petunjuk-petunjuk maupun penjelasan

22

(24)

terhadap hukum primer dan sekunder.

2) Bahan-bahan primer, sekunder dan tertier (penunjang) di luar bidang

hukum seperti kamus, insklopedia, majalah, koran, makalah, dan

sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan.

3. Alat pengumpul data

Alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini

adalah melalui studi dokumen dengan penelusuran kepustakaan.

4. Analisis data

Untuk mengolah data yang didapatkan dari penelusuran kepustakaan,

studi dokumen, dan penelitian lapangan maka hasil penelitian ini menggunakan

analisa kualitatif. Analisis kualitatif ini pada dasarnya merupakan pemaparan

tentang teori-teori yang dikemukakan, sehingga dari teori-teori tersebut dapat

ditarik beberapa hal yang dapat dijadikan kesimpulan dan pembahasan skripsi

ini.

G. Sistematika Penulisan

Bab I yang berjudul Pendahuluan adalah sebagai suatu pengantar dari

pembahasan-pembahasan selanjutnya, hal mana terdiri dari 7 (tujuh) sub bab,

yaitu Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian

Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penelitian serta Sistematika

(25)

Bab II Dengan judul Pertanggung Jawaban Pidana Terhadap Kelalaian

(Culpa) Pada Kecelakaan Lalu Lintas Yang Mengakibatkan Matinya Korban,

adalah merupakan suatu pembahasan dari segi teori yang terdiri dari;

Pengertian Tindak Pidana, Unsur-Unsur Tindak Pidana, Pertanggungjawaban

Pidana Terhadap Kelalaian (Culpa) Perkara Kecelakaan Lalu Lintas Yang

Mengakibatkan Matinya Korban.

Bab III yang berjudul Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Lalu

Lintas, dimana di dalamnya terdiri dari: Fungsi dan Peranan Lalu Lintas,

Pengertian Kecelakaan Lalu Lintas, Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan

Lalu Lintas, Disiplin Lalu Lintas.

Bab IV yang berjudul Kendala Dalam Penyidikan Tindak Pidana

(Culpa) Dalam Kecelakaan Lalu Lintas, dimana di dalam terdiri dari Gambaran

Umum Pelaksanaan Penyidikan, Kendala Dalam Penyidikan Tindak Pidana

Culpa Dalam Kecelakaan Lalu Lintas, Upaya Dalam Mengatasi Kendala

Penyidikan Tindak Pidana Culpa Dalam Kecelakaan Lalu Lintas Yang

Mengakibatkan Matinya Korban.

Bab V yang berjudul Kesimpulan dan Saran dimana di dalamnya akan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini telah dilakukan dalam bentuk rangkaian riset sistematis sebagai dasar pengembangan budidaya monoseks betina ikan papuyu; riset DS untuk membuktikan

Deskripsi Singkat : Mata Diklat ini membekali para peserta dengankemampuan penerapan pelaksanaan Proyek Perubahan ditempat kerjanya melalui pembelajaran pengelolaan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa responden adalah penderita DM yang tidak dapat mengontrol kadar glukosa darah sehingga mudah untuk terjadinya komplikasi

Namun, menurut adat kebiasaan masyarakat dan juga melihat dari beberapa akibat yang ditimbulkan, hal tersebut sangat merugikan terutama terhadap pihak perempuan yang

MENUNJUKKAN ADA NOVUM DALAM PERKARA TINDAKAN MEDIK PERSALINAN CITO SECSIO CESARIA DAN ARGUMENTASI HUKUM HAKIM MEMUTUS BEBAS (Studi Putusan Mahkamah Agung No :

(2) Aktivitas sekolah tempat guru yang menyusun dokumen portofolio mempunyai ciri khusus yaitu adanya kesibukan ekstra antara lain; merespon pengumuman dari Dinas

[r]

Iskandar Indah Printing Textile dengan melihat teori yang ada, keadaannya masih belum sesuai dengan teori, tetapi perusahaan mampu menjalankan sistem informasi