PENGARUH BERMAIN MUSIK TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU.

Teks penuh

(1)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PENGARUH BERMAIN MUSIK TERHADAP KETERAMPILAN

SOSIAL ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU

(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas 5 SLB E Prayuwana Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Khusus

Oleh :

Astri Rismawardani

0900967

JURUSAN PENDIDIKAN KHUSUS

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PENGARUH BERMAIN MUSIK TERHADAP KETERAMPILAN

SOSIAL ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU

(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas 5 SLB E Prayuwana Yogyakarta)

Oleh

Astri Rismawardani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Astri Rismawardani 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Februari 2014

(3)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

LEMBAR PENGESAHAN

ASTRI RISMAWARDANI

(0900967)

PENGARUH BERMAIN MUSIK TERHADAP KETERAMPILAN

SOSIAL ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU

(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas 5 SLB E Prayuwana Yogyakarta)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

Pembimbing I

Dr. H. Atang Setiawan, M.Pd

NIP. 195604121983011001

Pembimbing II

Dr. H. Sunardi, M.Pd.

NIP. 196002011987031002

Mengetahui Ketua Jurusan Pendidikan Khusus

Fakultas Ilmu Pendidikan

(4)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Drs. Sunaryo, M.Pd.

(5)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

PENGARUH BERMAIN MUSIK TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL

ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU

(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas 5 SLB E Prayuwana Yogyakarta)

Oleh: ASTRI RISMAWARDANI (0900967)

Siswa tunalaras mengalami hambatan dalam kemampuan untuk dapat berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Kondisi tersebut merupakan dampak dari keadaan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat dan pengendalian diri yang kurang sehingga siswa seringkali menjadi sangat emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kegiatan bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku. Kegiatan bermain musik merupakan aktifitas yang memfasilitasi kelompok subjek dalam bermain musik dan memberikan kesempatan kepada teman-teman sekolahnya untuk ikut bergabung dalam bermain musik bersama dengan kelompok subjek. Tujuan dari kegiatan bermain musik ini adalah dapat menciptakan rasa nyaman pada kelompok subjek ketika berada di sekitar teman-teman sekolahnya dan mampu menjalin hubungan pertemanan yang baik antara kelompok subjek dan teman-teman lainnya di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain one group pretest and postest serta pengolahan data menggunakan uji Wilcoxon. Sampel penelitian sebanyak 4 orang siswa tunalaras kelas V SDLB di SLB-E Prayuwana Yogyakarta. Instrumen yang digunakan adalah bentuk tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain musik dapat meningkatkan kemampuan keterampilan sosial siswa tunalaras kelas V SD di SLB-E Prayuwana Kota Yogyakarta, dilihat dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan Uji Wilcoxon, nilai Thitung = 0, dan berdasarkan nilai uji kritis untuk uji Wilcoxon pada tingkat signifikasi 0,05 dengan jumlah N = 4 maka diperoleh Ttabel= 2, hipotesis diterima apabila Thitung < TTabel . Berdasarkan kondisi tersebut maka hipotesis yang diajukan diterima artinya bahwa “kegiatan bermain musik dapat berpengaruh terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi”.

(6)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GRAFIK ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Penelitian ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 5

C.Batasan Masalah ... 6

D.Rumusan Masalah ... 6

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

A.Keterampilan Anak dengan Hambatan Emosi dan Perilaku ... 9

B.Pengaruh Bermain Musik... ... 22

C.Penelitian Terdahulu ... 32

D. Kerangka Berpikir ... 33

E. Hipotesis ... 36

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

A.Metode Penelitian ... 37

B.Variabel Konsep Penelitian... 39

(7)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

D.Instrumen Penelitian ... 47

E. Teknik Pengumpilan Data ... 53

F. Pelaksanaan Penelitian ... 58

G.Tekhnik Analisis Data ... 59

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN... 61

A.Hasil Penelitian ... 61

B.Pembahasan ... 72

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 83

A.Kesimpulan ... 83

B.Rekomendasi ... 83

DAFTAR PUSTAKA

LAPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat-surat Penelitian

Lampiran 2: Kisi-kisi instrumen penelitian, expert judgment, instumen penelitian, validitas dan reliabilitas

Lampiran 3: Hasil Penelitian Lampiran 4: Dokumentasi

(8)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi Butir Soal Instrumen

Keterampian Sosial... 48

Tabel 3.2 Kisi-kisi Butir Soal Instrumen Observasi... 49

Tabel 3.3 Intrumen Penelitian... 49

Tabel 3.4 Tabel tingkat Skala Pengamatan Anak... 52

Tabel 4.1 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial Aspek Kerjasama... 62

Tabel 4.2 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial Aspek Berinteraksi... 63

Tabel 4.3 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial Aspek Bertukar Pikiran dan Pengalaman... 65

Tabel 4.4 Rekapitulasi Skor Pretest dan Postest Keterampilan Sosial... 67

(9)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial

dalam Aspek Kerjasama ... 62 Grafik 4.2 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial

dalam Aspek Berinteraksi... 64 Grafik 4.3 Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial

dalam Aspek Bertukar Pikiran dan Pengalaman... 66 Grafik 4.4 Rekapitulasi Skor Pretest dan Postest

(10)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Ilustrasi Penerimaan Musik

Ke Otak Manusia... 28 Gambar 2.2 Kinerja Otak Setelah Distimulasi

(11)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Keterampilan sosial (social skill) adalah kemampuan untuk dapat berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Keterampilan sosial meliputi beberapa hal, diantaranya adalah komunikasi dan kerjasama. Komunikasi merupakan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain akan memudahkan ia untuk lebih menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang dihadapi dan lebih mudah dapat meraih simpati orang. Sedangkan kerja sama merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengarah kepada kebersamaan dan saling bahu membahu antara orang yang satu dengan yang lain. Kemampuan ini dapat meningkatkan rasa persaudaraan yang erat dan rasa saling memiliki satu dengan yang lain sehingga timbullah rasa saling menjaga satu dengan yang lain.

(12)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menonjol pada siswa di kelas ini adalah keadaan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat dan pengendalian diri yang kurang sehingga siswa seringkali menjadi sangat emosional. Siswa tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang seharusnya dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan iapun kurang dapat mengerti dan merasakan berbagai macam emosi yang mengakibatkan mereka tidak dapat mengerti dan merasakan bagaiman perasaan orang lain. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku yang seringkali diperlihatkan, yaitu mudah marah dan mudah tersinggung, emosi yang tertahan dan akhirnya meledak-ledak, menarik diri, dan kurang mampu memahami perasaan orang lain. Hal ini mengakibatkan mereka cenderung menjadi pribadi yang tidak suka bergaul apalagi berempati dengan teman-temannya.

Goleman (2000:513-514) membagi kecerdasan emosional kedalam 5 (lima) komponen yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.

1. Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri. Selain itu kesadaran diri juga berarti menetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

2. Pengaturan diri adalah menguasai emosi diri sedemikian sehingga berdampak positif, kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya sesuatu sasaran dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi.

(13)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Empati adalah merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami persepektif orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan berbagai macam orang.

5. Keterampilan sosial adalah dapat menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, dan menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim.Keterampilan sosial meliputi beberapa hal, diantaranya adalah komunikasi dan kerjasama.

Kelainan tingkah laku yang dialami anak tunalaras mempunyai dampak negatif baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri.

Mengenai tekanan batin yang berkepanjangan ini menurut Kirk & Gallagher, 1986 (Sutjihati, 2007) disebabkan oleh hal – hal berikut :

1. Ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness ) 2. Keterampilan sosial yang minim ( Sosial skill deficiency ) 3. Konsekuensi paksaan ( Coercive consequences )

(14)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sekelilingnya. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dan lain sebagainya.

Musik dapat menjadi ruang yang aman untuk mengeksplorasi perasaan dan emosi, serta bebas tekanan dari luar, sehingga membuat anak merasa diterima.Melalui musik juga dapat dibangun rasa percaya dan hubungan yang baik. Bermain musik dapat menjadi salah satu alternatif bagi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Musik juga dapat menimbulkan relaksasi dan dapat dijadikan suatu disiplin ilmu yang rasional yang memberi nilai tambah pada musik itu sendiri sebagai dimensi baru yang secara bersamaan dapat mempersatukan seni ilmu pengetahuan dan emosi (perasaan cinta, kasih sayang, dan lain sebagainya).

Spawnthe (2003) menyebutkan bahwa musik mempunyai manfaat sebagai berikut:

1. Efek Mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang.

2. Refresing, pada saat pikiran seseorang lagi kacau atau jenuh, dengan mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan menyegarkan pikiran kembali.

3. Motivasi, adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan “feeling” tertentu. Apabila ada motivasi, semangatpun akan muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.

(15)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan, baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Beberapa gangguan atau penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain : kanker, stroke, dimensia dan bentuk gangguan intelengisia lain, penyakit jantung, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.

6. Komunikasi, musik mampu menyampaikan berbagai pesan ke seluruh bangsa tanpa harus memahami bahasanya. Pada kesehatan mental, terapi musik diketahui dapat memberi kekuatan komunikasi dan ketrampilan fisik pada penggunanya.

Jadi, dari penjelasan yang telah diuraikan terlihat bahwa adanya keterkaitan antara musik dengan emosi atau mental seseorang.

Berdasarkan permasalahan yang melatarbelakangi siswa kelas 5 di SLB-E Prayuwana Yogyakarta ini, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian terhadap mereka dengan memberikan treatment melalui kegiatan bermain musik. Selama pengamatan di sekolah, penghuni kelas ini terlihat memiliki minat yang lebih dalam kegiatan bermain musik, yang diperlihatkan olehnya ketika pelajaran SBK materi seni musik yang berlangsung di sekolahnya.Selama ini siswa belum mendapatkan penanganan yang tepat untuk membuat dirinya mampu menjalin hubungan yang menyenangkan dengan teman dan gurunya di sekolah.Maka dengan bermain musik, siswa diharapkan mampu bersosialisasi dan membina hubungan baik dengan teman-temannya. Program aktifitas yang akan di berikan oleh peneliti kepada siswa

(16)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

merasa nyaman berada di sekitar teman-teman sekolahnya dan mampu menjalin hubungan pertemanan yang baik antara kelompok subjek dan teman-teman lainnya.

B.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka faktor yang dapat mempengaruhi keterampilan sosial dapat dilihat sebagai berikut:

1. Pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang baik pula pada semua bidang pertumbuhan individu. Hubungan sebaya yang berada di lingkungan sekolah sangat penting bagi perkembangan anak. Teman memberikan companionship (perkawanan) dan dukungan, memungkinkan anak untuk mengambil bagian di dalam kegiatan-kegiatan sosial-reaksional yang tidak dapat dilakukan sendiri, yang tentunya penting bagi keterampilan sosial anak.

2. Melatih anak dalam hal mendengarkan dan menyimak lawan bicaranya, dengan cara mendengarkan dan menyimak pembicaraan dari lawan bicara maka dapat menjaga hubungan baik dan kecil kemungkinan terjadinya kesalahpahaman.

3. Proses belajar, pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai individu yang aktif.

(17)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

didengar oleh orang tuanya sehingga anak akan lebih percaya diri dalam mengungkapkan sesuatu dan mengekspresikan emosinya.

5. Mencoba berempati, menerapkan pada anak dalam berempati dan bisa mengerti situasi yang dihadapi orang lain.

6. Ungkapkan lewat kata-kata, katakan maksud dan keinginan dengan jelas dan baik, agar dapat saling mengerti dan terciptanya komunikasi. Pengungkapan ini dapat dilakukan dengan media apapun yang dapat menarik minat anak, salah satunya melalui kegiatan bermain musik. Dalam kegiatan ini anak diharapkan akan merasa senang dan nyaman ketika bermain musik dan merasa percaya diri ketika dibaurkan dengan teman-temannya sehingga anak merasa nyaman berada di dalam lingkungan pertemanan.

C.Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan batasan-batasan masalah agar penelitian yang dilakukan tidak melebarluas. Batasan-batasan masalah

penelitian ini adalah: “Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku di kelas 5 SLB-E Prayuwana Yogyakarta.”

D.Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah diidentifikasi, maka peneliti

merumuskan masalah penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu: “Apakah kegiatan bermain musik dapat memberikan pengaruh terhadap keterampilan komunikasi pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku?”

(18)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Adapun yang menjadi tujuan dan kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Tujuan Penelitian a.Secara Umum

Tujuan yang ingin di peroleh dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku.

b.Secara Khusus

1) Kelompok subjek penelitian dapat menjalin hubungan yang menyenangkan dengan teman dan guru di sekolahnya.

2) Kelompok subjek mampu mengekspresikan emosinya secara tepat dan mampu mengendalikan dirinya agar emosinya tidak tertahan atau meledak-ledak.

3) Kelompok subjek diharapkan tidak mengalami kesulitan dalam membina hubungan pertemanan dengan teman-teman sekolahnya.

4) Kelompok subjek diharapkan mampu mengaplikasikan elemen-elemen komunikasi agar menjadikan mereka menjadi seorang komunikator yang baik.

5) Kelompok subjek diharapkan menjadi pribadi yang senang bergaul.

c.Kegunaan Penelitian

Adapun yang menjadi kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(19)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2) Memberikan sumbangan pemikiran dan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang pendidikan luar biasa tentang pengaruh bermain musik terhadap keterampilan social pada siswa dengan hambatan emosi dan perilaku.

(20)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen.

Menurut Sugiyono (20102: 107) “metode penelitian eksperimen dapat

diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”. Metode ini digunakan karena peneliti ingin mengetahui suatu perubahan yang muncul secermat mungkin, sehingga dapat diketahui hubungan sebab akibat munculnya perubahan tersebut. Metode eksperimen ini digunakan karena sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti yaitu untuk mengetahui pengaruh bermain musikterhadapketerampilan sosial pada siswa dengan hambatan emosi.

Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest design, penelitian dengan satu kelompok subyek yang dilakukan perlakuan/intervensi yang dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan. Ciri dari penelitian ini adalah menggunakan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah diberikan intevensi. Desain penelitian pre-test dan post-test ini dilakukan dalam setiap pertemuan pembelajaran, agar hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat.

(21)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

subjek yang sama sebelum dan sesudah dikenai X (experimental treatment). One Group Pretest-Posttest Design merupakan perkembangan dari desain One Shot Case Study. Pengembangannya ialah dengan cara melakukan satu

kali pengukuran didepan (pre-test) sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu dilakukan pengukuran lagi (post-test). Adapun skema designnya sebagai berikut

Dimana :

O1 = Nilai pretest (sebelum diberi perlakuan) X = Perlakuan (treatmen)

O2 = Nilai posttest (setelah diberi perlakuan) (Sugiyono, 2012 : 110)

Penggunaan desain one group pre-test & post-tes untuk mengetahui besarnya perbedaan rata-rata skor sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Dalam hal ini terdapat satu kelompok sampel penelitian yang diberi tes awal untuk mengetahui kondisi awal sebelum perlakuan (O1), kemudian pada sampel penelitian diadakan tes akhir untuk mengetahui ada tidaknya akibat yang ditimbulkan dari perlakuan yang diberikan (O2). Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan (Sugiyono, 2012:110).

B. Variabel Konsep Penelitian

1. Definisi Konsep Variabel

(22)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. Bermain Musik

Spencer (Mengenal Terapi Musik [online], 2007) menurut ahli perkamusan (lexicographer) musik adalah: ”Ilmu dan seni dari kombinasi ritmis nada-nada, vokal maupun instrumental, yang melibatkan melodi dan harmoni untuk mengekspresikan apa saja yang

memungkinkan, namun khususnya bersifat emosional”. Walaupun demikian selama berabad-abad para ahli menganggap bahwa definisi kamus tersebut kurang memuaskan. Sebagai alternatif, di antaranya ada yang memahami musik sebagai ”bahasa para dewa”; yang lain

mengatakan bahwa: ”music begins where speech ends” (musik mulai ketika ucapan berhenti).

Sehubungan dengan itu Spencer (Ewen 1963, 52-53), seorang filsuf Inggris mempertimbangkan musik sebagai seni murni tertinggi yang terhormat. Dengan demikian musik adalah pengalaman estetis yang tidak mudah dibandingkan pada setiap orang, sebagaimana seseorang dapat mengatakan sesuatu dengan berbagai cara.

Dari perspektif interpretasi atau penikmatannya, musik juga dapat dipahami sebagai bahasa karena ia memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan bahasa.

(23)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menyugestikan pernyataan pernyataan misterius dari pikiran atau perasaan.

Banyak orang menganggap bahwa bermain musik hanyalah sekedar hobi, sarana untuk mengekspresikan perasaan, atau dipandang sebelah mata, namun peneliti berkata lain. Melalui penelitian, bermain musik memiliki manfaat bagi yang memainkannya dalam jangka waktu yang panjang. Berikut beberapa manfaat dari bermain musik yang di rangkum dari beberapa poin dalam artikel-artikel yang membahas tentang manfaat bermain musik: (1) Musik dapat meningkatkan kemampuan otak, bermain musik dapat mengembangkan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berhubungan dengan rasionalitas dan logika, sedangkan otak kanan berhubungan dengan imaginasi dan kreatifitas. Karena ketepatan nada, irama, menghafal lagu, dan kecepatan membaca kunci atau not balok akan merangsang otak kiri untuk bekerja. Sedangkan mendengar lagu, kemampuan “menceritakan” lagu,

(24)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kesabaran, belajar musik membutuhkan proses yang panjang, tidak bisa satu dua kali belajar langsung bisa seperti pemusik yang diinginkan. Belajar musik membutuhkan disiplin dan kesabaran yang tinggi. Disiplin berlatih, mengulang pelajaran yang dirasa sulit hingga menguasainya, dan berlatih bertahun-tahun hingga menjadi handal. (4) Musik dapat melatih kepercayaan diri, karena Bermain musik tidak selamanya dimainkan untuk diri sendiri. Pemain musik tidak akan berkembang jika mengurung dirinya tanpa pernah menunjukkan kemampuannya dalam bermain musik. Walaupun sangat gugup, pemusik dituntut untuk berani dan percaya diri ketika tampil di depan umum dan harus menunjukkan bahwa dirinya mampu memainkan musik dengan baik. Adanya kepercayaan diri atau tidak di dalam diri pemain musik akan tampak dari permainannya, apakah terlihat tidak lepas atau mengalir dengan sempurna. Itu semua tergantung kepercayaan dirinya. (5) Musik dapat melatih kerja sama, dalam permainan musik dikenal istilah Solo, duet, trio, quartet, dan lain sebagainya yang membutuhkan kerja sama yang tinggi. Walaupun pemain musik tampil solo, tetap saja harus diiringi dengan musik lain sebagai background music untuk memperindah lagu. Semakin besar jumlah pemain musik semakin tinggi kebutuhan akan kerja samanya. Dalam bermain musik, tidak ada yang bisa menonjolkan seolah-olah dirinya sendiri saja yang berjasa (Erfandi, 2009).

b. Keterampilan Sosial

(25)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dalam hal ini yaitu suatu keterampilan yang mempunyai kekuatan serta kepekaan saat melihat makna yang ada di balik setiap peristiwa yang terjadi.

Keterampilan sosial berasal dari kata terampil dan sosial. Kata keterampilan berasal dari 'terampil' digunakan di sini karena di dalamnya terkandung suatu proses belajar, dari tidak terampil menjadi terampil. Kata sosial digunakan karena pelatihan ini bertujuan untuk mengajarkan satu kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian pelatihan ketrampilan sosial maksudnya adalah pelatihan yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak trampil menjadi trampil berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik dalam hubungan formal maupun informal.

Social Skill atau keterampilan sosial memiliki penafsiran akan arti

dan maknanya. Menurut beberapa ahli yang memberikan pendapatnya tentang social skill atau keterampilan sosial adahal sebagai berikut;

Combs & Slaby (Gimpel dan Merrell, 1998) memberikan pengertian keterampilan sosial adalah kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara-cara yang khusus yang dapat diterima secara sosial maupun nilai-nilai dan disaat yang sama berguna bagi dirinya dan orang lain.

(26)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Masih di dalam buku yang sama, Matson berpendapat bahwa keterampilan sosial (Social Skill), baik secara langsung maupun tidak membantu seseorang a untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dan lain sebagainya.

Libet dan Lewinsohn (Cartledge dan Milburn, 1995) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) sebagai kemampuan yang kompleks untuk menunjukkan perilaku yang baik dinilai secara positif atau negatif oleh lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan punishment oleh lingkungan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan sosial adalah sebuah alat yang terdiri dari kemampuan berinteraksi, berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun nonverbal, kemampuan untuk dapat menunjukkan perilaku yang baik, serta kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain digunakan seseorang untuk dapat berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sosial.

2. Definisi Operasional Veriabel

(27)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. Variabel Bebas

Seperti yang telah dipaparkan di atas, variable bebas dalam penelitian ini adalah bermain musik. Maksud bermain musik disini adalah aktifitas kelompok subjek yang diberikan program bermain musik dan peneliti memfasilitasi kelompok subjek dalam bermain musik. Pertama-tama peneliti dan kelompok subjek menentukan lagu yang akan dimainkan dengan menggunakan alat musik sebanyak tiga lagu, agar kelompok subjek terbiasa dengan irama dan ritme lagu tersebut. Kemudian anak mencoba memainkan lagu yang dipilih dan daplikasikan ke dalam permainan alat musik Keyboard. Setelah kelompok subjek mulai menguasai lagu tersebut, peneliti memberikan kesempatan kepada teman-teman sekolahnya untuk ikut bergabung dalam bermain musik bersama kelompok subjek. Diharapkan kegiatan bermain musik ini dapat membuat kelompok subjek merasa nyaman berada di sekitar teman-teman sekolahnya dan mampu menjalin hubungan pertemanan yang baik antara kelompok subjek dan teman-teman lainnya, yaitu penggabungan antara kelompok subjek yang bermain musik dengan menggunakan media alat musik Keyboard, dan siswa SLB Prayuwana dengan meggunakan media alat musik Jimbe, lalu berlatih dan bermain musik bersama-sama.

(28)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

musik. Alat musik yang digunakan sebagai mediannya pun mudah, yaitu alat musik Keyboard.

Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1) Langkah pertama, lagu yang akan dipilih oleh peneliti dan kelompok subjek adalah lagu yang menonjolkan aspek kognitif secara individual. Lagu ini lebih fokus untuk melatih pemahaman anak secara individu yang tentu saja dibantu dan didampingi oleh peneliti agar subjek memaknai kata-kata yang ada di dalam lagu tersebut. Anak diharapkan dapat merespon secara verbal atau non-verbal. Prosedurnya, setelah anak memainkan lagu ini menggunakan Keyboard, anak diminta untuk menceritakannya kembali makna dari lagu yang dibawakan. Lagu ini tidak banyak memberikan dorongan interaksi dengan subjek lainnya. (Lagu Daerah: Suwe Ora Jamu).

2) Langkah kedua, lagu yang akan dipilih oleh peneliti dan kelompok subjek setelah pemilihan lagu pertama adalah lagu yang menonjolkan aspek interaksi dan kebersamaan. Kata-kata dalam lirik lagu lebih banyak menuntun subjek untuk berinteraksi diantara kelompok subjek. Peneliti yang memainkan alat music, sedangkan tiga orang subjek yang merupakan kelompok sujek penelitian menyanyikan lagu

“Sedang Apa?” dengan konsep bernyanyi sambil Tanya jawab

(29)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3) Langkah ketiga, lagu terakhir yang akan dipilih oleh peneliti dan kelompok subjek adalah lagu yang dipilih karena jenis lagu tersebut dapat menciptakan suasana gembira. Kata-kata dalam lirik lagu tidak lagi menjadi fokus. Kelompok subjek didampingi agar dapat bergembira bersama mengikuti irama musik yang dibawakan secara bergantian. (Lagu The Sound Of Musik: Do Re Mi).

4) Diharapkan kegiatan bermain musik ini dapat membuat kelompok subjek merasa nyaman berada di sekitar teman-teman sekelasnya dan mampu menjalin hubungan perteman-temanan yang baik antara kelompok subjek dan teman-teman lainnya, serta menciptakan hubungan yang menyenangkan dengan teman dan menghilangkan perilaku yang tidak suka bergaul. Dari kegiatan ini, peneliti juga dapat mengetahui pengaruh dari kegiatan bermain musik terhadap keterampilan sosial (social skill) anak dengan hambatan emosi dan perilaku.

b. Variabel Terikat

Variabel terikat disebut juga dengan variabel akibat. Menurut

Sugiyono, (2011:61), “variabel terikat adalah variabel yang kemunculannya diasumsi disebabkan oleh variabel sebab”. Atau juga variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.

(30)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam penelitian ini yang menjadi variable terikat adalah keterampilan sosial. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dan lain sebagainya.

C.Sampel dan Lokasi Penelitian

Tabel Subjek Penelitian

Sampel dalam penelitian ini disebut sampel jenuh karena populasi terdiri dari sampel dan sampel terdiri dari populasi. Subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemungkinan ditarik kesimpulannya yaitu siswa kelas 5 yang mengalami hambatan emosi dan perilaku. Kelompok subjek terdiri dari bagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel

No. Nama Subjek Usia

1. FJR 13 tahun

2. GBR 11 tahun

3. MHR 11 tahun

(31)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang diambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili). Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas lima sekolah dasar luar biasa spesialisasi E di Kota Yogyakarta sebanyak empat orang jumlah siswa. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa kelas 5 di SLB-E Prayuwana Yogyakrata serta wawancara kepada guru, siswa termasuk dalam kategori anak-anak yang memiliki hambatan emosi yaitu ketidakmampuan dalam menjalin hubungan yang menyenangkan dengan sesama teman dan guru di sekolah. Siswa seringkali terlihat kesulitan dalam membina hubungan pertemanan antar teman sekelas apalagi sesama teman-teman sekolahnya. Siswa terlihat kesulitan dalam menggunakan elemen-elemen komunikasi yang seharusnya bisa membuat ia menjadi seorang komunikator yang baik. Hal ini menyebabkan mereka menjadi pribadi yang tidak suka bergaul dan tidak memiliki hubungan pertemanan yang baik dan sewajarnya. Pada penelitian desain one group pretest-posttest design ini memfokuskan pada data kelompok subjek sebagai sampel penelitian.

D.Instrumen Penelitian

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan

instrument penelitian. Menurut Sukmadinata (2010:230), “Instrumen

(32)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa tes. Penggunaan instrumen dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data pengetahuan anak dalam keterampila sosial yang dimilikinya. Tes yang dibuat berupa tes tulis dan pengamatan (observasi). Dimana tes tulis dan tes pengamatan yang mengacu pada keterampilan sosial. Terdapat beberapa langkah yang digunakan untuk penyusunan instrumen test, yaitu :

1. Membuat Kisi-kisi Instrumen

Seperti yang terlihat pada Tabel 3.1 berikut in

Tabel 3.1

(33)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

(34)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Tabel 3.2

Kisi-kisi Instrumen Penelitian Pengamatan (Observasi)

Aspek Indikator Bentuk Perilaku

Keterampilan

1. Menjaga kontak mata dengan lawan bicara ketika berbicara

2. Mengucapkan terimakasih 3. Mengatakan tolong

4. Mematuhi perintah guru

5. Membuat permintaan maaf yang tepat

6. Membuat komentar positif kepada orang lain 7. Mengikuti aturan kelompok

8. Take turns (menunggu giliran) 9. Berpartisipasi di dalam kelompok

10.Menawarkan untuk membantu orang lain

2. Membuat Butir Soal

Tabel 3.3

Instrumen Penelitian (Butir Soal)

No. Pernyataan- pernyataan Ya Tidak

1. * Saya tidak senang berhubungan dengan teman-teman di sekolah

2. Saya merasa memiliki banyak kemampuan untuk

berhubungan dengan orang-orang di lingkungan sekolah 3. * Saya sungkan untuk berada di lingkungan baru

(35)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 5. * Saya agak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan

sosial di sekolah

6. * Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya inginkan kepada orang lain

7. * Saya tidak bisa membina hubungan sosial dengan teman-teman di sekolah secara baik

8. Saya tahu cara menciptakan dan menjalin hubungan dengan teman-teman di sekolah

9. Saya suka berada di dalam lingkungan sosial yang baru

10. Saya mampu mencairkan suasana yang kaku dalam pergaulan di lingkungan sekolah

11. Menurut teman-teman disekolah saya memiliki sikap tenggang rasa terhadap teman-teman di sekolah 12. Saya sering menjadi tempat curhat bagi teman-teman

13.* Menurut teman-teman disekolah saya orang yang kurang memahami penderitaan orang lain

14.* Saya memiliki teman-teman yang tidak mendukung saya dalam kegiatan yang baik

15. Saya mudah mengerti perasaan orang-orang

16. Saya merasa teman-teman banyak yang membutuhkan saya

(36)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 18. Menurut teman-teman, saya orang yang mampu

memberi semangat orang lain

19. Saya sungkan untuk mengatakan “tidak” pada orang lain jika mereka meminta sesuatu yang saya tidak mampu 20. Saya jarang bertengkar dengan teman-teman di

lingkungan sekolah

21. Menurut teman-teman, saya seorang pendengar cerita yang baik

22. Jika menghadapi masalah dalam suatu kelompok, maka saya akan berusaha memahaminya dari sudut pandang orang tersebut

23. Saya mampu menangani setiap masalah yang terjadi dalam lingkungan pergaulan di sekolah

24.* Saya tidak mau berusaha untuk memahami apa yang oranglain pikirkan berdasarkan sudut pandang orang tersebut

25. Jika saya tidak ada, teman-teman banyak yang mencaritahu keadaan saya

26.* Saya sering bertengkar dengan teman di sekolah 27.* Saya selalu berusaha untuk memperoleh keuntungan

untuk diri saya dalam setiap kegiatan kelompok 28.* Saya selalu berusaha mempengaruhi pendapat

teman-teman dalam berdiskusi

(37)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 30.* Saya tidak yakin apakah teman-teman di sekolah

menyukai saya Penilaian:

Nilai Keterangan

1 Kriteria penilaian untuk masing-masing permyataan yang diberikan apabila menjawab “Ya”

0 Kriteria penilaian untuk masing-masing pernyataan yang

diberikan apabila menjawab “Tidak”

Nilai * Keterangan

1 Kriteria penilaian untuk masing-masing permyataan yang diberikan apabila menjawab “Tidak”

0 Kriteria penilaian untuk masing-masing pernyataan yang

diberikan apabila menjawab “Ya”

3. Membuat Instrumen Pengamatan (Observasi) Tabel 3.4

Tabel Tingkat Skala Pengamatan Anak Sesuai dengan Perilaku yang

(38)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

(39)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5 Baik

E.Tekhnik Pengumpulan Data

Terdapat beberapa langkah yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan. Tahap-tahap tersebut yaitu :

1. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dapat diartikan sebagai langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini. Berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti :

a. Studi Observasi

Observasi pendahuluan dilakukan untuk melihat kondisi siswa tunalaras berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu keterampilan sosial.

Penelitian untuk mengetahui pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku ini akan menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi (pengamatan). Observasi merupakan pedoman dalam penelitian ini.

(40)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1) Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.

2) Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Observasi yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi sistematis dimana akan digunakan instrumen pengamatan pada saat observasi. Adapun alasan pemilihan metode pengumpulan data berupa wawancara dan observasi adalah karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur sejauh mana subjek mampu bertahan dalam melakukan aktifitas sosialnya, yaitu keterampilan anak dalam bersosialisasi (social skill). Tentunya dalam menunjukkan ketemapilan sosial atau kecakapan sosial, subjek dapat diamati dengan melakukan observasi atau pengamatan. Melalui observasi atau pengamatan ini akan terlihat dari durasi seberapa lama subjek mampu bertahan dalam melakukan aktifitas sosialnya pada periode waktu tertentu. Untuk itu, kegiatan observasi atau pengamatan adalah hal yang dirasa tepat untuk mengamati keterampilan bersosial (social skill) pada subjek.

b. Pengurusan Surat Izin Penelitian

Pengurusan surat izin dimulai dari tahap pembuatan Surat Keputusan Pembimbing skripsi di tingkat Fakultas, kemudian izin penelitian dari tingkat Univesitas, Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat, Dinas Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk kemudian masuk ke sekolah yang dijadikan tempat penelitian yaitu SLB-E Prayuwana Yogyakarta.

(41)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Peneliti membutuhkan suatu alat bantu dalam proses pengumpulan data. Dalam penelitian alat bantu yang digunakan untuk membantu proses pengumpulan data disebut instrumen. Menurut Arikunto (2010: 203):

“Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudahdan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.Tentunya sebelum membuat instrumen, peneliti terlebih dahulu membuat ‘kisi-kisi’.”

Dalam Arikunto (2010: 205) “kisi-kisi adalah sebuah tabel yang menunjukkan hubungan antara hal-hal yang disebutkan dalam baris dengan hal-hal yang disebutkan dalam kolom”.

d. Melakukan Pengujian Instrumen Penelitian

Untuk dapat mengumpulkan data pada suatu penelitian diperlukan adanya sebuah intsrumen, sebelum instrumen tersebut digunakan perlu diujikan terlebih dahulu atau dinyatakan valid dan reliabel. Hal ini sejalan dengan pernyataan Arikunto (2010: 211) sebagai berikut:

“Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang dikatakan valid mempunyai validitas tinggi dan mampu mengukur apa yang diinginkan atau mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.”

(42)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1) Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat ke validitas atau kestabilan suatu instrument. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan validitas isi dengan teknik penilaian ahli (judgement).

Uji validitas tersebut menggunakan teknik penilaian oleh para ahli dalam penelitian ini, yaitu para ahli yang berhubungan / berkecimpung di dunia pendidikan khusus. Instrumen di judgment oleh tiga orang dosen Pendidikan Khusus Universitas

Pendidikan Indonesia.

Proses validitas ini dilakukan untuk mengetahui tes yang sudah dibuat sesuai dengan aspek yang terkandung dalam pembelajaran atau belum. Sehingga ketika tes diberikan kepada anak, hal tersebut sesuai dengan aspek yang akan diteliti. Skor validitas diolah dengan menggunakan rumus:

Gambar 3.2 Rumus Validitas

Berdasarkan hasil judgment dapat disimpulkan bahwa instrumen cocok dan dapat digunakan untuk mengukur

P = f / N x 100% Keterangan : P = Presentase

(43)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

keterampilan sosial anak tunalaras yang sedang di teliti oleh peneliti. Semua butir soal yang sudah dijudgment menunjukkan hasil 100% yang berarti valid.

2) Uji Realibilitas

Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap (Arikunto, 2010 : 86). Uji realibilitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan reliabilitas konsistensi internal, dalam hal ini Susetyo (2011:109) menjelaskan bahwa

“Realibilitas konsistensi internal didasarkan pada skor yang

diperoleh dari satu perangkat ukur dengan satu kali pengukuran

pada peserta tes”. Pada penelitian ini realibilitas konsistensi

internal dihitung dengan rumus Alpha. Menilai soal yang dibuat oleh peneliti berbentuk uraian sehingga butir-butir soal yang

dinilai tidak hanya “benar” atau “salah” namun menghendaki

tingkatan penilaian. Maka dari itu rumus yang digunakan adalah rumus Alpha sebagai berikut :

(Arikunto, S. 2010:109) Keterangan :

r

11 = realibilitas yang dicari

= jumlah varians skor tiap-tiap item

(44)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Selanjutnya dari hasil perhitungan reliabilitas soal, nilainya dapat diklasifikasikan pada beberapa kriteria yang dikemukakan kembali oleh Arikunto (2001:101) antara lain sebagai berikut:

Kriteria reliabilitas antara 0,00 s.d. 0,20 mengandung arti reliabilitas sangat rendah.

Kriteria reliabilitas antara 0,21 s.d. 0,40 mengandung arti reliabilitas rendah.

Kriteria reliabilitas antara 0,41 s.d. 0, 60mengandung arti reliabilitas cukup.

Kriteria reliabilitas antara 0,61 s.d. 0,80 mengandung arti reliabilitas tinggi.

Kriteria reliabilitas antara 0,81 s.d. 1,00 mengandung arti reliabilitas sangat tinggi.

Setelah instrumen dibuat kemudian dihitung reliabilitasnya, ditemukan hasil 0,978. Berdasarkan klasifikasi reliabilitas yang sudah dikemukakan diatas, maka instrumen yang peneliti buat memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi sehingga instrumen tersebut dapat digunakan untuk penelitian.

F. Pelaksanaan Penelitian

Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan pada pelaksanaan penelitian: 1. Melakukan Pre Test.

(45)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Melakukan intervensi melatih keterampilan sosial yang mencakup beberapa aspek dengan menggunakan metode bermain musik sebanyak 6 kali.

4. Anak memainkan lagu menggunakan alat musik Keyboard, kemudian diminta untuk menceritakan kembali makna dari lagu yang dibawakan. Lagu yang tidak banyak memberikan dorongan interaksi dengan subjek lainnya, karena langkah awal dari kegiatan ini adalah melatih anak dalam merespon secara verbal dan non-verbal dengan cara memaknai kata-kata yang ada di dalam lagu tersebut.

5. Terdapat 3 jenis lagu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. 6. Setelah intervensi selesai diberikan kemudian dilaksanakan pos test. 7. Mengumpulkan dan mengolah data hasil penelitian.

Hasil penelitian dari proses observasi dan berbagai test didukung dengan dokumen-dokumen yang dapat mendukung terhadap masalah yang sedang diteliti. Penulis berusaha mengumpulkan berbagai dokumen yang diperlukan dan menunjang terhadap perolehan data-data yang diperlukan.

Dari hasil penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa studi dokumentasi memang bukan alat pengumpul data yang utama, tetapi termasuk yang penting dilakukan untuk menambah kejelasan dalam penafsiran data. Dokumentasi dalam penelitian ini berupa kegiatan bermain

musik, kegiatan sehari-hari kelompok subjek mengenai kegiatan

bersosialisasinya di sekolah, dan foto-foto selama proses test.

(46)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Penelitian untuk mengetahui pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial (social skill) pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku ini akan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan observasi (pengamatan).

Penelitian dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dari suatu perlakuan. Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dari suatu perlakuan, maka dilakukan pengamatan dengan membandingkan hasil subjek penelitian pada waktu sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan. Setelah semua data terkumpul, kemudian data diolah dan dianalisis ke dalam statistik deskriptif agar diperoleh gambaran secara jelas tentang hasil intervensi dalamjangka waktu tertentu. Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan. Variabel kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel control inilah yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yan terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi).

(47)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dipergunakan untuk penelitian yang datanya berpasangan dengan sampel terbatas, selain itu juga uji Wilcoxon tidak memerlukan uji normalitas.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam mengolah data tersebut adalah:

1. Menskor pre-test dan pos-test dari setiap penilaian 2. Mentabulasi skor pre-test dan pos-test.

3. Membuat tabel perhitungan skor pre-test dan skor pos-test.

4. Menghitung selisih antara skor pre-test dan pos-test. Ditetapkan selisih bertanda (di) antara kedua skornya.

5. Membuat ranking harga-harga di itu tanpa memperdulikan tanda. Untuk harga-harga di yang sama buatlah rata-rata ranking yang sama.

6. Membubuhkan pada setiap ranking, tanda (+), (-) untuk d yang di representasikan.

7. Menetapkan T.

8. Membandingkan nilai T yang diperoleh dengan T dari tabel nilai-nilai kritis T untuk uji Wilcoxon.

(48)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Keterampilan sosial yang meliputi aspek keterampilan kerjasama, keterapilan berinteraksi, serta keterampilan bertukar pikiran dan pengalaman pada siswa tunalaras dapat dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya yaitu yang berkaitan dengan kegiatan bermain musik yang berhubungan dengan kondisi psikologis anak, keterampilan anak dalam memadupadankan alat musik dengan teman-temannya, dan juga kekompakkan dalam bernyanyi dan memainkan alat musik. Hal-hal tersebut juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa tunalaras dalam membina hubungan baik dengan teman sekelas maupun teman sekolahnya.

Kegiatan bermain musik membantu untuk meningkatkan kemampuan anak dalam hal kerjasama, kemampuan anak dalam hal interaksi, dan kemampuan anak dalam bertukar pikiran dan pengalaman. Salah satu dampak positif dengan kegiatan bermain musik yaitu membantu siswa tunalaras untuk selalu menjaga kekompakkan dan membina hubungan baik antar teman di lingkungan sekolah.

B. Rekomendasi

Merujuk pada hasil penelitian dan kesimpulan, maka peneliti mengajukan penelitian kepada :

1. Guru

(49)

84

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sebagai metode yang dapat membantu kekompakkan siswanya jika dilakukan secara rutin.

2. Peneliti selanjutnya

(50)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

AR, Syamsuddin. (2009). Metode Penelitian Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Basuki, Heru (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Gunadarma.

Campbell, Don. (2002). Efek Mozart bagi Anak-anak.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama . (Penerjemah: Alex Tri Kantjono) Djohan.(2001). Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher

Djohan . (2006). Terapi Musik Teori Dan Aplikasi. Jakarta: Gradien Mediatama. Djohan. (2009). Psikologi Musik. Jakarta: Galangpress Group.

Djuarsa, Sasa. (2000). Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Rosdakarya Group. Erfandi (2009). Konsep Terapi Musik. [online]

Tersedia: http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/konsep-terapi-musik/. [April 2013.]

Efendi, M. (2006). Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.

Goleman, Daniel. (2000). Emitional Intelligence (terjemahan). Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. (2000). Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Hollingsworth, P., Lewis, G. (2008). Pembelajaran Aktif. Jakarta: Indeks. Indianto R, (2009). Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

(51)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Maslow, Abraham. (1984). Manajemen Motivasi Kepribadian.

Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Prier, SJ. Karl-Edmund. (1991). Sejarah Musik Jilid 1. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

Purwanto, Ngalimm. (2001). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Salim, D. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta: Galang Press.

Saphiro, Lawrence E. (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta : Gramedia.

Sheppard, Philip. 2007. Music Makes Your Child Smarter. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Smith, Robert M. (1983). The Exceptional Child Special Education Series. McGraw-Hill Companies

Spencer, Herbert. (2007). Mengenal Terapi Musik. [online]

Tersedia: http://www.terapimusik.com/terapi_musik.htm. [April 2013]. Sugiyono. 2000. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sumardi. Teori Keterampilan Sosial Menurut Para Ahli [online] Tersedia: http://www.kompas.com [27 Mei 2013]. Santrock, John W. (2008). Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua.

Jakarta: Kencana.

Sukmandinata, N.S. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda. Sunardi. (1995). Ortopedagogik Anak Tunalaras I.

Surakarta: Departemen Dikbud.

(52)

Astri Rismawardani, 2014

Pengaruh bermain musik terhadap keterampilan sosial anak dengan hambatan emosi dan perilaku

Figur

Grafik 4.1 Hasil  Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial  dalam Aspek Kerjasama .........................................

Grafik 4.1

Hasil Pre-test dan Pos-test Keterampilan Sosial dalam Aspek Kerjasama ......................................... p.9
Gambar 2.1 Ilustrasi Penerimaan Musik

Gambar 2.1

Ilustrasi Penerimaan Musik p.10
Tabel Subjek Penelitian

Tabel Subjek

Penelitian p.30
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Butir Soal Instrumen Pengetahuan Keterampilan Sosial

Tabel 3.1

Kisi-Kisi Butir Soal Instrumen Pengetahuan Keterampilan Sosial p.32
Instrumen Penelitian (Butir Soal)Tabel 3.3

Instrumen Penelitian

(Butir Soal)Tabel 3.3 p.34
Tabel 3.4 Tabel Tingkat Skala Pengamatan Anak Sesuai dengan Perilaku yang

Tabel 3.4

Tabel Tingkat Skala Pengamatan Anak Sesuai dengan Perilaku yang p.37
Gambar 3.2 Rumus Validitas

Gambar 3.2

Rumus Validitas p.42

Referensi

Memperbarui...