ABSTRAK
Kemajuan di bidang teknologi, komputer dan telekomunikasi mendukung perkembangan teknologi internet. Dengan adanya intenet, konsumen maupun perusahaan tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh berbagai informasi. Penggunaan internet dalam bisnis mengubah fungsi dari alat pertukaran informasi menjadi alat untuk mengaplikasikan strategi bisnis, seperti: pemasaran, penjualan maupun pelayanan pelanggan. Dalam penelitian ini akan membahas tentang bagaimana elemen-elemen dari centric model of social media based brand community yang meliputi hubungan antara konsumen dengan produk, merek, perusahaan dan konsumen lainnya dapat mempengaruhi brand trust merek Indomie. Penelitian menggunakan metode regresi linear berganda terhadap 200 responden dengan menggunakan SPSS 16.0. Pengaruh centric model of social media based brand community terhadap brand trust adalah sebesar 46,3%.
Indomie berupaya untuk meningkatkan brand trust lewat komunitas sosial media. Hubungan antara konsumen dengan produk, perusahaan dan konsumen lainnya akan membuat konsumen semakin percaya dengan merek Indomie.
ABSTRACT
Advancements in technology, computers and telecommunications supporting the development of Internet technology. With intenet, consumers and companies no longer have difficulty in obtaining information. The use of internet in the business has changed the function of the information exchange tool into a tool for applying business strategies, such as: marketing, sales and customer service. In this research will discuss about how the elements of brand community based on social media that includes the relationship between consumers and products, brands, companies and other consumers can influence brand trust of Indomie.
The study used multiple linear regression analysis of 200 respondents by using SPSS 16.0. The influence of social media centric model of community-based brand to brand trust is at 46.3%.
Indomie seeks to increase brand trust through social media. The relationship between the consumer and the product, the company and other consumers will make consumers trust more with Indomie.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii
SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN …………iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DARTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1*Latar Belakang ... 1
1.2*Identifikasi Masalah ... 15
1.3*Tujuan Penelitian ... 15
1.4*Manfaat Penelitian ... 15
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1*Teori Penunjang ... 17
2.1.1 Pemasaran ... 17
2.1.2* Manajemen ... 18
2.1.3* Manajemen Pemasaran ... 18
2.1.4* Bauran Pemasaran ... 18
2.1.5* Produk ... 20
2.1.6* Merek ... 26
2.1.7* Ekuitas Merek Berbasis Pelanggan ... 29
2.1.8* Brand Community ... 32
2.1.9* rand Trust ... 45
2.2 Riset Empris ... 52
2.3 Pengembangan Hipotesis ... 54
2.4 Model Penelitian ... 60
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 61
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 61
3.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 63
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 63
3.5 Teknik Analisis Data ... 65
3.6 Definisi Operasional Variabel ... 72
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 76
4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 98
4.4 Uji Normalitas ... 100
4.5 Uji Multikolinearitas ... 101
4.6 Uji Heteroskedastisitas ... 102
4.7 Analisis Regresi Linear Berganda ... 103
4.8 Pembahasan ... 106
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 108
5.2 Implikasi Manajerial ... 115
5.3 Keterbatasan Penelitian dan Saran ... 116
DAFTAR PUSTAKA ... 117
LAMPIRAN ... 121
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Survei MarkPlus Insight Netizen Survey 2012 ... 2
Gambar 1.2 Survei We Are Social 2015 ... 3
Gambar 1.3 Model Komunikasi ... 4
Gambar 1.4 Top Brand Index (TBI) 2015 Fase 1 ... 5
Gambar 1.5 Global Demand for Instant Noodles ... 6
Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI) Mie Instant 2014 ... 7
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 52
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 72
Tabel 4.1 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 77
Tabel 4.2 Berdasarkan Usia ... 77
Tabel 4.3 Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ... 78
Tabel 4.4 Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 79
Tabel 4.5 Berdasarkan Tingkat Pendapatan ... 80
Tabel 4.6 Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Produk Indomie ... 81
Tabel 4.7 Berdasarkan Komunitas Sosial Media ... 82
Tabel 4.8 Saya Suka dengan Produk dari Indomie ... 83
Tabel 4.9 Saya Bangga dengan Produk Indomie ... 84
Tabel 4.10 Produk Indomie Adalah Salah Satu Harta yang Berharga ... 85
Tabel 4.11 Produk Indomie Menyenangkan Untuk Dikonsumsi ... 86
Tabel 4.12 Saya Menghargai Sejarah dari Merek Indomie ... 87
Tabel 4.13 Jika produk Indomie yang saya inginkan tidak dapat ditemukan, saya akan mengganti dengan produk lain dari merek Indomie ... 88
Tabel 4.14 Merek Indomie Berkualitas Paling Tinggi ... 89
Tabel 4.15 Perusahaan Indomie Mengerti yang Saya Butuhkan ... 90
Tabel 4.16 Perusahaan Indomie Peduli Terhadap Pendapat-Pendapat Saya ... 91
Tabel 4.17 Saya Bertemu dengan Banyak Orang Karena Komunitas Indomie 92 Tabel 4.18 Saya Memiliki Hubungan Kekeluargaan dengan Pelanggan Lain 93 Tabel 4.19 Saya Memiliki Ketertarikan dengan Merek Indomie Karena Pelanggan Lain ... 94
Tabel 4. 20 Merek Indomie Memberikan Semua yang Saya Harapkan dari Produk ... 95
Tabel 4.21 Saya Mengandalkan Merek Indomie ... 96
Tabel 4.22 Merek Indomie Tidak Pernah Mengecewakan Saya ... 97
Tabel 4.23 Hasil Uji Validitas ... 98
Tabel 4.24 Hasil Uji Reliabilitas ... 99
Tabel 4.25 Hasil Uji Normalitas ... 100
Tabel 4.26 Hasil Uji Multikolinearitas ... 101
Tabel 4.27 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 102
Tabel 4.28 Hasil Uji ANOVA ... 103
Tabel 4.29 Hasil Uji Pengaruh Secara Simultan (PCO-BT) ... 104
Tabel 4.30 Hasil Uji Parsial ... 104
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 121
Lampiran 2 Tabulasi Jawaban Kuesioner ... 124
Lampiran 3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Product ... 129
Lampiran 4 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Brand ... 131
Lampiran 5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Company ... 133
Lampiran 6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Other Customers .. 135
Lampiran 7 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Brand Trust ... 137
Lampiran 8 Hasil Uji Normalitas ... 139
Lampiran 9 Hasil Uji Multikololinearitas ... 140
Lampiran 10 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 141
Lampiran 11 Hasil Uji Regresi ... 142
Lampiran 12 ... 143
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persaingan global yang semakin ketat menuntu perusahaan untuk terus
bersaing dalam memasarkan dan menjual produknya. Perusahaan harus memiliki
strategi yang tepat untuk mempertahankan produknya tetap dikonsumsi oleh
konsumen secara terus menerus. Hal penting yang harus diperhatikan dan dilakukan
oleh setiap perusahaan adalah menciptakan pelanggan-pelanggan baru dan
mempertahankan pelanggan lama. Selain itu, perusahaan juga harus mampu
melihat peluang dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk dapat terus
memasarkan secara efektif dan efisien.
Kemajuan di bidang teknologi, komputer dan telekomunikasi mendukung
perkembangan teknologi internet. Dengan adanya intenet, konsumen maupun
perusahaan tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi apapun,
untuk menunjang aktivitas bisnisnya bahkan untuk memperoleh berbagai
informasi. Penggunaan internet dalam bisnis mengubah fungsi dari alat pertukaran
informasi menjadi alat untuk mengaplikasikan strategi bisnis, seperti: pemasaran,
penjualan maupun pelayanan pelanggan.
Intenet hadir pertama kali di Indonesia diawal tahun 1990an. Dengan
pengguna internet awal yang hanya berjumlah 110.000 orang dan saat itu dianggap
sebagai barang mewah yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Hasil survei
MarkPlus Insight (2012), jumlah penggunan internet di Indonesia pada akhir tahun
Pengguna internet di Indonesia per akhir taun 2012 mencapai angka 61,08 juta.
Angka tersebut naik 11% ketimbang tahun 2011. Diperkirakan pada tahun 2014
jumlah pengguna internet di Indonesia akan mencapai 71 juta. Angka-angka
tersebut tercantum pada Gambar 1.1, perihal Survei MarkPlus Insight Netizen
2010-2012, yang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan jumlah pengguna
internet di Indonesia sejak dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012
Gambar 1.1 Survei MarkPlus Insight Netizen Survey 2012
Sumber: DailySocial.net, 2012
Menurut data terbaru dari We Are Social yang tercantum pada Gambar 1.2,
angka pengguna internet di Indonesia telah mencapai 88,1 juta, dengan penetrasi
Gambar 1.2 Survei We Are Social 2015
Sumber: id.techinasia.com, 2015
Konsumen rata-rata menghabiskan sepertiga waktunya dalam online social
media (Lang, 2000). Kepopuleran dan kemampuan dari komunitas virtual untuk
menghubungkan orang dan bisnis yang memiliki kesamaan membuat beberapa ahli
dan peneliti secara antusias mendorong untuk bisnis berada di media sosial dan
untuk mengambil keuntungan dari media sosial jika ingin terus bertahan (Kaplan &
Haenlein, 2010).
Sebagian besar masyarakat Indonesia telah menjadikan media sosial sebagai
bagian dari gaya hidup mereka. Menurut majalah Marketing Mix edisi Januari
2012, dengan menggunakan media sosial kita dapat berinteraksi, berbagi informasi,
dan berdiskusi satu sama lain. Berdasarkan Gambar 1.2, 79 juta orang Indonesia
merupakan pengguna media sosial aktif, dan 67 juta pengguna aktif sosial mobile.
Internet khususnya sosial media telah mengubah cara orang dalam
komunikasi dua arah many to many. Komunikasi one to many menjadi many to
many berkembang pada era new media.
Menurut Lesmana (2012:1), new media adalah istilah yang lebih luas dalam
studi media yang muncul di bagian akhir abad ke-20 yang mengacu pada
permintaan akses ke konten kapan saja, dimana saja, pada perangkat digital, serta
umpan balik dari pengguna secara interaktif, partisipasi secara kreatif dan
pembentukan komunitas sekitar konten media. Salah satu fenomena new media
adalah tumbuhnya media sosial.
Gambar 1.3 Model Komunikasi
Berdasarkan Gambar 1.3, pada model one to many, interaksi yang terjadi
adalah interaksi satu arah dari perusahaan atau marketer kepada konsumen.
Sedangkan pada model many to many, interaksi yang terjadi adalah interaksi
timbal-balik. Terjadi interaksi antara konsumen dengan konsumen, yang
menjadikan konsumen sebagai medium dalam penyebaran informasi.
PT. Indofood Sukses Makmur TBk, Noodles Division merupakan
perusahaan fast moving consumer good yang memproduksi mie instan yang
awareness, brand image, brand satisfaction, brand trust, dll. Produk mie yang
diproduksi oleh PT. Indofood Sukses Makmur TBk, Noodles Division yaitu
Indomie, Sarimi, Supermi, Nikimiku dan Sakura. Kelima produk ini memiliki pasar
serta pangsa pasar yang berbeda-beda. Dalam Top Brand Index (TBI) periode
2006-2008, Indomie menduduki posisi pertama dengan TBI berturut-turut 65,8% ,
66,5% , dan 71,4% pada tahun 2006, 2007, dan 2008 (David, S.S., 2008, Majalah
Marketing-Edisi Khusus TOP BRAND). Di Tahun 2015, Indomie semakin
mendominasi pasar dengan 75,9% market share berdasarkan Gambar 1.4.
Gambar 1.4 Top Brand Index (TBI) 2015 Fase 1
Indonesia sendiri menduduki posisi kedua setelah China sebagai negara
dengan permintaan mie instan tertinggi. Berdasarkan Gambar 1.5, di tahun 2014,
China memiliki nilai global demand mie instan pada angka 44,4 miliar bungkus,
sedangkan Indonesia mengalahkan Jepang dengan global demand 13,43 miliar
Gambar 1.5 Global Demand for Instant Noodles
Sumber: World Instant Noodles Association, 2015
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, potensi
industri ini sangat besar dan menjanjikan, apalagi tren masyarakat Indonesia yang
mulai bergeser ke arah makanan instan. Mie instan merupakan salah satu produk
paling diminati konsumen Indonesia. Menurut New Business Development
Director Worldpanel Indonesia (Murhayati, 2014), konsumen Indonesia adalah
konsumen tersibuk jika dibandingkan dengan konsumen negara lain. Selama
setahun, konsumen Indonesia bisa berbelanja 400 kali atau sekitar 31 kali dalam
sebulan.
Menurut Indonesian Commercial Newsletter tahun 2009, tercatat terdapat
sekitar 20 produsen mie instan di Indonesia, baik perusahaan berskala besar
maupun kecil. Industri mie kering yang dikemas bersama bumbunya atau yang
lebih populer disebut mie instan, relatif cukup lama berdiri di Indonesia. Sebut saja,
Dimulai sekitar tahun 1969 oleh PT Supermie Indonesia yang dianggap
sebagai salah satu perintis di bidang industri ini. Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI)
2014 menunjukan angka market share dari dua pemimpin pasar mie instan di
Indonesia. Kedua merek ini terpaut cukup jauh, Indomie di tahun 2014 meraih
indeks 75,9%, sedangkan Mie Sedaap 14,4%.
Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI) Mie Instant 2014
Sumber: www.marketing.co.id, 2014
Hasil Survei Brand 2008 yang digelar Mars dan SWA pun menunjukkan
dominasi market leader Indomie di kategori mie instan. Pada aspek Top of Mind
Advertising (TOM Ad), Indomie mencatat angka 73,2%, sedangkan Mie Sedaap
hanya meraih 18,7%. Begitu pula untuk Top of Mind Brand, Indomie mencatat
angka 72,9%; sedangkan Mie Sedaap berada di angka 18,7%. Untuk Brand Share
pun terpaut jauh: Indomie meraih 73,5 dan Mie Sedaap 19,8. Hanya saja untuk
aspek Satisfaction, Indomie harus berbenah diri. Meski terpaut cukup jauh,
gebrakan Wings Food yang boleh di bilang pemain paling baru di bisnis mie instan
Indomie 99,2. Hasil keseluruhan Brand Value, Indomie dominan di angka 73,3%
dan Mie Sedaap di angka 19,1% (www.swa.co.id, 2008).
Indomie sendiri sudah lama meramaikan pasar mie instan jauh sebelum Mie
Sedaap. Merek mie instan dari PT. Indofood Sukses Makmur TBk ini hadir sejak
tahun 1970-an. Produk Indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah Indomie
Kuah Rasa Kaldu Ayam. Kemudian pada tahun 1982 penjualan Indomie
mengalami peningkatan yang sangan signifikan, seiring diluncurkannya varian
Indomie Kuah Rasa Kari Ayam. Puncaknya pada tahun 1983, produk Indomie
semakin digemari konsumen Indonesia dengan diluncurkannya varian Indomie Mi
Goreng. Dengan indeks market share rata-rata 70%, dan kapasitas produksi lebih
dari 13 miliar bungkus per tahun, Indomie menjadi rajanya pasar mie instan di
Indonesia.
Indomie sendiri aktif dalam berbagai sosial media seperti Facebook
(https://www.facebook.com/Indomie/), Twitter (http://twitter.com/Indomielovers),
Youtube (http://www.youtube.com/user/indofoodvideos) dan Instagram
(https://www.instagram.com/indomie/). Indomie sampai dengan akhir Januari 2016
memiliki 1,451 juta pengikut di Facebook, 215 ribu pengikut di Twitter, 891
pengikut dan total 1,4 juta penonton di Youtube dan 25.1 ribu pengikut di
Instagram.
Indomie merupakan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk
mengkomunikasikan produknya, maupun untuk berinteraksi dengan konsumennya.
Indomie sendiri pernah memenangi berbagai awards, seperti Media Social Award
2014 yang diadakan PT Frontier Consulting Group dan Majalah Marketing untuk
Terlepas dari pentingnya branding dan tingkat adopsi yang tinggi dari
media sosial, sangat sedikit studi empiris (e.g., Hsu & Tsou, 2011) yang berkaitan
dengan isu ini. Kebanyakan studi berfokus pada pemasaran dan branding di media
sosial termasuk narasi deskriptif dari media sosial, definisi,
karakteristik-karakteristik dan kebanyakan memberi saran dan strategis kepada para pemasar dan
bisnis dalam mengambil keuntungan dari peluang-peluang dan mengatasi
tangangan-tantangannya. (Edelman, 2010; Hanna, Rohm, & Crittenden, 2011;
Kaplan & Haenlein, 2010; Kietzmann, Hermkens, & McCarthy, 2011). Jadi, ada
kebutuhan penting dalam literatur untuk mengkesplorasi efek dari branding dalam
variabel-variabel marketing berhubungan dengan media sosial.
Dalam perspetif dari brand community building (McAlexander, Schouten &
Koening, 2002; Muniz & O’Guinn, 2001), tujuan penulis adalah untuk menunjukan
bagaimana elemen-elemen customer centric model (i.e., hubungan antara focal
customer dan merek, produk, perusahaan dan konsumen lain) berpengaruh terhadap
kepercayaan merek. Dalam hal ini, penulis percaya bahwa kepercayaan merek
memiliki kunci penting, di mana hal ini diabaikan oleh studi sebelumnya.
Social media based brand community terdiri dari dua konsep; media sosial
dan komunitas merek. Definisi dari media sosial: “sebuah kelompok aplikasi
berbasis internet yang membangun di atas dasar ideology dan teknologi Web 2.0,
dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content
(Kaplan dan Haenlein (2010).” Definisi ini menekankan bahwa konten tidak
dikonsumsi secara pasif oleh orang-orang. Melainkan, konten diciptakan,
pada pentingnya users actively generating content (UCG) dalam konteks yang
berbeda-beda.
Menurut klasifikasi Benson & Morgan (2014:384), media sosial di sini
mencakup berbagai aplikasi berbasis internet dan bersifat virtual-interaktif, baik
media sharing seperti wiki, blogging seperti wordpress dan blogspot, content
communities seperti Youtube, dan social networking sites seperti Facebook,
LinkedIn, dan Twitter. Layanan yang diberikan masing-masing media sosial
berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu kemudian menjadi
keunggulan masing-masing. Tetapi secara umum layanan yang ada pada media
sosial meliputi chatting, berbagi pesan (messaging), berbagi video atau foto,
berbagi posting kata-kata, forum diskusi, blog dan lain-lain.
Menurut Kindarto (2010:1) media sosial adalah suatu struktur sosial yang
dibentuk dari simpul-simpul (yang pada umumnya adalah individu atau
organnisasi), yang diikat dengan satu tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide,
teman, komunitas, dan lain sebagainya. Artinya, terdapat struktur kompleks yang
dipertahankan sebagai identitas media sosial tersebut.
Muniz dan O’Guinn (2001, p. 412) mendefinisikan komunitas brand
sebagai sebuah “komunitas spesifik, tidak terbatas oleh batasan geografis,
berdasarkan struktur hubungan sosial antara anggotanya yang menyukai merek
tertentu. Sama seperti komunitas lainnya, komunitas merek terdiri dari entitas
termasuk anggotanya, hubungannya dan berbagi sumber daya esensial baik
emosional maupun material. Terlebih dari itu, McAlexander et al. (2002, p.38)
berargumen bahwa hal yang paling penting untuk dibagikan di komunitas merek
cerita merek, membantu dalam penggunaan merek dan mempengaruhi loyalitas
merek secara positif (Muniz & O’Guinn, 2001). Contoh-contoh media sosial yang
berkembang luas saat ini adalah Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, dll.
Menurut literatur-literatur media sosial dan komunitas merek, orang-orang
memiliki insentif masing-masing untuk bergabung. Salah satu kebutuhan esensial
psikologis adalah untuk merasa terhubung secara sosial (Sarason, 1974); maka dari
itu, bergabung dengan medial sosial dan terhubung dengan orang-orang dapat
memenuhi kebutuhan kepemilikan (Gangadharbhatla, 2008; Tardini & Cantoni,
2005). Keinginan interaksi sosial dinyatakan sebagai salah satu motivasi konsumen
untuk ikut dalam aktivitas memberikan konten dalam lingkungan online
(Hennig-Thurau, Gwinner, Walsh & Gremler, 2004). Berbelanja, penelitian, hiburan dan
menghasilkan uang adalah beberapa tujuan lain dari berkontribusi di media sosial
(Zhou, Zhang, Chenting & Zhou, 2011a). Orang-orang juga bergabung dalam
komunitas merek untuk memenuhi kebutuhan untuk dapat diidentifikasi dengan
grup atau simbol(Elliot & Wattanasuwa, 1998; Grayson & Martinec, 2004;
Schembri, Merrilees, & Kristiansen, 2010).
Lebih daripada itu, komunitas merek mendukung anggota-anggotanya
dalam hal berbagi informasi yang diperlukan dari berbagai sumber (Szmigin &
Reppel, 2001) dan meninggikan nilai-nilai (Schau, Muniz, & Arnould, 2009).
Komunitas merek menyediakan kesempatan untuk dapat berhubungan dengan
konsumen yang berdedikasi tinggi (Anderson, 2005), untuk dapat berkomunikasi
secara efektif dengan konsumen lain dan mendapatkan nilai yang berharga darinya
(Von Hipel, 2005), dan untuk menciptakan bersama nilai dari interaksi dekat
paling besar dari perusahaan dalam mendukung komunitas merek adalah
meningkatkan loyalitas merek, yang juga disebut “Holy Grail” untuk bisnis
(McAlexander et al., 2002, p.38).
Terlepas dari motivasi untuk bergabung dengan media sosial dan komunitas
merek, konsep media sosial dan komunitas merek menjadi semakin dekat satu sama
lain. Perantaraan dari komunitas merek dan media sosial mengarah pada konsep
yang disebut social media based brand community. Seperti pernyataan Rheingold
(1991), orang-orang menggunakan teknologi untuk apa yang selalu mereka
lakukan, sama halnya dengan komunitas baru ini untuk tujuan yang sama. Tujuan
penulis adalah menunjukan bagaimana setiap elemen-elemen komunitas merek
dapat mempengaruhi kepercayaan merek.
Seperti definisi McAlexander et al. (2002, p.38), sebuah komunitas terdiri
dari entitasnya dan hubungan diantaranya. Jadi, sebuah social media based brand
community terdiri dari merek, produk, konsumen, perusahaan, dan media sosial,
yang merupakan platform perusahaan tersebut untuk eksis. McAlexander dan rekan
menunjukan bahwa event, seperti brandfest membawa anggota dan elemen-element
dari komunitas kepada interaksi konteks tinggi. Interaksi-interaksi seperti
pengalaman konsumsi yang bermakna, informasi yang berguna dan sumber daya
bernilai lainnya dibagikan diantara anggota dan pemasar, akan menghasilkan
semakin kuatnya ikatan antara seluruh elemen dari centric model of brand
Gambar 1.7 Customer centric model of brand community
Sumber: McAlexander et al., 2002, p.39
Penulis percaya bahwa media sosial mampu menyediakan interaksi yang
tinggi diantara elemen-elemen komunitas merek. Ketika anggota mengakses ke
media sosial, dan menjelajah di halaman merek, memberi komentar, berbagi foto
dan pengalaman, berinteraksi dengan pemasar, bertanya tentang produk atau
menjawab komentar, anggota tersebut sudah terlibat dalam aktivitas komunitas,
sehingga komunitas yang tidak terlihat menjadi terlihat. Dalam interaksi ini, sumber
daya dipertukarkan, informasi dan nilai dibagikan diantara anggota, sehingga tali
komunitas semakin kuat.
Social media based brand community sama seperti offlinebrand community,
dapat memperkuat ikatan antara customer centric model dari komunitas merek,
misalnya, hubungan antara konsumen dan merek, produk, perusahaan dan
konsumen lain.
Salah satu dampak dari membangun dan meningkatkan komunitas merek
Schouten, 1998; McAlexander et al., 2002; Muniz dan O’Guinn 2001; Schau et al.,
2009, dkk). Bahkan McAlexander et al. (2002) menyertakan bahwa efek koulatif
dari meningkatkan hubungan dalam customer centric model akan menghasilkan
loyalitas konsumen.
Menurut literatur tentang loyalitas dan kepercayaan, kepercayaan adalah
salah satu akar dari loyalitas (Chaudhuri dan Holbrook, 2001; Chiu, Huang, dan
Yen, 2010, dkk). Mengingat bahwa komunitas online, dalam bentuk struktur sosial,
memiliki dampak terhadap kepercayaan dan loyalitas (Ba, 2001; Walden, 2000).
Meningkatnya hubungan antara customer centric model dalam komunitas merek
dapat meningkatkan kepercayaan merek, yang memiliki dampak positif terhadap
loyalitas merek. Kepercayaan merek dapat diartikan sebagai dampak dari
komunitas merek terhadap loyalitas merek.
Chauduri dan Holbrook (2001, p. 82) mendefinisikan kepercayaan merek
sebagai keinginan dari rata-rata konsumen untuk bergantung pada kemampuan
merek tersebut untuk berfungsi sebagaimana harusnya. Ketika keraguan muncul,
informasi yang tidak akurat atau ketakutan, kepercayaan memainkan peranan
penting dalam menurunkan keraguan dan kurangnya informasi. Hal ini
mengakibatkan konsumen merasa nyaman dengan merek yang dipercayainya (Chiu
et all., 2010; Doney dan Cannon, 1997, dkk.).
Setidaknya ada dua mekanisme untuk meningkatkan hubungan antara
konsumen dan elemen merek yang dapat meningkatkan kepercayaan merek.
Pertama, interaksi yang berulang dan hubungan jangka panjang dianggap sebagai
kunci dalam menumbuhkan kepercayaan (Holmes, 1991). Meningkatnya hubungan
kepercayaan merek. Peningkatan hubungan terjadi seiringan dengan pertukaran
informasi dan diseminasi antara berbagai elemen dari merek, yang dapat menekan
informasi yang tidak tepat, menurunkan keraguan, dan meningkatkan prediktivitas
merek. (Ba, 2001; Lewicki dan Bunker, 1995) yang berujung pada peningkatan
kepercayaan.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti
merumuskan permasalahan yang ingin diketahui dari penelitian ini yaitu, apakah
ada pengaruh setiap elemen centric model of brand community (variabel hubungan
pelanggan dengan produk, merek, perusahaan, pelanggan lain) terhadap
kepercayaan merek Indomie.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh setiap elemen centric
model of brand community (based on social media) terhadap kepercayaan merek
Indomie.
1.4 Manfaat Penelitian A. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang diperoleh dari penelitian ini:
1.* Penelitian ini diharapakan dapat memberi manfaat mengenai pengaruh
setiap elemen centric model of brand community (based on social
2.* Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi
peneliti-peneliti lain, sebagai referensi teoritis maupun empiris.
3.* Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan dapat
menjadi tambahan dalam teknik pengukuran konsep brand community
dan kepercayaan merek
B.Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
pengaruh setiap elemen centric model of brand community(based on social media)
terhadap kepercayaan merek sehingga menjadi masukan yang berguna bagi para
pelaku bisnis khususnya dan manajer merek dalam strategi pemasaran.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda terlihat bahwa variabel
independen yang memiliki pengaruh terhadap kepercayaan merek adalah sebagai
berikut:
1.* Hubungan pelanggan – produk (P) memiliki dampak positif dan signifikan
terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05.
2.* Hubungan pelanggan – merek (B) tidak memiliki dampak positif terhadap
kepercayaan merek (BT) karena tidak reliabel nilai Cronbach’s Alpha ≤ 0,7.
3.* Hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki dampak positif dan
signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05.
4.* Hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki dampak positif dan
signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,006 ≤ 0,05.
Berdasarkan hasil uji F, terlihat bahwa variabel independen secara
bersama-sama mempengaruhi kepercayaan merek dengan nilai signifikansi sebesar 0,000.
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi menunjukan bahwa variabel
independen mempengaruhi variabel dependen yaitu kepercayaan merek sebesar
5.1.1 Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil dari kuesioner yang disebar terhadap 200 orang, terdapat
53% responden adalah laki-laki, sedangkan 47% adalah perempuan. Berdasarkan
usia, mayoritas responden berusia 21-30 tahun sebanyak 136 responden (68%), dan
mayoritas memiliki mayoritas pendidikan terakhir adalah S1 dan SMA dengan
masing-masing 103 responden (51,5%) dan 40 responden (20%). Sedangkan
berdasarkan jenis pekerjaan, mayoritas responden bekerja sebagai pegawai swasta
dan wiraswasta dengan persentase masing-masing 28% dan mayoritas responden
adalah dengan tingkat pendapatan > Rp. 5.000.000.
Mayoritas dari responden memiliki frekuensi 3-5 kali mengkonsumsi
produk Indomie setiap bulannya (32%), dan mengikuti komunitas media sosial
lainnya sebanyak 102 responden dan Facebook sebanyak 32 responden (18%).
Media sosial lainnya dapat berupa Youtube yang tidak disebutkan dalam kuesioner.
5.1.2 Jawaban Responden
Di dalam kuesioner yang dibagikan kepada para responden, terdapat 16
butir item pertanyaan yang perlu dijawab. Hasilnya kuesioner disajikan dalam tabel
Tabel 5.1
Rekapitulasi dari Tingkat Setuju Tertinggi
Variabel No Pertanyaan
Jawaban Kategori Setuju Tidak Setuju Product 1
Saya suka dengan produk
dari Indomie
96,86% 3,14% Setuju
2
Saya bangga dengan
produk Indomie
96,78% 3,22% Setuju
3
Produk Indomie adalah
salah satu harta yang
berharga
74,33% 25,67% Setuju
4
Produk Indomie
menyenangkan untuk
dikonsumsi
95,24% 4,76% Setuju
Brand 5
Saya menghargai sejarah
dari merek Indomie
83,87% 16,13% Setuju
6
Jika saya mengganti
produk Indomie, saya
akan mengganti dengan
produk lain dari merek
yang sama
57,57% 42,43% Setuju
7
Merek Indomie
berkualitas paling tinggi
Company 9
Perusahaan Indomie
mengerti yang saya
butuhkan
63,17% 36,83% Setuju
10
Perusahaan Indomie
peduli terhadap
pendapat-pendapat saya
78,16% 21,84% Setuju
Other
Customers 11
Saya bertemu dengan
banyak orang karena
komunitas Indomie
21,84% 78,16%
Tidak
Setuju
12
Saya memiliki hubungan
kekeluargaan dengan
pelanggan lain
39,11% 60,89%
Tidak
Setuju
13
Saya memiliki
ketertarikan dengan merek
Indomie karena pelanggan
lain
46,65% 53,35%
Tidak Setuju Brand Trust 14 Merek Indomie
memberikan semua yang
saya harapkan dari produk
93,36% 6,64% Setuju
15
Saya mengandalkan
merek Indomie
89,08% 10,92% Setuju
16
Merek Indomie tidak
pernah mengecewakan
saya
Dari Tabel 5.1 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden setuju
dengan pernyataan yang diberikan penulis. Jawaban tertinggi dimana responden
setuju sebesar 96,86% terhadap pertanyaan saya suka dengan produk dari Indomie
dan pertanyaan dengan tingkat setuju terendah sebesar 78,16% terhadap saya
bertemu dengan banyak orang karena komunitas Indomie
5.1.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas seluruh pertanyaan untuk
variabel P, C, O dan variabel BT dianggap valid karena nilai r hitung ≥ r tabel yaitu
0,30. Pertanyaan untuk variabel P, C dan O dianggap reliabel, sedangkan
pertanyaan untuk variabel hubungan pelanggan – merek (B) dianggap tidak reliabel
karena memiliki nilai Cronbach’s Alpha 0,362 ≤ 0,07.
5.1.4 Hasil Uji Asumsi Klasik
Berdasarkan hasil uji normalitas dapat disimpulkan bahwa data dalam
variabel-variabel berdistribusi normal karena nilai sig = 0,703 > 0,05. Berdasarkan
hasil uji multikolinearitas karena nilai tolerance variabel independen > 0,10, dan
nilai VIF < 10. Berdasarkan pengujian heteroskedastisitas, model regresi tidak
terjadi heteroskedastisitas karena memenuhi syarat nilai sig > 0,05.
Hasil uji t menunjukan bahwa:
1.* Hubungan pelanggan – produk (P) memiliki dampak positif dan
signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤
2.* Hubungan pelanggan – merek (B) tidak memiliki dampak positif
terhadap kepercayaan merek (BT) karena tidak reliabel nilai
Cronbach’s Alpha ≤ 0,7.
3.* Hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki dampak positif dan
signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤
0,05.
4.* Hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki dampak positif
dan signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig.
0,006 ≤ 0,05.
Hasil uji F menunjukan bahwa nilai Sig. adalah 0,000 ≤ 0,05 maka model
dapat diterima. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan merek dipengaruhi
secara bersama-sama dan signifikan oleh variabel P, C, dan O. Dari hasil analisa
didapat nilai koefisien korelasi sebesar 0,687, yang berarti terjadi hubungan yang
kuat antara P, C dan O terhadap BT. Besarnya pengaruh product, company, other
customers terhadap brand trust adalah sebesar 46,3% sedangkan sisanya 53,7%
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model
penelitian ini.
5.5 Hasil Uji Regresi
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda didapat hasil sebagai
berikut:
1.* Nilai Adjusted R Square = 0,471 yang berarti variabel independen P, C dan
46,3%. Sisa 53,7 dipengaruhi oleh faktor-faktor lian di luar centric model
of brand community based on social media.
2.* Tabel ANOVA menjelaskan nilai F sebesar 58,266 dengan signifikansi uji
0,000. Dapat disimpulkan bahwa persamaan linier Y = a + bX sudah tepat
dan dapat digunakan karena nilai uji signifikansinya ≤ 0,05.
Berdasarkan hasil tersebut jika ditulis dalam bentuk standardized dari
persamaan regresinya adalah sebagai berikut:
BT = 3,309 + 0,282 P + 0,416 C + 0,111 O
Persamaan regresi berganda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.* Konstanta sebesar 3,309 ; Hal ini menunjukan jika P, C dan O memiliki nilai
0, maka nilai BT adalah 3,309.
2.* Variabel hubungan pelanggan – produk (P) memiliki koefisien sebesar
0,282. Hal ini menunjukkan jika variabel P mengalami kenaikan 1 satuan
maka nilai BT akan mengalami kenaikan 0,282. Koefisien bernilai positif
artinya variabel P memiliki dampak positif terhadap variabel kepercayaan
merek (BT), semakin tinggi P, semakin tinggi BT.
3.* Variabel hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki koefisien sebesar
0,416. Hal ini menunjukkan jika variabel C mengalami kenaikan 1 satuan
maka nilai BT akan mengalami kenaikan 0,416. Koefisien bernilai positif
artinya variabel P memiliki dampak positif terhadap variabel kepercayaan
merek (BT), semakin tinggi C, semakin tinggi BT.
4.* *Variabel hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki
koefisiensi sebesar 0,111. Hal ini menunjukkan jika variabel O mengalami
Koefisien bernilai positif artinya variabel P memiliki dampak positif
terhadap variabel kepercayaan merek (BT), semakin tinggi O, semakin
tinggi BT.
5.2 Implikasi Manajerial
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh
serta manfaat dari elemen centric model of brand community based on social media
terhadap kepercayaan merek. Pesatnya pertumbuhan jumlah pengguna internet dan
semakin populernya kehadiran media sosial, harus dapat dimanfaatkan perusahaan
dalam berkomunikasi dengan para konsumennya, maupun untuk menyatukan dan
memfasilitasi hubungan antara sesama konsumennya. Dalam media sosial,
aktivitas-aktivitas komunitas dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dan berbiaya
rendah.
Penelitian ini menunjukan bahwa dengan menciptakan dan meningkatkan
brand community based on social media, dengan memfasilitasi komunitas,
pertukaran informasi, mengingkatkan ikatan antara anggota, perusahaan dapat
meningkatkan kepercayaan merek. Kepercayaan konsumen pada merek membuat
konsumen merasa aman dan mengandalkan merek yang dipercayainya. Konsumen
belajar dari pengalaman masa lalunya, dan perilaku di masa akan datang dapat
diprediksi berdasarkan pada perilaku masa lalunya. Ketika konsumen memperoleh
pengalaman lebih dengan sebuah merek, maka mereka akan memahami merek
5.3 Keterbatasan Penelitian dan Saran
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengaruh setiap elemen
centric model of brand community based on social media terhadap kepercayaan
merek Indomie. Penelitian ini mengambil sample secara acak dari pengguna media
sosial media Indomie untuk memperoleh data secara umum.
Meskipun hasil dari penelitian ini menunjukan pengaruh postif terhadap
kepercayaan merek, dalam penelitian ini penulis memiliki beberapa keterbatasan,
yaitu penelitian ini berfokus pada media sosial yang tidak selalu dapat menjadi
lingkungan yang ideal untuk suatu merek. Dalam beberapa kasus, media sosial
dapat menjadi lingkungan yang beresiko untuk bisnis, dimana konsumen berkuasa
dan tidak dapat dibatasi. Konsumen mampu berinteraksi, berbicara, dan
menyuarakan opininya secara bebas dan perusahaan tidak mampu untuk mengatur
informasi yang beredar mengenai perusahaan tersebut menurut (Ward & Ostrom,
2006). Terlebih dari itu, konsumen dapat menyuarakan keluhan secara online ketika
mereka tidak puas atau kecewa dengan sebuah merek (Ward & Ostrom, 2006).
Informasi negatif yang beredar dapat bersifat fatal bagi perusahaan.
Untuk itu perusahaan harus lebih berhati-hati dengan aktivitas dalam media
sosial dan aktivitas-aktivitas lainnya. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai
pengaruh negatif dari social media based brand communities dan teknik yang
efektif untuk mengatur komunitas media sosial tersebut. Untuk penelitian
selanjutnya, diharapkan untuk menambah variabel brand loyalty yang merupakan
tujuan akhir dan Holy Grail untuk bisnis. Selain itu diharapkan penelitian
selanjutnya melakukan perbandingan dengan merek mie instan lainnya yang
DAFTAR PUSTAKA
Aaker, David. (1991), Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name, Free Press, New York.
Anderson, P. H. (2005). Relationship Marketing and Brand Involvement of Professionals Through Web-Enhanced Brand Communities: The Case of Coloplast. Industrial Marketing Management, 34(3), 285–297.
Assael, H. (1992). Consumer Behavior & Marketing Action, Fourth Edition, New York: Kent Publishing Company.
Alma, Buchari. (2008). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfabeta, Bandung.
Chaudhuri, A., dan Holbrook, M. B. (2001). The Chain of Effects from Brand Trust and Brand Affect to Brand Performance: The Role of Brand Loyalty.
Journal of Marketing, 65 (April), 81–93.
Chaudry, Karan dan Krishnan, Venkat R. (2007). Impact of Corporate Social Responsibility and Transformational Leadership on Brand Community.
Sage Publication.
Davidson, McNeil dan Ferguson. (2007). “Brand Community in Magazine Consumption. Intrnational Journal of Sociology and Social Policy.
Durianto, D., Sugiarto, dan Sitinjak, T. (2004). Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Edelman, D. C. (2010). Branding in Digital Age. You’re Spending Your Money in All The Wrong Places. Harvard Business Review.
Elliott, R., dan Wattanasuwan, K. (1998). Brands as Symbolic Resources for The Construction of Identity. International Journal of Advertising, 17(2), 131– 144.
Tjiptono, Fandy. (1999). Strategi Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Tjiptono, Fandy. (2008), Strategi Bisnis Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Rangkuti, Freddy. (2006). Riset Pemasaran. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Gommans, Marcel, Krishnan, Krish S. dan Scheffold, Katrin B. (2001). From Brand Loyalty to E-Loyalty: a Conceptual Frame work. Journal of Economic and Social Research. 3(1). 43-58.
Gounaris, S., Stathakopoulos, V. (2004), Antecedents and consequences of brand loyalty: an empirical study, Journal of Brand Management, Vol. 11 No.4, pp.283-306.
Hasibuan, Malayu. (2002). Manajemen Dasar: Pengertian dan Masalah. Bumi Aksara, Jakarta.
Mowen, J. C., dan Minor, Michael. (2002). Perilaku Konsumen. Erlangga, Jakarta.
Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53, 59–68.
Keller, K. L. (2006). Branding and Brand Equity in B. A. Weitz and R. Wensley
(Eds.), Handbook of Marketing. London: Sage.
Kotler, Philip. (2002). Manajemen Pemasaran, Analisa perencanaan, Implementasi dan control, Edisi Kesembilan, Jilid 1 dan Jilid 2, Jakarta, Prehalindo, alih bahasa oleh Hendra Teguh S.E.,A.K., dan Ronny A. Rusli, S.E.
Kotler, Philip. (2003). Manajemen Pemasaran, Edisi Kesebelas, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kotler, Philip dan Armstrong, Garry. (2008). Prinsip-prinsip Pemasaran, Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Kotler, Philip dan A.B. Susanto. (2001). Manajemen Pemasaran di Indonesia, Jilid 2. Salemba Empat.. Jilid II. Jakarta.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2007). Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua Belas, Jilid 1 dan Jilid 2, dialihbahasakan oleh Benjamin Molan, Jakarta: PT Indeks.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2008). Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua Belas, Cetakan Ketiga, PT. Indeks, Jakarta.
Kotler, Philip. (2000)gg. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium. Jilid 1 dan Jilid 2. PT. Prenhalindo; Jakarta.
Hsu, H. Y., & Tsou, H.-T. (2011). Understanding Customer Experiences in Online Blog Environments. International Journal of Information Management, 31(6), 510–523.
Lang, B. (2010). Ipsos OTX study: People Spend More Than Half Their Day Consuming Media. The Wrap.
Markplus Netizen Survey. (2012). Diakses pada 16 Oktober 2015, dari https://dailysocial.id/post/markplus-insight-jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-capai-61-juta-orang/
McAlexander, J. H., Schouten, W. J., & Koening, F. H. (2002). Building Brand Community. Journal of Marketing, 66(1), 38–54.
Michel Laroche, Mohammad Reza Habibi, Marie-Odile Richard (2012). To Be or Not To Be in Social Media: How Brand Loyalty is Affected by Social Media?. Monreal, Canada.
Muniz, A.M. Jr. And T.C. O’Guinn (1995). Brand Community, Journal of Consumer Research, 27(4): 412-32.
Muniz, M. A., & O’Guinn, C. T. (2001). Brand Community. Journal of Consumer Research, 27(4), 412–432.
Noviandari, Lina. (2015). Statistik Pengguna Internet dan Media Sosial Terbaru di
Indonesia. Diakses pada 16 Oktober 2015, dari
https://id.techinasia.com/talk/statistik-pengguna-internet-dan-media-sosial-terbaru-di-indonesia/
Resnick, Mark (2001). “Increasing Brand Equity With Interactive On-Line Communities”, Journal of E-Business, Vol. 1, Issue 2.
Rheingold, H. (1991). A Slice of Life in My Virtual Community. In L. M. Harasim (Ed.), Global Networks (pp. 57–80). Cambridge, MA: MIT Press.
Sarason, S. B. (1974). The Psychological Sense of Community: Prospects for The Community Psychology. San Francisco: Jossey-Bass.
Schau, J. H., Muniz, M. A., & Arnould, J. E. (2009). How Brand Community Practices Create Value. Journal of Marketing, 73(5), 30–51.
Schouten, J. McAlexander, J. H. 1995. "Subcultures of Consumption: An Ethnography of the New Bikers". Journal of Consumer Research, 22 (3): 43–61.
Tardini, S., & Cantoni, L. A. (2005). A Semiotic Approach to Online Communities: Belonging, Interest and Identity in Websites’ and Video Games’ Communities. In Proceedings, IADIS International Conference (pp. 371– 378).
Top Brand Index Fase 1. (2015). Diakses pada 16 Oktober 2015, dari
http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2015_fase_1
Von Hippel, E. (2005). Democratizing Innovation. Boston: MA: The MIT Press.
Zhou, Z., Zhang, Q., Chenting, Su, & Zhou, Nan. (2011). How Do Brand Communities Generate Brand Relationships? Intermediate Mechanisms.