• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Elemen Centric Model of Brand Community (Based On Social Media) terhadap Brand Trust Merek Indomie.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pengaruh Elemen Centric Model of Brand Community (Based On Social Media) terhadap Brand Trust Merek Indomie."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Kemajuan di bidang teknologi, komputer dan telekomunikasi mendukung perkembangan teknologi internet. Dengan adanya intenet, konsumen maupun perusahaan tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh berbagai informasi. Penggunaan internet dalam bisnis mengubah fungsi dari alat pertukaran informasi menjadi alat untuk mengaplikasikan strategi bisnis, seperti: pemasaran, penjualan maupun pelayanan pelanggan. Dalam penelitian ini akan membahas tentang bagaimana elemen-elemen dari centric model of social media based brand community yang meliputi hubungan antara konsumen dengan produk, merek, perusahaan dan konsumen lainnya dapat mempengaruhi brand trust merek Indomie. Penelitian menggunakan metode regresi linear berganda terhadap 200 responden dengan menggunakan SPSS 16.0. Pengaruh centric model of social media based brand community terhadap brand trust adalah sebesar 46,3%.

Indomie berupaya untuk meningkatkan brand trust lewat komunitas sosial media. Hubungan antara konsumen dengan produk, perusahaan dan konsumen lainnya akan membuat konsumen semakin percaya dengan merek Indomie.

(2)

ABSTRACT

Advancements in technology, computers and telecommunications supporting the development of Internet technology. With intenet, consumers and companies no longer have difficulty in obtaining information. The use of internet in the business has changed the function of the information exchange tool into a tool for applying business strategies, such as: marketing, sales and customer service. In this research will discuss about how the elements of brand community based on social media that includes the relationship between consumers and products, brands, companies and other consumers can influence brand trust of Indomie.

The study used multiple linear regression analysis of 200 respondents by using SPSS 16.0. The influence of social media centric model of community-based brand to brand trust is at 46.3%.

Indomie seeks to increase brand trust through social media. The relationship between the consumer and the product, the company and other consumers will make consumers trust more with Indomie.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN …………iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DARTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1*Latar Belakang ... 1

1.2*Identifikasi Masalah ... 15

1.3*Tujuan Penelitian ... 15

1.4*Manfaat Penelitian ... 15

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1*Teori Penunjang ... 17

2.1.1 Pemasaran ... 17

2.1.2* Manajemen ... 18

2.1.3* Manajemen Pemasaran ... 18

2.1.4* Bauran Pemasaran ... 18

2.1.5* Produk ... 20

2.1.6* Merek ... 26

2.1.7* Ekuitas Merek Berbasis Pelanggan ... 29

2.1.8* Brand Community ... 32

2.1.9* rand Trust ... 45

2.2 Riset Empris ... 52

2.3 Pengembangan Hipotesis ... 54

2.4 Model Penelitian ... 60

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 61

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 61

3.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 63

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 63

3.5 Teknik Analisis Data ... 65

3.6 Definisi Operasional Variabel ... 72

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 76

(4)

4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 98

4.4 Uji Normalitas ... 100

4.5 Uji Multikolinearitas ... 101

4.6 Uji Heteroskedastisitas ... 102

4.7 Analisis Regresi Linear Berganda ... 103

4.8 Pembahasan ... 106

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 108

5.2 Implikasi Manajerial ... 115

5.3 Keterbatasan Penelitian dan Saran ... 116

DAFTAR PUSTAKA ... 117

LAMPIRAN ... 121

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Survei MarkPlus Insight Netizen Survey 2012 ... 2

Gambar 1.2 Survei We Are Social 2015 ... 3

Gambar 1.3 Model Komunikasi ... 4

Gambar 1.4 Top Brand Index (TBI) 2015 Fase 1 ... 5

Gambar 1.5 Global Demand for Instant Noodles ... 6

Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI) Mie Instant 2014 ... 7

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 52

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 72

Tabel 4.1 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 77

Tabel 4.2 Berdasarkan Usia ... 77

Tabel 4.3 Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ... 78

Tabel 4.4 Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 79

Tabel 4.5 Berdasarkan Tingkat Pendapatan ... 80

Tabel 4.6 Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Produk Indomie ... 81

Tabel 4.7 Berdasarkan Komunitas Sosial Media ... 82

Tabel 4.8 Saya Suka dengan Produk dari Indomie ... 83

Tabel 4.9 Saya Bangga dengan Produk Indomie ... 84

Tabel 4.10 Produk Indomie Adalah Salah Satu Harta yang Berharga ... 85

Tabel 4.11 Produk Indomie Menyenangkan Untuk Dikonsumsi ... 86

Tabel 4.12 Saya Menghargai Sejarah dari Merek Indomie ... 87

Tabel 4.13 Jika produk Indomie yang saya inginkan tidak dapat ditemukan, saya akan mengganti dengan produk lain dari merek Indomie ... 88

Tabel 4.14 Merek Indomie Berkualitas Paling Tinggi ... 89

Tabel 4.15 Perusahaan Indomie Mengerti yang Saya Butuhkan ... 90

Tabel 4.16 Perusahaan Indomie Peduli Terhadap Pendapat-Pendapat Saya ... 91

Tabel 4.17 Saya Bertemu dengan Banyak Orang Karena Komunitas Indomie 92 Tabel 4.18 Saya Memiliki Hubungan Kekeluargaan dengan Pelanggan Lain 93 Tabel 4.19 Saya Memiliki Ketertarikan dengan Merek Indomie Karena Pelanggan Lain ... 94

Tabel 4. 20 Merek Indomie Memberikan Semua yang Saya Harapkan dari Produk ... 95

Tabel 4.21 Saya Mengandalkan Merek Indomie ... 96

Tabel 4.22 Merek Indomie Tidak Pernah Mengecewakan Saya ... 97

Tabel 4.23 Hasil Uji Validitas ... 98

Tabel 4.24 Hasil Uji Reliabilitas ... 99

Tabel 4.25 Hasil Uji Normalitas ... 100

Tabel 4.26 Hasil Uji Multikolinearitas ... 101

Tabel 4.27 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 102

Tabel 4.28 Hasil Uji ANOVA ... 103

Tabel 4.29 Hasil Uji Pengaruh Secara Simultan (PCO-BT) ... 104

Tabel 4.30 Hasil Uji Parsial ... 104

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 121

Lampiran 2 Tabulasi Jawaban Kuesioner ... 124

Lampiran 3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Product ... 129

Lampiran 4 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Brand ... 131

Lampiran 5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Company ... 133

Lampiran 6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Other Customers .. 135

Lampiran 7 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Brand Trust ... 137

Lampiran 8 Hasil Uji Normalitas ... 139

Lampiran 9 Hasil Uji Multikololinearitas ... 140

Lampiran 10 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 141

Lampiran 11 Hasil Uji Regresi ... 142

Lampiran 12 ... 143

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persaingan global yang semakin ketat menuntu perusahaan untuk terus

bersaing dalam memasarkan dan menjual produknya. Perusahaan harus memiliki

strategi yang tepat untuk mempertahankan produknya tetap dikonsumsi oleh

konsumen secara terus menerus. Hal penting yang harus diperhatikan dan dilakukan

oleh setiap perusahaan adalah menciptakan pelanggan-pelanggan baru dan

mempertahankan pelanggan lama. Selain itu, perusahaan juga harus mampu

melihat peluang dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk dapat terus

memasarkan secara efektif dan efisien.

Kemajuan di bidang teknologi, komputer dan telekomunikasi mendukung

perkembangan teknologi internet. Dengan adanya intenet, konsumen maupun

perusahaan tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi apapun,

untuk menunjang aktivitas bisnisnya bahkan untuk memperoleh berbagai

informasi. Penggunaan internet dalam bisnis mengubah fungsi dari alat pertukaran

informasi menjadi alat untuk mengaplikasikan strategi bisnis, seperti: pemasaran,

penjualan maupun pelayanan pelanggan.

Intenet hadir pertama kali di Indonesia diawal tahun 1990an. Dengan

pengguna internet awal yang hanya berjumlah 110.000 orang dan saat itu dianggap

sebagai barang mewah yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Hasil survei

MarkPlus Insight (2012), jumlah penggunan internet di Indonesia pada akhir tahun

(9)

Pengguna internet di Indonesia per akhir taun 2012 mencapai angka 61,08 juta.

Angka tersebut naik 11% ketimbang tahun 2011. Diperkirakan pada tahun 2014

jumlah pengguna internet di Indonesia akan mencapai 71 juta. Angka-angka

tersebut tercantum pada Gambar 1.1, perihal Survei MarkPlus Insight Netizen

2010-2012, yang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan jumlah pengguna

internet di Indonesia sejak dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012

Gambar 1.1 Survei MarkPlus Insight Netizen Survey 2012

Sumber: DailySocial.net, 2012

Menurut data terbaru dari We Are Social yang tercantum pada Gambar 1.2,

angka pengguna internet di Indonesia telah mencapai 88,1 juta, dengan penetrasi

(10)

Gambar 1.2 Survei We Are Social 2015

Sumber: id.techinasia.com, 2015

Konsumen rata-rata menghabiskan sepertiga waktunya dalam online social

media (Lang, 2000). Kepopuleran dan kemampuan dari komunitas virtual untuk

menghubungkan orang dan bisnis yang memiliki kesamaan membuat beberapa ahli

dan peneliti secara antusias mendorong untuk bisnis berada di media sosial dan

untuk mengambil keuntungan dari media sosial jika ingin terus bertahan (Kaplan &

Haenlein, 2010).

Sebagian besar masyarakat Indonesia telah menjadikan media sosial sebagai

bagian dari gaya hidup mereka. Menurut majalah Marketing Mix edisi Januari

2012, dengan menggunakan media sosial kita dapat berinteraksi, berbagi informasi,

dan berdiskusi satu sama lain. Berdasarkan Gambar 1.2, 79 juta orang Indonesia

merupakan pengguna media sosial aktif, dan 67 juta pengguna aktif sosial mobile.

Internet khususnya sosial media telah mengubah cara orang dalam

(11)

komunikasi dua arah many to many. Komunikasi one to many menjadi many to

many berkembang pada era new media.

Menurut Lesmana (2012:1), new media adalah istilah yang lebih luas dalam

studi media yang muncul di bagian akhir abad ke-20 yang mengacu pada

permintaan akses ke konten kapan saja, dimana saja, pada perangkat digital, serta

umpan balik dari pengguna secara interaktif, partisipasi secara kreatif dan

pembentukan komunitas sekitar konten media. Salah satu fenomena new media

adalah tumbuhnya media sosial.

Gambar 1.3 Model Komunikasi

Berdasarkan Gambar 1.3, pada model one to many, interaksi yang terjadi

adalah interaksi satu arah dari perusahaan atau marketer kepada konsumen.

Sedangkan pada model many to many, interaksi yang terjadi adalah interaksi

timbal-balik. Terjadi interaksi antara konsumen dengan konsumen, yang

menjadikan konsumen sebagai medium dalam penyebaran informasi.

PT. Indofood Sukses Makmur TBk, Noodles Division merupakan

perusahaan fast moving consumer good yang memproduksi mie instan yang

(12)

awareness, brand image, brand satisfaction, brand trust, dll. Produk mie yang

diproduksi oleh PT. Indofood Sukses Makmur TBk, Noodles Division yaitu

Indomie, Sarimi, Supermi, Nikimiku dan Sakura. Kelima produk ini memiliki pasar

serta pangsa pasar yang berbeda-beda. Dalam Top Brand Index (TBI) periode

2006-2008, Indomie menduduki posisi pertama dengan TBI berturut-turut 65,8% ,

66,5% , dan 71,4% pada tahun 2006, 2007, dan 2008 (David, S.S., 2008, Majalah

Marketing-Edisi Khusus TOP BRAND). Di Tahun 2015, Indomie semakin

mendominasi pasar dengan 75,9% market share berdasarkan Gambar 1.4.

Gambar 1.4 Top Brand Index (TBI) 2015 Fase 1

Indonesia sendiri menduduki posisi kedua setelah China sebagai negara

dengan permintaan mie instan tertinggi. Berdasarkan Gambar 1.5, di tahun 2014,

China memiliki nilai global demand mie instan pada angka 44,4 miliar bungkus,

sedangkan Indonesia mengalahkan Jepang dengan global demand 13,43 miliar

(13)

Gambar 1.5 Global Demand for Instant Noodles

Sumber: World Instant Noodles Association, 2015

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, potensi

industri ini sangat besar dan menjanjikan, apalagi tren masyarakat Indonesia yang

mulai bergeser ke arah makanan instan. Mie instan merupakan salah satu produk

paling diminati konsumen Indonesia. Menurut New Business Development

Director Worldpanel Indonesia (Murhayati, 2014), konsumen Indonesia adalah

konsumen tersibuk jika dibandingkan dengan konsumen negara lain. Selama

setahun, konsumen Indonesia bisa berbelanja 400 kali atau sekitar 31 kali dalam

sebulan.

Menurut Indonesian Commercial Newsletter tahun 2009, tercatat terdapat

sekitar 20 produsen mie instan di Indonesia, baik perusahaan berskala besar

maupun kecil. Industri mie kering yang dikemas bersama bumbunya atau yang

lebih populer disebut mie instan, relatif cukup lama berdiri di Indonesia. Sebut saja,

(14)

Dimulai sekitar tahun 1969 oleh PT Supermie Indonesia yang dianggap

sebagai salah satu perintis di bidang industri ini. Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI)

2014 menunjukan angka market share dari dua pemimpin pasar mie instan di

Indonesia. Kedua merek ini terpaut cukup jauh, Indomie di tahun 2014 meraih

indeks 75,9%, sedangkan Mie Sedaap 14,4%.

Gambar 1.6 Top Brand Index (TBI) Mie Instant 2014

Sumber: www.marketing.co.id, 2014

Hasil Survei Brand 2008 yang digelar Mars dan SWA pun menunjukkan

dominasi market leader Indomie di kategori mie instan. Pada aspek Top of Mind

Advertising (TOM Ad), Indomie mencatat angka 73,2%, sedangkan Mie Sedaap

hanya meraih 18,7%. Begitu pula untuk Top of Mind Brand, Indomie mencatat

angka 72,9%; sedangkan Mie Sedaap berada di angka 18,7%. Untuk Brand Share

pun terpaut jauh: Indomie meraih 73,5 dan Mie Sedaap 19,8. Hanya saja untuk

aspek Satisfaction, Indomie harus berbenah diri. Meski terpaut cukup jauh,

gebrakan Wings Food yang boleh di bilang pemain paling baru di bisnis mie instan

(15)

Indomie 99,2. Hasil keseluruhan Brand Value, Indomie dominan di angka 73,3%

dan Mie Sedaap di angka 19,1% (www.swa.co.id, 2008).

Indomie sendiri sudah lama meramaikan pasar mie instan jauh sebelum Mie

Sedaap. Merek mie instan dari PT. Indofood Sukses Makmur TBk ini hadir sejak

tahun 1970-an. Produk Indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah Indomie

Kuah Rasa Kaldu Ayam. Kemudian pada tahun 1982 penjualan Indomie

mengalami peningkatan yang sangan signifikan, seiring diluncurkannya varian

Indomie Kuah Rasa Kari Ayam. Puncaknya pada tahun 1983, produk Indomie

semakin digemari konsumen Indonesia dengan diluncurkannya varian Indomie Mi

Goreng. Dengan indeks market share rata-rata 70%, dan kapasitas produksi lebih

dari 13 miliar bungkus per tahun, Indomie menjadi rajanya pasar mie instan di

Indonesia.

Indomie sendiri aktif dalam berbagai sosial media seperti Facebook

(https://www.facebook.com/Indomie/), Twitter (http://twitter.com/Indomielovers),

Youtube (http://www.youtube.com/user/indofoodvideos) dan Instagram

(https://www.instagram.com/indomie/). Indomie sampai dengan akhir Januari 2016

memiliki 1,451 juta pengikut di Facebook, 215 ribu pengikut di Twitter, 891

pengikut dan total 1,4 juta penonton di Youtube dan 25.1 ribu pengikut di

Instagram.

Indomie merupakan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk

mengkomunikasikan produknya, maupun untuk berinteraksi dengan konsumennya.

Indomie sendiri pernah memenangi berbagai awards, seperti Media Social Award

2014 yang diadakan PT Frontier Consulting Group dan Majalah Marketing untuk

(16)

Terlepas dari pentingnya branding dan tingkat adopsi yang tinggi dari

media sosial, sangat sedikit studi empiris (e.g., Hsu & Tsou, 2011) yang berkaitan

dengan isu ini. Kebanyakan studi berfokus pada pemasaran dan branding di media

sosial termasuk narasi deskriptif dari media sosial, definisi,

karakteristik-karakteristik dan kebanyakan memberi saran dan strategis kepada para pemasar dan

bisnis dalam mengambil keuntungan dari peluang-peluang dan mengatasi

tangangan-tantangannya. (Edelman, 2010; Hanna, Rohm, & Crittenden, 2011;

Kaplan & Haenlein, 2010; Kietzmann, Hermkens, & McCarthy, 2011). Jadi, ada

kebutuhan penting dalam literatur untuk mengkesplorasi efek dari branding dalam

variabel-variabel marketing berhubungan dengan media sosial.

Dalam perspetif dari brand community building (McAlexander, Schouten &

Koening, 2002; Muniz & O’Guinn, 2001), tujuan penulis adalah untuk menunjukan

bagaimana elemen-elemen customer centric model (i.e., hubungan antara focal

customer dan merek, produk, perusahaan dan konsumen lain) berpengaruh terhadap

kepercayaan merek. Dalam hal ini, penulis percaya bahwa kepercayaan merek

memiliki kunci penting, di mana hal ini diabaikan oleh studi sebelumnya.

Social media based brand community terdiri dari dua konsep; media sosial

dan komunitas merek. Definisi dari media sosial: “sebuah kelompok aplikasi

berbasis internet yang membangun di atas dasar ideology dan teknologi Web 2.0,

dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content

(Kaplan dan Haenlein (2010).” Definisi ini menekankan bahwa konten tidak

dikonsumsi secara pasif oleh orang-orang. Melainkan, konten diciptakan,

(17)

pada pentingnya users actively generating content (UCG) dalam konteks yang

berbeda-beda.

Menurut klasifikasi Benson & Morgan (2014:384), media sosial di sini

mencakup berbagai aplikasi berbasis internet dan bersifat virtual-interaktif, baik

media sharing seperti wiki, blogging seperti wordpress dan blogspot, content

communities seperti Youtube, dan social networking sites seperti Facebook,

LinkedIn, dan Twitter. Layanan yang diberikan masing-masing media sosial

berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu kemudian menjadi

keunggulan masing-masing. Tetapi secara umum layanan yang ada pada media

sosial meliputi chatting, berbagi pesan (messaging), berbagi video atau foto,

berbagi posting kata-kata, forum diskusi, blog dan lain-lain.

Menurut Kindarto (2010:1) media sosial adalah suatu struktur sosial yang

dibentuk dari simpul-simpul (yang pada umumnya adalah individu atau

organnisasi), yang diikat dengan satu tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide,

teman, komunitas, dan lain sebagainya. Artinya, terdapat struktur kompleks yang

dipertahankan sebagai identitas media sosial tersebut.

Muniz dan O’Guinn (2001, p. 412) mendefinisikan komunitas brand

sebagai sebuah “komunitas spesifik, tidak terbatas oleh batasan geografis,

berdasarkan struktur hubungan sosial antara anggotanya yang menyukai merek

tertentu. Sama seperti komunitas lainnya, komunitas merek terdiri dari entitas

termasuk anggotanya, hubungannya dan berbagi sumber daya esensial baik

emosional maupun material. Terlebih dari itu, McAlexander et al. (2002, p.38)

berargumen bahwa hal yang paling penting untuk dibagikan di komunitas merek

(18)

cerita merek, membantu dalam penggunaan merek dan mempengaruhi loyalitas

merek secara positif (Muniz & O’Guinn, 2001). Contoh-contoh media sosial yang

berkembang luas saat ini adalah Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, dll.

Menurut literatur-literatur media sosial dan komunitas merek, orang-orang

memiliki insentif masing-masing untuk bergabung. Salah satu kebutuhan esensial

psikologis adalah untuk merasa terhubung secara sosial (Sarason, 1974); maka dari

itu, bergabung dengan medial sosial dan terhubung dengan orang-orang dapat

memenuhi kebutuhan kepemilikan (Gangadharbhatla, 2008; Tardini & Cantoni,

2005). Keinginan interaksi sosial dinyatakan sebagai salah satu motivasi konsumen

untuk ikut dalam aktivitas memberikan konten dalam lingkungan online

(Hennig-Thurau, Gwinner, Walsh & Gremler, 2004). Berbelanja, penelitian, hiburan dan

menghasilkan uang adalah beberapa tujuan lain dari berkontribusi di media sosial

(Zhou, Zhang, Chenting & Zhou, 2011a). Orang-orang juga bergabung dalam

komunitas merek untuk memenuhi kebutuhan untuk dapat diidentifikasi dengan

grup atau simbol(Elliot & Wattanasuwa, 1998; Grayson & Martinec, 2004;

Schembri, Merrilees, & Kristiansen, 2010).

Lebih daripada itu, komunitas merek mendukung anggota-anggotanya

dalam hal berbagi informasi yang diperlukan dari berbagai sumber (Szmigin &

Reppel, 2001) dan meninggikan nilai-nilai (Schau, Muniz, & Arnould, 2009).

Komunitas merek menyediakan kesempatan untuk dapat berhubungan dengan

konsumen yang berdedikasi tinggi (Anderson, 2005), untuk dapat berkomunikasi

secara efektif dengan konsumen lain dan mendapatkan nilai yang berharga darinya

(Von Hipel, 2005), dan untuk menciptakan bersama nilai dari interaksi dekat

(19)

paling besar dari perusahaan dalam mendukung komunitas merek adalah

meningkatkan loyalitas merek, yang juga disebut “Holy Grail” untuk bisnis

(McAlexander et al., 2002, p.38).

Terlepas dari motivasi untuk bergabung dengan media sosial dan komunitas

merek, konsep media sosial dan komunitas merek menjadi semakin dekat satu sama

lain. Perantaraan dari komunitas merek dan media sosial mengarah pada konsep

yang disebut social media based brand community. Seperti pernyataan Rheingold

(1991), orang-orang menggunakan teknologi untuk apa yang selalu mereka

lakukan, sama halnya dengan komunitas baru ini untuk tujuan yang sama. Tujuan

penulis adalah menunjukan bagaimana setiap elemen-elemen komunitas merek

dapat mempengaruhi kepercayaan merek.

Seperti definisi McAlexander et al. (2002, p.38), sebuah komunitas terdiri

dari entitasnya dan hubungan diantaranya. Jadi, sebuah social media based brand

community terdiri dari merek, produk, konsumen, perusahaan, dan media sosial,

yang merupakan platform perusahaan tersebut untuk eksis. McAlexander dan rekan

menunjukan bahwa event, seperti brandfest membawa anggota dan elemen-element

dari komunitas kepada interaksi konteks tinggi. Interaksi-interaksi seperti

pengalaman konsumsi yang bermakna, informasi yang berguna dan sumber daya

bernilai lainnya dibagikan diantara anggota dan pemasar, akan menghasilkan

semakin kuatnya ikatan antara seluruh elemen dari centric model of brand

(20)

Gambar 1.7 Customer centric model of brand community

Sumber: McAlexander et al., 2002, p.39

Penulis percaya bahwa media sosial mampu menyediakan interaksi yang

tinggi diantara elemen-elemen komunitas merek. Ketika anggota mengakses ke

media sosial, dan menjelajah di halaman merek, memberi komentar, berbagi foto

dan pengalaman, berinteraksi dengan pemasar, bertanya tentang produk atau

menjawab komentar, anggota tersebut sudah terlibat dalam aktivitas komunitas,

sehingga komunitas yang tidak terlihat menjadi terlihat. Dalam interaksi ini, sumber

daya dipertukarkan, informasi dan nilai dibagikan diantara anggota, sehingga tali

komunitas semakin kuat.

Social media based brand community sama seperti offlinebrand community,

dapat memperkuat ikatan antara customer centric model dari komunitas merek,

misalnya, hubungan antara konsumen dan merek, produk, perusahaan dan

konsumen lain.

Salah satu dampak dari membangun dan meningkatkan komunitas merek

(21)

Schouten, 1998; McAlexander et al., 2002; Muniz dan O’Guinn 2001; Schau et al.,

2009, dkk). Bahkan McAlexander et al. (2002) menyertakan bahwa efek koulatif

dari meningkatkan hubungan dalam customer centric model akan menghasilkan

loyalitas konsumen.

Menurut literatur tentang loyalitas dan kepercayaan, kepercayaan adalah

salah satu akar dari loyalitas (Chaudhuri dan Holbrook, 2001; Chiu, Huang, dan

Yen, 2010, dkk). Mengingat bahwa komunitas online, dalam bentuk struktur sosial,

memiliki dampak terhadap kepercayaan dan loyalitas (Ba, 2001; Walden, 2000).

Meningkatnya hubungan antara customer centric model dalam komunitas merek

dapat meningkatkan kepercayaan merek, yang memiliki dampak positif terhadap

loyalitas merek. Kepercayaan merek dapat diartikan sebagai dampak dari

komunitas merek terhadap loyalitas merek.

Chauduri dan Holbrook (2001, p. 82) mendefinisikan kepercayaan merek

sebagai keinginan dari rata-rata konsumen untuk bergantung pada kemampuan

merek tersebut untuk berfungsi sebagaimana harusnya. Ketika keraguan muncul,

informasi yang tidak akurat atau ketakutan, kepercayaan memainkan peranan

penting dalam menurunkan keraguan dan kurangnya informasi. Hal ini

mengakibatkan konsumen merasa nyaman dengan merek yang dipercayainya (Chiu

et all., 2010; Doney dan Cannon, 1997, dkk.).

Setidaknya ada dua mekanisme untuk meningkatkan hubungan antara

konsumen dan elemen merek yang dapat meningkatkan kepercayaan merek.

Pertama, interaksi yang berulang dan hubungan jangka panjang dianggap sebagai

kunci dalam menumbuhkan kepercayaan (Holmes, 1991). Meningkatnya hubungan

(22)

kepercayaan merek. Peningkatan hubungan terjadi seiringan dengan pertukaran

informasi dan diseminasi antara berbagai elemen dari merek, yang dapat menekan

informasi yang tidak tepat, menurunkan keraguan, dan meningkatkan prediktivitas

merek. (Ba, 2001; Lewicki dan Bunker, 1995) yang berujung pada peningkatan

kepercayaan.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti

merumuskan permasalahan yang ingin diketahui dari penelitian ini yaitu, apakah

ada pengaruh setiap elemen centric model of brand community (variabel hubungan

pelanggan dengan produk, merek, perusahaan, pelanggan lain) terhadap

kepercayaan merek Indomie.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh setiap elemen centric

model of brand community (based on social media) terhadap kepercayaan merek

Indomie.

1.4 Manfaat Penelitian A. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis yang diperoleh dari penelitian ini:

1.* Penelitian ini diharapakan dapat memberi manfaat mengenai pengaruh

setiap elemen centric model of brand community (based on social

(23)

2.* Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi

peneliti-peneliti lain, sebagai referensi teoritis maupun empiris.

3.* Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan dapat

menjadi tambahan dalam teknik pengukuran konsep brand community

dan kepercayaan merek

B.Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai

pengaruh setiap elemen centric model of brand community(based on social media)

terhadap kepercayaan merek sehingga menjadi masukan yang berguna bagi para

pelaku bisnis khususnya dan manajer merek dalam strategi pemasaran.

(24)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda terlihat bahwa variabel

independen yang memiliki pengaruh terhadap kepercayaan merek adalah sebagai

berikut:

1.* Hubungan pelanggan – produk (P) memiliki dampak positif dan signifikan

terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05.

2.* Hubungan pelanggan – merek (B) tidak memiliki dampak positif terhadap

kepercayaan merek (BT) karena tidak reliabel nilai Cronbach’s Alpha ≤ 0,7.

3.* Hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki dampak positif dan

signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤ 0,05.

4.* Hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki dampak positif dan

signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,006 ≤ 0,05.

Berdasarkan hasil uji F, terlihat bahwa variabel independen secara

bersama-sama mempengaruhi kepercayaan merek dengan nilai signifikansi sebesar 0,000.

Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi menunjukan bahwa variabel

independen mempengaruhi variabel dependen yaitu kepercayaan merek sebesar

(25)

5.1.1 Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil dari kuesioner yang disebar terhadap 200 orang, terdapat

53% responden adalah laki-laki, sedangkan 47% adalah perempuan. Berdasarkan

usia, mayoritas responden berusia 21-30 tahun sebanyak 136 responden (68%), dan

mayoritas memiliki mayoritas pendidikan terakhir adalah S1 dan SMA dengan

masing-masing 103 responden (51,5%) dan 40 responden (20%). Sedangkan

berdasarkan jenis pekerjaan, mayoritas responden bekerja sebagai pegawai swasta

dan wiraswasta dengan persentase masing-masing 28% dan mayoritas responden

adalah dengan tingkat pendapatan > Rp. 5.000.000.

Mayoritas dari responden memiliki frekuensi 3-5 kali mengkonsumsi

produk Indomie setiap bulannya (32%), dan mengikuti komunitas media sosial

lainnya sebanyak 102 responden dan Facebook sebanyak 32 responden (18%).

Media sosial lainnya dapat berupa Youtube yang tidak disebutkan dalam kuesioner.

5.1.2 Jawaban Responden

Di dalam kuesioner yang dibagikan kepada para responden, terdapat 16

butir item pertanyaan yang perlu dijawab. Hasilnya kuesioner disajikan dalam tabel

(26)

Tabel 5.1

Rekapitulasi dari Tingkat Setuju Tertinggi

Variabel No Pertanyaan

Jawaban Kategori Setuju Tidak Setuju Product 1

Saya suka dengan produk

dari Indomie

96,86% 3,14% Setuju

2

Saya bangga dengan

produk Indomie

96,78% 3,22% Setuju

3

Produk Indomie adalah

salah satu harta yang

berharga

74,33% 25,67% Setuju

4

Produk Indomie

menyenangkan untuk

dikonsumsi

95,24% 4,76% Setuju

Brand 5

Saya menghargai sejarah

dari merek Indomie

83,87% 16,13% Setuju

6

Jika saya mengganti

produk Indomie, saya

akan mengganti dengan

produk lain dari merek

yang sama

57,57% 42,43% Setuju

7

Merek Indomie

berkualitas paling tinggi

(27)

Company 9

Perusahaan Indomie

mengerti yang saya

butuhkan

63,17% 36,83% Setuju

10

Perusahaan Indomie

peduli terhadap

pendapat-pendapat saya

78,16% 21,84% Setuju

Other

Customers 11

Saya bertemu dengan

banyak orang karena

komunitas Indomie

21,84% 78,16%

Tidak

Setuju

12

Saya memiliki hubungan

kekeluargaan dengan

pelanggan lain

39,11% 60,89%

Tidak

Setuju

13

Saya memiliki

ketertarikan dengan merek

Indomie karena pelanggan

lain

46,65% 53,35%

Tidak Setuju Brand Trust 14 Merek Indomie

memberikan semua yang

saya harapkan dari produk

93,36% 6,64% Setuju

15

Saya mengandalkan

merek Indomie

89,08% 10,92% Setuju

16

Merek Indomie tidak

pernah mengecewakan

saya

(28)

Dari Tabel 5.1 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden setuju

dengan pernyataan yang diberikan penulis. Jawaban tertinggi dimana responden

setuju sebesar 96,86% terhadap pertanyaan saya suka dengan produk dari Indomie

dan pertanyaan dengan tingkat setuju terendah sebesar 78,16% terhadap saya

bertemu dengan banyak orang karena komunitas Indomie

5.1.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas seluruh pertanyaan untuk

variabel P, C, O dan variabel BT dianggap valid karena nilai r hitung ≥ r tabel yaitu

0,30. Pertanyaan untuk variabel P, C dan O dianggap reliabel, sedangkan

pertanyaan untuk variabel hubungan pelanggan – merek (B) dianggap tidak reliabel

karena memiliki nilai Cronbach’s Alpha 0,362 ≤ 0,07.

5.1.4 Hasil Uji Asumsi Klasik

Berdasarkan hasil uji normalitas dapat disimpulkan bahwa data dalam

variabel-variabel berdistribusi normal karena nilai sig = 0,703 > 0,05. Berdasarkan

hasil uji multikolinearitas karena nilai tolerance variabel independen > 0,10, dan

nilai VIF < 10. Berdasarkan pengujian heteroskedastisitas, model regresi tidak

terjadi heteroskedastisitas karena memenuhi syarat nilai sig > 0,05.

Hasil uji t menunjukan bahwa:

1.* Hubungan pelanggan – produk (P) memiliki dampak positif dan

signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤

(29)

2.* Hubungan pelanggan – merek (B) tidak memiliki dampak positif

terhadap kepercayaan merek (BT) karena tidak reliabel nilai

Cronbach’s Alpha ≤ 0,7.

3.* Hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki dampak positif dan

signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig. 0,000 ≤

0,05.

4.* Hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki dampak positif

dan signifikan terhadap kepercayaan merek (BT) karena nilai Sig.

0,006 ≤ 0,05.

Hasil uji F menunjukan bahwa nilai Sig. adalah 0,000 ≤ 0,05 maka model

dapat diterima. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan merek dipengaruhi

secara bersama-sama dan signifikan oleh variabel P, C, dan O. Dari hasil analisa

didapat nilai koefisien korelasi sebesar 0,687, yang berarti terjadi hubungan yang

kuat antara P, C dan O terhadap BT. Besarnya pengaruh product, company, other

customers terhadap brand trust adalah sebesar 46,3% sedangkan sisanya 53,7%

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model

penelitian ini.

5.5 Hasil Uji Regresi

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda didapat hasil sebagai

berikut:

1.* Nilai Adjusted R Square = 0,471 yang berarti variabel independen P, C dan

(30)

46,3%. Sisa 53,7 dipengaruhi oleh faktor-faktor lian di luar centric model

of brand community based on social media.

2.* Tabel ANOVA menjelaskan nilai F sebesar 58,266 dengan signifikansi uji

0,000. Dapat disimpulkan bahwa persamaan linier Y = a + bX sudah tepat

dan dapat digunakan karena nilai uji signifikansinya ≤ 0,05.

Berdasarkan hasil tersebut jika ditulis dalam bentuk standardized dari

persamaan regresinya adalah sebagai berikut:

BT = 3,309 + 0,282 P + 0,416 C + 0,111 O

Persamaan regresi berganda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.* Konstanta sebesar 3,309 ; Hal ini menunjukan jika P, C dan O memiliki nilai

0, maka nilai BT adalah 3,309.

2.* Variabel hubungan pelanggan – produk (P) memiliki koefisien sebesar

0,282. Hal ini menunjukkan jika variabel P mengalami kenaikan 1 satuan

maka nilai BT akan mengalami kenaikan 0,282. Koefisien bernilai positif

artinya variabel P memiliki dampak positif terhadap variabel kepercayaan

merek (BT), semakin tinggi P, semakin tinggi BT.

3.* Variabel hubungan pelanggan – perusahaan (C) memiliki koefisien sebesar

0,416. Hal ini menunjukkan jika variabel C mengalami kenaikan 1 satuan

maka nilai BT akan mengalami kenaikan 0,416. Koefisien bernilai positif

artinya variabel P memiliki dampak positif terhadap variabel kepercayaan

merek (BT), semakin tinggi C, semakin tinggi BT.

4.* *Variabel hubungan pelanggan – pelanggan lainnya (O) memiliki

koefisiensi sebesar 0,111. Hal ini menunjukkan jika variabel O mengalami

(31)

Koefisien bernilai positif artinya variabel P memiliki dampak positif

terhadap variabel kepercayaan merek (BT), semakin tinggi O, semakin

tinggi BT.

5.2 Implikasi Manajerial

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh

serta manfaat dari elemen centric model of brand community based on social media

terhadap kepercayaan merek. Pesatnya pertumbuhan jumlah pengguna internet dan

semakin populernya kehadiran media sosial, harus dapat dimanfaatkan perusahaan

dalam berkomunikasi dengan para konsumennya, maupun untuk menyatukan dan

memfasilitasi hubungan antara sesama konsumennya. Dalam media sosial,

aktivitas-aktivitas komunitas dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dan berbiaya

rendah.

Penelitian ini menunjukan bahwa dengan menciptakan dan meningkatkan

brand community based on social media, dengan memfasilitasi komunitas,

pertukaran informasi, mengingkatkan ikatan antara anggota, perusahaan dapat

meningkatkan kepercayaan merek. Kepercayaan konsumen pada merek membuat

konsumen merasa aman dan mengandalkan merek yang dipercayainya. Konsumen

belajar dari pengalaman masa lalunya, dan perilaku di masa akan datang dapat

diprediksi berdasarkan pada perilaku masa lalunya. Ketika konsumen memperoleh

pengalaman lebih dengan sebuah merek, maka mereka akan memahami merek

(32)

5.3 Keterbatasan Penelitian dan Saran

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengaruh setiap elemen

centric model of brand community based on social media terhadap kepercayaan

merek Indomie. Penelitian ini mengambil sample secara acak dari pengguna media

sosial media Indomie untuk memperoleh data secara umum.

Meskipun hasil dari penelitian ini menunjukan pengaruh postif terhadap

kepercayaan merek, dalam penelitian ini penulis memiliki beberapa keterbatasan,

yaitu penelitian ini berfokus pada media sosial yang tidak selalu dapat menjadi

lingkungan yang ideal untuk suatu merek. Dalam beberapa kasus, media sosial

dapat menjadi lingkungan yang beresiko untuk bisnis, dimana konsumen berkuasa

dan tidak dapat dibatasi. Konsumen mampu berinteraksi, berbicara, dan

menyuarakan opininya secara bebas dan perusahaan tidak mampu untuk mengatur

informasi yang beredar mengenai perusahaan tersebut menurut (Ward & Ostrom,

2006). Terlebih dari itu, konsumen dapat menyuarakan keluhan secara online ketika

mereka tidak puas atau kecewa dengan sebuah merek (Ward & Ostrom, 2006).

Informasi negatif yang beredar dapat bersifat fatal bagi perusahaan.

Untuk itu perusahaan harus lebih berhati-hati dengan aktivitas dalam media

sosial dan aktivitas-aktivitas lainnya. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai

pengaruh negatif dari social media based brand communities dan teknik yang

efektif untuk mengatur komunitas media sosial tersebut. Untuk penelitian

selanjutnya, diharapkan untuk menambah variabel brand loyalty yang merupakan

tujuan akhir dan Holy Grail untuk bisnis. Selain itu diharapkan penelitian

selanjutnya melakukan perbandingan dengan merek mie instan lainnya yang

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Aaker, David. (1991), Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name, Free Press, New York.

Anderson, P. H. (2005). Relationship Marketing and Brand Involvement of Professionals Through Web-Enhanced Brand Communities: The Case of Coloplast. Industrial Marketing Management, 34(3), 285–297.

Assael, H. (1992). Consumer Behavior & Marketing Action, Fourth Edition, New York: Kent Publishing Company.

Alma, Buchari. (2008). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfabeta, Bandung.

Chaudhuri, A., dan Holbrook, M. B. (2001). The Chain of Effects from Brand Trust and Brand Affect to Brand Performance: The Role of Brand Loyalty.

Journal of Marketing, 65 (April), 81–93.

Chaudry, Karan dan Krishnan, Venkat R. (2007). Impact of Corporate Social Responsibility and Transformational Leadership on Brand Community.

Sage Publication.

Davidson, McNeil dan Ferguson. (2007). “Brand Community in Magazine Consumption. Intrnational Journal of Sociology and Social Policy.

Durianto, D., Sugiarto, dan Sitinjak, T. (2004). Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Edelman, D. C. (2010). Branding in Digital Age. You’re Spending Your Money in All The Wrong Places. Harvard Business Review.

Elliott, R., dan Wattanasuwan, K. (1998). Brands as Symbolic Resources for The Construction of Identity. International Journal of Advertising, 17(2), 131– 144.

Tjiptono, Fandy. (1999). Strategi Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Tjiptono, Fandy. (2008), Strategi Bisnis Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Rangkuti, Freddy. (2006). Riset Pemasaran. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

(34)

Gommans, Marcel, Krishnan, Krish S. dan Scheffold, Katrin B. (2001). From Brand Loyalty to E-Loyalty: a Conceptual Frame work. Journal of Economic and Social Research. 3(1). 43-58.

Gounaris, S., Stathakopoulos, V. (2004), Antecedents and consequences of brand loyalty: an empirical study, Journal of Brand Management, Vol. 11 No.4, pp.283-306.

Hasibuan, Malayu. (2002). Manajemen Dasar: Pengertian dan Masalah. Bumi Aksara, Jakarta.

Mowen, J. C., dan Minor, Michael. (2002). Perilaku Konsumen. Erlangga, Jakarta.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53, 59–68.

Keller, K. L. (2006). Branding and Brand Equity in B. A. Weitz and R. Wensley

(Eds.), Handbook of Marketing. London: Sage.

Kotler, Philip. (2002). Manajemen Pemasaran, Analisa perencanaan, Implementasi dan control, Edisi Kesembilan, Jilid 1 dan Jilid 2, Jakarta, Prehalindo, alih bahasa oleh Hendra Teguh S.E.,A.K., dan Ronny A. Rusli, S.E.

Kotler, Philip. (2003). Manajemen Pemasaran, Edisi Kesebelas, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Kotler, Philip dan Armstrong, Garry. (2008). Prinsip-prinsip Pemasaran, Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Kotler, Philip dan A.B. Susanto. (2001). Manajemen Pemasaran di Indonesia, Jilid 2. Salemba Empat.. Jilid II. Jakarta.

Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2007). Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua Belas, Jilid 1 dan Jilid 2, dialihbahasakan oleh Benjamin Molan, Jakarta: PT Indeks.

Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2008). Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua Belas, Cetakan Ketiga, PT. Indeks, Jakarta.

Kotler, Philip. (2000)gg. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium. Jilid 1 dan Jilid 2. PT. Prenhalindo; Jakarta.

(35)

Hsu, H. Y., & Tsou, H.-T. (2011). Understanding Customer Experiences in Online Blog Environments. International Journal of Information Management, 31(6), 510–523.

Lang, B. (2010). Ipsos OTX study: People Spend More Than Half Their Day Consuming Media. The Wrap.

Markplus Netizen Survey. (2012). Diakses pada 16 Oktober 2015, dari https://dailysocial.id/post/markplus-insight-jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-capai-61-juta-orang/

McAlexander, J. H., Schouten, W. J., & Koening, F. H. (2002). Building Brand Community. Journal of Marketing, 66(1), 38–54.

Michel Laroche, Mohammad Reza Habibi, Marie-Odile Richard (2012). To Be or Not To Be in Social Media: How Brand Loyalty is Affected by Social Media?. Monreal, Canada.

Muniz, A.M. Jr. And T.C. O’Guinn (1995). Brand Community, Journal of Consumer Research, 27(4): 412-32.

Muniz, M. A., & O’Guinn, C. T. (2001). Brand Community. Journal of Consumer Research, 27(4), 412–432.

Noviandari, Lina. (2015). Statistik Pengguna Internet dan Media Sosial Terbaru di

Indonesia. Diakses pada 16 Oktober 2015, dari

https://id.techinasia.com/talk/statistik-pengguna-internet-dan-media-sosial-terbaru-di-indonesia/

Resnick, Mark (2001). “Increasing Brand Equity With Interactive On-Line Communities”, Journal of E-Business, Vol. 1, Issue 2.

Rheingold, H. (1991). A Slice of Life in My Virtual Community. In L. M. Harasim (Ed.), Global Networks (pp. 57–80). Cambridge, MA: MIT Press.

Sarason, S. B. (1974). The Psychological Sense of Community: Prospects for The Community Psychology. San Francisco: Jossey-Bass.

Schau, J. H., Muniz, M. A., & Arnould, J. E. (2009). How Brand Community Practices Create Value. Journal of Marketing, 73(5), 30–51.

Schouten, J. McAlexander, J. H. 1995. "Subcultures of Consumption: An Ethnography of the New Bikers". Journal of Consumer Research, 22 (3): 43–61.

(36)

Tardini, S., & Cantoni, L. A. (2005). A Semiotic Approach to Online Communities: Belonging, Interest and Identity in Websites’ and Video Games’ Communities. In Proceedings, IADIS International Conference (pp. 371– 378).

Top Brand Index Fase 1. (2015). Diakses pada 16 Oktober 2015, dari

http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2015_fase_1

Von Hippel, E. (2005). Democratizing Innovation. Boston: MA: The MIT Press.

Zhou, Z., Zhang, Q., Chenting, Su, & Zhou, Nan. (2011). How Do Brand Communities Generate Brand Relationships? Intermediate Mechanisms.

Gambar

Gambar 1.7   Customer Centric Model of Brand Community  ........................  13
Gambar 1.1 Survei MarkPlus Insight Netizen Survey 2012
Gambar 1.2 Survei We Are Social 2015
Gambar 1.3 Model Komunikasi
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana 1) pengaruh sikap terhadap iklan dan social media pada brand image , 2) pengaruh brand image terhadap brand

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi dalam media sosial Facebook pada brand community Sophie Paris adalah komunikasi massa,dengan temuan sebagai berikut;

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan secara empiris pengaruh brand image dan social media marketing dengan brand trust sebagai variabel intervening terhadap

This study aims to understand how social media marketing activities affect consumer purchase intention that is mediated by brand trust in a go-global, local clothing brand..

(2021), which stated that brand image has a positive effect on purchase intention. The results of hypothesis testing indicate that social media marketing has a positive

The indirect effect of the consumption dimension on customer loyalty, based on the results of empirical research on brand engagement on Twitter social media users in Indonesia, it was

Pengaruh Experiential Marketing, Social Media Markrting Dan Brand Trust Terhadap Repurchase Intention di Toko Fitri Jilbab Kediri Berdasarkan analisis yang telah dijalankan mengenai

This research aims to investigate the impact of social media marketing activities SMMA on brand equity in Muslim fashion brands among Gen Z and try to figure out the mediating effect of