SKRIPSI
Diajukan oleh :
Aditya Dwi Putr a 0912010091 / FE / EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
Disusun Oleh : ADITYA DWI PUTRA
0912010091/FE/EM
Telah Diper tahankan Dihadapan Dan Diter ima Oleh Tim Penguji Skr ipsi J ur usan Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada Tanggal 31 Mei 2013
Pembimbing : Tim Penguji : Pembimbing Utama Ketua
Drs.Ec. Nuruni Ika K.W, MM Dr. Ali Maskun H, SE, MS
NIP. 19630091991032001 NIP. 1954050919831001
Sekretaris
Dr s.Ec. Rahman Amrullah Suwaidi, MS NIP. 196003301986031001
Anggota
Dr s.Ec. Nuruni Ika K.W, MM NIP. 19630091991032001
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Dekan Fakultas Ekonomi
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Pengar uh pesan iklan melalui sikap konsumen dan dampaknya pada minat beli
minuman isotonik mer ek Mizone di Giant Hyper mar ket Diponegoro Sur abaya”.
Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Atas bantuan dari berbagai pihak yang telah banyak berperan guna
terselesaikannya penelitian ini, penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih
yang tulus kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP Selaku Rektor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, SE, MM Selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM , Selaku Ketua Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Ibu Dra. Ec, Nuruni Ika Kusuma Wardhani MM Selaku Dosen Pembimbing
yang dengan segala perhatian, bimbingan dan kesabarannya telah memberikan
pengarahan hingga selesainya penulisan skripsi ini dengan baik.
5. Ayah dan Bunda tercinta, , Mas Dudik dan heri tutik . Penulis menyampaikan
terselesainya skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih
semuanya.
Semoga Allah Yang Maha Agung berkenan memberikan balasan, limpahan,
berkah, rahmat, dan karunia-Nya, Amin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan
dalam isi maupun penulisannya. Oleh karena itu semua kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penulisan selanjutnya. Akhir
kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca baik sebagai bahan kajian
maupun sumber informasi, serta bermanfaat bagi semua pihak.
Surabaya, Mei 2013
KATA PENGANTAR………...………... .. i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR...ix
DAFTAR LAMPIRAN... x
ABTRAKSI... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...8
1.3 Tujuan Penelitian...9
1.4 Manfaat Penelitian...9
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Hasil-hasil Penelitian Terdahulu...10
2.2 Landasan teori...12
2.2.1 Pemasaran...12
2.2.2 Konsep Pemasaran...14
2.3 Merek...16
2.4.2 Dimensi Perluasan Merek………21
2.4.3 Indikator Dan Dimensi Perluasan Merek……….24
2.4.4 Macam-macam Jenis Perluasan Merek………26
2.4.5 Perluasan Merek Yang Berhasil………..26
2.5 Citra Merek (Brand Image)...27
2.5.1 Pengertian Citra Merek………...…….27
2.5.2 Manfaat Citra Merek………28
2.5.3 Indikator Dan Dimensi Citra Merek………29
2.7 Hubungan Antar Variabel………..………...30
2.7.1 Pengaruh Perluasan Merek Terhadap Citra Merek…………...30
2.8 Kerangka Konseptual...32
2.9 Hipotesis...32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel...33
3.1.1 Definisi Operasional...33
3.1.2 Pengukuran Variabel...35
3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian...35
3.2.1 Populasi...35
3.3.2 Sumber Data……….37
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data………...37
3.4 Teknik Analisis dan Penguji Hipotesis…...………....38
3.4.1. Teknik Analisis PLS……..………...38
3.4.2. Confirmation Factor Analysis...…...38
3.4.3. Asumsi Model (Partial Laest Square)...…………...41
3.4.4. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal...42
3.4.5. Evaluasi Model...45
3.4.6. Kriteria Penilaian PLS...46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian………….………...48
4.1.1 Gambaran Umum...48
4.1.2 Logo Perusahaan……….50
4.1.3 Visi dan Misi Perusahaan...………..50
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian……….……….…...52
4.2.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian…………...52
4.2.2 Keadaan Responden...………...52
4.2.2.1 Jenis Kelamin …………...52
4.2.3.2 Reputasi / Reputation……….56
4.2.3.3 Presepsi Resiko / Perceived Risk………...57
4.2.3.4 Inovasi / Innovativeness……….59
4.2.4 Deskripsi Citra Merek...……...60
4.2.4.1 Pengetahuan / Knowledge……….61
4.2.4.2 Kontribusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand……….62
4.3 Diskripsi Hasil Analisis dan Uji Hipotesis...64
4.3.1 Uji Validitas dan Reabilitas Konstruk ...64
4.3.2. Uji Inner Model...……….……...…68
4.4. Pembahasan……….……...……...71
4.4.1 Pengaruh Perluasan merek terhadap Citra merek (H1)...71
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ……….………...64
5.2 Saran……….………...64
DAFTAR PUSTAKA
1.2 Top Brand Index Televisi LG pada Tahun 2010-2012...4
1.3 Jumlah Penjualan Televisi LG Pada Tahun 2012...5
3.1 Kriteria Penilaian PLS...47
4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin...52
4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ...53
4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan...54
4.4 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel Kesamaan / Similarity... 55
4.5 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel Reputasi / reputation...56
4.6 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel Presepsi Resiko / Preceived Risk………...57
4.7 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel Inovasi / Innovativeness...59
4.8 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel Pengetahuan / knowledge...61
4.9 Hasil Jawaban Responden Untuk Variabel kontribusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand………...63
4.10 Hasil Uji convergen Validity...65
4.11 Hasil Uji Average Variance Extracted (AVE)...66
4.12 Hasil Uji Composite Realiability...67
3.2 Analisis Full Model...40
4.1 Logo Perusahaan LG…...50
Lampiran 2 Rekapitulasi Jawaban Responden
Aditya Dwi Putr a
ABSTRAKSI
Persaingan di era globalisasi akan semakin mengerahkan system perekonomian ke arah yang pada akhirnya mempromosikan pemasar untuk selalu mengembangkan dan merebut pangsa pasar. strategi Perluasan Merek merupakan salah satu elemen penting dalam Citra Merek suatu produk. Oleh sebab itu perluasan Merek harus mampu membentuk respon baik terhadap konsumen sehingga memunculkan Citra Merek Produk yang Baik. Strategi perluasan merek memberikan keuntungan bagi perusahaan karena dengan mengunakan merek yang sudah terkenal akan memberikan pengakuan dan penerimaan yang lebih cepat pada katagori produk baru. Hal ini diharapkan dapat memberikan jaminan kualitas dan kenyakinan kepada para konsumen atas merek tersebut. Dalam persaingan merek akhir-akhir ini menujukan terdapat persaingan yang sangat ketat. Dari temuan hasil dilapangan tentang Top Brand Index mesin cuci dan Televisi LG pada tahun 2010 sampai tahun 2012 Mesin cuci LG memduduki peringkat pertama sedangakan Televisi LG pada tahun 2010 sampai 2012 hanya menduduki peringkat kedua masi kalah dengan pesaingnya, yaitu Sharp. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan Pengaruh Perluasan Merek Terhadap Citra Merek LG di UFO Elektronoik di Surabaya
Penelitian ini dilakukan di UFO Elektronik Di Surabaya dan pengambilan sample dilakukan secara purposive sampling dengan sampel calon responden yang mengetahui dan memakai produk LG Televisi dan mesin cuci. Data dikumpulkan melalui kuesioner jawaban responden sebanyak 119. Teknik analisis menggunakan Partial Least Square (PLS)
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian ini disimpulkan sebagai berikut: “Perluasan merek tidak berpengaruh signifikan terhadap citra merek LG di UFO Elektronik Surabaya”.
1.1 Latar Belakang
Kondisi pasar yang sangat dinamis membuat para pelaku pasar dan produsen berlomba untuk memenangkan kompetisi yang sangat ketat. Setiap saat baik melalui media televisi, radio, koran, majalah ataupun internet terlihat berbagai peluncuran produk baru seolah tidak perna berhenti. Produk-produk yang ditawarkan begitu beragam dengan merek yang juga sangat bervariasi, begitu banyak hal yang ditawarkan pada konsumen. Hal ini tentu membuat para konsumen menjadi lebih leluasa dalam menentukan pilihannya, sementara dampaknya bagi produsen hal ini menjadi tantangan yang membuat mereka harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan citra merk terhadap konsumennya.
extension).”Pengembangan merek (brand extension) merupakan strategi perusahaan untuk menggunakan merek yang sudah ada pada produk baru dalam satu katagori baru (Rangkuti,2004:11).” Peluasan merek (brand extension).
Merek dibenak konsumen serta bagaimana sikap konsumen dalam mengevaluasi perluasan merek merupakan faktor yang krusial untuk keberhasilan perluasan merek. Pengertian merek bagi konsumen menjadi penting karena akan mempengaruhi apa yang timbul dibenak konsumen ketika mereka berpikir mengenai suatu merek. Asosiasi merek yang kuat, disukai dan unik akan menciptakan citra merek yang positif yang penting bagi konsumen dalam evaluasinya terhadap perluasan merek.(Waworuntu 2008)
Dimensi perluasan merek (Rangkuti 2006) meliputi pertama, similaritas merupakan suatu anggapan dari konsumen bahwa produk yang mengalami perluasan merek mempunyai kemiripan dengan produk yang berasal dari merek asal. Apabilah tingkatan merek asal semakin besar, maka akan membuat semakin besar hasil yang ditimbulakan kepada merek yang diperluaskan merek akan semakin berhasil semakin popular merek asal semakin mudah untuk melakukan perluasan.
produk, dan merek dapat menjadi sebuah nilai tambah dalam produk tersebut (Kotler,2004:285).
Merek merupakan aset penting dalam sebuah bisnis. Saat ini merek menjadi faktor penting dalam persaingan dan menjadi aset perusahaan yang bernilai. Produk menjelaskan atribut inti sebagai suatu komoditi yang dipertukarkan, sedangkan merek menjelaskan spesifikasi pelanggannya. Soemanegara, (2006:98).
Dalam persaingan bisnis PT LG Electronic akhir-akhir ini menunjukan terdapat persaingan yang ketat. Bahkan persaingan di katagori ini tidak akan perna berakhir, mengingat produk ini termasuk produk yang banyak dibutuhkan, sehingga membuat persaingan kian terasa di katagori ini.
Tabel 1. Top Brand Index mesin cuci LG Pada Tahun 2010,2011 dan 2012
Merek TBI
Tabel 2. Top Brand Index Televisi LG Pada Tahun 2010,2011 dan 2012
Permasalahan yang terjadi pada katagori mesin cuci LG, mesin cuci LG menduduki peringkat pertama dengan melakukan Perluasan Merek (brand extention) ke televisi LG dari tahun 2010 sampai tahun 2012 hanya menduduki peringkat kedua masi kalah dengan pesaingnya, yaitu Sharp. Karena televise LG ketajaman gambar masih kalah sama pesaingnya, suaranya kurang puas, jika defleksinya rusak harganya mahal, ic program tabung tv flat tidak bisa umur panjang. Sehingga konsumen ragu untuk membeli televisi LG. ( dalam http://www.tip.web.id) Dan tidak sesuai dengan merek induk (brand parent) dari mesin cuci yang berasil menduduki peringkat pertama. Dan berikut adalah data penjualan televisi LG yang mengalami penurunan penjualan pada PT. UFO Electronic yang merupakan salah satu Toko electronic di surabya, berikut prosentase data penjualan Televisi LG dalam tri wulan:
Tabel 3. Jumlah penjualan Televisi LG pada tahun 2012
Tahun 2012 Jumlah Penjualan Prosentase (%)
Triwulan 1 855 34,28%
Triwulan 2 517 16,19%
Triwulan 3 651 22,85%
TOTAL 2023 100%
Sumber : Ufo electronic
ke konsumen akhir dan gerai ini sudah banyak di kota Surabaya sehingga banyak masyarakat yang pernah melakukan pembelian di gerai ini.
Padahal untuk katagori produk tersebut merupakan pasar yang ramai (crowded). Pasar Televisi sudah memasuki pasar hypercompetiton ditandai dengan banyaknya yang masuk, tingginya kecepatan masuknya merek/produk baru, makin pendeknya usia produk/ merek baru, beberapa pemain memusatkan pada ceruk pasar yang lainnya pengambilan pasar dari pangsa pasar yang ditinggalkan, terjadi penurunan permintaan dan kapasitas secara perlahan-lahan. Dengan kata lain pasar hamper mencapai puncak potensinya. Karakteristik pasar yang jenuh ini adalah persaingan yang gencar penekanan pada biaya dan pelayanan, pengurangan arus produk baru, persaingan internasional, peningkatan kekuatan dalam saluran organisasi yang menghubungkan pabrik dan pemakai akhir (Aaker, 1997 :28).
Dengan adanya perluasan merek citra merek juga akan ikut berperan dalam percapaian ekuitas. Dikarenakan citra merek didefinisikan oleh keller (2003), sebagai persepsi atau kesan tentang suatu merek yang direfleksikan oleh sekumpulan asosiasi yang membangun pelanggan dengan merek dalam ingatannya.
peneriaaan yang lebih cepat. Ini memungkinkan perusahaan lebih mudah memasukan katagori produk.
Kotler (2007:332) beranggapan bahwa “merek mengidentifikasi sumber atau pembuat produk dan memungkinkan konsumen (individu atau organisasi) untuk menetapkan tanggung jawab pada pembuat atau distributor tertentu”. Konsumen dapat mengevaluasi produk identik secara berbeda, tergantung pada bagaimana produk diberi merek. Konsumen belajar tentang merek melalui pengalaman masa lampau dengan produk dan program pemasarannya. Konsumen menemukan merek mana yang memuaskan kebutuhan konsumen dan mana yang tidak. Ketika kehidupan konsumen menjadi lebih rumit, sibuk, dan kekurangan waktu, kemempuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan mengurangi resiko tidak ternilai.
Setiap produk yang terjual di pasaran memiliki citra tersendiri di mata konsumennya yang sengaja diciptakan oleh pemasar untuk membedakannya dari para pesaing Kotler dan Keller (2006).
menarik untuk diteliti apakah merek LG akan berhasil dalam usahanya melakukan perluasan dengan menggunakan asosiasi-asosiasi kunci pada merek induk/asal (brand parent).
Penelitian terhadap asosiasi dari merek induk yang akan mendukung keberhasilan merek perluasan (brand extension) dalam memasuki pasar, ini akan didukung dengan melakukan penelitian pada konsumen potensial diharapkan data yang diperoleh dapat menjawab dari masalah penelitian ini . fakta membuktikan bahwa PT LG Electronik melakukan Inovasi untuk mempertahankan citra merek untuk lebih di kenal konsumen menujukan betapa besar keinginan merek LG untuk berhasil dalam perluasan merek ini.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PERLUASAN MEREK TERHADAP CITRA MEREK LG DI UFO ELEKTRONIK SURABAYA”
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Apakah perluasan merek berpengaruh terhadap citra merek LG ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.4Manfaat penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain :
- Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen perusahaan dalam menetapkan kebijakan perusahaab untuk masa yang akan datang.
- Hasil penelitian bagi lembaga, dapat menambah perbendaharaan perpustakaan UPN “Veteran Jawa Timur” sebagai bahan kajian maupun bahan pembanding penelitian pada masa yang akan datang terhadap masalah serupa.
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1Hasil Penelitian Ter dahulu
merek pada produk-produk pepsodent. Berdasarkan hasil peritungan diperoleh nilai koefisien beta yang sudah di – Standardized sebesar 0,67 yang singnifikan pada p<0,05. Berdasarkan hal tersebut dapt disimpulan bahwa perluasan merek berpengaruh positif secara singnifikan terhapad citra merek. Besarnya pengaruh langsung perluasan merek terhapad citra merek adalah sebesar (0,67)2 = 44,89 %. Artinya apabilah perluassan merek naik sebesar 1 maka citra merek akan naik sebesar 44,89%.
perluasan. Metode pengumpulan data dilakukan denagn mengunakan daftar pertanyaan untuk merespon terhadap variable-variabel yang diuji dalam model tersebut.
3 Penelitian yang juga dilakukan oleh Saputra, (2010) FE/EM UPN “Veteran” Jawa Timur dengan judul “pengaruh perluasan merek terhadap citra merek dan ekuitas merek pada The Rolas PT Perkebunan Nusaantara XII”. Pengaruh perluasan merek terhadap citra meerek berpeluang untuk pertumbuhan ekuitas merek pada produk the merek rolas di industri hilir PT Perkebunan Nusantara XII. Teknik pengambilan Sampel adalah Non probabilistic sampling dengan teknik sampling aksidental dengan jumlah responden 100 konsumen the rolas. Populasi dari penelitian ini adalah respon pelangan yang mengonsumsi produk teh rolas tersebut terhadap perluasan merek teh rolas. Perluasan merek berpengaruh negatif terhadap citra merek, dan citra merek berpengaruh negatif terhadap ekuitas merek pada produk the roles di industry hilir PTPN XII.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler & Amtrong (2008,p5) pemasaran adalah sebuah proses perusahaan menciptakan nilai untuk konsumennya dan membangun hubungan kuat dengan konsumen dengan tujuan untuk menciptakan nilai keuntungan dari konsumen.
Menurut Kurtz (2008, p7), pemasaran adalah fungsi organisasi dan sebuah proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan mengirim nilai untuk konsumen dan mengatur hubungan dengan konsumen sebagai cara mengutamakan perusahaan dan juga pihak berkepentingan
Dari definisi diatas, kita dapat mengetahui bahwa arti pemasaran adalah jauh lebih luas dari arti penjualan. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasikan kebutuhan konsumen yang perlu dipuaskan, produk yang sesuai, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran atau penjualan produk tersebut. Jadi, kegiatan pemasaran merupakan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan sebagai suatu sistem. Hal ini terlihat dari tujuan dari konep pemasaran adalah melakukan kegiatan serta keinginan konsumen dengan mendapatkan sejumlah laba. Sedangkan konsep penjualan dilakukan, jumlah dan jenis personal yang terlibat dalam pemasaran hanya sebagian dan tenaga promosional ( termasuk salesman), lain halnya dengan konsep pemasaran yang dimana seluruh personalia dalam perusahaan ikut berusaha melayani konsumen.
proces by which individuals and groups obtain what they need and want through creating,offering and freely exchanging products and service of value with others” jadi pemasaran adalah proses social dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dengan kelompok lainnya.
Menurut kotler (2000:9) manajemen pemasaran adalah “is the process of planing and executing the conception, pricing, promotion and distribution of ideas, goods, services to create exchanges that satisfy individual and organizational goals” jadi manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta menyalurkan gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.
2.2.2 Konsep Pemasaran
Kotler (2003) Para usahawan sudah mengenal bahwa pemasar merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaannya.dasar pemikiran yang terkandung didalam konsep pemasaran dapat digolongkan menjadi 3 unsur pokok yaitu:
a. Orientasi pada konsumen
Bagi peruasahaan yang benar-benar ingin memperhatikan konsumen, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan dilayani
2. Menetukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran penjualan
3. Menentukan produk dan program-program pemasaran
4. Melakukan penelitian pada konsumen untuk mengukur, menilai dan menafsirkan keinginan, sikap serta perilaku mereka
5. Menetukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah menitik beratkan pada mutu yang tinggi, harga yang murah atau model yang menarik.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulakan bahwa produsen harus mempelajari situasi pasar terlebih dahulu dalam upaya menempatkan produk yang dihasilkan ditengah konsumen yang membutuhkannya.
b. Penyusunan kegiatan pemasaran secara integral
c. Kepuasan konsumen
Konsumen yang merasa puas terhadap suatu produk akan melakukan pembelian ulang terhadap produk tersebut dan ini merupakan jaminan bagi perusahaan untuk mendapatkan laba yang lebih besar dikemudian hari.
Jadi, yang terpenting dalam konsep pemasaran adalah kepuasan dari konsumen itu sendiri, dimana perusahaan harus dapat membaca dan mengerti keinginan dari konsumennya, dengan melakukan penawaran barang dan jasa sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para konsumen. dengan kata lain konsumen adalah segala-galanya bagi perusahaan dalam mencapai laba dan meningkatkan penjualan.
2.3 Merek
2.3.1 Pengertian Merek
eksterinsiknya, fungsi, citra dan kualitas. Merek produk berkembang menjadi aset terbesar dan merupakan faktor terpenting dalam kegiatan perusahaan.
Pengertian merek (brand) menurut American Marketing Association dalam Kotler (2007:332) yaitu adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untk mengidentifikasi barang atau jasa penjual atau kelompok penjual dan mendeferensiasikannya dari barang atau jasa pesaing. Dengan demikian sebuah merek adalah barang atau jasa penambah dimensi yang dengan cara tertentu mendeferensiasikannya dari produk atau jasa lain yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan yang sama. Perbedaan ini dapat fungsional, rasional atau berwujud yang dikaitkan dengan kinerja produk dari merek. Mungkin juga lebih simbolik, emosional atau berwujud apabila dikaitkan dengan apa yang digambarkan.
Undang-undang Merek No. 15 Tahun 2001 pasal 1 ayat 1 dalam Tjipyo (2005:2), merek adalah “tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”.
secara berbeda, tergantung pada bagaimana produk diberi merek. Konsumen belajar tentang merek melalui pengalaman masa
lampau dengan produk dan program pemasarannya. Konsumen menemukan merek mana yang memuaskan kebutuhan konsumen dan mana yang tidak. Ketika kehidupan konsumen menjadi lebih rumit, sibuk, dan kekurangan waktu, kemempuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan mengurangi resiko tidak ternilai.
2.3.2. Penggolongan Merek
Merek yang kuat sebenarnya mewakili sekelompok pelanggan setia. Aaker membedakan sikap pelanggan terhadap merek dari tingkat terendah sampai paling tinggi yakni oleh Kotler (2000;470) :
a. Pelanggan yang akan menganti merek terutama karena alas an harga
b. Pelanggan puas dan tidak ada alas an untuk berganti merek. c. Pelanggan puas dan merasa rugi bila berganti merek.
d. Pelanggan menghargai merek tersebut dan mengangpnya sebagai teman, dan
e. Pelanggan terikat pada merek tersebut.
Selain itu menurut Kotler (2002:460) merek dapat memiliki enam level pengertian :
a. Atribut: mengingatkan pada atribut-atribut tertentu.
c. Nilai: Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. d. Budaya: Merek juga mewakili budaya tertentu.
e. Kepribadian: Merek juga mencerminkan kepribadian tertentu. f. Pemakai: Merek menujukan jenis konsumen yang membeli
atau mengunakan produk tersebut.
Salah satu kegiatan pemasaran yang dapat menunjang pemasaran adalah suatu promosi yang merupakan suatu bentuk komunikasi antara perusahaan dan konsumen mereka. Berikut ini dikemukakan pengertian promosi menurut beberapa ahli:
Menurut Swastha dan Irawan ( 1983:349 ) Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran atau yang ditujukan untuk mendorong permintaan.
2.2.3 Per luasan Merek
2.4.1 Pengertian Per luasan Merek (Brand Extension)
Menurut Afiff (2006), Strategi brand extension adalah pengenalan produk baru dengan memanfaatkan merek yang telah dikenalkan dan laku dipasar, dimana katagori produk baru tersebut berbeda dengan katagori produk yang lamanya..
Menurut Keller (2003), Brand extension didefinisikan sebagai situasi dimana perusahaan menggunakan merek yang sudah mapan sebelumnya untuk memperkenalkan prokuk baru. Brand extension digunakan sebagai strategi untuk memperluas jangkauan merek karena awareness dari merek telah berbentuk sebelumnya. Dengan pengetahuan tentang merek yang telah dikenal sebelumnya, konsumen berpeluang untuk mengurangi risiko mengalami kinerja dari uasi dimana perusahaan menggunakan merek yang sudah mapan sebelumnya untuk memperkenalkan prokuk baru. Brand extension digunakan sebagai strategi untuk memperluas jangkauan merek karena awareness dari merek telah berbentuk sebelumnya. Dengan pengetahuan tentang merek yang telah dikenal sebelumnya, konsumen berpeluang untuk mengurangi risiko mengalami kinerja dari produk baru tersebut.
2.4.2 Dimensi per luasan Merek (Brand Extension)
Pengaruh Perluasan Merek Terhadap Citra Merek.Berikut ini merupakan dimensi dari perluasan merek menurut Danibarata (2008) yaitu:
1. Pengetahuan Merek induk
Pengetahuan konsumen tentang merek dibutukan untuk mengevaluasi merek tersebut. Dalam katannya dengan brand extension, konsumen dapat lebih mudah mengevaluasi dan menilai persepsi kecocokan dari produk yang menggunakan brand extension dengan memiliki pengetahuan tentang merek induknya. Secara umum, Keller (2003) menyatakan bahwa pengetahuan merek dapat terbagi dua komponen, yaitu brand awareness dan brand images.
2. Persepsi Kualitas (perceived Quality)
Perceived quality didefinisikan sebagai gambaran umum dari penilaian konsumen tentang keunggulan atau kesempurnaan dari suatu produk dan dalam level gtertentu dapat dibandingakan dengan atribut tertentu dari produk. Konsemen menilai kualitas dari suatu produk berdasarkan berdasarkan berbagai informasi yang didapatkan baik melalui pengalaman mengunakan produk itu sendiri, didapatkan baik melalui pengalaman menggunakan produk itu sendiri, didapatkan dari kampanye iklan maupun dari pertukaran informasi dari orang lain (word of mouth). Adapun indicator yang terdapat dalam dimensi ini, yaitu:
penumpang yang dapat diangkut, kemudahan dan kenyamanan dan sebagainya.
b. Features (fitur atau ciri-ciri Tambahan), yaitu karakteristik sekunder atau perlengkapan.
c. Appearances (penampilan), yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalnya bentuk fisik mobil yang menarik, model/ desain yang artistic, warna dan sebagainya.
3. Inovatif (Innvativeness)
Menurut Keller (2003), produk ataumerek baru yang berhasil serta inovatif dipersepsikan oleh konsumen sebagai produk atau merek yang modern atau up to dete, merupakan hasil dari investasi riset dan pengembangan produk, diproduksi dengan teknologi terbaik dan memiliki features produk terbaru. Dalam kaitanya dengan brand extension konsumen cenderung untuk mengevaluasi produk baru tersebut dengan mencari kecocokan antara merek induk dengan merek extension-nya, apakah inovasi yang di tawarkan oleh brand extension tersebut sesuai dengan persepsinya tentang merek induk. Indikator dalam dimensi ini adalah modern, investassi pengembangan, dan unik.
4. Konsistensi Konsep Merek
(typicality), keterkaitan (relatedness) dan konsistensi konsep merek atau brand concept consistency.
Periklanan merupakan salah satu dari empat alat utama yang digunakan oleh perusahaan untuk mengarahkan komunikasi yang meyakinkan kepada sasaran pembeli dan publik. Periklanan adalah komunikasi non-individu dengan sejumlah biaya dengan berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga non-laba, serta individu-individu (Swastha dan Irawan, 1983, hlm. 245).
Kotler (2003:578) “A advertising is any paid from of non personal presentation and promotion of ideas, goods,or sevices by an identificd sponsor” periklanan adalah segala bentukpenyajian non personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran.
Periklanan dapat dipandang sebagai kegiatan penawaran kepada suatu kelompok masyarakat baik secara lisan ataupun dengan penglihatan (berupa berita), tentang suatu produk, jasa, atau ide. Berita yang disampaikan tersebut dinamakan iklan.
2.4.3 Indikator dan dimensi perluasan Merek (Brand Extension)
Menurut Leif (2001) dalam Danibrata (2008) indicator yang mempengaruhi kesuksesan strategi perluasan merek adalah:
terhadap produk hasil perluasan bila konsumen tersebut menganggap bahwa produk tersebut menggap bahwa produk tersebut memiliki kesamaan dengan merek aslinya. Dimensi dari Similarity (kesamaan) : Kesesuasian antara merek asal dan merek perluasan, kesesuaian asosiasi merek asal dan merek perluasan
2. Reputation (reputasi) adalah asumsi yang dapat dikembangkan dari penggumuman reputasi adalah, bahwa merek yang memiliki posisi yang kuat adakn memberikan pengaruh yang besar pada produk hasil perluasanya Danibrata (2008). Bahkan telah dilaporkan bahwa merek yang dipersepsi memiliki kualitas yang tinggi dapat melakukan perluasan produk dari merek yang memiliki kualitas yang rendah. Reputasi di sini adalah sejumlah hasil yang diperoleh dari kualitas suatu produk. Dimensi dari reputation (reputasi) : popularitas perusahaan perluasan merek, popularitas produk yang terkait dengan merek perluasan.
3. Perceived Risk (manfaat) adalah konstruk multidimensional yang mengimplikasikan pengetahuan konsumen secara tidak pasti tentang suatu produk sebelum dilakukan pembelian didasarkan pada tipe dan tingkatan kerudian dari produkitu setelah dilakuakan pembelian. Perceived risk biasanya dikonseptualisasi dengan konstruk dua dimensi yaitu ketidakpastian tentang konsekuensi melakukan kesalahan dan ketidak pastian tentang hasil yang di peroleh. Dimensi dari Perceived Risk (manfaat) : keyakianan, keraguan memilih, pengetahuan, dan kekecewaan.
Dan konsumen yang memiliki sifat innovativess ini suka melakukab lebih banyak evaluasi pada perluasan merek terutama dalam hal jasa. Oleh karena itu untuk mengembangkan strategi perluasan merek ini agar lebih efisien maka pihak perusahaan harus menarik lebih bayak konsumen yang memiliki sifat innovativeness. (http://poolonline.com) dalam Danibrata (2008) menyatakan bahwa kunci kesuksesan dari perluasan merek ditentukan oleh konsistensi produk perluasan merek dengan merek asal atau merek induk. Dalam melakukan strategi perluasan merek, persepsi terhadap kualitas dari merek tersebut akan membuat produk berbeda katagori merek asal maka pihak produsen harus melihat kualitas yang dipersepsikan konsumen terhadap meerek tersebut. Bahkan dalam suatu penelitian menujukkan bahwa merek yang memiliki perceived quality yang tinggi dapat ditinggalkan secara lebih jauh (dapat diperluas) dan mendapat penilaian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan merek yang memiliki perceived quality yang rendah (leif 2001) dalam Danibrata (2008). Dimensi dari innovativeness (inovasi) : mencari produk baru, mencari merek baru, mengerjakan hal baru, keinginan perubahan.
2.4.4 Macam-macam J enis Per luasan Mer ek (Brand Extension)
Berdasarkan pendapat Rangkuti (2004), perluasan merek secara umum dapat dibedakan berdasarkan :
1. Perluasan Lini (Line Extension)
2. Perluasan Katagori (Categoty Extension)
Artinya, perusahaan tetap menggunakan merek induk yang lama untuk memasuki katagori produk yang sama sekali berbeda dari yang dilayani oleh merek induk sekarang
2.4.5 Per luasan Merek yang berhasil (Brand Extension)
Berdasarkan pendapat Rangkuti (2004),Perluasan merek akan berhasil apabila ;
1. Asosiasi-asosiasi merek yang kuat memberikan poin pembeda dan keuntungan untuk perluasan.
2. Perluasan tersebut membantu merek inti dengan cara menguatkan asosiasi-asosiasi kunci, menghindari asosiasi-asosiasi negative, dan menimbulkan pengenalan merek(asosiasi negative akan muncul apabila merek hanya mengandalkan kesan kualitas, sehingga rentang terhadap persaingan).
2.5 Citr a Merek (Br and Image)
2.5.1 Pengertian Citr a Merek (Brand Image)
dikonseptualisasi berdasarkan jenis, dukungan, kekuatan, dan keunikan. Jenis asosiasi merek meliputi atribut, manfaat, dan sikap. Atribut terdiri dari atribut yang berhubungan dengan produk, misalnya harga, pemakai, dan citra penggunaan. Sedangkan manfaat mencakup manfaat secara fungsional, manfaat secara simbolis, dan manfaat berdasarkan pengalaman (Shimp, 2003).Sebuah produk yang dapat mempertahankan citranya agar lebih baik dari pesaing akan mendapatkan tempat di hati para konsumen dan akan selalu diingat.
Brand Image merupakan interprestasi akumulasi berbagai informasi yang diterima konsumen (Simamora & Lim, 2002). Menurut Kotler (2007) yang mengintrepetasi adalah konsumen dan yang diintrepetasikan adalah informasi. Informasi citra dapat dilihat dari logo atau symbol yang digunakan oleh perusahaan untuk mewakili produknya. Di mana simbol dan logo ini bukan hanya sebagai pembeda dari para pesaing sejenis namun juga dapat merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Sebagai contoh adalah Televisi LG mencerminkan citra sebuah minuman pengganti mineral yang hilang akibat pengeluaran keringat.
standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari pelaku usaha atau pemiliknya.
2.5.2 Manfaat Citr a Merek (Brand Image)
Pandangan konsumen terhadap suatu brand merupakan hal yang sangat penting dalam strategi pemasaran. Suatu image dapat membantu perusahaan untuk mengetahui apakah strategi pemasaran yang dijalankan sudah tepat atau belum. Menurut Sutisna (2001 : 83), ada beberapa manfaat dari brand image yang positif, yaitu :
1. Konsumen dengan image yang positif terhadap suatu brand, lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
2. Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan image positif yang telah terbentuk terhadap brand produk lama.
3. Kebijakan family branding dan leverage branding dapat dilakukan jika brand image produk yang telah ada positif.
2.5.3 Indikator Dan Dimensi Citra Mer ek (Brand Image)
konsestensi yang didapatkan konsumen antara merek produk baru dan produk asal( Paren Brand).Dimensi dari Fit of the brand (Kontibusi dalam membentuk citra merek) : Kesesuaian Katagori antara produk baru dengan produk perluasan dan kesesuaian Produk baru dengan Image.
Knowledge (pengetahuan)
• Mengetahui Merek
• Frekuensi Pembelian Merek
• Informasi produk
Fit to the brand (Kontibusi dalam membentuk citra merek)
•Kesesuaian Katagori antara produk baru dengan produk perluasan
2.6 Hubungan Antar a Var iabel
2.6.1 Pengaruh Per luasan Merek Ter hadap Citr a Merek.
Menurut (waworuntu 2008) Merek dibenak konsumen serta bagaimana sikap konsumen dalam mengevaluasi perluasan merek merupakan faktor yang krusial untuk keberhasilan perluasan merek. Pengertian merek bagi konsumen menjadi penting karena akan mempengaruhi apa yang timbul dibenak konsumen ketika mereka berpikir mengenai suatu merek. Asosiasi merek yang kuat, disukai dan unik akan menciptakan citra merek yang positif yang penting bagi konsumen dalam evaluasinya terhadap perluasan merek.
bahwa dengan dilakukannya strategi perluasan merek, maka akan muncul presepsi baru mengenai merek tersebut dibenak konsumen. Citra merek setelah dilakukan stategi ini menjadi bias dan tidak focus. Produk tersebut teryata kehilangan positioning-nya yang sudah ada sehingga menyebabkan terjadinya penurunan citra merek.
Menurut Afiff (2006), perluasan Merek adalah pengenalan produk baru dengan memanfaatkan merek yang telah dikenalkan dan laku dipasar, dimana katagori produk baru tersebut berbeda dengan katagori produk yang lamanya.
Menurut Rungkuti (2004,p113), apabila sebuah merek digabung dengan merek yang sudah ada, maka perluasan merek tersebut dinamakan submerek. Tingkat keberhasilan suatu perluasan merek sangat tergantung kepada merek induknya (parent brand). Merek induk dapat pula memiliki berbagai macam produk.
2.8 Kerangka konseptual
Gambar 1
2.4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual di atas, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
“Bahwa perluasan merek berpengaruh terhadap citra merek LG” Citra
Merek
(Y) Perluasan
Merek
3.1 Definisi Oper asional Var iabel dan Pengukur an Var iabel 3.1.1 Definisi Oper asional
Agar variabel yang digunakan dapat diukur serta menghilangkan dan menghindari penafsiran makna, maka perlu adanya difinisi yang jelas mengenai variable yang akan diteliti, variable-variabel tersebut sebagai berikut :
1. Perluasan Merek (X)
Perluasan merek (brand extention) adalh pengunaan merek yang sudah ada pada produk baru dimana produk tersebut memiliki katagoriyang berbeda dengan merek yang digunakannya. Menurut Leif (2001) dalam Danibrata (2008) indikator perluasan merek meliputi :
1. Similarity (kesamaan X1)
X1.1 Kesesuaian antara merek asal dan merek perluasan
X1.2 Kesesuaian asosiasi antara merek asal dan merek perluasan 2. Reputation (reputasi X2)
X2.1 Popularitas perusahaan perluasan merek
X2.2 Popularitas produk yang terkait dengan merek perluasan 3. Perceived Risk (manfaat X3)
X3.2 Keraguan memilih X3.3 Pengetahuan X3.4 Kekecewaan
4. Innovativeness (inovasi X4) X4.1 Mencari produk baru X4.2 Mencari merek baru X4.3 Mengerjakan hal baru X4.4 Keinginan Perubahan 2. Variabel Citra Merek (Y)
Merupakan sebuah nilai, citra, ciri dan sebagainya dari suatu merek yang timbul atau didapatkan oleh merek tersebut karena merek dari produk tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat dan dipercayai oleh masyarakat. Menurut Martinez dan Chernatony (2004) citra merek meliputi beberapa jenis variable indikator yaitu :
1. (Y1) Knowledge (pengetahuan) Y1.1 Mengetahui Merek
Y1.2 Frekuensi Pembelian Merek Y1.3 Informasi produk
2. (Y2) Fit to the brand (Kontibusi dalam membentuk citra merek) Y2.1 Kesesuaian Katagori antara produk baru dengan produk perluasan
3.1.2 Pengukur an var iabel
Skala pengukuran menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah pertanyaan yang mengukur sikap dari keadaan yang sangat negatif kejenjang yang sangat positif (Sugiyono, 2002). Skala Likert digunakan untuk mendapatkan data tentang dimensi dari variabel-variabel yang disesuaikan dengan penelitian ini. Jawaban atas pertanyaan dan pernyataan akan diberi skor penilaian dari 1 sampai dengan 5, karena skala tersebut dipandang sebagai penilaian yang mudah dipahami dan dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Jawaban yang sangat setuju (maksimal) diberi nilai paling besar atau 5 dan jawaban yang sangat tidak setuju (minimal) diberi angka yang paling kecil atau 1.
1 5
Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju
Keterangan:
• Angka 1 sangat tidak setuju
• Angka 2 tidak setuju
• Angka 3 ragu-ragu
• Angka 4 setuju
3.2 Populasi dan Sampel penelitian 3.2.1 Populasi
Populasi merupakan kelompok subyek / obyek yang memiliki cirri-ciri atau karakteristik-karakteristik tertentu yang berada dengan kelompok subyek / obyek yang lain, dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian ( Sumarsono,2004 : 44). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruan konsumen televise dan Mesin cuci LG di UFO ELEKTRONIK .
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari keseluruhan populasi yang menjadi obyek sesungguhnya dari suatu penelitian. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu sampel yang dipilih berdasarkan atas ciri-ciri atau kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti. Dengan kriteria antara lain :
- Mengetahui dan memakai produk LG Televisi dan mesin cuci. - Umur konsumen minimal 18ntahun. Alasan, sudah cukup dewasa,
mengerti dan memahami akan produk merek Televisi LG.
2011). Maka jumlah sampel yang dipergunakan adalah dari 17 indikator x 7 parameter = 119 responden
3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1 J enis data
Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua macam a. Data primer
Data Primer merupakan data yang dikumpulkan langsung oleh penelitih dari para responden.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah bersumber dari buku-buku, literature-literatur dan data dari internet yang mendukung penelitian.
3.3.2 Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam analisis ini adalah data yang diambil langsung dari konsumen yang membeli televise LG dengan cara menyebarkan kuesioner.
3.3.3 Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan beberapa cara berikut :
1. Interview
2. Kuisioner
Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan dartar pertanyaan kepada konsumen televisi LG.
3.4 Teknik Analisis dan Pengujian Hipotesis 3.4.1 Teknik Analisis PLS
Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah Partial Least Square (PLS). PLS dikembangkan pertama kali oleh Wolf sebagai metode umum untuk mengistemasi parth model yang menggunakan konstruk laten dengan multiple indikator yang dianalisis menggunakan program PLS.
3.4.2 Confirmation factor Analysis
Persamaan dimensi faktor perluasan merek :
X1.1 = λ1 kesamaan + er_1
X1.2 = λ2 kesamaan + er_2
X1.3 = λ3 kesamaan + er_3
Bila persamaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran model untuk di uji unidimensionalitasnya melalui Confirmation factor Analysis, maka model pengukuran dengan contoh faktor informasi akan nampak sebagai berikut:
Gambar 3.1 : Contoh Model Pengukuran faktor kesamaan.
Keterangan :
X1.1 Kesesuasian antara merek asal dan merek perluasan
X1.2 Kesesuaian asosiasi antara merek asal dan merek perluasan er_j = error term X1j
Demikian juga faktor lain seperti sikap, keyakinan dan minat beli. Kesamaan
(X1)
X1.1
X1.2
er_1
Gambar 3.2. Analisi Full Model
Keterangan :
X = per luasan Merek X1 = Similarity (kesamaan) X1.1 = Kesesuaian antara merek asal dan merek perluasan X2.2 = Kesesuaian asosiasi antara merek asal dan merek perluasan X2 = Reputation (reputasi) X2.1 = Popularitas perusahaan perluasan merek X2.2 = Popularitas produk yang terkait dengan merek perluasan X3 = Perceived Risk (manfaat) X3.1 = keyakinan X3.2 = keraguan memilih X3.3 = pengetahuan X3.4 = Kekecewaan X4 = Innovativeness (inovasi) X4.1 = Mencari Produk Baru X4.2 = Mencari Merek Baru X4.3 = Mengerjakan Hal Baru X.4.4 = Keinginan Perubahan
Y = Citr a Merek Y1 = Knowledge ( pengetahuan) Y1.1 = Mengetahui Merek Y1.2 = Frekuensi Pembelian Merek Y1.3 = Informasi Produk Y2 = Fit to the brand (Kontibusi dalam membentuk citra merek) Y2.1 =Kesesuaian Katagori antara produk baru dengan produk perluasan Y.2.2 = kesesuaian Produk baru dengan Image.
3.4.3 Asumsi Model ( Partial Least Square )
PLS merupakan factor identerminacy metode analisis yang powerfull oleh karena tidak mengasumsikan data dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil.
Dengan pendekatan PLS diasumsikan bahwa semua ukuran variance adalah variance yang berguna untuk dijelaskan. Oleh karena pendekatan untuk mengistemasi veriabel laten dianggap sebagai kombinasi linier dari indikator maka menghindarkan masalah identerminabcy dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor (Wold, 1982) dalam ( Ghozali, 2011).
atau (2) sepuluh kali dari jumlah terbesar struktural path yang diarahkan pada konstruk tertentu dengan model struktural.
3.4.4 Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal
Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari tiga set hubungan: (1) inner model yang menspesifikasikan hubungan antara variabel laten (struktural model), (2) outer model yang menspesifikasikan hubungan antara variabel laten dengan indikator atau variabel manifestnya (measurement model), dan (3) weight relation dalam mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi. Tanpa kehilangan generalisasinya, dapat diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau manifest variabel diskala zero means dan unit variance (nilai standardized) sehingga parameter lokasi (parameter konstanta) dapat dihilangkan dalam model.
1. Inner Model
Inner model yang kadang juga disebut dengan (inner relation, struktural model dan subtantive theory ) menggambarkan hubungan antara veriabel laten berdasarkan pada substantive theory. Model persamaannya dapat ditulis seperti dibawah ini.
η = βo + βµ+ Γξ + ζ (1)
untuk model recursive, maka hubungan antara variabel laten, setiap veriabel laten dependen η, atau sering disebut causal chain system dari variabel laten dapat dispesifikasikan sebagai berikut.
ηj = Σi βji ηi + Σi γjb ξb + ζj (2)
dimana βji dan γjb adalah koefisien jalur yang menghubungkan predikator endogen dengan variabel laten exogen ξ dan η sepanjang range indeks i dan b dan ζj adalah inner residual variable.
2. Outher model
Outher model sering juga disebut (outler relation, atau measurement model) mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel latennya. Blok dengan indikator reflektif dapat ditulis dengan persamaannya sebagai berikut.
X = xξ + Ɛ x
Y = y η + Ɛ y (3)
Blok dengan indikator formatif dapat ditulis persamaannya sebagai berikut.
ξ = Πξ x + δξ
ηi = Πη y + δη (4)
dimana ξ, η, x dan y sama dengan yang digunakan pada persamaan (3). Πx dan Πy adalah koefisiensi regresi berganda dari variabel laten dan blok indikator dan δx dan δy adalah residual dari regresi.
3. Weight Relation
Inner dan outler model memberikan spesifikasi yang diikuti dalam estimasi alogaritma PLS, kita memerlukan definisi weight relation. Nilai kasus untuk setiap variabel laten diestimasi dalam PLS berikut.
ξb = Σkb wkb xkb
ηi = Σki Wki yki (5)
3.4.5 Evaluasi Model
Oleh karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik perametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan (Chin, 1998) dalam (Ghozali, 2011). Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukuran prediksi yang mempunyai sifat non-parametrik. Model pengukuran atau outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity dari indikatornya dan composite reliability untuk block indikator. Sedangkan outer model dengan formatif indikator dievaluasi berdasarkan pada substantive contentnya yaitu dengan membandingkan besarnya relatif weight dan melihat signifikansi dari ukuran weight tersebut (Chin, 1998) dalam (Ghozali, 2011). Model struktural atau inner model dievaluasi dengan melihat presentase variance yang dijelaskan yaitu dengan melihat nilai R2 untuk kontruk laten dependen dengan menggunakan ukuran stone-Geisser Q square test (Stone, 1974; Geisser, 1975) dalam (Ghozali, 2011). dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat prosedur boostrapin
3.4.6 Kriteria Penilaian PLS
Tabel 3.1.
Hasil R sebesar 0.67, 0.33 dan 0.19 untuk variabel laten endogen dalam model struktural mengidentifikasikan bahwa model “baik”, “moderat” dan “lemah”
Estimasi koefisien jalur Nilai estimasi untuk hubungan jalur dalam model struktural harus signifikan. Nilai signifikansi ini dapat diperoleh dengan prosedur bootstrapping.
f untuk effect sice Nilai f sebesar 0.02, 0.15 dan 0.35 dapat diinterpresentasikan apakah predikator variabel laten mempunyai pengaruh yang lemah, madium ataukah besar pada tingkat struktural. bahwa model memiliki predictive relevance (Q dibawah nol mengidentifikasikan model kurang memiliki predictive relevance. Dalam kaitannya denga f . dampak relatif model struktural terhadap pengukuran variabel dependen laten dapat dinilai dengan
q - Q2included – Q2excluded 1 – Q2included
Evaluasi model Pengukuran Refleksif
Loading factor Nilai loading faktor harus diatas 0.70
Composite Reability Composite reability mengukur internal consistency dan nilainya harus diatas 0.60
Average Variance Extracted
Nilai Average Variance Extracted (AVE) harus diatas 0.50
Validitas Diskriminan Nilai akar kuadrat dari AVE harus lebih besar dari pada nilai kolerasi antar variabel laten
Cross Loading Merupakan ukuran lain dari validasi diskriminan. Diharapkan setiap blok indikator memiliki loading lebih tinggi untuk setiap variabel laten yang diukut dibandingkan dengan indikator untuk laten variabel lainnya.
Evaluasi Model Pengukuran Formatif
Signifikansi nilai weight Nilai estimasi untuk model pengukuran formatif harus signifikan. Tingkat signifikansi ini dinilai dengan prosedur bootstrapping
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskr ipsi Objek Penelitian 4.1.1. Gambaran Umum
Perusahaan ini pertama kali dibentuk pada 1958 dengan nama GoldStar, dan memproduksi, mesin cuci, TV, kulkas, lift, dan AC. LG Group merupakan gabungan dari 2 perusahaan Korea, yaitu Lucky dan Goldstar, dimana singkatan LG diperoleh. Pada 1995, GoldStar berubah nama menjadi LG Electronics, dan membeli Zenith Electronics.
LG Electronics adalah perusahaan multinasional dari Korea Selatan. LG Electronics adalah perusahaan Korea Selatan kedua terbesar dalam bidang perangkat elektronika dan terbesar ketiga di dunia dalam bidang pembuatan perangkat serupa. Perusahaan ini berkantor pusat di LG Twin Towers di Yoido, Seoul. LG Electronics merupakan ikon dari LG Group.LG Electronics merancang dan memproduksi perangkat rumah tangga, dan perangkat telekomunikasi. LG Electronics juga memiliki perusahaan Zenith Electronics dan mengontrol LG Displays, sebuah perusahaan gabungan dengan Philips Electronics.
sekitar 149 anak di seluruh dunia yang memproduksi berbagai jenis peralatan gadget elektronik dari rumah ke perangkat telekomunikasi. Electronics adalah Top 100 merek di seluruh dunia yang merupakan kekuatan yang dominan yang harus diperhitungkan dalam industri perangkat elektronik. LG Group di dirikan oleh Koo dan Heo pada tahun 1947. Group ini memperluas ke peralatan rumah tangga pada 1958 di bawah nama Goldstar Electronics Co. (sekarang disebut LG Electronics), yang merupakan perusahaan elektronik pertama di negara tersebut. Mengenai LG Electronics sendiri merupakan perusahaan elektronik global yang berkantor pusat di Yeouido, Seoul, Korea Selatan. LG Electronics adalah produsen televisi dunia terbesar kedua dan produsen ponsel terbesar ketiga merupakan anak perusahaan unggulan dari LG Group.
4.1.2. Logo Per usahaan
4.1.3. Visi dan Misi Perusahaan Visi LG
”Memimpin pergerakan konvergensi digital”.
Penjabaran visi:
LG meyakini bahwa melalui inovasi teknologi saat ini, LG akan menemukansolusi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hari esok. Teknologi membuka kesempatan—bagi bisnis untuk tumbuh, bagi warga negara di pasar yang sedang berkembang untuk hidup sejahtera dengan memasuki tahap ekonomi digital, dan agar masyarakat dapat menemukan peluang baru. Tujuan LG adalah mengembangkan teknologi yang inovatif dan proses efisien yang menciptakan pasar baru, memperkaya hidup semua orang, dan terus menjadikan LG sebagai pemimpin digital yang terpercaya.
Misi LG
Menjadi “digital-εCompany” yang terbaik. Digital
Untuk menciptakan produk dan layanan teknologi yang memimpin industri. 4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian
4.2.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian
kuisioner dinyatakan dengan memberi skor yang berada dalam rentang nilai 1 sampai 5 pada masing-masing skala, dimana nilai 1 menunjukkan nilai terendah dan nilai 5 menunjukkan nilai tertinggi.
4.2.2 Keadaan Responden
4.2.2.1 Berdasarkan J enis Kelamin
Dari 119 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat diketahui jenis kelamin dari responden yakni pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.1.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%)
1 Pria 67 56,30
2 Wanita 52 43,70
Total 119 100,00
Sumber: Data diolah
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa responden pria sebanyak 67 orang (56,30%) dan responden wanita sebanyak 52 orang (43,70%).
4.2.2.2 Usia Responden
Tabel 4.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah Prosentase (%)
1 17-30 tahun 35 29,91%
2 31-45 tahun 63 52,14%
3 ≥ 45 tahun 21 17,95%
Total 119 100,00%
Sumber : Data diolah
Dari tabel tersebut dapat diketahui responden berusia 17-30 tahun sebanyak 35 orang (29,91%), usia 31-45 tahun sebanyak 63 orang (52,14%), dan usia 45 tahun lebih sebanyak 21 orang (17,95%).
4.2.2.3 Pekerjaan Responden
Dari 119 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat diketahui pekerjaan para responden yakni pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.3.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Prosentase (%)
1 Mahasiswa 23 19,33%
2 PNS 45 37,82%
3 Pegawai Swasta 51 42,86%
Total 119 100,00%
Sumber : Data diolah
4.2.3. Deskr ipsi Per luasan Merek (X)
Perluasan Merek (X) (brand extention) adalah pengunaan merek yang sudah ada pada produk baru dimana produk tersebut memiliki katagoriyang berbeda dengan merek yang digunakannya. Perluasan Merek (X) dibentuk oleh 4 dimensi antara lain: Kesamaan / Similarity (X1), Reputasi / Reputation (X2), Persepsi Resiko / Perceived Risk (X3) dan Inovasi / Innovativeness (X4).Penjelasan masing-masing dimensi pembentuk Perluasan Merek (X) adalah sebagai berikut
4.2.3.1 Kesamaan / Similarity (X1)
Hasil tanggapan responden terhadap kesamaan / similarity (X1) dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4.
Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Kesamaan / Similarity (X1)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel kesamaan / similarity (X1) adalah sebagai berikut :
1. Pada item pertanyaan pertama mengenai kesesuaian antara merek asal dan merek perluasan sebagian besar responden menjawab pada skor 4 yakni masing-masing sebanyak 70 responden atau 58,82%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju dengan adanya kesamaan perluasan merek LG mesin cuci dengan televisi LG
2. Pada item pertanyaan kedua mengenai kesesuaian asosiasi antara merek asal dan merek perluasan sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 74 responden atau 62.18%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju dengan adanya kesesuaian simbol, label atau logo televise LG dengan simbol, label atau logo mesin cuci LG.
4.2.3.2Reputasi / Reputation (X2)
Hasil tanggapan responden terhadap reputasi / reputation (X2) dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.5.
Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Reputasi / Reputation (X2)
No Pert anyaan sudah cukup terkenal, karena perusahaan LG yang sudah dikenal menjual peralat an elektonik
0 0 5 51 63 119
Prosent ase 0% 0% 4.20% 42.86% 52.94% 100%
2
M enurut saudara Televisi LG sudah dikenal dimasyarakat , karena televise LG memiliki harga murah dan kualit as yang baik
0 0 25 61 33 119
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel reputasi / reputation (X2) adalah sebagai berikut :
1. Pada item pertanyaan pertama mengenai popularitas perusahaan perluasan merek sebagian besar responden menjawab pada skor 5 yakni masing-masing sebanyak 63 responden atau 52.94%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden sangat setuju perusahaan LG sudah cukup terkenal, karena perusahaan LG yang sudah dikenal menjual peralatan elektonik
4.2.3.3Persepsi Resiko / Perceived Risk (X3)
Hasil tanggapan responden terhadap persepsi resiko / perceived risk (X3) dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6.
Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Persepsi Resiko / Perceived Risk (X3) memberikan manfaat yang lebih sepert i kualit as gambar dan suara
Saudara setuju akan mengunakan Televisi LG karena sudah menget ahui speksifikasi t ent ang Televisi LG
0 0 14 60 45 119
Prosent ase 0% 0% 11.76% 50.42% 37.82% 100%
3
Anda setuju Bila menggunakan Televisi LG tidak ada keraguan lagi, soal kualit as Televisi t ersebut
0 0 17 56 46 119
Prosent ase 0% 0% 14.29% 47.06% 38.66% 100%
4
Anda set uju Selama menggunakan t elevisi LG tidak perna mengalami kekecew aan
0 0 20 61 38 119
Prosent ase 0% 0% 16.81% 51.26% 31.93% 100%
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel persepsi resiko / perceived risk (X3) adalah sebagai berikut :
memberikan manfaat yang lebih seperti kualitas gambar dan suara sound system yang baik supaya keyakinan konsumen
2. Pada item pertanyaan kedua mengenai Keraguan memilih sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 60 responden atau 50.42%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju akan mengunakan Televisi LG karena sudah mengetahui speksifikasi tentang Televisi LG
3. Pada item pertanyaan ketiga mengenai Pengetahuan sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 56 responden atau 47.06%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju bahwa dalam menggunakan Televisi LG tidak ada keraguan lagi, soal kualitas Televisi tersebut
4.2.3.4Inovasi / Innovativeness (X4)
Hasil tanggapan responden terhadap inovasi / innovativeness (X4) dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.7.
Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Inovasi / Innovativeness (X4)
No Pert anyaan menggunakan produk merek LG yang lain
0 0 17 43 59 119
Prosent ase 0% 0% 14.29% 36.13% 49.58% 100%
2
Saudara set uju Televisi LG merupakan inovasi produk baru dari merek LG
0 0 18 50 51 119
Prosent ase 0% 0% 15.13% 42.02% 42.86% 100%
3
Saudara set uju Pengoprasional t elevisi LG memberikan Kemudahan penggunaan produk bagi konsumen
0 0 18 51 50 119
Prosent ase 0% 0% 15.13% 42.86% 42.02% 100%
4
Produk Televisi LG merupakan pengembangan produk dari merek LG, yang aw alnya mesin cuci menjadi televisi LG
0 0 13 69 37 119
Prosent ase 0% 0% 10.92% 57.98% 31.09% 100%
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel inovasi / innovativeness (X4) adalah sebagai berikut :
setuju Inovasi merek LG membuat anda tertarik menggunakan produk merek LG yang lain
2. Pada item pertanyaan kedua mengenai Mencari merek baru sebagian besar responden menjawab pada skor 5 sebanyak 51 responden atau 42.86%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden sangat setuju televisi LG merupakan inovasi produk baru dari merek LG
3. Pada item pertanyaan ketiga mengenai Mengerjakan hal baru sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 51 responden atau 42.86%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju pengoprasional televisi LG memberikan Kemudahan penggunaan produk bagi konsumen
4. Pada item pertanyaan keempat mengenai Keinginan Perubahan sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 69 responden atau 57.98%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden setuju produk televisi LG merupakan pengembangan produk dari merek LG, yang awalnya mesin cuci menjadi televisi LG
4.2.4. Deskr ipsi Citra Merek (Y)
Penjelasan masing-masing dimensi pembentuk Citra Merek (Y) adalah sebagai berikut :
4.2.4.1Pengetahuan / Knowledge (Y1)
Hasil tanggapan responden terhadap pengetahuan / knowledge (Y1) dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.8.
Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Pengetahuan / Knowledge (Y1)
No Pert anyaan
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel pengetahuan / knowledge (Y1) adalah sebagai berikut :
2. Pada item pertanyaan kedua mengenai Frekuensi Pembelian Merek sebagian besar responden menjawab pada skor 5 sebanyak 49 responden atau 41.18%. Hal tersebut menunjukan bahwa responden sangat setuju sering melakukan pembelian Televisi LG
3. Pada item pertanyaan ketiga mengenai Informasi produk sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 53 responden atau 44.54%. Hal tersebut menunjukan responden setuju bahwa responden merupakan seseorang yang mempunyai keinginan segera membeli setelah anda mendapatkan banyak informasi mengenai produk televise LG
4.2.4.2Kontr ibusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand (Y2) Hasil tanggapan responden terhadap kontribusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand (Y2) dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.9
.Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Kontribusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand (Y2) menget ahui kesesuaian t ent ang kualit as produk mesin cuci LG dengan t elevise LG
0 0 18 52 49 119
Prosent ase 0% 0% 15.1% 43.7% 41.1% 100%
2
Anda merupakan seseorang yang ingin menget ahui kesesuaian produk Televisi LG yang memiliki cit ra merek yang t inggi, sama dengan poduk Televisi yang merupakan salah sat u perusahaan besar indonesia
0 0 25 56 38 119
Prosent ase 0% 0% 21.0% 47.0% 31.9% 100%
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui deskripsi variabel kontribusi dalam membentuk citra merek / fit to the brand (Y2) adalah sebagai berikut :
1. Pada item pertanyaan pertama mengenai Kesesuaian Katagori antara produk baru dengan produk perluasan sebagian besar responden menjawab pada skor 4 yakni masing-masing sebanyak 52 responden atau 43.70%. Hal tersebut menunjukan responden setuju bahwa responden termasuk seseorang yang ingin mengetahui kesesuaian tentang kualitas produk mesin cuci LG dengan televise LG
2. Pada item pertanyaan kedua mengenai kesesuaian Produk baru dengan Image sebagian besar responden menjawab pada skor 4 sebanyak 49 responden atau 47.06%. Hal tersebut menunjukan responden setuju bahwa responden merupakan seseorang yang ingin mengetahui kesesuaian produk Televisi LG yang memiliki citra merek yang tinggi, sama dengan poduk Televisi yang merupakan salah satu perusahaan besar Indonesia.
4.3 Deskripsi Hasil Analisis dan Uji Hipotesis 4.3.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Konstruk
Tabel 4.10
Berdasarkan pada tabel outer loading di atas, maka pada variabel dengan indikator reflektif Yaitu Citra Merek (Y) dimana seluruh indikator kedua variabel tersebut memiliki loading factor (original sample estimate) lebih besar dari 0,50 dan atau signifikan (Nilai T-Statistic lebih dari nilai Z α = 0,05 (5%) = 1,96 ), sehingga indikator –indikator tersebut adalah menjadi pengukur/indikator variabelnya. Secara keseluruahn hasil estimasi telah memenuhi Convergen vailidity dan validitas baik.
Tabel 4.11
Hasil Uji Average Variance Extracted (AVE) Average
variance extracted(AVE) Perluasan Merek (X)