BIOLOGI SELULER DAN MOLEKULER
KODE MK : 04015061 JUMLAH SKS : 2 SKS SEMESTER : III (TIGA)
Edisi Revisi 2020
Metode Analisis Molekuler:
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Tatap Muka ke-14
Disusun oleh: Tim Dosen Biologi Sel Molekuler
Ingat Kembali Materi Terkait DNA
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Ingat Kembali Materi Terkait Replikasi
Reaksi Polimerase Berantai
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
• Reaksi Polimerase Berantai ~ Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu metode amplifikasi
(perbanyakan) fragmen DNA secara invitro berdasarkan prinsip replikasi DNA
• Metode ini dikembangkan oleh ilmuan biokimia bernama Kary Mullis (1983)
• Berkat penemuannya ini Kary Mullis memenangkan hadiah Nobel dibidang Kimia pada tahun 1993
Reaksi Polimerase Berantai
Komponen Reaksi PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Target DNA (template) yang akan diamplifikasi / perbanyak
• Sumber DNA bisa dari mana saja:
▪ DNA sel prokariotik
▪ DNA sel eukariotik
▪ DNA mitokondria
• Sebelum dijadikan template, DNA dari sel ataupun sampel lainnya harus diisolasi/diekstraksi terlebih dahulu
• Proses/metode isolasi disesuaikan dengan karakteristik sel dan sampelnya
Fragmen DNA/Cetakan DNA
▪ DNA virus
▪ DNA rekombinan/kloning
Oligonukleotida DNA rantai tunggal pendek yang
berkomplemen dengan urutan basa target DNA yang akan diamplifikasi
• Primer menentukan spesifisitas reaksi dari metode PCR
• Hasil dari PCR (amplikon) besarannya ditentukan dari jarak antar pasangan primer
• Primer dapat dirancang sesuai dengan keinginan
• Sebelum digunakan, primer sebaiknya dioptimasi untuk mendapatkan hasil yang optimal
Sepasang Primer
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
• Panjang primer
18 – 22 pasang basa
• Melting temperature (Tm) / suhu peleburan 52 – 60
oC
• Kandungan Guanin (G) dan Sitosin (C) 40 – 60 %
• Hindari struktur sekunder
• Hair-pin Loop
• Self-Dimer
• Cross-Dimer
Kriteria Primer
https://youtu.be/OcN6mML3DGI
1. Menyiapkan sekuen referensi
a) Pilih sekuen referensi dari database GenBank dari situs (www.ncbi.nlm.nih.gov), misalkan gen eae dari E.coli
b) Masuk di NCBI → pilih nukleotida → masukkan nama sekuen gen yang diinginkan → klik FASTA → salin sekuen/simpan
Melakukan Desain Primer
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
2. Buka software untuk mendesign primer, contoh Primer3plus
(http://www.bioinformatics.nl/cgi-bin/primer3plus/primer3plus.cgi)
Melakukan Desain Primer
3. Masukkan sekuen pada kotak yang tersedia atau bisa mengunggah (upload) sekuen dari file komputer
Melakukan Desain Primer
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
4. Pilih jenis primer yang ingin didesain, primer sense (left
primer ), antisense (right primer ), probe/pelacak (internal oligo)
Melakukan Desain Primer
5. Tentukan parameter lain jika diperlukan
Melakukan Desain Primer
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
6. Klik di “General Settings” → Atur parameternya
Melakukan Desain Primer
7. Didapatkan urutan pasangan primernya
Forward: CTGCTGAAATGTACGGCTGA Reverse: TGCAGGATGGGAAATACACA
Melakukan Desain Primer
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
8. Lalukan konfirmasi
• NCBI → BLAST → BLAST Nukleotida
• Masukkan salah satu sekuen primer nya
Melakukan Desain Primer
Enzim termostabil yang berperan dalam sintesis DNA
• Bersifat termostabil agar tahan terhadap tahapan reaksi bersuhu tinggi
• Berfungsi mensistesis rantai DNA baru dari cetakan DNA yang digunakan
• Jenis yang umum digunakan adalah enzim Tag Polimerase yang berasal dari mikroorganisme Thermophillus aquaticus
Enzim DNA Polimerase Termostabil
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Beberapa Contoh Enzim Polimerase
dNTP merupakan nukleotida penyusun rantai DNA baru
• Merupakan material building blocks/penyusun dari sintesis DNA
• Memiliki 2 tambahan gugus fosfat dari bentuk nukelotida pada umumnya
• N ~ Nukeolutida secara umum, mewakili A, C, T, dan G
Deoksinukleotida Trifosfat (dNTP)
Mempertahankan kondisi lingkungan yang optimal untuk reaksi PCR
• Diperlukan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang optimal dikarenakan proses sistesis DNA terjadi secara invitro
• Beberapa komponen dalam buffer PCR:
• 100 mM Tris-HCl (pH 8,8) →mempertahankan kondisi pH antara 8-9
• 50 mM KCl → memfasilitasi penempelan primer saat PCR
• 15 mM MgCl
2→ co-faktor bagi enzim polimerase
Larutan Penyangga/Buffer
Pemisahan untai ganda DNA menjadi untai tunggal
• Tahapan pertama dari metode PCR dimana terjadinya pemutusan ikatan hidrogen antar basa nitrogen pada
DNA yang menyebabkan untai ganda DNA menjadi untai tunggal
• Suhu reaksi: 90 – 98
oC selama 20-30 detik
Tahap Denaturasi
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Penempelan primer pada fragmen spesifik DNA target
• Tahapan kedua dari metode PCR dimana terjadinya
penempelan primer pada fragmen spesifik DNA target sesuai dengan urutan basa primernya yang telah
dirancang sebelumnya
• Suhu reaksi: 50 – 65
oC selama 20-40 detik
Tahap Penempelan/Annealing
Pemanjangan primer/sintesis DNA sesuai dengan urutan fragmen spesifik DNA target
• Tahapan terakhir dari metode PCR dimana terjadinya pemanjangan primer (sintesis DNA) dengan bantuan enzim DNA polimerase membentuk komplemen DNA dari untai tunggal DNA target
• Suhu reaksi: 70 – 80
oC selama 60 detik
Tahap Ekstensi/Pemanjangan
Instrumentasi PCR & Pendukung
Kabinet PCR
Mikropipet
Minisentrifus
Mikrosentrifus
Vortex
Drybath
Cool Plate Mesin PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Replikasi vs PCR
No Replikasi DNA PCR
1 Enzim Helikase Pemanasan suhu 90 – 95
oC 2 Origin of Replication Sepasang Primer spesifik
komplemen dengan basa template 3 Enzim Primase Penurunan suhu menjadi 50 – 60
oC 4 Enzim DNA Polimerase Enzim DNA Polimerase termostabil 5 Proses Elongasi Suhu dipertahankan 70 – 80
oC
6 Satu siklus = 1 pembelahan sel bakteri
Jumlah siklus 20 – 40 x
Mari mengenal beberapa aplikasi dari metode PCR
1. Pendeteksian Cemaran Organisme, 2. Pengidentifikasian Orgenisme,
3. DNA Forensik,
4. Diagnosis Penyakit,
5. Pemetaan Sifat Keturunan, 6. Isolasi Gen,
7. Perubahan/Mutasi Genetik,dsb.
Aplikasi PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Mari mengenal titik kritis dari metode PCR 1. Metode Ekstraksi DNA
2. Design Primer
3. Protokol Pengerjaan dan Komposisi Reaksi PCR 4. Design Laboratorium
Titik Kritis Pengerjaan PCR
Ilustrasi Aplikasi PCR
https://youtu.be/ThG_02miq-4
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Mari mengenal tipe-tipe PCR berdasarkan prinsip kerjanya:
1. Konvensional PCR (PCR)
PCR generasi pertama
2. Real-time PCR (qPCR)
PCR generasi kedua
3. Digital PCR (dPCR)
PCR generasi ketiga
4. Isotermal PCR (LAMP – Loop Mediated Isothermal Amplification)
Rapid PCR
Beberapa Tipe PCR
Kualitatif PCR yang membutuhkan instrument tambahan untuk analisisnya
• Merupakan standar PCR yang menyediakan hasil kualitatif dan masih memerlukan intrumen tambahan dalam analisa/visualisasi hasilnya
• Hasil akhirnya berupa visualisasi pita-pita DNA
• Membutuhkan instrument elektroforesis agar (Gel
electrophoresis) dan dokumentasi agar (Gel documentation) untuk visualisasinya
• Pewarnaan DNA dilakukan setelah proses PCR selesai dan biasanya menggunakan pewarna Etidium Bromida (EtBr)
Konvensional PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Illustrasi Konvensional PCR
Pemisahan fragmen DNA berdasarkan ukurannya
• Di akhir proses PCR terdapat beberapa kemungkinan fragmen DNA (DNA target, Amplikon, Amplikon tidak spesifik, Primer Dimer, dsb) yang
ukurannya beragam. Fragmen-fragmen ini akan diseparasi/dipisahkan berdasarkan ukurannya dengan bantuan elektroforesis agar
• Migrasi DNA pada agar dapat terjadi dikarenakan DNA memiliki muatan negatif dikarenakan gugus fosfatnya
• Marker DNA digunakan untuk memudahkan analisis
• DNA yang telah diseparasi kemudian diwarnai dan divisualisasikan
• Selain untuk DNA, elektroforesis agar juga dapat digunakan untuk separasi RNA dan protein
Elektroforesis Agar
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Ilustrasi Elektroforesis Agar
Jenis agar yang biasa digunakan adalah Agarosa
Jenis buffer yang biasa digunakan:
• Tris/Acetate/EDTA (Buffer TAE)
• Tris Borate/EDTA (Buffer TBE)
Alir Kerja Elektroforesis Agar
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Pewarnaan DNA dengan penyisipan ke dalamnya (intercalating agent)
• Pewarnaan menggunakan EtBr merupakan zat warna yang bersifat intercalating agents
• Pewarnaan DNA dilakukan dikarenakan DNA tidak memiliki warna, sehingga perlu diwarnai untuk memudahkan proses analisis
• Pewarnaan menggunakan EtBr merupakan pewarna fluoresensi yang dapat berpendar di bawah sinar UV
Etidium Bromida (EtBr)
Etidium Bromida (EtBr)
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Visualisasi dan dokumentasi fragmen DNA untuk analisis
• Fragmen DNA yang telah diseparasi kemudian diwarnai dan divisualisasi untuk analisa lebih lanjut
• Proses dokumentasi biasanya dilakukan untuk melakukan report hasil PCR dan analisa lanjutan
• Dokumentasi biasanya dilakukan dengan 2 bentuk,
dokumentasi di kondisi terpapar sinar UV ataupun dengan cahaya lampu biasa
Dokumentasi Agar
Ilustrasi Dokumentasi Agar
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Animasi Elektroforesis Agar
https://youtu.be/saJIWFUGEbw
Hasil dari Reaksi Konvensional PCR
Pita DNA Hasil dari Analisa Konvensional PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Kualitatif dan Semi Kuantitatif PCR yang sudah tidak membutuhkan instrument tambahan untuk analisisnya
• Biasa dikenal dengan sebutan quantitative PCR (qPCR)
• Menggunakan tambahan pewarna fluorensensi dalam proses reaksinya
• Hasil dapat diamati secara real time/langsung selama proses berjalan
• Berdasarkan jenis pewarna yang digunakan, qPCR dibedakan menjadi 2, yaitu:
• DNA-binding dye/intercalating dye
• Hybridization Probe/pelacak
• Hasil akhirnya berupa kurva antara nilai fluoresensi vs siklus PCR
Real-Time PCR
Ilustrasi Real-Time PCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Sinyal fluoresensi dihasilkan setiap setelah tahapan ekstensi berakhir
• Pewarna dengan kategori DNA-Binding Dye digunakan untuk mewarnai untai ganda DNA
• Pewarna ini dapat menyisipi untai ganda DNA karena termasuk ke dalam kategori intercalating dye
• Keungggulan pewarna ini adalah harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan pewarna jenis probe/pelacak
• Kelemahan pewarna ini adalah cara kerjanya yang tidak spesifik. Hal ini
dikarenakan pewarna ini akan mewarnai semua undai ganda DNA yang ada termasuk DNA target dan primer dimer
• Beberapa contoh pewarna jenis ini adalah:
• EtBr
• SYBR Green
DNA-Binding Dye qPCR
3’
3’ 5’
Taq
ID ID ID Taq
ID ID
l l l
l l
Reaksi DNA-Binding Dye
Sinyal fluoresensi dihasilkan setiap tahapan ekstensi berlangsung
• Merupakan pewarna fluoresensi yang menggunakan oligonukleotida yang diberi label dengan reporter fluoresen yang memungkinkan pendeteksian hanya setelah terjadinya proses hibridisasi pada pelacaknya
• Pewarna dengan kategori Pelacak/Probe Dye menggunakan kombinasi Fluorophore dan Quencher
• Keungggulan pewarna ini adalah pendarannya bersifat spesifik
• Kelemahan pewarna ini adalah harganya yang relative lebih mahal dibandingkan DNA-Binding dye
• Beberapa contoh pewarna jenis ini adalah:
• TaqMan
• Scorpion
• Locked Nucleid Acid (LNA)
Hybridization Probe Dye qPCR
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Reaksi Hybridization Probe Dye
Reaksi Hybridization Probe Dye
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
SYBR vs Probe
Pewarna SYBR:
+ Cost reaksi relatif murah
+ Dapat melakukan analisis Melting Curves - Reaksi bersifat kurang spesifik
Pewarna Probe:
- Cost reaksi relatif mahal
+ Reaksi bersifat lebih spesifik
+ Dapat melakukan multiplexing PCR
Hasil dari Reaksi qPCR
Grafik Hasil dari Analisa qPCR
(Nilai Fluoresensi vs Siklus PCR)
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID
Unit Satuan Hasil qPCR
Cq
Threshold Log Format
Nilai Cq atau Ct, merupakan jumlah siklus yang dibutuhkan sinyal fluoresen melewati garis ambang/threshold
www.uhamka.ac.id (021)73944451 uhamkaid Uhamka @UhamkaID