PENENTUAN INTERVAL WAKTU PEMELIHARAAN PENCEGAHAN BERDASARKAN
ALOKASI DAN OPTIMASI KEHANDALAN PADA PERALATAN SEKSI PENGGILINGAN E (Studi Kasus: PT ISM Bogasari Flour Mills Surabaya)
Edi Suhandoko, Bobby Oedy P. Soepangkat Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jl. HOS Cokroaminoto 12 A, Surabaya 60264
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Bogasari Flour Mills merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penggilingan tepung terigu dan divisi dari PT. Indofood Sukses Makmur. Departemen Penggilingan sebagai bisnis inti dari Bogasari dengan proses kontinyu memiliki jumlah downtime peralatan yang cukup tinggi. Data waktu antar kegagalan menunjukkan bahwa kegagalan peralatan terbesar di Seksi Penggilingan E, sehingga perlu upaya untuk menentukan strategi pemeliharaan pencegahan yang efektif dan mampu meningkatkan kehandalan peralatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan interval waktu pemeliharaan pencegahan berdasarkan alokasi dan optimasi kehandalan pada peralatan di Seksi Penggilingan E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval waktu pemeliharaan pencegahan peralatan yang terpanjang dimiliki oleh sub-sub sistem Panel (694,8 jam) pada saat kehandalan sistem ditargetkan sebesar 70%, dan yang terpendek dimiliki oleh sub-sub sistem Sifter (69,2 jam) pada saat kehandalan sistem ditargetkan sebesar 90%.
Kata kunci: alokasi, optimasi, kehandalan, interval pemeliharaan pencegahan
PENDAHULUAN
Bogasari adalah produsen tepung terigu di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta ton per tahun. Pada saat ini, Bogasari menjadi divisi perusahaan dari kelompok usaha pangan PT. Indofood Sukses Makmur. Proses produksi di Bogasari secara umum ditunjukkan pada gambar 1 berikut.
Departemen Penggilingan
Departemen Penggilingan pada gambar 1 adalah departemen yang bertanggung jawab untuk melakukan proses penggilingan. Pada proses penggilingan, gandum dan air sebagai bahan baku akan digiling menjadi tepung terigu sebagai produk utama. Proses penggilingan gandum juga menghasilkan produk sampingan, yaitu bran, pollard, industrial flour (IF), dan germ.
Proses penggilingan adalah bisnis inti dari Bogasari, yang merupakan industri dengan proses kontinyu. Kegagalan yang sering terjadi pada peralatan proses penggilingan akan menyebabkan tingginya waktu downtime. Gambaran frekuensi kegagalan, jumlah down time, jam operasi mesin, persentase down time, dan kerugian biaya produksi pada seksi-seksi di bawah Departemen Penggilingan dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Frekuensi Kegagalan dan Kerugian Biaya Produksi di Departemen Penggilingan
Sumber: Performance Mill, tahun 2009-Maret 2011
Dari tabel 1 terlihat beberapa item yang menunjukkan bahwa Seksi Penggilingan E layak untuk diteliti. Mettas (2000) melakukan penelitian untuk mengevaluasi kehandalan sistem. Alokasi dan optimasi kehandalan sistem digunakan untuk memenuhi target kehandalan yang ingin dicapai. Penelitian ini menghasilkan dua formulasi, yaitu formulasi masalah alokasi kehandalan dan formulasi biaya yang dapat diselesaikan dengan program non linier (NLP). Malaiya (2005) melakukan penelitian mengenai alokasi kehandalan dengan biaya total yang minimal.
Nilai kehandalan sistem didapatkan dari nilai kehandalan sub sistem, yang kemudian digabungkan untuk dioptimasi. Dengan demikian, penentuan interval pemeliharaan dengan melakukan alokasi dan optimasi menjadi suatu kebutuhan untuk meningkatkan kehandalan dari Seksi Penggilingan E Pemodelan sistem Seksi Penggilingan E ditunjukkan pada gambar 2 berikut:
Gambar 2. Sub Sistem Penyusun Peralatan Seksi Penggilingan E (level 1)
Input, Screening, Transport, Milling dan Output adalah sub sistem penyusun sistem Seksi Penggilingan E. Setiap sub sistem disusun oleh sub-sub sistem seperti ditunjukkan pada gambar 3 berikut:
Gambar 3. Sub-Sub Sistem Peralatan Penyusun Seksi Penggilingan E (level 2)
Fungsi Kehandalan
Kehandalan (reliability) dapat diartikan sebagai peluang bahwa sebuah komponen akan mampu melaksanakan sebuah fungsi yang spesifik dalam suatu kondisi operasi dan periode waktu tertentu (Lewis, 1987). Fungsi padat peluang, kehandalan, laju kegagalan dan MTBF terhadap waktu (Ebeling, 1997) ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Fungsi Padat Peluang, Kehandalan, Laju Kegagalan dan MTBF Macam
Distribusi LogNormal Weibull
Fungsi Padat Peluang
2 ln 2
2 exp 1 2 ) 1
(
t
t t f
dengan: = rata-rata
= deviasi standar
t t
t
f ( ) exp
1
dengan:
η = parameter skala (scale parameter), η > 0 β = parameter bentuk (shape parameter), β > 0
= parameter lokasi (location parameter)
Kehandalan 1 -
= cumulative probability distribution function
exp t
Laju
Kegagalan ( )
) (
t R
t
f
1
t
MTBF )
exp( 2
2
1 )
( 1
Γ = fungsi gamma
Analytical Hierarchy Process (AHP)
Metode ini juga biasa digunakan untuk mengolah data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, sehingga kompleksitas permasalahan yang multi-objektif dan multi- kriteria dapat di dekati dengan model. Berikut di bawah ini adalah langkah-langkah dalam menggunakan metode AHP menurut Saaty (1988):
Pengidentifikasian sistem
Penyusunan hirarki
Penentuan prioritas
Pemerikasaan konsistensi
Penentuan bobot prioritas Program Non Linier
Setelah kehandalan suatu sistem dihitung maka dapat dibandingkan apakah kehandalan sistem aktual telah mencapai target kehandalan yang telah ditetapkan. Jika belum, akan dilakukan upaya untuk meningkatkan kehandalan sistem tersebut.
Permasalahan tersebut dapat dirumuskan dengan program non linier di bawah ini (Mettas, 2000).
P:
ni
i
i
R
c C
1