Inikah Cita-Citaku ?
PENGANTAR:
Puji Syukur Penulis haturkan kepada Allah, yang memberikan Penulis dorongan , kesadaran, inspirasi dan juga keinginan untuk membuat tulisan ini. Memang sedari awal penulisan buku ini bukan di maksudkan untuk mencari keuntungan, namun lebih karena ingin menjawab kegundahan Penulis terhadap banyaknya fenomena tentang kegalauaan cita-cita, banyak orang yang sering membahas tentang hal ini, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan elit semuanya berlomba-lomba dalam mencari dan menggapai cita-cita. Penulis juga menemukan fenomena dimana Penulis harus ditinggalkan sebagian teman- temannya karena mereka merasa berbeda cita-cita dengan Penulis. Rasa kehilangan itu sangat menusuk bagi hati Penulis, karna mereka yang pergi adalah orang-orang dekat dari Penulis. Namun Penulis berterimakasih kepada sahabat-sahabat yang memiliki cita-cita yang sama dengan Penulis memberikan dorongan dan motivasi agar terus mempertahankan keyakinan terhadap cita-cita.
Masalah tersebut tak berhenti dalam kehidupan Penulis, namun juga berlangsung dalam lingkungan sekitar kita yang sering disebut dengan krisis identitas, banyak orang yang bingung menempatkan jalan hidupnya, banyak pertanyaan meanstream tentang, sebenarnya apa cita-cita yang baik itu ? Seberapa besarkah dan seberapa tinggikah cita-cita itu ? Apakah kita harus memiliki gambaran
menjadi Pejabat Negara, Pengusaha, Dosen, Manajer, baru kita bisa di katakan memiliki cita-cita ?
Dalam buku ini akan membahas segala kegundahan tersebut lewat sebuah kisah seorang anak bernama Anton, yang dia melakukan sebuah upaya untuk dapat menemukan makna cita-cita yang sesungguhnya lewat perjalanan hidup dan pengamatan hidup yang dia alami.
Satu harapan besar bagi Penulis terhadap buku ini, semoga bisa memberikan sedikit pencerahan dan inspirasi bagi mereka yang bingung dengan cita-citanya. Jikalau buku ini bermanfaat, maka ceritakanlah kepada teman- teman anda selainnya, bagikan kisah ini agar banyak dari mereka yang mengetahui dan menyadari akan makna cita- cita yang sesungguhnya. Dan Penulis selalu mendoakan agar banyak orang yang ada di indonesia ini memiliki sebuah cita-cita yang dapat membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis meyakini masih banyak kekurangan dari penulisan buku ini, Penulis berharap selalu masukan dari para pembaca kepada setiap tulisan yang dibuat. Sekian pengantar dari Penulis, terimakasih dan selamat membaca.
Surabaya, 17 September 2016
Niko Putra Sadewa
Di Atas Bukit
“sebuah harapan indah tidak datang dengan sendirinya, sebuah harapan indah hadir dari
memahami kenyataan”
Di pagi yang indah , duduk dua orang kakak beradik di atas sebuah bukit. Bukit tempat dimana sebuah desa kecil nan asri berada bernama Blimbingan, berpenduduk kurang dari 500 keluarga, di dekat sebuah kota besar di daerah Jawa Tengah. Di tengah desa mengalir sebuah sungai terbesar besar di propinsi tersebut, sungai yang dari sana banyak warga yang memanfaatnya untuk kepentingan mandi, cuci baju, bermain dan masih banyak hal lagi yang sering warga lakukan di sungai itu. Pohon-pohon yang rindang, suara angin yang lembut menemani percakapan dua orang saudara yang telah lama tak berjumpa, mereka adalah Anton dan Dilan.
“Kak, indah ya ?” Seru Anton melihat begitu mengagumkannya apa yang nampak di depan matanya.
“Hemt, beginilah Dek desa kita.” Jawab Dilan dengan wajah tenang penuh senyum.
Melihat jawaban kakaknya , Anton langsung melirik kakaknya.
“Hemmtt” Anton ragu untuk berbicara, karna ia melihat kakanya sedang termenung, menatap kedepan dengan kedua tangan di jadikan penopang di belakang tubuhnya.
Anton sejenak berpikir menganai hal apa saja yang baru terjadi kepada kakaknya tersebut. Anton adalah seorang anak remaja berperawakan sedang, dengan rambut lurus berponi (seperti personil Cangcuters hehe), dengan wajah polos dan selalu menyukai hal- hal yang baru. Anton sekarang berada di kelas 2 SMA di SMA terbaik di desa tersebut yaitu SMA 1 Blimbingan, walaupun berada di tengah desa, namun karna SMA itu adalah SMA terbaik di sana, budaya kotapun masih banyak berpengaruh di sekolah ini, sekolah yang terkenal dengan julukan Sekolah Sorasem (ngisor wit asem) atau dalam Bahasa Indonesia berarti di bawah pohon asem. Karna memang ada pohon asem besar yang terletak di tengah-tengah sekolah tersebut.
Kakaknya Dilan, seorang mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi di daerah Semarang, ia adalah anak tertua dari dua bersaudara. Dilan yang berperawakan kecil, dengan rambut jambulnya, serta ia adalah sosok
yang humoris. Dilan memang sering keluar rumah, bukan dalam rangka bekerja, tetapi ia pergi untuk mencari sesuatu yang banyak ia pertanyakan dalam pikirannya. Ia bukan sosok yang berperstasi, tetapi bagi warga sekitar menganggap ia anak yang pintar.
Karna tidak ada anak desanya yang bisa sekolah sampai ke Perguruan Tinggi kecuali ia dan Dini akan kepala desa.
Sejak kecil mereka diasuh dengan penuh kasih sayang, oleh seorang lelaki tua nan kurus, yang bekerja sebagai buruh tani serta seorang wanita yang anggun dan lembut yang selama 5 tahun bekerja sebagai buruh pijat keliling. hingga pada 2 tahun yang lalu ayah mereka meninggal, terseret air bah saat sungai sedang meluap, sedangkan mereka sekarang hanya tinggal besrsama dengan ibunya.
“Kak ?” Dengan ragu Anton memanggil kakaknya yang sedang termenung.
“Eh , ada apa Dek ?” kaget mendengar sautan dari adiknya tersebut.
“Kakak mikirin apa ?” Dengan polos ia bertanya
“Sedang mikirin kamu hahaha” Dilan menjawab dengan nada menggoda.
“Yah Kakak, serius nih“ Dengan kesal dan menarik-narik kaos kakanya
“Eh aku serius, apa muka ku keliatan kayak tukang bo’ong haha, nie lihat nie“ Dengan memegang pipinya dan menunjukan raut muka yang lucu.
“Lucu, nih lucu” Anton membalas dengan menarik hidung kakaknya yang sedang mengerjai dia
“Aduh, sakit tau” Dilan membalas dengan mencubit pipinya anton
“Udah Kak, udah, sakit , ampun Kak , kan Cuma canda aja Kak hehe” jawab Anton dengan senyum yang lebar
“Hahaha pipimu kayak boboho, merah semua”
“Biarin , Kakak juga kayak orang tua, idungnya komedonya besar wkwkw” Balas Anton sambil menunjuk hidung kakanya yang memerah.
“Sialan” Jawab dilan dengan kesal.
Disela canda mereka anton bertanya “Haha Kak, tumben ngajak aku ke sini ?”
“Hayo kenapa aku ngajak kamu ke sini ?”
“Ya ga tau Kak, atau jangan-jangan Kakak kangen ya buat main sama aku kayak dulu haha”
“Yaelah, pikiranmu itu hlo, bisannya main…
mulu, belajar Dek, belajar.” Jawab dilan dengan nada mengejek
“Abis ga ada yang ngajari aku kayak dulu sih.”
Anton membalas dengan nada lemah
Sejenak Dilan berpikir, memang sejak kepergiannya untuk kuliah tidak ada lagi sosok yang mendampingi Anton untuk menjalani masa remajanya, dan membimbingnya. Ibu di rumah sibuk dengan pekerjaannya, sudah dapat di pastikan Anton menjalani dan mengarungi masa mudanya tanpa sebuah arahan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.
“Emmtt, sebenernya ada sesuatu sih yang pingin aku omongin ke kamu.”
“Apa Kak?”
“Mengenai masa depan Dek.” Merubah raut wajahya menjadi lebih serius
“Maksudnya gimana Kak ?” Tanya anton sambil mengelus-elus pipinya yang dicubit kakanya tadi.
“Kamu sekarang udah kelas 2 SMA kan? Kamu udah tau kedepan mau kerja, kuliah atau gimana ?”
“Heh ? Ga tau Kak hehe, emangnya kenapa Kak ?”
Jawab Anton dengan cengengesan.
Menanggapi kalimat dari Anton , Dilan menghela nafas panjang, wajahnya termenung, dan seraya berpikir ulang tentang apa yang akan ia sampaikan kepada adiknya.
“Hah... Hidup Dek. Inilah hidup, kamu ga akan pernah tau kalau kamu ga pernah mencari tahu, kakak selalu kepikiran apabila hal yang tidak aku inginkan justru terjadi pada adikku yang polos dan katro ini haha.” Jawab Dilan sambil melihat kembali pemandangan sawah di pagi itu.
Sejenak suasana menjadi hening dan suara burung- burung kecil ibarat iklan yang hadir disela pembicaraan kedua orang tersebut.
Sudah dua tahun Dilan meninggalkan rumah untuk menimba ilmu di jurusan sosial sebuah perguruan Tinggi Semarang. Dilan yang sedari dulu memiliki cara berpikir yang aneh di bandingkan dengan anak- anak sebayanya, yang menghabiskan waktu untuk pacaran, keluyuran, ke mall. Tetapi ia justru sering
berkeliling kota hanya untuk menghabiskan waktu melihat kondisi kota yang ia datangi.
Sejenak Anton berpikir mengenai maksud dari perkataan kakanya tersebut
“Maksudnya gimana Kak ?”
“Kamu lihat disana.” Sambil menunjuk para petani yang sedang bercocok tanam di kejauhan.
“Iya Kak, petani ada apa ?” Anton masih kebingungan.
“Kenapa mereka menjadi petani ? Kamu pernah lihat di pabrik itu ? Di sana banyak pekerja pabrik, kenapa mereka menjadi pekerja pabrik ? Kamu pernah lihat ke rumah, kamu lihat ibu ? Kenapa ia menjadi tukang pijat ? Kamu pernah lihat Dini anaknya Kepala Desa, kenapa ia menjadi dokter ? coba kenapa Dek ?”
Dengan nada naik turun, Anton disodorkan banyak pertanyaan oleh kakaknya.
Sejenak Anton berpikir kembali dengan mengelus- elus dagunya dan menjawab “Karna mereka menginginkan hal itu Kak.”
“Yakin mereka menginginkan itu ?”
“Emmt , mungkin hehe.”