Kolokium Yanti Ariyanti G34080045
Judul Kolokium:
Identifikasi Komposisi Jenis Ikan Sidat (Anguilla: Anguillidae) dalam Kumpulan Larva ikan di Muara Sungai Kedurang Bengkulu, Menggunakan DNA Barcode.
Yanti Ariyanti, Achmad Farajallah, Dyah Perwitasari.
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor. 19 Januari 2012.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perairan laut Indonesia diduga merupakan tempat asal usul beragam spesies ikan sidat (Anguilla spp.) yang tersebar di seluruh dunia. Diantara 18 spesies sidat yang sudah dikenal di dunia, sembilan diantaranya berada di Indonesia bahkan dua diataranya berstatus endemik, yaitu Anguilla borneensis dan Anguilla celebesensis. Ikan sidat termasuk ordo Anguiliformes dan famili Anguillidae yang terdiri dari hanya satu genus yaitu Anguilla. Ciri pembeda genus Anguilla fase dewasa dari genus lain adalah letak sirip anal dan awal sirip punggung agak jauh dari kepala, sirip punggung dan anal memanjang menjadi satu dengan sirip ekor, tutup insang dekat ke bagian dada, serta pola melanofore yang spesifik (Tesch 1977).
Ikan sidat bersifat katadromous. Pemijahannya selalu dilakukan di laut dalam kemudian tumbuh dewasa di perairan tawar, mulai dari muara sampai ke hulu sungai (Aoyama 2009). Dalam siklus hidupnya, tahapan perkembangan larva sidat yang disebut leptochepalus berlangsung relatif panjang di laut. Leptochepalus adalah larva sidat dengan bentuk menyerupai daun willow transparan yang merupakan bentuk khas larva dari ikan elepomorph (Inoue et al. 2004). Setiba di pantai, larva sidat mengalami perkembangan menjadi juvenil (glass eel) dengan bentuk menyerupai pipa (anguilik) dan transparan (Tsukamoto 1994). Juvenil sidat kemudian terbawa arus pasang menuju muara sungai dan akan hidup beberapa hari di muara untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan kadar garam. Larva leptochepalus dan juvenil sidat di daerah tropis memiliki bentuk morfologi yang tidak dibedakan antar spesies sidat (Aoyama et.al 2003). Tingkat kesulitan mengidentifikasi spesies sidat berdasarkan morfologi fase larva dan juvenil menyebabkan terhambatnya pengungkapan keanekaragaman hayati (Herbert 2003).
Salah satu cara identifikasi fase larva adalah menggunakan DNA Barcode. Teknik DNA Barcoding tidak hanya berguna untuk mengidentifikasi spesies yang telah dikenali tetapi juga dapat menemukan spesies baru. Teknik DNA barcoding dapat menyediakan sebuah “barkode biologi” dari urutan pendek DNA yang distandardisasi untuk mengenali suatu spesies (Hajibabaei et al. 2005). Ide mengenai penggunaan barcoding ditujukan untuk membedakan spesies dan mengidentifikasi spesimen yang sulit dikenali, seperti fase larva, potongan organ maupun material yang mengalami pemrosesan, dengan menggunakan sekuens gen yang cukup pendek.
Gen sitokrom oksidase subunit 1, yang dikenal sebagai CO1, merupakan salah satu gen dalam genom mitokondria (mtDNA) yang sekuennya biasa digunakan sebagai barcode. Sekuen gen CO1 mempunyai sifat-sifat yang memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam menentukan suatu spesies pada hampir semua hewan, terutama pada bagian ujung 5’ gen dengan ukuran sekitar 700 bp (Hebert et al. 2003).
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis leptocephalus dan glass eel sidat (Anguilla sp.) dalam kumpulan larva ikan dari muara Sungai Kedurang, Bengkulu menggunakan DNA Barcode.
Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan November 2011-Maret 2012 di bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METODE
Sampel Ikan. Kumpulan ikan yang diambil dari estuari sungai Kedurang Bengkulu merupakan koleksi Dr. Achmad Farajallah IPB. Kumpulan ikan diambil sekali pada minggu kedua bulan Juli 2011 dan dua kali pada minggu keempat Agustus 2011.
Semua sampel disimpan dalam alkohol 70% yang mengandung EDTA 10 mM.
Identifikasi sampel. Larva dan juvenil sidat disortir berdasarkan jumlah myomere ano-dorsal pada larva, kondisi insang, posisi dan kondisi sirip punggung dan sirip dubur.
Ekstraksi dan Isolasi DNA. Sampel jaringan yang digunakan sebagai sumber DNA adalah jaringan otot dari seluruh bagian tubuh, terutama bagian tubuh ke arah posterior anaus. Ekstraksi dan isolasi DNA akan menggunakan DNA Extraction Kit for animal tissue (Geneaid).
Amplifikasi dan Visualisasi Fragmen DNA. Amplifikasi ruas gen CO1 mtDNA akan dilakukan menggunakan primer universal gen CO1 pada ikan (http://ibol.org/resources/barcode-library/). Kondisi PCR akan dioptimasikan untuk memperoleh amplikon tunggal.. Pengujian amplikon akan dilakukan dengan metode polyacrilamiide gel electrophoresis 6% yang
dilanjutkan dengan pewarnaan sensitif perak (Byun et al. 2009).
Perunutan Produk PCR dan Analisis DNA Sequensing. Amplikon berupa pita tunggal di atas gel poliakrilamid dan berukuran sesuai dengan desain primer akan dijadikan cetakan dalam PCR for sequencing menggunakan menggunakan primer yang sama dengan amplifikasi sebelumnya. . Runutan nukleotida yang diperoleh akan diedit kemudian saling disejajarkan menggunakan Clustal W 1.8 yang terdapat dalam program MEGA versi 4.00 (Tamura et al. 2007). Analisis kesamaan nukelotida dan hubungan-hubungan filogenetik antar spesies sidat yang teridentifikasi dan sidat yang datanya sudah tersedia di database GenBank akan dilakukan dengan menggunakan MEGA versi 4.00 dengan berbagai opsi yang akan dieksplorasi kemudian, mulai dari model substitusi, ukuran bootstrap dan pendekatan pembuatan pohon hubungan
kekerabatan.
RENCANA JADWAL PENELITIAN
Kegiatan Bulan
Februari Maret April Mei Juni
Studi Literatur
****** ******
****** ******
******
Penyortiran Sampel
******
Ekstraksi dan isolasi DNA
******
Amplifikasi DNA
******
DNA Sequencing
****** ******
Analisis Filogeni
****** ******
Daftar Pustaka
Aoyama J, Wouthuyze n S, Miller MJ, Inagaki T,
Tsukamoto K.2003. Short-dista nce spawning migration of tropical freshwater eels. Biol. Bull. 204:104-1 08
Aoyama J. 2009. Life history and evolution of migration in
catadromo us eels (Genus Anguilla). Aqua-BioS ci. Monogr. (ABSM) 2: 1–42
Byun SO, Fang Q, Zhou H, dan Hickford JGH. 2009. An effective method for silver-stain ing DNA in large numbers of polyacryla mide gels. Anal Biochem 385: 174-175.
Hajibabaei et al. Dna barcode
distinguish species of tropical Lepidopter a. PNAS 103: 968-971
Hebert PDN, Ratnasingh am S, De Waard JR. 2003. Barcoding animal life: cytochrom e c oxidase subunit 1 divergence s among closely related species. Proc . R. Soc . B 270: 96–99.
Inoue GJ, Miya M, Tsukamoto K, Nishida M. 2004. Mitogenom ic
evidence for elopomorp h fishes (Teleostei) and the evolutiona ry origin of the leptocepha lus larva. Mol Phylogenet Evol 32:274–28 6
Tamura K, Dudley J, Nei M dan Kumar S. 2007. MEGA4: Molecular evolutiona ry genetics analysis
(MEGA) software version 4.0. Molecular Biology and Evolution 24: 1596-1599 .
Tesch FW.1977. The Eel- Biology and Manageme nt of Anguillid Eels. Chapman and Hall : London
Tsukamoto K,
Umezawa A (1994) Metamorp hosis: a key factor of larval migration determinin g
geographic distributio n and speciation of eels. In: Proc 4th Indo-Pac Conf Fac Fisheries, Kasetart University, Bangkok, p 231–248
Judul
Kolokiu
m:
Identifikasi Komposisi Jenis Ikan Sidat ( Anguilla: Anguillidae ) dalam Kumpulan Larva ikan di Muara Sungai Kedurang Bengkulu, Mengguna kan DNA Barcode.
Yanti Ariyanti, Achmad Farajallah, Dyah Perwitasari .
Departeme n Biologi, Fakultas Matematik a dan IPA, Institut Pertanian Bogor. 19 Januari 2012.
PENDA HULU AN
Latar Belakan g
Perairan laut Indonesia diduga merupaka n tempat asal usul beragam spesies
ikan sidat (Anguilla spp.) yang tersebar di seluruh dunia. Diantara 18 spesies sidat yang sudah dikenal di dunia, sembilan diantarany a berada di Indonesia bahkan dua diataranya berstatus endemik, yaitu Anguilla borneensis dan Anguilla celebesens is. Ikan sidat termasuk ordo Anguilifor mes dan famili Anguillidae yang terdiri dari hanya satu genus yaitu Anguilla. Ciri pembeda genus Anguilla fase dewasa dari genus lain adalah letak sirip anal dan awal sirip punggung agak jauh dari kepala, sirip punggung dan anal memanjan g menjadi satu dengan sirip ekor, tutup insang dekat ke bagian
dada, serta pola melanofor e yang spesifik (Tesch 1977).
Ikan sidat bersifat katadromo us. Pemijahan nya selalu dilakukan di laut dalam kemudian tumbuh dewasa di perairan tawar, mulai dari muara sampai ke hulu sungai (Aoyama 2009). Dalam siklus hidupnya, tahapan perkemba ngan larva sidat yang disebut leptochepa lus berlangsun g relatif panjang di laut. Leptochep alus adalah larva sidat dengan bentuk menyerup ai daun willow transparan yang merupaka n bentuk khas larva dari ikan elepomorp h (Inoue et al. 2004). Setiba di pantai, larva sidat mengalami perkemba ngan
menjadi juvenil ( glass eel) dengan bentuk menyerup ai pipa (anguilik) dan transparan (Tsukamot o 1994). Juvenil sidat kemudian terbawa arus pasang menuju muara sungai dan akan hidup beberapa hari di muara untuk mengadap tasikan diri terhadap perubahan kadar garam. Larva leptochepa lus dan juvenil sidat di daerah tropis memiliki bentuk morfologi yang tidak dibedakan antar spesies sidat (Aoyama et.al 2003) . Tingkat kesulitan mengident ifikasi spesies sidat berdasarka n
morfologi fase larva dan juvenil menyebab kan terhambat nya pengungka pan keanekara gaman hayati
(Herbert 2003).
Salah satu cara identifikasi fase larva adalah mengguna kan DNA Barcode. Teknik DNA Barcoding tidak hanya berguna untuk mengident ifikasi spesies yang telah dikenali tetapi juga dapat menemuka n spesies baru. Teknik DNA barcoding dapat menyediak an sebuah
“barkode biologi” dari urutan pendek DNA yang distandardi sasi untuk mengenali suatu spesies (Hajibabae i et al. 2005). Ide mengenai penggunaa n
barcoding ditujukan untuk membedak an spesies dan mengident ifikasi spesimen yang sulit dikenali, seperti fase larva, potongan organ maupun material
yang mengalami pemrosesa n, dengan mengguna kan sekuens gen yang cukup pendek.
Gen sitokrom oksidase subunit 1, yang dikenal sebagai CO1, merupaka n salah satu gen dalam genom mitokondri a (mtDNA) yang sekuennya biasa digunakan sebagai barcode. Sekuen gen CO1 mempuny ai sifat-sifat yang memenuhi persyarata n untuk digunakan dalam menentuk an suatu spesies pada hampir semua hewan, terutama pada bagian ujung 5’ gen dengan ukuran sekitar 700 bp (Hebert et al. 2003).
Tujuan Penelitia n
Penelitian ini bertujuan untuk mengident ifikasi komposisi jenis leptocepha lus dan glass eel sidat ( Anguilla sp.) dalam kumpulan larva ikan dari muara Sungai Kedurang, Bengkulu mengguna kan DNA Barcode.
Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilaksanak an pada bulan November 2011-Mare t 2012 di bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan, Departeme n Biologi, Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METOD E
Sampel Ikan. Kumpulan ikan yang diambil dari estuari sungai Kedurang Bengkulu merupaka
n koleksi Dr. Achmad Farajallah IPB. Kumpulan ikan diambil sekali pada minggu kedua bulan Juli 2011 dan dua kali pada minggu keempat Agustus 2011. Semua sampel disimpan dalam alkohol 70% yang mengandu ng EDTA 10 mM.
Identifika si sampel. Larva dan juvenil sidat disortir berdasarka n jumlah myomere ano-dorsal pada larva, kondisi insang, posisi dan kondisi sirip punggung dan sirip dubur.
Ekstraksi dan Isolasi DNA. Sampel jaringan yang digunakan sebagai sumber
DNA adalah jaringan otot dari seluruh bagian tubuh, terutama bagian tubuh ke arah posterior anaus. Ekstraksi dan isolasi DNA akan mengguna kan DNA Extraction Kit for animal tissue (Geneaid).
Amplifika si dan Visualisas i
Fragmen DNA. Amplifikasi ruas gen CO1 mtDNA akan dilakukan mengguna kan primer universal gen CO1 pada ikan ( http://ibol. org/resour ces/barcod e-library/). Kondisi PCR akan dioptimasi kan untuk memperol eh amplikon tunggal.. Pengujian amplikon akan dilakukan dengan metode polyacrila miide gel electropho resis 6%
yang dilanjutkan dengan pewarnaan sensitif perak (Byun et al. 2009).
Perunuta n Produk PCR dan Analisis DNA Sequensi ng. Amplikon berupa pita tunggal di atas gel poliakrilam id dan berukuran sesuai dengan desain primer akan dijadikan cetakan dalam PCR for sequencin g
mengguna kan mengguna kan primer yang sama dengan amplifikasi sebelumny a. . Runutan nukleotida yang diperoleh akan diedit kemudian saling disejajarka n
mengguna kan Clustal W 1.8 yang terdapat dalam program MEGA versi 4.00 (Tamura et al. 2007). Analisis kesamaan nukelotida
dan hubungan- hubungan filogenetik antar spesies sidat yang teridentifik asi dan sidat yang datanya sudah tersedia di database GenBank akan dilakukan dengan mengguna kan MEGA versi 4.00 dengan berbagai opsi yang akan dieksplora si
kemudian, mulai dari model substitusi, ukuran bootstrap dan pendekata n
pembuata n pohon hubungan kekerabata n.
RENCAN A
JADWAL PENELI TIAN
Kegiatan Bulan
Februari Maret April Mei Juni
Studi Literatur
****** ******
****** ******
******
Penyortiran Sampel
******
Ekstraksi dan isolasi DNA
******
Amplifikasi DNA
******
DNA Sequencing
******
******
Analisis Filogeni
******
******
Daftar
Pustaka
Aoyama J, Wouthuyze n S, Miller MJ, Inagaki T,
Tsukamoto K.2003. Short-dista nce spawning migration of tropical freshwater eels. Biol. Bull. 204:104-1 08
Aoyama J. 2009. Life history and evolution of migration in
catadromo us eels (Genus Anguilla). Aqua-BioS ci. Monogr. (ABSM) 2: 1–42
Byun SO, Fang Q, Zhou H, dan Hickford
JGH. 2009. An effective method for silver-stain ing DNA in large numbers of polyacryla mide gels. Anal Biochem 385: 174-175.
Hajibabaei et al. Dna barcode distinguish species of
tropical Lepidopter a. PNAS 103: 968-971
Hebert PDN, Ratnasingh am S, De Waard JR. 2003. Barcoding animal life: cytochrom e c oxidase subunit 1 divergence s among closely related
species. Proc . R. Soc . B 270: 96–99.
Inoue GJ, Miya M, Tsukamoto K, Nishida M. 2004. Mitogenom ic
evidence for elopomorp h fishes (Teleostei) and the evolutiona ry origin of
the leptocepha lus larva. Mol Phylogenet Evol 32:274–28 6
Tamura K, Dudley J, Nei M dan Kumar S. 2007. MEGA4: Molecular evolutiona ry genetics analysis (MEGA) software
version 4.0. Molecular Biology and Evolution 24: 1596-1599 .
Tesch FW.1977. The Eel- Biology and Manageme nt of Anguillid Eels. Chapman and Hall :
London
Tsukamoto K,
Umezawa A (1994) Metamorp hosis: a key factor of larval migration determinin g
geographic distributio n and speciation of eels. In: Proc 4th Indo-Pac Conf Fac
Fisheries, Kasetart University, Bangkok, p 231–248
Judul Kolokiu m:
Identifikasi Komposisi Jenis Ikan Sidat ( Anguilla: Anguillidae ) dalam Kumpulan
Larva ikan di Muara Sungai Kedurang Bengkulu, Mengguna kan DNA Barcode.
Yanti Ariyanti, Achmad Farajallah, Dyah Perwitasari .
Departeme n Biologi, Fakultas Matematik a dan IPA, Institut Pertanian Bogor. 19 Januari 2012.
PENDA HULU AN
Latar Belakan g
Perairan laut Indonesia diduga merupaka n tempat asal usul beragam spesies ikan sidat (Anguilla spp.) yang tersebar di seluruh dunia. Diantara 18 spesies sidat yang sudah dikenal di dunia,
sembilan diantarany a berada di Indonesia bahkan dua diataranya berstatus endemik, yaitu Anguilla borneensis dan Anguilla celebesens is. Ikan sidat termasuk ordo Anguilifor mes dan famili Anguillidae yang terdiri dari hanya satu genus yaitu Anguilla. Ciri pembeda genus Anguilla fase dewasa dari genus lain adalah letak sirip anal dan awal sirip punggung agak jauh dari kepala, sirip punggung dan anal memanjan g menjadi satu dengan sirip ekor, tutup insang dekat ke bagian dada, serta pola melanofor e yang spesifik (Tesch 1977).
Ikan sidat bersifat
katadromo us. Pemijahan nya selalu dilakukan di laut dalam kemudian tumbuh dewasa di perairan tawar, mulai dari muara sampai ke hulu sungai (Aoyama 2009). Dalam siklus hidupnya, tahapan perkemba ngan larva sidat yang disebut leptochepa lus berlangsun g relatif panjang di laut. Leptochep alus adalah larva sidat dengan bentuk menyerup ai daun willow transparan yang merupaka n bentuk khas larva dari ikan elepomorp h (Inoue et al. 2004). Setiba di pantai, larva sidat mengalami perkemba ngan menjadi juvenil ( glass eel) dengan bentuk menyerup ai pipa (anguilik) dan transparan (Tsukamot o 1994).
Juvenil sidat kemudian terbawa arus pasang menuju muara sungai dan akan hidup beberapa hari di muara untuk mengadap tasikan diri terhadap perubahan kadar garam. Larva leptochepa lus dan juvenil sidat di daerah tropis memiliki bentuk morfologi yang tidak dibedakan antar spesies sidat (Aoyama et.al 2003) . Tingkat kesulitan mengident ifikasi spesies sidat berdasarka n
morfologi fase larva dan juvenil menyebab kan terhambat nya pengungka pan keanekara gaman hayati (Herbert 2003).
Salah satu cara identifikasi fase larva adalah mengguna kan DNA
Barcode. Teknik DNA Barcoding tidak hanya berguna untuk mengident ifikasi spesies yang telah dikenali tetapi juga dapat menemuka n spesies baru. Teknik DNA barcoding dapat menyediak an sebuah
“barkode biologi” dari urutan pendek DNA yang distandardi sasi untuk mengenali suatu spesies (Hajibabae i et al. 2005). Ide mengenai penggunaa n
barcoding ditujukan untuk membedak an spesies dan mengident ifikasi spesimen yang sulit dikenali, seperti fase larva, potongan organ maupun material yang mengalami pemrosesa n, dengan mengguna kan sekuens gen yang cukup pendek.
Gen sitokrom oksidase subunit 1, yang dikenal sebagai CO1, merupaka n salah satu gen dalam genom mitokondri a (mtDNA) yang sekuennya biasa digunakan sebagai barcode. Sekuen gen CO1 mempuny ai sifat-sifat yang memenuhi persyarata n untuk digunakan dalam menentuk an suatu spesies pada hampir semua hewan, terutama pada bagian ujung 5’ gen dengan ukuran sekitar 700 bp (Hebert et al. 2003).
Tujuan Penelitia n
Penelitian ini bertujuan untuk mengident ifikasi komposisi jenis leptocepha lus dan
glass eel sidat ( Anguilla sp.) dalam kumpulan larva ikan dari muara Sungai Kedurang, Bengkulu mengguna kan DNA Barcode.
Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilaksanak an pada bulan November 2011-Mare t 2012 di bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan, Departeme n Biologi, Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METOD E
Sampel Ikan. Kumpulan ikan yang diambil dari estuari sungai Kedurang Bengkulu merupaka n koleksi Dr. Achmad Farajallah IPB. Kumpulan
ikan diambil sekali pada minggu kedua bulan Juli 2011 dan dua kali pada minggu keempat Agustus 2011. Semua sampel disimpan dalam alkohol 70% yang mengandu ng EDTA 10 mM.
Identifika si sampel. Larva dan juvenil sidat disortir berdasarka n jumlah myomere ano-dorsal pada larva, kondisi insang, posisi dan kondisi sirip punggung dan sirip dubur.
Ekstraksi dan Isolasi DNA. Sampel jaringan yang digunakan sebagai sumber DNA adalah jaringan otot dari seluruh bagian
tubuh, terutama bagian tubuh ke arah posterior anaus. Ekstraksi dan isolasi DNA akan mengguna kan DNA Extraction Kit for animal tissue (Geneaid).
Amplifika si dan Visualisas i
Fragmen DNA. Amplifikasi ruas gen CO1 mtDNA akan dilakukan mengguna kan primer universal gen CO1 pada ikan ( http://ibol. org/resour ces/barcod e-library/). Kondisi PCR akan dioptimasi kan untuk memperol eh amplikon tunggal.. Pengujian amplikon akan dilakukan dengan metode polyacrila miide gel electropho resis 6% yang dilanjutkan dengan pewarnaan sensitif perak
(Byun et al. 2009).
Perunuta n Produk PCR dan Analisis DNA Sequensi ng. Amplikon berupa pita tunggal di atas gel poliakrilam id dan berukuran sesuai dengan desain primer akan dijadikan cetakan dalam PCR for sequencin g
mengguna kan mengguna kan primer yang sama dengan amplifikasi sebelumny a. . Runutan nukleotida yang diperoleh akan diedit kemudian saling disejajarka n
mengguna kan Clustal W 1.8 yang terdapat dalam program MEGA versi 4.00 (Tamura et al. 2007). Analisis kesamaan nukelotida dan hubungan-
hubungan filogenetik antar spesies sidat yang teridentifik asi dan sidat yang datanya sudah tersedia di database GenBank akan dilakukan dengan mengguna kan MEGA versi 4.00 dengan berbagai opsi yang akan dieksplora si
kemudian, mulai dari model substitusi, ukuran bootstrap dan pendekata n
pembuata n pohon hubungan kekerabata n.
RENCAN A
JADWAL PENELI TIAN
Kegiatan Bulan
Februari Maret April Mei Juni
Studi Literatur
****** ******
****** ******
******
Penyortiran Sampel
******
Ekstraksi dan isolasi DNA
******
Amplifikasi DNA
******
DNA Sequencing
******
******
Analisis Filogeni
******
******
Daftar Pustaka
Aoyama J, Wouthuyze n S, Miller MJ, Inagaki T,
Tsukamoto K.2003. Short-dista nce spawning migration of tropical freshwater eels. Biol. Bull. 204:104-1 08
Aoyama J. 2009. Life history and evolution of migration in
catadromo us eels (Genus Anguilla). Aqua-BioS ci. Monogr. (ABSM) 2: 1–42
Byun SO, Fang Q, Zhou H, dan Hickford JGH. 2009. An effective method for silver-stain ing DNA in large numbers of polyacryla mide gels. Anal Biochem 385: 174-175.
Hajibabaei et al. Dna barcode
distinguish species of tropical Lepidopter a. PNAS 103: 968-971
Hebert PDN, Ratnasingh am S, De Waard JR. 2003. Barcoding animal life: cytochrom e c oxidase subunit 1 divergence s among closely related species. Proc . R. Soc . B 270: 96–99.
Inoue GJ, Miya M, Tsukamoto K, Nishida M. 2004. Mitogenom ic
evidence for elopomorp h fishes (Teleostei) and the evolutiona ry origin of the leptocepha lus larva. Mol Phylogenet Evol 32:274–28 6
Tamura K, Dudley J, Nei M dan Kumar S. 2007. MEGA4: Molecular evolutiona ry genetics analysis
(MEGA) software version 4.0. Molecular Biology and Evolution 24: 1596-1599 .
Tesch FW.1977. The Eel- Biology and Manageme nt of Anguillid Eels. Chapman and Hall : London
Tsukamoto K,
Umezawa A (1994) Metamorp hosis: a key factor of larval migration determinin g
geographic distributio n and speciation of eels. In: Proc 4th Indo-Pac Conf Fac Fisheries, Kasetart University, Bangkok, p 231–248