• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALYSIS OF INCOME TAX PAYMENTS LISTING (PPH 21) IN SMEs BEKASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALYSIS OF INCOME TAX PAYMENTS LISTING (PPH 21) IN SMEs BEKASI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

ANALYSIS OF INCOME TAX PAYMENTS LISTING (PPH 21) IN SMEs

BEKASI

Anna Maria Afriyani, Dr. Aris Budi Setyawan Undergraduate Program, Faculty of Economic, 2009

Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id Keywords: records, income tax (PPh 21), SMEs

ABSTRACT

Writing aims to determine the condition of payment of tax, recording tax payments (PPh 21) conducted by SMEs and to find out whether the SME keep records in case of an overpayment or underpayment at the time of payment of income tax (PPh 21), obtained from the use of data collection secondary data such as the Internet, and then performed analysis of records prepared by SMEs by using descriptive analysis and statistical inference. After doing research, the authors conclude that the tax payments of SMEs in the region Bekasi is good because most of the SMEs have to pay taxes on time and have although found little difficulty tax rates tax calculation. This should get the attention of tax officials to better socialize the bookkeeping for tax purposes. Bookkeeping has been carried out by SMEs, although not in accordance with Financial Accounting Standards Small and Medium Enterprises (SME GAAP), but SMEs have been doing recording which includes the capital, turnover obtained and costs incurred. Only few who have experienced cases of overpayment or underpayment, but if it happens to MSMEs to keep records even if sober.

(2)

ANALISIS PENCATATAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN (PPH 21) PADA

UMKM DI WILAYAH BEKASI NPM : 20205154

Nama : Anna Maria Afriyani

Pembimbing : Dr. Aris Budi Setyawan Tahun Sidang : 2009

Subjek : Pencatatan, UMKM, pajak penghasilan (PPh 21) Judul

ANALISIS PENCATATAN

PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN (PPH 21) PADA UMKM DI WILAYAH BEKASI

Abstraksi

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pembayaran pajak, pencatatan pembayaran pajak penghasilan (PPh 21) yang dilakukan oleh UMKM dan untuk

mengetahui apakah UMKM melakukan pencatatan jika terjadi lebih bayar atau kurang bayar pada saat pembayaran pajak penghasilan (PPh 21), pengumpulan data diperoleh dari mengunakan data sekunder seperti dari internet, dan kemudian dilakukan analisis pencatatan yang dilakukan oleh UMKM dengan menggunakan alat analisis deskriptif dan statisik Inferensial..

Setelah dilakukan penelitian, penulis menyimpulkan bahwa kondisi pembayaran pajak UMKM di wilayah bekasi sudah bagus karena sebagian besar UMKM telah membayar pajak tepat waktu dan telah mengetahui tarif pajak walaupun sedikit kesulitan dalan perhitungn pajak. Hal ini harus mendapatkan perhatian dari petugas pajak untuk lebih mensosialisasikan pembukuan untuk kepentingan pajak.

Pembukuan telah dilakukan oleh UMKM walaupun belum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (SAK UKM) namun UMKM telah

melakukan pencatatan yang meliputi modal, omset yang didapat dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Hanya sedikit yang pernah mengalami kasus lebih bayar atau

kurang bayar, namun jika hal itu terjadi UMKM akan melakukan pencatatan walaupun seadanya. Daftar Pustaka ( 2004 – 2007 )

(3)

ANALISIS PENCATATAN

PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN (PPh 21) PADA UMKM DI WILAYAH BEKASI

Anna Maria Afriyani

Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, 2009

Abstrak

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pembayaran pajak, pencatatan pembayaran pajak penghasilan (PPh 21) yang dilakukan oleh UMKM dan untuk

mengetahui apakah UMKM melakukan pencatatan jika terjadi lebih bayar atau kurang bayar pada saat pembayaran pajak penghasilan (PPh 21), pengumpulan data diperoleh dari mengunakan data sekunder seperti dari internet, dan kemudian dilakukan

analisis

pencatatan yang dilakukan oleh UMKM dengan menggunakan alat analisis deskriptif dan statisik Inferensial.

Setelah dilakukan penelitian, penulis menyimpulkan bahwa kondisi pembayaran pajak UMKM di wilayah bekasi sudah bagus karena sebagian besar UMKM telah membayar

pajak tepat waktu dan telah mengetahui tarif pajak walaupun sedikit kesulitan dalam perhitungn pajak. Hal ini harus mendapatkan perhatian dari petugas pajak untuk

lebih

mensosialisasikan pembukuan untuk kepentingan pajak. Pembukuan telah dilakukan oleh UMKM walaupun belum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (SAK UKM) namun UMKM telah melakukan pencatatan yang meliputi modal, omset yang didapat dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Hanya sedikit yang pernah mengalami kasus lebih bayar atau kurang bayar, namun jika hal itu terjadi UMKM akan melakukan pencatatan walaupun seadanya.

Kata kunci : pencatatan, pajak penghasilan (PPh 21), UMKM

PENDAHULUAN Latar Belakang

Usaha kecil dan menengah

merupakan salah satu kekuatan pendorong terdepan dan pembangunan ekonomi.

(4)

menciptakan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan. UMKM cukup fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan pasang surut dan arah permintaan pasar. Mereka juga menciptakan lapangan

pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya, dan mereka juga cukup

terdiversifikasi dan memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan. Menurut Kementrian koperasi dan

UKM perkembangan jumlah UMKM

periode 2006-2007 mengalami peningkatan sebesar 2,18 persen yaitu dari

48.779.151 unit pada tahun 2006 menjadi 49.840.489 unit pada tahun 2007. Sektor ekonomi UMKM yang

memiliki proporsi unit usaha terbesar adalah sektor (1) Pertanian,

Peternakan, Kehutanan dan

Perikanan; (2) Perdagangan, Hotel dan Restoran; (3) Industri

Pengolahan; (4) Pengangkutan dan Komunikasi; serta (5) Jasa-jasa dengan perkembangan masing-

masing sektor tercatat sebesar 52,48 persen, 28,12 persen, 6,49 persen, 5,54 persen dan 4,60 persen.

Berkembangnya jumlah usaha kecil dan menengah

berdampak juga pada pertumbuhan tenaga kerja di Indonesia, ini dibuktikan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 113,74 juta orang, bertambah 1,79 juta orang dibanding jumlah angkatan kerja Agustus 2008 sebesar 111,95 juta orang, atau bertambah 2,26 juta orang dibanding Februari 2008 sebesar 111,48 juta orang.. Menurut Direktorat Jenderal Pajak,

UMKM dengan peredaran bruto atau

(5)

dikenakan pajak penghasilan (PPh) final. Sesuai dengan sistem self assessment, Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri, melakukan sendiri penghitungan pembayaran dan pelaporan pajak terutangnya. Selain mendatangi Kantor Pelayanan Pajak, Wajib Pajak

dapat pula mendaftarkan diri secara online melalui e-registration di website

Direktorat Jenderal Pajak www.pajak.go.id Undang-undang Pajak Penghasilan

Nomor 36 Tahun 2008 yang akan mulai berlaku tahun 2009 ini menganut

diskriminasi tarif, dimana orang pribadi tidak ber-NPWP akan dibebankan tarif pajak penghasilan lebih besar dari pada wajib pajak ber-NPWP. Selain itu, NPWP merupakan persyaratan wajib bila akan mengajukan kredit di perbankan atau lembaga keuangan sampai pada jumlah tertentu. Manfaat lainnya adalah pembebasan fiskal luar negeri bila

berpergian ke luar negeri. Bila yang tidak memiliki NPWP diharuskan membayar

biaya fiskal sebesar Rp. 2.500.000/orang (dahulu Rp. 1.000.000) maka bagi mereka yang memiliki NPWP tidak dikenakan biaya alias gratis.

Kendala lyang dihadapi UMKM

selain sulit memperoleh perijinan dalam memulai usaha adalah tentang penyusunan laporan keuangan, karena pemerintah Indonesia belum mengatur secara khusus kewajiban UMKM menyusun

laporan keuangan. Namun demikian, Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas secara tidak langsung telah mengisyaratkan melalui pasal 56 yang berbunyi “dalam waktu 5 bulan setelah tahun buku perseroan ditutup, direksi menyusun laporan tahunan yang diajukan kepada Rapat Umum

(6)

Pemengang Saham. Dengan

demikian, bagi suatu perusahaan yang berbadan hukum Perseroan

Terbatas, tidak terkecuali usaha kecil ataupun, menengah, diwajibkan

menyusun laporan keuangan. Praktek akuntansi, khususnya akuntansi keuangan pada UMKM di Indonesia masih rendah dan memiliki banyak kelemahan, diantaranya

disebabkan rendahnya pendidikan, kurangnya pemahaman terhadap Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan tidak adanya peraturan yang mewajibkan penyusunan laporan keuangan bagi UMKM. Perusahaan kecil di Indonesia cenderung untuk memilih norma perhitungan (tanpa menyusun laporan keuangan) sebagai dasar perhitungan pajak. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk menyusun laporan keuangan jauh

lebih besar dari pada kelebihan pajak yang harus dibayar.

Menghadapi kenyataan

bahwa rendahnya pendidikan di Indonesia akan berdampak pada kelancaran pembayaran pajak yang dilakukan UMKM, padahal jumlah usaha UMKM lebih besar dari pada jumlah usaha besar yang berarti akan mempengaruhi penerimaan pajak di Indonesia. Penelitian ini untuk menganalisis pencatatan yang dibuat oleh UMKM untuk kepentingan

pajak agar tidak terjadinya lebih

bayar atau kurang bayar dan berfokus pada pajak penghasilan (PPh 21) karena UMKM yang berada di Bekasi lebih dominan berbentuk usaha kecil yang belum berbentuk badan usaha.

(7)

Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui kondisi

pembayaran pajak UMKM di wilayah Bekasi.

2. Untuk mengetahui pencatatan pembayaran pajak penghasilan (PPh 21) yang dilakukan oleh UMKM di wilayah Bekasi.

3. Untuk mengetahui Apakah UMKM melakukan pencatatan jika terjadi lebih bayar atau kurang bayar pada saat pembayaran pajak penghasilan (PPh 21)

LANDASAN TEORI

Menurut Ali Machmud untuk

menjadi informasi, data harus diproses terlebih dahulu dan disajikan sesuai dengan kebutuhan pemakai tertentu.

Kriteria usaha mikro, kecil dan

menengah menurut UU No. 20 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :

Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan. Usaha menengah adalah usaha

ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang ini. Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (SAK UKM) menurut Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas kecil dan

(8)

menengah. yang menenuhi kriteria: a. tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan; atau b. berdasarkan peraturan perundang-undangan

digolongkan sebagai entitas kecil dan menengah; dan c. menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) kepada pengguna eksternal.

Menurut Abubakar Arif bagi Negara pajak adalah salah satu sumber penerimaan penting yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara baik

pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.

Sedangkan bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang akan

mengurangi laba bersih. Menurut Abubakar Arif dan

Wibowo Pengertian Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran.

Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) adalah Surat Ketetapan Pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar disbanding pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.

METODE PENELITIAN Metode penelitian yang

digunakan penulis adalah metode deskriptif analitis dan statisik

Inferensial. Sedangkan teknik

(9)

memperoleh data-data adalah : 1. Penelitian Lapangan (field research)

Yaitu penelitian yang melakukan peninjauan di lingkungan UMKM. 2. Penelitian Kepustakaan (library research)

Yaitu penelitian yang dilakukan dengan mempelajari literatur- literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti dan dengan cara membuka website-website yang berkaitan dengan UMKM dan pajak (www.depkop.go.id,

www.ortax.org, www.pajak.go.id, www.bi.go.id, www.bps.go.id dan www.google.com)

3. Kuesioner (Angket)

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden dan disebarkan kepada 50 UMKM di wilayah Bekasi yang bergerak dibidang Jasa

(percetakan).

Teknik sampling yang digunakan

adalah Probability Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan

peluang yang sama dan teknik yang digunakan adalah Simple Random Sampling, yaitu pengambilan anggota

sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada

dalam populasi itu (Sugiyono,2007). Statistik Deskriptif

Yaitu bidang ilmu statistika yang mempelajari cara-cara pengumpulan,

penyusunan, dan penyajian data dari suatu penelitian.

Statisik Inferensial

Yaitu bidang ilmu statistik yang mempelajari cara-cara penarikan suatu kesimpulan dari suatu populasi tertentu

(10)

berdasarkan sebagian data (sampel).

Hasil dan Pembahasan Kondisi Pembayaran Pajak UMKM di wilayah Bekasi penulis memberikan 10

pertanyaan untuk mengetahui kondisi pembayaran pajak UMKM di

wilayah Bekasi

a. Informasi Pajak yang diperoleh UMKM

Berdasarkan hasil penelitan, diketahui bahwa informasi pajak yang diperoleh lebih banyak didapat dari petugas pajak yaitu sebesar 52 persen. Menurut pengakuan pemilik informasi tentang pajak diperoleh di kantor pelayanan pajak pada saat akan melakukan pembayaran pajak penghasilan.

Informasi Pajak yang diperoleh UMKM 40% 52% 4% 4% Dari media massa Dari petugas pajak Dari kerabat Gambar 4.5

Responden Berdasarkan Informasi Pajak pajak yang diperoleh UMKM b. Pembayaran Pajak Tepat

Waktu

Berdasarkan hasil penelitan, 48 persen UMKM membayar pajak tepat waktu, ini menunjukkan kesadaran akan kewajiban membayar pajak sudah tinggi.

Pembayaran Pajak 48%

(11)

8% Ya Kadan g- Tidak Gambar 4.6

Responden Berdasarkan Pembayaran Pajak

c. Tarif Pajak

Berdasarkan hasil penelitan, 52 persen UMKM sudah mengetahui tarif pajak yang berlaku yaitu sebesar. Hal ini menunjukan bahwa UMKM telah dapat menghitung

pajak yang akan dibayarkan sehingga

mencegah terjadinya lebih bayar atau kurang bayar. Tarif Pajak 52% 48% Ya Tid Gambar 4.7

Responden Berdasarkan Tarif Pajak d. Cara Perhitungan dalam Pembayaran Pajak

Berdasarkan hasil penelitan, dari 56 persen UMKM sedikit tahu cara

perhitungan dalam pembayaran dan pegawai bagian keuangan.

Cara Perhitungan Pajak 12% 12% 56% Tahu Sedikit Tahu Tidak Gambar 4.8

Responden Berdasarkan Cara Perhitungan dalam Pembayaran Pajak

(12)

Berdasarkan hasil penelitan, sebagian besar UMKM melakukan pembayaran

pajak setelah tahun pajak berakhir, ini menunjukkan bahwa UMKM membayar

pajak pada tanggal yang telah ditentukan oleh dirjen pajak.

Pelaksanaan Pembayaran Pajak 56% 44% Setel ah Sela ma Gambar 4.9

Responden Berdasarkan Pelaksanaan Pembayaran Pajak

f. Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)

Berdasarkan hasil penelitan, pada saat pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan, sebagian besar diisikan oleh bagian keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai bagian keuangan mempunyai peranan penting dalam membuat pencatatan untuk laporan keuangan Pengisian SPT 8% 20% 20% 52% saya sendiri sendiri petugas bi Gambar 4.10

Responden Berdasarkan Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) g. Kesulitan Dalam Perhitungan Pajak Pada Saat Pengisian

Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)

(13)

persen UMKM mengaku mengalami sedikit kesulitan dalam pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan. Hal ini menyebabkan sering terjadinya kekeliruan perhitungan pada saat pembayaran pajak penghasilan. KesulitanPerhitungan Pajak 12% 68% 20% Ya Sedikit sulit Tidak Gambar 4.11

Responden Berdasarkan Kesulitan Dalam Perhitungan Pajak

Pada Saat Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) h. Rata-rata Pembayaran Pajak Berdasarkan hasil penelitan, dari rata-rata pembayaran pajak UMKM di wilayah Bekasi kurang dari Rp 5.000.000 per tahun dan pemilik UMKM mengaku tidak merasa

terbebani.

Rata-rata Pembayaran Pajak 80% 20% > 5 jt 5jt - 10 jt 10jt Gambar 4.12

Responden Berdasarkan Rata-rata Pembayaran Pajak

i. Omset

Berdasarkan hasil penelitan, omset UMKM di wilayah Bekasi per bulan sebagian besar antara Rp 10.000.000 samapai dengan Rp 50.000.00 pertahun ini menunjukkan bahwa UMKM di wilayah

(14)

Bekasi termasuk usaha kecil Omset 24% 60% 12% 4% < 10 jt 10jt - 50jt 50jt - 200 jt 200jt - 1M Gambar 4.13

Responden Berdasarkan Omset j. Pengaruh Pembukuan Terhadap Kelancaran Pembayaran Pajak

Berdasarkan hasil penelitan, UMKM di wilayah Bekasi tahu akan pengaruh pembukuan terhadap kelancaran

pembayaran pajak, hal ini ditunjukan dari pengakuan 52% UMKM yang menjawab

pembukuan sangat mempengaruhi

terhadap kelancaran pembayaran pajak dan telah melakukan pembukuan untuk kepentingan pajak. Pengaruh pembukuan 52% 44% 4% Sangat mempengaruhi Mempengaruhi Kurang Mempengaruhi Tidak mempemgaruhi Gambar 4.14

Responden Berdasarkan Pengaruh Pembukuan Terhadap Kelancaran Pembayaran Pajak

Pencatatan Pembayaran Pajak

Penghasilan (PPh 21) yang Dilakukan oleh UMKM di wilayah Bekasi

Untuk mengetahui pencatatan

pembayaran pajak penghasilan (PPh 21), penulis memberikan pertanyaan butir 11 sampai dengan 20, berikut ini adalah hasil

(15)

dari penelitian penulis : a. Melakukan Pencatatan Setiap Bertransaksi

Berdasarkan hasil penelitan, 84 persen UMKM di wilayah Bekasi selalu melakukan pembukuan setiap bertransaksi, hal ini menunjukkan bahwa pencatatan akuntansi sudah diterapkan di UMKM. Pencatatan 84% 16% Ya Tidak Gambar 4.15

Responden Berdasarkan Pencatatan Setiap Bertransaksi

b. Bentuk Catatan Pembukuan Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar UMKM yang

membuat pembukuan, bentuk

catatannya rinci mulai modal, omset yang didapat dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM telah mengetahui

perkembangan usahanya dari catatan yang dibuat. Bentuk pembukuan 16% 52% 16% Sangat rinci Rinci Seadanya Asal saja Gambar 4.16

Responden Berdasarkan Bentuk Catatan Pembukuan

c. Posting ke Buku Besar

Berdasarkan hasil penelitian, dari pencatatan transaksi yang dilakukan oleh UMKM telah

(16)

diposting kebuku besar walaupun pemilik UMKM mengakui bahwa

posting yang mereka lakukan tidak selalu sesuai dengan Standar Akuntnsi Keuangan (SAK) Posting ke buku besar 45% 16% 39% Ya Kadang- kadang Tidak Gambar 4.17

Responden Berdasarkan Posting

d. Periode Pembukuan

Berdasarkan hasil penelitian, dari

pencatatan transaksi yang dilakukan oleh UMKM, sebagian besar langsung

dilakukan pembukuan perbulan, hal ini dilakukan oleh UMKM agar

mempermudah dalam pembuatan laporan keuangan untuk kepentingan pajak. Periode Pembukuan 65% 6% 29% sebulan sekali 4 bln sekali 6 bln Gambar 4.18

Responden Berdasarkan Periode Pembukuan

e. Pembukuan Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (SAK UKM)

Pembukuan sesuai dengan standar akuntansi keuangan usaha kecil dan menengah (SAK UKM) memang belum

(17)

pelaku UMKM, sehingga 51 persen UMKM di wilayah Bekasi hanya sedikit tahu SAK UKM 30% 51% 19% Tahu Sedikit tahu Tidak Gambar 4.19

Responden Berdasarkan SAK UKM f. Pembukuan Menggunakan Aplikasi Komputer

Berdasarkan hasil penelitian, 32 persen UMKM memanfaatkan aplikasi komputer untuk melakukan pembukuan. Menggunakan Komputer 32% 68% Ya Gambar 4.20

Responden Berdasarkan Penggunaan Aplikasi Komputer

g. Aplikasi Komputer yang digunakan oleh UMKM

Ms. Exel yang paling banyak dipakai oleh UMKM di wilayah Bekasi yaitu sebesar 74 persen

Aplikasi Komputer yang digunakan UMKM 74% 26% Ms. Exel MYOB Ms. Word Lainnya Gambar 4.21

Responden Berdasarkan Aplikasi Komputer yang digunakan oleh UMKM

(18)

k. Perencanaan Pajak

Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar UMKM di wilayah Bekasi telah merencanakan jumlah pembayaran pajak yang akan mereka lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM telah mempersiapkan dana untuk membayaran pajak.

Perencanaan Pajak 47% 35% 18% Ya Kadang- kadang Tidak Gambar 4.22

Responden Berdasarkan Perencanaan Pajak

Pencatatan Jurnal Penyesuaian jika Terjadi Lebih Bayar atau Kurang Bayar pada Saat

Pembayaran Pajak Penghasilan (PPh 21) di wilayah Bekasi Untuk mengetahui jurnal penyesuaian yang dilakukan oleh UMKM di wilayah Bekasi jika

terjadi lebih bayar atau kurang bayar, penulis memberikan pertanyaan butir 19 sampai dengan 21 kepada UMKM

dan hasilnya adalah sebagai berikut : a. Terjadi Lebih Bayar atau

Kurang bayar

Berdasarkan hasil penelitian, pada gambar 4.23 menunjukkan bahwa pada saat melakukan

pembayaran pajak penghasilan (PPh 21) pemilik UMKM sebesar 8%

pernah mengalami lebih bayar atau kurang bayar namun 92% tidak pernah mengalami lebih bayar atau kurang bayar. Hal ini

(19)

menunjukkan bahwa tidak terlalu banyak yang pernah mengalami lebih bayar atau kurang bayar pada saat melakukan

pembayaran pajak.

Lebih bayar atau kurang Bayar 8% 92% Pernah Tidak Pernah Gambar 4.23

Responden Berdasarkan Terjadi Lebih Bayar atau Kurang bayar

b. Penyesuaian Pembukuan Jika Terjadi Lebih Bayar atau Kurang Bayar

Berdasarkan hasil penelitian, pada gambar 4.24 menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM melakukan penyesuaian jika terjadi lebih bayar atau kurang bayar walaupun penyesuaian yang dibuat tidak sesuai dengan Standar Akuntansi

Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (SAK UKM). Penyesuaian Pembukuan 53% 47% Ya Tida k Gambar 4.24

Responden Berdasarkan Penyesuaian Pembukuan

c. Pencatatan Pembayaran Pajak

Berdasarkan hasil penelitian, pada gambar 4.25 menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM di wilayah Bekasi mencatat jumlah pembayaran pajak, hal ini dilakukan untuk pembanding pada saat pembayaran pajak tahun berikutnya serta mengantisipasi terjadi lebih bayar.

(20)

Pencatatan Pembukuan 46% 22% 24% Ya Kadang- kadang Tidak Gambar 4.25

Responden Berdasarkan Pencatatan Pembayaran Pajak

Studi Kasus

Pada penelitian ini digunakan studi kasus, yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi UMKM dengan tidak bermaksud menyamakan kesimpulan yang di dapat dengan hasil penelitian yang diperoleh dari responden. Studi kasus ini memilih responden CV. Karya Minang.

Untuk mengetahui kondisi

pembayaran pajak pada CV. Karya Minang diperlukan beberapa unsur yaitu :

a. Tarif Pajak

Peredaran bruto CV. Karya

Minang berjumlah kurang dari Rp 120.000.000 setahun sehingga dalam perhitungan pajak menggunakan norma perhitungan.

b. Pembayaran pajak

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bapak Wahyu Firmansyah, berikut ini adalah jumlah pembayaran pajak CV. Karya Minang.

Tabel 4.1

Jumlah Pembayaran Pajak CV. Karya Minang

Tahun Jumlah Pembayaran Pajak 2006 Rp 801.600

(21)

2008 Rp 885.000

Sumber : pemilik CV. Karya MInang b. Perhitungan pajak

berikut ini penulis sajikan perhitungan pajak yang dilakukan oleh CV. Karya Minang tahun 2008 : Penerimaan bruto Rp 88.500.000 Tarif pajak 20% Rp 17.700.000 (Rp 88.500.000 X 20%) Tarif pajak 5% Rp 885.000 (Rp 17.700.000 X 5%)

jumlah yang pajak yang

dibayarkan pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 885.000.

Pada tahun 2008 menurut informasi dari pemilik CV. Karya Minang, telah

terjadi lebih bayar yang dikarenakan Salah pencatatan pada saat pengisisan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)

Pencatatan Jika Terjadi Lebih Bayar atau Kurang Bayar

Berikut ini adalah pencatatan

yang seharusnya dilakukan oleh pemilik CV. Karya Minang :

Jurnal pembayaran pajak tahun 2008 PPh 21 Rp 885.000

Kas Rp 885.000

Jurnal lebih bayar yang dikompensasikan

Beban pajak Rp858.000 Piutang Pajak Rp 27.000

Pajak penghasilan Rp 885.000

Selisih yang terjadi sebesar Rp 27.000 akan mempengaruhi neraca CV. Karya Minang pada tahun 2008.

Tabel 4.2 Laporan Laba Rugi CV. Karya Minang tahun 2008

(22)

Aktiva kewajiban

Kas Rp 36.860.000 Utang dagang Rp 17.793.000 Piutang Rp 28.950.000 Utang PPh 21 Rp 27.000 Piutang pajak Rp27.00 Perlengkapan Rp 7.500.000 Modal Peralatan Rp 12.310.000 Modal, Bapak Wahyu Rp.67.800.000

Jumlah Aktiva Rp 85.647.000 Jumlah Pasiva Rp 85.647.000

Sumber : Pemilik CV. Karya Minang

Tabel 4.3 Neraca CV. Karya Minang tahun 2008 Aktiva kewajiban

Kas Rp 36.860.000 Utang dagang Rp 17.793.000 Piutang Rp 28.950.000 Utang PPh 21 Rp 27.000 Piutang pajak Rp27.00 Perlengkapan Rp 7.500.000 Modal Peralatan Rp 12.310.000 Modal, Bapak Wahyu Rp.67.800.000

Jumlah Aktiva Rp 85.647.000 Jumlah Pasiva Rp 85.647.000 Sumber : Pemilik CV. Karya Minang

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

(23)

Bekasi mengetahui informasi pajak dari petugas pajak serta telah membayar pajak tepat waktu, tarif pajak dan cara perhitungannya pun telah diketahui. Pembayaran pajak dilakukan setelah tahun pajak berakhir dan pegawai bagian keuangan yang mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)

walaupun merasa sedikit kesulitan. Rata-rata pembayaran pajak dibawah Rp 5.000.000 dengan omset antara Rp 10.000.000 sampai dengan Rp 50.000.000

2. Sebesar 84 persen UMKM telah melakukan pencatatan setiap

bertransaksi, bentuk catatannya rinci mulai dari modal, omset yang

didapat dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Sebagian besar telah diposting ke buku besar dengan periode pembukuan setahun sekali namun hanya sedikit yang

mengetahui Standar Akuntansi Keuangan usaha kecil dan menengah (SAK UKM). Aplikasi komputer dimanfaarkan sebagian UMKM

yaitu Ms. Exel dan sebagian besar UMKM telah merencanakan

pembayaran pajak.

3. Lebih bayar atau kurang bayar hanya sedikit yang mengalaminya, hal ini menunjukkan bahwa jarang terjadi kekeliruan pada saat melakukan pembayaran namun UMKM akan

melakukan pencatatan jika terjadi lebih bayar atau kurang bayar.

Saran

Penulis ingin memberikan beberapa sumbangan pikiran antara lain : 1. Petugas pajak sebaiknya lebih gencar mensosialisasikan

(24)

pencatatan untuk kepentingan pajak

2. Pegawai bagian keuangan sebaiknya bertanya kepada petugas pajak agar tidak kesulitan pada saat pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)

3. Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah

(SAK UKM) sebaiknya lebih disosialisasikan kepada UMKM di wilayah Bekasi agar pihak UMKM tahu standar yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar Arif & Wibowo, 2004, Akuntansi untuk Bisnis Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta: Penerbit PT Grasindo.

Erly Suandy, 2002, Hukum Pajak edisi ke dua, Jakarta: Penerbit Salemba empat

Muhammad Rusjdi, 2004, KUP Ketentuan Umum dan Tata

Cara Perpajakan edisi revisi, Jakarta: Penerbit PT Indeks. Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: PT. Alfabeta. Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton, 2007, Hukum Pajak, Jakarta: Penerbit Salemba empat.

Waluyo, 2006, Perpajakan Indonesia: pembahasan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan dan aturan pelaksanaan perpajakan terbaru, Jakarta: Salemba empat.

Gambar

Tabel 4.2 Laporan Laba Rugi CV. Karya Minang tahun 2008
Tabel 4.3 Neraca CV. Karya Minang tahun 2008   Aktiva     kewajiban

Referensi

Dokumen terkait

f. Menata meja makan sesuai dengan jenis pelayanan g. Melayani tamu di restoran sesuai dengan jenis pelayanan h. Melakukan prosedur pembayaran.. Menyiapkan dan

Bagian tengah cabang memiliki proporsi polip karang yang berkaitan dengan lo- kasi energi untuk pertumbuhan yang lebih reproduktif (100%) dengan kandungan rataan jumlah telur yang

Karena ketika percobaan dimulai dengan memasukan udara ke dalam tabung 1 dan tabung 2 dengan tekanan udara yang berbeda (dalam keadaan kedua tabung krannya tertutup),

Melalui Program Kreativitas mahasiswa (PKM) ini disusun suatu langkah solusi yaitu dengan melakukan penelitian pembuatan nanofiber kitosan berbahan dasar cangkang..

Di dalam naskah ini akan menceritakan kisah Gun Jack dengan anak keduanya, Wulan Mayastika sebagai tokoh utama dari sudut pandang Rudi sebagai sudut pandang orang pertama bukan

Preferensi umpan padi/gabah lebih disukai oleh tikus dari pada umpan umpan beras utuh, beras pecah, jagung utuh, jagung pecah dan tepung jagung karena umpan padi mudah

Pendapatan adalah hasil yang diperoleh dari kerja atau usaha yang telah dilakukan. Pendapatan akan mempengaruhi gaya hidup seseorang. Orang atau keluarga yang mempunyai

scoping excercise dengan mitra FTA ASEAN. Template akan dilaporkan kepada SEOM agar SEOM dapat membahasnya secara inter-sessional sebelum dikirim kepada mitra FTA