1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Penelitian terdahulu yang pertama adalah “Peranan Penyiar Radio dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Pendengar. Penelitian ini berisi tentang Bagaimana peranan penyiar radio Colors dalam upaya meningkatkan jumlah pendengar dan faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dari pelaksanaan peranan penyiar radio Colors dalam upaya meningkatkan jumlah pendengar dan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dari pelaksanaan peranan penyiar radio Colors dalam upaya meningkatkan jumlah pendengar (Erwin Fitrianti, 2002, http://digilib.itb.ac.id). Kaitan dengan penelitian ini yakni, bagaimana peran dari penyiar radio di RRI Surabaya programa 1 pada saat acara Gita Malam berlangsung, kemudian hambatan apa saja yang dialami oleh penyiar radio saat berkomunikasi secara interpersonal dengan pendengar dalam menjaga keintiman.
Penelitian selanjutnya yang dirujuk oleh peneliti adalah penelitian dengan judul, “Pengaruh Pengemasan Pesan Penyiar Radio Komunitas Sanmar 107.3 FM terhadap Minat Pendengar”. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa siaran radio, melibatkan komunikasi antara penyiar sebagai komunikator dan pendengar sebagai komunikan. Demi keberhasilan program, pesan dalam radio komunitas SANMAR 107.3 FM harus disampaikan / dikemas dengan baik dan menarik sehingga dapat menimbulkan minat pendengar untuk mendengarkan radio (Regina Margareth Winoto, 2007, http://dewey.petra.ac.id). Kaitan dengan penelitian ini yakni, menjadi penyiar radio tidak hanya berkomunikasi secara interpersonal saja dalam pendengar. Penyiar radio harus menyampaikan pesan-pesan yang membuat pendengar menjadi tertarik terhadap penyiar, sehingga pendengar memiliki keinginan untuk bergabung untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan penyiar.
Penelitian rujukan lainnya adalah, “Upaya Penyiar Radio Suara Akbar FM Jember dalam Penulisan Naskah Siaran”. Berlatarbelakang dari alasan yang telah dikemukakan di atas peneliti memilih judul ini, adalah karena di radio Suara Akbar FM Jember juga mengharuskan penyiarnya untuk membuat naskah siaran dalam menunjang berlangsungnya suatu acara (Floweria Ridiyanto Putri, 2012,
http://digilib.unmuhjember.ac.id). Kaitannya dengan penelitian ini adalah dalam membaca naskah “Berita Terkini” yang setiap lima belas menit ada di acara Gita Malam, peneliti ingin mengetahui bagaimana cara penyiar membuat naskah berita tersebut. Sehingga pada saat mengudara, pendengar akan cepat mengerti isi dari naskah siaran tersebut.
Menjalin hubungan atau komunikasi yang baik tidak hanya dilakukan secara interpersonal tetapi juga dilakukan dalam ranah media massa. Misalnya seorang penyiar dengan pendengarnya. Meskipun dilakukan dalam ranah komunikasi massa, komunikasi penyiar dengan pendengarnya seolah-olah merupakan komunikasi interpersonal. Misalnya pada saat acara Gita Malam RRI Surabaya programa 1, pada hari senin tanggal 19 Maret 2012 terjadi percakapan antara penyiar dengan pendengar ketika membicarakan suara dari penyiar yang sedang sakit. Pendengar bertanya kepada penyiar, “Bu Aprill suaranya kok berbeda dari biasanya? Penyiar menjawab “Iya saya memakai suara cadangan”. Contoh lainnya pada saat penyiar bertanya kepada pendengar, “Bu Pangestu mengapa suka mendengarkan lagu ini? Kemudian Bu Pangestu menjawab, karena lagu ini mengingatkan ketika saya masih muda. Ternyata komunikasi interpersonal juga terdapat di dalam komunikasi massa.
Berbagai bentuk komunikasi interpersonal dilakukan di radio. Selain melalui telepon, komunikasi intepersonal antara penyiar dan pendengar radio juga dapat dilakukan melalui SMS atau pesan singkat melalui telepon, BlackBerry Messenger, Facebook, Twitter. Misalnya di Radio Suara Surabaya yang menggunakan fasilitas jejaring sosial untuk menjalin komunikasi dengan pendengar. Menurut observasi peneliti, program Wawasan adalah salah satu menggunakan Facebook (E100). Kemudian radio yang menggunakan situs jejaring sosial khususnya Facebook adalah Radio B FM, yang menepati gelombang 92.9FM dan juga Radio MTB FM 102.7. Berdasarkan contoh ini, komunikasi intepersonal dapat, ternyata bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah melalui jejaring sosial. Upaya menggunakan berbagai cara ini, dilakukan untuk berkomunikasi lebih dekat dengan pendengar. Sehingga, keintiman antara penyiar dengan pendengar radio lebih dekat. Walaupun melalui jejaring sosial.
Radio siaran sifatnya intim, seorang penyiar seolah-olah berada di kamar pendengar yang dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-acara yang menggembirakan kepada penghuni rumah. Penyiar seakan-akan datang di kamar pendengar dan memberikan uraian yang berguna bagi pendengar. Setiap suara yang keluar dari pesawat radio dirumah pendengar seoalah-olah ada orang yang berada dirumah pendengar tersebut. Seperti teman dekat yang berbincang- bincang dengan pendengarnya (Effendy, 1978, p.82-84).
Menurut Teori Announcing seperti yang diungkapkan oleh Ben G.
Henneke “Penyiaran adalah tak lain hanya suatu usaha untuk mengkomunikasikan informasi untuk memberitahukan sesuatu. Meskipun informasi tersebut dapat mecapai jutaan pendengar, namun ditunjukannya kepada pendengar secara perorangan dan komunikasi tersebut akan sempurna apabila pendengar mendengar, mengerti, merasa tertarik, kemudian melakukan apa yang pendengar dengarkan itu” (Radio announcing is nothing more than an attempt to communicate information to make something known. Although the information may reach millions, it is directed to the individual listener and the communication is complete only when the listener hears, comprehends, is interested and then act upon what he hears) (Henneke, 1954, hal 6 dalam buku Effendy 1978, p.127).
Dari kutipan tersebut, unsur individual menjadi tekanan dalam komunikasi antara penyiar dan pendengar. Penyiar berusaha membuat komunikasi bersifat
“interpersonal” walaupun jangkauan radio dapat di dengarkan oleh banyak orang.
Sifat interpersonal sesuai teori komunikasi interpersonal, bukan hanya membuat dua orang berbicara, namun juga saling terhubung. Lebih tegas lagi Henneke mengatakan bahwa pendengar bukan hanya diharapkan mendengar, tapi juga melakukan sesuatu atas apa yang didengarkan. Inilah yang disebut dengan komunikator aktif dalam komunikator interpersonal.
Keakraban atau keintiman antara penyiar dan pendengar radio menjadi sangat penting. Keintiman didefinisikan sebagai komunikasi halus, hubungan dekat dan hangat, pribadi dan milik salah satu sifat yang paling dalam (Davis, http://www.agapehealing.org). Menurut Effendy, “Penyiaran tak lain hanya suatu usaha untuk mengkomunikasikan informasi untuk memberitahukan sesuatu.
Meskipun informasi tersebut dapat mencapai jutaan pendengar, namun
ditunjukannya kepada pendengar perorangan, dan komunikasi tersebut akan sempurna apabila si pendengar mendengar, mengerti, merasa tertarik, lalu melakukan apa yang didengar oleh pendengar”.Berdasarkan pengamatan langsung peneliti, beberapa radio memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda dengan pendengar. Misalnya, di radio Prambors Surabaya. Radio Prambors adalah radio swasta yang memiliki segmen anak muda. Komunikasi antara penyiar dengan pendengar di radio ini menggunakan bahasa gaul. Demikian juga Radio Hardrock FM Surabaya yang segmennya anak muda, cara berkomunikasinya juga hampir sama dengan Radio Prambors Surabaya dalam menjalin kearkraban dengan pendengarnya. Sedangkan Radio Suara Surabaya, adalah radio yang bersifat formal karena pendengarnya adalah orang dewasa. Walaupun karakteristik penyiarnya formal dalam komunikasi interpersonal dengan pendengarnya, tetapi dalam kedekatan dengan pendengarnya berbicara dengan santai dan tidak terkesan kaku. Dengan itu, masing-masing stasiun radio memiliki karakteristik yang berbeda-beda terutama pada saat penyiar berinteraksi dengan pendengarnya.
Walaupun, ada sedikit campuran bahasa (Diah Ardani, Penyiar Radio dan Gatekeeper Radio Suara Surabaya, November 2011).
Berdasarkan wawancara dengan Agustina Sri Utari, HRD RRI Surabaya pada tanggal 17 Desember 2010, pada saat peneliti melakukan magang di RRI Surabaya, peneliti mendapati bahwa dahulu RRI Surabaya merupakan radio yang gaya siarannya formal dan berhati-hati. Tetapi, sejak berkembang menjadi beberapa programa yaitu programa 1, 2, 3, dan 4 gaya siaran RRI sudah menyesuaikan masing-masing segmennya dijelaskan pada pernyataan berikutnya.
Karena perubahan ini, peneliti menjadi tertarik untuk meneliti keintiman antara penyiar dan pendengar dalam berkomunikasi secara interpersonal. Gaya siaran penyiar RRI Surabaya sebelum terbagi menjadi beberapa programa adalah formal, tetapi sekarang menyesuaikan karakteristik masing-masing pendengar. Pengertian dari programa adalah saluran penyelenggaraan siaran dari stasiun RRI sesuai dengan karakteristik dan segmen pendengar yang dituju. Untuk Programa 1 itu segmennya berupa informasi, pendidikan, budaya, dan hiburan. Sasaran pendengarnya 4 tahun keatas. Ini masih terbagi dari tiga kategori yaitu pendengar utama 30 sampai 49 tahun, lalu yang kesatu 50 tahun keatas, dan yang kedua 4
hingga 29 tahun. Sapaan pendengarnya adalah “saudara pendengar”. Lalu pola programanya adalah Block System atau Capsule System. Programa 2 segmen siarannya berupa musik dan informasi, sasaran khalayaknya antara umur 12-45 tahun, pola programanya adalah Format clock / capsule syestem. Kemudian sapaan pendengarnya adalah sahabat kreatif. Kemudian yang programa 3 segmen siarannya adalah Jaringan Berita Nasional, sasaran pendengarnya adalah 20-50 tahun, lalu pola programanya adalah Format clock atau capsule system. Programa 3 merupakan jaringan berita nasional, yang disiarkan langsung dari RRI Jakarta.
Kemudian yang terakhir Programa 4 yang segmen siarannya berupa Budaya dan Pendidikan. Sasaran dari pendengarnya adalah 13 tahun keatas. Pendengar utama 13-49 tahun, lalu yang kesatu 50 tahun keatas. Format stasiun adalah Budaya dan pendidikan, yang berisi hiburan musik daerah (Pedoman Penyelenggaraan Siaran RRI, hal 42-45).
RRI adalah radio pertama yang bersiaran secara nasional. Hingga saat ini eksistensi RRI masih cukup baik di antara persaingan radio di Indonesia.
Demikian pula RRI Surabaya (Sejarah Radio di Indonesia, 1953). Dari keempat programa RRI, RRI programa 1 menarik untuk dikaji dari sisi keintiman antara penyiar dan pendengarnya. Menurut buku pedoman penyelengaraan penyiaran, RRI Programa 1 gaya siarannya formal. Karena, pendengar utamanya berusia 30- 49 tahun. Salah satu program yang menarik diamati di RRI Surabaya programa 1 adalah acara Gita Malam. Gita Malam adalah acara yang berbeda dari acara di RRI Surabaya programa 1 yang lainnya. Dari keseluruhan acara yang ada di RRI Surabaya, disediakan durasi 2 jam dari pukul 22:00-24:00WIB untuk interaksi antara penyiar dan pendengar dalam acara Gita Malam. Sedangkan acara yang lainnya seperti Dialog Pagi, Dialog Malam, Kreasi Anak Bangsa, Berita Ekuin, dan Info Prima. Gita malam merupakan program santai yang berisi tentang acara musik-musik nostalgia, bisa juga meminta lagu yang ingin diputar, dan khususnya bercakap-cakap antara penyiar dan pendengar. Penyiar yang sering bertugas pada acara Gita Malam ini adalah Aprillia Putry, Indra Mahadi, dan Fresty Oktora.
Aprillia Putry dipilih karena dia merupakan penyiar terlama di acara Gita Malam sekaligus penyiar yang interaksinya terbanyak sejak RRI berkembang menjadi beberapa programa. Peneliti tertarik untuk meneliti keintiman antara penyiar dan
pendengar dalam komunikasi interpersonal di acara ini. Hal ini dikarenakan gaya siarannya formal tetapi terdapat pemilihan kata dalan berkomunikasi dengan pendengar, walaupun acara Gita Malam nuansanya santai. Seperti yang diungkapkan oleh Aisyah Chandra Dewi, Kepala Evaluasi dan Perencanaan Siaran RRI Surabaya, keunikan acara Gita Malam, dalam pemilihan katanya menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Walaupun acara ini santai (Wawancara dengan Aisyah Chandra Dewi, Kepala Evaluasi dan Perencanaan Siaran RRI Surabaya, 25 April 2012).
Penelitian ini mengungkapkan bagaimana aspek keintiman dalam komunikasi interpersonal tersebut yang ternyata menjadi unsur yang sangat penting untuk menunjang komunikasi massa. Penelitian ini akan dilakukan dengan cara analisis isi kualitatif, yaitu menganalisis proses komunikasi interpersonal yang dilakukan penyiar radio acara Gita Malam di RRI Surabaya kepada pendengarnya dalam konteks komunikasi massa.
1.2. Rumusan Masalah
Keingintahuan peneliti atas interaksi antara penyiar radio dengan pendengarnya membawa peneliti pada rumusan masalah yaitu :
Bagaimana keintiman dalam komunikasi interpersonal antara penyiar dan pendengar di acara Gita Malam, RRI Surabaya Programa 1?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini akan menggambarkan keintiman dalam komunikasi interpersonal antara penyiar dan pendengar di acara Gita Malam, RRI Surabaya Programa 1.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis
Untuk menyajikan referensi mengenai bagaimana sesungguhnya keintiman dalam komunikasi interpersonal antara penyiar dengan pendengarnya terjadi dalam konteks komunikasi massa yakni radio.
1.4.2 Manfaat Praktis 1. Bagi radio
Manfaat bagi radio itu sendiri, bisa memperoleh ilmu komunikasi interpersonal dalam konteks radio sebagai komunikasi massa mengenai apa yang menjadi sebuah dunia kepenyiaran radio
2. Bagi penyiar
Manfaat bagi penyiar radio sendiri, bisa menambah wawasan lebih luas bagaimana cara penyiar radio dapat berinteraksi secara interpersonal dengan baik dengan pendengar-pendengarnya. Walaupun dalam konteks komunikasi massa.
3. Bagi audiens
Bagi audiens atau pendengar sendiri, yang dulunya belum tahu mengenai cara penyiar berkomunikasi pada saat siaran langsung atau On Air. Sehingga, pendengar menjadi paham mengenai dunia penyiaran radio khususnya dalam penyiar
4. Bagi peneliti lainnya
Untuk peneliti lainnya, adalah semakin saling melengkapi beberapa kekurangan yang ada dan bisa saling bermanfaat bagi peneliti-peneliti yang lainnya.
1.5. Batasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Karena peneliti inign mengkaji hal-hal yang subtil mengenai keintiman.Yang akan diteliti adalah keintiman dalam komunikasi interpersonal ditampilkan dalam konteks komunikasi massa, penyiar radio dengan pendengarnya di RRI Programa 1 Surabaya dalam acara Gita Malam. Waktu yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah satu bulan penuh di bulan April selama acara Gita Malam berlangsung.
1.6. Sistematika Penelitian Sistematika Penulisan Penelitian:
1. PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan akan dijelaskan secara singkat mengenai latar belakang dari diadakannya penelitian ini, yaitu fenomena komunikasi persuasi antar penyiar dengan pendengar radio yang membangun keakraban. Sehingga, penyiar mampu menjalankan tugasnya dengan baik, dengan cara membangun hubungan komunikasi yang baik dengan masing-masing pendengarnya secara intim, walaupun didengarkan oleh banyak pendengar yang lainnya.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bagian bab ini dijelaskan mengenai beberapa teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggunakan Teori Announcing dan Komunikasi Interpersonal. Pada bagian bab ini akan sekaligus menjelaskan mengenai nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Di bagian bab ini akan menjelaskan mengenai definisi konseptual yaitu definisi dari komunikasi antar penyiar dengan pendengar radio yang membangun keakraban. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif
4. ANALISIS DATA
Bab ini berisi tetang gambaran umum objek penelitian, deskripsi data, dan analisis data tentang bagaimana dalam proses pengolahan data dilakukan dan mengintepretasikan hasil pengolahan data.
5. KESIMPULAN
Pada bagian bab ini merupakan bagian dari akhir penelitian yang ditarik dari hasil analisa, kemudian juga saran yang diajukan peneliti.