• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAGAMAN PERTUMBUHAN BIBIT GEMPOL(Nauclea orientalis L.) DARI BEBERAPA POHON INDUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KERAGAMAN PERTUMBUHAN BIBIT GEMPOL(Nauclea orientalis L.) DARI BEBERAPA POHON INDUK"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KERAGAMAN PERTUMBUHAN BIBIT GEMPOL(Nauclea orientalis L.)

DARI BEBERAPA POHON INDUK

Seedling growth variation of gempol (Nauclea oeientalis L.)

from several mother trees

Kurniawati Purwaka Putri

,

, Yulianti, & Danu

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan,

Jl. Pakuan Ciheuleut PO BOX 105 Bogor, 1600

ABSTRACT. Gempol (Nauclea orientalis L.) is one of the fast growing species that potential to be developed

in agroforestry system. These species used as wood production and also Jabon, which is the alternative for sengon wood. Gempol adapted growth at wet and drylands such as at riverbanks, rice fields and yards. The constrained of the development of community forests of gempol for high productivity is the availability of good quality seed sources. Seeds and seedlings are largely determined by the quality of the parent tree, hence the diversity of the mother plant will affect the seeds it produces. The purpose of this study was to determine the diversity of the growth of seedlings in the nursery gempol of 64 parent trees from Majalengka and Banten. The study design used was completely randomized design consisting of 64 trees parent gempol, with three replications and each replication consisted of six seedlings. The variables measured were the diameter and height of seedlings. The results showed that significantly affected the parent tree diameter and height of seedlings gempol. Growth in diameter is the best demonstrated by the parent tree 16 at 5.4 cm. The high growth (32.88 cm) produced by seeds from the parent tree 10.

Keywords: Growth, Nauclea orientalis L.,Seedling

ABSTRAK. Gempol (Nauclea orientalis L.) merupakan salah satu tanaman cepat tumbuh yang potensial

untuk dikembangkan dengan pola agroforestry.. Jenis tanaman ini dimanfaatkan khususnya masyarakat Jawa Barat sebagai pohon penghasil kayu pertukangan selain sengon dan jabon.Gempol mampu beradaptasi pada lahan basah maupun kering seperti di bantaran sungai, pematang sawah, tegalan dan pekarangan. Pengembangan hutan rakyat gempol yang produktifitas tinggi terkendala ketersediaan sumber benih yang berkualitas. Benih dan bibit yang berkualitas sangat ditentukan oleh pohon induknya, oleh karena itu keragaman pada pohon induk akan berpengaruh terhadap bibit yang dihasilkannya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman pertumbuhan bibit gempol di persemaian dari 64 pohon induk yang berasal dari Majalengka (Jawa Barat) dan Banten.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 64 pohon induk/famili gempol, dengan tiga ulangan dan setiap ulangan terdiri dari enam bibit. Variabel yang diamati adalah diameter dan tinggi bibit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon induk berpengaruh nyata terhadap diameter dan tinggi bibit gempol. Pertumbuhan diameter yang terbaik ditunjukkan oleh pohon induk 16 yaitu sebesar 5,4 cm. Pertumbuhan tinggi terbesar (32,88 cm) dihasilkan oleh bibit yang berasal dari pohon induk 10.

Kata kunci: Bibit; Pertumbuhan; Nauclea orientalis L.

(2)

Keragaman pohon induk pada beberapa jenis tanaman hutan terbukti cukup berpengaruh terhadap kualitas bibit yang dihasilkan, diantaranya adalah jenis nyamplung. Keragaman pertumbuhan bibit nyamplung di persemaian terbukti dipengaruhi keragaman genetik (Putri et al, 2012). Sebagaimana diketahui bahwa persemaian merupakan awal dari keberhasilan penanaman yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas tanaman. Untuk itu penting diketahui keragaman di tingkat persemaian karena akan mempengaruhi tingkat keberhasilan penanaman di hutan rakyat yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas tanaman.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman pertumbuhan bibit gempol di persemaian dari 64 pohon induk yang berasal dari Majalengka (Jawa Barat) dan Banten.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan, Bogor. Waktu yang diperlukan dalam melaksanakan penelitian ini adalah selama kurang lebih 10 bulan dari Maret 2014 sampai dengan Desember 2014. yang meliputi penyusunan rencana penelitian, pengumpulan buah, perkecambahan, penyapihan, pelaksanaan penelitian, pengamatan dan analisis data.

Objek penelitian adalah bibit gempol umur 3 bulan yang benihnya diunduh dari 64 pohon induk di Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian adalah tanaman gempol di hutan rakyat, bibit gempol, ayakan, media perkecambahan dan pembibitan, serta alat ukur pertumbuhan..

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (Completely Random Design) dengan 64 pohon induk sebagai perlakuan yang diulang sebanyak 3 ulangan. Tiap ulangan terdiri dari 6 bibit sehingga jumlah bibit yang digunakan seluruhnya sebanyak 1.152 bibit. Data

PENDAHULUAN

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan tahun 2013 diketahui bahwa 46 % kebutuhan kayu nasional dipasok dari hutan rakyat atau sebanyak 23 juta m3 dari 49 juta m3 (SILK, 2014).

Hal ini membuktikan bahwa hutan rakyat cukup berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan kayu nasional, baik sebagai bahan baku industri, kayu pertukangan maupun kayu bakar.

Model pengusahaan hutan rakyat yang banyak diterapkan khususnya di Pulau Jawa adalah agroforestry yang memadukan jenis tanaman kehutanan dengan jenis tanaman pertanian. Salah satu jenis tanaman hutan yang dapat dikembangkan pada pola agroforestry di hutan rakyat adalah jenis Gempol (Nauclea orientalis L.) dari famili Rubiaceae. Pengembangan jenis gempol diyakini memiliki prospek yang menjanjikan mengingat manfaatnya sebagai penghasil bahan bangunan, pulp dan kertas (Heyne, 1987; Sunyata, 2011). Selain itu gempol cukup prospektif untuk kegiatan fitoremediasi dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi khususnya lahan basah (Marghescu 2001; Amihan-Vega and Mendoza 2005; Mawaddah 2012). Kelebihan jenis gempol lainnya adalah kemampuan tumbuh pada kisaran habitat yang luas, antara lain pada ekosistem lahan basah diantaranya rawa (Ruxton et al.,1967), gambut (Kartikasari et al.,2012) dan hutan sepanjang aliran sungai (Johansen et al.,2007; Petty and Douglas 2010), maupun di lahan kering seperti savanah dan padang rumput (Ruxton et al.,1967). Manfaat gempol lainnya adalah sebagai bahan baku obat (Lim 2013). Secara umum penanaman tanaman hutan termasuk dalam hal ini jenis gempol di hutan rakyat masih menggunakan benih yang rendah kualitasnya terutama kualitas genetik. Umumnya petani hanya mengunakan sumber benih dari beberapa pohon saja secara terus menerus. Kebiasaan tersebut berakibat pada penurunan kualitas genetik pada generasi berikutnya, yang selanjutnya akan berdampak terhadap rendahnya produktivitas tegakan di hutan rakyat. Untuk itu sangat penting memperhatikan keragaman pohon induk.

(3)

hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians untuk mengetahui variasi antar pohon induk. Apabila terdapat variasi antar pohon induk yang diujikan, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range

Test –DMRT).Variabel yang diamati adalah tinggi dan

diameter bibit gempol umur 3 bulan.Tinggi bibit diukur mulai dari pangkal batang sampai pucuk, dan diameter bibit diukur pada ketinggian ± 1 cm dari permukaan media. Selain itu juga dihitung nilai heritabilitas (Zobel and Talbert 1984) untuk sifat tinggi dan diameter serta korelasi genetik antar sifat tersebut. Korelasi genetik dihitung dengan rumus sebagai berikut (Zobel and Talbert 1984)

rG =

�[𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓(𝑋𝑋)][𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓(𝑋𝑋)][𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓 (𝑋𝑋𝑋𝑋)]

Dimana :

Komp.kovar f(xy) = 0,5 [komp.var f(x+y) - komp. var f(x) - komp.var f(y)]

(Fins et al, 1992)

Keterangan :

rG = korelasi genetik

Komp.kovar f(XY) = komponen.varian untuk sifat tinggi dan diameter

Komp.kovar f(X) = komponen.varian untuk sifat tinggi

Komp.kovar f(Y) = komponen.varian untuk sifat diameter

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaman pohon induk gempol berpengaruh nyata (P< 0,05) terhadap tinggi dan diameter bibit di persemaian (Tabel 1). Hasil tersebut menunjukan adanya keragaman genetik yang tinggi untuk sifat tinggi dan diameter. Uji lanjut untuk mengetahui keragaman tersebut disajikan pada Tabel 2 dan 3. Tabel 1. Rekapitulasi analisis keragaman tinggi dan diameter bibit gempol.

Parameter (Parameters) F hitung(Fcalculate)

Tinggi (Height) 6.17 *

Diameter (Diameter) 28.69 *

Keterangan:

* = Berbeda nyata pada selang kepercayaan 95 %

Remarks:

* = Significantly at 95 %

Tinggi bibit terbesar (32,88 cm) dihasilkan oleh bibit yang berasal dari pohon induk nomor 10. Pohon induk nomor 1 menunjukkan tinggi terkecil yaitu sebesar 18.35 cm (Tabel 2). Sedangkan pertumbuhan diameter terbesar ditunjukkan oleh pohon induk nomor 16 yaitu sebesar 5,4 cm, dan yang terendah dihasilkan bibit dari pohon induk 10 dan 63 yaitu masing-masing sebesar 3,01 cm dan 3,00 cm (Tabel 3).

Tabel 2. Rata-rata tinggi bibit gempol umur 3 bulan Pohon induk

(Parent trees) (Average)Rata-rata cm

Pohon induk

(Parent trees) (Average)Rata-rata cm 10 32.88 a 40 21.95 efghijklmnopq 27 27.68 b 14 21.89 efghijklmnopq 34 27.35 bc 9 21.81 efghijklmnopqr 16 26.94 bcd 11 21.74 fghijklmnopqr 17 25.27 bcde 24 21.61 fghijklmnopqr 46 24.77 bcdef 39 21.58 fghijklmnopqr 57 24.53 cdefg 47 21.53 fghijklmnopqr 21 24.48 cdefg 54 21.51 fghijklmnopqr 12 24.46 cdefg 55 21.47 fghijklmnopqr 18 24.20 cdefgh 31 21.41 fghijklmnopqr 33 23.99 defghi 13 21.25 fghijklmnopqr 25 23.70 defghij 15 21.24 fghijklmnopqr 37 23.48 efghijk 64 21.20 ghijklmnopqr 35 23.44 efghijk 44 21.19 ghijklmnopqr

(4)

28 23.38 efghijk 63 20.78 hijklmnopqr 8 23.26 efghijkl 42 20.77 hijklmnopqr 53 23.19 efghijklm 62 20.60 ijklmnopqr 26 23.07 efghijklmn 58 20.34 jklmnopqr 56 22.89 efghijklmn 59 20.17 jklmnopqr 6 22.89 efghijklmn 61 19.92 klmnopqr 19 22.82 efghijklmn 29 19.81 lmnopqr 49 22.83 efghijklmn 48 19.75 lmnopqr 41 22.75 efghijklmno 51 19.67 nopqr 5 22.54 efghijklmno 36 19.51 nopqr 52 22.54 efghijklmno 30 19.24 opqr 7 22.45 efghijklmnop 43 19.21 opqr 22 22.43 efghijklmnopq 60 18.94 pqr 45 22.34 efghijklmnopq 4 18.90 qr 23 22.07 efghijklmnopq 3 18.90 qr 20 22.03 efghijklmnopq 38 18.90 qr 32 22.01 efghijklmnopq 2 18.89 qr 50 22.00 efghijklmnopq 1 18.35 r Tabel 3. Rata-rata diameter bibit gempol umur 3 bulan

Pohon induk

(Parent trees) (Average)Rata-rata (Parent trees)Pohon induk (Average)Rata-rata 16 5,4 a 8 4.02 klmnop 12 5,18 ab 38 3.81 lmnopq 34 5.12 abc 6 3.77 mnopqr 27 5.07 bcd 5 3.77 mnopqr 17 4.94 bcde 57 3.76 mnopqr 25 4.90 bcde 55 3.67 mnopqr 35 4.86 bcde 60 3.65 opqrs 28 4.75 bcde 1 3.64 opqrs 11 4.73 def 54 3.61 qrs 37 4.68 efg 56 3.57 qrst 33 4.64 efgh 41 3.53 qrstu 3 4.61 efghi 53 3.52 qrstu 26 4.58 efghij 50 3.48 qrstuv 18 4.56 efghij 52 3.46 qrstuvw 14 4.38 fghijk 2 3.44 qrstuvwx 23 4.38 fghijk 46 3.42 qrstuvwx 31 4.36 fghijk 49 3.40 qrstuvwxy 9 4.36 fghijk 40 3.39 rstuvwxy 21 4.33 ghijk 48 3.37 rstuvwxy 7 4.30 ghijk 47 3.31 stuvwxy 22 4.24 hijk 64 3.27 stuvwxy 19 4.23 ijk 59 3.20 tuvwxy 30 4.21 jkl 45 3.18 tuvwxy 20 4.16 klm 44 3.16 uvwxy 32 4.14 klm 61 3.12 uvwxy 13 4.13 klm 51 3.10 vwxy 24 4.10 klm 42 3.09 vwxy 4 4.07 klmn 43 3.06 wxy 15 4.06 klmn 62 3.05 xy 39 4.05 klmn 58 3.04 xy 36 4.03 klmno 10 3.01 y 29 4.34 klmnop 63 3.00 y

(5)

Pohon induk nomer 16, 17, 27 dan 34 asal dari Majalengka termasuk urutan lima besar pohon induk terbaik yang mampu menghasilkan bibit dengan karakter tinggi dan diameter terbesar. Hal ini menggambarkan sumber benih Majalengka cenderung menghasilkan bibit dengan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan asal Pandeglang. Zobel dan Talbert (1984) menyebutkan bahwa perbedan geografi mempengaruhi sifat genetik.

Namun demikian dilihat dari sebaran geografisnya yang tidak terlalu jauh diantara keduanya, keragaman pertumbuhan bibit yang muncul dalam penelitian ini kemungkinan lebih dipengaruhi oleh perbedaan ukuran buah, biji dan mutu benih sebagai akibat perbedaan habitat alami dari kedua lokasi tersebut. Secara umum, variasi morfologi buah dan biji serta mutu benih gempol sangat dipengaruhi oleh perbedaan ekotipe (variasi tipe habitat) dan genetik (Tuheteru et

al., 2014). Kualitas benih gempol yang dihasilkan dari

habitat rawa cenderung baik, persentase kecambah lebih dari 90% dengan rata-rata benih berkecambah diatas 5 benih/hari. .

Tingkat keragaman genetik (Heretabilitas) gempol untuk karakter diameter bibit cukup besar yaitu 0,762. Sedangkan tingkat keragaman genetik untuk karakter tinggi bibit sebesar 0,475. Selanjutnya hasil analisis korelasi genetik menunjukkan bahwa tingkat keeratan hubungan antara karakter tinggi dan diameter bibit yang ditimbulkan karena faktor genetik, relatif rendah yaitu 0,24 (24%). Hasil ini mengindikasilan bahwa bibit dengan tinggi terbaik belum tentu menghasilkan diameter terbaik. Terbukti pada pohon induk nomor 10 yang menunjukkan tinggi bibit terbesar (32,88 cm), namun diameter bibit terendah (3,01 cm).

Selanjutnya berdasarkan tingkat korelasi genetik yang dihasilkan tersebut, maka kriteria seleksi pohon induk di tingkat persemaian dapat melalui karakter diameter bibit, mengingat heritabilitas karakter diameter bibit relative lebih besar dibandingkan karakter tinggi bibit. Akan tetapi evaluasi kinerja genetik dari pohon induk tersebut masih harus dilakukan hingga di tingkat lapangan, mengingat keragaman pohon juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Hasil evaluasi awal terhadap tanaman

gempol yang ditanam di BKPH Brebek, KPH Nganjuk, Jawa Timur diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter pohon gempol umur 1 tahun terbesar dihasilkan pohon induk nomer 22 yaitu mencapai 99,8 cm untuk tinggi dan 22,7 cm untuk diameter batang (Danu dan Lesy, 2015). Hasil tersebut membuktikan bahwa kinerja genetik pohon induk di tingkat persemaian belum maksimal. Zobel dan Talbert (1984) menyatakan bahwa phenotype tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik yang dimiliki individu dalam pohon induk dan kondisi lingkungan.

Walaupun demikian informasi keragaman genetik antar pohon induk pada tingkat persemaian menjadi indikator penting adanya variasi pertumbuhan pohon gempol pada tingkat lapang. Keragaman antar pohon induk pada tingkat persemaian yang juga berindikasi adanya keragaman pada tingkat lapang dilaporkan terjadi pada beberapa jenis tanaman hutan seperti pada A. crassicarpa (Hadiyan dan Leksono, 2003) dan Eucalyptus pellita (Leksono dan Setyaji, 2004). Apabila kinerja pohon induk di tingkat persemaian terbukti masih tetap bertahan setelah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang lebih terbuka sampai dengan daur tanaman, maka informasi tersebut sangat bermanfaat untuk dapat melakukan efisiensi seleksi pohon induk pada umur yang lebih muda.

Secara keseluruhan pohon induk yang berasal dari majalengka prosentase hidup di lapangan hingga umur 1 tahun mencapai 64,01 % dengan pertumbuhan tinggi rata –rata 64,39 cm dan diameter berkisar antara 1,16 – 2,23 cm. Persentase hidup asal Banten sebesar 61,29 % dengan tinggi pohon mencapai rata-rata 82,39 cm atau berkisar antara 70,24 – 102,43 cm, adapun rata-rata diameter 2,17 cm dengan kisaran 2,00 – 2,32 cm. (Danu dan Lesy, 2015). Hasil pengamatan pertumbuhan gempol di Hutan Penelitian Parung panjang, Bogor diketahui bahwa pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gempol umur 4 tahun dipengaruhi oleh asal benih dan lingkungan. Berdasarkan nilai rata-rata diameter dan tinggi pohon induk dari Majalengka memiliki pertumbuhan terbaik (Pujiastuti et al., 2015). Keberhasilan penanaman juga dapat dipengaruhi faktor kesesuaian antara asal benih dan lokasi penananaman..

(6)

SIMPULAN

Keragaman tinggi dan diameter bibit gempol di persemaian dipengaruhi pohon induk. Pohon induk nomer 10 menunjukkan tinggi bibit terbaik (32,88 cm); Diameter terbesar (5,4 cm) ditunjukkan oleh bibit yang berasal dari pohon induk 16.

DAFTAR PUSTAKA

Amihan-Vega, B., dan Mendoza. JD., 2005. Benefits from Tree Growing in the Degraded Uplands: Empirical Realities from Tabango, Leyte, The Philippines. In Harrison, S., Herbohn, J., Suh, J., Mangaoang E., and Vanclay, J., (editors). Proceedings from the End-of-project Workshop Held in Ormoc city, The Philipines ; 19-21 August 2004; Filipina. pp93-106 Danu. 2015. Laporan perjalanan dinas dalam rangka

Monitoringdan Evaluasi Pertumbuhan ASDGGEmpol di Nganjuk pada tanggal 24 November 2015. Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa Madura. Direktorat Jenderal Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial. Tidak dipublikasikan.

Danu, N.Nurochim, A H Haerujaman. 2011. Mengenal Pohon Gempol (Nauclea orientalisL.) di Jawa Barat dan Banten. Info benih,15(2):55-59. Pujiastuti E. Yulianti, Danu, N. Yuniarti, D. Haryadi,

N. Nurrochim, H. Royahi. A.H. Haerujaman. 2015. Pengembangan Sumber Benih diParungpanjang. Laporan Pelaksanaan Kegiatan tahun 2015. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor. Tidak dipublikasikan.

Fins, L., Sharon T.F, Janet V.B. 1992. Handbook of Quantitative Forest Genetics. Kluwer Academic Publishers, Netherlands.

Hadiyan dan Leksono, 2003) Hadiyan, Y. dan Leksono B. 2003. Variasi pertumbuhan tanaman pada uji provenansi Acacia

crassicarpa umur 9 tahun di Lipat Kain, Riau.

Jurnal Pemuliaan Tanaman hutan Vol.1 (3). P3BPTH, Jogjakarta.

Johansen, K., Phinn, S., Dixon, I., Douglas, M., dan Lowry, J., 2007. Comparison of Image and

Rapid Field Assessments of Riparian Zone ondition in Australian Tropical Savannas. For. Ecol. Manage., 240:42-60

Kartikasari, S.N., Marshal, A.J., dan Beehler, B.M., 2012. Ekologi Papua. Seri Ekologi Indonesia. Jilid VI. Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Conservation International. Jakarta. 981p.

Leksono, B dan T. Setyaji. 2004. Variasi pertumbuhan tinggi dan diameter pada uji keturunan

Eucalyptus pellita dengan sistem populasi

tunggal. Jurnal Pemuliaan Tanaman hutan Vol.1 (2) : 67-78. Jogjakarta.

Lim, T.K., 2013. Edible Medicinal and Non-Medicinal Plants :Volume 5, Fruits. Springer, New York. pp754-757.

Marghescu, T., 2001. Restoration of Degraded Forest Land in Thailand: The Case of Khao Kho. Unasylva,207 (52):52-56.

Petty, A.M., dan Douglas, M.M., 2010. Scale Relationships and Linkages Between Woody Vegetation Communities Along a Large Tropical Floodplain River, North Australia. Journal of Tropical Ecology,26:79-92.

Ruxton, B.P., Haantjens, H.A., Paijmans, K., dan Saunders, J.C., 1967. Lands of the Safia-Pongani Area, Territory of Papua and New Guinea. Land Research Series No. 17. Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia. Melbourne. 217p.

[SILK] Sistem Informasi Legalitas Kayu. 2014. Kemenhut Permudah Legalitas Kayu Rakyat. http://silk.dephut.go.id. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015.

Tuheteru FD, C. Kusmana, I Mansur dan Iskandar. 2014. Karakteristik buah dan mutu morfo-fisiologis benih lonkida (Nauclea orientalisl.) dari habitat alami di Sulawesi Tenggara. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 8 No. 3, November 2014, 152-17.

Zobel and Talbert. 1984. Applied Forest Tree

Improvement. John Wiley and Sons.New

Gambar

Tabel 1. Rekapitulasi analisis keragaman  tinggi dan diameter bibit gempol.

Referensi

Dokumen terkait

1) Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), kebutuhan ini secara terus- menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah. 2) Kebutuhan akan

Dengan semakin banyak pengunjung di Obyek Wisata akan semakin besar peluang pendapatan dari pedagang yang ada sekitar lokasi Obyek Wisata Sondokoro

Jenis tanah yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan kandungan senyawa pada satu spesies tanaman yang sama, seperti adanya perbedaan kandungan camptothecin pada Notapodhytes

Permasalahan yang timbul dalam proses merealisasikan program pembelajaran berbantuan komputer ini adalah Bagaimana proses pengembangan dan kelayakan soft ware pembelajaran

Sebagai salah satu lagu daerah NTT, nyanyian Kakor Lalong sangat bagus untuk dijadikan materi pembelajaran lagu daerah di kelas VIII SMPK Adisucipto. Pembelajaran

Untuk mendukung berbagai kegiatan Posyandu perlu adanya Sistem Informasi Posyandu (SIP) yang dapat digunakan untuk mempermudah jalannya kegiatan Posyandu seperti data

Rasio yang digunakan adalah capital adequancy ratio , non performing loan serta return on asset terhadap dana pihak ketiga pada perusahaan perbankan yang

Dalam mendirikan sebuah usaha perlu adanya system teknis yang mendukung proses kegiatan perusahaan mulai dari penentuan lokasi usaha yang dekat dengan bahan baku, tata.5. letak