• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM PROGRESIF FARISH A. NOOR (Kajian Historis-Sosiologis Atas Buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISLAM PROGRESIF FARISH A. NOOR (Kajian Historis-Sosiologis Atas Buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara) SKRIPSI"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

i

ISLAM PROGRESIF FARISH A. NOOR

(Kajian Historis-Sosiologis Atas Buku Islam Progresif:

Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Strata Satu

Disusun Oleh: Fahmi Mubarok NIM. 15510059

Dosen Pembimbing:

Dr. H. Shofiyullah Muzammil, M. Ag. NIP. 19710528 200003 1 001

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

MOTTO

“Khoirunnas anfa’uhum linnas”

Artinya: Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermafaat bagi manusia lain”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Dengan segala kerendahan hati, skripsi ini penulis dedikasikan kepada kedua orang tua; Ahmad Taufiq, dan Holilah, juga guru-guru dan para sahabat terbaik penulis. Apa yang telah mereka berikan melebihi dari apa yang penulis harapkan.

Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada sosok cantik yang selalu mendoping semangat penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Ayu Wahdini.

Terakhir, penulis persembahkan kepada siapa saja yang selalu bertanya: “Kapan lulus kuliah?”

Pertanyaan itu tentunya menjadi motivasi tersendiri bagi penulis untuk segera menyelesaikan studi.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji syukur penulis panjatkan kahadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat dan kesempatan hidup yang telah diberikan oleh-Nya. Berkat-Nya penulis tergerak dan memiliki daya untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada manusia sempurna yang menjadi junjungan kita semua, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Skripsi ini merupakan hasil diskusi dengan Dr. H. Shofiyullah Muzammil, M. Ag, selaku dosen pembimbing skripsi dan juga Dr. H. Zuhri, M.Ag sebagai dosen pembimbing akademik seputar Islam Progresif hingga akhirnya mengangkat tema ini. Bukan tanpa alasan, melainkan karena semangat inilah yang diprediksi nantinya akan mengakomodir Islam kekinian yang membawa angin segar terhadap tantangan arus globalisasi.

Selama proses pengerjaan penelitian ini banyak diwarnai dengan pergolakan pikiran. Terpaan, kritik pedas, analisis tajam, dan kebijkasanaan dari Dr. H. Shofiyullah Muzammil sangat berarti dalam “menginstal ulang” pola pikir penulis selama ini, sehingga mengantarkan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Berkatnya penulis bisa sampai pada sebuah kesimpulan penelitian yang bertentangan dengan pendapat pada umumnya. Hal ini merupakan sebuah kepuasan subjektif yang sangat mengasyikkan.

(8)

viii Keberhasilan dalam menyelesaikan penelitian ini tidak luput dari jasa dan kebaikan beberapa pihak. Untuk itu saya perlu memberikan penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada: Dr. H. Shofiyullah Muzammil, M. Ag. Dr. Muhammad Taufiq, S.Ag., M.A, Dr. H. Zuhri, M.Ag, Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum, Drs. H. Abdul Basir Solissa, M.Ag, Dr. Fatimah Husein, M. A, Dr. Alim Roswantoro, M.Ag, Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag, Dr. H. Syaifan Nur, M.A, Novian Widiadharma, S.Fil., M.Hum, Muh Fatkhan, S.Ag., M.Hum, Dr. Mutiullah, Prof. Iskandar Zulkarnain, dan seluruh Dosen Progam Studi Aqidah dan Filsafat Islam. Ucapan terima kasih juga tidak lupa saya haturkan kepada teman-teman senasib dan seperjuangan Aqidah dan Filsafat Islam angkatan 2015.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan ada kritik dan saran yang jujur atas skripsi ini.

Yogyakarta, 15 September 2019 Penulis,

Fahmi Mubarok NIM: 15510059

(9)

ix

ABSTRAK

Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi keseluruhan alam

(rahmatan lil alamin), lahir sebagai gerakan sosial yang merombak sistem

jahiliyah, yaitu sistem yang membenarkan dan melestarikan adanya pemiskinan, pembodohan, penindasan dan ketidakadilan atas sesama manusia, menuju sistem sosial yang berlandaskan tauhid dengan meninggikan Tuhan dan menganggap derajat manusia semuanya adalah sama. Melihat kondisi umat Islam yang masih nampak anomali dengan yang seharusnya, membuat banyak tokoh muslim berpikir ulang mengenai keislaman. Perdebatan-perdebatan tentang keberislaman bergulir, salah satunya adalah bagaimana Islam menghadapi tantangan zaman, dimana hari ini dunia sudah jauh berkembang melampaui awal kelahiran Islam di masa lalu. Salah satu dari tokoh yang memberi perhatian serius terhadap Islam dan perkembangan zaman adalah Farish A. Noor. Ia merupakan eksponen penting Islam Progresif di Asia dan Eropa, posisinya di Institut Ketimuran Modern di Berlin telah membuatnya mempunyai jaringan yang cukup luas dengan eksponen Islam Progresif di berbagai belahan dunia. Sehingga, mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang Islam Progresif Farish.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti memfokuskan pada pemikiran sekaligus implementasi Islam Progresif Farish A. Noor sebagaimana yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara. Penelitian ini selain berupaya mengenalkan pemahaman baru tentang Islam Progresif dari tokoh luar seperti Farish A. Noor, selain itu, juga untuk memberikan sumbangsih pemikiran dari sudut pandang Islam Progresif terhadap isu-isu yang terjadi di Indonesia.

Penelitian ini adalah Library Research, yaitu jenis penelitian yang dilakukan dan difokuskan pada penelaahan, pengkajian dan pembahasan literatur-literatur. Sementara pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan

historis-sosiologis, yaitu pendekatan yang melihat kenyataan sejarah dan relasi sosial

tokoh terhadap lingkungan sekitarnya, yang kemudian bisa dipahami mengapa gagasan-gagasan, serta implementasi dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu menjelaskan, memaparkan dan menganalisis hasil pemikiran dan ruang geraknya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Farish A. Noor merupakan bagian dari Islam Progresif. Ia menekankan pada sikap radikalisme positif terhadap realitas dengan menghidupkan dinamika evolusi sosial masyarakat, tidak taklid buta maupun berpegang pada ide-ide lama terlebih pada ide-ide lama yang sudah tidak lagi kompetibel dengan masa saat ini, terbukanya pintu ijtihad memikirkan isu-isu rumit dengan pemikiran yang terbuka terhadap ide dan hakikat yang baru dan juga tidak ragu atau curiga dengan teknologi dan ide-ide barat.

(10)

x DAFTAR ISI JUDUL ... i NOTA DINAS ... ii PERNYATAAN ... iii PENGESAHAN ... iv MOTTO ... v PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix DAFTAR ISI ... x BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan ... 8 D. Tinjauan Pustaka ... 9 E. Kerangka Teori ... 10 F. Metode Penelitian... 18 G. Sumber Data ... 18

H. Teknik Pengumpulan Data ... 18

I. Teknik Pengolahan Data ... 19

J. Pendekatan ... 20

K. Sistematika Pembahasan ... 20

BAB II ISLAM PROGRESIF FARISH A. NOOR ... 22

A. Latar Belakang Penulisan Buku ... 22

B. Geneologi Intelektual Farish A. Noor ... 33

C. Islam Progresif Farish A. Noor... 41

BAB III ISLAM PROGRESIF ... 52

A. Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam Progresif ... 52

B. Islam Progresif dalam Lintas Pemikiran ... 63

(11)

xi

BAB IV ANALISIS ISLAM PROGRESIF FARISH A. NOOR ... 72 A. Gender ... 72 B. Globalisasi ... 74 C. Analisa Islam Progresif Farish A. Noor Konteks ke-Indonesia-an ... 76 D. Kritik Atas Buku dan Pemikiran Islam Progresif Farish A. Noor ... 81 BAB V PENUTUP ... 83 DAFTAR PUSTAKA ... 86

(12)

12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah sebuah agama humanis, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral.1 Karakteristik Islam tersebut membawa konsekuensi bahwa agama tersempurna ini sangat besar peranannya bagi manusia.2 Selain itu juga, salah satu dari fungsi agama adalah sebagai social

control, di mana agama menjadi penuntun segala tindak tanduk pemeluknya, baik

dalam berkeluarga maupun bermasyarakat. Dengan beragama seseorang akan senantiasa memiliki pegangan hidup sebagai sumber nilai dan norma yang dapat membantu manusia untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baik dan bermartabat.

Islam, sebagai salah satu agama terbesar di dunia, ia tidak terbatas hanya pada ranah vertikal yang bersifat imanen melainkan juga pada ranah horizontal, bukan hanya mengenai hubungan antara manusia sebagai hamba dengan Tuhannya melainkan juga mengenai hubungan antar sesama mahluk ciptaan-Nya

(hablun minallah wa hablun minannas).

Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi keseluruhan alam

(rahmatan lil alamin), lahir sebagai gerakan sosial yang merombak sistem

jahiliyah, yaitu sistem yang membenarkan dan melestarikan adanya pemiskinan,

1

Kuntowijoyo, Pradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizán. 1991) hlm. 167

2

Ma'mun Efendi Nur, “Dakwah Sosial Ekonomi Dalam Pandangan Dawam Rahardjo”,

(13)

13 pembodohan, penindasan dan ketidakadilan atas sesama manusia, menuju sistem sosial yang berlandaskan tauhid dengan meninggikan Tuhan dan menganggap derajad manusia semuanya adalah sama.3

Seiring dengan berjalannya waktu, Islam menjadi sangat variatif. Penganutnya bukan hanya dari Mekkah-Madinah sebagaimana di masa Nabi dahulu, tetapi sudah mendunia. Beragamnya pemeluk Islam dengan latar belakang sejarah dan keadaan yang berbeda, telah melahirkan berbagai macam varian dalam Islam. Salah satu dari varian Islam tersebut adalah Islam Progresif.4

Dalam ruang kajian Islam kontemporer, istilah Islam Progresif tergolong baru. Setelah sebelumnya banyak bermunculan istilah yang disematkan pada Islam, seperti Islam Liberal, Islam Transformatif, Islam Inklusif, dan sebagainya.5 Di satu sisi, pandangan dan aksi Islam Progresif, merupakan kelanjutan dan kepanjangan dari gerakan Islam Liberal yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu. Namun di sisi lain, ia muncul juga sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap gerakan Islam Liberal.

Islam Liberal lebih menekankan pada kritik-kritik internal terhadap pandangan dan perilaku umat Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis. Sementara itu, kritik terhadap modernitas, kolonialisme, dan imperialisme justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari gerakan Islam

3Ahmad Dafit, “Islam Progresif Dalam Gerakan Sosial Dawam Raharjo (1942-2016)”,

Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, Vol 1, No 1, 2017, hlm. 45.

4

Ahmad Dafit, Islam Progresif Dalam Gerakan Sosial Dawam Raharjo (1942-2016), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016, hlm. 1.

5

Farish A. Noor, Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia

(14)

14 Liberal.6

Persoalan radikalisme agama ini menjadi kian rumit apabila dikaitkan dengan suatu fenomena sosial yang merupakan suatu faktor variabel yang kompleks. Dengan konsep liberation theology-nya, gerakan tersebut berhasil menjadi fokus permasalahan bagi kalangan elit ataupun para pemimpin negara, teologi pembebasan merupakan sebuah gerakan praksis dari perumusan kembali suatu wacana keagamaan yang menampilkan sifat kepedulian terhadap isu-isu sosial dan kemasyarakatan untuk menentang kezaliman dan ketidakadilan.

Radikalisme agama ini menjadi buruk citranya sejak menampakan gejolak demonstrasi jalanan, pemogokan, galak dan konservatif, dari situlah radikalisme agama tidak disenangi lagi karena hakikat gerakan Islam garis keras, yang bersifat konsevatif, perpendirian kolot dan kuno, lebih dekat dengan golongan konservatif barat yang digelari Neo-Konservatif (Neo-Cons).7

Berbeda dengan liberalisme Islam, Islam ini tidak asing dengan analisis kelas, namun ia tidak menjadikan analisis kelas satu-satunya referensinya. Keterbukaan metode dan inspirasi moral menggerakkannya. Namun demikian, militansi dan keberpihakan merupakan ciri perjuangannya. Keduanya tidak saling menegasikan, karena prinsip-prinsip tersebut dibangun di atas prinsip demokratis yang terbuka dan kepercayaan akan proses emansipasi yang tidak pernah final.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa Islam progresif bukanlah suatu kubu yang terpisah dari masyarakatnya, atau menempatkan diri sebagai kelas menengah

6

Omid Safi, What is Progressive Islam? (ISIM News Letter 13, 2003) hlm, 48

7

Farish A. Noor, Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia

(15)

15 yang berdiri di atas pundak masyarakatnya, dengan atribut-atribut dan keistimewaan-keistimewaan intelektualnya sendiri. Dalam arti tertentu, Islam progresif adalah Islam yang dilihat dari komitmen sosialnya, bersifat “radikal”, sehingga sebutan “radikal” sebenarnya paling layak dialamatkan bagi Islam ini, dan bukan kalangan reaksioner Islam “garis kanan” yang lebih layak disebut “ekstremis” atau “religius fasis”.

Berbeda dari liberalisme Islam, Islam progresif tidak tertarik semata-mata pada ide-ide pembaruan Islam, tetapi pada penerjemahannya dalam perilaku konkret, dan konsistensi laku itu dengan tuntutan masyarakat, atau problem-problem konkret yang tengah dihadapi masyarakat. Ia tidak semata-mata memikirkan penyegaran wacana dan pencerahan intelektual, tetapi juga pencerahan kondisi-kondisi kehidupan. Dalam arti itu, secara ideologis, Islam progresif melakukan kritik dan otokritik, tidak sebagaimana liberalisme Islam yang cenderung mempercayai bahwa gagasan-gagasan pembaruan Islam yang diusungnya saja sudah cukup untuk menjelaskan keterpurukan dan krisis yang dihadapi oleh umat Muslim.8

Merujuk pada istilah Islam Progresif seperti disampaikan di atas, dari sekian banyak tokoh-tokoh pemuka Islam yang mengusung gagasan Islam Progresif di wilayahnya masing-masing, Farish A. Noor yang juga mempunyai konsern untuk menyemaikan gagasan-gagasan Islam Progresif di Asia Tenggara, dan mempunyai komitmen kuat untuk menjembatani dan menjalin komunikasi antar Muslim progresif nusantara, khususnya Malaysia dan Indonesia.

8

(16)

16 Selain dari pada itu, Farish A. Noor merupakan eksponen penting Islam Progresif di Malaysia dan Eropa, posisinya di Institut Ketimuran Modern di Berlin telah membuatnya mempunyai jaringan yang cukup luas dengan eksponen Islam Progresif di berbagai belahan dunia. Salah satu tulisannya dimuat dalam buku

Progressive Muslim, yang diedit oleh Omid Safi.

Ditambah lagi dengan Farish A. Noor sendiri adalah juga seorang penulis tentang politik Islam, baik yang militan maupun progresif. Itu semua membuat perspektifnya tentang Islam Progresif di Asia Tenggara semakin kaya dan membumi.

Buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara karangan Farish A. Noor pada dasarnya merupakan kumpulan artikel-artikelnya yang sengaja dikodifikasikan dan diedit oleh M. Nur Ichwan dan Imron Rosjadi hingga berhasil diterbitkan pada tahun 2006 di Yogyakarta.9

Buku tersebut menarik untuk dibaca karena selain kontennya yang sesuai dengan masa kekinian juga menjadi buku yang secara tegas menjelaskan konsep Islam Progresif yang sekaligus diulas dengan menyertakan contoh dari kasus-kasus yang belakangan ini terjadi di Asia Tenggara khususnya di Indonesia dan Malaysia.

Buku tersebut berisi tentang hal-hal mendasar dari Islam Progresif yaitu mencari kompas dan halatuju Islam Progresif, yang menurutnya pada era saat ini terjadi sesuatu yang mengherankan dan menakjubkan pada umat Islam, dimana dari segi aqidah, umat Islam masih menghadap ke Mekkah, namun dari siasah

9

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

(17)

17 atau politik, pemerintah Muslim berpaling ke Washington. Ia beranggapan bahwa fenomena “satu umat, dua kiblat” ini merupakan suatu fenomena yang baru, fenomena tersebut tidak lahir begitu saja, tetapi ada faktor-faktor material, ekonomi, politik dan struktur yang menyebabkannya seperti itu.10

Selain dari pada itu, buku tersebut mengajak untuk kembali pada Radikalisme yang Positif, kembali pada “radikalisme” asal. Pada akhir abad 19 sampai dengan pertengahan abad 20, gerakan nasionalis dan anti-kolonial di dunia ketiga dipimpin oleh tokoh-tokoh radikal yang hebat dan berkepribadian tinggi serta mulia, seperti halnya Bung Karno, Muhammad Hatta, dan H. Agus salim di Indonesia. Syed Syaikh al-Hady dan dr. Burhanuddin al-Hemly di Malaysia, mereka semuanya bisa dikatakan radikal pada masa tersebut. “Radikal” karena mereka berusaha untuk membebaskan negara dan masyarakat mereka dari beban hidup di bawah suatu rezim kolonial.11

Tujuan dan wawasan politik mereka, berlandaskan pada suatu ide kebebasan tulen, yang berdasarkan pada suatu konsep keadilan universal yang tidak memecah belah dan dalam perjuangannya, mereka tidak berkompromi dan menentang status quo yang ada secara total.12

Pada umumnya, dari sekian banyaknya buku-buku yang membawakan semangat Islam Progresif yang ditulis oleh tokoh-tokoh terkemuka, hanya sedikit

10

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

Tenggara, hlm. 2.

11

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

Tenggara, hlm. 11.

12

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

(18)

18 dari mereka yang menjelaskan secara jelas dan terperinci mengenai konsep Islam Progresif dengan backrgound penulis yang mempunyai jaringan cukup luas dengan eksponen Islam Progresif di berbagai belahan dunia dan mempunyai konsern untuk menyemaikan gagasan- gagasan Islam Progresif di Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Indonesia. Sehingga penulis ingin menggali lebih dalam tentang Islam Progresif menurut Farish A. Noor dan sekaligus mengkontekstualisasikannya dengan kasus yang terjadi belakangan di Indonesia guna memberikan sumbangsih teoritis maupun praktis untuk kalangan akademis hingga masyarakat luas.

Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik untuk mengangkat tema Islam Progresif Farish A. Noor: (Kajian Historis-Sosiologis

Atas Buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara). Hal tersebut dipandang sangat penting untuk mengulas lebih dalam

tentang Islam Progresif di Asia Tenggara khususnya di Indonesia, sekaligus untuk memetakan sebuah kerangka berpikir yang bisa dijadikan kacamata atau lensa agar dapat membaca suatu kondisi maupun persoalan secara lebih tajam dan komprehensif.

Lebih spesifik lagi, sekurang-kurangnya terdapat dua alasan untuk melakukan penulisan ini. Pertama, dikarenakan kajian tentang Islam Progresif merupakan istilah baru dalam kajian Islam Kontemporer karenanya dengan berbekal kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki, sekiranya Farish A. Noor layak untuk berbicara mengenai hal ini. Lebih jauh, jika ditinjau dalam konteks ke-Indonesia-an misalnya, mengkaji pemikiran Farish A. Noor tentang Islam

(19)

19 progresif, tidak lain sebagai upaya untuk memberikan sebuah gambaran lain yang lebih fresh dari sudut pandang seorang filosof luar yang yang mengkaji fokus tentang hal tersebut, bahkan mungkin hingga sekarang.

Yang kedua ialah melihat urgensi konsep tersebut pada masa saat ini, sejalan dengan cita-cita sebagian besar Muslim Indonesia untuk menampilkan wajah Islam yang ramah, rahmat juga manusiawi termasuk akomodatif terhadap kultur Indonesia dengan ragam corak dan warnanya saat ini.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang di atas, maka dapat ditarik beberapa persoalan sebagai langkah memfokuskan penulisan ini, adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep Islam Progresif dalam Buku Islam Progresif:

Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara?

2. Bagaimana Implementasi Islam Progresif Menurut Farish A. Noor dalam konteks ke-Indonesiaan?

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulisan ini memiliki tujuan dan kegunaan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui tentang konsep dan Implementasi Islam Progresif Menurut Farish A. Noor dalam Buku Islam Progresif: Peluang,

Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara.

2. Untuk mengetahui tentang Implementasi Islam Progresif Menurut Farish A. Noor agar dapat dipraktekan dalam konteks ke-Indonesiaan.

(20)

20

D. Tinjauan Pustaka

Sebagai tinjauan pustaka, terdapat beberapa buku yang mengulas tentang Islam Progresif, diantaranya ialah karangan Ebrahim Moosa berjudul Islam

Progresif, buku ini mengulas tentang refleksi dilamatis tentang HAM, modernitas

dan hah-hak perempuan di dalam hukum Islam. Buku ini merupakan kumpulan dari tiga artikel panjang yang dikompilasikan menjadi buku. Ebrahim Moosa sendiri, ia dikenal sebagai intelektual muda Islam yang progresif da kritis terhadap praktik keberagaman, kehidupan sosial dan politik yang terjadi di lingkungannya.

Menurutnya, seorang muslim yang progresif adalah orang Islam yang peduli terhadap ketidakadilan sosial, politik dan juga sangat mungkin agama dengan tetap menjalankan litualitas keIslamannya, meskipun cara pelaksanaan ritual yang progresif terkadang mengundang kontroversi dan kecaman.13

Penulis lainnya yang juga mengulas tentang hal yang Islam Progresif ialah H. M. Nur Kholis Setiawan berjudul Pemikiran Progresif dalam Al-Qur’an. Buku ini menitik beratkan pada elemen-elemen klasik dalam Qur’an. Kajian al-Qur’an dalam al-dirasah al-Islamiyah menduduki peran sentral karena berpengaruh bagi disiplin keIslaman lainnya. Kajian keIslaman memerlukan kesadaran intelektual akan diversitas pemikiran.

Pemikiran-pemikiran dalam kajian al-Qur’an yang menandai progresifitas gagasan menjadi ulasan uatama dalam buku ini, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pemikiran progresif merupakan anak kandung dari peraaban Islam. Mengingkari keberadaan pemikiran progresif termasuk di dalamnya adalah

13

(21)

21 kajian al-Qur’an, berarti mengingkari teladan inteektual Islam klasik yang amat kaya dengan diskursus tersebut.

Omid Safi, dalam tulisannya What is Progressive Islam juga menjelaskan bahwa, Islam Progresif merupakan kelanjutan dan kepanjangan dari gerakan Islam Liberal yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu. Namun, di sisi lain ia muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan terhadap gerakan Islam Liberal yang lebih menekankan pada kitik-kritik internal terhadap pandangan dan perilaku umat Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis. Sementara itu, kritik terhadap modernitas, kolonialisme dan imperialisme justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari gerakan Islam Liberal.

Sejauh penelusuran penulis, masih banyak karangan atau buku-buku yang mengulas seputar Islam Progresif, namun belum ada yang pernah menulis tentang Islam Progresif Farish A. Noor: (Kajian Atas Buku Islam Progresif:

Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara). E. Kerangka Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penulisan. Kerangka teoritik atau theoretical

framework merupakan model konseptual dari suatu teori atau hubungan logis

(logical sense) di antara faktor-faktor yang diidentifikasi penting pada masalah penulisan. Pembahasan teori secara luas dan mendalam akan semakin

(22)

22 memperdalam wawasan penulis dalam mengkaji permasalahan yang hendak di pecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penulisan.14

Berbeda dengan penulisan kuantitatif, posisi teori dalam penulisan kualitatif diletakkan sebagai perspektif, bukan untuk diuji.15 Dalam kajian teori ini akan dibahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penulisan ini, yaitu Islam Progresif.

1. Islam Progresif

Secara etimologis, Progresif berarti bergerak ke depan, ke arah kemajuan dan berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang,16 sedangkan Islam progresif berarti Islam yang maju (al-Islam al- Mutaqaddimah).17

Dari segi kebahasaan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa gerakan ini merupakan gerakan yang mencoba memberi penafsiran baru kepada ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran agar lebih sesuai dan selaras dengan tuntutan kemajuan dan perkembangan dunia saat ini.18

Ditegaskan oleh M. Amin Abdullah19 dalam pengantarnya dalam buku Islam Progresif: Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

14

Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi (Yogyakarta: 2015), hlm. 10.

15

Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2015), hlm: 46.

16

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/progresif

17

Nur Kholis Setiawan, Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian al-Qur’an, hlm. 26

18

(23)

23

Tenggara, bahwa Islam Progesif lebih mengacu kepada orientasi

pemikiran keIslaman yang lebih melihat ke masa depan, ketimbang sekedar mengeksploitasi perihal keliberalan.20

Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Hal ini tentu berbeda dengan Islam militan dan ekstrimis yang tetap berusaha menghadirkan wacana penafsiran masa lalu serta menutup diri terhadap ide-ide baru yang berasal dari luar kelompoknya. Bahkan, seringkali untuk meneguhkan keyakinannya, mereka bertindak dengan mengklaim diri sebagai pemilik otoritas kebenaran untuk bertindak secara otoriter terhadap paham dan agama lain.21

Di satu sisi pandangan dan aksi Islam Progresif, menurut Omid Safi,22 merupakan kelanjutan dan kepanjangan dari gerakan Islam Liberal

19

Prof. Dr. M. Amin Abdullah adalah seorang filsuf, ilmuwan, pakar hermeneutika dan cendekiawan muslim Indonesia. Ia pernah menjabat Rektor Universitas Islam Negeri Sunan KalijagaYogyakarta selama 2 periode (2005-2010).

20

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

Tenggara, hlm. ix.

21

Yoyo Mulyana, Islam Progresif, (Serang:Untirta Press, 2005), hlm. 36.

22

Profesor Studi Agama dan Studi Islam, University of North Carolina. Omid Safi lahir di Jacksonville, Florida, Amerika, tahun 1970. Meski lahir di Amerika, Safi justru dibesarkan di Iran. Ia memang keturunan Iran, dan keluarganya memutuskan kembali ke Iran tahun 1970-an, Safi pun iktu serta, dan akhirnya menghabiskan masa-masa pembentukan awal kehidupannya di Iran. Ia berada di sana saat-saat terjadinya revolusi Iran tahun 1978- 79.Namun, sejak 1980-an, Safi kembali ke Amerika - kota yang melahirkan dirinya - dan menempuh studi akademis. Gelar akademis mulai sarjana (B.A.), Master (M.A), sampai doktoral (Ph.D) ia peroleh dengan sangat baik di Universitas Duke, Amerika. Ia pun segera diangkat sebagai Profesor Studi Islam di Universitas Colgate, New York. Kiprah publiknya mulai tampak ketika ia mengedit buku

(24)

24 yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu. Namun, di sisi lain dia muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan terhadap gerakan Islam Liberal yang lebih menekankan pada kitik-kritik internal terhadap pandangan dan prilaku umat Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai- nilai humanis. Sementara itu, kiritik terhadap modernitas, kolonialisme dan imprialisme justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari gerakan Islam Liberal.23

Budhy Munawar Rachman24 dalam bukunya, Argumen Islam Untuk Pluralisme: Islam Progresif dan Perkembangan Diskursusnya, ia juga menjelaskan bahwa Islam Progresif adalah kaum liberal yang dilatar belakangi oleh LSM yang melahirkan kelompok-kelompok yang lebih menitik beratkan pada perubahan-perubahan sosial ditingkat masyarakat.25

Kenyataan inilah yang memberikan inspirasi terhadap munculnya pemahaman dan aksi Islam Progresif, yang memberikan perhatian yang seimbang antara kritik internal dan kritik eksternal. Kritik internal terhadap tradisi pemikiran sebagian umat Islam yang tidak

mentransformasikan visi ideal Islam progresif ke dalam suatu gerakan Islam yang ia sebut Progresive Muslims Union of Morth Amerika (PMUNA). Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Omid_Safi http://www.onbeing.org/column/omid-safi dan https://alammengaji.blogspot.co.id/2016/07/manifesto-Islam-progresif.html. Ketiganya diunduh pada 5 Mei 2019 Pukul 19:25 WIB.

23

Sahiron Syamsuddin, Islam Progresif dan Upaya membumikannya di Indonesia, dimuat di https://nahdliyinbelanda.wordpress.com/2007/09/29/Islam-progresif-dan-upaya- membumikan nya-di-Indonesia/, diakses pada 25 Desember 2018 pukul 22.00 WIB

24

Budhy Munawar Rachman ialah salah satu dari penerus pemikir Islam progresif yang melihat Islam dari kacamata yang lebih terbuka, toleran, dan demokratis. Sebuah cakrawala idiologi yang dasarnya dibangun oleh para tokoh Muslim pada era Nurcholish Madjid.

25

Budhy Munawar Rachman, Argumen Islam Untuk Pluralisme: Islam Progresif dan

(25)

25 menitikberatkan pada aspek-aspek kehidupan humanis memposisikan gerakan Islam Progresif pada gerakan modernis.

Namun pada waktu yang bersamaan dia juga merupakan gerakan postmodernis, karena dia juga bersikap kritis terhadap modernitas yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan sejati dan kemanusiaan. Cara pandang kritis dan aksi Islam Progresif semuanya hendaknya berorientasi kepada kemajuan. Atas dasar inilah dia disebut dengan istilah “Progresif”.26

Muslim yang progresif menurut Ebrahim Moosa27 adalah orang Islam yang perduli terhadap ketidakadilan sosial, politik, dan agama.

26Zudy Dwy Khalfy, “Islam Progresif Hasan Hanafi”, hlm. 34. 27

Ebrahim Moosa adalah Profesor Studi Islam di Universitas Notre Dame di Departemen Sejarah dan Institut Kroc untuk Studi Internasional. Dia sebelumnya adalah Profesor Agama dan Studi Islam di Duke University. Dia dianggap sebagai sarjana terkemuka pemikiran Muslim kontemporer. Moosa dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia.

Ebrahim Moosa adalah Profesor Studi Islam di Universitas Notre Dame. Ia adalah seorang ahli dalam pemikiran Islam, yang meliputi hukum modern dan pramodern Islam, teologi, etika Muslim kontemporer dan pemikiran politik.Ia termasuk intelektual publik yang menonjol, di antara 500 Muslim paling berpengaruh peringkat dalam publikasi tahunan 2009 yang diterbitkan oleh Prince

Waleed Bin Talal Center for Muslim Christian Understanding di Georgetown University dan

Jordan The Royal Islamic Strategic Studies Center.Moosa dilatih di kedua lembaga tradisional (ortodoks) Islam di India dan di akademi modern, yang mengkhususkan diri dalam studi agama di Universitas Cape Town. Dia telah menerbitkan banyak karya tentang sejarah pemikiran Islam kontemporer, reformasi Islam dan rekonstruksi tradisi.Bukunya terbaru adalah What is a

Madrasa? diterbitkan pada musim semi 2015. Konsentrasi pemikiran ilmiahnya berkisar pada isu

hak asasi manusia, gender, politik dan kewarganegaraan untuk bioetika dan ilmu pengetahuan dan pribadi manusia. Dia juga telah menerbitkan secara luas dalam pemikiran Islam abad pertengahan, dengan referensi khusus untuk pemikir Muslim besar abad kedua belas, Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111). Buku Profesor Moosa adalah pemenang hadiah Ghazali dan Poetics of Imagination (University of North Carolina Press, 2005) dianugerahi Buku Terbaik Pertama dalam Sejarah Agama oleh American Academy of Religion.Publikasi lain termasuk Islam in the Modern World and Muslim Family Law in Sub-Saharan Africa: Colonial Legacies and Post-Colonial Challenges. Moosa juga editor naskah terakhir dari almarhum Profesor Fazlur Rahman, Revival and Reform in

Islam: A Study of Islamic Fundamentalism (Oxford: Oneworld, 2000). Moosa mendapat gelar `alimiyya gelar yang mengkhususkan diri dalam Studi Islam dan Studi Arab (1981) dari Darul

Uloom Nadwatul` Ulama, salah satu dari lembaga pendidikan Islam terkemuka India di kota Lucknow, Uttar Pradesh.Dia juga memiliki gelar BA dari Kanpur University, dan ijazah pascasarjana dalam jurnalisme dari University City di London.Ia memperoleh gelar MA (1998)

(26)

26 Dengan tetap menjalankan ritualitas keIslamannya, meskipun cara pelaksanaan ritual yang progresif terkadang mengundang kontroversi dan kecaman.28

Dalam bukunya, Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, Farish A. Noor29 mengatakan bahwa label “Progresif” disematkan kepada mereka yang menghidupkan dinamika evolusi sosial di masyarakat dan tidak berpegang kepada dalil-dalil ataupun ide-ide lama secara taqlid buta, melainkan faktor yang terpenting adalah kecenderungan kepada tradisi dan praktek ijtihad dengan pemikiran yang terbuka terhadap ide ataupun hakikat yang baru.30

Progresif di sini bukan dalam arti suatu kategori atau label yang esensial atau ontologis, ia juga bukan suatu label untuk sekumpulan atau suatu suku tertentu, seperti Islam Jawa, Islam Melayu, karena label-label seperti Jawa dan Melayu itu adalah label yang esensial. Tetapi label “Islam Progresif” merupakan label yang bersifat deskriptif yaitu ia adalah nama yang menggambarkan keadaan suatu objek/fenomena. Mobil yang

dan PhD (1995) dari University of Cape Town. Sumber: adaptasi dari keterangan dalam http://www.isna.net/-ebrahim-moosa.html diunduh pada 5 Mei 2019, pukul 18:56 WIB

28Zudy Dwy Khalfy, “Islam Progresif Hasan Hanafi”, hlm. 35. 29

Farish A. Noor adalah seorang ilmuan politik dan aktifis HAM Malaysia. Ia pernah menjadi staf pengajar pada Pusat Dialog Antar Peradaban Universitas Malaya; Intitut for Islamic Studies, Freie University of Berlin dan Penulis Tamu Pada Institut for the Study of Islam In the Modern World (ISIM), Leiden, Belanda; serta associate fellow di Institut for strategic and International Studies (ISIS), Malaysia. Di samping sebagai pengajar dan penulis, dia juga pernah menjabat sebagai sekjen the International Movement for a Just World (JUST). Baca: Farish A. Noor Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia Tenggara

30

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

(27)

27 “progres” adalah mobil yang bergerak maju. Jika berhenti maka mobil itu tidak lagi bisa dikatan mobil yang progres.31

Islam Progresif bukanlah suatu kubu yang terpisah dari masyarakatnya, atau menempatkan diri sebagai kelas menengah yang berdiri di atas pundak masyarakatnya, dengan atribut-atribut dan keistimewaan-keistimewaan intelektualnya sendiri.

Kehadiran Islam Progresif menjadi penting dan bermakna. Setidaknya terdapat beberapa karakter yang menjadi pijakan lahirnya doktrin Islam yang progresif. Pertama, Islam harus mampu menjadi agama yang menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sejati. Belakangan ini baik dalam ruang akademisi amaupun tradisi, Islam menampilkan wajahnya yang cenderung teosentris, namun Islam Progresif adalah menginisiasi lahirnya wajah dan tafsir keIslaman yang antroposentris.32

Kedua, Islam harus mendorong kebebasan berpikir dan dialog yang

dinamis-konstruktif. Diakui atau tidak, bahwa selama ini Islam tidak memberikan angin segar pada pemikiran- pemikiran bebas, terbuka dan radikal yang membawa semangat rasionalisme. Pengungkungan terhadap semangat rasionalisme ini nantiya akan berbanding lurus dengan tingkat ketercerahaan dalam beragama, seperti halnya masalah tauhid, fiqih dll.33

31

Farish A. Noor, Islam Progresif Peluang, tantangan, dan Masa depannya di Asia

Tenggara, hlm. 23

32

Zuhairi Misrawi dan Novriantoni, Doktrin Islam Progresif: Memahami Islam Sebagai

Ajaran Rahmat (Jakarta, LSIP, 2004), hlm. 38

33

Zuhairi Misrawi dan Novriantoni, Doktrin Islam Progresif: Memahami Islam Sebagai

(28)

28

Ketiga, Islam harus menjadi agama yang mendorong apada

perubahan dan pembebasan. Di satu sisi Islam merupakan sistem nilai yang luhur dan abadi, namun di sisi lain nilai tersebut sejatinya mempunyai makna transformatif dalam ruang publik. Artinya Islam bukan suatu agama yang statis dengan segala firman-Nya, melainkan agama yang dinamis dan senantiasa bersangkut-paut dengan problem kemanusiaan yang bersifat empirik dan praksis.34

2. Analisis Historis-Sosiologis

Pendekatan ini mencoba untuk melihat kedudukan buku dengan konsepsinya dalam pengembangan pikiran tokoh, baik berhubungan dengan lingkungan historis dan pengaruh-pengaruh yang dialaminya, maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri.

Dalam pendekatan ini, setidaknya terdapat tiga titik fokus yang dipaparkan, pertama, latar belakang eksternal yang mengulas tentang keadaan khusus yang dialami penulis buku, dengan segi sosio-ekonomi, politik, budaya, sastra, filsafat.

Kedua, latar belakang Internal yang mengulas tentang riwayat

hidup tokoh, pendidikannya, pengaruh yang diterimanya, relasi dengan filsuf-filsuf sezamannya, dan segala macam pengalaman- pengalaman yang membentuk pandangannya.

34

Zuhairi Misrawi, Novriantoni, Doktrin Islam Progresif: Memahami Islam Sebagai

(29)

29

F. Metode Penulisan

Metode penulisan adalah suatu cara bertindak menurut sistem aturan atau tatanan yang bertujuan agar kegiatan praktis terlaksana secara rasional, terarah dan tercapai secara optimal.35 Pada penulisan ini, metode yang dipakai adalah metode penulisan kualitatif deskriptif, dengan cara library research yaitu penulisan yang dilakukan dengan menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data.36

G. Sumber Data

Sumber primernya ialah sumber data yang berkaitan langsung dengan tema yang menjadi pokok pembahasan dalam penulisan, yaitu buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan dan Masa Depannya di Asia Tenggara.

Sedangkan sumber sekundernya ialah literatur-literatur pendukung lain seperti jurnal, skripsi, buku, majalah yang berkaitan dengan tema pembahasan penulisan baik berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Objek formal penulisan ini adalah Islam Progresif dan yang menjadi objek materialnya adalah Farish A. Noor.

H. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan 2 cara yaitu observasi, dan dokumentasi. Pada tahap observasi, penulis akan melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Pada tahap dokumentasi,

35

Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indoneesia, 1986), hlm. 10

36

Kaelan, Metode Penulisan Kualitataif Bidang Filsafat , (Yogyakarta: Paradigma, 205), hlm. 138

(30)

30 penulis akan mengumpulkan data akurat terkait dengan Islam Progresif dan data-data lainnya untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penulisan.

Data yang dianggap berkaitan dengan penulisan ini akan disajikan secara deskriptif, dan tidak lupa analisis data dilakukan tidak hanya setelah pengumpulan data, akan tetapi juga dilakukan pada waktu proses pengumpulan data.37

I. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dalam peneltian ini adalah dengan cara:

a. Deskripsi: yaitu menguraikan dan menjabarkan isi buku dn konsepsi tokoh.38 Secara teknis, penulis menarasikan secara teratur konsep Islam Progresif menurut Farish A. Noor dalam buku Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, baik berupa kutipan ataupun pembahasan ulang.

b. Interpretasi: yaitu menyelami pemikiran tokoh untuk menangkap intisari dari buku yang dibahas oleh tokoh secara khas.39 Dalam filsafat, interpretasi berarti menafsirkan objek kajian secara objektif. Metode ini digunakan untuk memahami dan menyelami data yang terkumpul untuk kemudian menangkap arti secara jelas. Dengan demikian, dalam hal ini penulis berupaya untuk memahami pokok-pokok pemikiran yang tertuang dalam teks dan menafsirkannya untuk kemudian dituangkan ke dalam tulisan.

37

Kaelan, Metode Penulisan Kualitatif Bidang Filsafat, (Yogyakarta, Paradigma) hlm. 166

38

Anton Bakker dan Achmad Chairris Zabair, Metodologi Penulisan Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 54.

39

(31)

31 c. Analisis: yaitu deskripsi tentang istilah- istilah tertentu yang membutuhkan pemahaman secara konseptual guna menemukan pemahaman lebih jauh, dengan melakukan perbandingan pikiran- pikiran lainnya.40

J. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan analisis Sosiologis. Pendekatan ini mencoba untuk melihat kedudukan buku dengan konsepsinya dalam pengembangan pikiran tokoh, baik berhubungan dengan lingkungan historis dan pengaruh-pengaruh yang dialaminya, maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri.

Dalam hal ini penulis mencoba untuk menelisik makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Farish A. Noor dalam bukunya dengan menyesuaikan dengan latar belakang penulisannya begitupula dengan background tokoh sendiri.

K. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan gambaran umum yang berisi poin-poin penting yang akan dibahas dalam penulisan ini. Tujuannya agar penulisan ini jelas, akurat dan sistematis. Secara umum, penulisan ini berisi 5 bab, dengan uraian sebabagi berikut:

Bab pertama merupakan Pendahuluan yang membahas mengenai latar belakang masalah yang hendak dibahas, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penulisan, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penulisan yang digunakan,

40

Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soerjono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), hlm. 18.

(32)

32 serta sistematika pembahasan. Pada bab ini berisi gambaran mengenai pembahasan yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

Bab kedua, berisi pembahasan tentang Islam Progresif Farish A. Noor Didahului dengan pembahasan latar belakang penulisan buku Islam Progresif:

Peluang, Tantangan dan Masa Depannya di Asia Tenggara. Bagian selanjutnya,

berisi tetang geneologi intelektual Farish A. Noor, jejak-jejak intelektualitas berupa karya-karya dalam bentuk buku, untuk mengetahui pokok pikiran Farish A. Noor yang terdokumentasi dalam tulisan ilmiah.

Bab ketiga berisi pembahasan tentang sejarah perkembangan pemikiran Islam Progresif. Membahas gagasan Islam Progresif dalam lintas pemikiran dan tokoh-tokoh, serta ciri-ciri Islam Progresif secara umum.

Bab keempat berisi tentang analisis konsep Islam Progresif Farish A. Noor dan implementasi Islam Progresif Farish A. Noor dalam konteks Ke-Indonesiaan beserta contoh kasusnya.

Pada bab terakhir, yaitu bab kelima adalah penutup, yang terdiri dari kesimpulan, kritik dan saran.

(33)

83

BAB V

PENUTUP

Bab ini terdiri dari kesimpulan, saran dan kritik yang menjelaskan hasil dari penulisan yang telah dilakukan. Kehadiran bab ini sangat penting karena memuat ringkasan dan jawaban dari pertanyaan dan pernyataan yang telah dirumuskan pada bab-bab sebelumnya

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa:

1. Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan, penafsiran baru pada ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran agar lebih sesuai dan selaras dengan tuntutan kemajuan dan perkembangan dunia saat ini. Ia lebih mengacu kepada orientasi pemikiran keIslaman yang lebih melihat ke masa depan, ketimbang sekedar mengeksploitasi perihal keliberalan. Islam Progresif Farish A. Noor Label “Progresif” hanya diberikan kepada empat hal; yang menghidupkan dinamika evolusi sosial masyarakat, tidak taklid buta maupun berpegang pada ide-ide lama terlebih pada ide-ide lama yang sudah tidak lagi kompstibel dengan masa saat ini, terbukanya pintu ijtihad memikirkan isu-isu rumit dengan pemikiran yang terbuka terhadap ide dan hakikat yang baru dan juga tidak ragu atau curiga dengan teknologi dan ide-ide barat.

(34)

84 2. Dalam konteks ke-Indonesia-an pendekatan yang ditawarkan oleh Farish A. Noor, menurut penulis merupakan pendekatan yang bisa diimplementasikan di Indonesia dalam beberapa permasalahan, yaitu pendekatan yang berbeda terhadap keseluruhan persoalan identitas dan perbedaan yang ada pada beberapa kelompok dan gerakan Islam hubungannya dengan “yang Lain”: pendekatan yang mengenali perbedaan internal dan pluralisme di dalam umat Islam sendiri, pendekatan yang mempersoalkan identitasnya sendiri sambil menjawab keberagaman dan perbedaan dari “yang Lain”, dan pendekatan yang mengidentifikasi ancaman bersama yang menyatukan kita dengan yan-lain, yaitu “Ijtihad

Akbar” dengan self critique dan self-questioning, dimana hal tersebut telah

menjadi inti praktek Islam dalam waktu yang sangat lama.

Saran

1. Mengingat masih minimnya kajian tokoh Muslim Progresif di Indonesia. Penulis merekomendasi agar ada penulisan lanjutan yang membahas tokoh-tokoh Islam progesif lain. Untuk memperkaya kajian akademik tentang tokoh Islam Progresif dan pola gerakan yang dibangun.

2. Kajian Islam Progresif harus terus dikembangkan di Indonesia, melihat diskursus ke-Islam-an di Indonesia yang terbuka dan didominasi oleh penduduk yang cepat menerima semangat sosial yang bernafaskan Islam. 3. Farish A. Noor adalah tokoh muslim yang komperhensif baik di Asia

maupun di Eropa, untuk itu, penulis merasa perlu adanya penulisan lebih lanjut tentang sisi keIslaman Farish A. Noor, sebagai upaya untuk

(35)

85 mengungkap dan melengkapi kajian akademik, hingga memperkaya wawasan dan khazanah keIslaman di Indonesia.

Selanjutnya, penulisan ini masih dapat dikembangkan ke wacana yang lebih luas dan komprehensif. Penulis selanjutnya dapat memperluas objek material ini dengan meneliti beberapa atau seluruh karya buah pemikiran Farish A. Noor melihat tokoh ini memiliki banyak kontribusi baik dalam politik, HAM hingga keIslaman.

(36)

86

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan

Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006.

Ali, Asghar Engineer. Membumikan Islam Progresif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009.

---Islam dan Teologi Pembebasan, terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.

Al-Qur’an

Amin, M. Masyhur. HOS. Tjokroaminoto Rekonsturksi Pemikiran Dan

Perjuangannya. Jakarta: Tjokroaminoto University Press.

Bakker, Anton dan Achmad Chairris Zabair. Metodologi Penulisan Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1990.

Bakker, Anton. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indoneesia. 1986.

Cokroaminoto, H.O.S. Islam dan Sosialisme. Bandung: Sega Arsyi. 2008. ---Islam dan Sosialisme. Jakarta: TrideDe. 2003.

Dafit, Ahmad. Islam Progresif Dalam Gerakan Sosial Dawam Raharjo

(1942-2016), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Sunan

(37)

87 Darmawan, Hendro, dkk. Kamus Ilmiah Populer Lengkap. Yogyakrta: Bintang

Cemerlang, 2015.

Dwy, Zudy Khalfy. “Islam Progresif Hasan Hanafi.” Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2015.

Hanafi, Hasan. Dari Aqidah Ke Revolusi. Jakarta: Paramadina. 2003

Kaelan. Metode Penulisan Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta, Paradigma.

Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat, terj. Soerjono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1992.

Kholis, Nur Setiawan. Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian al-Qur’an. Yogyakarta: Elsaq Press. 2008.

Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizán. 1991.

Misrawi. Zuhairi dan Novriantoni. Doktrin Islam Progresif: Memahami Islam

Sebagai Ajaran Rahmat. Jakarta: LSIP. 2004.

Moosa, Ebrahim. Islam Progresif. Yogyakarta: Lkis, 2004. Mulyana, Yoyo. Islam Progresif. Serang:Untirta Press. 2005.

Munawar, Budhy Rachman. Argumen Islam Untuk Pluralisme: Islam Progresif

dan Perkembangan Diskursusnya. Jakarta: Grasindo. 2010.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam Di Indonesia (1900-1942). Jakarta: LP3ES. 1990.

(38)

88 Noor, Farish A. Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di

Asia Tenggara, terj. Moch. Nur Ichwan dan Imron Rosyadi. Yogyakarta:

SAMHA, 2006.

Nur, H. M. Kholis Setiawan. Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian

Al-Qur’an. Yogyakarta: Elsaq Press, 2008.

---Pemikiran Progresif dalam Al-Qur’an. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008.

Penyusun, Tim. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jember: IAIN Jember Press, 2015.

Prasetyo, Eko. Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal Dari Wacana Menuju

Gerakan. Yogyakarta: Insist Press. 2002.

Qoyyim, Ibnul. Raudhatul Muhibbin wa Nuz-hatul Musytaqqiin. Mesir: Tsaqafah Diniyah, 1416 H.

Rifai, Muhammad. Gusdur: KH. Abdurrahman Wahid biografi singkat

1940-2009. Yogyakarta: Garasi House of Book.

Sudarto. Wacana Islam Progresif: Reinterpretasi Teks Demi Membebaskan yang

Tertindas, cet. ke-1. Yogyakarta: IRCiSoD, 2014.

Ushuluddin, Fakultas dan Pemikiran Islam. Pedoman Penulisan Proposal dan

(39)

89

Jurnal

Dafit, Ahmad. 2017. Islam Progresif Dalam Gerakan Sosial Dawam Raharjo

(1942-2016), Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, Vol 1, No 1.

Diskusi, Hasil. 2000. “Muslim Progresif Sebagai Ruh Pergerakan Islam.” dalam Kalimatun Sawa’ , Vol. 03, No. 01.

Efendi, Ma’mun Nur. 2017. “Dakwah Sosial Ekonomi Dalam Pandangan Dawam

Rahardjo.” Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 37, No.1.

Janah, Nasitotul. 2017. “Nurcholish Madjid dan Pemikirannya (Diantara

Kontribusi dan Kontroversi).” Cakrawala: Jurnal Studi Islam, Vol. XII, No.

1.

Safi, Omid. 2003. “What is Progressive Islam,” dalam The International Institute

for the Study of Islam in the Modern World (ISIM) News Letter, No.13,

Desember.

Yusdani. 2015. “Pemikiran dan Gerakan Islam Progesif.” Jurnal eL-Tarbawi Vol.VIII. No.2.

(40)

90 Website http://Islambergerak.com http://wahidinstitute.org http://www.malaysianbar.org http://www.thenutgraph.com https://albwalt.wordpress.com https://kbbi https://nahdliyinbelanda.wordpress.com https://sites.google.com https://www.liputan6.com

Referensi

Dokumen terkait

Analisa Koreksi Fiskal Terhadap Laporan Laba/Rugi Perusahaan Menurut Undang-Undang PPh No 36 Tahun 2008 Rekonsiliasi fiskal pada hakikatnya adalah merupakan proses

Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada siswa SMPN 3 Kota Serang tentang bahaya yang diderita akibat penyalahgunaan narkoba,

Metode presentasi dan diskusi dapat meningkatkan minat dan hasil belajar fisika pada siswa kelas XII IPA3 SMA Negeri 1 Banggai, dengan capaian secara klasikal

Osteomielitis merupakan penyakit pada tulang yang telah terbukti dapat disebabkan oleh mikroorganisme dari rongga mulut.. Manifestasi

Hasil perhitungan modulus elastisitas dari deformasi dinding dapat dilihat pada table 3.4 dan nilai modulus elastisitas dari kuat tekan beton dapat diihat pada

Keberhasilannya dalam mengkomunikasikan suatu pesan bergantung sepenuhnya pada pengetahuan tentang konteks budaya dan system linguistic bahasa sumber dan bahasa

Hasil analisis membuktikan hubungan antara gaya hidup terhadap sikap menunjukan nilai koefisien standardized diperoleh sebesar 0,595 dan nilai CR diperoleh sebesar

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dengan menggunakan software 21 for windows, maka hasil pembahasan penelitian ini dari pengaruh kualitas pelayanan pajak