5.1 pem dim kele keb DK 5. dip ber Gam Gam Analisis Di Analisis menuhan ke mensi ekolo embagaan berlanjutan p KI Jakarta dig .1.1 Dimens Analisis m eroleh nilai rlanjut atau k mbar 22 beri mbar 22. RA AN imensional keberlanju butuhan air ogi, dimens serta dime pengelolaan guakan alat a si Ekologi multi atribut 48,75. Ha kurang berla ikut ini. AP dimensi e B NALISIS KE utan pengel r bersih DK si ekonomi ensi infrast air baku li analisis rapf t tehadap dim al ini meng anjut (nilai k ekologi peng BAB V EBERLANJ lolaan air KI Jakarta m , dimensi truktur dan intas wilaya fish. mensi ekolog gandung arti kurang dari gelolaan air JUTAN baku linta mencakup em sosial, dim n teknolog ah untuk pem gi dengan m i bahwa sec 50). Hal ter baku lintas w as wilayah mpat dimen mensi huku gi. Untuk menuhan air menggunakan cara ekologi rsebut namp wilayah h untuk nsi yaitu um dan menilai r bersih n rapfish i belum pak pada
Jika dilihat dari nilai masing masing atribut, menunjukkan atribut kejadian kekeringan (0,98), atribut pemenuhan vegetasi (0,95) dan atribut frekuensi kejadian banjir memiliki peran yang sangat menonjol (dominan) atau disebut sebagai atribut pengungkit. Oleh karena itu untuk memperbaiki dimensi ekologi dalam pengelolaan air, maka perlu kebijakan dalam mengelola ketiga atribut tersebut yaitu dengan memperbaiki kondisi yang menyebabkan terjadinya kekeringan dan terjadinya banjir serta dengan melakukan penambahan ruang terbuka hijau sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Ruang terbuka hijau merupakan tempat meresapnya air hujan sehingga air hujan tidak begitu saja terbuang ke sungai.
Disamping itu perlu kerjasama lintas wilayah dalam rangka pengelolaan air sesuai dengan peraturan yang ada baik tentang kewenangan dalam pengelolaan sungai serta peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait dengan sumber daya air termasuk UU Nomor 7 Tahun 2004, PP 38 Tahun 2004, UU Nomor 32 Tahun 2004, UU Nomor 32 Tahun 2009. Kerjasama lintas wilayah yang dimaksud adalah termasuk dalam melakukan pendanaan konservasi sumber daya air di hulu sehingga ketersediaan air baku untuk air bersih dapat terjaga dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya peran masing-masing atribut ekologi pada pengelolaan air lintas wilayah berkelanjutan dapat dilihat pada Gambar 23.
Gambar 23. Peran masing-masing atribut dimensi ekologi pengelolaan air baku lintas wilayah
5.1.2 Dimensi Sosial
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai indeks tingkat keberlanjutan pengelolaan air untuk dimensi sosial sebesar 56,36 pada skala cukup keberlanjutan. Sebagaimana nampak pada Gambar 19, menunjukkan bahwa tingkat sosial masyarakat dalam pengelolaan air sudah diperhatikan namun masih minim yaitu sedikit di atas keberlanjutan. Masyarakat dalam pembayaran air sudah baik artinya tepat waktu namun dalam hal jika terjadi kualitas air kurang baik, maupun dalam hal kontinuitas dan kuantitas airnya tidak stabil, maka masyarakat sulit melakukan komplain, tingkat keberlanjutan dimensi sosial dapat dilihat pada Gambar 24.
0.28 0.38 0.53 0.61 0.66 0.90 0.98 0.68 0.95 0.54 0.35 0.66 0.52 0.30 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN DEGRADASI LAHAN KETERSEDIAAN SUMBER AIR BERSIH TINGKAT PENCEMARAN SUMBER AIR … PENGGUNAAN AIR TANAH FREKUENSI KEJADIAN BANJIR KEJADIAN KEKERINGAN TINGKAT SEDIMENTASI VEGETASI PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK KE … SANITASI LINGKUNGAN KEPEMILIKAN UPL KOMUNAL/IPAL … KONTAMINASI MIKROBA/ZAT … KAWASAN PERMUKIMAN DI … Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) A tt ri but e
Leverage of Attributes
Dimensi Ekologi Rap‐ Spam
Gambar 24. Indeks tingkat keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan air baku lintas wilayah
Namun, demikian peningkatan indeks dimensi sosial dapat dilakukan dengan perbaikan-perbaikan terhadap atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi sosial yang terdiri dari (1) pendidikan masyarakat, (2) pemberdayaan masyarakat, (3) kesehatan masyarakat, (4) pola hidup bersih masyarakat, (5) kepadatan penduduk, (6) perilaku membuang sampah ke sungai, (7) kesadaran lingkungan, (8) pengetahuan lingkungan, (9) partisipasi masyarakat dalam prokasi, (10) partisipasi masyarakat dalam program penghijauan, (11) tingkat pencurian air bersih oleh masyarakat, (12) keluhan masyarakat dalam pelayanan PAM, (13) ketepatan waktu dalam pembayaran rekening air, (14)
56.36 ‐60 ‐40 ‐20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Oth e r Di stingi shi n g Fe at u re s Nilai Indikator Keberlanjutan Dimensi Sosial Rap‐ Spam
MONTE CARLO ANALYSIS
RAP‐Spam
Dimensi Sosial
Ordination (Median with Error Bars showing 95%Confidence of Median)gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi air bersih, (15) jumlah masyarakat yang belum memperoleh pelayanan air bersih, (16) jumlah masyarakat yang mempunyai sarana MCK tidak sehat, (17) persepsi masyarakat terhadap harga air, (18) jumlah penduduk yang tinggl di permukiman kumuh (Gambar 25).
Gambar . 25 Peran masing-masing atribut dimensi sosial pengelolaan air baku lintas wilayah
Atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks dimensi sosial, dilakukan analisis leverage (Gambar 20). Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks dimensi sosial yaitu: (1) ketepatan pembayaran rekening air, (2) gangguan masyarakat akibat mengkonsumsi air bersih, (3) partisipasi masyarakat dalam program kali bersih. Untuk memperbaiki dimensi sosial, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap faktor pengungkit tersebut. Namun hal lain yang sangat menonjol yaitu pola hidup bersih dan sehat masyarakat (0,13), kepadatan penduduk (0,07), dan tingkat pendidikan masyarakat (0,02) memiliki daya pengungkit yang sangat kecil.
0.02 0.36 0.24 0.13 0.07 1.44 1.611.66 1.72 0.100.21 0.28 2.04 1.86 0.32 1.29 0.25 0.19 0 0.5 1 1.5 2 2.5 TINGKAT PENDIDIKAN MASY KESEHATAN MASY KEPADATAN PENDUDUK KESADARAN LINGKUNGAN PARTISIPASI MASY DLM PROGRAM … TINGKAT PENCURIAN AIR PDAM KETEPATAN PEMBAYARAN REKENING … JMLH MASY YG BLM MEMPEROLEH … PERSEPSI MAYS THD HARGA AIR Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Attr ib ute
Leverage of Attributes
Dimensi Sosial Rap‐Water
Namun hal itu perlu juga dilakukan perbaikan oleh sektor lain agar tidak menganggu program pengelolaan air baku untuk air bersih yang berkelanjutan.
5.1.3 Dimensi Ekonomi
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai indeks tingkat dimensi ekonomi dalam pengelolaan air baku untuk bersih sebesar 69,17. Nilai ini menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi baik di atas 50. Namun, demikian peningkatan indeks dimensi ekonomil dapat dilakukan dengan perbaikan-perbaikan terhadap atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi sosial yang terdiri dari (1) presentase penduduk miskin, (2) pendapatan masyarakat perkapita, (3) pengeluaran masyarakat perkapita, (4) pendapatan daerah, (5) iklim investasi, (6) penyerapan tenaga kerja, (7) besarnya subsidi, (8) perubahan mata pencaharian, (9) perkembangan sektor informal, (10) biaya pengelolaan air dibandingkan nilai jual.
Atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks dimensi ekonomi, dilakukan analisis leverage. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks dimensi ekonomi, yaitu: (1) pendapatan daerah, (2) perubahan mata pencaharian, (3) penyerapan tenaga kerja (Gambar 20). Namun atribut (2) perubahan mata pencaharian dan atribut (3) penyerapan tenaga kerja karena berdasarkan analisa ISM tidak begitu terkait langsung dengan pengelolaan air baku untuk air bersih.
Dalam dimensi ekonomi yang menjadi atribut pengungkit yaitu pendapatan daerah (3,50) dan perubahan mata pencarian masyarakat (3,13). Untuk itu faktor pengungkit tersebut (pendapatan daerah) yang memerlukan perhatian dibandingkan dengan atribut lainnya. Sedangkan atribut lainnya seperti penyerapan tenaga kerja dan iklim investasi memiliki nilai yang hampir sama yaitu berkisar antara 2,30. Jika ingin meningkatkan kinerja pada dimensi ekonomi maka pendapatan daerah harus diperhatikan, karena pendapatan daerah merupakan sumber pendanaan untuk pengembangan dan pembangunan air bersih. Peran masing-masing atribut dimensi ekonomi dapat dilihat pada gambar 26 berikut ini.
Gambar 26. Peran masing-masing atribut dimensi ekonomi pengelolaan air bersih lintas wilayah
5.1.4 Dimensi Infrastruktur dan Tekonologi
Hasil analisis terhadap dimensi teknologi dan infrastruktur menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan dimensi tersebut sebesar 61,45 artinya berlanjut. Dalam tekonologi pengelolaan memang sudah menunjukkan penggunaan teknologi yang efisien dan tepat guna. Tingkat kebocoran di tingkat distribusi sangat tinggi yaitu sekitar 40% sampai dengan 50%, untuk itu perlu perlakuan khusus terhadap masalah tingkat kebocoran (Gambar 27).
1.05 1.44 1.73 3.50 2.30 2.33 2.00 3.13 2.23 1.09 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN PENDAPATAN MASY PER KAPITA PENGELUARAN MASY PER KAPITA PENDAPATAN DAERAH IKLIM INVESTASI PENYERAPAN TENAGA KERJA BESARNYA SUBSIDI PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN PERKEMBANGAN SEKTOR INFORMAL BIAYA PENGELOLAAN AIR DIBANDING … Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) A tt ri but e
Leverage of Attributes
Dimensi Ekonomi Rap‐Spam
Gambar 27. Indeks keberlanjutan dimensi infrstruktur dan tekonologi pengelolaan air lintas wilayah
Peran masing masing atribut dari dimensi infrastruktur dan tekonologi dapat dilihat pada Gambar 27. Atribut dukungan sarana dan prasarana pengelolaan air dengan nilai (5,57), sedangkan tingkat penguasaan teknologi dengan nilai 4,76. Fakta di lapangan mempelihatkan bahwa dukungan infrastruktur cukup bagus, Kementrian Pekerjaan Umum sedang merencanakan untuk membangun saluran bawah tanah yang mengalirkan air dari Citarum ke Jakarta dan juga sedang melakukan kajian studi kelayakan tentang pembangunan saluran air bawah tanah dari Provinsi Banten ke DKI Jakarta. Jika hal itu terwujud, maka kualitas air dan kuantitas air suplai air baku untuk air bersih akan dapat terjaga dengan baik sampai ke instalasi pengelola/ produksi. Untuk lebih jelasnya peran masing-masing atribut teknologi dapat dilihat pada Gambar 28.
61.45 GOOD BAD UP DOWN ‐60 ‐40 ‐20 0 20 40 60 0 50 100 150 Oth e r Distingishing Fe at u re s Nilai Indikator Keberlanjutan Dimensi Infra dan Teknologi Rap‐Spam
RAP‐Spam
Dimensi Infra dan Teknologi
Real Value References AnchorsGambar 28. Peran masing-masing atribut dimensi infrastruktur dan teknologi pengelolaan air baku lintas wilayah
5.1.5 Dimensi Hukum dan Kelembagaan
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai indeks tingkat dimensi hukum dan kelembagaan dalam pengelolaan air baku lintas wilayah sebesar 68,24 atau cukup berkelanjutan. Nilai ini menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan dalam posisi cukup berkelanjutan (Gambar 24) .
Namun, demikian peningkatan indeks dimensi hukum dan kelembagaan dapat dilakukan dengan perbaikan-perbaikan terhadap atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi hukum dan kelembagaan yang terdiri dari (1) ketersediaan perangkat hukum, (2) sinkronisasi kebijakan pusat, (3) kelembagaan pengelola, (4) keberadaan lembaga keuangan, (5) ketersediaan
0.25 3.45 0.27 4.76 5.57 1.11 1.21 1.61 0 1 2 3 4 5 6 TEKNO PENANGGANAN LIMBAH REKLAMASI LAHAN PEMBANGUNAN DAM DAN SALURAN DRAINASE TINGKAT PENGUASAAN TEKNO DUKUNGAN SARANA DAN PRASARANA TEKNO RAMAH LINGK TGERJADINYA KEBOCORAN KUALITAS AIR BERSIH YANG DIHASILKAN Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) A tt ri but e
Leverage of Attributes
Dimensi Infra dan Teknologi Rap‐Spam
lem pen pen (11 Gam eko dip kele keu mbaga sosia ngawasan hu ngelolaan sum ) intensitas p mbar 29. In ai Atribut onomi, dilak eroleh tiga embagaan y uangan, (3) k al, (6) ke ukum, (8) k mber daya a pemanfaatan ndeks keberla r baku lintas yang sensiti kukan anal atribut yan yaitu: (1) k kelembagaan etersediaan ketersediaan alam dan ling
n yang melan anjutan dime s wilayah if memberik lisis leverag ng sensitif t ketersediaan n pengelola ( organisasi n penegak h gkungan, (10 nggar hukum ensi hukum d kan pengaruh ge. Berdasa terhadap nil lembaga so (Gambar 30 masyarakat hukum, (9) 0) transporta m. dan kelemba h terhadap n arkan hasil ai indeks d osial, (2) k ). t, (7) keter penyuluhan asi dalam ke agaan penge nilai indeks analisis l dimensi huku keberadaan l rsediaan hukum ebijakan, elolaan dimensi leverage um dan lembaga
Gam 5.2 has 68, wil ber mem kete sert disi mbar 30. Pe pe Analisis M Hasil a sil bahwa nil
24. Dimen ayah berkel rkelanjutan. mpengaruhi ersediaan le ta kapasitas impulkan b eran masing-engelolaan a Multi Dimens analisis terha lai indeks k nsi hukum lanjutan (stu Berdasarka nilai indeks embaga sosi s kelembag bahwa keber -masing atrib air bersih lint
si adap dimen eberlanjutan dan kelemb udi kasus D an analisis le s keberlanjut ial (3,82 ) d gaan pengel rlanjutan pen but dimensi tas wilayah nsi hukum d n dimensi hu bagaan pada DKI Jakarta everage terd tan dimensi h dan keberad lola (3,23). ngelolaan ai hukum dan dan kelemba ukum dan ke a pengelolaa ) termasuk dapat tiga a hukum dan k daan lembag Analisa k ir bersih lint kelembagaa agaan mend elembagaan an air bersi k kedalam k atribut yang kelembagaan ga keuangan keberlanjutan tas wilayah an dapatkan sebesar h lintas kategori sensitif n, yaitu: n (3,73) n dapat sebesar
(60,82) > 50 dengan nilai cukup berkelanjutan. Nilai masing-masing dimensi nampak pada Gambar 31.
Gambar 31. Diagram layang-layang pengelolaan air lintas wilayah
Dapat disimpulkan bahwa hasil analisis tingkat keberlanjutan dari pengelolaan air bersih lintas wilayah berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan DKI Jakarta dengan MDS berdasarkan teknik rapish pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknolgi, dan dimensi hukum dan kelembagaan. Dimensi keberlanjutan dalam pengelolaan air lintas wilayah ini menekankan pada aspek ekonomi dan juga aspek hukum yaitu dengan nilai 69,17, dimensi ekonomi dan 68,24, dimensi hukum dan kelembagaan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengelola air yang saat ini untuk operatornya dikonsesikan kepada pihak swasta yaitu PT. Aetra dan PT. Palyja memang lebih menekankan akan profit semata dan sedikit sekali memperhatikan aspek ekologi. Begitu juga tentang
kelembagaan, untuk kelembagaan PAM Jaya memang menjadi BUMD yang ditunjuk oleh undang-undang dan perda sebagai pengelola. Namun karena ada perjanjian kerjasama dengan swasta, amandemen perjanjian kerjasama tertanggal 22 Oktober 2001, peran PAM Jaya bukan lagi sebagai operator namun hanya sebagai pengawas. Hasil analisa keberlanjutan telah menunjukkan beberapa atribut yang sensitif dari masing-masing dimensi sebagaimana tertuang pada
Tabel 31 Atribut sensitif pengelolaan air lintas wilayah
Dimensi Atribut sesnsitif Atribut terpilih*
Ekologi -Kekeringan -Kejadian banjir -Vegetasi -Kekeringan -Kejadian banjir -Vegetasi
Ekonomi -Pendapatan daerah
-Perubahan mata pencaharian
-Penyerapan tenaga kerja
-Pendapatan daerah
Sosial -Ketepatan pembayaran rekening air
-Gangguan kesehatan
-Partisipasi dalam Prokasi
-Pengetahuan terhadap lingkungan -Ketepatan pembayaran rekening air -Gangguan kesehatan -Partisipasi masyarakat dalam Prokasi Infrastruktur & teknologi
-Dukungan sarana dan prasarana
-Tingkat penguasaan teknologi
-Reklamasi lahan
-Kualitas air bersih
-Dukungan sarana dan prasarana
-Tingkat penguasaan teknologi
-Kualitas air bersih
Hukum & kelembagaan
-ketersediaan lembaga sosial
- keberadaan lembaga keuangan
-kapasitas lembaga pengelola
-Keberadaan lembaga keuangan
-Kapasitas lembaga pengelola
*Aribut dengan nilai tertinggi dan terkait langsung dengan pengelolaan air bersih.
Atribut yang sensitif dan memiliki daya pengungkit tersebut dipilih dan dijadikan sebagai input terkendali pada sistem dinamik. Pemilihan atribut sentitif berdasarkan kriteria nilai tertinggi dan memiliki keterkaitan dengan pengelolaan air bersih lintas wilayah.