PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATERI
TABUNG TERHADAP SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 TELUK DALAM TAHUN PEMBELAJARAN 2019/2020
Cari Nafkah Duha, S.Pd SMP Negeri 1 Telukdalam [email protected] ABSTRAK
Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan-hubungan di antara hal-hal itu. Untuk dapat memahami struktur-struktur serta hubungan-hubungan, tentu saja diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu. Dengan demikian, belajar matematika berarti tentang konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep- konsep dan struktur-struktur tersebut. Salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep khususnya materi tabung adalah dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning sering disebut juga model penemuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran discovery learning pada materi tabung;
mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep materi tabung melalui penerapan model pembelajaran discovery learning.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara rekan guru mata pelajaran matematika dan penulis. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX – B SMP Negeri 1 Telukdalam sebanyak 40 siswa.
Berdasarkan penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan pemahaman konsep. Hal ini ditandai dengan (1) Nilai persentase keberhasilan siswa mengalami kemajuan dari 63% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II, dengan demikian ada peningkatan pemahaman konsep dan hasil belajar sebesar 37%. (2) Persentase indikator pemahaman konsep matematika siswa meningkat dari siklus I mencapai 63,8% ke siklus II mencapai 90,8%. Model pembelajaran discovery learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang layak dipertimbangkan, penulis menyarankan: guru matematika dapat mempertimbangkan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran matematika di SMP (Sekolah Menengah pertama) mengurangi hambatan yaitu siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menemukan konsep-konsep tabung.
Kata kunci:
Model Pembelajaran Discovery Learning, Materi Tabung,
Pemahaman Konsep.
1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Undang-undang tersebut menunjukkan bahwa pendidikan perlu diselenggarakan untuk menyiapkan generasi penerus bangsa Indonesia, baik generasi tua maupun generasi muda.
Penyelenggaraan pendidikan ditujukan pada penyiapan generasi penerus yang berperan dalam perkembangan bangsa dan negara Indonesia pada masa sekarang dan masa yang akan datang.
Pendidikan terkandung pembinaan (kepribadian), pengembangan (kemampuan atau potensi), peningkatan (pengetahuan), dan tujuan, yang ditujukan pada peserta pendidikan (peserta didik) untuk diwujudkan dalam kehidupan. Pembinaan, pengembangan, dan peningkatan tersebut terselenggara melalui proses dalam berbagai bentuk kegiatan untuk mencapai tujuan.
Dalam pendidikan, secara implisit, terjalin hubungan antara dua pihak; yaitu pendidik dan peserta didik. Pada jalinan tersebut kedua pihak saling mempengaruhi, sesuai perannya, selama pelaksanaan proses pendidikan. Proses pendidikan tidak diselenggarakan sesaat, namun proses pendidikan diselenggarakan sepanjang hayat. Kegiatan Pendidikan dapat berlangsung dalam keluarga, dalam lembaga, maupun dalam masyarakat.
Terjadinya interaksi antara guru dan siswa, karena adanya suatu strategi pembelajaran yang dipilih guru untuk disajikan kepada siswa dan siswa mempunyai motivasi untuk belajar. Di sekolah, matematika dikenal sebagai pelajaran yang sangat sulit bahkan kebanyakan siswa beranggapan matematika hanya dapat dipelajari oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan khusus.
Hal ini sangat berdampak buruk pada minat dan motivasi belajar siswa yang mengakibatkan kemampuan pemahaman konsep menurun dan kualitas pembelajaran matematika semakin rendah. Misalnya pembelajaran matematika khususnya materi tabung, siswa masih kurang mampu memahami definisi tabung, penggunaan rumus-rumus tabung.
Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan-hubungan di antara hal-hal itu.
Untuk dapat memahami struktur-struktur serta hubungan-hubungan, tentu saja diperlukan pemahaman tentang konsep- konsep yang terdapat di dalam matematika itu. Dengan demikian, belajar matematika berarti tentang konsep-konsep dan struktur- struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari serta mencari hubungan- hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.
Supaya proses belajar matematika terlaksana, bahasan matematika seyogyanya tidak disajikan dalam bentuk yang sudah tersusun secara final, melainkan siswa dapat terlibat aktif di dalam menemukan konsep- konsep, struktur-struktur sampai kepada teorema atau rumus-rumus.
Keterlibatan siswa ini dapat terjadi bila strategi yang disusun itu bermakna bagi siswa, sehingga terjadinya interaksi antara guru dan siswa menjadi efektif.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam mengajarkan pokok bahasan itu haruslah bermakna bagi siswa sehingga siswa terlibat aktif di dalam proses belajarnya.
Guru merupakan tenaga pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses pembelajaran, maka guru sebagai pendidik memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, guru sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan, pengajar
maupun pendidik sehingga guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi yang diperlukan agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Guru menggunakan strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta- fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa membangun pengetahuan di benak mereka sendiri.
Pemahaman konsep membantu siswa untuk mengingat. Hal tersebut dikarenakan ide-ide matematik yang dipelajari melalui pemahaman saling terhubung. Ini dapat lebih mudah mengingat, serta dapat menyusun kembali ketika mereka lupa.
Siswa mengingat kembali apa yang mereka pahami dan mencoba untuk mempresentasikannya ke dalam pemikirannya sendiri. Indikator yang harus dimiliki siswa untuk kemampuan pemahaman adalah mengenal, mengingat, menerapkan, algoritma, menduga, mengaitkan, menghitung, dan memberikan contoh.
Salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep tersebut adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman konsep dan akan tertanam dengan baik pada siswa apabila siswa memahami konsep tidak sekedar menghafal, tetapi dapat mengingat konsep tersebut.
Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya pembelajaran. Pembelajaran adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran ditandai sejumlah unsur:
a. Tujuan yang hendak dicapai;
b. Siswa, guru dan sumber belajar lainnya;
c. Model yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar mengajar.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada tanggal 5 Februari 2019 di SMP Negeri 1 Telukdalam dikelas IX- B. Masih ada siswa yang kurang memahami konsep materi pembelajaran.
Hasil studi pendahuluan tersebut dapat diuraikan berikut ini:
1. Hasil wawancara dengan beberapa orang siswa di kelas IX-B sesudah pembelajaran selesai yaitu:
a. Siswa kurang mampu memecahkan setiap tugas yang diberikan guru.
b. Siswa kurang mampu untuk memahami konsep materi pembelajaran.
2. Hasil wawancara rekan guru matematika a. Siswa hanya tergantung pada guru
sebagai sumber utama informasi tentang materi pelajaran.
b. Siswa enggan bertanya pada guru jika ada materi yang belum dimengerti.
Sehingga, siswa diibaratkan dengan kertas putih dengan pemahaman yang masih kosong, dan kemudian guru bertugas untuk mengisinya dengan materi-materi yang akan membuat lembaran kosong itu terisi dengan materi-materi yang diberikan guru.
Pengetahuan yang dimiliki siswa tergantung dari apa yang diberikan guru. Hal yang diberikan guru akan menjadi pengalaman yang berguna bagi siswa dan akan digunakan kembali dalam membentuk pengetahuan yang akan datang.
Digambarkan di dalam konsep tabula rasa yang dikemukakan oleh filsuf Inggris, John Locke (1632-1704).
3. Hasil pengamatan langsung penulis a. Pada saat pembelajaran matematika
berlangsung diperoleh informasi bahwa minat belajar dan pemahaman konsep siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat rendah.
b. Pembelajaran masih didominasi oleh guru sedangkan siswa hanya sebagai pendengar saja. Hal ini tentunya mengakibatkan siswa pasif dan merasa bosan dengan pembelajaran matematika yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya pemahaman konsep.
c. Sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami suatu pokok bahasan yang dijelaskan guru.
Untuk mengantisipasi masalah pada studi pendahuluan tersebut, dalam pembelajaran matematika harus digunakan strategi pembelajaran berupa model pembelajaran yang sesuai agar prestasi belajar matematika siswa meningkat. Model pembelajaran yang diharapkan penulis adalah model pembelajaran yang mampu membantu siswa menjadi aktif, kreatif serta dengan mudah memahami konsep-konsep matematika.
Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif, kreatif serta dengan mudah memahami konsep- konsep matematika itu antara lain melalui model pembelajaran Discovery Learning sering disebut juga model penemuan, dengan model ini diharapkan siswa tertarik dengan pelajaran matematika dan menganggap bahwa matematika bukan pelajaran yang menakutkan.
Sebagaimana pendapat Bruner, Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Melalui model pembelajaran Discovery (penemuan) yaitu mengajak siswa untuk dapat menemukan masalah-masalah di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi pelajaran sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar.
Guru sebagai fasilitator menciptakan proses belajar aktif, kreatif, dan menyenangkan secara garis besar proses pembelajaran discovery (penemuan). Dalam langkah ini siswa diminta kembali untuk menganalisis hasil eksperimen yang dilakukan oleh kelompoknya dengan cara diberi lembar kegiatan mandiri yang masih relevan dengan hasil percobaan untuk dikerjakan secara individu. Dalam proses ini bertujuan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan dapat menemukan kesimpulan dari jawaban dari permasalahan yang ada.
Model pembelajaran Discovery Learning (penemuan) adalah suatu model pembelajaran yang mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa.
Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.
Pada pembelajaran penemuan, siswa didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep- konsep dan prinsip-prinsip.
Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri serta mengatur sedemikian rupa, sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Dengan demikian, model pembelajaran Discovery Learning (penemuan) dapat mendukung proses pembelajaran siswa yang aktif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa, terlibat langsung pada permasalahan yang dihadapi dengan menemukan konsep-konsep pada pokok materi pembahasan yang diajarkan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ilmiah dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan judul ”Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Tabung Terhadap Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Telukdalam Tahun Pembelajaran 2019/2020”
2. PEMBAHASAN a. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain.
Para ahli mengatakan bahwa belajar bukan sekedar penguasaan bahan, akan tetapi terjadinya perubahan tingkah laku anak sehingga belajar dapat dikatakan sebagai satu kegiatan untuk membentuk suatu kepribadian yang baik. Banyaknya ahli pendidikan yang memberikan definisi tentang belajar, sehingga definisi yang dikemukakan berbeda-beda antara ahli yang satu dengan ahli yang lain, hal ini disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda-beda.
Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Belajar dapat diartikan sebagai modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (Hamalik, 2008:36).
Menurut Djamarah Syaiful Bahri (1994:21) belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan, tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu, perubahan dalam arti menuju ke perkembangan pribadi individu yang seutuhnya.
b. Belajar Matematika
Belajar matematika merupakan proses di mana siswa secara aktif mengkonstruksi
pengetahuan matematika. Hal ini didukung oleh teori belajar konstruktivisme dimana teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Oleh karena itu, di dalam kelas guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa tetapi guru harus dapat membuat siswa membangun sendiri pengetahuannya.
Menurut Hudojo (2003:123) menyatakan bahwa “matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk- bentuk atau struktur-struktur abstrak dan hubungan-hubungan di antara hal-hal itu”.
lebih lanjut dinyatakannya bahwa belajar matematika berarti belajar tentang konsep- konsep yang terdapat dalam bahasa yang dipelajari serta mencari hubungan–
hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.
Menurut James (Suherman, 2003:16) dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa “matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri”.
c. Pemahaman Konsep Matematika Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Mengkonstruksi pengetahuan menurut Piaget dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada. Skema adalah struktur kognitif yang terbentuk melalui proses pengalaman (Sanjaya, 2006:
123). Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema sedangkan akomodasi adalah proses mengubah skema yang sudah ada sehingga terbentuk skema baru. Asimilasi dan akomodasi terbentuk
berkat pengalaman siswa (Sanjaya, 2006:
257).
Pemahaman konsep merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta diketahuinya. Sepaham dengan hal di atas menurut Purwanto (Gisari, 2008:11), bahwa “pemahaman konsep merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami konsep, situasi, fakta yang diketahui serta dapat menjelaskan dengan kata-kata yang sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan tidak mengubah artinya”.
Menurut Rooser (rovigatung, 2006:16), bahwa konsep merupakan suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan- kegiatan/hubungan yang mempunyai atribut yang sama.
Pemahaman diartikan dari kata understanding, Sumarmo (1987:2) Derajat pemahaman ditentukan oleh tingkat keterkaitan suatu gagasan, prosedur atau fakta matematika dipahami secara menyeluruh jika hal-hal tersebut membentuk jaringan dengan keterkaitan yang tinggi. Dan konsep diartikan sebagai ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan sekumpulan objek (Depdiknas, 2003: 18). Menurut Duffin &
Simpson (Nila, 2000:3) pemahaman konsep sebagai kemampuan siswa untuk: (1) Menjelaskan konsep, dapat diartikan siswa mampu untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya. (2) Menggunakan konsep pada berbagai situasi yang berbeda.
Suatu konsep dapat diartikan bahwa siswa paham terhadap suatu konsep akibatnya siswa mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan setiap masalah dengan benar. Menurut Sanjaya (Dedi, 2009:1) mengemukakan “Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran,
tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu mengaplikasi konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya”.
d. Pengertian Model Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa.
Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar. Kegiatan pembelajaran, dalam implementasinya mengenal banyak istilah untuk menggambarkan cara mengajar yang akan dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan pembelajaran, begitu banyak macam strategi ataupun metode pembelajaran yang bertujuan untk meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi lebih baik. Istilah model, pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik sangat dikenal dalam dunia pendidikan namun terkadang istilah–
istilah tersebut membuat bingung para pendidik dalam membedakannya.
e. Model Pembelajaran Discovery Learning
Model Pembelajaran discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sukmadinata (2009:186) menyatakan bahwa ‘‘belajar discovery adalah sumber utama motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah suatu motivasi yang berada atau sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, motivasi yang ada dalam diri sendiri”.
Menurut Bruner (Dalyono, 1996:41) memakai model pembelajaran yang disebutnya Discovery Learning, di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
Langkah-langkah model pembelajaran discovery learning menurut Syah (2004:244):
1) Tahap Persiapan
a. Menentukan tujuan pembelajaran.
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
2) Tahap Pelaksanaan
a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
b. Problem Statement (Pernyataan/
Identifikasi Masalah)
c. Data Collection (Pengumpulan Data) d. Data Processing (Pengolahan Data) e. Verification (Pembuktian)
3) Tahap akhir a. Generalization
(Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
3. METODE PENELITIAN
Dalam melaksanakan penelitian, penulis bertindak sebagai intrumen pertama yaitu:
(a) sebagai perencana, (b) pelaksana, (c) pengumpul, (d) pengolah, (e) menganalisis data, (f) penarikan kesimpulan, (g) penyusunan laporan.
Jenis penelitian yang ini dilakukan dengan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang memiliki 4 tahap yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, observasi dan refleksi yang berlangsung selama dua siklus. Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX-B SMP Negeri 1 Telukdalam Tahun
Pembelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 40 orang.
Adapun rangkaian siklus pada penelitian ini, sebagai berikut:
1. Pra siklus
Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, penulis terlebih dahulu mengadakan tes awal (Pre Test) untuk mengetahui kemampuan tingkat pemahaman konsep siswa yang akan dipelajari dan hasilnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan siklus I.
2. Siklus I
Pada pelaksanaan siklus I, Masing-masing pertemuan dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dengan langkah- langkah pembelajaran yang tercantum dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Selama siklus I berlangsung, guru mata pelajaran sebagai pengamat dan mengisi lembar pengamatan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran. Setiap pertemuan selesai dilakukan refleksi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran pada pertemuan tersebut.
Dan pada akhir pertemuan siklus pertama diadakan tes pemahaman konsep. Dari hasil tes tersebut dapat diperoleh data hasil belajar matematika siswa. Data tersebut digunakan untuk mengetahui apakah hasil belajar sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Berdasarkan data dari lembar pengamatan, kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I disempurnakan pada siklus II.
3. Siklus II
Setelah mengevaluasi hasil pelaksanaan siklus I, maka dilanjutkan pada siklus II dengan tidak mengabaikan hal-hal yang belum
terlaksana pada siklus I. Tahap-tahap pelaksanaan siklus II sama dengan tahapan siklus I dan materi yang diajarkan adalah indikator-indikator yang belum tercapai.
Jika pada siklus II ini hasil yang diharapkan tercapai maka dirumuskan temuan penelitian dan jika tidak maka diteruskan pada siklus berikutnya.
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan instrumen lembar observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes pemahaman konsep.
Teknik analisis data dalam penelitian ini antara lain:
1) Pengolahan Hasil Observasi
Data dari lembar observasi dalam kegiatan pembelajaran diolah dengan menggunakan
rumus:
Rata-rata hasil pengamatan
= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚
Dan dideskripsikan dalam persen:
Persentase pengamatan
= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100%
Kriteria taraf keberhasilan pengolahan lembar observasi:
81% ≤ NR ≤ 100% : Sangat Baik 61% ≤ NR ≤ 80% : Baik
41% ≤ NR ≤ 60% : Cukup 0% ≤ NR ≤ 40% : Kurang
Sudjana (2002:67)
2) Pengolahan Hasil Wawancara
Panduan wawancara berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa sebagai subjek wawancara untuk menggali informasi yang diperlukan. Hasil wawancara ini akan dideskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat dan pelaksanaan wawancara kepada siswa dilakukan setiap akhir siklus.
3) Pengolahan Tes Pemahaman Konsep
Hasil siswa yang diperoleh dari tes uraian setiap akhir siklus dapat diolah dengan menggunakan rumus:
NSSi = SPWB
SMBSY x bobot Keterangan:
NSS = Nilai Setiap Soal
SPWB = Skor Perolehan Warga Belajar/Siswa
SMBSY = Skor Maksimum Butir Soal Yang Bersangkutan
Untuk perhitungan nilai akhir siswa (NA) setiap siswa diperoleh dengan menjumlahkan:
NA = ∑ 𝑁𝑆𝑆
= NSS1 + NSS2 + NSS3 + ... + NSSi
Dimana:
NA = nilai akhir setiap siswa
∑ NSSi = jumlah nilai perolehan siswa untuk setiap butir soal
NSS = nilai setiap butir soal i = banyak butir soal
Untuk menentukan nilai akhir siswa pada setiap siklus:
NAS = 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑢𝑔𝑎𝑠+2𝑁𝐴
3
NAS = Nilai akhir siklus
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar secara keseluruhan, maka terlebih dahulu ditentukan rata-rata hitung dari hasil belajar siswa.
Rata-rata hitung dari hasil belajar siswa ditentukan dengan rumus:
𝑥̅ = ∑ xN Keterangan:
𝑥̅ = Nilai rata-rata
∑ x = Jumlah semua pengukuran N = Banyaknya siswa
Sudjana (2005:67)
4) Kriteria Keberhasilan
Kriteria keberhasilan tindakan dapat ditentukan berdasarkan kriteria keberhasilan hasil observasi, wawancara dan hasil tes siswa. Jika kesimpulan hasil
observasi menyatakan bahwa taraf keberhasilan kegiatan penelitian termasuk dalam kriteria baik (61% ≤ NR ≤ 80%), wawancara menunjukkan adanya respon positif dari siswa dan ketuntasan hasil belajar mencapai ≥ 85% siswa mendapat skor ≥ 72 maka keberhasilan tindakan tercapai.
Untuk menentukan persentase banyaknya siswa yang mendapat skor ≥ 72 dari skor total dengan kriteria ketercapaian minimum yang diperoleh siswa pada saat tes, digunakan rumus:
TB = 𝑛𝑡 x 100%
Keterangan:
TB = persentase ketercapaian belajar t = banyaknya siswa yang
mendapatkan skor ≥ 72
n = banyaknya siswa yang mengikuti tes.
Mulyasa (Halawa, T 2009:68)
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Siklus I
Berdasarkan nilai tes siklus I diperoleh bahwa rata-rata hitung dari hasil belajar adalah 62,5 dengan persentase nilai rata-rata adalah 62,5
%. Hal ini menunjukkan bahwa aspek pemahaman konsep masih belum tercapai.
Setelah mengolah nilai tes siklus I maka penulis melakukan pengolahan lanjutan yaitu mengolah nilai akhir siklus I. Pengolahan nilai akhir siklus I dilakukan untuk mengetahui berapa banyak siswa yang tuntas/tidak tuntas selama pelaksanaan siklus I dengan berpatokan pada KKM yang telah ditentukan. Ada 25 orang siswa yang tuntas dari 40 orang siswa dengan persentase 63%. Berdasarkan kriteria keberhasilan menurut Halawa, T (2009:68) “keberhasilan kelas dapat
dilihat dari persentase banyaknya siswa yang tercapai dalam belajar ≥ 85% dari jumlah kelas tersebut”. Oleh karena persentase banyaknya siswa tuntas belajar pada siklus I hanya mencapai 63% yang berarti kurang dari 85% maka dinyatakan bahwa pembelajaran pada siklus I belum tuntas.
Kriteria pemahaman konsep juga ditentukan berdasarkan keberhasilan siswa yang dapat: a) Menyatakan ulang sebuah konsep; b) Mengklasifikasi objek menurut sifat- sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; c) Memberi contoh dan bukan contoh dari konsep; d) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; f) Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu; g) Mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah.
Berdasarkan tes hasil belajar siklus I yang telah diujikan kepada siswa maka indikator pemahaman konsep setiap item soal, nomor 1 merupakan bagian kriteria pemahaman konsep menyatakan ulang sebuah konsep dengan persentase 46%, nomor 2 menyatakan ulang sebuah konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah dengan persentase 97%, nomor 3 menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis dengan persentase 70%, nomor 4 mengklasifikasi objek menurut sifat- sifat tertentu sesuai dengan konsepnya dan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep dengan persentase 49%, nomor 5 adalah menggunakan,
memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu dengan persentase 57%. Nilai rata-rata persentase soal secara keseluruhan, yakni 63.8%.
b. Siklus II
Berdasarkan nilai tes siklus II di atas diperoleh bahwa rata-rata hitung dari hasil belajar adalah 90 dengan persentase nilai rata-rata adalah 90%.
Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara umum telah tercapai. Setelah mengolah nilai tes siklus II maka penulis melakukan pengolahan lanjutan yaitu mengolah nilai akhir siklus II. Pengolahan nilai akhir siklus II dilakukan untuk mengetahui berapa banyak siswa yang tuntas/tidak tuntas selama pelaksanaan siklus II dengan berpatokan pada KKM yang telah ditentukan. Ada 40 orang siswa yang tuntas dari 40 orang siswa yang mengikuti tes dengan persentase 100%. Berdasarkan kriteria keberhasilan menurut Halawa, T (2009:68) “keberhasilan kelas dapat dilihat dari persentase banyaknya siswa yang tercapai dalam belajar ≥ 85% dari jumlah kelas tersebut”. Oleh karena persentase banyaknya siswa tuntas belajar pada siklus II mencapai 100% yang berarti lebih dari 85% maka dinyatakan bahwa pembelajaran pada siklus II berhasil/tercapai.
Berdasarkan tes hasil belajar siklus II yang telah diujikan kepada siswa maka indikator pemahaman konsep setiap item soal, nomor 1 menyatakan ulang sebuah konsep dengan persentase 97%, nomor 2 Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep dengan persentase 82%, nomor 3 mengklasifikasi objek menurut sifat- sifat tertentu sesuai dengan
konsepnya dengan persentase 94%,
nomor 4 Menggunakan,
memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu dengan persentase 86%, nomor 5 adalah Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu 95%. Nilai rata-rata persentase soal bila dilihat secara keseluruhan, yakni 90,8%.
1. Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Discovery Learning Penggunaan belajar secara kelompok dalam penelitian ini memberikan banyak keuntungan bagi siswa. Terbukti siswa saling berdiskusi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Masing-masing anggota kelompok saling memberikan bantuan dan masukan dalam meningkatkan pemahamannya tentang suatu konsep.
Anggota kelompok yang kurang mampu bertanya kepada anggota kelompok yang lebih mampu mengenai hal-hal yang belum dipahami. Sedangkan siswa yang lebih mampu telah bertambah pemahamannya melalui proses menjelaskan kepada anggota yang kurang mampu. Hal ini mendukung pendapat Eggen & Kauchak (1996:282) bahwa dalam kerja kelompok siswa akan saling belajar melalui proses saling menerima dan memberi yang terjadi dalam kelompok.
2. Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa melalui Model Pembelajaran Discovery Learning
Pembelajaran konsep tabung dengan model pembelajaran discovery learning dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi tabung.
Peningkatan pemahaman siswa dapat juga dilihat dari kemampuan siswa menggunakan rumus tabung. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes akhir yang menunjukkan bahwa rata-rata skor kelas pada indikator
pemahaman konsep adalah 63,8%
meningkat menjadi 90,8% pada skala 100%.
Dilihat dari pekerjaan siswa pada tes akhir semua siswa sebenarnya sudah benar menuliskan dan menggunakan rumus.
Kesalahan yang terjadi terletak pada kesalahan perhitungan. Dengan fakta ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa siswa sudah dapat menggunakan rumus tabung.
3. Respon Siswa terhadap Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Discovery Learning
Respon siswa terhadap pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning dalam penelitian ini sangat positif.
Dari hasil wawancara terhadap subyek wawancara secara umum menyatakan senang dan tertarik terhadap pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning. Begitu pula pada catatan lapangan oleh guru dan pengamat menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning dapat membuat siswa aktif, kreatif, bertanggungjawab dan inisiatif dalam diskusi dan menyampaikan ide-idenya.
Rasa senang siswa juga terlihat ketika melaksanakan penemuan dengan belajar secara berkelompok dengan menyelidiki masalah untuk disimpulkan hasilnya.
Mereka antusias mengumpulkan informasi yang menunjang pembahasan yang mereka hadapi tanpa beban dan merasa menyenangkan berbagi pengetahuan kepada teman-teman yang kurang mampu maka tercipta pembelajaran yang aktif, kreatif, bertanggungjawab dan inisiatif.
Dalam kelompok peran siswa dihargai oleh siswa lain. Penghargaan yang diberikan siswa lain ini menimbulkan perasaan senang pada diri siswa. Siswa menyatakan bahwa mereka senang belajar dengan model pembelajaran discovery learning karena adanya kerja sama, saling menghormati, dan saling menghargai. Hal ini sesuai dengan pendapat Eggen & Kauchak (1996:281)
bahwa proses kerja sama dalam kelompok dapat menimbulkan motivasi instrinsik pada siswa.
5. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan paparan data, temuan penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan:
a. Model pembelajaran discovery learning mampu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa dan juga hasil belajar siswa kelas IX-B khususnya pada materi Tabung.
Yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
2. Problem Statement (Pernyataan/
Identifikasi Masalah)
3. Data Collection (Pengumpulan Data)
4. Data Processing (Pengolahan Data) 5. Verification (Pembuktian)
6. Generalization
(Menarik Kesimpulan/Generalisasi) b. Penggunaan sumber belajar dan LKPD
pada pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning sangat bermanfaat untuk menunjang kreativitas siswa dalam menemukan dan menganalisis masalah untuk meningkatkan pemahaman konsep.
c. Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa, diperoleh informasi bahwa siswa senang belajar tabung dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning.
d. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa, diperoleh peningkatan pembelajaran. Untuk pengamatan aktivitas guru meningkat dari 82,7%
pada siklus I menjadi 95,3% pada siklus II. Dan untuk pengamatan aktivitas
siswa meningkat dari 75,7% pada siklus I menjadi 91,3% pada siklus II.
e. Pada siklus I penerapan model pembelajaran discovery learning pada materi tabung belum mencapai target yang diharapkan. Hal ini berdasarkan ketuntasan belajar siswa 63% masih belum mencapai target. Pada siklus II pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran discovery learning mengalami peningkatan. Hal ini berdasarkan ketuntasan belajar siswa 100% yang berarti sudah mencapai target.
f. Pemahaman konsep tabung pada siklus I dengan persentase 63,8%
Berdasarkan keberhasilan belajar hal ini belum mencapai target. Pada siklus II pemahaman konsep pada materi tabung mengalami peningkatan mencapai 90,8%. Berdasarkan tingkat keberhasilan belajar, maka hal ini sudah mencapai target keberhasilan.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Guru dan praktisi pendidikan disarankan untuk menjadikan model pembelajaran discovery learning sebagai alternatif yang layak dipertimbangkan dalam pembelajaran Tabung.
2. Guru hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini dengan materi yang lebih luas. Sehingga, model pembelajaran ini tidak hanya digunakan pada materi tabung saja.
3. Guru disarankan menggunakan lembar kerja peserta didik (LKPD) dan sumber belajar berupa buku pelajaran yang menunjang kegiatan penemuan siswa pada materi yang bersangkutan. LKPD dibuat agar dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa dan buku pelajaran lainnya sebagai sumber informasi dan pengumpulan data.
4. Guru mengatur waktu secara efesien dalam pembelajaran discovery learning, Menjalin kerja sama kepada siswa yang berkemampuan tinggi untuk memberi pemahaman kepada siswa yang kurang mengerti dan dalam kegiatan diskusi guru mengarahkan setiap anggota kelompok untuk mengutarakan pendapat atau mengembangkan jawabannya minimal menjawab satu soal, dengan demikian tidak ada siswa yang hanya mengandalkan salah satu teman anggota kelompoknya saja.
5. Guru harus sering mengikuti pelatihan- pelatihan mengenai model belajar serta penelitian tindakan kelas perlu menjadi kegiatan rutin guru dalam mengembangkan profesionalitasnya.
6. Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, jadi penulis mengharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan perencanaan waktu lebih lama agar hasil yang diperoleh lebih maksimal dan efektif.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Rieneka Cipta
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teching And Learning). Dirjen Dikdasmen.
Djamarah, Syaiful Bakri, 1994. Prestasi Belajar Kompetensi Guru. Surabaya: PT.
Usaha Nasional.
Duffin dan simpson. 2000. Pemahaman Konsep Siswa. Jakarta: Depdiknas.
Halawa, Tandrasokhi. 2009. Penerapan Model Pembelajaran STAD Dalam Meningkatkan Pemahaman Matematika Pada Lingkaran Siswa Kelas VIII MTs Darussa’abah Poncokusmo Kabupaten Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang:
Universitas Negeri Malang
Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Hudojo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.
Kemdikbud, 2013. Matematika Kelas IX SMP/MTs: Buku Siswa Semester 2, Jakarta:
Puskurbuk.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rohana. 2011. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Pemahaman Konsep Mahasiswa FKIP Universitas PGRI.
Palembang: Prosiding PGRI.
Ruseffendi, E.T. 2006. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.
Bandung: Tarsito
Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran.
Bandung: Mulia Mandiri Press.
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana
Slameto. 2010. Belajar & faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Shadiq, Fajar. 2008. Empat Objek Langsung Matematika Menurut Gagne.:
http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2008/
12/download_08_gagne_median_1.pdf, [diakses pada 13 September 2011 13:20].
Sudjana, 2005, Metoda Statistika. Bandung.
Tarsito..
Sugandhi, Achmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: IKIP PRESS.
Suharsimi, Arikunto. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Suherman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Jakarta:
Universitas Pendidikan Indonesia.
Sukmadinata, N.S. (2009). Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung: PI Remaja Rosdakarya.
Sumarmo, U. 1987. Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa SMA Dikaitkan dengan Kemampuan Penalaran Logik Siswa dan Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar disertai pada Sekolah.
Syah, M. 2004. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiriaatmadja, Rochiati Prof.Dr. 2008.
Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya
Zagoto. S, dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nias Selatan.
Zulkardi. 2003. Pendidikan Matematika di Indonesia: Beberapa Permasalahan dan Upaya Penyelesaiannya. Palembang:
UnsriAl-Tabany, Triantono Ibnu Badar, 2015, Desain Pengembangan Tematik.