• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. UNDANG UNDANG NO.11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA 2. PENDAFTARAN CAGAR BUDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. UNDANG UNDANG NO.11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA 2. PENDAFTARAN CAGAR BUDAYA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1. UNDANG UNDANG NO.11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA

2. PENDAFTARAN CAGAR BUDAYA

Oleh: endang sumiarni

Disampaikan dalam Pembinaan Tenaga Pendaftaran Cagar Budaya dalam rangka Registrasi Nasional cagar Budaya, diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar

Budaya dan Permuseuman,

di Hotel Quality Makasar, pada hari Minggu, tanggal 21 Juni 2013.

(2)

UUCB:

13 BAB, 120 PASAL, 21 PP

• BAB I:Ketentuan Umum (Pasal 1: 38 konsep

• BAB II: Asas, Tujuan dan Lingkup (Pasal 2-4)

• BAB III:Kriteria Cagar Budaya (Pasal 5-11)

• BAB IV: Pemilikan dan

Penguasaan (Pasal 12-22)

• BAB V: Penemuan dan Pencarian (Pasal 2327)

• BAB VI: Register Nasional CB (Pasal 28-52)

• BAB VII: Pelestarian (Pasal 53-Pasal 94)

• BAB VIII: Tugas dan Wewenang (Pasal 9597-52)

• BAB IX: Pendanaan (Pasal 98)

• BAB X: Pengawasan Dan Penyidikan )Pasal 99-100)

• BAB XI: Ketentuan Pidana (Pasal 101-115)

• BAB XII: Ketentuan Peralihan (Pasal 116)

• BAB XIII: Ketentuan Penutup (Pasal 117-120)

(3)

LINGKUP PELESTARIAN

Perlindungan Pengembangan

Pemanfaatan

DI DARAT

DI AIR

(4)

Cagar Budaya adalah

warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya,

Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya,

dan Kawasan Cagar Budaya

di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan

keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,

dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

(5)

Pasal 5

Benda, bangunan, atau struktur dapat

diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya,

Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:

 berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;

 mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;

 memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu

pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan

 memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

(6)

Pasal 6

Benda Cagar Budaya dapat:

 berupa benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan manusia dan/atau dapat

dihubungkan dengan sejarah manusia;

 bersifat bergerak atau tidak bergerak;

dan

 merupakan kesatuan atau kelompok.

(7)

Pasal 7

Bangunan Cagar Budaya dapat:

• berunsur tunggal atau banyak; dan/atau

• berdiri bebas atau menyatu dengan formasi alam.

Pasal 8

Struktur Cagar Budaya dapat:

 berunsur tunggal atau banyak; dan/atau

 bagian atau seluruhnya menyatu dengan formasi alam.

(8)

Pasal 9

Lokasi dapat ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya apabila:

a. mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya;

dan

b. menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lalu.

(9)

Pasal 10

Satuan ruang geografis dapat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya apabila:

 mengandung 2 (dua) Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan;

 berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;

 memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang

pada masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;

 memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas;

 memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya; dan

 memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung bukti kegiatan manusia atau endapan fosil.

(10)

Pasal 11

Benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang atas dasar penelitian memiliki arti

khusus bagi masyarakat atau bangsa Indonesia, tetapi tidak memenuhi

kriteria Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai

dengan Pasal 10 dapat diusulkan

sebagai Cagar Budaya.

(11)

Pemilik/

Penguasa

Pendaftaran (langsung atau melalui laman)

ke Tim Pendaftaran

Petugas Penyusun Berkas

Pengkajian Tim Ahli Data

diragukan/tidak memenuhi syarat

Kriteria Cagar Budaya

Bukan Cagar Budaya

Register Nasional Cagar Budaya Pemberian Surat

Keterangan Kepemilikan Cagar

Budaya dan SK Penetapan Cagar

Budaya Penghapusan

SKEMA UMUM PENDAFTARAN CAGAR BUDAYA DAN PENETAPANNYA

Pelindungan, Pengembangan,

Pemanfaatan

Penemuan

Pencarian

[Kab/Kota]

Petugas Pengolah Data

Rekomendasi Penetapan

dan Pemeringkata

n

Penetapan CB &

Pemeringkatan Perbaikan

Penggabungan, Pencabutan,

Rekomendasi Tim Ahli Petugas

Penerima Pendaftaran

(12)

Setiap orang WNA dan/atau

badan hukum asing

Benda Cagar Budaya

Bangunan Cagar Buidaya

1. PEMILIKAN & PENGUASAAN

Struktur Cagar Budaya

Kawasan Cagar Budaya Situs Cagar

Budaya

DUKUASAI Negara Insentif Pajak

Jumlah dan jenisnya telah

memenuhi kebutuhan

negara

PEWARISAN HIBAH

TUKAR MENUKAR HADIAH

PEMBELIAN

PUT/TAP.PENGADILAN.

MASY.

HUKUM ADAT

LARANGAN MEMBAWA

KE LN

IJIN SESUAI PERINGKAT

(13)

Setiap orang

Benda Cagar Budaya

Bangunan Cagar Buidaya

Pemilikan dan Penguasaan

Struktur Cagar Budaya

Kawasan Cagar Budaya Situs Cagar

Budaya

PENGELOLAANNY DIAMBIL ALIH

PEM/PEMDA

HILANG/

RUSAK/

MUSNAH

RUSAK TDK LAPOR

LAPOR:

KE POLRI INSTANSI

YG DISITA TDK BOLEH

DILELAG/

DIMUSNAHKAN

(14)

2. PENEMUAN (UU)

• wajib melaporkannya kepada instansi yang berwenang di bidang kebudayaan, Kepolisian dan/atau instansi terkait

• tidak dilaporkan oleh penemunya dapat diambil alih oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

• ditetapkan sebagai Cagar Budaya: PENEMU BERHAK KOMPENSASI

• sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia, dikuasai oleh Negara

(15)

PENEMUAN (RPP)

• dapat memberikan kuasa kepada pihak lain untuk melaporkan.

• mengisi formulir laporan yang wajib disediakan oleh instansi

• Pelapor wajib menyertakan OYDCB bergerak / sampelnya kepada instansi penerima laporan.

• Laporan melalui media elektronik ditujukan kepada instansi penerima laporan dalam keadaan darurat atau memaksa, dengan mengemukakan:

– identitas pelapor;

– tanggal penemuan; dan

– identitas Objek Yang Diduga Cagar Budaya.

• Penerima laporan wajib mencatat serta menandatangani laporan dalam daftar laporan lisan.

• Kepolisian dan instansi di bidang kelautan yang menerima laporan wajib meneruskan laporan kepada Instansi Yang Berwenang Di Bidang Pelestarian CB.

• Laporan wajib ditindaklanjuti oleh instansi penerima laporan

(16)

PENEMUAN (RPP)

• Instansi Yang Berwenang Di Bidang PCB yang menerima laporan wajib menyerahkan bukti laporan kepada Tim Pengolah Data

• Tim Pengolah Data melakukan pendataan dan pengolahan data terhadap OYDCB.

• Pendataan meliputi hal-hal yang termuat dalam laporan

• Hasil pengolahan data oleh Tim Pengolah Data, diserahkan kepada Tim Ahli CB untuk

menentukan layak atau tidak layak menjadi CB

(17)

PENEMUAN (RPP)

• Temuan OYDCB yang tidak DILAPORKAN

diambil alih pengurusannya oleh Instansi yang Berwenang di Bidang PCB dengan membuat

surat pemberitahuan kepada penemu.

• Jika temuan CB, maka penemu tidak memperoleh Kompensasi.

• Temuan yang sudah ditetapkan sebagaiCB, status kepemilikannya ada pada:

Pemilik; atau

Negara, apabila tidak diketahui pemiliknya

(18)

3. PENCARIAN (UU)

• Pemerintah berkewajiban melakukan pencarian

• dapat dilakukan oleh setiap orang dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air

• hanya dapat dilakukan melalui

penelitian dengan tetap memperhatikan hak kepemilikan dan/atau penguasaan lokasi.

• izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

(19)

PENCARIAN (RPP)

Pencarian melalui Penelitian

• Pemerintah berkewajiban melakukan pencarian OYDCB , melalui Penelitian dengan cara survei, observasi,

penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan Di Darat dan/atau Di Air .

• Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode dan prosedur penelitian arkeologi serta disiplin ilmu bantu lainnya sesuai dengan karakteristik objek kajian.

• Kegiatan pencarian yang dilakukan Pem. dilaksanakan oleh Instansi Yang Berwenang Di Bidang PCB.

• dilaksanakan setelah dilakukan pemberitahuan kepada bupati/wali kota dengan tembusan kepada:

– Menteri;

– Gubernur;

– Kepolisian Republik Indonesia;

– Satuan Kerja Perangkat Daerah;

– Instansi terkait; dan

– Pemilik dan/atau yang menguasai lokasi penelitian.

(20)

PENCARIAN (RPP)

• Setiap Orang /MHA. dapat melakukan pencarian CB/OYDCB melalui Penelitian dengan cara survei, observasi, penggalian,

penyelaman, dan/atau pengangkatan Di Darat dan/atau Di Air, harus didasarkan izin.

• Izin dengan syarat memuat:

– identitas pemohon;

– tujuan pencarian;

– metode dan teknik pencarian;

– lokasi pencarian;

– tenggang waktu pencarian.

(21)

PENCARIAN (RPP)

• Izin diajukan kepada:

– Menteri, apabila wilayah dan cakupan penelitiannya meliputi dua provinsi atau lebih;

– Gubernur, apabila wilayah dan cakupan penelitiannya meliputi dua kabupaten/kota atau lebih;

– Bupati/Walikota, apabila wilayah dan cakupan

penelitiannya berada pada satu kabupaten/kota;dan/atau

pemilik lahan OYDCB.

• Setiap Orang yang berasal dari lembaga yang akan melakukan pencarian, untuk memperoleh izin harus melengkapi:

– proposal Penelitian;

– surat permohonan izin dari lembaga yang melaksanakan pencarian yang dilengkapi dengan proposal, apabila

pencari berasal dari lembaga; dan

– surat tugas dari pimpinan lembaga yang melaksanakan pencarian, apabila pencari berasal dari lembaga.

(22)

PENCARIAN (RPP)

• Pelaksanaan pencarian OYDCB oleh Setiap Orang harus menyertakan sekurang-kurangnya satu orang Tenaga Ahli Pelestarian dari UPT di bidang PCB.

• Hasil pencarian berupa objek temuan yang dilakukan oleh Pemerintah, Setiap Orang/MHA dianalisis

menurut metode dan prosedur analisis arkeologi untuk menentukan status

• Apabila objek temuan bukan CB, maka dikembalikan kepada pemiliknya atau yang melakukan pencarian.

• Apabila objek temuan sebagai CB, maka harus dicatat dalam Register Nasional.

• Apabila CB langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya maka dimiliki oleh Negara dan

pencarinya mendapat Kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku.

(23)

PENCARIAN (RPP)

• OYDCB yang telah ditetapkan sebagai CB yang berupa:

– BCB disimpan di Museum/ tempat lain sesuai dengan peruntukannya; dan/atau

– Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya,

keberadaannya tetap pada lahan ditemukannya Cagar Budaya.

• Pemilik atau penguasa lahan berhak

mendapatkan Kompensasi atas hal-hal atau kerugian yang ditimbulkan akibat kegiatan pencarian.

• Kompensasi diberikan oleh Pemerintah, Setiap Orang, MHA yang melakukan pencarian sesuai ketentuan yang berlaku.

(24)

PENCARIAN (RPP)

Pencarian terhadap Cagar Budaya Yang Hilang

• CB yang hilang yang disebabkan oleh bencana alam, perang, kecelakaan, tindak pidana,

kelalaian dalam pengelolaan, dan sebab-sebab lain dapat dilakukan pencarian.

• Pencarian yang disebabkan karena bencana

alam, perang, kecelakaan dilakukan oleh Instansi Yang Berwenang Di Bidang Pelestarian Cagar

Budaya dengan melibatkan Tenaga Ahli Pelestarian Cagar Budaya.

• Pencarian yang disebabkan karena tindak

pidana dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada Instansi Yang Berwenang Di Bidang Pelestarian Cagar Budaya berkoordinasi dengan aparat kepolisian.

(25)

PENCARIAN (RPP)

• Pencarian disebabkan karena kelalaian pengelolaan dan sebab-sebab lain, dilakukan oleh Instansi Yang Berwenang Di Bidang Pelestarian Cagar Budaya dengan melibatkan Tenaga Ahli Pelestarian Cagar Budaya.

• Pelaksanaan pencarian terhadap CB yang hilang dituangkan di dalam berita acara.

• Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sekurang-kurangnya memuat:

– tanggal dimulai dan berakhirnya pencarian;

– objek dan deskripsi Cagar Budaya yang dicari;

– pihak yang melakukan pencarian;

– tempat pencarian;

– sumber pendanaan pencarian;

– hasil pencarian; dan

– penandatanganan berita acara di atas materai oleh pihak yang mencari dan yang memiliki atau menguasai.

(26)

PENCARIAN (RPP)

• Cagar Budaya yang hilang dan ditemukan kembali, dikembalikan kepada pihak yang memiliki dan/atau

menguasai dan dimuat dalam berita acara penyerahan.

• Cagar Budaya yang hilang dan ditemukan kembali diambil alih kepemilikannya dan/atau penguasaannya oleh Negara dalam hal tidak diketahui lagi pemiliknya atau pihak yang menguasainya.

• Berita acara penyerahan sekurang-kurangnya memuat:

– tanggal pembuatan berita acara;

– identitas yang menemukan;

– deskripsi hasil penemuan yang meliputi:

• jumlah;

• jenis; dan

• kondisi.

– tempat penemuan;

– tanggal penemuan; dan

– penandatangan berita acara di atas meterai oleh pihak yang menemukan dan yang memiliki dan/atau yang menguasai.

(27)

PENDAFTARAN

• Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan/atau satuan

ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada pemerintah kabupaten/kota

atau perwakilan Indonesia di luar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam Register

Nasional Cagar Budaya.

(28)

TIM PENGOLAH DATA

• Tim Pengolah Data adalah tim yang dibentuk Pemerintah atau Pemerintah Daerah untuk menghimpun, mengolah, menyimpan, dan memelihara Dokumen serta Berkas yang berkaitan dengan proses pendaftaran,

pengusulan, atau penetapan.

(29)

TACB

• Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk

memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya.

(30)

Penetapan

• Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang

dilakukan oleh pemerintah, prov.

kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya.

• Register Nasional Cagar Budaya adalah daftar resmi kekayaan budaya bangsa berupa Cagar

Budaya yang berada di dalam dan di luar negeri.

(31)

Pasal 42

Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat nasional

apabila memenuhi syarat sebagai:

a. wujud kesatuan dan persatuan bangsa;

karya adiluhung yang mencerminkan kekhasan

kebudayaan bangsa Indonesia;

b. Cagar Budaya yang sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia;

c. bukti evolusi peradaban bangsa serta pertukaran budaya lintas negara dan lintas daerah, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat;

dan/atau

d. contoh penting kawasan

permukiman tradisional, lanskap budaya, dan/atau pemanfaatan ruang bersifat khas yang

terancam punah.

Pasal 43

Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat provinsi apabila memenuhi syarat:

a. mewakili kepentingan pelestarian Kawasan Cagar Budaya lintas

kabupaten/kota;

a. mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi;

b. langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi;

c. sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat;

dan/atau

d. berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung.

Pasal 44

Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat kabupaten/kota apabila memenuhi syarat:

a. sebagai Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah kabupaten/kota;

b. mewakili masa gaya yang khas;

c. tingkat keterancamannya tinggi;

d. jenisnya sedikit; dan/atau e. jumlahnya terbatas.

Nasional Provinsi Kabupaten/ Kota

Ekskalasi

Pemeringkatan Berjenjang

Rendah Tinggi

(32)

BAB VIII

TUGAS DAN WEWENANG

Pasal 95

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah mempunyai tugas melakukan Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan tingkatannya mempunyai tugas:

– mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan, serta meningkatkan

kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Cagar Budaya;

– mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang dapat menjamin terlindunginya dan termanfaatkannya Cagar Budaya;

– menyelenggarakan penelitian dan pengembangan Cagar Budaya;

– menyediakan informasi Cagar Budaya untuk masyarakat;

– menyelenggarakan promosi Cagar Budaya;

– memfasilitasi setiap orang dalam melaksanakan pemanfaatan dan promosi Cagar Budaya;

– menyelenggarakan penanggulangan bencana dalam keadaan darurat untuk benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan yang telah dinyatakan sebagai Cagar Budaya serta memberikan dukungan terhadap daerah yang mengalami bencana;

– melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian warisan budaya; dan

– mengalokasikan dana bagi kepentingan pelestarian Cagar Budaya.

(33)

Wewenang

Pasal 96

Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan tingkatannya mempunyai wewenang:

menetapkan etika pelestarian Cagar Budaya;

mengoordinasikan pelestarian Cagar Budaya secara lintas sektor dan wilayah;

menghimpun data Cagar Budaya;

menetapkan peringkat Cagar Budaya;

menetapkan dan mencabut status Cagar Budaya;

membuat peraturan pengelolaan Cagar Budaya;

menyelenggarakan kerja sama pelestarian Cagar Budaya;

melakukan penyidikan kasus pelanggaran hukum;

mengelola Kawasan Cagar Budaya;

mendirikan dan membubarkan unit pelaksana teknis bidang pelestarian, penelitian, dan museum;

mengembangkan kebijakan sumber daya manusia di bidang kepurbakalaan;

memberikan penghargaan kepada setiap orang yang telah melakukan Pelestarian Cagar Budaya;

memindahkan dan/atau menyimpan Cagar Budaya untuk kepentingan pengamanan;

melakukan pengelompokan Cagar Budaya berdasarkan kepentingannya menjadi peringkat nasional, peringkat provinsi, dan peringkat kabupaten/kota;

menetapkan batas situs dan kawasan; dan

menghentikan proses pemanfaatan ruang atau proses pembangunan yang dapat menyebabkan rusak, hilang, atau musnahnya Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya.

(34)

• Pemerintah berwenang:

• menyusun dan menetapkan Rencana Induk Pelestarian Cagar Budaya;

• melakukan pelestarian Cagar Budaya yang ada di daerah perbatasan dengan negara tetangga atau yang berada di luar negeri;

• menetapkan Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs

Cagar Budaya, dan/atau Kawasan Cagar Budaya sebagai Cagar Budaya Nasional;

• mengusulkan Cagar Budaya Nasional sebagai warisan dunia atau Cagar Budaya bersifat

internasional; dan

• menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria Pelestarian Cagar Budaya.

(35)

Pasal 97

• Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengelolaan Kawasan Cagar Budaya.

• Pengelolaan dilakukan tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat terhadap Cagar Budaya dan kehidupan sosial.

• Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dilakukan oleh badan pengelola yang dibentuk oleh Pemerintah,

Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat hukum adat.

• Badan Pengelola dapat terdiri atas unsur Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan

masyarakat.

• Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Cagar Budaya diatur dalam Peraturan Pemerintah.

(36)

PEMANFAATAN (Pf)

PENGEMBANGAN (Pb)

PELINDUNGAN (Pl)

pengamanan

zonasi

pemeliharaan

pemugaran

penyelamatan

Revitalisasi

Adaptasi

Penelitian Agama

Sosial Pendidikan

Ip Teknologi Kebudayaan

pariwisata

PELESTARIAN

Bermula dan berakhir di sini

(37)

KETENTUAN PIDANA:

1.tanpa izin mengalihkan kepemilikan CB

2. Setiap orang yang dengan sengaja tidak melaporkan penemuan

3. tanpa izin Pem./ PemDa.melakukan pencarian CB

4. dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau

menggagalkan upaya Pelestarian CB

(38)

5.dengan sengaja merusak CB mencuri CB 6.menadah hasil pencurian CB

7.tanpa izin Menteri, Gub./Bup./wali kota, memindahkan CB.

8.tanpa izin gubernur/bupati/wali kota, memisahkan CB

9.tanpa izin Menteri, membawa Cagar Budaya ke luar wilayah RI

10. tanpa izin gubernur atau izin

bupati/wali kota, membawa CB ke luar

wilayah provinsi/ kabupaten/kota

(39)

11.tanpa izin Menteri, gubernur/bupati/wali kota

mengubah fungsi ruang Situs CBdan/atau Kawasan CB tanpa izin pemilik dan/atau yang menguasainya, mendokumentasikan

12.dengan sengaja memanfaatkan CB dengan cara perbanyakan

13.Tindak pidana yang dilakukan oleh BU berBH.

dan/atau BU bukan berBH dijatuhkan kepada:

– badan usaha; dan/atau

– orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana.

14.Tindak pidana yang dilakukan oleh BU berBH dan/atau BU bukan berHB dipidana dengan ditambah 1/3

15.Tindak pidana yang dilakukan orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana, dipidana dengan ditambah 1/3

(40)

16. Bilamana pejabat karena

melakukan perbuatan pidana

melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana

memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan

kepadanya karena jabatannya

terkait dengan Pelestarian CB,

pidananya dapat ditambah 1/3

(sepertiga).

(41)

• Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam UU ini, terhadap setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 sampai dengan Pasal 114 dikenai tindakan pidana tambahan berupa:

– kewajiban mengembalikan bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknik pengerjaan

sesuai dengan aslinya atas tanggungan sendiri; dan/atau

– perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana

• Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap badan

usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan

pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.

(42)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menghasilkan rumusan 4 alternatif strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan pengawasan kegiatan perikanan di Kabupaten Sukabumi yaitu dengan

Melalui kegiatan presentasi kelompok, siswa dapat mengkomunikasikan hasil diskusi tentang sikap kebersamaan dalam perbedaan kegemaran di rumah dengan percaya diri..

a) Dalam peluncuran gerakannya adalah suatu gerakan transient yaitu suatu gerakan yang mengandung percepatan. b) Dalam peluncuran volume bagian tercelup dari kapal

335 Ni Wayan Rati, S.Pd., M.Pd 197612142009122002 Pendidikan Guru Sekolah Dasar 2013 Penerapan Iptek Pendampingan Penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) Siaga Bencana Berbasiskan

Konfigurasi dengan superposisi phasa STR-TSR pada tinggi pengukuran 1 meter, 5 meter dan 10 meter menghasilkan kerapatan fluks magnet lebih tinggi dibandingkan

lain Jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi jasmani tertentu terutama panca indra dan status gizi (gizi seimbang), intelegensi, minat, sikap, disiplin dan motivasi, sedangkan

Dengan menggunakan EVA sebagai alat ukur kinerja yang menjadi dasar dalam pemberian kompensasi bonus, hambatan dalam mengevaluasi keberhasilan suatu proyek atau

1. Metode Studi Pustaka dengan pencatatan secara cermat terhadap obyek yang diamati yaitu mengenai game 2D. Data diperoleh yakni dari buku, jurnal, artikel