• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mesin Diesel 24 PK (17664 watt) 300kg 1,5m 1,30m 150 kg/jam Rp /jam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mesin Diesel 24 PK (17664 watt) 300kg 1,5m 1,30m 150 kg/jam Rp /jam"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Efisiensi dan Kualitas Pakan 4.1.1. Spesifikasi dan Kapasitas Mesin

Hasil pengukuran dan penghitungan spesifikasi dan kapasitas mesin pada mesin hasil modifikasi dan mesin diesel yang biasa digunakan oleh petani Kampar dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Spesifikasi dan Kapasitas Mesin Hasil Modifikasi dengan Penggerak Motor Listrik dan Mesin dengan Penggerak Diesel

Spesifikasi dan kapasitas Daya

Berat Panjang Lebar Kapasitas Biaya

Mesin Motor listrik

1HP (746 watt) 50kg

0,70m 1 m 25 kg/jam Rp 340/jam

Diesel 24 PK (17664 watt) 300kg

1,5m 1,30m 150 kg/jam Rp 33.000/jam

Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa hasil modifikasi mesin pencetak pelet yang diperoleh memiliki spesifikasi mesin dengan daya 746 watt, berat mesin 50 kg, panjang mesin 0,70 m, tinggi 0,75 m dan lebar 0,55 m. Mesin modifikasi ini pun dilengkapi dengan mesin penepung atau pelembut bahan pakan yang keras sekaligus untuk menepung kembali pakan yang telah dicetak yang bertujuan untuk pakan ikan yang masih berukuran kecil atau benih dan untuk lebih mudah proses pemindahan mesin hasil modifikasi di lengkapi dengan roda. Sedangkan mesin pencetak pelet yang menggunakan diesel memiliki spesifikasi mesin 24 PK, berat mesin 300 kg, panjang mesin 1,70 m dengan lebar 0,80 m. Untuk lebih jelasnya melihat gambar mesin

(2)

pencetak pelet sesuai spesifikasi diatas dapat dilihat pada Lampiran 1. Melalui perbedaan ini dapat diketahui beberapa kelebihan dari mesin modifikasi yaitu mempermudah dalam proses pembuatan pakan, mudah dipindahkan karena lebih ringan dan penempatannya tidak memerlukan ruangan yang terlalu besar, sehingga efisiensi tempat dan proses pemindahan atau operasional mesin pun tercapai.

Kapasitas yang diperoleh pada mesin modifikasi ini adalah 25 kg dengan ukuran diameter pelet 4 mm. Kapasitas ini diketahui dengan melihat hasil pakan yang diperoleh selama 1 jam pengoperasian mesin pencetak pelet. Mesin yang menggunakan diesel menghasilkan kapasitas 100-150 kg dengan ukuran yang sama.

Hal ini dapat dilihat dari daya pada mesin diesel yaitu sebesar 24 PK, sedangkan mesin hasil modifikasi hanya 1 Hp. Satuan PK dan satuan Hp mempunyai selisih daya dimana 1 Hp setara dengan 746 watt, sedangkan 1 PK adalah 736 watt sehingga daya 24 PK adalah 17664 watt (736 watt x 24 PK). Hasil kapasitas dari mesin modifikasi bila disamakan dengan diesel adalah 23,6 HP (17664 watt : 746 watt) sehingga kapasitas dari mesin modifikasi sebesar 590 kg (25 kg x 23,6). Dengan demikian dilihat dari spesifikasi daya yang digunakan maka kapasitas yang dihasilkan mesin modifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan mesin diesel. Dari hasil yang didapat bahwa mesin hasil modifikasi mampu menghasilkan produksi yang optimal.

Dari biaya produksi per jam, mesin hasil modifikasi mengeluarkan biaya listrik Rp 340,00 sedangkan mesin diesel menghabiskan bahan bakar sebanyak 6 liter dengan harga Rp 5.500,00/liter (tahun 2008), sehingga diperoleh total biaya sebesar Rp 33.000,00. dan di tambah biaya oli yang mana setiap menghasilkan 10 ton pelet dilakukan pengantian oli sebanyak 3 liter. Berdasarkan hal tersebut, maka biaya

(3)

produksi mesin modifikasi jauh lebih murah dari pada mesin diesel. Sehingga efisien biaya produksipun tercapai.

4.1.2. Analisis Fisik

Pakan ikan harus memiliki kwalitas yang baik sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan ikan yang maksimal. Kualitas pakan ikan secara fisik dapat dilakukan menggunakan penciuman, pengukuran kepadatan bahan pakan yang keras, daya tarik dan stabilitas pakan dalam air (Adelina, Boer dan Suharman, 2005). Dengan demikian pada penelitian yang dilakukan kualitas fisik pakan dilihat dari bau, warna, berat per butir, dan stabilitas pakan dalam air. Untuk lebih jelasnya data hasil uji fisik dapat dilihat pada Tebel 2 berikut ini:

Tabel 2. Hasil Uji Fisik Pakan Ikan dari Mesin Pencetak Pakan Ikan Hasil Modifiksi dengan Mesin Pencetak Pakan dari Diesel

Parameter Daya Apung Daya menghumpal Berat Per Butir Warna

Bau

Ukuran Partikel

Mesin Motor Listrik

2 detik 1 86 menit 0,5 g

Coklat Kulit

Menyengat bau Ikan Lebih halus

Diesel 3 detik

60 menit 0,37 g Coklat Kulit

Menyengat bau Ikan Kasar

Dari data diatas dapat diketahui bahwa stabilitas fisik pada pencetak pakan hasil modifikasi dengan penggerak motor listrik yaitu daya tahan dalam air lebih tinggi dibanding dengan pencetak pelet dari diesel yaitu 1:3, berat per butir lebih besar dan ukuran partikel lebih halus di banding dengan mesin dari diesel sedangkan pada daya apung hasil dari modifikasi lebih cepat tenggelam ini menunjukan bahwa kepadatan yang dihasilkan dari mesin modifikasi lebih tinggi dibanding dari diesel,

(4)

kepadatan ini dipengaruhi dengan adanya daya rekat yang tinggi yang dibuktikan dengan ukuran partikel pelet lebih halus. Partikel lebih halus dan kasar dari label diatas diperoleh dengan menyentuhnya atau dengan indera perasa kemudian didapat bahwa pelet hasil mesin diesel banyaknya serat dan duri-duri ikan yang tidak hancur sedangkan pada mesin hasil modifikasi serat dan duri semuanya hancur. Sesuai dengan pendapat Sularso, (1996), bahwa putaran lambat menghasilkan daya hancur bahan yang bagus dan mempengaruhi tingkat adonan yang liat dan padat Untuk melihat bentuk pelet hasil dari kedua mesin dapat di lihat pada Lampiran 5. Warna pelet hasil modifikasi dan hasil dari diesel adalah sama yaitu warna coklat kulit, panduan warna ini berdasarkan pola warna cat asoka (Lampiran 6).

Dengan adanya data diatas, pelet yang di hasilkan mesin hasil modifikasi lebih berkualitas dibanding dengan hasil pelet dari diesel, sesuai dengan pendapat (Ade. et a/,. 2005) bahwa pakan yang berkualitas mempunyai kestabilan dalam air untuk periode tertentu sehingga ketersedianya lebih lama bagi hewan air, pakan harus bisa bertahan dalam air sehingga pakan yang di berikan di konsumsi dengan baik. Pakan yang tidak stabil dalam air akan cepat hancur dan akan kehilangan kandungan gizinya yang pada akhirnya menghasilkan sisa pakan dan menurunkan kualitas air. Dan juga dikatakan bahwa pakan yang berkualitas adalah pakan yang mempunyai partikel bahan yang halus ini bertujuan untuk mempercepat proses pencernaan.

Pelet yang dihasilkan memiliki bau yang menyengat yang berasal dari tepung ikan dari ikan rucah. Bau khusus dari tepung ikan ini juga berfungsi sebagai atraktan sehingga mempengaruhi daya tank ikan untuk mengkonsumsinya. Atraktan

(5)

merupakan komponen penting dalam formulasi pakan dan menentukan seberapa cepat dan seberapa banyak pakan yang diambil oleh ikan (Adelina et al., 2005).

4.1.3. Analisis Kimia

Pelet berkualitas baik hams memiliki komposisis kimia sesuai dengan kebutuhan ikan. Untuk mengetahui kualitas pelet tersebut maka dilakukan analisis kimia agar diketahui kandungan zat gizi seperti protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar air. Analisis kimia yang dilakukan pada penelitian yang diperioritaskan hanya protein kasar dan kadar air. Hal ini dikarenakan protein merupakan nutrien yang paling penting diperlukan oleh ikan untuk pertumbuhannya, sedangkan kadar air akan membatasi lama penyimpanan pakan. Selain itu tekanan pada mesin mempengaruhi kepadatan pakan yang di hasilkan. Di bawah ini adalah data hasil uji kimia kedua mesin yaitu mesin pengerak dengan motor listrik dan diesel.

Tabel 3. Hasil Uji Kimia Pakan Ikan dari Mesin Pencetak Pakan Ikan Hasil Modifikasi dengan Mesin Pencetak Pakan dari Diesel

Parameter Protein

Lemak Air Abu Serat kasar

Mesin Motor Listrik

25,16 % 16,35 %

9,8%

21,12%

14,52 %

Diesel 25,16%

16,35%

9,8%

21,12%

14,52%

Dari data diatas dapat di ketahui bahwa mesin hasil modifikasi tidak mempengaruhi perubahan kimia pada pelet sebab dari data menunjukan tidak adanya perbedaan angka melainkan sama. Dari sini dapat juga diketahui bahwa komposisi proksimat ditentukan dengan formulasi pakan. Semakin tinggi nilai gizi bahan yang terkandung dalam formulasi semakin bagus pula nilai gizi pakan yang di

(6)

hasilkan. Sesuai dengan pendapat Mujiman (1989), bahwa dalam pembuatan pakan ikan bahan yang digunakan haruslah bahan yang mempunyai nilai gizi tinggi sehingga akan mempunyai nilai kualitas pakan yang tinggi pula. Dan sesuai dengan pendapat (Darmawiyanti 2005), bahwa nilai gizi pada pakan hanya tergantung oleh formulasi pakan ikan

Hasil formulasi pakan dengan pesentase bahan yaitu 100 kg dedak, 50 kg ikan rucah dan 25 kg bungkil kelapa yang biasa digunakan oleh petani ikan Patin (Panggasius hyphoptalmus) di Kabupaten Kampar ini dapat memberikan

pertumbuhan yang bagus yaitu setiap 6 bulan ikan patin dapat dipanen dengan berat rata-rata 750 gr sampai dengan 800 gr. Sesuai dengan pendapat Hartono (2003), bahwa formulasi pakan dengan perbandingan bahan ikan rucah, dedak dan bungkil kelapa yaitu 1 : 2 : 4 dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada ikan Patin (Panggasius hyphopthalmus) yaitu 800 gr sampai 1000 gr setiap ekornya dalam

pemeliharaan di kolam tanah selama 6 bulan.

4.2.6. Opasitas dan Kebisingan

Tabel 4. Opasitas dan Kebisingan pada Mesin Motor Listrik dan Diesel

Parameter Bahan Bakar Opasitas (Asap) Getaran

Suara (kebisingan)

Mesin Motor listrik

Listrik Tidak ada Kecil (< 1 m) Tidak ada

Diesel Solar

Pekat Hitam 50m2

500m2

(7)

Data diatas menyatakan bahwa modifikasi mesin pencetak pelet yang dihasilkan menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama dan tidak memerlukan bahan bakar, sehingga tidak menghasilkan gas buangan berupa asap. Mesin pencetak pelet yang menggunakan diesel memerlukan solar sebagai bahan bakarnya yang menghasilkan gas buangan berupa asap yang dapat membahayakan kesehatan.

Hidrokarbon yang timbul akibat tidak sempurnanya pembakaran solar menyebabkan iritasi mata, pusing, batuk, mengantuk, bercak kulit, perubahan kode genetik, memicu asma dan kanker paru-paru. Oksida belerang yang timbul akibat solar yang mengandung sulfur dapat menyebabkan gejala batuk sampai sesak nafas dan meningkatkan asma. Sedangkan partikulat akibat kurang sempurnanya proses pemanfaatan solar dapat masuk ke dalam sistem pernafasan sampai paru-paru terdalam sehingga menimbulkan ISP A, jantung, bronchitis dan asma serta dicurigai bersifat karsinogenik (Kwanda, 2003).

Berdasarkan efek negatif yang disebabkan gas buangan dari bahan bakar yang digunakan (solar), maka mesin modifikasi yang dihasilkan jauh lebih aman ditinjau dari segi kesehatan (tidak memiliki dampak negatif).

Getaran yang dihasilkan dari mesin modifikasi ini sangat kecil atau hampir tidak ada. Hal ini disebabkan mesin menggunakan motor listrik sebagai sumber penggerak dan reduser sebagai pereda getaran, sehingga mesin tidak menimbulkan suara. Pada mesin pencetak pelet yang menggunakan diesel, suara terdengar hingga radius 500 meter dan getaran terasa hingga radius 50 m.

Kebisingan merupakan suatu suara yang tidak diinginkan oleh pendengar karena keras dan mengesalkan, pada mesin diesel suara dihasilkanya sangat keras.

(8)

Kebisingan menimbulkan gelombang dan tekanan suara yang tinggi sehingga melebihi batas pendengaran manusia dan makhluk lainnya. Gangguan pedengaran akibat kebisingan pada manusia akan mempengaruhi sistem cardiovascular, tachycardia, denyut jantung dan tekanan darah cepat serta kontraksi otot darah serta neurosis sedangkan pada tanaman menyebabkan kematian dan penghambatan pertumbuhan (Handoko, 2008).

Berdasarkan hal ini maka keunggulan modifikasi mesin pencetak pelet yang menggunakan motor listrik juga dalam hal kebisingan. Sesuai dengan pernyataan Sularso (1980) bahwa diantara kelebihan motor listrik adalah getaran yang ditimbulkan kecil dan tidak mengeluarkan suara yang bising.

Gambar

Tabel 1. Spesifikasi dan Kapasitas Mesin Hasil Modifikasi dengan Penggerak Motor Listrik dan Mesin dengan Penggerak Diesel
Tabel 2. Hasil Uji Fisik Pakan Ikan dari Mesin Pencetak Pakan Ikan Hasil Modifiksi dengan Mesin Pencetak Pakan dari Diesel
Tabel 3. Hasil Uji Kimia Pakan Ikan dari Mesin Pencetak Pakan Ikan Hasil Modifikasi dengan Mesin Pencetak Pakan dari Diesel
Tabel 4. Opasitas dan Kebisingan pada Mesin Motor Listrik dan Diesel

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengganti semua listrik bahan bakar fosil dengan energi nuklir dan tidak terlambat, kita akan perlu membangun reaktor baru 3000 lebih dari 60 tahun, yang setara dengan 50 GW

antara dua variabel atau lebih dalam populasi yang akan diuji melalui.. hubungan antar variabel

Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan multimedia interaktif berbasis Lectora dan Prezi dengan Pendekatan

Bagian ini memuat hasil evaluasi penyelenggaraan program akademik oleh perguruan tinggi yang mencakup kegiatan pendidikan (seluruh jenjang pendidikan), penelitian,

Komponen Penghubung Sistem Pengembangan Pariwisata (Sumber : UNTACT, E-Tourism Initiative, 2004).. Berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa ada 3 proses yang dijalankan untuk

[r]

Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas berkat rahmat, serta hidayah-Nya, sehingga tugas akhir ini dapat berjalan lancar sesuai dengan harapan

Dalam penyajian gending patalon Lambangsari versi Karawitan Ngripto Laras terdapat beberapa spesifikasi garap atau garap khusus yang menjadi ciri khas garap