BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pasar modal yaitu pasar yang memperjual belikan produk berupa dana yang bersifat abstrak. Produk yang diperjualbelikan di pasar modal berupa lembar surat- surat berharga di bursa efek.Kehadiran pasar modal di suatu negara dianggap sangat penting terkait perannya sebagai penggerak perekonomian nasional yang berfungsi menyediakan fasilitas untuk mempermudah perusahaan dan emiten mendapatkan dana serta bagi investor untuk menyalurkan dananya dengan harapan mendapat bagi hasil atas dana yang disalurkannya.Pasar modal juga memiliki peran dalam perekonomian suatu negara dimana pasar modal juga dapat dijadikan sebagai indikator negara yang sedang tumbuh. Meningkatknya Perekonomian suatu negara dapat tercermin dari peningkatan aktivitas volume perdagangan di pasar modal.
Sehingga jatuh bangunnya ekonomi suatu negara dapat tercermin dari kondisi pasar modal di negara tesebut(Martien,2015). Pasar modal merupakan suatu tempat yang terorganisasi yang memperjualbelikan efek di bursa efek. Bursa efek merupakan tempat yang terorganisasi bertemunya penjual pembeli untuk melakukan investasi.
Perkembangan kegiatan investasi dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini terjadi seiring dengan bertambahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang bagaimana praktek berinvestasi secara optimal serta didukung dengan kondisi perekonomian dalam negeri yang cukup stabil. Salah satu cara berinvestasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi pada pasar modal. Sebagaimana yang diketahui tahun 2008 terjadi sebuah goncangan hebat dimana Amerika Serikat sebagai negara adidaya mengalami krisis (Yudhistira:
2016).
Menurut Suhartono (2013) dalam satu dekade terakhir ada beberapa krisis
ekonomi yang mengguncang dunia seperti krisis subprime mortgage yang terjadi di
Amerika Serikat pada tahun 2008 dan krisis hutang yang terjadi di benua Eropa
pada tahun 2010. Krisis subpreime mortgage ini berawal dari kegagalan pembayaran kredit perumahan (subprime mortgage default) di Amerika Serikat.
Krisis kemudian menggelembung merusak sistem perbankan dan sektor keuangan lain bukan hanya di Amerika Serikat namun meluas hingga ke Eropa lalu Asia.
Selanjutnya yaitu krisis yang terjadi di Eropa pada tahun 2010. Krisis Eropa berawal dari negara Yunani. Hal tersebut disebabkan karena adanya ketidak jujuran pemerintah Yunani yang mengutak-atik nilai pertumbuhan ekonomi makro. Hal tersebut merupakan awal jatuhnya perekonomian Yunani dimana pemerintah Yunani berusaha menutupi angka defisit negara yang disebabkan oleh banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telah merugikan negara hingga US$
20 milyar per tahun (Gunawan, 2012).
Akibat kehebohan yang terjadi pada pasar saham konvensional, keberadaan saham syariah sedikit terabaikan. Sebenarnya, apabila di telaah lebih lanjut, saham syariah memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan saham konvensional.
Terlihat dari fokus saham syariah kepada transaksi yang halal dan bersih dari unsur manipulasi dan kecurangan, keadaan ini secara tidak langsung juga membuat saham syariah benar-benar sebagai saham yang dipilih. Instrumen berbasis syariah ini dibentuk dengan tujuan memberikan sarana dan alternatif investasi dan pembiayaan yang berbasis syariah. Munculnya instrumen syariah dipasar modal Indonesia dipelopori oleh PT Danareka Asset Management yang menerbitkan reksadana syariah pada 3 Juli 1997. Kemudian pada 3 Juli 2000 PT Danareka Asset Management bekerjasama dengan PT Bursa Efek Jakarta, kini bursa efek Indonesia meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) yang bisa dipergunakan sebagai acuan dalam menilai perkembangan harga saham berbasis syariah.
Pasar modal mengalami peningkatan atau mengalami penurunan terlihat dari naik turunnya harga-harga saham yang tercatat yang tercermin melalui suatu pergerakan indeks. Terdapat beberapa indeks di BEI yaitu Indeks Harga Saham Inividu, Indeks Saham Syariah Indonesia, dan Indeks Harga Saham Gabungan.
Salah satu alat ukur kinerja pasar modal syariah di Indonesia adalah Jakarta Islamic
Indeks (JII) yang terdiri dari 30 saham syariah terlikuid berdasarkan prinsip-prinsip
syariah. Selama 5 tahun terakhir ini, perkembangan Jakarta Islamic Index (JII)
mengalami kemajuan yang cukup baik. Hal ini digambarkan dari data kapitalisasi pasar pada tahun 2011 sebesar Rp. 1,414.98 triliun, kemudian meningkat menjadi sebesar Rp. 1,737.29 triliun pada tahun 2015.
Tabel pergerakan JakartaIslamicIndex (JII) Berikut pergerakan JakartaIslamicIndex (JII) selama 5 tahun terakhir.
Dari grafik diatas terlihat bahwa 5 tahun terakhir perkembangan indeks Jakarta Islamic Indeks (JII) mengalami naik turun. Tahun 2013 rata- rata indeks JII berada pada angka 520.797. Berikutnya tahun 2014 rata-rata indeks JII sebesar 661.890. Pada tahun 2015 rata-rata indeks JII mengalami penurunanmenjadi 645.202. sedangkan tahun 2016 rata-rata indeks JII kembali mengalami kenaikan menjadi 686.140 hingga tahun 2017 rata-rata indeks JII naik kembali menjadi 729.765. Dalam hal ini terdapat banyak faktor makro ekonomi yang turut mempengaruhi pergerakan nilai total Jakarta Islamic Index diantaranya suku bungga (BI rate), inflasi, sertifikat Bank Indonesia, jumlah uang beredar, harga emas dunia, nilai tukar, dan harga minyak dunia. Dalam penelitian ini faktoryang menjadi variabel penelitian hanya akan difokuskan pada inflasi, nilai tukar , dan tingkat suku bunga.
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000
2013 2014 2015 2016 2017