SKRIPSI
Oleh : TAN MEI KUN
140100250
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
TAHUN 2012-2016
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh : TAN MEI KUN
140100250
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
Nama Mahasiswa : Tan Mei Kun Nomor Induk (NIM) : 140100250
Program Studi : Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Komisi Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.
Pembimbing
dr. Cut Adeya Adella, Sp.OG(K) NIP. 197610082002122001
Ketua Penguji Anggota Penguji
Prof. Dr. dr. M. Fidel Ganis Siregar, dr. Lokot Donna Lubis, M.Ked(PA), M.Ked(OG), Sp.OG(K) Sp.PA
NIP. 196405301989031019 NIP. 197410092003122001
Medan, 1 Desember 2017
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) NIP. 19660524199203100
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai salah satu era kompetensi dasar yang harus memiliki oleh seorang dokter umum. Penelitian dengan judul “Karakteristik Ibu Hamil dengan HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2012- 2016” ini disusun sebagai rangkaian tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penelitian dan penulisan skripsi ini, saya banyak mendapat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir- butir pemikiran yang sangat berharga bagi saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp. S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian.
2. dr. Cut Adeya Adella, Sp.OG (K) Onk selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan bimbingan kepada saya selama melaksanakan penelitian, juga telah banyak meluangkan waktu dan dengan kesabaran membimbing saya sampai selesainya karya tulis ini untuk menunjang pendidikan kedokteran ini.
3. Prof. Dr. dr. M Fidel Ganis Siregar,M.Ked (OG), Sp. OG(K) selaku ketua penguji dan dr. Lokot Donna L, M.Ked (PA), Sp.PA selaku anggota penguji, yang telah memberikan berbagai arahan, masukan, dan saran kepada saya dalam penyelesaian dan penyempurnaan penulisan skripsi.
4. dr. Dwi Rita Anggraini, M.Kes, selaku dosen pembimbing akademik saya yang telah memberikan dukungan, arahan, masukan serta semangat kepada saya dalam menjalani masa akademik dan penulisan skripsi.
5. Kepada staf Departemen Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara: Dr. dr. Juliandi Harahap, MA, Dr. dr. Arlinda
Sari Wahyuni, M. Kes, dr. Isti Ilmiati Fujiati, M.Sc, CM-FM, dr. Putri
Chairani Eyanoer, MS, Epi, PhD, dr. Ismiralda Siregar, M. Kes, dr. Rina Amelia, MARS, dr. Yuki Yunanda, Sri Lestari, SP, M. Kes yang merupakan guru-guru yang telah banyak memberikan arahan dan petunjuk selama di bangku kuliah.
6. Kepada keluarga yang memberi dukungan moral, semangat, ekonomi, modal, dan doa hingga terselesaikannya karya tulis ini.
7. Rekan-rekan mahasiswa FK USU stambuk 2014 yang telah memberi saran, kritik, dan dukungan moral dalam menyelesaikan skripsi.
8. Kepada semua pihak baik perorangan maupun instansi yang tidak mungkin saya ucapkan satu persatu yang telah membantu saya dalam menyelesaikan pendidikan ini saya mengucapkan banyak terima kasih.
Akhirnya izinkanlah saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekurangan selama mengikuti pendidikan ini, semoga segala bantuan, dorongan dan petunjuk yang diberikan kepada saya selama mengikuti pendidikan kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Akhir kata, saya berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua orang dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang kedokteran.
Medan, 1 Desember 2017 Penulis,
Tan Mei Kun
(NIM: 140100250)
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ……….………...……… i
Kata Pengantar... ii
Daftar Isi ………... iv
Daftar Gambar………... vi
Daftar Tabel ………....….. vii
Daftar Lampiran ……….……….. viii
Daftar Singkatan ……….……….. ix
Abstrak……….………..… xii
Abstract……….. xiii
BAB I PENDAHULUAN ……… ……... 1
1.1 Latar Belakang ………..……….. 1
1.2 Rumusan Masalah ………..………. 3
1.3 Tujuan Penelitian ……… 3
1.3.1 Tujuan Umum ………...………... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ………... 3
1.4 Manfaat Penelitian ……….. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……… 5
2.1 Definisi ……… 5
2.2 Etiologi ………... 5
2.3 Epidemiologi……… 5
2.4 Patogenesis ……….……….……… 6
2.5 Patofisiologi ……….... 7
2.5.1 Penularan HIV dari Ibu ke Bayi ……….… 8
2.5.1.1 Faktor Ibu ………... 9
2.5.1.2 Faktor Bayi ………...…………... 10
2.5.1.3 Faktor Obstetrik ………... 11
2.5.2 Waktu dan Resiko Penularan HIV dari Ibu ke Bayi ………….…. 12
2.6 Manifestasi Klinis………... 13
2.7 Diagnosis ……… 15
2.7.1 Strategi Pemeriksaan ……….. 15
2.7.2 Pemeriksaan Awal Infeksi HIV dari Ibu ke Bayi ……….. 16
2.7.3 Strategi Tes HIV Cepat pada Ibu Hamil dalam Persalinan…….... 16
2.7.4 Diagnosis Infeksi HIV pada Bayi ……….. 17
2.8 Penatalaksanaan Selama Kehamilan ………... 18
2.8.1 Obat-obat dalam Kehamilan dan Persalinan ……….. 21
2.9 Pencegahan ………..………..……. 22
2.9.1 Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Hamil HIV Positif ke Bayi (PMTCT) ……… 22
2.9.2 Pencegahan Penularan Infeksi Bagi Petugas Kamar Bersalin ..… 25
2.10 Komplikasi ………..………. 26
2.11 Kerangka Teori ………. 27
2.12 Kerangka Konsep ………. 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN……….… 29
3.1 Rancangan Penelitian ………..……… 29
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……….……... 29
3.2.1 Lokasi Penelitian ……… 29
3.2.2 Waktu Penelitian ……… 29
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ……….. 29
3.3.1 Populasi ……….... 29
3.3.2 Sampel Penelitian ...……….. 30
3.4 Metode Pengumpulan Data……….. 30
3.5 Metode Analisa Data ... 30
3.6 Definisi Operasional ………... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …….……….... 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……….……….... 40
5.1 Kesimpulan...……….... 40
5.2 Saran...………..……….... 41
DAFTAR PUSTAKA ……….. 42
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Perjalanan alamiah infeksi HIV dan penyakit yang
ditimbulkan ……….. 7
2.2 Alur diagnosis HIV………...……… 15
2.3 Alur pemberian terapi ARV pada ibu hamil…………...….. 20
2.4 Kerangka teori penelitian………... 27
2.5 Kerangka konsep penelitian….………... 28
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke
bayi ………. 9
2.2 Waktu dan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi……….. 12 2.3
Rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV dari ibu ke
anak...………...……….
19 2.4 Pilihan persalinan ………... 19 2.5 Rekomendasi terapi ARV pada ibu hamil dengan HIV dan
bayi….………... 20 2.6 Selected drugs with significant adverse effects on the
fetus. 22
2.7 Severe and life-threatening complications of antiretroviral
drugs……… 26
3.1 Definisi operasional………. 31
4.1 Distribusi frekuensi ibu hamil dengan HIV/AID
berdasarkan karakteristik demografis.……...……… 34 4.2 Distribusi frekuensi ibu hamil dengan HIV/AIDS
berdasarkan durasi pemakaian antiretroviral (ARV)…..…. 36 4.3 Distribusi frekuensi ibu hamil dengan HIV/AIDS
berdasarkan jumlah CD4…………... 37 4.4 Distribusi frekuensi ibu hamil dengan HIV/AIDS
berdasarkan metode persalinan …………...……… 38
4.5 Perbandingan metode persalinan dengan jumlah CD4…… 38
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A Daftar Riwayat Hidup LAMPIRAN B Peryataan Surat Persetujuan
LAMPIRAN C Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian LAMPIRAN D Surat Izin Penelitian
LAMPIRAN E Master Data
LAMPIRAN F Hasil Output Data Penelitian
DAFTAR SINGKATAN
ACEI : Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor
AFASS : Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, dan Safe AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome
ART : Terapi Antiretroviral ARV : Antiretroviral
ASI : Air Susu Ibu AZT : Zidovudine
CD4 : Cluster of Differentiation 4 CD8 : Cluster of Differentiation 8
CDC : Center for Disease Control and Prevention cDNA : Complementary Deoxyribo Nucleat Acid CM : Cryptococcal meningitis
CMV : Cytomegalovirus
CT : Computerized Tomography DKI : Daerah Khusus Ibukota DNA : Deoxyribo Nucleat Acid
dr. : Dokter
EDTA : Asam Etilen Diamin Tetraasetat EFV : Efavaren
EIA : Enzim Immunoassay
ELISA : Enzyme-Linked Immunsorbent Assay FTC : Emtriva
Gp120 : Glycoprotein 120
Hb : Hemoglobin
HEU : HIV-Exposed, Uninfected Children HIV : Human Immunodeficiency Virus HUU : HIV-Unexposed, Uninfected Children HSV : Herpes Zoster
IMS : Infeksi Menular Seksual
IRT : Ibu Rumah Tangga
LSD : Asam Lisergat Dietilamida MAC : Mycobacterium Avium MAO : Monoamine Oxidase
mRNA : Messenger Ribonucleic Acid MTCT : Mother To Child Transmission
NNRTI : Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor NRTI : Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor NVP : Nevirapin
OC : Oral Candidiasis
ODHA : Orang dengan HIV/AIDS OHL : Oral Hairy Cell Leukoplakia PASI : Pengganti Air Susu
PCP : Pneumocystis Carinii Pneumonia PCR : Polymerase Chain Reaction PI : Protease Inhibitors
PID : Pelvic Inflammatory Disease
PMTCT : Prevention Mother To Child Transmission PNS : Pegawai Negeri Sipil
PPE : Papular Pruritic Eruption
PPIA : Pencegahan Penularan Ibu ke Anak Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat R.M. : Raden Mas
RNA : Ribonucleic Acid
RS : Rumah Sakit
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
RSUP HAM : Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Rumkitdam : Rumah Sakit Daerah Militer
Rutan : Rumah Tahanan Negara SC : Sectio Caesaria
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SPSS : Statistical Package For The Social Sciences ssRNA : Single-Stranded Ribonucleic Acid
TB/TBC : Tuberkulosis 3TC : Lamivudine
TCAs : Tricyclic Antidepressants TDF : Tenofovir
UNAIDS : United Nations Programme on HIV/AIDS
VCT : Voluntary Counseling and Testing
WHO : World Health Organization
ABSTRAK
Latar Belakang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sejenis virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih dan menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah timbulnya sekumpulan gejala penyakit karena kekebalan tubuh menurun disebabkan infeksi oleh HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh maka orang tersebut sangat mudah terkena berbagai penyakit infeksi (infeksi oportunistik) yang sering berakibat fatal. Penghidap HIV memerlukan pengobatan dengan antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam stadium AIDS. Tujuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dengan HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) pada tahun 2012-2016. Metode. Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil dengan HIV/AID di RSUP HAM. Sampel penelitian yang digunakan adalah teknik total sampling. Pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah rekam medis dengan cara mengambil data sekunder ibu hamil dengan HIV/AIDS dari kartu status bagian rekam medis. Data dari RSUP HAM pada tahun 2012-2016 kemudian dianalisis dengan program Statistical Package For The Social Sciences (SPSS). Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM paling banyak terdapat pada usia >30 tahun (75,6%), Batak (60%), tamat sekolah menengah atas (SMA) (51,1%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (73,3%), jumlah paritas 0-1 (73,3%), durasi pemakaian antiretroviral >1 tahun (97,8%), jumlah CD4 <350/mm3 (48,9%), dan metode persalinan perabdominal (SC) (66,7%).
Kata kunci: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome, ibu hamil
is the emergence of a set of symptoms of immune diseases decreased due to infection by HIV. Due to decreased immunity the person is very susceptible and fatal to various infectious diseases (opportunistic infections). HIV-infected people need antiretroviral treatment to reduce the amount of HIV virus in the body to prevent entering the AIDS stage. Aim. This study aims to determine the characteristics of pregnant women with HIV/AIDS at Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) in 2012-2016. Method. The type of research conducted in this study is descriptive with cross-sectional design. The population in this study were pregnant women with HIV/AIDS in RSUP HAM. The sample of research used is total sampling technique. Data collection used in this research is medical record by taking secondary data of pregnant woman with HIV / AIDS from status card of medical record. Data from the RSUP HAM in 2012-2016 were then analyzed with the Statistical Package for The Social Sciences (SPSS) program. Results. The results of this study indicate that pregnant women with HIV/AIDS in RSUP HAM are mostly at age> 30 years (75,6%), Batak (60%), high school (51,1%), work as housewife ( 73,3%), parity 0-1 (73,3%), duration of antiretroviral> 1 year (97,8%), CD4 count <350 / mm3 (48,9%), and perabdominal delivery method (SC ) (66,7%).
Keywords: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome, pregnant women
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih dan menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia.
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah timbulnya sekumpulan gejala penyakit karena kekebalan tubuh menurun disebabkan infeksi oleh HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh maka orang tersebut sangat mudah terkena berbagai penyakit infeksi (infeksi oportunistik) yang sering berakibat fatal. Penghidap HIV memerlukan pengobatan dengan antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam stadium AIDS, sedangkan pengidap AIDS memerlukan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai komplikasinya (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Di seluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak berusia <15 tahun. Jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013 sebesar 2,1 juta yang terdiri dari 1,9 juta dewasa dan 240.000 anak berusia <15 tahun. Jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 1,5 juta yang terdiri dari 1,3 juta dewasa dan 190.000 anak berusia <15 tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Di Indonesia, HIV/AIDS pertama kali ditemukan di provinsi Bali pada tahun
1987. Hingga saat ini HIV/AIDS sudah menyebar di 386 kota di seluruh provinsi
di Indonesia. Berbagai upaya penanggulang sudah dilakukan oleh Pemerintah
bekerjasama dengan berbagai lembaga di dalam negeri dan luar negari. Jumlah
kumulatif penderita HIV di Indonesia dari tahun 1987 sampai September 2014
sebanyak 150.296 orang, sedangkan total kumulatif kasus AIDS sebanyak 55.799
orang (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan laporan provinsi, jumlah kumulatif kasus infeksi HIV yang dilaporkan sejak 1987 sampai September 2014 yang terbanyak adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta (32.782 kasus). Sepuluh besar kasus HIV terbanyak ada di Provinsi DKI Jakarta (32.782), Jawa Timur (19.249), Papua (16.051), Jawa Barat (13.507), Bali (9.637), Sumatera Utara (9.219), Jawa Tengah (9.032), Kalimantan Barat (4.574), Kepulauan Riau (4.555), dan Sulawesi Selatan (4.314). Kasus AIDS yang dilaporkan sejak 1987 sampai September 2014 terbanyak di Provinsi Papua (10.184), diikuti Jawa Timur (8.976), DKI Jakarta (7.477), Bali (4.261), Jawa Barat (4.191), Jawa Tengah (3.767), Papua Barat (1.734), Sulawesi Selatan (1.703), Kalimantan Barat (1.699), dan Sumatera Utara (1.573) (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan laporan HIV/AIDS dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, jumlah positif HIV di rumah sakit (RS) Kota Medan sebanyak 1275 kasus, yaitu RS Haji Adam Malik (645), RS Haji Medan (42), RS Pirngadi (139), RS Bhayangkara (110), Rumah Sakit Daerah Militer (Rumkitdam) (37), Voluntary Counseling and Testing (VCT) Bestari (21), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Teladan (37), Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Medan (16), Puskesmas Malem Karo (4), Puskesmas Medan Deli (15), Puskemas Helpetia (13), Puskesmas Padang Bulan (47), Puskesmas Rambung (3), Puskesmas Bromo (1), Puskemas Medan Area Selatan (2), Klinik Veteran (117), dan Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Raden Mas Djoelham (RSUD dr. R.M. Djoelham) (26) (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Kasus HIV dan AIDS di kalangan masyarakat, khususnya perempuan usia produktif, cenderung meningkat sehingga menjadi ancaman potensial terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat berdampak luas dan negatif bagi ketahanan bangsa. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses Mother To Child Transmission (MTCT).
Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama
kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. Data Kementerian Kesehatan 2011
3
menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, 534 (2,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2013).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) pada tahun 2012 - 2016. RSUP HAM merupakan rumah sakit pendidikan, mempunyai riwayat pencatatan yang baik, dan merupakan rumah sakit pusat rujukan dari wilayah provinsi Sumatera Utara, Aceh, dan kepulauan Riau. Jadi, RSUP HAM merupakan tempat yang paling ideal untuk dijadikan sebagai tempat dilakukan penelitian ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Uraian dalam latar belakang di atas memberikan dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian ini yaitu: Bagaimana karakteristik ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016.
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016 berdasarkan usia, suku, pendidikan, pekerjaan, jumlah paritas.
2. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016 berdasarkan durasi pemakaian antiretroviral (ARV).
3. Untuk mengetahui gambar cluster of differentiation 4 (CD4) pada ibu hamil
dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016.
4. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016 berdasarkan metode persalinan.
5. Untuk mengetahui perbandingan metode persalinan dengan gambaran CD4 ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016.
1.4 MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan:
1. Bagi peneliti untuk menambah pengetahuan mengenai HIV/AIDS pada ibu hamil di RSUP HAM.
2. Bagi pihak rumah sakit diharapkan dapat memberikan informasi untuk mengetahui jumlah kasus ibu hamil dengan HIV/AIDS pada tahun 2012- 2016.
3. Bagi tenaga kesehatan diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi
informasi mengenai karakteristik ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP
HAM tahun 2012-2016.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan patogen yang menyerang sistem imun manusia, terutama semua sel yang memiliki penanda CD4 di permukaannya, sementara acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan suatu kondisi imunosupresif yang berkaitan erat dengan berbagai infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, serta manifestasi neurologis tertentu akibat infeksi HIV (Marcelena dan Rengganis, 2014).
2.2 ETIOLOGI
HIV merupakan virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk dalam subfamili lentivirus dari famili retrovirus. Struktur HIV dapat dibedakan menjadi dua tipe:
HIV-1 yang menyebar luas ke seluruh dunia dan HIV-2 yang hanya ada di Afrika Barat dan beberapa negara Eropa (Marcelena dan Rengganis, 2014).
2.3 EPIDEMIOLOGI
Data UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) tahun 2015 menunjukkan angka kejadian HIV di Indonesia mencapai 690.000 kasus.
Prevalence Rate pada dewasa usia 15-49 tahun adalah 0,5%. Dewasa usia >15 tahun dengan HIV mencapai 680.000 kasus. Perempuan usia >15 tahun dengan HIV sekitar 250.000 kasus. Anak usia 0-14 tahun dengan HIV sekitar 17.000 kasus.
Kematian disebabkan oleh AIDS terdapat 35.000 kasus. Anak yatim piatu berusia
0-17 tahun dengan HIV sekitar 110.000 kasus (Cho, 2015).
2.4 PATOGENESIS
HIV menyerang sel-sel dengan reseptor CD4, terutama limfosit T dan makrofag, namun juga menginfeksi sel lainnya, seperti megakariosit, epidermal Langerhans, dendrit perifer, dendrit folikuler, mukosa rektal, mukosa saluran cerna, sel serviks, sel trofoblas, cluster of differentiation 8 (CD8), sel retina, dan epitel ginjal (Marcelena dan Rengganis, 2014).
HIV memiliki struktur glycoprotein 120 (Gp 120) yang akan berikatan dengan reseptor CD4. Ikatan tersebut diperkuat oleh ikatan dengan koreseptor sel inang.
Ikatan dengan koreseptor dibutuhkan untuk penggabungan virus dengan membran sel agar virus dapat masuk ke dalam sel inang. Setelah berikatan dengan kuat, terjadilah fusi membran virus dan seluruh komponen HIV akan masuk ke dalam sitoplasma sel inang, kecuali selubungnya (Marcelena dan Rengganis, 2014).
Di dalam sel inang, single-stranded ribonucleic acid (ssRNA) virus akan mengalami proses transkripsi dengan perantara enzim reverse transcriptase hingga terbentuk seuntai complementary deoxyribo nucleat acid (cDNA). Setelah itu, deoxyribo nucleat acid (DNA) yang terbentuk akan pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel inang dan menyisip ke dalam DNA sel inang dengan bantuan enzim integrase, yang disebut juga sebagai provirus. Provirus tinggal dalam keadaan replikasi yang sangat lambat, tergantung pada aktivitas dan diferensiasi sel inang yang terinfeksi. Sampai suatu saat, terjadilah suatu stimulasi yang dapat memicu terjadinya replikasi virus dengan kecepatan tinggi, seperti pengaruh beberapa sitokin proinflamatorik (Marcelena dan Rengganis, 2014).
Provirus yang terintegrasi dalam DNA sel target akan ikut proses transkripsi sel
inang. Hasil transkripsi tersebut memiliki dua peran, yaitu sebagai RNA genom
yang nantinya tergabung dalam virion, dan sebagai messenger ribonucleic acid
(mRNA) yang menyandi protein-protein virus tersebut akan menjadi virus HIV
yang baru (Marcelena dan Rengganis, 2014).
7
Cara infeksinya transmisi vertikal sebagai berikut:
1. Ibu hamil dengan HIV tanpa terapi ARV, HIV akan menginfeksi plasenta melalui akses hematogen.
2. Gp120 pada HIV dari ibu hamil akan mengikat dengan reseptor CD4 pada sel trofoblas, makrofag, jaringan endothelial di plasenta.
3. Viral transcytosis terjadi ketika sel terinfeksi HIV berkontak dengan trophoblast barrier.
4. HIV akan melalui trophoblast barrier ke sirkulasi janin dengan endocytosis.
(Nanjul, 2011).
2.5 PATOFISIOLOGI
Gambar 2.1 Perjalanan alamiah infeksi HIV dan penyakit yang ditimbulkan.
Sesudah HIV memasuki tubuh seseorang, virus mulai mereplikasi diri dalam
sel orang tersebut. Virus HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan
menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya
antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-
12 minggu dan disebut masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien
sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan
laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi
akut pada masa infeksius ini, di mana gejala dan tanda yang biasanya timbul adalah:
demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk. Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap asimtomatik untuk jangka waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Namun orang tersebut dapat menularkan infeksinya kepada orang lain. Kita hanya dapat mengetahui bahwa orang tersebut terinfeksi HIV dari pemeriksaan laboratorium antibodi HIV serum. Sesudah jangka waktu tertentu, yang bervariasi dari orang ke orang, virus memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan sel limfosit T CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya tahan tubuh yang progresif. Progresivitas tergantung pada beberapa faktor seperti: usia kurang dari 5 tahun atau di atas 40 tahun, infeksi lainnya, dan faktor genetik. Infeksi, penyakit, dan keganasan dapat terjadi pada individu yang terinfeksi HIV. Penyakit yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh pada orang yang terinfeksi HIV, misalnya infeksi tuberkulosis (TB), herpes zoster (HSV), oral hairy cell leukoplakia (OHL), oral candidiasis (OC), papular pruritic eruption (PPE), pneumocystis carinii pneumonia (PCP), cryptococcal meningitis (CM), retinitis cytomegalovirus (CMV), dan mycobacterium avium (MAC) (Kementerian Kesehatan RI,2012).
2.5.1 PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI
Ada tiga faktor utama untuk menjelaskan faktor resiko penularan HIV dari ibu ke bayi:
1. Faktor Ibu 2. Faktor Bayi
3. Faktor Obstetrik (Kementerian Kesehatan RI, 2011)
9
Tabel 2.1 Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi.
(Kementerian Kesehatan RI, 2012)
Faktor Ibu Faktor Bayi Faktor Obstetrik
Kadar HIV (viral load) Prematuritas & berat bayi saat lahir
Jenis persalinan
Kadar CD4 Lama menyusui Lama persalinan
Status gizi saat hamil Luka di mulut bayi Adanya ketuban pecah dini
Penyakit infeksi saat hamil Tindakan episiotomi,
ekstraksi vakum dan forseps Masalah di payudara
2.5.1.1 FAKTOR IBU
Faktor penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kadar HIV di darah ibu pada saat persalinan dan kadar HIV di air susu ibu (ASI) ketika ibu menyusui bayinya.
Setelah terinfeksi HIV 1-2 minggu, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuhnya. Kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta kopi/ml darah terjadi 3–6 minggu setelah terinfeksi. Setelah beberapa minggu, kadar HIV mulai berkurang dan relatif terus rendah selama beberapa tahun pada fase asimptomatik. Ketika stadium AIDS, tanda-tanda gejala AIDS mulai muncul, kadar HIV kembali meningkat. Cukup banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang kadar HIV-nya sangat rendah sehingga menjadi sulit untuk dideteksi di dalam darah (<50 kopi RNA/ml). Ini terjadi pada ODHA yang telah minum obat ARV secara teratur dengan benar.
Resiko penularan HIV sangat kecil jika kadar HIV rendah (<1.000 kopi RNA/ml), sementara jika kadar HIV >100.000 kopi RNA/ml, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tinggi. Resiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada saat persalinan (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Biasanya, ibu hamil yang memulai terapi antiretroviral (ART) di akhir persalinan
dengan virus load yang tinggi tampaknya kurang mungkin untuk mencapai virus
supresif (Myer dan Phillips, 2016). Dengan demikian, berbagai upaya harus
dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada ibu yang sedang hamil
dan menyusui, serta menjaga kondisi kesehatan dan nutrisinya selama masa
menyusui. Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 <350 memiliki
resiko untuk menularkan HIV ke bayinya jauh lebih besar dibandingkan ibu dengan
CD4 >500. Risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat jika ibu
memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan vitamin dan mineral. Jika ibu menderita infeksi menular seksual (IMS) maka kadar HIV akan meningkat, sehingga meningkatkan resiko penularan HIV ke bayi. Malaria juga meningkatkan resiko penularan karena parasit malaria merusak plasenta sehingga memudahkan HIV menembus plasenta untuk menginfeksi bayi. Sifilis dapat ditularkan dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Resiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat adanya masalah pada payudara ibu, seperti mastitis, abses dan luka di puting payudara. Sebagian besar masalah payudara dapat dicegah dengan teknik menyusui yang baik (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Selain itu, ibu hamil yang terinfeksi HIV mempunyai resiko tinggi untuk memiliki bayi dengan berat badan rendah atau bayi dengan persalinan preterm dibandingkan dengan perempuan yang tidak terinfeksi HIV (Xiao dan Zhou, 2015). Ibu hamil dengan HIV berusia 23-30 tahun yang melahirkan bayi dengan berat badan rendah adalah lebih tinggi (Jao dan Kacanek, 2017).
2.5.1.2 FAKTOR BAYI
Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah lebih rentan
untuk tertular HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi tersebut belum
berkembang baik. Sebuah studi di Tanzania menunjukkan bahwa bayi yang
dilahirkan sebelum 34 minggu memiliki resiko tertular HIV yang lebih tinggi pada
saat persalinan dan masa-masa awal kelahiran. Seorang bayi dari ibu HIV positif
bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan, tetapi
mungkin akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat resiko
penularan HIV melalui pemberian ASI. Resiko penularan melalui ASI akan lebih
besar pada bayi yang baru lahir. Antara 50–70% dari semua penularan HIV melalui
ASI terjadi pada usia 6 bulan pertama bayi. Setelah tahun kedua usia bayi, resiko
penularan menjadi lebih rendah. Semakin lama pemberian ASI, akan semakin besar
kumulatif resiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada usia 5 bulan pertama
pemberian ASI diperkirakan resiko penularan sebesar 0,7% per bulan. Antara 6–12
11
bulan, resiko sebesar 0,5% per bulan dan antara 13–24 bulan, resiko bertambah lagi sebesar 0,3% per bulan. Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat mengurangi resiko bayi terinfeksi HIV (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Selain itu, HIV-exposed, uninfected children (HEU) memiliki pertumbuhan awal yang lebih rendah daripada HIV-unexposed, uninfected children (HUU). Jadi, intervensi ibu hamil dan bayi harus ditargetkan untuk meningkatkan pertumbuhan anak-anak HUE (Rosala-Hallas dan Barlett, 2017).
2.5.1.3 FAKTOR OBSTETRIK
Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan, karena saat persalinan tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya koneksi antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika plasenta terinfeksi. Selain itu, saat persalinan bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi selama persalinan adalah sebagai berikut:
1. Jenis persalinan: per vaginam atau per abdominal/SC (sectio caesaria).
2. Semakin lama proses persalinan, resiko penularan HIV dari ibu ke bayi semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu.
3. Faktor lain yang meningkatkan resiko penularan selama proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forseps dan tindakan episiotomi.(Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Banyak tenaga kesehatan berasumsi bahwa semua bayi yang dilahirkan oleh ibu
HIV positif pasti akan terinfeksi HIV, karena darah bayi menyatu dengan darah ibu
di dalam kandungan. Ternyata, sirkulasi darah janin dan ibu dipisahkan di plasenta
oleh beberapa lapisan sel. Oksigen, zat makanan, antibodi dan obat-obatan memang
dapat menembus plasenta, tetapi HIV biasanya tidak dapat menembusnya. Plasenta
justru melindungi janin dari infeksi HIV. Namun, jika plasenta rusak, maka virus
bisa menembus plasenta, sehingga terjadi penularan HIV ke bayi. Penularan HIV
dari ibu ke bayinya pada umumnya terjadi pada saat persalinan. Resiko penularan tersebut dapat ditekan bila dilakukan program intervensi PMTCT terhadap ibu hamil HIV positif. Resiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar antara 25%–
45% dapat ditekan menjadi hanya sekitar 5%–2%. Bahkan di negara maju, penekanan resiko penularan hingga <1%. (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.5.2 WAKTU DAN RESIKO PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK Pada saat hamil, plasenta melindungi janin dari infeksi HIV. Tetapi, jika terjadi kerusakan pada plasenta, maka HIV bisa menembus plasenta, sehingga terjadi penularan HIV dari ibu ke anak. Penularan HIV dari ibu ke anak pada umumnya terjadi pada saat persalinan dan pada saat menyusui. Resiko penularan HIV pada ibu yang tidak mendapatkan penanganan PMTCT saat hamil, bersalin, dan menyusui sebagai berikut:
Tabel 2.2 Waktu dan resiko penularan HIV dari ibu ke anak.
(Kementerian Kesehatan RI, 2012)
Waktu Resiko
Selama hamil 5-10%
Bersalin 10-20%
Menyusui (ASI) 5-20%
Resiko penularan keseluruhan 20-50%
13
2.6 MANIFESTASI KLINIS
Stadium klinis HIV/AIDS untuk remaja dan dewasa dengan infeksi HIV terkonfirmasi menurut World Health Organization (WHO):
1. Stadium 1 (asimtomatis)
• Asimtomatis
• Limfadenopati generalisata 2. Stadium 2 (ringan)
• Penurunan berat badan <10%
• Manifestasi mukokutaneus minor: dermatitis seboroik, prurigo, onikomikosis, ulkus oral rekurens, keilitis angularis, erupsi papular pruritik
• Infeksi herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
• Infeksi saluran napas atas berulang: sinusitis, tonsilitis, faringitis, otitis media
3. Stadium 3 (lanjut, advanced)
• Penurunan berat badan >10% tanpa sebab jelas
• Diare tanpa sebab jelas >1 bulan
• Demam berkepanjangan (suhu >36,7C, intermiten/konstan) >1 bulan
• Candidiasis oral persistent
• Oral hairy leukoplakia
• Tuberkulosis paru
• Infeksi bakteri berat : pneumonia, piomiositis, empiema, infeksi tulang/sendi, meningitis, bakteremia
• Stomatitis / gingivitis / periodontitid ulseratif nekrotik akut
• Anemia (Hb<8g/dL) tanpa sebab jelas, neutropenia (< 0,5x10
9/L)
tanpa sebab jelas, atau trombositopenia kronis (<50x10
9/L) tanpa
sebab yang jelas
4. Stadium 4 (berat, severe)
• HIV wasting syndrome
• Pneumonia akibat pneumocystis carinii
• Pneumonia bakterial berat rekuren
• Toksoplasmosis serebral
• Kriptosporodiosis dengan diare >1 bulan
• Sitomegalovirus (cytomegalovirus, CMV) pada orang lain hati, limfa, atau kelenjar getah bening
• Infeksi herpes simpleks mukokutan ( >1 bulan) atau viseral
• Leukoensefalopati multifokal progresif
• Mikosis endemik diseminata
• Kandidiasis esofagus, trakea, atau bronkus
• Mikrobakteriosis atipik, diseminata, atau paru
• Septikemia salmonella non-tifoid yang bersifat rekuren
• Tuberkulosis ekstrapulmonal
• Limfoma atau tumor padat terkait HIV
✓ Sarkoma kaposi
✓ Ensefalopati HIV
✓ Kriptokokosis ekstrapulmoner termasuk meningitis
✓ Isosporiasis kronik
✓ Karsinoma serviks invasif
✓ Leismaniasis atipik diseminata
• Nefropati terkait HIV simtomatis atau kardiomiopati terkait HIV
simtomatis (Marcelena dan Rengganis, 2014).
15
2.7 DIAGNOSIS
2.7.1 STRATEGI PEMERIKSAAN
Prosedur pemeriksaan diagnostik HIV menggunakan metode strategi 3 yaitu pemeriksaan tes HIV secara serial dengan menggunakan tiga reagen yang berbeda.
Tes HIV yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan adalah pemeriksaan dengan tiga reagen Rapid tes HIV. Namun untuk sarana kesehatan yang memiliki fasilitas yang lebih baik, tes HIV bisa dikonfirmasi dengan pemeriksaan enzyme-linked immunsorbent assay (ELISA) (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Gambar 2.2 Alur diagnosis HIV.
(Kementerian Kesehatan RI, 2012)
2.7.2 PEMERIKSAAN AWAL INFEKSI HIV DI PARKLAND HOSPITAL Di Parkland Hospital, pemeriksaan awal ibu hamil yang terinfeksi HIV mencakup:
✓ Survei laboratorium pranatal baku yang mencakup kreatinin serum, hemogram, dan penapisan bakteriuria.
✓ Kuantifikasi RNA HIV plasma “viral load” dan hitung limfosit T CD4 serta uji resistensi antiretrovirus.
✓ Kadar transaminase hati serum.
✓ Penapisan untuk HSV-1 dan HSV-2, sitomegalovirus, toksoplasmosis, dan hepatitis C
✓ Foto toraks basal
✓ Uji kulit tuberkulosis
✓ Evaluasi kebutuhan untuk vaksin pneumokokus, hepatitis B, dan influenza
✓ Evaluasi sonografik untuk memastikan usia gestasi (Cunningham dan Leveno, 2012).
2.7.3 STRATEGI TES HIV CEPAT PADA IBU HAMIL DALAM PERSALINAN
Jika HIV cepat dalam persalinan dan pelahiran positif, maka petugas kesehatan yang bersangkutan perlu melaksanakan langkah-langkah berikut:
1. Beritahu ibu bersangkutan bahwa ibu menderita infeksi HIV dan bahwa neonatusnya juga mungkin terpajan.
2. Jelaskan bahwa hasil tes cepat bersifat pendahuluan dan bahwa terdapat
kemungkinan hasil positif-palsu.
17
3. Yakinkan bahwa sedang dilakukan tes kedua untuk memastikan hasil tes cepat yang positif tersebut.
4. Untuk mengurangi resiko penularan ke bayi, ibu yang bersangkutan perlu segera diberi profilaksis ARV tanpa menunggu hasil uji konfirmasi.
5. Setelah melahirkan, hentikan ART tersebut sambil menunggu hasil uji konfirmasi.
6. Beritahu ibu yang bersangkutan bahwa ibu harus menunda menyusui sampai hasil uji konfirmasi tersedia karena dia tidak boleh menyusui bayinya jika dia terinfeksi HIV.
7. Beritahu dokter anak yang menangani tentang hasil uji ibu yang positif sehingga mereka dapat memberikan profilaksis neonatus yang sesuai (Cunningham dan Leveno, 2012).
2.7.4 DIAGNOSIS INFEKSI HIV PADA BAYI
Tidak mudah menegakkan diagnosis infeksi HIV pada bayi, tantangannya adalah sebagai berikut:
1. Penularan HIV pada bayi dapat terjadi tidak hanya selama masa kehamilan dan saat bersalin, namun juga dapat terjadi pada saat menyusui.
2. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai menegakkan diagnosis HIV pada bayi sedini mungkin adalah pemeriksaan yang dapat menemukan HIV dalam tubuh seorang bayi, namun tes seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum secara luas tersedia di Indonesia.
3. Antibodi terhadap HIV dari ibu ditransfer melalui plasenta selama kehamilan.
Semua bayi yang lahir dari ibu HIV positif bila diperiksa antibodi HIV, hasilnya
akan positif. Akan tetapi HIV tidak selalu ditransfer. Antibodi HIV dari ibu ini
berada pada darah bayi paling lama sampai 18 bulan, sebaliknya bayi yang
terinfeksi akan memproduksi antibodi sendiri. Bayi yang berusia <18 bulan jika
dilakukan pemeriksaan antibodi, hasilnya dapat positif palsu. Meskipun secara teoritis kita dapat menunda diagnosis HIV hingga bayi berusia 18 bulan, tindakan ini tidak bijaksana karena perjalanan penyakit akibat HIV pada bayi sering kali berat pada saat bayi berusia <12 bulan, dengan angka kematian mencapai 50%.
4. Pemeriksaan diagnostik HIV yang dilakukan di Indonesia adalah dengan Rapid tes HIV dan ELISA dengan hasil tes positif pada tiga reagen yang berbeda. Sebuah tantangan untuk kita semua agar mampu melakukan diagnosis HIV secara dini pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, sehingga angka kematiannya dapat ditekan (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.8 PENATALAKSANAAN SELAMA KEHAMILAN Tatalaksana Umum (Kementerian Kesehatan RI,2013)
• Rujuk ibu dengan HIV ke rumah sakit.
Tatalaksana HIV pada kehamilan sebaiknya dilakukan oleh dokter yang ahli mengenai HIV, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, bidan yang ahli, dan dokter spesialis anak.
• Periksa hitung CD4 dan viral load untuk menentukan status imunologis dan mengevaluasi respons terhadap pengobatan.
Tatalaksana Khusus (Kementerian Kesehatan RI,2013)
• Terapi antiretroviral
Berikan ARV segera kepada semua ibu hamil dengan HIV, tanpa harus mengetahui nilai CD4 dan stadium klinisnya terlebih dahulu, dan dilanjutkan seumur hidup.
Rekomendasi pengobatan sesuai situasi klinis ibu dapat dilihat di tabel berikut:
19
Tabel 2.3 Rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV dan ARV profilaksis pada bayi.
(Kementerian Kesehatan RI,2012)
Keterangan:
• NVP: Nevirapin, PI: Protease Inhibitors, EFV: Efavaren, AZT: Zidovudine, 3TC:
Lamivudine, TDF: Tenofovir, FTC: Emtriva
• Penggunaan Nevirapin (NVP) pada perempuan dengan CD4 >250 sel/mm3 atau yang tidak diketahui jumlah CD4-nya dapat menimbulkan reaksi hipersensitif
• Efavirens tidak boleh diberikan pada ODHA hamil trimester 1 karena teratogenik
Tabel 2.4 Pilihan persalinan.
(Kementerian Kesehatan RI,2013)
Persalinan Per Vaginam Persalinan Per Abdominam
Syarat: Syarat:
• Pemberian ARV mulai pada <14 minggu (ART >6 bulan)
• Ada indikasi obstetrik
• Virus load <1000 kopi/ul • Virus load: >1000 kopi/ul
• Pemberian ARV dimulai pada usia kehamilan >36 minggu
Pilihan persalinan juga ditentukan oleh jumlah CD4. Jika jumlah CD4 <350, ibu hamil direkomendasi persalinan per abdominam. Jika jumlah CD4 >350, ibu hamil boleh menggunakan persalinan per vaginam. Namun, resiko penularan dari ibu ke bayi pada persalinan per vaginam adalah lebih tinggi (20-25%) dibandingkan dengan persalinan per abdominam (Rcog, 2015). Pilihan terapi yang direkomendasikan untuk ibu hamil HIV positif adalah terapi menggunakan tiga obat kombinasi (2NRTI+1NNRTI). Seminimal mungkin hindarkan 3NRTI.
Regimen yang direkomendasikan adalah sebagai berikut: (Kementerian Kesehatan RI, 2011)
Tabel 2.5 Rekomendasi terapi ARV pada ibu hamil dengan HIV dan bayi.
(Kementerian Kesehatan RI, 2011) Ibu
AZT + 3TC + EVP Jika ARV diberikan pada trimester 2 atau usia kehamilan ≥ 14 minggu
TDF + 3TC + NVP Jika ibu anemia Hb<8gm%) TDF + 3TC + EVP Jika ibu anemia Hb<8gm%) Bayi
AZT 4mg/KgBB, 2X/hari, mulai hari 1 hingga 6 minggu
Gambar 2.3 Alur pemberian terapi ARV pada ibu hamil.
(Kementerian Kesehatan RI, 2012)
21
Protokol pemberian obat ARV untuk ibu hamil HIV positif adalah sebagai berikut: (Kementerian Kesehatan RI, 2011)
▪ Indikasi pemberian ARV adalah sama seperti protokol pemberian ARV pada Pedoman Terapi ARV 2010.
▪ Untuk perempuan yang status HIV-nya diketahui sebelum kehamilan, saat hamil kita lihat kondisi klinisnya, jika ada indikasi untuk segera diberikan ARV, maka kita berikan terapi ARV. Namun jika tidak ada indikasi untuk diberikan ARV, pemberian ARV ditunggu hingga usia kehamilannya 14 minggu. Regimen ARV yang diberikan adalah ARV yang sama saat sebelum hamil.
▪ Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sebelum usia kehamilannya 14 minggu, jika ada indikasi untuk segera diberikan ARV, maka kita berikan terapi ARV. Namun jika tidak ada indikasi untuk diberikan ARV, pemberian ARV ditunggu hingga usia kehamilannya 14 minggu. Regimen ARV yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu.
▪ Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui pada usia kehamilan ≥14 minggu, segera diberikan ARV. Regimen ARV yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.8.1 OBAT-OBAT DALAM KEHAMILAN DAN PERSALINAN Tujuan pemilihan obat pada ibu hamil adalah untuk
• Hindari makanan minuman dan zat yang tidak diperlukan oleh janin dalam pertumbuhan, misalnya alkohol, obat sedative, atau jamu-jamu tradisional yang belum teruji.
• Hindari pemberian obat polifarmaka, terutama bila pemberian dalam waktu yang lama.
• Pergunakan pedoman penggunaan obat resmi dan daftar obat-obat yang
aman demikian pula pemberian obat-obat terbatas atau yang tidak
diperbolehkan pada ibu hamil (Saifuddin, 2012).
Tabel 2.6 Selected drugs with significant adverse effects on the fetus.
(Jack, 2017)
Drug Trimester Effect
ACEI 1,2,3 Renal damage
TCAs 3 Neonatal withdraw syndrome
Barbiturat 1,2,3 Neonatal dependence
Carbamazepin 1 Neural tube defects
Cocaine, Tamoxifen 1,2,3 Risk of abortion
Ethanol 1,2,3 Fetal alcohol syndrome
Iodine 1,2,3 Congenital goiter,
hypothyroidism
Lithium 1 Increased ICP
Tobacco 1,2,3 Intrauterine growth,
retardation
Tetracycline 1,2,3 Discoloration of teeth and
altered bone growth
Thalidomide & DES 1 Limb malformation
Warfarin 1
2 3
Alters respiratory tract formation
CNS malformation Risk of bleeding ACEI: Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor
TCAs: Tricyclic Antidepressants
2.9 PENCEGAHAN
2.9.1 PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU HAMIL HIV POSITIF KE BAYI (PMTCT)
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak yang Komprehensif
Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif meliputi layanan pra
persalinan, pasca persalinan serta kesehatan anak. Pelayanan kesehatan ibu dan
anak bisa menjadi upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi bagi seorang
ibu hamil. Pemberian informasi pada ibu hamil dan suaminya akan meningkatkan
kesadaran dan kewaspadaan mereka tentang kemungkinan adanya resiko penularan
HIV diantara mereka. Harapannya, dengan kesadarannya sendiri mereka akan
sukarela melakukan konseling dan tes HIV. Berbagai bentuk layanan yang
diberikan klinik kesehatan ibu dan anak, seperti: imunisasi untuk ibu, pemeriksaan
IMS terutama sifilis, pemberian suplemen zat besi, dapat meningkatkan status
kesehatan semua ibu hamil, termasuk ibu hamil HIV positif. Hendaknya klinik
23
kesehatan ibu dan anak juga menjangkau dan melayani suami sehingga terdapat keterlibatan aktif para suami dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2. Konseling dan Tes HIV
Layanan konseling dan tes HIV sukarela atau voluntary counseling and testing (VCT) merupakan komponen penting dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Tes darah adalah cara untuk mengetahui status HIV seseorang.
Prosedur pelaksanaan tes darah didahului dengan konseling sebelum dan sesudah tes. Jika status HIV sudah diketahui, untuk ibu dengan status HIV positif dilakukan intervensi agar ibu tidak menularkan HIV kepada bayi yang dikandungnya. Untuk yang HIV negatif sekalipun masih dapat berkontribusi dalam upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi, karena dengan adanya konseling perempuan tersebut akan semakin paham tentang bagaimana menjaga perilakunya agar tetap berstatus HIV negatif. (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Konseling memiliki dampak positif pada pengetahuan, sikap dan praktik ibu hamil terhadap pengobatan dan konseling dapat mendorong pengobatan yang aman selama kehamilan (Devkota dan Khan, 2017).
3. Pemberian Obat Antiretroviral
Pada ODHA dewasa, penentuan saat yang tepat memulai terapi ARV selain dengan
menggunakan stadium klinis, diperlukan pemeriksaan CD4. Namun pada kebijakan
PMTCT 2011, ARV diberikan kepada semua ibu hamil HIV positif tanpa harus
memeriksakan kondisi CD4-nya lebih dahulu. Penentuan stadium HIV/AIDS pada
ibu hamil dapat dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien dan dengan atau tanpa
pemeriksaan CD4. CD4 untuk ibu hamil positif HIV digunakan untuk memantau
pengobatan. Pemberian ARV pada ibu hamil HIV positif dapat mengoptimalkan
kondisi kesehatan ibu dengan cara menurunkan kadar HIV serendah mungkin. Data
yang tersedia menunjukkan bahwa pemberian ARV kepada ibu selama kehamilan
dan dilanjutkan selama menyusui adalah intervensi yang paling efektif untuk
kesehatan ibu dan juga mampu mengurangi resiko penularan HIV dan kematian
bayi pada kelompok ibu hamil dengan resiko tinggi (Kementerian Kesehatan RI,
2011). Namun, resiko penularan meningkat setelah ART PMTCT berhenti pada
enam bulan pada masa kehamilan, yang mendukung WHO rekomendasi bahwa ART adalah untuk seumur hidup (Bispo dan Chikhungu, 2017).
4. Persalinan yang Aman
Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah mendapatkan konseling berdasarkan penilaian dari tenaga kesehatan. Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam maupun per abdominam. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa seksio sesarea akan mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 50% hingga 66% (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
5. Tatalaksana dan Pemberian Makanan pada Bayi
Dalam pemberian informasi dan edukasi, tenaga kesehatan harus menyampaikan adanya resiko penularan HIV melalui pemberian ASI dibandingkan dengan susu formula. Namun juga tidak boleh lupa menerangkan persyaratan untuk dapat diberikan susu formula (AFASS). Susu formula dapat diberikan hanya bila memenuhi persyaratan AFASS, yaitu Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, dan Safe (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
• Acceptable (mudah diterima) berarti tidak ada hambatan sosial budaya bagi ibu untuk memberikan susu formula untuk bayi
• Feasible (mudah dilakukan) berarti ibu dan keluarga punya waktu, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu formula kepada bayi
• Affordable (terjangkau) berarti ibu dan keluarga mampu menyediakan susu formula
• Sustainable (berkelanjutan) berarti susu formula harus diberikan setiap hari selama usia bayi dan diberikan dalam bentuk segar, serta suplai dan distribusi susu formula tersebut dijamin keberadaannya
• Safe (aman penggunaannya) berarti susu formula harus disimpan, disiapkan dan
diberikan secara benar dan higienis (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
25
2.9.2 PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI BAGI PETUGAS KAMAR BERSALIN
1. Gunakan gaun, sarung tangan dan masker kedap air dalam menolong persalinan
2. Cuci tangan setiap selesai menolong penderita AIDS
3. Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang infeksius
4. Hisap lendir bayi dengan menggunakan mesin penghisap
5. Bila curiga adanya kontaminasi, lakukan konseling dan periksa antibodi terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis
• Perawatan pasca persalinan perlu memperhatikan kemungkinan penularan melalui luka episiotomi ataupun luka SC
• Pengelolaan bayi sebaiknya oleh dokter anak
• Perawatan ibu dan bayi tidak dipisahkan
• Dilarang pemberian ASI
• Jangan lakukan sirkumsisi pada bayi
• Perawatan tali pusat harus dengan cermat
• Immunisasi dengan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti tidak
terinfeksi HIV (Tobing dan Nasution, 2014).
2.10 KOMPLIKASI
HIV memiliki efek buruk pada profil lipid dan resiko kardiovaskular pada pasien HIV positif. Jadi, pasien harus dipantau secara ketat dengan intervensi gaya hidup yang sehat dan lipid-lowering agents (Uysal dan Basoglu, 2017). Selain itu, infeksi sistem saraf pusat menjadi parah pada pasien dengan imunosupresif. Contoh infeksi sistem saraf pusat adalah cerebral toxoplasmosis, aspergillosis, cryptococcal meningitis dan tuberculous meningitis (Sonneville dan Magalhaes, 2017). Meskipun terapi ARV efektif dengan penekanan virologi, kelainan neurokognitif terkait HIV, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, kelainan tulang dan keganasan non-HIV tetap menjadi komplikasi utama yang terkait dengan infeksi HIV (Yoshimura, 2017). Kanker paru-paru merupakan komplikasi yang terkait dengan infeksi HIV kronis. Jadi penghentian merokok dan deteksi dini dengan CT (Computerized Tomography) di dada cenderung menguntungkan perokok yang terinfeksi HIV (Sigel dan Makinson, 2017).
Tabel 2.7 Severe and life-threatening complications of antiretroviral drugs.
(Peter dan Marston, 2013).
27
2.11 KERANGKA TEORI
Gambar 2.4 Kerangka teori penelitian.
Penularan HIV dari Ibu ke Bayi ( MTCT )
Faktor Bayi Faktor Ibu Faktor Obstetrik
Transmisi Vertikal
Ibu Hamil Tanpa Terapi ARV Akses hematogen
Plasenta
Viral transcytosis
CD4 reseptor pada trofoblas
Endocytosis Sirkulasi Janin
Prevention of Mother to Child Transmission
( PMTCT )
Resiko Bayi Terinfeksi HIV
Rendah
2.12
KERANGKA KONSEP
Variabel Dependen
Variabel Independen
Gambar 2.5 Kerangka konsep penelitian.
1. Usia 2. Suku 3. Pendidikan 4. Pekerjaan 5. Jumlah paritas 6. Durasi pemakaian
antiretroviral (ARV) 7. Jumlah CD4
8. Metode persalinan
Ibu Hamil dengan HIV/AIDS
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan desain cross-sectional, dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dengan HIV/AIDS di RSUP HAM tahun 2012-2016.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
3.2.1 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di instalasi rekam medis RSUP HAM. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi ini karena RSUP HAM merupakan rumah sakit pendidikan dan rujukan di Sumatera Utara.
3.2.2 WAKTU PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017 sampai Desember 2017.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
3.3.1 POPULASI
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dengan HIV/AIDS di
RSUP HAM pada tahun 2012-2016.
3.3.2 SAMPEL PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan dengan mengumpulkan seluruh data ibu hamil dengan HIV/AIDS yang datang untuk mendapat perawatan di RSUP HAM. Kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi
1. Ibu hamil dengan HIV/AIDS yang merawat di RSUP HAM pada tahun 2012-2016.
2. Data rekam medis yang meliputi usia, suku, pendidikan, pekerjaan, jumlah paritas, durasi pemakaian antiretroviral (ARV), jumlah CD4 dan metode persalinan.
b. Kriteria eksklusi
1. Rekam medis yang tidak lengkap dan tidak jelas.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data sekunder ibu hamil dengan HIV/AIDS dari kartu status bagian rekam medis. Data sekunder ini diambil dari RSUP HAM pada tahun 2012-2016.
3.5 METODE ANALISA DATA
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan total sampling ibu
hamil dengan HIV/AIDS pada tahun 2012-2016. Data yang diperoleh dari
penelitian ini akan dimasukkan ke dalam komputer. Data yang diperoleh berupa
jumlah ibu hamil dengan HIV/AIDS yang dirawat di RSUP HAM tahun 2012-2016,
distribusi berdasarkan usia, suku, pendidikan, pekerjaan, jumlah paritas, durasi
pemakaian antiretroviral (ARV), jumlah CD4, metode persalinan, dan dianalisis
dengan menggunakan program Statistical Package For The Social Sciences
(SPSS). Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
31
3.6 DEFINISI OPERASIONAL
Tabel 3.1 Definisi operasional.
Variabel Definisi Operasional
Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur
Usia Tahun sejak
dilahirkan hingga saat ibu hamil menjadi pasien
HIV/AIDS di RSUP HAM
Rekam medis Ratio 1) <20 tahun 2) 20-30 tahun 3) >30 tahun
Suku Etnik yang
melekat pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Nominal 1) Jawa 2) Batak 3) Melayu 4) Lain-lain Pendidikan Tingkatan
pendidikan formal terakhir yang dijalani ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Ordinal 1) SD
2) SMP 3) SMA 4)Perguruan
Tinggi Pekerjaan Kegiatan utama
ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Nominal 1) Ibu Rumah Tangga (IRT) 2) Wiraswasta 3) Pegawai
Negeri Sipil (PNS) 4) Lain-lain Jumlah paritas Jumlah kelahiran
sebelumnya pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Ratio 1) 0-1
2) 2-3 3) >3 Durasi
pemakaian antiretroviral (ARV)
Lama pemakaian antiretroviral (ARV) oleh ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Ratio 1) Belum pernah 2) <6 bulan 3) 6-12 bulan 4) >1 tahun
Jumlah CD4 Jumlah CD4 dalam darah
Rekam medis Ratio 1) <350/mm3 2) >350/mm3 3) Tidak ada data Metode
persalinan
Metode
persalinan yang digunakan oleh ibu hamil dengan HIV/AIDS
Rekam medis Nominal 1) Pervaginam 2) Perabdominal:
SC
3) Bersalin di RS lain