• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM KARET ALAM INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM KARET ALAM INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Sejarah Singkat Karet Alam

Tahun 1943 Michele de Cuneo melakukan pelayaran ekspedisi ke Benua Amerika. Dalam perjalanan ini ditemukan sejenis pohon yang mengandung getah.

Pohon-pohon itu hidup secara liar di hutan-hutan pedalaman Amerika yang lebat.

Orang-orang Amerika asli mengambila getah dari tanaman tersebut dengan cara menebangnya. Getah yang diperoleh kemudian dijadikan bola yang dapat dipantul-pantulkan. Bola ini disukai penduduk asli sebagai alat permainan.

Penduduk Indian Amerika juga membuat alas kaki dan tempat air dari getah tersebut. Tanaman yang dilukai batangnya ini diperkenalkan sebagai tanaman Hevea. Pengenalan pohon Hevea membuka langkah awal yang sangat pesat ke arah zaman penggunaan karet untuk berbagai keperluan. Cara pelukaan untuk memperoleh getah karet jauh lebih efisien daripada cara tebang langsung. Selain itu, dengan cara ini tanaman karet bisa diambil getahnya berkali-kali.

The Royal Botanic Gardens di daerah Kew, London, adalah perintis perkembangan karet di benua Asia. Kebun raya yang terkenal di London tersebut mengirimkan seorang utusannya bernama Markham tahun 1860 menuju Amerika Selatan. Markham mendatangi pohon karet di tempat asalnya dan mengambil biji- bijinya untuk ditanam. Selain Markham, H.A. Wickham juga mendapat tugas dari Direktur Kebun Raya Kew, Sir Joseph Hooker untuk mengumpulkan biji-biji tanaman karet dari Brazil. Biji-biji karet dari Brazil inilah yang merupakan cikal bakal berkembangnya tanaman karet di daratan Asia. Setelah berbagai uji coba dilakukan dan menunjukkan kecocokan, perkebunan karet mulai dibuka di beberapa kawasan Asia. Areal tanaman karet di Asia makin lama makin meluas.

Berkembangnya perkebunan karet Asia tersebut merupakan respon dari pesatnya industrialisasi di Eropa yang membutuhkan banyak bahan baku karet. Pesatnya perluasan areal tanaman karet menjadikan negara-negara di Asia, khususnya Asia Tenggara, menjadi produsen karet nomor satu di dunia. Malaysia yang memiliki pusat penelitian karet telah melakukan penelitian sehingga mampu menghasilkan klon-klon baru yang memiliki keunggulan jauh lebih tinggi dalam hal produksi.

Selain itu juga ditemukan bahan kimia stimulan yang dapat merangsang pohon

(2)

karet untuk mengeluarkan lateks atau getah lebih banyak tanpa merusak kondisi tanaman. Akibatnya, produksi karet di negara-negara Amerika Latin yang merupakan asal tanaman karet dapat dilampaui.

Tanaman karet mulai dikenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya karet ditanam di Kebun Raya Bogor untuk dikoleksi. Tahun 1864 perkebunan karet mulai diperkenalkan di Indonesia. Perkebunan karet dibuka oleh Hofland pada tahun tersebut di daerah Pamanukan dan Ciase Jawa Barat. Jenis karet yang ditanam pertama kali adalah karet rambung atau Ficus Elastica. Jenis karet Hevea (Hevea Brasiliensis) baru ditanam tahun 1902 di daerah Sumatera Timur. Jenis ini ditanam di Pulau Jawa pada tahun 1906. Pada masa sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956 Indonesia menjadi penghasil karet alam terbesar di dunia. Kebutuhan karet alam dunia yang besar waktu itu sebagian besar dipasok oleh Indonesia. Pengelolaan kebun karet, perluasan perkebunan karet, peremajaan tanaman-tanaman karet tua tidak dilakukan oleh Indonesia sehingga terjadi penurunan produksi. Oleh karena itu, sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia.

Pada tahun 1963-1973 produktivitas perkebunan karet Indonesia mulai membaik. Peremajaan tanaman, penggunaan pupuk sesuai kebutuhan, pemakaian pestisida, dan penggunaan zat pemacu produksi merupakan penunjang terjadinya peningkatan produksi pada periode ini. Pada tahun 1978 produksi karet kembali meningkat. Pada periode ini, faktor yang memengaruhi peningkatan produksi adalah meluasnya penggunaan klon unggul tanaman karet dan peningkatan harga karet alam yang turut dirasakan sampai ke tingkat petani. Pada periode 80-an hingga sekarang, permasalahan yang ada dalam perkaretan Indonesia adalah rendahnya mutu karet alam Indonesia, sehingga walaupun produksi karet Indonesia tergolong besar namun tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perkaretan dunia. Rendahnya mutu karet alam Indonesia membuat harga jual karet alam di pasaran luar negeri menjadi rendah. Walaupun demikian, bagi perekonomian Indonesia karet alam tetap memberi sumbangan ekonomi yang besar (Tim Penulis PS, 2008).

(3)

4.2 Produksi Karet Alam

Pada dasarnya, industri karet terbagi atas dua jenis yakni karet alam dan karet sintetis. Jenis-jenis karet alam yang dikenal luas adalah bahan olah karet, karet konvensional, lateks pekat, karet bongkah (block rubber), karet spesifikasi teknis (crumb rubber), karet siap olah (tyre rubber) dan karet reklim (reclaimed rubber). Dewasa ini jumlah produksi karet alam dan karet sintetis adalah 1:2, yang artinya jumlah produksi karet alam hanya setengah daripada karet sintetis.

Hal ini dikarenakan sejak PD II beberapa penelitian mengenai karet sintetis dilakukan secara intensif oleh beberapa negara maju dan selanjutnya karet buatan ini diproduksi secara besar-besaran. Lambat laun permintaan terhadap karet sintetis meningkat pesat sehingga mengurangi permintaan karet alam.

Karet sintetis sebagian besar dibuat dengan mengandalkan bahan baku lapisan minyak bumi. Biasanya karet sintetis akan memiliki sifat tersendiri yang khas. Ada jenis yang tahan terhadap panas atau suhu tinggi, minyak, pengaruh udara bahkan ada yang kedap gas. Karet sintetis memiliki kelebihan antara lain tahan terhadap zat kimia dan harganya cenderung dapat dipertahankan. Bila ada pihak yang menginginkan karet sintetis dalam jumlah tertentu, maka biasanya pengiriman atau suplai barang tersebut jarang mengalami kesulitan. Hal seperti ini sulit diharapkan dari karet alam, karena harga dan pasokan karet alam selalu mengalami perubahan, bahkan kadang-kadang bergejolak. Walaupun jumlah produksi dan konsumsi karet alam jauh di bawah karet sintetis, sesungguhnya karet alam belum dapat digantikan oleh karet sintetis karena karet alam memiliki keunggulan-keunggulan yang sulit ditandingi oleh karet sintetis. Keunggulan karet alam antara lain memiliki daya elastis sempurna, memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah, mempunyai daya aus yang tinggi, tidak mudah panas dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan.

Karet alam memiliki beberapa kelemahan dipandang dari sudut kimia maupun bisnis dibanding karet alam, namun karet alam tetap mempunyai pangsa pasar yang baik. Beberapa industri tertentu tetap memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan karet alam, salah satunya adalah industri ban yang merupakan pemakai terbesar karet alam. Beberapa jenis ban seperti ban radial

(4)

walaupun dalam pembuatannya dicampur dengan karet sintetis, tetapi jumlah karet alam yang digunakan tetap besar, yaitu dua kali lipat komponen karet alam untuk pembuatan ban non-radial. Jenis-jenis ban yang besar kurang baik bila dibuat dari bahan karet sintetis yang lebih banyak. Porsi karet alam yang dibutuhkan untuk ban berukuran besar adalah jauh lebih besar. Ban pesawat terbang bahkan dibuat hampir semuanya dari bahan karet alam. Walaupun keberadaan karet sintetis berpengaruh pada perdagangan karet alam, dua jenis karet ini memiliki pasar tersendiri. Karet alam dan karet sintetis tidak akan saling mematikan atau bersaing penuh. Keduanya mempunyai sifat saling melengkapi atau komplementer (Zuhra, 2006).

Sekitar lebih dari 70 persen karet alam dunia digunakan untuk industri ban. Biasanya dalam proses pembuatan ban konvensional, karet alam dengan komposisi sebanyak 24 persen, harus dicampur dengan karet sintetis 19 persen, karet hasil daur ulang 0,3 persen, steel 14 persen, serat buatan 7 persen, carbon black 23 persen dan bahan campuran lainnya sebanyak 13 persen, sehingga didalam ban konvensional 50 persen lebih masih bergantung pada unsur turunan minyak bumi. Seiring dengan keterbatasan minyak bumi dan isu pentingnya pengurangan efek emisi karbondioksida yang timbul dalam proses pembuatan ban berbahan turunan dari minyak bumi, para pembuat ban berlomba-lomba untuk mengurangi bahan turunan dari minyak bumi dalam proses pembuatan ban.

Dengan adanya trend produsen ban untuk memproduksi ban ramah lingkungan jenis green tyres, maka diperkirakan dimasa depan untuk industri ban saja permintaan karet alam akan bertambah sekitar 2-3 kali lipat, sebab kandungan karet alam didalam ban akan menjadi sekitar 60-80 persen.

Produksi karet alam dunia pada tahun 2010 adalah sekitar 10,3 juta ton atau meningkat lebih dari 3,5 persen per tahun selama 10 tahun terakhir (Tabel 6).

Total produksi karet alam Thailand, Indonesia dan Malaysia mencapai 68 persen dari total produksi dunia pada tahun 2010. Sebagai produsen utama karet alam, ketiga negara tersebut memiliki pertumbuhan produksi yang positif selama periode 2000-2010. Indonesia yang merupakan produsen karet alam nomor dua terbesar di dunia dengan produksi setelah Thailand memiliki rata-rata pertumbuhan tertinggi selama periode tersebut yaitu sebesar 5,65 persen per

(5)

tahun. Thailand sebagai kompetitor utama karet alam Indonesia memiliki pertumbuhan yang cukup rendah yaitu 2,27 persen per tahun, dan Malaysia memiliki pertumbuhan produksi karet alam terendah yaitu 1,2 persen per tahun.

Rendahnya pertumbuhan produksi Malaysia disebabkan karena banyaknya tanaman karet yang sudah tidak produktif dan terbatasnya lahan untuk pengembangan karet. Walaupun memiliki pertumbuhan yang lebih rendah daripada Indonesia, Thailand memiliki pangsa produksi yang terbesar dari tahun ke tahun. Pada tahun 2000 pangsa produksi Thailand sebesar 34,7 persen, Indonesia sebesar 22,2 persen, dan Malaysia sebesar 13,7 persen dari total produksi dunia. Pada tahun 2010 pangsa produksi karet alam Thailand menurun menjadi 31,6 persen dan Indonesia meningkat menjadi 26,9 persen dari total produksi dunia.

Tabel 5 Produksi Karet Alam Negara Produsen Utama dan Dunia, 2000-2010

Tahun Produksi (000 ton)

Thailand Indonesia Malaysia Dunia

(1) (2) (3) (4) (5)

2000 2.346 1.501 928 6.762

2001 2.320 1.607 882 7.332

2002 2.615 1.632 890 7.326

2003 2.876 1.798 986 8.005

2004 2.984 2.066 1.169 8.744

2005 2.937 2.271 1.126 8.896

2006 3.137 2.637 1.284 9.706

2007 3.056 2.755 1.200 9.833

2008 3.090 2.751 1.072 10.042

2009 3.164 2.595 857 9.662

2010 3.252 2.770 939 10.291

Pertumbuhan per tahun (%) 2,27 5,65 1,20 3,55 Sumber : International Rubber Study Group (IRSG)

Saat ini Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara produsen karet alam terbesar di dunia. Peringkat pertama ditempati Thailand, sedangkan Malaysia di posisi ketiga. Dari segi areal perkebunannya, Indonesia memiliki hamparan kebun karet terluas di dunia. Menurut catatan Ditjen Perkebunan,

(6)

Departemen Pertanian, sampai tahun 2008 lalu luas areal perkebunan karet Indonesia mencapai sekitar 3,47 juta ha dengan total produksi karet alam sebanyak 2.921.872 ton. Rasio antara volume produksi karet dengan luas areal perkebunan yang ada menunjukkan produktivitas yang masih rendah. Hal ini disebabkan sekitar 85 persen dari total perkebunan karet di Indonesia merupakan perkebunan rakyat (Tabel 7). Menurut beberapa hasil penelitian, produktivitas perkebunan karet rakyat masih sangat rendah, yaitu sekitar 600 - 800 kg per hektar per tahun. Perkebunan rakyat umumnya belum menggunakan bibit karet dari klon-klon unggul, pemeliharaannya masih sederhana, serta banyak tanaman karet yang sudah tua dan rusak. Padahal, di Thailand dengan menggunakan bibit karet dari klon unggul disertai pemeliharaan yang baik, produktivitasnya dapat mencapai 1.500 - 2.000 kg per hektar per tahun.

Tabel 6 Produksi Karet Alam Indonesia menurut Jenis Produsen, 2005-2010

Produsen Produksi (000 ton)

2005 2006 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Perkebunan Rakyat 1.839 2.083 2.190 2.176 2.065 2.207 Perkebunan Pemerintah 210 266 277 294 254 270

Perkebunan Swasta 222 289 288 320 276 293

Total Produksi 2.271 2.638 2.755 2.751 3.040 2.770 Sumber : http://www.gapkindo.org/index.php/en/component/content/article/1-artikel/152- perkebunan-karet-alam-eng.html diunduh tanggal 21 Juli 2011

Di tahun 2005 produksi karet alam dari perkebunan rakyat sebesar 1,8 juta ton meningkat menjadi 2,2 juta ton di tahun 2010, walaupun sempat mengalami penurunan di periode tahun 2007 sampai 2009. Peningkatan produksi karet alam Indonesia disebabkan karena adanya program revitalisasi perkebunan karet alam yang sudah tidak produktif digantikan dengan bibit unggul. Target utama program revitalisasi perkebunan karet adalah melaksanakan peremajaan perkebunan karet uta dan perluasan perkebunan karet rakyat sekitar 60.000-85.000 hektar. Program revitalisasi ini sudah dimulai sejak tahun 2004 dengan fokus utamanya adalah perkebunan karet rakyat. Pasar karet dunia yang semakin baik dengan mulai

(7)

meningkatnya harga karet alam dunia merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia untuk dapat meningkatkan produktivitas perkebunan karetnya sehingga akan meningkatkan devisa negara.

4.3 Konsumsi Karet Alam

Tabel 8 menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun konsumsi karet alam dunia cenderung mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa permintaan karet alam tetap tinggi. Tingginya permintaan karet alam tentunya akan meningkatkan harga karet alam. Tingginya permintaan akan karet alam merupakan peluang besar bagi negara produsen karet alam untuk meningkatkan volume ekspornya.

Tabel 7 Konsumsi Karet Alam menurut Konsumen Terbesar dan Dunia, 2000- 2007

Tahun

Konsumsi (000 ton) Amerika

Serikat Jepang Cina Dunia

(1) (2) (3) (4) (5)

2000 1.193 752 1.080 7.340

2001 972 729 1.215 7.333

2002 1.111 749 1.310 7.556

2003 1.079 784 1.485 7.952

2004 1.144 815 1.630 8.718

2005 1.159 857 2.045 9.200

2006 1.003 874 2.400 9.677

2007 1.018 888 2.550 10.144

Rata-rata Pertumbuhan -1,68 2,44 13,22 3,34

Sumber: Rubber Statistical Bulletin, 2008.

Sampai dengan tahun 2007, konsumsi karet alam Cina sudah melebihi konsumsi karet alam Amerika Serikat dan Jepang. Pertumbuhan konsumsi karet alam di Cina dari tahun 2000 sampai tahun 2007 merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 13,22 persen, disusul oleh Jepang sebesar 2,44 persen, dan Amerika Serikat mengalami pertumbuhan konsumsi yang negatif sebesar -1,68 persen per tahun.

(8)

Pada tahun 2007, konsumsi karet alam Cina menguasai 25,14 persen dari total konsumsi karet alam dunia. Selama ini, sekitar 70 persen kebutuhan karet Cina dipenuhi oleh Thailand. Tingginya permintaan karet alam Cina disebabkan karena Cina mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi (sekitar 10 persen per tahun) yang dipicu oleh adanya proses industrialisasi di negara tersebut.

Pertumbuhan industri Cina yang sangat mengesankan terutama industri otomotif dan perkapalan membuat negara ini membutuhkan komoditas karet dalam jumlah yang besar, sehingga menempatkan Cina sebagai konsumen terbesar karet dunia saat ini. Sementara itu Amerika Serikat, Jepang, Eropa, India dan Korea merupakan konsumen karet alam utama lainnya. Kecenderungan konsumsi karet alam dunia yang dikuasai Cina menandai adanya pergeseran peta konsumsi dari kawasan Amerika-Eropa ke kawasan Asia.

Konsumsi karet alam mengalami penurunan pasca terjadinya krisis global pada akhir tahun 2008. Krisis global terlah menyebabkan melemahnya industri otomotif yang berdampak secara nyata pada penurunan konsumsi karet alam pada negara-negara konsumen utama seperti Amerika Serikat, Jepang dan Cina.

Sampai akhir tahun 2008 konsumsi sedikit mengalami penurunan dibanding tahun 2007 yaitu sebesar 9,7 juta ton dengan tingkat produksi sebesar 9,8 juta ton (IRSG, 2009).

4.4 Ekspor Karet Alam

Dari tahun ke tahun, konsumsi karet alam dunia cenderung lebih tinggi daripada produksi karet alam dunia. Pada tahun 2010 konsumsi karet alam dunia sebesar 10,7 juta ton, lebih tinggi daripada karet alam yang mampu diproduksi oleh seluruh negara produsen karet alam yang hanya sebesar 10,3 juta ton (Tabel 9) menyebabkan terjadinya over demand pasar yang menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya peningkatan harga karet alam di pasar internasional.

Tingginya konsumsi dibanding produksi karet alam merupakan peluang besar bagi negara-negara produsen karet alam untuk meningkatkan volume produksi karet alamnya dan membuka jalur perdagangan dengan negara-negara konsumen karet alam.

(9)

Tabel 8 Produksi dan Konsumsi Karet Alam Dunia, 2000 – 2010

Tahun Produksi (000 ton) Konsumsi (000 ton)

(1) (2) (3)

2000 6.762 7.340

2001 7.332 7.333

2002 7.326 7.556

2003 8.005 7.952

2004 8.744 8.718

2005 8.896 9.200

2006 9.706 9.677

2007 9.833 10.144

2008 10.042 10.173

2009 9.662 9.390

2010 10.291 10.671

Sumber: Natural Rubber Statistics, http://www.lgm.gov.my/nrstat/nrstats.pdf

Ekspor karet alam dunia didominasi oleh negara-negara produsen utama, yaitu Thailand, Indonesia dan Malaysia. Eksportir karet alam utama dunia adalah Thailand, sementara Indonesia adalah eksportir terbesar kedua. Malaysia mengalami penurunan volume ekspor karet alam karena terjadinya perubahan strategi perdagangan karet alam sejak tahun 1980-an dari mengekspor karet alam setengah jadi menjadi pengembangan industri produk barang jadi karet alam dalam negeri. Karet alam yang diproduksi Malaysia saat ini lebih ditujukan untuk memenuhi konsumsi industri dalam negeri. Ekspor karet Malaysia lebih pada produk jadi yang memberikan nilai tambah yang lebih baik daripada ekspor karet alam mentah. Indonesia belum mampu memanfaatkan produk karet alam secara optimal. Dari sekitar 2,9 juta ton produk karet nasional, sebanyak 85 persen diekspor dalam bentuk bahan baku (crumb rubber, sheet, lateks, dan sebagainya).

Hanya sekitar 15 persen atau 435.000 ton produk karet alam yang diserap oleh industri rekayasa di dalam negeri. Dari 435.000 ton produk karet tersebut, sebagian besar (55 persen) diserap oleh industri ban kendaraan bermotor.

Selebihnya diserap oleh industri sarung tangan karet, benang dan kondom (17 persen), alas kaki (11 persen), vulkanisir (11 persen), dan barang-barang karet lainnya (9 persen).

(10)

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Total Amerika Serikat Jepang Cina

Sumber: BPS, 2002-2010

Gambar 7 Volume Ekspor Karet Alam Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang dan Cina, 2002-2010

Sampai dengan tahun 2008, tujuan ekspor utama karet alam Indonesia adalah ke Amerika Serikat dan Jepang. Namun sejak tahun 2009 Cina sudah menggantikan Jepang menjadi importir utama karet alam Indonesia. Gambar 7 menunjukkan fluktuasi volume ekspor karet alam Indonesia selama 9 tahun terakhir dari tahun 2002 sampai tahun 2010. Grafik tersebut terdiri dari total volume ekspor karet alam Indonesia, volume ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat, volume ekspor karet alam Indonesia ke Jepang, dan volume ekspor karet alam Indonesia ke Cina. Ekspor karet alam Indonesia dalam kurun waktu 9 tahun terakhir mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 6,28 persen per tahunnya. Amerika Serikat, Jepang dan Cina sebagai negara tujuan utama karet alam Indonesia secara rata-rata menguasai 56,69 persen dari total volume ekspor karet alam Indonesia. Pertumbuhan ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dari tahun 2002 sampai tahun 2010 adalah sebesar 1,08 persen per tahun, sedangkan Jepang sebesar 7,03 persen per tahun, dan Cina sebesar 38, 42 persen per tahun. Rendahnya pertumbuhan ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat menandai terjadinya kejenuhan pasar Amerika Serikat dimasa mendatang. Oleh karena itu, Indonesia perlu melihat pasar ekspor di negara lain untuk mengatasi kejenuhan pasar ekspor Amerika Serikat.

Tabel 9 menunjukkan dari tahun 2003 sampai pada tahun 2010 jenis SIR (Standart Indonesian Rubber) terus mendominasi ekspor karet alam Indonesia

(11)

hingga mencapai hampir 97 persen dari total ekspor. Dominasi karet alam Indonesia jenis SIR saja menggambarkan rendahnya diversifikasi produk ekspor karet alam Indonesia. Hal ini tentunya akan sangat menentukan pasar ekspor karet alam jenis spesifikasi teknis tersebut. Tipe produk karet alam ini merupakan gambaran komposisi karet alam Indonesia berdasarkan jenis mutu. Berdasarkan tingkat kualitas, maka dapat diurutkan dimana RSS (Ribbed Smoke Sheet) merupakan jenis karet alam yang paling baik, kemudian jenis SIR. Kualitas karet alam ini biasanya didasarkan pada kandungan air dan kotoran di dalam produk tersebut. Semakin baik kualitas mutu karet alam berarti semakin rendah kandungan air dan kotoran dalam komoditi karet tersebut. Jenis produk ekspor karet Indonesia pada tahun 1969 didominasi oleh sit asap atau RSS, tetapi sepuluh tahun kemudian sampai kondisi sekarang didominasi oleh jenis karet spesifikasi teknis/SIR. Penurunan ekspor karet alam Indonesia untuk jenis mutu RSS terkait dengan meningkatnya permintaan industri terhadap jenis karet alam jenis spesifikasi teknis yang lebih siap pakai.

Tabel 9 Jumlah dan Pangsa Ekspor Karet Alam Indonesia berdasarkan Tipe Produk 2003-2010

Tipe Produk

Tahun

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Lateks Pekat

12.526 (0,75)

11.755 (0,63)

4.014 (0,20)

8.334 (0,36)

7.610 (0,32)

8.547 (0,37)

9.147 (0,46)

12.929 (0,55)

RSS 46.165

(2,78)

145.895 (7,78)

334.125 (16,51)

325.393 (14,23)

275.497 (11,45)

137.756 (6,00)

77.040 (3,87)

60.166 (2,56)

SIR 1.589.387 (95,69)

1.684.959 (89,90)

1.674.721 (82,75)

1.952.268 (85,40)

2.121.863 (88,16)

2.148.447 (93,60)

1.905.016 (95,67)

2.276.287 (96,78)

Lainnya 12.842 (0,77)

31.652 (1,69)

10.921 (0,54)

3 (0,00)

1.786 (0,07)

706 (0,03)

60 (0,00)

0 (0,00)

Total 1.660.920 1.874.261 2.023.781 2.285.997 2.406.756 2.295.456 1.991.263 2.351.915 Sumber: BPS, 2003-2010

Keterangan : Angka dalam kurung (..) merupakan pangsa.

Komposisi ekspor karet alam Thailand menurut tipe produknya berbeda kondisi dengan komposisi ekspor karet alam Indonesia. Komposisi ekspor karet alam Thailand lebih banyak didominasi oleh jenis karet alam sit asap atau RSS, kemudian disusul dengan karet spesifikasi teknis sesuai dengan standar karet

(12)

Thailand atau STR (Standard Thailand Rubber), dan selanjutnya adalah lateks.

Tabel 10 menunjukkan komposisi ekspor karet alam Thailand berdasarkan tipe produknya. Pada tahun 2003 Thailand mengekspor paling banyak tipe RSS dengan persentase sebesar 44,67 persen, namun tidak mendominasi ekspor karet alam Thailand. Pada tahun 2003 pangsa karet alam jenis STR tidak berbeda jauh dengan RSS, yaitu sebesar 35,46 persen. Pada tahun 2005 komposisi ekspor karet alam Thailand berubah, dimana jenis karet tipe STR paling banyak diekspor dengan persentase 42,14 persen. Persentase ekspor tipe RSS di tahun 2005 pun tidak terlalu berbeda jauh dibanding tipe RSS (34,99 persen). Dari tahun 2005 hingga tahun 2010, pangsa ekspor karet alam Thailand jenis spesifikasi teknis atau STR adalah yang paling besar, kemudian disusul oleh tipe sit asap atau RSS, dan tipe produk dengan pangsa ekspor terkecil adalah lateks pekat. Komposisi karet alam Thailand yang tidak didominasi oleh tipe tertentu menunjukkan bahwa diversifikasi ekspor karet alam Thailand baik sehingga tidak terlalu tergantung pada satu jenis mutu saja. Kondisi ini memungkinkan tidak terganggunya pendapatan atau devisa dari ekspor karet alam saat terjadi fluktuasi harga di suatu tipe produk karet alam Thailand.

Tabel 10 Jumlah dan Pangsa Ekspor Karet Alam Thailand berdasarkan Tipe Produk 2003-2010

Tipe Produk

Tahun

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Lateks Pekat

408.993 (15,89)

493.081 (18,70)

488.675 (18,56)

555.905 (20,06)

510.489 (18,88)

509.375 (19,04)

595.550 (21,85)

556.050 (19,40)

RSS 1.149.610

(44,67)

1.003.384 (38,05)

920.972 (34,99)

938.984 (33,88)

861.326 (31,86)

796.549 (29,77)

694.510 (25,48)

719.442 (25,10)

STR 912.600

(35,46)

997.952 (37,84)

1.109.327 (42,14)

1.069.345 (38,58)

1.103.848 (40,83)

1.132.135 (42,32)

950.574 (34,87)

1.106.415 (38,60)

Lainnya 102.247 (1,42)

142.679 (3,13)

113.424 (1,39)

207.439 (4,67)

183.099 (3,89)

237.224 (6,17)

485.559 (15,31)

484.540 (14,92)

Total 2.573.450 2.637.096 2.632.398 2.771.673 2.703.762 2.675.283 2.726.193 2.866.447 Sumber: http://www.rubberthai.com/statistic/eng/eng_stat.htm diunduh tanggal 18 Juni 2011 Keterangan : Angka dalam kurung (..) merupakan pangsa.

Gambar

Tabel 8  Produksi dan Konsumsi Karet Alam Dunia, 2000 – 2010
Tabel 9 menunjukkan dari tahun 2003 sampai pada tahun 2010 jenis SIR  (Standart  Indonesian  Rubber)  terus  mendominasi  ekspor  karet  alam  Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Dasar pertimbangan Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan ultra petita adalah (a) alasan filosofis dalam rangka menegakkan keadilan substantif dan prinsip-prinsip kehidupan

Minimalisasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan ( reduce ),

Konsep doa yang terkandung dalam surat al-F ā ti ĥ ah, dapat dipahami dalam tiga hal. Pertama, memuji Allah ketika berdoa. Setiap kali berdoa, seorang hamba hendaknya

Di antara sesuatu yang menarik untuk ditelaah lebih jauh adalah adanya indikasi-indikasi yang realistis bahwa sistem pendidikan pesantren tetap bertahan (eksis) dan relevan,

Surat penugasan dapat berakhir setiap saat bila tenaga paramedis tersebut dinyatakan tidak kompeten untuk melakukan tindakan keperawatan tertentu.Walaupun seorang

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis, tentang Penerapan Manajemen Smescomart Dalam Peningkatan Ekonomi Pesantren Al-Mubarok Mranggen Demak, sebagaimana

Reksa dana merupakan alternatif investasi bagi masyarakat dan kesempatan untuk mendapatkan hasil investasi yang lebih baik dalam jangka waktu tertentu.Reksa dana syariah

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bobot badan itik Magelang jantan dan betina G2, yang merupakan hasil dari penimbangan itik jantan 113 ekor dan