• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
265
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan Hal. 1-1

BA B AB B I I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Provinsi Lampung merupakan provinsi yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera dan merupakan gerbang utama jalur transportasi dari dan ke Pulau Jawa. Dengan posisi yang srategis tersebut, maka pembangunan di wilayah Lampung mempunyai potensi dan peluang yang besar, dengan tantangan dan permasalahan yang lebih komplek dibandingkan daerah lain. Pengembangan dan pemanfaatan potensi dan peluang serta penanganan tantangan dan permasalahan pembangunan memerlukan perencanaan pembangunan yang terarah, terpadu, menyeluruh, sinergis, dan harmonis antar sektor, antar waktu, antar wilayah, dan antar level pemerintahan.

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Undang-undang ini merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggaraan pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah mengamanatkan bahwa perencanaan daerah dirumuskan secara transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan. Adapun perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumberdaya yang ada, dalam rangka meningkatkan

(2)

Pendahuluan Hal. 1-2 kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.

Merujuk kepada peraturan di atas, maka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 merupakan penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan Kepala Daerah pada saat kampanye ke dalam rencana pembangunan jangka menengah. Masa bakti Gubernur/Wakil Gubernur periode 2009-2014 telah berakhir pada tahun 2014 dan selanjutnya Gubernur terpilih Muhammad Ridho Ficardo dan Wakil Gubernur terpilih Bachtiar Basri yang dilantik pada tanggal 2 Juni 2014 menyusun dan menyampaikan RPJMD Provinsi Lampung 2015–2019 yang penetapannya paling lambat 6 (enam) bulan setelah pelantikan, sesuai dengan ketentuan Pasal 15 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung Tahun 2015—

2019 telah dilantik pada tanggal 2 Juni 2014, maka periode RPJMD Provinsi Lampung disusun sesuai dokumen RPJPD Tahun 2005—2025 yaitu tahapan pembangunan lima tahun ketiga periode 2015—2019. Selain itu mengacu kepada mekanisme perencanaan dan penganggaran tahunan yang dimulai pada bulan Januari sampai dengan Desember, maka RPJMD Provinsi Lampung menggunakan periode Tahun 2015—2019.

Penyusunan RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 dilakukan melalui berbagai tahapan analisis data dan informasi hasil pembangunan, serta penelaahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Lampung Tahun 2005–2025. Penyusunan RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 menggunakan 5 (lima) pendekatan, yaitu politik, teknokratik, partisipatif, atas-bawah (top-down), dan bawah-atas (bottom-up).

1.2. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2688;

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

(3)

Pendahuluan Hal. 1-3 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

8. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);

9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);

(4)

Pendahuluan Hal. 1-4 10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

(5)

Pendahuluan Hal. 1-5 Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);

20. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014;

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

23. Keputusan Presiden Nomor 51/P Tahun 2014 Tentang Pengesahan Pengangkatan Gubernur Dan Wakil Gubernur Lampung Masa Jabatan Tahun 2014-2019;

24. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Lampung Tahun 2005-2025;

25. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 Tahun 2 0 1 0 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Lampung Tahun 2009-2029;

(6)

Pendahuluan Hal. 1-6 1.3. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 sebagai dokumen perencanaan pembangunan disusun sebagai satu kesatuan yang utuh dengan dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah, sehingga dalam penyusunannya, harus memperhatikan RPJM Nasional Tahun 2010-2014,

Selanjutnya, RPJMD juga merupakan bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Daerah sehingga RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 disusun dengan berpedoman pada visi, misi dan arah kebijakan yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Lampung Tahun 2005-2025 dan memperhatikan RTRW Provinsi Lampung, terutama dari sisi pola dan struktur tata ruang, sebagai dasar untuk menetapkan lokasi program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di Provinsi Lampung.

Selain berpedoman dan memperhatikan RPJM Nasional, RPJPD dan RTRW, penyusunan RPJMD juga memperhatikan dokumen lainnya seperti Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) dan RTRW Provinsi Bengkulu dan Provinsi Banten.

RPJMD Provinsi Banten

Isu strategis RPJMD 2012—2017

a. Aksesibilitas dan mutu pelayanan pendidikan masyarakat b. Pelayanan kesehatan masyarakat

c. Ketersediaan dan pelayanan infrastruktur d. Penanganan kemiskinan dan pengangguran e. Pananganan bencana alam

(7)

Pendahuluan Hal. 1-7 f. Pengendalian lingkungan hidup

g. Pananganan ketenagakerjaan, pemerintah dan politik h. Pengendalian kependudukan

i. Pemberdayaan ekonomi j. Apresiasi budaya daerah k. Pemerintahan otonom RPJMD Provinsi Bengkulu Isu strategis RPJMD 2010—2015

1. Masih adanya pembangunan sarana dan prasarana yang belum terselesaikan dan belum berfungsi secara optimal;

2. Masih rendahnya produktivitas dan daya saing daerah Produktivitas dan nilai tambah sektor-sektor PDRB masih cukup rendah terutama di sektor pertanian, pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan;

3. Jumlah penduduk miskin masih cukup tinggi. Sampai dengan tahun 2010 angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu masih sebesar 18,59 % sedangkan nasional pada tahun yang sama sebesar 13,5 %;

4. Masih rendahnya jenis dan nilai investasi yang masuk. Investasi dalam 5 tahun ke depan akan diarahkan dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan industri kerakyatan seperti pabrik-parik industri hilir pengolah hasil pertanian, perkebunan dan perikanan;

5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih belum optimal. Pada tahun 2010, proporsi PAD terhadap pendapatan daerah masih sebesar 40%. Artinya ketergantungan pendanaan untuk pembangunan masih cukup bergantung pada Pemerintah Pusat. Sehingga ke depannya masih sangat diperlukan peningkatan PAD terutama melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber PAD;

6. Pembangunan perekonomian rakyat belum dibangun secara komprehensif mulai dari sektor hulu sampai hilir Perlu dikembangkan klaster industri di setiap kabupaten/kota sesuai dengan potensi unggulan masing-masing daerah;

(8)

Pendahuluan Hal. 1-8 7. Sarana dan akses pelayanan pendidikan dan kesehatan belum optimal Persebaran fasilitas pendidikan dan kesehatan belum merata antar kabupaten terutama di kabupaten-kabupaten pemekaran. Masih perlu ditingkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat miskin;

8. Masih banyaknya wilayah yang tergolong tertinggal baik pada tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten. Dari 10 kab/kota di Provinsi Bengkulu, baru 4 kab/kota yang tidak tergolong daerah tertinggal yaitu Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Rejang Lebong);

9. Infrastruktur terutama jalan sentra produksi untuk memperlancar distribusi dan pemasaran produk-produk pertanian belum memadai. Hal ini sangat penting dalam rangka mengurangi ongkos angkut produksi bagi petani, nelayan maupun pengusaha kecil;

10. Kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup masih belum optimal;

11. Perlunya peningkatan kualitas informasi bencana alam serta kapasitas adaptasi dan penanggulangan bencana alam. Kedepannya akan ditingkatkan kapasitas adaptasi dan mitigasi bencana seperti sosialisasi mitigasi bencana pada masyarakat dan anak sekolah, pembentukan satgas bencana, pembangunan jalur-jalur evakuasi bencana, pemetaan daerah rawan bencana, penyusunan RTRW berbasis mitigasi bencana, pembangunan gedung evakuasi (escape building), pembangunan tower pemantau tsunami dan gudang penyimpan cadangan makanan (buffer stock);

12. Peningkatan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). Kedepannya kerjasama dan peningkatan peran inspektorat dan BPKP dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi program-program pembangunan daerah akan ditingkatkan;

13. Perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Peningkatkan pendidikan dan

(9)

Pendahuluan Hal. 1-9 keahlian aparatur pemerintah di bidang tersebut akan ditingkatkan seperti dengan memberikan beasiswa S2 dan S3, mengikutsertakan dalam diklat- diklat perencanaan dan penganggaran.

14. Masih adanya permasalahan perbatasan wilayah antar Provinsi dan antar kabupaten dalam Provinsi Bengkulu. Hal ini penting dan mendesak untuk diselesaikan karena dapat mengganggu hubungan kerjasama antar Provinsi dan antar kabupaten yang mengalami permasalahan perbatasan tersebut.

(10)

Pendahuluan Hal. 1-10 Gambar 1.1. Hubungan RPJMD Dengan Dokumen Perencanaan Pembangunan Lainnya

diacu

20 Tahun 5 Tahun

RPJPN

RPJPD Lampung

diacu

RPJPD Kab/Kota

RPJMN

pedoman

diperhatikan

RPJMD Lampung

RPJMD Kab/Kota

diperhatikan

pedoman pedoman

pedoman

Renstra K/L

pedoman

Renstra K/L pedoman

Renstra SKPD

RPJMD & RTRW Prov. Lain diperhatikan

1 Tahun

RKPD Lampung

dijabarkan

RKP

RKPD Kab/Kota

Renja SKPD diacu

(11)

Pendahuluan Hal. 1-11 Dalam penyusunannya, RPJMD Provinsi Lampung berpedoman pada beberapa hal, yaitu:

1. RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 berpedoman pada Undang–

Undang No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang–Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

2. RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 berpedoman pada RPJPD 2005–2025 dan memperhatikan RPJMN Teknokratik Tahun 2015–2019, dan mempertimbangkan asas keberlanjutan dengan program-program pembangunan sebagaimana dimuat dalam RPJMD Provinsi Lampung 2010-2014;

3. RPJMD Provinsi Lampung 2015-2019 mempertimbangkan arah pembangunan kewilayahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Lampung (Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2010), Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2007), dan Rencana Tata Ruang Provinsi Banten dan Bengkulu.

4. RPJMD Provinsi Lampung 2015-2019 mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, serta Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah.

1.4. Sistematika Penulisan Dokumen

Sistematika Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Lampung 2015-2019 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

I. Pendahuluan, pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum penyusunan rancangan awal RPJMD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. Bab ini memuat sub-sub bab:

Latar Belakang; Dasar Hukum Penyusunan; Hubungan Antar Dokumen

(12)

Pendahuluan Hal. 1-12 RPJM dengan Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah Lainnya;

Sistematika Penulisan Dokumen; dan Maksud dan Tujuan

II. Gambaran Umum Kondisi Daerah. Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis, gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Bab ini terdiri dari sub bab Aspek Geografi dan Demografi; Aspek Kesejahteraan Masyarakat;

Aspek Pelayanan Umum; dan Aspek Daya Saing Daerah.

III. Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Beserta Kerangka Pendanaan.

Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan dalam tahap perumusan ke dalam sub bab Kinerja Keuangan Masa Lalu; Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu; dan Kerangka Pendanaan;

IV. Analisis Isu-Isu Strategis. Bab ini menjelaskan tentang permasalahan pembangunan daerah terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang relevan, dan isu-isu strategis dari permasalahan pembangunan daerah, dengan memperhatikan dinamika internasional, kebijakan nasional maupun regional, yang dapat memberikan manfaat/pengaruh di masa datang terhadap Provinsi Lampung.

V. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, berisikan uraian mengenai visi, misi, tujuan dan sasaran RPJMD atau kepala daerah terpilih dan jangka waktunya.

VI. Strategi dan Arah Kebijakan. Pada bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih.

VII. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan. Dalam bab ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja.

(13)

Pendahuluan Hal. 1-13 VIII. Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan Pendanaan.

Bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintahan dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD. Pada bagian ini juga disajikan pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.

IX. Penetapan Indikator Kinerja Daerah, bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun.

X. Pedoman Transisi Dan Kaidah Pelaksanaan. Bab ini menguraikan tentang RPJMD sebagai pedoman penyusunan RKPD dan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun pertama kepemimpinan gubernur periode berikutnya, dan kaidah pelaksanaan visi, misi, dan arah kebijakan pembangunan daerah yang telah disusun dalam dokumen RPJMD.

XI. Penutup. Pada bab ini perlu dinyatakan bahwa RPJMD menjadi pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah pada periode berikutnya.

1.5. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan RPJMD Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 adalah menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode lima tahun, yang memuat visi, misi Kepala Daerah, arah kebijakan, strategi dan program pembangunan.

Tujuan penyusunan RPJMD Provinsi Lampung tahun 2015–2019 adalah:

1. Menetapkan visi, misi, dan program pembangunan daerah jangka menengah;

(14)

Pendahuluan Hal. 1-14 2. Menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Kerja (Renja) SKPD, dan perencanaan penganggaran;

3. Menjadi pedoman untuk penyusunan RPJMD dan RKPD serta perencanaan penganggaran Kabupaten dan Kota di Provinsi Lampung.

4. Sebagai pedoman penilaian keberhasilan pembangunan pemerintah daerah.

5. Merumuskan gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan sebagai dasar penilaian kemampuan kapasitas pendanaan 5 tahun ke depan.

(15)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-1

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Provinsi Lampung dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung tanggal 18 Maret 1964.

Secara geografis Provinsi Lampung terletak pada kedudukan 103º40’’ (BT) Bujur Timur sampai 105º50’’ (BT) Bujur Timur dan 3º45’’ (LS) Lintang Selatan sampai 6º45’’ (LS) Lintang Selatan. Provinsi Lampung meliputi areal daratan seluas 35.288,35 km (Lampung dalam angka, BPS, 2013) termasuk 132 pulau di sekitarnya dan lautan yang berbatasan dalam jarak 12 mil laut dari garis pantai ke arah laut lepas. Luas perairan laut Provinsi Lampung diperkirakan lebih kurang 24.820 km (atlas Sumberdaya Pesisir Lampung, 1999). Panjang garis pantai Provinsi Lampung lebih kurang 1.105 km, yang membentuk 4 (empat) wilayah pesisir, yaitu Pantai Barat (210 km), Teluk Semangka (200 km), Teluk Lampung dan Selat Sunda (160 km), dan Pantai Timur (270 km).

Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 Km2 termasuk 188 pulau yang terletak pada bagian paling ujung Tenggara Pulau Sumatera. Secara geografis Provinsi Lampung terletak pada 1030 40’ – 1050 50’ Bujur Timur; serta antara 60 45’ – 30 45’ Lintang Selatan.

Batas administratif wilayah Provinsi Lampung adalah:

1. Sebelah Utara dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu 2. Sebelah Selatan dengan Selat Sunda

3. Sebelah Timur dengan Laut Jawa

(16)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-2 4. Sebelah Barat dengan Samudera Indonesia

Secara administratif Provinsi Lampung dibagi kedalam 15 (lima belas) Kabupaten/Kota yang terdiri atas:

1. Kabupaten Tulang Bawang dengan ibukota Menggala.

2. Kabupaten Lampung Barat dengan ibukota Liwa.

3. Kabupaten Lampung Tengah dengan ibukota Gunung Sugih.

4. Kabupaten Lampung Timur beribukota Sukadana.

5. Kabupaten Way Kanan dengan ibukota Blambangan Umpu.

6. Kabupaten Tanggamus dengan ibukota Kota Agung.

7. Kabupaten Lampung Selatan dengan ibukota Kalianda.

8. Kabupaten Lampung Utara dengan ibukota Kotabumi.

9. Kabupaten Pesawaran dengan ibukota Gedung Tataan.

10. Kota Bandar Lampung.

11. Kota Metro.

12. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu.

13. Kabupaten Mesuji dengan ibukota Mesuji.

14. Kabupaten Tulang Bawang Barat dengan ibukota Panaragan.

15. Kabupaten Pesisir Barat dengan ibukota Krui.

Untuk mengetahui wilayah administrasi Provinsi lampung dapat dilihat pada peta di bawah ini.

(17)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-3 2.1.1.1 Aspek Topografi

Menurut kondisi topografi, Provinsi Lampung dapat dibagi ke dalam 5 (lima) satuan ruang, yaitu:

1. Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ciri khas lereng-lereng yang curam atau terjal dengan kemiringan berkisar 25% dan ketinggian rata- rata 300 m di atas permukaan laut (dpl). Daerah ini meliputi Bukit Barisan, kawasan berbukit di sebelah Timur Bukit Barisan, serta Gunung Rajabasa.

2. Daerah Berombak sampai bergelombang, yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit, kemiringan antara 8% hingga 15%, dan ketinggian antara 300 meter sampai 500 meter d.p.l. Kawasan ini meliputi wilayah Gedong Tataan, Kedaton, Sukoharjo, dan Pulau Panggung di Daerah Kabupaten Lampung Selatan, serta Adirejo dan Bangunrejo di Daerah Kabupaten Lampung Tengah.

3. Dataran alluvial, mencakup kawasan yang sangat luas meliputi Lampung Tengah hingga mendekati pantai sebelah Timur. Ketinggian kawasan ini

(18)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-4 berkisar antara 25 hingga 75 meter d.p.l., dengan kemiringan 0% hingga 3%.

4. Rawa pasang surut di sepanjang pantai Timur dengan ketinggian 0,5 hingga 1 meter d.p.l.

5. Daerah aliran sungai, yaitu Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka, dan Way Jepara.

Sebagian besar lahan di Provinsi Lampung merupakan kawasan hutan yaitu mencapai 1.004.735 Ha (28,47 %) dari luas daratan Provinsi Lampung. Selain itu merupakan daerah perkebunan (20,92%); tegalan/ladang (20,50%); daerah pertanian, dan perumahan.

2.1.1.2 Aspek Geologi

Batuan yang tertua dan tersingkap di wilayah Lampung adalah batuan malihan/metamorf yang terdiri dari sekis, genes, filit, kuarsit, dan pualam yang secara keseluruhan termasuk dalam kompleks Gunungkasih (Ptgm). Umur kompleks ini belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan Pra – Karbon.

Batuan tua lainnya adalah sedimen laut dalam yang terdiri dari batupasir dan batulempung dengan sisipan rijang dan batugamping dikenal dengan nama Formasi Menanga (Km). Hasil temuan fosil pada batu gamping menunjukan umur bagian tersebut tersingkap di jalur bukit barisan dan bersentuhan secara tektonik, diterobos oleh batuan granitoid/batuan terobosan mesozoik, diterobos oleh batuan granitoid/batuan terobosan Mosozoik akhir yang berumur 88 juta tahun yang lalu (kapur akhir, Katili, 1973). Batuan malihan terdapat pula secara setempat dan terbatas di sekitar batuan terobosan.

Breksi dan konglomerat aneka bahan yang mengandung rombakan Formasi Menanga dan Kompleks Gunungkasih dipetakan sebagai Formasi Sabu (Tpos) dan Formasi Campang (Tpoc). Umur kedua formasi ini belum diketahui, berdasarkan posisi stratigrafi diperkirakan berumur Paleosen-Oligosen Awal.

Litologi formasi campang ini terdiri dari perselingan batu lempung, serpih,

(19)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-5 kalkarenit, tuf dan breksi dengan ketebalan 1.000 -1.500 meter. Diendapkan di lingkungan turbidit di laut, di tepi pantai sampai daerah kegiatan gunung api.

Terlipat kuat dengan sumbu barat laut-tenggara, kemiringan berkisar 250 – 700. Ditafsirkan diendapkan bersamaan waktu dengan formasi tarahan dan termasuk satuan gunung berapi efusiva.

Batuan gunung api berkomposisi andesitik (lava, breksi, tufa) yang terubah dan terkekarkan kuat dipetakan sebagai Formasi Tarahan (Tpot), diperkirakan setara dengan Formasi Kikim yang terdapat di daerah Bengkulu. Umur formasi ini diperkirakan Paleosen Tengah – Oligosen Awal. Litologi tuf dan breksi dikuasai oleh sisipan tufit. Diendapkan dilingkungan benua, mungkin busur gunung api, magmatisma ada kaitannya dengan penujaman, secara regional dapat dikorelasikan dengan formasi kikim. Ditafsirkan sebagai sisa busur gunung api paleogen yang tersingkap. Keberadaannya sering disebut sebagai bukti penunjaman disepanjang parit sunda yang terus berlangsung. Formasi Sabu, Formasi Campang dan Formasi Tarahan tersingkap di jalur Bukit Barisan.

Batuan Granit – granodiorit yang menerobos batuan granitoid Kapur Akhir menunjukkan umur 48,37 – 34,57 juta tahun (Eosen – Oligosen).

Penunjaman-penunjaman yang terjadi telah menjadikan wilayah Kota Bandar Lampung sebagai area rawan bencana. Sehingga berdasarkan formasi tersebut menimbulkan konsekuensi terhadap perencanaan ruang dimasa yang akan datang. Dengan demikian perlu perencanaan mendalam untuk memanfaatkan ruang yang ada bagi pembangunan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah. Kondisi yang diharapkan dimasa mendatang proses pembangunan yang dilakukan sejalan dengan keadaan wilayah yang rawan dengan bencana.

Perkembangan geologi Tersier selanjutnya di daerah ini menunjukkan perbedaan yang nyata antara jalur Jambi – Palembang, Bukit Barisan dan Bengkulu. Perbedaan tersebut dicerminkan dengan adanya perbedaan sedimentasi cekungan yang terdapat di ketiga jalur tersebut.

(20)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-6 Pada jaman Oligosen Akhir – Miosen Tengah di jalur Jambi – Palembang terjadi sedimentasi genang laut di cekungan Sumatera Selatan yang diwakili oleh Formasi Talangakar (Tomt) yang terdiri dari batupasir kuarsa, konglomerat kuarsa, batupasir terdiri dari serpihan gampingan, napal, batulempung dan batu lanau, Formasi Gading (Tomg) yang terdiri dari batupasir, batulanau dan batu lempung dengan sisipan batugamping dan lignit, dan Formasi Baturaja (Tmb) terdiri dari batugamping terumbu, kalkarenit dengan sisipan serpih gampingan.

Di jalur Bukit Barisan terjadi kegiatan gunung api yang diwakili oleh Formasi Hulusimpang (Tomh) terdiri dari breksi gunung api, lava, tufa bersusunan andesit/basaltik, terubah, berurat kuarsa (Tmos) yang terdiri dari perselingan batulempung, batupasir, batulanau, serpih, terkadang gampingan.

Tektonik yang terjadi pada Miosen Tengah diikuti oleh sedimentasi laut dangkal yang dicerminkan oleh Formasi Airbenakat (terdapat di luar Provinsi Lampung), kegiatan gunung api di jalur Bukit Barisan yang dicerminkan oleh Formasi Bal (Tmba) terdiri dari breksi gunung api bersusunan dasit, tufa dasitan dan sisipan batupasir dan sedimentasi volkanik klastik laut dangkal di jalur Bengkulu yang dicerminkan oleh Formasi Lemau (Tml) terdiri dari Batupasir tufaan gampingan, batulempung gampingan dengan sisipan tipis atau bintal batugamping, mengandung foram dan moluska. Aktivitas gunung api di jalur Bukit Barisan menerus pada Miosen Akhir – Pliosen yang membentuk Formasi Lakitan (Tmpl) terdiri dari breksi gunung api bersusunan andesitik/basaltik, epalistik sedikit dasitan, tufa dan batupasir tufaan dan menindih secara tak selaras Formasi Bal, sedang di jalur Bengkulu terbentuk Formasi Simpangaur (Tmps) terdiri dari batupasir tufaan, tufa, batulempung tufaan, batugamping, konglomerat aneka batuan, mengandung moluska dan cangkang karang, yang menindih secara selaras Formasi Lemau.

Setelah tektonik yang terjadi pada Pliosen Tengah, sebagian besar daerah ini terangkat ke permukaan, di jalur Jambi – Palembang diendapkan Formasi Kasai (Qtk) yang berlingkungan darat (perselingan batupasir tufaan dengan tufa berbatu apung, struktur silangsiur, sisipan tipis lignit dan kayu terkesikkan).

(21)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-7 Di jalur Bukit Barisan di endapkan Formasi Ranau (Qtr) yang terdiri dari breksi batuapung, tufa mikaan, tufa batuapung, dan kayu terkersikkan, dan Formasi Bintunan (Qtb) yang terdiri dari batupasir tufaan, tufa pasiran, betulempung tufaan, konglomerat aneka batuan, tufa berbatuapung dan sisa tumbuhan.

Seluruh formasi Kasai, Ranau, Lampung selama Pliosen Akhir – Pliosen terlipat lemah dan tererosi di akhir Plistosen. Sejak itu kegiatan gunung api berlangsung di jalur Jambi – Palembang dan Bengkulu hanya terjadi sedimentasi.

2.1.1.3 Aspek Hidrologi

Sumberdaya air (tawar) di Provinsi Lampung tersebar di 5 (lima) daerah River Basin. Bagian terbesar dari hulu sungai ini berada di Kabupaten Lampung Barat, sebagian Lampung Utara, dan sebagian Tanggamus. Daerah River Basin ini meliputi:

1. Daerah River Basin Tulang Bawang terletak di utara hingga ke arah barat, melewati wilayah Kabupaten Lampung Utara dan Way Kanan dengan luas River Basin 10.150 Km² dan panjang 753,5 Km dengan 9 cabang anak sungai membentuk pola aliran dendritic yang merupakan ciri umum sungai-sungai di Lampung. Kepadatan (density) pola aliran sebesar 0,07 dan frekuensi pola aliran 0,0009.

2. Daerah River Basin Seputih terletak di bagian tengah wilayah bagian barat Lampung Tengah ke arah Metro dan Lampung Timur. Luas River Basin 7.550 Km², panjang 965 Km, memiliki 14 cabang sungai, density pola aliran 0,13 dan frekuensi pola aliran 0,0019.

3. Daerah River Basin Sekampung terletak di sebagian besar wilayah Kabupaten Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Selatan bagian Utara, hingga ke arah timur. Luas River Basin ini mencapai 5.675 Km² dengan panjang 623 Km dan memiliki 12 cabang sungai. Pola aliran mencapai kepadatan 0,11 dan frekuensinya mencapai 0,021.

4. Daerah River Basin Semangka terletak di wilayah Kabupaten Tanggamus bagian selatan dan barat ke arah pantai Selat Sunda bagian barat. Luas

(22)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-8 River Basin ini 1.525 Km² dengan panjang 189 Km, memiliki 8 cabang sungai, kepadatan (density) pola aliran 0,12 dan frekuensi pola aliran 0,0052.

5. Daerah River Basin Way Jepara terletak di Kabupaten Lampung Timur dengan luas 800 Km², dan panjang sungai mencapai 108,5 Km, memiliki 3 cabang sungai, pola aliran dengan kepadatan (density) 0,14 serta frekuensi 0,0038.

Secara hidrogeologi di Provinsi Lampung terdapat 7 (tujuh) cekungan air tanah, yaitu cekungan air tanah Kalianda, cekungan air tanah Bandar Lampung, cekungan air tanah Metro – Kotabumi, cekungan air tanah Talang Padang, cekungan air tanah Kota Agung, cekungan air tanah Gedong Meneng dan cekungan air tanah danau ranau. Dalam rangka konservasi air tanah terdapat beberapa zona pemanfaatan air tanah, yaitu:

a. Zona Aman Potensi Tinggi (ZONA I) b. Zona Aman Potensi Sedang (ZONA II) c. Zona Aman Potensi Kecil (ZONA III) d. Zona Imbuh / Resapan (ZONA IV) e. Zona Bukan CAT

2.1.1.4 Aspek Klimatologi

Propinsi Lampung terletak di bawah katulistiwa 5° Lintang Selatan beriklim tropis-humid dengan angin laut lembah yang bertiup dari Samudera Indonesia dengan dua musim angin setiap tahunnya, yaitu bulan November hingga Maret angin bertiup dari arah Barat dan Barat Laut, dan bulan Juli hingga Agustus angin bertiup dari arah Timur dan Tenggara. Kecepatan angin rata-rata tercatat sekitar 5,83 km/jam. Suhu udara rata-rata berkisar antara 260C - 280C, dengan suhu maksimum sebesar 330C dan minimum sebesar 200C. Kelembaban udara di beberapa stasiun pengamatan menunjukkan kisaran antara 75% - 95%.

Sedangkan rata-rata curah hujan tahun sebesar 168,95 mm/bulan.

(23)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-9 2.1.1.5 Aspek Penggunaan Lahan

Pola pemanfaatan ruang pada kawasan lindung pada garis besarnya akan mencakup 6 (enam) fungsi perlindungan sebagai berikut:

a. Kawasan Hutan Lindung yang tersebar di Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Tengah, Tanggamus dan Way Kanan.

b. Kawasan yang berfungsi sebagai suaka alam untuk melindungi keanekaragaman hayati , ekosistem, dan keunikan alam. Termasuk dalam kawasan ini adalah cagar alam Kepulauan Krakatau, kawasan Bukit Barisan yang membentang dari Utara ke Selatan termasuk Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, Taman Hutan Rakyat di sekitar Gunung Betung, Gunung Rajabasa dan kawasan perlindungan satwa Rawa Pacing dan Rawa Pakis, serta ekosistem mangrove dan rawa di pantai Timur dan Selatan.

c. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya, terutama berkaitan dengan fungsi hidrologis untuk pencegahan banjir, menahan erosi dan sedimentasi, serta mempertahankan ketersediaan air. Kawasan ini berada pada ketinggian diatas 1.000 mdpl dengan kemiringan lebih dari 40%, bercurah hujan tinggi, atau mampu meresapkan air kedalam tanah. Termasuk dalam kawasan ini adalah sebagian besar kawasan Bukit Barisan bagian timur dan barat yang membentang dari utara ke selatan, Pematang Sulah, Kubu Cukuh, dan kawasan hutan lainnya. Berdasarkan hasil analisis, luas total dari kawasan perlindungan daerah di bawahnya hingga tahun 2029 adalah 687,37 Km2

d. Kawasan rawan bencana yang berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami dan sebagainya. Termasuk dalam kawasan ini adalah bencana tanah longsor (Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Pesawaran, dan Kabupaten Lampung Selatan), kebakaran hutan (Kabupaten Mesuji, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten

(24)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-10 Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur), tsunami dan gelombang pasang (sepanjang pesisir pantai wilayah Provinsi Lampung), dan banjir (tersebar di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Lampung Selatan). Berdasarkan hasil analisis, luas total dari kawasan rawan bencana adalah 4.411,04 Km2 e. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi melindungi komponen

lingkungan tertentu dan kegiatan budidaya. Fungsi ini berlaku secara setempat di sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, dan sekitar waduk/danau untuk melindungi kerusakan fisik setempat, seperti Bendungan Batu Tegi, Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Umpu, Bendungan Way Jepara dan Bendungan Way Bumi Agung. Berdasarkan hasil analisis, luas total dari kawasan perlindungan setempat adalah 355,83 Km2

f. Kawasan Perlindungan Laut/Zona inti di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PPK) adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK secara berkelanjutan. Konservasi pesisir dan laut sangat terkait dengan ekosistem pesisir dan laut, yaitu ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove.

Arahan pola ruang untuk kegiatan budidaya mencakup arahan pemanfaatan kawasan hutan, kawasan pertanian, serta kawasan non-pertanian. Penentuan bagi arahan pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya didasarkan pada pertimbangan berikut:

1. Kesesuaian lahan, yang merupakan hasil penilaian terhadap kemampuan daya dukung lahan terhadap penggunaan lahan tertentu bila kegiatan atau penggunaan lahan yang dikembangkan tersebut memilki produktivitas

(25)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-11 optimal dengan input yang minimal. Seluruh wilayah Provinsi Lampung memiliki kesesuaian untuk berbagai aktifitas pertanian.

2. Potensi pengembangan, yang merupakan hasil penilaian ekonomi terhadap potensi pengembangan budidaya tertentu. Pemanfaatan kawasan budidaya direncanakan sesuai dengan upaya desentralisasi ruang bagi pengembangan wilayah dan potensi lokal, baik sektor primer, sekunder, maupun tersier. Berdasarkan kecenderungan perkembangan hingga tahun 2009, sektor primer merupakan sektor ekonomi potensial hampir di seluruh wilayah Provinsi Lampung sesuai dengan potensi wilayah.

3. Pengelolaan kawasan lindung di pulau-pulau kecil dan pesisir dilakukan melalui kegiatan pariwisata bahari, industri perikanan, pertanian organik dan peternakan.

2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Dari aspek geografis, Provinsi Lampung mempunyai posisi yang strategis di ujung selatan Pulau Sumatera, sehingga menjadi gerbang baik dari arah Pulau Sumatera maupun dari arah Pulau Jawa. Agar posisi yang strategis tersebut dapat berdampak optimal bagi kepentingan daerah dan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah Provinsi Lampung Tahun 2010 menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung Tahun 2009-2029.

Pola ruang Provinsi Lampung meliputi:

a. Kawasan Andalan, yaitu adalah bagian dari kawasan budidaya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya. Bebarapa kawasan andalan yang diproyeksikan, yaitu Mesuji, Bandar Lampung dan Metro, Kotabumi, dan Liwa-Krui;

b. Pola pemanfaatan ruang pada kawasan lindung pada garis besarnya akan mencakup 5 (lima) fungsi perlindungan sebagai berikut:

(26)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-12 1. Kawasan Hutan Lindung yang tersebar di Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Tengah, Tanggamus dan Way Kanan.

2. Kawasan yang berfungsi sebagai suaka alam untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam. Termasuk dalam kawasan ini adalah cagar alam Kepulauan Krakatau, kawasan Bukit Barisan yang membentang dari Utara ke Selatan termasuk Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, Taman Hutan Rakyat di sekitar Gunung Betung, Gunung Rajabasa dan kawasan perlindungan satwa Rawa Pacing dan Rawa Pakis, serta ekosistem mangrove dan rawa di pantai Timur dan Selatan.

3. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya, terutama berkaitan dengan fungsi hidrologis untuk pencegahan banjir, menahan erosi dan sedimentasi, serta mempertahankan ketersediaan air. Kawasan ini berada pada ketinggian diatas 1.000 mdpl dengan kemiringan lebih dari 40%, bercurah hujan tinggi, atau mampu meresapkan air kedalam tanah. Termasuk dalam kawasan ini adalah sebagian besar kawasan Bukit Barisan bagian timur dan barat yang membentang dari utara ke selatan, Pematang Sulah, Kubu Cukuh, dan kawasan hutan lainnya.

4. Kawasan rawan bencana yang berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami dan sebagainya. Termasuk dalam kawasan ini adalah bencana tanah longsor (Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Pesawaran, dan Kabupaten Lampung Selatan), kebakaran hutan (Kabupaten Mesuji, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur), tsunami dan gelombang pasang (sepanjang pesisir pantai wilayah Provinsi Lampung), dan banjir (tersebar di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang,

(27)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-13 Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Lampung Selatan).

5. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi melindungi komponen lingkungan tertentu dan kegiatan budidaya. Fungsi ini berlaku secara setempat di sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, dan sekitar waduk/danau untuk melindungi kerusakan fisik setempat, seperti Bendungan Batu Tegi, Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Umpu, Bendungan Way Jepara dan Bendungan Way Bumi Agung.

6. Kawasan Perlindungan Laut/Zona inti di Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (PPK) adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK secara berkelanjutan.

Konservasi pesisir dan laut sangat terkait dengan ekosistem pesisir dan laut, yaitu ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove.

c. Rencana Pengembangan Kawasan Lindung, antara lain memantapkan ekosistem Mangrove dan Rawa, pengendalian perambahan hutan, serta alih fungsi hutan yang meliputi wilayah- wilayah sebagai berikut:

 Kecamatan Cukuh Balak, Wonosobo, dan Pulau Panggung di Kabupaten Tanggamus.

 Kecamatan Padang Cermin di Kabupaten Pesawaran.

 Kecamatan Padang Ratu di Kabupaten Lampung Tengah.

 Kecamatan Sribawono dan Labuhan Ratu di Kabupaten Lampung Timur.

 Kecamatan Kasui dan Banjit di Kabupaten Way Kanan.

 Kecamatan Bukit Kemuning dan Tanjung Raja di Lampung Utara.

 Kecamatan Balik Bukit, Sumberjaya, dan Belalau di Lampung Barat.

(28)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-14 d. Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya yaitu arahan pemanfaatan kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, serta kawasan non-pertanian yang didasarkan pada:

 Arahan Rencana Kawasan Hutan Produksi

Kawasan budidaya kehutanan meliputi kawasan hutan produktif terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HP). Hutan Produksi Terbatas terletak di Kabupaten Lampung Barat, sedangkan hutan produksi tetap tersebar di Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kabupate Pesawaran dan Kabupaten Lampung Selatan.

 Arahan rencana tanaman pangan lahan kering.

Lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman pangan lahan kering meliputi hampir seluruh wilayah tengah dan timur Provinsi Lampung, kecuali disekitar Way Tulang Bawang, daerah pesisir dan bagian selatan Kabupaten Lampung Timur, serta bagian barat Kabupaten Way Kanan dan Lampung Utara.

 Arahan rencana untuk tanaman pangan lahan basah.

Lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman pangan lahan basah meliputi wilayah Tengah dan Timur Provinsi Lampung.

 Arahan rencana untuk tanaman tahunan (perkebunan).

Lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman tahunan meliputi wilayah Tengah dan Timur Provinsi Lampung.

 Arahan rencana kawasan pertambangan

Pengembangan Kawasan Peruntukan Pertambangan didasarkan pada potensi bahan tambang dan lokasi usaha tambang yang ada di Provinsi Lampung. Sebaran potensi pertambangan di Provinsi Lampung meliputi: Wilayah Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Mesuji,

(29)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-15 Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur.

 Arahan Rencana Kawasan Industri

Pengelolaan kawasan industri kecil, terutama industri pengolahan hasil pertanian diarahkan untuk dikembangkan diseluruh kabupaten, yaitu pada lokasi-lokasi di dekat sentra-sentra penghasil sumberdaya.

Pola yang akan dikembangkan diarahkan pada bagian tengah provinsi ke arah timur provinsi. Industri besar terutama industri berteknologi tinggi diarahkan untuk dikembangkan di Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Pesawaran.

 Arahan rencana Kawasan Pariwisata

Pengembangan pariwisata di Provinsi Lampung lebih menekankan pada pengembangan pariwisata di kawasan budidaya. Potensi pariwisata di kawasan Lindung, seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBSS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan lain-lain dibahas secara terpisah dalam bahasan Rencana Pengelolaan kawasan Lindung.

 Arahan rencana Kawasan Permukiman

Kawasan peruntukan permukiman di Provinsi Lampung akan dikembangkan pada kawasan-kawasan yang berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung, kawasan hutan dan kawasan rawan bencana serta memiliki daya dukung yang kuat untuk kegiatan permukiman.

Kawasan permukiman diarahkan memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan serta memiliki kelengkapan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung. Rencana pengembangan permukiman dari tingkat kepadatannya akan diklasifikasikan sebagai berikut:

(30)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-16 1. Kawasan permukiman berkepadatan tinggi akan diarahkan di Kota Bandar Lampung, Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah, dan Kabupaten Pringsewu.

2. Kawasan permukiman berkepadatan sedang akan diarahkan di Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Tulang Bawang.

3. Kawasan permukiman berkepadatan rendah akan diarahkan di Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat.

2.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana alam terdiri atas daerah yang sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti banjir, longsor, gerakan tanah/gempa, puting beliung, tsunami dan kebakaran hutan. Kawasan-kawasan rawan bencana tersebut meliputi:

1. Bencana tanah longsor tersebar di Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Pesawaran, dan Kabupaten Lampung Selatan

2. Untuk kasus kebakaran hutan tersebar di Kabupaten Mesuji, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur

3. Bencana tsunami dan gelombang pasang berpotensi terjadi di sepanjang pesisir pantai wilayah Provinsi Lampung. Sedangkan bencana banjir tersebar di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Lampung Selatan.

(31)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-17 4. Kawasan rawan bencana alam geologi tersebar diseluruh wilayah Provinsi Lampung yang terjadi akibat aktivitas tektonik pengaruh Sesar Mayor, yaitu Sesar Semangko dan Sesar Mentawai, dan Sesar Minor, serta aktivitas vulkanik.

2.1.4. Demografi

Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010, penduduk Provinsi Lampung berjumlah 7.596.115 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Lampung tahun 1990-2000 mencapai 0,98% dan tahun 2000-2010 meningkat menjadi 1,23%. Jumlah Penduduk Provinsi Lampung pada Tahun 2012 menurut BPS Provinsi Lampung adalah sebesar 7.767.312 jiwa, dengan kepadatan penduduk rata-rata sebesar 220 jiwa/Km2.

Dilihat dari distribusi antar Kabupaten/Kota, tiga Kabupaten yang wilayahnya saling berdampingan yaitu Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Selatan tercatat sebagai daerah dengan penduduk terbanyak yang masing-masing berjumlah 1.170.048 orang, 950.574 orang, dan 909.989 orang. Ini berarti hampir 40% dari total penduduk Provinsi ampung bermukim di tiga kabupaten tersebut. Sebaran penduduk di Provinsi Lampung per Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung Tahun 2012

No Kabupaten/Kota Luas Wilayah

(Km2) Jumlah

Penduduk Kepadatan Penduduk KABUPATEN

1 Kab. Lampung Selatan 3.319,04 932.552 281

2 Kab. Lampung Utara 2.725,87 594.562 218

3 Kab. Lampung Tengah 3.802,68 1.192.958 314

4 Kab. Lampung Barat 4.950,40 427.773 85

5 Kab. Tanggamus 302,64 548.728 182

6 Kab. Tulang Bawang 3.196,32 410.725 128

7 Kab. Way Kanan 3.921,63 415.078 106

8 Kab. Lampung Timur 5.325,03 968.004 182

9 Kab. Pesawaran 2.243,51 407.475 182

10 Kab. Pringsewu 625,00 370.157 592

(32)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-18 No Kabupaten/Kota Luas Wilayah

(Km2)

Jumlah Penduduk

Kepadatan Penduduk

11 Kab. Mesuji 2.184,00 191.221 88

12 Kab. Tulang Bawang Barat 1.201,00 255.833 213 KOTA

13 Kota Bandar Lampung 192,96 902.885 4.679

14 Kota Metro 61,79 149.361 2.417

PROVINSI LAMPUNG 35.288,35 7.767.312 220

Sumber: LDA,BPS, 2013

Berdasarkan hasil registrasi dan konsolidasi Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk provinsi Lampung tahun 2013 sebanyak 9.499.116 jiwa.

Secara rinci jumlah penduduk Provinsi Lampung tahun 2013 hasil registrasi dan konsolidasi Kementerian Dalam Negeri disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Rekapitulasi Data Kependudukan Provinsi Lampung Per- Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Semester II Tahun 2013 No. Kabupaten/Kota Laki-Laki Perempuan Jumlah

(Jiwa) (Jiwa) (Jiwa)

KABUPATEN

1. Kab. Lampung Selatan 648.639 607.745 1.256.384 2. Kab. Lampung Utara 453.840 422.329 876.169 3. Kab. Lampung Tengah 746.856 696.708 1.443.564 4. Kab. Lampung Barat 235.285 213.190 448.475

5. Kab. Tanggamus 327.284 303.733 631.017

6. Kab. Tulang Bawang 214.770 200.539 415.309

7. Kab. Way Kanan 241.963 226.709 468.672

8. Kab. Lampung Timur 566.910 532.387 1.099.297

9. Kab. Pesawaran 278.417 256.429 534.846

10. Kab. Pringsewu 232.729 217.723 450.452

11. Kab. Mesuji 158.070 142.780 300.850

12. Kab. Tulang Bawang Barat 128.095 121.125 249.220

KOTA

13. Kota Bandar Lampung 606.714 556.861 1.163.575

14. Kota Metro 81.796 79.490 161.286

JUMLAH 4.921.368 4.577.748 9.499.116

* Sumber: Data hasil konsolidasi dari Ditjen Adminduk dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri RI ke Biro Tata Pemerintahan Umum Setdaprov. Lampung

Dengan luas wilayah Provinsi Lampung sekitar 35.288,35 km2 yang didiami oleh 7.767.312 orang pada tahun 2012, maka tingkat kepadatan penduduk Provinsi Lampung adalah sebanyak 220 orang per kilometer persegi. Dari 15

(33)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-19 kabupaten/kota di Provinsi Lampung kepadatan penduduk wilayah perkotaan jauh lebih padat dibandingkan wilayah kabupaten. Bandar Lampung memiliki kepadatan 4.679 jiwa/km2 dan Metro 2.417 jiwa/km2. Kabupaten terpadat selanjutnya adalah Lampung Tengahdengan jumlah 314 jiwa/km2, disusul Lampung Selatan dengan jumlah281 jiwa/km2.

Perkembangan laju pertumbuhan penduduk Provinsi Lampung mengalami penurunan selama 30 tahun mulai 1971-2000, dan mengalami kenaikkan lagi pada periode 2000-2010. Hal ini signifikan dan sebanding dengan perkembangan pertumbuhan penduduk nasional dan regional (Sumatera) sebagaimana disajikan pada Gambar 2.1.

1.49 5.77

1.49 2.31

1.98

1.9 2.38

3.55 3.04

2.67

1.17 1.24 0

1 2 3 4 5 6 7

1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2010

Indonesia Sumatera Lampung

Sumber: www.bps.go.id

Gambar 2.1. Laju Pertumbuhan Penduduk Lampung, Sumatera dan Indonesia Tahun 1971-2010

Ditinjau pada masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah dengan laju pertumbuhan penduduk tercepat selama kurun waktu tahun 2000-2010. Sedangkan kabupaten dengan laju pertumbuhan penduduk terlambat selama kurun waktu tahun 2000-2010 adalah Kabupaten Pringsewu. Perkembangan laju pertumbuhan penduduk Provinsi Lampung berdasarkan wilayah kabupaten/kota tahun 2000-2010 disajikan sebagai berikut :

(34)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-20

Sumber: www.bps.go.id

Gambar 2.2 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi Lampung per Kabupaten/Kota Tahun 2000-2010

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

2.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi

Indikator utama untuk mengetahui peningkatan pembangunan ekonomi wilayah (daerah) adalah dengan melihat pertumbuhan ekonominya. Pada evaluasi RPJMD I 2005-2009 pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,47%, sedangkan pertumbuhan PDRB perkapita berkisar antara 1-1,6% pertahun.

Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya, pertumbuhan ekonomi Lampung berfluktuasi pada kisaran 5,26% sampai dengan 6,53%. Laju pertumbuhan tertinggi terjadi di tahun 2012 (6,53%), sedang yang terendah terjadi di tahun 2009 (5,26%). Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung selama kurun waktu tahun 2009-2013 disajikan pada Gambar 2.3.

(35)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-21 6,53 5,97

6,43 5,88

5,26

0 1 2 3 4 5 6 7

2009 2010 2011 2012 2013

Sumber: www.bps.go.id dan www.bi.go.id

Gambar 2.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung Tahun 2009-2013 Jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera dan Indonesia, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung menunjukkan trend positif dan peningkatan. Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung selama kurun waktu 2009-2013 (5 tahun) adalah sebesar 5,97%, lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang hanya 5,87% pertahun. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,26% pertahun.Pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Pulau Sumatera pada tahun 2013 juga mengalami fluktuasi, dan Provinsi Lampung masih lebih baik dibanding Aceh, Riau dan Kepulauan Riau.

(36)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-22

Sumber: www.bps.go.id dan www.bi.go.id

Gambar 2.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Pulau Sumatera, dan Provinsi Lampung Tahun 2009-2013

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung didukung oleh pertumbuhan yang positif pada semua sektor. Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi tertinggi yang terjadi selama kurun waktu 2009-2013 adalah sektor Keuangan/Persewaan/Jasa Perusahaan (13,84%). Sektor lain yang juga tumbuh cukup tinggi berturut-turut adalah sector Transportasi/Komunikasi (13,63%), sektor Jasa-jasa (9,42%) serta sektor Konstruksi (5,82%). Pertumbuhan sektoral ekonomi Lampung dalam kurun 2009-2013 dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi Lampung, Tahun 2009-2013 (Persen)

No Sektor 2009 2010 2011 2012 2013

1 Pertanian 2,63 1,07 4,96 4,20 3,95

2 Pertambangan/Penggalian -9,21 -3,38 13,48 4,28 10,66 3 Industri Pengolahan 5,88 6,11 4,88 4,39 7,56 4 Listrik/Gas/Air Bersih 2,84 10,41 9,86 11,51 10,05

5 Konstruksi 4,87 3,71 7,77 5,82 2,50

6 Perdagangan/Hotel/Restoran 7,60 4,78 5,50 5,59 4,70 7 Transportasi/Komunikasi 11,47 15,42 12,98 13,73 7,83 8 Keu/Persewaan/Jasa Perbankan 12,91 26,88 7,48 12,44 9,48

9 Jasa-jasa 5,59 5,59 8,24 9,42 9,39

PDRB 5,26 5,88 6,43 6,53 5,97

Sumber: Statistik Perekonomian Lampung Bappeda, 2013

(37)

Gambaran Umum Daerah Hal. 2-23 Tingkat pertumbuhan ekonomi per kabupaten/kota di Provinsi Lampung juga berfluktuasi dimana yang memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi antara lain Tulang Bawang, Pringsewu dan Mesuji. Sedangkan daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terendah adalah Lampung Timur. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung Tahun 2008-2012

Tabel 2.4. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab/Kota se-Provinsi Lampung, Tahun 2008-2012 (Persen)

No Kabupaten/Kota 2008 2009 2010 2011 2012

KABUPATEN

1. Kab. Lampung Selatan 5,09 5,28 5,71 6,03 6,30 2. Kab. Lampung Utara 5,69 6,32 4,98 6,23 6,03 3. Kab. Lampung Tengah 5,66 5,94 5,88 5,75 6,37 4. Kab. Lampung Barat 5,15 5,64 5,72 4,54 6,65 5. Kab. Tanggamus -32,39 5,46 5,59 6,24 6,49 6. Kab. Tulang Bawang 6,79 -51,13 6,19 5,50 6,93 7. Kab. Way Kanan 4,60 5,04 5,17 5,49 5,67 8. Kab. Lampung Timur 5,21 4,38 5,06 6,08 5,30 9. Kab. Pesawaran 5,34 5,69 5,91 6,41 6,42 10. Kab. Pringsewu X 5,80 6,95 7,10 6,88

11. Kab. Mesuji X X 5,89 6,36 6,88

12. Kab. Tulang Bawang Barat X X 5,92 6,13 6,53

KOTA

13. Kota Bandar Lampung 6,93 6,01 6,33 6,53 6,54

14. Kota Metro 5,21 5,32 5,89 6,40 5,90

PROVINSI LAMPUNG 5,35 5,35 5,85 6,39 6,48 Sumber: LDA, BPS, 2013

2.2.1.2 Struktur Ekonomi

Dalam kurun waktu 2009-2013 perekonomian Lampung digerakkan oleh tiga sektor ekonomi utama, yaitu sektor Pertanian, sektor Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan/Hotel/Restoran. Dominasi sektor-sektor tersebut terlihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor terhadap pembentukan total PDRB.

Referensi

Dokumen terkait

Karna ada nya kejadian bencana yaitu banjir dan longsor di kabupaten sarolangun Dengan demikian, bisa saja di akibatkan oleh ketidaktahuan, pencegahan, dampak

Pelepasan Sebagian Kawasan Hutan Seluas 340,70 Ha, terletak di Kawasan Hutan Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara untuk Hak atas Tanah

Kawasan karst merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul. Namun tidak semua wilayah di Gunungkidul termasuk kawasan karst. Hal ini dapat dilihat

kejadian bencana alam tanah longsor di Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa. Barat Tanggal 21 April

Penanggulangan bencana tanah longsor yang sering terjadi di Kabupaten Aceh. Tengah khususnya di Kecamatan Linge merupakan dilema yang selalu

Dari 201 pekon/kelurahan di Kabupaten Lampung Barat, terdapat 95 pekon rawan ter- hadap bencana gempa bumi, banjir, tanah longsor dan tsunami dengan intensitas: 8 keca- matan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan dan kerentanan bencana tanah longsor di Kawasan Objek Wisata Buntu Sopai, Desa Marante, Kabupaten Toraja Utara serta

Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Pesisir Barat Lampung Upaya Repong Damar Dalam Mitigasi Bencana Longsor Budidaya repong damar di Kabupaten Pesisir Barat Lampung sudah dilakukan